[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me

you-cant-disappear-from-me-final

Title : You Can’t Disappear From Me

Author : Hyuuga Ace (@dioxing_0307)

Length : Multichapter

Genre : Romance, Drama, School Life, Hurt

Rate : G

Main Cast :

   ·  Oh Yu Bin (OC)

   ·  Kim Jong In / Kai

   ·  Park Chan Yeol

   ·  Lee Sae Ra (OC)

Other Cast : Kwon Yura (OC), Wu Yi Fan (Kris), Xi Luhan, Do Kyungsoo /D.O, Oh Se Hun, Zhang Yixing / Lay, Park Ye Rin (OC), Shin Hee Ra (OC), Han Jae Ha (OC)

Author’s note :

Bertemu lg dgn FF ini.. Msh adakah yg nungguin? Huhuhu. Chapter ini author ngerasa aneh sendiri ama cerita author. Takut kesannya ceritanya jd mkin mirip sinetron (?). Duh smga engg yah… Soalnya chapter ini trmsk climax cerita ini. Smga suka ajah deh..

Skli lg, gomawo bwt admin exomk fanfic yg udh ngepost ff ini.

HAPPY READING ALL ^^

 

_______

Author’s PoV

Seorang yeoja berjalan tergopoh- gopoh ke arah sekumpulan namja yang sedang berada di salah satu meja kantin. Dia langsung memutuskan menemui Luhan dan  kawan- kawannya sekaligus melupakan tugasnya untuk menempel selembaran pengumuman yang ditugaskan Huang songsaengnim untuknya.

“Luhan oppa!” Panggilnya ketika kedua kakinya sudah berada tidak jauh dari meja itu.

Orang yang dipanggil hanya menoleh cepat dan mendapati Yura sedang menjatuhkan dirinya di kursi -lagi- lagi di sebelah Sehun- sambil menyodorkan kertas ke hadapan mereka semua.

“Kai, akan kembali! Lusa dia akan muncul di sekolah.”

“MWO?!”

“Lihat! Kai memasuki kelas akselerasi yang akan dimulai 2 hari lagi.” Ujar Yura sambil menunjuk- nunjuk nama ‘Kim Jongin’ pada deretan nama di kertas yang ia bawa.

“Kau dapat dari mana kertas ini, hah?” Tanya Sehun tidak sabar pada Yura namun matanya masih melihat ke arah kertas itu.

“Saat aku berjalan melewati ruang guru, berniat menemui Yubin dan Chanyeol di kelasnya. Tiba- tiba Huang songsaengnim memanggilku dan menyuruhku membantunya menempel kertas ini di papan pengumuman dengan alasan dia tiba- tiba dipanggil kepala sekolah. Alasan saja menurutku, dia ingin istirahat juga. Oke, nevermind lah.” Yura menarik napas panjang.

“Yura- ssi, minum dulu. Santai saja menjelaskannya.” Luhan hanya memberinya sebotol orange juice yang segelnya masih belum dibuka pada yeoja yang masih mengatur napasnya. Yura tersenyum dan membuka segel orange juice itu dan segera meminumnya. Sehun yang melihat itu hanya memutar bola matanya, malas.

Dasar yeoja barbar.

 

“Gomawo, Luhan oppa. Begini lebih baik hehehe.. Oke, kembali ke topik. Kemudian ketika aku melihat nama Kai di daftar nama murid kelas 2 yang mengikuti kelas akselerasi, aku melupakan tugasku yang seharusnya, dan langsung berlari kesini. Berniat untuk menunjukan kertas ini pada kalian. Apakah kalian sudah tahu? Atau mungkin Kai sudah menghubungi kalian dan memberitahu alasan mengapa ia ingin lebih dahulu lulus?”

“Tidak sama sekali. Kami juga baru tahu sekarang. Kai sama sekali belum menghubungi kami lagi.” Yixing hanya berkata sambil mengerutkan keningnya. Kemudian kembali melanjutkan ucapannya, “Apa mungkin hal ini berhubungan dengan hilangnya manusia itu selama hampir 2 minggu lebih?”

“Mungkin saja.” D.O mengangguk menyetujui pendapat hyungnya.

“OMG!” Pekik Yura kaget ketika melihat Chanyeol dan Yubin memasukki kantin dan segera menunduk bertujuan menutupi wajahnya.

“Wae?” Tanya Sehun di sebelahnya sambil menaikan satu alisnya. Kadang ia bingung dengan sikap dan kelakuan mendadak yeoja ini.

“Yubin tidak boleh tahu aku mengobrol dengan kalian.”

“HAH?”

“Sudahlah, oh ya Hun! Tolong gantikan tugasku tempelkan kertas itu di papan pengumuman, ne?”

“YA!!”

“Annyeong!” Tidak ingin kena omelan Sehun lebih lanjut Yura segera melangkahkan kakinya  meninggalkan meja itu. Sebelum Yubin melihatnya.

“Hun?” Tanya Yixing jahil, “Sejak kapan kalian jadi sedekat itu. Hahahaha…”

“Shut up, Hyung.”

