Remember

“REMEMBER”

reetryy

By : Mutia.R (@Mrs_Greens)

Length: oneshoot

Genre: romance

Cover : artwork by Mutia.R

Cast : find it by your self

Note:

FF oneshoot yang murni hasil jerih payah otak author.. semua cast milik tuhan. Saya hanya minjem.. cover dan story juga milik tuhan yang kebetulan disalurkan lewat otak saya tercinta..

So, Hargai dan kenanglah FF saya..

Kamsahamnida^^

_______remember_______

“Soo Hyun tunggu !”  laki-laki  itu  sedikit berlari untuk mensejajarkan langkahnya pada gadis yang baru saja ia panggil dengan Soo Hyun.  Gadis itu terlalu bersemangat ! itulah yang dipikirkan laki-laki itu.

“coba lihat Yi Xing, baju seragam kita bagus sekali”  mata gadis itu bersinar-binar saat melihat baju seragam yang sepasang -laki-laki& perempuan- terpasang rapi ditubuh sang patung yang bertengger  dengan anggunnya di balik kaca etalase toko tersebut.

“biasa saja”jawab Yi Xing singkat. Sontak gadis itu langsung memandang Yi Xing kesal.

“biasa bagaimana ? menurutku ini bagus sekali.. blazernya juga keren. Aku sangat menyukainya..” Soo Hyun tak mau kalah. Ia tetap pada pendiriannya mengatakan bahwa baju seragam SMA yang akan mereka kenakan nanti sangatlah keren.

Sebenarnya Soo Hyun sudah tidak sabar lagi menunggu hari itu. Hari dimana pertama kalinya mereka akan mengenakan seragam SMA dan menyandang status sebagai anak remaja seutuhnya. Soo Hyun sangat menantikan hari-hari itu. Soo Hyun sering mendengar dari kakak-kakak seniornya bahwa menjadi anak SMA itu sangatlah menyenangkan. Bersenang-senang, mengikuti trend masa kini dengan mengikuti gaya ala anak ABG, nonton film saat akhir pekan, belibur bersama teman-teman saat liburan musim panas tanpa harus didampingi oleh orang tua lagi, pacaran, dan tentu saja berkencan.  Soo Hyun sangat menantikan hari-hari itu.

Dan tentu saja bersama Yi Xing. Orang yang paling dekat dengannya saat ini. Orang yang paling ia harapkan mengisi hari-hari nya selama duduk di bangku SMA.

“suatu saat nanti, saat kelulusan SMA aku ingin meminta kancing kedua dari baju seragammu. Kau harus memberikannya padaku arraseo ?” Soo Hyun berbicara tegas disamping Yi Xing yang kini juga sedang memandangi baju seragam tersebut. Sontak Yi Xing pun menoleh kearah Soo Hyun yang tiba-tiba saja meminta kancing kedua baju seragamnya bahkan sebelum dipakai.

“ya ! untuk apa ? aigo.. aigoo.. bahkan jika kau meminta semua kancing bajuku, aku  akan memberikannya tanpa harus kancing kedua. Aiish.. ada ada saja kau ini.. hahaha” Yi Xing merasa lucu sambil mengacak-acak rambut Soo Hyun. Entah kenapa tiba-tiba saja Soo Hyun meminta hal aneh seperti itu. Apa ada yang salah  dengan gadis ini ? pikir Yi Xing

“tidak mau ! pokoknya aku mau kancing  kedua dari bajumu”  Soo Hyun tetap bersikukuh pada keinginannya.  Bukannya aneh ataupun ada yang salah dari Soo Hyun. Namun ia memiliki maksud tersendiri dibalik permintaannya tersebut. Hanya saja..

Yi Xing belum mengetahuinya…

_____remember_____

28 desember 2013,  at Incheon airport.

Untuk pertama kalinya dimusim dingin setelah 5 tahun berlalu, laki-laki itu menapakkan kakinya kembali ditanah kelahirnannya, Korea Selatan.

