TRUE LOVE (Chapter 18)

55

TRUE LOVE

                           

Tittle                : True Love (Chapter 18)

Author             : Jellokey

Main Cast        :

Kim Jong In (Kai of EXO)

Oh Sehoon (Se Hun of EXO)

Luhan (Lu Han of EXO)

Kim Joon Myun (Suho of EXO)

Kang Jeo Rin (OC)

Shin Min Young (OC)

Support Cast   :

Park Chanyeol (Chanyeol of EXO)

Kim Min Seok (Xiumin of EXO)

Choi Yoo Ra (OC)

and others

Length             : Chaptered

Genre              : Romance, Family, Marriage Life

Rating             : PG-17

 

Chingudeul, mohon dukungannya ya ^^ Vote aku di sini. Gamsahamnida ^^

http://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2013/08/11/award-fever/

Min Young menangkap ada yang aneh pada Sehun beberapa hari ini. Mereka tidak pernah makan siang dan pulang kantor bersama lagi. Min Young juga pernah melihat Sehun di cafe dekat kantor Sehun bersama Yoo Ra. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana pun Yoo Ra adalah yeoja yang mengejar-ngejar Sehun saat kuliah dulu. Ia takut Yoo Ra masih mengejar Sehun.

“Oppa..” Min Young menghampiri Sehun yang sedang mengerjakan pekerjaan kantornya di ruang tamu. Ia meletakkan secangkir teh di meja. Sehun menghentikan kegiatannya.

“Kau belum tidur?” Sehun mengelus rambut Min Young.

“Aku menunggu oppa.” Sehun tersenyum.

“Sedikit lagi pekerjaanku selesai.” Sehun kembali fokus ke laptopnya. Ia berhenti lagi dan melihat Min Young.

“Kenapa tidak pakai baju hangat? Kau harus jaga kesehatan, Youngie.” Sehun melepas baju hangatnya dan memakaikan pada Min Young.

“Aku akan mengerjakan ini dengan cepat lalu kita tidur.” Sehun kembali pada kegiatannya. Min Young menatap Sehun. Ingin sekali ia bertanya pada Sehun tentang kejadian di cafe.

“Oppa..”

“Eum?”

“Aku melihatmu dengan Yoo Ra di cafe beberapa hari yang lalu.” Akhirnya Min Young bertanya.

“Apa oppa..” Min Young berhenti. Sehun menutup laptopnya. Ia menatap Min Young.

“Apa kau cemburu?”

“Ani.. aku..” Sehun langsung memeluk Min Young.

“Apa yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan, Youngie. Perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaannya. Belakangan ini aku sibuk karena itu. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan kerja sama perusahaan.” Min Young mendongak, menatap Sehun.

“Jangan khawatir. Kau tahu aku seperti apa kan? Aku hanya melihatmu.” Sehun mencium kening Min Young.

“Kajja, kita tidur.”

 

———————–

 

Tepat 05.30 am, Min Young bangun. Ia sudah biasa bangun jam segitu sejak menyandang status Nyonya Oh. Min Young mengelus tangan yang melingkar di pinggangnya, menoleh ke samping mendapati wajah terlelap suaminya. Ia mengecup bibir Sehun, perlahan melepas tangan Sehun yang melingkar di pinggangnya. Min Young merasa mual saat ia duduk di tepi tempat tidur. Ia segera berlari menuju kamar mandi. Muntah tapi yang keluar hanya air. Sehun yang sudah bangun sejak Min Young mengelus tangannya segera menuju kamar mandi. Memijit tengkuk Min Young berharap bisa membuat Min Young lega.

“Gwenchana?”

“Gwenchana, oppa.” Jawab Min Young setelah berkumur.

“Kita ke rumah sakit, ne?” Sehun benar-benar khawatir dengan kondisi istrinya.

