Baby, I’m Sorry (Chapter 2)

jellokey2

 

Baby, I’m Sorry

 

Tittle                           : Baby, I’m Sorry (Chapter 2)

Author                       : Jellokey

Main Cast                  :

Kim Jong In (Kai of EXO)

Kang Jeo Rin(OC)

Support Cast            :

Kim Taehyung (V of BTS)

Byun Baekhyun (Baek Hyun of EXO)

Oh Sehoon (Se Hun of EXO)

Lu Han (Lu Han of EXO)

Park Jimin (Jimin of BTS)

And others

Length                        : Chaptered

Genre                         : Romance

Rating                         : PG-17

Disclaimer                 : Cerita ini milik saya. Dilarang plagiat dan copy paste. Don’t bash!

Poster                        : G.Lin by http://cafeposterart.wordpress.com

 

“Apa maksudnya ini?” Jeo Rin menatap Kai marah.

“Mwo?” Kai pura-pura tidak mengerti.

“Kertas ini, apa maksudnya?!” Bentak Jeo Rin, membuang wibawa yang dikagumi para siswa selama ini.

“Jangan coba-coba mendekati Jeo Rin. Dia sudah menjadi yeojachingu sekaligus istriku sejak kecil. Kalian akan berhadapan denganku kalau berani mendekatinya. Saranghae, yeobo. Your handsome prince, Kai.” Kai membaca isi kertas itu dengan keras. Jeo Rin mengepalkan tangannya, menahan diri agar tidak memukul Kai.

“Itu benar. Kau istriku. Bukankah kita sudah menikah saat masih kecil dulu? Tidak usah setegang itu, yeobo. Pernikahan kita yang sesungguhnya akan lebih menegangkan.” Ucap Kai santai.

“Ya! Itu hanya permainan!” Teriak Jeo Rin.

“Bagiku tidak. Suka atau tidak suka kau harus menikah denganku. Apa kau melupakan bagian itu?” Lu Han menatap Kai takjub. Bagaimana tidak? Kai masih tujuh belas tahun, dan dia orang yang suka ‘party’. Hal yang sangat mustahil kalau Kai memikirkan pernikahan. Daebak! Lu Han ingin tertawa keras saat ini.

“Kau gila? Apa kau tidak punya pikiran selain itu? Lebih baik kau tidak usah sekolah kalau ingin menikah. Atau kau menginginkan sesuatu dari pernikahan. You want sex, right? Sepertinya aku salah. Orang sepertimu pasti sudah sering melakukannya. King of party.” Jeo Rin mengucapkannya dengan berapi-api. Kai terkejut mendengar penuturan Jeo Rin. Detik berikutnya ia berdiri, meraih tengkuk Jeo Rin dan mencium bibir Jeo Rin.

“Woah..” Murid kelas mereka bersorak melihat aksi Kai.

“Kau mau tahu kenapa aku sudah berpikir sejauh itu?” Kai menangkupkan tangannya di wajah Jeo Rin.

“Itu karena aku sudah punya segalanya. Aku tampan, pintar, kaya. Aku sempurna, Jeo Rin. Semua yeoja pasti menginginkanku. Dan untuk masalah itu, kau benar. Aku bisa melakukannya setiap hari dengan banyak yeoja. Tanpa kubayar pun mereka mau tidur denganku. Tapi aku tidak mau. Aku terlalu berharga untuk yeoja murahan seperti mereka. Aku menunggumu, Jeo Rin.” Kai memeluk Jeo Rin.

“Aku menunggumu.” Bisik Kai di telinga Jeo Rin.

“Kai..” Lirih Jeo Rin. Ia masih terkejut dengan ucapan Kai.

“Dugaanku benar. Kau melupakanku. Wae? Kenangan masa kecil kita sangat indah, Jeo Rin. Jeolin-ku.”

“Lepas, Kai. Kau membuatku malu.” Jeo Rin meronta.

“Aku akan melepaskanmu kalau kau mau jadi yeojachinguku.”

“Aku tidak menyukaimu!” Tolak Jeo Rin mentah.

“Aku tidak peduli. Aku akan terus memelukmu walaupun ada guru nanti.”

“Lepas, jebal.” Mata Jeo Rin membulat mendapati Taehyung terpaku di ambang pintu.

“Kai..” Pelukan Kai semakin erat.

“Ne.” Jeo Rin mengatakan itu agar Kai melepas pelukannya dan berharap Taehyung tidak salah paham.

“Aku tahu kau tidak bisa menolakku. Gomawo.” Kai mencium bibir Jeo Rin lagi. Momen itu diabadikan Lu Han dengan handphone Kai yang berada di meja. Jeo Rin sudah tidak melihat Taehyung begitu Kai melepas ciumannya.

 

——————

 

Jeo Rin melangkahkan kakinya menuju kelas khusus setelah bel istirahat kedua berbunyi. Ia harus menjelaskan kejadian tadi pada Taehyung. Jeo Rin terkejut mendapati Park Chanyeol (ketua klub basket), sedang berciuman dengan Kim Min Ra (sebangku sekaligus ketua klub mading). Di kelas hanya ada mereka. Park Chanyeol hanya salah satu dari anggota kesiswaan yang bermain di belakang pembina.

