[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 8)

you-cant-disappear-from-me-final

Title : You Can’t Disappear From Me

Author : Hyuuga Ace (@dioxing_0307)

Length : Multichapter

Genre : Romance, Drama, School Life, Hurt

Rate : G

Web : cynicalace.wordpress.com

Main Cast :

Oh Yu Bin (OC)

Kim Jong In / Kai

Park Chan Yeol

Lee Sae Ra (OC)

Other Cast : Kwon Yura (OC), Xi Luhan, Do Kyungsoo /D.O, Oh Se Hun, Zhang Yixing / Lay, Park Ye Rin (OC), Shin Hee Ra (OC), Han Jae Ha (OC)

Author’s note :

Akhirnya sampe juga di chapter 8. Kekeke~ makasih bwt readers yg msh mw baca ff ini.. Smga chapter ini ga ngecewain yaa.. Ohh ya, cman mw ngsh tau kalo FF ini bakalan END di chapter 9. Hehehe

Skli lg gomawo bwt admin exomk yg mw ngepublish ff ini.

HAPPY READING ALL ^ ^

________

 

Kai’s PoV

Perasaan ini..

Perasaan yang lebih menyiksa daripada tidak bisa merengkuhnya dalam pelukanmu

Perasaan yang lebih menyakitkan daripada tidak melihat dan berbicara dengannya hampir lebih dari sebulan

Perasaan yang lebih menakutkan daripada melihat masa depanmu tanpanya

 

Perasaan, ketika melihatnya tidak sanggup membuka kelopak matanya. Ketika melihatnya terdiam dalam keheningan panjang. Membuatnya merasakan kesakitan, dan itu semua karena dia rela mengorbankan tubuh mungilnya untuk  menyelamatkan nyawamu yang tidak berguna.

 

Nyawa seseorang yang selalu saja menyakitinya. Nyawa seseorang yang selalu membawa air mata hadir dalam hidupnya.

 

Yubin, andai saja kau tidak membalikkan tubuhmu, andai saja kau bersikap lebih egois, andai saja kau tidak mencintaiku.

 

Mungkin aku yang berada di tempat itu, bukan dirimu. Dan itu jauh lebih baik.

_______

 

Author’s PoV

“Bagaimana keadaannya?!” 2 orang yeoja dan seorang namja berjalan tergesa- gesa mendekati gerombolan itu, mereka bahkan lupa untuk mengganti seragam kerja mereka.

“Dia masih di dalam, di ruang oprasi.” Luhan, sebenarnya dia tidak mengenal ketiga orang itu -mungkin teman kerja Yubin?- menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu di antara mereka. Mengingat tidak memungkinkan orang lain menjawab hal tersebut. Kai? Dia terlalu frustasi dan kacau sehingga membuatnya berdiri di pojokan dengan air muka kosong dan menyedihkan. Chanyeol? Dia tidak jauh berbeda dengan Kai hanya saja Chanyeol masih bisa menopang tubuhnya berdiri, tidak seperti Kai yang sudah ambruk terduduk di lantai. Yura? Dia menangis sejadi-jadinya, sementara Kris -sepupu Chanyeol itu- menenangkan dirinya disampingnya. Sementara orang tua Yubin masih di dalam perjalanan ke tempat ini -Sehun yang menjemputnya.

Tidak lama setelah kehadiran orang tua Yubin dan Sehun yang menjemputnya, mereka semua di tempat itu bisa langsung dapat membaca bahwa kedua orang tua Yubin sangat terpukul, apalagi melihat Yubin eomma yang harus ditopang nampyeonnya untuk hanya sekedar berdiri.

Setelah hampir 3 jam, semua mata di tempat itu dikagetkan dengan padamnya lampu ruang oprasi.

Oprasi telah selesai.

Kemudian, orang- orang berbaju serba hijau itu keluar dari pintu dan menjelaskan bagaimana kondisi Yubin saat ini.

“Kita harus bersyukur karena pasien telah melewati masa kritisnya, terlebih bersyukur karena tulang rusuk yang patah akibat kecelakaan ini tidak melukai organ dalamnya. Ini seperti keajaiban, karena jika saja serpihan tulangnya mengenai jantung atau paru- paru. Sulit untuk menyelamatkannya.” Jelas dokter berkaca mata itu panjang lebar.

“Kapan kiranya Yubin akan sadar?” Yubin appa maju selangkah dan menanyakan hal tersebut kepada dokter yang hanya dibalas dengan gelengan kepala.

“Kami tidak tahu pasti kapan ia akan sadar, karena walau telah melewati masa kritis. Denyut nadinya masih sangat lemah.”

_______

Kai’s PoV

Aku tidak bisa mendengar hal tersebut lebih jauh, ketika dokter mengatakan bahwa Yubin -walau telah melewati masa kritis, keadaannya masih sangat lemah. Setiap kata yang keluar dari mulut dokter itu dan setiap kenyataan yang terjadi makin menyiksaku.

Aku tidak tahu kakiku membawaku kemana, sampai retina ku menangkap sekelompok anak kecil yang bermain di sebuah taman kecil. Taman kecil yang mungkin dirancang untuk menghibur anak- anak yang sedang sakit. Hal tersebut yang pertama terbesit di otakku.

Kakiku terasa lemas dan aku perlu duduk dan kursi panjang yang berada tidak jauh dari kumpulan anak yang bermain itu dapat membantu.

Kupejamkan mataku, mencoba merasakan sedikit kehidupan disini.

“Dia pasti akan baik- baik saja.” Suara bass membuyarkan keheningan.

Kubuka kelopak mataku perlahan dan menoleh ke arah suara tersebut. Seperti dugaanku, itu Chanyeol, sejak kapan dia duduk di sebelahku?

