[FF Writing Contest] I Wake Up Because Of You

i wake up because of you cover

Title : I Wake Up Because Of You

Author : liakyu (Lia Agustin)

Main Cast :

  • Kim Joonmyun / Suho (EXO-K)
  • Bae Suzy (Miss A)

Support Cast : Kim Jong Woon (SJ) – as a Joonmyun‘s Uncle

Genre  : Sad, Romance, a little bit Fluffy

Rating : PG-14

 

***

at Joonmyun‘s Mansion, 2013 July 01, 10.00 KST

“Hari ini aku mulai bertugas sebagai penjagamu.“

Kepala pria itu terangkat ketika suara seorang perempuan memasuki gendang telinganya. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas wajah sang perempuan yang tadi berbicara itu. Ia melemparkan tatapan acuh dan sinis, kemudian memutar tubuhnya. Ah, tidak. Lebih tepatnya, ia memutar kursi rodanya.

“Pergi. Aku tak butuh penjaga, pengasuh, atau apapun itu,“ ucap pria berkursi roda itu—Kim Joonmyun—dengan dinginnya.

Tanpa pria itu tahu, gadis di belakang punggungnya itu tengah mengubah raut wajahnya yang tadinya ramah menjadi agak jengkel. Ia berkacak pinggang, bersiap untuk melawan pria yang sepertinya membutuhkan pelajaran etika serta sopan santun yang baik itu.

“Maaf, Tuan muda. Walau bagaimanapun, kau tetap harus bisa menerimaku sebagai pengasuhmu. Dan mulai sekarang, aku yang akan membantumu melakukan apapun yang tak bisa kau lakukan,“balas gadis ‘pengasuh’ itu dengan tenang serta diselipi rasa percaya diri yang lumayan kuat. Ia tak boleh ciut hanya karena sifat menyebalkan pria itu.

“Kau tuli, hah? Aku bilang aku tidak butuh KAU!! Pergilah!“bentak Joonmyun, seketika membuat gadis itu spontan mundur selangkah akan respon yang diterimanya. Ia menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sifat pria itu.

“YA! Jika kau ingin berteriak, tatap mataku! Jangan membelakangiku seperti itu!“ Gadis itu—sebut saja Bae Suzy—berteriak tak kalah kerasnya dari Joonmyun. Ia sudah benar-benar tak sanggup meredam emosinya yang telah terkumpul semenjak mendapatkan tatapan tak bersahabat dari pria itu.

Sekonyong-konyong Joonmyun memutar kursi rodanya dengan cepat—menuruti perkataan Suzy—lalu meneriakkan satu kata, “PERGILAH!“

“Bagaimana jika aku tidak mau?“tantang Suzy, membuat amarah Joonmyun memuncak hingga ke ubun-ubunnya. Alih-alih menyemburkan segala luapan emosinya, Joonmyun justru malah memilih untuk diam sembari mengepalkan tangannya erat—terlalu erat—hingga kuku jarinya melukai telapak tangannya sendiri.

“Lihat dirimu! Lihat se-betapa tidak berdayanya dirimu. Kau sangat marah, namun tak peduli seberapa kerasnya kau mencoba untuk meluapkannya, kau tak akan bisa. Kau hanya bisa berteriak sampai kerongkonganmu mengering. Bahkan, sekarang pun kau tak bisa menampar mulutku jika aku mengejekmu sebagai seorang yang cacat. Pecundang.“

Suzy bisa melihat dengan jelas wajah Joonmyun yang merah padam karena menahan amarahnya yang mungkin sia-sia saja untuk dibendung. Sebenarnya Suzy tak mau mengatakan hal ini, apalagi jika itu menyangkut harga diri seseorang. Namun ia terpaksa. Ia menilai Joonmyun sebagai tipe orang yang akan maju dan termotivasi jika amarahnya telah tersulut.

“Jaga ucapanmu itu! Jangan berlagak seperti kau tahu apapun tentang hidupku.“ Joonmyun berusaha berkata-kata, walaupun tubuhnya bergetar hebat.

Ya. Suzy membenarkan. Ia memang tak tahu apapun tentang pria di hadapannya itu. Namun sepertinya, penuturannya yang tadi cukup memberikan efek, walaupun belum terlalu terlihat.

“Bahkan, hanya berjalan ke arahku pun kau tak bisa,“ujar Suzy mencoba menyulut Joonmyun lebih dalam lagi.

“Jangan mulai lagi,“geram Joonmyun.

“Aku tak tahu betapa hebatnya dirimu dulu, betapa sempurnanya hidupmu dulu. Tapi ingat, itu DULU. Jangan munafik. Aku yakin, sekarang kau pasti sangat membutuhkan uluran tangan orang lain.“

“…cobalah untuk menerima apapun kekuranganmu. Dengan begitu, kau akan mudah melangkah menuju ke depan,“lanjut Suzy dengan senyum lebar.

Joonmyun hanya terdiam sebagai penunjuk reaksinya. Ia sudah melepaskan kepalan tangannya. Deru nafasnya kembali teratur. Amarahnya menguap. Ajaib. Ia merasa nuraninya mulai melunak setelah mendengar segala yang diucapkan gadis itu. Ia merasa tak ada lagi yang perlu ditakutinya. Ia merasa kondisi yang dialaminya sekarang bukanlah salahnya, salah Tuhan atau siapapun.

Joonmyun tiba-tiba menggerakkan kursi rodanya menuju rak buku yang terhampar di ruang kamarnya yang sangat luas—mengabaikan Suzy yang masih menatapnya dengan hembusan nafas lega. Ia bermaksud menenangkan dirinya sejenak sembari membaca salah satu buku motivasi—yang biasanya selalu diacuhkannya karena ia merasa isi buku itu tak akan mengubah apapun—di balkon kamarnya. Namun ternyata ia mengalami kendala saat akan meraih buku tersebut. Buku itu ditaruh di atas rak yang paling tinggi. Sedangkan untuk berdiri pun, ia sama sekali tak bisa. Ia berdecak kesal bercampur putus asa. Saat ia masih diliputi kebingungan, sebuah tangan lentik meraih buku yang dimaksud dengan mudahnya, kemudian mengangsurkannya tepat di hadapan Joonmyun.