5 tahun. Ya ! 5 tahun bukan termasuk waktu yang singkat untuk meninggalkan semua kenang-kenangannya disini. Semua hal yang ia sayangi, semua hal yang ia cintai, dan.. semua hal yang ia sesali…

Musim dingin, dimana salju bertebaran dimana-mana. Putih mendominasi warna disetiap sudut kota.  Baju tebal dan berlapis dengan berbagai model, mantel dan syal yang tak pernah tertinggal untuk dikenakan setiap orang saat ini. asap yang mengepul disetiap ia menghembuskan napas ataupun bicara. Yi Xing rindu akan keadaan ini. walaupun ia juga sering menemukan musim ini di Inggris, tempatnya selama ini menimba ilmu. Namun semuanya berbeda, tidak sama dengan suasana ditempat kelahirannya.  Terlebih lagi jika ia bisa menghabiskan musim dingin ini bersama orang yang paling ia harapkan keberadaannya. Orang yang paling ia rindukan…

Sahabatnya, Shin Soo Hyun.

Namun semua itu hanyalah sebuah angan,  untuk bisa melihatnya lagi saja itu terasa sulit bagi yi Xing. Bagaimana tidak ? 5 tahun berlalu, selama itulah ia tak pernah mendengar berita dari gadis tersebut. Semuanya bagai disapu ombak ketika ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Korea 5 tahun lalu.

Sebuah penyesalan yang selalu datang diakhir..

Andai saat itu ia menyadarinya terlebih dahulu,

Mungkin sekarang status mereka  berbeda..

Dan sekarang penyesalan tinggalah penyesalan. Yi Xing tak bisa memutar waktu kembali. Yi Xing hanya bisa berharap jika ia memiliki kesempatan bertemu, maka ia ingin memperbaikinya kembali..

“haaah.. My country, I’am coming !”  Yi Xing tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangan membiarkan udara sejuk dimusim dingin menyapu lembut kulitnya. Ia tak perduli lagi dengan pandangan aneh dari orang-orang disekitar bandara saat melihat tingkahnya.

Jepret.

Kegiatan yang tak pernah ia lupakan sejak dulu. Hoby yang sangat ia gemari selain menyanyi dan bermain gitar. Ia membidik setiap tempat yang ia sukai, mengabadikannya dalam sebuah lembaran foto. Yi Xing menyukainya.

Dengan menggunakan kamera kesayangannya, Yi Xing memotret semua sudut bandara itu dengan lincahnya.

Ia masih ingat bagaimana kamera ini bisa sampai ketangannya, bisa menjadi miliknya seutuhnya. Ia masih ingat itu dengan jelas.

___07 october 2007___

“saengil chukka hamnida.. saengil chukka hamnida.. saengil chukkae uri Yi Xing. Saengil chukka hamnida. Yeeeee…”

So Hyun datang dengan kue tart ditangannya, memakai topi kerucut sambil meniupkan terompet kecil yang kini ada dimulutnya.

Yi Xing terkejut, ternyata inilah tujuan Soo Hyun mengajakanya berdua ke sungai han malam-malam..

“Soo Hyun, apa ini ?” Tanya Yi Xing.

“surprise !”

“sekarang ayo tiup lilinnya sebelum nanti meleleh” titah So Hyun

“aissh.. baiklah tuan putri !” Yi Xing mengacak-acak poni So Hyun yang menyembul keluar dari topi kerucut itu sembari tersenyum cerah yang malah menampakkan lesung pipi laki-laki tersebut.

Soo Hyun merasa risih akan perlakuan Yi Xing yang suka mengacak-acak poninya bahkan rambutnya,  namun itu tidak ada apa-apanya jika dibanding melihat sahabatnya ini tersenyum bahagia.

“eh tunggu !”  soo hyun tiba-tiba menghentikan kegiatan Yi Xing yang kini hendak meniup lilinnya.

“make a wish dulu..” sambung Soo Hyun

“oh ? nde, aku lupa.. hehehe”

“apa yang kau minta ?”  Tanya Soo Hyun penasaran. Kini mereka duduk di salah satu bangku yang terdapat sisi sungai han sambil memakan kue tart yang tadi dibawa oleh Soo Hyun.

“rahasia” ucap Yi Xing cepat.

“aiish.. pelit sekali ! beritahu sedikit..” Soo Hyun merengek layaknya anak kecil.

