[FF Writing Contest] Beach and the Sunset

beach and the sunset artwork

Title : Beach and the Sunset

Author : ainayanf

Main Cast :

  • Kim Jongdae a.k.a Chen (EXO-M)
  • Jung Hyora (OC)

Support Cast : –

Genre : life, romance, a bit of fantasy, sad

Rating : Teenager

Nai note a bit Inspired  from‘That Winter the Wind Blows’ drama.

 

—–

Gadis itu bernama Jung Hyora, mudah saja mengenalinya garis muka datar dan air muka yang dingin—–sangat dingin malah, mungkin melebih es yang dikeluarkan dari freezer bersuhu minus degrees celsius. Tersenyum adalah hal yang sangat-sangat jarang Ia lakukan semenjak satu setengah tahun yang lalu. Tersenyum akan Ia lakukan jika benar-benal dalam keadaan yang ‘sangat-sangat’ terpaksa, senyumannya pun seperti robot, tidak ada senyuman tulus seperti  Hyora yang dulu.

Kegiatan sehari-harinya juga seperti robot, bekerja dari pagi hingga malam, tidur paling lama dua jam semalam, yang menyebabkan lingakaran hitam seperti panda di matanya. Di hari selasa yang cerah ini Ia menjejakkan kakinya di salah satu Pantai yang jauh dari hiruk pikuk Seoul City, tempat asalnya.

Ayahnya menyarankan Hyora agar tidak terlalu memforsir dirinya untuk bekerja, Sebenarnya, jika Hyora mau pun Ia tak  perlu bersusah payah bekerja untuk mencari seperser uang. Karena, Ayahnya adalah salah satu pemilik Perusahaan Garmen ternama di kawasan Asia. Namun, Hyora menolaknya, dari awal Ia memang ingin mencari penghasilan sendiri, tanpa bantuan Ayahnya. Setelah memohon-mohon, akhirnya Hyora diizinkan bekerja di salah satu Perusahaan Design Grafis yang cukup terkenal di Seoul City.

—–

“Biar kami yang membawakan koper anda,”

Jung Hyora menyerahkan koper besarnya pada Petugas Do Jeongju, tempat penginapannya.

Hyora bergegas menaiki satu persatu anak tangga menuju Lantai dua, tempat suitenya berada.

—–

Hyora menghempaskan tubuh rampingnya ke sofa putih panjang di Suitenya. Nyaman. Jika saja tidak ada orang yang mengetuk pintunya, mungkin Hyora sudah terlelap. Dengan langkah gontai Ia membuka pintu Suitenya.

Silyehamnida, koper anda Nona Jung,”

kamsahamnida,” Hyora merogoh saku denim shortnya lalu, menyerahkan beberapa lembar kertas sebagai alat pembayaran sah berjenis won.

Hyora hampir saja melupakan koper besarnya.

Pegawai itu tersenyum lebar, “kamsahamnida!Mungkin ia terlalu senang mendapat tip? Pikir Hyora.

—–

Jung Hyora melirik pergelangan tangannya. Dua jam Ia tertidur, biasanya dua jam adalah waktu untuk tidur malamnya. Yang lebih mengherankan tidurnya sangat nyenyak. Padahal, beberapa bulan terakhir Ia tak pernah tidur dengan nyenyak.

Dalam beberapa menit Ia sudah berganti outfit dengan satin racerback tank dan flirty dotted shorts. Ia juga tidak lupa memborehkan sunblock di sekujur tubuhnya.

—–

“Hyo!”

“lihat kesini! aku sedang merekammu, tersenyum!”

Jung Hyora melambaikan tangannya dengan senyuman manis di wajahnya ke arah handycam.

“Lu! pinjam handycamnya! gantian, aku akan merekammu!” Hyora berjalan ke arah laki-laki yang dipanggil ‘Lu’ itu. Ia mengambil alih handycam yang dipegang laki-laki tersebut.

