[FF Writing Contest] Sometimes,.. Someone.

Sometimes%20Someone%20FF

Title : Sometimes,.. Someone.

Author : Hyuuga Ace

Main Cast :

  • Lee Jina (OC)
  • Park Chanyeol

Support Cast :  Kim Jongin / Kai, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Kim Jong Dae, Zhang Yixing, Han Chieun (OC), Kim Nayoung (OC)

Genre : Romance, School Life

Rating :  PG-13

Poster By  : NadyKJI

______

Fairytale, aku bertanya- tanya. Mungkinkah sesuatu yang seperti itu benar- benar ada? Ketika pangeran dengan kuda putihnya menjemputmu. Ketika pangeran berdansa di ball room denganmu, dan ketika bola matanya hanya melihatmu.

 

Bagaimana dengan Happy Ending? Aku ingin mempercayainya, mempercayai bahwa suatu saat Happily Ever After yang dirancangkan Tuhan akan datang dalam kehidupanku, bersama seseorang yang benar- benar mencintaiku.

 

Aku ingin menemukannya, Once Upon a Time milikku sendiri.

______

Jina’s PoV

Aku tidak mencintainya pada pandangan pertama.

Aku tidak mencintainya karena dia adalah pangeran sekolah saat itu.

Aku juga tidak mencintainya karena dia orang yang menyenangkan.

Bukan, bukan karena itu.

Aku mencintainya, karena aku terbiasa. Entah karena kebetulan atau memang di rencanakan, orang itu selalu hadir di sekelilingku.

Aku terbiasa dengan kehadirannya, aku terbiasa mendengar suaranya, aku terbiasa ketika dia memanggil namaku.

Aku terbiasa, melihatnya.

Jadi, jika suatu saat ia tidak ada. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Dia harus ada, dan aku harus melihatnya. Itu arti cinta untukku.

Ironisnya, hanya aku yang selalu melihatnya. Walau dia dekat denganku. Tapi aku juga tahu dia tidak pernah ‘melihatku’.

Namanya, Kim Jongin.

Dia cinta pertamaku.

Dia juga orang yang menyakiti hatiku terlalu dalam. Pernahkah kau bayangkan? Bagaimana rasanya, ketika orang yang kau sukai berkata hal seperti ini padamu?

“Jina-ya, mian. Tapi di mataku, kau bahkan bukan seorang perempuan.”

Aku memang begini, aku berbeda dengan remaja di usiaku yang senang berdandan. Aku tidak begitu suka memikirkan apa yang kupakai, apakah rambutku rapi atau tidak, walau hanya bedak tipis pun, aku tidak pernah menyentuhnya.

Aku pernah berpikir sekali untuk mengubah diriku, ‘menjadi sedikit perempuan’ setelah dia mengatakan hal itu.

Tapi aku merasa, ini bukan aku. Dan haruskah aku berubah hanya karenanya? Meninggalkan jati diriku?

Ada sesuatu lagi yang membedakanku dengan remaja lainnya.

Ketika mereka patah hati, mereka akan mulai curhat di depan teman- temannya sambil berurai air mata.

Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu. Suatu bahasan tentang cinta keluar dari mulutku adalah sesuatu yang terasa aneh.

Dan betapa menyakitkan sikapnya padaku, aku tidak akan pernah menangis atau terlihat lemah di hadapannya.

Bahkan ketika dia akhirnya berpacaran dengan salah satu teman dekatku pun. Aku tetap tersenyum seperti orang tolol dan mengucapkan selamat pada mereka. Kemudian ketika aku membalikan tubuhku, aku baru bisa bergumam.

Appo, rasanya menyakitkan juga yah.’

Inilah aku. Aku yang selalu menyimpannya semuanya dalam hati. Tersenyum tolol seakan- akan diriku baik- baik saja.

Dan diujung sana, hanya Chieun dan Nayoung. Dua sahabatku yang mengetahui betapa menyedihkannya diriku.

Tapi waktu tetaplah berjalan, kami semua lulus dari Junior High School. Dan terima kasih, karena aku memilih Senior High School yang berbeda dengan Jongin atau yang biasa dipanggil Kai itu.

Aku sedikit demi sedikit ingin belajar, belajar bagaimana caranya melepaskan kebiasaan. Kebiasaan dalam selalu melihatnya.

Mungkin, kebiasaanku menyukainya akan hilang juga. Hilang seperti dirinya yang menghilang dari pandanganku.

Begitulah kesanku pada cinta pertamaku. Cinta pertama yang aku temukan dalam kehidupan Junior High Schoolku.

Walau aku tidak memiliki sikap feminim tapi aku sangat menyukai dongeng, aku ingin menemukannya.

Sometimes, someone. Yah, suatu saat ‘seseorang’ akan benar-benar hadir dalam hidupku.

Dan aku akan tetap melihat ke depan. Aku ingin mencari ‘seseorang’ itu. Dan aku tahu ‘seseorang’ itu bukanlah Kai.

Aku mencoba melepaskannya. Cinta pertamaku.

 

Kim Jongin, annyeong.

_______

Sudah hampir 2 bulan aku menjadi murid Senior High School.

Menurut Nayoung, masa- masa ini adalah masa penting untuk seorang yeoja. Benarkah begitu? Aku terkekeh pelan.

Aku melangkahkan kakiku ringan melintasi ruang kelas yang sudah sepi. Chieun dan Nayoung sudah meninggalkanku pulang.

Mereka meninggalkanku karena jadwal pulangku lebih 30 menit  karena Seongsaengnim yang tiba- tiba memarahi kelasku yang memang berbeda dengan kelas mereka.

Ketika sampai di ujung koridor aku mendengar suara- suara aneh, dan benar saja!

BRAKKK

Aku menolehkan kepalaku ke sumber suara. Ada sesuatu yang terdengar jatuh dari balik pintu yang tertutup itu.

“MENYEBALKAN SEKALI!” Aku terlonjak kaget ketika mendengar suara seseorang berteriak kencang seperti itu.

Karena penasaran aku mengetuk pelan pintu tersebut.

Entahlah, aku takut seseorang di dalam sana sedang kesulitan.

Tidak mendapat balasan, aku mengetuk pintu lebih kencang.

“Ya! Baekhyun-ah! Panggilkan OSIS yang lainnya! Ke mana mereka semua, hah? Membiarkan ketua OSIS membersihkan gudang seorang diri.” Bentaknya dengan suara yang sangat kasar.

Hah? Siapa yang dia panggil?

Aku terus mengetok pintu. Tiba- tiba pintu terbuka dan menampakan seseorang namja, dengan tubuh yang sangat tinggi. Dengan debu di sekitar tubuhnya. Bahkan ada sarang laba- laba yang bersarang di atas rambutnya.

Aku menginggit bibir bawahku cepat- cepat. Sebelum tawa tergelincir dari mulutku.

Dia masih menatapku bingung, kemudian aku memilih untuk bersuara.

“Eum. Mianhamnida. Tapi aku mendengar suara- suara aneh dari dalam sana, apa kau baik- baik saja?” Tanyaku masih berusaha mengontrol nada suaraku. Aku benar- benar takut untuk tertawa sekarang. Namja ini pasti sunbae ku.

“Jadi kau yang mengetuk pintu tadi?” Dia bertanya dengan nada yang sangat datar. Dapat kubaca sepertinya dia sedang badmood. Tapi didengar lebih dekat, suaranya sangat ngebass. Suaranya jauh lebih ngebass daripada suara Kim- oh sudahlah, lupakan.

Dia menarik napas panjang. Dan aku tetap terdiam menunggu ucapannya.

“Kukira kau Baekhyun, mianhae jika aku membentak tadi.” Ujarnya dengan suara yang lebih terdengar ramah.

“Eum, gwaenchana. Tapi apa yang kau lakukan di dalam sana?” Tawarku karena tidak tega dengan keadaannya.

“Kau tidak mengenalku?” Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah balik bertanya sambil menatapku heran.

Dan, haruskah aku mengenalnya?

“Park Chanyeol imnida. Aku ketua OSIS di sekolah ini.” Dia mengulurkan tangannya, yang tanpa pikir panjang ku sahut. Ah, ketua OSIS rupanya.

“Lee Jina imnida. Aku masih murid kelas 10. Mian, jika aku tidak mengenalmu. Bangapsemnida.” Aku memperkenalkan diriku juga.

“Eum. Annyeong. Euh tanganmu, mianhae..”

“Tanganku?” Aku memandangnya bingung. Ada yang salah dengan tanganku. Dia hanya menatapku tidak enak sambil menggaruk tengkuknya.

“Aku mengotorinya, kau lihat tanganku penuh debu dan aku menjabat tanganmu.”

Aku menurunkan pandanganku dan melihat telapak tanganku yang terlanjur berdebu.

“Ah itu. Tidak masalah.” Ujarku santai. Memang tidak ada yang perlu di permasalahkan. Aku tinggal mencucinya kan?

Sunbae.” Panggilku pelan. “Apa ada yang bisa kubantu? Sepertinya kau sedang kesulitan.”

Ne? Neo? Kau seorang diri ingin membantuku membereskan gudang?” Dia menatapku sangsi.

Uh, aku tidak suka yang begini. Membedakan gender. Sekedar bersih- bersih saja, tentu saja aku bisa. Lagipula dia terlihat kesulitan sekali, dan aku tidak ada kegiatan berarti di rumah nanti.

Aku mengangguk pasti.

“Setidaknya aku bisa membantu sedikit sampai teman- temanmu yang lainnya datang.”

“Mereka tidak akan datang.” Dengusnya. Tapi aku masih bisa mendengar nada yakin dalam suaranya.  Apakah anggota OSIS tidak solider? Membiarkan ketuanya bekerja sendiri.

Ne?”

“Aku menyuruh anggota OSIS untuk berkumpul di gudang ini setelah pulang sekolah. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang datang, kau bisa melihatnya sendiri. Dan Baekhyun juga! Kau mengenalnya kan? Saat masa orientasi dia menggantikanku yang terkena cacar.” Terangnya, ah aku mengingatnya. Byun Baekhyun sunbae. Dia juga pernah mengatakan waktu itu bahwa dia menggantikan posisi ketua OSIS yang berhalangan hadir. Ternyata ketua OSISnya, namja bernama Chanyeol ini.