“ya ! mana bisa begitu.. kalau aku memberitahumu maka itu bukan wish namanya”

“dasar pelit !”  Soo Hyu sesungutan sambil mempoutkan bibirnya yang malah terlihat lucu dibandingkan marah bagi Yi Xing.

“hahaha.. ah iya ! mana hadiahku ?” Yi Xing menadahkan tangannya pada Soo Hyun yang masih terlihat marah.  Namun dalam waktu sepersekian detik wajah Soo Hyun tiba-tiba saja berubah. Gadis ini memang cepat sekali merubah suasana hatinya.

“ah iya ! tunggu sebentar yaa..”  Soo Hyun mengambil sesuatu dalam  tas selempangnya. Sebuah kado dengan bungkus bergambar pororo. Tingginya  tak lebih dari 15 sentimeter, dengan lebar kurang lebih 20 sentimeter.

“ini !” Soo Hyun menyodorkannya pada Yi Xing.

“apa ini ?” Yi Xing penasaran sambil memutar-mutar kotak tersebut.

“buka saja”

“baiklah”  dengan cepat Yi Xing pun membuka bungkus kado tersebut.

Ia terkejut bukan main, sebuah benda yang sangat ia inginkan sejak lama, sebuah benda yang belum sempat ia beli. Dan sekarang benda itu ada dihadapannya. Ini seperti mimpi.

“kamera ? Soo Hyun, kau..”

“ne, aku membelinya untukmu.. kau tau ? aku menghabiskan uang tabunganku selama 5 tahun hanya untuk membelikanmu ini.. karna itu, kau harus menyimpannya baik-baik, dan gunakanlah sebaik mungkin. Arraseo ?”

Yi Xing terdiam. Ia sungguh tak bisa berkata-kata. Terlalu terharu akan kejutan demi kejutan yang diberikan sahabatnya ini.

“So Hyun-ah..”

“mwo ?”  Hug–  tanpa aba-aba, dan tanpa tanda sebelumnya. Yi Xing tiba-tiba saja memeluknya. Soo Hyun terkejut.

“gomawoyoo..” ucap Yi Xing lembut.

Masih dengan keterkejutannya, entah kenapa Soo Hyun merasa sangat bahagia. Seperti ribuan kupu-kupu yang terbang diperutnya, ratusan kunang-kunang yang menari-nari di matanya. Ia tak pernah menyangka akan berada pada jarak sedekat ini dengan Yi Xing.

Dengan perlahan, Soo Hyun pun membalas pelukan Yi Xing..

“ne, cheonmayo..”

_____remember______

“taxi !” Yi Xing menghentikan taxi yang tengah berjalan melewati sisi bandara. Ia berinisiatif untuk menyempatkan diri berjalan-jalan mengelilingi kota Seoul sebelum ia  pulang kerumah.

“mau kemana tuan ?” sang sopir menanyakan tujuannya pada Yi Xing yang kini tengah sibuk mengutak-atik kameranya.

“sungai Han ahjussi !” entah kenapa Yi Xing merindukan tempat itu. Tempat yang memiliki banyak kenangan bagi Yi Xing. Tempat yang mengingatkannya akan sosok seseorang yang sangat ia rindukan.  Sosok yang tak pernah ia lihat selama 5 tahun ini, Shin Soo Hyun.

Yi Xing mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya. Sebuah foto lama, masih terlihat rapi tanpa lusuh sedikitpun. Sebuah foto dirinya dan Soo Hyun  saat  kelulusan SMA lima tahun yang lalu sebelum ia berangkat ke Inggris untuk melanjutkan kuliahnya.

Yi Xing menyesal. Kenapa saat itu ia tak mengerti mengapa Soo Hyun terlihat marah dan kecewa dalam foto tersebut.  Dan mengapa baru sekarang ia mengetahui penyebabnya. Terlambat memang, tapi mau bagaimana lagi.. andai waktu bisa kembali. Maka ia ingin memperbaikinya, dan tak akan bertindak ceroboh.