_____

 

neol chajaganda chueogi bonaen Tinkerbell ttaranaseotdeon Neverland~

 

Kwon Yura segera menengokkan wajahnya ke arah ponselnya yang tergeletak di meja belajarnya ketika nada deringnya terdengar, ia menaruh handuk yang sedari tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Dan berjalan ke arah ponselnya.

“Kris oppa!” Pekiknya riang tanpa sadar ketika membaca nama yang tertera di ponselnya.

“Yobeoseyo! Oppa, annyeong!” Sapanya riang yang ditanggapi dengan kekehan pelan orang di ujung sana.

“Yura-ssi, kau bersemangat sekali.”

“Ah, mian.”

“Kekeke.. Gwaenchana.”

“Waeyo oppa? Ada apa sampai menelponku malam- malam begini?”

“Ehmm. Aku tidak menganggumu, kan?”

“Geurrom. Wae?”

“Apakah kau tahu Chanyeol dan Yubin akan melakukan first date mereka besok?”

“MWORAGO?!!” Kris di ujung sana hanya menjauhkan ponselnya mendengar teriakan mendadak dari seorang Kwon Yura.

Kencang sekali.

“Yura- ssi, mian tapi kau tidak berniat untuk menganggu fungsi indra pendengaranku kan?” Ujar Kris sambil tersenyum kecil. Ia bahkan tidak tahu apa alasan ia tersenyum. Mungkin dia hanya merasa lucu dengan tingkah Yura.

“Aigoo, mianhae Kris oppa.”

“Ah gwaenchana, aku hanya bercanda.. Hehehe.” Kris mencoba tertawa hambar ketika mendengar nada penyesalan pada suara yeoja yang sedang berbicara dengannya diujung sana.

“Ehmm.. Darimana kau tahu oppa? Mereka jahat sekali, tidak memberitahuku! Huhhh.” Kini  Yura sudah menggembungkan pipinya sebal. Lihat saja, Oh Yubin – Park Chanyeol! Aku akan membalas dendam! Pikirannya sudah melantur entah kemana -mungkin sedang mengatur strategi balas dendam- ketika seseorang di ujung telepon sana berdeham.

“Ehemm. Sebenarnya saat aku memasuki kamar Chanyeol aku tidak sengaja melihat 2 tiket masuk Lotte World. Aku kira Chanyeol akan mengajakku…”

“Hahahaha! MWO?! Hahahaha.. Kau bodoh sekali oppa! Tidak akan mungkin Chanyeol mengajakmu bermain di taman bermain di usia kalian. Berdua lagi. Hahahaha.”

“Eum. Yura- ssi..”

“Hahahaha.. Babo. Hahahaha..” Kris mulai mempoutkan bibirnya, namun ketika mendengar suara tawa lepas Yura membuat hatinya sedikit terasa nyaman. Entah memang ada suatu perasaan aneh yang menyentuhnya sejak pertama kali bertemu dengan yeoja bernama Kwon Yura.

 

Tidak apalah, aku ditertawakan. Setidaknya aku bisa mendengar tawanya.

“Ah! Mianhae. Aku tidak bermaksud menertawakanmu.” Yura mulai mengatur suaranya, menahan tawanya sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa. Baginya memikirkan Chanyeol dan Kris, dua manusia tiang listrik itu bermain di Lotte hanya berdua adalah hal yang amat lucu.

Kris diseberang sana, hanya mengulum senyumnya. Kwon Yura, dia benar- benar yeoja yang tidak bisa diduga- duga.

“Yura-ssi, apakah kau mau ke Lotte World juga bersamaku?” Akhirnya Kris menanyakan hal ini. Entah bisikan darimana. Hanya saja ia memang ingin pergi bermain dengan Yura. Dan itu wajar kan? Sebagai seorang teman.

Yura yang sedang meminum segelas air yang selalu ada di meja belajarnya pun tersedak ketika mendengar tawaran Kris.

“Yura-ssi, gwaenchana?”

“Uhukk- uhukk! Kau mengagetiku, oppa! Uhukk!” Yura hanya memukul- mukul dadanya. Tersedak bukanlah hal yang main- main, tentu saja.

“Mianhae aku tidak bermaksud seperti itu. Sekali lagi mianhae.” Kris hanya meminta maaf sambil menatap ponselnya penuh wajah kekhawatiran, layaknya ponsel itu adalah Yura.

“Ah gwaenchana, ehmm.. Jadi, Kris oppa, kau mengajakku kencan juga?”

“NE?!” Tunggu, ajakanku ini memang mirip dengan ajakan kencan? Pikir Kris, panik.

“Apa aku salah sangka yah?” Kris tersenyum, ketika mendengar nada innocent dari seseorang yang sedang menemaninya di telepon.

“Ani, ani. Maksudku bukan hal semacam itu.” Kris memejamkan mata, mencari ide. Dia sendiri bingung maksud ajakannya, dia hanya ingin pergi bermain dengan Yura. Tapi bukan berarti hal semacam kencan. Pantas saja tadi Yura tersedak setelah mendengar ajakannya.

“Ah, aku tidak mengajakmu untuk kencan, ini ajakan untuk melaksanakan misi.” Ujar Kris pada akhirnya dengan nada percaya diri.

“Mwo? Misi?”

