[FF Writing Contest] Forgotten

texture 12

Title : Forgotten

Author : Chanz

Main Cast :

  • Xi Luhan
  • Choi Minchan (OC)
  • Cho Kyuhyun

Support Cast : Kris Wu

Genre : Romance, Sad, Marriage Life

Rating : PG-17

 

==============================================

Minchan mengganti channel tv dengan bosan. Ia telah menyelesaikan semua urusan rumah yang menurutnya bisa ia selesaikan. Ia bahkan telah memasak makan malamnya. Kini yang ia lakukan hanya menunggu. Menunggu ’suami’nya hingga pulang kemudian menemaninya makan malam. Tapi kini, jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Biasanya suaminya ini sudah berada dirumah pada sore hari. Tapi sekarang, bahkan pria yang berstatus sebagai suaminya itu tidak memberinya kabar sama sekali. Apa ini karena permintaannya kemarin? Jika memang karena hal itu, ia berjanji tidak akan meminta hal itu lagi asalkan suaminya pulang cepat.

Baru saja ia menggumamkan janji itu dalam hati ketika pintu rumah mereka dibuka oleh seseorang.

“Aku pulang..” seruan dari orang itu membuat Minchan berdiri dari posisinya dan melangkah cepat kearah pintu. Memeluk sosok yang baru saja mengunci pintu itu.

“Kau kemana saja? Kenapa baru pulang?” rengekan manja dari Minchan membuat sosok dalam pelukannya itu terkekeh pelan. Melingkarkan kedua lengannya ketubuh Minchan, membalas pelukannya.

“Maaf, ada beberapa hal yang harus kuselesaikan tadi”

“Tapi setidaknya kau memberi kabar..”

“Iyya, maaf..”

Minchan menghembuskan nafas lega, setidaknya pria dalam dekapannya ini terlambat pulang karena ada urusan penting. Bukan karena kesal lantaran permintaan yang ia ajukan kemarin. Minchan melepaskan diri dari dekapan pria nya kemudian menatap sosok pria yang lebih tinggi darinya ini.

“Lu, maafkan aku. Aku janji tidak akan memintanya lagi” ucapnya dengan nada penuh sesal.

Pria itu, Luhan, mengerutkan keningnya tidak mengerti. untuk sesaat ia tampak kebingungan dengan ucapan Minchan, namun didetik berikutnya ia menyunggingkan senyumnya mengerti.

“Tidak apa-apa, sayang. Malah aku pulang terlambat karena ingin mengabulkan keinginanmu”

“Huh? Benarkah?” Minchan tidak ingin terlalu berharap. Ia berusaha menahan rasa senang yang membuncah dari dalam dirinya.

Luhan mengangguk, “Aku menyelesaikan semua pekerjaan untuk besok agar bisa menemanimu seharian besok”

Minchan membulatkan matanya senang. Senyum lebar terukir diwajahnya begitu saja, “Benarkah?” serunya.

Luhan mengangguk sekali lagi.

“Huaaa.. Terima kasih..” Minchan memeluk Luhan dengan erat. Menumpahkan segala rasa terima kasihnya karena pria ini, akhirnya, mengabulkan keinginannya.

*****

Minchan menghembuskan nafasnya puas. Ia merentangkan tangannya dan memejamkan matanya, membiarkan angin laut menerpa tubuhnya lembut. Dihirupnya dalam-dalam aroma laut yang berhembus. Memberikan semacam perasaan asing padanya. Perasaan yang ia tidak ketahui, tapi ia nikmati. Seolah ia pernah mengalami hal ini sebelumnya. Namun pria yang ada disampingnya, sepertinya, bukan Luhan.

“Kenapa?” Luhan mengajukan pertanyaannya ketika melihat perubahan ekspresi mendadak dari gadis disampingnya. Dari ekspresi kegirangan jadi ekspresi bingung. Tenggelam dalam fikirannya sendiri.

“Apa kita pernah kesini sebelumnya?” ujarnya pelan. Takut jika saja pertanyaannya akan menyinggung Luhan.

“Tentu saja”

“Kau.. Tidak berbohong padaku, kan? Kau memang suamiku, kan?”

Serentetan pertanyaan dari Minchan membuat Luhan kaget. Namun hanya beberapa detik saja, pria ini sudah bisa mengendalikan ekspresinya.

“Memangnya siapa lagi pria yang ingin menikahi wanita sepertimu selain aku?”

“Ishh.. Kau menyebalkan!!”

Luhan terkekeh pelan kemudian menarik gadis yang baru saja melayangan pukulan kesal kelengannya dalam pelukannya. Ia mengelus rambut panjang gadis itu dengan lembut. Memejamkan matanya, membiarkan aroma tubuh gadis itu merasuki hidungnya. Menikmati detik-detik kebersamaan mereka dengan aroma laut sebagai latarnya.

“Maaf. Aku hanya merasa kesal pada diriku” Minchan terdiam sejenak kemudian melanjutkan.

“Aku.. Merasa sangat kesal karena tidak bisa mengingat apapun tentang dirimu. Maafkan aku..” Minchan semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan.

“Tidak apa-apa. Jangan memaksakan diri. Lagipula kita bisa membuat kenangan lainnya, yang bahkan lebih indah dari kenangan yang kau lupakan itu”

Setelah mengalami kecelakaan, Minchan terbangun dari komanya dengan Luhan disampingnya. She felt very lost. Namun Luhan menenangkannya dan mengenalkan diri sebagai suaminya. Meski diliputi rasa bingung, Minchan merasa semua itu benar. Karena ia merasa nyaman bersama Luhan. Hingga kemudian, gadis ini mencoba menghapus segala keraguan dalam dirinya. Dan menerima bahwa Luhan adalah suaminya.

“Terima kasih, Luhan. Terima kasih..” Minchan merasa bersyukur, Luhan tidak meminta ia untuk mengingat sesuatu tentang masa lalunya. Meski begitu, Minchan merasa harus mengingatnya. Rasanya agak aneh ketika kau tidak mengenal siapa dirimu sebenarnya. Meski sudah ada yang mengakuimu sebagai miliknya, tapi tetap saja. Ia harus mengingat sesuatu. Tentang dirinya. Tentang Luhan setidaknya.

“Lu, terima kasih untuk hari ini. Meski aku sama sekali belum mengingat apapun, maaf” Minchan menundukkan kepalanya merasa menyesal.

Mereka kini tiba dirumah. Seharian mereka habiskan mengunjungi tempat-tempat kenangan mereka dulu, setidaknya itu yang dikatakan Luhan, karena gadis ini tidak mengingat apapun sama sekali. Lagipula Minchan sendiri yang meminta agar Luhan membawanya ketempat-tempat mereka dulu kerap menghabiskan waktu bersama. Minchan betul-betul ingin membangkitkan ingatannya tentang mereka. Meski awalnya Luhan menolak permintaannya dengan alasan kesehatannya masih belum baik, bahkan perban dikepalanya baru dilepas oleh dokter tiga hari yang lalu. Tapi setelah Luhan menyetujui permintaannya, ia malah tidak bisa mengingat apapun. Minchan tentu saja merasa bersalah.

“Sudah kubilang. Kau tidak perlu memaksakan diri mengingatnya. Apa yang ada sekarang, itulah hidupmu. Cukup kau jalani dengan baik bersamaku, eoh?”

Minchan mengangguk paham. Ia menoleh kearah Luhan, segera mengubah ekspresinya menjadi lebih riang, “Apa itu artinya aku sudah dibebaskan pergi seorang diri?” ya, kemarin-kemarin ketika kondisinya masih belum cukup vit, Luhan melarangnya keluar, meski itu untuk membeli sesuatu di mini market dekat rumah. Luhan yang melakukan semuanya.

Ekspresi Luhan tiba-tiba berubah. Terlihat khawatir. Pria ini bergelut dengan fikirannya sendiri sementara Minchan menunggu dengan antusias responnya.

