[FF Writing Contest] In 7 Days, Let’s Get Married

In%207%20Day's,%20Let's%20Get%20Married

Title : In 7 Days, Let’s Get Married

Author : NadyKJI

Maincast:

  • Kai / Kim Jong In
  • Lee Hyo Hee (OC)

Support Cast : Kim Joonmyun / Suho, Do Kyungsoo / D.O, Choi Sulli (Fx), Chanyeol, Chen

Genre : Romance, Comedy

Rating : G

___

-:Author PoV:-

Seorang namja baru saja duduk sembari menyesap kopi yang telah di sediakan untuknya. Wajahnya terlihat damai tersiram cahaya matahari pagi, memperlihatkan tulang pipinya yang menonjol.

Drrt… Drrt…

Aktifitas namja itu terhenti, ia mendongak ke arah ponselnya yang tergeletak di meja.

Do Kyungsoo.

“Ck. Ada apa lagi sekarang?” ia berdecak kesal. Tangannya menekan tombol jawab layar touch screen ponselnya itu dan tombol speaker.

Yeobseo! Kai!”

Terdengar suara dari sebrang sana.

Nde?”

Mr. Lee ingin bertemu hari ini.”

“Hah, ajusshi itu selalu saja seenaknya. Baiklah aku akan segera ke kantor Mr. Lee… dan kau, tolong gantikan aku di kantor hari ini.”

“Tentu.”

Maka berakhirlah panggilan tersebut.

Namja bernama Kai itu langsung bangkit dari kursinya, tangannya meraih ponselnya – gadget berisi data-data penting yang tidak mungkin ia tinggalkan. Tidak lupa juga dengan jasnya yang tersampir di lengan kursi. Ia mempercayakan urusan kantornya pada D.O, sahabat sekaligus tangan kanannya.

Ia harus bergegas menemui Mr. Lee, Mr. Lee adalah teman lama dan rekan kerja ayahnya. Statusnya sebagai teman lama cukup berpengaruh dan membuatnya di istimewakan secara tidak langsung.

_

Tok… Tok…

“Masuklah.” Suara berwibawa menyahut dari dalam ruangan.

Dari balik pintu muncullah seorang pria berjas hitam dan berkacamata hitam. Pria itu membungkuk hormat kepada atasannya itu sebelum berkata.

Mr. Lee, Kai putra Mr.Kim sudah datang sesuai permintaan Anda.”

“Ah, persilahkan masuk.”

“Baik.”

Cklek.

Annyeong hasimnika, Mr. Lee.”

Kai berjalan memasuki ruangan, menyapa Mr. Lee dengan formal.

“Ah, silahkan duduk.” Mr. Lee mempersilahkan.

Kai duduk, berhadapan tepat dengan Mr. Lee, “Ada apa sampai Mr. Lee memanggil saya di akhir pekan begini?”

“Ahahaha, santai saja. Aku hanya ingin membahas bagaimana cara mempererat ikatan perusahaan. Kau juga tau kalau aku dan abeoji-mu adalah teman lama.”

Sambil Mr. Lee berkata, mata Kai melihat-lihat isi meja Mr. Lee. Matanya berakhir pada sebuah figura foto. Figura kayu berukir yang sudah pasti sangat mahal, menandakan orang yang berada dalam foto itu termasuk orang penting bagi Mr. Lee. Foto seorang gadis berparas cantik sedang tersenyum di pinggir pantai, tangan kanannya menahan topinya agar tidak tertiup angin. Seketika pikirannya kembali pada percakapan makan malam kemarin.

::FLASHBACK::

Malam yang tenang, seperti biasanya di ruang makan kediaman Kim, seluruh keluarga sedang makan malam bersama. Untuk sesaat hanya terdengar dentingan alat makan yang beradu, sampai…

“Ehem.”

Mr. Kim meletakkan alat makannya. Membuat seluruh penghuni meja makan tersebut menatap ke arahnya.

“Begini, abeoji sudah memikirkannya. Kalian,” matanya menatap ke arah Kai dan kakaknya Suho, “… sudah menginjak usia 20an. Sudah saatnya kalian mencari pendamping hidup. Abeoji meminta kalian mencari calon pendamping kalian sendiri, terutama kau Jong In. Karena kau sudah masuk perusahaan.”

Kai yang memang duduk paling dekat dengan abeoji-nya itu langsung terdiam. Jika abeoji sudah memanggilnya dengan nama aslinya ini tidak main-main.

“Jika kau tidak menikah dalam waktu dekat ini abeoji akan menjodohkanmu dengan anak direktur Min, Min Ah Ram. Kau tentu mengenalnya…”

Sirreo!” dengan cepat Kai memotong.

Glek.

Kai menelan udahnya, ini tidak benar. Min Ah Ram adalah mimpi buruk. Yeoja berambut pendek, putri tunggal direktur Min, yang selama satu bulan pernah mendekatinya, dan itu bukan pengalaman menyenangkan. Dengan sifat manjanya, luar biasa sekali.

“Hmmm, kalau begitu buktikan saja, berikan kejutan untukku. Joonmyun…,” kali ini abeoji melirik Suho yang duduk di sebelah Kai, “Hmm, karena kau masih kuliah, tolong kenalkan saja yeojachingu-mu padaku.”

Mwo?” Suho membelalakkan matanya.

“Ayolah, abeoji yakin banyak gadis yang tertarik padamu.”

Ani… Aku belum tertarik dengan gadis manapun! Lagipula Kai kan yang sudah masuk perusahaan? Jangan bebankan padaku!” Balasnya sengit.

“Ahaha, ya sudah. Abeoji hanya menunggu saja. Jong In, Joonmyun, ingat, aku akan terus memantau.”

::FLASHBACK END::

Gwaenchana?Mr. Lee berusaha menyadarkan Kai dari pikirannya.

“Ah, mianhaeyo. Apakah itu putri Anda?”

Mata Kai menatap lekat ke arah foto yang menarik perhatiannya itu.

Ne, namanya Lee Hyo Hee.”

Hmm, kenapa abeoji tidak menjodohkan aku dengan putri Mr. Lee?, batinnya.

Neomu yeppo. Ngomong-ngomong, bagaimana kalau saya melamar putri Mr. Lee? Lagipula ini juga bisa memperat ikatan perusahaan.”

“Ah,aniyo… Aku tidak mengizinkannya. Aku tidak ingin putriku tidak bahagia. Aku tidak setuju dengan pernikahan bisnis.”

Ah, jadi itu sebabnya…

Seketika senyum terkembang di wajah Kai, “Bagaimana jika aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku?”

“Kau serius?” Mata Mr. Lee menyipit tidak yakin.

“Aku serius Mr. Lee. Putrimu menawanku. Maukah kau memperkenalkannya padaku? Besok hari Minggu.”

“Hmm, baiklah. Tapi jangan macam-macam.”

“Ahahaha, tenang saja Mr. Lee.”

Kemudian keduanya berjabat tangan.

“Jam 10.00 pagi, di Sweet Cynical Cafe.”

_

Pagi yang cerah, berkumpullah kedua keluarga. Mr. Kim dan Mr. Lee terlihat mengobrol akrab, Mrs. Kim dan Mrs. Lee juga terlihat akrab. Suho hanya sibuk dengan ponselnya. Sementara Kai, dia menatap lekat-lekat gadis yang duduk di sebelahnya itu. Melihat gadis itu dari dekat membuatnya benar-benar terpikat pada gadis itu.

Lee Hyo Hee…

Di sisi lain, Hyo Hee merasa risih dengan namja yang berada di sebelahnya. Matanya berusaha menghindari kontak mata dengan namja bernama Jong In itu. Tangannya menggerakkan garpu dan pisau, memotong waffle yang ia pesan. Hyo Hee baru saja ingin menyuapkan sepotong waffle ke dalam mulutnya, namun ia berhenti. Di letakkannya pisau dan garpunya dengan perlahan.

“Eum… Jong In-ssi…” ia berkata.

Ne?” Kai menjawab Hyo Hee masih menatap lekat ke arah gadis itu.

“Ada yang salah denganku?”

“Tidak, wae?”

“Kau terus melihatku.”

“Ah, kau hanya terlalu cantik.”

Nde?”

“Menikahlah denganku.” ucap Kai langsung pada gadis di sebelahnya itu.

Hyo Hee melotot seketika, “Mwo?! Neo michesseo?! Kita baru bertemu Jong In-ssi, jangan bercanda!”

Aniyo, aku serius Hyo Hee, dan panggil saja aku Kai.”

Hyo Hee menatap Kai dengan pandangan orang-ini-sudah-kehilangan-akalnya. Sementara Kai terkekeh geli melihat Hyoo Hee yang memandangnnya tidak percaya.

Appa!” Hyo Hee langsung melotot ke arah Mr. Lee, sementara Mr. Lee hanya menggelengkan kepalanya mengkonfirmasi bahwa dirinya tidak merencanakan apapun.

“Jong In-ssi, aku bahkan tidak mencintaimu.”

“Aku akan membuatmu mencintaiku.” Kai meraih tangan Hyo Hee dan menciumnya.

Hyo Hee segera menarik tangannya dari genggaman Kai.

“Jangan terlalu yakin.” Kali ini Hyo Hee yakin namja di sampingnya ini sudah gila.

“Bilang saja kau takut akan jatuh cinta padaku dalam waktu dekat.” Kai mengucapkannya dengan nada seyakin-yakinnya, berharap gadis di depannya ini akan termakan jebakannya.

“Heuh! Waktu dekat? Dalam waktu 7 hari pun aku tidak akan mencintaimu!” kali ini Hyo Hee sudah berdiri menatap sinis ke arah Kai, tangannya terlipat angkuh di dadanya.

Kai tersenyum, “Baiklah. Aku akan membuatmu mencintaiku dalam 7 hari. Kalau iya, hari Minggu kita menikah, Lee Hyo Hee. Bersiaplah.”

“Baiklah! Lihat saja, aku tidak akan mencintaimu!”

Berhasil…

Kai bangkit dan mencium pipi Hyo Hee sekilas lalu berjalan keluar cafe.

YA! NAPPEUN NAMJA!”

Sementara Hyo Hee menatap kepergian Kai dengan penuh kebencian, Mr. Lee dan Mr. Kim hanya tertawa.

“Ahaha, anakmu itu. Sepertinya kita harus menyiapkan gaun segera.” Mrs. Lee berbisik kepada Mrs. Kim, kedua eomma terlihat bahagia melihat sebentar lagi mungkin kedua anak mereka akan menikah.

Suho? Ia hanya terkekeh pelan melihat perilaku dongsaeng-nya.

-:Hyo Hee:-

“Hyo Hee! Apakah kau masih disini?!”

Bisa kudengar suara Sulli, aku mengerjapkan mataku. Kulihat tangannya sudah melambai-lambai di depan wajahku.

Mian, ada apa?” aku mencoba berkonsentrasi pada Sulli yang duduk di hadapanku.

Aku dan Sulli berada di taman kampus, sedang menunggu mata kuliah selanjutnya.

“Ada apa sebenarnya? Sepagian ini kau terus melamun saja? Apa yang menganggu pikiranmu?” tanyanya penasaran.