“Lu! say hello!” seru Hyora.

Annyeong! saat ini aku sedang berada di Jungmun Beach bersama yeoja yang paling cerewet dan paling kusayangi!” Lu. Lengkapnya Xi Luhan, melambaikan tangannya ke arah handycam yang kini dipengang Hyora, membuat Hyora membeku beberapa saat.

“Hyo! pinjam sebentar,” pinta Luhan.

See? pipinya mulai bersemu merah,” Luhan mengarahkan handycamnya ke Hyora yang wajahnya kini mulai memerah padam karena perkataan Luhan tadi.

Yaa! Xi Luhan, jangan direkam!!”

Luhan kini duduk di samping Hyora. “Hyo, lihat kesini, ayo kita foto!”

Hyora mengulas senyuman manis.

Click! Click!

“Hyo neomu yeppo,” komentar Luhan, Ia mencubit pelan pipi Gadisnya, membuat wajah Hyora kembali bersemu merah.

“kau juga, kau tampan,”

“dari dulu kali!” Luhan menunjukkan smirknya. Cup!

Ia mencium pipi Hyora, “Yaa!” Hyora mendengus, namun rona merah muncul di pipinya. Membuatnya tertunduk malu.

Hyora mendengus, “Persetan kau Xi Luhan!”

Ia meraih kerikil yang berada di dekatnya. Lalu, melempar ke arah Pantai. Ia selalu kesal ketika mengingat masa lalunya. Xi Luhan, lelaki brengsek, Ia mendekati Hyora karena mengincar harta kekayaan keluarga Jung.

“Oppa,”

“waeyo Young-ah?”

“Oppa, bagaimana jika ketahuan kalau Oppa berselingkuh dari Hyora?”

Luhan mendengus kecil. “tidak akan Young, dalam waktu dekat aku akan memutuskannya. Aku sudah mendapat incaranku kok,” Luhan mengusap puncak kepala yeoja yang dipanggilnya ‘Young’ itu.

Membuat Young tersenyum. “Oppa janji kan tidak akan meninggalkanku?”

Yaksok Young-ah. Tenang saja masalah Hyora, dia tidak akan mengetahui ini kok,” Luhan mengecup pipi kanan Young.

Hyora niatnya ingin membeli Americano dingin favoritenya. Namun, Ia seperti mendengar suara Luhan. Benar saja Luhan berada di meja tersbeut dengan seorang perempuan. Maka Ia berpura-pura duduk di meja sebrang Luhan dengan glasses hitam, varsity, dan juga masker untuk mengetahui-apa-yang-dilakukan-namjachingu-nya. Ia mendengus kesal, lalu berjalan menuju meja tempat Luhan dan perempuan itu berada.

“Persetan kau Xi Luhan!” Hyora menampar kencang pipi putih Luhan. “Bajingan Kau!”

Nafas Hyora terengah-engah, Ia segera meraih tasnya di mejanya tadi lalu bergegas keluar dari café  dengan berlinang air mata.

Masa lalu yang buruk, yang membuat Hyora menjadi manusia es. Karena satu nama Xi Luhan.

Sampai sekarang Ia masih tidak habis pikir, cinta pertamanya, mantan kekasihnya, namja yang menghiburnya ketika Ia sedih, yang selalu ikut bahagia ketika Ia gembira, mencampakkannya. Ia benar-benar tidak menyangka. Jadi selama ini kasih sayang Luhan, janji manis Luhan, gombalan Luhan hanya sandiwara semata!

Hyora mengambil kerikil yang lebih besar. Lalu melemparnya lagi ke Pantai—–meluapkan emosinya.

Ingin rasanya kenangan indah maupun kenangan menyakitkannya dengan Luhan enyah dari pikirannya. Namun bagaimana caranya? Apa ia harus mencuci otak? Tidak mungkin. Kini Hyora malah tersenyum sinis.

