Take A Drink Together (Chapter 9)

take a drink together

Take a Drink Together

Author
pearlshafirablue

| Do Kyungsoo (EXO-K), Kim Taeyeon (GG) |
Tiffany Hwang (GG), Huang Zi Tao (EXO-M), Kim Joonmyun (EXO-K)
Action, AU, Mystery, Romance
Multichapter (9 of ?), Teen

“All of the characters belong to God and themselves. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forevr fiction. I don’t make money for this.”

Inspired by Detective Conan The Series © Aoyama Gosho

Previous Chapter
Prolog . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 . 8

-o0o-

Preview Chapter 8

Kyungsoo kurang beruntung saat itu. Dirinya tertangkap basah pulang larut dan langsung dikejutkan oleh revolver milik sang Noona yang menempel di dahinya. Ternyata malam itu Stephanie punya sebuah kejutan untuk Kyungsoo. Wanita itu mengikat Kyungsoo di kursi besi dan membuatnya menyaksikan tayangan kematian orangtuanya—langsung dari South Seaport, New York. Kyungsoo berusaha untuk menutup mata—manakala orangtuanya disiksa di dalam video yang ditayangkan Stephanie. Lelaki itu tidak sanggup menonton ibunya yang tengah dicabuli oleh seorang pria. Stephanie lantas membentaknya untuk tetap membuka mata—menyaksikan tayangan yang merekam penyiksaan orangtua kandung lelaki itu. Tetapi Kyungsoo tidak bergeming. Ia tetap terpejam kendati Stephanie menamparnya puluhan kali—bahkan sudut bibir lelaki itu robek. Wanita itu berang, dan tanpa pikir panjang menembak salah satu syaraf mata Kyungsoo, membuatnya tetap terjaga.

Tayanganpun berakhir ketika sebuah shotgun SPAS-12 melayangkan pelurunya ke arah kening ayah Kyungsoo. Lelaki yang kini sudah tidak memiliki siapa-siapa itu menangis dan tidak berhenti menyumpahi Stephanie yang hanya tersenyum sarkastis ke arahnya.

Tepat ketika Stephanie melangkah keluar dari kamar lelaki beriris hitam itu, sebuah suara mengejutkannya. Suara Kyungsoo yang terdengar sangat berat. Dirinya meminta untuk keluar dari organisasi—baik hidup atau mati—karena Stephanie telah melanggar janjinya untuk membiarkan kedua orangtuanya tetap hidup.

Tetapi ancaman Kyungsoo tidak membuahkan hasil. Stephanie menunjukkan selembar foto yang berisi potret Kim Taeyeon dan balas mengancam bahwa dirinya bisa melenyapkan Taeyeon persis seperti wanita itu melenyapkan kedua orangtuanya.

Kyungsoo tidak punya pilihan. Ia kembali mengabdi pada Stephanie Hwang kendati hatinya tak mau. Dan ia juga menyadari bahwa orang-orang yang telah menembakkan peluru di bahu Taeyeon adalah orang suruhan Stephanie Hwang. Targetnya memang bukan dirinya, melainkan Taeyeon.

Sementara itu seorang guru baru lulusan Institute of Massachussets masuk ke dalam SHS dua hari berikutnya. Membentuk sebuah misteri baru di kehidupan Kyungsoo.

Preview Chapter 8, End.

-o0o-

Kediaman Stephanie Hwang, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan, malam sebelumnya.

“Apa kau gila, Tiffany?” Huang Zi Tao melempar sebuah map hijau yang tadi dibacanya sekilas. Ia menggosok-gosok rambutnya dengan asal, menumpahkan seluruh rasa kesalnya kepada Stephanie.

“Aku tidak berpikir sampai sini, Tao.” Stephanie mengusap dagu tatkala kedua iris birunya menilik garis-garis yang terpatri di karpet beludru ruang kerjanya. Ia tidak menyangka hal ini akan terjadi—sesuatu yang diluar rencananya.

