[FF Writing Contest] The Happiness

flower

Title : The Happiness

Author : Scarlett Li

Main Cast :

  • Han Jiyoung
  • Byun Baekhyun

Support Cast :

  • Park Chanyeol
  • Yoon Hankyung

Genre : Friendship, Romance, AU

Rating : PG 13

 

 ∞    ∞

“Lebih baik kita berpisah.”

Senyum di wajah gadis itu hilang. Air mukanya seketika berubah mendengar beberapa kata menyakitkan itu. Tangannya terasa melemas, malah tubuhnya juga. Kini matanya mulai berair. Ia tersenyum menenangkan diri. Dia suka bercanda. Begitu pikirnya.

“Kau.. kau sedang bercanda, bukan?” tanya gadis itu dengan suara seraknya. Ia menunduk sejenak, membiarkan airmatanya jatuh.

Pria itu menghela nafas, lalu berkata. “Aku serius.”

“Tapi…” gadis itu menatap lawan bicaranya. “kenapa?”

“Itu…”

Han Jiyoung menatap pria itu, lalu tersenyum sambil menepuk bahu pria itu. “Aku tahu apa yang kau lakukan adalah yang terbaik.” Itulah perkataanya. Padahal sebenarnya, ia tidak ingin mendengar jawaban dari bibir pria itu. Kenyataan untuk sampai disini saja sudah sangat sakit.

Ia harus terlihat kuat sekarang. Ia tidak ingin dikenal sebagai wanita yang lemah.

“Walaupun begitu…” Jiyoung menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan airmatanya yang jatuh. “kita bisa berteman seperti dulu, bukan?”

Pria itu terlihat tersenyum lega mendengar jawaban gadis itu. “Ya, tentu.”

Jiyoung mengangguk kecil, lalu menatap jam tangannya. “Oppa err.., maaf. Aku harus bertemu dengan dokter sekarang.”

Alasan jitu. Ia begitu pintar untuk situasi sekarang ini.

“Aku antar.” kata Baekhyun dengan nada cemas. Jiyoung menggeleng.

“Kau pasti sibuk. Oh ya, salam untuk Chanyeol oppa. Aku sangat merindukan si happy virus itu.” katanya lalu terkekeh pelan mendengar perkataannya sendiri.

“Akan kusampaikan.” kata pria itu membuat Jiyoung menggigit bibirnya kembali.

“An.. Annyeong.” katanya lalu berbalik, menjauhi pria itu dan segala hal terkait dengan pria itu sekarang ini.

“Kau yakin tidak ingin kuantar?” kata Baekhyun dengan setengah berteriak.

Jiyoung hanya menunjukkan ibu jarinya untuk menjawab ajakan pria itu.

Ia tak akan berbalik. Tak akan.

∞    ∞

“Jiyoung belum pulang?” Baekhyun menatap jam dindingnya. “Eommonim yakin?”

Tentu saja, Baekhyun. Untuk apa aku bercanda untuk urusan ini?

Baekhyun meringis mendengar itu. Benar juga. Tidak mungkin ibu Jiyoung bercanda untuk saat ini.

“Bukankah tadi siang dia check-up ke dokter?” tanya Baekhyun dengan nada cemas. Matanya melirik pada Chanyeol yang kini menaikkan alis, menatapnya bingung bercampur penasaran.

Ia tidak memiliki jadwal check-up untuk hari ini, Baekhyun-a. Apa kau lupa?

Ia mengutuk dirinya. Benar juga. Jadwal check-up gadis itu lusa. Mengapa ia bodoh percaya begitu saja pada gadis itu? Dan bodohnya, kini ia baru sadar gadis itu tadi berusaha menghindarinya.

Apakah kau bisa membantu eommonim mencari Jiyoung?

Setelah menyetujui ucapan ibu Jiyoung, ia menaruh gagang telfonnya dengan lemas.

“Ada apa? Mengapa wajahmu lesu begitu?” tanya Chanyeol begitu Baekhyun menurunkan gagang telfon itu dari telinganya. “Aah.. aku tahu. Jiyoung-a menghilang, bukan?”