Aku memutar bola mataku malas, sudah sepagian ini aku masih tidak bisa menyerap semuanya dengan baik. Pagi saat aku bangun kukira semua kejadian kemarin adalah mimpi belaka. Namun dengan bahagianya namja bernama Jong In yang selalu minta di panggil Kai itu berada di depan rumahku, memaksa mengantarku kuliah.

“Kau ingat kan kemarin?” aku mencoba terlihat senormal mungkin.

Ne. Kau di ajak ayahmu bertemu keluarga teman lamanya. Wae? Kau di jodohkan?” kali ini matanya menyipit.

Andwae! Appa selalu memegang janjinya. Hanya saja…”

Kemudian aku mulai menceritakan kesintingan seorang namja bernama Kim Jong In itu. Dari sikapnya yang selalu menatapku, ajakan gilanya untuk menikah, sampai tantangannya.

“… Ya, kurang lebih begitu. Kau tahu, namja itu gila.” Aku mengakhiri ceritaku, mengambil botol air mineral dari tas selempangku.

Kulihat mata Sulli yang berbinar, “Woah… itu keren sekali. Daebak!”

Mwo – uhuk!”

Aku tersedak seketika mendengar jawaban Sulli. Apakah populasi orang normal sedang dalam tahap kepunahan?

Sulli menyodorkan selembar tissue yang langsung aku ambil.

“Tapi, mana ada orang yang bisa seberani… ah… namanya…” Sulli mencoba mengingat-ingat nama namja itu.

“Jong In.” Aku menjawabnya malas.

“Ya, Jong In. Aku pikir hidupmu kali ini akan menarik.”

“Tolong…” aku berucap pelan, memikirkannya saja sudah membuat sakit kepala.

“Kalian! Masih saja di sini. Punya jam tidak? Sudah mau masuk…”

Seseorang menghampiri kami, sosok tinggi itu, dengan tas selempang hitam, mengenakan topi. Matanya yang bulat itu dengan senyum iklan pasta gigi.

“Chanyeol!”

Sulli langsung berdiri menghampiri Chanyeol, “Kemana saja kau hah? Menghilang selama seminggu!”

“Tenang. Aku hanya berlibur ke Pulau Jeju.” Jawabnya santai.

Jjinja? Kau berani-beraninya!”

Aku menepuk pundak Sulli, “Dwaesso, kita akan memberikannya pelajaran sesudah kuliah.”

“Jangan begitu, ayolah…”

Aku memandang muka memelas Chanyeol sedatar mungkin. Walaupun banyak orang bilang Chanyeol termasuk namja paling di gilai di kampus, mengenalnya sejak SD cukup membuatku kebal terhadap pesonanya, begitu pula Sulli.

Kajja!” aku merangkul Sulli berjalan menuju gedung bersama, meninggalkan Chanyeol.

Chankaman!” terdengar suara Chanyeol, membuatku dan Sulli tertawa seketika.

_

“Jadi, kenapa kau bisa berlibur ke Pulau Jeju, hah?”

“Ayolah Sulli, kau membuatku terlihat seperti penjahat.”

Kami bertiga baru saja keluar kelas, berjalan menuju gerbang dengan santai.

“Sudahlah lupakan…”

“Lihat? Hyo Hee sangat ba…”

Aku mulai bosan melihat kedua sahabatku berdebat terus. Tiba-tiba ide yang lebih bagus muncul, tidak perlu repot-repot meminta penjelasan. Kalau liburan seharusnya ia membawakan oleh-oleh.

“Mana oleh-olehnya?” aku memotong Chanyeol, menengadahkan tanganku di depannya.

“A.. Ck.” Chanyeol membuka topinya dan mengacak rambutnya frustasi.

“Ahahahha.” Aku dan Sulli tertawa bersama.

Ckitt~

Langkah kami terhenti seketika. Tepat di depan gerbang yang akan kami lewati, berhentilah mobil sport berwarna putih.

Kaca film-nya yang berwarna gelap membuatku tidak dapat mengindentifikasikan pengemudinya, ya mungkin tidak harus. Mobil putih ini, mobil yang sama dengan yang mengantarku pagi ini – ya, sudah pasti pengemudinya Jong In.

Mau apalagi namja itu?!

Pintu perlahan terbuka, keluarlah seseorang. Sementara Sulli dan Chanyeol memadang penuh tanda tanya, aku hanya memandang masam ke arah sosok yang perlahan keluar tersebut – sudah memperkirakan siapa yang akan muncul.

Eh?

Yang keluar bukanlah sosok Jong In. Menyipit sebentar aku mulai mengenalinya.

“Joonmyun-ssi?” aku berucap ragu, telunjukku dengan tidak sopannya menunjuk sosok itu.

Ne, hilangkan embel-embel –ssi dan panggil saja aku Suho, adik ipar.” ia menatapku dengan sorot mata jahil di tambah kekehannya.

Astaga! Kakak dan adik tidak ada bedanya.

“Adik ipar?” Chanyeol menoleh ke arahku dengan muka tercengang.

Ya! Apa urusanmu ke sini Joonmyun?!” aku memelototinya, memberikan penekanan pada setiap kata yang kuucapkan, mengabaikan Chanyeol.

“Panggil aku Suho baru aku mau memberitahukannya padamu.”

Arghh!!! Aku mengentakan kakiku kesal. Kedua kakak beradik ini sama saja tidak warasnya?!

“Baiklah. Apa urusanmu ke sini Suho?” aku mengulangi pertanyaanku.

Aku menarik nafasku, berusaha menahan gelegak amarahku. Bisa kurasakan nafasku yang sedikit tersengal dan usapan tangan Sulli di punggungku – berusaha menenangkanku.

“Seperti yang kau lihat, adik ipar.” Ia dengan santainya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Aku menepuk jidatku pelan. Bunuh saja aku sekarang…

YA! Tidak bisakah kau memberikanku jawaban yang lebih baik?”

“Aku datang menjemputmu. Apa lagi?”

Ia berjalan mendekat, aku menunggu.

Detik berikutnya ia sudah mendorongku menuju mobil. Memaksaku masuk ke pintu belakang.

Sirreo!”

“Jangan menyusahkanku. Kalau kau mau marahlah pada Kai.”

Aku langsung berhenti seketika. Baiklah, ini perang!

Aku berbalik menghadap Sulli dan Chanyeol yang menatap takjub ke arahku dan Suho. Aku tersenyum semanis mungkin pada mereka.

Mian, sepertinya aku harus pergi. Annyeong!”

Melambaikan tanganku sebentar, aku lalu berbalik masuk ke mobil dengan cepat, meninggalkan kedua temanku yang mungkin masih bertanya-tanya.

-:Kai:-

Tanganku dengan cepat menandatangani berbagai dokumen yang di sodorkan D.O padaku.

“Ehm..” aku berusaha berbicara di sela konsentrasiku.

Wae?”

“Semua dokumen seminggu ini benar sudah beres?”

“Tentu. Sebenarnya ada apa?” D.O menyerahkan sebuah map padaku untuk yang kesekian kalinya.

“Kau akan tahu sebentar lagi. Aku hanya minta sampai aku kembali kau yang mengurus segala pekerjaanku, mungkin aku akan mengambil libur beberapa hari ke depan.”

Mataku menyisir setiap kalimat yang terketik rapih di kertas resmi yang sudah sangat ku kenal, menandatanganinya dan selesai. Sesederhana itu, sisanya masih menjadi urusan abeoji.

“Sepertinya menarik.”

“Sangat,” aku menyetujuinya, “… ada lagi?” aku mengulurkan tanganku pada D.O.

“Tidak sudah selesai. Semua dokumen yang harus di periksa sudah benar-benar habis.”

“Bagus.” Aku melonggarkan dasiku, menyandarkan badanku pada sandaran kursi sepenuhnya.

BRAK

Aku tetap bersandar santai, sudah mengira siapa yang akan datang.

“KIM JONG IN!”

Ahaha, sudah pasti Hyo Hee, gadis itu masuk dengan langkah cepat di susul Suho di belakangnya.

Annyeong, chagi.” Aku menengakkan posturku, menaruh kedua tanganku di atas dagu, menunggunya mendekat.

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Jong In-ssi!”

Ekspresi marahnya sangat lucu. Gadis ini, aku harus mendapatkannya.

“Panggil aku Kai, chagi, dan hilangkan embel-embel –ssi.”

Kulihat dengan ekor mataku, Suho berjalan ke sampingku. Menyerahkan kunci mobil padaku.

Nae dongsaeng, aku tidak mau menjemputnya lagi untukmu.” Katanya kemudian.

Wae?” aku bertanya, masih melihat Hyo Hee yang sudah duduk di hadapanku.

“Melihat sikapnya saat ia datang ke sini… sungguh masa kau tidak bisa menebak?”

“Sepertinya aku mengerti, hyung. Gomawo, dan tenanglah itu hanya untuk hari ini saja.”

“Baguslah, jangan mengangguku lagi!” Hyo Hee tiba-tiba menyela.

Nde? Kau lupa? Selama 7 hari ke depan tentu aku akan selalu bersamamu.” Aku menaikkan alisku membalas ucapan Hyo Hee.

“Kau bercanda!” bantahnya.

“Tidak, kita sudah sepakat kemarin, chagi.”

Ire?”

Ire.” Aku menjawabnya mantap.

“Baiklah. Tujuh hari, dan sesudahnya kau harus menyerah.”

Sure. Tapi jika aku menang, kau menikah denganku nona Lee.”

Aku bangkit dari kursiku dan menarik Hyo Hee berdiri. Menggiringnya ke luar ruang kerjaku, menuju mobil.

“Eh? Mau kemana?”

“Pergi tentu saja.”

Kami memasuki lift, aku menekan tombol basement.

“Kau! Aku baru sampai, masa harus kembali ke mobil lagi?” Hyo Hee protes begitu kami sudah berjalan menghampiri mobilku.

-:Hyo Hee:-

Dasar, baru saja aku sampai, sudah pergi lagi. Sekarang, baru sekitar 15 menit aku berada di dalam mobil, aku sudah keluar lagi.

“Kau ini! Sekarang di mana ini?” aku melotot ke arah Jong In yang langsung masuk ke balik pintu kaca sebuah gedung.

“Ck..”

Tanpa pilihan aku mengikutinya masuk. Begitu masuk aku langsung tercengang, ini butik dengan berbagai gaun yang terpajang rapih. Kulihat Jong In sedang mengobrol dengan pramuniaga di butik tersebut, aku memilih duduk di sofa yang telah di sediakan. Aku mengambil novel yang kebetulan baru aku pinjam dan mulai membacanya.

-:Author PoV:-

Sementara Hyo Hee duduk membaca novel, di sisi lain Kai sudah berjalan ke arah rak baju bersama sang pramuniaga.

Tangan Kai memilah-milah berbagai gaun, melihatnya dengan sangat teliti.

“Kekasih tuan sangat cantik.” Puji pramuniaga itu sambil melirik ke arah Hyo Hee.

“Terlampau cantik. Hmmm… apakah kau memiliki gaun berwarna peach di sini?”