“Jika kau memintaku untuk bersandiwara untuk menjadi murid sekolah menengah atau mahasiswa, aku masih bisa terima. Tapi kau menyuruhku menjadi murid sekolah pertama? Apa kau gila? Aku bisa menjadi bulan-bulanan karena dikira tidak naik kelas bertahun-tahun, Tiffany! Tubuhku sudah sebesar ini! Tidak pantas untuk disebut murid sekolah pertama.”

“Jangan salahkan aku, bodoh. Kita sudah tidak pernah bertemu lagi sejak 5 tahun yang lalu! Aku tidak tahu jika sekarang kau sudah setinggi ini.” Ketus Stephanie seraya melemparkan pandangan sinis ke arah Tao. Wanita itu tidak pernah berpikir bahwa Tao sudah tumbuh hingga tingginya mencapai 175 sentimeter seperti yang terlihat sekarang. Seingatnya tinggi Tao masih 165 sentimeter tempo hari.

“Lantas? Bagaimana selanjutnya?” Tao menghempaskan pantatnya di atas sofa kulit milik Stephanie. Ia membuka kancing atas kemejanya ketika merasa bahwa suhu ruangan mulai meningkat.

“Baiklah,” Stephanie merapikan berkas-berkas yang tadi sempat dilempar oleh Tao. Wanita itu berjalan ke arah meja kerja dan mengambil ponsel keluaran Apple miliknya. “We change the plan.”

“Terserah.” Tao menghembuskan napas kasar. Baginya, Stephanie Hwang tidak lebih dari wanita bengis yang tidak berotak. Berbeda dengan dirinya, yang cerdas, hanya saja tidak punya kesempatan untuk menunjukkan kecerdasannya itu.

Tiba-tiba pintu kayu yang menghubungkan ruang kerja Stephanie dan lorong lantai dua dibuka. Seorang pria dengan tinggi standar muncul dari balik pintu tadi. “Anda memanggilku, Miss?”

Tao dan Stephanie menoleh ke arah pintu bersamaan. Stephanie mendekat ke arah pria yang membuka pintu tadi sementara Tao beringsut perlahan menuju dispenser di samping rak buku besar ruang kerja wanita itu.

“Bisakah kau kembali ke SHS? Tolong batalkan soal murid baru itu dan manipulasi berkas-berkas mengenai mutasi seorang guru dari Paris.” Pinta Stephanie cepat.

“Di-dibatalkan?” Pria yang diajak berbicara melotot tidak percaya, “Ke-kenapa? Mengurus masuknya sudah sangat—”

“Bukan urusanmu, Tuan Byun. Lakukan saja apa yang kusuruh.” Stephanie menginterupsi. Kaki jenjangnya kembali melangkah ke arah meja kerja.

“H-harus malam ini, Miss?!” Pria yang dipanggil Tuan Byun tadi mengikuti langkah Stephanie masuk ke dalam kantor wanita itu. Empunya marga Byun tersebut tidak percaya bahwa pekerjaannya yang menghabiskan waktu seharian penuh tersebut dibatalkan tanpa aba-aba seperti ini.

“Apa kau tuli, Byun Baekhyun?!” Suara Stephanie menggema di seluruh ruangan. Berhasil membuat Tao yang tadi tengah menikmati kopi panasnya menoleh ke arah dirinya. “Aku bilang sekarang!”

Keringat dingin mengalir di atas pori-pori kulit Byun Baekhyun. Jemarinya saling bertautan. “T-tapi, Miss, kantor administrasi SHS sudah tutup semalam ini. Lagipula mengurus kepindahan guru tidak semudah itu, banyak yang harus—”

Shut up your mouth, Mr. Byun. Intinya kau bisa mengerjakan tugasku atau tidak?!” Stephanie kembali membentak.

Tao mendekati mereka berdua dengan secangkir kopi di tangannya. “Tiffany, sudahlah, jangan membuat keributan.” Desis Tao di telinga Stephanie—yang tidak digubris olehnya sama sekali.

