[FF Writing Contest] Pure Mistake

PUREMISTAKE

Title : Pure Mistake

Author : Tiara Liberty (@tiaralib)

Main Cast :

  • Kris (EXO-M)
  •  Tao (EXO-M)

Support Cast : Collette [OC] (Kris’ maid)

Genre : Life, Horror / Mystery, Crime, Brothership

Rating : PG-15

Author’s note  : FF ini BUKAN Yaoi. FF ini murni dari pemikiran author, tidak plagiat, tidak bermaksud menjatuhkan suatu pihak. FF ini juga belum dipost di blog manapun.

 

“Aku bahkan tidak menyangka, yang ada pada saat itu benar-benar diriku.”

“Tidak, tolong jangan membuatku benar-benar sendirian di dunia ini.”

***

‘Pagi ini gelap sekali.’

Satu kalimat itu mewakili pikirannya saat ini. Anak berumur sebelas tahun itu membenarkan posisi dagunya yang ditumpu oleh telapak tangan, menatap lurus kearah jendela kelas. Rambutnya hitam legam, matanya yang tajam mengamati langit berselimutkan awan yang berwarna abu-abu gelap. Sebentar lagi akan turun hujan pertama di musim panas kali ini.

Namun lamunannya buyar begitu saja ketika mendengar seseorang berbicara dengan keras.

“Anak-anak, mohon perhatiannya!”

Ternyata orang yang sejak tadi ditunggu-tunggu kehadirannya sudah datang―wali kelasnya yang kini terlihat berdiri di depan kelas bersama seorang anak berambut pirang.

Melihat guru yang berdiri di depan kelas mereka, seluruh murid di kelas itu berlarian menuju tempat duduk masing-masing dan mulai memberi salam.

“Selamat pagi, Pak!”

Pak wali kelas tersenyum. “Ya, selamat pagi. Ah iya-“ pria itu menaruh kedua tangannya di pundak si anak berambut pirang di sebelahnya, masih dengan senyum lebar tak juga menghilang dari wajahnya.

“Kalian memiliki teman baru di kelas ini, dia siswa pindahan dari kota lain. Namanya Kris Wu. Kris, ayo perkenalkan dirimu kepada teman-teman barumu”

Semua pasang mata disana memperhatikan Kris.

Dengan ekspresi datar, Kris melirik sebentar ke arah wali kelasnya, lalu menyapa anak-anak di hadapannya singkat.

“Aku Kris” ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya. Terlalu singkat untuk sebuah perkenalan diri.
Suasana kelas itu menjadi semakin hening sebelum wali kelas disana berdeham untuk mencairkan keadaan. “Ehem, baiklah Kris, kau bisa duduk disana. Semoga kau menyukai kelas barumu.” ia menunjuk meja di barisan paling belakang dekat jendela. Disana adalah satu-satunya meja yang hanya diduduki satu orang anak, sedangkan seluruh meja lain diduduki masing-masing dua anak.

Kris melangkah menuju meja itu, sesekali ia mendengar beberapa anak perempuan saling berbisik seperti ‘hei, dia tampan’ atau ‘apa dia seumuran dengan kita? Tubuhnya terlalu tinggi untuk anak berumur sebelas tahun seperti kita’, namun Kris tidak peduli dengan itu semua.

Langkahnya berhenti di meja tujuannya, matanya menatap ke arah anak berambut hitam yang duduk di salah satu kursi disana. Melihat Kris, anak itu menjulurkan tangannya. “Hai Kris, aku Huang Zi Tao. Panggil saja Tao.”
Kris membalas salamannya. “Senang berkenalan denganmu, Tao.”

***

Ternyata hujan belum ingin membasahi daerah ini. Langit terlihat cerah dan terik, jauh sekali dengan keadaan langit saat pelajaran tadi.

Tao mengambil bola basketnya dan berlari menuju lapangan. “Kris! Kau suka bermain basket?” panggilnya dengan sebelah tangan mendribble bola basketnya, menghampiri anak yang tengah duduk di kursi panjang tepat di sebelah lapangan sekolah.

Kris mengangguk, “Mau lihat kemampuanku?”
Tao melempar bola basket yang berada di tangannya hingga berpindah tempat ke tangan Kris. “Aku mau lihat.”

Kris beranjak dari duduknya dan berlari ke lapangan, lalu mulai mendribble bolanya. Namun gerakannya terhenti ketika tiga orang bertubuh lebih tinggi darinya menghalangi. Mereka semua berkacak pinggang. “Lapangan ini akan kami pakai. Menyingkirlah dari sini!” perintah salah satu dari tiga orang itu dengan nada tinggi.

Tao tersentak di tempatnya, ketiga orang ini adalah senior mereka sekaligus anggota dari klub yang menjuarai pertandingan basket musim semi kemarin. Mereka juga dikenal dengan kekuatan fisik yang kuat, seringkali berkelahi dan mencari masalah. Kris bisa habis jika sampai berurusan dengan mereka, pikir anak bersurai hitam itu panik. Kris hanya perlu mengalah, jangan sampai mengelak atau melawan, maka ia akan selamat dari tiga makhluk menyeramkan pembuat masalah ini.

“Aku yang lebih dulu berada di lapangan ini, jadi aku yang berhak memakai lapangan ini” Kris mengangkat bahunya, berkata dengan polos. membuat Tao menepuk jidatnya. Kris… ternyata anak itu begitu polos?

Terdengar suara gelak tawa dari ketiga senior itu.

Puas menertawakan Kris, salah satu dari mereka maju dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kris. Senyum meremehkan melekat di bibirnya. “Aku beri kau tantangan. Kau mau bermain basket denganku? Hanya satu lawan satu. Kita bermain sampai waktu istirahat selesai. Jika aku menang, kau akan melakukan apapun yang aku inginkan. Jika kau yang menang, aku akan melakukan semua yang kau inginkan. Bagaimana?”

‘Bukankah itu akan sangat mudah?’ ‘ya, anak berambut blonde itu tidak mungkin menang,’ mendengar suara bisikan disengaja dari dua seniornya yang lain, Kris lantas tertawa kecil.

“Baiklah, aku terima tantanganmu”

Tao mematung di tempatnya. Apa Kris bodoh? Dia tidak mungkin bisa mengalahkan seniornya. Bayangkan saja, walaupun tubuh Kris cukup tinggi untuk bocah berumur sebelas tahun, tinggi senior itu sangat jauh dengannya karena mereka sudah SMA. Yang Tao bisa lakukan hanya berdoa, berdoa agar seniornya tidak meminta Kris melakukan hal yang berbahaya atau aneh. Ini hari pertama Kris masuk ke sekolahnya, dan Tao tidak ingin masalah mendatangi anak itu. Kris anak yang baik, begitulah anggapan Tao sejauh ini. Walaupun sedikit pendiam, Kris mampu membuat orang-orang disekitarnya merasa nyaman.

“Baiklah, pertandingan… dimulai!”

Dengan cekatan, senior―yang menjadi lawan Kris, menguasai bola dan berlari ke arah ring basket, laki-laki itu dengan mudahnya menghindari Kris yang menghalangi jalannya. Dia berhasil memenangkan satu poin.

“Lihat itu, anak kecil. Kau bahkan tidak bisa merebut bolaku,” ucapnya dengan bangga.

Kris terkekeh mendengarnya. Ia bergumam kecil. “Lihat saja nanti.”

***

Bel itu berdering nyaring hingga seluruh penjuru sekolah mendengarnya. Mengetahui bahwa tanda istirahat telah selesai melalui deringan bel, para murid mulai berhamburan memasuki kelas mereka masing-masing.

Kecuali lima anak berseragam ini.

Kris baru saja berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket ketika beberapa tatapan tak percaya tertuju padanya.

“Bocah ini… bagaimana bisa?” gumam seseorang di pinggir lapangan, dia lalu melihat kembali catatan skor yang ditulisnya. Tertulis di kertas itu, sepuluh poin untuk temannya, dan… tiga puluh tiga poin untuk Kris.
“Bocah blonde itu menang dengan skor 33-10”

Senior yang menjadi lawan Kris menggeram, “Sial.. bagaimana bisa anak itu? Aku ini anggota tim basket yang sering memenangkan pertandingan, dikalahkan oleh seorang anak ingusan?” ia mengacak rambutnya frustasi.

Tao langsung berlari kearah Kris di tengah lapangan. Kakinya berhenti di hadapan anak pirang itu dengan mata berbinar-binar. “Aku kagum padamu! Cara serta teknikmu bermain sangat profesional! Bagaimana.. kau bisa sehebat itu, Kris?” mendengar pertanyaan itu, Kris hanya tersenyum dan mengangkat bahunya, “Dulu sebelum pindah, aku pernah juara nasional.”
Jawabannya itu sukses membuat anak bersurai hitam di hadapannya menganga.