_____

Chanyeol’s PoV

Saat pertama kali membuka pintu aku mengharapkan itu Baekhyun dengan cengirannya dan anggota yang lainnya akan muncul, siap- siap membantuku.

Tapi aku menemukan hal yang lain, seorang yeoja berambut pendek yang kuyakin dia adalah adik kelasku karena aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.

Dia menawari diri membantuku. Dan itu membuatku terkejut. Jarang yeoja diumur kami ini mau bersusah payah membantu sesuatu yang bukan tugasnya.

Dan aku lebih terkejut lagi ketika melihatnya mengangkat dus seorang diri tanpa mengeluh, dan memindahkannya dengan mudah.

“Ya, ya. Dus- dus ini biar aku saja yang mengangkatnya.” Cegahku cepat sebelum dia mengangkat dus kedua. Dus ini tidak enteng, isinya adalah kertas- kertas dokumen guru yang sudah tidak dibutuhkan lagi yang kuyakin banyak sekali.

Wae?” Yeoja yang jujur saja berwajah manis ini mengerutkan keningnya, kusimpulkan dia bingung. Untuk apa dia bingung? Tentu saja rasanya aneh melihat seorang yeoja mengangkat barang berat apalagi di hadapan seorang namja.

“Kau yeoja, tidak baik-“

“Ah gwaenchana.” Balasnya cepat sambil mengangkat dus yang kedua.

Uri appa. Dia orang yang benar- benar tegas dan disiplin. Dia tidak suka ada pembantu di rumahnya, maka dari itu aku dan kedua oppaku sejak kecil sudah terbiasa membersihkan rumah sendiri. Jadi ini bukan hal yang sulit untukku.” Dia terkekeh pelan di ujung kalimatnya.

Kalau dilihat- lihat, yeoja ini cukup menarik. Dia benar- benar polos, tapi aku tidak menyangka dia yeoja yang kuat.

DRTTT DRTTT

Kurasakan getaran ponselku di saku celanaku.

Kulihat sekilas nama yang tertera. Euh! Namja ini!

“YA BYUN BAEKHYUN!”

BRUKK.

“UHUKKK UHUKKK”

Aku menangkap sosok yeoja itu tengah terbatuk dengan debu di sekujur tubuhnya.

“Huahahahahahaha!” Tawaku meledak, dia benar- benar kotor sekarang.

“Jangan tertawa, bodoh! Suaramu yang menggelegar itu membuat debu- debu bertebangan kesana sini. Uhukk.”

Aku tersedak tawaku sendiri. Dia membentakku? Tak kusangka.

“Ya.. Kau membentak sunbae mu sendiri.”

“Habisnya makin lama kau makin menyebalkan. Awalnya aku mencoba ramah kepadamu. Tapi kau terus saja membuatku kesal dengan meremehkanku karena aku yeoja. Dan sekarang menertawakanku. Kau tidak tahu yah aku menahan tawaku ketika pertama kali melihatmu, dengan jaring laba- laba di atas rambutmu.” Cerocosnya panjang lebar yang membuatku tercengang.

Tunggu, dalam sedetik. Pandanganku padanya berubah lagi. Dia, galak.

“Jika kau ingin pekerjaan ini cepat selesai lebih baik diam dan ayo kita kerjakan dengan cepat.” Dia mengerucutkan bibirnya, tunggu ada satu hal lagi yang kutemukan darinya.

Dia juga lucu.

Polos namun galak. Dia kuat, tidak bisa diremehkan. Dan dia lucu.

Aku jadi penasaran karakternya yang lain.

“Kau galak juga yah. Hahahaa..”

Sunbae! Tolong berhenti tertawa! Debunya, duh! Uhukkk.”

Dan aku menyadarinya, aku bahkan tidak mematikan sambungan telepon dari Baekhyun. Aku tersenyum jahil ke arah ponselku dan memencet tombol merah.

Panggilan terputus.

________

“Jina-ssi, bagaimana jika kau pulang denganku? Aku membawa motorku. Aku berhutang budi padamu.” Tawarku ketika melintasi koridor bersamaan dengannya.

Dia benar- benar niat dalam membantuku. Hingga tugas yang seharusnya dikerjakan oleh lebih dari 10 orang ini selesai dengan baik dalam waktu hampir 3 jam.

Aku merasa tidak enak ketika melihat langit mulai gelap.

“Sebenarnya tidak apa- apa jika aku pulang sendiri.” Dia merenung, kemudian mengangguk.

“Tapi tidak apa- apa jika kau mau mengantarkanku. Lumayan, aku bisa mengirit uang transport ku. Kau orang baik, kan?”

MWO?! Tawaku sekali lagi menggelegar.

Tentu saja aku orang baik! Aku tidak berniat yang macam- macam padanya.

“Kau itu lucu sekali, Jina-ssi.” Kuakui, dia lucu dan menarik.

“Aku juga baru melihat ketua OSIS macam kau, sunbae.”

“Maksudmu?”

“Maksudku, aku tidak mengerti mengapa kau tidak menunda tugas ini? Hmm mungkin jika aku tidak membantumu. Kau akan mengerjakan semuanya sendiri yah?”

“Kurasa seperti itu. Aku hanya tidak suka menunda- nunda pekerjaan. Jika hari ini harus selesai, maka itu harus dikerjakan sampai beres hari ini pula.” Jelasku yang dibalasnya dengan anggukan ringan.

“Tapi kau tidak akan menyelesaikannya dengan baik jika kau terlalu sering menggerutu, aku benar kan?”

Aku mendengus. Jadi ia tahu aku marah- marah tidak jelas saat mengerjakannya sendirian.

“Mungkin. Tapi aku bersyukur kau datang membantu, Jina-ssi. Kau menyelematkanku dari penyakit menggerutu. Dan satu hal lagi, kau membuat moodku membaik. Geurom, gomawoyo.”

Aku melihatnya tersenyum. Walau wajahnya kotor karena debu, tapi aku masih bisa melihat senyumannya yang cantik. Dia cantik juga ternyata.

“Ucapan terima kasih, diterima! Hehe, oh ya sunbae. Aku baru mengenalmu kurang dari 4 jam, tapi kita bisa mengobrol panjang lebar. Kau sangat talkactive.”

Kemudian aku kembali mengingat hal apa saja yang kami bicarakan selama bersih- bersih tadi. Dia menceritakan kedua temannya sambil tertawa sendiri. Kemudian aku juga mulai menceritakan tentang kehidupanku, tentang Baekhyun sahabatku sejak kecil yang anehnya menjadi tangan kananku walaupun dia bukan wakil ketua OSIS.

“Orang- orang mengenalku seperti itu.” Aku tersenyum bangga yang di tanggapinya dengan kekehan pelan.

______

“Ini rumahmu?” Tanyaku kagum melihat rumahnya yang benar- benar besar. Terutama karena terparkirnya motor sport putih idamanku di halaman rumahnya.

Eoh. Oh itu motor Jihoon oppa, kau terus memperhatikannya sejak tadi.” Dia menjelaskan tanpa kuminta.

“Motornya keren.” Aku mengakuinya sambil mengacungkan jempolku.

“Ehmm.. Tapi kau tidak tahu kan perjuangan di balik membeli motor itu bagi oppaku. Lain waktu jika kita bertemu dan memiliki waktu senggang akan kuceritakan.”

Lain waktu?

“Tentu saja kita pasti memiliki lain waktu, Jina-ssi. Kau berhutang cerita padaku, ne?”

Eoh. Arrasseo. Gomawo tumpangannya, sunbae.” Dia segera berbalik meninggalkanku, namun tanpa sadar tanganku terayun menggapai lengannya. Entahlah, aku masih ingin mengobrol dengannya.

“Jina-ssi, apakah kau tidak akan dimarahi karena pulang telat?” Aku bertanya, sedikit tidak enak jika dia sampai dimarahi karena membantuku. Apalagi mendengar appa nya yang tegas dan disiplin.

Appamu?”

“Ah, appa sedang tidak di Korea. Dia sedang mengerjakan bisnisnya di Beijing. Tenang saja, Jihoon dan Jisung oppa tidak mungkin memarahiku karena membantu orang. Jadi kau tenang saja sunbae.” Jelasnya sambil tersenyum dan membuat tanda peace.

Mianhae, hari ini aku benar- benar berhutang budi padamu.”

“Kau sudah mengatakannya. Ah sunbae. Aku juga ingin meminta maaf karena menyebutmu bodoh tadi. Aku hanya kesal saja kau menertawakanku.” Ujarnya sambil membungkukkan badan.

Aku terkekeh lagi melihat kelakuannya.

Gwaenchana. Aku tidak akan sakit hati dengan hal seperti itu.”

“Hahaha. Kalau begitu, aku masuk dulu. Annyeong.” Dia melambai ke arahku. “Hati- hati di jalan, sunbae.”

Dia lucu sekali. Aku baru menyadarinya, ketika tanganku bergerak sendiri dan mengusap puncak kepalanya.

Dia menatapku aneh. Matilah aku!

“Itu ada debu. Hehehe.” Uh, tentu saja aku terlihat aneh. Apalagi dengan tawa garing diujung kalimatku.

Eoh.” Tapi bodohnya dia tertawa dan mengangguk. Dia memang polos.

Annyeong.” Aku memakai helmku dan menggas motorku pergi meninggalkan pekarangan rumahnya. Aku melirik sekilas dari spion ia melambai ke arahku dan berjalan masuk ke rumahnya.

Sekali lagi, aku tersenyum untuknya.

_______

Aku melangkahkan kakiku ke arah kamarku dan berencana untuk merebahkan tubuhku sebentar di lantai. Karena tidak mungkin aku melakukan itu di kasur mengingat tubuhku yang penuh debu.

Namun ada pemandangan lain di kamarku.

Byun Baekhyun.

“Oi! Kau baru pulang?” Tanyanya, basa- basi.

Thanks to someone.” Balasku cepat.