“Baiklah. Kurasa masa tahanan rumahmu sudah berakhir. Kau bisa pergi sendiri..”

Minchan baru saja akan melonjak kegirangan, namun “Tapi… Aku harus tau keberadaanmu dimana” Luhan merogoh sakunya kemudian mengeluarkan ponsel dari sana,

“Ini.. Gunakan ini untuk menghubungiku..” Luhan menyerahkan ponsel baru itu kearah Minchan dan langsung ia sambut dengan senang hati. Ia langsung membuka phonebook ponsel itu. Tidak memperdulikan ocehan Luhan tentang aturan-aturan yang harus ia patuhi jika keluar rumah.

Namun betapa kecewanya ia. Phonebook ponsel itu hanya diisi oleh dua nomor. Nomor Luhan dan nomor rumah mereka. Tidak ada satupun nomor-nomor kerabat lain atau mungkin temannya dulu. Minchan mencoba menelan kekecewaannya. Namun ia tidak akan menanyakan hal itu pada Luhan. Ia tidak mau membuat Luhan merasa tidak dipercayai. Sepertinya, rasa penasarannya dikalahkan oleh  rasa takut mengecewakan Luhan. Rasa takut kehilangan Luhan.

“Terima kasih..” akhirnya yang bisa Minchan ucapkan hanya itu.

“Dari tadi kau hanya mengucapkan dua kata itu. Maaf dan terima kasih. Lain kali aku tidak ingin mendengarnya. Rasa-rasanya aku seperti orang lain bagimu jika kau mengucapkan hal itu padaku”

Minchan mengangguk, “Ma___” sebelum ucapan maaf keluar dari bibirnya, Luhan sudah terlebih dahulu menempatkan bibirnya disana. Mencegah Minchan menyelesaikan kata ‘maaf’.

Luhan tersenyum ketika melepaskan ciumannya. Melihat rona diwajah Minchan yang membuatnya gemas.

“Baiklah, saatnya tidur..” Luhan dengan mudah mengangkat tubuh Minchan. Membawanya kedalam kamar mereka.

*****

Hari ini Luhan akan pulang terlambat. Minchan meraih jaketnya kemudian bersiap-siap untuk keluar. Meskipun ia telah mengantongi ijin dari Luhan untuk keluyuran diluar, teryata tidak sepenuhnya begitu. Setiap kali ia akan keluar, Luhan pasti akan menyempatkan waktunya untuk mendampinginya. Bahkan Luhan pernah pulang dari kantor dijam makan siangnya hanya karena Minchan ingin ke mini market. Minchan merasa sikap Luhan terlalu over-protective padanya. padahal ia dalam kondisi yang sehat. Bahkan dokter Kim, yang merawatnya dulu, berkata demikian.

Jika ia berhasil keluar hari ini, itu artinya ini adalah kali pertamanya ia keluar seorang diri. Seorang diri.

Minchan tidak dapat menutupi rasa bahagianya. Sepanjang jalan menuju mini market ia terus saja menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan. Begitu antusias menatapi keadaan disekitarnya. Bukannya ia tidak bisa melakukan hal itu jika bersama Luhan. Hanya saja jika ada Luhan disampingnya, seluruh fokusnya akan tersita oleh pria itu. Ia memasuki mini market itu kemudian menyapa seorang ahjumma yang menjadi kasir disana dengan sebuah senyuman. Setelah mengambil keranjang belanja, ia segera menuju rak barang, mencari apa saja yang ingin ia beli.

“Humm.. Orange Juice, beberapa cemilan, buah-buahan… Hmm.. Apalagi yang harus kubeli?” Minchan menggumam sendiri sembari mengingat-ingat apa saja yang harus ia beli.

“Minchan!! Benarkah itu kau?” seruan dari seseorang membuatnya tersentak dan menoleh kearah sumber suara. Tepat disampingnya berdiri seorang pria yang mengenakan setelan abu-abu dengan keranjang belanjaan ditangannya yang terisi oleh, kaleng bir?

“Ternyata benar itu kau!!” pria itu melepaskan keranjang belanjaan yang ada ditangannya kemudian menarik Minchan kedalam pelukannya. Memeluknya begitu erat hingga Minchan tanpa sadar menjatuhkan keranjang belanjaan yang ia pegang.

Untuk sepersekian detik Minchan merasa tidak asing dengan pelukan itu. Tapi siapa pria ini?

“A.. Anda siapa?” gumam Minchan. Akhirnya.

Pria tadi melepaskan pelukannya dengan kedua tangan yang memegang bahu Minchan. Wajah pria inipun, terasa tidak asing.

“Ka.. Kau tidak tau siapa aku? Aku suamimu, sayang. Aku suamimu!!” pria itu semakin mempererat cengkramannya pada kedua bahunya. Menandakan bahwa ia mempertegas ucapannya barusan. Minchan merasa oksigen disekitarnya menipis. Ia tiba-tiba saja merasa sesak dengam pengakuan pria barusan.

“Bo..bohong. Kau, kau bukan suamiku!! Ya. Kau bukan suamiku!!” Minchan mengakhiri gumamannya dengan sebuah pekikan nyaring. Dengan cepat ia mendorong pria itu menjauhi dirinya kemudian berlari meninggalkan pria yang terus memanggil namanya. Ia terus memacu langkahnya dengan deru nafas memburu.

“Argghh..” Minchan mencengkram rambutnya. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit, seperti ada sesuatu yang menghantamnya. Tapi tidak, ia harus bertahan. Setidaknya sampai dirumah.

“Minchan!!”

“Luhan!!!” Minchan segera berlari kearah Luhan dan memeluknya.

“Kau ke__”

“Aku takut. Aku takut Luhan. Ada seseorang yang memelukku dan mengaku sebagai suamiku. Siapa dia, Luhan? Siapa dia? Kenapa pria tadi mengatakan hal itu? Aku ini sebenarnya siapa? Luhan, aku takut..” serentetan kalimat bernada panik dari Minchan membuat Luhan bungkam seketika.

Pria itu tidak mengatakan apa-apa hanya mengelus punggung Minchan mencoba menenangkannya. Dengan cepat Luhan mengangkat tubuh Minchan kedalam gendongannya. Kemudian meneruskan langkahnya yang baru saja meninggalkan rumahnya, kembali kesana.

“Luhan, aku takut..” Minchan meringkuk dipelukan Luhan. Gadis itu membenamkan wajahnya keleher Luhan menghirup aroma tubuh Luhan yang menenangkan.

“Tenang saja. Ada aku disini..” Luhan mengelus rambutnya kemudian menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.

Minchan tidak lagi mengucapkan apapun. Gadis itu hanya memperat pelukannya pada tubuh Luhan. Ia memejamkan mata dan sekilas bayangan tentang pria tadi muncul. Beberapa potong adegan yang sepertinya pernah ia alami bersama pria tadi. Minchan menghembuskan nafasnya gusar.

“Kenapa?” Luhan yang menyadari kekhawatirannya bertanya.

“Tidak. Tidak apa-apa” gumam Minchan menjawab pertanyaan Luhan.

Minchan kembali memejamkan matanya. Berharap akan adanya kilasan adegan tentang masa lalunya lagi. Tapi kini yang ia lihat hanya gelap. Apa yang ia harapkan tidak ada. Ia akhirnya menyerah. Mungkin dilain waktu ia akan mencoba mengingat. Lagipula kepalanya rasanya sangat sakit ketika ia memaksakan diri.

Minchan kembali membuka matanya. Samar-samar ia masih bisa melihat wajah Luhan disampingnya. Untuk sesaat ia bisa melupakan kejadian menakutkan tadi dengan melihat wajah Luhan yang memejamkan matanya. Terlihat tenang. Minchan tersenyum kemudian menutup matanya kembali. Mencoba mengenyahkan keraguan yang semakin besar pada pria disampingnya ini.

