[FF Writing Contest] Heaven Knows

Heaven Knows

Title : Heaven Knows

Author : Cho Hika

Main Cast :

  • Choi Sooyoung
  • Kim Joonmyun

Support Cast : Seohyun, Joonmyun’s Dad, Sooyoung’s Sajangnim, Pettie Café’s Ahjumma and other.

Genre : Romance and little bit humor

Rating : PG-15

Disclaimer : Plot and Poster is MINE ! Don’t claim as YOURS !

A/N : Awalnya ff ini terinspirasi dari komik sains astro. Tapi pas aku tulis, malah jadi kaya gini. Yasudahdeh, apa boleh buat. Enjoy it aja ya~ ^^

 

 

“When heaven knows that i love you”

*** Heaven Knows ***

Normal’s POV

 

Musim panas di Pulau Nami rupanya tidak membuat surut para turis. Baik lokal maupun inter-lokal masih membanjiri disekitar dermaga Gapyeong, Pulau Nami.

Ditambah lagi dengan letaknya yang strategis. Dengan menggunakan bus dari Seoul, pulau mungil ini bisa ditempuh selama 1,5 jam hingga tiba di Dermaga Gapyeong, Pulau Nami.

Kebetulan hari ini adalah masa-masa liburan akhir musim panas. Sehingga banyak sekali turis-turis asing yang menjamahi Nami. Mayoritas tubuh mereka tegap dan tinggi untuk pria, serta langsing dan tinggi untuk wanita.

Lalu bagaimana dengan turis lokal yang mungkin akan tenggelam ditengah keramaian turis-turis asing?

Sooyoung’s POV

Kanan. Kiri.

Ya! Aku tidak bisa lewat!

Apakah aku kurang tinggi dibanding mereka semua? Padahalkan aku sudah memakai sneakers yang tinggi!

Aku terus merutuki diriku sendiri yang tidak bisa menebas kerumunan turis-turis asing. Mereka berjalan terlalu lambat. Berbeda sekali dengan mayoritas orang Korea yang berjalan cepat. Apalagi yang dikejar ‘deadline’ sepertiku! Oh My!

 

Rasanya sangat tidak mungkin jika aku menerobos turis bertubuh tinggi dan tegap yang ada disamping kanan dan kiriku. Tapi mungkin aku bisa menyelag turis yang ada didepanku. Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan turis-turis asing yang lainnya. Tapi dia cukup tegap dan memiliki kulit putih susu. Apakah dia bukan turis asing? Ah, lebih baik aku coba!

Sillyehamnida,” (Permisi)

Tidak ada respon darinya. Apa dia tidak mendengarku? Ah, sepertinya tidak! Mungkin saja pria itu hanya tidak menyadari bahwa kata ‘permisi’ yang ku ucapkan adalah untuknya. Haruskah  aku detailkan kata-kataku?

“Ehm! Ahjussi berjaket hitam, bertubuh sedikit tinggi dan berkulit putih susu, bisakah kau minggir sedikit? Aku ingin lewat karena aku dikejar deadline.”

Dia masih diam! Apakah aku harus berteriak? Menyebalkan sekali!

Ahjus…” Kalimatku terputus saat ia sedikit minggir ke arah kiri.

Ah, senangnya! Segera aku berjalan lebih cepat dibanding yang lainnya.

Bugh!

 

Turis disebelah kananku justru ikut menyelagku.

Sial! Lengan kananku sakit! Untung saja aku tidak terjatuh. Dan kamera SLR-ku? Untunglah, tidak apa-apa. Tasku juga aman-aman saja. Thanks god~ But, tolong hilangkan nyeri dilengan kananku ini. Huweee~

Terlepas dari keramaian, kini aku terduduk disalah satu bangku yang hanya ditemani pepohonan pinus yang menjulang tinggi.

Sepi sekali.

Mungkin karena tempat ini sudah terlalu jauh dari dermaga. Ah, tapi aku tidak tahu.

Memandang sekitar membuatku bingung. Karena tidak ada yang menonjol dari keindahan pulau mungil ini, tidak akan ditemui sebuah pemandangan indah layaknyan pulau-pulau tujuan wisata lainnya.

“Argh!” Mengacak rambut mungkin salah satu caraku untuk meluapkan rasa frustasi-ku.

Lalu bagaimana aku bisa membuat artikel yang menarik jika aku sendiri tidak tahu ‘apa yang menarik’ dari Pulau Nami ?

Lagipula, mengapa sajangnim memberiku tugas seberat ini sih? Menyebalkan!

Mungkin aku butuh waktu untuk me-refresh otakku terlebih dahulu. Tidak mungkin kan jika aku menulis dengan mood yang sedang down?