“A-aku bisa, M-Miss, ha-hanya saja—”

“Banyak omong.” Mendadak tangan Stephanie terulur ke belakang—meraih sebuah benda hitam yang mengkilap yang tadi ditutupi oleh fail-fail dokumennya. Kemudian terdengar suara menggelegar dari ruangan itu. Pria pemilik nama Byun Baekhyun melotot ke arah mereka berdua—Stephanie dan Tao—sementara darah keluar dari balik jas hitamnya di bagian dada.

Tak sampai semenit, tubuh Byun Baekhyun sudah jatuh tersungkur ke bawah, darahnya merembes menodai karpet beludru yang mengalasi ruang kerja Stephanie. Jiwa Byun Baekhyun sudah terpisah dengan raganya. God bless him.

“Baekhyun!” Tao melotot, cangkirnya sudah jatuh ke atas karpet. Ia buru-buru mendekati tubuh tidak bernyawa itu—mengguncang raga yang telah dipaksa untuk meninggalkan dunia tersebut.

Setelah menyadari bahwa Baekhyun sudah tidak bisa diselamatkan, lelaki jangkung tadi menoleh cepat ke arah Stephanie yang tengah mengelap bibir revolver-nya. “Stephanie! Kau sudah tidak waras! Kenapa kau membunuh Baekhyun?! Ia sudah mengabdi padamu selama 3 tahun!” Pekik Tao keras. Pria itu sudah terlanjur mengenal dekat sosok Byun Baekhyun—orang kedua yang ditemuinya di Seoul siang tadi saat pesawatnya baru saja mendarat—tentunya setelah pria tua yang membawakan kopernya. Pengendara Mercedes hitam yang sempat menyapanya tadi. Byun Baekhyun, supir mobil-mobil berakselerasi tinggi sekaligus pencari informasi yang sudah bekerja pada Stephanie selama tiga tahun lebih. Yang kini sudah tenang di alam lain.

“Dia hanya supir, mudah mencarinya lagi. Lagipula ia tidak berguna.” Tutur wanita itu datar. Tipikal Stephanie Hwang, tidak berguna berarti mati.

“Kau gila, Tiff. Sungguh.” Tao kembali mengacak-ngacak rambutnya. Ia menjauhi mayat Byun Baekhyun dan melangkah ke arah toilet ruang kerja Stephanie.

Setelah sosok Tao hilang di balik pintu toilet, Stephanie kembali mengambil ponselnya. Ia menekan beberapa nomor dan sesaat terdengar nada sambung.

Ada apa, unnie?” Terdengar vokal lembut dari telepon. Vokal itu milik gadis blonde yang menjadi noona kedua Kyungsoo—Kim Hyoyeon.

“Hyoyeon, datanglah ke ruanganku. Ada mayat tidak berguna disini. Kemudian, urus kepindahan Tao ke SHS, sebagai guru bahasa Inggris baru.” Stephanie memutus koneksi telepon. Sesaat wanita itu terpekur. Dirinya terlalu lelah belakangan ini. Banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginannya yang harus ia urusi.

Siapa penyebabnya?! Stephanie meremas tangannya. Iris birunya mengeluarkan pendar-pendar amarah.

Dirinya kemudian mengambil selembar foto di dalam laci. Foto yang berbeda dengan yang ia tunjukkan kepada Kyungsoo kemarin, tetapi objeknya sama. Seorang gadis bersurai coklat dengan iris madu yang memukau. Gadis itu tersenyum tipis ke arah kamera.

Tentu saja, hanya satu orang. Yaitu kau, sweetheart.

-o0o-

SHS, Seoul, Korea Selatan.

“Kyungsoo.”

Empunya nama menoleh. Seorang gadis tengah memandang ke arahnya dengan lirih. Tatapan gadis itu terpaku pada sebuah perban di sekitar Kyungsoo. “Apa yang terjadi denganmu?”

Kyungsoo tidak menjawab. Dirinya malah menoleh ke luar jendela, memerhatikan burung gereja yang tengah beraktivitas di salah satu dahan pohon.