“Sebentar, selera tuan sangat bagus. Kekasih tuan pasti akan terlihat sangat cantik dengan warna pastel.”

Tangan sang pramuniaga mengambil ahli, memilah-milah isi rak dengan sangat cepat dan mengambil beberapa yang berwana peach.

“Ini.”

Kai kemudian melihat-lihat kembali gaun yang telah di pilih oleh pramuniaga tersebut. Seketika matanya tertarik dengan secercah warna ungu dari antara gaun-gaun berwarna peach. Tangannya mengambil gaun itu.

Gaun tanpa lengan dengan tali di leher, panjangnya hanya selutut. Yang membuatnya istimewa gaun tersebut berwarna krem menuju ungu.

“Lembayung? Kenapa aku melupakan warna seindah ini.” gumam Kai perlahan, sambil menyerahkan gaun itu ke tangan sang pramuniaga.

Kemudian kedua orang itu menghampiri Hyo Hee yang masih asyik dengan bukunya.

Agassi?” sang pramuniaga mencoba menyadarkan Hyo Hee dari dunianya.

“Hmm?” Hyo Hee mendongakkan kepalanya.

“Cobalah.” Kai menyuruh Hyo Hee.

Seketika menghilanglah pramuniaga itu dengan Hyo Hee. Sementara itu Kai berjalan ke rak baju pria, ia memilih-milih beberapa baju untuknya.

_

Kai sudah mengganti baju kantornya dengan baju kemeja yang terlihat lebih santai. Ia sedang menunggu di sofa sembari mengecek ponselnya.

“Anda terlihat sangat cantik.”

Perkataan pramuniaga membuat Kai berdiri dan melihat ke arah suara tersebut. Matanya langsung menatap lekat ke arah Hyo Hee, gadis itu tidak pernah berhenti membuatnya terpana. Tubuh ramping itu kini terbalut sempurna dengan gaun pilihannya, rambut panjangnya yang sedikit kecoklatan terurai sempurna menutupi lehernya yang jenjang. Wajahnya yang hanya memakai bedak tipis dan lipgloss, membuatnya terlihat sederhana namun menawan.

“Kau memang cantik, chagi. Sederhana dan cantik”

Kai tersenyum kearah Hyo Hee. Membuat gadis itu menundukan kepalanya malu, bisa terlihat sedikit semburat merah di pipinya.

“Ini sepatunya.” Tiba-tiba seorang pramuniaga lain datang membawa sepasang sepatu berwarna emas pucat.

Gomawo.” Hyo Hee mendudukan dirinya, berkonsentrasi memakai sepatu. Sementara Kai sedang mengobrol kembali dengan sang pramuniaga, sesekali Kai melirik ke arah Hyo Hee.

_

“Sudah sampai. Ayo masuk.” Kai membukakan pintu mobil untuk Hyo Hee. Mereka rupanya menuju salah satu hotel berbintang lima di kawasan Yongsam, Hannam-Dong.

Kai menggandeng Hyo Hee memasuki hotel tersebut, menuju restaurant. Begitu mereka memasuki restaurant seorang pelayan membawa mereka ke sebuah meja yang sudah di sediakan, bersebelahan dengan jendela. Sehingga mereka dapat melihat pemandangan kota dari sana.

“Kau sangat cantik. Aku menyukaimu detik pertama aku melihat fotomu di ruangan appa-mu.” Kai memulai percakapan.

Gojitmal. Lagipula aku tidak berniat jatuh cinta pada ajusshi sepertimu.”

Mwo? Tahan dulu chagi. Ajusshi? Apakah aku terlihat setua itu? Umurku sama denganmu.”

“Buktinya kau sudah bekerja di perusahaan. Kau pasti lebih tua dariku. Kau juga kenapa bisa lulus lebih cepat dari Suho? Aku bahkan curiga sebenarnya kau kakaknya.” Hyo Hee masih mempertahankan jawabannya.

Chagi… aku mengikuti kelas akselerasi, sehingga lulus lebih cepat dari Suho. Aku lulus 2 tahun lalu. Hanya lulus lebih cepat dua tahun darimu.” Kai mengulum senyum, menunggu reaksi Hyo Hee.

“Jong In, ini bukan candaan.”

“Aku serius kau bisa tanyakan pada appa-mu dia juga mengetahuinya, dan sekali lagi panggil aku Kai.”

Kai mengernyitkan dahinya. Mengapa gadis di hadapannya ini memanggil hyung-nya dengan Suho dan tetap memanggilnya Jong In. Dirinya terganggu dengan kenyataan itu.

Sirreo!”

“Jika kau tidak mau, aku bisa memaksamu.”

Sebuah senyum usil terkembang di wajah Kai, membuat Hyo Hee bergidik ngeri. Untunglah pelayan segera datang dan menyajikan makanan pesanan mereka.

-:Hyo Hee:-

Aku mengernyitkan wajahku, mataku yang masih tertutup merasakan gangguan. Silau – cahaya matahari pagi asumsiku.

“Hah…” aku menguap dan beranjak bangun.

Seperti biasanya yang pertama kali aku lakukan adalah menggapai ponselku. Menyalakannya, melihat jam dan tanggalan. Hari Selasa, jam 09.00, cukup pagi. Aku berjalan pelan menuju kamar mandi, hari Selasa tidak ada kuliah. Jadi aku hanya perlu ke cafe.

_

Aku sedang merapikan beberapa perabotan di bagian coffe machine dan teman-temannya, walaupun cafe ini di kelola olehku, bagian membuat dan menyajikan di luar kemampuanku. Aku hanya bisa membantu sebatas menuliskan pesanan atau menjadi kasir.

Cring.. Cring..

Suara bel berbunyi menandakan ada yang datang, tanpa di suruh aku langsung saja mengucapkan salam, masih dengan kegiatan beres-beresku.

Eoseo oseyo!”

Kudengar langkah kaki mendekat, “Jadi kau di sini rupanya, chagi.”

Aku langsung berhenti dari pekerjaanku, dengan kaku mencoba mendongak. Begitu berhasil aku langsung melotot. Jong In! Namja itu kenapa bisa ada di sini?!

“Kenapa kau bisa di sini Kim Jong In?” aku mendesis padanya.

“Tentu saja bertemu denganmu, dan panggil aku Kai, chagi. Kau masih ingat bukan perkataanku kemarin malam?”

Cring.. Cring..

Hah, satu orang datang, menyelamatkanku dari mengobrol dengannya. Aku berjalan keluar melalui kasir, berusaha menjauh dari namja itu.

Eoseo oseyo! Ah – Chen.”

Aku berjalan ringan menghampiri Chen – tentu aku mengenalnya. Ia salah satu pelanggan setia di cafe-ku ini. Namja tanpan baik hati dengan senyum lebarnya – sungguh aku lebih memilih mengobrol dengan Chen daripada dengan Jong In.

“Hyo Hee, bagaimana kabarmu?” ia tersenyum sembari mendudukan dirinya di salah satu meja.

“Baik ahaha, bagaimana denganmu?”

Nado. Hmm,” matanya sekilas memilih dari buku menu, “… orange caramel macchiato? Menu baru?”

“Ah, iya. Kalau tidak salah seminggu yang lalu barista, ani, Ji Hoo yang mengkreasikannya.”

“Hmm, layak di coba. Aku pesan itu saja.”

“Ne. Tunggu sebentar.”

Aku berbalik berjalan kembali ke kasir dengan langkah tersendat.

“Ji Hoo! Ada pelanggan! Orange caramel macchiato-nya satu!” aku berteriak agar Ji Hoo yang berada di ruang ganti keluar dan segera bekerja.

Cring.. Cring..

Pelanggan lagi? Apakah aku sedang beruntung sehingga bisa menghindari Jong In? Kulirik namja itu, ia sedang bersender nyaman sambil membuka ponselnya di meja kasir. Aku kembali berbalik melihat siapa yang datang.

Annyeong Hyo Hee-ssi.”

Seorang gadis berjalan masuk dan menyapaku, rupanya Heera, waitress kerja paruh waktu. Aku langsung lemas. Kalau begini aku tidak ada pekerjaan dan secara tidak langsung menandakan aku harus melayani seorang Jong In.

“Jadi apa tujuanmu sebenarnya Jong In?” akhirnya aku berjalan menghampiri namja itu.

Namun bukannya menjawab ia malah menarikku mendekat. Membalikkan posisi kami sehingga aku yang bersender pada meja kasir, membuatku tidak bisa bergerak. Sial!

“Hmm, seperti yang kubilang kemarin, jika kau tetap tidak mau memanggilku Kai, maka aku akan memaksamu.”

Ia berbisik tepat di telingaku, jarak kami sangat dekat – terlalu dekat.

“Kim Jong In!” aku menggertakkan gigiku.

Bukannya menjauh ia malah semakin mendekat, sekarang wajahku dan wajahnya benar-benar dekat. Ujung hidungnya menyentuh ujung hidungku.

Yya!”

Aku mencoba memundurkan diri, namun sia-sia. Namja sialan ini! Ia sekarang memiringkan kepalanya…

Arraseo, arrasoe. K..Kai..” aku tergagap.

“Tidak dengar.” Ia semakin mendekatkan diri.

Tolong! Jarak bibirku dan bibirnya mungkin hanya 1 centi saja.

“Kai.” Aku berhasil melafalkannya cukup lantang.

Ia berhenti, menatapku dan tersenyum. Sial! Sial! Sial! Dia mengerjaiku lagi. Aku menatapnya sengit, sudah berapa kali aku menyumpah sejak bertemu dengannya?

“Lihat? Sangat mudah bukan?” ia masih memamerkan senyum kemenangannya padaku.

Aku berusaha lepas dari pelukannya, “Kai, lepaskan!”

Kali ini aku memanggilnya Kai, menghindari kejadian semenit lalu agar tidak terulang. Dasar namja gila, bukannya melepaskanku, ia malah mengeratkan pelukannya, mengunciku.

Nugu?” tanyanya dengan nada datar.

Nde?” aku menaikkan kedua alisku tidak mengerti.

“Semuanya.”

Aku mengelengkan kepalaku, “Pelanggan yang datang tadi itu Chen, ia termasuk pelanggan setia yang sering datang ke cafe ini. Ji Hoo dia barista, dan yang terakhir datang tadi Heera waitress di sini. Kalau kau mau tau ada Michelle sebagai partissier, dia mungkin ada di dapur sedang membuat cake. Puas?”

“Hmm, tidak.”

Kumohon, tidak adakah yang lebih menyebalkan dari namja ini?! Kalau saja aku tidak dalam keadaan terjepit begini, sudah kupukul namja di hadapanku ini.

“Kenapa kau bisa tahu sedetail itu? Seberapa jauh kau mengenal Chen?” tatapannya menyelidik.

Dia cemburu? Yang benar saja…

“Kau tidak tahu? Cafe ini milikku. Chen? Dia hanya pelanggan setia dan teman mungkin.” Aku menjawab seadanya.

“Aku tidak yakin. Sepertinya namja bernama Chen itu menyukaimu.”

“Jo – Kai! Yang benar saja, tidak mungkin.” Aku kembali mengingat-ingat harus memanggilnya Kai.