Agashi!” (Nona)

Ada orang lain disini, eoh? Bukankah tadi aku sedang sendirian? Ah, mungkin karena tadi aku melamun.

Agashi!”

Satu kali lagi, eoh?

AGASHI!!”

Pria yang tadi memberiku jalan tiba-tiba saja sudah berada disampingku.

Ia membungkukkan badannya dan berbicara tepat didepan telingaku. Untung saja aku hanya lompat dari bangkuku. Walupun terhempas ketanah, tapi setidaknya jantungku tidak copot, right?

Jeosonghamnida, agashi.” (Maaf, nona).

Dengan wajah cemas, pria itu rupanyan ingin membantuku berdiri. Tapi ia memegang bagian yang salah!

Mengerti maksudku?

Kalian jangan berfikir macam-macam ya?

Ia menggenggam lenganku kuat, yang kemudian mentransfer tenaganya untuk berusaha membuatku bangkit.

Aku tidak mungkin menolak niat baiknya ini bukan? Dalam hati aku hanya meringis kesakitan mengingat lengan kananku yang memang kurasa sakit.

Entah bagaimana ekspresiku sekarang ini? Mungkin ia akan mengernyit heran melihat wajahku yang menahan rasa sakit selama lenganku masih digenggamnya kuat-kuat untuk membuatku bangkit.

Ia mendudukkanku dibangku. Ia mengembalikan posisiku seperti semula. Seperti sebelum ia mengagetkanku!

Kemudian ia duduk disamping kananku.

“Maaf, aku lupa.”

Ia melepas genggamannya dari lenganku.

Perkataannya sama sekali tidak ku gubris. Aku justru sibuk memijat-mijat lengan kananku pelan.

“Sini, biar kubantu.” Ucapnya pelan.

Ia menurunkan tangan kiriku pelan dan mengambil tangan kananku.

“Ya! Mau apa kau?!”

Pria ini! Apakah salah satu hobinya adalah mengejutkanku?

“Kemari saja.”

Ia memijat-mijat bagian bawah lenganku.

Ah! Bodohnya aku berfikir ia akan macam-macam denganku.

“Kalau sakit dibagian lengan, jangan dipijat dibagian lengannya.”

Cara berbicaranya sangat lembut. Ia bahkan terlihat seperti malaikat dimataku.

“Kenapa?”

Tidak salah kan jika aku meresponnya?

“Bagian yang terluka itu pasti rapuh. Lalu apa kau ingin semakin membuat lenganmu rapuh?”

Masih dengan tutur kata yang lembut. Ia fokus memijat bagian bawah lenganku tanpa berani melihat mataku.

“Aku tidak mengerti.”

Aku heran, mengapa aku jadi terlihat bodoh dihadapannya? Padahal image-ku adalah wanita cerdas.

“Kau tahu pohon?”

Ia menghentikan pijatannya dan menatapku lekat. Tapi hanya sekilas karena ia kembali memijat bagian bawah lenganku.

“Tentu saja.”

Ia tersenyum. Walaupun posisinya menunduk dan aku tidak bisa melihat wajahnya langsung, tapi senyumnya terukir sangat jelas dimataku.

“Jika ada pohon yang hampir tumbang lantas kau mendorong-dorongnya, pohon itu justru maka benar-benar tumbang.”

“Ah~”

Aku masih dalam proses mencerna kata-katanya.

“Sudah merasa baikan bukan?”

Ia meletakkan tangan kananku perlahan sampai ke pangkuanku.

Kalau boleh jujur, pijatan pria ini lumayan juga.

Ne.”

“Sekali lagi aku minta maaf ya?” Ia membenarkan posisi duduknya hingga menghadap depan.

“Ne.”

“Aku minta maaf.”

“Ne, sudah kumaafkan.”

“Sekali lagi mohon maafkan aku.”

“Ne, sudahlah! Satu kali lagi kau mengucap maaf, aku akan memberimu piring sebagai hadiah karena sudah berhasil mengucap kata maaf lebih dari tiga kali dalam kurun waktu kurang dari 15 detik.”

Aku menatapnya malas. Sementara ia hanya terkekeh.

“Padahal aku masih ingin minta maaf satu kali lagi.”

MWO?!” (Apa)

Pria ini benar-benar menambah beban pikiranku. Sudah cukup dibuat bingung dengan tugasku, pria ini justru membuatku lebih bingung karena kata-kata ‘maaf’ yang terlontar dari mulutnya.

Ia tertawa. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sepercikpun rasa bersalah.

“Perlu ku perjelas?”