Alih-alih meladeni Tao yang shock, Kris memilih menghampiri seniornya yang sedang mengacak rambutnya frustasi, anak itu sedikit mendongak menatap seniornya tepat di matanya.

“Aku tidak akan meminta apa-apa padamu.”

“Apa?”

Laki-laki di hadapannya menaikkan sebelah alisnya. Kris benar-benar tidak bisa ditebak. Ia mengira dirinya akan diminta bermacam-macam hal, dan ternyata tidak.

“Mengapa?” Tanyanya sekali lagi, memastikan telinganya tidak rusak dan salah dengar.

Tao yang memperhatikan Kris dari tempatnya hanya bisa terdiam dan memasang telinganya tajam-tajam agar dapat mendengar lanjutan kalimat anak itu.

“Karena aku tahu, jika aku meminta macam-macam hal padamu, itu akan mendatangkan masalah lain padaku.”

Perkataan Kris benar. Kris hebat. Tao mengaguminya.

Tao baru pernah memiliki teman yang seperti ini.

“Ayo Tao, kita terlambat masuk kelas!”

***

Anak bersurai pirang itu terlihat menggotong barang-barangnya, memindahkan benda tersebut di depan lemari di sudut kamar. Anak itu menjeda kegiatannya dengan menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya. Selama tiga jam tanpa henti dirinya terus melakukan pekerjaan seperti memindahkan barang seperti sekarang. Ini semua karena perintah dari Ibunya yang tidak bisa ia tolak dan juga karena Collette―pembantu di rumahnya tidak datang untuk membantu karena sedang sakit.

Tangan putihnya meraih barang-barang itu. Namun tiba-tiba anak itu merasakan tangan seseorang mencengkeram lengannya kuat-kuat, sedetik kemudian tubuhnya diseret keluar dari kamarnya.

“Kris, ikut aku”

Telinga Kris menangkap suara ibunya. Ia hanya dengan pasrah mengikuti langkah ibunya, mengabaikan rasa sakit di lengannya karena dicengkeram sangat kuat oleh wanita itu.

Mencapai teras rumahnya, Kris tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya pada ibunya.
“Kita akan kemana?”
“Ke rumah-rumah lain di sebelah rumah ini. Aku hanya tidak ingin kita dianggap sebagai tetangga baru yang buruk”

***

“Tao, kau sedang apa sayang? Ada tamu, bisa bukakan pintunya? Ibu sedang sibuk..”

Tao langsung beranjak dari duduknya dan melempar remote TV yang tadi digenggamnya sembarangan. Ia berjalan menuju pintu rumah dan membuka pintunya. Matanya menangkap sesosok wanita bertubuh tinggi dan kurus, juga anak laki-laki berambut pirang yang tingginya hanya sebatas leher wanita itu. Matanya melebar dan senyumnya mengembang saat ia menyadari siapa itu.

“Kris?”

“Tao?”

Wanita yang datang bersama Kris―atau bisa disebut Mrs. Wu, mengernyit melihat anaknya. Ia terheran melihat raut wajah Kris yang sempat murung kini menjadi cerah. Ia tahu jika anak ini teman sekolah Kris, dari mana lagi anak itu mendapatkan teman jika bukan dari sekolah sedangkan ini baru hari ketiga mereka pindah ke daerah ini?
Wajah Kris bisa terlihat sangat ceria hanya dengan bertemu teman yang baru dikenalnya kurang dari setengah hari. Dan kalau boleh jujur, Mrs. Wu tidak pernah melihat raut wajah anaknya sebahagia ini sebelumnya, mungkin ini disebabkan Kris belum pernah memiliki teman sebelumnya. Tapi siapa yang peduli? Mrs. Wu mengangkat bahunya acuh, melupakan pikirannya yang baginya sangat tidak penting. Memikirkan kehidupan Kris, baginya hanyalah membuang waktu.

Wanita itu lalu menatap Tao dengan senyum ramah tersetel di wajahnya, “Kau teman Kris?”

Tao mengangguk antusias, “Kris sekelas denganku.”

“Ah begitu. Oh ya, dimana Ibumu? Kami penghuni baru rumah disebelah-” Mrs. Wu menjulurkan sebuah kantung―yang isinya entah apa membuat Kris menebak-nebak apa itu―ke hadapan Tao, “Karena itu mohon terima ini. Kami harap kita bisa menjadi tetangga yang–“ perkataan Mrs. Wu terhenti saat matanya tidak sengaja melirik ke arah sosok di belakang tubuh Tao, matanya melebar.

Sesosok wanita berparas lembut terlihat berdiri seperti patung disana, matanya tidak berkedip memandang wanita yang berada di depan pintu rumahnya. Satu-satunya orang yang tidak ingin ia lihat lagi di dunia ini.

Wanita itu adalah Mrs. Huang―Ibu Tao.
Mrs. Huang menarik tubuh Tao ke sisinya. Dia lalu menatap tajam Mrs. Wu.

“Tao, jangan terima pemberiannya.” perintahnya dengan suara bergetar menahan emosi.
“Apa yang kau lakukan disini? Pergi kau!!”

Mrs. Wu tidak menjawab pertanyaannya, wanita itu berdiri tegak dan berbalik. “Aku mendatangi rumah yang salah” gumamnya seraya menarik paksa lengan Kris, lalu dengan cepat melesat pergi dari sana.

Mrs. Huang terjatuh dan terduduk di lantai, wanita itu berusaha menghapus air matanya yang mulai meleleh. Memori lama kembali berputar di pikirannya sejak ia melihat Mrs. Wu. Ingatan itu membuatnya sulit mengontrol air mata. Tapi kenyamanan menyelimutinya saat ia mendapati kedua tangan milik Tao mengusap air matanya lembut, lalu tangan itu bergerak kembali untuk menggengam erat kedua tangannya.

Anak beriris hitam itu berusaha menyimpan terlebih dulu rasa penasarannya tentang masalah apa yang berada di antara ibunya dan ibu Kris. Setidaknya ia lebih memilih menenangkan ibunya untuk saat ini.

***

Kris mengikuti langkah ibunya yang terlewat cepat, beberapa kali ia tersandung batu dan menghasilkan luka-luka dalam di kakinya. Tapi Kris benar-benar sudah terbiasa dengan semua perlakuan kasar wanita itu kepadanya.

Telinganya menangkap suara gumaman ibunya yang terdengar samar, “Seharusnya aku memang tidak pernah melakukan ini.”

Saat sampai, Kris dan ibunya dengan cepat memasuki rumah mereka. Tangan Mrs. Wu menutup pintu rumahnya dengan keras, lalu berlari secepatnya memasuki kamarnya dengan membanting pintu kamar itu kuat-kuat.

Kris tidak mengerti dengan masalah yang terjadi diantara ibunya dan ibu Tao, tapi ia sudah tidak terlalu peduli dengan tingkah ibunya itu. Dulu, Kris memang selalu memperhatikan ibunya, tapi Kris kembali berpikir, untuk apa ia peduli dengan ibunya tapi ia tidak mendapat timbal balik darinya? Kris tahu ibunya sangat membenci dirinya tanpa alasan yang jelas. Anak itu sudah beratus kali mendengar kata-kata ‘Aku membencimu’ meluncur dari mulut ibunya, hatinya hancur setiap kali mendengar kata-kata itu. Kris tidak pernah mendapat kasih sayang dari orangtuanya lagi semenjak ayahnya meninggal. Ibunya selalu membencinya. Tapi entah kenapa, anak berambut pirang itu tidak bisa membenci ibunya. Kris tidak ingin membenci ibunya. Bahkan Kris sendiri takut jika ia bisa sampai membenci ibunya.

***

“Begini, Tao. Kau bisa mengecoh musuhmu dengan memperagakan bola seperti ini. Lari memutari lawanmu hingga dia tidak bisa merebut bolamu, lalu secepatnya tembakkan bolanya ke dalam ring.” Kris menjelaskan kepada Tao berbagai trik bermain basket seraya mempraktekkannya, sepulang sekolah tadi mereka langsung melesat ke  lapangan basket umum yang berada di dekat sekolah mereka. Lokasi yang termasuk jauh dari rumah Tao dan Kris.

