Take A Drink Together (Chapter 10)

take a drink together

 

Take a Drink Together

Author
pearlshafirablue

| Do Kyungsoo (EXO-K), Kim Taeyeon (GG) |
Tiffany Hwang (GG), Huang Zi Tao (EXO-M), Kim Hyoyeon (GG), Kim Joonmyun (EXO-K)
Action, AU, Mystery, Romance
Multichapter (10 of ?), Teen

“All of the characters belong to God and themselves. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forevr fiction. I don’t make money for this.”

Inspired by Frea © Thee & Rien

Previous Chapter
Prologue . 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 . 8 . 9

-o0o-

SHS, Seoul, Korea Selatan

“Kalau begitu, aku pulang dulu.” Taeyeon merogoh kantung kemeja sekolahnya dan tiba-tiba sebuah benda berbahan dasar logam jatuh begitu saja ke atas lantai. Taeyeon yang menyadari hal tersebut spontan membungkuk dan memungutnya.

“K-kau bawa motor ke sekolah?” Kyungsoo tidak percaya dengan penglihatannya. Benda yang barusan dipungut oleh Taeyeon adalah kunci motornya. Dan siapapun tahu, peraturan mengenai kendaraan bermotor sangat ketat di Seoul. Dan Taeyeon belum cukup umur untuk mengendarai motor—apalagi ke sekolah. Ya, SHS juga memiliki aturan mengenai hal yang satu ini.

“Ssst!” Taeyeon buru-buru menaruh telunjuknya di depan bibir, “Hari ini Kris Oppa masih berkabung. Aku tidak mungkin menyuruhnya untuk mengantarku.” Urainya singkat. Gadis itu kemudian merapatkan mantelnya dan berjalan melewati Kyungsoo.

“Kau mau pergi ke mana?” Tanya Kyungsoo tiba-tiba—membuat Taeyeon menghentikan langkahnya.

“Tentu saja mau pulang, apalagi?” Sahut Taeyeon melirik sedikit.

“Aku ikut bersamamu.” Kyungsoo menyejajarkan posisinya dengan Taeyeon.

“Apa?” Taeyeon menautkan kedua alis tebalnya. “Tidak! Aku baik-baik saja. Lagipula aku—”

“Biar aku saja yang mengendarainya. Kau di belakang.” Kyungsoo menyela. Dan pernyataannya barusan jelas membuat Taeyeon kembali terkesiap.

“Bukankah kau pernah bilang tidak bisa mengendarai motor?”

Kyungsoo mengusap tengkuknya sebentar, “Kau tahu, pekerjaan membuatku harus banyak berbohong.”

Taeyeon kembali menyerngit heran. Baru saja gadis itu akan protes, sebuah suara tiba-tiba menginterupsinya.

“Halo, Kyungsoo.”

Ia dan Kyungsoo menoleh bersamaan. Didapatinya seorang wanita berambut blonde dengan tinggi yang tidak jauh beda dengannya tengah menatap ke arah mereka berdua. Sebuah senyum menghiasi paras cantik wanita itu.

Noona?” Kyungsoo memicingkan mata, memastikan bahwa pandangannya tidak salah. “Hyoyeon Noona? Apa yang kaulakukan di sini? Se-sejak kapan kau kembali dari LA?”

Yang diajak bicara hanya menyingkap helai-helai rambut ikalnya yang nyaris menutupi penglihatan dan lantas menjawab, “Sejak tadi pagi. Aku ke sini tentu saja untuk menjemputmu, Kyungsoo.”

“Ah apa?” Kyungsoo menyipitkan sebelah mata. “Kenapa Noona harus menjemputku?”

“Memangnya kenapa bila aku menjemputmu?” Hyoyeon kembali mengulum senyum. Perlahan pandangannya bergeser dan menangkap sosok Taeyeon yang tengah diliputi kebingungan di samping Kyungsoo.

Sadar bahwa tatapan itu ditujukan padanya, Taeyeon buru-buru membungkuk. “Ah, annyeonghaseyo, namaku Taeyeon. Teman sekelas Kyungsoo.” Jelasnya tergugu. Entah kenapa iris pekat milik Hyoyeon membuat dirinya takut setengah mati.

“Oh, halo. Namaku Hyoyeon. Noona kedua Kyungsoo.” Balas Hyoyeon, sedikit memudarkan senyumnya. “Dan kurasa kau sudah bertemu dengan noona Kyungsoo yang lain.”

Ucapan Hyoyeon jelas menohok ulu hati Taeyeon hingga ke syaraf-syaraf  jari kakinya. Taeyeon hanya tersenyum tipis sembari mengangguk.

Pandangan Hyoyeon kembali merangkak naik dan berhenti tepat ketika irisnya sudah bertemu dengan biji mata Kyungsoo. “Well, tunggu apa lagi? Ayo pulang.”