Lihat? Sepertinya aku akan selalu dibuat bingung dan terkejut bila bersamanya.

“Maaf yang pertama adalah maaf karena salahku yang lama dalam mencerna kata-katamu saat kau menyuruhku untuk minggir ditengah-tengah kerumunan orang besar.”

Ya, aku sedikit mengerti sekarang.

“Maaf yang kedua adalah maaf karena aku mengagetkanmu. Aku sama sekali tidak berniat untuk itu.”

Ia menautkan kedua telapak tangannya dan dengan siku yang dijadikan tumpuan di pahanya.

“Maaf yang ketiga adalah maaf karena aku menyentuh lenganmu yang sudah jelas kutahu bahwa lenganmu sakit karena tertabrak oleh turis asing.”

Kini ia kembali duduk tenang seperti biasa yang kemudian merogoh saku jaketnya.

“Maaf yang keempat adalah maaf karena .. “

Ia menggantung kata-katanya. Membuatku penasaran saja!

“Ah aku lupa! Aku kan belum minta maaf untuk yang ke-empat kalinya.”

Ia menepuk jidatnya kasar. Dan ah! Dia benar-benar berhasil membuatku terkejut (lagi)!

“Anggap saja kau sudah meminta maaf padaku yang ke-empat kalinya.” Ucapku datar.

“Oh, begitu ya?”

Ia menatapku tepat di manik mataku. Aku pun dapat melihat manik matanya dengan iris hitam dan …
… cukup bersinar.

“Maaf karena aku tidak langsung memberikan ini.”

Ia mengambil sebuah dompet dari saku jaketnya.

Hey! Itu dompetku!

“Kembalikan!” Ucapku kasar seraya mengambil cepat dompetku dari tangannya.

“Yaa, aku memang ingin mengembalikannya.”

Ia menatapku polos sambil mengangkat kedua tangannya sehingga mengapung di udara.

Hey, aku tidak bermaksud membuatnya merasa bersalah. Hanya saja, mengapa pria ini selalu membuatku terkejut? Baik itu perkataannya ataupun tingkah lakunya.

“Bagaimana bisa?” Aku bertanya dengan nada bicara yang lebih stabil tentunya.

“Dompetmu terjatuh saat kau tertabrak turis tadi. Sebenarnya aku ingin mengejarmu tapi sayangnya kau berjalan terlalu cepat ditengah kerumunan orang-orang besar. Makanya aku mencarimu dan syukurlah kita masih bisa bertemu.”

Senyumnya! Hey, dia tersenyum padaku sekarang. Setelah dia bersusah payah mencariku. Responku justru tidak karuan seperti ini.

Mianhamnida.”

Aku tertunduk sangat dalam. Dalam hati aku hanya bisa merutuki diriku sendiri.

Cham jal dwaessgunyo.” (Kau baik sekali).

Cungji,” (Berhenti) “Angkat kepalamu!”

Ia menopang daguku dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Kemudian ia membiarkanku menatap matanya lekat-lekat.

“Wah~ Dimatamu ada bintang.”

Mwo? Dimataku? Kau bercanda?”

Mengapa aku merasa salah tingkah sekarang? Apa karena aku baru saja di goda, huh?!

Ne. Jadi siapa namamu nona bintang?”

“Hey, berhentilah menggodaku!”

Aku menghalau tangannya yang masih betah menopang daguku. Aku terlalu salah tingkah sekarang. Menatapnya mungkin membuatku lupa daratan. Apa aku terlalu berlebihan? Tapi ini nyata! Pipiku mungkin sudah berwarna merah busuk sekarang.

“Jangan mengalihkan pandangan dariku. Aku sedang berbicara denganmu, nona bintang.”

Ia kembali menuntun daguku agar wajahku bisa tepat berada dihadapannya. “Lihat! Pipimu merah sekarang.” Ia terkekeh ringan.

Mwo? Benarkah?” Aku berusaha tenang dengan tetap menatapnya. Tapi sepertinya gagal.

“Tidak, aku hanya bercanda. Hehe..”

Dengan ringannya ia tertawa setelah sukses menggodaku. Sementara aku korbannya hanya bisa tertawa getir.

“Namaku Kim Joonmyun, Sooyoung noona.”

“Da…darr…dari mana kau tahu namaku? Dan tadi kau bilang apa? Noona?”

Baiklah! Jadi sudah berapa kali dia mengejutkanku?

“Aku tahu dari KTP-mu, Choi Sooyoung noona.”

Ah! Jadi begitu?!

Lantas aku mengambil dompetku untuk mengecek apakah semuanya baik-baik saja? Ataukah pria ini seorang penjilat?

