Lovin’ Ice Cream

Lovin’ ice  cream

[Pic] ~Lovin' Ice Cream~

|Author:Dreamcreampiggy|Length:Oneshot|Genre: Romance & Fluff |Rating:Teenager|Cast: Wu Yi Fan/Kris (EXO-M) & Kim Mi Sun (OC)|

Disclaimer:

Cast are belongs to God, their self, and their parents except Original Characters. They are fake cast made by myself as an Author. Stories are mine. NO ONE allowed to PLAGIARIZE, copy-paste, translate, edit, and change half or this entire story without my permission.

“~***~”

Our love is enough for two describable sentences

First, as sweet as ice cream

And second, as beautiful as summer season~

Mi Sun berjalan melewati jalanan Myeong-dong pada musim panas tahun ini dengan senyum mengembang. Langkahnya yang dibalut dengan sepatu boots berwarna coklat tampak tegas dan meninggalkan bunyi yang enak didengar ketika beradu dengan aspal tanah. Dress putih yang ia kenakan juga mengayun lembut di atas angin saat ia bergerak. Rambut sebatas bahunya jatuh begitu saja dan membuat wajah oval-nya terbingkai sempurna.

Berbeda dengan orang-orang lain yang menjinjing kantung berukuran besar yang diisi dengan berbagai barang belanjaan, Mi Sun justru tak membawa apa-apa kecuali tas tangan yang ia sampirkan di bahunya. Ia memang tidak ingin berbelanja pagi ini. Ia justru ingin mencari pekerjaan yang cocok agar bisa mengisi uang saku selama musim panasnya yang dihentikan oleh sang Ayah akibat pemborosan yang pernah dilakukan Mi Sun.

Benar memang ketika banyak orang yang mengatakan bahwa di setiap hal buruk pasti tetap ada hal yang baik, buktinya kini walaupun tak bisa berbelanja, Mi Sun tetap bisa menikmati suasana musim panas yang selalu menyenangkan dan membuat dirinya ingin menghabiskan waktu di luar rumah lebih banyak sambil bersenang-senang.

Setelah berjalan kesana kemari mencari pekerjaan yang cocok dan tak kunjung mendapatkannya, Mi Sun memilih untuk melemaskan kakinya dan duduk terdiam di sebuah bangku yang terletak di depan kedai Ramyeon. Kakinya yang jenjang ia luruskan dan tangannya memijat sebentar untuk menghapus rasa lelah yang tertinggal.

“Ternyata mencari pekerjaan cukup susah ya!” Mi Sun mengeluarkan sapu tangan dari tasnya dan menggunakkan benda itu untuk membersihkan sisa keringat yang menetes di wajahnya. Ia terdiam sebentar dan mendecak kesal. Harusnya ia sama sekali tidak duduk disini yang justru membuat dirinya jadi peka dengan rasa haus yang ia ingin hilangkan tadi dengan berjalan-jalan.

Kini Mi Sun asik bergumam sendiri dan berpikir apakah ia harus membeli minum dan menghabiskan uang terakhirnya lalu membatalkan rencana awal yang ia buat untuk membeli Ice Cream terkenal yang dieluh-eluhkan teman-temannya sangat enak di pinggir jalan Myeong-dong dan dijaga oleh laki-laki paling tampan di Seoul, atau menahan rasa hausnya.

“Tapi kalau aku tidak membeli minum, aku bisa mati! Lalu tidak mungkin juga aku menggunakkan uang untuk pulang agar bisa membeli Ice cream itu! Apalagi aku hanya bisa sesekali ke Myeong-dong! Aishhh! Ini semua karena Appa!” Mi Sun mulai asyik sendiri dan tak sadar dengan dunia di sekelilingnya.

~***~

In our first meet, you already gave me that lovely feels~

 “Terima kasih Ramyeon-nya  ahjumma! Aku akan mampir selepas bekerja!” Mi Sun yang sedang menelan air liurnya untuk menekan rasa haus sepertinya tidak begitu menghiraukan laki-laki di belakangnya yang baru saja keluar dari pintu kedai Ramyeon yang ditandai dengan tirai putih. Pintu kedai yang rendah, membuat laki-laki bertinggi tubuh di atas rata-rata bernama Kris itu menunduk dan berhenti melangkah ketika ia melihat Mi Sun sedang duduk sambil menggerutu di kursi kayu yang terletak di pintu samping kedai.

Kris menoleh ke belakang dan menembus tirai yang tergantung di atas pintu masuk untuk melihat keadaan tempat makan Ramyeon itu yang tidak ramai.

Kenapa gadis itu duduk di sini?

Kris menggelengkan kepalanya hingga membuat rambut pirangnya bergerak-gerak. Senyum yang tadi terulas manis di atas wajahnya yang dingin kini menghilang dan ia hendak melangkah kembali untuk bekerja sebelum Mi Sun memekik dengan sebal.