Tao berdiri di pinggir lapangan dan memperhatikannya dengan sangat serius. Anak itu sesekali menggumamkan kata ‘Whoa! Hebat, Kris!’ atau ‘Aku belum pernah melihat trik itu sebelumnya!’ pada semua trik yang Kris ajarkan. Sebelumnya ia memang sangat tertarik dengan basket, dan berakhir meminta Kris untuk mengajarinya. Kris dengan senang hati mengajari teman barunya itu.

Kris tersenyum, senyuman yang lebar sampai memperlihatkan gusinya kearah Tao, “Bagaimana? Kau bisa kan melakukan itu semua?” tanyanya yang langsung dijawab oleh anggukan penuh semangat dari si anak manis berambut hitam.

Tapi senyuman Kris memudar. Teringat akan sesuatu, anak itu mendongak keatas dan matanya mendapati langit yang sudah gelap. Kris menelan ludahnya ketika melirik jam yang melingkar di tangannya. Pada jam itu tertuliskan ’06:10 P.M’.

“Matilah aku.”
Kris bergumam kecil, kakinya langsung melangkah cepat mendekati tasnya dan tas milik Tao yang ditaruh di pinggir lapangan. Tao mengerutkan alisnya mendengar gumaman temannya itu, ‘Matilah aku? Dia kenapa?’ pikirnya sembari mengulang kata yang digumamkan oleh Kris. Tapi tiba-tiba saja Kris sudah berada di hadapannya dan memberikan tas miliknya.

“Tao, ini sudah larut. Aku harus segera pulang. Ayo”

“Apa? Bukankah kau bilang bisa pulang jam berapa saja?”

Kris sedikit menggaruk kepalanya, “….Aku melupakan sesuatu tadi, maaf. Ayo” anak itu menarik tangan Tao secepat kilat, lalu berlari meninggalkan lapangan diikuti anak berambut hitam tersebut.

Mereka memberhentikan mini bus, alasan mereka memilih naik bus tentunya agar lebih cepat mencapai rumah dibanding dengan berjalan kaki. Lagipula mereka sudah cukup lelah karena sudah latihan dari siang hingga sore.

Tao tidak menyadari diluar sangat gelap, tapi karena di dalam bus terdapat penerangan, membuat anak itu dapat melihat wajah Kris dengan jelas. Wajah itu tampak pucat dan gelisah, pandangannya tidak fokus, seperti sibuk memikirkan sesuatu. Tangan Tao tergerak untuk memegang pundak anak berambut pirang itu, rautnya berubah khawatir.

“Kau tidak apa-apa?” Kris menoleh cepat ke arah sumber suara dan mengangguk singkat. Tao mengerutkan dahi menatapnya, “Tingkahmu sangat aneh, Kris. Kau terburu-buru pulang dan sekarang wajahmu pucat pasi.”
“Aku tidak apa-apa, Tao. Sungguh.” Kris mengulas senyum tipis.

Tao tidak yakin dengan keadaan temannya, tetapi ia lebih memilih untuk diam daripada bertanya lebih jauh. Tao hanya tidak ingin Kris menganggapnya sebagai pemaksa jawaban yang menjengkelkan.

Keheningan menyelimuti mereka sesaat sebelum Tao memecahnya.

“Menurutmu, apa yang terjadi pada ibuku dan ibumu kemarin sore?” tanyanya diikuti kerutan di dahi Kris yang mendadak muncul.

“Aku tidak tahu. Saat sampai di rumah, ibuku langsung mengunci diri di kamarnya sampai malam. Bagaimana dengan ibumu?” ada ketakutan tersendiri saat Kris menyebut soal ibunya. “Sejak kepergianmu dan ibumu, ibuku menangis sejadi-jadinya dan tidak mau berbicara sampai sekarang.” jawab Tao dengan alis yang berkerut.

“Aku rasa mereka memang memiliki masalah serius. Ada baiknya jika kita tidak ikut campur dengan mereka.” Tao mengangguk, ucapan Kris benar. Tao yakin, cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahuinya secara otomatis.

Tak terasa bus sudah melintasi tempat tujuan mereka. Kris segera turun dengan tergesa-gesa dan berlari secepat angin menuju rumahnya.

“Kris benar-benar ingin pulang cepat.” gumam Tao yang tertinggal jauh di belakangnya, ia lalu berjalan dengan santai menuju rumahnya yang terletak tepat di sebelah rumah Kris.

***

Setelah menutup pintu, Kris mendapati ibunya yang berdiri di hadapannya. Air muka wanita itu tampak marah besar. Masih mengatur napasnya yang berantakan dikarenakan berlari, Kris menelan ludah. Habislah dia.

“KRIS WU?! KAU MULAI MENGABAIKAN PERINTAHKU?”

Kris tidak berdaya. Ia takut jika ibunya memanggilnya seperti ini. Pertanda jelas jika ibunya telah marah besar pada dirinya.

Pagi ini, Mrs. Wu meminta Kris untuk segera pulang setelah bel sekolah. Wanita itu harus pergi keluar kota hingga sore, Kris diminta untuk menjaga rumah. Sedangkan Collette baru bisa datang pada malam hari untuk kembali bekerja disana. Saat itu Kris menganggukkan kepala sambil menggumam menuruti, tapi saat Tao memintanya untuk mengajari basket, Kris malah melupakan semuanya.

“Ma… maafkan aku.” Kris hanya bisa menundukkan kepalanya.

Tapi Mrs. Wu menaruh kedua tangannya di pinggang, semakin tersulut untuk memarahi anaknya.
“’Maaf’ katamu?! Apa yang kau lakukan hari ini? Bersenang-senang diluar hingga melupakan perintahku?! Juga saat aku pulang, aku melihat pintu rumah ini tidak dikunci! Bagaimana kalau terjadi sesuatu?” wajah Mrs. Wu sudah memerah menahan emosi, tangannya mengangkat dagu Kris, seakan menyuruhnya untuk menatap wajahnya karena anak itu terus menunduk.
Sejurus kemudian tangannya terangkat di udara, lalu diayunkan untuk menampar wajah Kris sekuat-kuatnya.
“Kau memang tidak berguna, Kris!!”
Tamparan keras tersebut membuat tubuh Kris kehilangan keseimbangan hingga terjatuh. Kepalanya terbentur dinding dengan keras dan pipinya sempat terkena sudut meja kaca yang tepat berdiri disana, meninggalkan luka yang cukup dalam. Kris merintih kecil menahan rasa sakitnya. Kepalanya terasa berputar karena benturan itu. Darah segar terus mengucur dari luka di pipinya, mengakibatkan lantai rumahnya dihiasi bercak berwarna merah.

Mrs. Wu yang melihat keadaan Kris tampak tidak peduli sama sekali, ia membalikkan tubuhnya berniat untuk memasuki kamar. Tapi sebelum memutar kenop pintu, ia menoleh sebentar ke arah Kris yang masih terduduk lemas di lantai. “Kau memang tidak pantas dilahirkan.” ucapnya kemudian memasuki kamarnya tanpa beban apapun.

Mungkin ini sudah keseratus kalinya mengalami kejadian disiksa seperti ini, tapi Kris menyadari baru kali ini ibunya mengatakan kalimat itu. Hati Kris terasa hancur mendengar kalimat itu diluncurkan pertama kali oleh ibunya. Luka di tubuhnya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit karena kata-kata itu.

“Aku… tidak pantas dilahirkan.”

Air matanya mendesak keluar. Pandangannya buram. Kesadarannya hampir saja hilang jika ia tidak mendengar suara bel rumah yang mendadak berbunyi, melihat seseorang membuka pintu depan dan melangkah masuk. Itu Collette.

“Selamat mal― Ya Tuhan!! Kris?!”

***

Kelopak mata itu bergerak-gerak perlahan, tapi tak lama kemudian terbuka setengah dan menampilkan iris mata yang hitam pekat. Pemilik mata itu akhirnya bangkit untuk duduk. Suara cicitan burung memasuki gendang telinganya dan sinar matahari mendesak untuk menerangi kamarnya. Keadaan yang sama persis dengan pagi-pagi yang sebelumnya.
Masih dengan mata yang terbuka setengah, ia mengarahkan pandangannya ke jam weker yang sengaja ditaruh di meja dekat tempat tidurnya.

06:00 A.M

Ia beringsut turun dari tempat tidur dan melangkahkan kaki-kakinya menuju kamar mandi. Setelah sudah sepenuhnya segar, kakinya kembali melangkah keluar kamar untuk menuju ruang makan. Dilihatnya roti yang sudah diberi selai dan segelas susu telah disiapkan dengan rapi di meja makan. Melihatnya, ia menggelengkan kepalanya. ‘Huh, ternyata masih tidak mau berbicara, ya?’ pikirnya. Tapi ketika matanya menangkap sebuah kertas terlipat tengah bertengger di samping sarapannya, ia langsung menghampiri kertas itu dan membuka lipatannya.