“Apa sekarang kau masih berpikir untuk tidak memerlukan bantuanku?“ Tangan lentik itu milik seorang gadis yang kini tengah menatapi Joonmyun dengan seraut wajah penuh kemenangan—Bae Suzy.

***

at Joonmyun‘s Ballcony Room, 2013 July 01, 12.30 KST

“Siapa namamu?“

Sang gadis yang menerima pertanyaan itu menjawabnya dengan tulus.“Bae Suzy. Kau sendiri, Tuan Muda?“

“Kim Joonmyun, bukan Tuan Muda,“jawab Joonmyun sarkastis.

“Aku tahu, Tuan Muda.“

“Bukankah sudah kubilang namaku Kim Joonmyun?“

“Kau tak memintaku untuk menyebut namamu langsung,“ucap Suzy tak mau kalah.

“Baiklah kalau begitu. Panggil aku Joonmyun.“

Okay.“

Udara sejuk yang menerpa bebas ke balkon kamar Joonmyun membuat perbincangan singkat itu terhenti. Masing-masing sibuk menikmati udara sejuk yang membelenggu tubuh mereka.

“Terima kasih karena telah menerimaku.“

Joonmyun menoleh cepat ke samping. Menatap Suzy dengan alis bertaut. “Kau pikir aku sudah menerimamu?“

Dengan polosnya Suzy mengangguk. “Iya. Buktinya kau sudah mau tahu siapa namaku, dan tak mencoba mengusirku lagi.“

Joonmyun mencibir.

“Aku juga minta maaf. Aku tak bisa mengendalikan perkataanku tadi. Itu pasti sangat menyinggungmu, kan? Sungguh. Tadinya aku tak punya maksud seperti itu.“

Joonmyun semakin menatap Suzy dengan lekat, diiringi dengan rasa kebingungan yang cukup tinggi.

Bukankah seharusnya ia yang mengucapkan permintaan maaf? Karena tadi, ia telah membentak kasar gadis itu dengan seenaknya.

Bukankah seharusnya ia yang mengucapkan terima kasih? Karena walaupun dengan ucapan yang ia akui memang cukup menyakitkan, namun gadis itu berhasil mengubah sedikit persepsi akan hidupnya sendiri.

Tapi kenapa justru malah sebaliknya?

***

at Joonmyun‘s Mansion Kitchen, 2013 July 04, 12.00 KST

“Sebenarnya kau ini bisa masak atau tidak?“oceh Joonmyun saat melihat penampilan makanan Suzy yang berantakan di atas piring. Sama sekali tak memacu selera makan.

Suzy yang baru saja melepaskan apronnya, berjalan menuju meja makan sembari menatap hasil masakannya sendiri, kemudian beralih menatap Joonmyun. “Tentu saja bisa. Masakanku selalu enak.“

“Lalu kenapa bentuknya seperti itu?“ tanya Joonmyun sambil menunjuk-nunjuk masakan Suzy.

“Itu enak. Aku jamin. Cobalah terlebih dahulu.“

Sebenarnya Joonmyun enggan untuk memakan masakan Suzy karena penampilannya yang agak ‘menyeramkan‘ itu. Tapi berhubung cacing-cacing di perutnya sudah bernyanyi sumbang tak jelas, maka dengan sangat terpaksa ia menyuapkan setengah sendok makanan Suzy—yang entah apa namanya itu—ke dalam mulutnya.

Setelah mengecap-ngecap beberapa saat, lidahnya mulai bisa menerima rasa masakan itu. Joonmyun sedikit takjub. Enak.

“Enak, kan?“tanya Suzy tiba-tiba setelah menangkap perubahan ekspresi Joonmyun.

“Tidak,“sangkal Joonmyun cepat.

“Jangan berbohong. Apa susahnya mengatakan enak?“Suzy sebal.

“Sungguh. Tidak enak. Aku bahkan hampir memuntahkannya.“Joonmyun berbohong.

“Ckckck.“Suzy berdecak. “Kupikir cuma syaraf kakimu saja yang ‘rusak‘, tapi ternyata pengecapanmu juga rusak,“sindirnya lagi.

Biasanya jika disinggung seperti itu, amarah Joonmyun akan cepat mendidih. Tapi entah kenapa, pengecualian untuk yang kali ini. Ia sama sekali tak terbakar emosinya sedikitpun.

“Ya! Sudah berapa kali aku bilang untuk menjaga mulutmu yang kurang ajar itu? Aku ini Tuan-mu!“bentak Joonmyun dengan nada yang sama sekali tak serius.

Suzy tergelak. Padahal di dalam hatinya ia mengucapkan beribu kata maaf karena telah mengatakan hal sekasar itu. Di sisi yang lain ia senang karena Joonmyun sudah kebal akan ucapan-ucapan yang berbau ‘cemoohan‘. Nampaknya buku-buku motivasi yang selama ini dibacanya turut memberikan andil yang cukup besar pada dirinya.

***

at Joonmyun‘s Mansion Park, 2013 July 08, 09.00 KST

“Kau mau membawaku kemana?“ tanya Joonmyun agak takut kala Suzy tiba-tiba mendorong kursi rodanya dengan gerakan cepat.

“Tenang saja. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang mengerikan,“jawab Suzy dengan santainya.

Joonmyun mendengus. Sejak kapan gadis itu bisa dengan seenaknya memperlakukan dirinya?