“Ani. Mungkin aku masuk angin, oppa.” Min Young benar-benar anti dengan rumah sakit. Kalau tidak terpaksa dan tidak ada yang menemani, ia tidak mau ke sana. Dia tidak suka bau obat.

“Aissh.. Youngie, kita harus ke rumah sakit. Aku tidak melihat kondisimu yang membaik.”

“Shirreo.. Shirreoyo.” Rengek Min Young.

“Haah.. Geurae. Tapi kau tidak boleh ke kantor. Istirahat di rumah, kalau tidak membaik juga, aku akan membawamu ke rumah sakit walaupun kau tidak mau.”

“Ne.. Aku tidak ke kantor.” jawab Min Young lesu.

 

—————

 

Bosan. Tidak ada yang bisa Min Young kerjakan karena Sehun tidak mengizinkannya untuk mengerjakan apapun. Sehun bahkan memanggil pembantu dari rumah keluarga Oh untuk membersihkan apartemen dan memasak. Akhirnya Min Young memutuskan pergi ke mall atau ke mana saja asal tidak di rumah sampai Sehun pulang. Min Young mengelilingi kota Seoul menggunakan taksi. Dia belum menemukan tempat yang cocok untuk cuci mata. Min Young memandangi suasana jalanan dari kaca mobil. Ia seperti melihat Sehun keluar dari cafe bersama seorang yeoja.

“Stop, ajjushi!” Min Young menajamkan penglihatannya. Benar. Itu Sehun dengan Yoo Ra yang bergelayut manja di lengan Sehun dan Sehun membiarkannya. Setelah berkeliling tak tentu arah, Min Young memutuskan untuk makan siang di rebuah restoran yang tak jauh dari taman kota. Ia berusaha berpikir positif tentang kejadian di kafe. Min Young keluar dari taksi dan masuk ke restoran. Mengambil tempat duduk lalu memesan makanan. Tak lama pesanannya datang. Min Young memandangi makanan yang ada di hadapannya. Tadi ia begitu ingin memakan makanan itu. Tapi sekarang tidak. Jadilah ia hanya meminum jus mangganya.

“Min Young?” Min Young menoleh ke samping ketika telinganya menangkap suara yang ia kenal.

“Lu Han oppa?” Sejak hari pernikahannya dan Sehun, Min Young tidak pernah bertemu dengan Lu Han.

“Bogoshipoyo..” Min Young berdiri lalu memeluk Lu Han. Tidak ia pedulikan orang-orang yang melihat mereka.

“Na do..” Lu Han balas memeluk Min Young. Betapa terkejutnya Lu Han melihat Min Young menangis saat ia melepas pelukan mereka.

“Waeyo? Kenapa kau menangis?” Lu Han menghapus air mata Min Young.

“Aku benar-benar merindukan oppa.” Min Young mencoba tersenyum.

“Jeongmal?” Lu Han merasa ada yang aneh pada Min Young.

“Ne. Oppa mau makan siang? Makanlah bersamaku.” Lu Han duduk di sebelah Min Young.

“Kau pesan semua ini?” Tanya Lu Han tak percaya melihat meja Min Young penuh dengan makanan.

“Ne.” Lu Han hendak memanggil pelayan tapi dicegah Min Young.

“Oppa makan punyaku saja.”

“Kau tidak makan?”

“Aku tidak selera, oppa.”

“Apa kau sakit?” Lu Han mengecek kening Min Young.

“Nan gwenchana, oppa.”

“Kau harus makan, Young. Wajahmu pucat. Ayo makan. Aku suapi. Aaak..” Dengan terpaksa Min Young menerima suapan dari Lu Han. Sementara itu, ada orang yang shock melihat adegan Min Young sejak ia berpelukan dengan Lu Han sampai Lu Han menyuapinya. ‘Aku tidak salah lihat kan? Min Young dan namja itu mesra sekali. Sehun, kau telah salah memilih anae.’ Batin Yoo Ra. ‘Tapi ini sangat bagus untukku.’ Yoo Ra menyeringai. Ia berjalan menuju meja Min Young.