“Mari kita lihat nanti. Ayo kita pergi sekarang.”

“Eh? Kemana? Tidak!” aku jelas menolakknya. Setiap hari Selasa adalah rutinitasku berada di cafe, memantau semuanya.

Wae?” ia mengernyit tidak suka.

“Aku pemilik cafe ini dan aku sudah mendedikasikan, setiap hari Selasa aku harus berada di cafe untuk memantau. Jadi kita tidak akan kemana-mana – maksudku aku.”

“Aku lebih suka kita,” ia tersenyum dan ku akui senyumnya menawan, “… baiklah kita tidak akan kemana-mana. Bagaimana kalau aku membantumu?” ia melanjutkan.

“Ne!” aku mengangguk setuju, setidaknya ia tidak terlalu menyebalkan jika bisa sedikit membantu. Mungkin…

_

Toko baru saja tutup, kira-kira pukul 11. Semua pegawai sudah pulang, hanya tinggal aku dan Kai yang tersisa. Aku merapikan yang aku bisa sedangkan namja itu sudah terduduk di salah satu meja.

Begopa…”  ia berguman.

Aku meliriknya, memikirkan apa yang mungkin bisa di masak dengan cepat. Seharian ini Kai tidak banyak makan, bahkan saat menemaniku makan siang.

Aku berjalan ke dapur, melihat isi kulkas dan lemari persediaan. Masih ada susu, telur, gula, mentega, garam, dan cukup banyak sisa tepung.

Mungkin pancake sederhana…

Ah, aku ingat aku membawa coklat di dalam tas. Aku keluar dari dapur, meraih tas selempangku yang aku letakkan di meja tempat Kai duduk, mengambil coklat batang tersebut lalu kembali ke dapur.

Aku mulai bekerja, memanaskan air, sambil menunggu air mendidih aku memotong coklat menjadi potongan kecil lalu menuangkannya ke dalam mangkuk stainless kecil. Air panas yang baru mendidih aku tuangkan ke dalam mangkuk yang lebih besar, sesudahnya aku meletakkan mangkuk berisi coklat itu ke dalam mangkuk berisi air panas tersebut. Menunggu agar coklat meleleh perlahan dengan panasnya air.

Aku kemudian mengambil mangkuk kaca yang lumayan besar. Memasukkan 5 sendok besar tepung, 3 sendok gula – sesuai selera, garam satu sendok kecil, telur. Kemudian aku mencairkan mentega, sambil menunggu aku berjinjit mencari baking soda. Seharusnya ada. Aku sedikit kesulitan meraih lemari yang tinggi itu, namun seseorang datang.

“Apa yang mau kau ambil?”

Baking soda.” Aku masih berkonsentrasi dengan lemari di atasku.

Lalu tangan orang itu mengambil botol berlabel baking soda.

“Ini.”

Gomawo,” aku mendongak, “… apa yang kau lakukan?” aku menatap Kai.

“Aku bosan, kau menghilang begitu saja ke dapur dan tidak keluar lagi. Bahkan kau tidak menghiraukanku saat mengambil sesuatu di tasmu. Apa yang kau lakukan?” ia balik bertanya.

“Memasak? Kau lapar kan?”

Aku tidak menunggunya untuk menjawab, aku mengambil mentega yang sudah di cairkan dan menuangkannya ke dalam mangkuk juga sedikit baking soda. Dengan sendok kayu aku mencampur adonan itu hingga merata. Aku meraih karton susu dan menuangkannya sedikit, lalu mencampurnya hingga tercampur sempurna. Kemudian aku menuangkan sedikit lagi dan mencampurnya lagi.

“Kenapa tidak langsung saja?” Kai menghampiriku dan mengambil karton susu, ingin menuangkannya.

“Jangan. Nanti adonannya tidak bagus.” Aku berusaha mengambil karton susu dari tangan Kai, namun namja itu tidak memberikannya.

“Biar aku saja, kau yang mengaduk.”

“Sedikit-sedikit!”

Kemudian berlanjutlah kegiatan kami, aku mengaduk dan dia yang menuangkan susunya. Setelah adonan menjadi cukup cair aku menyuruhnya berhenti.

Aku memanaskan penggorengan, menyuruhnya mengambilkan piring.

Cess..

Suara adonan yang mencium penggorengan panas, terdengar selama beberapa lama. Aku membalikkan adonan dengan telaten. Aku tidak menghitung waktu, tapi kupikir cukup lama sampai 6 pancake akhirnya jadi.

Aku membiarkan pancake yang panas itu. Aku kembali pada coklat yang tadi aku lelehkan. Aku mengaduk coklat itu dengan sendok, memastikan coklat sudah mencair seluruhnya.

Aku membawa coklat dan 2 piring berisi masing-masing 3 pancake ke mini bar. Aku mengambil kursi plastik dan membawanya ke dekat meja.

“Ayo, sudah jadi.”

Aku mengajak Kai yang sendari tadi hanya melihat setiap gerak-gerikku untuk duduk. Ia mengampiriku yang sudah mulai mengoleskan coklat ke pancake, ia mengambil kursi dan bergabung denganku.

“Kau bisa memasak?” ia bertanya.

“Tentu saja. Di rumah aku kebanyakan sendiri, kalau tidak bisa memasak aku bisa kelaparan,” mulutnya sudah terbuka akan menyelaku, kemudian aku memasukkan potongan pancake yang sudah ku olesi coklat ke mulutnya agar ia tidak menyela, “… eomma tidak suka ada pembantu terlalu banyak. Biasanya ada 2 atau 3 tapi hanya bekerja untuk membereskan rumah. Eomma tidak suka dapurnya di gunakan oleh orang lain.”

Kulihat Kai hanya mengangukkan kepala sambil mengunyah, setelah beberapa kunyahan ia menelannya.

Massitta.”

“Syukurlah..”

“Eh?”

“Tidak, aku belum pernah membuatkan pancake ini untuk orang lain sebelumnya, hanya itu.”

Jujur saja, pancake sederhana ini hanya menemaniku seorang biasanya. Belum pernah ada yang mencobanya, ya sekarang Kai.

“Jadi, aku yang pertama?”

“Kenyataannya begitu.” Aku menjawab seadanya.

Chu~

Aku membeku sebentar, ku angkat tanganku memegangi pipiku yang baru saja menjadi sasarannya.

YA! Apa yang kau lakukan? Ayo makan dan cepat antarkan aku pulang! Heuh!”

Aku mencoba memukulnya tapi meleset, Kai – dia hanya terkekeh membuatku jengkel. Kalau begini aku tidak usah repot-repot memasak untuknya. Namja menyebalkan.

-:Author PoV:-

Hyoo Hee berjalan malas menuruni tangga kampusnya. Ia mengenakan jeans abu muda dan kaos kuning seadanya, rambutnya ia urai. Di liriknya jam tangan putih mungil di tangan kanannya.

Jam 12.

Ia menghela nafasnya, ia sudah tidak ada kuliah, tapi ia tidak berniat pulang ataupun pergi ke cafe. Tangannya memainkan tas selempang hitamnya. Ia hanya berjalan tanpa arah, matanya berkonsentrasi pada langkahnya. Kakinya sesekali menendang kerikil yang menghalangi jalannya.

“Apa yang kau lakukan?”

Seseorang berkata, suara yang sudah di kenalnya walaupun ia baru bertemu dengannya baru-baru ini. Siapa lagi kalau bukan Kai, namja itu berhasil membuatnya waspada akan keberadaannya. Hyo Hee mendongakkan kepalanya. Di hadapannya sosok Kai tengah berdiri.

 Hyo Hee berhenti, matanya melihat penampilan Kai yang sedikit berbeda hari ini.

Dengan kaos lengan pendek v neck berwarna navy dan jeans biru tua, ia terlihat lebih muda dan tampan daripada dengan jas, kemeja, dasi, dan celana bahan, batinnya.

“Hanya berjalan-jalan, tidak berniat pulang. Apa yang kau rencanakan hah?” Hyo Hee menyipit ke arah Kai, ia mundur satu langkah menjauhi namja itu.

“Tentu saja membuatmu mencintaiku, chagi… dan berhubung kau terlihat tidak ada janji apapun ayo pergi denganku. Ke mall mungkin? Nonton?”

Hyo Hee terdiam sebentar, dirinya berpikir sebentar. Mempertimbangkan ajakan Kai. Mungkin tidak ada salahnya. Ia juga sedang bosan, siapa tahu kalau ia sekali menuruti permintaan namja di hadapannya itu, besok ia tidak usah berurusan dengannya?

Ne! Kajja!”

Hyo Hee berjalan maju, mencari mobil Kai, dengan Kai mengikuti di belakangnnya. Hyo Hee berhenti tiba-tiba.

Wae?”

“Kau tidak membawa mobil?” Hyo Hee masih mencari-cari keberadaan mobil putih itu.

“Tidak, aku ingin berjalan kaki, merasakan masa remaja lagi. Kajja.” Tangannya mengulur ke arah Hyo Hee.

Hyo Hee ragu sejenak untuk menerima uluran tangan Kai.

Ppali! Kita menjadi remaja lagi untuk hari ini.” Kai mencoba membujuk gadis di hadapannya.

Hyo Hee memaju mundurkan kakinya, kedua tangannya memegang tali tasnya. Matanya memandang penuh pertimbangan. Kemudian tangan kanannya melepas pengangannya dan menerima uluran tangan Kai.

-:Hyo Hee:-

“Hosh.. hosh..” nafasku tersengal, peluh sudah bercucuran menetes melalui pelipisku. Kerongkonganku terasa kering, menyiksa, meminta di berikan setetes kesegaran. Tanganku berpegangan pada tiang pegangan setinggi pinggang yang berada di dekatku. Aku berusaha mengatur nafasku, tiba-tiba bisa kurasakan sepasang tangan perlahan melingkari pinggangku.

“Hyo Hee…”

Ya, jangan bercanda sekarang Kai, ck!” aku berdecak kesal.

“Hmm?”

YA! Berikan aku minum!” kali ini aku berbalik, ia melepaskan pinggangku.

Kai terkekeh pelan di hadapanku, tangannya mengulur memberikanku sebotol jus, “Igo.”

Aku langsung menyambarnya tanpa berpikir, mengingat betapa hausnya aku. Membuka tutup botol, dan meneguk isinya cepat.

Hah.. Lega…

“Ayo, kita mulai lagi. Kali ini aku tidak akan kalah darimu!” kata itu terlontar dari mulutku begitu lelahku berkurang, aku menyimpan botol jusku yang masih berisi setengahnya di samping tasku.

Aku melangkahkan kakiku kembali naik, kedua tanganku memegang pegangan yang berada di belakangku. Kulirik Kai – namja itu berdiri dengan santai di sebelahku, tangannya ia biarkan bebas.

Musik kembali mengalun, mataku langsung berkonsentrasi pada layar, sementara kakiku menginjak step sesuai dengan yang kulihat di layar mengikuti irama lagu. Kami sudah bermain pump it up lebih dari 4 kali, begitu kami sampai di mall, aku menarik Kai ke game center. Katanya ia ingin kembali menjadi remaja kan?

Satu lagu…

Dua lagu…

Tiga lagu…

Game Over.

