TRUE LOVE (Chapter 22)

true-love2
TRUE LOVE

Tittle : True Love (Chapter 22)

Author : Jellokey

Main Cast :

Kim Jong In (Kai of EXO)

Oh Sehoon (Se Hun of EXO)

Luhan (Lu Han of EXO)

Kim Joon Myun (Suho of EXO)

Kang Jeo Rin (OC)

Shin Min Young (OC)

Support Cast :

Park Chanyeol (Chanyeol of EXO)

Kim Min Seok (Xiumin of EXO)

Choi Yoo Ra (OC)

and others

Length : Chaptered

Genre : Romance, Family, Marriage Life

Rating : PG17+

Disclaimer : Cerita ini milik saya. Dilarang plagiat dan copy paste. Don’t bash!

Poster : nanakim1266 (ARTCafe)

Annyeong, yeorobun!!FF ini akan end di chapter 23. Jadi, buat yg sider, tinggalkan komen kalian.Chapter terakhir akan diprotect. Aku hanya ngasih password sama reader yang udah pernah komen di ff ini. Untuk pw, kalian bisa minta @ fina9428. Liat ratingnya, ada hot scene dikit. Happy Reading ^^

“Sehun!” Harabeoji masuk ke ruangan Sehun.

“Harabeoji.” Sehun langsung bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri harabeojinya yang sudah duduk di sofa.

“Apa Min Young sudah pulang?” Sehun menunduk.

“Belum harabeoji.”

“Kenapa selama itu di rumah mertuamu? Kau harus menjemputnya Sehun.” Sehun bingung harus menjawab apa karena Min Young tidak ada di rumah mertuanya.

“Kenapa diam?”

“Sebenarnya..”

“Apa kalian bertengkar?” Harabeoji menguji Sehun.

“A.. ani. Min Young..”

“Sehun-ah..” Tiba-tiba Yoo Ra masuk ke ruangan Sehun. Oh harabeoji langsung melihat ke arahnya. Sehun menatap Yoo Ra tidak suka.

“Sebentar, harabeoji.” Sehun menghampiri Yoo Ra. ‘Harabeoji? Ini kesempatanku mendekati keluarga Sehun.’ Batin Yoo Ra.

“Annyeonghaseyo. Jeoneun Choi Yoo Ra imnida.” Yoo Ra membungkuk hormat.

“Siapa dia, Sehun?” Pertama melihat Yoo Ra, harabeoji langsung tidak suka.

“Aku teman kuliah Sehun, harabeoji.” ‘Apa karena yeoja ini Sehun dan Min Young bertengkar?’ Batin harabeoji.

“Aku sudah menyuruhmu untuk tidak menemuiku lagi.” Sehun menyeret Yoo Ra keluar dari ruangannya.

“Min Young tidak ada kau malah bersama yeoja lain.” Harabeoji mendekati Sehun yang baru masuk ke ruangannya.

“Ani. Bukan seperti itu harabeoji.” Sehun berusaha menjelaskan.

“Bawa pulang Min Young, Sehun. Jangan sampai kau menyesal.” Ucap harabeoji sebelum keluar dari ruangan Sehun. Sehun terpaku di tempat. ‘Aku memang akan menyesal kalau Min Young tidak kembali padaku. Tapi, apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu Min Young ada di mana.’

———————

“Jeni?” Kai memastikan siapa yeoja yang berada di ruangannya.

“Kai, kau lama sekali. Ayo makan siang bersama.” Ucap Jeni antusias.

“Mianhae. Aku sibuk.” Kai duduk di kursi kerjanya.

“Ada yang ingin kukatakan padamu, Kai.” Suara Jeni pelan, seperti malu-malu.

“Malhae.” Kai tetap fokus pada berkas yang ia baca.

“Aku menyukaimu. Aku mau kita punya hubungan yang serius.” Kai terkejut. ‘Berani sekali dia. Baru satu hari bertemu, dia sudah berkata seperti itu.’ Batin Kai kesal dengan sikap frontal Jeni.

“Aku tidak mengingatmu. Dan lagi aku sudah punya yeoja yang kucintai. Sebentar lagi kami akan menikah.” Jawab Kai tegas. Jeni kecewa.

“Tapi kau masih mau main denganku kan? Seperti dulu.” Jeni punya modus lain.

“Apa maksudmu seperti yang kau lakukan semalam?”

“Ne.” ‘Kai pasti mau.’

“Sepertinya tidak buruk.” Kai menyeringai.

“Datanglah ke club nanti malam. Aku mengadakan party.” ‘Tidak apalah hanya jadi teman bermain.’ Batin Jeni.

“Di mana?” Jeni menulis alamat club itu di kertas.