Baekhyun menatapnya lalu menghela nafas dan mengangguk kecil. “Aku harus mencarinya.”

“Untuk apa? Setelah kau mengatakan hal yang menyakitkan untuknya, dan kini kau datang kembali padanya?” kata Chanyeol membuat Baekhyun menatapnya. “dan kalaupun kau menemukan Jiyoung, dia akan mau pergi bersamamu? Kau tahu dia bukan gadis seperti itu, bukan?”

Baekhyun menghela nafas. Perkataan si pria tinggi ini benar juga.

Baekhyun menjambak rambutnya kesal. “Lalu aku harus bagaimana?” ujarnya setengah frustasi. “Aku harus menghubunginya.” gumamnya lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.

Sudah beberapa kali ia mendapat pesan suara itu. Saat ia sudah hampir menyerah menghubungi gadis itu, tiba-tiba nada tersambung. Ia menghela nafas pelan. Namun tiba-tiba suara sambungannya itu berhenti. Ia menatap layarnya itu.

Rejected. Itulah yang ia dapat dari banyak usahanya untuk menghubungi gadis itu. Berarti, sekarang ponselnya telah aktif. Ia menghela nafas lega lalu saat ia ingin menghubungi gadis itu lagi, tiba-tiba ponselnya berdering tanda sms masuk. Saat di layarnya tertulis nama Han Jiyoung, ia buru-buru membukanya.

Jika kau menghubungiku untuk bertanya keberadaanku, aku tidak akan menjawabnya. Tapi aku akan pulang. Tolong bilang saja pada ibuku kalau aku akan pulang sebentar lagi. Oh ya, jangan cari aku, aku akan pulang, pasti. Cukup katakan saja pada ibuku seperti itu. Terima kasih.

Bahkan tak ada satu pun kata “oppa” di pesannya, seperti dulu. Ia menghela nafas, Chanyeol benar.

Untuk saat ini, semua perkataan Chanyeol ada benarnya.

∞    ∞

Han Jiyoung menatap jalanan yang berlalu dengan cepat. Seperti waktu, semua itu terasa begitu cepat. Kini air matanya turun untuk kesekian kalinya. Sesegera mungkin ia menghapusnya. Tetapi tetap saja, air mata itu tetap jatuh. Tidak mau mengikuti perintah si pemiliknya sendiri.

Akhirnya, ia memilih untuk membiarkan air matanya itu jatuh. Tidak peduli matanya akan telihat lebih memburuk setelah ini—karena memang sebelum masuk bis pun air matanya sudah terlihat sembab, dan memerah.

Kini pikirannya mengulang kembali kejadian tadi siang.

“Lebih baik kita berpisah.”

“Aku serius.”

“Ya, tentu.” 

Dari sekian banyaknya alasan yang Jiyoung pikirkan—dengan masuk akal—dari alasan Baekhyun untuk memutuskannya hanya ada dua saat itu; pertama. Baekhyun menyukai gadis lain. Kedua. Ia sama sekali tidak mencintai Jiyoung dan memilih untuk mundur. Dan entah kenapa, Jiyoung lebih yakin dengan alasan kedua karena di alasan pertama, setahunya, Baekhyun tidak atau belum menyukai siapapun. Sampai saat ini. Atau ia yang tidak tahu? Atau ia berpura-pura menutup kuping?

Jiyoung tersenyum tipis mengingat pemikirannya yang terakhir itu. Melihat wajah Baekhyun yang terlihat yakin saat itu. Dan senyumnya yang mengembang lega setelah Jiyoung berkata seakan-ia-baik-baik-saja, terlihat senyum Baekhyun mengembang dengan sempurna. Seperti.. bebas. Tunggu.

Apa ia terlalu memberatkan orang-orang?

Mungkin dulu ia menerimaku karena dulu keadaanku sangat buruk. Jiyoung tersenyum kecil mempunyai pemikiran seperti itu. Tapi mungkin pemikirannya itu ada benarnya.