“Minyoung-ssi?” Min Young menoleh ke arah suara yang memanggilnya, ia memaksakan senyumnya.

“Boleh aku bergabung?” Min Young mengangguk.

“Oppa, aku sudah kenyang.”

“Sedikit lagi, Young. Dua sendok lagi.” Min Young menerima suapan Lu Han.

“Kau tidak bersama Sehun, Minyoung-ssi?”

“Ani. Dia sibuk.” Lu Han menatap Min Young penuh tanya tentang yeoja yang mengenal Sehun.

“Kenalkan, oppa. Dia Choi Yoo Ra. Teman kuliah Sehun oppa.” Lu Han mengulurkan tangannya.

“Lu Han imnida.”

“Choi Yoo Ra imnida.”

“Makanlah dengan kami, Yoora-ssi.”

“Gomawo, aku sudah makan. Sepertinya aku harus pergi.” Annyeong. Min Young terlihat sedih.

“Young? Gwenchana?”

“Gwenchana, oppa. Oppa sibuk hari ini?”

“Ani.”

“Temani aku jalan-jalan.” Lu Han tersenyum.

“Kajja.”

 

——————–

 

Sorenya, Yoo Ra langsung menemui Sehun di kantornya.

“Buat apa kau kemari? Aku bosan melihatmu!” Yoo Ra murung saat Sehun mengatakan itu, tapi tak lama kemudian Yoo Ra tersenyum seolah tidak mendengar ucapan Sehun. Ia langsung duduk di sofa.

“Aku melihat Min Young di restoran tadi. Dan aku melihatnya berpelukan dengan seorang namja.” Sehun tetap bertampang dingin.

“Mereka mesra sekali. Bahkan namja itu menyuapi Min Young. Kalau tidak salah namanya Lu Han.”

“Dia temanku.” Jawab Sehun datar. ‘Apa Lu Han masih mencintai Min Young?’

“Tapi yang mereka lakukan tidak wajar, Sehun-ah. Namja itu temanmu. Tidak seharusnya dia memeluk istrimu.” ‘Come on, Sehun.. Aku tahu kau cemburu. Dan itu sangat bagus.’

“Masih ada lagi yang ingin kau katakan? Seharusnya aku sudah sampai di apartemenku sekarang.” Sehun berlalu meninggalkan Yoo Ra di ruangannya.

“Tidak berhasil? Baiklah. Sepertinya memang harus memakai caraku.” Yoo Ra menyeringai.

 

—————

 

Sehun mendapati Min Young menonton tv begitu ia berada di ruang tamu.

“Bagaimana keadaanmu?” Ucap Sehun setelah mencium pipi Min Young.

“Aku baik-baik saja, oppa.” Min Young tersenyum. Sehun masih seperti biasa. Sepertinya Min Young terlalu berpikir negatif tentang Sehun.

“Oppa, mandilah. Lalu kita makan. Aku membeli makanan dari restoran kesukaan oppa tadi.”

“Kau keluar?” Sehun pura-pura tidak tahu.

“Ne. Aku bosan di rumah, oppa. Tadi aku juga bertemu Lu Han oppa.” Ekspresi Sehun berubah. Ia jadi teringat ucapan Yoo Ra. Ia akui, perlakuan Lu Han pada Min Young berlebihan. Seharusnya Lu Han bisa membatasi dirinya karena Min Young istrinya. Ia tidak mau berpikir kalau Lu Han masih mencintai Min Young sampai sekarang.

“Bagaimana kabarnya?”

“Baik. Sepertinya aku harus mencarikan pasangan untuknya.”

“Aku mandi dulu.” Sehun mengacak rambut Min Young sebelum ke kamar.

 

——————-

 

Sudah tiga hari Jeo Rin tidak menjenguk Kai di rumah sakit. Ia tidak bisa menerima Kai yang melupakannya. Sekarang dia sedang berada di apartemen Min Young dan Sehun.

