[FF Writing Contest] A399X

A399X Cover

Title : A399X

Author : Riri

Main Cast:

  • Sehun (EXO K)
  • Cho Hyunra/Averill Cho (OC)

Support Cast : Kris Wu (EXO M), Jacob Springsteen (OC), Pierre Mulliez (OC), Aubree Watson (OC), Lu Han (EXO M)

Genre : Romance, Friendship, Sci-fi, Sad

Rating : General

 “Terkadang takdir menciptakan permainan hidup sendiri, membuat ekspetasi yang kita bayangkan memudar, berkelok kearah lain.

September 2017                                                                               

“Pulanglah Hyunra,” rengek Sehun. Kekasih dari seorang gadis yang sekarang tengah bersusah payah memakai sneakersnya sembari terus mendengarkan ocehan Sehun di telepon.

“Liburanku masih 1 minggu lagi,” Hyunra mengikat tali sneakersnya.

“Aku tahu, sudah 2 tahun kau tak pulang. Aku merindukanmu,” Hyunra terkekeh pelan mendengar rengekan Sehun.

“Ayolah, tahan dulu rindumu. Memangnya aku juga tak rindu padamu?” Hyunra, perempuan berusia 23 tahun itu menyambar ranselnya di meja.

“Kau tidak akan selamanya di New Haven bukan?” suara laki-laki yang terpaut 2 tahun diatas Hyunra itu terdengar cemas.

“Tidak, aku pasti pulang. Sudah? Aku mau ke kampus,” Hyunra berjalan meninggalkan gedung apartemennya. Mematikan sambungan telepon tanpa persetujuan Sehun, lalu mematikan handphonenya. Ia tak mau mengambil resiko mendengar kembali rengekan Sehun.

Ia terus melangkah riang, melihat sekelilingnya. Jingga, kuning, merah. Hyunra memungut sehelai daun jingga, memutar-mutar di sela jemarinya. Ia pasti merindukan warna-warni musim gugur di sini, 1 tahun lagi ia akan mendapat gelar master. Dan 1 tahun lagi ia akan meninggalkan negara yang 2 tahun belakangan ini menjadi tempatnya menuntut ilmu, kembali ke Korea Selatan.

***

“Kau terlambat,” Kris menudingnya. Laki-laki berdarah China-Kanada itu tak bosan terus menuding Hyunra yang sering terlambat. Sementara Hyunra mengabaikan Kris dan duduk di samping Aubree, UK’s girl yang tengah sibuk bersama laptopnya.

“Seperti biasa,” Pierre mengacak rambut Hyunra. Ia segera menepis tangan Pierre, laki-laki itu selalu memperlakukannya seperti anak kecil.

“Telat atau tidak yang penting aku datang. Hei, Jack! Kau harus punya alasan yang bagus telah mengkorupsi waktu tidurku,” Hyunra mengalihkan pandangannya pada Jacob. Laki-laki yang selalu menjadi penengah diantara  mereka semua dan bersikap paling dewasa.

Lima orang aneh yang selalu bersama sejak awal kuliah di Yale, yang merasa memiliki banyak kecocokan dan membuat hubungan mereka semakin erat. Hyunra selalu merasa bangga dengan mereka semua, para jenius yang bersikap lebih dewasa dari dirinya. Selalu membimbing Hyunra yang memiliki umur paling muda dan terkadang sangat kekanakan.

Jacob Springsteen yang memiliki kharisma luar biasa asal Amerika. Kris Wu, laki-laki yang digilai banyak wanita, memiliki pendapat yang pedas dan berdarah campuran Kanada-China. Pierre Mulliez, laki-laki yang memiliki seribu rayuan untuk perempuan asal Prancis. Aubree Watson, UK’s girl yang melankolis. Dan dirinya, Cho Hyunra, asal Korea. Si anak kecil yang sering terlambat dan ceroboh, ajaibnya bisa mendapatkan gelar sarjana dalam waktu 2 tahun dan mendapat beasiswa master in genetica di Yale.

“Tentu saja, Pierre lepaskan earphone-mu. Abby, laptopmu.” Jacob berusaha menarik perhatian, jika dia mulai menghentikan aktivitas mereka artinya ia memiliki pesan penting.

“Profesor Smith kemarin malam menghubungiku, beliau membutuhkan bantuan kita dalam proyek barunya.” Jacob memandang mereka semua.

What’s projeck, Jack?” Aubree ‘Abby’ bertanya antusias.

“Santai saja Little Fairy,” goda Pierre. Nama Aubree memang memiliki arti peri kecil dan Pierre selalu menjadikannya bahan ejekan.

“Jangan memanggilku seperti itu, dasar laki-laki jelek tukang rayu.” Aubree menekuk wajahnya sebal.

“Pierre!” Jacob memandang Pierre, menyuruhnya diam.

“Baiklah Jack, teruskan.” Pierre mengalah, mengedipkan sebelah matanya kepada Aubree sembari menggumamkan Little Fairy tanpa suara.

“Ini proyek besar, juga berharga tentunya. Profesor hanya percaya pada kita, beliau telah mengembangbiakkan spesies bakteri baru.”