“Hosh… Kenapa aku tidak bisa mengalahkanmu?!” aku  mengusap peluh di dahiku sambil melihat ke layar.

Kkeut. Kau lelah.”

Kai menyeringai kepadaku, bisa kulihat nafasnya juga tersengal lelah sepertiku. Walaupun aku ingin sekali mengalahkannya tapi aku menyadari staminaku sudah habis, kali ini terpaksa aku menyerah. Aku melangkah turun dari mesin pump it up, mengambil tas dan minuman yang tergeletak begitu saja.

Kajja. Kali ini kau menang tuan! Kita keluar mall saja, aku bosan.” Aku berkata padanya sambil memakai sneaker-ku kembali.

“Huah, segar!” aku meretangkan tanganku begitu melewati pintu kaca mall, menikmati angin yang berhembus.

“Mau ke mana sekarang?” Kai berjalan mengikutiku di belakang.

“Hmm, ke mana ya?” aku membalikkan badanku berjalan mundur, kulihat Kai berjalan santai memasukkan kedua tangannya ke saku jeans.

Kulihat Kai memandangku takjub, “Ada apa?”

“Kau terlihat ceria.” Ia tersenyum.

“Tentu saja! Sudah lama aku tidak bermain-main seperti ini.”

Aku melihatnya tertawa kecil, dengan pakaiannya yang santai ia terlihat tampan…

Ya! Apa yang kau pikirkan Hyo Hee! Aku mencoba mengenyahkan pikiran itu dari kepalaku, menganggapnya tidak pernah singgah di otakku. Mungkin karena hari ini dia memakai baju bebas dan tidak berulah saja, batinku.

BRUK.

“Ah, mianhae. Gwaenchana?”

Aku berbalik cepat-cepat membungkukkan badanku, meminta maaf pada orang yang baru saja kutabrak. Aku berhenti seketika ketika melihat bahwa korbanku bercelana bahan, perlahan aku mendongak, melihat kemeja berpola leopard, jas hitam, dan orang itu mengenakan kacamata hitam. Bisa kulihat sedikit tattoo-nya di jempolnya, tapi berlanjut ke lengan atasnya. Aku menelah ludahku.

-:Kai:-

Kulihat Hyo Hee menabrak seseorang di belakangnnya. Gadis itu cepat-cepat berbalik dan meminta maaf. Tapi aku langsung menghampirinya cepat. Orang yang di tabraknnya bukan orang biasa. Melihat penampilannya saja aku sudah tahu, pria yang di tabrak Hyo Hee bukanlah orang sembarangan.

Grep.

Aku menarik tangannya, membawanya berlari bersamaku.

YA! JANGAN KABUR! KEJAR MEREKA!”

Bisa kudengar suara menggelegar dari pria yang di tabrak Hyo Hee. Aku menoleh, dan woah. Lima orang berpakaian jas hitam berlari mengejarku dan Hyo Hee.

Eottoke?” kulirik gadis di sebelahku, ia terlihat panik.

Gwaenchana. Selama kita berlari dan bisa lolos dari orang-orang itu kita aman. Kau kuat berlari kan?”

Aku menggenggam tangannya erat, ia mengigit bibirnya dan mengangguk padaku. Bisa kurasakan ketakutannya.

Kami berlari tanpa henti, menyelip di antara kerumunan orang. Bisa kurasakan tatapan penasaran dari orang-orang yang kami lewati. Namun mereka sepertinya langsung mengetahuinya begitu sekelompok pria berjas hitam itu mengejar kami di belakang.

Aku melihat ada belokan, aku memutuskan berbelok. Kami masih terus berlari tanpa henti. Ternyata pria-pria itu tangguh juga.

“Hosh.. Hosh..” aku mendengar nafas tersengal Hyo Hee.

Ya… ini harus segera berakhir. Kakiku pun sudah kelelahan, ini sungguh ekstrim. Aku berusaha mencari tempat tersembunyi, di depan kulihat jalan buntu. Mataku mencari-cari jalan, kulihat ada gang. Kami berlari berbelok.

Ya! Ada tiang penghalang setinggi lutut.

“Loncat!” aku berkata tersengal.

Syukurlah kami melompat dengan selamat. Kami masih berlari menyusuri gang kecil tersebut. Suara dari pria-pria itu memudar.

Begitu melihat mini market kami langsung masuk, berharap dapat bersembunyi.

“Hah… hah…”

Aku dan Hyo Hee bersandar di balik rak, mengatur nafas.

Drap.. Drap..

“DI MANA MEREKA?”

Aku mengitip dari balik rak, kulihat para pengejar kami itu berlari lurus.

“Sudah aman.”

Aku menundukkan kepalaku, melihat Hyo Hee yang berjongkok di sampingku. Ia hanya mengangguk sebagai balasan.

Aku haus, lelah, dia juga. Karena itu aku berjalan meninggalkannya, menuju freezer minuman, mengambil dua kaleng poccari sweat dan membeli 2 bungeossamankofish ice cream.

Aku berjalan kembali ke tempat Hyo Hee, kulihat gadis itu sudah terduduk di lantai. Aku merendahkan posisiku dan menempelkan sekaleng poccari sweat ke pipinya, membuatnya sedikit berjengit.

YA!” ia berteriak padaku, hahaha.

Ia menerima poccari sweat dengan wajah yang masih mememandangku kesal, tangannya yang mungil itu membuka kaleng poccari sweat itu dan meneguknya.

Aku berjongkok di sampingnya dan meminum poccari sweat-ku.

“Hah.. Lega..”

Hyo Hee menguncangkan kaleng poccari sweat-nya – sudah kosong. Aku menyerahkan plastik berisi bungeossamanko padanya. Ia menerima plastik itu dengan tanda tanya, namun begitu melihat isinya matanya berbinar. Ia mengambil satu, membuka bungkusnya.

Gomawo, hehehe.” ia mengigit bungeossamanko-nya.

-:Hyo Hee:-

Aku berjalan di atas pasir, tangan ku menjinjing sepatuku. Aku melihat ke arah Kai yang sedang menanyakan arah ke penjual sekitar.

Begitu keluar dari mini market – tempat persembunyian kami, aku maupun Kai sama sekali tidak mengenali jalan. Kesimpulannya kami tersesat. Kami awalnya hanya berjalan lurus berharap bertemu jalan besar. Tapi pemandangan pantai yang menyambut kami.

Kai berjalan ke arahku, “Bagaimana?” aku bertanya.

“Kita selamat, ini tidak jauh dari kota sebenarnya.” Ia menjelaskan padaku.

Aku menganggukkan kepalaku, “Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Bagaimana kalau makan? Ini sudah jam 5.” Ia menyeringai.

Aku menyetujui ajakkannya, kami menemukan kedai kecil di pinggir pantai. Kami memesan ramyun, memakannya dalam diam. Aku makan cukup cepat, sepertinya bermain pump it up dan berlari membuat lapar.

“Hyo Hee, lihat!”

Kai menarik perhatianku. Ia menyibakkan tirai bambu yang menutupi kedai kecil itu. Memperlihatkan sunset yang indah.

“Woah! Daebak!”

Aku berdiri dari kursi dan cepat-cepat keluar. Meninggalkan makananku yang memang sudah habis dan Kai. Kakiku melangkah semakin dekat ke tepi pantai, terpesona oleh sunset yang sedang terjadi di depanku.

Aku mendudukkan diriku di atas pasir, memeluk kedua lututku. Mataku tidak lepas melihat matahari yang perlahan menghilang ke peraduannya.

“Aku pernah melihat yang seperti sunset itu..”

Kurasakan kehadiran Kai di sebelahku, “Ne?” aku mendongak melihatnya yang berdiri memandang langit.

“Gaunmu.” Ia tersenyum.

“Eh?” aku tidak mengerti sama sekali, kupaksakan otakku untuk mengingat-ingat, hasilnya nihil!

“Gaun yang kau kenakan saat makan malam. Baru saja berlalu dua hari, kau sudah melupakannya?”

“Ah itu…”

“Lembayung… kau cocok mengenakan warna itu…”

Aku terpana mendengarnya, baru sekarang seorang Kai berhasil membuatku tercengang karena perkataanya. Matanya yang terlihat menerawang memandang langit, nada suaranya melembut menawan.

“Kenapa melihatku seperti itu? Kau mulai tertawan pesonaku hah?”

Euh! Baru saja aku memujinya – walaupun hanya dalam hati, sikap menyebalkannya sudah muncul lagi. Tidak bisakah dia normal seperti tadi saja.

Jengkel, aku berjalan mendekati tepian pantai.

“Kau mau kemana?”

Kai berjalan menyusulku, seketika ide cemerlang terlintas di otakku. Aku menunduk meraup air pantai dan menyiramkannya pada Kai yang sudah berada di sebelahku lagi.

“Hahaha”

Ya!” ia mengusap wajahnya yang terkena sasaranku.

“Lihatlah pembalasanku, chagi.”

Ia menunduk.

“A.. Jangan!” aku melangkah mundur.

“Terlambat.” Ia tersenyum ke arahku.

Y.. YA!”

Aku berbalik berlari menghindarinya.

“Jangan kabur kau!”

Sirreo!”

Aku terus berlari menjauhinya, sungguh bermain usil dengannya sebuah ide buruk. Aku baru ingat dia ini tidak waras dan pasti lebih usil lagi.

Setelah berlari beberapa lama aku berhenti juga. Sepertinya kakiku sudah lelah berlari terus.

“Kena kau!”

Ia menahan pergelangan tanganku.

“Ah… mian, mian…” aku berusaha memohon pengampunannya, memejamkan mataku.

-:Author PoV:-

Kai menatap Hyo Hee yang memejamkan matanya, ia tersenyum sesaat. Tangannya yang bebas terangkat, mengusap pipi gadis di hadapannya. Sebuah senyum usil terlukis di wajahnya. Tangannya yang berada di pipi Hyo Hee perlahan mengepal, mencubit pipi itu.

Hyo Hee yang sudah terdiam karena Kai mengelus pipinya langsung melotot marah ketika namja itu mencubit pipinya.

“Ya! Kau ini!” Hyo Hee sudah mau memukul Kai, sementara Kai sudah bersiap-siap menerima pukulan tangan mungil itu.

Hening.

“Euhmm, jjinja?” Hyo Hee tiba-tiba berucap.

“Hah?”

“Gaun… ani, benarkah aku cocok dengan warna lembayung?”

“Sangat! Aku menyukainya. Kenapa?”

“Entahlah, kupikir aku hanya cocok dengan warna biru muda atau putih.” Hyo Hee berguman.

Kai hanya menganggukkan kepalanya, “Ngomong-ngomong kau sangat menyukai pantai?”

Ne. Pantai itu indah, aku sangat suka melihat sunset. Di mataku pantai adalah tempat yang cerah dan ceria… ya! Kau mendengarkan tidak sih?!”

Hyo Hee melotot marah ke arah Kai, namja itu sudah berjalan jauh di depannya sambil menelepon. Membuatnya curiga.

_

Hari Kamis…

Hyo Hee berjalan cepat di lorong kampusnya. Jadwal kuliahnya sangat padat di hari Kamis.