“Aku haus! Aishhh!” Mi Sun menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil hingga membuat Kris sedikit mengernyit dan terkejut. Sepertinya ia harus membatalkan lagi tujuannya untuk pergi. Ia heran karena bahkan gadis itu tak merasakan kehadirannya. Kris terdiam dan mengusap tengkuknya lalu membuka tas hitam yang tersampir melintang dari bahu kiri hingga pinggang kanannya. Kris mengeluarkan sebuah botol mineral dari tasnya dan tak memikirkan bahwa ia juga mungkin akan kehausan di musim panas ketika matahari bersinar menyengat seperti ini.

Tapi karena dorongan dari dalam hatinya, Kris kemudian menepuk bahu Mi Sun. Gadis itu menoleh dan matanya bertatapan langsung dengan mata Kris yang juga melihat tepat ke arahnya. Wajah Mi Sun yang tidak begitu cantik namun memiliki keunikan sendiri dibandingkan dengan gadis-gadis lain membuat jantung Kris yang biasa berdegup normal menjadi bertalu-talu tak karuan.

“Ya?” Mi Sun tersenyum sambil meyipitkan matanya karena tak bisa melihat laki-laki dihadapannya dengan jelas. Awan yang tadinya menutupi sang mentari kini tertiup angin menjauh hinggga ketika Mi Sun berbalik, cahaya mentari itu kebetulan bersinar tepat di wajahnya. Membuat Mi Sun hanya melihat cahaya mentari yang terpantul pada wajah Kris dan membuat tampak aslinya tak begitu jelas.

“Untukmu.” sebuah botol mineral kini berada dihadapan Mi Sun dan membuatnya begitu senang. Ia membuka mulutnya tak percaya dan mengerjap. Matanya tak kuat lagi untuk tetap membuka di tengah matahari yang bersinar itu.

Khamsahamnida.” ucap Mi Sun yang kemudian berdiri dan membungkuk. Mi Sun mengambil botol mineral itu dan melihat Kris yang berbaik hati padanya itu mengangguk. Kemudian tanpa menunggu lama, Kris segera berjalan meninggalkan dirinya. Mi Sun tersenyum senang sekali karena bertemu laki-laki yang baik hati seperti itu. Ia membuka segel botol mineral dan hendak meminumnya ketika pikiran “Siapa nama pria itu?” dan “Bagaimana ia bisa sangat baik?” melintas di otaknya. Mi Sun segera mengurungkan niatan yang menggebu-gebu dan melangkah menuju pinggir jalan.

Ia tak melihat jelas wajah laki-laki yang membantunya dan kini ia mulai mencari-cari bentuk tubuh laki-laki yang ia rasa sangat tinggi tadi, terlebih lagi Mi Sun juga sempat melihat warna rambut laki-laki tadi yang mencolok.

Pandangannya berhenti ketika Mi Sun berhasil menangkap figur belakang Kris yang tegap dan menjulang di antara arus orang-orang yang berlalu-lalang dengan langkah cepat.

Gomawo~”  gumaman itu membuat Mi Sun kembali tersenyum dan memeluk erat botol mineral tadi. Ia masih memperhatikan penolongnya itu sambil membuka tutup botol dan mendekatkannya pada bibirnya. Mi Sun mendesah lega ketika air mineral yang segar menuruni kerongkongannya yang sudah kering.

Tunggu! Entah kenapa Mi Sun merasakan sesuatu di kerongkongannya. Bukan sesuatu yang terasa jelas memang. Melainkan samar terasa. Mi Sun menggelengkan kepalanya dan mengabaikan rasa yang begitu unik. Jantungnya berdegup cepat ketika air itu menuruni kerongkongannya dan membawa perasaan senang pada hatinya.

~***~

“Lovin’ Ice Cream”

Ketika nama kedai itu terbaca jelas oleh mata Mi Sun, senyumannya segera mengembang dan hembusan napas terasa sangat melegakan pernapasannya. Setelah hampir satu jam duduk terdiam di depan kedai, kini Mi Sun memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju kedai Ice Cream terkenal sembari melihat-lihat dan menawarkan diri untuk melamar pekerjaan yang tersedia. Namun nihil. Sepertinya sedikit sekali yang membuka lowongan pekerjaan.

Maka, ketika Mi Sun berhasil datang ke kedai Ice Cream yang ingin sekali ia coba hingga memilih untuk mengumpulkan uang-uang sisa yang terselip di tas-tas miliknya, Mi Sun tanpa menunggu lama segera mengantri di barisan yang terasa sangat panjang di pinggir jalan. Belum lagi hampir semua yang mengantri adalah perempuan. Mi Sun menggeleng dan tak bisa membayangkan setampan apa penjaga kedai itu.

Hampir setengah jama Mi Sun menunggu sangat lama. Kini, hanya satu orang perempuan yang mengantri di depannya selagi masih banyak orang-orang mengantri di belakang tubuhnya. Mi Sun berjalan maju sambil menunduk. Ia membongkar isi tasnya dan mengeluarkan dompet kecil berisi uang dari dalam.

