[FF Writing Contest] Lies Ending

ab2img1373773059598

Title : Lies Ending

Author : iki

Main Cast :

  • Kim JongIn / Kai (EXO K)
  • Jung YeeNa (oc)

Support Cast : find it by your self

Genre : Romance, angst

Rating : PG13

Disclaimer : the casts belong to god and their family and this fanfiction is mine. This is pure my imagination.

 

 

–Lies Ending—

 

Sebuah cermin dengan pantulan seorang gadis di dalamnya. Yang tampaknya tengah merapikan helaian rambut yang dibiarkan begitu saja. Tanpa diperlakukan secara aneh. Seperti mengikatnya atau yang lainnya yang dapat merusak kecantikan alaminya. Kali ini dia tengah memperhatikan dirinya sendiri. Mulai dari kaki hingga bagian atas. Semua merata. Tapi saat dia sampai pada bagian wajah dia menghentikan kegiatannya sejenak –memperhatikan seluruh bagian tubuhnya– dan berhenti pada titik itu. Memfokuskan diri melihat penampilan wajah hingga tatanan rambutnya. Cantik. Satu kata itu sudah menggambarkannya dengan jelas. Dengan membiarkan rambutnya terjuntai dan jatuh begitu saja. Tak tepat seperti pengggaris karena rambutnya memiliki gelombang di beberapa bagian. Dan itu terbentuk secara alami. Sealami saat dia tersenyum. Terbentuk sebuah simpul yang sangat manis. Menghiasi setiap inci wajahnya. Meski tak terlalu banyak polesan pada wajahnya dia tetap terlihat …. seperti itu. Sama, tak berubah. Diibaratkan bila seseorang memiliki kecantikan alami menggunakan apapun dia akan terlihat sama, bahkan sekalipun dia hanya menggunakan sesuatu yang paling sederhana sekalipun. Dia akan terlihat sama. Tetap cantik. Takkan tersamarkan.

Kali ini dia sudah tak memperhatikan wajahnya lagi melainkan bersiap meninggalkan tempatnya. Mengambit tas yang senada dengan warna bajunya. Pink magenta. Meski tak selaras dengan warna kulitnya yang putih. Dengan dipadukan setelan jeans dibawahnya. Sederhana. Sesederhana kepribadiannya. Gadis cantik dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya mulai melangkah menuruni anak tangga satu persatu dan menemukan seseorang yang tengah berdiri menatapnya dengan pandangan yang hanya dia yang mengerti. Tapi dia membalas pandangan itu hanya dengan mengendikkan bahunya.

“cepat berangkat sebelum kau terlambat !.”

“ne. eomma.” Ucapnya pada wanita yang dipanggilnya eomma. Dia tersenyum dengan sangat manis membuat eommanya memberikan senyuman yang hangat padanya setelah sebelumnya dengan berkacak pinggang memberikan ekspresi murka karena putrinya terlalu lama berdandan padahal putrinya sibuk mengagumi dirinya didepan cermin besar miliknya.

Kali dia sudah bersiap memasuki areal pelataran depan namun langkahnya terhenti dan mulai berbalik kembali kearah eommanya.

“ada apa lagi?” Tanya nyonya Jung lembut pada putrinya yang tak kunjung meninggalkan rumah. Namun dibalas cengiran memuakkan dari putri bungsunya.

“he…. Scarfku ketinggalan eomma. Cuaca cukup dingin, jadi aku akan mengambilnya terlebih dahulu.” ucapnya santai meninggalkan eommanya yang sedang sibuk menggelangkan kepalanya melihat tingkah putrinya.

“eomma aku berangkat” ucap gadis itu senang kerena akhirnya dia berangkat setelah mencari scarf selama setengah jam di kamarnya yang ternyata berada di sofa ruangan tengah. Itu terjadi ditengah keputusasaannya mencari scarf kesayangannya yang berwarna cream dengan motif bintang kuning muda atau mungkin bisa dikatakan dia sudah menyerah mencarinya dan akhirnya memilih ke ruang tengah utntuk duduk sebentar disofa. Namun keberuntungan menghampirinya ketika dia sedang duduk dia merasakan sesuatu yang aneh pada sofanya. Lalu dengan begitu saja dia menemukan scarf tercinta yang merepotkan itu.

“ada pesan ?” tanyanya pada eommanya sambil mengibas-ngibaskan scarf miliknya pada eommanya.

‘kekanakan’ mungkin itu yang tengah dibatin eommanya untuk putri tersayangnya.

“katakan pada eonnimu sering-seringlah pulang dan juga jangan lupa bawakan MooRyeongie, cucuku. Ah.. satu lagi jangan menyusahkan eonnimu. Mengerti Yena.” Terdengar lembut dan perhatian awalnya namun pada akhirnya terdengar nada otoriter pada kalimat terakhirnya. Yena-gadis yang tengah diberi pesan oleh eommanya- merengut akibat ucapan eommanya. Dia bukanlah gadis kecil yang nakal yang dengan senang hati merecoki eonninya.

“ara.. kalau begitu aku pergi dulu eomma sebelum jam menunjuk angka sembilan, karena hyera eonni akan berteriak padaku jika aku terlambat lagi.” Dia mengucapkannya sambil mengingat kejadian seminggu yang lalu saat dia terlambat dan diomeli eonninya habis-habisan. Mungkin tidak akan jadi masalah jika hanya ada dia dan eonninya saat itu. Itu takkan bermasalah apapun untuknya, terutama mentalnya. Tapi nyatanya eonninya berteriak, mengomel, dan berceramah sepanjang rel kereta api –tak putus-putus– dihadapan seluruh pegawai dan beberapa pelanggan yang tengah berada saat perkara. Tapi ada untungnya dia mengamuk saat masih pagi karena pelanggan masih sedikit , bagaimana jika dia mengamuk pada waktu yang salah, bisa malu setengah mati. Mungkin dia tidak akan kembali lagi ke café. Atau mungkin mengurung diri dikamar, meminta agar berhenti bekerja karena tak sanggaup menahan malu yang berlebihan pada urat-uratnya. Berlebihan memang.

“hey.. tunggu dulu..” saat yena mulai menggerakkan kakinya, pertanda bahwa dia akan segera pergi. Nyonya juang menahan tangannya.

“ada apa lagi eomma?” tanyanya berusaha sabar. Terdengar jelas dari nada bicaranya jika dia sedang kesal.

“ini…”ucap nyonya jung sambil menyerahkan sebuah benda yang berada ditangannya tadi –tapi sebelumnya berada atau lebih tepatnya tergeletak tak berdaya diatas meja– kepada yena.