“Jongin-ah.” Kai tersentak. ‘Bad timing.’ Batinnya.

“Jeo Rin..” Jeni menyerahkan kertas itu pada Kai.

“Sepertinya kau sibuk. Aku menunggumu nanti malam.” Jeni menghampiri Kai lalu mencium pipi Kai dan pergi dari ruangan itu. Jeo Rin menatap Kai tajam dari tempatnya berdiri.

“Aku harus bersikap baik dengan temanku bukan?” Kai menghampiri Jeo Rin dengan kikuk.

“Kajja, kita makan siang.” Kai merangkul Jeo Rin.

—————–

Kai menatap langit-langit kamarnya. Ia berpikir. ‘Apa aku datang ke club?’ Kai melihat Jeo Rin yang tidur di pelukannya. Jam delapan malam dan mereka sudah berada di tempat tidur. Karena tidak ada pekerjaan kantor dan siaran tv yang menarik, mereka langsung tidur. ‘Sepertinya aku harus ke club.’ Perlahan Kai melepas pelukannya. Turun dari tempat tidur, berjalan menuju lemari. Memilih pakaian yang cocok. Setelah menukar pakaiannya, Kai menuju meja rias. Menyisir rambutnya lalu menyemprotkan parfum. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. ‘Aku memang tampan.’ Kai mengambil kunci mobilnya di meja samping tempat tidur lalu merapikan selimut Jeo Rin. Ia mencium kening Jeo Rin. Baru berbalik tangannya di tahan Jeo Rin.

“Eodiga?” Kai berbalik lagi.

“Kau bangun?” Kai duduk di tepi tempat tidur.

“Wangi parfummu membuatku bangun. Kau mau ke mana?”

“Club. Kau mau ikut?” Jeo Rin menggeleng.

“Buat apa kau ke sana?”

“Temanku mengadakan party. Aku pergi dulu.” Kai mengecup bibir Jeo Rin. Baru berdiri, Kai ditahan Jeo Rin lagi. Kai tersenyum. Ia membungkuk, mencium bibir Jeo Rin. Melumatnya sebentar.

“Aku tidak akan lama.”

——————-

Jeo Rin berusaha menahan kantuknya. Sudah tengah malam tapi Kai belum pulang juga. Suara bel apartemen membuat Jeo Rin yang hampir tidur terbangun. Ia berjalan menuju pintu apartemen dan membukanya, mendapati Kai yang dipapah seorang yeoja. Jeo Rin langsung mengambil alih Kai dari yeoja itu.

“Kau tinggal dengan Kai?” Tanya yeoja itu memastikan.

“Ne. Terima kasih karena sudah mengantar Kai.”

“Kau siapanya? Apa kau mainannya?” Jeo Rin tersinggung.

“Apa kau yang bernama Kim Jeni?” Kai yang sudah sedikit sadar tiba-tiba mencium Jeo Rin.

“Jeo Rin.. Kau menungguku?”

“Kau siapanya?” Ulang Jeni mengabaikan Kai.

“Aku jodohnya. Dan aku minta padamu jangan menemui Jongin lagi.” Ucap Jeo Rin tajam.

“Kau merasa berhak atas Kai? Aku bisa merebut Kai darimu.” Jeni berlalu sambil mengumpat. Jeo Rin segera membawa Kai menuju kamarnya.

“Apa kau mau kembali seperti dulu lagi, Jongin?”

——————–

Satu pesan baru dari Jeo Rin terpampang di layar handphone Kai. Ia pikir Jeo Rin marah padanya karena pulang mabuk semalam, mengingat tadi pagi ia terbangun tanpa Jeo Rin di sampingnya. Jeo Rin berangkat ke kantor tanpa Kai.

From: My Girl

Ajjushi memintamu pulang ke rumah.

Kai pikir Jeo Rin mengkhawatirkannya. Ia segera membalas pesan Jeo Rin.

To: My Girl

Aku akan pulang ke rumah kalau kau ikut denganku.

Tak lama handphone Kai kembali bergetar.

From: My Girl

Ne. Aku ikut. Ajjushi memintamu untuk menginap.

To: My Girl

Kalau kau ikut menginap aku akan menginap.

From: My Girl

Terserah padamu.

To: My Girl

Kau marah padaku?

Tidak ada balasan dari Jeo Rin. Kai mendesah berat. Jeo Rin marah padanya.

————–

“Akhirnya kau pulang, nak.” Tuan Kim langsung memeluk Kai yang baru menginjakkan kaki di ruang tamu.

“Jeo Rin, terima kasih karena sudah membujuk Kai.” Tuan Kim tersenyum pada calon menantunya.

“Ne, ajjushi.”