Jika Luhan adalah suaminya, lalu siapa pria tadi?

*****

Selang beberapa hari sejak kejadian itu, Minchan tidak berani lagi untuk keluar sendiri. Ia kembali membuat dirinya sendiri bagaikan ‘tahanan rumah’. Terus mendekam disana menunggu kepulangan Luhan. Luhan sendiri merasa bersyukur atas inisiatif Minchan yang tidak ingin keluar seorang diri lagi. Kali ini Minchan membiarkan dirinya tenggelam dalam fikirannya sendiri. Meski tivi didepannya menyala dan pandangannya mengarah kesana, namun fikirannya mengembara ketempat lain. Ia kembali mem-flashback kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana seseorang yang mengaku sebagai suaminya tiba-tiba memeluknya. Ya, ia sangat yakin. Bahwa itu adalah pelukan yang pernah ia rasakan sebelumnya. Pelukan yang tidak asing. Tapi siapa? Siapa pria itu.

Minchan tersentak dari lamunannya ketika mendengar ketukan nyaring dari pintu depan. Ketukan? Siapa? Selama beberapa minggu bersama Luhan, ia sama sekali tidak pernah menerima tamu. Pun jika yang mengetuk pintu itu adalah Luhan, itu tidak mungkin. Bukankah Luhan punya kuncinya?

Minchan bangkit dari posisinya, berjalan dengan agak cepat menuju pintu. Namun, sebelum ia membukanya, ia terlebih dahulu meyakinkan dirinya sendiri untuk membuka pintu ini atau tidak. Mungkin saja yang diluar ini adalah seorang kerabatnya atau mungkin teman Luhan. Baiklah, karena Luhan tidak ada, maka kali ini ia akan membiarkan rasa ingin tahunya menang.

Pintu kemudian ia buka,“Ka.. Kau?!” ya, yang berdiri didepannya kini adalah pria yang tadi ia fikirkan. Pria yang mengaku sebagai suaminya beberapa hari yang lalu.

“Ba..bagaimana kau bisa kesini?”

“Waktu itu aku mengikutimu dengan mobil. Tapi kemudian kulihat kau memeluk seorang pria. Diakah suamimu? Ehm, maksudku, pria itukah yang mengaku sebagai suamimu? Xi Luhan?”

“A..apa maksudmu? Kau siapa?”

“Aku Cho Kyuhyun. Suamimu yang sebenarnya. Ini buktinya..” pria bernama Cho Kyuhyun itu menyerahkan sebuah folder yang kemudian Minchan terima dengan cepat. Dengan terburu ia membuka isinya dan menemui surat nikah mereka disana. Serta beberapa foto pernikahan mereka.

Tangan Minchan bergetar memegang foto pernikahan itu. Betul saja, disana ada wajahnya dan wajah pria didepannya ini. Terlihat bahagia. Lalu Luhan? Ya, bahkan ia tidak menemui satu pun foto pernikahan mereka dirumah ini. Damn, kenapa Minchan baru menyadari hal itu sekarang? Apakah Luhan memanfaatkan kelengahannya selama ini? Lalu, siapa Luhan sebenarnya?

“Maaf, aku baru bisa menyempatkan diri menjemputmu kesini. Sebaiknya kita pulang sekarang” Kyuhyun menarik tangan Minchan namun Minchan tahan dan menyentakkan tangannya hingga pegangan Kyuhyun terlepas.

“Luhan.. Tidak.. Aku tidak mau pergi denganmu. Aku ingin bersama Luhan!!”

“Bagaimana mungkin kau lebih memilih bersama pria yang telah menipumu. Ayo pulang..” sekali lagi Kyuhyun meraih tangan Minchan dan hendak menariknya dari sana,

“Lepaskan dia!!”

“Luhan!!”

Minchan melepaskan diri dari cengkraman Kyuhyun dengan cepat ia menghampiri Luhan dan memperlihatkan semua bukti yang Kyuhyun bawa, “Luhan. Ini palsu, kan? Kita juga punya foto pernikahan seperti ini, kan?”

Luhan merasa nafasnya berhenti seketika. Melihat bukti yang kini berada dalam genggaman Minchan serta tuntutan yang gadis ini lontarkan. Apa yang harus ia jawab? Karena memang ia tidak memiliki bukti seperti itu.

“Tch, lihat. Pria yang kau inginkan bahkan bungkam. Terlihat jelas siapa yang asli dan siapa yang penipu disini” kalimat bernada sarkatis dari Kyuhyun membuat Luhan mengalihkan fokusnya kearah Kyuhyun. Melayangkan tatapan benci kearah namja yang merupakan suami ‘asli’ gadisnya.

Luhan menggeram kesal kemudian meraih kerah Kyuhyun. Ia bahkan hendak melayangkan sebuah pukulan kewajah Kyuhyun ketika Minchan menyuruhnya untuk berhenti.

“Sudah. Cukup. Lepaskan dia!!” ujar Minchan dengan nada datar. Begitu dingin. Ternyata gadis ini begitu terpukul dengan kenyataan yang harus ia terima. Sebenarnya ia tidak perlu bukti konkrit seperti yang Kyuhyun bawa. Ia hanya butuh pengakuan dari Luhan, penyangkalan dari Luhan bahwa itu semua tidak benar. Namun betapa kecewanya ia mendapati Luhan yang tidak mengatakan apapun.

Seolah sudah memprediksi hal ini, Kyuhyun dengan mudah menepis tangan Luhan yang berada pada kerahnya. Menepuk bekas tangan Luhan seolah ia tengah menghilangkan kotoran dari sana. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan kemudian meraih tangan Minchan. Kali ini Minchan tidak menolak, tidak pula menepis tangan Kyuhyun. Ia membiarkan pria itu menggenggam tangannya.

“Ayo, kita pulang. Ayah dan Ibumu menunggu dirumah”

Minchan membiarkan dirinya dibawa oleh Kyuhyun. Ia tidak lagi memberontak seperti tadi. Karena alasannya untuk tinggal dirumah ini sudah tidak ada lagi. Ya, Luhan bahkan tidak menahannya. Pria itu seperti kalah telak dan tidak bisa melakukan apa-apa. Luhan hanya bisa menatap nanar kearah Minchan yang kini memasuki mobil Kyuhyun. Kemudian menatapi kendaraan roda empat yang kini perlahan mulai bergerak dan hilang dari hadapannya.

Untuk pertama kalinya, Luhan tersadar jika sesuatu dari dirinya kini telah hilang. Hilang karena direnggut secara paksa dan lebih menyedihkan lagi, ia bahkan tidak bisa mempertahankannya. Luhan mengepalkan kedua tangannya, kemudian suara lengkingan teriakannya menggema menyakitkan.

*****

Minchan terus saja diam. Tidak mengucapkan apapun, tidak juga menanyakan apapun. Gadis itu hanya menatap lurus kearah jalan yang membawanya ke rumahnya. Kyuhyun sesekali menoleh kearahnya. Hendak membuka mulut untuk memulai sebuah percakapan namun gadis itu telah lebih dulu mengucapkan sesuatu yang menyurutkan niatnya.

“Jangan sentuh Luhan. Jangan melibatkan hukum sama sekali. Jika kau melakukannya, “ Minchan menoleh kearah Kyuhyun.

“..kau akan kehilangan istrimu. Selamanya”

Ancaman dari Minchan membuat Kyuhyun kesal seketika. Ia mencengkram roda kemudi mobilnya kencang hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Dalam hati ia berjanji akan segera mungkin mengembalikan ingatan wanita disampingnya ini. Karena Kyuhyun yakin, jika dalam keadaan sadar, Minchan tidak pernah menatapnya sedingin itu, maupun berbicara padanya dengan nada datar seperti tadi. Well, meskipun hubungan mereka sebenarnya tidak begitu baik sebelum gadis ini menghilang secara tiba-tiba.