“Hyo Hee! Chankaman!”

Dari belakang belari kecil Sulli berusaha menyusul gadis itu. Mendengar namanya di panggil Hyo Hee memperlambat langkahnya bukan berhenti.

“Bagaimana hari-harimu? Sudah 2 hari kau tidak ada kabar. Kemana saja kau?”

Sulli langsung memberondongnya dengan pertanyaan begitu gadis itu berhasil menyamai langkah Hyo Hee.

“Memantau cafe, dan berjalan-jalan bersama Kai, ya, Jong In kalau kau bingung.”

Hyo Hee menjawab ringan tanpa beban. Membuat Sulli tertegun sejenak.

Bukankah sahabatnya ini masih terlihat tidak suka dan berapi-api kalau namja bernama Jong In itu sudah kehilangan akalnya Senin lalu. Kenapa sekarang ia terlihat biasa saja tanpa beban saat ini?

Mwo?”

Rupanya Hyo Hee melirik ke arah Sulli karena tidak kunjung membalasnya, melainkan ia mendapati raut wajah bingung dari Sulli. Seakan ia mengatakan hal yang salah.

“Kau Hyo Hee kan?”

“Tentu saja. Kau kenapa sih?” Hyo Hee menatap Sulli, menyangka kalau sahabatnya itu mungkin amnesia.

“Kau tidak keberatan di ajak berjalan-jalan dengan Jong In?”

Hyo Hee dan Sulli berjalan memasuki ruang kelas bersamaan, menaiki tangga dan memilih tempat duduk di bagian tengah.

“Tidak, kenapa?”

Hyo Hee mengeluarkan notes-nya meletakkannya di atas meja.

“Bukankah kau tidak menyukai Jong In? Bukankah kau bilang begitu Senin lalu?”

“Kai saja, jangan Jong In…”

Hyo Hee tidak menjawab pertanyaan Sulli, ia sendiri tidak sadar sampai Sulli mengajukan pertanyaan tersebut.

Sulli hendak protes mengapa Hyo Hee repot-repot mengoreksi panggilan Jong In menjadi Kai, sayangnya sang dosen sudah berjalan memasuki kelas. Membuat Sulli bungkam seketika.

_

Kelas sudah berlangsung selama setengah jam, beberapa mahasiswa bahkan sudah menguap menahan bosan.

Sedangkan Hyo Hee hanya bertopang dagu, pikirannya melayang bingung. Benar yang di katakan Sulli, bukankah Senin lalu ia masih menganggap Kai menyebalkan? Kenapa kemarin ia tidak merasakan perasaan sebal itu? Sebaliknya Kai terlihat menyenangkan sekarang… dan di pikir-pikir, hari ini Kai belum menghubunginya sama sekali. Tanpa sadar Hyo Hee mengerutkan dahinya.

-:Hyo Hee:-

Aku dan Sulli berjalan keluar kelas bersamaan, sesudah ini masih ada kelas, dan kami berjalan cepat di lorong – tidak ingin terlambat.

Drrt.. Drrt..

Kurasakan  ponselku bergetar dari dalam tas selempangku. Aku membuka resleting tas, dan mengambil ponselku yang terselip di dalam notes.

Kai? Nama itu yang langsung ada di pikiranku, siapa lagi yang sedang rajin-rajinnya mengangguku minggu ini kalau bukan namja itu. Tanpa melihat siapa peneleponnya aku mengangkatnya.

Yeobseo?” aku menempelkan ponsel ke telingaku.

“Hyo Hee! Akhirnya ada yang mengangkat teleponku.” Terdengar suara bernada lega dari seberang.

Aku mengernyitkan dariku. “Chanyeol?”

“Siapa lagi pemilik deep voice sepertiku?” jawabnya penuh percaya diri.

“Heuh! Mau apa kau meneleponku?” aku menjawab datar.

“Dingin sekali…. aku sudah ada di kelas, kalian di mana? Tidakkah kau tau aku sudah meneleponmu dan Sulli secara bergantian dari 15 menit yang lalu?”

Ya! Park Chanyeol! Aku dan Sulli masih di kelas tadi, kau lupa, hah, tidak semua mata kuliah yang kau ambil sama denganku ataupun Sulli! Dasar tidak ada kerjaan.”

Aku memutuskan sambungan detik itu juga, melihat ke arah layar ponselku. Ada pemberitahuan panggilan tak terjawab… aku membukanya, detik berikutnya aku melotot. Namja itu sudah menelepon sebanyak 10 kali, ckckck.

“Ada apa dengan Chanyeol?” Sulli yang berada di sebelahku bertanya.

Tentu saja ia tidak tahu, bagaimanapun aku tidak men-loudspeaker percakapanku tadi.

“Manusia itu menanyakan di mana kita, dia sudah di kelas. Tidak lupa kebodohannya, ia menelepon kau dan aku secara bergantian dari 15 menit yang lalu. Lupakah dia kalau kita masih di kelas. Ck.”

Begitu mendengar penuturanku ia membuka tasnya dan mengambil ponsel, “Ahahaha, kau benar.”

Aku menggelengkan kepalaku menanggapi Sulli sambil lalu. Tanganku mengusap pelan layar ponselku, kemana namja itu? Aneh sekali ia tidak muncul…

_

Kakiku melangkah keluar kelas dengan cepat. Akhirnya kuliah selesai juga.

“Kemana manusia itu?” kembali aku membuka ponselku.

Nugu?” Chanyeol yang berada di sebelahku menoleh dengan wajah penasarannya.

“Eh?” aku terdiam.

Ya! Kenapa aku jadi memikirkan namja itu? Huah ada apa dengan otakku sekarang? Lupakan Hyo Hee, lupakan. Hah….

“Kai?” Sulli berkata di sebelahku, aku memandangnya, “Wae? Benar kan?”

Aku tidak berminat menjawab pertanyaan Sulli.

“Kai? Siapa lagi? Namjachingu-mu?” kali ini Chanyeol kembali bertanya.

Hah, kenapa sih dia selalu ingin tahu.

Aniyo!”

“Dia hanya namja yang mendekati Hyo Hee, yang waktu itu aku ceritakan padamu.” Sulli menimpali.

“Yang di benci Hyo Hee?”

Sejak kapan mereka jadi sahabat bergosip? Aku memandang kedua orang yang sudah mendahuluiku di depan.

“Betul, tapi sepertinya sudah tidak lagi.”

Mwo?”

“Kau ini. Baru saja benar menjawab. Maksudku…”

Heuh mereka ini… aku menendang kerikil yang berada tak jauh dariku. Kami baru saja menginjakan kaki di halaman kampus.

“Tidak membencinya lagi?”

Mwo? Apa yang mereka bicarakan sebenarnya? Aku mengkonsentrasikan diriku pada percakapan mereka, berhubung akulah yang sedang mereka bicarakan.

Sulli menganggukkan kepalanya, “Buktinya kau lihat, kan, Hyo Hee melihat ponselnya tadi? Sudah pasti dia menunggu teleponnya.”

Ish, aku hanya menatap tajam punggung kedua orang itu. Sekarang aku berharap frasa tatapan bisa membunuh menjadi nyata, setidaknya aku ingin memberi mereka pelajaran.

Chankaman. Katamu Hyo Hee sempat membencinya? Kalau begitu kapan mereka bertukar nomor?”

“Heum, kau ada benarnya juga…” Sulli menimpali.

Aku berpikir sejenak, menyerap percakapan mereka. Benar juga, kalau di pikir-pikir aku tidak pernah bertukar nomor dengan Kai. Biasanya dia yang selalu tiba-tiba muncul. Babo! Kenapa tidak terpikir? Lebih babo lagi kenapa kau malah memikirkannya Lee Hyo Hee! Aku menggertakan gigiku.

Drrt… Drrt..

Aku melihat ponsel yang ternyata masih aku genggam. Nomor tak di kenal? Heuh, tidak berguna. Aku langsung memutuskan sambungan.

Drrt.. Drrt..

Nomor itu lagi, aku memutuskannya lagi.

Drrt… Drrt..

Ya! Siapa sih?! Akhirnya aku mengangkat juga telepon itu.

YA! NUGUSEYO?”

“Tahan, tahan. Ini aku chagi.”

Terdengar suara dari sebrang. Chagi? Hanya satu orang yang memanggilku chagi.

“Kai?”

“Siapa lagi ahaha.”

Tunggu, seperti kenyataannya aku tidak pernah bertukar nomor dengan Kai. Lalu dari mana dia mendapatkan nomorku?

“Dari mana kau mendapatkan nomorku?”

“Tidak tahu ya… ngomong-ngomong di mana kau?”

Aku memutar bola mataku kesal, malas berdebat lebih lanjut, aku langsung menjawab pertanyaannya, “Di halaman kampus, wae?”

“Aku tidak melihatmu. Kalau kau ada di halaman, ppali! Aku menunggu di gerbang. Kita akan pergi ke Namsan Park.”

“Hah? Ke taman? Sesore ini?” aku melirik jam tanganku, pukul 3 sore.

“Tentu, aku mendengar pemandangan senja kota dari Namsan Park sangat indah, kau menyukainya kan? Kita juga bisa ke Namsan Tower.”

“Oh, aku baru dengar… baiklah aku ke sana.”

“Kutunggu, chagi.”

Aku melepaskan ponsel dari telingaku, mengakhiri panggilan. Aku berlari kecil menuju gerbang yang sudah tidak jauh. Kulihat siluet Kai sedang bersandar pada mobilnya.

“Mau kemana kau Lee Hyo Hee!”

Sulli dan Chanyeol berteriak bersamaan di belakangku yang sudah mendahului mereka. Aku menoleh ke belakang.

“Pergi! Daripada mendengar kalian bergosip!”

“Ke mana?”

Aku langsung berbalik, berjalan menuju mobil Kai, mengabaikan Chanyeol dan Sulli.

“Ke mana saja kau seharian ini?” aku bertanya begitu sampai di hadapannya.

Wae? Kau merindukanku?” ia tersenyum ke arahku.

“Tidak, hanya penasaran saja. Pe-na-sa-ran!” aku sengaja menekankan kata penasaran, mengejanya agar lebih jelas. Namja ini selalu saja penuh kepercayaan diri.

“Ada beberapa urusan yang harus aku urus saja. Ayo, sudah sore. Kau ingin melihat pemandangan yang aku ceritakan, ne?”

Ne.”

_

Daebak….”

Aku memandang ke arah langit, pemandangan sunset – senja kota Seoul yang bagus tersaji di hadapanku.

“Kau tahu dari mana, indah sekali.”

Aku menengok ke arah Kai yang berada tepat di sebelahku. Namun bukannya menjawab, ia malah diam. Menatapku lekat seperti saat pertama kali bertemu.

“Hei?!”

Aku melambaikan tanganku di depan wajah Kai, berusaha mengusiknya.

-:Kai:-

Hyo Hee, wajahnya yang tersenyum kembali menawanku, matanya berbinar melihat ke arah langit. Entah kenapa dia terlihat begitu cantik. Aku merasa sebagai manusia paling bahagia dengan bisa jatuh cinta pada gadis ini, aku merasa beruntung bisa mengenalnya, dan aku juga senang mengingat kenyataan aku melihat fotonya di ruang kerja Mr. Lee.