“Ah mian, Yeol-ah. Aku dan yang lainnya hanya ingin sedikit membalas dendam.” Cengiran derpnya menghiasi pemandangan. Membuatku ingin melempar sepatu ke arahnya.

Mwo?!”

“Saat masa orientasi murid baru. Kau tahu kami semua kerepotan setengah mati. Thanks to someone yang tiba- tiba terkena cacar.”

YA! Memangnya itu mauku, hah?” Aku menggeram sementara ia hanya mengacungkan peace sign nya.

“Tapi karena musibah menghilangnya semua anggota OSIS itu. Aku jadi bertemu seseorang yang menarik.” Aku mendudukan tubuhku di sofa kamarku.

Yeoja yang menyebutmu bodoh itu yah?” Baekhyun sepertinya tertarik karena aku bisa mendengar nada antusias di balik suaranya. Tentu saja dia mendengar bentakan Jina barusan, karena sambungan teleponnya untukku belum kumatikan.

Aku menerawang, mencoba mengingat yeoja bernama Lee Jina itu.

Eoh.” Aku tersenyum kecil.

“Kau menyukainya?”

Suka? Secepat ini?

“Belum sejauh itu. Tapi dia benar- benar menarik perhatianku.”

“Wow! I’m curious with that girl, friend.”

_______

Jina’s PoV

“Young-ah, aku sedang dalam perjalanan kesana. Jangan lupa siapkan makanan yang banyak, aku belum makan siang.” Kemudian aku mendengar suara gerutuan di balik sambungan telepon ini.

“Ya! Jangan begitu. Masakan eommamu yang terbaik.”

Ne, arraseo.”

BIIPP. Dan sambungan telepon pun terputus. Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, mungkin Chieun sudah berada disana. Kami bertiga berencana akan menghabiskan waktu dengan menonton drama akhir pekan di rumahnya.

Ah aku jadi teringat sesuatu. Saat kecil aku terkadang suka iri dengan keluarga Nayoung dan Chieun. Orang tua mereka selalu bisa bertemu mereka kapan saja. Sementara orang tuaku sangat sibuk di luar negri, dan membiarkanku memakan makanan buatan Jisung oppa setiap hari. Mengingat tidak adanya pembantu di rumahku. Jadi terkadang aku sering ‘kabur’ ke rumah Nayoung hanya untuk makan saja. Tapi untungnya dia tidak mempermasalahkan hal itu.

Setelah 15 menit. Taxi berhenti tepat di depan pagar rumahnya, setelah memberikan uang kepada supir. Aku langsung melangkahkan kakiku memasuki pekarangannya tanpa menunggunya membukakan pagar. Karena memang tidak terkunci. Dia sengaja mungkin.

Bola mataku menangkap sesuatu yang ganjil di garasinya. Terdapat motor seseorang yang rasanya aku kenal. Tapi sayangnya ingatanku tidak bisa mengingat lebih jauh lagi. Sudahlah, nanti juga ingat sendiri.

Chieun dan Nayoung sudah menunggu di ruang tamu.

“Ada tamu?” Tanyaku pada Nayoung yang terlihat memberengut.

“Ya. Tamu yang juga membuat Eomma mengasingkan diri ketika mengetahui teman- teman Jongdae oppa datang.”

Waeyo?” Aku masih tidak mengerti. Memangnya kenapa dengan teman- teman Jongdae oppa?

“Mereka untuk pertama kalinya akan latihan band di dalam rumah ini.” Chieun di sebelahnya menjelaskan.

“Eh? Di dalam rumah? Yang benar saja!”

“Yup. Dan kau pasti bisa membayangkan berisiknya seperti apa. Kita mungkin tidak bisa menonton drama dengan tenang, Jina-ya. Hiksss.” Nayoung merengek sambil melemparkan bantal sofa kepada oppanya yang baru saja menuruni anak tangga.

Aku menyamakan pandanganku dengan Nayoung dan melihat Jongdae oppa dengan 3 orang temannya.

Dan saat mataku bertemu dengan seseorang di antara 3 temannya itu. Aku memekik kaget.

“Chanyeol sunbae?!”

“Jina-ssi!” Tidak disangka dia juga kaget melihatku. Hal ini membuat kami memanggil nama satu sama lain di waktu yang bersamaan.

“Yeol-ah, kau mengenalnya?” Aku bisa melihat Jongdae oppa menyikut rusuknya pelan.

Tentu saja motor itu terasa familiar. Motor itu kan yang pernah mengatarkan ku pulang!

Eoh. Dia membantuku kemarin, membersihkan gudang.”

“Ah si yeoja mena- YAAA!” Kami semua terkesiap mendengar suara nada tinggi yang diciptakan Baekhyun sunbae saat kakinya tiba- tiba di injak Chanyeol sunbae.

Setelah itu, aku bisa melihatnya saat Chanyeol sunbae memberikan death glare nya untuk Baekhyun sunbae. Sebenarnya mereka sedang apa sih?

Mengabaikan mereka. Aku kembali bertanya,

“Jongdae oppa, kau ingin pergi kemana?”

“Aku baru saja akan mengajak teman- temanku makan. Masakan eomma hari ini sangat beragam dan banyak.” Jelasnya yang membuatku teringat sesuatu.

“Ah! Makan! Ayo kita juga makan Chieun-ah. Nayoung jangan memberenggut saja. Ppali.” Aku menyeret kedua sahabatku yang malah duduk manis di sofa sementara sahabatnya ini kelaparan.

_______

Author’s PoV

Mereka ber 7 : Jina, Nayoung, Chieun, Jongdae, Chanyeol, Baekhyun, dan satu orang lagi yang sejak tadi tidak banyak bicara, Yixing, pada akhirnya memutuskan makan bersama di meja makan.

“Ya, Jongdae. Sejak kapan kau mengenal Jina?” Bisik Chanyeol pada Jongdae yang sedang menyuap nasi di sebelahnya.

Eoh? Bukan hanya Jina, yeoja yang satunya lagi, Chieun. Aku sudah mengenal mereka berdua sejak Nayoung di Taman Kanak- Kanak. Mereka sering main ke rumah ini.” Jongdae menjelaskan pelan- pelan, mungkin karena ia takut tersedak.

Arraseo.”

“Chanyeol-ah, yeoja itu cantik.” Baekhyun yang duduk di sebelah kiri Chanyeol berbisik pelan.

“Eh, sunbae. Kau dari tadi diam saja.” Suara orang yang sedari tadi diperbincangkan antara Baekhyun-Chanyeol-Jongdae pun terdengar, mengangetkan Chanyeol.

“Bolehkah kutahu namamu?” Tanyanya riang.

“Yixing imnida. Aku tidak terlalu pandai berbahasa Korea, semoga kau mengerti.” Jawab namja bernama Yixing itu tenang.

“Ah! Gege, da jia hao. Eh? Tapi bagaimana dengamu di kelas bukankah bahasa native sekolah kita memakai bahasa Korea, yah?” Terkesan terlalu banyak bertanya, tapi bisa dilihat dari matanya Jina sangat penasaran. Hingga seseorang yang sedari tadi terus meperhatikannya pun tersenyum kecil, Chanyeol.

“Kelasnya berbeda dengan kami, dia masuk kelas yang sama seperti Kris dan Luhan. Kelas yang bahasa native nya memakai bahasa Inggris.” Chanyeol turun tangan untuk menjawab pertanyaan Jina, Yixing hanya mengangguk pelan menyetujui ucapan Chanyeol.

“Ah, jadi dia pandai berbahasa Inggris. Berbeda sekali denganku yang bahasa Inggrisnya sudah bukan jongkok lagi, tiarap- Ya! Appo!” Chieun yang tidak sabar pun menjitak kepala Jina dengan centong nasi di tangannya.

“Kau itu, kalau makan jangan banyak bicara, sangat barbar. Pantas saja Jongin…”

“Chieun-ah!” Sergah Nayoung cepat ketika Chieun tidak sengaja menyinggung tentang Jongin. Sementara Jina, hanya terdiam dengan tatapan kosong. Dia teringat hal itu lagi. Teringat akan Jongin, dan teringat akan waktu yang ia jalani tanpa melihat Jongin.

Tentu saja, Chieun langsung merasa tidak enak dengan Jina. Dia hanya menukar tatapan bersalah pada Nayoung, dikarenakan Jina hanya menunduk dan mengambil napas berat.

Tanpa mereka sadari, tingkah kecil mereka ini sedang diperhatikan oleh sepasang mata.

Chanyeol memerhatikannya ketika, entah siapa itu Jongin. Membuat Jina terlihat lebih murung.

Dan entah mengapa, ia jadi penasaran akan siapa itu Jongin.

Tiba- tiba wajah Jina yang tertunduk terangkat dan bertepuk tangan.

“Makanannya enak sekali! Gomawoyo Nayoung eomma!” Pekiknya excited. Sementara Nayoung dan Chieun mulai menatapnya bosan.

Dia mulai menghibur diri sendiri lagi.

“Eh, dongsaengdeul. Bagaimana jika kita hari ini main saja?”

“Uh, dia mulai lagi. Mengubah jadwal acara.” Baekhyun dengan bosannya menatap Jongdae. Mengapa sahabatnya yang satu ini senang sekali berubah-ubah, sih?

“Ya, bukankah kita harus latihan band hari ini?” Komentar Baekhyun sambil meneguk air mineralnya.

“Lain kali saja, jika ruang band telah diperbaiki. Dipikir- pikir latihan di rumahku bukan ide yang baik juga.” Jongdae kembali beralasan.

“Kau mengajak kami kan oppa? Berarti kau yang harus mentraktir kami.”

“Ahh geurae. Berhubung kita semua berkumpul, oppa akan menraktir 3 dongsaeng kesayangan oppa. Ayo kita bermain ice skating?”

CALL!” Sahut ketiga yeoja itu berbarengan.

“Bagaimana dengan kami?” Yixing kelihatannya tidak setuju dengan ide itu.

“Kalian, mianhae, tapi tolong bayar sendiri.”

“Kami tidak ikut.” Balas Baekhyun sengit.

“Kalian berdua biar aku yang bayarkan.” Chanyeol tiba- tiba bersuara menyelesaikan permasalahan.

