[FF Writing Contest] When I Can’t Feel Scary

when i can't feel scary

Title : When I Can’t Feel Scary

Author : Mayaslee @MayadaTri19

Main Cast :

  • EXO K Sehun
  • EXO M Luhan

Support Cast : –

Genre : friendship

Rating : PG

 

Berbentuk seperti bangunan apartemen pada umumnya, kawasan apartemen dongdaemun dirancang khusus agar mampu memberikan kesan yang nyaman bagi penghuninya. Tekstur bata kemerahan membentuk pola yang tidak teratur pada dinding bagian luarnya-memberikan kesan hangat yang lebih. Sebuah lorong kecil pada bagian tengah bangunan akan berujung pada sebuah pintu kaca berbingkai kayu mahoni.

Bunyi berdecit terdengar ketika pintu terbuka, menampilkan sesosok pemuda jangkung dengan ekspresi kosongnya. Langkahnya pasti dibawah sinar matahari bulan Juni kali ini. Beberapa kerikil meloncat tak beraturan ketika alas kaki milik pemuda itu menapak pada permukaan trotoar yang rata. Sesekali surai emasnya beterbangan tertiup angin yang tak sengaja berpapasan dengannya.

Pemuda itu melenggang bebas melewati penyebrangan jalan tanpa memperhatikan sekitar. Perlahan ia mulai menyusuri jalan raya yang masih sibuk di kerubungi kendaraan yang tengah berlalu-lalang.

Takut. Ekspresi itu tak akan di temukan pada wajah rupawannya. Sehun, pemuda itu nampaknya tak menyadari bahaya yang kini tengah mengancamnya. Suara klakson dan ban berdecit dari kendaraan yang terdengar, hanya dianggapnya sebagai angin lalu.

Beringsut, Sehun membawa tubuhnya menuju sisi bahu jalan. Sial baginya, karena mendadak sebuah sepeda motor melaju dengan kencang dari arah yang berlawanan. Sehun tidak memiliki kecakapan yang cukup untuk menghindari datangnya kendaraan tersebut.

Sehun merasakan perih yang lumayan pada alat gerak bagian bawahnya, ketika bagian depan kendaraan itu menayapa tungkai kakinya. Tanpa melihatpun ia sudah bias menebak, ada luka yang terbentuk disana. Untuk urusan parah dan tidaknya, Sehun enggan memikirkan hal itu untuk saat ini.

Kepalanya dengan terburu-buru menoleh ketika seseorang menepuk bahunya pelan.

“Kau tidak apa-apa?” Sehun mendapati sosok paruh baya tengah berdiri di hadapannya. Dari ekspresi yang ditunjukkan wanita itu, Sehun dapat menyimpulkan bahwa ia tengah mengkhawatirkan sesuatu. Tapi, khawatir dengan hal apa? Ia tak tahu.

“Kau tidak apa-apa, Nak?” wanita itu bertanya lagi. Ia menatap lekat kepada Sehun yang balik menatapnya dengan tatapan bingung. Sehun tak mengerti apa maksud pandangan iba yang wanita itu tunjukkan padanya. Apa yang layak untuk di kasihani? Sehun memang merasakan perih pada kakinya, tapi rasanya hal itu tak wajar untuk diperbesarkan.

Sehun mengadahkan kepalanya, mencoba menatap langsung kedalam manik mata milik wanita tua dihadapannya. Bibirnya tergerak untuk mengucapkan beberapa kata. “Memangnya apa yang terjadi?”

—-

Sehun menjalani kehidupan layaknya manusia normal. Makan, tidur, mandi dan berbagai hal yang di lakukan manusia pada umumnya. Namun, ada perbedaan yang kentara antara Sehun dan manusia normal lainnya. Jika setiap orang di dunia ini pasti memiliki rasa takut pada sesuatu- ketinggian, keramaian dan kegelapan misalnya. Maka, Sehun harus membiasakan dirinya untuk hidup tanpa memiliki rasa itu. Sedikitpun. Miris memang, tapi hal itu sudah terlanjur melekat padanya sejak nafas kehidupan pertama kali bertiup pada tubuhnya.