Kyuhyun memutuskan untuk tidak menanggapi ucapan Minchan. Ia meyakinkan dirinya bahwa gadis ini hanya perlu ditenangkan. Ia yakin bisa membuat gadis disampingnya ini jatuh cinta –lagi- padanya.

Kyuhyun lebih memilih memfokuskan pandangannya kejalan. Sementara Minchan, menatap jalanan diluar dari jendela disampingnya. Perlahan, cairan bening mengalir membasahi pipinya. Hatinya begitu sakit. Ternyata seseorang yang ia percaya, yang perasaannya pilih, ternyata hanyalah orang yang memanfaatkan kelemahannya akan amnesia yang ia alami. Tapi kemudian Minchan berfikir hal lain tentang Luhan. Jika memang Luhan hanya memanfaatkannya, lalu apa yang Luhan inginkan darinya?

“Nah, kita sudah sampai”

Ucapan dari Kyuhyun membuat Minchan sesegera mungkin menghapus air matanya. Ia melepas save-belt nya kemudian menyusul Kyuhyun yang lebih dulu keluar. Retinanya seketika menangkap siluet sebuah rumah. Rumah bertipe minimalis yang entah mengapa sangat ia rindukan. Inikah rumahnya yang sebenarnya?

“Ini.. Rumahku?” gumam Minchan. Lebih kepada bicara pada dirinya sendiri dibanding bertanya pada Kyuhyun yang berada disampingnya.

“Rumah kita, lebih tepatnya” sahut Kyuhyun menekankan kata ‘kita’.

“Ayo kita masuk..” Kyuhyun dengan percaya diri melingkarkan lengannya kebahu Minchan. Membimbing istrinya memasuki rumah mereka. Dan satu hal yang Kyuhyun syukuri. Gadis ini tidak menepis tangannya. Kyuhyun menyunggingkan smirk tipis dibibirnya. Just like he though before, ia pasti bisa membuat gadis ini jatuh cinta –lagi-.

Begitu Minchan melewati pintu, sepasang suami istri yang tengah menunggunya segera bangkit dari tempatnya. Sang istri langsung menghampiri Minchan dengan cepat. Menatap wajahnya dengan tatapan lega. Dengan mata yang dipenuhi rasa haru juga syukur. Perlahan ia menyentuhkan kedua tangannya kewajah Minchan. Mengelus pipinya sayang.

“Minchan. Akhirnya kau pulang, nak..”

Mom..” gumaman yang tanpa sadar dikeluarkan oleh Minchan membuat wanita yang meski telah berumur senja tapi masih menampakkan keanggunannya ini terbelalak. Ia tau keadaan sebenarnya. Jika putri satu-satunya tengah mengalami amnesia.

“Kau mengingat Mom?” ujarnya penuh harap.

Namun reaksi Minchan membuatnya sedikit kecewa. Gadis ini menggeleng, “Tapi aku bisa merasakan hangatnya tangan seorang Ibu yang menyentuh anaknya” ujar Minchan dengan senyum haru yang tersungging dibibirnya. Kembali, air matanya mengalir begitu saja.

Mom Minchan menyeka air mata putrinya kemudian menariknya kedalam pelukannya. Mengelus rambut panjang putrinya. Dalam hati ia merasa bersyukur, meski Minchan tidak mengingatnya, namun putrinya ini masih bisa merasakan sosoknya sebagai seorang ibu. Untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

Minchan melepaskan pelukannya. Sosok lain yang berdiri disamping ibunya membuat ia melakukan hal itu. Ia juga merasakan rindu menggebu padanya.

“Appa..” gumam Minchan. Lagi-lagi gumaman yang tanpa sadar ia keluarkan.

Pria paruh baya itu juga memeluk putrinya. Menepuk punggung putrinya menenangkan. Sesekali terdengar kekehan lega darinya. Tak disangka, meski amnesia, putrinya ini masih saja cengeng seperti ini.

Kyuhyun menjauh dari sana. Membiarkan Minchan dan kedua orangtua nya saling melepas rasa rindu satu sama lain. Ia memilih memasuki kamarnya. Lebih tepatnya kamar mereka berdua. Kamarnya dan kamar Minchan. Ia melihat kesekeliling kamarnya. Ia sendiri lupa kapan terakhir kalinya ia memperhatikan ruangan ini. Karena selama Minchan tidak ada disampingnya, ia enggan melakukan hal itu. Tapi kini, rasanya agak berbeda. Rasanya seperti ketika ia menatap ruangan ini untuk pertama kalinya. Kyuhyun menyunggingkan senyumnya.

“Akhirnya, kau kembali padaku, sayang..”

*****

Minchan membiarkan air dari shower membasuh tubuhnya. Setelah bertemu orangtuanya dan mengantar mereka berdua menuju pintu keluar, ia langsung menuju kekamar mandi yang ada dirumahnya. Tanpa perlu bertanya pada Kyuhyun, ia bisa mengetahui letak kamar mandinya. Ia hanya membiarkan kakinya membimbingnya. Besok, orangtuanya akan kembali ke Swedia. Ya, hal baru yang ia dapati adalah ternyata ia berdomisili disana. Ibunya sendiri orang Swedia. Sedang ayahnya orang Korea. Dan pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun terjadi di Swedia, bukan di Seoul. Kyuhyun lah yang membawanya ke Seoul. Ketanah kelahiran Ayahnya. Setelah menikah dengan Kyuhyun ia resmi pindah ke Seoul. Karena semua pekerjaan Kyuhyun ada di Seoul.

Tapi bagi Minchan, bukan hal itu yang paling ingin ia ketahui sekarang. Entah mengapa, tapi hatinya betul-betul menolak kenangan apapun tentang Kyuhyun dan dirinya dulu. Ia bahkan merasa tidak perlu untuk mengingat hal-hal apa saja yang pernah ia lakukan bersama Kyuhyun dulu. yang paling ingin ia ketahui adalah Luhan. Bagaimana bisa perasaannya menerima lelaki itu dengan mudah? Sedang suaminya sendiri saja tidak ia inginkan. Meski tidak mengingat masa lalunya, tapi Minchan mengenal dirinya sendiri. Ia tau jika ia tidak bisa dengan mudah membuat seseorang masuk kedalam hatinya. Dan ia yakin, Luhan masuk kesana melalui proses. Dan proses itulah yang paling membuatnya penasaran.

Minchan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia akhirnya keluar dari kamar mandi setelah beberapa saat didalam sana. Merenung. Ia agak kaget mendapati ia bukanlah berada dikamar yang dulunya ia tempati bersama Luhan. Ia hanya belum terbiasa. Terlebih karena mendapati sosok asing yang tengah bergelut dengan laptop diranjang yang akan ia tiduri nanti. Ia bahkan baru sadar. Malam ini ia akan tidur bersama orang lain. Ah, bukankah Kyuhyun adalah suaminya? Kenapa ia harus khawatir.

Kyuhyun menoleh kearah Minchan ketika merasakan kehadiran seseorang diatas ranjangnya. Kyuhyun menyunggingkan senyumnya kemudian melepaskan kacamata yang bertengger diwajahnya. Ia membawa kacamata beserta laptop yang telah ia matikan tadi menuju meja. Setelah itu ia kembali menghampiri Minchan yang terlihat canggung duduk ditepi ranjang.

Kyuhyun tersenyum mengerti. Minchan pasti merasa asing. Selama beberapa hari ini istrinya tidur bersama… Kyuhyun sangat benci mengakuinya. Tapi karena Luhan mengakui Minchan sebagai istrinya, pria itu pasti telah melakukan sesuatu dengan Minchan. Kyuhyun mengepalkan tangannya kesal. Jika bukan karena permintaan Minchan untuk tidak menyentuh Luhan, ia pasti akan menghabisi pria itu dengan tangannya sendiri.