“Berapa lama?” Hyunra khawatir proyek ini menghabiskan waktu liburannya, kembali mengulur waktunya untuk pulang. Sehun pasti tidak senang mendengar berita ini, karena liburan-liburan sebelumnya kepulangannya juga terhambat.

“Oh dear, bukankah kau pulang minggu depan?” Aubree mengingatkan tentang kepulangan Hyunra, Hyunra hanya tersenyum tipis.

“Baru rencana Abby.”

“Batalkan saja Averill, ini kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Kau tahu? Kesempatan seperti ini jarang terjadi dan mungkin tak akan pernah terjadi lagi dalam hidupmu,” Kris menghabiskan sekaleng coke yang sejak tadi digenggamnya.

“Jangan terlalu mendesaknya Kris, kekasihnya akan mengamuk jika Averill tak segera kembali. Aku yakin minggu depan Sehun akan menyusulnya ke New Haven dan menyeretnya ke Korea,” Pierre melirik Hyunra penuh arti.

“Sudahlah, lagipula aku juga harus menyelesaikan kuliah 1 tahun lagi. Mungkin tak masalah jika aku menyelesaikan proyek ini dan tinggal lebih lama. Aku juga harus memberitahu orangtuaku, akan kupikir lagi nanti.”

“Menambah 1 tahun lagi mungkin memang tak masalah.” Jacob berusaha membujuk Hyunra, mereka membutuhkannya. “Rumah sakit yang telah menerimamu bekerja juga mungkin akan mengerti, mereka tak akan membatalkan tawaran kerja mereka hanya karena kau tinggal lebih lama di sini. Kau aset penting mereka, siapa juga yang akan menyia-nyiakan gadis jenius sepertimu.”

“Aku pikir-pikir dulu Jack.”

“Pikirkan baik-baik, ayo kita ke laboratorium sekarang.” Jacob menggeser kursinya, Aubree, Pierre, dan Kris mengikuti jejaknya. Hyunra masih terpekur di tempat, menambah 1 tahun lagi di New Haven, apakah jalan ini yang benar-benar diinginkannya?

“Averill,” Pierre menarik lengan Hyunra. “Ayo, aku yakin kau akan jatuh cinta setelah melihat makhluk baru itu. Kau tak akan keberatan walau harus tinggal seabad lagi di New Haven.”

“Seabad lagi aku akan mati, kau juga.” Hyunra berdiri, Pierre tertawa dan berjalan menuju laboratorium mengekori Hyunra.

***

Hyunra dengan setia mendengarkan omelan Sehun, dia baru menceritakan tentang spesies bakteri baru itu dan rencana kepulangannya yang lagi-lagi terhambat. Sehun mengomelinya selama hampir setengah jam, laki-laki itu sepertinya tak menghiraukan biaya telepon yang ditanggungnya nanti. Belum lagi jika ia menceritakan tentang berapa lama penelitian itu akan berlangsung.

“Mungkin aku akan menambah satu tahun lagi di sini,” ucap Hyunra ragu.

“Aku tidak salah dengar? Menambah satu tahun lagi? Berarti dua tahun lagi baru kau bisa pulang, kau gila Hyunra.”

“Ini proyek besar, penting.”

“Lebih penting dariku?” Sehun mulai merajuk lagi.

“Tentu berbeda, kau itu kekasihku dan ini penelitian. Mana bisa kau disamakan dengan spesies bakteri baru itu.”

“Tetap saja kau lebih memilih makhluk tak jelas yang bahkan belum memiliki nama. Kau menunda kepulanganmu, sekarang bahkan kau akan tinggal lebih lama demi makhluk tanpa nama itu.”

“A399X itu namanya,” ralat Hyunra.

“Itu bukan nama, hanya kode. Apa kelebihannya? Makhluk itu tidak mencintaimu sepertiku.”

Hyunra terbahak mendengar perkataan Sehun, “Kau terdengar seperti Pierre saat merayu seperti itu.”

“Cho Hyunra!” Sehun memanggil nama lengkapnya, jika sudah seperti itu artinya pertanda buruk.

“Sehun, A399X ini harapan baru bagi umat manusia. Siapa tahu dia akan menghasilkan obat untuk penyakit yang tak terobati selama ini, bayangkan berapa nyawa manusia yang akan tertolong.”

Sehun menghela nafasnya, “Aku hanya mengkhawatirkanmu.” Sehun berkata lirih, suaranya sarat akan rasa khawatir.

“Apa yang membuatmu khawatir? A399X membuatku mati?” Hyunra masih berusaha mencandai Sehun.

“Itu tidak lucu, kau kemana saja Hyun? Oh aku lupa, kau itu sibuk dengan segala omong kosong penelitian. Buka matamu Hyunra, ada banyak hal mendesak lain. Perang dunia,” Hyunra terdiam lama. Perang dunia? Ya, dia juga mendengar desas-desus itu.