Urbach Wiethe, kelainan genetik yang dideritanya, membuat Sehun tak akan memiliki rasa takut pada apa pun selama hidupnya.

Kecelakaan, kemiskinan, kehilangan, bahkan pada kematian sekali pun.

—-

Satu persatu kata yang tertjalin menjadi kalimat yang tertera pada sebuah buku, nampak begitu hidup ketika ia di baca. Susunan kata itu akan mengantarkan pembacanya menuju dimensi lain. Hanya lewat sejumput huruf yang menari-nari pada halaman kertas usang itu, seseorang akan melayang ke tempat yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya.

“Gadis itu menjerit histeris ketika mendapati sosok wanita tak berkepala di hadapannya. Darah segar mengucur bebas dari lehernya yang terbuka.” Sehun mengulang bacaannya. Ini sudah yang kedelapan kalinya ia mengulang kalimat yang tertera pada buku besutan pengarang kenamaan yang tergeletak di hadapannya.

Sehun meremas rambutnya frustasi. Sekeras apa pun ia mencoba, ujung dari segala usahanya hanyalah sebuah kegagalan. Rasa takut yang ia harapkan akan muncul dari segala cara yang telah ia upayakan; menonton film horor, mengunjungi rumah hantu, membaca cerita seram, hingga menantang maut dengan memberanikan diri memasuki kandang hewan buas, hanya akan memberikan hasil yang sama. Kegagalan.

Perpustakaan terlihat mulai menyepi. Namun, suasana hangat yang menyelimuti ruangan bergaya Jepang itu tak kunjung pergi. Rak-rak buku yang terbuat dari kayu akan menciptakan lorong-lorong kecil, meja-meja datar denga kaki-kaki yang rendah, bersama dengan bantal duduk yang bertengger manis disetiap sisi meja. Mungkin karena suasana itu lah, Sehun tidak menyadari bahwa keadaan di luar sudah berubah gelap.

Sehun mendapati dirinya telah berada di pintu depan gedung perpustakaan ketika hujan turun dengan lebatnya. Langit biru lazuardi diam tak berkutik ketika hujan yang menguyur kota Seoul yang baru akan memasuki awal musim panas itu tak kunjung mereda.

Beberapa orang berlari kecil guna mencari tempat berlindung. Sehun menjulurkan tangannya melewati tempat ia berteduh saat ini. Hawa dingin menjalar dengan cepat keseluruh tubuhnya ketika benda cair bernama air itu hinggap di permukaan kulitnya.

Semua orang pasti akan memilih untuk menghindari bersentuhan langsung dengan air hujan yang turun dengan lebat seperti saat ini. Namun, Sehun memilih hal lain. Ia membiarkan dirinya berjalan menerobos cucuran hujan yang tak kunjung mereda-justru semakin deras. Toh, ia bukan lah sejenis manusia normal yang akan merasa takut dengan hal yang seperti itu.

Sehun menyadari beberapa pasang mata yang menatapnya dengan aneh. Berfikirlah bahwa aku ini orang yang tidak waras. Diam-diam Sehun merutuk dalam hatinya.

“Hey.” Sehun menolehkan kepalanya ketika ia mendengar seseorang berteriak di belakangnya.

Pemuda mungil dengan warna rambut yang nyaris membuat Sehun tersedak- merah muda, berdiri di hadapannya.

“Kau nampaknya membutuhkan ini.” Pemuda itu membuat tanda petunjuk menggunakan ibu jari dan telunjuknya.

Sehun memandang lurus kearah payung bercorak pelangi yang bertengge rmanis dalam genggaman pemuda di hadapannya kini.

“Tidak.” Sangat jarang Sehun memiliki waktu untuk bercengkrama dengan orang di sekelilingnya. Hal itu menjadi sangat tabu ketika ia teringat pada ‘kekuatannya’.