Kini pikirannya kembali pada satu tahun yang lalu. Kenangan yang sampai sekarang Jiyoung belum bisa melupakannya.

Jiyoung menatap Baekhyun lekat-lekat, lalu menunduk, menutupi wajahnya yang kini merona.

“Ada apa, Jiyoung-a? Apa ada masalah?” suara Baekhyun saat itu terdengar sangat khawatir.

Jiyoung mengadah dan menatap pria itu. Dengan wajah meronanya, ia mengatakan. “Aku menyukaimu, Baekhyun.”

Pria itu tidak bergeming.

Jiyoung yang melihat air muka pria itu, ia melanjutkan. Ia hanya ingin menuntaskan semuanya kali ini. “Aku.. menyukaimu sejak kita berada di sekolah menengah. Sudah lama sekali ya? Maaf, aku baru berani mengatakannya sekarang. Dan di saat yang tidak tepat. ” katanya lalu melirik kanan-kiri dan tersenyum kecil, dalam hati menertawai apa yang ia lakukan sekarang. Ia menyatakan hal itu di rumah sakit. Dan tentunya dalam keadaan sakit. Apa yang ia harapkan?

“Mungkin kau tidak akan menerimaku karena aku seperti ini. ” katanya lagi lalu tersenyum kecil. “Aku sedang melawan ajalku disini. Kau.. harus bahagia.”

Pria itu menatapnya tanpa bicara. Dan Jiyoung menganggap itu sebagai penolakan.

∞    ∞

Esoknya—tanpa disangka-sangka olehnya, pria itu, Byun Baekhyun, membawa sebuket bunga tulip merah dan dengan senyum manisnya, ia mengatakan. “Han Jiyoung, mari kita memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.”

Dan Jiyoung hanya bisa tersenyum lebar—tertawa bahagia, malah—sambil mengambil buket bunga itu dan tanpa sadar, ia mengeluarkan airmatanya saking bahagianya. “Terima kasih. Kupikir…kupikir…”

“Aku akan berada disampingmu dan menyemangatimu. Jadi, jangan menyerah karena vonis dokter. Buktikan bahwa kau bisa melewati ini.”

Ia mengangguk lalu mencium wanginya bunga tulip merah itu. “Kenapa kau memberiku tulip merah?”

Tiba-tiba saja ia meremas tengkuknya yang kini terasa tegang. “Itu… itu…” melihat Jiyoung menatapnya penasaran, Baekhyun menyerah. “kata pemilik toko bunga itu, tulip merah berarti kepercayaan.”  

Jiyoung hanya mengangguk mengerti lalu mencium kembali wangi bunga tulip merah itu dan tanpa sadar ia menutup matanya, ingin merasakan kepercayaan Baekhyun lewat bunga itu.

Jiyoung tersenyum kecil lalu menggerakan tangan kanannya ke dada kirinya, tempat jantung baru itu berada. Mungkin karena ia telah dikatakan sehat oleh dokter—walaupun harus check-up minimal seminggu sekali—Baekhyun menjadi berani untuk mengatakan kata perpisahan untuknya.

Jadi, selama ini yang ia lakukan adalah karena belas kasihan?

Jika benar pemikiran sekilasnya itu benar, Mulai sekarang, ia tidak akan percaya begitu saja kepada orang yang memberikan perhatian lebih padanya.

You’re so bad – how could you leave after only giving me painful scars?
I blankly stare at you, who is turning away, not being able to catch you
The past memories of when we used to love are passing by and going

∞    ∞

“Jadi Jiyoung sudah pulang?” Baekhyun menghela nafas setelah mendengar kabar itu. “Iya, eommonim.”

“Ia benar-benar menepati janjinya.” gumam Chanyeol walau tetap menatap acara kesukaannya dengan keripik kentang yang ia siapkan di sebelahnya.

Baekhyun duduk di sebelahnya, lalu mendesah berat. “Apa aku salah, ya?”