___07 februari 2009___

“aissh.. dasar Yi xing bodoh ! kenapa malah ikut tawuran disaat upacara kelulusan seperti ini eoh ? bajumu jadi kotor kan ? bibirmu juga berdarah.. ”  So Hyun tak henti-hentinya mengomel sejak ia menemukan sahabatnya itu dalam keadaan yang bisa dibilang berantakan. Untung saja upacara kelulusan sudah berakhir sejak tadi, dan sekarang hanya tinggal acara-acara hiburan yang sedang diisi oleh para murid.

So Hyun sebenarnya tak habis pikir, Yi Xing yang selama ini selalu cuek dan tak suka ikut campur urusan orang lain tiba-tiba saja terlibat dalam tawuran konyol tersebut.

“ini bukan mauku.. aku juga tak suka ikut tawuran seperti ini, tapi Yi Fan terus memaksaku.. dia ingin terlihat kuat didepan pacarnya dengan memiliki anak buah yang banyak” Yi Xing sesungutan sambil menjelaskan perihal yang terjadi padanya. So Hyun yang mendengar itu pun hanya bisa menghela napasnya sambil terus tetap membersihkan luka di sudut bibir Yi Xing yang kini terlihat memerah karena sedikit berdarah.

Sesekali ia mengusapkan kapas basahnya dengan kasar pada sudut bibir Yi xing. Menandakan bahwa ia sedikit kesal dengan hal yang menimpa sahabatnya ini.

“kau kan bisa menolak ?” tukas So Hyun.

“sudah kubilang dia memaksa kan ?  dia langsung menyeretku ke TKP.. dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain ikut berkelahi seperti yang lain”  Yi Xing meratapi nasibnya sendiri. Membayangkan betapa malang dirinya saat Yi fan tiba-tiba saja menyeretnya untuk ikut tawuran bersamanya. Sekali lagi So Hyun hanya bisa menghela napasnya mendengar Yi Xing membela diri.  Yang terjadi pada Yi Xing memang tak bisa disalahkan. Apalagi jika Yi Fan yang sudah meminta tolong. Semua orang tahu, jika Yi Fan adalah sabahat dekat Yi Xing selain So Hyun. Mungkin karna itu Yi Fan berani menyeret Yi Xing dalam masalahnya.

“sudah ! ah.. sekarang aku menagih sesuatu yang dulu pernah kuminta. Sinikan !”  So Hyun menadahkan tangannya dihadapan Yi Xing setelah ia selesai membersihkan luka disudut bibir Yi Xing.  Sesuatu yang sejak dulu sangat ia harapkan dari Yi xing. Sesuatu yang  menurutnya sangat  beharga yang patut untuk dijaga hingga akhir.

Namun bagi Yi Xing, sesuatu itu hanyalah lelucon, sesuatu yang tidak penting, sesuatu yang ia anggap tak serius yang keluar begitu saja dari mulut So Hyun. Oleh karna itu, mungkin dengan mudahnya Yi Xing melupakan hal tersebut.

“a.. apa ?” Tanya Yi xing kebingungan. Ia benar-benar tidak tau. Atau memang ia benar-benar telah lupa sama sekali hal tersebut.

Yi Xing mencoba berpikir, mengingat-ingat tentang apa yang pernah diminta oleh So Hyun dahulu padanya. Namun setelah beberapa saat berpikir, ia tetap tak bisa mengingat apa-apa. Penyakit pelupanya memang parah -_-

“a..aku benar-benar  tidak ingat So Hyun-aa” dengan wajah yang memelas, ia meminta kelonggaran pada So Hyun agar memberitahunya.

Dan untuk yang kesekian kalinya, So Hyun lagi-lagi menghela napasnya.

“kancing kedua bajumu.. bukankah dulu aku pernah memintanya. Sekarang berikan..” ucap So Hyun

“aiiish.. kukira apa…. Memangnya untuk apa kancing bajuku ? kalau kau ingin meminta sebuah kenang-kenangan karna aku akan pergi jauh.. harusnya kau meminta yang lebih bagus. Seperti boneka, perhiasan, pakaian atau semacamnya.. aaah.. kau ini benar-benar payah !” Yi Xing tak habis pikir dengan permintaan sahabatnya yang satu ini. aneh dan tak masuk akal.