“Yubin.” Chanyeol, dia tersenyum ketika menyebut nama itu.

“Dia jauh lebih kuat dibanding siapapun, saat kami masih sebesar mereka..” Tunjuknya ke arah segerombolan anak- anak di depan kami.

Aku tidak mengetahui arah pembicaraannya, namun bola mataku tetap mengikuti arah yang ia tunjuk.

“Dia pernah terjatuh dari atas panggung saat sekolah kami mengadakan pentas seni.” Aku masih terdiam, mengumpulkan konsentrasiku untuk mendengarkan cerita namja yang seharusnya menjadi rivalku ini.

“Dia menangis…” Chanyeol mendengus seolah- olah menangis adalah hal yang wajar mengenai Yubin. “Namun dia tidak mengeluh sakit, dia menangis sambil tertawa. Memang bodoh sekali kedengarannya. Dan kau tahu apa yang dia ucapkan saat itu? ‘Mian, aku menganggu pertunjukan.'”

Aku menatapnya tidak mengerti, apakah Yubin itu memang sudah aneh semenjak kecil? Yeoja kecil seumuran itu seharusnya menangis sejadi- jadinya dan merengek kesakitan, bukan malah meminta maaf. Lagipula walau itu mungkin salahnya sendiri, bukankah dia yang menjadi korban? Memikirkannya saja sudah membuatku khawatir.

“Dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, memikirkan bahwa kaki mungil yeoja berusia 8 tahun perlu diperban selama berminggu- minggu. Memikirkan rasa sakitnya.”

Dadaku terasa makin berat. Dia sudah mengalami masa yang sulit semenjak kecil. Dan aku tidak pernah mengetahui hal itu. Aku tersenyum miris. Chanyeol, dia mengetahui segala sesuatu tentang Yubin.

“Dia selalu memikirkan orang lain..” Ujarku pada akhirnya sambil tersenyum kecut.

“Kau benar, dan hal yang dilakukannya saat ini juga adalah hal yang benar menurut sudut pandangnya. Dia menyelamatkan orang yang sangat ia cintai.”

“Dia bodoh…” Kelopak mataku menekan bola mataku kuat- kuat, aku tidak bisa menangis. Terutama menangis di depan Park Chanyeol.

“Dia bodoh, namun dia tulus.” Aku memandangnya, memandang dirinya yang sedang menatap jauh ke atas langit. Seakan mencoba membayangkan sesuatu.

“Kau sangat beruntung, Kai. Yeoja itu sangat mencintaimu.”

“Bukankah kau juga mencintainya? Mengapa kau malah berkata hal seperti ini padaku? Bukankah seharusnya kau marah? Marah karena yeoja yang kau cintai menyelamatkan nyawaku dan mengorbankan dirinya?”

Dia hanya tertawa kecil. Membuatku makin tidak mengerti.

“Aku mengenalnya jauh lebih baik darimu, Kai.”

“Aku tahu itu, kau tidak perlu menjelaskannya.” Aku memutar bola mataku bosan. Sementara dia hanya mendengus.

“Kau tidak perlu cemburu padaku hanya karena hal itu. Ckkk.”

Aku tidak merasa seperti itu bodoh.

Sungutku dalam hati, namun tidak sama sekali berniat untuk mengucapkannya.

Chanyeol membuang napas keras- keras dan kembali melanjutkan ucapannya yang sempat terintrupsi. “Walaupun sekarang dia harus menahan sakit, namun aku tahu dia bahagia. Bahagia karena bisa menyelamatkanmu.”

Aku mendengus, ini tidak benar.

“Aku hanya ingin hidup melihatnya bahagia. Apakah kau membayangkannya? Jika posisinya ditukar. Yeoja itu melihatmu tertabrak dan dia tidak melakukan apa- apa. Bahkan membayangkannya pun aku tidak ingin, membayangkan hidupnya akan sefrustasi apa.”

Aku menarik nafas panjang, merasakan dinginnya angin musim semi berhembus. Merasakan bahwa bernafas pun menjadi jauh lebih menyakitkan. Aku tidak sepenuhnya setuju akan apapun pendapat namja ini.

“Walaupun aku juga merasakan derita melihatnya terbaring lemah seperti itu, namun itu masih jauh lebih baik daripada melihatnya hidup namun seperti orang mati.”

Aku mengerinyitkan keningku, apa maksudnya?

“Apa maksudmu?”

Bukan menjawab pertanyaanku, namja ini hanya tersenyum miring. Seolah meremehkanku.

“Jika kau benar- benar mencintainya, seharusnya kau dapat mempercayainya. Percaya bahwa ia kuat dan akan melewati hal ini. Dan suatu saat dia dapat tersenyum lagi kepadamu.” Namja ini berdiri dan berjalan santai meninggalkanku, aku melihat punggungnya yang makin menjauhiku.

 

Dan sampai akhir pun dia tidak menjawab pertanyaanku.

_______

 

Author’s PoV

Hari demi hari berlalu, dan hal itu masih saja bersarang dalam benaknya. Seakan tidak ada hal yang dapat mengusirnya pergi.

Lee Saera, yang saat itu berada tidak jauh dari Kai, dia melihatnya. Melihat saat mobil itu berjalan cepat dan hampir menabrak Kai. Melihat Yubin berbalik dan melempar tubuhnya sendiri dan mendorong Kai.

Melihat… bahwa dia juga ingin menolong Kai, namun kakinya seakan lumpuh dan tak bisa bergerak sedikitpun. Seakan ada rantai yang mengunci kakinya di tempatnya berpijak.

Dan kenyataan yang paling ia takuti.