“Ehem!” Dehaman Jeo Rin mengganggu kegiatan mereka.

“Eh? Jeo Rin? Bagaimana hari pertamamu di kelas biasa?” Tanya Chanyeol canggung sedangkan Min Ra menunduk malu.

“Tidak buruk. Kau tahu di mana ketua?”

“Di ruangannya? Atau mungkin di kantin?” Jawab Chanyeol seperti bertanya. ‘Kenapa aku tidak terpikir ke ruangannya?’

“Gomawo, Chanyeol.” Jeo Rin menuju ruang ketua kesiswaan. Benar, Taehyung ada di sana. Jeo Rin mendapati Taehyung sedang tiduran di sofa.

“Hyungie..” Taehyung langsung mendudukkan dirinya begitu mendengar suara Jeo Rin.

“Aku ingin menjelaskan,” ucapan Jeo Rin terpotong.

“Jadi, itu alasanmu pindah kelas? Kai? Kau pacaran dengannya?” Taehyung beranjak mendekati Jeo Rin.

“Ani. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku..”

“Padahal kau baru semalam bertemu dengannya. Kau juga membencinya karena berandalan (tidak mematuhi peraturan sekolah), kenapa dia bisa jadi namjachingumu hanya dalam waktu sehari?!” Taehyung menatap Jeo Rin marah.

“Hyungie, aku..”

“Aku kecewa padamu, Jeo Rin.” Taehyung berjalan melewati Jeo Rin keluar ruangannya. Jeo Rin mendesah berat. Dia baru menyadari sesuatu. Kenapa dia harus menjelaskan kejadian tadi pada Taehyung? Mereka tidak punya hubungan apa-apa. Jadi apa yang harus Jeo Rin lakukan sekarang? Menjalankan perannya sebagai yeojachingu Kai? Dia tidak mau. Jeo Rin tidak mau punya namjachingu berandalan seperti Kai. Seharusnya ia mengabaikan keberadaan Taehyung tadi. Tapi kalau Jeo Rin tidak mau jadi yeojachingu Kai, Kai akan terus memeluknya.

“Orang itu pintar sekali mengancam.” Umpat Jeo Rin.

 

——————

 

“Yeobo..” Kai melongokkan kepalanya dari balik pintu. Ia mendengus kesal karena Jeo Rin tidak menyahut panggilannya. Padahal Kai memanggilnya cukup keras.

“Rin-ah, ayo makan malam.” Kai menghampiri Jeo Rin di meja belajar yang entah sedang mengerjakan apa.

“Aku sudah makan.” Jeo Rin fokus pada pekerjaannya.

“Kenapa tidak mengajakku?”

“Kenapa aku harus mengajakmu?” Balas Jeo Rin. Pertanyaan yang tidak diharapkan Kai.

“Karena kau yeojachinguku dan kita tinggal serumah. Kau tidak manis sama sekali.” Jeo Rin tidak terpengaruh, membuat Kai semakin kesal.

“Kau mengerjakan apa?” Seingat Kai, mereka tidak punya pr untuk besok.

“Kau tidak akan mengerti.” Jeo Rin menutup buku besar yang baru saja ia kerjakan lalu mengambil buku lain. Kai langsung menangkap ‘kesiswaan’ di buku yang baru Jeo Rin tutup. Sepertinya Jeo Rin sangat rajin kalau menyangkut organisasi itu.

“Temani aku makan.” Jeo Rin tidak menanggapi Kai.

“Jeoliiiin,” rengek Kai seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan pada eommanya.

“Lain kali saja, Kai. Aku sibuk.” Kai mengerucutkan bibirnya kesal. Baru kali ini Kai bersikap manis seperti itu. Sayangnya Jeo Rin tidak tahu.

“Jeolin,” Jeo Rin melepas kacamata bacanya. Ia menatap Kai yang sudah berpuppy eyes.

“Umurmu berapa, Kai?”

“Tujuh belas tahun.” Jawab Kai polos.

“Kau sudah dewasa. Apa orang dewasa harus ditemani saat makan?”

“Ani. Tapi aku ingin kau menemaniku makan. Tidak enak makan sendirian.” Kai masih berusaha membujuk Jeo Rin.

“Mendekat.” Jeo Rin menggerakkan telunjuknya mengisyaratkan Kai untuk lebih dekat padanya. Kai mencondongkan tubuhnya, wajahnya dekat dengan wajah Jeo Rin.

“Aku akan menjadi yeojachingu yang manis kalau kau tidak menggangguku sekarang.” Bisik Jeo Rin di telinga Kai.

“Ck..” Kai menegakkan tubuhnya, menatap Jeo Rin yang menggerakkan tangannya seperti mengusir. Jeo Rin memakai kacamata lagi begitu Kai keluar dari kamarnya.