Suzy terus mendorong kursi roda Joonmyun hingga melewati beranda rumah kediaman Joonmyun yang sangat luas, hingga akhirnya mereka berhenti tepat di taman buatan yang sangat indah. Sejauh mata memandang, hanya warna hijau terang yang tertera.

“Kenapa kemari?“

“Aku pikir taman ini merupakan tempat favoritmu? Aku benar, kan?“

“Benar. Lalu?“

“Aku hanya ingin perasaanmu lebih baik.“

“Sejak kapan kau mulai perhatian padaku?“

Hening. Suzy sama sekali tak menjawab. Matanya telah dibungkam oleh panorama indah  yang tersaji di hadapannya, hingga ia sulit berkata-kata.

Joonmyun mendongakkan kepalanya ke arah Suzy karena ia sedikit merasa penasaran kenapa gadis itu tak menjawabnya. Ketika ia melihat paras Suzy yang sedang memejamkan matanya, menikmati udara di sekelilingnya, menghembuskan nafas pelan namun panjang… Sungguh ia tak bisa memalingkan wajahnya dari sana.

Ia seperti baru menyadari suatu hal.

Sejak kapan gadis di sampingnya itu begitu cantik?

Entahlah.

Semakin Joonmyun melihatnya, ia merasa semakin dapat menerima kehadiran gadis itu disisinya.

***

at Seoul International Hospital, 2013 July 15, 14.00 KST

“Semangat, Tuan Muda!“

Joonmyun menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Ia tak tahu mengapa panggilan ‘Tuan Muda’ yang terucap dari gadis itu menjadi terasa merdu di telinganya belakangan ini.

“Temani aku saat terapi nanti.“

Alis Suzy terangkat sebelah. Menatapi Joonmyun dengan tatapan tanda tanya. “Apa?“

Sesaat Joonmyun mengutuk ucapan yang baru saja meluncur dari mulutnya dengan lancang.

“Bukankah seorang pengasuh harus selalu menemani majikannya?“Untunglah ia bisa menemukan alasan.

Senyum manis terkembang di wajah Suzy, membuat jantung Joonmyun berjumpalitan secara kurang ajar.

“Oh, begitu. Baiklah kalau itu maumu.“

Entah kenapa perasaan Joonmyun seketika mengeluarkan euforia kegembiraan setelah mendengarkan itu.

“Tuan Kim Joonmyun, silahkan masuk ke dalam ruangan terapi.“

Seorang perawat menghampiri Joonmyun dan Suzy sembari mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangan terapi yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka berada.

“Nah, Tuan Muda. Ayo kita masuk.“ Suzy mulai mendorong kursi roda Joonmyun perlahan.

***

Still at the hospital..

Joonmyun dan Suzy sudah sampai di ruangan terapi. Terapi yang dimaksud disini adalah cara pengobatan kepada pasien yang mengalami kelumpuhan untuk bisa secara bertahap menggerakkan dan menghidupkan kembali sel syaraf dan otot dari kaki mereka.

Joonmyun memang tidak mengalami kelumpuhan total. Kakinya sudah dioperasi oleh tim dokter terkenal, namun belum menampakkan hasil yang memuaskan. Kaki Joonmyun masih terasa mati rasa dan sama sekali belum bisa digunakan untuk berjalan, bahkan untuk berdiri tegak sekalipun. Tetapi hal itu terjadi karena Joonmyun yang selalu menolak dan tak pernah mau melakukan terapi. Jika beberapa waktu yang lalu ia menjalani terapi dengan rajin, mungkin tak menutup kemungkinan, sekarang ia sudah bisa berjalan beberapa langkah.

“Tuan Muda, kau pasti bisa!“ Suzy kembali memberikan semangat.

Joonmyun menelan liurnya sendiri. Bagaimana ia bisa melewati terapi ini tanpa terjatuh? Berdiri tegak saja mungkin akan sangat susah dilakukan. Kalaupun bisa, pasti akan memakan banyak waktu.

Joonmyun membulatkan tekadnya. Ia pasti bisa melakukannya.

Telapak tangan Joonmyun yang mulai basah itu dipaksanya untuk mencengkram gagang kursi rodanya erat-erat—menjadikan gagang itu sebagai tolakannya, sedangkan ia berusaha keras meluruskan kakinya.

Suzy semakin mendekatkan dirinya pada Joonmyun yang tengah berusaha mengeluarkan segenap tenaganya untuk berdiri. Tentu saja ia berjaga-jaga agar Tuan Mudanya itu tidak mendarat keras di lantai.

Dan benar saja dugaan Suzy. Beberapa menit kemudian tubuh Joonmyun yang baru setengah berdiri itu oleng. Dengan sigap Suzy menahannya. Lantas ia membantu Joonmyun berjalan ke arah tiang-tiang besi setinggi 120 cm dan membimbing Joonmyun untuk menggenggam erat puncak tiang tersebut.

Selangkah. Dua langkah. Berhasil dilakukannya.

Tapi untuk langkah yang ketiga, Joonmyun benar-benar tak sanggup melakukannya lagi. Ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya rubuh. Namun sebelum ia rubuh, tubuhnya menimpa Suzy yang ada di hadapannya. Alhasil Suzy juga ikut terjatuh.

Joonmyun menggit bibir bawahnya. Kini wajah mereka begitu dekat. Bahkan Joonmyun bisa melihat dengan jelas wajah Suzy yang begitu pucat. Entah itu benar atau hanya perasaannya saja. Untuk beberapa saat mereka hanya bertatap-tatapan, sebelum Suzy akhirnya menyudahinya dengan mendorong tubuh Joonmyun dan meminta bantuan seorang suster untuk membantu pria itu berdiri.

“Cukup sampai disini saja terapinya,“ucap Joonmyun yang sudah duduk tenang di atas kursi rodanya.

“Cepat sekali?“Suzy memprotes.