Merasa diabaikan, gadis itu—Kim Taeyeon—lantas duduk di bangku yang terletak di hadapan meja Kyungsoo. Ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Kyungsoo. Membuat lelaki itu mendapatkan kiriman sensasi hangat di sekujur tubuhnya.

“Kau dipukul lagi?” Suara Taeyeon terdengar sangat keibuan. Gadis itu memainkan jarinya di atas telapak Kyungsoo. Membuat lelaki bermata lebar tersebut sedikit terkekeh.

“Cukup, Taeyeon.” Kyungsoo berusaha menahan tawanya. Ia menyingkirkan jari-jari Taeyeon dari tangannya. “Lagipula, aku tidak dipukul.”

“Lalu?” Taeyeon memicingkan mata. Membuat Kyungsoo membuang tatapannya.

“Aku ditembak.” Sergah Kyungsoo hingga membuat mata Taeyeon membesar dua kali lipat lebih besar dari matanya.

“Di… apa?” Taeyeon menautkan kedua alisnya. “Ditembak?!”

“Ya.” Kyungsoo mengangguk. Kini ekspresinya kembali sendu. “Ah sudahlah, tidak terlalu pen—”

Good morning, students.” Mendadak sebuah suara bercorak kalem menginterupsi perkataan Kyungsoo. Ia dan Taeyeon spontan menoleh, dan seorang wanita yang mengenakan blus merah jambu berkerah plus rok putih resmi selutut terlihat berdiri di depan kelas—dengan sekantong map di tangannya.

Kyungsoo yang kini sudah bermigrasi tempat duduk ke sebelah Taeyeon buru-buru mengeluarkan jurnal tulis dan beberapa lembar kertas latihan. Lelaki itu mencuri pandang sejenak ke arah Park Riyoung—wanita yang kini tengah merapikan berkas-berkasnya di meja guru—dan menyadari bahwa wanita itu tidak berhenti menoleh ke luar kelas, tepatnya ke arah pintu.

Kyungsoo nyaris saja mengganggu konsentrasi Taeyeon yang sedang asyik dengan kamus oxford setebal kasur miliknya jika Riyoung tidak segera berkata, “Kita kedatangan tamu hari ini.”

Mendengar pengumuman dari sang Walikelas, suasana kelas mendadak riuh. Semuanya saling bertukar argumentasi mengenai siapa tamu yang disebut-sebut. Bahkan Joonmyun yang lebih sering diam dibanding bercakap, sekarang nampak berbeda—ia melebarkan matanya dan mulai berdiskusi dengan Daehyun—teman sebangkunya.

“Murid baru?” Taeyeon pun tak mau kalah. Ia melirik Kyungsoo yang nampak penasaran dengan ekor matanya.

“Aku tidak tahu,” balas Kyungsoo—tanpa menoleh sedikitpun ke arah Taeyeon. “Tapi aku punya feeling buruk mengenai hal ini.”

Taeyeon menautkan kedua alis coklatnya. “Feeling apa—”

“Kita kedatangan guru baru! Untuk sementara beliau akan menggantikan Mr. Paul yang sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. Guru baru kita didatangkan langsung dari Paris lho! Beliau juga sempat menyelesaikan S2-nya di di Institute of Massachussets.” Jelas Riyoung panjang lebar. Lantas ia berdiri, “Baiklah, silakan masuk, sir!”

Gerakan jarum jam terasa melambat. Setiap mata memaku pandangan ke arah pintu kelas—menunggu siapapun yang akan muncul dari sana. Tidak terkecuali Kyungsoo. Lelaki itu ternyata cukup penasaran dengan yang satu ini.

Annyeonghaseyo.” Seorang pria tinggi berbalut jas abu-abu yang dipadu dengan celana berwarna senada tengah membungkuk di sudut kelas. Tak ada satupun suara yang terdengar ketika pria itu mulai menebar senyum. Senyuman yang terlihat sangat memukau.