“Kenapa kau tidak ke kantor?” Tanya Jeo Rin pada Min Young yang meletakkan teh di meja.

“Sehun oppa melarangku bekerja.”

“Kau benar-benar menikmati statusmu sebagai Nyonya Oh.” Min Young tersenyum.

“Kapan kau menyusul?”

“Aku tidak tahu. Saat aku yakin aku mencintai Jongin, dia tidak ingat padaku.” Min Young menautkan alisnya bingung.

“Dia amnesia. Jongin kecelakaan saat ulang tahunku. Dan semua itu karena aku.”

“Kenapa kau berkata begitu, Jeorin-ah?”

“Dia melihat Suho oppa melamarku. Dia pasti mengira aku menerima lamaran Suho oppa.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Mollaseo. Sejak dokter mengatakan Jongin amnesia, aku tidak pernah menjenguknya.”

“Apa yang akan kau lakukan?” Jeo Rin diam.

“Kecelakaan itu bukan salahmu, Jeorin-ah.”

“Tapi..”

“Bantu Kai memulihkan ingatannya. Kalian mulai lagi dari awal.” Masih tidak ada respon dari Jeo Rin. Melihat itu, Min Young langsung menarik Jeo Rin.

“Kajja, kita ke rumah sakit.”

 

—————–

 

Jeo Rin membuka pintu ruang rawat Kai dan mendapati Kai tidak sendiri.

“Lu Han oppa..” Kai dan Lu Han melihat ke arah pintu.

“Aku diberitahu Suho kalau Kai sakit jadi aku menjenguknya.” Jeo Rin dan Min Young berjalan menuju ranjang Kai. Lu Han bangkit dari duduknya.

“Duduklah, Young.”

“Ani. Jeo Rin saja yang duduk.”

“Bagaimana keadaanmu? Karena kau sudah di rumah sakit, bagaimana kalau kita memeriksa keadaanmu?” Lu Han mengelus rambut Min Young. Mereka jadi pusat perhatian Kai dan Jeo Rin.

“Aku baik-baik saja, oppa.”

“Nugu?” Tanya Kai.

“Shin Min Young, hoobae kita saat di JHS dan SHS, Kai.”

“Yeppo..” Tiga orang di ruangan itu terkejut mendengar Kai.

“Sepertinya Kai kembali seperti dulu. Dia akan berkata seperti itu setiap melihat yeoja yang menurutnya cantik.” Bisik Lu Han pada Jeo Rin.

“Min Young sudah menikah, Kai.”

“Jinjja? Sayang sekali.” Benar dugaan Lu Han. Kai sakit, bad boy.

“Kau masih mau di sini, Young?” Min Young menggeleng.

“Kami pulang, Kai. Cepat sembuh.” Kata Lu Han.

“Cepat sembuh, Kai. Jeo Rin, aku duluan.” Hening setelah Min Young dan Lu Han pergi. Kai berdeham mengusir kecanggungan.

“Kau mengingatku?” Kai menggeleng.

“Namaku Kang Jeo Rin. Aku..” Jeo Rin berhenti. Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Kau siapaku? Apa kau temanku sama seperti Lu Han?”

“Ani. Aku.. Mungkin ini terlalu rumit. Kita dijodohkan.”

“Mwo??”

“Wae? Kau keberatan?” Reaksi Kai berbanding terbalik dengan saat dulu mereka dijodohkan.

“Aku dijodohkan dengan dua namja. Kau dan Joonmyun oppa. Aku harus memilih satu diantara kalian. Dan aku..”

“Kau?”

“Lupakan. Apa kau sudah makan?” Kai menggeleng. Jeo Rin melihat jam tangannya.

“Mungkin sebentar lagi suster akan mengantar makan siangmu.”

 

———————

 

Setelah makan siang dengan Lu Han, Min Young pergi ke kantor Sehun.