Pemuda itu memandang Sehun dengan mata yang bersinar. “ Sepertinya arah yang kita tuju sama.” Sehun mendapati sebuah lengkungan terbentuk pada bibir pemuda itu. Tersenyum. Sehun bahkan sudah melupakan bagaimana caranya melakukan hal tersebut. Lagi pula ia tak akan pernah melakukan hal tersebut bukan?

Sehun menggeleng. “Tidak.”

 Ia lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda, ketimbang harus menyusun beberapa kata guna meladeni ocehan pemuda itu.

Sepeninggalan Sehun, pemuda pemilik senyum menawan it terus mengasah otaknya untuk berpikir tentang hal yang baru saja terjadi kepadanya.

Punggung kokoh milik Sehun menghilang dari pandangannya saat suara petir menggelegar di langit malam- memekakkan telinganya.

“Apa dia tidak takut akan kehujanan?”

—-

Setengah jam berlalu sejak pertama kali Luhan menginjakkan kakinya di ruangan bercat putih susu ini. Tangan mungilnya bertengger manis pada tepian jendela yang terbingkai oleh gorden biru laut tipis yang bergerak pelan tertiup angin yang melambai mesra melalui jendela yang di biarkan terbuka.

“Kau melakukan kemajuan yang lumayan.” Luhan menggeser tubuhnya ketika indra pendengarnya menangkap sebuah suara. Seorang wanita berusia tiga puluhan dengan kemeja putih khas institusi kesehatan menatap lamat kearahnya.

“Selumayan apa?” Tanya Luhan gusar. Air mukanya seolah menunjukkan bahwa perkataan wanita dihadapannya itu tak terlalu menarik.

Dokter Kang. Tulisan hangul yang tertera pada name tag kehitaman yang ada pada seragam wanita dihadapan Luhan saat ini, kembali menegaskan Luhan akan profesi apa yang dijalani oleh sang wanita.

“Yang jelas, lebih baik dari pada waktu itu.”

“Aku menginginkan sebuah angka yang akurat.” Luhan bangkit dari posisinya. Dengan gerakan lambat ia meraih jaket berbahan kulit yang ia sampirkan pada bangku yang ia duduki.

Claustrophobia, memerlukan perawatan yang rutin.” Dokter Kang berteriak dari balik meja kerjanya, mencegah Luhan yang hampir meraih kenop pintu. “Dan kesabaran yang tinggi.”

Luhan membalikkan tubuhnya. Ia menerawang jauh melewati jendela yang tadi ia jumpai, sebelum kembali berkata:

“Kalau begitu, tak ada alasan bagiku untuk datang kembali.”

—-

Sehun menghempaskan tubuhnya pada bangku panjang yang tak berpenghuni. Taman kota menjadi tempat yang paling ideal untuk melepas penat, kala cuaca kota Seoul berubah menjadi panas seperti saat ini. Bahkan ketika matahari mulai menyusup di ufuk barat, cuaca masih terasa cukup panas.

Sehun memandangi langit barbayang jingga dan awan merah keemasan yang bergulung-gulung pada langit senja. Ia membisu pada setiap keindahan yang tertangkap oleh iris madu miliknya. Sehun memikirkan, bagaimana kehidupannya akan berlangsung jika semua yang ia saksikan saat ini tak lagi ada. Berbeda, itu pasti. Namun, yang ingin ia rasakan adalah, bagaimana khawatirnya ia di saat itu. Tapi, jelas hal itu mustahil bagi Sehun. Memikirkannya saja hampir membuat kepalanya meledak.

“Hey, kita bertemu lagi.” Sehun menghentikan kegiatannya untuk sementara waktu. Disampingnya telah duduk sosok pemuda berambut merah muda yang kemarin ia temui. Wajah pemuda itu terlalu familiar di mata Sehun.

