Beauty & Beast [Chapter 4]

beauty-and-beast-choi-seung-jin-storyline

Title : Beauty & Beast – Chapter 4

Author : Choi Seung Jin

Genre : Fantasy, Historical, Supernatural, OOC

Ranting : General Audience

Leigth : Chaptered

Main Cast :

EXO in English Name

Supporting Cast :

Evanna Lynch as Amelia (OC)

Jessica SNSD as Jessica

Still secret

Credit poster : http://www.cafeposterart.wordpress.com

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

Note :

  • SEMUA MEMBER EXO MEMILIKI UMUR YANG SETARA, YAITU 17 TAHUN!! Buat yang menurut readers gak cocok untuk usia 17 tahun, anggap saja muka mereka itu boros’-‘)
  • Ingatlah English name para member EXO. Karena author akan menggunakan nama itu daripada real name atau stage name mereka.
  • English name para member EXO author dapatkan dari http://ohsehunnie1.com/post/43130943930/exos-english-spanish-and-french-names

 

****

Annyeong readers^^ Hahah… Maaf lama menunggu. Akhirnya Chap 4 nya selesai juga. Dan kayaknya chapter ini yang paling panjang dan Jinnie sendiri gak tau kenapa ._. Maaf kalau chapter imi rada-rada gimana. Untuk poster, Jinnie request. Tapi buat chapter selanjutnya, Jinnie bakal pakai poster buatan Jinnie sendiri^^

Jangan lupa untuk kritik dan sarannya reader^^ Happy reading :*

***********

Pria itu berdiri tegap. Memandang keadaan luar dari balik jendela besar, menghayal jika keinginan sudah tercapai nanti. Saat dia punya kekuatan untuk memiliki apa yang ia mau. Membayangkan nanti jika dia memiliki 12 kekuatan besar yang bisa membuatnya tidak terkalahkan. Bahkan dengan kelemahannya sendiri. Dan dia sudah menunggu hampir 30 tahun disepanjang hidupnya yang seakan tidak ada akhirnya.

Di belakang pria itu, ada berberapa temannya—atau lebih tepatnya anak buahnya. Duduk diam tanpa melakukan apapun, kecuali menunggu ‘bos’ mereka angkat bicara.

“Sekarang mereka sudah berumur 17 tahun,” gumam pria itu. “Bukankah ini waktu yang tepat?”

“Aku sudah tidak sabar memiliki kekuatan terbesar di bumi. Apalagi jika aku sudah memiliki kekuatan Black Pearl. Aku bisa tak terkalahkan,” lanjutnya.

“Bukankah akan lebih sulit. Mereka dalam pengawasan penyihir tua itu. Lagi pula, bagaimana jika mereka sudah mengusai para Mortem?” Kata satu-satunya wanita yang ada di ruangan itu.

Wanita berkulit putih seputih salju namun pucat seperti orang mati. Bibirnya merah bagaikan darah segar. Dan rambutnya hitam seperti sayap gagak. Kecantikan yang dimilikinya sangat luar biasa. Akan tetapi tidak ada artinya lagi semenjak dia menjadi abadi berpuluh-puluh tahun silam.

Pria itu berpaling pada si wanita. Menatapnya tajam seakan tidak suka dengan perkataan wanita itu yang baru saja dikeluarkan.

Dia berjalan cepat bagai kilat. Sekarang dia sudah berada didepan si wanita.

“My dear Sulli,” kata pria itu lembut. “Apa kau meremehkanku?”

Sulli tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menundukkan kepalanya—memikirkan kesalahannya barusan. Seakan-akan dia sudah mengucapkan kata-kata terlarang yang haram untuk diucapkan. Dia tahu pria itu tidak suka diremehkan terlebih oleh anak buahnya sendiri.

“Perkataan Sulli ada benarnya.” Seorang pria lain yang duduk tak jauh dari Sulli kini angkat bicara.

“Maksudmu, Henry?”

“Bagaimanapun juga, penyihir tua itu pasti akan melatih mereka untuk mengusai para Mortem. Aneh jika dia tidak melakukan itu,” ujar Henry. Pria memiliki kulit seperti Sulli, putih tapi pucat. Matanya kecil namun tajam melihat. Berpakaian rapih dibalut kemeja putih dan celana hitam kain.

“Bukankah justru lebih mudah? Jika bocah-bocah itu sudah menyatu dengan para Mortem, akan jadi lebih mudah mengambil kekuatan mereka.”

 

 

 

****

“Ooh.. Jadi kau mendapat beasiswa.”

Amy dan Leo menghabiskan waktu mereka menunggu salju turun diatas sebuah gundukkan besar ditengah hutan. Yap.. Masih tetap menunggu salju turun. Saling bertukar cerita akan mengurangi rasa bosan.

“Tadinya aku bersekolah di Stonewall High School di London. Lalu aku dapat undangan beasiswa disini jadi aku pindah,” ujar Leo. “Lalu kau sendiri, sejak kapan bersekolah di XOXO?”

“Aku sudah di XOXO sejak kelas 1. Ayahku mengenal baik Pak Jim dan Pak Jim menganjurkan aku bersekolah di XOXO,” kata Amy menjelaskan.

“Kau tinggal dengan orang tuamu?” Tanya Leo.

“Hanya dengan ayahku. Ibuku meninggal saat melahirkanku,” kata Amy.

“Aku turut prihatin.”