“Terserah padaku,“tanggap Joonmyun angkuh.

“Ck!“ Suzy berdecak.

“Baiklah kalau begitu. Tuan Joon Myun, mari kita segera ke ruangan periksa.“ucap perawat yang mendampingi mereka.

***

at Joonmyun‘s Mansion, 2013 July 16, 07.30 KST

Kerongkongan Joonmyun sudah seraknya bukan main karena memanggil nama gadis itu terus menerus pagi ini. Ia terus mengubah arah laju kursi rodanya. Berusaha mencari bayangan Bae Suzy di setiap sudut rumahnya. Tapi nihil. Apa mungkin gadis itu masih tidur? Jawabannya pasti tidak mungkin.

“Bae Suzy-ssi! Suzy-ssi!“ Joonmyun meneruskan teriakannya.

Meanwhile at bathroom..

Deru nafas Suzy memburu. Ia menekan-nekan kepalanya untuk mengurangi rasa sakit yang tak mau sirna, bahkan makin menjadi-jadi. Matanya berkunang-kunang, buram. Suzy meringkuk di lantai kamar mandi sambil memeluk erat lututnya. Telinganya yang berdengung keras masih dapat menangkap sebuah suara yang tengah berteriak memanggil namanya. Tanpa berpikir pun, ia sudah pasti mengenal dengan baik suara itu.

Suzy berusaha untuk bangkit, namun sekujur tubuhnya kaku seolah tak mau ikut bekerjasama dengannya. Kepalanya berdenyut parah, seperti akan pecah kapan saja. Rasa sakit semakin menghujamnya, bahkan bukan hanya di kepala, namun telah menjalar ke bagian tubuh yang lain.

“Tuhan kumohon… Jangan buat aku menderita seperti ini.“

***

One Hour Letter..

“Kemana saja kau?“Tatapan Joonmyun begitu menyiratkan kejengkelan yang amat kentara karena gadis itu baru muncul di hadapannya.

“Kemarin mungkin aku salah makan. Perutku sakit sekali pagi ini,“ jawab Suzy sambil menepuk-nepuk perutnya.

Kejengkelan Joonmyun mendadak berubah menjadi kekhawatiran ketika ia baru menyadari raut wajah Suzy.

“Kau pucat sekali.“

“Benarkah? Mungkin hanya perasaanmu saja.“Suzy berusaha menyangkal.

“Tidak. Wajahmu sangat pucat. Apa kau sakit?“

Suzy terdiam sejenak. “Bukankah aku sudah bilang padamu? Aku hanya sakit perut.“

“Selain itu?“Joonmyun masih terus menginterogasi.

“Tak ada! Mungkin aku hanya kelelahan.“

Joonmyun masih tak bisa menerima jawaban itu. Namun ia kembali memilih diam sampai akhirnya ia berteriak panik sambil menunjuk ke arah Suzy, “Kau berdarah!!“

Suzy sontak mengusap bawah hidungnya. Dan benar saja, darah yang menempel di jari tangannya. Joonmyun berusaha berdiri tegak dengan susah payah—dan ia berhasil, sebuah kemajuan luar biasa yang terjadi pada dirinya—kemudian membantu Suzy mendongakkan kepalanya ke atas, mengambil secarik tissue dan menyumpalnya ke hidung Suzy.

“Istirahatlah. Aku tak mau kau sakit.“Joonmyun kembali duduk di kursi rodanya.

Suzy yang sebenarnya masih menahan mati-matian sakit yang menderanya sampai saat ini, bisa mengulas sebuah senyum tipis. Entah kenapa ia begitu senang saat mengetahui Joonmyun yang mengkhawatirkan keadaannya.

***

at Kim Jong Woon‘s Room (Doctor) – Seoul International Hospital, 2013 July 20, 17.00 KST

“Berkatmu, Joonmyun mau diterapi secara rutin. Bahkan tiap hari ia juga bersedia. Itu sangat berguna untuk kemajuan fungsi kakinya. Aku sangat mengucapkan terima kasih padamu.“

Seorang dokter berusia sekitar akhir 50-an menyambut Suzy dengan senyum hangatnya sembari masih terduduk di meja yang diatasnya tergeletak label bertuliskan ‘Kim Jong Woon‘.

“Dokter terlalu berlebihan. Aku tidak banyak membantu.“ Suzy merendah.

Raut wajah Kim Jong Woon mendadak menjadi serius. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengalihkan pembicaraan.

“Bagaimana kabarmu, Bae Suzy-ssi?“

“Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.“

Jong Woon kian memicingkan matanya ke arah Suzy. Jelas-jelas ia tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu.

“Apa wajah pucat seperti itu yang kau bilang baik-baik saja?“

Suzy bergidik.

“Tapi aku benar-benar tak mengalami keluhan apapun selama dua minggu terakhir ini, ah maksudku, pernah sekali.“ucap Suzy sedikit berbohong.

“…lagipula, tak ada yang bisa kulakukan selain menunggu,“lanjutnya lesu.

Kim Jong Woon menatap Suzy iba. Gadis itu masih begitu muda. Namun ia harus menerima semua kenyataan hidup yang amat pahit. Ia tahu ia tak bisa melakukan apapun selain menghibur gadis yang sudah dianggap sebagai anak perempuannya sendiri itu.

Ya. Tumor otak kronis telah sukses menggerogoti tubuh Suzy tanpa ampun. Malah tumor itu telah menjalar kemana-mana. Semua dokter—termasuk Jong Woon—berkata, tak akan ada harapan lagi untuk Suzy. Ia hanya akan bertahan selama tak kurang dari dua bulan saja.

Sebenarnya tumor otak yang diidap Suzy itu dapat dilambatkan penjalarannya—setidaknya tidak begitu cepat menjalar ke organ tubuh yang lain—apabila ia meminum berbagai macam obat-obatan maupun perawatan intensif. Namun, Suzy berpikir walau bagaimanapun ia mencoba semua hal itu, tak akan ada gunanya. Toh, cepat atau lambat jantungnya juga akan tetap berhenti berdegup.