“Sehun oppa di dalam?” Tanya Min Young pada sekretaris Sehun.

“Ne, nyonya. Tapi.. Presdir sedang meeting.” Terlambat. Min Young sudah membuka pintu ruangan Sehun. Pemandangan tidak mengenakkan menyambut Min Young. Perlahan Min Young menutup pintu ruangan Sehun.

“Jangan katakan pada Sehun kalau saya kemari.” Kata Min Young pada sekretaris Sehun dengan mata berkaca-kaca.

“Ne, nyonya.”

@ Oh Sehun’s room

“Apa yang kau lakukan?” Sehun mendorong Yoo Ra kuat. Yoo Ra baru saja menciummya. Ia langsung menarik kerah kemeja Sehun begitu ia melihat bayangan orang dari pintu kaca ruangan Sehun. Ia tidak peduli siapa yang melihat mereka. Kalau yang melihat pegawai Sehun, hal itu pasti sampai ke telinga Min Young. Akan sangat bagus lagi kalau Min Young yang berada di balik pintu itu. Dan keberuntungan berpihak pada Yoo Ra.

“Saranghae, Sehun-ah.”

“Kau benar-benar yeoja yang tidak tahu malu. Aku tidak pernah menanggapimu dari dulu. Apa kau tidak bisa melihat penolakanku? Perbuatanmu tadi bisa menjadi masalah kalau ada orang yang melihat!” Sehun berdiri lalu berjalan menuju kursi kerja, mengambil jasnya.

“Aku membatalkan kerja sama perusahaan kita.”

“Tapi..”

“Kerugianku tidak berarti apa-apa daripada masalah yang akan datang kalau kau terus di dekatku.”

 

—————–

 

Kai sudah diperbolehkan pulang. Saat ini dia sedang menuju rumahnya bersama Jeo Rin.

“Selamat datang, tuan Kai.” Para pelayan menyambut Kai begitu ia membuka pintu. Tuan Kim menyiapkan penyambutan untuk kepulangan Kai.

“Welcome home, Kai.” Tuan Kim memeluk anaknya.

“Gamsahamnida, appa.” Nyonya Kang juga menyambut Kai. Suho hanya diam menyaksikan penyambutan berlebihan untuk Kai. Kebenciannya pada Kai semakin menjadi.

“Ayo kita makan. Jae Rin ahjumma khusus memasak untuk menyambut kepulanganmu, Kai.” Kata tuan Kim. Mereka pun menuju ruang makan. Jeo Rin mengambil tempat duduk di samping Kai. Melihat itu, Suho duduk di samping Jeo Rin. Jeo Rin berada diantara mereka.

“Makan yang banyak, Kai.”

“Ne, ahjumma.” Saat Kai mau mengambil nasi, Jeo Rin mencegah Kai.

“Biar aku saja.” Jeo Rin juga mengambil kimchi dan juga ayam goreng.

“Gomawo.” Suho yang baru makan tiga suap menghentikan makannya.

“Kenapa, Suho?”

“Aku sudah kenyang, appa.”

“Eomma, aku boleh menginap di sini?” Kata Jeo Rin setelah selesai makan.

“Boleh, sayang.”

“Ajjushi? Tentu saja boleh. Sebentar lagi kau akan jadi bagian dari keluarga kami, Jeo Rin.”

“Gamsahamnida, ajjushi.”

“Nanti Han ahjumma akan mengantar keperluanmu.”

 

———————-

 

Min Young memutuskan untuk kembali bekerja. Kondisinya masih sama seperti hari-hari yang lalu. Tapi kalau ia berdiam diri di apartemen, ia akan mengingat kejadian di ruangan Sehun.

“Yeobo, kau yakin mau kerja?” Tanya Sehun setelah memakan rotinya.

“Ne.” Jawab Min Young datar, membuat Sehun heran.

“Gwenchana?”