“tidak mau ! pokoknya aku ingin kancing bajumu..” So Hyun tetap bersikeras. Sebenarnya ini bukan hanya sebuah masalah kenang-kenangan. Namun lebih dari itu, ia percaya pada sebuah TEORI. Teori yang entah dari mana berasal. Dan So Hyun percaya akan teori tersebut.

“haah.. baiklah ! tunggu sebentar..”  Yi xing menyerah, ia akhirnya mau memberikan kancing bajunya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Kancing kedua dari kancing bajunya menghilang.

Ya. Kancing baju kedua yang awalnya ingin ia berikan pada So Hyun ternyata sudah raib, menghilang entah kemana. Mungkin terlepas saat ia terlibat tawuran tadi siang. Yang tertinggal hanyalah sebuah benang yang masih menempel di lubang kancing tersebut.

Dan sketika itu juga raut wajah So Hyun tiba-tiba berubah. Ia kecewa.

Yi Xing menyadarinya. Namun ia hanya meminta maaf sebagai rasa bersalahnya.

Dan Yi Xing sebenarnya tak menyadari, jika So Hyun bukan hanya sekedar kecewa..

Tapi patah hati…

____remember____

“tuan, kita sudah sampai di sungai han”

Yi Xing segera terbangun. Sejak tadi ia tak menyadari jika dirinya sudah melamun terlalu lama hingga lupa dengan perjalanannya.

“ah.. ne, kamsahamnida ahjussi”

Angin dimusim dingin,

Hawa  yang begitu menusuk hingga kejantung,

Butiran salju yang terus berjatuhan tanpa ampun,

Warna putih yang mendominasi,

Dan suasana yang tak banyak berubah..

Masih tetap sama, sperti 5 tahun yang lalu..

Itulah hal pertama yang menyambut kedatangan Yi Xing di tempat ini.

Dan semuanya terlihat begitu indah.

Yi Xing pun segera mengabadikannya dalam bentuk foto.

Belum merasa puas dengan hasil jepretannya. Ia pun memutuskan untuk berkeliling.

Sungai han di sore hari yang bersalju ternyata begitu indah.

Lebih indah dari apa yang pernah ia lihat di Inggris.

“Yi Xing, kau kah itu ?”  seorang gadis berambut sebahu menyapanya ketika ia sedang menyantap makan siangnya  di sebuah kafe di Inggris seminggu yang lalu.

Awalnya  ia tak mengenalnya, namun setelah berusaha mengingat akhirnya ia tau siapa gadis yang menyapanya ini.

Kim Han Na. gadis yang selama 3 tahun duduk disamping So Hyun dan menjadi teman curhat So Hyun selain Yi Xing.

Yi Xing mengenalnaya. Tentu saja. Walaupun tak seakrab dirinya dengan So Hyun. Namun ia masih bisa mengenal gadis ini dengan baik.

“Han Na ?” Tanya Yi Xing meyakinkan.

“iya. Ini aku.. kau masih ingat ?”

“haha.. tentu saja ! kau gadis yang selalu menempel pada So Hyun ketika aku tak ada. Bahkan disaat aku ada pun kau selalu merebutnya dan mengajaknya bergosip tentang hal-hal yang membosankan !” tukas YI Xing. Ia memang sudah terbiasa berbicara informal seperti ini dengan Han Na, karena So Hyun mereka jadi akrab satu sama lain.

“kau sendirian ? mana Yi Fan ?” Tanya Yi Xing.

“Ya ! aku kemana-mana tak harus bersama Yi Fan kan ? Lagipula dia aku tinggal dikorea.. aku kesini untuk liburan bersama teman-temanku tuan Zhang”

“woah.. benarkah ? apa kau tak takut dia akan mengamuk lagi ? kau ingat terakhir kali dia mengamuk saat kelulusan SMA.. saat itu dia sudah kehabisan akal sampai-sampai menyeretku dalam tawurannya memperebutkanmu. Aiish” Yi Xing merasa miris sekali dengan dirinya sendiri ketika mengingat masa-masa itu. Walaupun merasa sedikit kesal namun tak bisa ia pungkiri bahwa kenang-kenangan masa sekolah adalah kenangan terindah dalam hidupnya.

“ya ! jangan bahas Yi Fan lagi.. lalu  bagaiman denganmu ? apa kau masih berhubungan dengan So Hyun ?”

