TRUE LOVE (Chapter 17)

55

TRUE LOVE

                           

Tittle                : True Love (Chapter 17)

Author             : Jellokey

Main Cast        :

Kim Jong In (Kai of EXO)

Oh Sehoon (Se Hun of EXO)

Luhan (Lu Han of EXO)

Kim Joon Myun (Suho of EXO)

Kang Jeo Rin (OC)

Shin Min Young (OC)

Support Cast   :

Park Chanyeol (Chanyeol of EXO)

Kim Min Seok (Xiumin of EXO)

Choi Yoo Ra (OC)

and others

Length             : Chaptered

Genre              : Romance, Family, Marriage Life

Rating             : PG-17

 

Mian kalau chapter ini jelek. Happy reading! Don’t plagiat, don’t bash, and don’t be sider ^^

 

 

“Sehun..”

“Neo?!” Sehun terkejut. Tanpa memikirkan sopan santun, yeoja itu melangkah masuk ke dalam apartemen HunMin couple.

“Berhenti di situ. Dasar tidak tahu sopan santun!” Baru tiga langkah, yeoja itu berhenti. Ia kembali keluar. Min Young semakin penasaran dengan yeoja yang tidak ia kenal.

“Mianhae, aku benar-benar merindukanmu, Sehun-ah.” Min Young tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Ia melihat yeoja blonde di depannya. Cantik. Pikiran aneh terlintas di kepalanya.

“Oppa, nugu?”

“Dia..”

“Aku temannya Sehun. Jang Choi Yoo Ra imnida. Kau pasti yeodongsaeng Sehun kan?” Potong Yoo Ra.

“Dia anae-ku. Dan aku tidak kenal apalagi berteman denganmu. Lebih baik kau pergi. Tamu tidak diundang.” Ucap Sehun datar.

“Aku langsung kemari begitu sampai di Seoul. Kau tega mengusirku?” Mata Yoo Ra berkaca-kaca. Sedangkan Min Young tidak tahu harus berbuat apa.

“Aku tidak mengenalmu. Mungkin kau salah alamat.”

BLAM!

Sehun menutup pintu kasar. Membuat Min Young tersentak.

“Oppa, siapa yeoja itu?” Tidak bisa dipungkiri, Min Young cemburu melihat Yoo Ra.

“Wae? Kau cemburu?” Goda Sehun.

“A.. Ani. Aku tidak cemburu.” Elak Min Young. Sehun menuntun Min Young duduk di sofa ruang tamu.

“Aku tidak mengenalnya. Dia yeoja yang mengejarku saat kuliah dulu. Kau tahu aku kan, Youngie? Aku tidak pernah memandang yeoja manapun selain dirimu.” Min Young merasa lega setelah mendengar perkataan Sehun.

“Tapi oppa terlalu kasar tadi.” Min Young teringat wajah sedih Yoo Ra.

“Biarkan saja. Satu lagi, jangan izinkan yeoja itu kemari. Semoga yeoja gila itu tidak mengejarku lagi. Kajja, kita tidur. Kau harus istirahat yang cukup.”

 

 

—————-

 

 

Dengan kondisinya yang tidak enak badan, Min Young tetap melakukan rutinitasnya.

“Uugh..” Min Young menahan sesuatu yang hendak keluar dari mulutnya. Tidak bisa menahan lagi, Min Young berlari ke toilet yang ada di ruangannya.

“Hoeek!” Min Young muntah, tapi yang keluar hanya air. Setelah merasa enakkan ia berkumur dengan air lalu mengelap bibirnya dengan tisu. Ia kembali ke sofa, tempat ia dan sekretarisnya bekerja.

“Anda baik-baik saja, sajangnim?” Tanya sekretarisnya.

“Ne. Sampai di mana tadi?”

“Tapi wajah anda pucat, sajangnim. Mungkin anda kelelahan. Lebih baik anda istirahat, sajangnim.” Saran sekretarisnya. Min Young berpikir.

“Apa aku ada meeting hari ini?”

“Ani. Anda tidak ada jadwal meeting dengan perusahaan manapun, sajangnim.”

“Kalau begitu aku pulang, sekretaris Kim. Tolong bereskan ini.”

“Ne, sajangnim. Semoga anda cepat sembuh.” Setelah tersenyum pada sekretarisnya, Min Young keluar dari ruangannya. Bukannya pulang, Min Young pergi menuju kantor Sehun. Ia berencana jalan bersama Sehun. ‘Sudah lama kami tidak jalan. Semoga oppa tidak sibuk.’