“Aku Luhan. Xi  Luhan.” Sehun membiarkan pemuda bernama Luhan itu menjulurkan tangannya tanpa niat untuk menyambut uluran tangan itu sama sekali. Hal itu terlalu aneh baginya. Ia dan Luhan baru beberapa kali bertemu, dan itu pun selalu dalam suasana yang tak Sehun harapkan.

Menyadari reaksi yang Sehun berikan kepadanya, Luhan segera manarik tangannya kembali. “Rupanya kau tak senang memiliki teman baru.” Dan sebuah senyuman hangat pun menghiasi wajah manisnya.

Sehun memicingkan matanya memandangi Luhan yang masih berkicau bebas. Ia bahkan tak habis pikir, bagaimana bisa pria itu bertutur secepat dan selancar itu dalam waktu yang begitu singkat.

Luhan di sisi lain. Terlalu bersemangat untuk berkelakar tanpa memperhatikan Sehun yang menatapnya tajam.

“Kau bisa berbahasa Korea kan?” Luhan menyerah. Pada akhirnya ia tak lagi kuat menerima ekspresi datar yang Sehun tunjukkan untuk semua kalimat yang sudah ia lontarkan.

Sehun sendiri bukanlah tipe pria yang hobi bercakap-cakap- semacam Luhan. Jadi, sebelum ocehan Luhan terlalu panjang dan tak dapat lagi ia hentikan, ia memutuskan untuk meninggalkan bangku yang awalnya akan ia gunakan untuk beristirahat tersebut.

Luhan terlalu gesit untuk menyadari semua tindakan Sehun. Jadi, sebelum Sehun benar-benar beranjak dari posisinya. Tangan mungil miliknya sudah terlebih dahulu menahan lengan kokoh Sehun.

“Apa yang kau lakukan?” Sehun berang. Cengkraman Luhan yang tidak terlalu kuat pada lengannya, terlepas begitu saja saat ia menarik tangannya dengan kasar.

Luhan terkikik. Wajah putihnya berubah kemerahan karena menahan tawa.

“Kau ini sombong sekali.” Ucap Luhan sembari memegangi perutnya yang terasa pedih. “Kau bisa tidak memiliki teman jika sikapmu begini.”

Sehun tercekat, lalu melotot. Ia menatap Luhan dengan wajah yang  terlampau sinis. “Aku tidak peduli.”

Tak ada lagi percakapan yang terjadi setelah itu. Sehun dan Luhan sama-sama tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Hanya bunyi daun mepel yang jatuh tak beraturan yang terdengar senja itu.

“Baikalah, sepertinya aku salah telah berpikir kita berdua bisa menjadi teman.” Luhan berseru mantap. Matanya yang teduh menerawang jauh melewati punggung Sehun yang membelakanginya. “Aku pergi.” Luhan mengambil langkah pertamnya, kemudian menyusun langkah itu untuk membawa tubuhnya semakin menjauhi sosok Sehun.

Sehun mendengar itu semua. Luhan yang berpamitan padanya menjadi sesuatu yang baru dalam diri Sehun. Ini kali pertama ia terjebak dalam sebuah perpisahan semacam ini. Ia bahkan tak pernah memimpikan hal ini akan terjadi padanya. Hingga selembar daun mepel mendarat tepat dikepalanya membuat Sehun tersadar.

“Ini nyata.”

—-

Sehun mengerjapakan matanya dengan teratur. Ia terbangun dengan posisi setengah duduk.

Teng…teng….teng

Sehun memandangi jam weker kecil yang baru saja berdentang pada meja nakas di sebelah ranjangnya. Jam baru menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Terlalu awal untuk menyebut ini dini hari. Sehingga Sehun lebih menyukai menyebutnya tengah malam.