Amy tersenyum, tak ada raut sedih dari wajahnya yang cantik itu. Bisa ditebak bahwa selama ini Amy hidup dalam kebahagian dan tanpa beban sedikitpun. Tapi hidup tanpa hadirnya sosok Ibu mungkin akan lebih sulit.

“Apa di London menyenangkan?” Tanya Amy.

“Hmm.. Cukup menyenangkan.  Dan juga ramai. Berbeda sekali dengan disini. Tapi aku lebih suka disini. Tenang, udaranya segar, dan tidak ramai,” ujar Leo. “Apa kau pernah ke London?”

“Belum. Aku menghabiskan 17 tahun hidupku disini,” kata Amy. “Ayahku tidak pernah mengajakku ke London. Padahal aku ingin sekali melihat Big Ben.”

“Aku bisa mengajak mu ke London. Misalnya saat liburan musim—“

“Benarkah??” Kata-kata Leo dipotong begitu saja oleh Amy dengan semagat. Dia mendekatkan wajahnya cepat. Sekarang wajah Amy berada tapat dihadapan wajah Leo. Dia sangat senang saat Leo mengajaknya ke London. “Kau berjanji?”

Sudah sejak lama Amy ingin pergi ke London. Ayahnya memang tidak pernah mengajaknya ke sana. Salah satu impiannya adalah melihat Big Ben, jam besar kebanggaan London bahkan Inggris.

“Iya. Aku janji. Saat liburan musim panas nanti, aku akan mengajakmu tur ke London. Biar aku yang mengajakmu keliling London dan melihat Big Ben,” kata Leo berjanji.

Senyum lebar terlukis diwajah mungil Amy. Tampak cantik dan manis, penuh kebahagiaan.

“Eh?” Ucap Leo spontan saat sesuatu yang dingin menyentuh ujung hidupnya.

Ditengah obrolan yang menyenangkan itu, setitik putih jatuh dihidung Leo. Salju.

“Ah!” Pekik Amy. “Saljunya mulai turun.”

Salju mulai turun dari langit malam awal musim.

Leo ingin sekali berdiri dan ‘bermain’ dengan salju jika saja Amy tidak menghalanginya.

“Tunggu! Jangan bergerak! Atau salju pertama akan jatuh.”

Leo tidak bergerak sesuai dengan perintah Amy. Sedangkan Amy tengah menyiapkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kamera polaroid untuk mengabadikan tempat dimana salju pertama yang turun, seperti yang biasa ia lakukan setiap tahun.

“Nah,” kata Amy, membidik kameranya ke arah Leo. “Senyum!”

Klikk…

“Lho? Amy? Leo?”

Leo dan Amy menoleh ke arah suara yang memanggil mereka tepat saat Amy selesai memotret Leo.

Seorang laki-laki berdiri bawah gudukan. Berpakaian tebal seperti Leo dan Amy dengan syal merah yang terlihat mencolok diantara pakaiannya yang berwarna hitam. Dia memiliki tinggi yang hampir sama dengan Leo. Rambutnya tidak terlihat terlalu rapih seperti biasa.

“William!” Seru Amy.

Will berjalan menanjak mendekati Amy dan Leo. Raut wajah seakan tidak senang melihat kedekatan Amy dan Leo.

“Kukira kita akan melihat salju turun seperti biasa. Tapi sepertinya kau sudah menemukan teman baru,” kata Will dengan nada menyindir.

“Tapi bukankah kau bilang kau tidak bisa melihat salju karena kau sedang ada di sekolah?” Kata Amy mencoba membela diri.

Amy tak pernah sendirian saat melihat salju pertama yang turun. Dia selalu bersama Will di hampir setiap tahun.

“Tadinya iya. Tapi setelah kulihat Leo tidak bersama yang lain ataupun ada di kamarnya, itu artinya dia bisa keluar sekolah. Dan kupikir aku juga bisa keluar untuk melihat salju,” ujar Will.

Dia sedang tidak baik. Dia menatap Leo tidak senang. Sejak awal, Will terlihat tidak suka dengan kehadiran Leo. Hal itu bisa terlihat jelas dari matanya.

Amy melihat ada yang tidak beres dari Will. Tatapan Will terlihta tidak wajar pada Leo. Dia harus menetralisirkan ini.

“Hey! Kenapa kita tidak duduk dan melihat salju turun? Leo? Will?” Kata Amy mencoba mendinginkan suasan.

“Tidak. Aku ingin kembali ke sekolah saja,” kata Will menolak kasar. Hal itu membuat Amy sedih memandangi punggung Will yang berjalan menjauh.

Kini rasa bersalah mendera Leo. Ia merasa bahwa dia menyebabkan Will dan Amy bertengkar. Seharusnya dia bisa tahu lebih awal.

“Maaf, Amy,” ucap Leo pelan.

Meski pelan Amy masih bisa mendengarnya dengan jelas. Raut wajahnya menjadi turun karena sedih dan kecewa. Selama ini, dia dan Will hampir tidak pernah bertengkar. Mungkin hanya berbedaan pendapat yang tidak akan berlangsung lama. Tapi kali ini, Will seperti marah padanya.

“Untuk apa?” Kata Amy mencoba tersenyum didepan Leo. Padahal didalam hatinya, dia benar-benar sedih.

“Karena aku, kau dan Will jadi bertengkar,” ucap Leo dengan rasa bersalah.

Amy semakin tersenyum. Ini membuat Leo semakin tidak enak hati dengannya.

