[FREELANCE] Unspoken Feelings

Unspoken%20Feelings1

Title : Unspoken Feelings

Author : Hyuuga Ace

Genre : Romance, Fluff

Rating : PG-13

Length : Oneshot

Web : cynicalace.wordpress.com

Main Cast :

Han Chieun (OC)

Byun Baekhyun

Other Cast : Park Chanyeol, Lee Jina (OC), Choi Jaeshin (OC)

Author’s note :

Annyeong bertemu lg dgn author.. kkk~ ada yg inget one shot author yg judulnya Sometimes,.. Someone. ga? FF ini sekuel dari FF author yg itu.. klo di Sometimes,… Someone. author ngebahas soal Lee Jina, di FF ini author ngebahas kehidupan cintanya (?) Han Chieun, sahabatnya Lee Jina. Akhir kata (?) yg baca FF ini jangan lupa comment yah😀

HAPPY READING ALL ^^

***

“Chieun-ssi, kapan novel ke-5 mu akan rampung?”

 

“Beberapa sumber mengatakan kau sedang dalam masa hiatus, apa itu benar?”

 

“Ada beberapa lagi yang mengatakan kau sudah kehilangan motivasi dalam menulis?”

 

Han Chieun mengigit lidahnya sendiri mendengar pertanyaan- pertanyaan yang menyerangnya ketika dia menghadiri acara amal yang digalang oleh percetakan buku terbesar di Korea, sekaligus tempatnya bekerja. Chieun, novelis yang hampir 1 tahun penuh tidak mengeluarkan novel barunya dan dia sendiri bingung tentang dirinya sendiri.

Inspirasinya menghianatinya, tidak ada inspirasi yang benar- benar memotivasinya untuk mulai menulis lagi. Maka dari itu, dia juga tidak tahu harus menjawab pertanyaan para wartawan seperti apa. Dia hanya menunjukan senyumannya dan salah satu dari editor merangkap manajernya ―jika boleh dikatakan manajer, maju untuk menjawab pertanyaan para wartawan seklise mungkin.

Setelah itu Chieun dan Jaeshin masuk ke dalam aula besar itu dan mulai memilih salah satu kursi pada meja yang melingkar di pinggiran.

“Kau baik- baik saja? Apa ada pertanyaan dari para wartawan yang menyinggungmu?” Jaeshin sahabat sekaligus mitra kerja Chieun bertanya dengan nada hati- hati.

Chieun hanya tersenyum hambar, dan menjawab pertanyaan Jaeshin seriang mungkin. “Gwaenchana. Ada yang salah memangnya?”

“Kau selalu seperti ini. Jelas- jelas ketika mereka bertanya tentang kehiatusanmu, matamu menunjukan kilat- kilatan aneh.”

Chieun menghela napas pelan, berbicara tentang kehiatusannya, tidak ada yang tahu hal ini kecuali dirinya sendiri. Bahkan sahabat sedekat Jaeshin pun tidak mengetahuinya.

Bahwa seseorang telah membawa semua inspirasinya pergi bersamanya. Seseorang yang telah ia kenal sejak masih berseragam sekolah. Sunbaenya di bangku sekolah yang lama kelamaan merangkap jadi temannya yang selalu ia lihat dari kejauhan.

Chieun dibentuk menjadi seorang yeoja yang kesulitan dalam mengungkapkan perasaannya dengan kata- kata. Makadari itu ia senang menulis, karena ia bisa mengekspresikan apapun yang dirasakannya lewat tulisan, bukan ucapan.

Orang- orang mengatakan bahwa tulisannya memiliki permainan emosi yang sangat baik dan dia bersyukur karena pujian itu. Tapi tidak ada orang yang tahu darimana ia bisa mendapat segala emosi itu dalam menulis.

Apapun yang ia tulis, apapun emosi yang ia gunakan untuk menulis. Itu semua sebenarnya ia tunjukan pada satu orang, layaknya ingin menyampaikan perasaannya pada orang itu lewat karakter yang ia ciptakan pada sebuah tulisan.

Namja itu, telah banyak memberikannya inspirasi. Hanya dengan melihat namja itu, segala sesuatunya berjalan dengan baik. Mendengar suaranya memberikannya banyak inspirasi tentang dialog yang akan ia gunakan dalam ceritanya. Mendengar tawanya membuatnya mengingat padang rumput luas dengan guyuran sinar matahari yang bisa ia pakai dalam salah satu karyanya. Melihat matanya yang bening dan jenaka, membuatnya dapat melanjutkan kisahnya.

Orang itu membuatnya ingin menumpahkan segala sesuatunya dalam tulisan, tentang apa yang terjadi, tentang imajinasinya, dan tentang harapannya.

