[FREELANCE] Salt And Wound (Chapter 2)

Salt%20And%20Wound%203-Poster%201-Home%20Edition

Title : Salt And Wound

Author : NadyKJI

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Romance, Rearrange Married, Hurt/Comfort, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Eun Syu Rie (OC)
  • Soon

Other : Jung Eun Chae (OC), Chen, Sehun, (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Annyeonghaseyo,

Salt And Wound chapter 2 *author seneng banget kayanya* ya iyalah udh ngehang-ngehang nulisnya juga – susah ide – sampe udh lama bru muncul *ehehehe

Bagaimana dengan para reader sekalian?

Author akhir-akhir ini lagi seneng koleksi foto-foto interior rumah dan – *tring* muncullah ide di kepala author. Karena dalam ff ini sepertinya detail rumah lumayan menonjol author kepikiran membuat poster dengan gambar rumah, ruangan Kai – Syu Rie ya…

Hehe, author ingin readers dapat membayangkan rumah Kai-Syu Rie walaupun sedikit. Mungkin kalau aneh author minta maaf. Author bukanlah seorang desain interior, hehehe, author hanyalah orang yang hobi melihat dan menikmati saja *apa ini?!

Nah sekian saja, mian kalau kata-kata author berlepotan ga jelas begini.

Selamat membaca, sampai ketemu di authors note berikutnya alias Chapter 3 ya *dadah-dadah*

___

-:Kai:-

Sudah seminggu sejak aku dan gadis itu – Syu Rie menikah, tapi tidak terjadi apapun. Pagi hari tidak berangkat bersama, di sekolah kami tidak bertegur sapa walaupun sekelas, di rumah kami tidak pernah bertemu, dan itu cukup membuatku nyaman. Setidaknya bukan hanya aku yang tidak menyukai pernikahan ini.

Hari-hariku terasa lebih baik dengan diam ini. Kami tentu sama masih orang asing.

Sekarang hari Minggu, pukul 09.00,

Aku baru bangun, sekarang turun menuju dapur mencari minum tepatnya. Namun aku terkejut mendapati kehadiran gadis itu. Ia sedang memasak sepertinya. Langkahku terhenti seketika. Rasanya asing mendapati orang yang istilahnya seperti menghilang tiba-tiba muncul tepat setelah kau bersyukur akan ketidakhadirannya.

“Ah, selamat pagi… Kai.” Ia menyapa canggung, sebelum menyebut namaku ia mengigit bibirnya. Rupanya ia juga tidak terbiasa dengan kehadiranku juga.

Aku menganggukan kepalaku, menghampiri kulkas dan mengambil jus jeruk. Kuambil gelas dari rak dan duduk di meja yang menyerupai bar kecil itu. Menuangkan jusku dan meminumnya.

Keadaan hening tenang, hanya suara kegiatan masak gadis itu yang terdengar. Aku sendiri terlalu sibuk memandang keluar, melalui pintu kaca ke arah taman.

“Euhm, Kai… Apa kau tidak keberatan mungkin jika aku memasakkan… sarapan untukmu? Maksudku, aku hanya menawarkan saja.” Kata gadis itu hati-hati.

“Ten…tentu saja.” Jawabku ragu-ragu.

Aneh sekali, aku menerima tawarannya. Apa seharusnya aku menolaknya saja ya? Aku berpikir ulang.

Terlambat Kim Jong In, kau sudah menerimanya.

Aku hanya menghela nafas sedikit, ya sudah biarkan saja tidak ada ruginya. Lagipula aku juga lapar.

Karena bosan, aku mengambil ponselku dari kantong piamaku – hanya celana training dan kaos putih polos. Kulihat mungkinkah ada pesan atau e-mail.

Mengutak-atik ponsel ternyata cukup membuang waktu, buktinya sekarang gadis itu sudah menyodorkan sepiring omelet padaku.

“Gamsahabnida.”

“Ne.” Gadis itu berkata pelan.

Kami makan dalam diam, dan omeletnya lumayan, dia pintar memasak juga. Apa eomma dan appa sengaja memilihkan istri untukku yang serba bisa?! Hah! Aku tergelitik dengan pikiranku sendiri.