“Tidak bisa, aku akan pulang bersamanya.” Utar Kyungsoo dengan ketus. “Jika kau disuruh Fany Noona, bilang padanya bahwa aku akan pulang telat seperti biasa.”

Tidak hanya Hyoyeon, Taeyeon pun terkejut mendengar pernyataan Kyungsoo. Hyoyeon lantas melirik ke arah Taeyeon, yang disambut oleh senyuman pahit dari gadis itu. “Benarkah?”

“Ah tidak!” Taeyeon buru-buru menyela. Kemudian tatapannya beralih ke arah Kyungsoo. “Sudahlah, aku yakin seratus persen tidak akan ada yang terjadi padaku hari ini. Lagipula aku tidak ingin kau kembali masuk ke dalam masalah lagi.” Bisik Taeyeon lirih.

Kyungsoo yang sadar bahwa keputusan Taeyeon tidak dapat diganggu gugat hanya bisa membuang napas kasar dan berjalan mendekati Noona-nya. “Baiklah, hati-hati di jalan. Jangan terlalu mengebut.”

Taeyeon mengangguk yakin dan perlahan sosok Kyungsoo dan Hyoyeon hilang dari pandangannya. Gadis itu menghela napas sebentar. Kemudian kaki jenjangnya mulai menapaki lorong sekolah hingga akhirnya berhenti di pintu belakang.

Iris madunya mendadak menangkap sesosok bayangan familiar saat dirinya akan menaiki motor. Pria jangkung tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berada tatkala matanya mengawasi keadaan. Berkali-kali pria itu menoleh ke kanan, kiri, maupun belakang. Dan yang lebih menarik perhatian bahwa pria itu adalah Huang Zi Tao.

Taeyeon mundur perlahan, dan buru-buru berjongkok—mengantisipasi bahwa mungkin saja Zi Tao menyadari kehadirannya. Akhirnya gadis itu bersembunyi di balik motor hitamnya.

Gerak-gerik Zi Tao terlihat sangat aneh di mata Taeyeon. Kyungsoo salah jika hanya dia saja yang menaruh kecurigaan pada guru baru itu, Taeyeon sebenarnya sangat sangsi dengan perangai guru yang diklaim tampan oleh anak-anak sekelas. Hanya saja ia tidak mau menunjukkan kegelisahannya di depan Kyungsoo, bisa jadi lelaki itu akan memaksa untuk terus berada di sampingnya dua puluh empat jam nonstop.

Ekor matanya menangkap sosok Zi Tao yang kini sudah menyeberang jalan—artinya ia berdiri di trotoar yang sama dengan dirinya. Taeyeon menarik kepalanya menjauh, berusaha untuk tidak terlihat sama sekali.

Tak lama kemudian sebuah mobil jeep hitam lewat di jalan belakang SHS yang lengang. Dan Taeyeon berasumsi bahwa jeep itu akan berhenti di depan Zi Tao. Ya, benar saja. Zi Tao masuk ke dalam jeep itu dan sosoknya segera menghilang di telan tikungan jalan.

Taeyeon mendengus. Ia buru-buru memasukkan kunci ke dalam lubang kunci motornya dan tak sampai semenit motor ninja-nya sudah melesat membelah jalanan Namdaemun. Gadis itu menilik satu per satu kendaraan yang sekiranya nyaris sama dengan mobil yang tadi membawa Tao pergi. Sudut bibirnya terangkat ke atas saat melihat sebuah jeep dengan atap setengah tertutup menyeberangi perempatan Namdaemun.

Munafik sekali rasanya jika Taeyeon tidak mengakui bahwa sekarang rasa penasaran membuncah di hatinya. Mesin motor yang terus meraung membuktikan segalanya. Gadis itu tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari jeep hitam yang tengah berbelok ke arah City Hall.

Jeep itu kini melintas di atas Sejong-daero hingga akhirnya melewati Sungnyemun Gate dan keluar dari daerah Namdaemun. Taeyeon tetap bergeming di belakang mereka, dengan sepeda motor ninja-nya yang melaju cepat kendati jarak mereka terpaut jauh.

Sudah setengah jam lebih Taeyeon mengikuti jeep tersebut. Dan sang Pengemudi Jeep nampak tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa tempat tujuan mereka sudah dekat. Taeyeon berkali-kali terjebak lampu merah dan harus kembali mencari jeep yang daritadi dikuntitnya. Pandangan Taeyeon mulai mengabur saat mereka—ia dan penghuni jeep—memasuki serambi hutan pinggir Kota Seoul. Pohon-pohon tinggi berbatang tebal laksana gedung pencakar langit membuat hutan itu kekurangan cahaya. Daun-daun lebat menghalangi cahaya matahari untuk menyinari dataran itu. Taeyeon perlu mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali kala jemarinya terus menarik rem. Jalanan yang tidak rata memperburuk keadaan.