Ia berjalan mendekat ke bibir Pantai. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar, siap untuk menerima ombak yang akan membawanya pergi jauh.

Bye!

Ombak itu datang, sesuai dengan keinginan Hyora, ombak yang datang adalah ombak pasang.

Beberapa saat kemudian Ombak itu kembali ke asalnya, membawa serta Hyora kesana.

JONGDAE SIDE

yeoja tadi kemana?” pikirku. Bukankah tadi Ia berada di pinggir Pantai? Atau.. jangan-jangan dia terbawa arus?!

Aku langsung melepaskan sunglassesku, lalu berlari ke arah Pantai. “Yaa! Agasshi eodiga?!” Aku berjalan-jalan tak menentu, menyusuri pinggiran pantai. Nihil.

Kenapa aku jadi frustasi?!

AUTHOR SIDE

Terlihat lambaian lemah di tengah pantai. Hanya terlihat setengah lengannya, badannya tak terlihat.

Jongdae, lengkapnya Kim Jongdae segera berlari ke tengah pantai, Langkahnya terasa berat, karena Ia berlari di tengah air.

Berhasil, Ia berhasil menemukan yeoja itu. Kini yeoja itu tengah berada di gendongannya.

Agasshi! Agasshi!” Jongdae menepuk-nepuk bahu Hyora. Namun, tak ada respon dari sang pemilik bahu.

Jongdae menekan dada Hyora, keluarlah sedikit air dari mulutnya.

Namun, Hyora tak kunjung sadar. Ia mulai mendekatkan mulutnya ke mulut Hyora—–memberikan nafas buatan.

—–

Agasshi, kau tadi terbawa arus,”

anyway, aku Kim Jongdae. Lain kali hati-hati ya!” lanjutnya.

Eo,” balas Hyora datar, tanpa menoleh sedikitpun pada namja di sampingnya, Kim Jongdae.

“omong-omong namamu siapa?”

“Hyora, Jung Hyora.” Tepat setelah Hyora memberi tahu namanya, Mereka sampai di Suite Hyora. Ia segera memasuki Suitenya tanpa ucapan terimakasih atau salam Ia segera menutup pintu Suitenya.

Sedang Jongdae membelakakkan matanya. “Mwo?” Namun, Ia segera berpikir positif mungkin Hyora sedang ada masalah, atau sedang labil, atau Hyora sedang tidak baik moodnya. Otaknya tengah berpikir keras.

—–

Annyeong Hyora-ssi!” Jongdae menghampiri Hyora yang kini tengah memeluk kedua kakinya dan menumpukan dagu di tempurung lututnya sambil menatap Pantai.

“oh Annyeong,” ketika Hyora menyadari bahwa Jongdae telah duduk di sampingnya, Ia segera bergegas berdiri, mencari tempat lain untuk menyendiri.

“Jongdae-ssi apa disini tidak ada tempat lain?” tanya Hyora ketika Ia telah menemukan tempat ‘menyendiri’nya yang lumayan jauh, Namja itu malah kembali duduk di sampingnya, seperti tadi.

“memangnya kenapa?”

“Aku tidak suka diganggu!”

“memangnya aku mengganggumu?”

“sangat mengganggu.”

slowdown Nona Jung,”

Hyora hanya mendengus kecil. “kenapa kemarin kau menggagalkan rencana bunuh diriku?”

Mata Jongdae membulat, “J..Jadi kau mau bunuh diri?”

Ne,” balas Hyora datar, tanpa sedikit pun menoleh ke arah lawan bicaranya—–tidak sopan.

“Aku heran, kenapa ada orang yang dengan bodohnya ingin mengakhiri hidupnya.”

Hyora mengernyit. Maksudnya?

“Iya, kenapa ada orang yang jelas-jelas sudah diberikan Tuhan otak untuk berpikir malah berkeinginan mengakhiri hidupnya? Padahal di luar sana banyak orang yang mendambakan umur yang panjang, Namun Tuhan hanya memberikannya umur yang pendek. Sedangkan orang-orang beruntung itu, yang memiliki umur panjang malah ingin mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.”