“Uh! Modus.” Cibir Baekhyun.

______

“Sepertinya bermain ice skating lebih mengasyikan daripada nonton drama.”

Geurrae. Aku sudah lama tidak bermain ice skate. Jongdae oppa! Gomawoyooo.” teriak Jina dari bangku belakang ke arah Jongdae yang sedang menyetir.

“Aku benar- benar tidak mengerti dengan jalan pikiran manusia bernama Kim Jongdae. Kita sudah repot- repot datang ke rumahnya bertujuan untuk latihan band, tapi dia tiba- tiba mengubah acara menjadi bermain ice skate.”

“Ya, sudahlah gerutuanmu tidak berguna, Baekhyun-ah. Lagipula aku juga sedang tidak mood latihan band. Seperti bermain jauh lebih baik.” Chanyeol dengan cepat memotong gerutuan panjang Baekhyun, mengingat sahabatnya yang satu itu jika sudah mengomel akan panjang sekali urusannya.

“Tentu, tentu. Tidak mood latihan band setelah melihat Jina-ssi.”

Na? Ada apa denganku?” Dengan sigap Baekhyun serta Chanyeol menoleh ke arahnya ketika tiba- tiba saja wajah Jina muncul dari arah belakang.

Gwaenchana. Hehehe.” Sahut Chanyeol sambil tertawa garing. Dia melupakannya, melupakan jika dia dan Baekhyun tidak bisa bisik- bisik dengan baik. Suaranya yang terkadang terlalu menggelegar dan suara Baekhyun yang terlalu keras ketika mulai berbicara.

Tanpa Jina sadari, ketika dia mulai mengobrol dengan Baekhyun dan Chanyeol. Nayoung dan Chieun mulai berbisik- bisik di sebelahnya.

“Sepertinya Chanyeol sunbae sedikit tertarik dengan Jina.” Ujar Chieun dengan nada yang sangat rendah dan pelan.

“Kurasa juga seperti itu, kau perhatikan tidak. Selama makan siang tadi, dia selalu mencuri-curi pandang ke arah Jina.”

“Mataku sama bagusnya dengan matamu Young-ah. Aku juga melihatnya.”

Ok, well siapa yang tidak menyadarinya. Sebenarnya Yixing yang sedari tadi diam juga mengetahuinya bahwa Chanyeol terus melihat ke arah Jina.

“Ini bagus jika Chanyeol sunbae benar- benar serius. Mungkin dia bisa membantu Jina melupakan Jongin.”

“Tapi malapetaka jika ia hanya ingin mempermainkan Jina.” Balas Chieun cepat yang hanya dibalas dengan anggukan Nayoung. “Young-ah, sepertinya Jina merindukan Jongin.” Lanjutnya dengan tatapan sedih.

“Aku juga bisa merasakannya. Walau dia tidak pernah mengungkit nama itu lagi, tapi ingat tidak saat kau keceplosan nama itu tadi? Wajahnya berubah aneh. Ekspresi seakan-akan dia benar- benar ingin bertemu Jongin lagi.”

“Jongin, itu.. Dia benar- benar memiliki pengaruh besar pada kehidupan Jina. Mengapa sih Jina harus menyukai namja sialan seperti dia?”

“Kau juga! Mengapa kau menyukai Kris sunbae yang jelas-jelas sudah punya pacar.” Cibir Nayoung sambil menggeleng- gelengkan kepala.

“Itu berbeda aku hanya naksir dia karena dia itu tampan, Chieun-ah. Berbeda dengan perasaan Jina untuk Jongin.”

“Apapun…”

“Cinta, rasa suka. Itu benar- benar abstrak dan tidak bisa dimengerti.”

______

Jina’s PoV

Perjalanan ke tempat ice skate sangat menarik. Aku banyak mengobrol dengan Chanyeol dan Baekhyun sunbae. Dan terasa lebih lucu karena obrolan kami di selingin debatan tidak penting dari mereka berdua. Mulai dari penderitaan anak OSIS karena Chanyeol cacar saat masa orientasiku, ini Baekhyun sunbae yang bercerita. Dilanjut dengan wakil ketua OSIS yang tidak berguna, karena walaupun dia pintar. Kerjaannya hanya menyisir dan berdandan ketika sedang melakukan tugas ataupun rapat yang membuat Chanyeol sunbae benar- benar keki pada wakilnya itu. Tapi otaknya benar- benar dibutuhkan, itulah permasalahannya.

Kami menghentikan pembicaraan sampai situ karena plang besar yang menyambut pengunjung untuk bermain Ice Skating itu terlihat.

Dan setelah memasuki arena ice skate dan meminjam peralatan seperti sepatu jaket dan lainnya. Kami mulai berpencar.

Jongdae oppa yang sudah ahli berputar- putar sendiri di arena ice skate yang sangat luas ini, sementara Baekhyun sunbae yang sedari tadi menggerutu dengan acara bermain ice skating ini terlihat makin menekuk wajahnya. Rupanya dia tidak bisa bermain ice skate, membuatnya terdampar pada pegangan di pinggir arena.

Sementara Yixing sunbae, dia orang yang terlihat sangat baik dan yang paling kelihatan normal di antara teman- temannya (dalam kasus ini : Chanyeol-Baekhyun-Jongdae) membantu Baekhyun untuk sekedar berjalan pelan. Tapi ekspresi Baekhyun yang penuh sewot itu membuatku sedikit geli.

Chieun dan Nayoung pun sudah meluncur bebas. Meninggalkanku. Kenapa mereka meninggalkanku?

Karena aku memiliki problem yang sama dengan Baekhyun sunbae. Aku tidak bisa bermain ice skate. Tapi setidaknya aku tidak memasang wajah kecut seperti Baekhyun sunbae. Aku masih mencoba untuk menikmatinya, walau aku hanya bisa berjalan pelan- pelan sambil memegang pegangan di pinggiran.

Sampai seseorang datang membantuku.

“Perlu bantuan?” Tawarnya dengan cengiran menghiasi wajahnya.

Chanyeol sunbae. Dia tidak berjarak terlalu jauh dariku, membuatku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia tampan sekali.

Mungkin waktu itu wajahnya yang penuh debu menutupi ketampanannya. Tapi sekarang aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Namja ini benar- benar tampan. Lebih tampan dari pangerannya Cinderella.

Aku berdeham kecil berusaha menghilangkan asumsi aneh yang melayang- layang di dalam otakku.

“Dengan senang hati.” Aku menyambut uluran tangannya dan dia mulai menarikku pelan ke arah tengah arena.

YA! PARK CHANYEOL! Mengapa kau tidak membantu sahabatmu yang satu ini, hah? Uh, Yixing hueeeee.” Aku tertawa mendengar teriakan tidak tahu diri dari Baekhyun sunbae sementara Chanyeol hanya menggeleng- gelengkan kepalanya.

“Terkadang aku malu punya teman seperti dia.”

_______

Chanyeol’s PoV

Aku mengajarinya dengan tekun. Dia tidak sulit diajari, walau masih belum terlalu lancar tapi dia mulai bisa berjalan pelan- pelan setelah melepas genggaman tanganku.

Ada perasaan aneh. Ketika tangannya menyentuh tanganku. Walau suhu disini dingin namun tanganku terasa hangat ketika memegang tangannya.

Saat dia mencoba berjalan tanpa memegang tanganku lagi, seseorang memanggil namanya yang membuatku dengan cepat menoleh ke arah dua orang yang hadir di hadapan kami.

“Jina-ya.”

GREPPP, aku merasakannya. Tangannya yang langsung memegang lagi tanganku, seakan meminta pertolonganku untuk tetap berdiri tegap.

Dan dia memegang tanganku dengan kencang, aku melihat wajahnya yang berubah shock dengan ekspresi yang sangat tidak bisa dibaca.

Ada apa dengannya?

“Jongin, Hyorin-ah.” Lirihnya terbata. Jong… In? Mungkinkah ini Jongin yang membuatnya ekspresinya lebih sedih saat di rumah Jongdae tadi.

Dia semakin meremas kencang tanganku. Dan aku bisa merasakannya, tangannya gemetar.

“Ah! Oremaniya. Apa yang kalian lakukan disini? Date?” Aku terus memperhatikannya, memperhatikan ekspresinya yang seakan dibuat- buat. Siapa mereka sebenarnya?

“Seperti yang kau lihat. Jina-ya, kau masih seperti dulu. Dengan jeans dan baju longgar. Masih seperti kau, tidak ada yang berubah.” Suara namja yang bernama Jongin itu terdengar datar.

“Kau juga, masih dengan rambut yang tidak pernah ditata rapih.” Sekilas aku bisa mendengarnya, suaranya yang seakan terdengar rindu. Mungkinkah yeoja ini menyukai orang bernama Jongin itu?

Entah mengapa berpikir kemungkinan itu membuatku sedikit tidak suka.

You know me.” Balasnya santai, sementara tatapan namja itu mulai beralih padaku.

“Dia namja chingumu?”

Aku bisa merasakannya, saat tatapan Jina berubah menjadi sesuatu yang sangat abstrak, bahkan aku merasakan mungkin saja dia sudah tidak ada disini. Pandangannya seakan tersesat di antara ruang dan waktu.

Mungkin ini giliranku yang bersuara. Aku baru saja hendak bersuara, namun tiba- tiba kedua sahabat Jina datang menghampiri kami.

“Hyorin-ah! Whoa, Kim Jongin! Sudah lama tidak bertemu.” Sapa Chieun sambil menepuk pundak yeoja yang bernama Hyorin itu.

“Ah geurae. Nayoung-ah, Chieun-ah apa kabar?”

“Tentu baik.” Nayoung menjawab mewakili sahabatnya.

Terdengar bunyi ponsel seseorang berbunyi. Aku tahu itu bukan milikku karena memakai nada dering yang bahkan lagunya saja tidak kuketahui, ternyata ponsel yeoja bernama Hyorin itu yang berbunyi.

“Ah, eomma. Arraseo aku pulang sekarang, kau sudah membuatkan masakan kesukaan Jongin? Bagaimana dengan anakmu? Ne, ne.” Kemudian dia menutup ponselnya dan menatap namja di sebelahnya.