Tapi setelah orang itu pergi, ia takut untuk menulis lagi. Karena ia takut karyanya hanya akan berdasarkan kenangan. Dan Chieun tahu dengan pasti, ia membenci itu.

Dia tidak bisa menulis lagi, inspirasinya telah pergi. Orang itu sudah pergi.

***

Seorang namja sedang menggeram frustasi, usianya telah mencapai 28 tahun dan orang tuanya tetap mengaturnya layaknya dia anak usia 6 tahun.

Namja itu ―Byun Baekhyun, masih menyanggupi permintaan orang tuanya untuk  kembali tinggal ke rumah orang tuanya yang berada di Jepang dan meninggalkan apartemennya di Korea juga seseorang di lantai atas. Tapi dia sudah ingin meledak ketika orang tuanya memaksanya menikah dengan siapapun yeoja pilihan orang tuanya karena dia belum juga mendapat yeoja chingu di usianya yang bisa dikatakan matang.

Damn, seharusnya ia menekan egonya dan menyatakan perasaannya pada Chieun semenjak 10 tahun yang lalu dan mungkin hal itu dapat membuat yeoja itu mengubah pandangannya tentang dirinya. Seharusnya ia mencoba. Tapi ia terlalu pengecut dan harga dirinya menolak melakukan hal itu sampai berlarut- larut, hingga mencetak angka 10 tahun.

Baekhyun tahu bahwa Han Chieun tidak pernah menyukainya karena dari cara ia berbicara dengannya sangatlah hambar. Seakan Baekhyun tidak pernah berarti apa- apa dalam 10 tahun kehidupannya setelah mengenal dirinya.

Hal itu jelas melukai harga diri Baekhyun yang bahkan setelah 10 tahun pun tetap menyukai dan mengagumi penulis berbakat itu.

Jarak yang memisahkan mereka hampir setahun terakhir ini benar- benar menyiksanya. Mulai dari ia tidak tahu kabar tentang yeoja itu, tidak mendengar “Good Morning” darinya setiap pagi ketika bertemu di lobby. Tidak mendengar tawanya ketika sarapan bersama di cafetaria. Dan yang paling parah, Baekhyun sudah hampir menjerit frustasi karena ia tidak bisa melihat wajah yeoja itu.

Ketika dia memutuskan memilih kembali ke Korea dengan alasan gila semacam ingin bertatap muka dengan seseorang yang bahkan mungkin sudah melupakannya, orang tuanya mengenalkannya pada gadis Jepang yang 3 bulan lagi ingin dijadikan calon mempelainya jika ia masih belum menemukan pacar juga sampai batas waktu tersebut. Sial!

Baekhyun membuka tabletnya dan membuka situs berita negara kelahirannya yang sudah sangat lama ia tinggalkan dan betapa terkejutnya ketika dia menemukan berita bahwa penulis favouritenya itu diisukan hiatus dalam menulis.

 

Whats wrong with that girl?!

Baekhyun tahu bahwa menulis adalah passion Chieun, pasti ada sesuatu yang membuatnya terkena isu seperti ini.

Rasanya Baekhyun ingin langsung terbang ke Korea untuk menanyakan hal itu layaknya orang yang terlalu ingin tahu akan kehidupan orang lain. Tapi eomma nya pasti akan mencekiknya saat itu juga.

***

Siang ini Chieun sedang makan siang bersama dengan Jina sahabatnya sejak TK. Tentu saja Jina akan membawa serta suaminya, Chanyeol. Park Chanyeol, yang tidak lain adalah sahabat dari namja yang telah menghilang itu.

Chanyeol yang memang seorang talkactive itu terus saja mencerocos tentang banyak hal. Sementara istrinya hanya tersenyum di sebelahnya, seakan mereka memang mempunyai dunia mereka sendiri dan meninggalkan Chieun yang memakan pastanya dengan tidak napsu.

Sampai ketika Chanyeol membahas tentang Baekhyun dan telinga Chieun siap mendengar apa saja tentang keadaan namja itu.

“Chieun. Kau tahu sebentar lagi Baekhyun akan menikah.”

Tangan kanan Chieun yang memegang garpu seakan kebas dan dia membutuhkan sekitar 1 menit penuh untuk bisa benar- benar mencerna ucapan namja tinggi suami sahabatnya ini.

Jadi…. Baekhyun. Dia akan menikah?! Dia baru saja merasakan dadanya dilindas truk yang begitu besar sampai- sampai ia harus megap- megap untuk mencari nafas.

Dia tidak peduli lagi ekspresinya sekarang sudah sebodoh apa, yang dia sepenuhnya pedulikan adalah keadaan hati kecilnya yang ia yakin sudah hancur.