Kedai Ice Cream itu sendiri hanyalah kedai kecil dengan meja tinggi berlapis kaca melengkung untuk menyimpan Ice Cream dan meja kecil untuk bagian kasir juga sebuah papan berbentuk dan berwarna serupa dengan meja tersebut yang dapat di angkat ke atas untuk pintu masuk. Warna kedai itu sunggu manis dan cantik. Mi Sun terpesona melihat Design-nya yang menarik hati serta atap kedai itu melengkung dan berwarna Pink juga Soft Blue yang menarik hati.

Tak berapa lama kemudian, sepertinya gadis di depannya yang sempat tertawa kecil bersama laki-laki penjaga kedai yang suaranya tak asing lagi di telinga Mi Sun sudah pergi, dirinya segera mendongakkan wajah dan beku di tempat.

Benar kata orang-orang! Penjaga kedai Ice Cream ini benar-benar tampan! Mi Sun bahkan merasa bahwa tak ada lagi laki-laki di Seoul yang bisa menandingi wajah dan postur sempurna laki-laki di depannya. Mi Sun masih terpaku dan segera sadar ketika anak kecil yang berbaris di belakangnya menarik baju Mi Sun dan meminta gadis itu untuk memesan lebih cepat.

“Maaf.” Mi Sun membungkukkan tubuhnya malu. Semburat merah terlukis jelas di pipinya yang putih hingga membuat laki-laki paling tampan baginya itu tertawa dan mengangguk. Bagi laki-laki itu, Mi Sun hanyalah gadis keseribu yang melihatnya sambil menganga terpesona layaknya tadi.

“Hausmu sudah hilang?” laki-laki penjaga kedai itu menyodorkan daftar menu Ice Cream yang bervariasi pada Mi Sun. Gadis itu membelalak heran dan perhatiannya pada menu segera buyar. Ia menatap wajah laki-laki itu lekat-lekat dan terkesiap ketika menyadari rambut pirang dan tinggi tubuh yang terukur jelas hanya dengan mata telanjang.

“Ah! Jangan-jangan kau yang memberiku air mineral ya?” Mi Sun tersenyum lebar yang dibalas anggukkan mantap dari laki-laki itu.

“Bisa cepat tidak?” suara pelanggan lain yang mulai menggerutu akhirnya menjadi dorongan Mi Sun untuk memilih sesegera mungkin. Ia sedikit bingung memilih rasa Ice Cream yang beragam. Ia harus memilih dengan tepat karena sepertinya ia hanya bisa menikmati Ice Cream itu sesekali.

“Aku pilih Vanilla dengan Wafer Cone berukuran sedang.” Mi Sun mengucapkan rasa yang terdengar sederhana dan sangat umum itu. Tapi justru laki-laki tadi tersenyum semakin lebar dan mengangguk. Ia segera berjalan dan menyiapkan pesanan Mi Sun. Setelah menyerahkan uang itu dan mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini, Mi Sun mengucapkan terima kasih dan berjalan menjauh.

“Kau bisa menunggu disini? Akan aku traktir Ramyeon nanti!” suara laki-laki tampan tadi yang khas karena berat dan dalam membuat Mi Sun membalikkan tubuh dan menatapnya. Tanpa menunggu lama Mi Sun segera mengangguk dan berjalan kembali ke kedai.

Ia tak tahu mengapa dirinya bisa begitu saja berbalik dan kembali ketika laki-laki itu berteriak memintanya. Mi Sun bahkan baru mengenal orang itu dan tidak tahu apakah ia baik. Tapi sesuatu yang ada di dalam hatinya membuat Mi Sun menurut. Belum lagi senyuman laki-laki itu sangat manis. Rasanya bisa melelehkan hati Mi Sun dalam sekali tarikan di bibirnya yang terlihat lembut.

“Kris” laki-laki itu mengulurkan tangan dan Mi Sun menjabatnya.

“Mi Sun.” ia menjawab singkat dan tak bisa berhenti menatap lekat-lekat mata laki-laki tampan bernama Kris yang sedang membukakan kunci pintu masuk menuju kedai. Ketika papan meja itu terangkat ke atas, Mi Sun segera melangkah masuk dan duduk di sebuah kursi paling pojok hingga tak terlihat dari sisi pelanggan yang ditunjukkan oleh Kris. Posisi yang tepat itu berhasil menghalangi sinar matahari yang panas hingga Mi Sun merasa lebih tenang dan ia juga bisa melihat Kris dari samping.

Lelehan Ice Cream membuat Mi Sun kembali sadar dan cepat-cepat menyantap makanan favoritnya.

Enak sekali!