Drrt… Drrt…

Aku melirik ponselku yang bergetar di meja, gadis itu juga refleks menoleh. Tapi begitu ia tahu penyebabnya ia kembali lagi pada makanannya. Aku mengetikkan password ponselku, di layar tertera nama eomma. Aku membuka pesan yang dikirimkannya itu,

Eomma :

Chagiya, bagaimana keadaanmu? Dan Syu Rie-ah tentu saja…

Kau langsung kabur saja waktu itu, dan tidak memberi kabar pada kami.

Eomma mau mengunjungimu ya, eomma Syu Rie juga.

Hari ini, ne? Eomma tidak menerima penolakan.

Dan tolong tanyakan kepada Syu Rie, ia ke manakan ponselnya.

Eomma-nya khawatir karena tidak dapat menghubunginya.

Sampai jumpa nanti, kami akan datang sekitar tengah hari untuk makan siang bersama.

Eomma penasaran apa Syu Rie bisa memasak?

Aku langsung menyodorkan ponselku pada gadis di sebelahku, menyuruhnya membaca pesan dari eomma-ku.

“N…nde?”

“Baca sajalah, jangan dibalas. Kau perlu tahu saja.”

Gadis di sebelahku mengambil ponselku, membaca pesan yang tertera di layar.

Hening…

Kulihat ekspresinya, matanya sedikit membulat sesudah membaca pesan itu – kaget asumsiku.

“Eomma akan datang?” gadis itu berujar pelan, mengembalikan ponselku.

“Ne, apa yang akan kau lakukan sekarang?” aku sekedar bertanya.

“Sepertinya aku harus memasak.” Ia sedikit tersenyum.

Aku mengernyit, senyumnya dipaksakan, itulah yang aku rasakan dan itu menyebalkan.

“Kau sudah selesai?”

Aku mengangguk membiarkannya mengambil piringku yang sudah kosong. Tanpa bicara lagi aku langsung naik ke atas. Dasar eomma, padahal aku tadinya ingin bersantai saja,sekarang harus bersiap untuk kedatangannya.

-:Syu Rie:-

Aish eomma akan datang?! Eomma-ku dan eomma Kai – ibu mertuaku. Aku sedikit berlari menaiki tangga setelah mencuci piring.

Aku mungkin bisa dibilang mulai bisa sedikit berdamai dengan situasiku, sehingga aku bisa melakukan aktifitas dengan lebih normal tidak separah sebelumnya. Tapi kegiatanku masih sebuah rutinitas monoton selama satu minggu ini – bangun,sekolah,mencoba mengabaikan Eun Chae yang pantang menyerah, pulang, mengerjakan tugas jika ada, meratapi nasib, kadang menonton tv di ruang tengah, makan, tidur, dan rutinitas itu berlangsung konstan selama satu minggu.

Kecuali hari ini.

Sepertinya para pembantu tidak ada, rumah sepi jadi aku memutuskan untuk memasak sarapan untukku sendiri – aku sudah tidak memperhatikan namja – suamiku – Kai.

Masuk ke kamarku aku mandi sambil memikirkan apa yang baru saja kualami.

Aku makan pagi bersama Kai? Sesuatu yang kupikir tidak akan terjadi melihat aku tidak pernah berjumpa dengannya di rumah selama satu minggu ini. Kupikir namja itu sudah menghilang entah kemana.

Saat tadi melihatnya memasuki dapur aku sedikit kaget. Pasalnya aku sedang memasak sarapan untukku sendiri, dan mengira ia tidak ada di rumah. Mendadak ia muncul begitu saja.

Yang aku sedikit sesali, kenapa aku menyapanya tadi. Bagaimana kalau namja itu masih belum menerima kehadiranku dan mengacuhkanku? Ya, seakan hanya mengangguk adalah kategori tidak mengacuhkan, bagiku itu masih terbilang mengacuhkan.

Aku juga memasak untuknya – seakan aku ini benar istrinya. Tentu aku istrinya tapi kan kami tidaklah mengenal satu sama lain, hanya sebatas nama saja mungkin.