Kyuhyun mencoba mengendalikan segalam macam emosi yang bergejolak dalam dirinya. Ia memilih menyunggingkan senyum kearah Minchan yang masih terlihat canggung.

“Kenapa? Kau merasa terganggu jika aku berada disini? Haruskah aku pindah dan tidur di__”

“Tidak. Tidak usah. Tidur disini saja”

Kyuhyun kembali tersenyum mendengar penuturan Minchan. Ia akhirnya naik ketempat tidur kemudian mematikan lampu. Kyuhyun menghela nafasnya. Meski istrinya kini berada disampingnya, tapi rasanya seperti tidak ada siapapun. Minchan sepertinya enggan mengingat dirinya. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu?

*****

“Ku tidak kerja?” Minchan bertanya kearah Kyuhyun yang baru saja keluar dari kamar. Berjalan menghampirinya dengan pakaian yang tidak menampakkan ia akan kekantor.

“Tidak. Hari ini ingin aku habiskan bersamamu.. Wah.. rasanya sudah sangat lama sejak kau memasak untukku” Kyuhyun berseru antusias melihat sarapannya pagi ini. Rasanya sudah sangat lama ia tidak makan masakan rumah.

“Setelah ini kita mengantar Appa dan Mom kebandara…”

Minchan menanggapi ucapan Kyuhyun dengan sebuah anggukan.

Setelah mereka sarapan dan menunggu Minchan untuk berganti baju, mereka segera menuju ke hotel tempat orangtua Minchan menginap. Mereka berdua akan mengantar orangtua Minchan kebandara. Minchan memeluk kedua orang tuanya ketika mereka akan memasuki gate pemberangkatan. Mom nya berpesan agar mengunjungi Swedia sesekali jika ia punya waktu. Sementara Appa Minchan hanya berharap, putrinya ini segera pulih dari amnesianya.

Minchan melambaikan tangannya kearah orangtuanya yang kini memasuki gate penerbangan. Ia tersenyum kearah mereka sebelum kedua sosok itu menghilang kedalam. Minchan menatap tangannya yang terasa digenggam seseorang, kemudian ia menoleh kearah Kyuhyun.

“Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat..”

Minchan menatap Kyuhyun penuh tanya, namun pria itu hanya menanggapinya dengan senyum misterius. Minchan menyetujuinya saja. Lagipula ia tidak tau apa yang harus ia lakukan bersama Kyuhyun dirumah. Ia lebih memilih pergi bersamanya, keluar, kemana saja. Terjebak bersama Kyuhyun dalam satu ruangan entah mengapa membuatnya tertekan. Tertekan dengan perasaan aneh yang kadang membuatnya ingin kabur. Jujur saja, semalam ia tidak bisa tidur. Fikirannya melayang kesuatu tempat. Ketempat dimana ia biasanya mendapatkan pelukan dalam tidurnya.

Rasa penasaran Minchan terjawab. Meski mobil Kyuhyun belum menepi, namun garis pantai kini terlihat. Pantai yang sama yang ia kunjungi bersama Luhan.

“Pantai?” Minchan menoleh kearah Kyuhyun yang kini menepikan mobilnya dan tengah melepas save-belt nya.

Kyuhyun mengangguk. Ia mengedikkan kepalanya keluar, mengisyaratkan agar segera turun. Minchan mengikuti Kyuhyun yang berjalan lebih dulu menuju pasir pantai. Minchan berjalan pelan dibelakangnya membuat Kyuhyun berhenti melangkah hingga kini mereka telah bersisian. Kyuhyun meraih tangan Minchan kedalam genggamannya. Bukankah begini lebih nyaman ketimbang jalan masing-masing. Kyuhyun tersenyum Minchan kini sudah tidak menolak dirinya. Meski Kyuhyun merasa masih ada hal ganjil yang Minchan tutupi, tapi ia memakluminya. Gadisnya ini masih amnesia. Wajar saja jika ia merasa aneh.

Minchan memejamkan matanya. Menghirup udara laut dalam-dalam. Kyuhyun membiarkan genggamannya terlepas tadi, ia hanya ingin melihat reaksi Minchan. Ternyata ia masih seperti dulu. Berdiri ditepi pantai, membiarkan air laut menyentuh kakinya, memejamkan mata, menghirup udara laut dan merentangkan tangannya menikmati angin. Kyuhyun tersenyum lantas mendekat kearah Minchan kemudian mendekapnya. Minchan terkesiap kaget dengan perlakuan tiba-tiba dari Kyuhyun. Ia membuka matanya kemudian melihat kearah perutnya dimana sepasang lengan melingkar disana. Erat. Untuk sesaat ia merasa pernah mengalami hal ini sebelumnya. Apakah memang mereka pernah berada dalam posisi seperti ini sebelumnya?

“Kyuhyun-ssi, apakah dulu.. Kita pernah berada disini sebelumnya?”

“Apa kau mengingatnya? Aku dulu melamarmu ditempat ini. Ah, dan jangan memanggilku ‘Kyuhyun-ssi’. Cukup ‘Kyu’ saja..”

“Kyu~” gumam Minchan.

“Seperti apa hubungan kita dulu. Apakah selalu seperti ini?”

Senyum yang tadi tersungging dibibir Kyuhyun luruh secara perlahan. Akhirnya Minchan menanyakan tentang hubungan mereka dulu. Dan Kyuhyun tidak ingin membeberkannya. Bahwa sebenarnya, sebelum Minchan kecelakaan dan mengalami amnesia, mereka berada diambang perceraian. Hubungan mereka tidak baik-baik saja. Tapi,…

“Ya. Tentu saja. Kita selalu sebaik ini. Dan akan selalu seperti ini” berbohong. Kyuhyun memilih untuk berbohong. Ia ingin egois untuk saat ini.

“Benarkah?” gumam Minchan. Gadis ini merasa bahwa mereka tidak baik-baik saja. Jika saja mereka baik-baik saja, bagaimana mungkin Minchan tidak merasakan apapun pada Kyuhyun. bahkan ketika pria ini memeluknya seperti sekarang. Debaran aneh yang ia rasakan jika bersama Luhan tidak ia rasakan. Yang manakah yang harus ia percaya? Fakta ataukah perasaannya?

*****

Kyuhyun membulatkan matanya terkejut mendengar permintaan Minchan. Yang benar saja, bagaimana mungkin hal ini ia alami sebanyak dua kali.

“Kau yakin? Maksudku, mobilmu ada di garasi. Kenapa harus motor sport?” Kyuhyun seperti mengulang kejadian lampau. Ia juga mengatakan hal yang sama ketika secara mengejutkan Minchan meminta ijinnya untuk memiliki sebuah motor sport. Dan sekarang gadis itu memintanya lagi. Untuk kedua kalinya.

Minchan mengangguk, “Aku, entah kenapa begitu menginginkannya. Rasanya ada sesuatu yang aneh tiap kali melihat orang mengendarai motor sport berwarna hitam. Rasanya aku pernah memilikinya dulu”

“Ya. Kau pernah memilikinya. Dan itulah yang menyebabkan kecelakaan itu”

“Benarkah?” gumam Minchan. Gadis ini berfikir, darimana Kyuhyun tau jika ia kecelakaan dengan motor sport itu. jika memang ia tau, itu artinya Kyuhyun mengetahui keberadaannya. Lantas jika Kyuhyun tau, kenapa ia begitu terlambat menjemputnya ditempat Luhan. Dan bukankah pertemuan pertama mereka pasca kecelakaan itu adalah di mini market.

Minchan meringis pelan merasakan rasa berdenyut tiba-tiba yang menyerang kepalanya. Belakangan ini selalu seperti itu. Tiap kali ia memaksa otaknya untuk bekerja dengan keras, ia merasakan denyutan itu. Namun hal itu bukannya berdampak buruk, justru kini ia bisa sedikit mengumpulkan memorinya. Seperti ketika ia tinggal di Swedia, ketika Kyuhyun melamarnya, ketika mereka menikah. Tapi tak satupun tentang Luhan. Dan hal itu membuat Minchan semakin kesal pada dirinya sendiri.