Sampai tangan kanannya yang masih kebas itu menyenggol orange juicenya dan cairan kuning itu menumpahi rok birunya.

Dia memiliki alasan untuk pergi ke toilet dan menenangkan diri.

Ketika Chieun telah hilang dari pandangan, Jina dan Chanyeol saling pandang seakan pandangan mereka memiliki arti sendiri.

“Sudah kubilang, Chieun itu menyukai Baekhyun. Lihat saja ekspresinya.”

“Sudah sejak lama, kami mengetahuinya. Hanya saja dia tidak pernah mengatakannya.” Tandas Jina sambil memegang kepalanya.

“Jadi Baekhyun akan benar- benar menikah?” Lanjutnya.

“Baekhyun diberikan ultimatum yang cukup dahsyat dari orang tuanya untuk memiliki yeoja chingu dalam waktu 3 bulan dan menikahinya secepat mungkin. Dan jika ia masih belum bisa mendapat pacar sampai 3 bulan ke depan, orang tuanya akan menikahkannya dengan wanita Jepang yang bahkan tidak dikenalnya.” Chanyeol menyelesaikan ucapannya dengan nada sedikit geli yang membuat Jina bertanya- tanya.

“Wae?”

“Aku tidak akan pernah membiarkan sahabatku menikah dengan yeoja yang bahkan tidak dikenalnya. Aku tahu kok cara menyatukan dua orang yang sangat complicated itu.”

Jina mengerutkan keningnya makin tidak mengerti dengan ucapan suaminya.

“Chieun dan Baekhyun?”

“Siapa lagi? Seperti yang kita lihat barusan, Chieun sangat mencintai Baekhyun. Dan Baekhyun sudah seperti orang gila karena tidak bertemu Chieun hampir setahun.”

“Jadi.. Baekhyun juga ―?” Jina belum menyelesaikan kalimatnya karena Chanyeol memotongnya dengan anggukan ringan.

“Kita harus membantu mereka.”

“Tentu saja.” Chanyeol dengan jahil mengedipkan sebelah matanya ke arah istrinya yang membuatnya dapat menemukan rona merah di wajah istrinya itu.

“Sekarang giliranku berurusan dengan namja penuh harga diri itu.” Chanyeol menarik tangannya dari pundak istrinya dan membuka ponselnya.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Kau lihat saja nanti. Tapi aku sudah punya rencana.” Jina tersenyum tulus, suaminya ini memang sangat penuh perhatian. Tapi ada sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan saat itu.

“Yeol, kalau kau tidak bertemu denganku hampir setahun seperti Baekhyun tidak bertemu Chieun. Apa yang akan kau lakukan? Menjadi gila? Aku rasa tidak sampai sejauh itu.” Jina menutup kalimatnya dengan senyum hambar sementara bola matanya menatap ujung sepatunya.

Chanyeol menghentikan aktivitasnya dan segera menarik wajah istrinya hingga ia bisa menatap matanya yang jernih itu. “Mungkin saja saat itu aku sudah menggantung diriku sendiri.”

Jina berdeham kecil, “Maldo andwae.” Jina hanya menganggap perkataan Chanyeol barusan hanya candaan belaka yang membuat Chanyeol sedikit tersinggung.

“Kau tidak percaya? Kalau kau tidak percaya maka kau harus dihukum.” Dengan satu sentakan, bibir Chanyeol sudah berada pada bibir mungil Jina. Jina merasa kalut dengan kenyataan mereka berciuman di muka umum segera mendorong dada Chanyeol. Tapi sialnya tenaganya benar- benar tidak cukup. Dan segala sesuatu yang bisa ia lakukan adalah, pasrah.

Chieun telah kembali dari toilet beberapa waktu yang lalu dan melihat pasangan itu sedang berciuman di muka umum. Dia hanya bisa meringis.

 

Mengapa semua orang kelihatan bahagia dan membiarkanku merana sendirian?

Tanpa ingin mendekati Jina dan Chanyeol lagi, dia segera beralih menuju pintu keluar dan dia akan menyuruh Jina untuk membawa tasnya yang masih tertinggal di meja nanti. Untung saja dia masih mempunyai beberapa uang kecil di sakunya sehingga ia bisa pulang ke apartemennya dengan selamat.

***

Baekhyun sudah dalam perjalanannya menuju apartemennya ― lebih tepatnya apartemen lamanya. Kemarin sore, setelah mendapat sambungan telepon dari sahabatnya yang sangat menyebalkan itu, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol yang mengatakan bahwa Chieun akan masuk biara dan dia akan menetap di Roma, membuatnya sedikit kalut. Bukan sedikit, sangat banyak!