‘Tao, jangan lupakan sarapanmu.
Dan.. tolong pulanglah lebih cepat hari ini

Ibu’

Tulisan yang tertera di lembaran kertas itu membuat Tao mengernyit, tapi kemudian ia mengangguk. Tangannya menarik salah satu punggung kursi dan menduduki kursi itu, lalu mulai melahap sarapannya sendirian.

***

Tao membuka pintu kelasnya, menampakkan suasana yang cukup ramai karena semua anak disana saling mengobrol satu sama lain. Ia memerintah kakinya sendiri untuk menuju tempat duduknya, tapi kakinya hanya melangkah dengan lemas. Tao merasa mengantuk karena semalaman waktu tidurnya terganggu karena suara isakan ibunya yang terdengar sampai kamar miliknya. Ibunya terus menangis hingga tengah malam, dan walaupun tangisan itu sudah tidak terdengar lagi, Tao tetap tidak bisa tertidur karena terus memikirkan apa yang terjadi dengan wanita itu. Wanita satu-satunya yang ia sayangi di dunia ini. Tapi kebetulan pagi ini, ia menemukan perkembangan, ibunya menulis pesan di notes kecil dan menyuruhnya untuk pulang cepat. Apa yang ibunya rencanakan?

Pikirannya terus menerka-nerka apa yang di rencanakan ibunya, tapi pada akhirnya ia sampai di tempat duduknya. Cukup lama setelah ia duduk terdiam di tempatnya, Tao baru menyadari satu hal. Kris belum datang. Padahal biasanya, Kris selalu datang pagi-pagi dan terlihat sedang terpojok melamun di kelas.

Tepat saat itu juga, pintu kelas terbuka dan menampakkan Mr. Rin―seorang guru sains masuk diikuti salam dari para murid yang terdengar kompak. Bahkan saat guru sudah datang, Kris belum juga menampakkan batang hidungnya. Apa ia tidak masuk? Pikir Tao sambil mengeluarkan buku sainsnya.

Sekitar sepuluh menit pelajaran berlangsung dengan sunyi, namun dipecah ketika terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar. Perkataan Mr. Rin terhenti, ia langsung bangkit menuju pintu dan membukanya.

“Kris?”

Pelaku pengetuk pintu yang ternyata adalah Kris, kini menundukkan kepalanya.

“Maaf, aku terlambat.”

“Ya, Kris. Tidak apa-apa. Sekarang masuk dan duduklah”

Kris segera menyeret kakinya ke tempat duduknya, dapat dilihatnya semua pasang mata tengah mengekori dirinya. Ia menaruh ranselnya di loker dan duduk tepat di sebelah Tao yang sedang menatapnya aneh. “Ada apa, Tao?” tanya Kris tanpa melihat wajah temannya, ia terlihat pura-pura menyibukkan diri dengan buku-buku di mejanya.

“Luka di wajahmu, sejak kapan? Kemarin sepertinya kita hanya bermain basket dan kau tidak terluka sama sekali,” tanya Tao. Sebenarnya ia mencurigai adanya sangkut paut dengan Kris yang tiba-tiba ingin pulang saat mereka bermain basket. Tapi jika menanyakan itu, akan terdengar kurang sopan bagi Tao.

Kris sedikit menyentuh luka yang dibalut perban yang tertempel di pipinya, lalu tersenyum pahit, “Kemarin aku terjatuh di tangga rumahku.” ucapnya, seratus persen berbohong.

Tao hanya menganggukan kepalanya, berusaha mempercayai omongan temannya itu.

***

Tao melepas sepatu yang dikenakannya dan memasukkan benda itu ke dalam rak. Setelah selesai, kakinya memasuki rumahnya yang terlihat sangat sepi dan memang selalu sepi berhubung hanya dia dan ibunya lah yang tinggal disini. Saat ini, Tao menepati permintaan ibunya untuk pulang lebih cepat. Ketika bel pulang sekolah berdering, anak laki-laki itu langsung melesat menuju rumah hingga meninggalkan Kris yang selalu pulang bersamanya.

Ibunya terlihat keluar dari kamar dengan wajah yang cerah dan menghampiri Tao, berbeda sekali dengan wajahnya pada hari-hari sebelum ini. “Tao, sudah pulang?” ucapnya lembut disertai senyuman tulusnya.

Tao merasa sangat senang karena sifat ibunya sudah kembali, tidak murung dan diam seperti biasanya. Ia membalas senyuman ibunya, “Ya, aku sudah pulang. Ibu, kenapa memintaku untuk pulang awal?” tanya Tao langsung pada intinya. Membuat ibunya mengalihkan pandangan ke lantai dan tersenyum kecut. “Ah. Ibu… ingin menjelaskan beberapa hal padamu.”

***

“Sebenarnya.. Ibu Kris adalah ibumu juga, Tao.”

Baru satu kalimat diucapkan oleh ibunya, tapi Tao sudah sempurna ternganga. Ia sedikit tidak percaya, tapi mana mungkin ibunya sendiri berbohong padanya dengan raut muka seserius ini?
“J-jadi?”
Ibunya mengangguk, “Ibu rasa sudah saatnya kau mengetahui hal ini, Tao. Dari pernikahan ibu dan ayahmu, kami memiliki dua anak kembar yang tampan. Yaitu kau dan Kris.” Tao membulatkan matanya, “Jadi aku dan Kris adalah saudara kandung??”
Ibunya kembali mengangguk dengan senyum yang terlihat dipaksakan. “Kris adalah kakak kembarmu. Tapi saat tiga bulan kalian lahir, ibu bercerai dengan ayah.” Wanita itu mengambil jeda sesaat, “Saat itu ibu… masih sangat mencintai ayah..” matanya kini berkaca-kaca.

“Tapi ayah kalian tetap pergi dan membawa Kris bersamanya, sedangkan ibu membawamu. Saat itu Kris dan dirimu belum diberi nama, jadi ibu menamaimu dengan marga ibu yaitu Huang, dan Kris dengan marga ayah yaitu Wu. Ayah kalian lalu menikah lagi dengan wanita lain, wanita itu adalah wanita yang kemarin berkunjung ke rumah ini. Wanita yang sekarang menjadi ibu dari Kris.”

Tao masih membuka matanya lebar, ia hanya tidak bisa percaya dengan semua cerita yang jelas-jelas kebenaran dari mulut ibunya.

Ibunya melanjutkan ceritanya, “Tapi setelah kalian berumur empat tahun, ibu mendengar bahwa ayah kalian telah meninggal karena penyakitnya. Ibu datang ke pemakamannya tanpa mengajakmu, dan ibu tidak bisa berhenti menangis―” wanita itu tersenyum kecut. “Tapi saat di pemakaman itu, ibu melihat Kris yang sedang terduduk sendirian. Anak itu seperti terabaikan oleh ibunya yang entah kemana, jadi ibu menghampirinya, menyapanya, dan berpura-pura menjadi orang yang tidak dikenalnya. Sejak saat itu, kesedihan ibu karena kepergian ayah luntur begitu saja karena bisa berbicara dengan Kris, yang tak lagi menjadi anak ibu.”

Wanita itu terisak. Air matanya terus mengalir, membuat Tao menggerakkan tangannya untuk mengelus pundaknya. Tao hanya bisa terdiam dan mendengarkan.

Ibunya cepat menghapus air matanya dan tersenyum, ia tidak seharusnya menangis lagi. Itu semua sudah terlewatkan. Ia pun memilih melanjutkan ceritanya. “Rambut Kris pirang karena rambut ayah kalian pirang, dan rambutmu hitam karena rambut ibu hitam. Ibu selalu merindukan Kris. Ibu selalu membayangkan pertumbuhan Kris saat melihat pertumbuhanmu. Saat itu, ibu hanya bisa berharap bahwa ibu baru Kris merawatnya dengan baik..”

“Tapi pada akhirnya, ibu bisa merelakan ayah dan Kris karena ibu sudah memiliki anak sebaik dirimu.” ia berusaha mengulaskan senyum setulus mungkin menatap Tao. Tao membalas senyumannya dan mengecup singkat pipi ibunya. “Aku sangat menyayangimu, bu.” ucapnya lembut.