“Salah bagaimana maksudmu?” tanya Chanyeol sambil terus menatap acara kesukaannya.

“Aku memutuskannya.”

Chanyeol meliriknya sekilas, lalu mengambil beberapa keping keripik dan memakannya. “Jika kau tidak mencintainya, untuk apa mempertahankannya? Tidak, kenapa kau menerima pernyataannya?”

Baekhyun menghela nafas, lalu menatap layar teve tanpa minat. “Sudah kubilang, aku melakukan itu karena…”

“Kasihan? Ingin memberinya semangat lebih?” kini Chanyeol benar-benar menatap Baekhyun. “Apakah dengan rasa kasihanmu itu—”

“Bukan kasihan,” Baekhyun membantah perkataan Chanyeol dan segera meralatnya, “tapi aku tidak ingin membuatnya lebih terpuruk dengan keputusanku saat itu.”

“Ya, seperti katamu, “tidak ingin membuatnya terpuruk saat itu”.” kata Chanyeol tanpa minat lalu melirik sekilas layar tv itu dan kembali pada Baekhyun. “Apa bedanya saat itu dan sekarang?”

“Saat itu ia sedang sakit.” jawab Baekhyun cepat. Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, menganggap itu bukan alasan yang kuat. Jadi ia melanjutkan. “jadi jika aku menolaknya, ia akan memikirkannya terus menerus sehingga ia drop, dan…” Baekhyun menghentikan perkataannya, mencari kata-kata yang tepat untuk ia katakan. “Begitulah.”

“Lalu bagaimana dengan sekarang? Bukankah ia malah lebih sakit hati apalagi saat mengetahui alasanmu—”

“Ia belum tahu.” kata Baekhyun pelan.

“Ya, seperti itu. Apa?!” kata Chanyeol dengan matanya yang membulat sempurna menatap Baekhyun kaget. “Jadi kau belum memberitahunya? Ya! Kau gila, ya?”

“Tidak. Justru karena aku waras, aku tidak ingin ia tahu.” kata Baekhyun menaikkan nada suaranya. Ia memijit pelipisnya yang kini terasa berdenyut, astaga, mengapa sesuah ini?

Chanyeol menatapnya tajam, lalu mendesah. “Baiklah, kau berasumsi seperti itu. Tapi bagaimana jika ia mendengar hal itu dari orang lain? Kau ingin lebih dibenci olehnya?”

Baekhyun terdiam. Baekhyun menatapnya dalam, bahkan tersirat agak memohon dari matanya.

“Kumohon, jangan beritahu siapapun.”

Chanyeol mengangkat bahu. “Aku bisa jamin itu. Tetapi kalau ia yang menebaknya sendiri?”

Baekhyun menghela nafas. Entah kenapa, kali ini perkataan Chanyeol terlalu benar untuk ditaklukkan.

Tiba-tiba, Baekhyun sadar dari lamunannya dan sudah melihat Chanyeol berdiri. “Aku pulang. Jangan lupa, lusa kita ada kelas.”

Baekhyun menjambak rambutnya kasar, tak peduli rambut hitamnya itu akan rontok karena kelakuannya itu.

Bodoh. Itulah kata yang sedari tadi ia gumamkan.

∞    ∞

“Jiyoung-a, ayo bangun. Hari ini kau ada kelas, bukan? Bukankah kau yang bilang sendiri tidak ingin bertemu dengan guru yang katamu galak itu.” suara ibunya membuatnya perlahan membuka mata. Menggeliat sejenak, memikirkan apa yang terjadi semalam—seperti biasanya. Tetapi, kali ini beda. Ia malah memikirkan apa yang terjadi kemarin malam. Kejadian yang tak akan Jiyoung lupakan sekalinya ia meminta untuk menghapus bagian itu dari hidupnya.

Bahkan kalau ia memiliki jin yang dapat mengabulkan permintaannya, hal pertama yang ia ia ingin menghapus memori tentang kemarin. Menganggap hari itu tidak pernah ada. Ah, bukan. Malah hal tentang pria itu, Byun Baekhyun.