“Dia… guru barunya?” Mendadak sebuah suara memecah keheningan. Suara milik si Bawel dari Kelas 9-A, Luhan.

“Kau pikir dia siapa, Luhan. Tentu saja dia guru baru kita!” Jawab Riyoung disertai kekehan ringan.

Kelas kembali gaduh. Mulut-mulut mulai membicarakan pria berkedok guru yang lebih terlihat seperti mahasiswa semester pertama. Yang bersangkutan hanya bisa tersenyum seraya menilik satu per satu wajah murid yang akan dia ajar beberapa hari kedepan. Dan matanya berhenti pada sesosok gadis yang tengah duduk di deretan kursi terpinggir. Senyumnya melebar.

“Taeyeon!” Kyungsoo menyenggol siku gadis yang dipanggilnya Taeyeon tadi, “Apa kau tidak sadar? Guru baru itu terus menatapmu!”

Taeyeon menaikkan alisnya, “Benarkah?! Itu berita bagus!” Gadis yang nampak sudah teracuni oleh pesona si Guru Baru buru-buru mengeluarkan sisir.

Kyungsoo bergidik melihatnya. “Kau tertarik dengan gurumu sendiri?!”

“Tidak seperti itu juga, bodoh.” Taeyeon mengelus rambut coklatnya. “Tapi kau bisa lihat sendiri ‘kan? Dia memang pantas dikagumi!”

Ya! Ya! Ya! Jangan ribut!” Riyoung menepuk-nepuk tangannya, berusaha untuk membuat tigapuluh anak didiknya kembali diam. “Now, back to topic. Kita dengar perkenalan guru baru kita ini.”

Annyeonghaseyo,” si Guru Baru kembali mengucapkan salam. “Kenalkan, nama saya Tao. Guru bahasa Inggris baru di SHS. Kelahiran China tetapi kebanyakan menetap di Eropa. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke Korea, hahaha.” Ia tertawa hambar, kemudian melanjutkan, “dan… sebenarnya nama asli saya Huang Zi Tao, tapi kalian bisa…”

Hwang!

“Kau dengar barusan, Taeyeon?! Namanya Hwang Zi Tao! Aku yakin orang ini bukan orang baik.” Kyungsoo berbisik di samping Taeyeon yang terlihat fokus dengan si Guru Baru.

“Diam, Kyungsoo.” Taeyeon mengerling sebal, “namanya Huang! Bukan Hwang! Lagipula tidak semua orang bermarga Hwang punya relasi dengan noona-mu yang gila itu. Jangan terlalu sentimental.”

Kyungsoo mendecak kesal. Guru baru itu jelas membawa masalah baru—terutama yang berhubungan dengan Taeyeon. Kelihatannya gadis itu sudah terbius oleh pesona Huang Zi Tao.

“Baiklah,” Riyoung kembali bersuara. “Hari ini Huang seongsaenim akan mengajar di kelas pertama. Berlaku sopan kepada beliau! Selamat pagi!”

Park Riyoung pun berjalan meninggalkan kelas, sementara Tao beringsut ke arah meja guru dan mulai membaca materi pelajaran hari ini.

Tanpa ia sadari, sepasang mata menatapnya penuh curiga.

-o0o-

“Taeyeon, ada yang ingin aku bicarakan.”

Taeyeon yang tengah bercanda ria dengan Kyungsoo menoleh. Rambut ikalnya sedikit berkibar tertiup angin yang berasal dari jendela kantin. “Oh, hai, Joonmyun. Ada apa?”

Gadis bermarga Kim itu perlu sedikit menunggu untuk mendapatkan balasan dari Joonmyun. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa tatapan Joonmyun bukan ditujukan untuknya. Gadis itu kemudian menoleh ke titik pandang lelaki berkulit putih bak susu tersebut.

Didapatinya Kyungsoo—titik pandangan Joonmyun—juga ikut menatap ke arah sebaliknya. Ada yang tidak beres.