“Jadi, aku tidak boleh memilikinya. Lagi?” Minchan kembali pada topik pembicaraan mereka.

“Tidak. Kali ini tidak boleh. Maaf, Minchan-ah. Tapi itulah keputusanku” ujar Kyuhyun tegas.

Minchan tersenyum. Untuk pertama kalinya kepada Kyuhyun, “Tidak apa-apa. Justru aku malah akan mempertanyakan kepedulianmu padaku jika saja kau menyetujuinya..”

Kyuhyun juga tersenyum. Akhirnya ia bisa melihat senyum itu lagi. Senyum yang membuatnya tertarik ketika bertemu dengannya di Swedia. Putri rekan bisnisnya yang saat itu terlihat bosan ketika harus mendampingi Ayahnya menghadiri acara peluncuran suatu produk lantaran Mom nya sedang sakit. Kyuhyun dan ayah Minchan, Choi Yeong Ja awalnya adalah rekan bisnis. Olehnya, jalan Kyuhyun untuk mendapatkan Minchan tidak begitu sulit.

“Baiklah. Aku berangkat ke kantor dulu..” Kyuhyun bangkit dari kursinya kemudian mendaratkan kecupan kilat pada pipi Minchan. Minchan cukup kaget dengan hal itu, tapi ia dengan segera bisa mengendalikan dirinya. Sebelum Kyuhyun mencapai pintu depan, ia segera beranjak menyusulnya.

“Kyu, tunggu sebentar..”

Kyuhyun menghentikan langkahnya kemudian berbalik kearah Minchan.

“Kunci mobilku dimana?”

Pertanyaan dari Minchan terus terang saja tidak Kyuhyun suka. Apakah itu artinya gadis ini ingin pergi? Kemana? Ingin menemui Luhan, kah? Namun jika Kyuhyun terlalu menekan Minchan, tentu ia akan semakin tidak nyaman dengan Kyuhyun. tidak tertutup kemungkinan ia akan pergi meninggalkan Kyuhyun begitu saja. Lagipula Kyuhyun tadi telah menolak permintaan motor sportnya dan ia sendiri yang menyebut soal mobil milik Minchan yang berada digarasi.

Kyuhyun menyerah. Ia merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan kunci dari sana. Ia menyerahkan kunci itu kepada Minchan dengan setengah hati. Minchan menerimanya sembari mengamati ekspresi Kyuhyun yang terlihat berat melepaskan kunci mobil itu.

“Kyu… Kau baik-baik saja? Tidak apa-apa kan jika aku keluar rumah? Aku bosan berada disini terus…”

“Huh? Oh, tidak.. Tentu saja tidak apa-apa..” ujar Kyuhyun berat.

“Ehmm.. Semoga sukses dengan jalan-jalannya” Kyuhyun mencoba menyelipkan nada bercanda disana. Minchan kembali tersenyum mendengar penuturan Kyuhyun.

“Baiklah. Aku berangkat..”

Minchan mengangguk. Setelah Kyuhyun memasuki mobilnya dan melihat mobil itu melaju pergi, Minchan segera menutup pintu rumahnya kemudian menuju kekamarnya. Ia membuka lemari pakaiannya, memilih pakaian yang ingin ia kenakan. Rencananya ia ingin berbelanja, makan diluar, bersenang-senang dan mungkin menyempatkan diri mengunjungi Luhan. Ya, ia sangat ingin menemui Luhan. Tapi ia telah bertekad, tidak akan menemui pria itu sebelum ia tahu kronologi pertemuannya dengan Luhan. Dalam hal ini, ia ingin mencari tau nya sendiri. Bukan dengan bertanya pada Luhan, terlebih pada Kyuhyun.

“Oh!!!” Minchan berseru ketika sesuatu terjatuh dari dalam lipatan baju yang baru saja ia keluarkan dari lemari. Ia membungkuk meraih benda itu. Sebuah buku bersampul kulit warna coklat.

“Ini apa?” gumam Minchan. Ia berjalan kearah tempat tidur kemudian mendudukkan diri disana. Ia melupakan niatnya yang ingin segera berganti baju. Kini ia berfokus pada buku itu.

Minchan membukanya dan mendapati tulisan namanya, Choi Minchan, berada disudut kiri atas. Jika dibuku itu terdapat tulisan namanya, itu artinya buku itu adalah miliknya. Maka dengan semangat ia mulai melangkah ke lembar-lembar berikutnya.

Lembaran pertama berisi tentang saat-saat ia baru saja memulai hidupnya di Korea. Minchan menghentikan bacaannya, ia kini yakin bahwa buku yang tengah ia baca itu adalah buku diary miliknya. Itu artinya, pertemuannya dengan Luhan pertama kali juga tertulis disini. Dengan cepat ia membuka lembaran berikutnya kemudian memindai kata demi kata mencari nama Luhan disana. Ia terus melakukan hal itu hingga lembar kesekian ia menemuinya. Menemui nama Luhan disana dengan tulisan tangannya sendiri.

Minchan mulai membaca tulisannya sendiri dengan seksama. Meneliti tiap kata kemudian seolah memasuki kembali kejadian-kejadian yang tertulis disana. Perlahan ia merasakan kepalanya sedikit berdenyut. Namun kelamaan denyutan itu menimbulkan rasa sakit yang membuatnya harus menghentikan kegiatan membacanya. Minchan meringis sembari mencengkram kepalanya. Tidak biasanya sesakit ini. Kali ini rasanya kepalanya akan pecah. Ringisan tadi kini berubah menjadi sebuah erangan tertahan. Karena didetik berikutnya semuanya gelap.

*****

Segala jenis hubungan, memiliki titik jenuhnya masing-masing. Hal itulah yang dirasakan Minchan. Awal kehidupannya di Seoul yang menyenangkan kini berubah. Sikap Kyuhyun tidak seperti biasanya. Suaminya kini lebih sering pulang larut serta perhatiannya yang semakin berkurang pada Minchan. Minchan mencoba mengerti, mencoba memakluminya. Mungkin saja karena pekerjaan yang semakin menggunung serta tuntutan karir Direktur nya membuat Kyuhyun tertekan. Namun ia memiliki kesabaran yang terbatas. Ia tidak bisa terus-terus diperlakukan dingin oleh Kyuhyun. Olehnya, ia mencoba mencari aktivitas lain disamping menjadi istri yang baik.

Motor sport. Ketika melihat sebuah cover majalah yang menampilkan seorang model wanita diatas motor sport, membuatnya tiba-tiba saja menginginkan hal itu. Kehidupannya di Swedia sebelumnya memang ia lalui ditemani kendaraan itu. Ia dulunya memiliki sahabat disana bernama Kris. Pria itu kerap kali mengajaknya mengendarai motornya. Bahkan secara diam-diam mengajarkan pada Minchan bagaimana cara mengendarainya. Setelah mahir, ia mencoba meminta ijin Appanya untuk memiliki kendaraan itu. Hal itu tidak berjalan lancar tentu saja. Awalnya, Appa nya tidak setuju, namun karena ia terus mendesak, akhirnya ia diijinkan. Sejak saat itu, ia mulai menyukai kendaraan beroda dua itu dibandingkan mobil.