“Jiyoung-a. Ayo cepat! Kau bisa terlambat nantinya,” kini suara ibunnya menggema kembali, membuatnya mau-tak-mau bangun dari kasur nyamannya, dan bersatu dengan air.

Jiyoung keluar dari kamarnya dengan baju berwarna biru laut dengan celana pendek dan membiarkan rambut panjangnya tergerai. Ia berjalan turun dari tangga dengan terburu-buru, lalu mendatangi meja makan dan dengan cepat mengambil sepotong-dua potong roti, lalu meneguk habis susu yang ibunya siapkan. Ia sudah terlambat.

Ya, anak ini. setidaknya, kau biarkan dulu perutmu itu mencerna makananmu dengan baik. Kau akan tersedak dengan cara makanmu seperti itu.” ibunya mengomentari cara makannya lalu menghela nafas. “Makanlah dengan baik. Atau kau kau akan tersedak dengan cara makanmu yang seperti itu.”

Jiyoung menatap ibunya sekilas, lalu terkejut saat jam tangannya. “Aku tidak ada waktu lagi, eomma” katanya lalu mencium sekilas pipi ibunya. “aku pergi, eomma. Astaga… aku bisa dikuliti Jung saem.” ujarnya dan setengah menggumam. Ibunya yang melihat kelakuan anaknya itu hanya tersenyum. Walaupun kelakuan anak gadisnya itu jauh lebih baik dari kemarin dan semalam—karena apa, ibunya masih mencari tahu—tetapi ia tersenyum. Bangga pada anak gadisnya itu karena dapat menyembunyikan perasaannya.

Untuk saat ini, nyonya Han membiarkan anak gadisnya seperti ini. Untuk sementara.

∞    ∞

Ya, Baekhyunie. Ireona.”

Baekhyun hanya menggeliat kecil saat merasakan tangan besar seseorang kini tengah mengganggu tidurnya. Dan suara orang itu dianggapnya hanya sebagai suara pengantar tidurnya, walaupun suara itu tidak cocok untuk dijadikan sebagai suara pengantar tidur.

Ya, Byun Baekhyun. Jika dalam hitungan kelima kau tidak bangun juga dari kasurmu, aku akan menarikmu. Aku bersungguh-sungguh, Baekhyun.” Chanyeol mendesah melihat Baekhyun hanya menggerakan kepalanya tanpa membuka matanya, lalu tidur kembali dengan tenangnya.

“Satu.. ini peringatan pertama, Bacon. Dua… Jika kau masih bangun di hitungan ketiga, aku masih akan memaafkanmu.. Lima. Tidak ada ampun bagimu, Byun Baek.” Chanyeol tanpa memikirkan ulang langsung menarik Baekhyun dari kasurnya. Yang ditarik hanya mengaduh pelan sambil memegang bokongnya yang mendarat secara tiba-tiba ke lantai itu.

Baekhyun membuka matanya yang masih menyipit itu, lalu menatap bayangan Chanyeol yang kini menatapnya. “Ya! Tidakkah kau bisa lembut atau sopan padaku? Walaupun kau lebih tinggi dariku, dalam akte kelahiran, aku masih lebih tua darimu.”

“Hanya beberapa bulan saja.” gumam Chanyeol meremehkan. “Sekarang kau mandi, aku menunggumu di ruang tengah. Dan jangan suruh aku memasak. Tetapi jika kau ingin sesuatu yang gosong, aku bisa membuatkannya untukmu.” katanya lalu pergi dari kamar Baekhyun.

Sementara Baekhyun masih terduduk di bawah kasurnya. Masih memikirkan apa yang terjadi tadi malam lalu bersegera masuk ke kamar mandi. Dan kali ini, yang terngiang-ngiang di kepalanya adalan kejadian kemarin malam. Ah, bukan. Lusa kemarin.

Ia telah memilih jalan itu. Berarti ia juga harus menanggung semua konsepkuensinya.