“Bukan salahmu. Will memang sedikit egois dan tidak pernah bertindak sesuai kata-katanya. Kemarin dia bilang, tidak bisa melihat salju denganku karena dia ada di sekolah. Tapi ternyata dia datang.” Dia menarik nafas panjang. Mencoba menghilangkan rasa sedihnya demi menghargai Leo yang ada disebelahnya.

Ini benar-benar menyesakkan hati. Karenanya, Amy dan Will bertengkar. Ditambah Amy yang menjadi sedih seperti ini. Seumur hidupnya, Leo bertekad untuk tidak akan pernah menyakiti hati perempuan. Dan sekarang hal itu terjadi meski tidak secara langsung.

“Mungkin aku akan pulang sekarang. Terima kasih sudah menemaniku, Leo.”

“Tunggu!” Ini kali keduanya Leo mencegat Amy saat ia hendak pergi meninggalkannya.

“Boleh aku mengantarmu pulang? Ini sudah malam. Tidak baik untuk perempuan jalan sendirian.”

 

****

Malam yang menyenangkan untuk Kevin. Bisa mengajak gadis yang ia sukai sejak awal masuk XOXO pergi berkencan. Waktu yang salah memang. Tapi jika ada kesempatan, kenapa harus disia-siakan. Itulah prinsip yang dipegangnya.

Kedai makan kecil yang dipilih secara tepat menambah kesan sempurna pada acara kencan malam ini.

Jessica sebenarnya sudah tahu, bahwa Kevin menyukai dan puncaknya adalah malam ini. Tapi dia masih malu untuk menunjukkan perasaannya yang sudah ada sejak pertama kali Kevin memasuki kelas di hari pertamanya.

Kevin dibalik sifatnya yang dingin dan terkesan cuek, dia memiliki sisi penyayang dan perhatian terhadap perempuan. Terlebih pada gadis yang disukainya. Ingin sekali dia menyatakan perasaannya pada Jessica. Namun dia masih belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Pikirannya masih terfokus pada urusan werewolf yang menjeratnya.

Sebenarnya yang disayangkan dari kencan ini adalah perjalan kembali ke sekolah yang terkesan biasa saja. Hanya diisi dengan obrolan-obrolan biasa seputar sekolah. Seharusnya Kevin bisa menbicarakan hal-hal yang lebih penting.

“Ngomong-ngomong, apa kau akan pulang untuk natal?” Tanya Kevin dengan pertanyaan konyol yang terlintas dipikirannya.

“Tentu saja. Natal ini aku berencana pulang ke Amerika. Mengunjungi kakek dan nenekku. Kau sendiri, apa kau akan pulang ke Kanada?” kata Jessica.

“Sepertinya tahun ini aku tidak bisa pulang untuk natal, bahkan ke rumahku. Aku akan menghabiskan natal di sekolah dengan berberapa orang lain,” ujar Kevin.

Kevin ingat kata-kata Pak Jim yang saat di ruang Kepala Sekolah. Sepertinya orang tua itu mengatakan sesuatu tentang latihan di libur natal sehingga tidak ada dari 12 murid itu yang akan pulang untuk liburan.

“Kevin? Jessica? Syukurlah aku bertemu kalian.” Perhatian mereka teralih pada sosok laki-laki yang berdiri dipinggir jalan.

“Kau? Sedang apa kau disini?” ketus Kevin. Mendapati Leo muncul diacara kencannya adalah sesuatu hal yang sangat tidak menyenangkan.

“Aku sehabis mengantarkan Amy pulang. Saat aku ingin kembali aku lupa jalan ke sekolah. Aku sempat kebingungan dan untunglah aku bertemu kalian berdua,” ujar Leo.

“Kau boleh pulang bersama kami, Leo. Kebetulan kami juga akan kembali ke sekolah,” kata Jessica murah hati.

Kegagalan kencan Kevin yang lainnya.

 

****

Mentari menyambut hari pertama sekolah setelah kejadian mengerikan sekitar seminggu yang lalu. Sekolah kembali ke aktivitasnya semula. Para murid kembali seperti biasa. Belajar seperti yang seharusnya. Mereka melakukan rutinitas seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Begitu pula dengan ke-12 Wolf Boys. Mereka melakukan kegiatan mereka masing-masing sebagai murid SMA dan masih terlihat seperti murid SMA. Identitas rahasia rahasia mereka masih terjaga dengan rapih dari warga sekolah kecuali Pak Jim, berberapa guru dan 12 Wolf Boys sendiri.

Keadaan semakin memparah kondisi mereka. Masing-masing dari mereka mulai menunjukan kekuatan mereka, mungkin sementara tidak untuk Edison.

Mungkin untuk Kevin yang tiba-tiba melayang dan terbang. Leo yang sudah bisa membaca pikiran orang lain dan membuat benda-benda melayang. Francis yang dapat mengendalikan air. Ataupun Bernard yang dapat menerangi seluruh ruangan dengan cahaya dari tubuhnya. Semua menunjukkan kekuatan mereka kecuali Edison.

Satu-satunya dugaan kekuatan yang dimiliki Edison adalah Time Control. Namun pada kenyataannya Edison tidak memiliki kekuatan apapun. Hal ini jarang sekali terjadi. Dimana kekuatan yang dimiliki suatu makhluk akan hilang saat dia sudah terkurung dalam suatu tubuh.

 

****

Chirstmas Holiday

Salju mulai mengeras. Memantulkan sinar mentari berkilauan diantara aliran air yang membeku.