Mi Sun tak pernah memakan Ice Cream se-lezat ini sebelumnya. Ia tersenyum menyadari rasa Vanilla yang berbeda dan lebih gurih dari rasa Vanilla milik kedai Ice Cream lainnya. Sepertinya Mi Sun sudah jatuh cinta dengan Ice Cream kedai ini dan mungkin selanjutnya adalah sang penjaga kedai…

~***~

“Lovin’ Ice cream, imagine~

Sweet flutters, it melts in slowly

Happy moments, hope of being absorbed

Come closer~ Feel it, my sweetest love~”

-As One & EZ-Life (Lovin’ Ice Cream)-

Kris tertawa lebar hingga matanya menyipit. Ia menangkupkan tangan kirinya di depan wajahnya selagi Mi Sun ikut tertawa. Hari ini sepertinya senyuman, dan tawa menghiasi setiap detik yang mereka lewati bersama.

Dan itu semua adalah hal baru bagi Kris yang memiliki kepribadian pendiam, sungguh unik memang, hanya beberapa jam bertemu dan ia sudah bisa bersenang-senang dan menghapus kepribadian tertutup itu jauh-jauh hingga hanya menyisakkan sebuah celah yang lebar sebagai pintu masuk bagi Mi Sun.

Mentari yang tadinya bersinar menyengat di siang hari kini mulai terbenam dan lenyap. Ice Cream di kedai itupun sudah habis. Maka kini, Mi Sun dan Kris memilih untuk melangkah beriringan di jalanan Myeong-dong. Seperti janji Kris tadinya untuk mentraktir Ramyeon kepada Mi Sun saat gadis itu hendak pergi sepertinya harus dibatalkan ketika tempat favorit Kris sebelum atau selepas bekerja itu tutup. Maka, untuk menghapus rasa bersalah yang ada, akhirnya Kris memilih untuk mentraktir Mi Sun Ice Cream di kedainya lagi. Walaupun memang sudah habis, setidaknya Kris masih memiliki persediaan Ice Cream yang disediakan oleh pemilik kedai untuk dirinya karena sudah berjasa membuat usahanya semakin maju.

Kris yang sudah terlalu sering mengkonsumsi Ice Cream justru kini merasa bosan hingga tanpa ragu memberikannya pada Mi Sun yang sedag asyik mengunyah dan merasakan manis yang terasa di seluruh rongga mulutnya. Turun menyelinap lembut di kerongkongan dan membuat lambungnya terasa penuh dan puas.

“Jadi kau memilih untuk mati kehausan hanya karena ingin membeli Ice Cream di kedai tempatku bekerja?” Kris menegaskan ucapan Mi Sun sebelumnya yang sempat membuat dirinya tertawa tak percaya.

“Jangan begitu! Lagipula aku benar-benar tak punya uang. Maka dari itu aku sedang mencari pekerjaan untuk musim panas ini!” Mi Sun menepuk pelan lengan Kris dan beralih untuk kembali menyendok Ice Cream pemberian Kris.

“Kau mau kubantu mencari pekerjaan?” tanya Kris.

“Memangnya bisa?”

“Bekerja denganku bagaimana?” Mi Sun terdiam. Kakinya seperti tertempel erat dengan aspal di bawahnya hingga ia tak bisa melangkah kemanapun lagi. Bayangan ia bekerja dengan Kris membuat semburat kembali muncul di pipi Mi Sun. Ia sungguh tak tahu mimpi macam apa yang mendatanginya tadi malam hingga seorang laki-laki setampan Kris bisa berkenalan dengannya dan sudah sangat baik hanya dengan hitungan jam. Mi Sun merasa sungguh beruntung hari ini.

“Kau tidak mau?” Kris mengerutkan dahinya menyadari Mi Sun yang tak mengatakan apapun padanya. Mi Sun bisa melihat kekecewaan di wajah Kris dan segera menggelengkan kepala.

“Tidak! Aku mau! Aku mau!” Mi Sun mengangguk mantap dan menusukkan sendok Ice Cream yang tadinya masih menggantung di mulutnya ke atas Ice Cream Bubble Gum berukuran sedang yang berada di dalam Cup kertas.

“Benar?” Kris menaikkan sebelah alisnya. Selama ini ia butuh sekali asisten yang bisa membantunya. Apalagi atasannya sendiri menganjurkan hal itu. Sepertinya bekerja sendirian bukanlah pilihan yang tepat untuk orang sepertinya. Lagipula banyak hal yang menjadi alasan kenapa bekerja dengan orang seperti Mi Sun bisa mengasyikkan.

“Iya! Aku siap kalaupun harus bekerja mulai besok!” Mi Sun melonjak-lonjak di tempat dan tak bisa berhenti tersenyum. Akhirnya ia berhasil mencari pekerjaan dan terlebih lagi ia bekerja dengan seseorang sebaik dan setampan Kris. Pantas saja Mi Sun menganggap musim panas ini sangat istimewa! Ternyata hatinya sudah bisa merasakan kehadiran orang seperti Kris yang datang!