Termasuk jikalau gadis itu akan menjauhinya, pasti.

∞    ∞

Jiyoung menghela nafas panjang sambil menyadari melihat posisinya saat ini. Universitas yang sama dengan Baekhyun, membuatnya akan sering bertemu dengan pria itu. Awalnya, memang itulah alasan utamanya untuk masuk ke universitas ini, dan kebetulan yang sama, ia memang sedari dulu mengincar untuk memasuki universitas ini. Dan kini, ia malah tersenyum menertawakan dirinya sendiri mengingat perjuangannya untuk masuk ke universitas ini walaupun saat itu ia sedang sakit parah.

Parah, atau mungkin sangat parah?

“Jiyoung-a.” Jiyoung memberhentikan langkahnya lalu menoleh, mendapatkan Hankyung, teman baiknya menatapnya dengan senyum lebarnya berjalan mendekatinya. “Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja?”

Jiyoung tersenyum singkat lalu melanjutkan langkahnya utnuk masuk ke kelasnya, diikuti Hankyung disampingnya. “Ya. Dan berhentilah untuk mengatakan hal itu. Aku bosan mendengar kau mengatakan hal itu setiap kali kita bertemu. Aku baik-baik saja. Oh, cukuplah eommaku dan—” ia terdiam. Hampir mengatakan nama pria itu. Ia tersenyum singkat. “cukuplah eommaku yang mengingatkanku kalau aku pernah sakit parah.”

Hankyung tertawa kecil melihat tingkah Jiyoung. “Hari ini kau memiliki jadwal untuk check-up, kan? Mau aku antar?”

“Boleh, jika kau tidak keberatan.”

Selanjutnya, mereka membicarakan hal-hal menakjubkan seputar “wanita”. Seperti ketua basket universitas mereka yang terkenal sangat tampan, dan mengakui rasa iri nya terhadap member-member girlband yang saat ini sedang di gandrungi para kaum pria yang terkenal dengan kecantikannya masing-masing. Lalu mereka tertawa bersama, seperti gadis-gadis lainnya. Yah, perlu diakui, Jiyoung baru merasakan rasanya seperti gadis biasa sekarang. Setelah ia sembuh dari penyakitnya.

Pada saat mereka melewati koridor itu, entah kenapa ia menemukan pria itu. Ada rasa lega telah menemukan pria itu masuk hari ini. Dan rasa sakitnya, ia tidak bisa dengan mudahnya mendekati pria itu. Atau malah begitu sulit?

Dan kini, pria itu juga menemukannya. Dari sekian banyak orang disini, pria itu menemukannya? Jiyoung tersenyum kecil. Dan bodohnya, ia juga melakukan hal yang sama. Dan setelah itu, mereka pergi dengan arah yang berlawanan, dengan tujuan yang tentu saja berbeda.

Ia menekan dada kirinya, mengapa dengan jantungnya ini? Mengapa terasa sulit untuk bernapas? Apakah jantung barunya juga ikut-ikutan rusak seperti jantung lamanya? Tidak, tidak boleh. Itu tidak boleh terjadi.

“Jiyoung-a. Gwenchana?” Hankyung menatap Jiyoung panik dan mencari sekitar, dan menemukan sesosok pria yang menatap mereka khawatir, atau lebih tepatnya Jiyoung. Hankyung yang segera mengerti situasi. Ia tersenyum kecil melihatnya. “Sepertinya ada cerita yang aku lewatkan. Mau menceritakannya padaku, Jiyoung-a?”

Jiyoung menatapnya sekilas, bingung dengan maksud Hankyung. “Apa maksudmu?”

“Kita akan membicarakannya nanti. Ayo, kita harus cepat masuk kelas sebelum Jung Songsaengnim benar-benar akan menguliti kita.” kata Hankyung dengan senyum tipisnya menatap pria yang tengah menatapnya khawatir, seakan mengatakan bahwa Jiyoung-baik-baik-saja.

Dan yah, pria itu adalah Byun Baekhyun, tentu saja.