Mendadak jeep yang membawa Huang Zi Tao di dalamnya tadi berhenti. Menyadari hal itu Taeyeon buru-buru membelokkan motornya ke sembarang arah—berusaha keras agar tidak terlihat di spion mobil tersebut. Matanya membelalak ketika menyadari bahwa sebuah batang pohon besar teronggok begitu saja di depannya. Tangannya sudah mati rasa, tidak sempat berbuat apapun hingga akhirnya terdengar suara debuman keras diikuti lengkingan memilukan dari tempat itu.

Taeyeon terjatuh bersama dengan motornya yang mulai mengeluarkan asap. Dengan kesadaran yang nyaris terenggut, gadis itu berusaha merangkak keluar dari tindihan motor ninja-nya. Kemudian ia berbaring pasrah di atas tumpukan daun kering dan segera melepas helm. Langit nampak lebih gelap menurut pupilnya. Perlahan rasa sakit yang luar biasa merayap hingga bagian atas tubuhnya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan tulang kering kanannya tapi ia sama sekali tidak berniat untuk menengok. Gadis itu akhirnya larut dalam rasa sakit yang panjang hingga tiba-tiba matanya menangkap siluet hitam di ujung pandangannya.

Huang seongsaenim?

Dan sejurus kemudian, kesadarannya benar-benar menghilang.

-o0o-

Kediaman Stephanie Hwang, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan

“Aku yakin kepulangan Hyoyeon Noona ada hubungannya denganmu, Stephanie.”

Seorang wanita berambut merah yang tadi tengah disibukkan dengan fail-fail di depannya terpaksa mengangkat pandangannya, berusaha mencari pelaku yang telah berhasil mengalihkan perhatian wanita itu dari pekerjaan yang tengah ditekuninya.

Well, selamat siang, Kyungsoo. Tidak sopan sekali kau masuk tanpa mengetuk pintu, pun mengucapkan salam.” Gumamnya ringan kala perhatiannya kembali terpusat pada kertas-kertas putih yang menumpuk di atas meja kerjanya.

“Ada apa? I’m sure something was happened here.” Kyungsoo sama sekali tak mengindahkan perkataan Stephanie. Lelaki itu mengangkat dagunya congkak. Tersirat pancaran amarah dibalik kedua iris cokelatnya.

“Kau tidak bisa sabar, ya?” Wanita itu berkomentar. Pandangannya tetap fokus terhadap pekerjaan yang sedang dilakoninya. Tak memedulikan tatapan sarkastis dari empunya marga Do yang tengah berdiri di depan meja kerjanya.

Sejurus kemudian wanita itu bangkit. Ia meninggalkan map-map berwarna biru yang teronggok begitu saja di atas meja. Wanita itu berjalan menuju sebuah rak buku yang berdiri dengan menawan di atas karpet beludru ruang kerja miliknya. Kyungsoo tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari wanita itu. Stephanie meraih buku tebal bersampul merah di deretan rak paling atas, dan sekonyong-konyong terdengar suara gemeretak dari belakang rak. Perlahan-lahan rak itu bergerak. Dan sebuah pintu dengan tangga yang nampak teramat panjang terbuka lebar.

My house, my castle.” Stephanie tersenyum miring. Kyungsoo perlu berkali-kali menahan napas agar tidak kelepasan untuk mengagumi karya Stephanie yang saat ini terbuka lebar di depannya. Rumah yang sudah didiaminya selama 10 tahun adalah rumah hasil pemikiran jenius Stephanie. Ia tidak menggunakan jasa arsitek ataupun desainer interior sedikitpun. Dan jika Kyungsoo boleh jujur, this house is the most awesome house ever.

Kyungsoo perlahan melangkah mengikuti tapakan kaki semampai Stephanie. Mereka berdua menuruni tangga keramik berliku-liku dengan banyak sekali cermin di sisi kanan dan kirinya. Suhu ruangan disetel serendah mungkin, membuat Kyungsoo berkali-kali menggosok kedua telapak tangannya.

Tak sampai 15 menit, mereka berdua sampai di hulu perjalanan. Sebuah laboratorium besar yang dikelilingi oleh tabung-tabung besar berisi cairan kimia menyambangi penglihatan Kyungsoo. Lelaki berambut cokelat itu kerap menelan salivanya, terlalu kagum dengan berbagai macam perkakas yang berdiri tegak di ruangan serba putih tersebut.

“Kenapa kau tidak pernah mengajakku ke sini?” Kyungsoo bersuara. Matanya masih terpaku pada sebuah tabung kecil berisi cairan berwarna biru.

“Bahkan Kim Hyoyeon belum pernah menginjak tempat ini, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo spontan menoleh ke arah Stephanie. Ia membulatkan matanya terkejut, “A-apa? Memangnya ini tempat apa?” Pria itu memicingkan matanya.

“Ini adalah tempat dimana aku harus konsentrasi mengerjakan pekerjaanku.” Ulas Stephanie, mengambil jas putih bersih yang digantung di atas lemari dan kemudian mengenakannya. “And for your information, hanya kedua orang tuamu yang pernah bereksperimen di tempat ini selain aku dan seorang sepupuku.”