Dia bukannya ingin menyalahkan keputusan suci yang dipilih Chieun. Tapi dia hanya takut dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Chieun sampai selama- lamanya setelah ia menjadi biarawati.

Ketika orang tuanya bertanya kemana dia akan pergi pagi ini, dengan sangat tidak sopan ia mengatakan bahwa Chanyeol sedang dalam bahaya dan dia membutuhkannya. Mendengar nama Chanyeol disebut- sebut orang tuanya pun luluh dan membiarkannya pergi. Mengingat orang tuanya sangat menyayangi sahabatnya itu.

Setelah sampai di apartemen Chieun dan dirinya setahun yang lalu, dia langsung menggedor paksa pintu kamar yeoja itu. Baekhyun dia sudah mengabaikan segalanya. Egonya, harga dirinya, bahkan dirinya sendiri. Katakan sajalah dia sudah gila.

Tapi setidaknya dia tidak mau menyesal karena terlambat mengucapkan hal ini. Dia tidak mau hidupnya nanti dengan yeoja Jepang itu dibayang- bayangi bebannya karena belum mengutarakan perasaannya yang terpendam hampir 10 tahun pada yeoja yang sudah menjadi biarawati.

Ketika pintu terbuka, dia bisa merasakan jantungnya sedang bekerja sangat keras. Karena detakannya benar- benar sangat cepat. Tapi apa yang ditemukannya benar- benar tidak memuaskannya, dia menemukan Jina yang sedang menangis ― wait, dia ini sedang menangis kan?

“Di mana Han Chieun?”

“Dia sudah pergi…”

“WHAT?! Geez! Aku tidak akan bisa menemukan penerbangan menuju ke Roma dalam waktu kurang dari 1 jam!” Teriak Baekhyun, bahkan anak kecil pun pasti mengetahuinya bahwa teriakannya dipenuhi unsur- unsur kefrustasian.

“Bukan, bukan Roma. Chieun sudah pergi untuk mengatakan pengunduran dirinya sebagai penulis pada Jaeshin. Dan aku benar- benar sedih mendengar ia ingin melepas impiannya sebagai penulis.”

“EODI?! Di mana mereka berdua sekarang?!” Baekhyun membentak Jina yang menatapnya dengan tatapan yang sangat tidak bisa terbaca.

Tiba- tiba dia merasakan bantal sofa melayang dan membentur kepalanya dengan sangat sempurna.

“YA! Kau telah membentak istriku.” Chanyeol muncul di tengah- tengah mereka berdua.

Oh God, please. Dimana mereka semua?! Kau bisa mencekikku karena membentak istrimu nanti.” Baekhyun ingin sekali menonjok dirinya sendiri yang sama sekali tidak bisa berhenti untuk panik dan kalut.

“Kau bisa menemukan mereka di cafetaria.” Chanyeol yang menjawab pertanyaan Baekhyun, nadanya tenang sekali.

“DI BAWAH?! Mengapa aku tidak bisa menemukan mereka tadi? Ah whatever lah.” Baekhyun sudah mengangkat kakinya dan berlari meninggalkan Jina dan Chanyeol yang masih berdiri di ambang pintu apartemen Chieun.

Setelah mereka berdua tidak melihat Baekhyun lagi, puaslah mereka tertawa sampai rasanya pipi mereka akan kram.

“Chagi, aktingmu jelek sekali. Air matamu ―” Chanyeol tidak bisa memberhentikan dirinya dari tertawa sehingga kalimatnya tidak bisa ia akhiri.

“Yeol, kau harus benar- benar melihat ekspresi Baekhyun!” Jina pun tertawa tidak kalah barbarnya seperti yang dilakukan Chanyeol.

“Ingin menontonnya?” Chanyeol segera menarik tangan istrinya keluar apartemen Chieun ― tentu saja setelah menutup dan mengunci pintunya, mereka tidak mau punya masalah dengan Chieun―  lalu pergi menuju lift dan turun ke lantai bawah.

***

Baekhyun menemukan Chieun sedang menyesap susunya sehingga bibirnya dipenuhi oleh susu yang berwarna putih. Dan benar seperti kata Jina, Jaeshin ada di situ. Tapi mereka seperti tidak sedang membicarakan sesuatu melainkan hanya terlihat seperti dua orang yang sedang menghabiskan sarapan pagi mereka.

“YA! HAN CHIEUN!” Baekhyun meneriakan nama Chieun yang membuat yeoja itu menoleh cepat ke arahnya. Bukan saja yeoja itu, tapi semuanya yang ada di cafetaria itu.

Disisi lain, Chieun tanpa sadar telah berdiri dan menatap Baekhyun dengan tatapan seolah- olah semuanya mimpi. Setelah hampir satu tahun dan sekarang namja itu ada di depannya dan meneriakan namanya dengan cara yang sangat menyebalkan.