“Joonmyun? Kyungsoo? Semuanya baik-baik saja ‘kan?” Gadis itu menatap Joonmyun dan Kyungsoo bergantian. Ia mengigit bibir.

“Tidak apa-apa.” Jawab Joonmyun pelan. Lelaki itu lantas mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo.

“Ya, tidak ada apa-apa.” Kyungsoo menyahuti. Ia kembali melanjutkan makannya.

“Ba-baiklah…” Taeyeon meringis. “Jadi, ada apa kau memanggilku?”

Joonmyun tidak menjawab. Sekonyong-konyong tangan kokohnya menarik lengan seragam sekolah Taeyeon. Mau tidak mau gadis itu pun berdiri, mengikuti ke manapun Joonmyun pergi. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan ruang janitor.

“Hei, ada apa sih?” Sergah Taeyeon seraya menarik tangannya.

“Apa yang kau lakukan, huh?” Seru Joonmyun tajam. “Apa yang kau lakukan selama ini bersama anak aneh itu? Kau pikir yang kau lakukan ini normal?”

Taeyeon menautkan kedua alisnya, heran. “Apa maksudmu?! Siapa yang kau sebut anak aneh?! Aku dan dia hanya berteman, Joonmyun. Dan dia tidak aneh! Bukan hal yang tidak normal aku berteman dengannya.” Jawab Taeyeon ketus. Ia tidak menyangka class leader kebanggaan 9-A bisa berkata sedemikian rupa.

“Satu kelas membicarakan kalian berdua! Dan sejak kau dekat dengannya kau menjadi jarang bicara dengan Jongdae dan Sunkyu!” Seru Joonmyun tak kalah ketus. Matanya sesekali melirik ke belakang—aneh.

Taeyeon tertegun sesaat. Ia menopangkan dagunya di atas kelima jemari tangannya. “Ah, kau benar. Aku sudah jarang bermain dengan Jongdae dan Sunkyu lagi. Tapi tenang saja, aku akan memperbaiki hubungan—”

“Lebih baik kau jauhi dia sekalian!” Sambar Joonmyun. Taeyeon tersentak. “Kau benar-benar tidak tahu latar belakang anak itu! Bisa saja kau sedang ada di dalam—”

“Bahaya?” Taeyeon menginterupsi. Ia menyilangkan kedua tangannya. “Apa kau tahu sesuatu mengenai latar belakang Kyungsoo, Joon-ah?”

Joonmyun tergemap. Lelaki itu memasang ekspresi yang sulit diartikan. Ia menggosok tengkuknya beberapa kali. “A-aku tidak tahu.” Jawabnya ragu. Begitu juga dengan Taeyeon, gadis itu pun ragu dengan jawaban lelaki di hadapannya.

Really?” Taeyeon memindai kedua manik mata Joonmyun dengan dagu terangkat. Gadis itu yakin Joonmyun tahu sesuatu mengenai Kyungsoo—kendati tak sebanyak yang dirinya ketahui.

“Aku sebenarnya kurang yakin.” Akhirnya Joonmyun menyahut. Ia menatap Taeyeon dengan pandangan kuyu. Setelah itu dia melanjutkan, “Ayahku berkata… bahwa aku harus menjauhinya.”

Kini Taeyeon yang dibuat terkejut. Gadis itu melebarkan mata kala bibirnya sedikit membuka. Beberapa tetes keringat memaksa keluar melewati pori-pori kulit pelipisnya. “A-apa maksudmu? Kenapa hal ini jadi berhubungan dengan ayahmu?”

Joonmyun memutar kedua bola matanya, “Aku juga tidak tahu. Yang jelas ayahku sudah memperingatkanku. Dan aku tidak punya keraguan sedikitpun kepada ayahku.”

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan matanya. Dengan sertamerta pandangannya kembali fokus ke arah kedua iris coklat Joonmyun. “La-lantas, kenapa kau juga memperingatkanku? Bukankah jika aku dekat dengan Kyungsoo artinya aku berpotensi harus kau jauhi juga?” Taeyeon memicingkan mata.