“Sepupu?” Nampaknya Kyungsoo sudah tidak terlalu sentimen lagi dengan topik orang tua. Ia malah tertarik dengan seseorang yang diakui Stephanie sebagai sepupu. “Kau punya sepupu?”

“Hei, wanita sejahat aku nomal saja ‘kan memiliki sepupu?” Cibir Stephanie dengan raut wajah datar. Ia mengutak-atik sebuah suntikan di atas meja praktik dengan hati-hati. “Aku sedang mengerjakan sebuah pekerjaan yang nampaknya bukan keahlianku. Aku membutuhkan penilaianmu.”

Kyungsoo menyipitkan matanya. Ia memandang Stephanie penuh selidik. “Pekerjaan apa?”

Stephanie mengangkat pandangan. Kedua manik matanya bertemu dengan iris cokelat milik Kyungsoo. Ia membuang napas kasar, dan kemudian melanjutkan, “Kloning.”

Kyungsoo terperanjat. “K-kloning…?”

“Yap.” Jawab Stephanie datar. “At first, aku sedikit kesusahan untuk mencari gen yang benar-benar cocok dengan proyek ini. Pasalnya aku berencana mengekuivalensikan semuanya berdasar sistem kerja saraf otak manusia. Dan aku sudah mencoba menggunakan gen serta serum milik Byun Baekhyun, tapi ternyata tidak cocok dan kurang berkualitas. Lelaki itu berotak udang dan jantungnya hancur karena aku menembaknya tepat di sana. Aku butuh sample yang lebih bagus. Dan kurasa aku sudah mendapatkannya.” Jelas Stephanie sementara tangannya berkutat dengan sebuah scanner board di pelukannya. “Dan, aku membutuhkan bantuanmu untuk mendapatkan hasil yang sempurna.”

“A-aku tidak mengerti apa-apa soal kloning atau penggandaan manusia.” Sergah Kyungsoo tergugu. “Lagipula, buat apa kau membuat proyek ini?””

“Segalanya bisa kau miliki jika berhasil membuat sepasukan manusia hasil kloning, Do Kyungsoo.” Stephanie mengangkat sudut bibirnya.

“Kau memiliki gangguan jiwa, Noona.” Desis Kyungsoo menatap tajam ke arah wanita berbalut jas lab di hadapannya. Kemudian pandangannya beralih ke arah tabung-tabung besar yang ditutupi oleh kain hitam di belakang Stephanie. “Apa benda itu berisi mahklukmu?”

“Cerdas sekali, Kyungsoo.” Sahut wanita itu masih menyeringai. Matanya ikut memandang ke arah tabung yang ditunjuk Kyungsoo. “Mulai sekarang laboratorium ini juga menjadi tempatmu berkerja. Termasuk semuanya yang berada di balik tabung itu.”

“Tidak.” Sambar Kyungsoo langsung. “Aku tidak mau main-main lagi dengan ini semua, Stephanie. CD1477 sudah cukup membuatku nyaris gila. Aku tidak mau mengimplantasi siapapun. Byun Baekhyun, atau siapapun. Tidak.”

“Kau yakin?” Alih-alih protes, Stephanie malah melebarkan seringainya. Ia menyibak anak-anak rambut yang menutupi pemandangannya kemudian meremas kain hitam yang menutupi sebagian besar permukaan tabung. “I’m really sure. You can’t deny anything after take a look at this one.”

Stephanie menarik kain tersebut. Sebuah pemandangan aneh mengisi benak Kyungsoo secara mendadak.

Pria itu mematung. Matanya melebar sementara peluhnya merembes dari balik pori-pori kulit putihnya.

Memang Stephanie benar untuk segala hal.

-o0o-

Yeokchon-dong, Seoul, Korea Selatan

“Taeyeon-ssi?”

Sebuah suara menyambangi indera pendengaran Kim Taeyeon. Sinar lampu neon memaksa masuk ke dalam kedua manik matanya yang terasa berat sekali untuk digerakkan. Gadis itu perlahan membuka kelopak matanya, dan mendapati sesosok pria jangkung tengah menatap ke arahnya. Ia mengerjap.

“Baguslah, kau sudah sadar.” Suara itu kembali masuk ke dalam relung telinganya. Gadis itu mengedipkan mata berkali-kali—bingung. Kemudian ia bangkit, dan tiba-tiba saja kepala bagian kanannya diserang rasa sakit luar biasa.

“A-aaah…” Taeyeon mengerang. Rok sekolahnya ia remas dengan kuat tatkala matanya memejam kesakitan. Pria jangkung yang tadi hanya menatapnya buru-buru membantu gadis itu kembali berbaring.

“Kurasa kau gegar otak. Kulihat banyak sekali darah yang keluar dari pelipismu. Lebih baik kau jangan bergerak dulu.” Jelas pria itu panjang. Taeyeon tidak sempat merespon, dirinya sudah larut dalam rasa sakit yang begitu memilukan.