“bunga … matahari..”ucap yena sedikit agak ragu melihat tampilan bunganya yang sedikit berbeda dengan  yang biasa dia lihat.

“kenapa warnanya seperti pelangi eomma? Cantik” nonya jung yang diberi pertanyaan oleh putrinya hanya menggumam tak jelas.

“ini dari siapa?” Tanya yena tanpa mengalihkan pandangannya pada bunga yang tengah dipegangnya. Dia masih takjub melihat bunga matahari yang biasanya berwana kuning kini menjadi warna pelangi dengan berbagai gradasi warnanya. Terlihat begitu menarik. siapa yang tak takjub dengan pemandangan yang unik dan aneh seperti ini. Mungkin bunga seperti itu gampang dibuat apalagi perkembangan jaman begitu canggih. Bunga matahari bisa di cat dengan berbagai warna yang dinginkan. Tapi ini berbeda tak ada tanda-tanda bahwa bunga ini telah dicat atau diberi pewarna dengan alat pewarna lainnya. Dan lagipula bodoh sekali melakukan hal tak berguna seperti itu. Merwarnai satu persatu bunga. Seperti tak punya pekerjaan saja. Benar-benar tidak penting untuk dilakukan.

“kkamjong” ucap eommanya yang seketika membuat lamunan yena hancur dan sedikit terhenyak dengan ucapan eommanya yang setengah berteriak.

“kkamjong?” Tanya yena sekali lagi memastikan pendengarannya. Dia seperti tidak asing dengan nama itu. Namu buru-buru ditepis oleh sebuah panggilan yang mengacaukan. Akibat nada dering yena yang begitu menggoncang.

Tvxq-keep your head down.

Dan panggilan itu berasal dari… tak lain dan tak bukan dari eonni tercintanya. Jung Hyera. Yang kini bermarga kim. Alias nyonya kim. Seketika Yena tersadar bahwa dia sudah terlambat. Dan pasti nasib naas akan menantinya dicafe. Dengan wajah beringsut Yena berjalan perlahan meninggalkan eommanya yang tengah bersiap memberi penjelasan tentang ‘Kkamjong’. Namun Yena tak memperdulikannya , bahkan panggilan dari eonninya pun diabaikannnya. Sesungguhnya yena tak terlalu mendengar ucapan eommanya sehingga dia tak terlihat begitu tertarik dan itu semua akibat keterlambatannya. Dia tahu dia salah.

***

Benar.

Tepat dugaan.

Yena mendapat hantaman berbagai macam omelan yang memekakan telinganya. Bahkan saat ini masih berlangsung dengan sangat awetnya. Bahkan bisa dikatakan semua ucapan eonninya sepanjang daftar belanjaan yang spongebob berikan pada tuan crab saat ulang tahun pearl putri tuan crab-. Benar-benar panjang dan menyebalkan.

“baiklah. Kali ini sesi ceramahnya kuakhiri. Jadi ingat jangan pernah terlambat lagi. Kau harus menjadi gadis yang tepat waktu dan disiplin. Itu pun jika kau ingin sukses. Jika tidak jadi gelandangan saja sana” ucap hyera pada adiknya dengan nada yang dibuat begitu sinis. Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan adiknya yang masih mematung mendengarkan akhir dari pidato panjang kakaknya yang ia pikir mungkin takkan berujung.

“huhhhh..”yena menghela nafas berat. Karena dia merasa beban hidupnya begitu berat.-berlebihan lagi-

“kejam sekali dia. Masak adiknya sendiri disuruh menjadi gelandangan. Kakak macam apa dia itu. Ryeowook oppa saja tidak begitu. Dia benar-benar tidak cocok menikah dengan Ryeowook oppa yang baik hati. Berbeda dengannya ganas. Blabalabalabal”  berbagai macam kalimat, kata-katapun keluar dari mulutnya yang setajam silet. Mengomel tak jelas. Tapi kali ini dia cukup merasa lega karena Hyera mengomelinya diruangan khusus miliknya. Sehingga tak ada yang mendengar ceramah panjang lebar yang hanya terdengar seperti dengungan ditelinga Yena. Akibat tingginya gelombang decibel yang dihasilkan oleh suara Hyera.

***

“apakah kau baik-baik saja?” Tanya salah satu pegawai disana.

“tentu saja. Hanya sedikit kekurangan konsentrasi dengarku saja”ucap Yena sekenanya.

“bisakah kau mengantar pesanan ini?”

“tentu. Aku ganti baju dulu terlebih dahulu.” Ucapnya pamit mengganti kostum.

***

“mana pesanannya?” Tanya Yena dengan senyum manis yang jelas terpatri diwajah cantiknya. Sepertinya dia sudah kembali menjadi Yena yang anggun dan tahu sopan santun dengan segala tatanannya.

“itu disana” tunjuk salah satu pelayan disana. “aku tak mengerti dengan pemuda itu dia ingin kau yang melayaninya. Tapi pesanan ini bawa kemeja sebelah sana lalu catalah pesanan pemuda itu” ucapnya ramah. Yena hanya membalas dengan senyum renyah miliknya.

***

“anyeonghaseyo.. Yena imnida. Aku pekerja freelance disini. Selamat datang di café kami.” Ucap yena ramah pada sesosok pemuda tampan yang sedang menahan tawa akibat perkenalan yena yang menurutnya berlebihan. Lalu dia memberikan daftar menu kepada pelanggannya.

“aku tak butuh daftar menu.. cukup kau yang memberi rekomendasi.. menurutmu apa yang paling enak?”

Sebelum menjawab Yena tersenyum manis. Menandakan bahwa dia setuju dengan usul itu. Paling tidak dia tidak harus menunggu lama akibat pelaggan yang terlalu lama untuk menentukan menu yang akan dipesannya. Menghemat tenaga bukan ?

“berhubung cuaca cerah pagi ini dan  waktu juga menunjukkan pukul 10 tepat. Akan lebih baik jika anda memesan hot chocolate atau hot cappuccino dan sepiring pancake. Sebagai sarapan pagi yang sederhana. Bagaimana ?” Tanyanya setelah memberikan usulan.

“baiklah. Tak ada salahnya dicoba. Satu hot cappuccino dan pancake.”

“baik tuan. Apakah ada hal lain yang kau butuhkan ?”

“bisakah kau menemaniku disini?” Tanya pemuda tampan itu pada Yena. Yena mengernyitkan salah satu alisnya. Merasa aneh dengan permintaan pelanggan dihadapannya. Tapi detik berikutnya dia tersenyum dan undur diri untuk mengambil pesanan.