Ah sudahlah jangan dipikirkan lagi Syu Rie. Hidup itu aneh, perilaku orang juga aneh. Siapa tahu saja namja itu suasana hatinya sedang baik sehingga mau menerima tawaranmu.

Cobalah untuk hidup sedikit normal mungkin?!

Dengan begitu kesimpulan telah terambil.

Selesai mandi aku menuju lemari yang sudah berisi baju-bajuku. Setidaknya ada sedikit barangku di kamar ini walaupun hanya baju.

Dengan asal aku mengambil baju. Tank top putih dan celana 3/4 berwarna khaki. Sudahlah tidak perlu memperhatikan penampilan, biasa saja. Lagian dua-duanya eomma-ku sekarang. Setelah mengeringkan rambutku dan mengikat ke atas rambutku aku turun kebawah seraya memikirkan menu makan siang nanti.

10.00

Masih banyak waktu,

Kulkas juga penuh dengan bahan mentah.

Aku memasak nasi dengan rice cooker. Sayurnya aku memasak japcahe, bulgogi, dan doenjang-jjigae. Kurasa itu cukup. Semoga saja aku berdoa dalam hati.

-:Author PoV:-

Ting, tong… Ting,tong…

Suara bel terdengar ke seluruh penjuru rumah yang besar namun sepi ini. Rumah yang baru saja mendapat tamu setelah kebekuan dari kedua penghuninya, mengharapkan sedikit kehangatan mungkin.

Suara langkah Kai menuruni tangga bisa terdengar, betapa sepinya rumah itu.

Namja itu menghampiri pintu utama, membukakan pintu untuk dua tamunya.

Sementara di sudut lain Syu Rie sedang menata makanan yang ia masak ke meja makan, yang terbilang tidak pernah digunakan itu. Ia lebih sering makan di meja bar kecil itu seperti tadi pagi.

Setelah gadis itu memastikan semuanya sudah tertata, ia berlari kecil ke ruang tengah. Menyambut tamu yang sudah di nantikan itu.

“Eomma, bagimana kabar kalian?” Kai bertanya, sedikit janggal sekarang ia memiliki dua eomma.

“Kami baik pastinya. Di mana Syu Rie?” kata eomma Kai pada putranya itu. Sedangkan Kai hanya mengedikkan bahunya.

Mereka bertiga sudah duduk di sofa,

Tap, tap…

Gema langkah kaki itu membuat kedua eomma menoleh ke arah suara tersebut. Sedangkan Kai lebih memilih asyik dengan ponselnya.

Eomma Syu Rie langsung beranjak dari sofa dan menghampiri anak gadisnya itu. Memeluk rindu Syu Rie.

“Chagiya, eomma khawatir. Ke mana ponselmu?”

Syu Rie memeluk eomma-nya kaku. Terkejut.

“Syu Rie baik-baik saja eomma. Kalau ponsel… aku tidak tahu ke mana. Tidak perlu khawatir, ne?”

Setelah itu Syu Rie menyapa eomma Kai, dan dengan enggan duduk di sebelah Kai. Karena kedua sofa kecil dikanan-kiri ruangan itu sudah diisi kedua eomma dengan liciknya.

Setelah bercakap-cakap yang tidak penting, tentang sekolah, dan bernostalgia sedikit mereka menuju ruang makan.

_

“Eomma pulang ya, hehe. Masakanmu enak ya Syu Rie. Lain kali masakan lagi untuk eomma ya.” Puji eomma Kai di depan pintu.

Syu Rie mengangguk. Sementara Kai yang berada di sebelah Syu Rie hanya memasukkan tangannya ke saku celananya.

Setelah salam perpisahan, kedua eomma memasuki mobil. Kai sudah mendekati pintu rumah sementara Syu Rie baru berbalik.

“Syu Rie…”

Syu Rie berbalik, ternyata eomma-nya. Gadis itu mendekati kaca jendela yang terbuka. Eomma-nya mengusap pipi dengan sayang.