Chagi, ayo kita pulang. Eommamu dan eommaku sudah menunggu di rumah.” Sekarang aku mengerti, Jongin itu pasti namja chingunya. “Chieun-ah, Nayoung, Jina-ya. Mianhamnida, kita bisa bertemu lain waktu. Kami harus pergi sekarang. Annyeong.” Lanjutnya riang sambil menepuk pundak Jina yang hanya dibalasnya dengan senyuman yang sangat kaku. Kemudian dia menunduk pelan ke arahku dan melangkahkan kakinya ringan meninggalkan kami. Begitu pula dengan Jongin.

_______

Jina’s PoV

Aku menarik napasku berat. Bahkan sedari tadi rasanya aku menahan napasku. Oksigen di sekelilingku terasa menipis, yah?

Aku melihat punggung tegapnya yang makin lama makin menjauh.

Eoh, Lee Jina. Neon gwaenchana. Aku baik- baik saja kok. Tidak apa, mereka berdua sudah bahagia. Bahkan kedua orang tua mereka juga kelihatan akrab, begitu yang kutangkap dari penuturan Hyorin di telepon tadi.

“Ya, Jina-ya. Neon gwaenchana?” Aku menengadahkan kepalaku untuk melihat Chieun yang bertanya.

“Ehm.. Memangnya ada apa?” Aku tersenyum garing setelah menyelesaikan kalimatku.

“Oh ayolah ini hanya kami, kau tidak perlu berpura-pura di hadapan kami.”

Dwaesso. Aku mau lanjut bermain.” Aku melangkahkan kakiku, namun belum sempat aku benar- benar berjalan. Tubuhku seakan oleng, kakiku rasanya tidak bisa menahan badanku untuk tidak jatuh. Aku baru saja ingin menutup mataku dan mencoba membayangkan dinginnya es di bawahku, tapi tanganku terasa tertarik dan seseorang merengkuh pinggangku dari belakang.

Tangannya yang besar menjagaku agar tidak jatuh, aku menoleh ke belakang dan melihat Chanyeol sunbae yang menolongku. Aku bahkan lupa jika di tempat ini ada orang lain, dan bahkan aku baru tersadar jika tanganku berada dalam genggamannya, mungkin sejak tadi? Pantas saja Jongin mengira dia namja chinguku.

Si bodoh itu, bagaimana aku bisa berpacaran dengan orang lain jika aku masih saja menyukainya.

Dia menatapku datar, kemudian berkata.

“Ayo kita istirahat.” Dia melepaskan pelukannya, dan menutun- tidak, ini seperti menarikku cepat ke arah luar arena. Aku melihat sekilas ke belakang dan melihat Chieun dan Nayoung mengangguk bersama-sama.

Dia menuntunku ke arah cafe kecil di dekat arena.

“Apa yang ingin kau minum?” Dia bertanya sambil menyodorkan buku menu padaku.

Orange juice.” Jawabku singkat, kemudian dia berdiri dan beranjak pergi ke arah waitress yang menunggu di balik etalase.

Dan aku sendirian, duh kepalaku terasa berat sekali. Kalau begini, lebih baik aku tidak perlu bertemu namja bernama Jongin lagi.

Sekali memang aku pernah meminta, mungkin ada baiknya jika aku bertemu Jongin lagi walau hanya sekali. Dan permintaan itu benar- benar terkabul.

Aku ingin bertemu dengannya, aku rindu padanya. Aku rindu melihatnya.

Tapi ini tidak baik. Kutekan perasaanku dalam- dalam, menekan perasaan adalah hal tersering yang pernah kulakukan.

Aku tidak apa- apa. Tenang saja, sebentar lagi rasa penat dan sakit ini juga akan menghilang.

Pikirkan saja, Jongin dan Hyorin sudah bahagia. Dan kupikir seharusnya aku juga bahagia.

Ya, itu pikiranku. Tapi perasaanku berkata sebaliknya.

Ah, merepotkan memang.

Aku mengacak rambutku frustasi, berharap tidak ada yang melihatku. Karena aku takut disangka sudah gila. Namun aku salah, di hadapanku Chanyeol sunbae sudah diam dan melihatku dengan tatapan yang aku tidak mengerti maksud di dalamnya.

Waeyo, sunbae?” Aku memberanikan bertanya.

“Jika kau ingin menangis, menangis saja. Aku tidak akan mengejekmu kok.” Aku mengerinyitkan keningku, memangnya aku terlihat seperti ingin menangis?

“Ya, kau terlihat membutuhkannya. Kau menyukai namja tadi, kan?” Dia kembali bersuara, seakan menjawab pertanyaan yang bahkan tidak ku ucapkan dan mempertanyakan pertanyaan yang membuatku sedikit mencelos.

“Duh, itu tidak cocok denganku. Yeoja sepertiku yang bahkan dipertanyakan apakah aku ini yeoja atau bukan tidak butuh menangis karena hal seperti itu, sunbae.” Jelasku sambil mengibas- ngibaskan tanganku.

“Semua orang berhak menangis. Lagipula siapa yang melarangmu menangis, sih?” Balasnya sengit, tidak menyetujui ucapanku.

Aku tersenyum miris. Memang tidak ada. Aku mengerti, selama ini aku sendirilah yang melarang diriku untuk menangis.

“Dan, satu lagi Jina-ssi.” Dia menatapku lekat. Seakan menyalurkan sesuatu untuk kupercaya. “Aku selalu melihatmu sebagai yeoja.”

DEGGG

Jantungku seakan terlewat satu detakan, aku bisa merasakannya.

Dia melihatku sebagai yeoja? Sesuatu yang selalu kuharapkan keluar dari mulut seorang Kim Jongin, diucapkan oleh Chanyeol sunbae.

Sial! Aku benar- benar ingin menangis sekarang.

Dan benar saja, ketika aku berpikir aku ingin menangis, satu butir air mata pun akhirnya jatuh.

Aku tidak pernah menangis karena Jongin, tapi sekarang aku menangis karena Chanyeol sunbae mengatakan dia melihatku sebagai perempuan.

Uh! Aku tidak ingin terlihat lemah!

Sunbae…” Aku masih menunduk, berusaha menutupi air mataku yang mengalir makin deras.

“Mengapa kau melihatku sebagai seorang yeoja?”

“Karena kau memakai rok ke sekolah.”

NE?!” Aku mengangkat wajahku dan sedetik kemudian aku baru menyadari aku memperlihatkan air mataku padanya. Cepat cepat aku menyeka air mataku yang masih tersisa dan meminum orange juice yang ada di hadapanku.

“Hey, kau tidak menangis karena aku menganggapmu yeoja karena kau memakai rok ke sekolah kan?” Dia bertanya jahil. Uh, sekarang aku keki padanya.

“Lupakan.” Jawabku singkat dan menyedot orange juiceku sampai habis.

“Aku ingin melanjutkan bermain ice skate. Gomawo orange juice nya, sunbae.” Aku melangkahkan kakiku buru-buru meninggalkannya, namun tangan besar seseorang menarikku dan membuat keningku terjeduk tubuh tingginya.

YA!”

“Jangan marah, suatu saat aku pasti akan mengatakan alasan yang sebenarnya. Aku bosan di dalam sana, ayo kita pergi saja.” Dia menarik pergelangan tanganku yang digenggamnya.

“Ya! Kau belum bayar!” Aku mendengarnya terkekeh.

“Maka dari itu jangan menunduk saja, aku sudah membayarnya saat membelinya.” Aku berdecak sebal, dan berlari mengikuti langkahnya yang lebar.

Terus berjalan, sampai dia membawaku ke sebuah danau kecil di belakang arena ice skate.

Pemandangan disini luar biasa, tapi sayang sekali tidak ada orang lain disini kecuali kami berdua.

“Mengapa disini sepi?” Tanyaku penasaran.

“Karena orang- orang akan langsung terfokus pada arena ice skate ketika berkunjung kesini. Tapi karena seseorang aku menemukan tempat ini.” Jelasnya sambil menarik tanganku untuk duduk di sampingnya, tanpa pikir panjang aku juga duduk di tanah sambil menatap jauh ke depan, ke air danau yang sangat tenang. Di sekeliling banyak terdapat tanaman paku yang merambat di rerumputan. Menurutku itu cantik.

“Seseorang? Pacarmu, sunbae?” Tanyaku iseng.

Ani, dia cinta pertamaku. Kau percaya tidak, aku menyukai sepupuku sendiri.” Ujarnya sambil menggeleng- gelengkan kepala.

Mwo? Daebak!

Eoh, saat kecil aku sering bermain dengannya. Keluarga kami memiliki rumah yang tidak jauh dari sini. Suatu hari ketika kami bermain di arena ice skate itu, Hangah-nama sepupuku itu- memaksaku mengikutinya ke danau ini. Dia sering datang kesini sendirian. Dan semenjak itu kami sering menghabiskan waktu bersama disini.” Sunbae menceritakan sambil tersenyum. Mungkinkah dia masih menyukai cinta pertamanya sampai sekarang?

“Hangah, dia pasti gadis yang sangat cantik.” Aku melihat jauh ke atas langit yang sangat cerah hari ini, mencoba mengira- ngira bagaimana rupa seorang Hangah.

“Dia memang sangat cantik dan manis. Tapi aku sekarang menemukan seseorang yang jauh lebih cantik dan manis dibandingkannya.”

“Wah, orang itu pasti beruntung sekali karena kau puji seperti itu.” Ucapku apa adanya.

Namun tanggapannya membuatku bingung, dia malah tertawa. Memangnya ada yang lucu?

“Eh, wae? Kenapa kau tertawa sunbae?” Aku bertanya, jelas aku harus bertanya. Mungkinkah aku sedang bersama orang yang tidak waras disini.

Ani, suatu saat kau juga pasti mengerti alasan aku tertawa.” Ujarnya sambil memencet pipinya. Mungkin pipinya sakit akibat tertawa? Dan dia mau rahasia-rahasiaan. Menyebalkan.

Sunbae.” Panggilku yang membuatnya menoleh.

Gomawo..