Melihat bahwa, ia takut.

Ya, Saera takut. Dia berada jauh lebih dekat dengan Kai dibanding Yubin, namun dia tidak bisa melakukan apa- apa. Seakan rasa cintanya pada Kai itu terkalahkan rasa takutnya.

“Kau mencintainya? Kai?”

 

“Ya! Aku sangat mencintainya. Kau tahu? Aku menyukai Kai sudah jauh lebih lama dibandingkan yeoja itu. Aku mencintainya lebih tulus dibandingkan siapapun.”

 

“Jika kau benar- benar mencintainya, apa yang akan kau pilih? Kai terluka, atau dirimu sendiri yang terluka?”

 

“Pikirkanlah.”

 

Dan mengapa? Mengapa perkataan namja bernama Luhan itu selalu terngiang di benaknya.

Seolah- olah setiap perkataannya itu menghakiminya.

Kai terluka atau dirimu sendiri yang terluka?

Ya, Saera mengetahuinya. Jawaban dari pertanyaan itu, dia terlalu takut untuk terluka, dia takut mati. Dan karena ketakutannya itu ia memilih Kai yang akan terluka.

Berbeda dengan Yubin.

Hal ini begitu menyakitinya, seakan kenyataan ini benar- benar menusuknya. Dia berusaha mengabaikan kenyataan itu. Namun seperti udara. Hal itu akan kembali teringat dalam benaknya setiap kali dia mencari udara untuk bernapas. Dia selalu teringat hal itu setiap kali dia bernafas.

Saera menyerah, dia tidak bisa terus seperti ini. Dan pada akhirnya dia pun menyadarinya.

 

Lee Saera, selama ini cintamu ini adalah cinta yang egois.

Dan yeoja ini menangis karena kenyataan itu.

“Apakah kau masih hidup?” Seseorang mengetuk pintu apartemennya seraya mempertanyakan hal itu. Hal konyol.

Seseorang menerobos keheningan panjang yang tercipta beberapa hari ini di apartemennya. Dan dia merasa terganggu mendengar suara orang lain.”Nugu?!”

“Whoa calm down, ini aku. Luhan.” Saera mendengus malas, orang yang paling tidak ingin ia temui dan ia dengar suaranya sekarang malah datang ke apartemennya.

“Pergi.”

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Aku tidak.”

Luhan hanya mendengus ketika mendengar dinginnya ucapan yeoja yang entah sedang apa di balik pintu ini.

“Ya sudahlah, aku tidak memaksa.”

Namja ini baru saja hendak melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu ketika suara seseorang memanggilnya dari dalam.

“Ya, apakah kau berpikir bahwa aku ini peran antagonis dalam kisah Kai dan Yubin?”

Luhan menahan langkahnya, tertawa kecil mendengar siapa yang barusan bertanya. Dia tahu dengan pasti, siapa orangnya. “Ne?”

“Sudah jawab saja.” Luhan memutuskan untuk membalikan tubuhnya kemudian memposisikan dirinya duduk bersandar pada pintu apartemen yeoja ini.

Begitupun dengan Saera, karena ingin mendengar jelas perkataan Luhan ia pun hampir melakukan hal yang sama dengan Luhan -menyender di sisi lain pintu, karena ia ingin berbicara tanpa harus berteriak.

Suara Luhan terdengar di udara, sedikit membuat Saera bersyukur karena Luhan tidak meninggalkannya. Namun sedetik kemudian ia menggeleng tidak setuju, bukankah ia yang mengusirnya tadi? “Tidak selamanya tokoh antagonis itu akan bertahan dengan julukan itu. Dia bisa mengubahnya ketika dia memutuskan sesuatu yang lain.”

“Sesuatu yang lain?”

“Hmmm…”

Hening cukup panjang, sampai hembusan nafas panjang terdengar. Itu Saera.

“Luhan, kau tahu? Saat aku kecil aku sangat menyukai dongeng, aku juga bercita- cita saat aku besar nanti aku ingin menjadi putri dan pangeran tampan yang mencintaiku akan menjemputku. Namun jika dipikir- pikir, rasanya aku lebih terlihat sebagai nenek sihir sekarang.. Hahaha.”

Saera, yeoja itu mulai menggigiti bibir bawahnya. Menahan tangisannya. Dia butuh teman bicara sekarang, dia tidak ingin berdiam dan merenung sendiri di dalam apartemennya. Dan entah karena tujuan apa, Luhan.. dia datang. Walaupun awalnya dia mengutuk kehadirannya, namun entah mengapa sekarang dia merasa lebih baik, karena Luhan.. datang.

“Apa kau sedang merasa sedih, Saera-ssi?”

“Tentu saja aku sedang sedih.” Gerutunya sambil memberengut karena pertanyaan Luhan yang ia anggap retoris.

“Apa kau ingin menceritakannya padaku? Walaupun aku tidak terlalu menyukaimu dan mengenalmu dengan baik. Telingaku bersedia mendengarkan.”

Ini bukan tugasnya, namun entah mengapa Luhan ingin sedikit mengetahui tentang gadis ini.

“Luhan-ssi, apakah menurutmu aku ini egois?”

“Ya.” Jawab Luhan cepat, terlalu cepat malah.

“MWO?!” Saera membelalakan matanya. Luhan, manusia ini menyebalkan sekali.

“Aku hanya berkata jujur.”

“Yah dan itu memang benar, kecelakaan yang menimpa Yubin menyadarkanku satu hal. Bahwa selama ini cintaku pada Kai adalah cinta yang egois. Tapi, walaupun egois. Itu tetap dinamakan cinta, kan?”