Hyora mulai tertarik, Ia mulai menatap mata sang lawan bicara.

“Hidup ini singkat. Maka dari itu jangan sia-siakan hidup ini. Tuhan telah memberikan setiap makhluknya waktu untuk hidup. Kau ingin pergi dari dunia ini? Tenang saja, cepat atau lambat Tuhan pasti akan membawamu pergi dari dunia ini. Tinggal tunggu waktunya saja. Di Dunia ini tak ada yang abadi, Ingat?”

Bak siswa Kindergarten Hyora mengangguk pelan.

Hyora membeku sesaat. Ia merenungkan perkataan Kim Jongdae. Betul juga sih.

“Aku tidak tahu, untuk apa aku hidup…”

“Kenapa bisa begitu? Biar kutaksir kau pasti sedang ada masalah,”

“Jongdae-ssi.. bolehkah aku mempercayaimu?” pinta Hyora pelan.

Jongdae terdiam, Ia kurang mengerti maksud dari yeoja bermarga Jung ini. Namun, segera Ia mengangguk.

 Setelah sekian lama Ia tidak bercerita sama sekali tentang masa lalunya. Ia akhirnya memperdengarkannya pada Kim Jongdae. Semuanya, dari awal pertemuannya dengan Xi Luhan di Taman Bunga, ketika Luhan menyatakan perasaannya di atas atap rumah Luhan ditemani sunset, sampai ketika semuanya berakhir.

“Jadi, kau menjadi dingin karena si dia di masa lalumu?”

Hyora mengangguk. Ia tidak sabar mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jongdae yang mampu membuatnya kembali berpikir ulang.

“Kau bodoh,”

Hyora tercekat.

“Untuk apa kau masih terpaku pada masa lalu?! Jika kau hanya terpaku pada masa lalu, maka kau tidak akan bertemu dengan masa depanmu Hyora-ssi.”

Hyora tidak mampu berkata-kata.

“Hanya karena masa lalumu kau jadi begini? Kau menutup diri dari orang-orang. Kenapa?”

“Aku tidak tahu,”

Geotjimal!

“eum, aku tidak percaya dengan bahwa dia benar-benar pergi dengan meninggalkanku dengan sejuta kenangan dan luka.. Aku begitu mencintainya Jongdae-ssi. Dia cinta pertamaku. Aku takut orang-orang itu hanya akan memanfaatkanku lagi..”

Rumit.

“Kau hanya tidak mau menerima kenyataan. Kenyataan itu harus dihadapi Hyora-ssi Kau juga takut membuka diri. Seperti yang kukatakan, Kau hanya terpaku pada masa lalu,”

“Aku takut kembali jatuh pada lubang yang sama Jongdae-ssi,” ujar Hyora jujur.

“Kau hanya perlu berhati-hati, Hyora-ssi. Tidak ada yang perlu ditakutkan,”

“Mulai sekarang kembalilah tersenyum, kembalilah menjadi Hyora yang dulu,”lanjut Jongdae.

“Tapi..”

“Tapi apa?

“A..Aku takut tidak bisa, itu pasti akan sulit,”

“Kalau kau terus takut,  kau tidak akan berhasil. Jangan pesimis, kau harus optimis!”

Benar, mungkin selama ini aku hanya takut.

“Aku yakin kau pasti bisa, Pasti.”Jongdae tersenyum menatap Hyora.

Hyora tersenyum kecil. “Begini?”

“Nah! Begitu dong, kau cantik saat tersenyum. Teruslah tersenyum, seberat apapun masalah menimpamu, kau harus tetap tersenyum. Masalahmu pasti akan sedikit terasa lebih mudah dengan senyuman. ”

gomawo Jongdae-ssi,”

“tidak masalah Hyora-ssi,” Jongdae mengusap pelan rambut Hyora. Membuat Hyora merasa nyaman.