 

@ Sehun’s office

 

“Selamat siang, nyonya Oh.” Min Young tersenyum ramah pada setiap pegawai yang menyapanya. Mereka sangat menyukai Min Young. Sekretaris Sehun langsung membungkuk hormat begitu melihat Min Young.

“Apa Sehun oppa di dalam, sekretaris Lee?”

“Ne, nyonya.” Setelah tersenyum Min Young menuju pintu ruangan Sehun lalu membukanya.

“Sehun.. nie..” Min Young terkejut melihat orang yang berdiri di depan Sehun. Yeoja itu lagi. Choi Yoo Ra. Dan di depannya Sehun sedang emosi.

“Youngie..” Ekspresi Sehun langsung berubah. Yoo Ra berbalik melihat Min Young. Tersenyum tidak ikhlas. Sehun melihat jam tangannya.

“Sudah hampir jam makan siang. Seharusnya kau tunggu aku menjemputmu, Youngie.” Sehun berjalan menuju Min Young lalu mengecup bibir Min Young. Yoo Ra kesal melihat adegan itu.

“Aku tidak sibuk, jadi aku langsung kemari.”

“Kajja, kita makan siang.” Sehun menggenggam tangan Min Young, ia berbalik.

“Yoora-ssi, dengan segala hormat, aku mau kau tidak muncul lagi di depanku.” Sehun meninggalkan ruangannya.

“Sekretaris Lee, jangan pernah izinkan yeoja itu datang kemari.”

“Ne, sajangnim.”

“Oppa, apa oppa sibuk hari ini?”

“Sekretaris Lee..” Sekretaris Sehun melihat jadwal Sehun.

“Anda tidak ada jadwal apapun hari ini, presdir.” Setelah mendengar itu, mereka pergi.

“Wae, Youngie”

“Aku ingin jalan-jalan denganmu, oppa. Temani aku makan es krim.” Min Young bergelayut manja di lengan Sehun. Sehun sedikit heran melihat tingkah istrinya. Min Young tidak pernah semanja itu padanya.

“Anything for you, yeobo.” Tapi Sehun suka dengan sikap manja Min Young.

 

—————–

 

Jeo Rin mengumpat kesal mendengar dering handphonenya. Siapa orang tidak tahu sopan santun yang meneleponnya tengah malam begini.

“Yeoboseyo..” Jawab Jeo Rin masih dengan mata terpejam.

“Saengil chukkhaehamnida, baby. Saranghae..” Jeo Rin membuka matanya mendengar suara namja yang tidak ada di sampingnya selama tiga hari ini. Merindukannya? Tentu saja. Ia sangat merindukan namja itu.

“Jongin?”

“Saengil chukkhaehamnida, saengil chukhaehamnida, saranghaneun uri Jeo Rin.. Saengil chukhaehammida.” Kai menyanyikan lagu ulang tahun untuk Jeo Rin.

“Apa aku ulang tahun hari ini? Ia tersenyum karena Kai orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

“Kau lupa? Aigoo.. Sekarang tanggal empat belas, baby. Umurmu dua puluh dua. Kau sudah tua, Rin-ah. Apa kau tidak mau segera menikah denganku?” Goda Kai. Jeo Rin tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

“Kau pulang hari ini kan? Aku ingin merayakan ulang tahunku denganmu.”

“Mian, baby. Aku masih harus di sini dua hari lagi. Tapi aku sudah punya hadiah untukmu.” Mendengar itu, Jeo Rin langsung cemberut.

“Baby? Apa kau tertidur? Baby?” Panggil Kai karena tidak ada sahutan dari Jeo Rin.

“Buat apa kau meneleponku kalau kau tidak bisa merayakan ulang tahunku?!” Jeo Rin menekan tombol end call.

 

—————

 

Sehun terkejut begitu memasuki ruangannya.

“Pagi, Sehun.”

“Kau tidak mendengar kata-kataku? Jangan pernah datang ke kantorku!” Sehun berjalan menuju mejanya, menelepon sekretarisnya. Tak lama sekretaris Lee masuk ke ruangan Sehun.

“Kenapa dia bisa ada di sini?”

“Mianhamnida, presdir. Nona Choi adalah rekan bisnis perusahaan, presdir.”

“Apa maksudmu?”