“Kajja, kita ke ruang makan.” Ajak tuan Kim.

“Suho oppa mana, ajjushi?” Telinga Kai panas saat Jeo Rin menyebut nama itu.

“Suho masih di kantor, mungkin sebentar lagi dia pulang.”

————-

“Jadi, kau akan menginap di sini kan, nak?” Tanya Tuan Kim. Mereka di ruang tamu sekarang.

“Aku tidak tahu, appa.” Kai melirik Jeo Rin yang duduk di sampingnya.

“Kalau Jeo Rin menginap di sini aku akan menginap juga.”

“Bagaimana, Jeo Rin?” Tuan Kim mengalihkan pandangan ke Jeo Rin.

“Aku tidak bisa, ajjushi. Besok aku ke Daegu. Nanti malam aku harus mempersiapkan keperluanku.” Kai terkejut, ia baru tahu sekarang. ‘Aku sendiri lagi.’ Batin Kai.

“Kai?” Tuan Kim yakin anaknya pasti menolak.

“Mianhae, appa. Aku tidak bisa.” Benar kan?

“Satu malam saja, nak.” Bujuk Tuan Kim. Kai menggeleng.

“Menginaplah, Jongin-ah. Ajjushi sangat merindukanmu.”

“Ne.” Kai menuruti Jeo Rin.

“Kalian sudah sampai? Aku pikir kalian datang nanti sore.” Kata Suho yang baru pulang.

“Kau sudah makan, nak?”

“Sudah di kantor tadi, appa. Jeorin-ah, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Ne, oppa. Permisi, ajjushi.” Jeo Rin mengikuti Suho yang berjalan menuju taman belakang. Kai terus memandangi Jeo Rin sampai tak terlihat.

“Ada apa, oppa?” tanya Jeo Rin begitu berada di taman belakang.

“Kau baik-baik saja?” Jeo Rin bingung akan pertanyaan Suho.

“Ne. Aku baik-baik saja, oppa.”

“Kai tidak melakukan yang aneh-aneh padamu kan?” Suho meneliti Jeo Rin dari atas sampai bawah.

“Ani.” Suho menghela nafas lega.

“Ini terakhir kali aku bertanya padamu. Apa kau benar-benar mencintai Kai?” Suho bertanya penuh harap. Ia ingin Jeo Rin mengatakan tidak.

“Ne, oppa.” Jawaban Jeo Rin masih sama.

“Apa tidak ada lagi tempat untukku?” Suho masih belum rela kehilangan Jeo Rin.

“Mian, oppa.” Hening untuk beberapa menit.

“Jadi, aku memang harus merelakanmu. Berbahagialah dengan Kai.”

“Oppa,” Jeo Rin terkejut melihat air mata yang baru diseka Suho di sudut matanya. Suho tersenyum seakan dia baik-baik saja.

“Boleh aku memelukmu?” Jeo Rin mengangguk. Suho memeluk Jeo Rin. ‘Setelah pelukanku terlepas, aku harap cintaku juga terlepas darimu.’ Batin Suho. Kai yang baru sampai di tempat itu mengepalkan tangannya melihat Suho dan Jeo Rin berpelukan. Dia harus mewaspadai Suho.

——————

“Kau benar-benar tidak ingin tahu jenis kelamin anakmu, Young?” Tanya Lu Han tetap fokus menyetir.

“Ani. Aku mau itu menjadi kejutan nanti, oppa.” Min Young mengelus perut besarnya. Usia kandungannya sudah delapan bulan dua minggu. Mereka baru saja memeriksa kondisi janin Min Young.

“Apa oppa sibuk?”

“Ani. Wae? Kau ingin ke suatu tempat?” Lu Han menoleh sekilas pada Min Young.

“Aku ingin ke toko perlengkapan bayi, oppa.” Min Young tersenyum membayangkan baju-baju bayi yang lucu.

“Geurae. Kita ke sana.”

——————-

Min Young langsung menarik Lu Han melihat-lihat baju bayi begitu mereka sampai di toko.

“Oppa, bajunya lucu sekali.” Min Young mengambil baju bayi berwarna soft pink.

“Aku lebih suka yang baby blue.” Lu Han mengambil beberapa baju bayi berwarna baby blue.

“Oppa, kenapa mengambil sebanyak itu?” Tanya Min Young yang melihat Lu Han mengambil baju bayi tanpa berpikir.

“Kita harus menyiapkan kebutuhan bayimu sebelum lahir, Young.”

“Tapi kita belum tahu jenis kelamin anakku, oppa.” Min Young mengingatkan Lu Han.

“Kalau begitu kita beli beberapa warna baby blue dan beberapa warna pink. Kau pilihlah warna yang bagus. Bagaimana dengan perlengkapan tidurnya? Kali ini biar aku yang memilih, Young.”