Sesaat hening menyeliputi mereka. Tidak ada yang berbicara, baik Taeyeon maupun lelaki itu. Taeyeon sibuk dengan sakitnya, sementara lelaki itu tengah berkutat dengan obat-obatan di atas meja nakas. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Apa yang terjadi?” Tiba-tiba suara Taeyeon memecah keheningan. Yang dipanggil menoleh. Ekor matanya mengerling ke arah gadis itu perlahan, dan tak sampai semenit pandangannya kembali terpaku dengan botol-botol obat di hadapannya.

“Motormu menabrak pohon setelah menguntitku tadi.” Jawaban pria itu jelas membuat Taeyeon langsung terperanjat. Gadis itu menggigit lapisan bibir bawahnya. “Dan sekarang kau ada di rumahku.”

“Maafkan saya, Seongsaenim.” Kilah Taeyeon singkat. Ia meneguk air liurnya berkali-kali.

“Kenapa kau mengikutiku?” Sang Seongsaenim—Huang Zi Tao—akhirnya membalikkan badan menghadap ke arah Taeyeon. Mata rubahnya menatap intens ke arah kedua iris madu gadis itu, membuatnya terlihat sangat menawan sekaligus menyeramkan.

“Aku…” Taeyeon memutar bola matanya ke atas, mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Tao barusan. Dan mendadak sebuah hal gila terlintas di benaknya. Memang gila, tapi tidak apa-apa selama jawabannya bukan ‘karena kupikir kau anak buah Stephanie Hwang.’ “A-aku penggemar Seongsaenim. Aku hanya ingin tahu rumah Seongsaenim agar suatu saat bisa berkunjung tanpa perlu bertanya lagi….”

Jawaban Taeyeon yang terdengar sedikit meragukan itu dapat membuat Tao menyunggingkan senyum tipis. Ia melangkah ke arah sebuah sofa kecil berbentuk persegi yang daritadi sudah berdiri di sebelah sofa yang ditiduri Taeyeon. “Jawaban yang sedikit memalukan.” Ujarnya kemudian.

Taeyeon menahan malu. Semburat merah perlahan muncul di balik kulit pipinya. “Y-ya, aku tahu.”

By the way, motormu ada di pekarangan rumahku. Bagian depannya hancur parah. Kurasa kau harus menyusun alasan yang lebih bagus untuk orang tuamu.” Utar Tao masih dengan senyuman tipis.

Taeyeon mengangguk. Dan sejurus kemudian pandangannya sudah berkeliaran di seluruh penjuru rumah. “Rumah yang cukup besar. Kau tinggal sendiri, Seongsaenim?”

“Ya. Seluruh keluargaku menetap di Cina.” Jawab Tao sekenanya. “Dan… oh! Jangan panggil aku seongsaenim di luar sekolah. Sebenarnya aku tidak setua itu.”

“Lantas aku harus memanggilmu apa? Ahjussi?”

Tao terkekeh, “Jangan. Panggilan itu juga masih terlalu tua. Panggil saja gege.”

Gege?” Taeyeon menautkan kedua alis coklat hazel-nya.

“Sama seperti oppa dalam bahasa Korea. Hanya saja itu bahasa Cina.” Jawab Tao memberi penjelasan. Taeyeon hanya bisa mengangguk-angguk mengerti.

“Kalau aku boleh tahu, siapa orang yang mengendarai jeep hitam tadi?” Suara Taeyeon kembali mengisi kesunyian. Tao yang baru saja akan beranjak menuju dapur segera menghentikan langkahnya.

“Ooh, itu salah satu temanku di Korea. Ia penebang kayu yang bekerja di hutan belakang Seoul, hutan yang biasa aku lewati bila akan kembali ke rumah. Dan kebetulan hari ini mobilku di-service. Maka dari itu aku memintanya untuk menjemputku.” Tao kembali menjelaskan—sebelum dirinya akhirnya melanjutkan langkahnya menuju dapur.

Taeyeon termenung. Gadis itu memandangi kaki kanannya yang dibalut perban tebal dengan sendu. Tampaknya ia mengejar orang yang salah. Orang sebaik Huang Zi Tao tidak mungkin salah satu kaki tangan Stephanie Hwang.

15 menit kemudian Tao datang dengan senampan kue kering dan dua cangkir teh hijau. Ia menaruhnya di atas meja kaca yang disanggah oleh sebatang ukiran kayu berwarna coklat tua. Lelaki itu duduk di sofa kubus tadi dan menyodorkan mangkok kue ke hadapan Taeyeon. “Makanlah.”

Taeyeon mengulum senyum. Kemudian jemarinya meraih beberapa keping biskuit coklat yang langsung dihabiskannya dalam sekali kunyah. “Omong-omong, ini di daerah mana?” Tanya Taeyeon sembari menepuk-nepuk kedua telapak tangannya hingga remahan biskuit mengotori seragam sekolahnya.