“Gwenchana. Aku duluan.” Sehun melihat jam tangannya. Masih ada lima belas menit lagi dari waktu biasa mereka berangkat.

“Kenapa buru-buru? Kita berangkat bersama.”

“Aku sudah seminggu tidak masuk. Dan aku sedang ingin menyetir sendiri.” Min Young berlalu.

“Ada apa dengan Min Young? Dia aneh sejak semalam.”

 

—————-

 

“Neo?! Buat apa kau kemari? Kerjasama kita sudah batal!” Ucap Sehun yang mendapati Yoo Ra di ruangannya.

“Aku minta maaf. Jangan batalkan kerjasama perusahaan kita. Aku akan berhenti mengejarmu, Sehun-ah.” Sehun menghela nafas.

“Baiklah. Pegang kata-katamu.” ‘Tentu saja aku tidak melakukannya. Aku hanya ingin dekat denganmu, Sehun.’ Batin Yoo Ra.

@ Min Young’s office

“Selamat siang, Presdir Oh.” Sapa sekretaris Min Young.

“Siang. Min Young ada?”

“Sajangnim sedang meeting, Presdir.”

“Tapi ini sudah jam makan siang.”

“Sajangnim meeting sekalian makan siang, Presdir.” Sehun menganggukkan kepalannya lalu masuk ke ruangan Min Young. Ia berjalan menuju meja kerja Min Young. Sehun mendapati banyak pekerjaan Min Young di sana.

“Kenapa Min Young tidak berhenti kerja saja? Dia pasti akan kelelahan lagi setelah mengerjakan file-file ini. Kondisinya belum pulih total. Tapi Min Young sakit apa? Aku harus memaksanya periksa ke dokter.” Sehun melihat jam tangannya. Sepuluh menit lagi jam makan siang habis. Akhirnya orang yang ditunggu Sehun datang.

“Aku sudah lama menunggumu, Youngie.” Min Young melirik Sehun sekilas lalu menuju meja kerjanya. Langsung mengerjakan sebuah file tanpa mempedulikan keberadaan Sehun. Sehun pun menghampiri Min Young. Berdiri menyandar pada meja kerja Min Young.

“Aku ingin makan siang denganmu.”

“Aku sibuk, oppa. Dan aku sudah makan siang.” Sahut Min Young tanpa melihat Sehun. Hening. Sehun memandangi Min Young. ‘Ada yang aneh dengannya. Seharusnya Min Young menanyakan aku sudah makan siang atau belum.’ Batin Sehun.

“Oppa kembalilah ke kantor.” Min Young melihat jam tangannya.

“Jam makan siang sudah habis.” Sehun menahan tangan kanan Min Young yang hendak pergi. Ia menatap Min Young yang berdiri di hadapannya. Tangannya yang tadi menahan tangan Min Young sekarang berada di tengkuk Min Young. Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Min Young. Saat hidung mereka bersentuhan, Min Young memalingkan wajahnya.

“Aku sudah periksa ke dokter. Dokter bilang aku tidak boleh berciuman karena penyakitku menular.” Sehun berusaha menahan tawanya. Ia menarik dagu Min Young agar istrinya itu menatapnya.

“Jinjja? Sakit apa itu? Dokter mana yang melarang suami untuk mencium istrinya? Jangan bohong, Youngie. Kau tidak akan ke rumah sakit kalau tidak ada yang menemanimu.” Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Min Young lagi. Semakin mempersempit jarak wajah mereka dan bibir Sehun sukses menempel di bibir Min Young. Ia melumat bibir bawah Min Young lembut. Min Young tidak membalas ciuman Sehun. Ia terus teringat Sehun yang berciuman dengan Yoo Ra. Min Young menunduk begitu Sehun melepas ciumannya.

“Apa apa?” Sehun menarik dagu Min Young.

“Aku harus segera pergi.” Sehun menahan Min Young lagi.

“Aku akan menjemputmu nanti.”

“Aku bawa mobil.”