“Sedari tadi oppa sudah sesuka hati.” Min Young mendengus sebal.

“Oke. Warna biru. Ada lagi?”

“Ani. Aku rasa itu dulu.” Mereka membayar ke kasir.

“Oppa, biar aku bawa sebagian.” Kata Min Young setelah keluar dari toko.

“Tidak usah. Biar aku saja.”

“Oppa..” Min Young berusaha mengambil satu paper bag besar dari Lu Han.

“Minyoung-ssi.” Merasa namanya dipanggil, Min Young berbalik.

“Benar, kau Min Young. Sudah lama tidak bertemu.” Sapa orang itu riang.

“A.. annyeong, Yoora-ssi.” Min Young memaksakan senyumnya pada Yoo Ra.

“Annyeong, Luhan-ssi. Kalian belanja perlengkapan bayi?” Yoo Ra melihat kedua tangan Lu Han yang penuh.

“Ne. Bagaimana kabar Sehun oppa?”

“Sehun baik-baik saja.” Yoo Ra bohong. Saat ini dia benar-benar terkejut. ‘Min Young hamil. Apa dia mengandung anak Sehun? Tapi Min Young sudah lama meninggalkan Sehun.’ Yoo Ra menatap Min Young dan Lu Han bergantian.

“Maaf, apa kau mengandung anak Lu Han? Kau berselingkuh dengan Lu Han, Minyoung-ssi? Apa reaksi Sehun kalau dia tahu kau seperti ini? Pergi dari apartemen dan sekarang mengandung anak namja lain?” Sindir Yoo Ra. Min Young tersentak, ia tidak tahu bagaimana harus membalas Yoo Ra.

“Jaga bicaramu! Kau hanya orang asing yang tidak tahu apa-apa!” Lu Han emosi. Ia menarik Min Young meninggalkan tempat itu. ‘Rumah tangga kalian benar-benar hancur, Sehun.’ Yoo Ra menyeringai.

————–

“Jangan dengarkan kata-kata yeoja itu, Young.” Lu Han mengeratkan genggamannya di tangan Min Young. Mereka sedang menikmati suasana sore dengan berjalan-jalan di taman kota, salah satu tempat kesukaan Min Young.

“Aku lelah, oppa.”

“Kita duduk di bangku itu.” Mereka menuju bangku yang ditunjuk Lu Han. Setelah duduk, Min Young mengelus perutnya. Melakukan itu memberikan kekuatan untuk Min Young.

“Aaah.. rintih Min Young.

“Kau merasakan sakit? Kita ke dokter, Young.” Lu Han panik. Ia sudah berdiri.

“Gwenchana, oppa. Aku hanya terkejut karena tendangan bayiku.” Min Young mengelus perutnya lagi.

“Boleh aku merasakannya?” Min Young menatap Lu Han. Wajah Sehun langsung terlintas di benaknya.

“Mian. Aku penasaran.” Ya, Lu Han sadar. Ia tidak pantas melakukan itu. Min Young menarik tangan kanan Lu Han untuk mengelus perutnya.

“Apa oppa dapat merasakannya?” Lu Han tersenyum. ‘Apa seperti ini rasanya menjadi calon appa?’

“Wah.. Tendangannya kuat sekali. Aku rasa anakmu namja, Young. Dia pasti sudah tidak sabar untuk melihat indahnya dunia.” Min Young tersenyum miris. Seharusnya Sehun yang mengelus perutnya, Sehun yang mendampinginya saat ia hamil.

“Aku selalu melihat Sehun dari jarak jauh. Aku tidak tahu itu permintaan bayiku atau aku yang merindukannya. Aku juga mengkhawatirkan keadaannya. Tapi, setiap melihatnya, Yoo Ra selalu ada di samping Sehun. Dan itu meyakinkanku kalau ia baik-baik saja.” Min Young menerawang.

“Dan kau juga harus memastikan kalau kau dan bayimu baik-baik saja.” Lu Han menatap Min Young sebentar lalu mengelus perut Min Young lagi.

“Bayimu pasti lelah.” Kata Lu Han karena tidak merasakan tendangan lagi.

“Ayo, aegi. Berikan ajjushi satu tendangan yang kuat.”

“Jadi ini alasan kenapa kau pergi meninggalkanku?” Sontak Min Young dan Lu Han mendongakkan kepalanya. Mereka kenal suara itu. Sehun. Ya, Sehun juga berada di taman ini, mendinginkan kepalanya. Ia juga berharap bisa bertemu Min Young. Tapi yang ia lihat sekarang membuatnya emosi.

“Kau hamil?! Kau bermain di belakangku, Min Young?!” Bentak Sehun. Taman kota tidak begitu ramai.