“Apa kau tidak penasaran hal apa saja yang dilakukan Yubin dan Chanyeol disana?”

“Ah, kau benar oppa! Tentu saja penasaran! Oke, aku ikut. Tapi ada syaratnya.”

“Hmm?”

“Jangan panggil aku dengan embel- embel ssi. Kita kan sudah cukup dekat, rasanya canggung memanggil namaku seperti itu.”

Sudah cukup dekat?

Tanpa sadar Kris tersenyum sekali lagi ketika Yura mengatakan hal itu.

_______

Yubin’s PoV

“Ayo kita rencanakan. Apa permainan yang akan kita naiki pertama kali, Yeol-ah?” Tanyaku tidak sabar, ketika kami masih di mobilnya dalam perjalanan.

“Hmmm.. Rumah hantu?”

“Aishh! Aku serius!” Hentakku kesal, bagaimana tidak. Aku tidak pernah menyukai rumah hantu ataupun hal- hal berbau hantu semenjak aku kecil. Dan dia tahu itu.

“Hahaha.. Sesekali cobalah hal yang kau takuti.”

“Shirreo, shirreo, shirreo!”

Suasana membeku lagi, rasanya aneh memang hanya pergi berdua saja dengan Chanyeol. Tidak ada seorang Kwon Yura di antara kami memang sedikit tidak nyaman.

Tapi, aku juga ingin membahagiakan Chanyeol. Walau hanya sekali. Park Chanyeol, dia terlalu banyak memberiku kebahagiaan selama ini. Namun aku tidak bisa membalas apapun yang dia berikan padaku.

“Yubin-ah.”

“Wae?” Aku menoleh ke arahnya yang masih memandang jauh kedepan dengan stir di kedua tangannya.

“Gomawo.”

“Untuk?”

“Kau memakai kalung yang kuberikan padamu.”

Aku hanya mengangkat salah satu alisku, dia benar- benar memperhatikanku.

“Cheonmanneyo.” Ujarku pada akhirnya.

_______

Hari ini benar- benar menyenangkan, setidaknya hal itu yang bisa kubaca dari mimik wajah Chanyeol. Kami menaiki hampir semua wahana, kecuali rumah hantu -tentu saja.

Saat menaiki roller coaster, dia berteriak- teriak seperti orang kesurupan dan hal itu lucu. Dan aku pun tertawa, orang- orang akan tertawa melihat teriakannya. Namja bersuara deep seperti itu berteriak seperti seorang perempuan? Memikirkannya pun pasti akan membuat kau tertawa. Chanyeol memang tidak terlalu ahli dalam permainan yang membutuhkan adrenalin tinggi. Namun dia sama sekali tidak menolakku ketika aku mengajaknya bermain roller coaster.

Kemudian, gilirannya memilih wahana. Dan monorel lah yang ia pilih, katanya untuk relaksasi sebentar.

Si bodoh ini, mana ada orang yang baru menaikki 1 wahana meminta istirahat.

Wahana selanjutnya aku mengajaknya bermain gyro swing, tapi dengan cepat dia menolakku. Dasar penakut.

Kemudian aku sudah lupa aku menaiki wahana apa saja, kurasa benar- benar hampir semuanya.

Wisata bermain kami di lotte world kami diakhiri di sebuah restoran yang masih terletak di kawasan Lotte World.

“Yeol, ini masih jam setengah 5. Dan kau sudah mengajakku untuk makan malam?”

“Sudahlah, aku benar- benar lapar. Semua tenagaku sudah terkuras habis untuk permainan- permainan gila itu.” Ujarnya tanpa menarik perhatiannya dari buku menu.

“Eh, Yeollie. Kau pesan apa saja, aku yang traktir.” Ujarku dengan nada riang.

“Mworago?”

“Beberapa hari yang lalu aku baru saja mendapat gaji pertamaku, aku sudah membelikan sesuatu untuk Yura dari gaji pertamaku. Kau belum, jadi aku ingin mentraktirmu.”

“Geurrae? Kalau begitu aku ingin makan daging!”

 

Ah aku lupa manusia ini kurang ajar.

Kemudian dia benar- benar memanggil waitress dan memesan bulgogi dan dia masih memesan pat bing soo sebagai dessert. Tanpa disadarinya, di bawah meja aku membuka dompetku dan menghitung uang cash yang aku bawa. Aku melirik lagi ke buku menu, yang sebentar lagi akan diambil waitress berseragam kuning itu. Sial, jika seperti ini makanan yang bisa kupesan hanya japchae.

Yeol-ah, maksudku aku akan mentratirmu makanan yang harganya terjangkau. (╥﹏╥)

Karena tidak enak, aku tidak mengucapkan apa- apa. Dan hanya menatapnya datar, sedangkan ia hanya menunjukan cengiran derpnya ke arahku.

Ya, Chanyeol pasti mengetahui apa yang ada di dalam pikiranku sekarang.

___

Sehabis makan dan tentunya membayar bill. Chanyeol menarikku ke arah stan es krim. Dia masih mau beli es krim juga?

Dasar perut karet.

“Agassi, chocolate cone ice cream dan mint cone ice cream.”

Setelah nona itu memberikan 2 cone ice cream dan Chanyeol membayarnya, dia memberikan es krim dengan rasa coklat kepadaku.