“Hey! Kau mencuri KTP-ku ya?!”

Bicara dengan siapa aku ini? Kemana pria itu? Eh, maksudku kemana Kim Joonmyun?

Noona!” Aku mencari asal suara yang ternyata sudah jauh dari hadapanku.

“Datanglah kemari nanti malam pukul 8 jika kau ingin KTP-mu kembali. Akan ku ajak kau ke tempat yang tentunya bisa kau liput!” Joonmyun sedikit berlari sambil berteriak.

“Ya! Kembali kau!”

Dia hanya tersenyum slight sambil mengedipkan sebelah matanya.

‘Apa aku terhipnotis?’

Argh! Andwaeeeeee!

.

Aku berjalan malas melewati pohon pinus yang berjejer disetiap jalannya. Ku dengar ada 150 lebih pohon pinus yang tertanam di sini. Pantas saja! Meskipun sedang musim panas, tempat ini tidak terasa gersang.

Di ujung jalan aku melihat rumah-rumah unik yang berjejer dengan rapih. Apa itu yang namanya “Petite France” ?

.

Petite France adalah komunitas budaya Perancis yang terletak di Goseong-ri dengan 16 gaya bangunan Perancis. Bangunan ini memiliki 34 kamar.”

Begitulah isi dari batu tulisan yang terukir tepat didepan wilayah Petite France.

Annyeong haseyo.”

Seorang wanita paruh baya membungkuk menghampiriku. Kerut diwajahnya menandakan bahwa usianya yang pasti lebih tua dariku.

Ne, annyeong haseyo.” Sebagai yang lebih muda tentunya aku membungkuk lebih dalam.

“Sepertinya kau sedang mencari kamar untuk menginap ya?”

Gurat senyumnya menambah lipatan-lipatan kulit keriput didekat matanya.

Aku mengangguk pelan sambil tersenyum. “Aku pesan satu kamar ya? Untuk satu malam saja.”

Ne, akan segera ku siapkan.”

“Eh ahjumma, ada yang ingin ku tanyakan.”

Ne?”

“Apakah ada rumah makan didekat sini?”

“Oh kau lapar rupanya.”

Aku terkekeh kecil, berusaha menjaga sikap sopan disini.

“Masuklah, didalam juga terdapat rumah makan Petite.”

Ah, senangnya! Tempat ini lumayan juga ternyata.

“Lihat disana?” Ahjumma itu menunjuk ke sebelah kanannya.

Petite Cafe?” Bacaku pelan.

Ne. Disana terdapat makanan Korea dan juga Perancis. Kau bisa kesana sementara aku merapihkan kamarmu, agashi.”

Aku mengangguk. Wanita tua ini sangat ramah.

Gomapseumnida, ahjumma. Aku kesana dahulu.”

Setelah membungkuk dalam dan mendapat respon senyum dari ahjumma, aku segera pergi menuju Petite Cafe.

.

Desain didalam Petite Cafe sangat memanjakan mataku. Dengan peralihan budaya Korea dan Perancis, tempat ini terlihat sangat unik.

Aku segera pergi memesan makanan dan kemudian duduk disalah satu bangku dekat jendela.

Cekrik!

Aku memotret pemandangan Petite France dari dalam Petite Cafe. Turis-turis yang berlalu lalang ditengah pohon pinus dan bangunan ala Perancis membuat hasil gambar yang menarik.

Tak lupa pula aku memotret suasana dalam Petite Cafe yang nampak elegan dengan manusia-manusia kelaparan yang masih nampak elegan tentunya.

Tidak perlu membidik terlalu banyak karena dengan sekali jepret saja aku bisa menghasilkan gambar yang bagus dan tampak nyata.

Tunggu!

Saat aku melihat hasil potret dari dalam cafe, aku seperti melihat jaket Joonmyun!

Ah, maksudku melihat orang yang menggunakan jaket hitam yang sama seperti milik Joonmyun.

Ia terduduk tepat menghadap kamera dengan wajah yang tertutup oleh cover buku yang sedang dibacanya.

Aku mencoba memperbesar gambarnya.

Jaketnya berwarna hitam pekat persis seperti yang digunakan Joonmyun tadi. Kulit tangannya sedikit terlihat karena ia memang sedang memegang buku. Sangat putih, seputih susu. Tapi, buku apa yang sedang ia baca?

Astronight.”

Lagi!

Joonmyun mengejutkanku dengan tiba-tiba duduk dihadapannku.

“Kau memgambil gambarku ya?”

“Tidak! Aku hanya… Hanya… Aku.. Aku..”

Aku apa? God~ Help me, please!