“Oppa, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Min Young memegang lengan Sehun, Sehun langsung menghempaskan tangan Min Young, membuat Min Young terhuyung dan kalau Lu Han tidak menahannya, pasti Min Young jatuh.

“Jaga kelakuanmu, Sehun!” Lu Han menatap Sehun marah.

“Wae? Kau takut bayimu terluka? Seharusnya kau mencari yeoja lain, bukan istriku!!” Sehun melayangkan tinjunya ke wajah Lu Han.

“Oppa!!” Sehun terus menonjok Lu Han sampai Lu Han terjatuh di rumput. Sehun menarik jas Lu Han.

“Aku tidak menyangka kau berbuat sejauh ini, Lu Han! Kau mengkhianatiku!!” Wajah Lu Han yang cute itu entah seperti apa bentuknya.

“Kau.. suami yang tidak tahu apa-apa.” Lu Han tersenyum meremehkan. Emosi Sehun makin menjadi. Ia memukul Lu Han membabi-buta.

“Geumanhae, oppa!!” Min Young berusaha menghentikan Sehun, tapi yang ada Sehun malah mendorong Min Young. Membuat Min Young terjatuh.

“Aaagh..” Rintih Min Young.

“Min Young!” Dengan tenaga yang ia miliki, Lu Han memukul Sehun, membuat Sehun menyingkir dari atas Lu Han. Ia menghampiri Min Young.

“Tidak seharusnya kau mendorong Min Young!” Bentak Lu Han.

“Apa anak itu terluka? Bagus. Dia tidak pantas di sana.” Sehun tersenyum sinis membuat Lu Han emosi.

“Kau tahu anak ini siapa? Anak ini-“

“Anakmu! Kau bangga karena sudah menghamili Min Young?! Potong Sehun.

“Kau!” Tangan Lu Han yang hendak memukul Sehun tertahan di udara karena Min Young mencegahnya.

“Anak ini memang anak Lu Han oppa! Kau puas, Sehun? Itu yang kau harapkan?!” Mata Min Young berkaca-kaca.

“Min Young..” Lu Han menatap Min Young tidak percaya.

“Kita pulang, oppa.” Min Young membantu Lu Han berjalan.

“Kalian berdua mengkhianatiku!” Teriak Sehun. Dia tidak bisa menerimanya.

—————

“Aku tidak akan memaafkan Sehun kalau terjadi sesuatu pada bayimu.” Kata Lu Han. Sakit yang ia rasakan tidak sebanding jika Min Young atau bayinya terluka. Lu Han sangat menyayangi mereka. Min Young diam. Kejadian yang berlalu beberapa menit lalu masih terbayang di benaknya. Bagaimana Sehun menuduhnya mengandung anak Lu Han, Min Young benar-benar tidak menyangka.

“Young, gwenchana?”

“Gwenchana, oppa.” Sahut Min Young pelan.

“Kita ke rumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu pada bayimu.”

“Bayiku baik-baik saja oppa.” Lu Han tidak mempedulikan Min Young. Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Min Young check up.

———————-

“Aku sudah bilang kalau kami baik-baik saja, oppa. Seharusnya oppa mengkhawatirkan keadaan oppa.” Mereka baru sampai di rumah. Dokter mengatakan bayi Min Young sehat. Saat Min Young mengajak Lu Han untuk mengobati lukanya di rumah sakit, Lu Han tidak mau. Ia memaksa pulang. Dan di sinilah mereka berada, di kamar Lu Han. Min Young mengobati luka Lu Han. Ia membersihkan darah yang mengering di wajah Lu Han.

“A.. aauuw.. Pelan-pelan, Young.” Lu Han meringis kesakitan.

“Ini sudah yang paling pelan, oppa. Lihat, entah sudah ke mana wajah tampan oppa.” Lu Han tidak mendengar kata-kata Min Young. Untuk kesekian kalinya ia terpesona pada Min Young, pemilik hatinya.

“Saranghae.” Ucap Lu Han pelan.

“Ne?”

“Saranghaeyo. Mianhae, aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, Young.” Min Young terkejut. Tangannya berhenti. ‘Jadi, yang dikatakan Sehun benar?’

“Young?” Lu Han menghapus air mata yang baru mengalir di pipi Min Young.

“Kenapa, kenapa oppa tidak mengatakannya dari awal?”

“Aku tidak bisa. Aku hanya ingin melihatmu bahagia.” Mendengar itu air mata Min Young semakin mengalir.

“Kehidupanku tidak bisa dikatakan bahagia sekarang.” Sedikit menyesal, seharusnya Min Young menyadari keberadaan Lu Han.