“Syu Rie, mianhae chagiya…,” bisiknya lirih sehingga eomma Kai tidak bisa mendengar.

Lalu dengan suara lebih keras.

“Barangmu sudah eomma turunkan ya. Tadi Kai yang mengurusnya, maaf baru sekarang. Sebenarnya itu juga salahmu kan, ke mana ponselmu. Dasar.” Eomma-nya tertawa kecil.

Syu Rie tersenyum, “Eommaaa, tenanglah. Aku bisa kok hidup tanpa ponsel.”

“Kau bisa, eomma yang kalut tidak bisa menanyakan kabarmu.”

“Syu Rie-ah, sekali pergilah dengan Kai minta ia mengantarmu, belilah ponsel ya.” Tiba-tiba ibu mertuanya itu mengikuti percakapan.

Gadis itu hanya bisa tersenyum melihat dua wajah lembut wanita paruh baya di depannya.

Seraya mobil berjalan menjauh, Syu Rie memasuki rumah.

Bagaimana dengan Kai?

Namja itu sudah berada di kamarnya lagi.

-:Syu Rie:-

Aku menaiki tangga, menuju kamarku. Sekarang sudah jam 4 sore.

Kardus?

Aku melihat 2 kardus bertuliskan namaku di depan pintu yang terdekat dengan tangga – bukan pintu kamarku. Tanpa pikir panjang aku menyeret kardusku ke depan kamarku. Memasukkannya dengan susah payah. Berat sekali. Aku ingin tahu apa saja yang eomma masukkan ke dalam sini. Seberapa kosongkah kamarku yang dulu sekarang?

Aku duduk bersila di lantai kamarku menghadap kardus-kardusku. Membongkarnya satu persatu. Kardus pertama koleksi bukuku, kardus kedua : pajangan kamarku yang sedikit sekali, dan alat rias dari meja riasku semuanya berada di dalam, tertata rapi.

Saatnya beres-beres.

Aku mulai dari buku-bukuku, di susul dengan tektek bengek yang berada di kardus kedua.

Tanpa terasa kamarku sudah setengah gelap, sudah jam 6 sepertinya. Matahari sudah tidak menyinari kamarku lagi. Aku menutup gorden dan menyalakan lampu. Kulihat keadaan kamarku yang sedikit lebih berisi ini. Setelah puas aku keluar kamar, membawa kardus kosong ke gudang. Tapi berhubung aku tidak tahu isi rumah ini walaupun sudah seminggu tinggal disini, sepertinya aku harus menanyakan pada Kai.

Aku tidak langsung mencari Kai, aku ingin mampir dulu ke dapur membuat segelas minuman hangat mungkin.

Saat melangkahkan kakiku sekilas aku lihat tv di ruang tengah menyala. Pasti Kai pikirku, sehingga aku tidak perlu repot-repot mencari kamarnya di antara banyak pintu sialan tak berguna itu.

Karena sekalian lewat aku memutuskan menghampiri Kai dulu. Saat pandanganku di ruang tengah mulai meluas, kulihat namja itu tertidur di sofa.

Sial, aku tidak bisa bertanya.

Dengan putus asa aku beranjak ke dapur, membuat secangkir coklat panas. Saat mengaduk-aduk coklatku agar tercampur merata pikiranku melayang ke namja itu. Jika namja itu bangun mungkin ia akan kedinginan.

Entah apa yang merasuki pikiranku aku malah membuatkannya kopi coklat kesukaanku, aku kan tidak tahu ia menyukai apa. Mungkin kopi, kebanyakan namja-kan suka kopi, lagipula semua berkomentar kopi coklat buatanku sangat enak.

Aku meninggalkan kardus itu di samping tempat sampah di dapur, aku sudah malas mencari garasi di rumah yang cukup luas ini. Membawa dua cangkir aku menuju ruang tengah kuletakkan kedua cangkir itu dan mengambil remote tv yang terlepas dari pengangan namja itu di lantai dekat sofa. Aku mematikan tv itu. Duduk sebentar untuk menghabiskan coklat panasku. Aku kurang suka membawa makanan atau minuman ke kamar, karena aku malas untuk membawanya ke luar lagi.