Baekhyun melangkahkan kakinya cepat- cepat dan ketika jarak di antaranya dan Chieun tidak begitu jauh ia menarik napas panjang dan membiarkan mulut dan hatinya ingin mengucapkan apa saja, tanpa harus disekat oleh akal sehat dan logikanya.

“Dengarkan aku, aku sedang mencoba menjadi orang bodoh disini, tapi aku tidak peduli. Harga diriku terus memakiku tapi ku abaikan. Jadi dengarkan saja. Aku menyukaimu, semenjak 10 tahun yang lalu. Dan aku terus memendam hal itu hampir selama 10 tahun. Bisa kau bayangkan? Jika tidak juga tidak apa- apa. Aku senang berbicara denganmu, aku senang mendengar tawamu, aku senang melihat ke matamu, aku senang mengenalmu. Dan yang paling penting, aku senang melihatmu. Bukan hanya senang, tapi aku mencintai semuanya.”

Baekhyun menarik napas panjang- panjang. Dia bukan rapper tapi dia mengucapkan lebih tepatnya meneriakan kalimat sepanjang itu hanya dengan satu tarikan nafas. Setelah itu dia mulai memikirkan karir di menjadi rapper suatu grup.

 

Oh! Aku sudah benar- benar gila!

Tapi dadanya seakan mencelos ketika Chieun tidak memberikan respon apa- apa. Oh, sekarang dia benar- benar kelihatan bodoh.

Say something, please.” Ujar Baekhyun datar.

“Bisakah kau mengucapkannya dengan pelan- pelan? Aku tidak mengerti.” Ya Tuhan, akhirnya dia bisa mendengar suara ini lagi. Suara yang membuyarkan semuanya.

Kalimat yang telah dirangkai Baekhyun sedemikian rupa hilang entah kemana. Dan dia tahu dia tidak bisa mengulang kalimat tadi sekali lagi dengan tempo yang lebih manusiawi.

Semuanya berantakan, dan di depannya Chieun masih menunggu. Dia menatap wajah itu lama, menatap jauh ke dalam bola matanya. Dan betapa terkejut dirinya ketika dia bisa melihat kerinduan yang teramat sangat ketika bola mata milik Chieun menatapnya. Baekhyun tersenyum. Segala sesuatu yang harus dia ucapkan hanya kalimat ini.

Aku menyukaimu, bahkan mencintaimu.” Dan hancurlah pertahanan Chieun, dia rasanya ingin terduduk saat itu juga.

Dia tidak mengerti. Sehari yang lalu sahabatnya mengatakan bahwa namja di depannya ini akan segera menikah dan itu menghancurkannya lebih dari apapun. Tapi kurang dari 24 jam, Baekhyun telah berdiri di depannya dan seperti orang kesetanan mengucapkan kalimat yang ia butuh waktu untuk mencernanya. Lalu mengatakannya, bahwa dia menyukai bahkan mencintai Chieun. Itu membuatnya sedikit berharap, lagi.

Tapi, mana yang benar?

Segala macam emosi muncul dalam hati Chieun, minta untuk ditumpahkan semuanya. Tapi mulutnya masih saja menutup, seakan menolak bekerja sama. Dan itulah seorang Han Chieun.

Tapi ketika ada sesuatu yang akhirnya bisa diucapkan Chieun, rasanya Chieun menyesal mengatakan hal itu. “Tapi kau akan menikah.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Baekhyun masih ternganga beberapa saat mendengar kalimat yang diucapkan yeoja yang baru saja mendengar pengakuannya yang sebenarnya sangat sulit ia ucapkan. Namun ketika dia mengingat satu nama, amarahnya memuncak.

“PARK CHANYEOL!” Geram Baekhyun pada akhirnya yang mengerti mengapa Chieun sampai tahu hal ini. Hanya Chanyeol yang dia beri tahukan masalah pernikahan sialan itu.

Yes? I’m here.” Suara Chanyeol sok polos terdengar di belakang dirinya, tapi Baekhyun sama sekali berniat membalikan tubuhnya karena jika ia melihat wajah Chanyeol sudah dipastikan ia akan menonjok wajah itu.

“Tidak, aku tidak akan menikah jika kau mau menjadi yeoja chinguku. Itu hanya ultimatum orang tuaku yang akan menikahiku dengan yeoja jepang jika aku tidak menemukan yeoja chingu dalam waktu 3 bulan.” Namun Baekhyun teringat sesuatu. “Tapi aku rasa kau tidak mempunyai perasaan yang sama padaku. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja.”