“Apakah kau akan melanjutkannya?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak ingin menyerahkan Kai pada orang lain, karena hampir sepanjang hidupku sampai detik ini, ia selalu menjadi milikku.”

“Namun hatinya bukan milikmu.”

“YA!! Tidak usah kau perjelas!” Pekik yeoja bermarga Lee itu frustasi. Dia ingin menangis karena kenyataan itu, namun setiap kali Luhan menimpali ucapannya. Yang ia rasakan kemudian adalah perasaan sebal.

“Arraseo, lanjutkan.”

“Aku ingin memilikinya, namun aku juga lelah melihatnya yang tidak pernah melihatku.”

“Kau baru menyadarinya yah?” Saera berdecak sebal, jadi ini Luhan yang sebenarnya.

“Kau hanya perlu melepaskannya Lee Saera.” Kemudian Luhan kembali bersuara, di dalam suaranya ada sesuatu yang lain. Jauh lebih serius dan tegas.

“Walau Kai tengah berusaha keras melawan perjodohan ini lewat ayahnya. Namun bagaimanapun kau yang pada akhirnya harus memutuskan melepaskannya atau tidak.”

“Apa maksudmu? Apa yang sedang dilakukan Kai?” Tanya Saera penuh dengan kerutan kebingungan tercipta di wajah cantiknya. Apa ada sesuatu yang tidak dia ketahui? Dia harus mengetahui apapun itu, sekarang.

Kemudian Luhan menceritakan segala yang ia tahu, mengingat kemarin hasil test masuk Harvard telah Kai terima, dan ialah yang pertama kali melihatnya. Tentu saja Luhan dan sahabat- sahabat Kai lainnya telah menanyakan segalanya, tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Tentang hasilnya? Tentu saja Kai berhasil. Orang ber IQ tinggi sepertinya memang layak masuk Harvard. Dan hal itu tidak perlu diragukan.

Namun, Kai sama sekali tidak berniat ketika membaca surat itu. Ia hanya tersenyum pahit dan mulai berjalan keluar kamarnya kembali ke ‘rumahnya’ beberapa hari belakangan ini. Rumah sakit. Dia bahkan tidak menagih apapun pada ayahnya, seolah melupakan perjanjian tersebut.

Luhan menceritakan semua yang sebenarnya terjadi, yang membuat air mata Saera benar- benar tumpah.

 

Kai sebegitu tidak inginnya kah kau bersama diriku?

Saera menjeritkan kata- kata itu dalam hatinya, rasanya di dalam sana sudah benar- benar remuk.

Luhan di sisi lain, telah selesai menceritakan segalanya. Namun, ia tak mendengar lagi suara Saera yang menanggapinya. Ia hanya mendengar isak tangis seorang Lee Saera.

“Saera-ssi. Apapun yang kau pikirkan sekarang, dan apapun yang kau akan lakukan selanjutnya, percayalah padaku. Suatu saat pangeran tampan yang benar- benar mencintaimu seperti yang kau ucapkan tadi, akan hadir dalam hidupmu. Kau hanya perlu menunggunya.” Luhan bangkit dari posisinya. Hendak beranjak pergi. Sebenarnya ia ingin masuk ke dalam dan melihat keadaan yeoja itu.

Walaupun dia tidak menyukainya tapi tetap saja mendengar seorang yeoja menangis benar- benar membuatnya tidak nyaman. Namun Saera pasti tidak mengijinkan hal itu. Jadi dia memilih untuk pergi saja.

“Aku pergi, apa yang ingin kuucapkan telah kusampaikan. Annyeong.”

Lama setelah kepergian Luhan dan setelah air matanya mengering, Saera membuka pintu yang terkunci di belakangnya dan melangkahkan kakinya keluar.

Retinanya menangkap sesuatu disana, di depan pintu yang telah berhasil ia buka.

Coklat dan secarik kertas yang bertuliskan,

 

Kali ini aku membawa coklat yang masih utuh.  Semoga kau tidak diet dan mau memakannya, tapi jika kau tidak ingin, jangan kau buang! Kembalikan saja coklat ini padaku kapanpun kau ingin masuk sekolah.

 

NB : Jangan merasa kesepian, jika kau membutuhkan telinga untuk mendengarkan kisahmu. Mungkin aku bisa membantu?

 

Tanpa sadar Saera tersenyum, membaca memo ini membuatnya tersadar bahwa Luhan sangat menyukai coklat.

Dan ada hal lain yang jauh lebih penting yang ia sadari kini. Ia lelah menjadi tokoh antagonis.

Mungkin kini saatnya ia merelakannya, merelakan Kai yang tidak akan pernah melihatnya.

 

Mungkin setelah ia melepaskan Kai hidupnya akan jauh lebih mudah?

 

Siapa yang tahu.

_______

Saera melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi, ruang rawat teman sebangkunya. Oh Yubin.

Ruangan ini terasa hening karena hanya ada eomma nya yang menemaninya.

Yubin eomma mempersilahkan Saera masuk dan meninggalkannya berdua saja dengan Yubin.

“Oi, chingu!” Sapa Saera ketika hanya mereka berdua di dalam ruangan itu.

“Kau harus banyak berterima kasih padaku, aku telah melepaskannya. Kai, dia boleh menjadi milikmu sekarang. Kau harus cepat sadar, eoh?”

Saera tersenyum kecil. Tentu saja ini hanya pembicaraan monolog. Tapi ia tahu Yubin dapat mendengarnya.

“Jangan membuat Kai hidup dalam perasaan bersalah. Jadi cepatlah sadar dan sembuh.”

Saera menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Ia tahu ini benar, tapi rasanya tetap berat dan menyebalkan.