“Hei?!”

Aku mengerjapkan mataku, tangan Hyo Hee melambai tepat di depan wajahku, sepertinya aku melamun.

Ne?”

“Heuh! Ke mana saja pikiranmu dari tadi? Aku bertanya dari mana kau tahu tempat ini?”

Ia berkacak pinggang kesal di hadapanku. Tidak menghiraukan pertanyaannya. Tanganku menariknya mendekat ke dalam pelukanku, melihatnya di dekatku… aku selalu ingin memeluknya.

Aku melihat wajahnya yang berada dekat denganku. Wajah rupawan yang telah menarik perhatianku. Kulihat dia mengigit bibirnya.

Ya! Tidak tahukah dia aku ini seorang namja. Aku benar-benar jatuh untuknya. Perlahan aku menundukkan kepalaku.

-:Hyo Hee:-

Degh.

Dia memelukku!

Wajahku dan wajahnya dekat sekali, refleks aku mengigit bibirku gugup. Hah, kenapa aku harus terperangkap dalam keadaaan seperti ini? Bagaimana ini? Jantungku sudah melompat tidak karuan dari tempatnya, kakiku pun lemas seketika. Lebih parah lagi, Kai – namja itu malah menundukkan kepalanya mendekat.

Huahh apa ini? Kiss?! Aku memejamkan mataku rapat-rapat, kalau aku pingsan sekarang aku tidak heran. Rasanya semua organ tubuhku bekerja lebih cepat dari biasanya.

Hening. Begini kah? Aku sudah pingsan? Tidak, kau tidak pingsan Hyo Hee. Buktinya kau masih bisa merasakan embusan nafas Kai di pipimu. Ah… matilah aku. Detik-detik serasa berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Kurasakan, ya, Kai semakin mendekat…

Chu~

Otakku blank seketika, tanganku yang masih lemas perlahan terangkat meraih dahiku. Perlahan aku membuka mataku. Hal yang menyambutku adalah punggung Kai.

“Ayo kita ke Namsan Tower. Sudah mulai gelap.”

Ia berjalan menuju mobil tanpa menungguku.

-:Author PoV:-

“Nanti kau akan ke cafe? Hmm, baiklah.”

Hyo Hee menarik ponsel dari telinganya, ia menatap layar ponselnya sejenak.

YA!” ia langsung menaruh ponselnya di atas meja kasir.

Detik berikutnya ia sudah berjongkok di balik meja kasir, tangannya memegang dahinya –mengingat kembali saat bibir namja itu mendarat di dahinya, seketika pipinya memanas.

Eottoke?” Hyo Hee menepuk-nepuk kedua pipinya, berharap sensasi panas yang singgah di pipinya akan hilang.

Cring… Cring…

Eoseo oseyo!” Hyo Hee segera berdiri, menyelipkan rambutnya ke balik telinga. Ia langsung menghampiri pelanggan yang baru datang itu.

Annyeong Hyo Hee.”

Sebuah senyum lebar yang menjadi ciri khas itu.

“Chen, apa kabar?” Hyo Hee tersenyum ke arah namja itu.

“Baik, kau yang ke mana saja, beberapa hari ini kau tidak ada di cafe.”

“Itu, aku sedang banyak kegiatan saja. Ternyata kau masih setia dengan cafe ini. Hehehe, gomawo ne.” Hyo Hee memberikan Chen buku menu.

Seperti biasa Chen akan memesan dan Hyo Hee akan kembali menuju meja kasir.

Tring…

“Pesanan sudah jadi!”Ji Hoo berkata setelah beberapa menit.

Hyo Hee langsung mengambil nampan dan membawa pesanan Chen ke mejanya.

Igo, selamat menikmati.”

Hyo Hee berbalik memeluk nampan, baru ia akan berjalan.

“Hyo Hee, saranghae…”

Tangannya kemudian di tarik, detik berikutnya ia sudah ada dalam pelukan Chen.

Sementara itu di sisi lain…

Kai mengemudikan mobilnya ringan. Tujuannya? Sudah pasti cafe Hyo Hee. Tangannya mengetuk-ngetuk ringan setir mobil sesuai irama lagu yang sedang berputar dari radio.

Matanya melihat papan nama Sweet Cynical yang semakin dekat. Kakinya menginjak rem begitu sampai di depan pintu cafe itu. Ia baru akan berjalan masuk, tangannya baru saja akan mendorong pintu. Baru sedikit ia mendorong pintu itu ujung pintu baru menyentuh bel, tangannya terhenti.

“Hyo Hee, saranghae…”

Ia seketika mendongak, melihat Hyo Hee yang berada dalam pelukan Chen. Jantungnya serasa berhenti seketika. Perlahan ia melepaskan tangannya dari pintu, membuat ujung pintu kembali menutup namun membuat bel berbunyi.

Seketika Hyo Hee melepaskan pelukan Chen, menatap kaku ke arah Kai. Hyo Hee langsung berjalan menghampiri Kai yang berada di luar. Kakiknya melangkah cepat, mengabaikan Chen yang mengikutinya dari belakang.

Hyo Hee menatap Kai, mata namja itu seakan dingin – tidak terbaca. Membuat semua kata-kata penjelasan tercekat di tenggorokannya.

“K..Kai..” hanya kata itu yang berhasil lolos dari mulutnya.

Sebuah senyum tipis terbuat di wajah Kai, namja itu lalu berbalik, berjalan menuju mobilnya.

“Tunggu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan. YA! Tunggu!”

Hyo Hee sudah akan berlari menyusul Kai, namun seseorang menahan pergelangan tangannya. Hyo Hee sudah berusaha menarik tangannya, namun sia-sia. Ia hanya bisa menatap sebagaimana sosok itu kembali masuk ke mobilnya dan menghilang.

Perlahan dingin merayapi tangan dan kakinya, membuatnya tidak bisa menopang diri. Hanya pegangan Chen yang membuatnya berdiri. Seumur hidupnya baru kali ini ia mengalami peristiwa seperti ini. Bingung, marah, putus asa, semuanya menjadi satu.

-:Kai:-

Begitu melihat Hyo Hee di peluk oleh Chen, aku langsung berjalan mundur. Melihat Hyo Hee yang langsung berjalan menyusulku membuatku lega. Tapi tetap saja…

Aku memberhentikan mobilku yang melaju cepat meninggalkan cafe, berhenti di pinggir.

DAGH

Aku memukul setir mobil.

Tenanglah Kim Jong In. Aku memijat pelipisku, menenangkan diriku.

Merasa diriku sudah cukup tenang, aku mengambil ponselku. Menekan sebuah kontak.

Yeobseo, sepertinya ada perubahan rencana. Begini…”

Aku menjelaskan kejadian tadi pada orang di sebrang sana.

Ne.”

Memutuskan telepon aku memacu mobilku lagi, kali ini menuju airport.

-:Hyo Hee:-

Aku menangkupkan kepalaku di meja cafe.

Perasaanku kacau balau. Jantungku berdenyut menyakitkan. Kau kan tidak menyukai namja itu, tapi kenapa melihatnya pergi tadi kau langsung begini?! Aku mencoba mencari jawaban namun nihil.

Aku merindukan kehadiran namja itu.

“Hah…”

Ini benar-benar membuat frustasi! Kai! Chen! Heuh…

Berpikir tentang Chen….

::FLASHBACK::

Aku memandang kepergian Kai, melihat mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan cafe.

“Hyo Hee…”

Suara Chen membuatku kembali meyadari, bahwa aku masih memiliki urusan dengannya,

Mian… Mianhae Chen…”

Aku sudah kembali berhadapan dengannya mencoba melihat wajahnya, namun akhirnya aku menghindari kontak mata dengannya. Memilih melihat pintu cafe ataupun jam tangan yang di kenakannya, atau apapun yang menghindarkan kontak mata.

Wae…” tanyanya padaku.

“Aku tidak bisa menerima perasaanmu.”

Kali ini aku benar-benar menundukkan kepalaku, lebih memilih melihat ujung sepatuku. Melihat ekspresi terluka dari wajahnya sekilas membuatku tidak enak.

“Bukan, kenapa bukan aku melainkan namja itu…”

“Eh?”

Pernyataannya sukses membuatku mendongak.

“Kau menyukai namja itu. Hmm, mencintainya?”

Mwo?”

Sungguh aku tidak mengerti, jawaban berupa pertanyaan satu kata yang terus meluncur dari bibirku.

“Tatapamu, reaksimu… semuanya menandakan dia berarti bagimu.”

Chen mengusap puncak kepalaku, lalu berbalik pergi. Tapi aku masih memiliki pertanyaan…

Aku melihat sosok Chen yang semakin menjauh.

Tanya. Tidak. Tanya. Tidak. Ish!

“Chen! Sejak kapan kau menyukaiku?” pada akhirnya aku memberanikan diri berteriak sebelum sosoknya menghilang.

“Dari pertama aku datang ke cafe-mu. Kau saja yang tidak menyadarinya Hyo Hee…”

Kali ini sosok itu benar-benar hilang di telan kerumunan.

::FLASHBACK END::

Trak.

Kulihat Ji Hoo meletakkan secangkir hot chocolate di dekatku. Aku memandang cangkir itu tanpa minat.

“Hah…” aku kembali menghela nafas.

Cring… Cring…

YA! Hyo Hee, kami pikir kami tidak akan bertemu denganmu!”

Chanyeol?

Aku mendongakkan kepalaku, ternyata yang baru datang adalah Chanyeol dan Sulli. Merasa mereka tidak terlalu penting aku kembali menidurkan kepalaku di meja.

Bagaimana ini? Sekarang aku harus bagaimana pada Kai? Ia tidak meneleponku, padahal sudah lebih dari 3 jam setelah kejadian tadi siang.

“Hah…”

Pegal dengan posisiku aku membalikkan kepala.

“Huah!” aku berjengit, duduk tegak seketika.

Chanyeol ternyata sudah duduk di sebelahku dan ikut menidurkan kepalanya di meja. Sehingga saat aku berbalik membuatku menatap muka Chanyeol.

“Kau mengagetkanku saja…” aku mengelus dadaku, kurasakan jantungku berdetak cepat karena terkejut.

“Kau kenapa?” kudengar suara Sulli, rupanya dia sudah duduk di hadapanku.

“Ah…” memikirkan kejadian tadi lagi, mengingat detailnya langsung membuatku frustasi dan kesal. Mataku  memanas.

Sepertinya aku harus bercerita. Maka aku bercerita mulai dari Kai yang meneleponku mengatakan akan datang, lalu Chen yang datang, sampai Chen yang tiba-tiba menyatakan perasaan dan memelukku, sampai dengan Kai yang menatap dingin – ya!

Kurasakan setetes air mata lolos dari mataku. Aku mengusapnya kasar. Mengingat dan menceritakan semuanya dengan detail membuatku frustasi!

“Kau tidak menghubunginya?” Sulli menyarankan.

“Tidak bisa!” aku menunjuk ke arah ponselku yang sudah tergeletak manis di lantai dekat dengan kaki meja tempat  menaruh pot bunga.