My heart wants to find you again
Why is it lingering like this?

∞    ∞

“Baiklah, sekarang waktunya.” kata Hankyung sambil menatap Jiyoung dengan penasaran.

Jiyoung yang sedang meminum jus jeruk itu menatap Hankyung bingung. “Apa maksudmu?”

“Jadi kau tidak mau cerita juga?” tanya Hankyung tak sabar. “Jika kubilang ini tentang Byun Baekhyun, bagaimana?”

“Cerita apa—” ia terdiam setelah mendengar nama itu. Ia menunduk sejenak, lalu menatap Hankyung yang menatapnya seperti tanpa berkedip, memintanya penjelasan. “Aku.. baik-baik saja.”

“Aku tidak menanyakan keadaanmu, tetapi cerita yang belum kau katakan padaku.” kata Hankyung tidak sabar. Walaupun ia tahu Jiyoung sedang membelokkan pembicaraan, kali ini ia tidak akan tertipu lagi.

“Aku.. aku akan cerita. Tetapi.. tidak sekarang.” kata Jiyoung lalu melirik sekitarnya. “tidak disini. Kumohon.”

“Terserah. Tetapi aku mau kau menceritakannya hari ini. Aku yakin kau belum mengatakannya kepada eommamu, bukan?” kata Hankyung yang tetap menginginkan Jiyoung bercerita padanya hari ini.

Jiyoung mengambil ponselnya dan menatap layarnya, lalu menghela nafas. “Satu pelajaran lagi.” Ia tersenyum menenangkan. “Jiyoung-a, Hwaiting.”

∞    ∞

Dan ini sudah check-upnya yang kesekian kalinya. Tetapi walaupun ia harus mencium kembali bau khas obat-obatan dan bahan-bahan kimia itu, ia bahagia. Setidaknya, ia tidak harus menginap disana. Seperti dulu.

“Bagaimana, Uisangnim? Bagaimana keadaan Jiyoung?” kata Hankyung yang terlihat lebih semangat untuk mengetahui keadaan Jiyoung daripada dirinya sendiri. Ia tertawa kecil dalam hati memikirkan hal itu.

Pria paruh baya dengan jas putihnya itu duduk dam menatap map putih hasil tes Jiyoung. Ia membetulkan letak kacamatanya, lalu tersenyum diantara wajahnya yang terlihat menua karena waktu.

“Jiyoung-ssi. Minggu depan mungkin adalah check-up terakhirmu jika semakin hari kau terus menunjukkan peningkatan.” kata-kata itu memang singkat, namun berbobot dan tentu saja, Jiyoung tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan gigi-giginya karena itu.

“Benarkah Uisangnim?”

“Kau ingin aku mengatakan hal yang salah?” kata dokter itu lalu terkekeh. “Ya, Jiyoung-ssi. Bisa dikatakan, tubuhmu menerima jantung itu dengan baik.”

“Jadi, Jiyoung-ssi. Jangan lupa. Jaga tubuhmu.” kata dokter itu sebelum mereka meninggalkan ruangan.

Tak. Tak. Koridor itu tampak ramai dengan suara hentakan sepatu, apalagi dengan ssepatu hak tinggi milik Hankyung yang begitu berisik. Meskipun begitu, Jiyoung tetap tampak terdiam. Tidak bergeming. Hanya berjalan. Matanya lurus kedepan, namun tidak fokus. Hankyung menghela nafas, lalu memulai percakapan.

“Jadi, kapan kau akan menceritakan hal itu padaku?”

Jiyoung melirik Hankyung, lalu menggeleng. “Aku tidak tahu.” katanya lalu menghela nafas. Sementara Hankyung mengangguk. Memaklumi. Sebenarnya pun ia telah mendapatkan garis besarnya, berdasarkan penglihatannya.

“Hankyung-a.”

“Hmm?”

Jiyoung terdiam, lalu tesenyum kecil. “Apa lebih baik jika kau mati saja ya?” katanya lalu menghela nafas. “Sepertinya mati terlihat jauh lebih mudah dan menyenangkan dibandingkan hidup.”

