[FREELANCE] Salt And Wound (Chapter 1)

Image

Title : Salt And Wound

Author : NadyKJI

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Romance, Rearrange Married, Hurt/Comfort, School Life

Length : Chaptered        

Rating : PG

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Eun Syu Rie (OC)
  • Soon

Other : Jung Eun Chae (OC), Chen, Sehun, (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Halo readers,

Hehe gimana prolognya? Author itu bikin prolog gara-gara lagi aneh-aneh aja. Tapi syukur bisa jadi ff ini hehehe.

Kalau boleh kasih tau *buka aib

Author itu klo baca ff dengan tag hurt/comfort  itu kurang suka karena banyak sedih nyeseknya. Namun apa daya otak author emang aneh, malah jadinya pengen bikin ff ini yang dasarnya kurang di gemari ini genrenya. Hue hehehe, semoga aja readers ga pundung dan menganggap author aneh yaa.

Warning : Next Chapnya bisa lama sekali untuk yang ini :s, maklum baru bikin (?)

Baca terus ff author ya pliss, *memelas.

Selamat membaca….

Gamsahabnida, udah mau baca ff author sampai sini. Hehehe.

___

-:Syu Rie:-

“Menikahlah… Ini sudah jalan buntu. Appa sudah tidak punya pilihan.”

Heg, nafasku tercekat, tubuhku kini dingin sedingin mayat, semua indraku mati rasa. Aku bagaikan boneka yang di dudukkan di sofa itu.

Tidak…

Aku selalu menjadi boneka appa dan eomma.

Aku hanya bisa menganggukan kepala, rasanya kepalaku mau putus ketika kupaksa mengangguk.

Seperti aku punya pilihan saja.

-:Kai:-

“Kai…”

Eomma membuka pintu kamarku. Sekarang sedang berjalan ke arahku yang sedang asik membaca buku.

Kurasakan kehadiran eomma.

“Chagiya, eomma sudah berusaha membujuk appamu. Tapi keputusannya sudah bulat. eomma sudah pernah melihat gadis itu, ia kelihatan baik, namun rapuh…”

Aish…

“I don’t have any choice at all, ne eomma?”

Kataku dingin dan keluar dari kamarku meninggalkan eomma.

Apapun itu asal aku tidak perlu berhadapan dengan eomma dan appa untuk saat ini.

-:Author PoV:-

Seminggu kemudian…

Minggu pagi yang cerah, di depan altar.

Upacara pernikahan yang sakral sedang di langsungkan, semua merasa bahagia. Kecuali 2 orang yang paling penting. Pengantinnya. Tidak ada aura bahagia setitikpun dari kedua insan yang sedang mengucapkan janji setia itu dengan kaku tanpa perasaan, seakan mereka hanyalah robot yang di program oleh pemiliknya.

Tapi memang seperti itulah mereka. Mereka hanyalah anak yang menuruti perintah orang tua, agar kesinambungan perusahaan tidak putus.

Sore harinya,

Resepsi pernikahan berlangsung di gedung hotel mewah di Seoul.

Syu Rie berada di depan panggung menerima semua ucapan yang di tunjukkan untuk pernikahannya. Kai – namja yang dijodohkan dengannya, dan sekarang secara sah menjadi suaminya itu melakukan hal yang sama. Keduanya hanya melakukan itu sebatas formalitas belaka.

Memang apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan bisnis? batin Syu Rie pahit.

Semua hidangan mewah yang di hidangkan terasa hambar. Lagu-lagu pernikahan bagaikan senandung lagu kematian di telingannya. Gaun pengantinnya yang terbuat dari sutra terasa sekasar karung di kulitnya. Tantanan dan hiasan rambut yang mewah menyiksa menyakitkan lehernya. High heels-nya yang berkilau terbuat dari kristal itu membuat tumitnya sakit. Semuanya terasa menyiksa, padahal dilihat dari sudut pandang lain, Syu Rie harusnya menjadi pengantin yang berbahagia.

-:Kai:-

‘Wah, putramu tampan sekali, mempelai wanitanya pun cantik… Anda tidak salah pilih.’