“Aku tertarik dengan bukumu!” Ucapku sekenanya.

“Oh, kau suka astronomi juga ya? Kebetulan sekali.” Ia tersenyum slight.

“Apa?”

Aku heran, mengapa aku selalu dibuat kikuk olehnya?

“Permisi, agashi. Ini bulgogi, nasi goreng kimchi, samgyetang, orange juice dan strawberry milkshake pesanan Anda sudah siap.”

Salah satu pelayan wanita datang menghampiri mejaku dan langsung meletakkan semua pesananku diatas meja. Setelah selesai, ia pergi sambil memberi senyum. Sementara Joonmyun? Sedari tadi ia seperti sedang menahan tawa.

“Apa yang lucu?!”

“Tidak, tidak ada. Hanya saja …”

“Apa?!”

“Kau makan makanan yang berat sekali, noona. Minumanmu juga kurang sehat. Apa kau tidak takut gemuk? Dan wanita sepertimu seharusnya menjaga pola makan.”

“Apa pedulimu, eoh?! Aku makan banyak pun dengan uangku sendiri. Mau apa kau?!” Aku mengambil sumpitku dan menunjuk-nunjuk tepat dihadapannya. “Dan kembalikan KTP-ku, Joonmyun-ssi!”

Ia menaikkan sebelah alisnya dan bangkit dari tempat duduknya. “Ah! Aku lupa! Aku harus mempersiapkan kencan kita malam ini bukan, noona? Jadi aku pamit dulu ya? Dan jangan lupa untuk datang. Oke?”

Secepat kilat ia berlari keluar cafe.

“Apa katanya barusan? Kencan?”

Namja ini! Awas saja kalau sampai ia mencoba mempermainkanku. Akan ku pukul lengannya agar sama denganku!

Menyebalkan!

Surrrp.

Aku meminum orange juice-ku kasar dan kemudian melahap habis semuanya dengan kasar karena rasa kesal dihatiku.

Aku berlari menyusuri jalan dekat Hutan Resom yang menghubungkanku dengan tempat dimana Joonmyun dan aku berjanji untuk bertemu.

Sekarang ini sudah pukul 9.30 yang berarti bahwa aku terlambat 1 jam 30 menit dari janji awal. Maklum saja, seharian ini aku lelah sehingga menghabiskan waktu sore-ku untuk tidur.

Karena setelah makan di Petite Cafe tadi aku langsung berhadapan dengan laptopku untuk mengetik artikel tentang Pulau ini. Walaupun belum selesai, tapi mataku cukup lelah karena radiasi laptop yang membuatku mengantuk dan tertidur.

Langkahku terhenti saat kudapati Joonmyun sedang duduk meringkuk kedinginan dibangku sendirian.

Aku kembali berlari untuk menghampirinya. Sayang sekali karena lariku tidak terkontrol, aku hampir jatuh didepan Joonmyun. Dan untungnya dia menahan tubuhku dengan menarik pinggangku.

“Akhirnya kau datang juga. Aku kira kau tidak akan datang.”

Senyum angel-nya mengembang begitu saja saat ia berhasil menangkap manik mataku.

“Kim Joonmyun, kau tidak marah padaku?”

“Tidak ada waktu untuk marah padamu, noona. Ayo cepat ikut aku.”

Ia menautkan tangannya dengan tanganku. Errr. Dingin sekali tangannya. Tapi mengapa ia tidak marah padaku?

“Kim Joonmyun, tanganmu?”

“Dingin?”

Aku mengangguk dengan diikuti senyum darinya.

“Aku akan segera hangat, noona. Kau yang membuatku hangat.”

“Apa?!”

“Ayo!”

Dia menarik tautan tangan kami lembut, kemudian berlari bersama.

Entah mengapa, aku sangat percaya padanya. Padahal aku baru kenal dengannya.

Setiap kali melihat senyumnya, aku merasa ada dilingkaran aman.

Seandainya saja mulut ini berani mengucap.

Sayangnya tidak!

Aku hanya bisa menatap wajahnya yang terlihat berkilau di kegelapan malam. Senyumnya yang terus mengembang dan juga tautan tangannya yang semakin kuat membuatku nyaman melihat karya Tuhan yang Maha Kuasa ini.

“Jangan menatapku terus, noona. Perhatikan jalan, kau bisa jatuh.”

Aku mengerjapkan mataku kasar. Apakah Joonmyun mengetahui bahwa sedari tadi aku memandanginya?

“Aku bisa melihat dari ekor mataku loh noona!”

Ia terkekeh sambil terus berlari menghadap depan.

Aku menunduk. Menahan malu dan memperhatikan jalan yang agak berbatu. Entah sudah berapa lama kami berlari.