Selang beberapa menit Yena kembali membawa pesanan milik pria tampan yang memiliki kulit kecoklatan. Meskipun begitu dia memiliki senyuman yang manis saat dia tersenyum.

“lebih cepat dari yang kau bayangkan bukan ?” Tanya Yena sambil menyajikan makanan di meja.

“jadi… haruskah aku menuruti permintaanmu?” nadanya terdengar ragu saat dia bertanya.

“tentu. Jika kau tak keberatan dengan permintaanku” ucap pemuda tampan membalas keraguan Yena dengan senyum yang tak pernah absen dari wajahnya.

“kau.. pegawai freelance ?” tanyanya saat Yena mulai duduk dihadapannya.

“ne.. bukankah sudah kukatakan tadi”

“bisakah .. aku juga menjadi pelayan disini ?” tanyanya hati-hati. Entah karena apa, mungkin hanya dia yang tahu. Kali ini bukan satu, tapi kedua alis yena berkerut akibat pertanyaan-pertanyaan aneh dari manusia dihadapannya. Tapi akhirnya dia membuka suara setelah bingung akan menjawab apa, karena dia bukanlah pemilik café.

“kenapa kau ingin menjadi pelayan? Kau.. tak terlihat seperti orang susah” ucap Yena  err… dengan bahasa yang…. sedikit mengganggu. Namun pada kalimat terakhir dia memperhatikan pemuda dihadapannya dengan seksama dari atas hingga bawa.

‘ Tak ada yang salah.’ Pikirnya.

Pria itu tersenyum kecut saat mendengar ucapan yena. Terlihat bahwa dia merasa gadis dihadapannya terlalu to the point dengan kata. Bahkan dia tidak terlihat berpikir duakali untuk mengucapkannya pada pelanggan terhormat sepertinya. Bahkan dia sampai tergelak mendengar ucapan gadis itu.

“kau sendiri tak terlihat seperti orang susah ?” kali ini dia membalikan kata-kata gadis itu. Yang diberi pertanyaan hanya menggumam tak jelas. Mungkin dia kesal akibat kata-katanya yang tadi malah diberikan untuknya.

“emmm…” dia tampak berpikir sebelum menjawab.

“aku..  “sebelum menjawab dia menghela nafas berat. “ini café milik eonniku. Jadi aku bekerja freelance agar dapat menjadi gadis yang mengerti cara mengolah bisnis tapi dimulai dari bawah. Tapi sebenarnya bukan itu alasan utamanya. Aku ini adalah gadis manja yang harus dididik disiplin. Begitu kata eonniku.” Ucapnya jujur pada akhirnya. Sebenarnya dia sangat malu mengucapkan kejujuran itu tapi apa boleh buat mulutnya berbicara terus tanpa bisa di rem. Yena bahkan sering kesal karena tidak bisa menjaga kata-katanya dengan baik.

“begitukah? Memang terlihat.” ucap pemuda itu sambil terkekeh. Yena hanya mencemberutkan wajahnya yang sudah sedari tadi ditekuk.

“aku juga ingin sepertimu. Menjadi anak laki-laki yang mandiri. Cukupkah agar kau mau membantuku?”tanyanya penuh harap.

“akan kucoba” kali ini tak ada raut cemberut diwajah cantiknya. Gadis itu tersenyum dengan tulus.

***

“apakah kau sudah bicara banyak dengan pemuda itu ?”

“o..hh that’s right Cathrine” ucap Yena dengan aksen bahasa inggrisnya yang baik.

“ini ada titipan untukmu” ucap Cathrine sambil menyerahkan sebuah benda.

“surat ?” secara perlahan Yena membuka surat yang berwana putih dengan warna pink di beberapa sisinya.

Yena-ya. Apakah kau ingat aku? Aku sudah kembali. Dan aku… sangat merindukanmu. Bunga itu.. apakah kau sudah menerimanya ? kau menyukainya tidak? Kuharap ya. Aku berharap kau dapat mengesampingkan sedikit waktumu untuk bertemu denganku.  Di dekat halte bus. Saat kita berpisah dulu. Aku akan menunggumu disana.

-Kkamjjong-

“Yena-ya..” sebuah suara berhasil  mengembalikkan  Yena kealam nyata. Setelah cukup lama berkutik dengan kenangan yang ia tutup rapat selama ini. Entah sengaja atau tidak dia sudah mengunci rapat-rapat kenangan itu ditempat paling dalam memorinya. Tapi sekarang… surat itu membukanya kembali. Kenangan … tentang perpisahan itu kembali mencuat menimbulkan suatu perasaan rindu yang tak tertahankan pada sosok manusia yang berada di balik surat itu. Rasa rindu yang tak perah ia sangka akan sampai seperti ini. Ternyata dia benar-benar merindukan sosok itu. Sosok yang selama kurang lebih tujuh tahun menghilang dan terlupakan dari memorinya. Tidak. Bukan menghilang tapi terkunci disebuah tempat yang tanpa sengaja atau sengaja masuk kedalamnya. Tapi pada akhirnya … dia…

“kembali.. Kim Jongin …” ucapnya dengan nada antara senang atau sedih. Bahkan dia bingung dengan perasaannya. Dia senang karena teman kecilnya kembali. Tapi dia juga sedih karena sempat melupakannya.

“kau mengingatnya eonni?”  tanyanya dengan suara bergetar namun hatinya tengah berteriak. Dia benar-benar merindukannya.

“tentu.. aku selalu mengingatnya .. bahkan aku selalu meyakinkanmu dia pasti akan kembali. Tapi aku rasa kau mendorong memori tentangnya menjauh dari pikirinmu dan menguncinya dalam-dalam. Aku tahu kau terluka. Tapi … dia .. sudah kembali Yena.” Ucap Hyera pada adik kesayangannya.

“ne… aku percaya padanya” kali ini Yena mengucapkannya dengan jatuhnya cairan bening dari kedua matanya. Bahkan dia sampai memeluk eonninya. Terasa sesak saat dia mengingat kejadian itu kembali namun sekarang… semuanya akan kembali. Kkamjjongnya. Yena bahagia. Dia senang namun air matanya tak pernah berhenti menggenang dan lalu jatuh begitu saja.

_ _ _ _

Pagi ini adalah cuaca yang mendukung. Tapi kenapa dia harus memintaku bertemu ditempat itu lagi. Bahkan selama ini aku tak pernah pergi kesana hingga detik ini dia yang memintaku kembali. Cukup lama aku menunggunya sambil mengawasi bunga-buga yang berjatuhan di dekat halte. Meski sekarang bukan musim semi tentunya. Tapi.. tunggu. Sepertinya aku datang lebih cepat dibandingkan waktu yang ditentukan. Dengan terpaksa aku duduk dikursi panjang. Tapi tak apalah aku juga dapat menikmati beberapa bunga yang berguguran. Cantik. Paling tidak dapat menenangkan hatiku yang sedari tadi berdetak dengan cepat. Ah.. sepertinya aku benar-benar gugup.