“Kenapa oppa tidak bilang dari awal? Kenapa?!” Min Young menangis terisak. Lu Han menarik Min Young ke dalam pelukannya.

“Mianhae. Aku terlalu pengecut. Mianhae.” Lu Han melepas pelukannya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Min Young.

“Saranghae.” Lu Han mencium bibir Min Young, melumatnya lembut.

“Mulai sekarang aku akan benar-benar menjaga kalian.” Lu Han mencium perut Min Young. ‘Sehun-ah, mianhae.’

—————-

“Sehun.. Ommona!! Kenapa wajahmu?” Yoo Ra menghampiri dan menyentuh wajah Sehun.

“Jangan sentuh aku!” Sehun menepis tangan Yoo Ra.

“Kenapa wajahmu?” Dengan tidak tahu diri Yoo Ra duduk di meja kerja Sehun.

“Bukan urusanmu!!” Sehun tidak tahu sejak kapan ia menjadi orang yang tempramen.

“Kau tahu, semalam aku bertemu Min Young dan Lu Han di mall. Mereka membeli perlengkapan bayi. Apa Min Young mengandung anak Lu Han?” Tanpa diberitahu Yoo Ra pun Sehun tahu. Dan perkataan Yoo Ra semakin membuat Sehun emosi. Yoo Ra meraih dasi Sehun, menatap Sehun seduktif.

“Min Young tidak pantas jadi istrimu. Dia sudah mengkhianatimu, Sehun-ah.”

“Pergi.” Suara Sehun datar.

“Mwo?” Yoo Ra tidak percaya Sehun masih bisa menolaknya.

“Pergi! Aku sudah muak mengatakan ini. Jangan temui aku lagi!” Dengan muka cemberut Yoo Ra keluar dari ruangan Sehun.

“Arrgh!!” Sehun menyingkirkan berkas-berkas yang ada di mejanya.

——————

“Jongin-ah! Jongin..” Jeo Rin baru saja tiba di apartemen Kai setelah tiga hari ia berada di luar kota. Ia sampai jam sepuluh malam. Jeo Rin masuk ke kamar Kai, tidak ada Kai di sana. ‘Apa dia ke club lagi?’ Jeo Rin tidak mau memikirkan itu. Ia segera masuk ke kamar mandi, membersihkan diri. Setelah mandi, Jeo Rin menuju ruang tamu, ia menunggu Kai di sana. Sudah dua gelas susu cokelat hangat ia habiskan sambil menunggu Kai. Jam dua belas malam dan Kai belum pulang juga. Jeo Rin sudah terkantuk-kantuk. Ia benar-benar lelah. Begitu pekerjaannya selesai, Jeo Rin langsung pulang ke Seoul. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Akhirnya Jeo Rin tertidur.

Ting nong! Ting nong!

Jeo Rin langsung bangun begitu mendengar suara bel yang ditekan berkali-kali. Ia membuka pintu, mendapati Kai dipapah seorang yeoja. Masih yeoja yang sama. Kim Jeni. Jeo Rin langsung mengambil alih Kai.

“Aku tidak tahu ada apa dengan Kai. Padahal ia mabuk berat, tapi Kai tidak pernah mengizinkanku masuk ke apartemennya.” Jeo Rin tidak mempedulikan Jeni. Ia menutup pintu apartemen. Membawa Kai ke kamar. Merebahkan tubuh Kai di tempat tidur. Ia lelah menghadapi Kai yang seperti ini. Pulang mabuk, bahkan saat ia tidak ada di apartemen. Jeo Rin menghela nafas lalu membetulkan posisi tidur Kai. Membuka sepatu Kai. Apa Jeo Rin harus membuka kemeja Kai? Jeo Rin sudah sering melakukannya. Dua kancing teratas sudah Jeo Rin buka, di kancing ketiga Kai menahan tangan Jeo Rin, menariknya membuat Jeo Rin berada di atas tubuhnya.

“Kenapa kau selalu dekat-dekat Suho? Apa kau masih mencintainya?” Kai menatap Jeo Rin sayu.

“Kau mabuk, Kai.” Jeo Rin mencoba lepas dari Kai. Tapi tidak bisa. Kai mendorong Jeo Rin membuat Jeo Rin berada di bawahnya.

“Aku tidak mabuk. Dua botol wine tidak berpengaruh padaku.” Kalau seperti ini Jeo Rin yakin Kai masih memiliki kesadaran walau hanya sedikit.

“Dan jangan memanggilku Kai. Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, Mrs. Kim.” Kai mencium bibir Jeo Rin. Blank. Jeo Rin tidak bisa menerima apa yang terjadi sekarang, mungkin karena ia lelah.