Namja itu tidak bangun-bangun sampai aku mengabiskan coklat panasku. Aku beranjak dari sofa.

Setidaknya air yang kupakai untuk membuat kopi sangat panas, sehingga minumannya tidak akan mendingin dalam waktu dekat.

-:Kai:-

Aku membuka mataku. Hening…

Bukankah tadi aku sedang menonton tv? Aku beranjak duduk. Badanku sakit akibat tertidur di sofa. Meluruskan badanku, mataku tertarik dengan cangkir merah yang ada di meja. Kuambil, masih hangat?!

Gadis itu…

Aku hanya terdiam,

Meneguk sedikit cairan coklat yang ada di dalamnya.

Kopi?!

Tapi rasanya berbeda, biasanya aku tidak suka kopi, tapi kopi ini rasanya berbeda.

-:Syu Rie:-

“HAAAHH!”

Aku bangun terengah-engah, mimpi buruk itu lagi. Rasa sakitnya masih terasa, sangat nyata. Ada apa sebenarnya? Mengapa sebuah mimpi bisa terasa begitu nyata?

Aku mengusap keningku yang berkeringat. Kamarku masih gelap. Tanganku menggapai kegelapan ke arah lampu meja di sebelah kananku.

04.00

Jam kecil yang berada di samping lampu langsung terlihat oleh mataku.

Masih pagi sekali, aku tidak berniat tidur lagi. Memikirkan mimpi itu hinggap dalam tidurku saja sudah membuatku menggigil. Perlahan aku turun dari tempat tidur. Udara pagi membuatku bergidik, dari dulu aku tidak begitu kuat dingin.

Aku mengambil rompi rajut putihku yang tersampirkan di kursi belajar. Memeluk diriku sendiri, aku keluar. Hanya keheningan dan kegelapan rumah yang menyambutku. Membuatku sedikit ngeri.

Tanpa tujuan aku turun perlahan sambil menghitung jumlah anak tangga. Merasakan pegangan tangga di tanganku yang sudah mulai dingin.

Kesendirian.

Hal yang sangat aku benci, dan sekali lagi aku berada di dalamnya.

Perhatianku tertuju pada taman sederhana yang hanya dibatasi oleh pintu kaca. Pintu kaca yang tipis dan mudah rapuh. Seperti diriku. Sekali saja pukulan, akan pecah berkeping-keping. Namun selalu ada pengganti untuk kaca yang pecah, begitu pula denganku. Keberadaanku akan sangat mudah digantikan oleh orang lain.

Otomatis kakiku melangkah ke arah pintu itu. Terpengaruh mimpiku, aku jadi ingin ke taman.

Begitu kugeser pintu itu. Diriku yang sudah kedinginan, menjadi mati rasa. Perlahan namun pasti aku berjalan keluar. Kakiku yang telanjang menyentuh rumput secara langsung, dingin namun lembut. Melihat keseluruh taman, aku menangkap meja dan kursi di sebelah kananku.

Meja dari marmer dan kursinya juga. Aku mendudukan diriku di kursi marmer itu.

Bodohnya diriku, aku yang tak kuat dingin ini malah memaksakan diri keluar, dan sekarang duduk di taman yang dingin. Dengan benda mati yang pastinya dingin. Perlahan kurasakan tangan dan kakiku mulai mati rasa. Tidak kuperdulikan. Pikiranku melayang pada mimpiku. Sengeri aku pada mimpiku, seenggan aku pada mimpiku, namun mimpi itu menghantuiku, membuatku penasaran, apakah artinya. Mimpi itu tidak mencerminkan diriku dengan benar.

Tidak apa-apa memikirkannya. Ada waktu yang harus di habiskan.

_

Sinar matahari yang mulai muncul dari timur seakan membangunkanku dari lamunan tak berujung. Aku masih tidak mengerti. Tapi tuntutan seorang pelajar masih lebih penting daripada segalanya bukan?

Kembali aku menelusuri jalan yang sebelumnya aku lalui subuh tadi. Pikiranku masih belum terfokus dengan baik. Aku tidak memperhatikan di mana aku berhenti. Aku hanya membuka pintu.