‘Ah, bukan apa-apa…’

‘Tuan dan Nyonya Kim, selamat ya…. Kami turut berbahagia, semoga pasangan itu berbahagia, haha’

Cih, bisa-bisanya mereka memberikan selamat dan bercakap-cakap dengan senangnya…

Kupingku panas mendengar semua percakapan berbahagia tersebut. Sudah seharian aku harus melakukan hal bodoh ini, tersenyum, menerima semua ucapan selamat dengan senang, HAH, menggelikan.

Sekarang saatnya menjalankan rencana…

Tanpa banyak bicara, kutarik tangan Syu Rie – yang sekarang adalah istriku.

Yang benar saja…

Aku memutar bola mataku, memikirkan kenyataan itu sungguh menyebalkan.

Gadis itu tidak memberontak sedikitpun, ia hanya mengikuti langkahku meninggalkan gedung itu. Menghampiri mobil porsche hitam yang dibawakan oleh Chen dan Sehun, mengabaikan mobil pengantin berhiaskan bunga-bunga yang menggelikan.

Gadis itu menurut saja masuk ke dalam mobil. Melegakan, setidaknya rencanaku tidak akan terhambat oleh gadis ini.

Aku duduk di kursi penumpang, membuka dasiku dan melemparkannya begitu saja ke jok belakang. Setelah dasi yang seakan-akan mencekikku itu lepas aku mengambil ancang-ancang.

Kuinjak pedal gas sedalam mungkin, mesin mobil meraung, dan mobil melaju kencang meninggalkan gedung hotel tersebut dan mungkin orang-orang di dalamnya.

Ngebut sangatlah menyenangkan, membuat rileks pikiranku yang kacau sejak seminggu yang lalu. Sudah malam, sehingga jalan lenggang, apalagi jalan menuju rumah – rumahku dan Syu Rie, dengan konyolnya abeojie menyuruhku pisah rumah, sudah termasuk daerah sepi.

Dengan mulus kuinjak pedal rem perlahan dan berbelok memasuki gerbang yang terbuka lebar.

Abeojie tentu kehilangan akal, masa rumah yang mungkin hanya di tinggali berdua sebesar ini. Jalan masuk menuju rumah saja sudah lama. Dari jauh kulihat cahaya remang-remang. Semakin lama-semakin dekat, terlihat siluet rumah. Di depan pintu rumah itu terdapat air mancur.

Kuhentikan mobilku tepat di depan rumah, membuka pintu mobil dan menutupnya perlahan. Kumasukkan tanganku ke saku celana mengamati rumah ini. Bagus, minimalis, di dominasi dengan kaca dan kayu berwana gelap.

Tanpa pikir lagi aku langsung melangkahkan kakiku menaiki tangga.

“Ya! Di mana ini?”

Suara itu membuatku terhenti dan berbalik.

Kulihat gadis itu melipat tangannya di dada, matanya melotot marah, seperti meminta penjelasan. Seakan-akan aku menculiknya saja…

“Mau apalagi, ini rumahmu yang baru, lebih tepatnya kita kalau kau suka. Untuk yang lainnya jangan tanyakan padaku. Tanyakanlah pada para orang tua yang sudah hilang akal itu.” Kataku sambil lalu membuka pintu. Yang kuinginkan hanya tidur.

“Dan pilihlah kamar yang kau suka. Ada banyak kamar di sini.”

Aku pun meninggalkan gadis itu…

-:Syu Rie:-

Apa-apaan dia?!

Dasar menyebalkan, menculikku, sekarang membawaku ke rumah yang asing pula. Aku mengomel dalam hati. Dengan enggan aku membuka pintu, dan masuk.

Rumah… rumah ini luas sekali?! Aku terpana melihat interior rumah ini, minimalis putih dan luar sekali. Masa aku harus tinggal di rumah ini berdua dengannya?

Sial! Sial! Sial!

Aku mengangkat gaunku menaiki tangga kayu gelap itu.

Memakai gaun dan naik tangga?  Yang benar saja…

Aku memutar bola mataku kesal. Semoga saja aku sehat selamat sampai kamar.