Ibunya tersenyum lebar hingga matanya menyipit, “Aku juga sangat menyayangimu. Ah iya, besok pagi ibu akan mengunjungi ibunya Kris, saat itu ibu sudah mengusirnya dan ibu ingin meminta maaf. Niatnya kemari sangatlah baik, tradisi sebagai tetangga yang baru.” Tao menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Ibunya adalah wanita yang amat baik dan kuat.

***

Tao membuka matanya cepat dan langsung bangkit terduduk di tempat tidurnya. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Keadaannya kacau tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Ada perasaan tidak enak pagi ini. Tapi ia mencoba membuang jauh-jauh perasaan itu.

Tao mencoba turun dari tempat tidurnya dan memaksa tubuhnya untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini hari minggu. Ia teringat bahwa hari ini ada pelatihan basket di sekolah yang harus ia hadiri, bersama Kris tentunya.

Sesudah mandi dan bersiap-siap, Tao langsung melangkah keluar kamar, mendekati meja makan dan menuangkan sereal di atas mangkuknya. Melakukan kegiatan paginya dengan tenang, tapi masih ada yang mengganjal perasaannya. Saat menyuapkan sesendok sereal ke mulutnya, matanya melebar karena teringat satu hal penting.

Ibunya tidak ada di rumah.

Ia mencari ibunya ke setiap ruangan di rumahnya. Tao tidak menemukannya dimanapun. Tapi setelah beberapa saat, ia menepuk jidatnya. Padahal ibunya kemarin sudah bilang akan berkunjung ke rumah Kris untuk meminta maaf, kenapa ia bisa lupa? Tao merasa lega sekaligus merasa bodoh.

Setengah jam kemudian, anak berambut hitam itu keluar dari rumahnya dan menguncinya. Sekarang pukul setengah delapan pagi, dan pelatihan dimulai pukul sembilan pagi. Berniat mengajak Kris pergi bersama, Tao mendekati rumah anak pirang itu dan menekan bel. Ibunya sendiri pasti ada disana, jadi ia dapat sekalian menitipkan kunci rumah padanya.

Setelah beberapa menit, belum juga ada yang membukakan pintu untuknya. Tao mencoba menekan bel itu sekali lagi, tapi tetap tidak ada respon dari dalam. Merasa sedikit kesal, ia lantas mendorong pelan pintunya hingga pintu itu terbuka. Menampakkan ruang tamu kosong yang sunyi. Tao menapakkan kaki-kakinya dengan pelan dan memasuki rumah Kris. Ia tahu itu tidak sopan, tapi instingnya memerintahnya untuk segera masuk.

Tao melihat beberapa kamar tidur yang kosong, ruang keluarga, juga kamar mandi. Rumah ini seperti tidak berpenghuni. Jika Kris sudah pergi lebih dulu, pasti Mrs. Wu ada di rumah, bukan? Lagipula ibunya juga bilang akan berkunjung kesini. Dan jika semuanya pergi sendiri, bukankah pintu seharusnya dikunci? Kemana semuanya? Kenapa hari ini begitu ganjil? Pikirannya dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan keadaan rumah Kris.

Tapi saat mengedarkan pandangannya ke arah lain, Tao melihat ada salah satu pintu yang tertutup. Ia mendekati pintu tersebut dan menyentuh gagang pintu. Dalam sekejap rasa takut menerjangnya, pikiran tentang hal yang tidak diinginkannya memenuhi kepala. Tangannya bergetar hebat saat menajamkan pendengarannya dan tidak terdengar suara apapun di balik pintu itu, Tao hanya bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak keras.

Ketika memutar gagang, ia dapat mencium bau besi―atau dengan kata lain bau darah―yang samar. Terjawablah semua pertanyaan di benaknya. Kedua lututnya melemas, ia sulit menopang tubuhnya sendiri saat melihat pemandangan dapur saat pintu itu terbuka. Tao jatuh berlutut, dan bau darah semakin menusuk penciumannya.

Mayat ibunya dan ibu Kris. Keduanya terlihat memegang pisau di tangan masing-masing. Ibunya dengan posisi terlentang, wajahnya hancur, matanya dicongkel keluar serta sebuah pisau menancap di perutnya. Sedangkan ibu Kris, tubuhnya tengkurap, kepalanya mengeluarkan banyak darah dan lukanya seperti bekas tertancap pisau, juga ada memar biru di belakang lehernya.

Tao berharap ini hanya mimpi sehingga tiba-tiba ia terbangun lalu melupakan segalanya.

Tapi ini bukanlah mimpi, ini kenyataan. Ini nyata. Tapi tidak mungkin. Ibunya bilang akan meminta maaf pada ibu Kris, tapi inilah kenyataannya. Mungkin rasa dendam masih menyelimuti mereka berdua.

Air mata Tao mengalir dengan deras.

“Ibu.. kau pergi secepat ini.” gumamnya.

Ia hanya bisa terus terisak hingga terdengar suara pintu yang terbuka, seorang wanita muda yang tampak terheran melihat kehadirannya. Tapi ketika wanita itu melihat pemandangan di dapur, kantung plastik besar di tangannya terlepas begitu saja dan ia menjerit keras.

“Mrs. Wu!!!”

Wanita itu langsung menuju telepon rumah dan menelepon polisi.

***

Tao telah menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang polisi di hadapannya. Polisi itu lalu melipat kedua tangannya. “Diduga, mereka saling melawan dan akhirnya keduanya terbunuh. Terbukti dari peralatan dan sidik jari yang terdapat di pisau-pisau yang dipegangnya. Mungkin tidak ada orang lain yang terlibat dalam kasus ini.” jelasnya kepada polisi lain dan Tao yang terduduk lemas di hadapannya dengan mata sembab.

Anak itu frustasi dengan kenyataan, hingga tidak tahu harus melakukan apa setelah ini.

Tao teringat akan Kris, anak itu pasti sudah pergi ke sekolah sebelum kejadian berlangsung. Ia merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya, memanggil nomor Kris.

“Ada apa, Tao?” sapa orang diseberang, dari suaranya terdengar jelas jika itu Kris.

“Kris.. pulanglah. Kau harus pulang sekarang.”

“A-apa maksudmu? Mengapa aku harus pulang?” suara Kris terdengar terkejut campur panik di seberang. Tapi Tao memutuskan jaringan teleponnya. Itu sudah cukup. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu mengamati beberapa orang memindahkan dua kantung besar berisi jenazah ibunya dan ibu Kris. Anak berambut hitam itu lalu memeluk kedua kakinya yang terduduk di teras rumahnya, menundukkan kepalanya.

Seorang polisi mendekati Tao, menyampirkan selimut―yang bisa sedikit menenangkan orang yang panik―ke bahu anak itu, lalu duduk di sebelahnya. “Kau mempunyai keluarga lain?” Tao mengangkat kepalanya dan menggeleng. Ia hanya mempunyai satu paman, itu pun memiliki sifat yang terlewat egois setiap bertemu ibunya, ia juga sudah menikah dan tinggal di luar negeri. Jadi tidak mungkin untuk datang dan menumpang hidup di dalam keluarga pamannya.

“Kami bisa mengirimmu ke panti asuhan, kau mau?” wajah Tao kini jauh terlihat murung, ia tidak pernah menyukai kata ‘panti asuhan’. Di pikirannya, panti asuhan akan mengurusnya semena-mena tanpa kasih sayang. Ia lebih memilih tinggal bersama Kris daripada hidup di panti asuhan. “Aku dan anak dari salah satu wanita itu akan memutuskannya nanti.” jawab Tao. Tapi ia tidak yakin Kris mempunyai saudara yang bersedia mengurus anak pirang itu atau tidak. Yang jelas, ia akan membicarakannya nanti.

Polisi itu mengangguk, lalu mengelus punggung Tao. “Kau harus bersabar.”
Tao hanya terdiam sambil menunduk, dan ia kembali gagal menahan air matanya. Tao terus menangis hingga terisak.

Tak lama kemudian, tangisnya mereda. Ia mengangkat kepalanya dan melihat seorang anak laki-laki berambut pirang yang tengah menatap heran ke arah mobil polisi dan mobil ambulan yang bertengger di dekat rumahnya. Anak berambut pirang―yang ternyata Kris―itu akhirnya melihat Tao dan langsung berlari mendekatinya.

“Apa yang terjadi?!” Kris meremas kedua bahu Tao dengan keras. Air mata yang berada di ujung matanya mulai menuruni pipinya.

Tao mengalihkan wajahnya kearah lain dengan air mata yang sudah mengalir.

“I-ibumu.. dan ibuku..”

Tao tidak melanjutkan kata-katanya, tapi tangis Kris sudah pecah. Ia mendudukkan tubuhnya di sebelah Tao dan membenamkan wajah di kedua lengannya. Isakannya terdengar dengan sangat jelas.