Pemandangan pertamaku, kamar ini mirip dengan kamarku, hanya interiornya lebih gelap. Ruangannya polos, tidak memiliki banyak barang. Kudengar suara air yang keluar dari shower. Seketika pikiranku yang melantur kembali – seperti karet gelang yang ditarik tapi pasti kembali ke bentuk semula, membuatmu sedikit terkejut. Kamar ini bukan kamarku.

Kai.

Satu nama yang mungkin menjadi pemilik kamar ini.

Seumur hidup, baru kali ini aku berada di kamar seorang namja. Kuperhatikan, apakah kamar seorang namja sebegini kosong? Tidak ada tanda-tanda khas kesukaannya – mungkin buku sepertiku. Nihil. Kamar ini begitu sepi.

Aku berjalan mendekat ke bed drawer. Diatasnya cukup banyak barang. Tanganku menyusurinya perlahan, menangkap setiap detailnya. Ada jam tangan, ponsel namja itu, cincin – yang serupa dengan cincin yang melingkar di jari manisku, earphone, lampu meja. Tatapanku terhenti pada satu benda bening berkilauan, botol, kulihat lebih dekat, botol perfume? Tanganku sudah hampir menggapai benda itu.

“Mau apa kau?”

Aku terkesiap, menoleh ke arah suara dingin itu.

“Ehmm, miahae. Aku salah masuk kamar. Kau tahukan cukup banyak kamar disini.”

“Eoh, sepertinya kau masuk ke kamar yang salah.” ucapnya penuh penekanan.

Namja itu – Kai, berjalan mendekatiku. Hanya bagian pinggang kebawah tertutup oleh handuk putih. Aku bisa melihat dadanya yang bidang, masih tersisa bulir-bulir air yang menetes dari rambutnya yang basah.

Aku mundur selangkah demi selangkah, seiring Kai yang maju.

Duk.

Pungguku terhenti oleh dinding. Rambutku tertiup angin dari jendela yang berada disampingku. Sedangkan Kai semakin berjalan mendekat. Jantungku berdetak tidak keruan, ini tidak bagus.

Aku memejamkan mataku panik. Bisa kurasakan namja itu sudah berada di depanku. Embusan nafasnya sangat dekat.

Beberapa menit yang bisa kurasakan hanyalah embusan nafas namja itu yang teratur dan detak jantungku yang perlahan mulai normal.

Aku membuka mataku. Diam membeku.

Tangan namja itu sudah mengurungku di samping kanan dan kiri wajahku.

“Apa yang kau lakukan?” ia bertanya sekali lagi datar tenang terkendali.

“Aku salah masuk kamar.”

“Dan kenapa aku malah memergokimu melihat-lihat… kau bahkan hampir menyentuh barangku.”

Glek, aku menelah ludahku.

Ia melanjutkan, “Tidakkah kau tahu, kau masuk ke kamar seorang namja, dengan pakaian seperti itu?!”

Aku refleks melihat bajuku. Bibirku langsung memucat, di balik rompi rajut putihku yang tipis. Aku hanya memakai gaun tidur putih selutut.

Namja itu tersenyum licik, mengancam. Matanya menatapku dingin.

“Walaupun aku tidak mencintaimu, tapi setidaknya kita suami istri.”

Tangan kanannya bergerak menelusuri pipiku dan mengangkat daguku.

Tidak, aku tidak akan kalah.

“Apa maumu?”

Aku berbicara, mataku menatapnya dengan lebih berani.

“Katakanlah apa yang sebenarnya kau lakukan.”

“Aku salah masuk kamar. Aku sudah mau keluar, tapi aku tertarik dengan botol perfume kecil itu. Aku hanya penasaran, itu perfume perempuan…”

“Kenapa kau bahkan tertarik?!”

Suaranya tidak setenang sebelumnya, malah agak membentak. Bisa kurasakan ia mengertakan giginya.

Aku diam, menunggu reaksinya.

“KENAPA KAU TERTARIK?!”