“kenapa dia lama sekali” ucapku lemas. Aku lelah menunggunya. Tapi saat aku mulai bangkit dan berbalik seseorang menabrakku dengan sekali hantaman. Hampir saja aku ambruk ke tanah jika saja tangannya tak menahanku. Mata kami bertemu. Cukup lama membuat jantungku bergejolak tak karuan. Aku tak mengerti sebenarnya ada apa dengan jantungku. Ini pertama kali aku merasakan perasaan aneh seperti ini. Mungkinkah dia…

“Kkamjong ?” dia mulai membenarkan posisi kami. Detik berikutnya dia mengernyitkan dahinya. Tampak bingung dengan ucapanku. Atau mungkin saja dia bukan Kkamjong. Karena Kkamjong itu… memiliki kulit kecoklatan sedangkan pria dihadapanku memiliki kulit seputih susu. Benar-benar dua warna yang berbeda. Saat memikirkannya aku sedikit terkekeh. Aku tak menyangka aku masih bisa menghinanya disaat seperti ini. Tapi aku harus meyakinkannya sekali lagi…

“kau.. Kim Jongin ?”

“aku….” Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya. Entah apa yang sedang merasukiku dengan refleks aku memeluknya. Seperti ada dorongan liar yang menyeruak dalam diriku. Seakan sarafku bukan digerakkan olehku melainkan sebuah sihir yang memaksaku melakukan hal yang diinginkannya. Tapi…dia …membalas pelukanku saat aku memikirkan segala bentuk hal yang mungkin membuatku kehilangan kendali.

“aku.. Kim Jongin” ucapnya yang membuatku terkejut sekaligus senang. Sekali lagi sihir itu bekerja, dia berhasil membentuk senyuman diwajahku tanpa kuperintah. Kini perasaan rindu itu menyeruak dengan sempurna. Aku memeluknya semakain erat membuatku dapat mencium aroma tubuhnya. Mungkin mulai sekarang aroma itu akan menjadi aroma favoritku. Karena aku menyukainya. Aku juga tak mengerti dengan perasaanku. Seakan tumbuh taman bunga di dalam perutku saat ini. Ada kupu-kupu yang tengah terbang kesana kemari seakan ikut merasakan kebahagiaanku. Aku.. benar-benar dapat merasakan perasaan itu lagi… tapi ada sesuatu yang lebih dari itu yang kurasakan. Lebih intens dari tujuh tahun lalu.. mungkinkah….

“aku merindukanmu…”ucapnya yang membuatku tak henti-hentinya menebar senyum meskipun aku tahu dia tidak melihatnya. Tapi aku tidak perduli. Inilah bentuk proklamasi kebahagiaanku.

_ _ _ _

Meskipun kedua insane itu tengah berbahagia karena kembalinya sesuatu yang pernah hilang. Berbeda dengan Seseorang yang tengah menatap mereka dengan pandangan terluka. Gadis itu tak menyadari sesuatu yang hilang itu tengah tak berada pada tempatnya. Apakah perasaan yang menyeruak itu berada pada orang yang salah ? entahlah mungkin suatu saat hatinyalah yang akan menjawabkan untuknya. Tapi mungkin untuk saat ini dia takkan menyadarinya.

“jika memang… takdir tak membiarkan kau dan aku bertemu dalam keadaan kau tak mengenalku sebagai seseorang yang pernah hidup dalam kenanganmu. Maka biarkanlah aku tetap berada dekat denganmu dengan caraku sendiri. Tak masalah jika seseorang menjadi diriku. Selama aku masih bisa berada disekitarmu itu sudah cukup.” Kalimat-kalimat itu berubah menjadi paragraph menyakitkan dalam hatinya. Melihat seseorang yang sangat diharapkannya akan mengenalinya secara langsung kini mengira orang lain adalah dirinya. Dia tersenyum kecut sebelum pergi meninggalkan tempat penuh kenangan miliknya. Dia juga tak berniat merusak segalanya dengan datang kehadapan gadis itu dan mengatakan bahwa dialah yang sebenarnya. Tapi… dia tahu itu semua akan sia-sia. Gadis itu takkan percaya dan menganggapnya penipu. Atau yang lebih buruknya gadis itu akan mengusirnya jauh dari hidupnya. Setidaknya itulah yang ada dipikirannya yang menahannya untuk melakukan hal bodoh.

***

“apakah kau menunggu lama ?”

“tidak juga. Sesungguhnya aku datang lebih awal.. hehehe” ucapnya dengan senyum konyol miliknya. Pria dihadapannya hanya heran melihat kelakuan gadis dihadapannya. Benar-benar menarik. Jauh berbeda dengan seseorang diluar sana yang tengah gelisah menunggu pria jangkung dengan wajah tampan yang tak dibuat-buat.

“kenapa kau tak tertawa saja ?! kau terlihat seperti orang yang ingin buang air jika seperti itu! Aku taka apa-apa jika kau tertawa. Sungguh.”ucap gadis itu karena aneh melihat ekspresi pria dihadapannya. Akhirnya pria itu menggaruk tengkuknya yang tak berketombe itu ketika dia menyadari bahwa dia tak kalah anehnya.

“Yena…” sebelum pria itu sempat melanjutkan ucapannya. Suara deringan berputar merusak suasana.

“sebaiknya kau angkat”

“ne..” setelah mengatakan kata terakhir pria menjauh beberapa senti dari lawan bicaranya.

“baiklah aku akan segera kembali.”

“ara”

“maaf membuatmu menunggu lama.

“baiklah aku minta maaf.”

Kata-kata itulah yang kurang lebih keluar dari mulutnya saat terdengar suara dari sambungan telpone. Dan diakhiri dengan “Sampai jumpa.”

“apakah kau terburu-buru ?”

“mianhae. Tapi kita bisa bertemu besok .. kan ?” tanyanya ragu.

“tentu”

“baiklah. Besok disini. Aku akan mengajakmu kesuatu tempat.”

“ne. sampai jumpa besok Jongin” kata terakhir yang keluar dari mulut Yena membuat pemuda tampan dengan kaos putih yang sedikit kebesaran itu terhenyak.