Langkah Hankyung terhenti, dan Jiyoung mengikutinya. Hankyung menatap Jiyoung tajam. “Apakah kau mengerti maksud dari perkataanmu itu? Apakah kau gila?”

Jiyoung mengerjap, lalu menggeleng sambil tersenyum lemah. “Aku tidak tahu apa yang kubicarakan. Semuanya terasa mati. Bahkan aku merasakan kalau yang kini berbicara itu bukan aku.” katanya lelu menggigit bibirnya. “semuanya terasa mati. Hanya karena satu masalah? Hah… aku ini lemah sekali. Bukankah begitu Hankyung-a?”

Hankyung menghela nafas, lalu merengkuh Jiyoung dan membantu gadis itu untuk berjalan. Karena ia yakin, pertahanan gadis itu akan runtuh sebentar lagi. “Kau hanya sedang mengalami masa patah hati. Tentang saja. Semua wanita saat seperti ini juga mengalami hal yang sama.”

“Hah… jadi seperti inilah rasanya menjadi gadis normal.” Jiyoung mengangguk. “Menjadi gadis normal juga sakit ya? Sakit hati seperti ini. Apakah rasanya begitu sakit seperti ini?”

“Ya, kupikir seperti itu.”

Jiyoung mengangguk. “Begitu sakitnya. Lain kali, aku tidak ingin merasakan hal seperti ini lagi.”

∞    ∞

Jiyoung menghela nafas dan disambut oleh secangkir teh hijau dihadapannya. Penampilan gadis itu benar-benar kacau. Matanya membengkak, memerah. Dan rambutnya agak berantakan.

“Ini minumlah.”

Hankyung duduk dihadapan gadis itu lalu meyeruput minumannya. Memerhatikan Jiyoung yang menghela nafas dan menangis kembali. Hankyung menaruh gelas minumannya dan menatap Jiyoung.

“Kau harus menenangkan dirimu. Minimal kau minum dulu teh hijaumu. Kata orang teh hijau bisa membantu orang menenangkan diri.”

Jiyoung menatap Hankyung lalu tersenyum. “Terima kasih.” katanya lalu mengambil gelasnya dan menyeruput teh hijaunya.

“Hankyung-a.”

Hankyung tersenyum padanya. “Ceritakan padaku.” katanya. “Walaupun belum tentu menyelesaikan masalah, minimal kau telah membaginya denganku. Jadi kau tidak akan terlihat seburuk ini.”

First broken heart for the first love.” gumam Jiyoung. “Apakah cinta pertama harus merasakan sakit hati seperti ini?”

Hankyung menghela nafas. “Tidak semuanya begitu.” katanya. “Cinta pertama. Hal pertama yang dirasakan saat kau jatuh cinta.” katanya menggamang. “Jika ada satu cinta, berarti ada cinta lainnya. Kau hanya tinggal bersabar menunggu cinta lainnya.”

Jiyoung menggeleng. “Tidak semudah itu,” katanya. “Ini terlalu dini bagiku. Dan ini adalah yang pertama. Jadi.. itu terasa agak…” Jiyoung menelan ludahnya. “sulit sekali.”

Hankyung mengangguk. “Terserah padamu. Tetapi jangan terlalu berlarut dalam kesedihanmu, karena apa yang telah terjadi, itu semua sudah berakhir.”

Jiyoung mengangguk lalu menyeruput teh hijaunya.

Kadang cinta itu datang tiba-tiba. Dan bisa pergi tiba-tia seperti ini. Hah, andai saja ia memikili alat pengontrol waktu. Sehingga ia bisa mengubah segalanya.

Dan bisa mengubah perasaan pertamanya kepada Baekhyun.

The only thing I can do is cry but
Like a fool, I am waiting
Please come to me now
Come to me just like this

My last wish is that one person, you

∞    ∞

2 thoughts on “[FF Writing Contest] The Happiness

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s