“Jangan dimakan dulu.”

“Ne?”

“Ayo naik bianglala! Letaknya di luar, jadi kita harus bergegas.”

“MWO? Kau masih ingin naik wahana?”

“Kita belum naik itu Yubin-ah, dan lagipula, melihat sunset di atas bianglala itu mengasyikan.” Kemudian dia melirik jam di tangannya.

“Kaja! Sebentar lagi matahari akan tenggelam.”

Ternyata dia telah merencanakannya, yah?

_____

Dan disinilah kami sekarang, di dalam bianglala yang hanya diisi dua orang. Dia duduk di depanku.

Aku mulai menjilati ice cream ku yang mulai meleleh.

Coklat. Favouritku.

Dan mengingatkanku akan, Pancake dan Milkshake coklat….

Aigoo. Apa yang kupikirkan barusan? Sudah jangan diingat- ingat lagi. Sudah tidak ada gunanya.

“Ehh chagi..”

“Aishh mulai lagi.. Mwo?”

“Aku banyak membaca buku panduan kencan. Kau tahu setiap kencan, harus diakhiri oleh sesuatu?” Tanyanya ambigu. Aku hanya mengerutkan kening.

“Ehmm?” Ujarku sambil memakan ice creamku lagi.

“Kiss?” Eehhh?? Tiba- tiba rasa kepanikan menjulur di sekujur tubuhku. Jangan katakan dia ingin menciumku lagi? Ya, dia orang yang merebut ciuman pertamaku. Dan tidaaaaak, jangan lagi!

Kemudian dia hanya memiringkan wajahnya dan memajukan tubuhnya lebih ke depan meninggalkan bangkunya dan berlutut di depanku. Membuat kedua bola mataku terbuka lebar melihat dirinya yang makin saja mendekatiku.

Hey! Hey! Jangan katakan dia benar- benar…

Belum sempat aku berspekulasi lebih lanjut.

Park Chanyeol, wajahnya sudah berada di depanku dan… DIA IKUT MEMAKAN ICE CREAM KU?! Dia memakan ice cream dibagian berlawanan dengan bagian yang kumakan!

Kau tahu? Ini semua mengejutkan! Perlakuannya!

Ice cream coklat di tanganku ini adalah satu- satunya penghalang antara wajahnya dan wajahku.

Aku mencoba memundurkan wajahku namun kepalaku terbentur dinding kaca di belakangku. Ah sial!

Kemudian ketika tatapannya jatuh ke dalam bola mataku, aku bisa merasakan sesuatu di dalam bola mata itu.

Ada luka disana.

 

Bola mata yang menatapku, menatapku dengan kesedihan dan luka.

Dan seketika hatiku yang rasanya sudah mati ini, kembali berdetak. Di dalam sana ada ribuan jarum kecil yang menghujamnya.

Ya, Chanyeol terluka dan luka itu.. Aku yang menciptakannya.

Park Chanyeol dia orang yang sangat berarti di hidupku, keberadaanya sama seperti Yura bagiku. Bahkan lebih dekat lagi. Aku sangat menyayanginya, ya rasa sayang sebagai seorang sahabat. Namun perasaan itu kuat, dan bahkan lebih kuat daripada perasaan cinta.

Namun aku menyakitinya. Hal ini membuat dadaku semakin terhimpit, rasanya sesak sekali.

Chanyeol memundurkan dirinya dan duduk kembali di bangkunya.

“Yeol-ah, mianhae…”

Namja ini, hanya tersenyum hambar.

“Untuk apa kau meminta maaf?”

“Untuk segalanya, maaf jika aku menyakitimu, maaf jika aku tidak bisa mem-“

“Apa yang kau lihat di dalam mataku barusan?” Potongnya sambil memandangku dingin. Dan aku tersentak. Aku belum pernah melihat Chanyeol yang seperti ini sebelumnya.

“Luka.”

“Ya, aku memang terluka, Yubin-ah.”

“Yeol-ah, mianhae. Jeongmal mianhae. Jebal, jangan begini… Aku akan melakukan apa saja, agar kau tidak terluka lagi. Jika kau ingin aku menjadi pacarmu, aku akan menjadi pacarmu. Aku akan selalu berusaha menyukaimu juga. Tolong, jangan terluka lagi. Hal ini sungguh menyakitiku juga.” Ya, Chanyeol harus mengetahuinya, mengetahui bahwa aku mengucapkan hal itu dengan ketulusan. Aku tahu bagaimana rasanya terluka. Dan aku tidak ingin orang yang kusayangi juga merasakan hal itu juga, apalagi karenaku.

Aku merasa buruk, karena telah menyakiti hati sahabatku sendiri.

“Kau memang bodoh, Yubin-ah.” Kemudian dia terkekeh pelan. Dan setelah itu kembali menatapku datar.

“Selama hampir 2 minggu ini, melihat dirimu menjadi seperti ini. Aku belajar sesuatu.” Lanjutnya. Ada perasaan sesak lain yang kembali menyerangku. Namja itu, nama namja itu, menghilangnya dirinya, hal- hal ini kembali terngiang di dalam benakku.