“Oh ya, saat kita bertemu di lain waktu, kau hanya perlu berlari. Kau tahu, ada banyak sekali perasaan yang kurasakan ketika melihatmu. Perasaan marah, kecewa, sedih, namun di atas hal- hal tadi aku merasa sangat malu dan bersalah padamu. Jadi jangan mempersulitku.”

“Mian jika aku terlambat menjengukmu.”

Saera hendak melangkahkan kakinya keluar saat tiba- tiba ia mendengar seseorang terbatuk di belakangnya.

Dia segera menoleh ke belakang dan melihat Yubin menatapnya tidak percaya, menatapnya penuh keraguan.

YUBIN, SADAR?!

“Saera-ya…..” Lirihnya lemah.

_____

Kai’s PoV

“Kai, penerbanganmu pukul 03.00 PM, lusa. Jangan terlambat.”

“Aku tidak berniat akan berangkat kemana pun, abeoji.” Ujarku dengan nada datar. Tidak ada yang benar- benar aku inginkan sekarang. Bahkan di mataku sekarang, usahaku selama ini hanyalah sia- sia.

Aku hanya ingin melihat Yubin sadar dan sembuh. Aku sudah tidak peduli lagi tentang Harvard, abeoji, atau perjodohanku dengan Saera. Semua itu terasa buram di kepalaku.

“Sebenarnya, apa maumu, Kai?!” Bentaknya padaku.

Aku terdiam. Jika saja kau bisa membaca pikiranku kau akan mengetahuinya, abeoji. Tunggu jika saja abeoji adalah seorang mind reader dan merasa kasihan padaku walau hanya sedikit, tentu saja semua ini tidak akan terjadi. Karena aku akan bersama Yubin, dan bahagia bersamanya. Tapi sayangnya dia bukanlah seorang mind reader, melainkan hanya seorang Kim Il Hyun. Ayahku.

“Baiklah…” Abeoji kembali menarik kembali dirinya, dan duduk di kursinya. “Appa anggap kau menolak Harvard. Kau tahu konsekuensinya? Dalam waktu seminggu kau harus masuk perusahaan, dan pernikahanmu akan segera dilangsungkan sesaat setelah kau masuk perusahaan.”

“Shirreo.” Kutolehkan kepalaku cepat, dan retina ku menangkapnya. Seorang yeoja berjalan cepat ke arah kami. Saera. Sedari tadi ia disini? Dia menguping?

“Mianhamnida ahjussi, tapi aku tidak ingin menikah dengannya.”

“Saera-ya…” Aku terkejut mendengar penuturannya. Dengan nada bicara seperti itu, kurasakan hal ini bukan main- main. Atau ia sedang merencanakan sesuatu yang lain.

“Ahjussi, aku juga menolak perjodohan ini. Jika kedua pihak menolak, otomatis perjodohan ini batal kan?”

“Saera-ya, tapi abeojimu? Kalian tidak bisa seenaknya seperti ini.” Dapat kutangkan abeoji mulai gusar dan wajahnya sudah merah padam. Dan kutahu, ia sedang menahan amarahnya.

“Ahjussi, sepertinya selama ini kita semua salah paham. Appa menginginkan calon suami yang jelas dan pantas untukku. Tapi dia tidak menyebutkan bahwa itu harus Kai, kan? Aku Lee Saera, ingin meminta maaf sebesar- besarnya karena telah menyusahkan keluarga Kim sejak dulu. Sekarang aku berpikir untuk hidup mandiri. Jadi tolong batalkan pertunangan ini, ahjussi. Jebal.”

Aku menatapnya tidak percaya, terlebih ketika dia menundukan kepalanya ke arah abeoji. Dia benar- benar terlihat bersungguh-sungguh. Jadi, ada sesuatu yang telah mengubahnya?

Aku mulai bertanya- tanya kira- kira hal apa yang dapat mengubah seorang Lee Saera. Pasti ada sesuatu yang terjadi.

“Terserah pada kalian sajalah, tapi untukmu Kai. Kau harus benar- benar masuk perusahaan.” Ya, aku tahu bahwa beliau tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi karena terus melihat kami berdua. Kemudian ia melangkahkan kakinya cepat melewati kami dan menutup- tidak, membanting pintu ruangan ini dengan cepat.

Namun suatu saat ia pasti mengerti, dia abeojiku.

“Kai.” Panggilnya seraya mengulurkan tangannya. Aku menaikan satu alisku, mempertanyakan semuanya. Namun ia hanya menarik tanganku dan memposisikannya seperti orang berjabat tangan.

“Gomawo. Gomawo telah menemaniku sejak kecil. Gomawo telah menyayangiku, yah walau mungkin hanya sebatas keluarga.”

“Apa maksudmu?”

“Aku belum selesai berbicara. Geurigo mianhae, aku telah banyak menyusahkan hidupmu. Semoga suatu saat kau bisa memaafkan keegoisanku. Aku hanya berharap.”

“Lee Saera?” Dia menatapku dengan cara yang berbeda dari selama ini. Membuatku bertanya- tanya apa maksudnya yang sebenarnya. Dan jujur saja, Saera entah apa yang terjadi padanya. Ia terlihat jauh lebih tulus sekarang, matanya sama seperti mata saat pertama kali aku bertemu dengannya. Bening dan tulus.

“Aku melepaskanmu, Kai.” Dia menatapku dengan senyumannya. Dan aku membelalakan mataku, seolah- olah hal ini adalah hal teraneh yang pernah kudengar. Ralat, bukan seolah- olah. Hal ini memang aneh.

“AKU MELEPASKANMU.” Ia menekankan tiap kata yang ia ucapkan. Mungkin bermaksud meyakinkanku.