DUGH!

Kali berikutnya namja itu sudah membentakku, tangan kirinya yang masih bebas meninju dinding.

Aku terkejut, detik berikutnya pandanganku mengeras.

“Karena itu aneh, untuk apa-”

“Hah! Sekarang kau menjadi istriku? Memata-mataiku? Cemburu?”

Kali ini aku benar-benar tidak suka. Aku menepis tangan kanannya yang masih menahan daguku.

“Tidak.” Aku mengatupkan bibirku, “Aku bahkan tidak mengenalmu… kita bahkan tidak mengenal satu sama lain. Untuk apa aku peduli. Bukankah kita sama-sama tidak menyukai pernikahan ini.”

Suasana menjadi tegang.

“Aku hanya tersesat, berakhir di sini. Hanya saja benda itu terlalu mencolok. Jika orang mempertanyakannya bukankah itu biasa?”

Aku berkata menantangnya. Aku mungkin sudah tidak ingin hidup. Tapi aku tidak suka diperlakukan begini.

PLAK

Pipiku terasa panas. Berani-beraninya namja itu menamparku.

“Tidaklah kau tahu kata privasi?” kata namja itu dingin.

“Apa peduliku pada privasimu! Bukankah kau tahu, keingintahuan tidak memikirkan privasi.”

Aku membalasnya pedas.

“KA!”

Teriakan itu keras, bergema di ruangan kecil ini.

Aku tersenyum pahit.

“Tidakkah kau tahu, detik kau berada di hadapanku aku sudah akan keluar. Kau saja yang cukup bodoh menahanku.”

Aku berjalan menuju pintu, tepat ketika pintu sudah sedikit terbuka… ia kembali berbicara.

“Berhentilah tersenyum. Senyummu menjijikan. Untuk apa kau tersenyum jika senyummu bahkan dipaksakan, topengmu? Setiap hari! Bahkan saat tersenyum pahit tadi tidak menunjukkan apapun. Berhentilah, ibaratnya kau ingin bunuh diri tapi niat untuk bunuh diri pun tak ada. Menggelikan sekali.”

Perkataan itu dengan tepat membekukanku. Bagaimana ia bisa tahu, jika orang lainpun bahkan tak tahu?! Eomma orang terdekatku pun tidak menyadarinya. Kenapa harus namja ini?

_

“Annyeong Syu Rie-ah!”

Suara riang itu. Tidak bisakah ia menyerah saja.

“Kenapa kau tidak membenciku saja.”

“Wae?”

“Kau bodoh atau apa sih? Sudah jelas-jelas aku tidak ingin berteman denganmu, aku mengabaikanmu. Kenapa kau tidak menyerah saja?” aku menjawabnya dingin.

“Sirreo. Aku tahu kau tidak jahat.”

“Kau tidak tahu saja.”

“Kau terluka – matamu…,”

DRAK

Aku berdiri dari kursiku, membuat yeoja yang sedang berbicara denganku berjengit kaget.

“Kau bahkan tidak tahu aku…”

Setelah berkata seperti itu aku berjalan pergi, meninggalkan seisi kelas yang sudah mulai penuh itu melihat diriku dengan tatapan aneh.

Bisa-bisanya yeoja itu mengatakannya dengan yakin – seakan dia tahu diriku saja. Aku sudah tidak berniat belajar apalagi dengan yeoja itu.

Atap.

Hanya satu tempat itu yang aku ingat. Kulangkahkan kakiku ke atap, mencari ketenangan. Bayang-bayang kejadian tadi pagi kembali menyergapku. Botol perfume itu… apa yang sangat penting dengan benda itu sampai-sampai namja itu marah – ia bahkan tidak layak untuk marah padaku. Ia tidak menjelaskan apapun sebagai alasannya marah.

Kulihat pintu atap – terbuka. Siapa yang berada di sana? Aku melangkahkan kakiku ragu.

Mataku sangat mengenal punggung itu, kakiku berhenti. Aku sudah akan berbalik.

“Tidak perlu pergi.”

Rupanya ia merasakan juga ada yang datang.