Setelah mendapat penolakan dari Kyuhyun, bahkan suaminya ini tidak mengajaknya bicara karena permintaannya akan motor sport itu, ia tetap tidak menyerah. Ia terus membujuk Kyuhyun dengan segala macam cara hingga kemudian pria itu menyetujui keinginannya. Ia mendapatkan motor sportnya. Meski bahagia, Minchan merasa agak sedih. Jika Kyuhyun betul-betul sayang padanya, harusnya pria itu tetap pada pendiriannya akan larangan itu. Tapi seperti itulah wanita. Sangat sulit dimengerti. Ketika ia meminta sesuatu dan tidak ia dapatkan, maka ia akan terus berusaha hingga ia mendapatkannya. Namun ketika ia mendapatkannya, ia akan memikirkan hal lain yang sebenarnya tidak perlu ia fikirkan.

Saat mengendarai motor itulah, ia bertemu dengan Luhan. Seseorang yang pertama kali menantangnya langsung dijalanan. Ketika Minchan tengah asik-asiknya mengendarai motornya, dari arah sampingnya muncul motor sport lain yang sengaja mengajaknya adu kecepatan. Minchan, tentu saja, menyambut tantangannya dengan senang hati. Dan ketika mereka memutuskan untuk menghentikan aksinya, mereka menepikan motor masing-masing kemudian membuka helm yang menutupi wajah mereka. Saat itu Minchan tak dapat menahan tawanya melihat ekspresi aneh yang ditampakkan Luhan ketika mendapati bahwa ternyata lawannya tadi adalah seorang wanita.

Xi Luhan, pria itu adalah keturunan China yang datang ke Seoul lantaran ditugaskan untuk membenahi masalah pada anak perusahaannya di Seoul. Dengan bahasa Korea nya yang lancar, Luhan dengan mudah bisa berinteraksi dengan Minchan. Belakangan Minchan ketahui bahwa masa kanak-kanak Luhan dihabiskan di Seoul bersama neneknya yang ternyata keturunan asli Korea. Sejak saat itu hubungan mereka semakin akrab. Terlebih karena kini Kyuhyun semakin sibuk dengan urusan kantornya. Sehingga Minchan lebih banyak memanfaatkan waktu luangnya bersama Luhan.

Minchan tidak lagi merasa kesepian. Interaksi nya tidak lagi bergantung hanya pada Kyuhyun. Ia pun kini mendapatkan tempat untuk berkeluh kesah akan masalahnya dengan Kyuhyun. Luhan dengan senang hati akan mendengarkan semua cerita-ceritanya, bahkan sesekali memberi saran padanya.

Segalanya berjalan baik-baik saja, ketika kemudian masalah itu menimpanya. Minchan hamil. Seharusnya itu menjadi berita bahagia bagi mereka. Namun respon dari Kyuhyun membuat Minchan begitu shock. Pria itu memintanya menggugurkan kandungan. Belakangan Minchan ketahui bahwa Kyuhyun tidak menginginkan anak darinya. Pria itu tidak menyukai anak-anak.

Mereka bertengkar hebat. Minchan yang kala itu tengah emosi dengan segera meminta pada Kyuhyun untuk mengakhirnya pernikahan mereka dan Kyuhyun yang juga dalam kondisi sama, segera mengiyakan permintaannya. Setelah mengakhiri adu mulut mereka, Minchan meninggalkan Kyuhyun dengan motornya. Kala itu, hanya satu hal yang ia ingat. Luhan. Ia ingin menemui Luhan. Namun sayangnya, kecelakaan naas itu menimpa dirinya dalam perjalanan menemui Luhan.

*****

Minchan terbangun. Terbangun dalam keadaan yang begitu jelas, begitu terang. Ia mengingatnya. Ia kini mengingat semuanya tanpa terkecuali. Tidak ada lagi alasan baginya untuk menunda keinginannya menemui Luhan. Namun sebelum itu, ia akan menyelesaikan masalahnya dengan Kyuhyun.

“Minchan-ah..”

“Oh!! Kyu?” Minchan terkesiap kaget mendapati Kyuhyun yang masuk kedalam kamar dengan pakaian rumahnya. Memangnya berapa lama ia pingsan?

“Bukankah seharusnya kau berada dikantor?”

“Ya. Harusnya seperti itu. Tapi aku kembali kerumah karena berkasku tertinggal dan melihat posisimu ditempat tidur dengan tidak wajar jadi, kurasa kau tidak baik-baik saja..”

“Ya. Aku pingsan. Kyu, aku sudah___”

“Mengingat semuanya? Ya, aku tau..” Kyuhyun duduk disamping Minchan kemudian meraih buku yang tadi ia temukan tergeletak di lantai.

Minchan mengarahkan tatapannya pada buku yang Kyuhyun pegang, “Kau.. membacanya?”

Kyuhyun mengangguk, “Semuanya..”

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Saling menyelami pikiran masing-masing. Minchan mencoba merangkai kalimat yang tepat untuk ia ucapkan pada Kyuhyun. Namun, sebelum niatnya terlaksana, Kyuhyun telah terlebih dahulu mengakhiri kebisuan mereka.

“Maafkan aku. Maafkan keegoisanku selama ini. Kurasa.. Kita memang harus berakhir..” Kyuhyun menyunggingkan senyum kearah Minchan. Namun senyum itu bukannya membuat ia senang tapi malah membuat ia merasa sedih.

“Kyu-ya~ Aku betul-betul minta maaf. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu waktu itu. Aku hanya merasa bosan dirumah dan Luhan.. Ia muncul sebagai sosok yang menyenangkan dan__”

“Ya, aku mengerti..” Kyuhyun memotong ucapannya dengan segera.

“Temuilah dia. Kembali padanya. Kurasa, kebahagiaanmu bukan disini..” Kyuhyun menghela nafas berat. Rasanya sangat sesak ketika kau harus melepaskan orang yang kau cintai demi kebahagiaannya. Ya, sudah cukup. Sudah cukup ia bersikap egois selama ini.

“Kyu~..”

“Hmm.. Boleh aku memelukmu?”

“Tentu. Tentu saja, Kyu~” Minchan terlebih dahulu melingkarkan lengannya pada tubuh Kyuhyun. Menumpahkan segala perasaan leganya yang menyakitkan. Bagaimanapun, ia masih memiliki perasaan itu pada Kyuhyun. Meski kini didominasi oleh Luhan. Minchan semakin mempererat pelaukannya pada Kyuhyun begitu mendengar isakan tertahan dari pria yang masih berstatus sebagai suaminya ini.

“Apa yang harus kukatakan pada Tuan Choi karena telah mengecewakan putrinya…” Kyuhyun mencoba menyelipkan nada bercanda didalam suaranya yang serak lantaran tangis. Ia bahkan menyebut Tuan Choi, bukan lagi ‘Appa’ seperti ketika mereka telah resmi menikah. Kyuhyun betul-betul telah mengakhirinya.

“Kyu.. Maafkan aku. Maaf..” air yang mengalir dari matanya menderas. Minchan membenamkan wajahnya dibahu Kyuhyun, menumpahkan tangisnya disana.

Kyuhyun melepaskan pelukannya, ia menyeka air mata pada pipi Minchan dan Minchan melakukan hal yang sama. Mereka tertawa. Menertawai kebodohan masing-masing. Derai tawa itu berakhir dengan senyum lega pada wajah keduanya.

“Aku melepasmu.. Choi Minchan..”

Minchan tersenyum mendengar namanya yang kini tidak lagi menyandang marga Cho. Itu artinya. Kyuhyun betul-betul telah melepasnya.

“Terima kasih. Terima kasih, Cho Kyuhyun..”

*****

Minchan tersenyum menatap sosok yang terlihat sibuk mengangkut barang-barangnya. Ia sengaja belum menampakkan dirinya pada pria itu. Luhan baru saja mengunci pintu rumahnya kemudian mengangkat kopernya ketika ia melihat sosok Minchan berdiri didepannya.

“Minchan?” gumamnya tidak percaya.

“Hai, Mr. Lu~ Ada yang bisa kubantu? Sepertinya kau keberatan dengan tasmu itu..” Minchan menyunggingkan senyumnya kearah Luhan yang masih menampakkan wajah ‘shock’ nya.