Dan tak terasa, aku mulai menggigiti bibirku. Menahan tangis yang kutahan hampir 2 minggu ini. Aku selalu saja ingin menangis.

Bahkan hanya memikirkan namanya saja air mata tiba- tiba saja tergenang. Hanya luka dan air mata yang mengingatkanku bahwa aku pernah mengenalnya, setelah kepergiannya.

Namun, dengan susah payah ku telan lagi semua air mata itu, seperti hari- hari sebelumnya.

Sial! Aku tidak ingin menangis! Hal ini selalu seperti ini, ketika  Kai dan segala kenangan tentang dirinya kembali menghujamku.

Jadi aku selalu belajar untuk tidak mengingat orang itu lagi.

 

Chanyeol, kau tahu? Aku selalu saja menahan tangisanku selama ini.

“Kai…” Suara berat itu kembali menyadarkanku.

“Kau benar- benar mencintainya.”

Dan aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi, lututku lemas dan aku benar- benar ambruk. Lagi. Ice cream di tanganku meleleh, sama halnya seperti air mata ini kembali meleleh.

“Yubin, lihat aku.” Ujarnya lembut sembari berlutut juga di depanku dan mengangkat daguku. Membuat kedua mataku yang terasa buram karena air mata, kembali menatapnya.

“Kau tidak perlu merasa bersalah karena kau tidak bisa membalas perasaanku. Kau tidak perlu menyukaiku balik, aku tidak terlalu banyak berharap. Dan, Oh Yubin. Selama ini ada hal yang ingin sekali kukatakan padamu.”

Dia tersenyum, menatapku penuh rasa sayang.

Membuatku makin merasa buruk.

“Temukanlah kembali emosimu. Melihatmu hidup tanpa emosi seperti ini menyiksaku. Aku tahu ini memang sulit, tapi kau masih memiliki aku, Yura, orang tuamu, teman- teman kerjamu. Jika kau lelah, bersandarlah pada kami. Ceritakanlah apa yang ada di dalam hatimu. Agar kami bisa ikut mengerti isi hatimu.”

“Yeol-ah…” Lirihku, apa mungkin yang membuatku seperti ini selama ini, karena.. Karena aku menanggung semuanya sendiri?

“Dan selanjutnya, jangan terlalu mengkhawatirkanku perasaanku padamu. Aku lebih menderita melihatmu berpura- pura berusaha menyukaiku balik. Arraseo?”

“Yeol-ah, gomawo geurigo mianhae. Kau selalu saja memberikan apapun yang kau bisa berikan kepadaku, sementara tak ada hal dapat kulakukan untuk membalasnya. Dan kau benar…. Aku memiliki kalian semua. Jebal, bantu aku.” Tanpa sadar aku sudah meletakan kedua tanganku di pungunggnya. Dia memberiku semangat. Dia benar- benar sahabat terbaikku.

Tangan kanannya terayun untuk mengusap puncak kepalaku. Kemudian membisikan sesuatu kepadaku,

“Aku selalu menyayangimu, sahabatku Oh Yubin.”

 

Park Chanyeol, terima kasih.

_______

“Apa lagi yang kau tunggu, Yeol-ah?” Dia ini aneh sekali. Ketika turun dari bianglala bukannya segera beranjak pergi, malah diam di sebelah gerbang keluar wahana ini.

“Ah itu dia, baru keluar.” Jawabnya sambil menunjuk sesuatu, kuarahkan bola mataku ke sesuatu yang ia tunjuk. Dan nampaklah dua sosok….

ASTAGA! YURA DAN KRIS OPPA?!

_______

“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanyaku bingung bisa bertemu mereka disini.

“Biar aku yang jawab.” Chanyeol mengangkat tangannya, sementara Kris oppa dan Yura menatap kami seperti sedang ketangkap basah.

“Mereka itu awalnya mengikuti kita, namun kehilangan jejak kita saat kita menaiki monorel. Yah kurang lebih ini alasanku mengapa memilih menaikki monorel di urutan ke-dua, Yubin-ah. Agar bisa lepas dari mereka. Dan setelah itu, mungkin mereka berdua juga berkencan. Karena aku tidak bertemu lagi dengan mereka sampai aku melihat mereka menaikki bianglala ini juga.” Terang Yeol panjang lebar.

“Yubin-ah, tidak seperti itu kok. Iya kan oppa?”

“Euhh.. Yura-ya, oppa juga tidak tahu harus mendeskripisikan kegiatan kita hari ini seperti apa.” Kris berterus terang dan itu membuatku tertawa.

 

Tertawa, dan benar- benar tertawa.

Sebenarnya aku juga terkejut, Chanyeol benar. Aku pasti bisa melewati ini semua jika berada di sekeliling sahabat dan keluargaku.

Aku bisa mengisi kekosongan ini dengan cinta dari orang lain.

________

Author’s PoV

Seorang namja bertubuh tegap baru saja akan keluar dari mobilnya  ketika bola matanya menangkap segerombolan namja yang tidak lain adalah sahabatnya datang dengan langkah cepat menghampirinya.

“YA!!! KIM JONG IN!!”

Dia, namja itu hanya menghela napas panjang. Dia harus menghadapi sahabat- sahabatnya terlebih dahulu.