“Ani, aku pergi. Tidakkah kau membenciku?”

Mendengar suaraku tubuhnya menegang, masih memunggungiku.

“Tidak…”

Hening, hanya ada bisikan embusan angin pagi. Aku terdiam, tidak berani melakukan apapun. Namja itu bilang apa? Aku tidak salah dengar? Seakan mengerti pikiranku ia melanjutkan.

“Aku tidak membencimu. Aku bahkan tidak mengenalmu, eoh?”

“Kau bercanda.”

Aku menjawabnya dingin, bagaimana ia bisa membentakku, menamparku, bahkan menyakitiku dengan kata-kata pedasnya dan bilang ia tidak membenciku dan tidak mengenalku?! Namja ini gila.

“Kau mungkin berpikir aku aneh? Aku tidak peduli. Jujur saja aku tidak membencimu. Bahkan aku tidak berniat marah. Aku hanya terganggu. Tapi aku tidak berniat meminta maaf padamu soal kejadian pagi ini. Itu sepenuhnya kesalahanmu.”

Cukup.

Aku berjalan mendekati namja itu. Berakhir di sebelahnya. Semua salahku?

“Berikan aku alasan kenapa semuanya salahku?!”

“Kau masuk ke kamarku tanpa izin, menyentuh barangku, dan ketidakberuntunganmu aku suasana hatiku sedang tidak baik.”

“Setelah suasana hatimu yang buruk itu mempengaruhi sikapmu padaku kau masih mengatakan sepenuhnya salahku!?”

“Tentu, salahmu.”

PLAK

Aku menampar namja itu, keterlaluan.

“Jika sampai botol itu hancur olehmu pembalasan dendamku akan kacau.”

“Pembalasan?”

“Kau tidak berhak tahu. Pergilah, tidakkah kau tahu aku sedang membuatmu membenciku?”

“Ya… tapi kau tidak berhasil. Seperti katamu kita bahkan tidak saling mengenal.”

-:Author PoV:-

Kai terdiam, mendengar suara pintu tertutup.

Matanya terpejam.

:FLASHBACK:

‘Mian, aku pergi…’

Dirinya terdiam kaku di depan cafe itu. Melihat sosok itu pergi meninggalkannya, memasuki taxi.

Pandanganku seketika berahli ke bawah kulihat benda kecil. Benda itu menarik perhatian – bersinar karena sinar matahari. Ia menunduk, mengambil benda kecil tersebut. Menggengamnya erat.

:FLASHBACK END:

Tangannya mengepal mengingat kejadian itu lagi. Semuanya berkat gadis itu.

Di sisi lain…

Syu Rie menuruni tangga rooftop dengan terburu-buru. Beberapa kali kakinya tersandung, hanya tangannya yang memegang pegangan tangga yang menahanya dari terjun bebas. Begitu sampai di akhir tangga dilihatnya Eun Chae, yeoja itu terlihat khawatir. Syu Rie berdiri di depan yeoja itu.

“Gwaenchana?”

Tangan Eun Chae sudah bergerak menggapai tangannya. Namun ditepisnya tangan itu kasar.

“Kau mau tahu?! Aku tidak pernah baik-baik saja.”

Syu Rie berjalan asal, di belakangnya ia masih mendengar suara.

“Aku siap mendengarkan…”

Perkataan Eun Chae di anggapnya angin lalu. Hanya satu yang terfokus di pikirannya.

Botol itu. Lihat saja aku akan mengetahui apa yang ada di baliknya.

Gelegak amarahnya memerintahkannya begitu saja – tidak ada kesempatan untuk bepikir rasional.

Eun Chae hanya memandang kepergian Syu Rie dengan khawatir. Ia bisa melihat langkah Syu Rie yang tidak stabil. Ia hanya memutuskan untuk diam, menunggu. Perasaanya mengatakan Syu Rie bukanlah orang jahat, ia tidak akan menjauhi gadis itu semudah teman-temannya. Ia harus tahu ada apa sebenarnya.

TO BE CONTINUE…

13 thoughts on “[FREELANCE] Salt And Wound (Chapter 2)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s