“Aku mencintaimu.” Kai melumat bibir atas dan bawah Jeo Rin bergantian. Ia tidak membiarkan Jeo Rin membalasnya, Kai mendominasi ciuman mereka.

“Cintaku padamu lebih besar daripada cintamu padaku.” Jeo Rin tahu itu. Namja brengsek ini sudah sangat lama mencintainya. Kai melanjutkan pekerjaan Jeo Rin, membuka kemejanya sendiri dan melepas kaos dalamnya.

“Aku sangat mencintaimu.” Kai berbisik di telinga Jeo Rin lalu menggigit kecil telinga Jeo Rin. Wajah Kai turun ke bawah. Leher Jeo Rin, ia mendaratkan bibirnya di sana. Kecupan-kecupan lembut itu menjadi hisapan kuat meninggalkan jejak kemerahan di leher Jeo Rin. Sesekali Kai menggigit leher Jeo Rin. Kenapa Kai selalu menang? Bahkan di saat Jeo Rin kesal padanya. Ia meremas rambut hitam Kai, berharap dengan itu desahannya tidak keluar. Kai terus membuat tanda di leher Jeo Rin, tangannya juga bergerak membuka kancing piyama Jeo Rin lalu melepas piyama Jeo Rin. Jeo Rin mendorong Kai menyadari bibir Kai bergerak di dadanya.

“Tidak seperti ini, Jongin-ah..” Kai tidak peduli.

“Geuman.. je.. bal..” Kai mencium bibir Jeo Rin.

“Saranghae, Rin-ah..” Ucap Kai sebelum menimpa Jeo Rin.

“Saranghaeyo.” Kai tidak bergerak lagi, ia tidur. Nafas Jeo Rin tersengal-sengal. Ia mendorong tubuh Kai dari atasnya. Ia menahan nafas saat tangan Kai memeluk pinggangnya. Jeo Rin menoleh ke samping. Entah apa yang ia rasakan saat ini.

—————-

Kai terbangun dari tidurnya, belum membuka mata. Ia masih mengantuk. Dan kepalanya yang pusing membuatnya enggan membuka mata. Perlahan Kai membuka matanya. Melihat orang yang ia peluk. Kai memeluk Jeo Rin yang membelakanginya. Ia mencium bahu Jeo Rin, Kai sangat menikmati saat seperti ini. Saat di mana ia bangun mendapati Jeo Rin tidur di sampingnya. Itu memberikan kebahagiaan tersendiri untuknya. ‘Aku tidak bertindak terlalu jauh semalam kan?’ Tangan Kai bergerak ke bawah. Mendapati Jeo Rin masih memakai celana piyama. ‘Aku masih menjagamu.’ Kai kembali memejamkan matanya.

———————

“Morning.” Kai menghampiri Jeo Rin yang berada di ruang makan lalu mencium pipi Jeo Rin.

“Ini sudah siang ya?” Kata Kai karena menu yang tersedia di hadapannya bukan menu sarapan. Jeo Rin tetap fokus pada makanannya. Kai menatap Jeo Rin yang diam di depannya. Aneh menurut Kai.

“Kau ada masalah, Jeorin-ah?”

“Apa kau mau seperti ini terus?” Ucap Jeo Rin setelah minum.

“Maksudmu?” Kai tidak mengerti.

“Pulang malam, ani, pagi. Mabuk, diantar yeoja.” Kata Jeo Rin dingin.

“Aku hanya bersenang-senang, Jeo Rin. Tidak sampai melakukan apa yang kau pikirkan. Kau mau mencobanya? Aku rasa kau terlalu lelah dengan pekerjaan kantormu.” Sahut Kai sekaligus menyindir. Belakangan ini Jeo Rin sering bekerja ke luar kota.

“Memangnya apa yang kupikirkan? Itu hanya pikiranmu, Jongin. Kau bisa mewujudkannya kalau mau.” Balas Jeo Rin.

“Jangan seperti ini, Jeorin-ah.” Kai tidak mau hari Minggu mereka hancur karena pertengkaran yang disebabkan hal sepele.

“Aku lelah, Kai.” Kai menatap tajam Jeo Rin.

“Bisakah kau tidak memanggilku Kai?” Jeo Rin tidak mempedulikan Kai. Ia ingin mengeluarkan emosinya.

“Aku bisa terima kau yang mabuk karena kau sudah seperti itu sebelum bahkan setelah bertemu denganku. Tapi pulang diantar oleh yeoja aku tidak bisa. Aku tahu pasti apa yang terjadi antara namja yang mabuk dan seorang yeoja di club. Paling sedikit mereka berciuman.” Jeo Rin bangkit dari duduknya. Berjalan menuju kamar. Kai mengikuti Jeo Rin. Ia menahan tangan Jeo Rin yang hendak membuka pintu.