“Kau tak mau menjalani perawatan? Setidaknya keluhanmu akan lebih sedikit berkurang,“tawar Jong Woon yang mengetahui pasti keluhan pada tubuh Suzy tidaklah hanya sekali—seperti yang dikatakan gadis itu sebelumnya.

“Tidak, Dokter.“ Suzy masih kukuh akan prinsipnya.

Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi ada seseorang yang tengah menguping pembicaraan mereka dari pintu ruangan yang tak tertutup sepenuhnya. Tangan orang itu menggantung di udara, mengurungkan niatnya untuk mendorong pintu itu setelah tak sengaja menangkap percakapan kedua orang itu.

Keluhan apa?

Menunggu apa?

Perawatan apa?

Orang itu—Kim Joonmyun—terus bertanya dalam hatinya. Ia sama sekali tak mengerti. Apakah Bae Suzy benar-benar sedang sakit?

Joonmyun merasa ada sesuatu yang tak ia ketahui mengenai gadis itu.

***

FLASHBACK

at same place, 2013 June 28, 15.00 KST

“…kemungkinanmu untuk dapat bertahan hidup hanya kurang dari dua bulan.“

Seorang gadis muda yang mendengar penuturan dokter setengah baya di hadapannya itu hanya mengulas senyum getir di bibirnya. Bohong apabila gadis itu tidak merasakan sedih, marah, kesal serta emosi yang meluap di dadanya. Tapi untuk apa semua itu ditunjukkan? Toh, semua itu tak akan ada gunanya.

Gadis itu kembali menghela nafas berat untuk yang kesekian kalinya. Putus asa. Mungkin sesuatu yang paling pantas untuk menggambarkan dirinya sekarang.

“Lalu apa rencanamu kedepannya?“

Gadis itu—Bae Suzy—menatap pria dengan raut wajah bersahaja itu dengan alis yang bertaut, seakan secara tidak langsung menanyakan apa maksud perkataannya. Namun sedetik kemudian, ia mengerti—sangat mengerti—maksud sang dokter.

“Aku telah memutuskan untuk mengabdikan diriku sepenuhnya pada orang-orang yang membutuhkanku. Dengan kata lain, aku ingin menjadi pekerja sosial.“

Kini giliran sang Dokter yang menautkan alis.

“Pekerja sosial?“

Suzy mengangguk cepat tanpa keraguan. “Benar. Apa Dokter tahu panti sosial di daerah sini?“

Jong Woon masih terpaku akan pemikiran ‘aneh‘ gadis di hadapannya itu.

“Harusnya kau beristirahat saja di rumahmu“anjur Jong Woon.

“Tidak! Setidaknya jika aku melakukan suatu hal yang berguna, aku tak akan begitu mengingat bahwa hari itu akan tiba.“

Jong Woon terdiam. Susah juga bila ingin mendebat gadis itu lebih lanjut. Tunggu dulu. Panti sosial? Tempat dimana sekumpulan orang yang tak memiliki tempat tinggal, keluarga, bahkan tak memiliki anggota tubuh yang lengkap. Ah, tiba-tiba dia jadi mengingat Kim Joonmyun. Keponakannya sendiri.

Nah itu dia!

“Daripada kau bekerja di panti sosial, bagaimana kalau kau bekerja saja untukku? Kebetulan aku punya seseorang yang perlu dibantu,“tawar Jong Woon.

“Benarkah? Siapa? Apa yang harus kubantu?“Suzy mulai bersemangat.

“Aku punya seorang keponakan. Ia lumpuh. Ia frustasi karena keadaannya itu. Ia juga kesepian. Tapi walaupun begitu, ia tak mau kutemani. Jadi bagaimana? Apakah kau bersedia menjadi semacam pengasuh untuknya dan menemaninya?“

Suzy tersenyum lebar sambil mengangguk.

“Tentu saja. Kapan aku bisa mulai?“

FLASHBACK END

***

at Joonmyun‘s Bedroom, 2013 July 21, 22.00 KST

Joonmyun menatap lekat wajah Bae Suzy yang tengah menyiapkan selimut untuknya. Wajah itu sedikit berbeda dengan saat pertama kali gadis itu datang. Wajah itu lelah, pucat, seperti tak ada sinar keceriaan disana. Dan itu membuat dirinya benar-benar cemas.

“Suzy-ssi.“ Suzy seketika menatap Joonmyun yang telah terbaring di atas tempat tidurnya.

“Apa?“

“Bisakah kau tidur disampingku malam ini?“

Mata Suzy melebar. Ia tak menyangka Joonmyun memiliki permintaan seperti itu.“Wae?

“Kau harus menuruti perintahku karena aku adalah Tuanmu. Apa kau lupa itu?“Joonmyun memberikan alasan yang tak bisa diterima logika Suzy. Namun walaupun begitu, Suzy pun akhirnya mengangguk mengiyakan.

“Baiklah.“Suzy membaringkan tubuhnya di samping Joonmyun. Jantungnya mulai berdebar keras. Ia sadar bahwa sebenarnya ia mulai menyukai pria itu.

“Kau puas?“Suzy menyampingkan posisi tubuhnya, sehingga ia bisa menatap langsung mata Joonmyun. Rasa gugupnya mulai meningkat dua kali lipat.

“Puas,“jawab Joonmyun singkat sembari mendekat ke arah Suzy, hingga jarak wajah mereka tak kurang dari 5 cm. Tentu saja hal ini membuat pipi Suzy memanas bersamaan dengan jantungnya yang berdegup secara brutal.