Amerika merasa terancam dengan kemajuan teknologi beberapa negara Asia, terutama Korea Selatan. Negara-negara yang dulu termasuk negara berkembang, kini mulai menggeliat menunjukkan kemandirian. Hutang negara-negara tersebut mulai terbayar lunas, teknologi sekarang sudah semakin tak diragukan lagi. Segala macam industri mulai menjamur, membuat barang-barang impor sedikit tersisihkan.

Ancaman bagi lahan ekspor Amerika, lahan ekspor mereka mulai terampas oleh industri dalam negeri. Dan desas-desus berkembang, Amerika akan memerangi negara-negara tersebut. Menghancurkannya satu persatu, agar kejayaan kembali di tangan mereka. Hyunra kira semuanya hanya omong kosong, berita yang menurutnya masih diragukan. Jika memang benar, pasti ia telah kembali ke Korea karena deportasi atau bahkan ditahan tanpa alasan.

“Itu tidak benar, omong kosong. Kekhawatiranmu sama sekali tak beralasan, aku bisa menjaga diriku.”

“Perang bukan sekedar omong kosong, perang kali ini lebih halus sekaligus mematikan.” Sehun mencoba meyakinkan Hyunra, membujuk gadisnya.

“Apa maksudmu? Tak ada perang yang halus, di mana-mana perang itu kasar dan kejam.”

“Senjata biologis, tidak mustahil salah satunya adalah makhluk tak bernamamu.”

“Sehun, A399X bukan buatan intelijen Amerika. A399X hanya obsesi seorang profesor, diciptakan untuk penelitian medis.”

“Hyunra,” suara Sehun terdengar lirih, laki-laki itu sangat mengkhawatirkannya.

“Hentikan, jangan membuang waktuku dengan ocehanmu.” Hyunra segera memutus sambungan telepon.

Bagaimana jika kekhawatiran Sehun benar?

Hyunra segera menepis pikiran itu, tidak mungkin. Lebih baik ia fokus untuk segera menyelesaikan proyek ini dan kembali ke Korea, ia yakin Sehun tak akan merengek lagi jika ia kembali ke Korea. Sehun hanya merindukannya, kekhawatirannya datang karena mereka sudah lama tak bertemu.

***

Juli 2019

Hyunra mengamati pemandangan di luar jendela bus, pemandangan yang selalu menyapa penglihatannya jika dia berangkat ke kampus. Dia menyukai kota ini, tapi dia lebih menyukai kota kelahirannya. Dua tahun belakangan ini dia tak pernah pulang, dia berbohong jika berkata tak merindukan Korea, keluarganya dan tentu saja Sehun.

Apa kabar mereka semua? Meskipun dia sering berkomunikasi dengan keluarganya dan Sehun untuk mengobati sedikit rasa rindunya, tetap saja dia merindukan mereka. Bagaimana kabar kakak laki-lakinya itu? Bagaimana keadaan kedua orangtuanya? Apakah Sehun baik-baik saja disana? Getaran di saku celananya membuyarkan semua lamunan Hyunra.

Averill, hari ini jangan ke laboratorium. Kita berkumpul di apartemen Pierre, sekarang.

Instruksi Jacob melalui pesan singkat itu membuatnya bingung. Mengapa mendadak melarang ke laboratorium? Dengan berat hati, Hyunra menuruti kemauan Jacob. Bebalik arah menuju apartemen Pierre, mengganti bus yang ia tumpangi.

***

“Kau terlambat,” Kris selalu menjadi orang pertama yang menudingnya.

Hyunra menatap malas sosok tinggi di hadapannya, kenapa laki-laki ini hobi sekali mengomentari keterlambatannya? Padahal ini sering sekali terjadi untuk seorang Hyunra, bahkan Pierre pernah berkata jika seorang Hyunra tidak terlambat maka waktu sudah bergerak mundur. Tentu saja itu hanya gurauan Pierre, dia tidak terlambat terus menerus seumur hidupnya.

“Kris, kau berteman denganku tidak satu hari. Berhenti menudingku seperti itu, seakan terlambat itu dosa besar.” Hyunra melemparkan ranselnya ke arah Kris, dengan sigap ditangkapnya.

Hyunra langsung duduk di karpet tebal merah marun milik Pierre, bersandar di kaki Aubree yang duduk di sofa bersama Kris. Jacob berdiri di hadapannya, mondar-mandir tak jelas. Pierre tak terlihat batang hidungnya, entah kemana.

Where’s Pierre?” Hyunra mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen.

“Aku datang,” Pierre datang membawa senampan jus dingin. Meletakkannya di meja, kemudian duduk di samping Hyunra. Seperti biasa, mengacak rambut Hyunra sebelum gadis itu menepis tangan Pierre.

“Ada masalah apa Jack?” Aubree akhirnya bersuara.

“Berhenti mondar-mandir, duduklah.” Pierre menepuk karpet tebal merah marunnya.

Jacob tak begitu menghiraukan perkataan Pierre, “Profesor menghilang, ditangkap intelijen.”

“Mengapa?” Hyunra tak mengerti, memangnya salah profesor apa?

“A399X,” kali ini Kris yang menjawab. “Seluruh dokumen penelitian disita, laboratorium disegel.”

“A399X?” ini seperti mimpi buruk, hasil penelitian 2 tahun terakhir sia-sia.