Jongin…’ pikirnya dalam hati. Dia tahu jika dia sudah berbohong. Dia sudah melakukan kebohongan besar pada gadis cantik dihadapannya. Tapi entah kenapa egonya tetap mendorongnya meneruskan kebohongan itu. Saat pertama melihat gadis itu ada suatu perasaan yang tak dapat ia jelaskan. Begitu kompleks dengan berbagai tatanannya. Bahkan dia tersenyum begitu saja saat melihat gadis itu. Seolah dia ditarik oleh gadis itu untuk berada di dekatnya. Hingga akhirnya dia benar-benar melakukan kebohongan. Mungkin dia tidak akan memperdulikan akhir dari kebohongannya nanti karena perasaan nyaman ini lebih besar pengaruhnya dibandingkan apapun. Kecuali…… kehilangan. Tapi dia buru-buru menepis pikiran buruk dan dengan tenangnya, seolah tak terjadi apapun dia tersenyum pada gadis yang tengah melambaikan tangannya. Tapi… memang benar-benar tak terjadi apapun bukan ?

“dia pergi.. tapi.. kita akan segera berrtemu nona Jung..”ucapnya tetap dengan sweet smile-nya meninggalkan halte bis itu dengan kebohongan yang mungkin hanya dia yang tahu.

***

“oh kau .. apakah kau sudah menunggu lama disini ?” Tanya yena pada seseorang dihadapannya. Yena dapat melihat pandangan itu. Pandangan yang penuh dengan emosi, kesedihan, kecewa, dan terluka. Semua perasaan itu menjadi satu dimata hitamnya. Entah apa yang membuat Yena seakan ikut merasakan rasa sakit itu. Bahkan dia tak dapat mengalihkan perhatiannya dari mata itu. Menyakitkan. Jika saja bukan karena pria itu yang mengalihkan pandangannya mungkin mereka akan saling bertatapan seperti itu lebih lama lagi.

“tidak juga” ucap pemuda itu pada akhirnya. Namun Yena masih bermain dengan pikirannya. Sebenarnya apa yang terjadi pada laki-laki yang kemarin terlihat begitu antusias meminta bantuan padanya tapi kini seakan semuanya pudar ditelan kesedihan dimatanya.

“tunggu.. kita belum berkenalan .. bolehkah.. aku tahu namamu ?”

“Kai. Cukup panggil aku dengan nama itu Yena…”kata-kata terakhir cukup untuk membuatnya merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Seakan dialah yang membuat luka itu.. tapi bagaimana mungkin bahkan mereka tak saling mengenal. Tapi Yena tetap membalas dengan senyum terbaik miliknya.

“itu Hyera eonni..”

“eonni” teriak yena seperti kesetanan memanggil eonninya. Entahlah apa yang terjadi padanya. Hatinya sedang kacau. Terlalu banyak hal aneh disekitarnya. Sebelum membuka suaranya dia berusaha mengembalikkan kewarasannya. Tapi entah kenapa dia bisa menjadi kacau hanya dengan melihat tatapan kai. Mata itu … dia seperti pernah melihatnya.

“ini temanku yang ingin bekerja disini.”

“anyeonghaseyo aku.. ka..kai noona.” Ucapnya lugas saat mengatakan kata terakhir. Tapi Kai tak sadar dengan ucapannya yang membuat kedua pasang mata mengarah tepat kearahnya.

“kenapa .. kalian melihatku seperti itu ?” tanyanya sedikit gugup.

“noona?” Tanya yena kali ini berusaha memastikan bahwa pendengarannya tak salah.

“nnen..ne.. kau kan me..meng..me..manggil..nya eonni.. jadi aku tak masalah bukan memanggilnya noona?” seketika dia menjadi gagap. Dan dalam hitungan detik dia menjadi normal kembali. Kai mengucapkannya sambil memiringkan kepalanya dan tersenyum dengn ‘sok’ manisnya, berusaha menghilangkan ketegangannya.

“tentu saja” ucap Hyera kali ini dengan senyuman penuh arti. Bahkan Yena pun tak dapat menangkap maksud dari senyuman eonninya.

“ah ye.. kau bisa bekerja mulai dari hari ini… kau ..libur bukan ?” pertanyaan Hyera hanya dibalas anggukan oleh Kai.

“baiklah kau bisa bekerja  dengan Yena sampai jam 5 sore nanti. Kurasa Yena akan menjelaskanmu peraturan lainnya.”

***

“Kau sudah mengertikan apa kata-kata Hyera eonni tadi?”

“tidak. Jadi bisakah kau jelaskan lebih rinci lagi.. nona Jung?” pintanya pada Yena dengan gaya genit miliknya. Tapi itu sukses membuat Yena melupakan segala kekacauan pikirannya. Dia tertawa sangat lepas saking jijiknya dengan tampang Kai yang dibuat-buat manis secara berlebihan.

“kau itu… seperti coklat .hahahahahahaha” yang diajak bicara benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Yena. Tapi karena Yena mengerti raut wajah kebingungan itu atau lebih mirip dengan anjing kebelet itu alhasil dia akan segera memberikan penjelasan masuk akal tentang coklat.

“Kai.. kau itu  seperti coklat” ulangnya sekali lagi sambil menahan tawanya.”kau itu manis…”kata-kata awalnya memang memuji dan membuat terbang kelangit ketujuh tapi… “tapi warna kulitmu seperti coklat hhahahahahah” kali ini Yena melanjutkan tawanya hingga menggema keseluruh ruang pegawai. Kai hanya menekuk wajahnya tapi diam-diam dia senang melihat Yena tertawa dengan sangat baik.

“baiklah lanjutkan tawamu” ucap Kai pura-pura marah. Tapi Yena benar-benar berhenti tertawa karenanya meski dia tahu Kai bercanda. Lagipula bukan karena itu dia menghentikan tawanya. Karena … dia merasa sangat dekat dengan Kai. Bahkan dia merasa bahwa mereka sudah saling mengenal jauh sebelum ini yang membuat satu sama lain merasa nyaman. Bahkan saat bertemu dengan Jongin dia masih merasa gugup tapi berbeda dengan Kai dia merasa lepas.

hentikan. Berhentilah berpikir aneh Yena’ ucapnya dalam hati.

“Kai nanti temanku akan datang jadi bisakah kau melayani merka.”

“tentu.”

“tepat mereka sudah datang. Layani dengan baik. Untuk penjelasannya aku masih berhutang itu padamu. Kita akan membahasnya nanti” ujar Yena terdengar terburu-buru.

***

“maaf membuatmu menunggu” ucap Yena saat melihat seseorang yang sudah tak asing lagi baginya. Sedikit rasa menyesal terdengar dari nada bicaranya yang membuat seseorang itu bereaksi.