Baekhyun seakan kalah perang membalikan dirinya dan melangkah pergi meninggalkan Chieun dan segala kebodohan yang telah ia perbuat. Tapi tangan seseorang menyentuhnya dan itu membuatnya berbalik lagi dan mengerjap kaget.

Chieun tidak ingin Baekhyun salah paham. Selama ini ia juga menyukai Baekhyun, bahkan mungkin lebih dari yang Baekhyun rasakan padanya. Tapi dia tidak tahu harus mengatakan apa, maka dari itu ia hanya menatap Baekhyun mencoba menjelaskan. Sedetik kemudian, Chieun tersadar bahwa itu tidak akan berhasil karena dia belum pernah berlatih bertelepati dengan Baekhyun.

Kemudian Baekhyun mencoba membaca maksud tatapan Chieun, tapi tatapan yang ingin ditunjukan Chieun tidak bisa tersampaikan padanya karena banyak sekali sarat kebingungan dalam tatapan itu.

Lalu Baekhyun menyadarinya, mungkin saja itu tatapan kebingungan Chieun, bingung bagaimana cara menolaknya.

Baekhyun rasanya ingin langsung menemukan kasur untuk menenggelamkan wajahnya dalam- dalam di bawah bantal dan memikirkan tentang perasaannya seperti setahun belakangan ini. Namun tiba- tiba suara menggelegar milik Chanyeol mengagetkannya.

“Hey Baekhyun bodoh. Kau tidak melihat tatapan frustasi Chieun yang seolah memberitahukanmu untuk mengerti dirinya. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik.” Chieun menatap Chanyeol sangar.

Seakan ditekan di tombol yang benar, otak Baekhyun bekerja. Dia dengan cepat menarik tangan Chieun meninggalkan tempat di mana semua orang sedang menonton mereka. Mungkin Chieun membutuhkan privasi untuk mereka berdua.

Baekhyun menarik Chieun ke lorong apartemen yang sepi.

“Baek, kau tahu bahwa aku buruk dalam mengutarakan sesuatu ― terlebih perasaanku. Jadi bisa tidak kau menanyakan sesuatu padaku tentang hal ini yang hanya perlu mengangguk atau menggeleng untuk menjawabnya?” Baekhyun menganga dengan sangat lebar. Tapi sedetik kemudian dia mengerti bahwa Chieun juga sudah frustasi dengan dirinya sendiri yang membuatnya sampai berkata seperti itu.

Oke, Baekhyun sedang menyusun pertanyaan dalam benaknya. Pertanyaan pertama,

“Apakah kau merindukanku? Errrr.. maksudku. Kau menggeleng saja lah.” Baekhyun menutup wajahnya dengan tangan kanannya.

Chieun terkekeh pelan, kepribadian Baekhyun juga sama complicated nya dengan dirinya, dan ia bisa merasakan itu. Tidak menuruti permintaan Baekhyun, Chieun hanya mengangguk ringan sambil menatap mata Baekhyun tulus.

Dan betapa inginnya seorang Baekhyun terjun dari ketinggian sekarang juga. Jantungnya bahkan sudah kerja rodi di dalam sana.

Chieun tersenyum simpul ketika melihat rona merah yang timbul karena anggukannya pada wajah seorang Byun Baekhyun.

Kemudian ketika Baekhyun belum sepenuhnya tersadar, mulutnya telah berbicara sendiri.

“Kau sedih ketika mendengar aku akan menikah?”

Sedih? Itu tidak tepat. Aku hancur malah.

Chieun mengangguk.

“Jadi kau menyukaiku juga yah?” Baekhyun merutuki nada bicaranya yang layaknya bocah 17 tahun yang sedang sangat bahagia karena cinta pertamanya menerimanya.

Chieun tidak langsung mengangguk untuk mengiyakan hal tersebut. Dia kelihatan berpikir sejenak, karena anggukan saja tidak cukup untuk mewakilkan seluruh perasaannya yang selama ini ia miliki untuk seorang Byun Baekhyun.

Alih- alih mengangguk, Chieun malah memajukan tubuhnya dan mencium pipi Baekhyun sekilas kemudian mengangguk dengan pasti.

Saat itulah Byun Baekhyun merasa ribuan kembang api sedang meledak secara bersaamaan dalam dirinya. Jadi selama ini dia hanya tolol menyalah artikan segalanya. Untuk apa dia harus menunggu 10 tahun kalau Han Chieun juga merasakan perasaan yang sama dengannya.

“Jadi kau akan tetap menikah?” Chieun bertanya dengan ekspresi datar.