Angin berhembus dari fentilasi berpetak yang berada tepat di atas daun jendela yang tertutup. Sehun menarik selimut rajut di bawah kakinya, membenamkan tubuhnya pada kain hangat itu. Terbangun di tengah malam telah menjadi rutinitas baru baginya. Akhir-akhir ini Sehun selalu merasa ada sesuatu yang mengusik alam bawah sadarnya, memaksanya untuk menyelami dunia nyata lebih lama dari biasanya.

Ruangan berbentuk persegi yang ia gunakan sebagai kamar tidur ini sangat lah menggambarkan sosok Sehun dengan baik. Di lukis dengan warna biru laut bergradasi hijau, membuat suasana tenang kental terasa.

Sebuah rak buku kecil bertengger manis di sudut ruangan. Ada lebih dari tiga puluh macam judul buku yang mengisi tempat itu. Mulai dari ensiklopedia, novel, hingga beberapa jenis prosa-prosa lama yang menjadi favoritnya ada disana.

Gambaran itu menampilkan sosok Sehun yang sebenarnya. Tenang dan hangat.

—–

Berbekal niat dan keberanian, Luhan melangkahkan kakinya memasuki sebuah kotak besi persegi di hadapannya. Tangannya bergetar hebat tak kala ia memencet sebuah tombol yang tertera pada dinding ruangan itu.

Efek dari apa yang ia lakukan adalah: kotak itu bergerak naik. Terlalu cepat hingga Luhan tak menyadari bahwa ia masih berpijak pada tempat yang sama. Pergerakan itu menimbulkan sebuah sensasi yang luar biasa. Tubuh Luhan melemas, semua alat geraknya terasa tak berfungsi lagi. Sesuatu menggelitik perutnya- memaksa untuk keluar.

Luhan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Mual. Rasa itu datang dengan tiba-tiba.

Tring…

Pintu besi dihadapannya terbuka dengan gerakan lambat. Luhan tersentak kaget sembari tetap menutup mulutnya. Sosok Sehun telah berdiri di ambang pintu lift tempat ia berada dengan ancang-ancang untuk masuk.

Sehun dan Luhan sama-sama terdiam pada momen itu. Tepat pada detik-detik pintu lift akan tertutup, Sehun menyelipkan kakinya di antara pintu lift yang hampir saja tertutup.

Sehun memasuki lift dengan tangan kanan yang menyumpal saku kanannya. Ia berdiri dengan posisi mebelakangi Luhan. Sesuatu mengusik pikirannya. Aneh, kenapa ia tak berkelakar seperti biasanya?. Batin Sehun.

Detik berikutnya, semua pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya terjawab. Sehun menangkap bunyi seperti sesuatu  jatuh di belakangnya. Butuh waktu sekitar empat puluh detik sebelum ia memutuskan untuk menoleh- untuk memastikan keadaan pria di belakangnya.

Tubuh mungil Luhan tergolek tak berdaya pada lantai lift yang dingin. Bibirnya berwarna putih pucat, sewarna dengan kemeja putih yang menyelubungi tubuhnya. Sehun menimang-nimang  sebentar sebelum memilih tindakan apa yang akan ia lakukan pada Luhan. Ia menatapi tubuh Luhan sesaat sebelum memencet tombol darurat yang telah tersedia.

Tak lama beberapa orang berhamburan memasuki lift yang Sehun dan Luhan naiki. Semuanya mengenakan pakaian yang sama, sepertinya petugas kesehatan. Sehun membiarkan dirinya menyelinap di antara kerumunan masa yang mengelilingi tempat itu. Biarlah Luhan menjadi urusan pihak yang memang berhak untuk mengurusrnya. Pikir Sehun.

Lagi pula ia masih memiliki urusan lain yang harus ia selesaikan ketimbang harus menyibukkan diri mengurusi seseorang yang sudah tercatat dalam daftar orang yang tak ingin ia temui.

—-

Seperrti biasanya, perpustakaan akan menjadi tempat yang sangat ramai ketika ujian masuk universitas diselenggarakan. Semua calaon mahasiswa berlomba-lomba untuk melakukan usaha yang terbaik guna menghadapi ujian masuk universitas yang hanya tinggal menghitung hari lagi jelang pelaksanaannya.