—–

“Mau ikut membuat Istana pasir?” tawar Jongdae.

Hyora mendekat ke tempat Jongdae yang masih sibuk membentuk Istananya.

Hyora meraih pasir-pasir di dekatnya, lalu sesekali menepuk-nepuk pasirnya yang basah.

“Lihat? Istana pasirku lebih besar dan bagus darimu!” Hyora dengan bangga memperlihatkan Istana Pasirnya.

yeah, bagaimana kalau kita lomba membuat Istana Pasir?” tantang Jongdae.

“Kau cari kalah ya?”

“Lihat saja! Yang kalah traktir makan ya!”

—–

Set..Dul..Hana,”

Hyora dan Jongdae sama-sama menghitung angka. Matahari sudah terbenam dengan sempurna.

“Indah ya?”

Eung,” Hyora bergumam kecil. Ia merenggangkan telapak tangannya, terdengar suara kretek saat Ia melakukan perenggangan. Sunset kembali mengingatkan Hyora saat Luhan menyatakan perasaannya. Tapi, kini Ia merasa akan baik-baik saja karena ada Jongdae di sisinya.

“Kembali ke Do Jeongju yuk! Hari sudah mulai gelap, lihat kita sudah basah kuyup,” ajak Jongdae.

“nanti saja, aku ingin melihat bintang dan bulan,”

“Nanti kau sakit Hyora-ssi

Shireo,

“Ayo, kita kembali ke Do Jeongju dulu Jung Hyora.”

Hyora dengan malas dan muka merengut mengikuti langkah Jongdae.

Yaa, jangan merengut….”

“Setelah mandi, janji deh, aku akan menemanimu melihat bintang dan bulan,” kata Jongdae.

Yaksok?”

Yaksok!

Hyora mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Jongdae.

childish!” Jongdae memeletkan lidahnya, mengejek.

Yaa,

Bukan, bukan hanya Hyora yang childish. Jongdae pun juga begitu. Kini, mereka malah berkejar-kejaran di lorong Do Jeongju. Persis seperti anak kecil.

—–

“Jongdae-ssi, kesini! anginnya sejuk lho!”

Jongdae berjalan ke tempat Hyora. Hyora sedang memejamkan matanya, merasakan angin menyentuh tubuhnya dan membuat rambutnya bergerak-gerak.

Jongdae juga memejamkan matanya, merasakan hembusan angin menerpa wajahnya. Seperti yang dikaatkan Hyora, anginnya Sejuk.

Keduanya membuka matanya masing-masing, lalu saling menatap satu sama lain diakhiri dengan sneyuman di bibir masing-masing.

gomawo  Jongdae-ssi. Jeongmal gomawo,” ucap Hyora tulus.

Jongdae hanya mampu mengangguk.

Hyora mencipratkan air pantai ke badan Jongdae. Jahil.

Jongdae tidak tinggal diam, Ia turut membalas cipratan air Hyora.

“Ha..Ha..Ha..Ha..”

Hyora tidak ingat kapan terakhir kalinya Ia bisa tertawa dengan mudahnya. Namun, sekarang Ia kembali tertawa dengan mudahnya.

—–

Yaa kau tidak berniat membunuhku kan Tuan Kim?” Hyora bergidik ngeri ketika Jongdae mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.

Jongdae hanya meresponnya dengan seringaian.

Ia menarik Hyora berjalan ke sebuah pohon besar.

“Kau tidak akan menggantungku di pohon ini kan? Lalu kau membunuhku?” tanya yang mulai Hyora ketakutan.

Jongdae mendekatkan pisau lipat itu ke batang Pohon. Lalu tangannnya bergerak-gerak seperti menulis.

Mwohae? Kim Jongdae? Buat apa?” Hyora menunjuk ukiran buatan Jongdae. Hangul namanya sendiri.

“Kita buat kenangan disini. Ini, kau tulis namamu disini juga!”