“Tapi aku hanya melepaskanmu untuk Oh Yubin. Tapi jika suatu saat kau meninggalkan Yubin-“

“Itu tidak akan terjadi.” Tanpa sadar aku memotong ucapannya.

“Ya, itu benar juga.” Kemudian yeoja ini tersenyum kecil, tidak ada rasa kesal di wajahnya. ” Dan sepertinya kau harus benar- benar berangkat ke Cambridge untuk Harvard. Kau tidak ingin masuk perusahaan kan? Kau pasti akan menjadi sesuatu yang lebih, Kai.”

“Aku tidak ingin.. Yubin, dia masih-“

“Yubin, dia telah sadar.” Saera meralat ucapanku cepat dan menatapku jahil. “Kasihan sekali dia, orang pertama yang dilihatnya itu bukan kau.”

Hatiku mencelos, dan tanpa sadar kakiku berjalan tidak- berlari meninggalkan tempat itu. Aku hanya ingin cepat- cepat pergi ke rumah sakit dan menemukan kebenarannya, benarkah Yubin telah sadar?

Namun saat aku mengingat tanganku yang melepaskan genggaman tangannya yang masih menjabatku, aku teringat sesuatu. Kubalikan tubuhku, dan tersenyum ke arahnya.

“LEE SAERA, GOMAWO.” Teriakku yang hanya disambutnya dengan tawa.

“Akhirnya kau berterima kasih dan tersenyum tulus kepadaku, Kai!”

Aku tersenyum kecil dan kembali membalikan tubuhku. Berlari ke garasi dan memacu mobilku ke rumah sakit.

______

 

Yubin’s PoV

Aku tersadar, semuanya begitu terang. Walau rasanya badanku seakan remuk. Tapi aku bahagia. Entah karena alasan apa, aku bahagia.

Saat mataku pertama kali menangkap sosok Lee Saera, entah mengapa mengetahui kenyataan dia masih mau menjengukku dan menjadi orang pertama yang aku lihat ketika aku siuman, membuatku bahagia.

Aku sangat bahagia, ketika aku masih bisa melihat eomma dan appa dan kedua sahabatku, Kris oppa, juga teman- teman kerjaku. Aku lebih bahagia lagi ketika melihat teman- teman Kai datang mengunjungiku.

Namun, aku masih belum melihat Kai.

Apakah orang itu telah menghilang lagi? Apakah senyumannya waktu itu adalah yang terakhir kali dapat aku lihat?

Banyak sekali spekulasi dalam benakku, namun semuanya musnah ketika aku mendengar pintu ruangan yang berdecit, seseorang membukanya cepat dan tergesa- gesa dari luar. Kemudian ketika melihat seseorang dengan rambut yang berantakan serta jaket kulit menerobos masuk.

Itu Kai. Dia ada disini, dan dia melihat ke arahku.

Aku hanya bisa tersenyum, ya…Seolah semuanya lengkap.

Hanya dengan melihatnya lagi membuat hidupku terasa lengkap.

Saat tangan seseorang melingkari pundakku baru aku tersadar, tersadar bahwa sekarang hanya aku berdua dengannya di ruangan ini. Sedari tadi kesadaranku hilang kemana sebenarnya?

“Sejak kapan hanya kita berdua yang berada dalam ruangan ini, huh?” Tanyaku bingung dan melihat ke sekelilingku.

“Sejak aku mengusir mereka semua.” Ujarnya dingin dan melepaskan pelukannya dan kemudian duduk di sisi ranjangku.

“Wae?”

“Aku hanya ingin berdua denganmu. Memangnya ada alasan lain?”

Aku mendengus pelan, “Itu tidak sopan Kai.”

“Tenang saja, mereka meninggalkan ruangan ini dengan senang hati kok.”

Aku menatap bola matanya yang teduh, aku tidak ingin terlambat lagi. Aku ingin mengucapkannya, bahwa aku sangat berterima kasih padanya.

“Kai… Gomawoyo.” Aku tersenyum, rasanya ringan sekali.

“Gomawo karena aku masih bisa melihatmu lagi.” Sambungku.

“Ani, aku yang seharusnya berterima kasih. Gomawo karena kau telah menyelamatkan nyawaku, dan gomawo karena kau masih bisa membuka kelopak matamu dan melihatku lagi.”

Aku tertawa pelan. “Bahkan jika aku tidak ada pun, kau seharusnya mengetahuinya. Aku pasti akan selalu melihat ke arahmu, Kai.”

Kai tersenyum, sekali lagi. Melihat senyumannya, adalah salah satu hal terbaik dalam hidupku.

______

Kai’s PoV

Hari telah berganti. Sepanjang malam aku terus memikirkannya, apakah aku harus pergi ke Harvard atau tidak?

Aku tidak ingin meninggalkan Yubin, tapi aku mulai berpikir aku tidak ingin selalu bergantung dalam bayang- bayang abeoji.

Aku ingin mencari jati diriku sendiri. Sehingga kelak aku bisa hidup mapan dan berasal dari usaha ku sendiri. Jika aku bisa masuk dan lulus dari tempat itu, bukankah setidaknya masa depanku terjamin?

Aku mengesampingkan pikiran- pikiran itu dan berjalan memasuki ruangan rawat Yubin.

Namun aku tidak menemukan apapun disana.

Kemana Yubin?

Aku melangkahkan kakiku cepat ke segala penjuru rumah sakit dan menanyakan keberadaanya pada suster, dan akhirnya kudapati dirinya sedang duduk terdiam di bangku taman yang cukup sepi karena mungkin orang- orang lebih memilih berdiam diri di kamar dibandingkan duduk- duduk di taman karena angin yang kencang.