“Oh, ini distrik Yeokchon-dong. Makanya tadi aku—”

“Apa?!” Taeyeon terkesiap. Bola matanya membesar dua kali lipat diikuti dengan mulutnya yang membuka lebar. “Yeokchon-dong?! Jauh sekali dari rumahku!” Tanpa banyak berpikir gadis berkulit putih susu itu mengambil hoodie-nya dan segera bangkit dari sofa. Sesaat rasa sakit di kaki dan kepalanya menghilang. “Bisakah kau antar aku ke stasiun Yeokchon?!”

“Hei-hei tunggu!” Tao menghalangi langkah Taeyeon. “Aku bisa saja mengantarmu ke stasiun, tetapi tidak mungkin sekarang. Ini sudah pukul sebelas malam!”

“Ini sudah malam?!?!” Taeyeon lagi-lagi terkejut. Ia melangkah terseok-seok ke arah birai jendela dan buru-buru menyingkapnya. “Astaga… aku tidur berapa lama?”

“Sekitar delapan jam?” Sahut Tao mengangkat bahunya. “Sudahlah, kau bermalam di sini saja. Kebetulan aku menyimpan baju adik perempuanku yang mudah-mudahan pas denganmu. Seragammu kau masukkan saja ke mesin cuci, terus keringkan semalam agar bisa dipakai besok pagi.”

Taeyeon menghela napas panjang. Ia merutuki kebodohannya, “Baiklah. Terimakasih, Gege.”

-o0o-

Kediaman Kim Joonmyun, Somerset Palace Seoul, Susong-dong, Jongno-gu, Seoul, Korea Selatan

Jam yang tak pernah berhenti berdetak kini sudah menunjukkan pukul satu tengah malam. Tetapi hal tersebuti tidak menyurutkan niat seorang pria bernama Kim Joonmyun untuk tetap bergelut dengan karya tulisnya. Pria itu terus menilik satu per satu kata di layar laptopnya, terkadang menghapus atau menambahkan beberapa kata jika ia merasa belum sesuai.

Sejenak, Joonmyun meregangkan otot-ototnya yang sudah terasa kaku karena terlalu lama bergeming. Terdengar desahan pelan dari mulut pria itu, disusul dengan suara deru napas yang terdengar letih. Mendadak suara ringtone ponsel menginterupsi kegiatan pria itu.

“Taeyeon?” Joonmyun menaikkan satu alis hitamnya. “Semalam ini?”

Joonmyun menimang-nimang ponselnya yang terus berbunyi, dirinya dilanda dilema.

Akhirnya ia memutuskan untuk menekan tombol hijau. “Yeoboseyo?”

Kim Joonmyun-ssi?”

Bukan suara Taeyeon.

Lantas Joonmyun menyipitkan mata. “Err… Taeyeon-ah? Kaukah itu?” Tanyanya ragu.

Ini benar dengan Kim Joonmyun?” Si Penelepon tidak menggubris pertanyaan Joonmyun.

“Yap. Ini Kim Joonmyun. Ini dengan siapa?” Sahut Joonmyun. Pria itu menggeser kursi belajarnya hingga mendekat ke arah tempat tidur.

Ini ibunya Taeyeon.” Pernyataan barusan membuat Joonmyun langsung menahan napas. “Apa Taeyeon sedang bersamamu, Joonmyun?

Lagi-lagi kening Joonmyun berkerut. Ia menggaruk kepalanya sementara tangan kirinya terus memainkan pensil. “Tidak, tentu saja. Ini sudah terlalu malam bagi gadis sepertinya untuk berkeliaran di luar, apalagi di rumah saya. Memangnya dia belum pulang, Ahjumma?”

Ya. Dia belum kembali hingga selarut ini. Ahjumma sudah menghubungi ponselnya, tapi ternyata ponselnya ditinggal di dalam lemari.” Ujar Kim Jisoo—ibunda Taeyeon—dengan lirih. “Apakah kau benar-benar tidak tahu dia di mana?”

Joonmyun menyesap air liurnya. Ia menggigit bibir. Jantungnya berdegup tak keruan bila membayangkan keadaan yang mungkin sedang Taeyeon alami. Dan tiba-tiba saja sebersit bayangan mengerikan—tapi sudah ia duga—memaksa untuk meracuni saraf otaknya.

Ahjumma… saya rasa saya tahu ia di mana.”

-o0o-

SHS, Seoul, Korea Selatan, keesokan harinya

Brruaak!!!

“Apa yang kau lakukan Kim Joonmyun?!” Kyungsoo yang baru saja melangkahkan kakinya di sekolah terpaksa harus mendapat hantaman maut dari Joonmyun yang sudah 30 menit menunggunya di depan kelas. Tiba-tiba saja pria yang biasanya berperangai tegas dan bijaksana itu meninju dagu Kyungsoo tanpa alasan. Nyaris seluruh murid kelas 9 yang kebetulan lewat di koridor berhenti sejenak untuk sekadar menonton adegan seru tersebut.