“Untuk?” Aku melihatnya menaikan salah satu alisnya dan menatapku bingung.

“Kau mungkin tidak merasa seperti menghiburku, tapi dengan caramu sendiri aku merasa terhibur. Jadi, gomawo.” Aku tersenyum, Chanyeol sunbae dia itu salah satu manusia yang paling unik yang pernah kutemui. Berbicara dengannya membuatku merasa nyaman, caranya yang menatapku ketika berbicara denganku membuatku merasa berharga.

Tidak seperti Jongin.

Ketika berbicara dengannya, seakan- akan aku bisa menceritakan apa saja. Dan walaupun aku tidak begitu nyaman menceritakannya, tapi aku ingin bercerita sedikit tentang Jongin kepadanya.

Can i?

“Jongin, sama seperti Hangah untukmu. Dia adalah cinta pertamaku. Tapi seperti yang kau bisa lihat sendiri, dia tidak melihatku seperti aku melihatnya.” Aku hanya ingin menceritakannya, walau mungkin aku tidak pandai mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata. Tapi kuharap dia mengerti dan mau mendengarkanku.

“Lalu tadi kau menangis karena bertemu lagi dengannya? Dan melihatnya bersama yeoja lain?”

“Tidak, itu pemandangan yang biasa selama hampir setengah tahun.” Ungkapku jujur. “Aku juga terbiasa tidak menangis karenanya walau sesakit apapun perasaanku melihatnya. Uh, kau tahu kau satu-satunya orang yang pernah mendengar bahasan cinta seperti ini keluar dari mulutku.”

Jinjja? Bagaimana dengan 2 sahabatmu?”

“Mereka mengetahuinya, tapi aku tidak pernah menceritakan hal ini seperti yang kuungkapkan tadi kepadamu.” Jujurku.

“Aku istimewa?”

“Berbicara denganmu membuatku nyaman, sunbae. Ehmm.. Pertanyaanmu.” Justru hal ini yang membuatku ragu mengungkapkannya. “Aku sebenarnya menangis karena dirimu. Kau mengatakan sesuatu yang bahkan Kai tidak pernah mengatakannya. Kai- eh kau bingung yah? Kai itu panggilan Jongin.” Aku melihatnya terkekeh pelan, sambil melemparkan batu ke danau yang membuatnya beriak. “Kai pernah mengatakan kalau ia tidak pernah melihatku sebagai seorang yeoja, tapi kau malah mengatakan hal yang sebaliknya.” Lanjutku.

“Jina-ya..”

DEGGG

Mataku membulat sempurna, sekali lagi. Namja bernama Park Chanyeol membuat jantungku melewatkan satu detakannya.

Caranya memanggilku. Caranya melepaskan embel-embel ssi dalam namaku. Dan caranya menatapku.

Aku menyentuh wajahku, panas. Wajahku terasa panas.

Caranya memanggilku membuatku dalam sepersekian detik berharap dialah Once Upon a Time ku.

“Aku belum mengenalmu cukup lama, aku mengenalmu kurang dari 48 jam. Tapi aku sudah bisa merasakannya. Semakin sering aku melihatmu, berbicara denganmu. Kau menarik, Jina-ya. Kau pernah membantuku, dan aku sangat berhutang budi padamu.” Ungkapnya, aku bisa merasakannya tatapannya terasa tulus. Bahkan aku bisa melihat pantulan diriku di dalam bola matanya. Inikah rasanya orang lain benar- benar melihatmu? Di matanya hanya ada aku sekarang.

Sunbae, itu bukan.. apa- apa.” Rasa gugupku sekarang mungkin bisa terdengar dari nada suaraku sekarang.

“Aku akan membantumu, bisakah kau mempercayaiku?”

Membantu?

“Apa maksudmu?”

“Aku akan membantumu melupakan namja bernama Jongin itu.”

_______

Aku akan membantumu melupakan namja bernama Jongin itu.

 

Aku akan membantumu melupakan namja bernama Jongin itu.

 

Aku akan membantumu melupakan namja bernama Jongin itu.

Ah!! Kenapa aku tidak bisa konsen sedikitpun pada cerita mengenai Perang Dunia ke 2 yang sedang diceritakan oleh guru sejarahku.

Aku masih tidak mengerti. Apa maksudnya? Mengapa dia ingin membantuku melupakan Jongin?

Apa hanya karena rasa balas budi? Uuh. Ucapannya benar- benar membuatku tidak tenang.

“Lee Jina.” Aku mendengar seseorang memanggilku, tapi aku masih belum dapat mengumpulkan kesadaranku sepenuhnya.

“LEE JINA!”

“Ah, ye! Songsaengnim!” Aku terlonjak kaget dan segera berdiri untuk maju kedepan.

“Mau apa kau?” Jang songsaengnim menatapku sinis. Duh, tidak lama lagi aku pasti dimarahi.

“Eh?”

“Apakah kau mendengarkan cerita ku sejak tadi?”

“Perang Dunia ke 2.” Decakkan terdengar dari sekelilingku.

“KELUAR KAU!”

______

Uh, berani sekali aku melamun di pelajaran guru sekiller dia?

Ini semua karena ucapan seorang Park Chanyeol yang mengganggu pikiranku.

“Memangnya apa yang diceritakannya sih? Aku benar kan, Perang Dunia ke 2?” Gerutuku sambil menghentak- hentakkan kaki.

“Bukan bodoh, dia sedang menceritakan tentang Dinasti Joseon. Perang Dunia 2 itu bahasan minggu lalu.” Aku menoleh cepat ke belakang dan melihat teman sekelasku, Oh Sehun berjalan santai di belakangku.

“Sedang apa kau?” Tanyaku bingung menemukannya di luar kelas sepertiku.

“Aku diusir guru galak itu juga. Ponselku bunyi.”

Aku mengangguk paham. Kesalahannya lebih besar dariku, dia sudah pasti langsung ditendang keluar.

“Ayo kita ke kantin saja.” Ajaknya sambil berjalan mendahuluiku.

Sebenarnya hal ini tidak patut dicontoh, tapi berhubung aku lapar, lebih baik mengikutinya saja.

________

Kantin sangat sepi, bahkan kosong. Karena yang berada disini hanya penjual saja, tentu saja karena masih jam pelajaran dan orang- orang pasti ada di kelas.

Sehun kembali dengan hamburger dan cola di tangannya. Aku melirik makanan itu sekilas dan menelan air ludahku.

Makanannya benar- benar terlihat enak. Aku melupakan sesuatu, uang jajanku tertinggal di tasku dan aku tidak mungkin kembali ke kelas untuk mengambilnya.

Aku memutuskan untuk menelungkupkan kepalaku di atas meja. Tidak tahan melihat makanan di depan mataku.

“Kau tidak makan?”

“Diet.” Jawabku asal.

Kotjimal.” Dia mendengus sambil menelan sesuatu. Hamburgernya.. Air liurku hampir saja menetes.

“Tunggu sebentar, aku tahu kau lapar.” Kudengar suara kursi berdecit dan langkah seseorang menjauhiku. Aku tetap tidak bergerak sedikitpun dari posisiku.

Beberapa menit kemudian aku mendengar langkah seseorang yang kembali mendekatiku.

Igo.” Aku mengangkat wajahku dan melihat sebungkus hamburger hadir di hadapanku. Whoaaa.

“Untukku?”

“Kau kira?” Sehun memutar bola matanya bosan, wah ini benar- benar untukku. Namja ini baik juga.

Gomawoyo, Sehunie.” Kemudian aku membuka bungkus hamburger dan melahapnya dengan cepat- lebih cepat daripada Sehun memakannya.

Uh! Rasanya enak sekali!

“Apa yang kalian berdua lakukan disini?” Tanya seseorang, kudengar langkahnya yang mendekat ke arah meja kami. Suaranya? Oh tidak!

“Chanyeol sunbae!” Aku menengok cepat ke arahnya yang hanya dibalas dengan tatapan dinginnya untuk Sehun.

“Kalian berdua membolos?” Dia kembali bertanya dan masih memberi tatapan dingin ke arah Sehun.

“Euh, begini sunbae.” Aku baru hendak bersuara, namun suara Sehun memotongku.

“Kami berdua sama- sama diusir dari kelas oleh Jang songsaengnim dan aku mengajaknya ke kantin. Kami tidak berniat bolos.” Bela Sehun sambil melirikku sekilas.

Aku hanya mengangguk.

“Ah, Sehunie benar. Kami tidak bolos.” Baru kali ini Chanyeol melihat ke arahku, namun tatapannya yang dingin. Lebih dingin daripada ketika melihat Sehun sedikit banyak menohokku.

Aku melakukan sesuatu yang salah?

“Bagaimanapun kalian tetap terlihat bersalah di mataku. Kau!” Chanyeol menunjuk Sehun dengan kasar. “Sepulang sekolah datanglah ke ruang BP. Aku akan melaporkanmu pada Min songsaengnim selaku guru BP.”

Sehun hanya menggerutu tidak jelas.

“Dan kau, ikut aku.” Dia menarik tanganku kasar, membuatku kaget dan refleks menarik tanganku lagi.

“Bukankah aku harus di hukum yang sama dengan Sehun? Mengapa kau tidak mengatakan hal yang sama seperti Sehun untukku.” Tanyaku sengit, aku benar- benar merasa tidak enak pada Sehun jika hanya dia yang masuk ruang BP. Bagaimanapun kami melanggar peraturan bersama- sama.

“Kau di ajak, kan?!” Ada apa dengan Chanyeol sunbae sebenarnya? Mengapa dia jadi sekasar dan sedingin ini?

“Tapi tetap saja!” Bentakku membalasnya. Aku benar- benar tidak tahan dengan perbedaan hukuman ini.

“Kau ikut saja dia. Aku tidak apa-apa menerima hukuman sendiri.” Aku melirik Sehun sekilas, dia benar- benar memasang wajah pokernya sekarang. Dan itu membuatku tidak enak padanya.

“Sehun-ah, mianhae.” Lirihku sambil menyamakan langkahku dengan Chanyeol sunbae yang sudah berjalan meninggalkan Sehun terlebih dahulu.