Sehun awalnya membiarkan dirinya berada di antara orang-orang itu. Ikut merasakan uforia yang tak seharusnya ia rasakan karena ia bukanlah salah satu bagian dari komunitas itu. Walaupun ia baru saja memasuki usia pertengahan dua puluh tahun, tak pernah terbesit dalam benaknya untuk mengecap dunia pendidikan. Hal itu tak terlalu mengambil tempat penting dalam kehidupannya.

Sehun akhirnya merasakan kebosanan ketika suasana perpustakan bertambah ramai.

Buku-buka yang sedari tadi ia ‘lahap’ tak lagi terasa menarik. Keramaian membutakan segalanya. Dan Sehun membenci hal itu.

Pada akhirnya Sehun memilih untuk tak berlama-lama berada di tempat itu. Setelah mengembalikan buku-buku pada tempatnya, ia meninggalkan gedung perpustakaan dengan lesu.

Belum ada keputusan yang pasti mengenai tempat mana yang akan ia tuju setelah ini. Jadi, ia memutuskan untuk sekedar berkeliling di sekitaran gedung bertingkat dua yang melindunginya dari terpaan sinar matahari.

Sehun berpapasan dengan seorang musisi jalanan yang tengah memainkan sebuah nada dari gitar yang ia petik. Sehun memutuskan untuk berdiri bersama orang-orang yang membentuk posisi setengah lingkaran untuk menikmati pertunjukan dari seniman jalanan itu. Meskipun tergolong kedalam orang-orang yang tidak memiliki jiwa seni, Sehun cukup menikmati apa yang seniman itu tampilkan.

Beberapa lembar uang kertas dan  pecahan recehan ia letak kan pada sebuah kaleng alumunium yang telah di sediakan oleh sang seniman.

“Penampilan yang bagus.” Sehun berseru kepada seniman yang tengah mengumpulkan uang hasil pendapatannya hari ini.

“Terima kasih.” ia pun tersenyum kepada Sehun. “Kau pria yang ramah.”

Sehun membalas ucapan pria itu dengan sebuah anggukan yang tulus.

—-

Dari sekian banyak jenis minuman yang di sajikan di menu, Luhan, pemilik mata beriris hazel itu memilih canberries smoothie sebagai alat penghilang dahaganya siang hari ini. Jenis minuman yang terbuat dari campuran buah-buahan tropis yang di campur menjadi satu. Dan sebagai pelengkapnya, biasanya akan di tambahkan dengan tumbukan daun mint kasar. Aroma daun mint yang segar, mengetuk-ngetuk indera penciuman pemuda itu.

Memaksanya untuk meraih sebuah pipa kecil yang terbuat dari plastik dengan dua bolongan berbentuk lingkaran pada setiap ujungnya. Suara gesekan alat minum bernama sedotan itu teredam di dalam gelas transparan yang berisikan canberries smoothie yang menggugah selera.

Gerakan memutar yang Luhan lakukan pada minumannya, memberikan efek yang menyenangkan. Larutan itu langsung beergerak meluncur melewati tenggorokannya hingga tiba dengan selamat di dalam perutnya.

Luhan membuang nafasnya lega. Ia menyesap minuman terakhirnya sebelum beranjak meninggalkan café bergaya mediterania yang baru saja ia kunjungi.

Rasanya begitu nyaman ketika udara segar menerpa wajahnya. Luhan beberapa kali membenarkan letak anak rambutnya yang berantakan karena tertiup angin.

“Segarnya.” Luhan meracau riang. Ia menarik nafas panjang sambil merangkai langkahnya kembali. Berjalan santai di pinggiran jalanan seperti ini mampu memberikan pengaruh posited bagi tubuhnya yang sempat melemah akhir-akhir ini.