Hyora mengangguk mengerti, lalu menerima pisau lipat tersebut dan mulai menggerak-gerakkan pisau tersebut. Terlihat ukiran bertuliskan hangul Jung Hyora dibawah hangul Kim Jongdae.

“Sebentar, aku ingin memotretnya terlebih dahulu,” Hyora merogoh smartphone putihnya floral shortnya.

“Bagaimana kalau kita berfoto?” usul Jongdae.

—–

Tok..Tok..

“Hyora-ssi?” panggil Jongdae yang kini sudah berada di depan Suite Jung Hyora.

“Hyora-ssi,” panggilnya lagi.

Tidak ada jawaban.

eodiga?” gumam Jongdae.

Kim Jongdae berjalan cepat menuruni tangga Do Jeongju—–mencari Jung Hyora.

Tadi mereka memang bermain di pantai, tapi Jongdae pamit duluan, karena sudah kedinginan.

Jongdae berjalan menyusuri pantai, Anak itu kemana sih?

Dari kejauhan Jongdae melihat seseorang yang tengah memeluk kedua kakinya dan menumpukan dagunya di tempurung lututnya. Bahunya tampak bergetar. Jongdae tidak tahu itu siapa, karena Ia melihatnya dari sisi belakang.

“Hyora-ssi?”

“Astaga, kau sudah kedinginan. Lihat bibirmu mulai membiru,”

“Jongdae-ssi,” panggilnya lemah. Ia memeluk tubuh namja bermarga Kim tersebut.

Hyora mengeratkan pelukannya, Ia merasa hangat. Jongdae mengusap-usap punggung Hyora.

“Hyora-ssi?”

“Hyora-ssi?”

Hyora tengah terlelap dengan polosnya. Jongdae tersenyum kecil kau manis saat tertidur. Kau tahu?

—–

“Hyora-ssi, bangun! Kau harus mandi dulu,”

“Hyora-ssi! aku sudah menyiapkan air panasnya di tube, Ireona!”

Hyora menggeliat, “gomawo Jongdae-ssi,” Hyora bangkit dari sofa dengan badan lemas, berjalan menuju Kamar Mandi.

Setelah mandi, Ia langsung berjalan menuju Kamarnya, Ia merasa pusing menyerang kepalanya. Mungkin, Ia masuk angin?

“Jung Hyora,” Jongdae yang dari tadi berkutat di Dapur mencari Hyora di sofa, tidak ada.

Ia berjalan menuju kamar Hyora mungkin dia sudah di kamarnya?

Benar saja, Hyora sudah terlelap lagi dengan dengan selimut tebal menutupi permukaan tubuhnya sampai leher.

Jongdae meletakkan bubur yang tadi Ia buat di meja rias.

Ia perlahan menyentuh dahi Jung Hyora. “Aigoo, kau demam,”

Jongdae mengambil kotak obat. Lalu, mengambil thermometer.

Jongdae memasukkan thermometer ke mulut Hyora, tepatnya di bawah lidahnya.

Hyora masih tidak bergeming, Ia masih tertidur.

Mwo? tiga puluh delapan derajat?”

“Hyora-ssi, ireona. Kau harus makan dulu! Hyora-ssi Ireona!

eo?” gumam Hyora. Hyora pelan-pelan membuka matanya.

“Makan dulu, kau sedang demam,”

Terlihat jelas kekhawatiran terpancar dari mata Kim Jongdae.

“sekali lagi,”

Hyora menggeleng.

“satu suap lagi, kau ingin sembuh kan?”

Hyora mengangguk dengan malas, Ia membuka sedikit mulutnya. Lalu, Jongdae menyuapinya bubur yang tadi Ia buat.

“Tunggu sebentar, jangan tidur dulu. Kau harus minum obat penurun demam dulu,”

nde, Jongdae uisangnim,”

Jongdae terkekeh, Ia mengacar rambut Hyora sebelum Ia keluar mengambil obat penurun demam.