“Oi! Hun-ah, na wasseo.” Ujarnya santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Ckk.. Kemana saja kau?” Kemudian Kyungsoo hanya bertanya dengan nada tenang namun siapapun bisa mendengar ada secercah kelegaan dibalik ucapannya. Mungkin karena akhirnya mereka bisa bertemu dengan sahabatnya lagi.

“Na?” Kai, hanya mencoba bercanda sambil menunjuk dirinya sendiri. “Tenang saja Hyung, aku masih hidup. Beberapa hari ini, aku pergi bertapa ke gunung.”

“YA! Serius!!” Tidak puas dengan jawaban tersebut, Sehun hanya membentak Kai tidak sabar. Sementara Kai hanya mengeluarkan cengirannya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Kai, dia memutuskan untuk tidak memberi tahu apapun tentang perjanjiannya dengan abeojinya pada sahabat- sahabatnya ini. Ketika dia berhasil, dia baru akan menjelaskannya.

Dia berpikir hal itu akan memperburuk keadaan jika memberi tahu mereka sekarang, dan kemudian -walau dia tidak berpikir akan gagal- dia gagal. Kemungkinan itu tetap saja ada.

“Kai, dimana ponselmu?” Yixing salah satu dari 2 orang yang sedari tadi diam saja akhirnya bersuara.

“Ehmm. Aku juga tidak tahu aku membuangnya dimana, Hyung. Tapi tenang saja, aku akan membeli ponsel baru dan memberitahu nomor baruku pada kalian secepatnya.”

“Eoh. Kai.. Apakah kau tidak tahu betapa frustasinya kami mencarimu? Dan setelah bertemu kembali, kau hanya mengatakan alasan konyol untuk mewakili rasa penasaran kami. Bertapa di gunung? Ckkk…”

“Mianhae Hyungdeul geurigo Sehunie. Aku pasti akan memberitahu kalian di tempat pertama ketika waktunya tiba. Biarkan aku menyelesaikan permasalahanku dan berhasil. Mian telah merepotkan dan membuat kalian semua khawatir.” Kai mengubah nada suaranya menjadi lebih serius dan penuh penyesalan. Bagaimana pun dia menyesal telah membuat hyung dan dongsaengnya yang lebih muda 3 bulan ini kerepotan mencarinya.

“Apapun. Yang penting, kami masih bisa bertemu denganmu itu sudah melegakan.” Ujar Yixing sambil merangkul pundak Kai yang sedikit lebih tinggi darinya.

“Kami mempercayaimu, Kai. Kau bisa bercerita ketika kau ingin.” Kyungsoo menaikan tinjunya ke udara dan memukul pelan ke arah lengan Kai. Sementara Kai hanya tersenyum ketika melihat sahabat- sahabatnya yang masih setia disisinya.

“Me too.” Giliran Sehun yang mengeluarkan suaranya, mendukung Kai. “Namun aku memiliki syarat, jangan sekali- kali menghilang dan benar- benar lost contact seperti kemarin! Kami sudah benar- benar gila mencarimu!”

“Arrasseooo nae dongsaeng. Kkkk..”

“MWO? Dongsaeng? Aku hanya lebih muda sekitar 3 bulan dari mu, Kim Jong In.”

“Arrasseo.” Kai tersenyum tulus Sehun yang hanya dibalas dengan dengusan sebal dari namja itu.

“Kai, sudah berapa malam kau tidak tidur?”

Semua pandangan jatuh pada orang ini, satu- satunya namja yang sedari tadi tidak bersuara, dan hanya menatap wajah Kai datar namun jika dilihat lebih dalam. Namja itu teramat cemas dengan penampilan Kai. Mungkin hanya dia yang menyadari bahwa ada kantung mata yang sekarang terlihat di bawah bola mata sahabatnya itu. Dan jika dilihat lebih jauh, Kai sekarang lebih kurus. Walau tidak terlihat begitu signifikan.

“Kosongkan jadwalmu pulang sekolah nanti, Kai. Ayo kita bermain. Kau terlihat membutuhkannya.” Luhan hanya tersenyum miring. Dan berjalan dahulu membelakangi mereka.

“Dia tidak merindukanku yah? Atau hari ini dia diet bicara?” Bisik Kai dengan nada sok innocent pada ke- 3 sahabatnya yang lain.

“Luhan Hyung, dia yang paling mengkhwatirkanmu. Aku sie biasa saja yah..” Kemudian Sehun berjalan menyusul Luhan sambil memeletkan lidahnya ke arah Kai, sementara Kai hanya mendengus.

“Sehun, dia bahkan pernah memberi saran untuk mengiklankanmu di kolom orang hilang..” Ujar Kyungsoo sambil menahan tawanya.

_______

“Hey, Kai..” Panggil Luhan ketika mereka berjalan bersama memasuki koridor sekolah mereka. Tentu saja diiringi dengan tatapan bahagia murid- murid yeoja karena dapat melihat Kai lagi. Bahkan ada juga yang menangis saking terharunya.

“Mwo?”

“Masuk kelas akselerasi, apa alasanmu? Apa hal ini juga masih harus dirahasiakan?”