Luhan berhenti pada sebuah bangku panjang yang familiar dalam ingatannya. Bangku panjang yang mempertemukannya kembali dengan sosok lelaki misterius yang kerap ia sebut sebagai ‘calon teman’. Ya, itu lah kenyataannya. Lelaki itu belum resmi menjadi temannya.

Luhan terlalu asik menikmati semua pikirannya tanpa menyadari seseorang telah merebahkan tubuh di sebelahnya. Luhan tak kunjung menyadari hal itu, bahkan ketika sosok itu semakin mempersempit jarak di antara mereka.

Daun maple berjatuhan bergantian di sekeliling dua orang pemuda yang sama-sama tak menyadari kehadiran seseorang di sekitar mereka itu. Hingga pada akhirnya Luhan lah yang menyadari terlebih dahulu keadaan itu.

“Hai.” Ia menyapa lembut kepada Sehun yang masih sibuk memandangi fenomena ‘jatuhnya daun mapel’ dengan ekspresi yang sedikit berlebihan.

Luhan menyadari dengan apa yang terjadi. “Oh, ma–”

“Cuaca yang bagus.” Sehun berceletuk sebelum Luhan sempat menyelesaikan ucapannya. Ia mengernyit ragu kepada Sehun yang kali ini menatapnya- dengan tatapan yang lebih ramah. Terlalu takut bagi Luhan untuk menanggapi ucapan Sehun tersebut.

Keterkejutan Luhan belum berhenti sampai di situ. Aksi Sehun selanjutnya lebih mencengangkan dari apa pun yang pernah ia saksikan.

Sehun bergerak seolah dengan gerakan slow motion di mata Luhan. Ia mengorek sesuatu dari dalam saku pakaian hangat yang ia kenakan. Luhan menebak-nebak apa yang tengah di perbuat pemuda itu. Tak ada gerakan signifikan yang mampu lakukan untuk saat ini. Sepertinya menunggu adalah pilihan yang terbaik.

Sehun kelabakan dengan ekspresi yang Luhan tunjuk kan. Ia masih merasa khawatir dengan tindakan yang akan ia lakukan selanjutnya. Akankah ini menjadi awal yang baik untuk kehidupannya selanjutnya?

“Ku dengar, aroma apel bisa memberikan efek yang menenang kan bagi pengidap claustrophobia.” Luhan menatapi dengan seksama buah kemrahan yang tergolek pada telapak tangan Sehun, terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Lalu, dengan ragu ia meraih buah tropis bernama apel tersebut.

Sehun membiarkan Luhan terus memandangi dirinya dengan tatapan yang mengisyaratkan kebingungan.

“Apa ini artinya…” Luhan menelan ludahnya. “Kita bersahabat?” ucapannya terdengar sangat pelan bahkan lebih terdengar seperti bisikan.

Sehun menolehkan kepalanya. Ia menarik ujung-ujung bibirnya sehigga menimbulkan sebuah senyum samar yang terkesan ragu. “Teman.” Ia meralat ucapan Luhan.

Luhan menanggapi hal itu dengan antusias. Untuk saat ini, Sehun mungkin belum terbiasa dengan interaksi sosial yang akan ia jalani bersama Luhan- mungkin juga dengan yang lain. Tapi, Luhan berikrar dalam hatinya. Ia akan menemani Sehun untk melewati semua fase sulit dalam hidupnya, karena mulai saat ini mereka adalah dua orang yang saling berteman.

FIN

One thought on “[FF Writing Contest] When I Can’t Feel Scary

  1. eumm..,
    aku suka ff ini..,
    yeah, walaupun mnurutku ceritanya agak datar, mngingat ngga ada konflik apa2 di sana.,
    tpi aku suka bnget setiap pnggambarannya, stiap detailnya,
    sangat rinci,
    sampe2 aku kaya’ny bisa bener2 mmbayangkan setiap sisi/ sudut ruang ata suasana saat dimana mreka berada scaea rinci,
    daebak, naneun joah…🙂

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s