“gwencana. Kau tak perlu menunjukkan rasa penyesalan seperti itu “ ucapnya sambil membelai lembut rambut Yena, tentu tak lepas dengan senyumannya. Melihat namja itu tersenyum seutas senyuman juga tersampirkan diwajah cantik Yena.

‘sihir lagi’ ucapnya dalam hati. Tapi dia menyukainya. Terlebih… senyuman itu. Detik ini hingga waktu berakhir senyuman itu… akan menjadi hal terindah yang terekam dalam memorinya. Tersimpan dengan baik pada tempat pertama sebagai sesuatu yang pertama yang harus dia ingat disetiap waktunya. Sebagai semangat yang menjadi tumpuannya.  Hal pertama yang mengalihkan segala pusat perhatiaanya pada titik itu. Sebuah senyuman yang selalu ia ingat dari seorang Kim Jongin…. Paling tidak itu yang nyata terpampang saat ini dihadapannya. Tak perduli dengan kenyataan lain yang sedang menunggu. Tapi sayang tak ada yang lebih nyata dibandingkan kembalinya Kim Jongin yang kini tengah berada dihadapannya.

“ayo..” ucap Jongin menarik pergelangan tangan Yena. Awalnya memang menarik pergelangan tangan, tapi.. secara perlahan tarikan sepihak itu kini berubah menjadi sebuah genggaman. Entah bagaimana caranya tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Entah siapa yang memulai. Tak perduli siapa yang memulainya, yang terpenting mereka dapat menemukan sama lain. Yang artinya tak terpisahkan.

“memangnya kita akan kemana?”

“cukup … percaya padaku nona Jung”ucap Jongin sambil mengerling nakal kearah Yena. Jika saja rasa penasaran yang besar itu tak tengah melingkupi pikirannya mungkin yena akan tertawa terpingkal-pingkal akibat gaya yang kurang lebih ‘menjijikan’ menurutnya. Benar-benar tak cocok dengan perawakannya yang cool dan sedikit misterius. Tapi.. gadis itu hanya membalas dengan tatapan yang mungkin dapat diartikan dengan ‘hey apa yang kau lakukan. itu menjijikan!’.

***

“inikah tempatnya ?” Tanya Yena tak percaya. Bukan karena tempat ini indah atau menakjubkan seperti yang ad di tv-tv ketika laki-laki akan memberikan kejutan pada seorang gadis pasti dia akan menyiapkan hal-hal romantic untuk membuat gadis itu senang. Berbeda dengan bayangan Yena,  Jongin malah mengajaknya kesebuah hutan yang dia sendiri tidak tahu dimana ini. Mungkin tak jauh dari Incheon? Setidaknya itu yang ia pikirkan. Jikalau Jongin ingin membuangnya kehutan, paling tidak dia bisa berlari dan menemukan jalan keluar. Jika ini masih di Incheon tentunya.

“ne.. kau suka ?” secepat Jongin menjawab secepat itulah senyum diwajah Yena tergantikan dengan raut masam. Tak menyangka bahwa Jongin benar-benar tak romantic sama sekali.

“ada apa dengan wajahmu?”Tanyanya sekali lagi. Jongin merasa khawatir saat melihat perubahan pada wajah Yena.

“tak apa”ucap Yena sambil memaksakan sebuah senyum dari bibir tipisnya. Lalu dia menunduk kembali. Tapi sentuhan hangat terasa dikedua pipinya. Membuatnya mengangkat kepalanya kearah tangan kekar yang tengah menyentuh lembut pipinya.

“kau kecewa?” Yena hanya membalas dengan gelengan singkat. Tapi kali ini dia tak sepenuhnya merasa kecewa. Dia merasa sedikit senang. Karena paling tidak tempat aneh ini dan  ekspresinya tadi mebuat Jongin memperlakukannya dengan cara yang tak terduga. Yena dapat merasakan kekhawatiran yang dipancarkan mata Jongin. Dia menyukai ekspresi mata itu. Tapi yang tidak ia suka adalah… ketika saat-saat ini berlangsung, kenapa dia merasa wajahnya mulai memanas. Dan Yena bertaruh bahwa kini wajahnya sudah memerah seperti tomat. Ditambah detak jantungnya yang tak karuan. Berdetak begitu cepat. Gadis itu bertaruh dalam hati jika lebih lama lagi mungkin jantungnya takkan berada pada tempatnya lagi. Jongin yang melihat wajah gadis yang kini menguasai pikirannya memerah, mulai melepaskan tangannya dari wajah gadis itu. Dia tak ingin membuat Yena menjadi semakin gugup atau lebih parah dia bisa jadi salah tingkah. Dan melihat dari kelakuan Yena selama ini. Bisa-bisa dia bersikap aneh. Tepat setelah menurunkan tangannya Jongin menggenggam kedua tangan Yena. Merasakan sensasi berbeda dihatiya. Seperti tersengat listrik yang membuat hatinya bergetar. Meraskan perasaan itu lagi. Perasaan itu menyeruak kembali. Dan sekali lagi mereka merasakan perasaan yang sama. Meskipun mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing, tapi Jongin dapat mengendalikan dirinya.  Dia teringat akan hal yang akan ia tunjukkan.

“cobalah lihat kebelakang” ucap Jongin lembut. Bagai nyanyian yang membangunkan gadis itu dari lamunannya. Dan bagai suntikan semangat suara itu dapat membuat Yena membalikkan tubuhnya dengan cepat.

Saat itulah dia benar-benar merasakan atmosfer disekitarnya berubah. Belaian angin secara lembut menyapu rambutnya. Udara yang masuk kealat pernapasannya serasa bukanlah sebuah unsure alam yang kasat mata melainkan bunga-bunga yang padat akan warna memaksa masuk ke kedua alat pernapasannya. Memaksanya untuk menahan nafas. Memaksanya untuk berhenti bernafas. Hamparan pemandnagan itu membuatnya tercekat dan tak henti-hentinya memandang takjub. Dia merasakan aliran darahnya mulai aneh. Ada yang tak beres dengan dirinya. Segala hal yang tersaji dihadapannya melebihi apa yang dia harapkan. Memikat. Membuatnya tak bisa melepaskan pandangannya. Bahkan untuk berkedip saja dia serasa tak ingin. Tapi seketika tangan hangat itu menyamarkan kekagumannya lagi.

“kau menyukainya sekarang.” Bukannya menjawab Yena membalikkan badannya dan memeluk erat-erat pria tampan yang memberikan keindahan itu padanya. Gadis itu mengangguk di dalam pelukan pria itu.