“Jangan mengatakannya, Tao. Jangan katakan, itu membuatku bertambah sakit.”

Tao terus menatap Kris yang sedang menangis. Ia bilang ‘bertambah’? Berarti Kris adalah anak yang sangat peka terhadap keadaan. Ia dapat membaca keadaan dan apa yang terjadi. Perlahan tangan Tao tergerak lalu mengusap punggung kakaknya yang bergetar. Ya, bagaimanapun Kris adalah kakaknya. Tapi tidak terpikir setitik pun bagi Tao untuk memberitahunya.

.

.

.

.

***

10 Years Later

“Tao kau kenapa?! Tao! Hei, bangun! Tao!”

Kris menggoyang-goyangkan bahu Tao dengan  mata yang sayu dan alis berkerut, tapi wajahnya juga sedikit dihiasi raut panik. Sedetik kemudian, Tao terbangun dari alam tidurnya. Matanya terbuka lebar, keringat membanjiri seluruh wajah dan tubuhnya. Ia menoleh kearah Kris yang berada di sebelah tempat tidurnya.

Kris melepaskan genggaman tangannya pada bahu Tao dan menatap pemuda itu heran.

“Mimpi buruk lagi? Kau bermimpi apa lagi? Kenapa akhir-akhir ini kau terus mengigau dan berteriak-teriak dalam tidurmu setiap malam, huh? Ini masih dini hari, pagi nanti kita harus bangun pagi untuk kuliah.” sembur Kris tepat saat pemuda di sebelahnya membuka mata.

Tao mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat dan menundukkan kepala. “Aku.. bermimpi melihat seorang wanita yang memiliki wajah sangat menyeramkan, wanita yang sama dengan mimpiku sebelumnya. Sekarang salah satu bola matanya tidak ada.”

Kris menumpukkan kerutan di dahinya. “Sama seperti mimpimu sebelumnya?”

“Ya, apa aku belum cerita? Di mimpiku yang sebelumnya, wanita itu masih utuh.. Ah, maksudku tubuhnya masih lengkap. Di mimpiku yang sekarang, ia tidak memiliki bola mata.” ucap Tao lalu memegang dahinya, kemudian menghela napas. “Siapa sebenarnya dia? Sudah muncul dua kali di mimpiku.”

“Pasti bukan siapa-siapa. Mungkin nanti akan berhenti dengan sendirinya. Sekarang tidurlah.” suara Kris terdengar berat dan dengan cepat ia berbaring di tempatnya, posisinya memunggungi Tao. Tak lama, dengkuran halus dari arahnya terdengar jelas memenuhi ruangan itu.

“Cepat sekali pulasnya.” gumam Tao pelan sambil mengamati punggung Kris.

Setelah kejadian yang merenggut nyawa ibu mereka, Tao dan Kris yang masih berumur sebelas tahun menggunakan uang peninggalan ibu mereka untuk menyewa sebuah apartemen. Mereka mendapatkan dana untuk bertahan hidup dari bekerja part time di sebuah café. Sekolah tinggi tempat mereka belajar kini juga karena mendapat beasiswa. Membuktikan kalau mereka dapat bertahan hidup dan bersekolah tanpa orangtua di sebelah mereka.

Tao ikut merebahkan kepalanya di bantal, matanya terpejam dan mencoba untuk kembali tidur.

‘CKLEK!’

Pemuda berambut hitam tersebut yang baru saja memasuki alam tidurnya, tersentak kaget dan refleks membuka mata saat mendengar suara pintu kamarnya yang kini terbuka. Tao melebarkan mata. Tunggu sebentar. Ini masih terlalu dini untuk adanya pengunjung tidak sopan yang masuk kamar apartemennya tanpa mengetuk pintu. Lagipula, pintu luar apartemen dikunci, bagaimana bisa ada yang membuka pintu kamar ini?

Mulut Tao mengering. Selanjutnya ia mendengar suara seretan. Seperti suara kain yang diseret di lantai. Ia memberanikan diri untuk bangun dan terduduk di tempat tidurnya, memandang ke arah pintu yang benar-benar terbuka. Jantungnya mencelos saat melihat satu-satunya pemandangan yang sudah menghantuinya sebelum-sebelum ini.

Wanita berwajah menyeramkan dengan salah satu mata yang hilang..

…Dan ini bukanlah mimpi.

Wanita itu berposisi tengkurap di lantai, darah memberi bercak pada wajah dan baju putihnya. Tubuhnya merangkak di lantai mendekati ranjang Tao dengan pelan-pelan.

Tao hanya bisa mengatupkan mulutnya rapat-rapat, matanya sempurna membulat dan napasnya sedikit terengah. Ia memundurkan diri agar merapat ke dinding. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan tidak ada sebersit pun niat di benaknya untuk membangunkan Kris yang tertidur tenang. Wanita itu memiliki wajah yang hancur, sehingga Tao tidak menyadari siapakah―atau arwah siapakah itu.

Jarak mereka semakin menipis, hingga tersisa jarak hanya satu meter. Pada akhirnya wanita itu membuka mulutnya, seperti akan mengatakan sesuatu.

“Kris.….”

Tao terkesiap. Jadi selama ini ia mengincar Kris?!

“Tao… anakku”

Semua pemandangan itu menghilang begitu saja sesudah wanita itu mengatakan hal tersebut. Tao mengedipkan kedua matanya, terlihat pintu kamarnya yang tadinya terbuka kini sudah tertutup dengan rapi seperti sebelumnya. Bercak darah di lantai bekas wanita itu pun hilang.

Semuanya sudah kembali normal seperti sedia kala.

Tapi Tao terlihat seperti seonggok daging tanpa nyawa, tidak bergerak sama sekali. Pikirannya betul-betul penuh. Pada akhirnya laki-laki itu menyimpulkan satu hal.

Wanita yang  menggentayanginya adalah ibunya sendiri.

***

Tao tidak bisa berkonsentrasi pada dosennya. Tao tidak menjawab saat temannya bertanya padanya. Tao tidak pernah menghiraukan Kris yang menanyakan keadaannya. Tao tidak bisa menjalani hari-harinya dengan normal pada tiga hari ini. Ia terus memikirkan ibunya. Pertanyaan-pertanyaan berputar di kepalanya. Kenapa? Kenapa ibunya menampakkan dirinya lagi? Apa yang ingin ia katakan? Apa yang ia mau? Apa ia merindukanku?

Jika dapat berbicara langsung lagi dengan ibunya, Tao akan bilang jika ia sangat merindukannya.

Malamnya, salju pertama turun. Hari ini, Tao sangat lelah. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tao menyempatkan untuk menolehkan kepalanya kearah Kris yang sudah terlelap di ranjang tepat di sebelahnya. Kris tertidur dengan posisi miring menghadap Tao, wajahnya terlihat begitu letih, ia terlelap dengan sangat pulas. Tao mengamati kakak satu-satunya itu. Dan Tao menyadari betapa bodoh dirinya karena ia belum memberitahu Kris tentang mereka yang saudara kandung setelah sepuluh tahun berlalu. Ia ingin mengatakannya sekarang, tapi ia berpikir dua kali saat melihat kakaknya yang terlelap sangat pulas. Tao mengurungkan niatnya, ia akan menceritakannya esok hari.

Tao mulai merasakan suhu dingin mendatangi ruangan itu, ia bangkit menuju lemari dan mengambil dua selimut. Ia menutupi tubuh Kris dengan selimut secara pelan-pelan. Tidak ingin membuat Kris terbangun, sekaligus tidak ingin Kris flu pagi harinya karena ini sudah memasuki musim dingin.

Tao sangat menyayangi Kris, keluarga miliknya satu-satunya di dunia ini.

Ia tidak bisa membayangkan hidup di dunia ini tanpa kakaknya.

Tao lalu menuju tempat tidurnya dan memakai selimut. Memejamkan mata, besok ia harus kuliah pagi-pagi dan bekerja paruh waktu pada sorenya. Tak lama, ia pergi ke alam mimpinya.

Di dalam mimpinya, ia melihat wanita menyeramkan yang sama persis dengan wanita di mimpinya tiga hari sebelum ini. Sekarang, wanita itu terdapat pisau yang menancap di perutnya.

Tidak salah lagi, itu ibunya.

Di dalam mimpinya, Tao tidak berbicara sedikitpun. Hanya ibunya yang berbicara. Saat wanita itu berbicara, wujudnya berubah drastis. Wujudnya menjadi ibunya yang cantik, ibunya yang memiliki kulit yang lembut, juga senyuman yang menawan.