“Xi Luhan, aku kembali..” gumam Minchan kemudian memeluk Luhan. Menumpahkan segala rasa rindu yang ia rasakan.

Luhan masih terdiam ditempatnya. Ia merasa tidak yakin dengan apa yang ia alami saat ini. Ia merasa ini mimpi. Apakah betul yang memeluknya saat ini adalah Minchan?

“Minchan, kaukah itu?” gumamnya.

Minchan terkekeh pelan kemudian menepuk punggung Luhan menyadarkannya, “Tentu saja, bodoh. Wanita mana ynag ingin memelukmu selain aku?”

Luhan tersenyum bahagia. Ia tidak ragu lagi membalas pelukan Minchan. Bahkan memeluknya sangat erat hingga Minchan merasa sesak. Namun ia tidak merasa masalah dengan hal itu. Tapi tentu saja ia akan mengeluarkan kalimat candaan yang membuat Luhan tertawa mendengarnya, “Ugh, Luhan.. Aku akan segera mati jika kau memelukku seerat itu..”

Luhan melepas pelukannya, merengkuh wajah Minchan, menatapnya lekat. Akhirnya, Minchan kembali padanya.

“Apa? Kenapa menatapku seperti itu, huh? Dasar penipu!!” Minchan meninju perut Luhan pelan, menampakkan wajah pura-pura kesal pada pria yang telah menipunya ketika ia masih amnesia.

Luhan meringis, memegangi perutnya, bertingkah berlebihan seolah pukulan itu sangat sakit.

“Jangan berlebihan, bodoh!!” Minchan tertawa melihat ekspresi Luhan yang kemudian disambut oleh kekehan dari Luhan.

“Kau mau kemana, huh? Meninggalkanku ke Cina?” Minchan menatap koper Luhan yang tergeletak disampingnya.

“Ehm, aku harus kembali ke Cina. Urusanku disini telah selesai..”

“Lalu kau meninggalkanku disini? Tidak, kau tidak boleh ke Cina”

“Aku akan kembali.. Aku harus ke Cina..”

“Tidak. Pokoknya kau tidak boleh ke Cina. Sebelum kita mengunjungi Swedia..”

“Swedia? Kita?”

Minchan mengangguk, “Ya. Kau harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu selama ini. Membuatku jadi janda diusiaku yang masih begitu muda, serta menipuku selama aku amnesia. Kau, harus melamarku langsung pada Appa…”

Luhan membulatkan matanya. Ini terlalu tiba-tiba baginya. Beberapa hari yang lalu ia baru saja merencanakan untuk datang mengacau ke rumah Kyuhyun dan merebut Minchan kembali. Namun niat ‘jahat’nya tidak terlaksana karena kini gadis itulah yang datang sendiri padanya.

“Kenapa diam? Ayo, kita pergi… Pesawat kita akan take off satu jam lagi. Ini tiketmu..”

Masih dalam keadaan setengah sadar Luhan menerima tiket pesawat yang Minchan sodorkan padanya. Minchan mendecakkan lidahnya melihat Luhan yang tidak juga bereaksi. Ia kemudian menarik lengan pria itu membuatnya bergerak.

“Ayo.. Kita pergi..”

“Oh, ehmm.. Baiklah. Aduh aku bahkan belum merangkai kalimat untuk Ayahmu nanti..”

“Eish, kau tidak perlu khawatir. Kau bisa berlatih diperjalanan nanti. Aku akan membantumu..” Minchan menyerahkan kunci mobilnya pada Luhan. Pria itu menerimanya kemudian memasukkan kopernya kedalam bagasi. Dan melihat koper lain yang berada dibagasi mobil Minchan, membuat Luhan tersenyum begitu saja.

“Baiklah. Apa kira-kira aku mendapat pukulan dari ayahmu karena tindakan kriminalku selama ini?”

Minchan terlihat berfikir kemudian membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam. Luhan menyusulnya kemudian dibagian kemudi.

“Yah. Mungkin saja. Mungkin beberapa pukulan..”

“Uhmm.. Tidak masalah..” Luhan menyalakan mesin mobil sambil mengedikkan bahunya acuh.

“Benarkah? Tidak masalah? Kuharap Appa membuatmu babak belur..” Minchan terkikik geli membayangkan hal itu. Sementara Luhan menatap horor kearah Minchan yang begitu tega padanya.

Namun, jika ia memang mendapat pukulan itu, ia bersedia. Bahkan hingga babak belur pun tidak masalah. Jika itu berarti ia akan mendapatkan Minchan, maka ia rela menjadi babak belur. Selama Minchan berada disampingnya. Ya, selama mereka bersama. Apapun akan bisa ia lalui dengan baik.

====================================================

[Flashback]

Cinta itu tak dapat diprediksi kehadirannya,

Seperti ketika aku telah dimiliki seseorang, tapi ia datang…

Cinta itu hadir dengan tidak terduga,

Perlahan, tapi begitu dalam…

 

Jikalau memang ini cinta, lantas hal apa yang kurasakan pada seseorang yang berstatus sebagai suamiku?

Apakah itu juga cinta?

Ataukah perasa lain, semacam tanggung jawab yang harus kupenuhi sebagai seorang istri?

 

Xi Luhan, pria aneh berkebangsaan Cina yang tiba-tiba hadir,

Mengacaukan logikaku, mengobrak-abrik perasaanku, membuatku kebingungan…

What the hell u did to me?

Menyebalkan!!!!

 

Choi Minchan (untuk kali ini, aku menulisnya menggunakan margaku, bukan menggunakan marga suamiku. Hihihi.. rasa-rasanya aku ini memang tengah selingkuh. Hohohohh.. ^^)

Kyuhyun menatap lembaran itu. Entah sudah yang keberapa kali ia baca. Matanya ia arahkan pada sosok tubuh yang tengah memejamkan matanya. Bibirnya menggumamkan sebuah nama. Xi Luhan. Xi Luhan…

Kyuhyun tersenyum miris. Apa yang harus ia ucapkan ketika wanita ini sadar? Apakah ia harus latihan mulai dari sekarang untuk tidak egois? Yah, sepertinya ia harus melakukannya. Ia beringsut maju kearah sosok tubuh itu. Ditatapnya lekat-lekat sebelum kemudian mendaratkan sebuah kecupan manis dibibirnya.

“Selamat tinggal, Choi Minchan. Aku mencintaimu…”

[THE END]

Hofftt~ *menghela nafas*

Akhirnya selesai… ^^

So Sorry for Typo(es)…

Ngebut soalnya.. Heheheh…

8 thoughts on “[FF Writing Contest] Forgotten

  1. Baguuuuus! Tipe and konflik ceritanya ga biasa. Tadinya tertarik karna castnya cho kyuhyun n luhan *maklumbias
    eh taunya ceritanya keren! Tapi bener kyuhyun kasian banget huhuhu suamiku TT,TT
    pas kok dia endingnya balik ke luhan, emang feel mereka berdua lebih berasa aja. Nothing typo kok:-)

  2. Huaaa😥
    puasa ane batal !! gara gara bca FF yang cetar membahana badai ini | author : lebai loh | me : dri pda kagak ninggalin jejak sama sekali, mending lebai lebaian | author : ya udah, sono #ngusir | me : paii paii, bikin lagi yah!, soalnya keren. Daebak!! (y)

    Keep Writingnya thor…. ^^

  3. bagus thor ceritanya~!
    dasar luhan penipu~!! gue jitak juga ni bocah!
    *Luhan: gw bukan bocah elu tuh bocah~!.
    yawdah, cuman mau ninggalin jejak aja😀
    Keep Writing, thor!

  4. Daebak ^^ tapi kasian ya kyuhyunnya ditinggalin, ya.. Walaupun mimchan bahagia sama orang yg bisa bikin dia nyaman dan bahagia
    Keep writing author😀

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s