“Disini, noona!”

Joonmyun menghentikan langkahnya, begitu pula aku.

“Apa? Apa yang bisa ku liput disini?”

“Kemari!”

Tiba-tiba saja ia sudah tidak disampingku.

“Disini noona,”

Oh! Dia ada diatas!

Jalannya memang agak curam seperti bukit. Joonmyun menengadahkan tangannya untuk kuraih tentunya.

“Pegang kamera-ku saja. Aku bisa sendiri.” Aku memberikan kamera SLR-ku kepada Joonmyun. Aku tidak ingin sampai kameraku tergores sedikit saja.

“Aku tidak menerima penolakan, noona!” Ia mengambil kameraku dan langsung mengalungkan di lehernya yang kemudian kembali menengadahkan tangan untuk membantuku.

“Baiklah.”

Grep.

Hap.

Aku berhasil naik dan senyum kini sama-sama mekar dari wajah kami.

“Jadi mana KTP-ku, Joonmyun-ssi?” Ucapku sembari menepuk-nepuk hoodie yang kurasa kotor terkena tanah tadi.

“Aku pasti akan mengembalikannya padamu. Jadi kumohon jangan bertanya soal itu dulu, noona. Anggap saja kita sedang kencan sekarang.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Sepertinya apabila aku berbicara dengannya, lebih sering mengucap kata yang tidak enak baginya.

“Lihat kesana, noona!”

Joonmyun menunjuk tempat dihadapan kami tanpa melepas tautan tangan kami.

Sebuah benda yang kuyakini adalah teropong bintang terpajang rapih disana. Serta pemandangan hutan Resom yang terbelah sungai dapat terlihat dari sini. Ditambah lagi dengan bintang-bintang yang bertaburan. Semua ini tampak …
… Romantis !

“Tidak kusangka! Pulau Nami yang terlihat mungil di peta ternyata sangat luas.”

“Itu pasti karena kau melihat peta dengan skala yang besar.” Joonmyun terkekeh. “Disini berbeda sekali dengan Kota Seoul. Karena di Kota Seoul kita tidak akan dapat melihat bintang yang bertaburan dengan nyala terang. Kita juga tidak bisa merasakan dinginnya malam musim panas seperti disini.”

Ah! Ada benarnya juga kata-katanya barusan.

“Nah, itu dia!” Joonmyun menunjuk ke arah langit yang kini sedang terdapat bintang jatuh. “Kemari dan lihatlah!”

Ia menarikku mendekati teropongnya. Dan dengan jelas aku bisa melihat bagaimana bola bintang itu beserta ekornya tertarik oleh gaya gravitasi bumi.

“Ambil gambarnya, Joonmyun-ssi! Sebelum terlambat!”

Aku menarik kamera milikku yang masih mengalung dileher Joonmyun.

Aku sedikit membungkuk untuk menyelaraskan tubuhku dengan kameraku.

Dengan cepat aku mengatur lensanya dan …

Cekrik! 

 

“Yes! Aku berhasil mengambil gambarnya, Joonmyun-ssi!”

Joonmyun’s POV 

Bagaimana aku bisa melihat gambar hasil potretnya kalau wajahku terhalang oleh kepala dan rambutnya? Apa dia lupa kalau dia sedang menarik kameranya dari leherku?

“Joonmyun-ah?”

Ia memutar kepalanya dan rambutnya mengibas kepalaku. Sehingga aku reflek memejamkan mataku.

Saat mataku kembali terbuka, aku dikejutkan karena wajah Sooyoung noona yang jaraknya sangat dekat dengan wajahku sekarang serta sedang memejamkan matanya.

Apakah ia ingin aku menciumnya? Ataukah ia justru takut dengan posisi wajah kami yang seperti ini?

Tapi melihatnya sedekat ini sangat amat menguji imanku. Aku sedikit berperang dengan batinku yang tidak bisa kubendung lagi nafsunya, sementara logika-ku berkata untuk tidak menyentuhnya.

Tapi kejahatan datang bukan karena niat kan? Melainkan ada kesempatan!

Dan ini adalah kesempatanku!

Tapi apakah ini kejahatan?

Aku tidak perduli!

Lagipula hanya langit yang menemani kami disini.

Aku semakin memperkecil jarak antara wajah kami. Hidungku sudah bersentuhan dengan hidungnya. Nafas kami bertabrakan. Dan …

 

Chu.

Bibir kami bertemu. Rasanya hangat sekali.

“Apa yang kau lakukan, Joonmyun-ssi?”

Sooyoung noona sedikit mendorong tubuhku.