Ia juga mengambil baskom kecil dan handuk kecil. Untuk mengompres Hyora.

“Cepat sembuh,” Jongdae perlahan mendekatkan wajahnya.

Ia mengecup pelan pipi Hyora.Lalu kembali mengompres dahi Hyora.

—–

Hyora bangun dengan wajah sehat, Ia merasa sudah baikan. Ia mencoba bangun, namun seperti ada yang menahannya. Oh, Jongdae semalam tidur disini, tidur di pinggir ranjang Hyora dengan baskom kecil dan handuk di sebelahnya.

Ia tertidur, tangannya menggenggam telapak tangan Hyora. Perlahan Hyora melepas genggamannya, bukannya tidak mau digenggam Jongdae. Ia harus ke dapur untuk membuat sarapan.

Jongdae pasti kecapaian, mengurusku semalaman, pikir Jung Hyora.

—–

“Oh, Hyora-ssi, aku sudah bangun? Demammu sudah turun?” tanya Jongdae dengan mata setengah tertutup.

Eo, gomapta!

“Tttara~ Maaf, hanya ada bread toast, ayo sarapan!”

Mashitta!” Jongdae mengacungkan jempol kanannya, setelah mencicipi bread toast buatan Hyora.

“Kau terlihat sudah sangat sehat ya?”

nde, kau kan sudah mengurusku semalaman. Sekali lagi terimakasih ya!”

“tidak masalah, itulah gunanya teman. Tapi, nanti traktir Cappuccino,”

“Apapun, Ha..Ha, mau ke pantai?”

Kajja!

“Hyora-ssi, kau percaya alien?”

“hah? Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”

“kau percaya tidak?” Jongdae mengulang pertanyaannya tanpa menghiraukan pertanyaan Hyora barusan.

“percaya-percaya saja,”

Jongdae mengangguk-angguk. “kau percaya jika Orang yang mengisi hari-harimu adalah seorang alien?”

Hyora mengernyitkan dahinya, heran kenapa Jongdae tiba-tiba menyinggung soal Alien?

“tidak mungkin Jongdae-ssi, mana mungkin?”

“mungkin saja Hyora-ssi,” jawaban Jongdae membuat Hyora semakin bingung.

“kau kenapa sih? Aku tidak mengerti,”

“Hyora-ssi, mianhamnida Hyora-ssi, jeongmal mianhamnida,”

waeyo?” tanya Hyora pelan, namun nada pertanyaannya terlihat bingung.

“aku..aku berbeda denganmu Hyora-ssi,” ujar Jongdae pelan, Ia menundukkan kepalanya.

Hyora mendengus pelan, lalu tertawa dan memukul pelan lengan Jongdae.

“kau ini bicara apa sih Jongdae-ssi? kita memang berbeda Jongdae-ssi, aku yeoja, kau namja!”

Mendengar itu Jongdae semakin menundukkan kepalanya. Kau tidak mengerti Hyora-ssi, mengatakan yang sejujurnya ini sulit sekali Hyora-ssi,

“aku..Kim Jongdae adalah seorang alien Hyora-ssi, aku alien Hyora-ssi!!”

Hyora memincingkan matanya tajam, “untuk saat ini, kumohon kau tidak usah bercanda Kim Jongdae,”

“aku serius Hyora-ssi, ini serius,”

Hyora masih menatap Jongdae tak percaya.

“lihat ini,” Jongdae memperlihatkan sebuah symbol aneh di pergelangan tangan kanannya. “ini symbol EXO, aku alien dari planet EXO Hyora-ssi,”

Hyora menepis kencang lengan kokoh Jongdae dari hadapannya Matanya mulai memanas..

“Jongdae-ssi, salahkah..salahkah aku jika..hiks.. aku mencintai seorang alien? Kim Jongdae?” Hyora mulai terisak.

“kau bilang apa Jung Hyora?!”