“Dihancurkan, sepertinya.” Jacob kembali mondar-mandir.

Hyunra terdiam, penelitian ini sudah menemukan titik terang. Mereka mulai menemukan zat yang secara kontinu dihasilkan A399X saat berada dalam kondisi tertentu, seperti kondisi lingkungan ekstrim dan penyerangan A399X menggunakan bakteri maupun virus ganas. Mereka telah mengekstraksi sejumlah zat dan telah menyiapkan serangkaian cara untuk menguji aktivitasnya dan mengetahui struktur kimianya, bahkan mereka saling bertaruh.

Hyunra yakin zat tersebut lebih hebat dari resveratrol1, Jacob menebak zat tersebut mampu mempetahankan neuron dari kerusakan bahkan membuatnya beregenerasi. Pierre hanya menggelengkan kepalanya tak yakin, Aubree memelototi A399X seolah bakteri tersebut bisa berbicara. Kris ragu-ragu menebak zat tersebut adalah obat AIDS. Dan kini? Mereka tak akan pernah tahu apa zat tersebut, mereka tak tahu siapa yang akan memenangkan taruhan tersebut.

“Apa salahnya? Makhluk itu tak berdosa,” Aubree menatap Jacob sendu.

“Bukan itu yang penting sekarang,” Jacob terus mondar-mandir gelisah.

Hyunra terbelalak, tidak penting? Banyak hal yang harus dikorbankan olehnya dan dengan mudahnya Jacob berkata itu tidak penting. Bukannya dia tak rela dengan semua yang ia tinggalkan demi penelitian, tapi semua kerja keras mereka itu sangatlah penting. Semua waktu yang mereka korbankan bukan hal yang main-main dan bisa dianggap remeh.

“Apa? Kau bilang itu tidak penting? Kerja keras kita tidak penting Jack? Kerja keras Profesor bertahun-tahun menciptakan A399X tidak penting?” Hyunra menyerang Jacob beruntun, ia tak mengerti jalan pikiran laki-laki itu.

Jacob hanya menatap Hyunra sebentar, kemudian melempar pandangan ke luar apartemen.

“Kalian semua harus meninggalkan negara ini, kumohon kembalilah ke negara kalian. Sebelum terlambat, sebelum kalian menyusul Profesor.”

“Dan kau?” Kris menatap Jacob tajam.

“Aku tetap tinggal Kris, aku tak akan lari dari negaraku.”

“Lalu membiarkan kami lari dari masalah seperti pengecut?” Hyunra menatap Jacob, sedikit marah kepada laki-laki itu.

“Aku yang bersalah, aku yang mengajak kalian dalam proyek ini. Aku yang bertanggung jawab, pergilah. Kupikir kalian hanya memiliki waktu tiga hari.”

Mereka terdiam, membiarkan kekosongan itu hanya terisi oleh suara helaan napas mereka.

“Jacob, aku mencintaimu.” Aubree mengambur memeluk Jacob.

“Aku juga, kalian semua keluargaku.” Jacob memandang mereka semua satu persatu.

“Keluarga tak akan meninggalkan masalah untuk ditanggung seorang diri Jack,” ujar Pierre.

“Kami semua tak akan pergi,” Kris berkata dengan lantang. Pierre, Aubree dan Hyunra mengangguk yakin, mereka harus terus bersama hingga mereka bisa mendapatkan apa yang selama ini menjadi tujuan mereka.

***

September 2019

Selama 2 bulan ini mereka diam-diam mencari keberadaan Profesor Smith, hasilnya nihil. Laboratorium tetap disegel, mereka semua tak berani mendekatinya. Setidaknya mereka lega karena pihak intelijen tak pernah menangkap mereka semua seperti yang dikhawatirkan Jacob. Dan mereka tetap tidak mengerti tentang alasan dibalik penghancuran A399X. Sampai suatu hari, Jacob mengumpulkan mereka semua di apartemen Pierre.

“Kau terlambat,” Kris tetap saja mengomentari keterlambatan Hyunra.

“Aku tahu, Kris. Memangnya tidak bosan berkomentar seperti itu selama bertahun-tahun?” Hyunra menjulurkan lidahnya. Mereka semua tertawa sementara Hyunra hanya merengut, kecuali Jacob.

“Serius teman-teman,” Jacob menyelamatkan Hyunra dari bahan tertawaan. Kris menutup mulutnya, Aubree bergeser memeluk pundak Hyunra. Pierre juga mendekat dan Jacob mondar-mandir seperti biasa.

“Aku memiliki kabar baik untuk kalian,” Jacob sama sekali tak berhenti mondar-mandir ketika dia berbicara, dia bergumam kecil, “Semoga ini benar-benar kabar baik.”

“Kabar apa Jack?” Kris menatap Jacob penasaran, begitu juga yang lain, mereka harap sebuah kabar yang sangat baik menyapa gendang telinga mereka.

“Kemarin aku pergi dan tak sengaja bertemu dengan istri Profesor Smith, dia tidak ikut ditangkap, mungkin melarikan diri. Dia bilang profesor masih memiliki A399X yang di simpan di rumah mereka yang dulu, profesor memberikan itu ke istrinya sebelum dia ditahan dan memberikan salinan hasil penelitian kita.”