Hari ini adalah malam natal. Seperti yang diberitahukan oleh Pak Jim, ke-12 Wolf Boys tetap berada di sekolah. Rencana yang telah disiapkan Pak Jim adalah berlatih mengendalikan para Mortem, sehingga murid-muridnya dapat berubah menjadi werewolf kapanpun mereka inginkan. Jika sudah seperti itu, mereka tidak usah khawatir soal bulan purnama.

Leo memikirkan keluarganya. Ini adalah natal pertamanya di XOXO. Dan juga natal pertama yang ia lewatkan tanpa kedua orang tuanya. Orangtua Leo mengerti kenapa dia tidak bisa pulang untuk natal karena yang mereka tahu bahwa di XOXO tengah diadakan sebuah trip natal ke suatu tempat. Setidaknya Leo maupun orantuanya sudah mengirimkan kado natal satu sama lain.

“Baiklah. Semua berkumpul!”

Pak Jim mengumpulkan ke-12 muridnya di tanah lapang yang masih tertutupi salju ditengah hutan. Tempat ini sangat sempurna untuk melatih mengendalikan para Mortem tanpa takut mereka akan merusak fasilitas Sekolah.

“Mike! Kau yang pertama,” tunjuk Pak Jim.

Laki-laki berkacamata itu terkejut saat namanya yang dipanggil pertama. “Aku?”

Donald mendorong pundak Mike cukup keras sehingga Mike maju berberapa langkah ke depan. Sedangkan dia sendiri tertawa kecil melihat temannya itu.

Mike maju dengan langkah ragu. Dia kurang percaya diri soal ini. Jika untuk matematika dan fisika, tidak masalah untuknya. Namun, ini.

“Sekarang sedang salju. Dan salju adalah elemenmu. Aku ingin kau berkonsentrasi. Bayangkan bahwa Mortem dalam tubuhmu adalah kau sendiri.” Pak Jim mengintruksi sangat jelas kepada Mike. Yang perlu Mike lakukan hanya mengikuti intruksi itu.

Sementara Mike menjadi peserta pertama, yang lainnya mengamati bagaimana Mike mengendalikan Mortemnya. Mike berkonsentrasi dengan keras. Dan sepertinya usahanya berhasil. Tubuhnya memerah seperti udang yang baru matang. Dia mulai menguasainya.

Dalam sekejap—tak sampai satu menit, Mike sudah menyempurkan tranformasinya. Werewolf—tunggu. Bukan werewolf. Mike tidak bertranformasi menjadi seekor manusia serigala yang berdiri dengan dua kaki. Melainkan seekor serigala raksasa berbulu putih seputih salju yang jauh berbeda dengan penggambaran seekor werewolf.

Semua bergerak mundur saat Mike menyempurnakan tranformasinya. Berjaga-jaga jika Mike tidak dapat mengendalikan diri.

“Err rr rawr. Er?”

Mike bicara. Namun… Dengan bahasa serigala. Dia nampak kaget, begitu pula yang lainnya. Dia bisa mengendalikan dirinya meski fungsi tubuh manusianya beralih menjadi serigala.

“Dia berhasil,” Pak Jim berkata dengan bangga.

“Tapi dia tidak terlihat seperti werewolf,” kata Kevin memandangi bentuk baru Mike.

“Aku memang belum melihat hal seperti ini,” ujar Pak Jim. “Selajutnya Leo!”

Kini giliran Leo. Dia cukup grogi dalam masalah ini. Dia sedikit trauma dengan Mortem miliknya. Dia khawatir jika Mortemnya akan berulah dengan mempengaruhi pikirannya dan merusaknnya.

Bisa saja dia melakukan negosiasi dengan bertelepati dengan Mortem miliknya. Tapi bagaimana jika Mortem itu menolak dan berbuat yang aneh-aneh.

“Ada apa, Leo?” Pak Jim bertanya.

“Saya hanya ragu, Pak,” jawab Leo singkat.

Orang tua itu tersenyum memberikan semangat pada Leo. “Kau bisa mencoba bicara dengannya dulu.”

Pak Jim bisa menangkap masalah Leo dengan mudah. Dia penyihir, bukan?

 

Hmmm.. Test. Halo? Apa kau bisa mendengarku?

 

Leo mencoba mengirim telepati pada Mortem miliknya. Mencoba saling mengerti dan saling bernegosiasi.

 

RAWWWWR

 

Mortem itu meraung. Leo sangat terkejut saat raungan muncul didalam kepalanya.

“Dia meraung padaku!” Seru Leo terkejut menunjuk kepalanya.

“Just try it,” kata Pak Jim meyakinkan.

Mau tidak mau, Leo harus mencobanya lagi. Semoga kali ini Mortem itu mau bekerja sama dengannya.

Leo mengirimkan seluruh pikirannya ke hadapan Mortem. Mengirimkan telepati untuk sekedar bicara.

 

RAWWWR! MAU APA KAU?

 

Leo mencoba menenangkan pikiran dan menghadapi Mortem itu secara perlahan. Meski dia sudah menerima ucapan yang kurang menyenangkan.

 

Aku hanya ingin bicara. Bisa kita bicara?

 

Mortem itu diam. Sepertinya dia ingin mendengarkan apa yang akan Leo katakan.

 

Namaku Leonardo. Siapa namamu? Atau aku harus memanggilmu apa?

 

Perkenalan adalah langkah awal untuk saling mengenal. Ada pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang.

 

Mereka memanggilku Xander. Aku adalah Mortem Wolf dengan kekuatan Telekinesis. Satu-satunya yang ada di bumi.

 

Baiklah, Xander. Apa kau mau membantuku? Melatihku?