_

Aku baru saja sampai ke lantai dua. Ternyata benar di rumah ini banyak kamar, sudah ada 5 pintu sepanjang yang bisa kulihat. Yang membuatku lega adalah keberadaan koper berwarna krem di depan sebuah pintu – yap, itu koperku. Karena tidak mau susah-susah aku mengambil koper dan langsung masuk kamar itu.

Ketika masuk kamar itu, bau segar kesukaanku menyergap hidungku. Sepertinya seseorang yang menyiapkan rumah ini ingin aku betah – asumsiku eomma. Siapa lagi yang cukup peduli denganku, appa pasti lebih mementingkan urusan bisnisnya yang lancar karena pernikahan sialan ini.

Setelah mulai familiar dengan kamar baruku aku ingin melepaskan riasan pengatin kematianku. Gaun pengantin yang mewah tersebut teronggok begitu saja di ujung kamar, high heels ku masih selamat berada di lemari sepatu?! Aku belum terbiasa, terlalu mewah. Hiasan rambutku dengan malangnya memenuhi konter kamar mandi.

Aku melirik jam yang tergantung di atas pintu kamar mandi,

21.00

Masih cukup pagi… aku ingin mandi…

_

Kubuka mataku. Gorden kamar yang kemarin malam belum sempat kututup itu membuat sinar matahari pagi menyerang mataku, membuatku buta sesaat.

TOK TOK

Seakan tahu aku sudah bangun seseorang mengetuk kamarku.

Merasa aku tidak dalam keadaan aneh, dan baju tidurku cukup sopan,

“Masuk saja…”

Dari balik pintu muncullah seorang pelayan, gadis muda mungkin seumuranku.

“Nona, sudah waktunya bangun. Bergegaslah Nona harus sekolah. Supir sudah menunggu, sarapan sudah siap. Dan Tuan tadi sudah pergi sendiri menaiki mobil pribadinya.”

Gadis itu menjelaskan lalu meninggalkanku untuk privasi. Kulirik jam sudah jam 7 lewat, lebih baik aku bergegas.

Kubuka lemariku refleks, detik kemudian aku menyadari bahwa bajuku masih di dalam koper. Tapi sebelum aku menutup kembali lemari, aku melihat satu baju – baju seragam?! Beda sekali dengan seragamku… ah, pindah sekolah, pikirku masam. Baiklah ini menyebalkan, menikah, rumah baru, dan sekarang pindah sekolah, tolol.

Aku hanya mengambil sepotong roti dari meja makan, menyambar tasku yang kosong sebenarnya. Berjalan keluar rumah, masuk mobil, sepraktis itu.

Aku sudah tidak memiliki semangat hidup titik.

Sepanjang perjalanan aku hanya melihat ke luar jendela. Semua orang sudah siap berktifitas pagi dengan semangat, kulihat sekelompok anak SMP bersenda gurau bersama.

Aku bahkan tidak punya teman sebanyak itu.

 Sepasang kekasih berpisah jalan – sang namja mencium kening yeojachingunya…

Aku langsung menikah, bahkan dengan namja yang tidak aku kenal.

Aku tersenyum pahit. Semua orang terlihat bahagia di pagi hari ini, seakan-akan menentang diriku yang sedang murung meratapi nasib ini. Sungguh tidak adil.

Andaikan aku anak perempuan keluarga sederhana…

Pikiran itu terlintas begitu saja di benakku.

Dulu aku bahagia jadi anak eomma dan appa yang kaya, sehingga aku bisa meminta semua yang aku mau, dibelikan baju-baju cantik. Tapi seiring beranjak dewasa, appa mulai menuntutku untuk belajar tata krama, dan kegiatan yang sangat ‘perempuan’. Eomma pun mendukung appa, walaupun tidak seditaktor appa. Mungkin memang aku di persiapkan untuk menjadi seperti ini – menuruti orang tua, menikah dengan orang yang sudah dijodohkan, dan menjadi nyonya seorang yang aku bahkan baru bertemu beberapa hari lalu.

“Nona?”

Aku mendongak melihat supir – yang kutahu namanya Tuan Han. Rupanya ia dari tadi memanggilku.

“Ya?” aku berkata singkat.