“Kalau begitu baiklah. Aku akan berbicara dengan atasanku dan besok kau bisa kembali ke kedai. Masalah diterima atau tidak nanti saja. Kalu diterima kau bisa langsung bekerja, kalau tidak, aku bisa mentraktir makan Ramyeon besok. Berharap saja kedai Ahjumma itu masih buka sore besok!” ucapan panjang lebar Kris hanya ditanggapi dengan anggukan dari Mi Sun. Sepertinya gadis itu sangat menikmati suara Kris yang terdengar menyapa telinganya. Suara khas itu terkadang membuat jantungnya berdegup-degup.

“Kau mau coba?” Mi Sun kemudian menyodorkan Cup Ice Cream yang ia genggam. Sepertinya ia tak kuat jika harus menghabiskan Ice Cream itu sendirian. Maka dari itu ia menawarkan pada Kris dan berharap laki-laki itu menerimanya.

“Memang boleh?”

“Boleh!” Mi Sun sangat yakin ketika mengatakan kata itu. Sesegera mungkin Mi Sun mengambil satu sendok Ice Cream yang terlihat segar dan manis lalu mengarahkannya pada mulut Kris.

Kris dan Mi Sun berhenti melangkah. Posisi mereka saling berhadapan dan kini Mi Sun bisa melihat wajah Kris dengan lebih jelas walaupun harus mendongakkan wajahnya.  Alis yang tebal itu tampak menukik tajam dan membuat ketegasan dalam wajahnya. Hidung yang mancung dengan sempurna, mata yang tegas, bentuk rahang yang kuat dan bibir merah yang mungkin terasa manis itu membuat jantung Mi Sun lagi-lagi berdegup kencang. Ia berdeham dan menggerakan sendok Ice Cream di depan wajah Kris. Memberi isyarat agar laki-laki itu membuka mulutnya.

Tidak berbeda jauh dengan Mi Sun, Kris juga merasa sesuatu yang aneh dalam dirinya. Mi Sun tampak tak berbeda dengan gadis-gadis lain, tapi sesuatu membuatnya lebih unggul sehingga Kris merasakan perasaan yang berbeda saat berdekatan dengan gadis ini walaupun hanya beberapa jam yang baru terlewati.

Akhirnya Kris membuka mulutnya dan sesendok Ice Cream berhasil ia rasakan. Tapi kini bukan Ice Cream itu yang membuat semburat merah muncul di wajah Kris samar-samar. Melainkan kenyataan bahwa ini adalah ciuman tak langsungnya dengan gadis unik yang baru ia kenal beberapa jam lalu.

Tampak ajaib hingga ia rasa hatinya juga meleleh seiring dengan Ice Cream yang ia telan. Kris yang sudah terbiasa memakan makanan manis dan dingin itu baru menemukan sensai lain yang terasa saat Mi Sun memberikan padanya. Sesuatu yang membuat dirinya ingin terus bersama gadis itu.

Sedikit aneh memang. Ternyata waktu tak akan pernah bisa menghalangi atau menjelaskan perasaan seseorang. Bahwa ternyata cinta itu lebih cepat bersemi seperti cepatnya Ice Cream meleleh di bawah sinar matahari dan begitu manis semanis Ice Cream yang dirasakan setiap orang ketika mengecapnya.

~***~

Have you ever felt that times flows faster?

That’s why I never imagine that we’re finally walk and trough everything this far.

Now, we are one just like Ice Cream and its cone.

Being so complete for each other.

KRIS

Aku orang yang sangat tertutup bagi siapapun. Apakah itu perempuan atau laki-laki, aku hanya memikirkan diriku sendiri. Hingga suatu hari saat musim panas itu, aku menemukan seorang gadis yang membuat jantungku berdebar-debar hanya melihat wajahnya. Tidak cantik, tidak manis, namun sangat lucu hingga itu semua menjadi sangat sempurna.

Aku bahkan hanya memerlukan waktu satu hari dan sudah bisa menyadari betapa aku menyukai gadis ini lebih dari apapun di dunia. Satu hari kemudian aku dan ia menghabiskan setiap hari bersama untuk bekerja di tempat yang sama. Aku juga menceritakan semua tentang hidupku padanya yang berpikiran lebih sederhana dan tenang.

Seperti Ice Cream dan Wafer Cone-nya yang menjadi terobosan besar karena berhasil menyatukan dua hal berbeda yang ternyata berhasil menjadi kesatuan yang tak terpisahkan, begitulah aku dan Mi Sun.

Aku sempat bertanya kenapa ia memilih Ice Cream rasa Vanilla ketika masih banyak rasa lain yang tersedia. Dan jawaban gadis itu berhasil membuatku tersenyum. Membuat aku tak lagi ragu untuk menyatakan perasaanku di depan kedai Ice Cream tempat kami bekerja yang sudah tutup saat matahari sedang terbenam.