 

Aku ingin membantumu, asalkan kau mau mambantuku juga.

 

Butuh hampir 10 menit untuk Leo melakukan telepati, bernegosiasi dengan Mortem miliknya. Dan setelah 10 menit itu lah Leo memulai tranformasinya. Dalam sekejap Leo menyempurnakan tranformasinya menjadi seeokor serigala raksasa berbulu kecoklatan.

Namun ekspresi Luhan tidak terlihat begitu menyenangkan. Meski wajahnya kini telah menjadi wajah serigala, tetap saja ekspresinya masih dapat terbaca.

“Apa ada masalah?” Tanya Pak Jim.

Leo menggelengkan kepala serigalanya cepat. Meyakinkan Pak Jim bahwa tidak ada masalah yang mengganggunya.

“Baiklah. Kita lanjutkan. Kevin!”

Kevin melakukannya lebih mudah dari Mike dan Leo. Mungkin karena dia sudah mempelajari dan memperhatikan bagaimana kedua temannya bertranformasi.

Dia menyempurnakan tranformasinya dengan cepat menjadi seekor serigala raksasa berbulu putih-keemasan. Sangat indah.

Selajutnya giliran Francis. Bertranformasi menjadi seekor serigala raksasa berbulu putih seputih salju seperti Mike tidak terlalu sulit untuknya. Mortem miliknya lebih mudah diajak bernegosiasi daripada Mortem lain.

William memiliki bulu kecoklatan yang indah, hampir mirip dengan kepunyaan Leo. Mungkin warnanya sedikit lebih terang dibanding milik Leo. Namun sepertinya dia masih mengingat kejadian berberapa hari yang lalu. Terlihat dari sikap dinginnya pada Leo. Dia melewati Serigala-Leo begitu saja, memberi tatapan serigala sinis.

Disisi lain Richard dan Bernard kompak untuk melakukan tranformasi bersama-sama. Mereka berubah menjadi dua ekor serigala raksasa dengan warna bulu yang sama, yaitu coklat kemerahan. Yang membedakan adalah Serigala Richard lebih besar ketimbang Serigala Bernard. Saat cocok dengan kenyataan.

Thomas mengajak Alex untuk bertranformasi bersamaan. Tapi sepertinya Donald dan Stephan ingin bergabung. Maka mereka melakukannya berempat. Serigala Alex memiliki bulu coklat gelap seperti warna kulit aslinya. Serigala Stephan memiliki bulu yang sama dengan milik Leo. Thomas dan Donald juga memiliki bulu yang hampir sama, yaitu abu-abu tua.

Edison sendiri terlihat masih murung akibat dirinya yang belum menunjukan tanda apapun tentang kekuatannya. Membuat konsentrasinya terganggun. Bahkan dia tidak terlihat percaya diri seperti biasanya.

“Edison, kau ingin mencoba?” Kata Pak Jim menawarkan tanpa ada nada memaksa sedikitpun.

Pada awalnya Edison hanya diam saja. Namun dia mulai melangkahkan kakinya dan mencoba bertranformasi seperti yang lainnya.

Percobaan pertama gagal. Edison tidak dapat berkonsentrasi penuh karena pikirannya yang kacau.  Sulit untuk bertranformasi jika keadaannya seperti ini.

Ayo, Edi! Kau pasti bisa. Konsentrasilah! Jangan pikirkan yang lain!

Edison merasakan seseorang bicara padanya. Dia menoleh, memandang ke-11 serigala raksasa yang menatapnya penuh dukungan. Dia tahu, Serigala Leo yang telah mengirimkan telepati padanya. Memberinya semangat.

Dia kembali berkonsentrasi. Kali ini lebih keras. Mencoba menjernihkan isi pikirannya dari hal negatif tentang kekuatannya yang tak kunjung muncul. Dia harus melupakan hal itu dan berkonsentrasi lebih keras.

Dalam sekejap, Edison sudah menyempurnakan tranformasinya. Menjadi seekor serigala raksasa berbulu hitam besar dengan mata kuning menyala. Serigala Edison adalah satu-satunya yang memiliki bulu hitam diantara semuanya.

Apa itu menandakan sesuatu?

 

***

“Leo, I need to talk to you.”

Kevin sudah menangkap sikap aneh Leo sejak pelatihan pertama mereka tadi.

Leo tidak dapat mengelak ataupun mencari alasan untuk menghindar dari Kevin. Dia menghampiri Kevin yang menuntunnya ke lapangan basket sekolah.

“Is there a problem?” Tanya Kevin. Dia tidak terlalu membawa pembicaraan ini serius. Malahan dia sambil bermain olahraga kesukaannya, yaitu basket.

Dia mendrible berberapa kali dan menshoot bola ke dalam ring. Berlari kecil mengitari lapangan dan mengulanginya lagi. Tak jarang tembakannya masuk kedalam ring. Dia memang pemain basket yang mahir.

“Xander. Dia memberitahuku seseuatu,” kata Leo mulai bicara.

“Xander?” Kevin mengulangi nama itu.

“Iya. Mortem yang ada didalam tubuhku. Namanya Xander,” ujar Leo, masih berdiri ditengah lapangan sambil memandangi Kevin yang berlari kesana-kemari.

“Dia memberitahumu?” Tanya Kevin. Leo mengangguk cepat, tak mau bicara banyak.

“Lalu, apa yang ia katakan?”