“aku sangat menyukainya. Gomawo Kkamjong.”ucapnya lembut. Kali ini pria itu merasakan sensasi aneh lagi. Bukan perasaan yang menuntut sepeti tadi melainkan perasaan bersalah yang teramat besar. Rasa bersalah yang tak dapat ia tanggung selamanya. Mungkin cepat atau lambat semuanya akan terbuka. Satu persatu kebohongannya. Tapi satu.. dia tak pernah berbohong atas perasaanya.  Dia mencintai gadis yang kini tengah berada dipelukannya. Perasaan nyaman itu takkan dapat ia bohongi. Sekalipun suatu saat Yena akan membencinya dia takkan pernah menyesal akan perasaanya sekarng.

“maaf”ucapnya lirih.

***

“Kkamjong-ah bagaimana kau bisa tahu kalau aku menyukai hamparan bunga? Apakah kau tahu aku suka pemandangan di Nami island ? karena inikah kau melakukannya? Tempat ini sangat mirip dengan pulai itu. Hamparan bunganya saat musim semi. Sangat indah.” Ucap yena tak henti-hentinya tersenyum dan kagum akan hal yang dapat dilakukan Jongin.

Kini mereka tengah duduk dibawah pohon yang tengah menjatuhkan satu demi satu bunga miliknya yang membentuk sebuah hamparan bunga. Tentu saja ini bukan musim semi melainkan karena angin yang cukup kencang yang membuat bunga-bunga rapuh itu terjatuh ketanah. Mereka terlihat begitu menikmati hamparan bunga-bunga sambil menyandarkan diri di punggung satu sama lain.

“ne. aku harap aku dapat tahu segalanya tentangmu. “ucapnya lirih saat menjawab pertanyaan Yena. “Tapi aku ini Kim Jongin jadi wajar jika aku tahu segala hal yang kau suka.”kini dia mengucapkannya terlihat seperti seseorang yang tengah meyakinkan diri yang menimbulkan makna yang ambigu dipikaran Yena. Tapi dia mencoba tak memikirkannya lebih jauh lagi.

***

“KAI KAI KAI KAI”teriak yena senang saat melahat Kai yang tengah membuka pintu kaca café tapi urung karena mendengar teriakan yamg memekakkan telinga. Tapi saat melihat wajah gadis yang memanggilnya Yena, raut wajah jengkel itu langsung berubah menjadi ceria. Dia memberikan senyuman hangat miliknya untuk gadis yang tengah berteriak seperti orang gila.

Berbeda dengan Yena. Kalimat-kalimat itu terngiang kembali dipikirannya ketika melihat Kai tersenyum padanya. Teriakan itu seketika terhenti oleh kilasan-kilasan bayangan tentang perpisahan dengan Jongin tujuh tahun yang lalu. Ia tak tahu kenapa kilasan itu muncul saat ia berhadapan dengan Kai. Bukannya dengan Jongin.

Pria itu tampan. Meski kulitnya coklat. Tetapi dia memiliki senyuman yang menawan. Dan…kalung yang dipakai seperti mirip dengan milikmu.

Dengan begitu cepat kalimat dan kilasan bayagan itu membanjiri benaknya. Membuatnya merasakan bumi benar-benar berputar sekarang. Terasa berdenyut-denyut dibagian kepalanya. Mata itu… satu aspek yang menurutnya sangat familiar. Tapi… dengan siapa ? pertanyaan-pertanyaan itu membuat kepalanya semakin berdenyut karena tak ada jawaban yang pasti yang membuatnya puas.

“kau baik-baik saja Yena ?”Tanya Kai khawatir melihat wajah pucat gadis yang menjadi tujuannya kembali dari London.

“ne.. kepalaku hanya pusing.”

“Yena-ya..”suara itu. Suara yang akhir-akhir ini selalu mengisi pikirinnya beserta pertanyaan-pertanyaan yang tak ada jawaban masuk akalnya membuat dua orang yang tadi sibuk menjadi  menoleh.

“Jongin-ah..” ucap Yena pelan namun Kai dapat mendengarnya dengan jelas. Nama itu.. adalah miliknya. Dialah Kim Jongin yang sebenarnya tapi sayang.. gadis itu tak mengenalinya dan malah menganggap orang lain adalah Kim Jongin.

‘tak bisakah kau mengenaliku dengan hatimu yena?’ucapnya lirih dalam hati. Rasa sakit kembali hadir mengisi hatinya yang sudah lama ternganga akibat luka yang ditorehkan sejak beberapa hari yang lalu oleh gadis yang ia cintai.

“Kai?” ucap Jongin terkejut melihat seseorang yang sangat dikenalnya berada dihadapan matanya bersama… kekasihnya? Bagaimana mungkin?

“hai..”ucap Kai kaku dan sedikit tak berminat.

“kalian saling mengenal?”kini sura lembut seorang gadis yang bertanya.

“ye..yeah.. begitulah..”

“tentu saja mereka saling mengenal.” Ucap seseorang selain mereka bertiga memotong ucapan Jongin sambil  mengambit lengan Jongin. Yena melihatnya. Tapi.. dia tak tahu harus bagaimana. Kini kebingungan itu tergambar jelas diwajahnya bercampur rasa cemburu, marah, dan penasaran.  Semuanya komplit menjadi satu.

“ Kai dan sehun berada dalam universitas yang sama di London.  Bahkan mereka satu jurusan. Mereka juga teman baik. Benarkan Sehun-ah?” kalimat demi kalimat telak menghujam hatinya yang sudah kacau sedari tadi. Rasa sakit itu mulai terasa nyata baginya. Apakah… JongIn berbohong padanya? Matanya kini sudah mulai berkaca-kaca tapi dia menahannya sebelum dia memastikan sesuatu terlebih dahulu. Agar semuanya sekalian, toh jika Jongin benar-benar berbohong dia bisa menangisinya nanti dibandingkan menangis sekarang itu akan menjadi  dua kali lebih memalukan.

“Se..sehun?” tanyanya dengan nada bergetar.

“benar. Sehun. Oh sehun. Ah.. sekalian juga. Kami akan segera bertunangan. Kuharap kau bisa datang Kai.” Ucap gadis yang entah siapa namanya dengan lugas dan tanpa keraguan.

_ _ _ _

Entah apa ini. Apakah ini sebuah mimpi ? jika tidak… dia berbohong padaku.

“YOON SENA”bentak Jongin .. oh bukan Oh Sehun pada gadis yang tengah memaparkan sedikit demi sedikit kebohongannya.