Aku tak perduli dengan lalu-lalang orang-orang yang memperhatikkan kami karena yang aku perhatikkan hanyalah gadis ini. Aku berani bersumpah bahwa aku dan dia akan selalu bersama persis seperti Ice Cream dan Wafer Cone-nya yang menjadi favorit semua pembeli. Karena kami akan memulai sebuah kisah cinta sederhana yang lebih manis dari Ice Cream dan membuat sesuatu yang baru. Mempertahankan tawa dan senyum kami setiap hari sembari melewati jalanan Myeong-dong yang menjadi saksi bisu dari semua hal yang kami lalui di depan kedai. Entahlah hanya obrolan ringan, tawa serta senyum, sebuah pelukan, atau ciuman pertama yang mengantarkan rasa bahagia.

~***~

Kris menutup rolling door kedai Ice Cream mereka. Jantungnya berdebar-debar sejak tadi. Ia tak pernah menyangka bahwa dirinya yang dingin kini bisa begitu mudah salah tingkah hanya ketika berhadapan dengan Mi Sun. Kris tak tahu harus berbuat apa tapi ia yakin bahwa ia sudah mencintai gadis yang berdiri menunggunya di belakang.

Kris menepukkan kedua tangannya dan memutar berbalik menghadap Mi Sun. Kris berdeham dan berusaha meredam semburat merah yang membuat wajahnya menjadi seperti buah tomat. Kris sungguh ingin memukul dirinya sendiri. Mi Sun benar-benar gadis pertama yang berhasil membuatnya seperti ini. Ia tak tahu harus bagaimana lagi sehingga Kris memilih untuk melangkah lebih dekat dan mengusap bahu Mi Sun selagi ia menahan degupan jantungnya.

“Kau sakit?” Mi Sun memiringkan kepalanya dan tampak khawatir dengan Kris yang berbeda hari ini.

“Aniyo.” Kris menggelengkankepalanya dan menghembuskan napas susah payah. Orang-orang yang melintasi mereka seperti mencuri pandang sebentar ingin tahu dan kembali mengalihkan perhatian.

“Lalu?” Mi Sun bertanya lagi karena penasaran. Gadis itu sepertinya tak tahu bagaimana perasaan Kris pada dirinya hingga gadis itu masih bisa berkata dengan nada tenang dan wajah polos yang menggemaskan.

“Saranghae…” ketika Kris mengucapkan kata itu, waktu serasa berhenti dan ia yakin sekali bahwa jantungnya juga ikut berhenti berdetak selama satu detik. Namun ajaib ternyata Kris masih bisa bertahan. Suasana yang hanya diisi dengan suara orang-orang di sekitar mereka membuat Kris semakin gugup dan tak tahu harus bagaimana menyikapinya.

“Kris…” Mi Sun tak percaya sama sekali dengan apa yang Kris katakan dan setitik air mata tiba-tiba membasahi pipinya. Ini kali pertama seorang laki-laki menyatakan perasaannya pada Mi Sun. Tapi begitu juga dengan Kris. Jika kali pertama Mi Sun disebabkan karena kesalahan laki-laki yang tak mau melihatnya dan mengabaikannya, berbeda dengan Kris yang tak begitu suka bergaul dan menutup diri. Ajaibnya kini ia tak bisa menutup apapun dari Mi Sun. Termasuk perasaannya.

Tangan Kris kini menarik Mi Sun dalam dekapannya dan mengusap kepala gadis itu.

“Tak masalah jika kau menolakku.” Kris berbisik berusaha menenangkan Mi Sun. Gadis itu menggeleng dalam pelukkan Kris dan membalas pelukan laki-laki itu. Sungguh keajaiban bagi Mi Sun. Ia kira seumur hidupnya ia takkan mendengar sama sekali seorang laki-laki menyatakkan cinta padanya. Namun kini, seseorang seperti Kris yang sangat sempurna baginyalah yang justru menjadi orang pertama.

“Nado sarangahe.” Mi Sun mengucapkan kata-kata itu dengan tiba-tiba hingga usapan Kris pada kepala Mi Sun terhenti. Ia tak tahu harus bagaimana lagi melampiaskan rasa bahagia yang meledak-ledak hingga rasanya Kris ingin sekali berteriak senang saat itu.

“Be-benar?” Kris sempat terbata ketika itu. Ia menunduk untuk melihat Mi Sun yang masih menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Kris.

Anggukan Mi Sun sungguh membuat Kris tak bisa berkata-kata. Kris mengangkat wajah Mi Sun dan melihat mata gadis yang kini sudah menjadi kekasihnya tampak bengkak. Kris tertawa dan menghapus air mata gadis itu lalu menatapnya lama.

“Aku boleh bertanya?” Kris mengatakan hal itu dan anggukan dari Mi Sun berhasil menjawabnya.

“Kenapa kau memilih Ice Cream Vanilla saat pertama kali membeli di kedai?” Mi Sun mengerutkan keningnya dan tertawa kecil dengan suara sengau akibat menangis.

“Aku hanya tidak sengaja. Lagipula Vanilla adalah rasa favoritku. Lalu kebetulan juga aku tak punya uang untuk membeli yang lain.” Mi Sun tertawa bersama Kris. Walaupuun bukan itu harapan Kris untuk jawaban Mi Sun, namun setidaknya laki-laki itu menghargai apa yang diucapkan Mi Sun untuknya.