Leo nampak ragu untuk mengatakan suatu hal yang ia tahu. Dia ingin menyimpannya untuk dirinya sendiri. Tapi dia juga harus mengatakannya pada yang lain, karena ini adalah hal penting.

“Tolong jangan beritahu siapapun dulu. Oke?” Kevin berhenti berlari, berdiri didepan Leo dan mengangguk setuju. Dia siap mendengarkan rahasia yang tidak boleh disebar itu.

“Something out there…” Kata Leo menggantungkan kalimatnya.

“Ada yang mengincar kita. Lebih tepatnya mengincar para Mortem. Xander bilang, dia akan membantuku jika aku membantunya juga dengan melindunginya. Dia akan memudahkanku mengusainya, terlebih jika aku dan dia dalam bahaya. Tadinya aku ingin memberitahukan hal ini pada Pak Jim. Tapi aku sendiri tidak terlalu yakin dengan apa atau siapa yang mengincar para Mortem,” jelas Leo panjang lebar.

“Kau bisa mengandalkanku.” Kevin menepuk pundak Leo sebagai tanda kepercayaan yang dapat Leo pegang.

“Jadi… Kau bisa tahu semua nama Mortem?” Tanya Kevin mulai melenceng.

Leo terkekeh pelan. “Kau tahu? Milikmu. Namanya Fleur. Dia seekor Mortem betina.”

“WHAT?? PUNYAKU BETINA??” Kevin sangat terkejut dengan ekspresi yang sangat lucu. Mata terbelalak seakan hampir keluar dari tempatnya.

“Bukan hanya punyamu. Milik Francis dan Mike juga betina. Maka dari itu saat kalian bertranformasi tadi, kalian menjadi seekor serigala yang cantik dan berbeda dari lainnya dengan bulu kalian itu,” ujar Leo yang masih menahan tawa.

Saat pelatihan tadi, memang kenyataannya bulu yang dimiliki Mike, Kevin, dan Francis berbeda dengan lainnya. Mike dan Francis memiliki bulu seputih salju. Sedangkan Kevin memiliki bulu putih-keemasan. Hal itu menandakan bahwa Mortem yang ada dalam diri mereka adalah betina. Karena yang lain memiliki bulu berwarna gelap seperti coklat dan hitam.

“Jadi, Jessica, ya?” Kini Leo yang mulai melenceng. Dengan ekpresinya yang berusaha menggoda Kevin yang sedang dimabuk kepayang oleh hal konyol yang disebut cinta.

“Kenapa memangnya? Tidak boleh? Kau tidak suka?” Kevin hampir tersenyum menahan malu karena teringat akan sosok Jessica, pujaaan hatinya. Tapi dia langsung melanjutkan bermain basket demi menyembunyikan wajahnya itu.

“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak menyangka seorang Kevin bisa jatuh cinta juga pada seorang gadis,” ledek Leo.

Kesal diledek, Kris melempar keras bola basket yang ada ditangannya ke arah Leo. Beruntung Leo bisa menangkapnya. Kalau tidak, perutnya mungkin akan merasakan sakit akibat benda bulat itu menghantam perutnya.

“Kau sendiri? Apa jangan-jangan kau menyukai Amy, gadis pirang itu?” Kini giliran Kevin yang mulai memancing Leo.

“Ah, tidak. Kurasa dia hanya teman,” kata Leo membohongi Kevin dan dirinya sendirinya.

“Kirasa juga begitu. Tapi aku hanya ingin mengingatkan. Soal Amy. Amy adalah orang penyendiri. Yang ku tahu dia tidak terlalu disukai oleh banyak orang karena sifat yang sedikit aneh. Tapi Will, dia salah satu mungkin hampir satu-satunya orang yang mau berteman dengan Amy. Mereka berdua jadi bersahabat sejak Will baru masuk XOXO. Perasaanku mengatakan, Will menaruh perasaan lebih pada Amy. Jika kau inginkan Amy, kau harus mengahadapi Will. Tapi aku tidak ingin kalian berkelahi karena masalah wanita.” Kevin nampak serius soal ini. Dia penasihat yang baik sebagai sosok yang akan menjadi pemimpin kelak. Dia tidak ingin salah satu dari mereka berduabelas yang bertengkar karena memperebutkan seorang gadis.

“Jadi, bagaimana sosok makhluk yang mengincar kita?”

 

****

Mentari bersinar indah, memantulkan cahaya keemasan melalui jendela kaca yang terbuka. Burung-burung bernyanyi menyanyikan senandung pagi yang menggelitik indera pendengaran. Menyambut pagi natal yang membahagiakan.

Meski begitu, ke-12 Wolf Boys masih tertidur nyenyak bahkan ada yang sampai mendengkur. Entah mereka tidur jam berapa tadi malam sampai-sampai belum bangun jam segini.

Stephan membuka matanya perlahan namun tidak berniat untuk bangun, hanya ingin merubah posisi tidurnya. Pikirannya masih melayang di alam mimpi yang entah dimana. Bahkan dia masih sempat mengigau.

“Ini natal,” Stephan mengigau, membalikan posisi tidurnya ke posisi menghadap sisi kiri menghadap punggung Leo yang juga masih tertidur pulas.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Stephan melonjak duduk begitu saja. Jika diibaratkan, nyawanya langsung terkumpul begitu saja saat dia menyadari sesuatu. Sesuatu yang terjadi dihari ini.

“Ini natal!” Serunya. Dia beranjak dari ranjang dan beralih ke ranjang Leo. Menepuk bokong tubuh yang berbaring tidur disana.

“Leo, bangun! Ini natal!”