Chanyeol sunbae menarikku ke ruang OSIS, ketika pintu terbuka kulihat anggota OSIS lainnya sedang berada di dalam sana. Ada yang sedang menulis sesuatu, mengetik, bahkan membuat papan skor. Mereka sedang bekerja? Pada jam pelajaran? Kemudian ingatanku melayang pada pengumuman yang di umumkan wali kelasku tadi pagi, sebentar lagi akan diadakan Pekan Olahraga antar Kelas. OSIS pasti sibuk menyiapkannya.

Kembali pada keadaanku sekarang. Semua mata langsung menatapku aneh. Aku hanya tersenyum kecil dan menundukan kepalaku.

Tanganku masih ditariknya, kemudian ia melanjutkan langkahnya dan menarikku memasuki pintu lain di dalam ruangan itu. Biar kutebak, mungkin ruang pribadinya.

Ruang ketua OSIS?

Dia membanting pintu dan menatapku tajam.

“Apa yang kau lakukan, sunbae?!” Pekiku kesal ditatapnya seperti itu. Apakah membolos membuatnya semarah ini? Dia ini sebenarnya kenapa?

“Kau dekat dengannya?” Dia bertanya dengan nada yang begitu dingin. Membuat hatiku sedikit sedih mendengarnya.

“Dia teman sekelasku, wae?!”

“Kau bahkan tidak memanggilku seakrab itu kau tahu? Kau masih memanggilku sunbae, tapi kau memanggilnya Sehunnie?”

Speechless. Aku ternganga dan memandangnya tidak percaya.

Jangan katakan dia marah karena hal itu?

“Kau marah karena hal itu?”

“Kau kira? Aku juga sedikit kesal melihatmu berduaan saja dengannya di kantin yang hampir kosong.” Jelasnya sambil mengatur napasnya dan nada bicaranya.

“Kenapa harus marah?” Sebenarnya aku tidak bertanya padanya. Aku seperti bertanya pada diriku sendiri.

“Karena aku menyukaimu, bodoh! Uh, kau itu polos atau apa sih?!”

MWO?! Dia menyukaiku?! Hah? Ahh maldo andwae, aku salah dengar.

Aku masih menatapnya tidak mengerti.

“Dia bukan hanya polos, dia benar- benar bodoh!” Dengusnya yang membuatku mengerinyit.

“Jangan-jangan, kau belum memahami ucapanku kemarin yah?” Dia bertanya sangsi. Karena memang begitu kennyataanya aku pun mengangguk.

“Kau pikir mengapa aku ingin membantumu melupakan Jongin?”

Aku berpikir sejenak, dan menjawab apa yang ada di kepalaku.

“Mungkin karena rasa hutang budimu?” Jawabku apa adanya.

“Dengarkan aku baik- baik Lee Jina. Aku ingin kau hanya melihatku.” Dia melangkah maju mendekatiku, refleks aku pun berjalan mundur menghindarinya sampai- sampai punggungku membentur dinding. Dia tersenyum miring ketika melihatku tidak bisa mundur lagi.

Ah sial, mengapa aku jadi segugup ini melihatnya. Dan jantung, kau bekerja normal saja, jangan terburu- buru seperti itu. Bagaimana jika namja ini mendengar gemuruhmu.

Duh, ini apa- apaan?

Aku mengomel tidak jelas dalam hati, namun kedua tangannya terayun ke kedua sisi tubuhku seakan mengurungku. Baru saat itu, aku mulai menghentikan omelan tidak jelasku dan menatapnya balik.

Sekali lagi, aku bisa melihat pantulan diriku dari bola matanya. Dia hanya melihatku.

Dan itu membuatku merasakan perasaan aneh. Untuk pertama kalinya. Jika dia benar- benar menyukaiku, mungkin perasaan seperti inilah yang namanya dicintai?

TUKK

Appo!” Aku meringis ketika merasa kepalaku dijitak seseorang.

“Apa yang kau pikirkan, bahkan dengan jarak seperti ini kau pun masih belum melihatku sepenuhnya.” Dia mendengus, ohh jadi rupanya dia yang menjitakku barusan!

“Jina-ya….” Dia memanggilku dengan nada yang lembut, aku baru menyadarinya. Aku suka mendengarnya memanggilku. Perasaan yang berbeda dengan yang kualami ketika Kai memanggil namaku. Karena yang selama ini kurasakan adalah perasaan terbiasa.

“W.. Wae?” Gugup. Aku gugup sekali.

“Aku belum mengenalmu lama, tapi kau benar- benar menarik perhatianku. Aku tidak perlu waktu lama untuk menyukai yeoja sepertimu. Aku tahu, kita masih memerlukan waktu untuk saling mengenal. Aku mengenal dirimu, dan kau mengenal aku. Tapi maukah kau berjanji?” Dia menatapku lekat. Seakan- akan aku akan menghilang jika dia memalihkan wajahnya walau hanya sedikit. Dan entah mengapa, aku merasa istimewa.

Ne?”

“Suatu saat, ketika kau benar- benar bisa hanya melihatku dan melupakan Jongin. Maukah kau mengatakannya padaku?”

Bibirku terkatup rapat. Ini semua membuatku tercengang. Dia membuatku merasa berharga, merasa istimewa. Dan aku benar- benar bahagia karena itu.

Ya, Lee Jina. Akhirnya ada benar- benar seseorang yang melihatmu. Keinginanmu terkabul.

Park Chanyeol, gomawo.

Aku menggigit bibir bawahku. Rasanya aku jadi ingin menangis.

Pada akhirnya aku mengangguk pelan.

Chanyeol melihatnya dan tersenyum dengan cara yang begitu tulus. Membuat sekujur tubuhku seakan tersengat tegangan listrik.

“Ketika saat itu datang. Aku akan membuatmu benar- benar menjadi milikku.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan mengecup pelan pipi kananku.

Tunggu? Dia mengecup? Pipiku?!

YA!!” Aku menendang kakinya dan membuatnya meringis kesakitan dan berjalan mundur.

“Mengapa kau menciumku?!” Uh! Aku malu sekali. Aku yakin wajahku sekarang sudah seperti kepiting rebus.

“Itu bukan ciuman, bodoh!” Sungutnya sambil memegangi kakinya yang kutendang tadi.

“Apapun namanya, kau membuatku kaget tahu!” Aku membalasnya dengan perasaan tidak terima.

“Hey, kau berpikir tidak?” Aku makin kesal padanya ketika melihatnya menatapku jahil.

“Kurasa aku tidak perlu menunggu waktu lama sampai kau benar- benar menyukaiku. Lihat saja wajahmu sekarang, baru kukecup di pipi saja wajahmu sudah memerah seperti itu.”

“Apapun! Park Chanyeol!” Aku benar- benar kesal sekarang aku siap membuka pintu. Ketika tiba- tiba deep voice nya kembali terdengar.

“Kakiku terkilir! Aku tidak bisa naik motor, kau harus mengantarku pulang, Lee Jina. Ini benar- benar sakit tahu, kau menendang tepat di tulang keringku.”

Aku mencoba mengabaikannya dan membuka pintu. Dan apa yang kulihat selanjutnya?

Para anggota OSIS termasuk Baekhyun sunbae sedang membungkuk di hadapanku dan beberapa di antaranya bahkan terjerembap ke depan.

Sial! Mereka menguping!

_______

One year later…..

Chanyeol’s PoV

Yeoja itu benar- benar menyebalkan. Disaat penting seperti ini dia malah menghilang.

Oppa!” Aku menoleh cepat ke arah sumber suara, dia masih beberapa meter dariku. Dengan sigap aku berjalan cepat ke arahnya dan menariknya agar cepat naik ke podium kecil itu.

Hana, dul, set!

KIMCHI!

“Ya! Ke mana saja kau?!” Geramku padanya yang kelihatan bersalah karena terlambat datang ke acara Graduationku.

Mian oppa, aku terlambat karena aku mencoba merangkai bunga sendiri untukmu. Tapi seperti yang kau lihat. Jadinya absurd begini.” Dia menggembungkan kedua pipinya yang membuatku tidak tahan untuk mencubit pipi yeojaku.

Gwaenchana. Gomawo untuk bunganya.” Aku mengambil bunga di tangannya dan menghirup aromanya.

“Wanginya sama seperti dirimu. Wangi bunga matahari. Aku suka.”

Dia tersenyum manis dan menatapku penuh ketulusan. Yeojaku.

Aku tersenyum mengingat usahaku mendapatkannya. Setelah kejadian di ruang OSIS setahun yang lalu aku benar- benar membutuhkan waktu yang cukup lama- kurang lebih 3 bulan- untuk bisa membuatnya menyadari bahwa dia juga menyukaiku.

Mungkin karena sifat lemot dan polosnya. Sampai – sampai aku harus meminta bantuan Baekhyun dan mengarang skenario yang menceritakan aku harus pergi mendadak ke luar negri karena abeoji memanggilku untuk membantu perusahaannya. Bahkan Yixing dengan telatennya membuat surat kepindahan sekolah palsu untukku dan menunjukannya pada Jina. Barulah disaat itu dia tergerak dan berlari menuju bandara hanya untuk mencegah kepergianku.

Dan saat itu dengan air mata dia mengakuinya bahwa dia tidak mau kehilanganku. Dan dia juga mengatakan bahwa mungkin saja dia sudah menyukaiku sejak pertama kali bertemu denganku di depan gudang saat itu.

Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah karena melihatnya menangis. Tapi aku tidak bisa berbuat apa- apa lagi. Dia tipe orang yang tidak bisa mengatakan perasaannya jika tidak dipaksa.

Dan jenis pemaksaan yang kulakukan memang sedikit childish.

Setelah mengetahui semua itu pura- pura dan hanya skenario yang dibuat olehku, dia tak habis- habisnya menyerangku dan memukuliku. Bahkan aku harus menanggung malu karena dia melakukannya di bandara.

Setelah itu dia benar- benar marah dan tidak mau berbicara lagi denganku. Hampir 3 hari penuh! Dan itu benar- benar menyiksaku.