“Tapi-” ternyata Mi Sun belum selesai mengucapkan sesuatu hingga ia akhirnya kembali mendongak dan menatap mata Kris lebih dalam hingga jarak wajah mereka tidak lebih dari tiga centi.

“Jika aku pikir sekarang, Ice Cream Vanilla memiliki arti yang dalam untukku. Rasa yang sederhana dan umum itu sungguh membuatku terkesan. Rasa manisnya sangat lembut dan bisa di variasikan menjadi apapun. Terlebih lagi, sesuatu yang klasik itu terkadang menyenangkan. Seperti aku yang merasa bahwa kau membuatku terkesan hanya dengan bantuan dan perilakumu yang lembut. Semua hal itu membuatku merasa bahwa hari-hari bersamamu menjadi lebih berwarna. Mungkin terdengar klasik, tapi aku benar-benar mencintaimu dengan cepat hanya karena perilakumu. Cinta pada pandangan pertama-” Mi Sun mengakhiri kalimatnya saat Kris segera menghapus jarak di antara mereka berdua dan menyentuh bibir Mi Sun dengan bibirnya.

Jutaan Volt listrik seperti membuat Mi Sun tak bisa bergerak. Dugaannya bahwa bibir Kris terasa manis memang benar. Laki-laki itu sungguh memberikan rasa manis dan cinta yang membuatnya merasa bahwa dunia hanya milik mereka berdua. Kini Mi Sun sudah memejamkan matanya persis seperti Kris. Ciuman pertama bagi keduanya yang dilakukan di depan kedai membuatnya menjadi berbeda. Kris menggerakkan bibirnya dan mulai melumat bibir Mi Sun ketika gadis itu hanya terdiam dan merasakan wajahnya memerah. Bahkan lebih merah darwajah Kris.

Ciuman pertama di bawah matahari terbenam musim panas, di tengah lalu-lalang orang-orang, di jalanan Myeong-dong yang sesak, dan di depan sebuah kedai Ice Cream sederhana yang menjadi saksi semua perjalanan cinta mereka dari awal. Terkesan sederhana dan cepat memang. Tapi itulah cinta. Tak bisa dilihat dengan mata dan dirasakan dengan akal sehat. Hanya bisa dinikmati dan biarkan mengalir di atas arus waktu. Menghasilkan sesuatu yang akhirnya manis dan membahagiakan seperti Kris dan Mi Sun.

~***~

More than anyone in this world, you are the only one that I trusted

So when the next summer season is coming,

I’ll be here with you.

Stay at your side while eating Ice Cream like we used to under the summer sunshine

MI SUN

Musim panas tahun lalu aku bertemu dengannya dan akhirnya menjalin cinta dengannya. Tak terasa memang karena kali ini musim panas sudah kembali datang. Cintaku dan Kris sungguh berbeda dengan siapapun, setelah hari pertama kita bertemu saat itu aku memilih untuk bekerja bersamanya sambil mengisi musim panas bersama. Setiap hari bersamanya ternyata berhasil membuatku mengetahui semua tentangnya. Nama aslinya, dan latar belakangnya yang berasal dari Cina. Ia bahkan hanya mengatakan bahwa ia bisa berada disini karena beasiswa yang ia dapat mati-matian.

Sikap tertutup Kris pun kini sudah terbuang jauh-jauh dari dirinya.

Hari ini, bertepatan dengan musim panas yang lainnya ketika hubungan kita sudah resmi menjadi satu tahun, aku mengajaknya untuk berlibur dan menyusuri pinggiran sungai Cheonggyecheon bersama. Membiarkan suara air yang melewati bebatuan terasa asyik di gendang telinga dan kesenangan ketika tangan kita saling terkait dan menggenggam percaya satu sama lain.

“Ayo duduk disana!” aku menarik tangan Kris mendekat ke pinggiran sungai dan terduduk di undakkan tangga. Ia menurut saja selagi aku menariknya dan ia duduk tenang di sebelahku. Tangannya mengusap pipiku dan menyandarkan kepalaku pada bahu tegapnya.

Kami berdua berbicara satu sama lain tentang apapun yang ada di kepala kita saat seorang anak kecil datang dan berdiri di sebelahku sambil memegang dua Wafer Cone Ice Cream Vanilla yang sangat familiar di mata kami berdua.

“Ini untuk Noona dan Hyung!” anak itu menyodorkan dua Ice Cream yang ia pegang padaku dan Kris. Sungguh manis anak ini. Aku tak bisa membayangkan dari mana ia mendapatkan Ice Cream ini dan mengapa ia memberikannya padaku dan Kris.

Gomawo. Siapa namamu? Kau dapat dari mana Ice Cream ini?” Kris mengambil salah satu Ice Cream di tangan anak itu dan memberikan rentetan pertanyaan yang membuatku menyikut perutnya. Kris mengaduh sebentar dan mencdecak.