Namun, yeoja ini hanya menutup matanya. Seolah- olah sedang merasakan angin berhembus ke arahnya. Dan itu membuatnya begitu cantik dan menawan.

“Apakah kau tidak kedinginan?” Ujarku mendekatinya sambil melepas jaketku dan memakaikannya padanya.

“Gomawo.”

“Hmmm… Jadi?”

“Walau mungkin tubuhku merasa dingin, namun hatiku terasa hangat, Kai. Jadi tidak apa- apa.” Dan dia kembali menutup matanya.

“Ayo kembali ke kamar.” Aku hendak menarik tangannya namun tiba- tiba dia bersuara.

“Jadi, kau akan berangkat ke Harvard besok, Kai?”

Aku menatapnya penuh tanda tanya. Aku yakin dengan pasti aku belum pernah menceritakan hal ini padanya, jadi darimana ia tahu?

“Eommamu menjengukku semalam, sesaat setelah kau kusuruh pulang. Dia menceritakannya semuanya. Kau benar- benar luar biasa, Kai.” Bola matanya memancarkan kekagum saat ia melihatku. Aku menggeleng pelan.

“Yubin-ah, aku masih belum memutuskan tentang Harvard.”

“Tentu saja kau harus pergi, aku tahu dalam hati kecilmu kau ingin berangkat. Bukan begitu, Kai?”

Mungkin itu benar, tapi bagaimana dengan dirinya. Jika aku ingin lebih cepat lulus dari Harvard, bukankah aku tidak bisa mengambil jatah liburanku dan mungkin tidak akan pulang untuk waktu yang cukup lama?

“Bukankah kau ingin menjadi arsitek?”

Dia mengencangkan jaketku dan kembali menutup matanya, merasakan angin yang semakin kencang berhembus. Menerbangkan helaian rambutnya.

“Ya, kau pernah mengatakannya padaku bahwa kau berbakat menjadi arsitek.” Sambungnya dengan nada yang begitu tenang.

“Kau tidak melupakannya.” Aku tersenyum kecil.

“Begitulah, jadi jangan berfikir terlalu banyak tentang diriku. Karena 6 atau 7 tahun lagi aku akan tetap mencintaimu, aku akan menunggumu, Kai. Apapun pilihanmu, kau harus memilih sesuatu yang membuatmu bahagia. Karena jika kau bahagia, aku pun juga akan bahagia.”

Aku tersenyum ke arahnya saat ia menolehkan wajahnya ke arahku. Ya, inilah keputusanku. Seakan ucapannya tadi memiliki sihir, dia mengahapus semua keraguanku. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa dijadikan kebanggan untuknya suatu saat. Dan inilah langkah kecil pertamaku.

Aku ingin bersamanya di masa depan. Dan aku juga ingin melihatnya melihatku penuh kebanggan.

Aku mencoba menyalurkan isi hatiku padanya, dan ia hanya mengangguk. Dia mengerti, bahkan sesuatu yang tidak kuucapkan.

“Karena besok kau akan berangkat, bagaimana jika hari ini kita berkencan?”

Tentu saja aku menolaknya, yeoja ini memang aneh.”Mwo?! Jangan bercanda Yubin-ah, kau masih sakit.”

“Aku tidak apa- apa. Sungguh. Ayolah.. Jebal.” Dia menatapku dengan wajah memelas yang membuatku gemas sekaligus tidak tega. Chanyeol benar, dia yeoja yang benar- benar kuat.

“Uh…”

“Kajja!” Dia menarik tanganku penuh semangat seolah- olah dia bukan pasien yang baru saja sadar dari koma nya semalam.

______

 

Yubin’s PoV

“Ahahahaa, kita harus berterima kasih pada Luhan oppa!” Aku tertawa ringan.

“Kau benar- benar jahat padanya.” Kai berkomentar di sampingku sambil mulai menjalankan mobilnya.

“Aku tidak bermaksud begitu. Aku benar- benar merasa bersalah padanya, tapi hal ini hanya bisa dilakukan olehnya. Kau tahu, di antara teman- temanmu. Dialah yang paling cantik.” Racauku sambil mengingat- ingat kejadian barusan.

“Dan karena dia cantik kau menyuruhnya memakai wig dan baju pasien, dan menyuruhnya berbaring membelakangi pintu. Setelah itu berpura- pura tidur.”

“Hehehe, setelah itu ketika dokter atau suster datang, teman- temanmu yang lain akan langsung maju menghadang mereka untuk mencegahnya memeriksa ‘Oh Yubin’ dengan alasan ia tertidur pulas.” Sambungku cepat.

“Untuk mencegah pihak rumah sakit tahu pasiennya kabur.” Aku memukul pelan lengannya. Dia benar- benar tidak setuju dengan semua ini hanya karena alasan aku adalah pasien yang baru siuman tadi malam.

“Kai, mianhae jika aku bertingkah menyebalkan. Tapi aku hanya ingin bersamamu. Karena besok kau sudah harus berangkat. Dan ini kesempatan terakhir sebelum kau berangkat, Kai.” Aku menunduk, benar- benar merasa bersalah sekarang. Jika Kai tidak ingin, itu tidak apa- apa. Kita bisa kembali ke rumah sakit.

Tapi aku merasakan tangan besar dan hangat menyentuh daguku dan mengangkatnya.

“Aku juga ingin bersamamu. Jadi jangan berpikiran hal lain. Tapi kau harus berjanji, jika kau merasa sakit atau tidak nyaman dengan kondisimu kau akan mengatakannya padaku. Arrasseo?” Dia menatapku jauh ke dalam bola mataku, membuatku tidak bisa mengucapkan hal lain dan hanya bisa mengangguk.