“Aku tidak seperti itu. Aku hanya minum di sana.” Jeo Rin menghempaskan tangan Kai. Ia langsung mengambil koper begitu masuk ke kamar.

“Apa yang kau lakukan?” Kai menatap nanar koper Jeo Rin.

“Aku tidak perlu khawatir meninggalkanmu sendiri di sini.” Jeo Rin memasukkan pakaiannya ke koper.

“Kau mau pergi? Andwae. Kau tidak boleh pergi dari sini!” Jeo Rin menutup koper dan mengambil tasnya. Ia menggeret koper keluar kamar.

“Mianhae. Aku tidak akan mabuk lagi.” Kai mengekori Jeo Rin. Tidak ada respon, Kai menarik Jeo Rin ke dalam pelukannya.

“Gajima, jebal.” Jeo Rin mendorong tubuh Kai.

“Kau bisa mengajak yeoja yang mengantarmu pulang setiap malam untuk tinggal di-“ Kai membungkam Jeo Rin dengan ciumannya. Berharap bisa menghentikan Jeo Rin.

Plak!

“Aku bukan yeoja yang selalu kau temui belakangan ini, yang bisa kau cium dengan sesukamu!” Jeo Rin menatap Kai marah.

“Ani. Kau berbeda, Rin-ah. Kau berbeda sejak pertama aku melihatmu!” Kai menahan tangan Jeo Rin dan Jeo Rin menghempaskan tangan Kai lagi. Ia membuka pintu, menggeret kopernya meninggalkan apartemen. Kai mematung. Ia menatap sendu punggung Jeo Rin yang menjauh. Jeo Rin tidak boleh meninggalkannya.

TBC…

Apa yang kalian pikirkan tentang chapter ini?

Komen

Komen ^^

25 thoughts on “TRUE LOVE (Chapter 22)

  1. chapter ini isinya kdrt……
    tp itu yg bkn cerita makin keren…

    chingu g bisa minta pw lewat emaik ya?
    aq g punya twitter….
    jawab ya…

  2. keren banget thor ff nya !
    suka banget baca nih ff
    maaf thor gak bisa coment di ff sebelum2 nya😀
    keren banget thor ff nya sumpah ! DAEBAK !!!

  3. Kenapa Kai berantem sama si Jeo Rin ?? Ntar Kai ttetep sma si Jeo Rin kan Thor ?? Trus gimana Tuh si Sehun ?? mending Min Young tetep sma Sehun Thor. Tapi gue kesian sma Suho & Luhan nggak ada jodoh.

    Tapi Suer ini FF ter keren yang pernah aku baca,harusnya FF ini dipanjangin lagi jangan sampe part 23 doang dong Thor,kan bagus kalo dilanjutin lagii,HAHA.Kalo gue jadi authornya sih mending FF ini nggak gue post disini,mending gue buat novel aja,sumpah. Ceritannya Kereennnnn !!!😀 Sukses buat author !!🙂

  4. SaLam kenaL eonn,,,
    maaf saya baru bisa comment skrg,,,
    hehee,,,
    hm, keren FF nyaa,,,
    aQ penasaran gimana nasibnya Minyeong ma Sehun,,,
    aduhh eonn,,,,
    Lama Q mnunggu,,,
    ternyata diprotect,,,
    minta PWnya eon yaa!!!
    #JebaL *pasang puppy eyes bareng Sehun*

  5. huwaaa saya ngoment lagi udah selesai baca ….. wahhh kalau jadi Jeo Rin bakalan aku Talag tilu si kkamjong terus nikah sama Baekhyun #ajegreg…

    wiw.. jjang thor!! kenapa si min young lemah sekali u,u thor ntar jangan buat min young di dorong sehun ya kasian bayinya #jeprett apaini..

    well, ditunggu part terakhirnya ….
    #wusshhh baca part sebelumnya

  6. wahhhh thorr new reader ,baru nengok ff ini langsung part 22 titip coment dulu ya thorr hehhe belum baca semuanya hehhe

    so, fighting! buat karya selanjutnya kkkk~~

  7. Jangan sampe kai-jeorin kenapa2 jebaaaaal. Gemes bgt bgt bgt. Next chapter thor, I’ll waaaaaiiiiit
    Btw ini ff terpanjang yg pernah kubaca :”

  8. haduuu eoonnn.. kenapa kai nda nahan jeorin ya.. kapan ya kai bisa ingat lagi kalau dia cinta banget sama jeorin … soal pasangan luyoung.. semoga aj mereka bersatu ya.. nda terpisahkan lagi.. eon… cepat post chapter selanjutnya ya.. ditunggu .. ^^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s