“Kita sudah sampai… dan ini berkas yang harus kau bawa ke ruang guru.” Tuan Han membukakan pintu seraya memberikan sebuah amplop coklat yang terlihat sangat rapi dan resmi.

Aku tersenyum tipis dan mengambil amplop itu dari tangannya.

Gedung sekolah itu megah.

Tentu saja babo.

Menghela nafas sejenak, kunaiki tangga itu.

Inilah hidup barumu Kim Syu Rie… ya, Kim Syu Rie.

Aku tersenyum pahit, sekali lagi… sepertinya aku harus memakai baju hitam besok-besok.

_

”Jadi kau murid barunya. Baiklah sepertinya kau masuk kelas yang tepat. Aku sebagai wali kelas menjamin itu Syu Rie, ne?” Soo Hyun-seongsaengnim berjalan cepat di sebelahku menuju kelas. Sepertinya ia tipe guru baik yang lincah.

Karena aku tidak mau menghancurkan keceriaan guru itu dengan kemurunganku aku membalas perkataan itu dengan anggukan dan senyuman.

Senyuman palsu yang selalu aku pasang sejak beberapa tahun terakhir. Aku bahkan lupa kapan aku terakhir tersenyum tulus, mungkin saat aku masih SD, entahlah…

Yang aku bingungkan kenapa aku bisa sebegini tegar dan tidak mengeluarkan setetes pun air mataku. Ingin menangispun tidah bisa… hahah, tawa hambar di dalam hati, menyakitkan…

Kelasku berada di ujung lorong dekat tangga menuju ke rooftop.

Mungkin lain kali aku harus mabal – kau tidak bisa Syu Rie, kau pengecut, batinku.

“Haksengdeul, mohon perhatiannya sebentar!” Soo Hyun-seongsaengnim berteriak.

Semua murid menoleh ke depan, walaupun masih ada yang kelewat tidak peduli dan meneruskan aktifitas mereka yang terganggu sejenak.

“Ada murid baru di kelas ini, namanya Syu Rie, bertemanlah sebisa kalian. Walaupun kalian sudah kelas 3 dan sebentar lagi lulus meningallkan sekolah ini, bertemanlah denganya sebaik-baiknya.”

Kemudian wanita itu mengangguk padaku, memintaku memperkenalkan diri.

“Annyeonghaseyo joneun Lee Syu Rie inmida, bangapseumnida.” Aku membungkukan badan. Sepertinya aku tidak harus menggunakan nama baruku di sekolah ini ‘Kim Syu Rie’ hah, memperburuk moodku saja.

Begitu perkenalan selesai aku langsung menghampiri satu-satunya kursi yang masih kosong di sana. Di bagian pojok kanan baris kedua dari belakang. Di sebelah seorang yeoja imut berambut panjang bergelombang. Aku tidak tertarik untuk berkenalan, untuk apa menghancurkan masa depan yeoja manis ini dengan kemurunganku yang tidak akan hilang dalam waktu dekat ini. Nanti saja mencari teman, aku harus memikirkan diriku dulu, itu saja.

_

“So, Syu Rie-ah, kenapa kau pindah?” kudengar seseorang menghampiriku di meja kantin. Yah, sudah jam istirahat, dan aku memutuskan ke kantin sendirian.

Aku menoleh, membisu, rupanya gadis yang duduk sebangku denganku.

“Kenapa kau diam saja?”

Aish, gadis ini sama sekali tidak bisa membaca suasana saja, omelku dalam hati.

“Kau tidak perlu tahu.” Kataku pelan menaruh sendok dan garpu yang kupakai makan. Sepertinya tidak akan mudah makan jika masih ada penganggu kecil ini.

“Wae? Ah, Jung Eun Chae.”

Gadis itu mengulurkan tangan tersenyum tulus. Seketika aku iri dengan senyumannya. Tulus tanpa beban.

Aku hanya memandang ragu, tangannya tidak juga turun – cukup keras kepala. Perlahan, menyerah aku menjabat tangannya. Kurasakan tangannya hangat, bersahabat.

“Ne, Eun Chae. Aku sarankan jangan berteman denganku. Aku bukanlah orang yang bisa diajak berteman. Jangan sampai menyesal.” Kataku lirih dan meninggalkan yeoja itu.