_______

Hari ini terasa sangat cepat dan ringan, kencan kami. Ya, aku dan Kai. Sesuatu yang selama ini selalu aku harapkan, saat aku berdua saja dengannya berjalan- jalan menyusuri jalanan Seoul. Membeli coklat dan kiwi ice cream di kedai ice cream, kemudian naik monorel atau kereta gantung di Namsan Tower.

Walau sepanjang hari tak hentinya ia menanyakan keadaanku seperti, apakah kau baik- baik saja? Ada yang sakit? Ataukah kita perlu kembali ke rumah sakit?

Walaupun pertanyaan- pertanyaan itu sedikit menyebalkan, karena aku merasa diriku baik- baik saja. Namun mengetahui maksudnya yang sebenarnya, bahwa ia peduli padaku membuatku merasa senang.

Dan yang membuat hari ini terasa lebih menyenangkan lagi, karena Kai selalu mengenggam tanganku erat. Seakan- akan ia takut aku akan pergi, hal ini membuatku tersenyum miris.

Bukankah ia yang akan pergi?

Tapi kau tidak bisa menjadi makhluk yang lebih egois lagi, Oh Yubin.

Pada akhirnya, Kai melihatmu dan mengenggam erat tanganmu. Itu seharusnya sudah lebih dari cukup.

Aku mengangguk, seakan mencoba meyakinkan hatiku bahwa aku siap tidak bertemu Kai dalam waktu panjang.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Kai sudah kembali dengan sekaleng soda untuknya dan susu hangat untukku.

Tempat yang terakhir kali kami kunjungi hari ini adalah Han River. Duduk di salah satu bangku yang sepi dan melihat tenangnya Han River dari kejauhan.

“Tidak ada.” Aku tersenyum kecil dan mulai meminum susuku. Rasanya..  Hangat.

“Yubin-ah…” Dia memanggilku lembut membuat aku menoleh ke samping dan menangkapnya sedang melihatku dengan tatapan yang.. Aku juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.

Ketika bola mataku terkunci di mata teduhnya, ia kembali melanjutkan ucapannya.

“Bisakah kau menungguku? Mungkin permintaanku sedikit keterlaluan. Tapi, 6-7 tahun lagi, bisakah kau tetap disisiku?”

Aku terdiam, bola matanya menatapku dalam, seakan mencari jawaban yang tidak bisa aku ucapkan. Aku hanya tersenyum dan balik menatapnya,

“Bagaimana denganmu? 6 atau 7 tahun lagi apakah kau masih -“

“Aku pasti akan tetap mencintaimu.” Potongnya cepat seraya menatapku lebih dalam lagi. Ditatap seperti ini membuatku sulit bernafas dan membuat setiap sel dalam otakku seakan berjalan lambat.

“6 – 7 atau bahkan 50 tahun lagi, aku tahu dengan pasti. Aku pasti akan tetap mencintaimu. Karena aku tahu, mencintaimu tidak bisa diukur dengan waktu.” Seakan menghipnotisku, dia kini menatapku penuh keyakinan dan kesungguhan.

“Kau hanya perlu menungguku, namun jika hal itu terasa terlalu berat. Aku akan kembali lagi setelah 7 tahun dan aku akan membuatmu kembali mencintaiku.” Kemudian Kai menatapku sambil memiringkan senyumnya membuat kupu- kupu seakan bertebangan di dalam perutku.

Pikiran ku kacau, bahkan aku tidak merasa kakiku menapak di tanah. Ini halusinasi memang, tapi aku merasa sedang terbang jauh menantang langit. Merasa tidak sanggup untuk berkata kata apapun, aku hanya menganggukan kepalaku seakan hanya hal itu yang dapat kulakukan.

Kemudian aku mendengar suara tawanya, wajahnya yang bersinar dan senyumannya. Semuanya terekam baik dalam memori kepalaku.

“Gomawo.” Ujarnya riang, seraya mencium bibirku.

APA?! DIA MENCIUMKU?!

TBC

11 thoughts on “[FREELANCE] You Can’t Disappear From Me (Chapter 8)

  1. hiks.. rada sedih. pengorbanan yubin bener bener besar banget..😦 tapi akhirnya saera sadar juga.. ini daebakk thor, oh ya kalo udah end mw bikin sequelnya ga thor,?? pasti seru. prok prok prok (?) daebakk buat authornya.🙂

  2. woah i like it so much !!!!
    uri kai n’ yubin akhir’a bersatu stelah pnantian yg gk bsa d blang sbntar ,..,
    v MWO ??? 6 atw apa itu 7 thun ?? its really long …..
    eon kx kuliah’a lama bgt ???
    aaah kalo aq jd yubin aq mgkin bkal kyk yubin ‘nunggu’ v maldoandwe …
    hem ini bhkan sgt lama …#loh jd aq yg sewot ych wkwk
    eon this is good story !!
    nomu nomu nomu chuayo #gaya upin ipin
    aakh next chapt jgn lama2 ych eon !!

    • author udh baca semua comment kamu dri chap 1 ff ini, bener” makasih bgt yahh *terharu nih* hiksss. author bales disini ajh gpp yah? hehehe.. author buat kai kuliah sampe master”an nya jg (?) jd pasti lama… hehehe. sipp ditunggu chapter terakhirnya yah.. 😀

  3. kyaa thoooor so sweet bangeeeet ><
    ga bayangin jadi yubin, dia kuat banget ya ampuuun
    btw, luhan sama saera aja deeeh, hahahha
    ga bayangin juga luhan paje wig, aaak cantiiik
    next chapterditunggu secepatnya ya thooor, ga sabar nih. hihihihi :3
    JJANG!

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s