“berhubungan bagaimana maksudmu ?”

“kau ini bodoh atau pura-pura bodoh ? tentu saja hubungan sepasang kekasih..”

“ya ! haha.. dia menyukaiku saja tidak. Bagaimana kami bisa menjadi sepasang kekasih ?” Han Na terkejut mendengarnya. Bukan karna hubungan So hyun dan Yi Xing yang tak menjadi sepasang kekasih. Namun karna Yi Xing yang ternyata belum mengetahui perasaan So Hyun sebenarnya.

“jadi.. sampai sekarang kau tidak tau ?”

“tau apa ?”

“haaaah.. ternyata benar kata So Hyun. Kau memang bodoh dan tak pernah peka”

“apa maksudmu eoh ?”

Yi Xing semakin bingung dengan apa yang dikatakan Han Na. Han Na pun mengambil jeda beberapa saat sebelum ia akhirnya berbicara.

“Apa kau pernah mendengar tentang teori sebuah kancing baju ?”

“tidak. Teori macam apa itu ?”

“begini.. katanya kancing kedua dari baju kita adalah kancing yang paling dekat dengan hati. Karna itu kau harus menjaganya dengan  hati-hati  dan jangan sampai menghilangkannya. Dan jika kau memberikan kancing bajumu itu pada seseorang.  Itu tandanya kau telah memberikan hatimu padanya.  So Hyun mempercayai teori ini. Dan dia jugalah yang memberitahuku.. dia bilang, hal yang paling ia inginkan saat ini adalah memiliki kancing kedua dari bajumu. Karna itu.. apa kau sudah memberikannya ? dulu dia bilang ingin memintanya padamu saat upacara kelulusan”

Seketika itu juga Yi Xing mematung. Jadi inikah maksud dari permintaan konyol So Hyun beberapa tahun silam ?

Ternyata So Hyun sudah lama menyukainya. Bahkan sebelum mereka memasuki tahun ajaran baru sebagai murid SMA.

Dan betapa bodoh dirinya yang tak pernah menyadari perasaan So Hyun selama ini. bodoh dan sangat bodoh hingga ia tak sadar telah melepas sosok yang sangat berharga dihidupnya.

Yi Xing kembali termenung ketika ia mengingat perkataan Han Na seminggu yang lalu di Inggris ketika mereka tak sengaja bertemu di sebuah kafe.

Andai waktu bisa kembali ke 5 tahun silam, maka Ia ingin memperbaikinya dengan menjaga kancing tersebut dengan hati-hati lalu memberikannya pada So Hyun.

Namun, ia sadar semuanya sekarang hanya menjadi sebuah harapan. Sampai kapanpun ia takkan pernah bisa memutar waktu.

Dari kejauhan Yi Xing dapat melihat sekelompok anak-anak berusia sekitar 6 – 7 tahun sedang asyik bermain bersama seorang gadis yang jauh lebih dewasa dari mereka.

Walau begitu, mereka terlihat sangat bahagia. Karna tawa-tawa itu lah yang membuktikannya.

Yi xing pun ikut tersenyum melihat mereka, namun sesaat setelah ia mengalihkan pandangannya pada gadis itu..

Darah Yi Xing tiba-tiba berdesir.

Kaki Yi Xing terasa kaku.

Dan mulut Yi Xing terasa kelu.

Gadis itu. Ya ! gadis yang sangat ia kenal..

Apa ini hanya sebuah ilusi ?  tidak. Ini nyata, dan sekarang gadis itu ada dihadapannya dan sedang memakai penutup mata.

“Jong Dae, Min Seok, Luhan, Sa Rang, Seol Ri.. dimana kalian ? aaah.. jangan jauh-jauh, aku tak bisa menemukan kalian”

“tapi aku menemukanmu…  Shin So Hyun”

Menemukanmu.. mungkin kata itulah yang paling tepat.

Dan sekarang aku takkkan pernah melepasmu..

Tak perlu sebuah kancing baju untuk mencintaimu dan memberikan hatiku.

Cukup hanya kau yang selalu berada disisiku..

Mulai sekarang hingga akhir..

Karna aku menemukanmu…

Pemilik dari hatiku….

_____the end______

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s