“Sadis sekali.” Chanyeol berguman.

“Bagaimana tidak! Aku bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan dan namja sialan itu tidak bisa di hubungi!”

Nafasku benar-benar tersengal.

_

“Hoam..” aku berjalan menuruni tangga, tanganku menggosok kepalaku dengan handuk – mengeringkannya.

Sabtu pagi yang sepi, aneh. Aku mencoba mencari keberadaan appa dan eomma. Ruang tengah, dapur, bahkan di taman pun tidak ada. Karena merasa sia-sia mencari di seluruh pelosok rumah yang besar sendirian aku menyerah.

Aku beranjak kembali ke kamarku, mengambil ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidurku.

Mencoba menghubungi eomma ataupun appa. Lebih mudah dan cepat daripada mencari-cari seisi rumah.

‘Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.’

Hah…

Aku membaringkan diriku di ranjang, menatap ponselku. Ke mana semua orang?  Masa mereka mau mengikuti jejak Kai dengan tidak bisa di hubungi. Mengingat nama Kai aku belum mencoba menghubunginya lagi sejak bertemu Chanyeol dan Sulli.

Aku mengigit bibirku ragu, menatap ponselku yang sudah memunculkan nomor Kai di layar. Telepon tidak? Bagaimana kalau ia masih tidak bisa di hubungi? Tapi aku masih banyak pertanyaan dan belum marah pada namja itu.

‘Tut.. tut..’

Ya… pada akhirnya aku mencoba menghubungi namja itu.

‘Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.’

YA! Aku langsung bangkit dari ranjang. Tanganku sudah berada di atas, bersiap membanting ponselku. Menyebalkan sekali! Ke mana orang-orang?! Tidak bisakah mereka tidak membuatku uring-uringan?

Ting.. Tong..

Aku terdiam membeku.

Ting.. Tong..

Tap, tap, tap.

Aku berjalan cepat menuju pintu, berharap eomma atau appa yang datang.

Cklek.

Nugu?”

Aku memandang sosok namja di hadapanku. Matanya yang bulat besar, di mana aku pernah melihatnya? Sepertinya aku mengenalnya…

“D.O, kau tentu pernah melihatku di ruang kerja Kai.”

Ah, benar sekali! Kenapa aku bisa lupa? Tapi aku memang tidak mengetahui namanya sih.

“Ada apa?”

“Ikut aku.”

Detik berikutnya dia berhasil membujukku masuk ke dalam mobil dengan janji bahwa aku akan mendapatkan penjelasan dan bertemu Kai.

_

Aku berjalan mengikuti D.O keluar dari airport.

Sesudah D.O  berhasil membujukku untuk ikut dengannya, dia membawaku ke airport. Tanpa bicara ia langsung menyeretku masuk, membuatku bertanya-tanya. Namun sekarang aku tercengang. Begitu keluar dari pesawat, pemberitahuan selamat datang ke Pulau Jeju langsung terdengar.

“Kita mau ke mana sebenarnya?” aku memasangkan seatbealt dan duduk di kursi penumpang.

“Ke villa pribadi keluarga Kim.”

Hanya jawaban singkat padat dan kurang jelas yang aku dapatkan. Berpikir aku tidak akan mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari orang di sebelahku ini aku diam selama perjalanan, menunggu saja apa yang ada akan aku hadapi.

-:Author PoV:-

“Nona, silahkan pakai ini.”

Seorang pelayan menyodorkan sebuah gaun berwarna pink pucat kepada Hyo Hee, begitu Hyo Hee sampai ke sebuah kamar di villa. Hyo Hee yang tidak mengerti hanya menerima gaun itu dan menggantinya.

Kejutan lainnya datang, tidak cukup dengan gaun, pelayan wanita yang memberikannya gaun mulai mengikalkan rambutnya.

Setelah satu jam Hyo Hee sudah selesai. Tantanan rambut, make up tipis, gaun, dan sepatu, semuanya lengkap menempel pada tubuh Hyo Hee.

“Nona, Anda sudah di tunggu oleh tuan di halaman.”

Setelahnya, pelayan tersebut pergi meninggalkan Hyo Hee yang masih bertanya-tanya ada apa ini, siapa tuan muda, dan sebagainya. Tidak memiliki pilihan lain, Hyo Hee mengikuti petunjuk dan berjalan menuju halaman.

Matanya terpana begitu sampai di halaman, sebuah gazebo yang di hias membuatnya terpana. Lampu-lampu putih kecil yang menghiasi gazebo itu sangat indah. Setelah selesai mengangumi gazebo tersebut, matanya melihat sesosok namja. Namja itu memunggunginya, tampaknya namja itu sedang melihat pemandangan malam pantai yang tersaji di depannya.

Hyo Hee berjalan mendekat, melihat punggung namja itu ia yakin siapa sosok itu. Perlahan ia ikut berdiri di sampingnya.

“Ke mana saja kau? Menghilang begitu saja. Aku bahkan tidak sempat menjelaskan.” Hyo Hee berucap, ya – namja itu adalah Kai.

“Ke sini tentu saja.” Tangannya menunjuk ke tanah, “… kau tidak perlu menjelaskan aku sudah tahu.” Kemudian Kai melanjutkan.

“Tahu apa?”

“Semuanya.”

“Chen menyatakan perasaannya padaku…”

Ne.” Kai menyela.

“Jangan menyela! Tapi bukan aku yang memeluknya, aku pun terkejut. Saat aku mau  menyusulmu kau langsung pergi! Lagipula aku…”

“Kau menolaknya. Aku sudah tahu.” Kai memotong perkataan Hyo Hee.

“Dari mana kau tahu aku akan menolak Chen? Lalu kenapa kau pergi?!” Hyo Hee menarik tangan Kai sehingga mereka berhadapan sekarang.

“Dari tatapan matamu. Kau hanya menyukaiku….” Kali ini Kai terkekeh.

“Percaya diri sekali kau!” Hyo Hee menatap tajam ke arah Kai, ia membalikkan tubuhnya hendak pergi.

Ia kesal sekali, bagaimana dia sudah takut namja itu marah. Ternyata namja itu tidak marah, lebih terlihat hanya ingin membuatnya panik semata.

“Mau ke mana?” Kai bertanya.

Hening.

Wae? Kau marah.” Ucap Kai santai.

Hyo Hee mengepalkan tangannya, “Tentu saja! Kau pergi begitu saja, membuatku resah karena mengira kau marah padaku! Kau sudah tahu semuanya, tapi kenapa kau pergi tanpa penjelasan dan tidak bisa di hubungi! Sekarang kau bercakap santai seperti tidak ada apa-apa. Kau mempermainkanku ya?!” Hyo He melangkahkan kakinya pergi.

Grep.

Kai menahan tangan Hyo Hee, sedangkah Hyo Hee berusaha menarik tangannya.

“Tapi seandainya kau menerima Chen, aku akan merebutmu kembali… aku belum menyelesaikan kalimatku tadi, chagi.”

Hyo Hee terdiam menghentikan perlawanannya, Kai melanjutkan.

“Kalau kau marah karena aku pergi aku bisa jelaskan, bagaimanapun aku cemburu melihatmu dalam pelukan namja lain. Daripada aku marah di depanmu kupikir lebih baik aku pergi saja, ponsel? Aku berada di pesawat kau tahu dan aku lupa menyalakannya sekarang karena mengurus hal-hal.”

“Hal-hal?” Hyo Hee berbalik menghadap Kai.

Ne, kau akan mengetahuinya nanti. Sekarang aku penasaran, kau resah karena mengira aku marah padamu?” Kai mengeluarkan smrik-nya.

-:Hyo Hee:-

Degh.

Sekujur tubuhku langsung kaku mendengar pertanyaan Kai. Sial kenapa dia harus menyadari kalimat itu.

“Kau menyukaiku?” Kai kembali berkata.

Skakmat.

“Ya, aku menyukaimu! Bahkan mencintaimu kau puas?!” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku, membuatku menyesalinya. Aku menundukkan kepalaku.

‘Kau menyukainya… mungkin mencintainya, Hyo Hee.’

Kata-kata Sulli langsung menyergap otakku. Setelah pulang dari cafe, Sulli langsung meneleponku dan mengatakan hal itu, langsung begitu aku mengangkat panggilannya dan langung memutuskan hubungan detik berikutnya. Perkatannya membuatku merenung semalaman. Pada akhirnya aku mengakui dan menyadari, bahwa aku jatuh cinta padanya. Dia berhasil membuatku jatuh cinta padanya. Dia menang.

Aku merasakan pergerakan Kai, dari posisiku yang masih menunduk aku melihat dia berlutut. Melihat posisinya yang aneh aku langsung mendongak.

Kai, dia berlutut, tangannya memegang cincin.

“Lee Hyo Hee, menikahlah denganku.”

Kai mengambil tanganku, melihat ke arahku. Aku menganggukkan kepalaku. Kurasakan benda dingin itu telah terpasang di jari manisku.

“Aaa! Kai!”

Ia dengan cepat mengangkatku, memutar-mutarku di udara seperti anak kecil.

Saranghae Hyo Hee.”

Nado saranghae .”

_

“Saya sahkan kalian sebagai suami istri.”

Aku dan Kai berdiri berhadapan.

“Kenapa bisa ada pesta semeriah ini?”

Akhirnya aku bisa menanyakannya.

Pagi-pagi aku sudah di kagetkan dengan kehadiran eomma yang membangunkanku. Menyeretku pergi ke tempat rias pengantin. Ternyata setelah di jelaskan eomma selama diriku di dandani, sebenarnya hanya akulah yang tidak tahu apapun. Eomma dan appa serta semua keluarga juga tamu undangan sudah berada di Jeju sejak Jumat malam, dan acara pernikahan yang baru aku tahu ini ternyata di urus oleh Kai.

“Tentu karena aku sudah menyiapkannya dari hari Senin. Kita pasti menikah.”

“Ya! Yakin sekali, bagaimana kalau aku tidak mencintaimu dalam waktu 7 hari? Dan bagaimana kau bisa, tempat – di pantai, dan… gaunku juga bukan gaun sederhana. Kapan kau mengurus semua ini?”

“Tidak mungkin kau tidak jatuh cinta padaku. Kenyataannya kau sudah mencintaiku bukan?” ia tersenyum, membuat pipiku panas.

Ia melanjutkan, “Soal tempat kau pasti ingat saat aku menelepon dan mengabaikanmu di pantai tempo hari. Gaun? Kau tidak ingat aku pernah membawamu ke butik? Hari Kamis? Urusan yang harus aku urus adalah pernikahan kita, juga selama aku menghilang. Inilah hal-hal yang kau pertanyakan…”

Ia tersenyum ke arahku.

“A..ap..”

Seketika itu bibirnya menciumku, membungkamku dari berbagai bantahan yang ingin aku ucapkan.

The End

14 thoughts on “[FF Writing Contest] In 7 Days, Let’s Get Married

    • Aishhh ><, Kai memang so sweet #abaikan
      And I Will keep writing of course ^^ – banyak imajinasi yang harus di tumpahkan #pletak
      Ehehehe, gomawo commentnya #deep bow😄

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s