“Aku tidak tahu, tapi mungkin orang tuaku tetap memaksaku, karena aku tidak akan mempunyai yeoja chingu sampai 3 bulan ke depan. Bagaimanapun aku menghargai keputusanmu, mengingatmu yang pernah menyukaiku juga cukup untuk hidupku ke depannya. Kau bisa pergi dengan tenang dan mulai melupakanku.” Chieun berjengit kaget mendengar penuturan Baekhyun. Kenapa namja ini menyuruhnya melupakannya ketika baru saja semuanya jelas, bahwa mereka saling menyukai?

“Apa maksudmu?” Chieun menatap Baekhyun tidak terima dan perasaan kecewa mulai menghinggapinya.

“Aku tidak bisa membuatmu menjadi yeoja chinguku, karena aku menghargai keputusanmu sebagai biarawati.” Baekhyun menatap mata di hadapannya dengan penuh kesedihan tapi ia berusaha menahan rasa itu. “Kapan kau akan berangkat ke Roma?”

Sementara Han Chieun, ia sudah menatap namja di depannya sebagai orang gila. Apa? Biarawati? Roma? Apa hubungannya semua itu dengannya?!

“Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, Byun Baekhyun. Aku seorang penulis dan bukan seorang biarawati.” Chieun masih menjelaskan ketika Baekhyun menatapnya sangsi.

“Bukankah kau akan pergi ke Roma karena ingin menjadi biarawati?”

WHAT?!” Baekhyun sedikit terkekeh melihat ekspresi melongo Chieun di hadapannya. Namun sedetik kemudian dia menyadari sesuatu dan emosi mencapai ubun- ubunnya.

“PARK CHANYEOOOOOL!!!!!!” Teriaknya sambil melangkah lebar- lebar ingin segera menemui sahabatnya dan mencekiknya sekarang juga. Chieun yang masih tidak mengerti duduk masalahnya hanya menatap punggung Baekhyun dengan pandangan super bingung.

***

“Aku masih tidak mengerti mengapa kau sampai membohongiku seperti itu Chanyeol?!” Geraman keluar dari mulut Baekhyun, sementara Chanyeol hanya mengelus- elus kepalanya yang sebentar lagi akan benjol. Jina terkekeh di sebelahnya.

Setelah menemui Chanyeol yang sedang meminum kopi di cafetaria yang makin keliatan sepi karena sudah agak siang dan orang- orang sudah beranjak untuk bekerja, Baekhyun sekuat tenaga menjitak kepala sahabatnya itu. Awalnya Baekhyun ingin mencekiknya, tapi dia kasihan pada Jina yang sedang mengandung anak mereka. Menurut seseorang yang pernah memberitahunya, itu bisa membuat mental si ibu dan anak tidak baik.

“Karena kalian itu sulit sekali dipersatukan. Hingga membutuhkan 10 tahun.” Chanyeol mendengus dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Jina yang berada di sampingnya. Beruntunglah cafetaria ini memiliki bangku sofa sehingga mereka bisa dekat- dekat seperti itu. Dan Baekhyun mendengus menyadari hal itu.

Chieun yang berada di sebelahnya menatap mereka semua dengan pandangan aneh.

“Bisa kalian semua jelaskan padaku sebenarnya apa yang terjadi?”

Jina terkekeh pelan dan mulai bercerita, “Eun-ah, begini. Sebenarnya ini semua rencana Chanyeol dan aku, dimulai dari memberitahu Baekhyun akan menikah padamu. Kau menyadarinya tidak? Bahwa apa yang diucapkan Chanyeol saat itu tidak sepenuhnya. Dia tidak menceritakan soal ultimatum atau 3 bulan, atau yang lainnya.”

Chieun yang merasa dibodohi akhirnya mengangguk dan memberikan tatapan super kesal pada suami sahabatnya ini yang hanya memberikan cengiran bodohnya.

“Mengingat reaksimu saat itu yang seperti orang yang ingin terjun dari tebing. Kami menyadarinya bahwa kau sangat mencintai Baekhyun.” Salah tingkah, Chieun hanya berdeham kecil dan menutupi wajahnya yang memerah. Sementara Baekhyun..

“ARE YOU SERIOUS, JINA?”

Chanyeol mendengus ketika melihat tatapan berbinar Baekhyun.

Jina mengangguk sambil tersenyum kecil, dan tatapan Baekhyun jatuh pada seseorang di sebelahnya.

“Kau sangat menyukaiku yah? Baguslah.” Baekhyun mengelus puncak kepala Chieun dan membuat Chieun makin salah tingkah.

“Lalu kau, Baek! Aku sebagai sahabatmu benar- benar frustasi padamu. Ego mu itu sangat tinggi. Sehingga aku harus mengarang cerita tentang Chieun dan kau baru seperti orang kesetanan pulang ke Korea dalam waktu semalam. Chieun, seharusnya kau melihatnya ketika Baekhyun langsung berlari ke atas ― kamar apartemenmu. Dia bahkan membentak Jina dan aku benar- benar kesal karena itu. Tapi point pentingnya dia sangat ketakutan kehilanganmu.”