“Jangan marahi sekretarismu, Sehun.” Yoo Ra berjalan menuju Sehun lalu mengamit lengan Sehun.

“Jangan pernah menyentuhku, orang asing!” Sehun memijit pelipisnya. Pagi-pagi ia sudah harus naik darah.

“Aku perwakilan dari YS Group. Semoga kerja sama kita berjalan dengan baik.” Yoo Ra tidak mempedulikan sikap Sehun.

“Aku membatalkan kerja sama kita.” Ucap Sehun tegas.

Tapi, presdir, perusahaan bisa rugi kalau kerja sama ini batal.” Kata sekretaris Lee. Yoo Ra tersenyum penuh kemenangan. ‘Dengan ini kau akan menjadi milikku, Sehun.’ Batin Yoo Ra. Sehun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia harus profesional.

“Apa aku meeting dengannya sekarang?”

“Ne, presdir.” Sehun mendesah berat.

“Kita mulai meetingnya.”

 

——————

 

Empat belas Juli, ulang tahun Jeo Rin yang ke dua puluh dua. Setelah Kai meneleponnya tengah malam tadi, Jeo Rin tidak bisa tidur sampai jam enam pagi. Ia tidak berniat ke kantor. Jeo Rin sudah meminta sekretarisnya untuk menunda semua jadwalnya hari ini.

 

11.00 am, Jeo Rin’s room

 

“Sayang..” Nyonya Kang mengusap pipi Jeo Rin lembut.

“Jeo Rin sayang, bangun, nak..”

“Eomma..” Jeo Rin enggan membuka matanya.

“Aigoo.. Bangun, nak. Ini hari ulang tahunmu. Kenapa malas-malasan?” Dengan berat hati Jeo Rin mendudukkan dirinya.

“Selamat ulang tahun, sayang.” Nyonya Kang memeluk Jeo Rin.

“Gamsahamnida, eomma.”

“Mandilah. Eomma sudah memasakkan sup rumput laut untukmu. Di bawah ada Suho, sayang.” Ucap Nyonya Kang sebelum keluar dari kamar Jeo Rin.

 

———-

 

“Oppa..” Jeo Rin memanggil Suho yang sedang melihat ikan di taman belakang. Suho berbalik dan berjalan sambil tersenyum pada Jeo Rin. Mereka duduk di sofa.

“Tadi aku ke kantor, tapi sekretarismu bilang kau tidak masuk.”

“Aku sedang malas, oppa.”

“Saengil chukkae, Jeorin-ah.” Kata Suho sambil menyerahkan hadiah pada Jeo Rin.

“Gomawo, oppa.” Jeo Rin memandangi kado dari Suho.

“Apa ini, oppa?”

“Bukalah..” Jeo Rin membuka kadonya. Suho memberinya dress berwarna baby blue.

“Oppa..”

“Kau suka suka?” Jeo Rin mengangguk. Suho berdiri lalu berlutut di depan Jeo Rin. Jeo Rin menatap Suho bingung. Beberapa menit sebelum adegan itu. Kai sampai di rumah Jeo Rin. Percakapan di telepon, Kai hanya mengerjai Jeo Rin. Ia melihat dua benda yang berada di kedua tangannya. Sebuket bunga mawar putih di tangan kanan dan di sebelah kiri, tebak apa? Kai menekan bel. Kai sudah tahu kalau Jeo Rin tidak ke kantor.

“Tuan Kai? Silahkan masuk, tuan.”

“Jeo Rin mana, ahjumma?” Tanya Kai pada Han ahjumma.

“Nona ada di taman belakang, tuan.” Kai pun langsung menuju taman belakang. Sebelumnya Kai melihat Nyonya Kang di ruang tamu sedang membaca majalah.

“Annyeonghaseyo, ahjumma..”

“Kai, ahjumma pikir kau tidak datang. Cepatlah temui Jeo Rin. Dia tidak semangat hari ini.” Nyonya Kang tahu apa yang dirasakan putrinya. Jeo Rin mengharapkan Kai. Hanya saja putrinya masih labil.

“Ne, ahjumma.”

Kai mendengar Jeo Rin berbicara dengan seseorang saat ia mendekati taman belakang. Sampainya di sana, ia melihat Suho sedang berlutut di depan Jeo Rin. Mereka tidak menyadari kehadiran Kai.

“Maukah kau menikah denganku, Jeorin-ah?” Suho mengeluarkan sebuah cincin dari kotaknya. Jeo Rin terkejut.