“Jujurlah padaku. Katakan padaku yang sebenarnya. Apa yang kau sembunyikan dariku?“

Suzy sedikit terkejut dengan pertanyaan bernada serius Joonmyun. Apa yang diketahui Joonmyun tentang dirinya?

“Apa maksudmu? Aku tak mengerti,“jawab Suzy dengan senyum yang dipaksakan.

“Aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan Paman.“

Kerongkongan Suzy tercekat. Apa Joonmyun mendengar semuanya? Suzy mengingat-ingat apakah Dokter Kim menyebutkan kata ‘Tumor Otak‘ dalam percakapan mereka kemarin. Tapi sepertinya tidak.

“Oh itu. Aku hanya sedikit berkonsultasi dengan beliau soal…. Gangguan pencernaan. Ya. Gangguan pencernaan yang cukup parah,“dusta Suzy.

Joonmyun tak langsung percaya dengan apa jawaban yang diberikan Suzy. “Benarkah? Soal mimisan itu bagaimana?“

“Ah… Itu.. Itu memang sering terjadi kalau aku sedang… kelelahan.“

“Tapi………….“

“Tidak usah bicarakan itu lagi. Sudah malam. Aku juga sudah mengantuk. Sebaiknya kau tidur juga sekarang, Tuan Muda.“Suzy mencegah Joonmyun untuk berkata lebih lanjut. Tanpa menunggu balasan dari Joonmyun, Suzy memejamkan matanya erat—hanya pura-pura tidur. Joonmyun yang melihat itu hanya berdecak sebal. Ia mengelus puncak kepala gadis itu pelan. Menatap wajah yang kian hari kian pucat itu.

Rasa penasarannya belum terpatahkan sedikitpun.

Entah kenapa, ia mempunyai firasat buruk.

***

at Mansion‘s Park, 2013 July 30, 15.00 KST

Apa-apaan ini?

Tumor…Otak?

Penyakit itu telah lama membelenggu tubuh gadis itu.

Hidup gadis itu hanya tersisa 2 bulan?

Ingin sekali ia tak percaya hal-hal ini, jika yang mengungkapkan segalanya itu bukanlah Dokter Kim—saat dirinya secara diam-diam menyambangi ruangan Pamannya itu kemarin, ketika Suzy mengambil hasil pemeriksaan kakinya di ruangan lain.

Kenyataan yang baru diketahuinya itu membuat semua pertanyaan membingungkannya terjawab sudah. Ia jadi sangat mengerti arah percakapan antara Suzy dan Pamannya yang tanpa sengaja didengarnya tempo hari. Wajah Suzy yang pucat, lemas, bahkan sudah tak terhitung lagi berapa kali ia mimisan.

Pekerja sosial?

Jadi, gadis itu ingin mendedikasikan hidupnya untuk melakukan hal yang berguna di detik-detik kematiannya? Maka itu ia menerima tawaran Paman Kim untuk menjadi pengasuhnya?

Ck!

Joonmyun menggigit bibir bawahnya dengan kuat hingga terluka. Ia benci ini. Ia benci kenyataan ini. Kenapa gadis itu tak pernah memberitahunya apapun? Ia benar-benar seseorang yang bodoh. Tak tahu apapun.

Marah, kesal, kecewa dan rasa tak terima larut menjadi satu, begitu menyesakkan.

Tiba-tiba Joonmyun merasakan kursi rodanya bergerak pelan. Ia tahu, pasti Suzy yang melakukan itu.

“Kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan?“

Sejak detik Joonmyun mengetahui kenyataan itu, sikapnya sedikit berubah. Ia selalu berkata dingin dan mengacuhkan Suzy.

“Pergilah. Untuk saat ini aku tak mau melihatmu,“jawab Joonmyun acuh.

“Jangan bersikap seperti ini padaku.“

“Kau tak mau bicara jujur padaku. Itu kesalahanmu.“

Suzy terhenyak. Apa jangan-jangan Joonmyun…. tahu akan suatu hal?

“Tumor otak. Kau mengidapnya, kan?“ucap Joonmyun frontal.

Suzy merasakan tubuhnya bergetar hebat. Air bening di matanya menggantung, menunggu untuk dikeluarkan. Tiba-tiba dadanya sesak. Ia tak menyangka Joonmyun mengetahui kondisi dirinya yang sebenarnya di kala perasaan pria itu mulai tumbuh subur.

“Iya. Itu benar. Mianhae.

Suzy tak dapat membendung perasaannya. Isak tangisnya pecah di keheningan taman itu.

“Aku tak bisa memaafkanmu,“ucap Joonmyun. Berusaha menahan tangisnya.

Suzy mengangguk memaklumi. Ia memang tak pantas untuk dimaafkan.

“Berlututlah di hadapanku,“pinta Joonmyun mendadak.

Walaupun Suzy bingung, ia tetap melakukan perintah Joonmyun. Ia menyentuhkan kedua lututnya di atas tanah. Menatap Joonmyun dengan beribu perasaan bersalah.

Joonmyun menggerakkan kursi rodanya lebih dekat ke arah Suzy hingga wajah mereka kini sejajar. Suzy dapat melihat dengan jelas setetes air mata yang jatuh membasahi pipi Joonmyun, sebelum akhirnya ia terkesiap dengan tindakan Joonmyun. Pria itu mencium bibir Suzy dengan gerakan cepat, hingga Suzy hanya bisa terpaku. Menikmatinya. Air mata Joonmyun semakin deras dan ikut mengaliri di pipi gadis itu.

“Aku mencintaimu,“bisik Joonmyun ketika melepaskan ciumannya.

***

at Joonmyun‘s Mansion, 2013 August 07, 19.00 KST

“Sudah kukatakan berkali-kali aku tak akan pergi!“Joonmyun memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Suzy.

“Kenapa kau keras kepala sekali?“

Joonmyun bersikeras tak menjawab. Suzy mendengus jengah akan sikap kekanakan Joonmyun itu.