Chieun tersenyum kecil dan detik itu segala inspirasi yang menghianatinya hampir setahun penuh muncul dan bertebaran dalam otaknya. Dia menemukan dirinya telah freak-out dan segera berlari meninggalkan cafetaria untuk segera menyalurkan inspirasinya pada draft kotor di laptopnya. Baekhyun yang melihat Chieun berlari seakan ketinggalan kereta memandangnya tidak mengerti, dia hendak menyusul Chieun namun suara Jina mencegahnya.

“Akhirnya, Chieun si penulis berbakat kembali. Kau tidak usah menyusulnya karena dia sedang menumpahkan inspirasinya yang baru saja didapatnya pada laptopnya, dan biasanya dia tidak mau diganggu.” Tidak mendapat respon dari Baekhyun, Jina menambahkan. “Chieun memang seperti itu.”

Chanyeol menggeser posisi duduknya agar bisa mengambil kopi di meja.

“Eh, Baek. Kapan kau akan mengenalkan Chieun sebagai pacarmu? Kau harus menunjukan pada orang tuamu bahwa kau bisa menyanggupi ultimatumnya.” Chanyeol memperingatkan.

“Aku berencana mengajaknya ke Jepang besok atau lusa, paling lama minggu depan. Semoga jadwalnya kosong. Kalian mau ikut?”

“Oh, no thanks.” Tolak Jina dan Chanyeol berbarengan yang membuat mereka tertawa bersama, sementara Baekhyun mendengus.

***

“Baek, igo.” Baekhyun menolehkan kepalanya dari koran elektronik yang sedang ia baca dan melihat yeoja chingunya memberikan sebuah buku ― novel, padanya.

Chieun dapat membaca kerutan di kening Baekhyun dan cepat- cepat menjelaskan.

“Novel ini akan launching besok. Aku ingin memberikan yang pertama untukmu. Walau kau tidak akan membacanya, aku hanya memberikannya padamu.” Baekhyun dia baru saja memberikan cengiran bodohnya untuk yeoja chingunya, karena dia sangat senang saat ini.

“Aku, Byun Baekhyun adalah fans nomer satu penulis berbakat bernama Han Chieun, kau tahu? Aku membaca semua novelnya, dan aku menunggu- nunggu ia memberikan novel barunya padaku. Tapi aku tidak menyangka aku orang pertama yang mendapatkannya, dan itu langsung dari tangan penulisnya.”

Speechless. Chieun hanya bisa melongo mendengar penuturan Baekhyun yang sejak 3 bulan yang lalu telah memindahkan barang- barangnya kembali ke Korea setelah mengenalkannya pada orang tuanya. Ultimatum itu pun gugur karena munculnya dirinya sebagai yeoja chingu Baekhyun.

“Jadi.. Kau membaca novel- novelku?”

“Tentu saja! Oh iya, setelah ditilik- tilik rasanya ada beberapa scene dalam novelmu yang mirip denganmu dan aku. Apa aku benar?” Baekhyun bertanya jahil sambil mengedipkan matanya.

Chieun, dia tidak tahu wajahnya seperti apa, yang jelas wajahnya pasti memerah karena dia merasakan panas pada wajahnya.

“DIA MENYADARINYA! DAN ―  OH!! BYUN BAEKHYUN KAU TIDAK BOLEH LAGI MEMBACA NOVELKU!!!!” Chieun dia menarik lagi novelnya yang berada di tangan Baekhyun. Malu. Dia berlari ke dalam kamarnya dan membanting pintunya. Tidak lupa dia menguburkan mukanya dalam bantal.

Baekhyun, dia terkekeh geli.

Mengapa yeoja itu sangat malu akan hal itu?

Baekhyun, dia seharusnya sudah menyadari sejak dulu kalau Chieun juga menyukainya dari novel- novelnya. Tapi sayangnya dulu ia sangat pesimis tentang perasaannya akan dibalas Chieun sehingga tidak peka akan apapun yang ditulis Chieun pada novel- novelnya.

Sekarang dia mengerti, ada cara lain mengungkapkan perasaan selain dengan kata- kata. Yeoja itu mempunyai caranya sendiri.

Dengan apapun yang dia tulis.

 

 

THE END

3 thoughts on “[FREELANCE] Unspoken Feelings

  1. ohh no/?
    bngung mau komen apa,
    baekhyun si pesimis dan chieun si apa ya? –a wkwk

    yaa sahabat itu benar benar membantu kkkkk

    keep writing aja deh thor. ditnggu tlisan2 lain ny😀

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s