SREK!

Bunga dan kotak yang dipegang Kai jatuh begitu saja. Suho dan Jeo Rin menoleh ke arah pintu.

“Jongin..” Kai segera berbalik pergi. ‘Kalau aku tidak datang apa Jeo Rin akan menerima lamaran Suho?’ Jeo Rin berdiri hendak mengejar Kai, tapi Suho menahannya.

“Jeorin-ah..”

“Aku tidak bisa, oppa. Aku tidak bisa..” Jeo Rin menghempaskan tangan Suho.

“Wae?” Suho benar-benar tidak ingin dugaannya benar.

“Aku tidak bisa. Dia.. Jongin.. Aku mencintainya. Mianhae, oppa.” Jeo Rin mengambil bunga dan kotak yang dijatuhkan Kai tadi dan berlari mengejar Kai. Ia berlari keluar rumah dan mendapati Kai sudah berada di mobilnya.

“Jongin-ah..” Panggil Jeo Rin. Kai tidak mempedulikan Jeo Rin dan langsung meninggalkan rumah Jeo Rin. Jeo Rin panik. Ia harus mengejar Kai tapi kunci mobilnya berada di kamar. Ia mendapati supir eommanya sedang mengelap kaca mobil.

“Ajjushi, tolong kejar mobil Kai. Ppali..” Jeo Rin masuk ke dalam mobil. Kai memukul stir mobilnya. Emosi, Kai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“Kau terlalu percaya diri, Kai. Tidak mungkin Jeo Rin mencintaimu. Kenapa kau selalu memberi harapan padaku, Rin-ah? Kenapa?!” Kai menambah kecepatan mobilnya. Ia tidak memperhatikan jalan dan tidak menyadari seorang nenek yang sedang menyeberang jalan. Kai membanting stirnya untuk menghindari nenek itu.

Ckitt!

Mobil Kai menabrak pohon jalan. Bagian depan mobil Kai rusak parah.

“Cepat, ajjushi! Mobil Jongin sudah tidak terlihat.” Jeo Rin menggigit jarinya panik. Ia menoleh ke samping tempat bunga dan kotak berada. Jeo Rin mengambil kotak itu dan membukanya.

“Cincin?” Jeo Rin tidak bisa menahan air matanya lagi. ‘Aku memilihmu, Jongin-ah. Aku memilihmu..’ Jeo Rin menyeka air matanya.

“Ajjushi, kenapa lambat?”

“Di depan ada kecelakaan, nona.” Kerumunan orang membuat Jeo Rin kesulitan melihat mobil yang kecelakaan.

“Nona, sepertinya itu mobil tuan Kai.”

“Mwo??” Jeo Rin langsung keluar dari mobil diikuti supirnya. Ia menerobos kerumunan orang. Membuka pintu kemudi.

“Jongin..” Jeo Rin tidak sanggup melihat Kai. Kepalanya berada di stir mobil. Darah mengalir dari keningnya.

“Tolong bantu saya..” Jeo Rin menangis. Supirnya membantu Jeo Rin membopong Kai ke mobil dan segera melajukan mobil ke rumah sakit.

 

@ Seoul Hospital

 

Jeo Rin berdiri di samping pintu UGD. Sedari tadi ia menangis dalam diam. Kai kecelakaan karena dirinya.

“Jeorin-ah..”

“Eomma..” Jeo Rin langsung memeluk nyonya Kang. Ia menangis di pelukan ibunya. Nyonya Kang datang ke rumah sakit bersama Suho.

“Jongin, eomma.. Jongin..”

“Sst.. Uljima.. Kai pasti baik-baik saja, sayang.” Suho terpaku di tempatnya. Ia masih tidak percaya dengan kenyataan yang ia terima beberapa menit yang lalu. Tak lama Tuan Kim datang.

“Di mana Kai?” Tanya tuan Kim khawatir.

“Dia masih ditangani dokter, Joomun-ah.” Semua orang yang berada di tempat itu gelisah. Tapi tidak dengan Suho, ia terlihat tenang. Tiga puluh menit kemudian dokter keluar dari ruang UGD.

“Dokter, bagaimana keadaan Kai?”

“Tidak ada luka dalam yang dialami pasien. Hanya ada luka di keningnya. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat.” Kata dokter Yi Zing.

“Kau dengar, sayang? Kai baik-baik saja.” Nyonya Kai mencoba menenangkan Jeo Rin yang menangis dari tadi.