Mianhae Eun Chae, dengan aku yang seperti ini? Lebih baik kau tetap bersama teman-temanmu yang dulu saja.

-:Author PoV:-

Tanpa Syu Rie sadari, sepasang mata mengikuti pergerakan gadis itu.

Kring!!!

Bel berbunyi, tidak lama sejak Syu Rie meninggalkan kantin. Semua murid berbondong-bondong, berlari ke kelasnya.

_

Kai berjalan memasuki kelasnya. Dilihatnya Syu Rie duduk di kursi depannya.

Ternyata mereka sekelas.

Syu Rie yang melihat Kai datang itu membulatkan matanya kaget. Sedangkan Kai melenggang begitu saja melewati Syu Rie seakan-akan mereka tidak saling mengenal.

-:Syu Rie:-

Aku terbaring menatap kosong ke langit-langit kamarku.

Kami sekelas…

Bagaimana aku tidak mengenalinya saat berada di depan kelas tadi?

Ah….

Aku ingat tadi Kai sedang menundukan kepalanya sehingga aku tidak menyadari bawah namja itu Kai. Sudahlah apa yang kau lakukan, kenapa kau malah memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan namja itu, kurang kerjaan saja?!

Karena ingin mengalihkan pikiranku aku bangun, melihat sekeliling kamarku. Kosong tidak terisi.

Sepertinya barang-barang dari kamarku belum di pindahkan kesini.

Aku menghela nafas. Aku tidak ada kerjaan.

Aku berbaring lagi, memejamkan mata. Menikmati sinar matahari yang memasuki jendela kamarku.

_

Aku berada di sebuah ruangan, perpustakaan aku kira. Melihat rak buku yang menempel di dinding. Sekembalinya aku dari mengamati sekeliling, baru aku perhatikan pintu kaca menuju ke taman yang cukup luas. Saat itu siang hari, matahari menyinari taman itu, membuat semuanya terlihat hidup.

Di tengah taman itu terdapat gazebo kecil. Di undakan tangga gazebo itu duduklah seorang namja membelakangiku. Karena penasaran aku berjalan melewati pintu kaca itu menghampiri namja itu. Tetapi entah seberapa keras aku berjalan menghampiri namja itu, seakan-akan tidak sampai. Yang bisa aku lihat adalah namja itu sedang membaca buku cerita klasik. Dan anehnya aku bisa ikut membaca buku yang ia baca.

Wuthering Heights…

‘Yang aku ingat tentang buku ini, mungkin aku simpulkan sendiri, buku ini menceritakan Catherine yang egois karena menikahi Linton namun masih menginginkan Heatcliff… Cinta Catherine Earnshaw dan Heathcliff yang tidak tersampaikan…’

“Pernahkah kau pikirkan bahwa akhir kisah cintamu semenyedihkan ini, seperti cinta Heathcliff dan Catherine yang tidak sampai? Dan betapa mungkin egoisnya dirimu dalam cintamu?”

Namja itu bertanya padaku seakan membalikkan pemikiranku…

Namu tetap saja yang mengangguku adalah,

Kenapa aku tidak bisa melihat wajah namja ini?

HEG

Tiba-tiba saja dadaku sakit, seakan-akan ada yang menusuknya tepat di jantungku…

“Kau kesakitan? Kau kira itu jantungmu? Mungkin hatimu jika mau ku koreksi… atau hatimu itu membeku, mencair, dan terluka pada saat yang bersamaan?”

Namja itu berkata lagi, tetap memunggungiku…seakan tidak peduli denganku yang merasakan sakit luar biasa ini.

Sakit…sakit sekali…

“Hah… Hah…”

Hanya mimpi…

Nafasku terengah-engah, rasa sakitnya terasa begitu nyata. Tanganku refleks memegang dadaku, memeriksa jika memang ada luka disana…

Sejenak aku berpikir, mataku menggelap.

Nenamja dalam mimpi, perkataanmu ada benarnya…

Hatiku membeku, tapi aku tidak akan jatuh cinta…

TO BE CONTINUE…

 

25 thoughts on “[FREELANCE] Salt And Wound (Chapter 1)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s