“Lalu kenapa kau tidak berhenti mondar-mandir seperti itu?” Pierre tak habis pikir dengan Jacob, bagaimana bisa Jacob bersikap seperti itu sementara mereka mendapat kenyataan lain yang memberikan harapan untuk semuanya.

“Aku hanya bingung, apa kita akan melanjutkan penelitian?” Jacob terlihat bimbang, banyak hal yang membebani pikirannya.

“Tentu saja harus, kita harus bisa menyelesaikan penelitian ini.” Hyunra berkata dengan semangat, mereka tak boleh berhenti begitu saja ketika sebuah harapan datang.

***

Kembali melanjutkan penelitian tersebut secara diam-diam, menyewa sebuah apartemen dan menguras –hampir seluruh uang tabungan mereka untuk membeli peralatan laboratorium. Mereka menyulap apartemen tersebut menjadi sebuah laboratorium, menghabiskan waktu mereka di apartemen untuk penelitian. Studi mereka telah selesai 1 tahun lalu, mereka sengaja tetap tinggal hanya untuk penelitian.

“Aku menemukan sesuatu,” suara Aubree menginterupsi pekerjaan mereka.

Mereka mendekati Aubree, Aubree tetap tak bergeming menatap hasil penelitiannya.

“Sepertinya tebakanmu benar Averill,” Aubree tiba-tiba melonjak kegirangan dan memeluk Hyunra.

“Apa?” Hyunra menatap Aubree bingung, tebakannya?

“Kita bisa menemukan obat kanker, zat ini sepertinya memang lebih kuat dari resveratrol, itu artinya kita bisa menyelamatkan banyak nyawa.” Aubree menatap mereka satu persatu dengan mata berbinar.

“Kanker apa?” Kris menatap Aubree penasaran.

Aubree menggeleng pelan, “Aku belum tahu, tapi sepertinya A399X benar-benar menghasilkan zat yang berguna.”

“Benarkah?” Pierre segera menyambar kertas yang tergeletak di meja.

“Dengan begitu kita bisa mengobati nenekku, semoga kita bisa menyelesaikan proyek ini dan menciptakan obat kanker” semua tahu nenek Aubree mengidap penyakit kanker hati. “Setidaknya aku senang meskipun misalnya obat itu tak bisa menyembuhkan nenekku, kita bisa membantu banyak orang.”

“Kau yang terbaik Abby,” Hyunra kembali merengkuh Aubree ke dalam pelukannya.

***

Hyunra mengeringkan rambutnya, dia baru saja selesai mandi. Butiran-butiran air menuruni helaian rambutnya, Hyunra kemudian menyalakan televisi. Siaran berita, tak cukup menarik perhatiannya untuk menyimak. Ponselnya bergetar, terpampang nama Sehun di sana. Hyunra segera menggapai ponselnya dan menjawab telepon dari Sehun.
“Hyun, kau baik-baik saja? Kapan kau pulang? Cepatlah pulang Hyun, kau tak akan tinggal lebih lama lagi di sana bukan?” belum sempat Hyunra berkata apapun, Sehun telah memburunya dengan serentetan pertanyaan.

Tapi setidaknya Hyunra senang, suara itu membuat sebuah perasaan membuncah di dadanya. Menahan sedikit rasa rindu yang ditahannya, mengobati dirinya yang tengah sakaw karena kecanduan. Sehun bagaikan zat adiktif, membuat dirinya ketergantungan.

“Tenangkan dirimu Sehuna, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu jika kau bertanya seperti itu.”

“Aku merindukanmu Hyun,” Hyunra terkekeh pelan mendengar perkataan Sehun.

“Kau selalu berkata seperti itu jika meneleponku, apa kau tak bosan?” Hyunra tahu Sehun tengah merengut sekarang, Hyunra tertawa membayangkan raut wajah Sehun. Apa masih sama seperti dulu?

“Tentu saja tidak, aku merindukanmu Hyun. Apa kau tak merindukanku? Apa kau sudah jatuh cinta pada makhluk tak bernamamu itu dan melupakanku huh?”

“Memangnya jika aku jatuh cinta pada makhluk yang menjadi penelitianku, apa yang membuatku jatuh cinta padanya?”

“Makhluk itu menggodamu, mungkin?” mereka tertawa, Hyunra merindukan ini. Merindukan tawanya, saat pipinya terangkat dan matanya yang menyipit ketika tertawa, merindukan semua hal yang berhubungan dengan laki-laki bermarga Oh itu.

“Mana mungkin makhluk itu menggodaku, berbicara saja dia tak bisa. Jika dia bisa berbicara, mungkin aku hanya perlu bertanya dan tak harus melakukan penelitian selama bertahun-tahun.”

“Kau belum tidur?”

“Belum, kau juga, kenapa tidak tidur? Kupikir di sana sudah lewat tengah malam,” Hyunra memperhatikan siaran berita di televisi, tidak menyimak pembicaraan sang pembawa acara sebenarnya.