 

—————

 

“Jeo Rin, pulanglah. Biar ajjushi yang menjaga Kai.” Tuan Kim menghampiri Jeo Rin yang duduk di kursi sebelah kanan ranjang Kai.

“Shirreo.. Aku mau menjaga Jongin.”

“Tapi satu harian ini kau belum makan, sayang.”

“Aku tidak lapar, eomma. Jebal, biarkan aku menjaga Jongin.”

“Aku akan menemani Jeo Rin di sini, appa, ahjumma.” Kata Suho.

“Baiklah. Appa dan ahjumma pulang dulu.”

“Jeorin-ah..” Sungguh. Suho tidak suka melihat kekhawatiran Jeo Rin pada Kai. Tapi ada rasa kasihan Suho melihat kondisi Kai. ‘Andwae! Dia yang merebut kebahagiaanmu, Suho.’

“Aku membeli makanan dulu. Jebal, jangan menangis terus, Jeorin-ah.” Suho menghapus air mata Jeo Rin.

“Aku juga ikut sedih.”

“Aku baik-baik saja, oppa.” Jeo Rin memaksakan senyumnya. Setelah itu Suho keluar dari ruang rawat Kai.

“Mianhae, Jongin-ah. Mian..” Jeo Rin mencium tangan Kai yang ia genggam. Jeo Rin mengambil kotak persegi dari saku celananya dan membuka kotak itu. Mengambil cincin berhiaskan berlian di tengahnya.

“Apa cincin ini untukku, Jongin-ah? Aku boleh memakainya?” Suara Jeo Rin bergetar. Ia menangis lagi.

“Aku memakai cincin ini, Jongin-ah. Kau tahu artinya apa? Saranghae.. Nan jeongmal manhi saranghae, Jongin-ah.”

 

—————-

 

Kai membuka matanya perlahan. Berusaha menyesuaikan cahaya di ruangan itu dengan matanya. Menggerakkan jari tangannya karena merasa tangannya digenggam oleh seseorang.

“Aaargh..” Rintih Kai karena sakit di keningnya. Merasakan tangan Kai bergerak, Jeo Rin pun bangun.

“Kau sudah sadar?” Jeo Rin tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. Ia duduk di tepi ranjang.

“Ini.. di mana?” Tanya Kai sambil memegangi kepalanya.

“Kau di rumah sakit, Jongin-ah. Semalam kau kecelakaan.” ‘Dan itu karena aku.’

“Jongin? Siapa.. Jongin? Kau.. Siapa?” Tanya Kai bingung.

“Kau tidak mengenalku?” Jeo Rin shock. ‘Apa dia amnesia?’ Air mata mengalir di pipi Jeo Rin. Kai semakin bingung melihat Jeo Rin yang menangis.

Cklek!

Suho masuk ke ruang rawat Kai. Ia baru saja membeli makanan untuk sarapannya dan Jeo Rin.

“Aku siapa?” Samar-samar Suho mendengar ucapan Kai.

“Ada apa?” Tanya Suho.

“Jongin, oppa..” Kai menatap Suho.

“Kau.. siapa?” Mengetahui ada yang tidak beres, Suho memanggil dokter menggunakan telepon darurat yang ada di ruang rawat Kai.

 

—————

 

“Bagaimana keadaan anak saya, dok?” Tanya tuan Kim pada dokter Yi Zing.

“Pasien amnesia, akibat benturan di kepalanya.” Kata dokter setelah memeriksa Kai.

“Apa??” Jeo Rin pasti jatuh kalau tidak ditahan Suho. Suho merangkul Jeo Rin untuk menenangkannya.

“Tapi dokter bilang Jongin baik-baik. Dokter pasti salah!” Jeo Rin histeris.

“Kapan ingatannya kembali?” Tanya tuan Kim.

“Ingatan pasien bisa saja kembali dengan cepat dan bisa juga lama. Dukungan keluarga bisa cepat membantu ingatannya pulih. Jangan paksa pasien untuk segera mengingat siapa dirinya, karena itu bisa berakibat buruk. Ia tidak bisa mengingat masa lalunya kalau hal itu terjadi. Saya permisi.”

“Tenanglah, Jeo Rin.” Suho memeluk Jeo Rin. Entah kenapa Kai tidak suka melihat itu.

 

 

TBC..

7 thoughts on “TRUE LOVE (Chapter 17)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s