Joonmyun menunduk. Ia melepaskan pandangannya dari iris madu Taeyeon. “Aku percaya padamu.” Bisiknya perlahan—tanpa mengalihkan pandangannya dari ubin keramik lorong sekolah, “karena aku menyukaimu.”

Gadis bersurai coklat yang kini dikuncir kuda itu berkedip beberapa kali, tidak memercayai apa yang barusan menyambangi relung telinganya. Jantungnya seakan berdetak lebih cepat, berusaha menyamai kerja otaknya yang kini tengah dilanda dilema akut. Nampaknya kerongkongan Taeyeon perlahan-lahan mengering, membuatnya menyesap saliva berkali-kali.

“A-apa yang—”

“Apa kalian sudah selesai bicara?” Sebuah suara datar menyela ucapan Taeyeon. Kedua insan yang sedang berhadapan itu serentak menoleh, mendapati seorang lelaki bermata lebar tengah menatap tajam ke arah mereka berdua—atau lebih tepatnya ke arah si Lelaki, Kim Joonmyun.

“Kyungsoo?” Joonmyun terperanjat. Lelaki itu mundur beberapa langkah. “Se-sejak… sejak kapan kau ada disini?”

Kyungsoo melirik sebentar ke arah Joonmyun, dan tak lama pandangannya beralih ke arah Taeyeon, “Taeyeon, kita masih ada tugas kimia. Kau mau pergi sekarang?” Tawar Kyungsoo kepada gadis itu—menghiraukan ucapan Joonmyun.

Taeyeon merespon tawaran Kyungsoo dengan sebuah anggukan kecil. Sosoknya perlahan menghilang seiring dengan langkahnya yang kian lama menjauhi Joonmyun. Kendati begitu, penglihatan gadis itu tetap terpaku pada sosok Joonmyun.

Dan ketika keduanya sudah menghilang di tikungan lorong, perlahan manik mata Joonmyun berpendar. Ia meremas buku-buku jarinya tatkala bibirnya terkatup rapat. Tak lama lelaki itu meninggalkan lorong janitor dengan segenggam amarah di tangannya.

-o0o-

“Oh, maaf, pak. Saya dapat telepon. Permisi sebentar.”

Tao menyingkir dari kerumunan guru-guru di ruang rapat saat ponselnya berdering. Ia membuka pintu keluar dan mendapati koridor sekolah yang sunyi senyap—tempat yang bagus untuk menerima telepon.

“Ada apa, Tiffany?”

Jangan menyebut namaku keras-keras, stupid.” Sambar si penelepon yang ternyata adalah Stephanie.

“Berhenti bersikap sok misterius, Tiffany Dominique Hwang.” Ketus Tao penuh penekanan saat menyebut nama asli gadis blasteran Amerika-Korea itu. “To the point, why are you calling me?”

Kita ubah rencana.” Penuturan Stephanie berhasil membuat Tao terkesiap.

“Ubah rencana?! Kenapa kau selalu melakukan hal ini? Aku yakin kau mengubahnya karena ada yang sa—”

Dengar dulu, Zi Tao.” Desis Stephanie menginterupsi, “aku menemukan sesuatu yang menarik mengenai gadis itu. Nampaknya dia memiliki sesuatu yang kita butuhkan. Jadi, lupakan rencana awal untuk menghabisinya dan pelajari rencana kedua. Akan kukirimkan detailnya lewat e-mail.”

“Tu-tunggu sebentar, aku tidak menger—”

Tuut… tuut… tuut….

Sial, umpat Tao.

.

.

.

Koneksi terputus.

.to be continued.

MAAFKAN AKU YANG LAMA SEKALI UPDATE!
Orz, aku sibuk banget belakangan ini:& padahal fic ini udah jadi sekitar seabad yang lalu, cuma ya gitu gak sempet buka wordpress T.T Can’t say anything, just need your review! Maaf yaaa kalo pendek:&
DON’T FORGET TO DROP A COMMENT!

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s