“Hmmm.. Aku hanya ingin cepat lulus, Hyung. Dan…”Kai mulai menatap Luhan dan juga Yixing dengan pandangan jahil.

“Aku sayang sekali dengan Lulu dan Yixing Hyung. Jadi aku ingin menemani kalian di mimbar wisuda tahun ini.” Sebenarnya Kai menahan pahit di dalam dirinya, tentu saja jika ia diterima di Harvard dia tidak akan pernah mengalami hal berbau wisuda dan perpisahan.

Dan bahkan dia mengambil ujian kelulusan jauh lebih dulu dibandingkan dengan Luhan dan Yixing.

Ketika langkah mereka ber- 5 sampai di koridor utama, ujung mata mereka semua dapat melihat bahwa Yubin, Chanyeol, dan Yura melangkah dari arah bersebrangan ke arah mereka.

Jujur saja, bagi mereka semua. Mungkin kecuali Yubin dan Kai. Mereka menahan napas ketika mereka semua berpapasan.

Dan apa yang terjadi, Yubin hanya menundukan kepalanya. Dan itupun ke arah Luhan, dan melanjutkan lagi jalannya. Seakan- akan disitu tidak ada Kai. Seakan- akan Yubin tidak mengenal Kai.

Bagaimana dengan Kai, dia hanya menatap jauh ke depan dan melanjutkan lagi perjalanannya. Pandangannya, tidak dapat diartikan. Seolah- olah dia tidak melihat Yubin.

Tentu saja, banyak spekulasi yang berpendar dalam pemikiran orang- orang yang melihat hal itu..

Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara Kai dan Yubin.

_______

Yubin’s PoV

Ya, aku masih bisa bertahan. Aku tidak apa- apa.

Aku yang memintanya untuk berpura- pura tidak mengenalku. Aku pun harus menjalankan bagianku. Menganggapnya seolah- olah tidak ada.

Yubin, kau pasti bisa. Sekencang apapun jantungmu berdetak ketika melihatnya, kedua kakimu masih bisa melangkah menjauhinya, kedua bola matamu masih bisa kau jaga untuk tidak mencari matanya.

Ini lebih mudah karena Kai tidak sekelas lagi denganmu, dia memasuki kelas akselerasi. Ya, lebih mudah untukmu menjaga frekuensi berpapasan dengannya.

Tidak apa, kau pasti tidak akan apa- apa, Oh Yubin.

_____

Kai’s PoV

Waktu berjalan dengan lambat, ketika Yubin mengabaikanku. Ketika Yubin benar- benar seperti orang asing.

Dan ketika aku berpura- pura melakukan hal yang sama.

Waktu serasa membunuhku, namun aku dapat melewatinya dengan baik.

Test kelulusan dari kelas akselerasi, bahkan test masuk Harvard sudah kujalani. Semuanya lancar.

Hanya tinggal menunggu pengumumannya dan menentukan kehidupanku ke depannya.

Ya aku sangat tegang, menantikan hasilnya jauh lebih tegang daripada mengerjakan soal- soal yang diberikan saat test.

“Bagaimana testmu, nak?” Tanya abeoji saat itu ketika aku pulang di hari setelah mengerjakan soal test masuk Harvard.

“Aku melakukannya dengan sebaik mungkin, abeoji.”

“Hmm.. Arraseo. Kita tunggu saja hasilnya. Kudengar sekitar 2 minggu lagi baru akan keluar.”

“Geurom.. Abeoji, jika aku berhasil. Kau pasti akan mengabulkan permintaanku waktu itu kan?”

“Aku bukan seorang pengecut yang akan melanggar janjiku sendiri, Kim Jong In.” Ujarnya penuh penekanan saat itu.

“Aku berharap kau melakukan hal yang sama.”

“Dangyeonhaji *tentu saja*”

Dan Saera, orang yang masuk ke dalam perjanjian kami. Ketika mengetahui aku kembali, ia pun kembali bersekolah dan membututiku seperti biasa. Sepertinya dia belum mengetahui apa- apa tentang perjanjianku dengan abeoji.

Sejujurnya aku merasa bersalah padanya, jika aku berhasil. Aku akan mencampakannya. Rasanya terlalu kejam memang. Namun… Bagaimanapun aku tidak ingin hidup bersamanya, maaf. Tapi aku tidak mencintaimu, Lee Saera. Mungkin aku hanya bisa meminta maaf padanya dan menggagapnya sebagai adik di masa yang akan datang.

______

20 April.

Hari ini ulang tahun Luhan Hyung, dia mengajak kami semua untuk datang ke bar milik abeojinya untuk merayakan ulang tahunnya.

Tak kusangka, dia juga mengajak Yubin, Chanyeol, dan Yura.

Aku hanya mendudukan tubuhku di salah satu meja di pojok tempat ini, ketika mataku melihat Yura berbincang dengan Luhan dan Sehun. Sejak kapan mereka jadi sedekat ini?

Kuarahkan pandanganku jauh lebih luas lagi, dan aku menangkapnya, menangkap pandangan matanya yang sedang melihat ke arahku.

DEG

Aku tersenyum ketika menyadari, ada rasa hangat yang menyebar dari dalam tubuhku ketika aku dapat melihat wajahnya yang juga melihatku juga.