Dua hari yang lalu, Dokter Kim datang berkunjung ke kediaman Joonmyun. Ia membawa kabar yang cukup baik untuk kesembuhan kaki Joonmyun. Ia berkata tim dokter di USA telah menyanggupi untuk mengoperasi kaki Joonmyun, dan persentase keberhasilannya mencapai 90%.

Tentu saja Suzy antusias. Namun tidak bagi Joonmyun. Karena hal itu berarti, ia harus meninggalkan Suzy untuk waktu yang lama.

“Kau mau cacat seumur hidup, hah?!“Suzy geram.

Rahang Joonmyun mengejang. Ia menatap marah pada Suzy. “Aku tak mau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku… tak mau kehilanganmu..“

Joonmyun terus memikirkan Suzy yang sebentar lagi akan meninggalkannya. Walaupun ia sudah berusaha keras untuk mengalihkan pikirannya itu, tetap saja tak bisa. Ia takut, setelah ia kembali dari USA, ia tak akan melihat rupa gadis itu lagi selamanya.

“Jika kau mencintaiku, kuharap kau memenuhi permintaanku ini.“

Sialnya penuturan Suzy ini membuat Joonmyun tak berkutik. Ia tak dapat mendebat lagi. Pria itu mendongakkan kepalanya ke arah Suzy, menatap dalam-dalam mata gadis itu.

“Jika aku menuruti permintaanmu, maukah kau berjanji padaku?“

“Janji? Janji apa?“tanya  Suzy penasaran.

“Kau harus menungguku kembali. Aku….“Joonmyun merasakan tenggorokannya kering.

“…aku ingin kau melihatku sembuh,“lanjutnya tertahan. Setetes air mata telah muncul di ujung matanya. Ia mengutuk di dalam hati, kenapa air mata itu belakangan ini begitu mudahnya untuk keluar.

Suzy ikut tak kuasa menahan tangis. Ia membungkukkan badannya, mengusap wajah Joonmyun sesaat sebelum ia memeluk erat tubuh pria itu. “Aku janji… Aku akan bertahan untukmu..“bisiknya pelan.

***

On 2013 August 30

Operasi Joonmyun berakhir dengan sukses.

Tak sia-sia pengorbanan Joonmyun untuk tetap bertahan terkungkung selama satu bulan penuh di rumah sakit—sebuah tempat yang tak pernah disukainya. Selama menjalani operasi dan pemulihan, pikirannya hanya tertuju pada Bae Suzy. Belakangan ini ia begitu khawatir karena gadis itu tak pernah lagi bisa dihubungi. Ia takut, sesuatu yang sangat ditakutinya telah terjadi padanya.

Penantian yang cukup lama itu akhirnya berakhir. Kaki Joonmyun sudah bisa difungsikan secara normal. Ia yang paling bersemangat ketika akan pulang kembali ke Seoul.

Namun ketika ia telah sampai di bandara Incheon, ia sama sekali tak menemukan batang hidung gadis itu. Joonmyun sedikit kecewa. Padahal ia sudah sangat merindukan gadis itu.

“Mana Suzy?“tanya Joonmyun pada Jong Woon.

Tubuh Jong Woon langsung terasa tegang ketika mendengar pertanyaan mendadak itu.

“Nanti saja kuceritakan,“jawab Jong Woon datar, sembari melangkah menjauh, mencoba menghindar dari Joonmyun.

Namun Joonmyun yang menangkap gelagat aneh dari pamannya itu seketika ikut menyamai langkahnya sembari menahan pundak Jong Woon.

“Pasti ada yang Paman tutupi dariku. Apa itu? Apa yang terjadi pada Suzy?“tanya Joonmyun panik.

Jong Woon menghela nafas berat. Ia tak tahu apa ia akan sanggup mengatakannya.

“Gadis itu…. Gadis itu sudah pergi untuk selamanya… Tepatnya 1 minggu yang lalu.“ Suara Jong Woon begitu pelan terdengar.

DEG!

“Jangan bercanda, Paman. Paman berbohong, kan?“Joonmyun merasakan kadar adrenalin di tubuhnya meninggi. Ia tahu dengan pasti siapa yang dimaksud dengan ‘gadis itu’.

“Aku tidak berbohong. Maafkan aku. Aku terlambat mengatakannya padamu.“ Jong Woon menunduk, benar-benar merasa bersalah.

Seluruh semangat Joonmyun luruh seketika. Kakinya terasa kebas, seperti tak dapat menopang berat tubuhnya lagi. Tulang-tulangnya seakan remuk satu-persatu, mengakibatkan sakit yang luar biasa. Hampir membuatnya kehilangan kesadaran.

“Kenapa…kau tak memberitahuku, Paman?“tanya Joonmyun sembari meremas erat ujung jaket tebalnya, seakan hanya itulah cara pertahanan yang bisa dilakukannya.

“Suzy yang memintaku untuk merahasiakannya darimu.“

***

at Town Park, 2013 August 02, 10.00 KST

Seorang pria muda dengan setelan formal lengkapnya melangkah menuju sebuah kursi panjang yang tersedia dan kemudian duduk disana. Suasana taman saat itu tidak begitu ramai, membuat pria itu merasa cukup damai dan tenang, ditambah dengan udara sejuk yang menerpanya.

Pria itu menghirup rakus oksigen di sekitarnya. Kemudian ia menatap langit biru yang dimatanya kini tampak begitu cerah, hingga ia tak mau berhenti untuk mendongak ke atas.

Ditengah kedamaian yang dirasakannya itu, ternyata ia juga tengah memendam kepedihan yang benar-benar dalam. Tanpa sadar, air matanya menetes.

Kau seorang pembohong, Bae Suzy!

Pria itu berseru dalam hati.