“Aku akan tetap menjemputmu. Kita pulang bersama.”

“Aku lembur.” Min Young beralasan.

“Tidak. Kau harus pulang denganku.”

“Pekerjaanku menumpuk, Sehun.”

“Bawa pulang ke rumah. Aku menjemputmu nanti.” Sehun mengecup bibir Min Young sebelum pergi. Min Young menyentuh bibirnya. Ia tidak sanggup setiap Sehun memperlakukannya seperti itu. Ia selalu teringat Yoo Ra. Tidak ada yeoja yang dekat dengan Sehun selain Min Young dan dia tidak mau mengakui kalau Sehun dekat dengan Yoo Ra.

 

—————–

 

“Oppa melihat Jongin?” Tanya Jeo Rin pada Suho. Saat ini yang berada di rumah hanya Suho, Kai, dan Jeo Rin, beserta para pembantu tentunya. Tuan Kim mengurus perusahaannya yang berada di Inggris karena kedua anaknya hanya fokus pada perusahaan mereka yang ada di Asia.

“Tidak. Dan aku tidak peduli.” Jawab Suho tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah.

“Oppa, dia dongsaengmu. Oppa tidak bisa menyalahkan Jongin. Dia juga tidak mau hal itu terjadi. Berbaikanlah dengannya, oppa.” Suho meletakkan kasar majalah yang sedang ia baca ke meja. Ia berjalan mendekati Jeo Rin.

“Mungkin aku akan berbaikan dengannya kalau dia tidak merebutmu dariku.” Suho melewati Jeo Rin. Jeo Rin sedih. Tidak seharusnya dua bersaudara itu musuhan.

 

—————–

 

“Hei!” Jeo Rin menyapa Kai yang duduk di pinggir kolam renang.

“Kau sudah pulang? Lama sekali.” Kai kesal.

“Mian. Besok aku akan pulang lebih cepat.” Jeo Rin duduk di sebelah Kai. Kai membuang nafas berat.

“Aku bosan di rumah sendiri.”

“Kan ada Suho oppa?”

“Aku tidak menyukainya.” Jeo Rin menatap Kai.

“Waeyo?”

“Molla. Aku tidak suka melihatnya.”

“Dia hyungmu, Jongin-ah. Kau tidak boleh membencinya.”

“Arra. Tapi, kenapa dia selalu menatapku dengan kebencian?” Jeo Rin tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak mau mengatakan apa yang menyebabkan Kai dan Suho bermusuhan. Bisa-bisa Kai juga akan membenci Suho.

“Itu hanya perasaanmu saja, Jongin-ah. Kau sudah makan?”

“Belum. Aku menunggumu.”

“Kajja, kita makan.”

 

——————

 

TOK! TOK! TOK!

Jeo Rin segera membuka pintu kamarnya.

“Jongin? Ada apa?”

“Aku hanya ingin melihatmu.” Jeo Rin mempersilahkan Kai masuk. Ia melangkah menuju sofa dan duduk di sana.

“Kau sedang apa?” Kai duduk di samping Jeo Rin.

“Mengerjakan pekerjaan kantorku.” Kai mengangguk. Selanjutnya Kai memandangi Jeo Rin yang fokus pada laptopnya. Merasa diperhatikan, Jeo Rin menghentikan kegiatannya.

“Kenapa melihatku terus?”

“Aku berpikir, mungkin aku bisa mengingatmu kalau terus melihatmu.” Jeo Rin menoleh pada Kai. Membuat mereka saling bertatapan cukup lama.

“Sepertinya aku mengganggumu.” Kai beranjak.

“Ani. Tetaplah di sini.”

“Aku tidak pergi. Aku hanya ingin melihat kamarmu.” Jeo Rin menunduk malu. Ia melanjutkan pekerjaannya lagi. Kai mengelilingi kamar Jeo Rin. Tidak ada yang spesial karena kamar Jeo Rin kamar tamu. Kai merebahkan dirinya di tempat tidur Jeo Rin. Jeo Rin menghampiri Kai begitu pekerjaannya selesai. Kai menghadap Jeo Rin yang duduk di sampingnya.