“Aww.. Are you crazy? Ini jam berapa, huh?” Hardik Leo kesal karena mimpinya yang indah sudah terganggu oleh tepukan maut Stephan pada bokongnya.

“Ini jam sudah 8, bodoh!”

Stephan berlari keluar kamarnya dan mulai mengetuk setiap pintu kamar yang didalam ada 10 Wolf Boys lain yang masih tertidur.

“BANGUN!! INI PAGI NATAL!!”

Stephan terus berteriak sambil menggedur-gedur pintu, membangunkan orang-orang yang tidur didalamnya. Bahkan dia memberikan perlakuan khusus pada pintu kamar milik Richard dan Bernard.

DUGGG..

Stephan menendang keras pintu itu, membuat siapapun yang ada didalamnya terbangun kaget karenanya.

“BANGUN, DASAR TUKANG TIDUR!!”

Takut Richard dan Bernard akan mengamuk, Stephan berlari menjauhi pintu itu.

“DASAR KAU BOCAH!!” Terdengar teriakan marah Richard dari dalam kamar itu. Stephan hanya tertawa sambil berlari menuju common room yang ada di dorm laki-laki, tempat biasanya murid-murid berkumpul selain di kamar.

Pohon natal berdiri tinggi menjulang hingga puncaknya menyentuh langit-langit. Setiap hiasan terlihat sangat indah dengan didominasi warna merah. Kado-kado sudah bertumpuk dikaki pohon dengan jumlah yang cukup banyak.

Ke-12 Wolf Boys berdecak kagum memandangi pemandangan pohon natal itu. Sebagian besar dari mereka mungkin baru pertama kali merasakan rasanya merayakan natal di sekolah.

Orang pertama yang menhampiri deretan atau tumpukan kado yang cukup banyak itu tentu saja Stephan yang dari tadi sudah sangat bersemangat.

Kado-kado itu memiliki ukuran yang beragam dan dibungkus dengan kertas berbagai macam warna. Ada yang kuning, merah, biru, hijau, dan ungu. Mungkin mereka tidak akan menyangka akan mendapatkan kado natal disaat seperti ini.

“Kado-kado ini sudah dikelompokan berdasarkan penerimanya,” gumam Stephan memandangi kado-kado itu dan mencari kelompok kado untuknya.

Dia menemukannya. Ada sekitar 5 kado dengan berbagai macam ukuran untuknya.

“Aku mendapat kado dari Pak Jim! Ada dari Margaret, Lily, Penny, dan… Ah, Leo!” Serunya. Leo tersentum saat Stephan menerima kado natal darinya.

“Aku juga mendapat kado dari Pak Jim,” ujar Alex saat melihat deretan kado untuknya.

Sebenarnya mereka semua mendapat kado dari Pak Jim. Sebuah benda gaib yang berbeda setiap orangnya. Benda yang bisa menunjang kekuatan mereka.

Mike mendapatkan sebuah kalung berliontinkan kristal es. Benda itu bisa membantunya membekukan apa saja jika kekuatannya tidak cukup kuat.

Leo membuka kotak berukuran tidak terlalu besar dari Pak Jim. Dia mendapatkan sebuah buku tentang Telekinesis untuk dipelajarinya. Sehingga kekuatannya dapat digunakan secara maksimal.

Kevin, dia mendapatkan sebuah gelang yang terbuat dari perak dengan ukiran simbol naga sebagai kekuatan ekstra.

Pak Jim memberikan Francis air ajaib yang dimasukan ke dalam sebuah botol dengan bentuk unik dengan ukiran lambang tetesan air di atasnya. Meski air itu terlihat sedikit, namun dengan kekuatan Francis, air itu cukup untuk memenuhi sebuah danau.

Will diberikan sebuah botol aneh dengan tutup bebentuk kepala unicorn berisikan cairan perak yang bukan lain adalah ramuan ajaib yang bisa menyembuhkan segala penyakit dan luka dengan mudah.

Richard mendapatkan bola api yang ada didalam botol.

Bernard mendapat batu kristal bening yang dapat menantul kekuatan cahayanya.

Donald mendapat sebuah alat untuk mengendalikan cuaca. Agar mudah untuknya mengeluarkan petir yang besar.

Alex mendapatkan benda yang special. Bubuk ajaib pendamping kekuatan teleportasinya.

Stephan hampir kegirangan. Dia mendapat alat pembuat angin sendiri. Alat yang mirip seperti jam saku dengan kincir kecil didalamnya.

Sedangkan Edison. Dia mendapat sesuatu yang special bahkan dari milik Alex. Bisa dilihat dari kotak pembukusnya yang panjang dan ramping. Sebuah pedang buatan khusus dengan ukiran diseluruh bagian pegangannya.

“Waah… Pedang itu keren sekali,” kata Richard mengagumi pendang itu.

Pedang itu terlihat luar biasa dan indah. Wajar jika semua orang yanga ada di ruangan itu mengaguminya, termasuk Edison sendiri.

Ada sebuah pesan yang terselip didalam kotak pembungkusnya.

 

Aku mungkin belum tahu kekuatanmu. Tapi kau bisa berlatih menggunakan pedang ini. Pedang ini bisa menjadi kekuatanmu.

Kepala Sekolah

Melihat teman-temannya senang dengan kado mereka, kini giliran Leo yang menengok kado-kadonya dari ayah dan ibunya.

Tunggu. Ternyata bukan hanya dari orangtuanya. Ada sebuah kado dari… Amy.