“salahkan.. aku jika aku mencintai seorang alien? Seorang alien yang kini berada di hadapanku? Jawab Kim Jongdae! Jawab!!” nada suara Hyora semakin meninggi, lalu digantikan oleh isak tangisnya.

Mendengar itu, Jongdae semakin terhenyut. Ia semakin tidak rela untuk kembali dan mengabdi di planet asalnya. Waktunya di bumi berakhir pada sunset hari ini…

Ia menarik tubuh mungil Hyora nan rapuh, ke pelukannya. Ia menumpahkan emosinya disitu. Jongdae juga menangis. Jongdae dan Hyora menangis…

nado saranghae Jung Hyora, jeongmal saranghae…”bisik Jongdae lembut. Ia mengusap punggung Hyora yang membuat Hyora menangis semakin kencang.

Jongdae semakin merasa bersalah. “uljjimayo, sarangata,”

Jongdae mengarahkan jemarinya untuk menghapus air mata Hyora yang terus mengalir.

Hyora sesenggukkan, Ia menatap Jongdae sayu. Jongdae juga menatapnya—–intens. Jongdae menangkupkan kedua tangannya di pipi putih Hyora. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Hyora. Hyora merasa bibirnnya tersentuh oleh sesuatu yang lembut, menyapu permukaan bibirnya. Hyora menyadarinya, Ia menyadari bahwa Jongdae telah merebut ciuman pertamanya.

—–

The Evening

“Hyora-ssi, mianhamnida. I must go now..”

 “tunggu sunset dulu Jongdae-ssi, sunset terakhir kita,” Hyora mencoba bersikap santai. Namun, nyatanya malah menyakitkan.

Selama di Do Jeongju mereka memang selalu menyempatkan melihat matahari terbenam. Bersama-sama.

Jongdae tersenyum kaku, Ia meraih kepala Hyora agar menyender di bahu kokohnya. Ia berkali-kali mencium puncak kepala Jung Hyora, menghirup aroma shampoo strawberry dari rambut halus Hyora.

Hyora bergetar, Ia pasti akan merindukan sentuhan Jongdae, pasti. Ia menahan kuat-kuat air mata yang sudah siap untuk mengalir deras.

“Hyora-ssi, can we take self portrait, for the last. eum?”

sure,” jawab Hyora pelan, hampir tak terdengar.

Hyora memasang senyum terbaiknya, Ia sungguh berterimakasih pada Jongdae, Jongdae telah mengubahnya menjadi Hyora yang dulu, Jongdae berhasil membuatnya kembali tersenyum, Jongdae membuat hidupnya lebih berarti—–untuk beberapa hari belakangan, Jongdae menyadarkannya tentang arti hidup, dalam tiga belas hari tak terlupakan ini Hyora kembali merasa jatuh cinta, lebih indah dari cinta pertamanya.

“JUNG HYORA, SARANGHAEYO..YEONGWONHI!” teriak Jongdae.

NADO SARANGHAE, KIM JONGDAE, YEONGWONHI,” balas Hyora tak kalah kencang.

Jongdae memeluk Hyora beberapa menit, Ia lalu mengecup dahi Hyora. Kuatkan dirimu Jung Hyora, you must strong Ra.

     “Hyora-ssi,  jaga dirimu baik-baik.”

“tenang Jongdae-ssi, lihat aku tersenyum bukan?”

nde, ingat tetaplah tersenyum. Aku penggemar nomor satu senyumanmu. Kau tahu?”

Beberapa saat kemudian, Jongdae sudah lenyap dari pandangan Hyora, Ia sudah pergitepat setelah matahari terbenam di ufuk barat.

Hyora membiarkan angin memainkan anak rambutnya dengan lembut. Hanya terdengar suara khas laut yang merdu, menenangkan.

Dan juga, kerinduan..disini.

END

5 thoughts on “[FF Writing Contest] Beach and the Sunset

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s