“Aku… Aku… Aku…”

Sial! Ini kali pertama aku dibuat kikuk olehnya.

Sorot matanya menyilaukan dan tajam. Aku tahu, ia merasa tercekam sekarang. Mungkin ia berfikir bahwa aku lelaki yang jahat.

“Maaf.” Ucapku lesu.

“Anggap saja aku tidak mendengar kata maafmu, Joonmyun-ssi!”

Ia mengambil kameranya yang mengalung dileherku dan pergi meninggalkanku. Mungkin ia tidak memperdulikan hal-hal lain selain harga dirinya sekarang. Tapi sungguh! Bukan niatku untuk membuatnya merasa tercekam karenaku.

“YAK!!”Aku menendang batu yang ada didekat kakiku.

Aku berteriak sekeras mungkin untuk mengeluarkan rasa sesalku.

“Kau bodoh, Joonmyun! Seharusnya kau menjaga wanita itu! Bukan malah menyentuhnya seenak hati! Bodoh!”

Aku menatap jauh ke arah Sooyoung noona pergi. Ia sudah tidak ada. Sepertinya aku benar-benar sukses merusak segalanya!

.

Aku berjalan pelan sambil membawa teropong milikku.

Sedih sekali rasanya!

Padahal beberapa menit yang lalu aku masih memegang tangannya. Tapi sekarang, melihat sosoknya pun tidak.

“Kim Joonmyun?” Seorang wanita dengan gray hoodie, short pants dan sneakers serta kamera SLR sebagai kalungnya berdiri tepat dihadapanku.

“Choi Sooyoung?” Aku membulatkan mataku untuk meyakinkan.

“Maafkan aku, ya? Tidak seharusnya aku meninggalkanmu disana sendirian.”

Ia mendekat kearahku dan menyentuh tanganku lembut.

“Seharusnya sejak awal aku tahu bahwa kau adalah pria baik-baik. Kau tidak akan bertindak seenaknya padaku kan?”

Aku mengangguk sambil terus memandanginya.

“Aku mendengar bahwa kau menyesal. Aku juga mendengar teriakanmu yang hampir membuat gendang telingaku rusak.”

Kami terkekeh bersama.

“Jadi kencannya belum berakhir kan?” Tanyaku polos.

“Belum, sampai kau mengembalikan KTP-ku!”

“Baiklah kalau begitu aku tidak akan pernah mengembalikannya.”

“Hey, apa katamu?!”

Aku berlari menghindar amukannya. Tadi itu, mimik wajahnya seperti ingin menerkamku saja.

Benar kan?!

Dia mengejarku dan mungkin akan benar-benar menerkamku!

Flashback ON

 

Sajangnim, aku mohon sekali lagi jangan memberikan tugas ini padaku. Mengapa tidak Seohyun saja? Dia kan anak baru.”

Rengek seorang wanita yang sedang berbicara dengan ponselnya.

Dari tadi aku memang memperhatikannya.

Mau bagaimana lagi? Dia terlalu menarik dan mencolok dimataku.

Rambut cokelat bergelombang yang tergerai, kemeja biru yang memiliki kerut dibagian bawahnya, jeans serta sneakers hitam.

Dia benar-benar chic!

Sajangnim! Memangnya apa yang bisa kuliput dari musim panas di Pulau Nami?”

Ia mem-pout bibirnya. Sepertinya ia sedang menjalankan pekerjaannya.

“Ya, aku tahu! Usiaku 23 tahun dan aku tidak pantas menangis hanya karena tugas darimu, kan?!”

Apa katanya barusan?

Usianya bahkan lebih tua dariku. Tapi sifatnya yang seperti kanak-kanak membuatku hampir tertawa.

Drrttt.. Drrtt.. 

Ponselku bergetar tanda panggilan masuk.

Yoboseyo? Abeoji?” (Halo? Ayah?)

Joonmyun-ah, apa kau sudah sampai di Nami?”

“Sebentar lagi. Ada apa, abeoji?”

“Hanya ingin memberitahumu. Akan ada meteor logam yang keluar dari lintasannya. Kira-kira akan terlihat jelas dari Pulau Nami, malam ini juga. Ada baiknya kau menggunakan teropongmu.”

Ne, abeoji. Terimakasih. Aku membawa teropongnya.”

“Bagus. Lakukan pengamatan dengan benar. Jangan sampai membuat abeoji-mu ini kecewa. Mengerti?”

Ne, aku mengerti.”

Bip.

Sambungan teleponku dan ayahku terputus.