“Terbangun dari tidur, kau tahu? Ini karena aku merindukanmu, sangat merindukanmu.”

Darah Hyunra kini menggumpal di pipinya, membuat sebuah semburat merah tergambar malu-malu di pipi putih itu. Hanya serangkaian sederhana sebenarnya, tapi Hyunra sulit untuk mengentrol detak jantungnya yang berlomba.

“Cepat tidur, nanti kau tertidur di kantor.”

“Baiklah kalau begitu, aku akan tidur lagi, aku mencintaimu.”

Hyunra tersenyum kecil, “Aku juga mencintaimu.”

***

Mereka terus berusaha untuk menemukan zat yang terkandung dalama bakteri tersebut, penelitian mereka sangat terbantu dengan penemuan Aubree. Mereka juga tengah mencari cara untuk mengembangbiakkan A399X, mereka harus mengerahkan semua kemampuan mereka karena tak ada lagi Profesor Smith yang membimbing mereka, hingga sekarang profesor tak kunjung ditemukan.

Hyunra menghempaskan dirinya ke sofa, “Where’s Kris?”

Jacob berhenti menulis di kertas laporannya, memandang sekeliling. Mencari sosok laki-laki yang baru disadari keberadaannya, laki-laki itu tak ada. Pierre segera mengecek dapur, kamar mandi dan ruangan lainnya. Tapi hasilnya nihil, Kris tak ada dimanapun.

“Kukira kalian menyadarinya, sejak tadi pagi Kris tak ada.” Aubree duduk di sebelah Hyunra, meneguk minuman dingin yang diambilnya dari lemari es.

“Kenapa kau tidak memberitahu kami? Aku benar-benar tak menyadarinya, pantas aku merasa ada yang kurang.” Pierre menyapukan pandangannya ke sekeliling apartemen, tak ada yang aneh sebenarnya –masih sama dengan banyak peralatan laboratorium. Hanya saja tak ada sosok jangkung dengan rambut blonde terlihat, matanya tak menangkap sosok Kris.

“Kupikir kalian tahu, mungkin Kris memberi kabar kepada kalian. Sedari tadi kalian sibuk dan tidak ada yang berbicara tentang Kris, jadi aku hanya diam dan beranggapan kalian tahu.”

Pierre memandang keluar jendela, “Semoga tak terjadi hal buruk pada Kris.”

Ponsel milik Jacob yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar, sebuah pesan masuk.

“Ini dari Kris,” Jacob segera membuka pesan tersebut. “Dia pulang ke Vancouver.”

“Pulang? Kenapa mendadak sekali?” Hyunra mengerutkan dahi, Kris harusnya memberitahu mereka terlebih dahulu.

“Dia bilang ada urusan keluarga yang penting.”

Aubree beranjak dari duduknya, “Mungkin memang urusan yang mendesak dan Kris tak sempat pamitan kepada kita.”

***

Kris terus memberontak, tiga laki-laki berbadan besar itu mengunci pergerakannya. Kris benar-benar tak bisa berkutik, dia diseret ke sebuah gedung dan Kris tak terlalu memperhatikan dimana dia berada sekarang. Kris terus memutar otak, bagaimana caranya agar ia bisa melarikan diri secepatnya. Dia tak mengerti kenapa orang-orang ini tiba-tiba menangkapnya.

“Lepaskan, apa salahku?”

Mereka tak menjawab, menyeret Kris menuju sebuah ruangan dan tampak tak terganggu sama sekali dengan rontaan Kris. Kris dibawa ke sebuah ruangan, seseorang nampak tengah duduk membelakangi Kris. Tiga orang tadi keluar, Kris baru saja berniat akan melarikan diri ketika laki-laki itu memutar kursinya.

“Mau pergi kemana Kris Wu?”

Kris memperhatikan laki-laki asing di hadapannya, “Siapa kau?”

“Melanjutkan penelitian bakteri baru secara diam-diam padahal sudah jelas kami menghancurkannya, darimana kalian mendapat salinan penelitian?”

Kris akhirnya sadar bahwa dia ditangkap pihak intelijen Amerika.

“Apa saja yang kalian tahu tentang bakteri tersebut?”

Kris tak bergeming, dia tak mungkin memberitahu hasil penelitian pada mereka. Selain karena hasil penelitian belum pasti dan tentu saja jika hasil penelitian benar maka dia tak akan memberitahu mereka, otaknya berkata mereka tak boleh menjadi orang pertama yang mengetahui hasil dari penelitian.

“Bagaimana kalau kau membantu kami?” laki-laki itu menyunggingkan senyum licik.

Kris terhenyak, “Tentu saja aku tidak mau.” Kris tahu semua ini pertanda buruk, sama buruknya ketika dia tiba-tiba dihadang tiga laki-laki dan diseret ke sebuah tempat yang asing.

“Jika kau mau keluargamu selamat, maka kau harus membantu kami. Jika kau mau keluargamu mati, silahkan pergi.”

Tak ada pilihan lain yang ditawarkan dan Kris tahu dia terjebak.