Yubin, aku benar- benar merindukan yeoja itu.

Pandangan mata kami terkunci satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.

Ada banyak kata yang tidak dapat kami ucapkan, tapi aku berharap.. Aku bisa menjelaskan padanya, bahwa aku masih mencintainya. Dan aku masih berharap dia menungguku. Karena aku telah melakukan segala hal agar bisa bersamanya.

Kemudian Yubin menarik pandangan matanya, dan berjalan keluar tempat ini.

Yubin, dia sudah menjadi lebih kuat. Dia tidak menangis. Kakiku hanya melangkah dengan sendirinya menyusulnya keluar dari tempat ini.

______

 

Author’s PoV

Ada sepasang mata juga, yang menjadi saksi melihat bagaimana meluapnya perasaan di antara Kai dan Yubin saat itu hanya dengan saling tatap. Sepasang mata yang memancarkan perasaan yang tercabik- cabik di dalamnya.

 

Lee Saera.

Dia ada disini, dan mungkin Kai tidak menyadari keberadaanya.

Kemudian kaki mungilnya mengantarnya melihat semuanya, saat Kai berjalan menyusul Yubin. Saat Kai hanya membututi Yubin dari belakang. Entah Yubin akan pergi kemana.

Sampai langkah yeoja yang pernah menjadi teman sebangkunya itu berhenti. Tepat di ujung jalan, selangkah menuju zebra cross.

“Jangan mengikutiku.”

“Yubin-ah, bogoshippo.”

_____

 

Yubin’s PoV

“Yubin-ah, bogoshippo.”

Aku menggigit bibir bawahku dengan keras, aku tidak ingin menangis lagi. Aku sudah berjanji pada Chanyeol.

Rasanya, aku ingin membalikan tubuhku dan segera memeluknya. Menyalurkan perasaanku,

Bahwa aku juga sangat merindukannya.

Tapi bagaimana aku bisa melakukan hal itu?

Jika Kai gagal menepati janjinya, maka aku tidak boleh gagal juga.

Walaupun aku sudah tidak tahu mana yang benar, namun sejauh ini hal ini yang terbaik.

Melepasnya.

Jangan berbalik, Oh Yubin!

Lanjutkan saja jalanmu dan segeralah pulang.

Ketika melihat Kai di tempat itu rasanya aku memang ingin segera pulang, aku tidak ingin aku tidak bisa mengontrol diri dan pergi menemuinya dan menghancurkan segala usahaku selama hampir sebulan ini.

Aku benar- benar melangkahkan kakiku dengan cepat menyebrangi jalan yang sudah lumayan sepi ini, ketika kudengar derap langkah seseorang mengikutiku dari belakang dan tidak lama kemudian aku juga melihat kilatan cahaya dari arah jalanan.

Ya, akan ada mobil yang berjalan cepat ke arah kami.

Dan mungkin saja…. Mobil itu akan menabrak Kai karena aku sudah sampai di ujung jalan.

Aku tertawa di alam bawah sadarku, aku benar- benar membalikkan badanku. Dan berlari menggapainya.

Benar- benar berlari menggapainya, menggapai tubuhnya dan kemudian mendorongnya.

Berlari menggapai dirinya menggapai cintanya, dan kemudian mendorongnya pergi agar dia bisa bertahan hidup dan hidup lebih bahagia.

Inilah yang selama ini kulakukan.

Ya….. Aku tahu lanjutan kisah ini, aku terhempas…. Jika selama ini hanya perasaanku yang terhempas entah kemana, sekarang tubuhku benar- benar terhempas.

Aku mencintainya, dan aku berharap cintaku yang  lemah ini bisa melindunginya.

Aku mencintaimu, Kai.

Sebelum kegelapan datang, hey.. Aku melihat senyumannya. Senyuman yang terakhir kali kulihat ketika mata kami berpapasan ketika di bar tadi.

 

Setidaknya, aku bisa melihat, tidak- mengingat senyumannya lagi.

 

Dan aku harus bersyukur untuk itu.

_______

Kai’s PoV

Ya, aku bisa melihat kilatan cahaya di dekatku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah cahaya itu, mobil yang cukup besar siap untuk menerjangku. Tidak ada waktu lagi untuk melarikan diri, saat aku menutup mataku dan mulai bersiap untuk merasakan sakit, ada tangan mungil yang mendorongku.

Dan kemudian gendang telingaku mendengarnya, sesuatu yang tertabrak. Bukan aku, karena aku tidak merasakan sakit secara fisik. Aku memang tidak merasakan sakit secara fisik, namun hatiku sudah lumpuh didalam sana ketika aku menyadari tangan siapa yang mendorongku tadi dan mengorbankan tubuh kecilnya ditabrak mobil itu.

Dia, Oh Yubin.

TBC

13 thoughts on “[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me

  1. thoooor ini kenapa sedih muluuu, kasi bahagia dikit gitu thot buat kai sma yubin ><
    akhirnya ini ff keluar juga. udah nungguin lama banget. makasi yathooor, suka ff ini. bagus! ditungguin nih chapter selanjutnyaaa♡

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s