“kenapa .. Jongin-ah ah ani Oh Sehun. Kau tak ingin dia membeberkan semuanya. Atau kau ingin menambahkan beberapa hal lagi ? ” ucapku berusaha menahan agar suaraku tak semakin bergetar. Oh.. Tuhan tolonglah aku jangan biarkan aku terlihat menyedihkan dihadapannya. Aku tak ingin menangis.

“Yena-ya..”

“kau berbohong padaku ..WAE?” teriakku. Kurasa aku sudah tak dapat menahannya.

“aishh.. air mata bodoh ini kenapa harus keluar disaat seperti ini.” Umpatku pada diriku sendiri. Mungkin sekarang aku terlihat seperti orang yang tidak waras. Hatiku sudah terlalu sesak menahan luka yang semakin melebar ini. Terlalu banyak kebohongan. Aku sudah tak kuat lagi. Dan aku pergi berlalu begitu saja tapi ekor mataku berusaha menemukan Kai. Dia hanya diam.

“Yena-ya.. wae?”

“terlalu banyak kebohongan  eonni. Dia Sehun bukan JongIn.. mereka membohongiku.”ucapku tanpa jeda. Aku kesulitan mengatur nafasku yang tersengal-sengal akibat emosi yang tidak teratur. Hyera eonni juga tak memberikan tanggapan apapun dia memelukku dalam diam.

***

Tapi…disinilah aku sekarang. Ditempat penuh kenangan bersama seseorang yang juga merupakan bagian dari kenangan itu. Aku tahu aku benar-benar bodoh. Bahkan Hyera eonni saja mampu mengenalinya saat pertama kali melihatnya.

‘maafkan aku Yena. Sebenarnya aku sudah tahu sejak pertama kali Kai memperkenalkan diri. Aku tahu dia Kim JongIn. Hanya saja aku tak ingin mengatakannya padamu. Aku tahu hatimu akan menuntunmu padanya. Tapi aku juga tak menyangka semuanya akan seperti ini. Maafkan eonnimu ini…’

Tapi… aku.. dengan tak berpikirnya malah memeluk orang lain dan membuatnya terluka. Sorot mata itu harusnya aku mengenalinya sejak awal.

“sebanyak itukah kenangan tentangku hilang?”tanyanya lirih.

“maaf”ucapku merasa sangat bersalah.

“tak apa. Bagaimana perasaanmu apakah sudah lebih baik?” ya Tuhan… sebegini jahatkah aku bahkan dia masih memperlakukanku dengan baik, perduli terhadap keadaanku setelah apa yang mungkin sudah kulakukan padanya.

“maaf. Aku…benar-benar mencintainya Kai. Kenapa…kau tak datang?”ucapku dengan airmata yang suduh meluncur dengan sempurna.

“jangan menangis”ucapnya sambil menghapus airmataku dengan telapak tangannya. Tapi itu sama sekali tak berguna air mataku terus mengalir seiring dia berusaha menghapusnya.

“percuma.”ucapnya terdengar tegar.

“aku datang Yena dan..aku melihat semuanya…” Aku menoleh saat dia mengatakannya. Dan saat itu aku melihatnya. Sorot mata terluka itu. Jadi pandangan terluka itu karena aku ? jadi aku sudah menyakitinya entah sudah keberapa kalinya. Aku sendri tak yakin.

“lalu .. kenapa kau tak menemuiku dan mengatakan yang sebenarnya ? “

“apakah mungkin kau bisa memahaminya disaat aku melihat kilatan cinta itu dimatamu saat kau memandangnya?” suaranya terdengar begitu menyedihkan ditelingaku. Aku tak tahu aku sudah menyakitinya sebegitu dalam. Sungguh aku tak bermaksud.

***

“kemarin aku bertemu dengan Sehun. “ucap kai tertahan. “Dia memang berbohong atas semuanya. Tapi dia tak berbohong jika dia mencintaimu. Soal gadis itu… dia terpaksa bertunangan. Segalanya sudah ditetapakan. Mungkin suatu saat kalian akan bertemu lagi pada keadaan yang berbeda dan mungkin lebih baik. Maaf karena menyakitimu. Dia juga terluka. Tapi dia tak pernah menyesalinya. Cinta yang tertinggal, satu-satunya aspek yang menjagamu dihatinya. Maaf .. tapi hanya itu saja yang mampu kuserap dari ucapannya tentangmu. Tapi yang dapat kutangkap dia… sangat mencintaimu Yena. Aku yakin kalian akan bertemu …lagi….. suatu saat nati.” Ucapnya yang membuat hatiku semakin teriris dengan sekali hentakkan. Airmataku sudah sedari tadi mengalir, tak dapat dihentikan dan sekarang cairan itu malah semakin deras dan semakin menggila. Mungkin aku akan segera gila jika saja bukan dia yang berada di sampingku.

‘aku..juga mencintaimu Oh sehun. Aku pasti akan selalu menyimpanmu dihatiku.’

“aku.. sangat ingin bertemu dengannya lagi. Hanya saja keadaan sudah berubah. Kau sekarang berada disisiku. Dan dia bukan milikku lagi. Rasanya memang sakit. Sakit sekali. Tapi itu sudah sedikit berkurang karena kau.  Kai-Kkamjjong-Kim Jongin-  adalah obat penahan rasa sakitku yang akan perlahan-lahan mengembalikannya seperti semula. Bisakah kau melakukannya?” meski air mataku tetap mengalir dengan mulusnya tapi aku berhasil menyungginggkan senyuman tulusku untuknya. Aku tak pernah merasa terpaksa tersenyum untuknya. Hatikulah yang menuntunku melakukannya. Kai tersenyum hangat kearahku.

“bisakah kau.. belajar mencintaiku? Aku tak memintamu melupakannya?” aku tak menjawab. Tetap diam memperhatikan kedua mata itu. Kini tak ada lagi sorot terluka disana. Yang ada adalah sebuah harapan baru milik Kim Jongin dan Jung Yena.

Untukmu. Oh sehun. Aku akan selalu mencintaimu dengan caraku. Aku juga akan menyimpanmu dengan baik dihatiku tapi.. bukan lagi ditempat pertama. Seseorang telah mengisinya. Kuharap kau mengerti. Dan aku juga takkan mengulangi kesalahanku untuk kedua kalinya. Aku takkan melakukannya lagi. Meski ini menyakitkan sama seperti tujuh tahun yang lalu bahkan lebih menyakitkan tapi.. aku takkan mendorong memori tentangmu lenyap dari kenangan. Terlalu banyak kenangan indah dan… menyakitkan.

‘aku mencintaimu. Kuharap kita akan bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik. Selamat tinggal’

-end-

2 thoughts on “[FF Writing Contest] Lies Ending

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s