***

Hyunra segera pergi setelah mendapat pesan dari Jacob, sebuah pesan mendadak dan dia tak tahu apakah kabar buruk atau kabar baik yang akan didengarnya. Matahari sudah hampir tenggelam, Jacob membiarkan mereka pulang tadi siang dan sekarang Jacob kembali mengumpulkan mereka di apartemen –laboratorium sementara mereka.

“Kami mempunyai kabar buruk untukmu, Averill.” Jacob berhenti sejenak, “Ini menyangkut A399X.”

Hyunra mengerutkan keningnya, “Apa? Kabar apa? Bukankah itu kabar baik? Kalian pasti menemukan zat apa yang terkandung dalam A399X bukan?”

“Dengarkan Jacob sampai selesai, anak kecil.” Pierre memperingatkan, Hyunra bungkam.

“Tak satupun dari kita yang menebak zat milik A399X dengan benar, zat itu berbahaya. Hasil penelitian milik Aubree dulu keliru, aku tak tahu kenapa, zat itu memang hampir mirip dengan resveratrol. Racun itu bahkan lebih berbahaya dari aconitin2.”

“Apa? Kau tidak bercanda Jack? Lalu kenapa ini kabar buruk untukku? Bukankah ini untuk kita semua dan itu tandanya kita harus menghentikan penelitian.”

“A399X memiliki zat yang sangat kuat, zat itu bukan obat seperti yang kita perkirakan, zat itu adalah racun yang mematikan.”

“Racun yang sangat berbahaya dan telah disalahgunakan,” Pierre memainkan helaian rambut Hyunra.

Bio-weapon, Korea Selatan.” Sehun benar, Jacob tersenyum getir. Pierre mengusap punggung Hyunra, pelukan Aubree di pundak Hyunra mengerat.

“Negaramu dipastikan mengalami kemunduran beberapa tahun,” Jacob bahkan sebenarnya tak sanggup mengeluarkan kata, “Kita tak tahu negara mana yang selanjutnya menjadi korban.”

Pikiran Hyunra kosong, dia masih mencerna kalimat yang memasuki pendengarannya itu. Hanya sebuah kalimat sederhana sebenarnya, tapi Hyunra butuh waktu untuk bereaksi. Dia benar-benar mengerti maksud kalimat itu, tapi bukan itu masalahnya. Hati dan pikirannya menolak kenyataan tersebut, menolak untuk mencernanya, menolak untuk menerimanya.

“Aku pulang, hari ini.” Hyunra segera berdiri dan menepis lengan-lengan yang menyentuhnya.

“Kami ikut,” Jacob memegang pundak Hyunra.

“Aku ingin sendiri,” tolak Hyunra.

Tapi kemudian Hyunra kembali terduduk lemah, dia tak menangis tapi wajahnya sarat akan kesedihan. Pikirannya tertuju pada keluarganya dan Sehun. Aubree menatap Hyunra, kondisi Hyunra sangat buruk. Aubree pikir lebih baik Hyunra menangis dan mengeluarkan kesedihannya, dia tak tega melihat sahabatnya seperti ini. Aubree tahu Hyunra sangat buruk dalam mengekspresikan kesedihan, selama ini Hyunra jarang sekali menangis.

“Racun itu, bagaimana caranya?” Sehun, 2 minggu ini teleponnya tak terjawab dan 1 minggu terakhir ini tak ada telepon dari Sehun.

“Makanan kaleng, racun itu disusupkan dalam makanan kaleng dan diekspor khusus ke negaramu. Hampir satu pertiga penduduk meninggal, racun itu langsung menghentikan jantung.”

Hyunra lemas seketika, pikirannya tertuju pada Sehun dan keluarganya.

***

Kris memandang langit malam yang terasa begitu kelam, tak ada kelap-kelip bintang disana.

“Maaf,” suaranya berhembus bersama angin.

Kris mau tak mau mengambil pilihan yang sangat mustahil dalam hidupnya, membantu mengembangbiakkan A399X yang ternyata adalah sebuah racun berbahaya. Mengkhianati sahabatnya, bahkan mengkhianati negara kelahirannya, China. Dia dipulangkan ke Vancouver, secara terhormat dan bukan deportasi. Tapi rasanya bukan itu yang dia inginkan, lebih baik dia ditahan daripada harus seperti ini akhirnya.

Kris tersenyum getir, “Dan China akan menjadi tujuan selanjutnya.”

***

Sebuah penyesalan itu selalu menunggu di akhir, penyesalan yang menemani di awal hanyalah sebuah permulaan, kiasan semu yang belum pasti

Hyunra berlari sepanjang lorong rumah sakit, otaknya tak berfungsi dengan baik sekarang. Dia baru saja pulang dan mendapat kabar yang sangat buruk, kekhawatirannya semakin membesar dan jelas. Dia bahkan tak menghiraukan sapaan Luhan –sepupu Sehun dan segera menerobos masuk ke ruang ICU, tempat Sehun mempertahankan nyawanya beberapa hari ini.

“Sehun, aku pulang.” Hyunra berbisik pada Sehun, hanya segelintir orang yang bisa lolos dari racun itu. Sehun lolos dari kematian, koma. Tubuh Sehun penuh selang penopang hidup, harusnya ia mendengarkan Sehun 2 tahun lalu.