“Tao, kau rindu pada ibu?” ucap ibunya, masih berada di mimpi Tao.

Tao tidak bisa berbicara di mimpinya saat ini.

“Ibu sudah tahu jawabannya, ibu selalu tahu hatimu mengatakan apa.” Ibunya tersenyum manis.

“Tao, ibu ingin memberi tahu sesuatu lagi..”

“Kris… Ibu tidak menyangka ia akan membunuh ibu.” ucap ibunya.

“Tolong katakan pada Kris, ibu adalah ibu kandungnya. Dan ibu sangat sayang padanya. Kau bisa menyampaikan itu, Tao? Jika bisa, sekarang ibu bisa tenang.”

Kenapa di dalam mimpi ini Tao harus tidak bisa berbicara?

***

Tidak… tidak mungkin.

Kris tidak mungkin seorang pembunuh.

Tao memutuskan untuk membolos kuliah paginya hari ini. Ia hanya perlu menyendiri untuk sesaat. Mencerna semua yang dialaminya.

Itu tidak mungkin.

Tangannya tergerak untuk meraih ponselnya dan mengirimkan pesan singkat untuk Kris.

‘Kris, kau pulang pukul dua siang, kan? Tolong datang ke taman kota, aku akan berada disana.’ Lalu Tao menekan tombol ‘kirim’.

***

Kris melirik ke arah jam tangannya,

02:01 P.M

“Ke taman kota? Umm.. baiklah.” Ia lalu memasukkan semua buku pelajarannya ke dalam tas, membenarkan posisi syalnya, lalu berjalan menuju taman kota.

Sesampainya disana, Kris mendapati Tao yang terduduk di salah satu bangku panjang di taman itu. Ia menghampirinya.

“Ada apa, Tao?”

Tao terdiam.

“Tao?” panggil Kris sekali lagi. Ada apa lagi dengan Tao hari ini?

“Kris.. tolong katakan…”

Kris mengerutkan keningnya, katakan apa? Apa ada yang harus dikatakan?

“Tolong katakan kalau itu semua salah. Kalau kau adalah pembunuh”

DEG

Dunia serasa berhenti untuk sesaat. Kris menahan napasnya. Ditatapnya lekat-lekat pemuda berambut hitam di hadapannya. Kris mematung. Kejadian sepuluh tahun yang lalu. Kejadian itu…

Bagaimana..

Bagaimana Tao bisa mengetahuinya?

Ia dapat melihat Tao bangkit dari duduknya. Laki-laki itu mendekati Kris dan mencengkeram bahunya kuat-kuat dan menggoyang-goyangkannya.

“Katakan padaku Kris.. Katakan kalau itu semua bohong!!” teriak Tao tepat di wajahnya. Ia semakin mencengkram lebih kuat bahu kakaknya.

“Kau tidak mungkin membunuh mereka, kan?! Kau tidak mungkin!!!”

Kris dengan pandangan kosong mengarah pada Tao, rasa sakit cekraman tangan Tao di bahunya tidak sebanding dengan  rasa bersalahnya. Ia menundukkan kepalanya.

“Ya, aku pembunuh, Tao. Aku yang membunuh kedua ibu kita.”

Kedua kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Kris.

Tao langsung melemas begitu mendengarnya. Cengkramannya mengendur, ia berjalan mundur tanpa melepas pandangan pada Kris. “Tidak. Tidak. Kau tidak. Kau bohong” racaunya.

“Aku jujur, Tao. Kalau kau membenciku, kau boleh apakan aku sesukamu sekarang.. Atau bunuhlah aku.” Kris menatapnya dalam-dalam.

Tao memandangnya tidak percaya. Ini bukan Kris, ini orang lain. Dia bukan Kris!

“Aku tidak akan membunuhmu, Kris”

.

.

.

Flashback

Dengan langkah gontai karena bangun tidur, Kris memasuki ruang makan sekaligus dapur rumahnya. Selangkah lagi, ia dapat mencapai pintu dapur yang setengah tertutup, tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar ibunya berbicara sendiri disana. Ia tidak mendengar suara Collette dan Kris baru menyadari ini adalah hari minggu, hari dimana Collette akan pergi belanja untuk kebutuhan rumahnya. Akhirnya Kris memilih untuk bersembunyi di balik pintu dan mendengarkan ibunya.

“Apa?” teriak ibunya, Kris yakin wanita itu pasti sedang berbicara di telepon.

“Ta-tapi saya kemarin sudah datang tepat waktu dan menyerahkannya sesuai perintah anda..” Ibunya terus berbicara dengan orang diseberang telepon.

“Saya mohon, jangan pecat saya.. Pekerjaan inilah satu-satunya harapan hidup saya..”

“Apakah keputusan anda tidak bisa diubah?!” sekarang terdengar suara isakan ibunya.

Selanjutnya Kris tersentak karena mendengar suara telepon yang dibanting dengar keras oleh ibunya di dapur. Kemudian terdengar beberapa piring yang jatuh pecah dengan disengaja. Ibunya sedang frustasi.

Tubuh Kris semakin bergetar ketakutan saat suara langkah kaki ibunya mendekati pintu tempatnya bersembunyi. Sedetik kemudian pintu yang setengah tertutup itu terbuka dan sebuah tangan menarik Kris ke dalam dapur. Kris merasakan punggungnya dibanting dengan keras oleh ibunya ke dinding, membuatnya merintih kecil. Ia menoleh keatas menatap ibunya. Mata ibunya menyiratkan kebencian, wajahnya dipenuhi keringat dan rambut panjangnya berantakan. Kris menelan ludahnya.

Wanita itu melangkahkan kaki ke arah meja dapur dan mengambil sebuah pisau disana. Melihat pisau itu, Kris tercekat. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ibunya mendekati Kris, mendekatkan wajahnya pada wajah anaknya itu. Salah satu tangannya yang bebas menahan tubuh anak itu. Pisau di tangannya didekatkan hingga menyentuh leher Kris.

Kris terlalu takut untuk bergerak atau berbicara. Napasnya memburu, ia tidak ingin mati dulu. Tidak di tangan ibunya.

“Aku sudah tidak ada alasan hidup, Kris..” ucap ibunya sambil menggerakan pisau mengitari daerah leher Kris.

“Aku akan membunuhmu. Lalu aku juga akan bunuh diri.”

Kris memejamkan mata, tidak tahu harus melakukan apa saat wanita itu tidak lagi berbicara. Itu artinya ia akan membunuh Kris sekarang.

Pisau di lehernya itu mulai ditekan perlahan-lahan.

Tidak. Ibunya gila. Kris tidak akan membiarkan dirinya mati sekarang karena wanita gila itu.

Tidak akan.

Kris memberontak, ia memegang tangan ibunya yang sedang menggenggam pisau, dan mengarahkan pisau itu ke kepala ibunya sendiri. Darah segar menyeruak keluar dari sana disusul teriakan kesakitan dari wanita itu. Kris menjauh dari wanita itu dan mencari benda tumpul. Tanpa berpikir panjang, dipukulkannya keras-keras benda tumpul itu pada bagian belakang kepala ibunya layaknya ibunya adalah seorang zombie. Wanita itu tak bergerak lagi dan meninggal.

Kris terdiam melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya dengan mata bulat sempurna. Napasnya terengah-engah.

Selanjutnya, apa yang harus aku lakukan?

Tubuh Kris melemas dan jatuh berlutut. Ia menjambak rambutnya sendiri, matanya yang membulat menatap kosong ke lantai. Bau darah dan bau busuk yang tajam memasuki indera penciumannya.

Jika seperti ini, Kris akan disebut sebagai pembunuh.

Anak yang membunuh ibunya, lalu dipenjara.

Tidak. Masa depannya yang masih panjang tidak boleh berakhir di penjara.

“Aku tidak mau dipenjara…” lirihnya.

 Tapi Kris menoleh cepat kearah pintu depan rumahnya saat mendengar suara ketukan di pintu tersebut.

Ada yang berkunjung.

Sial, batin Kris.

Untuk selanjutnya, ia sudah pasrah dengan semua kemungkinan yang akan menimpanya. Ia berdiri mendekati pintu dan mengintip siapa yang berkunjung.

Ternyata ibu Tao.

Sepintas ide kriminal muncul di otak yang sudah tidak murni milik Kris.

Ia segera membukakan pintu rumahnya dan mendapati wanita itu tersenyum kearahnya. Senyuman terakhir, pikir Kris.