Joonmyun menarik kerah Kyungsoo dengan cepat. Ia menatap pria itu dengan intens. “Dimana Taeyeon?”

Tak hanya pria pemilik nama Do Kyungsoo, hampir seluruh murid 9-A yang menonton peristiwa tersebut terkesiap.

“Taeyeon?” Kyungsoo menautkan alisnya. “Kenapa kau bertanya padaku?”

“Aku tahu kau dalang di balik semua ini, Kyungsoo.” Ketus Joonmyun tajam.

“Da-dalang apa? Aku tidak mengerti.” Kyungsoo menarik kerahnya dari cengkraman tangan Joonmyun. Ia menepuk-nepuk bagian atas pakaiannya dan mengerling sarkastis ke arah Joonmyun.

Joonmyun menghela napas kasar, “Taeyeon hilang sejak tadi malam.”

Kyungsoo tertegun. Kedua mata belo-nya melebar. Tangan dan kakinya tiba-tiba mati rasa. Hormonnya mendadak memproduksi peluh lebih banyak dari biasanya. Sekujur tubuhnya bergetar hebat.

“Taeyeon… hilang?”

“Jangan pura-pura tidak tahu, Kyungsoo.” Sela Joonmyun kembali ketus. “Aku tahu kau di balik semua ini. Padahal sudah berkali-kali kuperingatkan Taeyeon.”

“Apa yang kau bicarakan, sih?” Sungut Kyungsoo seraya membersihkan tetesan darah yang membasahi dagunya. “Aku benar-benar tidak tahu! Aku saja baru tahu kalau Taeyeon menghilang.”

Joonmyun memiringkan kepalanya, “Benarkah? Tapi aku tahu siapa kau, Do Kyungsoo—”

Ya! Apa yang terjadi di sini?”

Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi pertengkaran Joonmyun dan Kyungsoo. Seluruh pasang mata langsung beralih ke arah sumber suara. Seorang pria jangkung berjas menatap keduanya penuh keheranan. Di sampingnya berdiri seorang gadis bersurai cokelat yang digerai indah, Kim Taeyeon.

“Taeyeon?” Joonmyun terperangah. Pria itu mencermati penampilan gadis yang tengah menatap ke arahnya dengan cemas. Ia benar-benar Kim Taeyeon.

“Apa… yang terjadi?” Taeyeon mengedipkan matanya berkali-kali. Matanya menangkap gurat luka di sekitar bibir Kyungsoo. Kemudian pandangannya merangkak naik ke arah bola mata pria itu. “Kyungsoo? Kenapa kau?”

“Kau bisa tanyakan kepada ketua kelasmu yang bijaksana ini.” Desis Kyungsoo sarkastis seraya beranjak meninggalkan sekumpulan manusia yang kini tengah bergerumul di lorong. Pun beberapa anak yang tadi sempat menonton perkelahian Kyungsoo dan Joonmyun.

“Joonmyun? Kau bertengkar dengan Kyungsoo?” Tanya Taeyeon tak percaya. “A-ada apa?”

Joonmyun langsung terlihat gelisah. Ia menggaruk-garuk kepalanya dan akhirnya menjawab, “A-aku pikir… aku…”

“Sudah-sudah! Sekarang semuanya masuk ke kelas!” Tao menyela. Perlahan kerumunan murid di lorong menyurut, menyisakan Taeyeon, Joonmyun, Jongdae, Sunkyu dan tentunya Zi Tao.

“Ta-Taeyeon?” Sunkyu mendekati Taeyeon pelan-pelan. “Kau tidak apa-apa?”

“Kenapa kau tidak pulang semalaman? Aku, Sunkyu, Joonmyun dan ibumu mencarimu kemana-mana!” Timpal Jongdae ikut mendekat ke arah Taeyeon.

“Astaga! Aku lupa menghubungi ibu!” Taeyeon menyundak dahinya sendiri. Ia meringis, menyumpahi kebodohannya entah yang keberapa. “Maaf membuat kalian khawatir. Kemarin aku—”

“Taeyeon, cepat masuk.” Tao menangguhkan ucapan Taeyeon. Gadis itu hanya bisa mengangguk dan memberi isyarat kepada Sunkyu, Jongdae serta Joonmyun agar segera mengikutinya masuk.

“Jadi… benarkah kau hilang semalaman?”

Suara khas Kyungsoo memaksa masuk ke dalam indera pendengaran Taeyeon saat pelajaran sudah dimulai. “Bukan hilang. Aku hanya menginap di rumah Huang Ge—maksudku Huang Seongsaenim.” Jawabnya ringan.

“Menginap?!” Kyungsoo tersentak. Jika keadaan kelas saat itu tidak sedang gaduh ia yakin suaranya bisa didengar oleh semua anak. “Ke-kenapa kau menginap di tempat guru itu?”