Mengingat kata-kata Kevin kemarin, Leo berusaha menutupi kado itu dari pandangan yang lainnya terutama Will. Menaruhnya dibalik kado-kadonya yang lain. Dia tidak ingin cari masalah.

Tapi sialnya Richard melihat kado yang mencurigakan untuknya.

“Hey~ Kau dapat kado dari siapa itu, Leo? Sampai disembunyikan seperti itu.”

“Ah,” kata Leo, berpikir mencari jawaban. “Temanku dari London. Dia selalu memberikan kado padaku setiap tahun. Bahkan sampai sekarang.”

“Dari pacarmu, ya?” Celetuk Bernard iseng.

Semua diam, menatap Leo terkejut dan Will menatap curiga. Terkejut jika Leo benar-benar punya pacar.

“Err… Iya. Dari pacarku,” kata Leo asal, menghindari kecurigaan Will yang sudah menatapnya tajam.

“Tak ku sangka Leo punya pacar,” terdengar Francis bicara. Dia memang jarang bicara. Dan sekali dia bicara, dia langsung meledek seperti itu.

Leo hanya bisa senyum berbohong. Daripada dia mendapat masalah dengan Will, lebih baik dia berbohong.

 

****

Lagi-lagi Leo memilih untuk sendirian. Untuk menghabiskan waktu luangnya. Duduk diatas sebuah dahan pohon besar dengan ketinggian yang aman dari tanah. Membaca sebuah buku tentang legenda lama yang menceritakan tentang gadis cantik yang jatuh cinta pada seekor monster mengerikan, Beauty and the Beast.

Seharusnya cerita seperti itu hanya dibaca oleh anak-anak atau anak perempuan. Tapi entah apa yang ada dalam pikiran Leo sehingga tertarik membaca buku dongeng itu.

Bagian yang membuatnya tertarik adalah dimana si gadis cantik dapat mematahkan kutukan sang monster dengan ketulusan cintanya. Sang monster yang ternyata seorang pangeran, kembali ke wujud aslinya setelah kutukannya musnah.

Lucu sekali saat kutukan mengerikan dapat musnah begitu saja karena kekuatan cinta sejati. Jaman sekarang, hal itu sudah tidak berlaku jika tidak ada yang namanya pengorbanan.

Sebenarnya, bisa aja dia membaca buku pemberian Pak Jim mengenai Telekinesis itu. Tapi kenyataannya dia memilih membaca buku dongeng.

“Beauty and the Beast, ya?”

Leo menengok ke bawahnya saat mendengar seseorang bicara padanya. Amy berdiri dibawah pohon, mendongakkan kepalanya ke arah dahan dimana Leo bertengger.

“Apa kau sudah menerima kado dariku?” Tanyanya.

Sebelum Leo menjawab pertanyaan barusan, ada baiknya dia turun dari dahan tempatnya berpijak sekarang. Turun dengan sekali lompatan yang menimbulkan dentuman pelan diatas tanah tumpukan salju yang masih menutupi tanah.

“Ya. Aku sudah menerimanya. Terima kasih,” ucapnya.

Amy tersenyum. “Jadi kau suka dongeng, ya?”

“Eh? Ah, tidak. Aku hanya iseng,” kata Leo antara setengah jujur dan setengah berbohong.

“Apa kau sudah berbaikan dengan Will? Aku merasa tidak enak hati jika kalian masih bertengkar.”

“Kami sudah berbaikan. Kami tidak biasa bertengkar lama,” kata Amy yang kembali menunjukkan senyumnya.

“Jadi, bagaimana natalmu?” Tanya Leo.

“Natalku tahun ini menyenangkan.”

Seseorang datang, menimbrung dua remaja itu secara tidak sopan. Seorang perempuan jangkung berkulit pucat, berdiri diatas salju tanpa sedikitpun alas kaki. Gaun mini hitam yang dikenakannya terlihat saat kontras dengan putihnya salju. Rambutnya hitam tergerai begitu saja melewati bahunya. Dan matanya yang berwarna keemasan sangat mencolok memantulkan sinar matahari yang kuning keemasan.

“Manis sekali melihat sepasang kekasih di tengah hutan seperti ini,” ujar perempuan itu.

Pikiran perempuan ini sulit terbaca, bahkan tidak bisa dibaca oleh Leo. Perempuan ini bukanlah manusia. Apapun itu, pasti perempuan itu sangat berbahaya.

“Who are you? What do you want?” Tanya Leo tegas.

“Me? My name is Sulli. And I’m here for you, Leonardo.”

 

To be continue

****

Gimana readers? Puas? Maaf kalau kurang menyenangkan chapter ini.

Karena berhubung kita baru merayakan Idul Fitri, Jinnie mengucapkan Minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan batin🙂 Maaf kalau ada typo yaa ._.

Jangan lupa kritik, komen dan saran readers^^ Ditunggu Chapter 5 nya😀

10 thoughts on “Beauty & Beast [Chapter 4]

  1. Wowowow… Makin penasaran..😄
    Sulli jadi vampire? Wuooh.. Kerasa ntn twilight.. *0*
    Keren thoor.. Ditunggu lanjutannya..😀

  2. kyaaa… ff ini yg paling aku tunggu, akhirnya publish jg ^^ suka bgt sama chap ini😀 dan aku jg suka momen kevin-jessica yg lg kencan tp diganggu sm leo, gx tau kenapa senyum2 gtu pas bacanya😀
    chap berikutnya jgn lama2 ya, aku tunggu ^^~

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s