Tak ada balasan, tak ada pergerakan apapun dari laki-laki yang tengah terbaring lemah itu. Kulitnya yang berwarna putih itu semakin pucat, seakan darah sudah melupakan tugasnya untuk memberikan sedikit warna pada laki-laki berwajah rupawan itu. Hyunra menggenggam tangan Sehun, dingin.

“Sehuna, bukankah kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu,” tak ada jawaban, hanya suara alat pemacu jantung yang menemaninya.

“Sehun Oppa,” Hyunra tersenyum pahit. “Bukankah kau selalu ingin aku memanggilmu Oppa? Aku janji akan memanggilmu seperti itu jika kau bangun, jangan terlalu lama terlelap dan membuatku kesepian.”

Genggaman Hyunra mengerat, dia terus menatap Sehun yang masih setia menutup matanya. Hyunra merindukan saat mata hazel itu menatapnya lembut, memancarkan asa yang tak terucap.

Suara panjang alat pemacu jantung itu seolah membuat waktu berhenti, detakan lemah itu menghilang. Hyunra menjerit, memeluk erat lengan Sehun. Butiran bening itu meluncur bebas menuruni pipinya, pelupuk matanya tak mampu lagi membendung. Jeritan yang sarat akan kepedihan itu memenuhi ruangan serba putih tersebut, jeritan pilu disertai tangis tanpa henti.

“Oh Sehun!” pekik Hyunra, dokter dan suster berhamburan masuk. Luhan, sepupu Sehun, berusaha menenangkan tangisnya, ia terus meracau memanggil nama Sehun. Hyunra menjerit, jeritan yang sarat akan kepedihan.

Memeluk sosok yang sekarang terbujur kaku, mengguncangnya berharap semua yang dilakukannya membuahkan hasil. Hyunra bersandar pada dada bidang Sehun yang selalu menyelimutinya dengan rasa aman, terasa dingin dan tak ada lagi kengahatan yang melingkupi.

“Kau berjanji akan melindungiku, kau berjanji tak akan meninggalkanku sendiri. Mana janjimu Sehun? Tepati janjimu Oh Sehun!”

“Dia sudah pergi,” bisikan Luhan seolah terpental kembali, kenyataan itu tak mau diakuinya.

Hyunra kini menangis dalam rengkuhan Luhan, menyaksikan sosok Sehun terbaring kaku dan dokter segera menutupi jasadnya. Hyunra bahkan berharap bahwa ini semua hanya mimpi dan saat terbangun dia masih berada di New Haven, di kamar apartemennya. Tapi semua itu hanya angan-angan, semua yang dilaluinya sekarang adalah kenyataan.

Kematian, sebuah hal yang tak bisa dibantah oleh setiap umat manusia, satu-satunya jalan menuju sebuah keabadian. Kita tak pernah tahu kapan kematian itu datang, kematian itu selalu membayangi sebuah kehidupan manusia. Tak ada yang abadi, hanya makhluk fiksi yang menyandang status abadi.

Sebuah kematian itu tak akan pernah bisa kita hindari, kematian tak bisa dibantah. Keabadian dalam sebuah kehidupan  hanyalah sebuah fatamorgana yang memasuki angan-angan manusia. Keabadian sebenarnya adalah ketika kita telah melewati sebuah kematian, di kehidupan selanjutnya. Keabadian dan kematian, dua kenyataan yang tak bisa dipisahkan. Kita semua tinggal menunggu, menunggu kapan kematian itu datang menjemput kita.

THE END

Fote note :

1Phytoalexin yang diproduksi secara alami oleh beberapa tumbuhan tertentu saat diserang patogen berupa bakteri maupun virus. Dipercaya sebagai antioksidan yang bisa mencegah penuaan dan sedang dilakukan penelitian untuk dikembangkan sebagai obat kanker.

2Aconitin yang juga menyandang gela ‘The King of Poison’ adalah sebuah racun mematikan. Salah satu jenis racun pelumpuh syaraf yang diambil dari daun dan akar tanaman Torigabuto. Memiliki dosis kematian dengan 2 miligram, sebuah racun kuat yang mampu mematikan beberapa menit setelah mulai larut dalam tubuh.

12 thoughts on “[FF Writing Contest] A399X

  1. gila… ini ff nya seru bangettt.. aku hampir nangis… sumpah kris jahattt… kris berhianattt :””))
    kata – katanya bagus banget.. keep writing thor ^^

  2. Yaampun keren BANGETT!!!! Hooohh, ini alurnya lbh seriuss..ckck emang kliatannya yg kedengeran omong kosong itu juga harus dipikirin yee, stidaknya nyelametin yg ada hahaha keren bgt…. Really love it!!!^,^

  3. wah keren banget ceritanya aku bnr2 terhanyut, meski agak saintifik tp jarang banget ff yg kyk gni, aku suka…
    wow sekali!!!!
    meski sad ending, tp aku justru suka sad ending drpd ntr sehunnya maksain hidup lg.

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s