“Ah Mrs. Huang. Ayo masuk,” ujarnya dengan ramah. “Ikuti aku.” Ia berjalan di depan wanita itu yang mengekori dirinya. Wanita itu sesekali bertanya dengan linglung, “Kemana? Oh ya dimana ibumu, Kris?” tapi dijawab oleh Kris hanya dengan gelengan kepala.

Mereka terus berjalan melewati ruang tamu, lalu masuk ke bagian dalam rumahnya. Mrs. Huang terheran, sebenarnya anak ini akan membawanya kemana?

Dan akhirnya, mata wanita itu membulat saat mencapai di dapur. Ia melihat mayat seseorang disana, dan menghampiri mayat itu. Kris menghentikan langkahnnya tepat di sebelah Mrs. Huang dan mayat ibunya. Kepalanya menunduk.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan ibumu, Kris? Siapa yang melakukannya?” suara Mrs. Huang bergetar dan matanya menelusuri mayat itu dari dekat.

Kris hanya terdiam dan menunduk. Sedetik kemudian, tangannya melayang menggenggam tangan mayat ibunya yang memegang pisau dan mengarahkan ujung pisau itu ke arah mata Mrs. Huang dengan mudahnya, lalu mencongkel mata itu keluar. Terdengar suara pekikan nyaring dan keras menggema di ruangan itu.

Mrs. Huang memberontak menahan sakit, ia jatuh terkapar di sebelah mayat ibu Kris dengan masih berteriak. Kris menahan napasnya. Ia tidak peduli, ia harus melakukannya, harus. Inilah satu-satunya jalan untuknya agar aman. Pisau itu kembali diarahkan ke wajah Mrs. Huang dan mengoyak wajah itu hingga darah memuncrat kemana-mana. Wanita itu sudah berhenti berteriak, tapi tangan-tangannya masih bergerak-gerak. Untuk menyelesaikan ini, Kris menusuk wanita itu di perutnya. Darah membanjiri lantai. Dan wanita itu akhirnya tak bergerak sama sekali. Kris beralih mencari pisau lain, ia memegang pisau itu dengan sarung tangan oven―agar tidak terdapat sidik jarinya, dan menyelipkan pisau itu di genggaman Mrs. Huang.

Kris terengah dan berdiri melihat pemandangan itu dengan wajah yang datar, tanpa perasaan apapun. Sekarang, pemandangan itu terlihat seperti dua wanita yang saling melawan dan akhirnya terbunuh satu sama lain.

“Maafkan aku, Tao.” gumamnya. Ia beranjak untuk bersiap-siap, mengambil tasnya dan pergi ke sekolah untuk pelatihan basket. Tanpa beban apapun.

.

.

.

Flashback End

Kris seharusnya anak yang Pure.

Dia di saat itu bukanlah dirinya yang sebenarnya.

“Maafkan aku, Tao..” ucap Kris setelah selesai menceritakan seluruh kejadiannya pada sahabatnya itu. Kini sahabatnya yang duduk tepat di sebelahnya hanya menunduk.

Taman ini terlihat putih seluruhnya, damai, dan tidak ada orang lain selain mereka. Salju yang turun menutupi pepohonan, bangku taman, dan bagian atas mobil-mobil yang diparkir dipinggir jalan. Jalan lalu lintas kendaraan di seberang taman ini terlihat teratur dengan beberapa orang yang lalu lalang sambil merapatkan pakaian tebal mereka.

Tao membuka mulutnya, “Kau tidak tahu, Kris.”

Kris yang sedang membenamkan wajah di kedua telapak tangannya menoleh dengan mata yang merah. Wajahnya penuh penyesalan. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Tao selanjutnya.

“Ibuku adalah ibumu juga. Kita saudara kandung. Selama sepuluh tahun ini aku lupa memberitahukannya padamu.” ucap Tao dengan nada datar namun dengan suara yang serak. Perlahan air matanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya. Ia melihat mata Kris yang membesar, hampir keluar dari tempatnya.

“Apa katamu?” tanya Kris. Tetapi cukup masuk akal. Ternyata perlakuan buruk ibunya adalah karena dirinya bukanlah anak kandungnya, melainkan anak tirinya.

Tapi Kris kembali mematung seperti orang mati.

Ia telah membunuh ibu kandungnya sendiri.

Ia pikir, ibu kandungnya adalah wanita gila yang berusaha membunuh dirinya lalu bunuh diri. Kris rela membunuhnya. Tapi membunuh ibu kandung yang ia tidak ketahui sebelumnya, ini lebih gila dari apapun.

Kris merasakan udara di sekitarnya sangat sulit untuk dihirup.

“Ayah-ibu kita memiliki anak kembar, tapi ayah bercerai dengan ibu dan menikah dengan ibumu yang kejam itu dengan membawa dirimu. Setelah itu, ayah meninggal.” jelas Tao dengan wajah tetap tertunduk.

Kris menelan ludahnya. Rasa bersalahnya sudah menggunung dan tidak akan bisa dikurangi lagi.

“Aku bahkan tidak menyangka, yang ada pada saat itu benar-benar diriku.” gumam Kris dengan suara sekecil mungkin, tapi dapat di dengar oleh Tao.

“Kau kakak kembarku, Kris. Aku tidak mungkin tidak memaafkanmu.” Tao menatap Kris, berusaha setegar mungkin.

Kris memandang adiknya dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian ia tertunduk dan menangis. Menangis, berharap dapat melepas semua rasa bersalahnya.

“Tidak, Tao..”

Tapi rasa bersalah itu sudah tidak bisa dikurangi lagi. Ia adalah penjahat yang mengorbankan ibu kandungnya sendiri demi keamanan hidupnya. Kris merasa dirinya tidak pantas untuk hidup.

“Aku tidak pantas hidup, Tao. Aku harus mati sekarang.”

Tao melebarkan matanya dan menoleh menatap kakaknya.

“Tidak, tolong jangan membuatku benar-benar sendirian di dunia ini.”

Tapi terlambat, Kris sudah beranjak dari tempatnya dan berlari secepat mungkin. Tao mengejarnya, tapi tidak lebih cepat. Ia terus meneriakkan nama kakaknya. Kaki Kris  menuju jalan raya yang menampakkan lampu hijau, ia berlari ke tengah jalan itu dan keinginannya terpenuhi. Sebuah mobil berkecepatan tinggi menabraknya kuat-kuat hingga tubuhnya terpental. Orang-orang berteriak, ada yang langsung menelepon ambulan, dan ada yang mengerubungi tubuh Kris.

Tao terlambat. Terlambat untuk kedua kalinya, pada hal yang sangat penting dalam hidupnya.

***

Tao hanya bisa memandangi tubuh Kris yang tergeletak lemah di ranjang. Setengah wajah tampan kakaknya terhalangi alat bantu pernapasan, tubuhnya dililit banyak perban dan selang-selang menempel di badannya.

“Kenapa kau bisa begitu bodoh, Kak? Hanya memikirkan dirimu sendiri.” gumam laki-laki berambut hitam itu yang berupa pertanyaan.

Pertanyaannya hanya dijawab oleh suara electrocardiograf yang monoton dan menggema di penjuru ruangan.

Tao mati-matian menahan air matanya. Tapi ia tidak boleh menangis, ruangan ini harus steril. Ia hanya bisa berdoa agar Tuhan memberi kakaknya hidup lebih lama lagi.

Tapi tak lama dirinya terdiam, mendadak terdengar suara electrocardiograf yang beritme cepat. Tao panik. Baru saja ia akan menekan tombol untuk memanggil dokter, tapi sedetik setelahnya indera pendengarannya mendengar suara mesin itu mengeluarkan bunyi yang nyaring dan panjang. Tao tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa artinya suara itu.

Jantung Kris berhenti berdetak.

Dengan cepat ia menekan bel untuk memanggil dokter.

Setelah dokter melakukan segala usahanya untuk menolong Kris, ia menghampiri Tao. Tao bisa membaca dari raut wajah dokter itu, ia sudah bisa menebak apa yang berada di kepalanya. Dan dokter itu menggelengkan kepalanya.

Sekarang, aku benar-benar hidup sendiri di dunia ini akibat semua perbuatanmu, Kris.

Selamat tinggal, kakakku.

END

18 thoughts on “[FF Writing Contest] Pure Mistake

  1. Selama baca, aku terisak, aku nangis~ sejadi-jadinya. Eh~ ngk dink hanya menangis biasa. Caritanya keren Thor! apa lagi pas baca bagian akhirnya hatiku rasanya kayak ketusuk-tusuk gitu *alay*. Jadi ini salah satu ff writing cotest khan? benar khan? (di atas ada tulisanya kkkk~)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s