“Sama-sama. Namaku Wang Seok Hyeon! Aku dapat dari Ahjussi itu!” anak bernama Seok Hyeon yang baru menjawab semua pertanyaan Kris menunjuk kesebuah arah yang membuat kami berdua menoleh.

“Soo Man Ahjussi!” Kris tampak kaget ketika ia melihat pemilik dari kedai Ice Cream tempat kami bekerja berdiri tak begitu jauh dengan seragam khas kedai dan gerobak Ice Cream yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Ia melambai ramah pada kami dan kembali melayani pelanggan yang datang.

Aku menatap Kris dan tertawa selagi Seok Hyeon berjalan pergi menghampiri Soo Man Ahjussi  dan gerobak Ice Cream-nya.

“Sepertinya ia tak rela kita mengambil cuti.” Kris menggelengkan kepala sambil tertawa lebar. Aku berusaha menghentikkan tawaku dan menyodorkan Ice Cream yang ku pegang pada Kris. Ia tersenyum dan memakan Ice Cream yang kusodorkan selagi ia juga memberikanku miliknya.

Seperti inilah hal yang kuimpikan sejak dulu. Ketika aku mempunyai kekasih yang mencintaiku apa adanya dan bahagia bersamaku walaupun tak jarang aku juga merasa kurang begitu pantas bersanding dengan laki-laki setampan Kris. Namun, seperti Ice Cream yang dibuat dengan susah payah namun akhirnya membuahkan rasa yang lezat, aku juga yakin begitulah hubungan kami.

“Mi Sun.” Kris memanggil namaku dan aku segera menolehkan kepala menghadapnya.

Come closer, my sweetest love~

Aku terkesiap dan membelalak ketika lagi-lagi Kris mendaratkan ciumannya untukku. Ini memang bukan ciuman pertamaku dengannya jika aku mengingat ciumanku dengannya satu tahun yang lalu di jalanan Myeong-dong. Namun kini aku memang benar-benar menyadari bahwa Kris sering sekali menciumku di tempat umum. Entah kenapa alasannya, namun memang layaknya Ice Cream, jika tidak ditunjukkan di hadapan umum, tak akan ada yang menyadari kehadiran makanan penutup manis yang lezat itu.

Sambil menutup mata kami berdua, aku menikmati ciumannya yang terasa seperti Ice Cream Vanilla itu. Membiarkan kebahagiaan ini merasuki tubuhku dan membuatnya menjadi sesuatu yang tak terlupakan.

Berciuman di musim panas sambil merasakan Ice Cream di tangan kami berdua yang meleleh di atas matahari sungguh unik. Sambil di temani suara gemericik air, aku masih merasakan bibir Kris pada bibirku.

Manis seperti Ice Cream dan indah seperti musim panas. Sederhana, namun tak bisa kulupakan selamanya…

Pssst…

Jangan beritahu Kris okay? Aku masih menyimpan botol air mineralnya sampai sekarang ><

-Mi Sun-

 

‘This story is end right here, but not with our love…

We will live and loving each other forever”

 

-as sweet as ice cream, and as beautiful as summer season-

—————————————————————————————————————————

Author’s Note:

HOLA HOLA HOLA HALO! AAAAA! Aku seneng banget bisa kembali! Aku jujur ya kalau setelah nyelesain “Saranghaeyo Ahjussi” itu aku sempet kena Writer’s Block! Selama liburan gak menghasilkan apapun tuh bener-bener ngeselin! Sampai suatu saat, Koko sepupuku yang lagi ketagihan nonton Drama Lie To Me, ngasih aku denger Soundtrack-nya yang Lovin’ Ice Cream ini! Dan beberapa hari kemudian, aku langsung nyari Lyricnya dan kebetulan banget ketemu! Aku Cuma nyelipin satu bait Reff-nya disini. Karena sisanya kutulis sendiri wkwkwk >< Dan setelah pemanasan untuk tidur dulu dari jam 8 sampai setengah sepuluh malam, jadi deh aku berhasil nyelesain Oneshot ini sampe jam dua pagi sekarang!

Pokoknya intinya jangan lupa Comment atau nge-like dikit deh setelah baca! Kekeke… Biar aku lebih terpacu lagi untuk nulis! Oiya… FF ini sebenernya jadi special fic kalo di blog ku Imagine Piggy! Visit ya! Visit!

Oke segitu aja! Ini juga udah kepanjangan… Jangan lupa RCL! Love ya all><

8 thoughts on “Lovin’ Ice Cream

  1. Itss sooo far, right?? But, I hope u would read my complicated emotions here…haha^,^
    so glad, with millions fluff story in many pages, really, I suddenly found this another fuckin sweetest story ever, really melt down… So cheesy, so creamy, so smoothy, and whatsooooever….haha
    Great job!!!
    Aaaa—>,< I love youuuu unnieee *im sure you're elder hihi*

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s