“Besok aku sendirian lagi.” Jeo Rin tampak berpikir.

“Pinjam handphonemu.” Kai mengambil handphonenya dari saku celana. Jeo Rin mengetik nomor handphonenya lalu menekan tombol hijau. Ia tersenyum melihat nama kontak yang diberikan Kai untuknya. Jeo Rin mengembalikan handphone Kai.

“Hubungi kontak itu kalau kau bosan.”

“My Girl?”

“Itu nomorku. Aku baru tahu kau menamaiku itu.”

“Bagaimana hubungan kita dulu?” Kai meletakkan kepalanya di pangkuan Jeo Rin.

“Kita sangat dekat. Seperti kekasih, walaupun tidak ada pernyataan tentang itu. Kita dekat karena dijodohkan.” Jeo Rin mengelus rambut Kai.

“Jadi kita dekat karena dijodohkan?” Jeo Rin diam. Ia ingin mengatakan perasaannya sekarang sekalipun Kai tidak mengingatnya.

“Apa tidak ada cinta diantara kita?” Kai menatap Jeo Rin dalam.

“Kau mencintaiku.”

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Awalnya aku berpikir aku harus bisa dekat denganmu karena dijodohkan. Aku harus bisa membiasakan diri denganmu. Tapi akhirnya aku sadar, aku membutuhkanmu. Aku ingin kau selalu berada di dekatku. Aku juga mencintaimu.” Kai mendudukkan dirinya. Menatap Jeo Rin intens.

“Jinjja? Tapi aku tidak mengingatmu.”

“Aku akan membantumu mengingatku.”

“Bagaimana kalau aku tidak bisa mengingatmu?” Jeo Rin menghela nafas.

“Maukah kau memulai dari awal denganku? Tapi aku berharap kau bisa mengingatku.” Tangan Kai bergerak mengelus pipi Jeo Rin lalu meraih tengkuk Jeo Rin. Mendekatkan wajahnya ke wajah Jeo Rin. Perlahan Jeo Rin memejamkan matanya. Bibir Kai sudah menempel di bibir Jeo Rin. Kai melumat bibir bawah Jeo Rin lembut. Jeo Rin merasakan ciuman Kai berbeda kali ini. Begitu lembut. Masih dengan dahi yang saling menempel, Kai berkata,

“Aku merindukanmu.”

“Ne?” Jeo Rin bingung. Apa maksud perkataan Kai?

“Aku tidak tahu kenapa, tapi aku selalu merindukanmu. Setiap saat.” Kai memeluk Jeo Rin.

“Bolehkah aku tidur di sini?” Jeo Rin menatap Kai. Walaupun Kai amnesia, sikapnya pada Jeo Rin tidak berubah, ralat, sedikit berubah. Kai tidak pernah minta izin seperti itu, ia akan langsung melakukan apa yang ia inginkan.

“Aku tidak akan macam-macam.” Jeo Rin mengangguk.

 

TBC..

 

Kai bicara cinta saudara-saudara. Penyakit gombalnya kumat.*abaikan* Sehun, Min Young, anggap aja mereka gk dewasa. ^^

7 thoughts on “TRUE LOVE (Chapter 18)

  1. huaaa akhirnya udah sampe chap 18 dan konflik semakin banyak saja huft hehe :3 awalnya aku kira rin bakalan nikah sama suho dan kai sdh rela ternyata crta masih panjang kkk xD duh semakin rumit aja hehe semoga ingatan kai pulih lagi. ditunggu chap selanjutnya

  2. Thor ini ff terkeren yg pernah kubaca!! xD dari chap 1 udah rameee, lanjut ya thor jgn lama2 juseyo~ I’ll wait, nan gidaryo~^^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s