Kebetulan sekarang ini aku sedang dalam rangka menyelesaikan skripsi kuliahku. Dan aku mengangkat topik meteor untuk itu. Beruntunglah aku memiliki ayah yang bekerja di Badan Astronomi. Jadi dengan mudahnya aku mendapat informasi tentang pantauan meteor tiap harinya.

Kalian mengerti bukan?

Batuan meteor yang keluar dari lintasannya akan tertarik gaya gravitasi bumi. Sehingga ia akan jatuh ke bumi. Peristiwa ini biasa disebut sebagai ‘bintang jatuh’ oleh orang-orang sekitar. Dan biasanya mereka akan mengucapkan permohonan mereka yang diyakini akan terkabul.

Hanya saja, semua itu adalah sugesti!

Sudah jelas bahwa peristiwa seperti itu dinamakan Meteorit. Dimana meteor yang terlepas dari lintasannya akan jatuh ke bumi dengan gaya gesek yang amat kuat. Karena sebelum jatuh ke bumi, batuan meteor itu akan bergesekan dengan atmosfer bumi.

Ditambah lagi kenyataan bahwa tempat batuan meteor itu yang terlalu tinggi. Makanya ia akan melesat dengan kuat, sehingga akan nampak ekor.

Oh ya, sebenarnya meteor logam dapat dilihat dengan mata telanjang. Hanya saja sebagai ‘calon’ ahli astronomi, aku ingin sekedar melihatnya dari dekat tanpa perlu mendekatinya.

Aha! Ada baiknya aku mengajak wanita tadi untuk sekedar menemaniku.

Hey! Kemana dia?

Bodoh! Rupanya kapal sudah berlabuh sehingga para penumpang sudah turun.

Segera aku berlari agar tidak tertinggal jauh.

Flashback OFF

 

“Oh! Jadi kau mengintaiku ya?”

Sooyoung noona menarik kerah bajuku setelah aku tertangkap dan dipaksa untuk menceritakan semuanya.

“Hey, noona! Lepaskan tanganmu atau .. “

“Atau apa huh?!”

“Atau aku tidak akan mengembalikan KTP mu.”

Aku sedikit tertawa. Karena aku tahu, beginilah caranya bercanda.

“Ancaman kecil!” Ia menatapku apatis.

Dia menantangku?

“Maafkan aku, noona.” Aku menjatuhkan teropongku pelan ketanah. Sementara Sooyoung noona masih menatapku apatis.

“Hya!” Aku menyenggol kakinya kasar dan aku berhasil merubah posisi.

Ia hampir terjatuh tapi kutahan hingga tubuhku pun ikut condong ke tubuhnya.

“Hya! Lepaskan aku, Joonmyun-ssi!” Ia mencoba bangun tetapi tidak berhasil karena posisinya yang memang sulit untuk berdiri.

“Jangan sebut namaku dengan ekor kata ssi, noona.”

“Baiklah, tapi lepaskan aku!”

“Tapi kau akan terjatuh.”

“Kau banyak bicara, Joonmyun-aaaaahhmmmph!”

Ia sendiri yang balik menyenggol kakiku kasar hingga kami terjatuh dengan seluruh tubuh yang bersentuhan, termasuk bibir.

“Hhmmmphhjj! Lllepaskan!”

Sooyoung noona mendorong tubuhku sampai ikut terlentang disampingnya.

“Kau yang melakukannya, noona. Jangan coba-coba memarahiku lagi huh!”

Nafasku tidak beraturan. Sama sekali tak ada niatku untuk menyentuhnya. Hanya saja aku takut dia marah lagi padaku.

“Kau berat, Joonmyun-ah!”

Ia membersihkan hoodie-nya kasar lantas menahan dadaku dengan pergelangan tangannya.

“Hanya saja aku tidak suka dengan posisi tadi.” Ia menyeringai tepat dibawah bulan.

Ah! Gadis ini meruntuhkan pertahananku saja.

Chu!

Bibir kami bertemu kasar. Ini karena aku dan Sooyoung noona menabrakan bibir kami bersama.

You knows that i love you, Joonmyun-ah!” Ucapnya di sela-sela sesi kiss kami.

Heaven too knows, Sooyoungie noona!”

END

10 thoughts on “[FF Writing Contest] Heaven Knows

  1. aku kira JoonMyun itu vampir karna kulitnya yg dingin -_-

    daebakk (y) suka bgt sama ff nya, paling suka pas adegan ending. wkwkwk

  2. Daebak,
    10 jempol untuk mu chingu-ya~
    Oh, so sweetnya.
    Aku sempat mengira kalau joonmyun itu hantu karena sering banget dia muncul tiba-tiba, kekeke~
    Fighting chingu untuk ff lainnya😀

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s