Hingga akhirnya aku harus membawanya paksa – aku ingat aku meminta bantuan oppanya untuk melakukan ini- ke danau kecil di belakang ice skate tempat kami sering menghabiskan waktu.

Di sana ia luluh padaku. Dan kami benar- benar pacaran resmi mulai saat itu. Dan karena kami mulai resmi berpacaran dia harus memanggilku oppa. Dan untunglah dia menurutinya.

Oppa,” dia memanggilku sekaligus mengembalikanku ke alam sadar. “Kau tidak ingin berkumpul dengan teman- temanmu dulu?”

“Itu bisa kulakukan nanti malam, saat prom night. Sekarang aku ingin bersama yeojaku saja.” Aku senang memanggilnya dengan ‘yeojaku’ karena setiap aku mengatakannya, aku pasti bisa melihat rona merah pada pipinya. Dan itu membuatku senang.

“Kita mau kemana?”

“Bagaimana jika kita pergi ke butik. Memilih gaun untukmu nanti malam?” Aku melihatnya memberengut.

“Kau tahu aku tidak suka memakai gaun dan hal- hal seperti itu oppa.”

“Tapi kau akan suka jika aku menyukainya, kan?” Aku mengedipkan sebelah mataku yang membuatnya terdiam. “Kajja!”

______

Kami sudah sampai di butik Hyorin eomma, ya Hyorin yeoja chingu Jongin. Cinta pertama Jina. Aku senang ketika mengingat kenyataan, bahwa Jina telah benar- benar melupakan Jongin. Bahkan sekarang kami dapat berteman baik dengan Jongin dan yeoja chingunya.

“Hyorin-ah, kau telah menyiapkannya? Gaun yang kupesan?” Tanyaku to the point ketika melihat Hyorin menyambut kami ketika sampai di pintu.

“Ya, Park Chanyeol-“

Oppa.” Aku mengoreksi panggilannya, ketika dia mulai kesal dia akan memanggilku Chanyeol.

“Apapun! Aku tidak mau! Shireo!” Aku melihatnya memegang kepalanya frustasi. Dia benar- benar tidak menyukai hal seperti ini, dan aku tahu itu. Tapi entah mengapa untuk hari ini saja, aku ingin memaksakan kehendakku.

“Jina-ya, kau tidak ingin mengabulkan permintaan namja chingumu di hari Graduation nya?” Aku sengaja melakukan sedikit aegyo untuknya. Namun ia hanya menatapku datar yang membuatku mengerucutkan bibirku.

“Sehunie dapat melakukannya jauh lebih baik.” Ucapnya datar sedatar tatapannya padaku.

“Sehun! Sehun! Pacarmu itu Sehun yah?!” Entahlah aku sedikit kesal ketika mendengar nama Sehun keluar dari dalam mulutnya.

“Sudahlah jika tidak mau!” Aku keburu kesal dan hendak keluar dari butik, namun tangannya menarikku.

“Aku akan melakukannya, untukmu. Kau perlu mencatat itu.”

Finally! Aku tersenyum menang. Aku tahu kelemahannya. Dia tidak mau melihatku marah padanya.

“Oke, chagi. Hyorin-ah, ku percayakan dia padamu.” Aku melihat Hyorin tersenyum dan menuntun Jina ke dalam. Sementara aku merebahkan diri di sofa.

“Yow, Hyung!” Sapa seseorang, Jongin. Aku melihatnya baru keluar dari pintu toilet.

Prom night,  huh?” Tanyanya santai sambil melangkah ringan ke sebelahku.

Eoh! Aku sedang membuatnya menjadi yeoja paling cantik malam nanti.” Ucapku bangga.

“Perlu diralat, Hyung. Bukan kau. Tapi yeoja chinguku yang sedang mendandaninya di dalam sana.” Ujarnya tidak terima.

“Ah kau benar. Hahahaha.”

Dan kami tertawa bersama.

________

Jina’s PoV

Aku memilih untuk tidur, aku benar- benar tidak tahan ketika benda- benda aneh menempel di wajahku. Dan rupanya aku benar- benar terlelap, sampai Hyorin membangunkanku.

Dressing time?” Ujarnya ceria sambil membawa dress berwarna hitam.

Uh! Hitaaaaaam!

“YA PARK CHANYEOL!! MENGAPA HARUS HITAM, HAH! KAU INGIN MENGAJAKKU KE PROM NIGHT ATAU KE KUBURAN!” Aku berusaha berteriak dengan sekuat tenaga agar terdengar sampai ruang depan. Namun ketika aku melihat Hyorin menutup telinganya aku baru merasa bersalah.

“Pakai saja, chagi. Kau akan terlihat sexy dan sangaaaaaaaat cantik jika memakainya!” Chanyeol balas berteriak dan membuatku ingin segera berhambur keluar dan melemparnya dengan sepatu.

Namun ketika aku baru mau melakukan aksiku tangan Hyorin menggapaiku.

“Sudah jam 5. Lebih baik kau cepat pakai dress ini. Kau tidak ingin terlambat kan?”

HAH?! JAM 5?! Jadi berapa lama tadi aku tertidur??

Aku segera bergegas melangkahkan kakiku ke ruang ganti, tanpa pikir panjang mulai memakai dress itu. Sedetik setelah aku berhasil memasangkan dress, aku menganga hebat karena melihat model dress yang patut untuk kukutuk itu.

Sedari tadi aku hanya memperhatikan warnanya saja. Ternyata ini dress yang tidak memiliki lengan. Dan yang lebih mengesalkan lagi panjangnya mungkin 5 centi di atas lutut!

Ok, ini namanya cari mati! Awas saja kau Park Chanyeol!

Aku meneliti lebih jauh apa yang sedang kukenakan ini, dan dari semua komponen yang kulihat aku hanya menyukai pita putih di bagian pinggang dress ini.

Aku keluar dari ruang ganti dengan wajah kesal. Aku pasti akan menghajarnya! Lihat saja nanti.

“Jina-ya, Chanyeol menyuruhku memakaikan ini untukmu.” Aku melihat apapun yang di bawa Hyorin dengan pandangan tidak minat.

“Untuk apa itu?”

“Chanyeol bilang, dia tahu kau pasti tidak menyukai model dress tanpa lengan seperti itu. Makanya dia memintaku merancangkan ini untukmu. Bolero untuk menutupi bagian pundak.” Jelasnya dengan wajah kagum.

“Chanyeol dia benar- benar memikirkanmu. Dia telah jauh-jauh hari berkonsultasi denganku untuk merancang dress itu.” Lanjutnya.

Sementara aku hanya tercengang, rasanya aku jadi tidak jadi ingin marah. Aku melihat bolero berawarna putih itu, rupanya dia ingin menggabungkan warna kesukaanku dan warna kesukaannya.

Setelah Hyorin memasangkan itu untukku, aku dikagetkan lagi.

Ya, kaget. Melihat sepatu setinggi itu yang harus kupakai.

High heels! Oke yang ini aku tahu namanya.

Aku menelan lagi teriakanku dan berusaha memakainya. Aku hanya menyukai satu dari sepatu yang kutakut akan membuatku terjatuh ketika memakainya.

Warnanya putih.

“Kau ingin bercermin?” Tawar Hyorin.

“Tidak perlu, gomawoyo Hyorin-ah.”

Ne, cheon.

Kulangkahkan kakiku keluar dengan penuh hati- hati, suara yang ditimbulkan sepatu ini membuatku sakit kepala. Belum lagi aku melihat diriku sendiri berjalan seperti robot.

Tapi segala keki yang kurasakan terasa sirna ketika aku melihatnya, dalam jasnya hitamnya, dia tidak memakai dasi. Melainkan hanya membuka dua kancing kemeja putih di dalamnya.

Dalam sepersekian detik aku merasa, pangeranku akan menjemput dan merubah seseorang sepertiku menjadi seorang putri. Dan kurasa hal itu memang benar. Aku tersenyum ketika memikirkannya.

Dia menatapku dalam diam, namun matanya sangat terkejut ketika melihatku.

You’re the most beautiful person that i’m ever seen, chagi.” Aku merasa sangat gugup diperhatikannya seperti itu. Aku tahu dia hanya pura- pura memujiku.

“Tidak, kau benar- benar cantik. Jangan meragukan hal itu.” Matanya masih belum lepas dari wajahku.

“Jika kau melihatku seperti itu lebih lama lagi, aku akan benar- benar menimpukmu dengan sepatu aneh ini.” Dia terkekeh pelan dan aku tersenyum melihatnya.

Kajja.” Dia mengulurkan tangannya dan kusambut dengan senang hati.

______

Oppa, gomawoyo.

 

Untuk?

 

Akhirnya aku bisa menemukan pangeran yang benar- benar bisa melihatku dan datang menjemputku. Aku tidak ingin mempercayai dongeng lagi, karena hidupku bukan dongeng. Tapi aku ingin mempercayai satu hal, aku ingin menemukan akhir yang bahagia bersamamu oppa.

 

Nado, dimanapun akhir yang bahagia itu. Kita pasti menemukannya. Karena aku percaya, ada akhir yang bahagia untuk kita. Tapi sebelumnya, aku ingin mengatakan sesuatu.

 

Hmmm?

 

Gomawo karena kau telah mengetok pintu gudang saat itu. Karena dengan itu kisah kita dimulai.

 

Memangnya bagaimana awal kisahmu, oppa?

 

Mungkin begini. Once upon a time, a very handsome, cool, and smart prince, Park Chanyeol –

 

Oppa, please. A very handsome, cool, and smart prince. Its too much!

 

Aigoo, kau juga pasti mengakuinya. Aku tampan dan keren kan? Ah, tapi sebelumnya aku ingin terlebih dahulu mendengarkan versimu.

 

Ehmm! Once upon a time, a very ordinary girl whose name Lee Jina met a very creepy boy with dust and a spider’s web in his head, Park Chanyeol.

 

Itukah kesan pertamamu padaku?

 

Ne. Sometimes, someone will comes to my world. And you, really my ‘someone’, oppa.

 

Lets walk till the end! Our story, Park Chanyeol and Lee Jina.

FIN

7 thoughts on “[FF Writing Contest] Sometimes,.. Someone.

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s