Kau telah berjanji akan bertahan hidup untukku. Tapi nyatanya?  Kau pergi begitu saja meninggalkanku.

Kenapa? Kenapa kau pergi begitu cepat? Setidaknya….aku ingin melihat wajah bahagiamu untuk yang terakhir kalinya. Setidaknya…aku ingin melihatmu turut bahagia karena sekarang aku sudah bisa berjalan layaknya orang lain yang normal.

Pria itu—Kim Joonmyun—berusaha menahan rasa sesak yang membuncah di dadanya secara tak karuan. Air matanya kian deras, sebagai pengaliran rasa sedih dan sesalnya yang tak kunjung terpatahkan.

Kesembuhan kakiku takkan ada apa-apanya tanpa kau di sisiku. Apa kau tahu kau merasakan hampa? Bahkan berlipat-lipat lebih hampa ketimbang jika seluruh organ tubuhku tak berfungsi.

Joonmyun menemukan secarik kertas di saku jasnya. Tanpa pikir panjang ia segera mencari sebuah pulpen di saku jasnya yang lain dan mulai menuliskan beberapa kata disana—sebuah doa.

Setelah selesai, ia melipat kertas itu menjadi origami pesawat—yang suka dilakukan anak-anak pada umumnya—kemudian saat angin bertiup kencang, ia menerbangkan pesawat kertas itu ke langit. Ia terus memperhatikan pesawat kertasnya itu hingga tak terlihat lagi—hilang dari pandangannya.

Joonmyun memutar tubuhnya dan hendak meninggalkan tempat itu. Namun ia tak begitu memperhatikan ada seorang gadis yang tengah berjalan ke arahnya dari arah berlawanan. Alhasil tubuh gadis itu menubruk pundak Joonmyun, ia terhuyung dan jatuh.

Joonmyun yang seperti baru tersadar, mengucapkan permintaan maafnya berkali-kali pada gadis yang tengah meringis kesakitan dengan kepala yang tertunduk.

Saat gadis itu mendongakkan kepalanya, Joonmyun sontak terperanjat hebat. Ia merasa sekujur tubuhnya menjadi kaku—sangat kaku hingga mengalahkan kekakuan sebuah patung sekalipun. Mana mungkin? Mana mungkin gadis ini….?

…begitu mirip?

“Bae….Suzy?“Joonmyun tak bisa menghentikan laju ucapannya yang terlontar secara spontan. Ia menatap gadis di hadapannya itu dengan sedikit takut, seperti seseorang yang baru saja pertama kali melihat makhluk halus.

Gadis itupun juga sedikit merasa terkejut. Dengan cepat ia bangkit dari posisinya di tanah, kemudian melemparkan pandangan tajam ke arah Joonmyun, disertai perasaan curiga.

“Bagaimana kau tahu namaku?“tanyanya sambil bersedekap.

Joonmyun kian terperangah. Wajahnya, rambutnya, cara menatapnya, nada suaranya….

Semuanya persis.

Dan nama yang sama juga?!

Sebenarnya…..apa maksud dari semua ini?

***

Doa yang dituliskan Joonmyun di pesawat kertasnya :

Tuhan, Kumohon berikan aku satu kesempatan lagi untuk selalu bahagia dengan gadis yang kucintai, Bae Suzy.

Cinta sejati Joonmyun membuat Tuhan tergugah, hingga akhirnya IA mengabulkan doa Joonmyun dengan cepat.

Kita semua tahu, bahwa Tuhan dapat membuat sesuatu yang tidak mungkin, menjadi mungkin, walaupun dengan cara yang terkadang tak dapat diterima logika manusia.

FIN

22 thoughts on “[FF Writing Contest] I Wake Up Because Of You

  1. Astagaaa??!!!!! Yaampuunn feelnyaaa nangis kejerrr bgt, lenganku ampe basah buat ngelap..
    So sweet, haru, sedih jugaa.. Cm pas akhirnyaaa seperti Duaaarrrrrr!!!!! Aku bingung seneng campur2 pokonyaaa…
    Sekuel coba thor… Hahahaha
    Tapi ini keren bgt sumpahhh!!!!!! Aku ga bakal boong klo komen soal fluffy, that’s my favourite genre..
    So, keep writing!!

  2. feelnya kerasa thor.. meskipun endingnya rada sad end :)aku suka waktu joonmyun nyuruh suzy berlutut,abis itu dicium..ahhh.. ituso sweettt banged thorr ♡♡♡♡

  3. Aaaaaaaaah. Nangis aku bacanya thor.. Gak nyangka suzy bakal kembali lagi sama suho..
    Keren banget ff ini thor!!!!:)
    feelnya kena banget ! !
    Ngk tau knp baca ff ini aku bener2 nangisssss;( KEREN!!!:D

  4. Ahhh.. akhirnya ada juga ff suzy exo.. aku lagi ngubek2 ff suzy exo
    Ceritannya bgus thor feel nya juga dapat, aku suka ceritannya..
    Mungkin gadis itu gadis yang di kirimkan tuhan untuk menggantikan bae suzy

    Kereennn di tunggu ff suzy lainnya ya!!

  5. bagus banget feel nya dapet bener sampe mewek ane tau suzy kena tumor otak. tapi syok di akhir, saya belom paham jadi suzy meninggal ga’??? klo ga meninggal trus yg dikubur siapa? kalo meninggal, yeonja itu siap? kok mirip nama sama suara dll sama??? arghhh pingen sequel thor!

  6. semuanya udah oke thor,bagus banget*alur n kalimat’a. Cuma feel’a kurang, ending’a bkin mlongo*aneh juga tiba2 bae suzy balik lagi.

  7. Haaa bgs2…
    Thor bikin lanjutannya dong.. Ћϱћϱћϱ (ړײ)
    Pengen tw kelanjutannya nh..
    Ditunggu ff suzy n exo lainnya

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s