“Eum… ceritanya panjang.” Taeyeon memilin rambutnya dengan gusar. Ia tersenyum kaku ke arah Kyungsoo, “Intinya kau tidak perlu tahu, lah.”

“Kau tahu ‘kan, bisa saja Huang Zi Tao itu adalah—”

“Anak buah Stephanie?” Celetuk Taeyeon. “Sudah kupastikan, dia bersih.”

“Bagaimana bisa kau tahu? Bisa saja dia—”

“Percaya, semuanya baik-baik saja.” Taeyeon kembali menginterupsi. Gadis itu kemudian menaruh pensilnya yang sedari tadi digenggamnya. “Sekarang kau yang berhutang cerita padaku. Apa yang terjadi denganmu dan Joonmyun tadi?”

“Tidak penting.” Tutur Kyungsoo dingin.

-o0o-

Tao berjalan melintasi murid-murid kelas 8 yang kebetulan sedang ramai berkumpul di koridor lantai satu. Ia sama sekali tidak mengindahkan tatapan-tatapan kagum milik mereka—terutama yang bergender  perempuan—ketika pria berumur 20 tahun itu berlalu di depan mereka. Gurat cemas di wajah pria itu tidak melunturkan kesan ‘sempurna’ yang sudah melekat pada dirinya sejak pertama kali ia menjajakkan kaki di SHS.

Tepat ketika pria itu sudah ada di kawasan ruang guru, langkahnya berbelok ke kiri, ke arah ruang arsip sekolah yang letaknya sangat terpencil—jauh dari jangkauan siswa.  Pria itu menelan salivanya dengan resah. Ia tidak mengerti mengapa Stephanie Hwang selalu memberinya tugas dadakan.

Tao terpekur sesaat. Pria itu kini sudah ada di depan pintu ruang arsip yang kelihatannya terkunci rapat. Tapi itu tidak masalah karena di sakunya sekarang sudah terdapat benda logam yang bisa membuka ruangan itu.

Dengkuran angin yang berasal dari pohon-pohon taman belakang sekolah menggelitik tengkuk pria berkebangsaan Cina tersebut. Matanya membuka dengan tiba-tiba bak seekor singa yang mendengar bahwa mangsanya mendekat. Pria itu menoleh dengan tenang ke kanan, dilanjutkan dengan ke arah sebaliknya. Sejurus kemudian jari-jari panjangnya sudah menggengam kunci ruangan arsip.

Bau apak langsung mengisi relung hidung pria berwajah dingin tersebut. Terdengar suara derit yang cukup memekakkan telinga ketika Tao mulai menggeser pintunya. Ketika tak ada satupun anggota tubuhnya yang masih berada di luar, Tao menutup pintunya.

Hening.

Suara derap kaki Tao yang sebenarnya pelan terdengar menggema di ruangan yang sunyi tersebut. Lantai keramik memantulkan bayangan meja-meja kayu yang sedang berdiri di atasnya. Hembusan angin kecil yang berasal dari satu-satunya ventilasi di ruangan itu sudah cukup membuat Tao merasa nyaman. Cahaya temaram yang berasal dari 3 buah bohlam lampu yang terpasang di langit-langit membuat tumpukan-tumpukan map berwarn coklat yang menggunung di sekitar sudut ruangan tampak jelas.

Langkahnya terhenti ketika kedua retina pria itu menangkap sebuah ruangan yang penuh dengan fail-fail berwarna cokelat yang dindingnya hanya berupa kaca hingga sanggup untuk membuat Tao menilik ke dalam ruangan tersebut.

Tanpa banyak bicara, Tao membuka pintu ruangannya yang berupa kaca pula. Hawa dingin langsung menusuk tubuhnya yang sudah dibalut kemeja serta jas kerjanya. Pria itu meregangkan tangannya sebentar dan kemudian bersiap untuk mencari sebuah fail di antara ribuan fail yang kini teronggok di hadapannya.

Setengah jam telah berlalu. Dan Tao masih berkutat dengan tumpukan fail ke-3. Pria itu mengelap peluhnya yang tetap saja menetes meskipun pendingin di ruangan tersebut sudah menghembuskan hawa dingin. Dan tiba-tiba saja sebuah map cokelat dengan banyak tulisan-tulisan yang dipatri menggunakan spidol menarik perhatiannya.

Itulah fail yang dia cari.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Seongsaenim?”

Tiba-tiba sebuah suara yang cukup asing di telinga Tao menginterupsi kegiatannya. Pria itu berbalik dengan cepat. Map cokelat yang tadi digenggamnya buru-buru ia sembunyikan di balik punggung. Tao tertegun ketika matanya bertemu pandang dengan dua bola mata beriris cokelat milik seorang pria yang sekarang tengah menyilangkan kedua tangannya sambil menatapnya congkak.

.

.

.

Do Kyungsoo.

.to be continued.

 

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s