“Jeo Rin.. Yeobo..” Jeo Rin mengerang. Perasaan ia baru saja fokus pada tugasnya. Begitu menoleh, ia mendapati Kai membawa nampan dan tersenyum padanya.

“Kai, aku sedang tidak bisa diganggu. Kenapa kau bawa makananmu kemari?” Jeo Rin berusaha sabar. Ia akan mudah naik darah kalau ada yang mengganggu keseriusannya.

“Karena kau tidak mau menemaniku makan di ruang makan, jadi aku makan di sini saja. Suapi aku.” Kai meletakkan nampan di meja belajar Jeo Rin.

“Kai, jangan ganggu aku!” Kai mengambil buku yang terbuka di meja Jeo Rin.

“Jadi, ini tugas sekretaris kesiswaan? Aku tidak mengerti, tapi Nemo pasti suka membacanya.”

“Nemo?” Alis Jeo Rin bertaut bingung.

“Ikan-ku yang ada di aquarium. Kau pasti tidak tahu. Kau tidak pernah ke kamarku.” Kai berkata dengan sangat imut.

“Pinjam ya. Aku ingin Nemo membacanya.”

“Ya! Kim Jongin, kembalikan buku-ku! Aku harus menyelesaikan itu sekarang!” Kai tidak peduli. Ia berjalan menuju pintu.

“Hanya sebentar, Jeo Rin. Nemo ikan yang pintar. Buku ini pasti sangat membantu Nemo untuk mengatur teman-temannya.” Ucap Kai santai.

“Ya! Mau kau bawa ke mana buku-ku?!” Teriak Jeo Rin pada Kai yang hampir mencapai pintu.

“Ke tempat Nemo. Aku akan memasukkan ini ke aquarium. Chankkaman gidaryeo.” Kai membuka pintu setelah tersenyum pada Jeo Rin.

“Kim Jongin! Kembali!” Jeo Rin menyerah menghadapi Kai.

“Kembali? Buat apa?” Tanya Kai polos.

“Aku akan menyuapimu makan.” Kai kembali ke tempat Jeo Rin dengan semangat.

“Kembalikan buku-ku.”

“Nonono. Kau pasti tidak menyuapiku nanti.” Jeo Rin melepas kacamatanya lalu berdiri.

“Duduk.” Kai duduk di kursi belajar Jeo Rin.

“Letakkan bukunya.” Jeo Rin mengambil piring dari nampan. Melihat itu, Kai meletakkan buku di meja. Ia membuka mulutnya menerima suapan dari Jeo Rin.

“Kenapa tidak ada ayamnya?” Tanya Kai merasakan ia hanya makan nasi dan kimchi.

“Kau masih menggilai ayam?”

“Ne. Ayam hal kedua yang kugilai setelah dirimu. Jangan lupa beri saos.” ‘Kau seperti anak-anak, Kai.’ Batin Jeo Rin.

“Mashitta.” Jeo Rin mengembalikan piring ke nampan begitu Kai selesai. Ia memberikan gelas pada Kai.

“Ah.. Kenyang.” Kata Kai setelah minum. Membuat Jeo Rin tersenyum. Benar-benar seperti anak kecil. Polos dan imut.

“Jangan bergerak.” Kai langsung diam mendengar ucapan Jeo Rin.

“Ada saos.” Jeo Rin mengusap sudut bibir Kai dengan ibu jarinya. Kai menahan tangan Jeo Rin lalu mengecup ibu jari Jeo Rin.

“Saosnya sayang.” Kai memposisikan tangan kanan Jeo Rin di pipi kirinya. Ia menatap Jeo Rin. Semoga setelah ini Jeo Rin tidak ketus dan galak lagi padanya. [the power of Kais eyes]

“Kau banyak berubah.” Kedua tangan Jeo Rin sudah berada di pipi Kai. Ia mengelus pipi Kai. Benar kan? Mata Kai memiliki kekuatan.

“Apa aku tampan?”

“Ne, sedikit.” Kai tersenyum. Paling tidak Jeo Rin mengakuinya.

“Bogoshipo, manhi.” Kai memeluk Jeo Rin.

“Kau mau jawaban apa dariku?” Jeo Rin mengelus rambut Kai. Ia juga sedikit merindukan temannya.

“Sama sepertiku.” Kai menikmati hangatnya pelukan Jeo Rin.

“Nado.”

“Kenapa kau tidak pernah mengabariku?” Kai mendongak menatap Jeo Rin.

“Aku tidak mau bertukar kabar dengan namja cengeng sepertimu.” Saat masih kecil, ketika mereka bermain bersama, pasti ada hal yang membuat Kai menangis.

“Aku tidak cengeng lagi sejak kau pergi.” Kai mengerucutkan bibirnya.

“Arra. Kau jadi anak nakal. King of party, apa maksudnya?” Jeo Rin melepas pelukan mereka.

“Siapa yang memberitahumu?” Tanya Kai.

“Jimin.” ‘Anak itu harus diberi pelajaran karena memberitahu hal yang tidak penting pada Jeo Rin.’ Kai membatin.

“Kai, bisakah kau pergi sekarang? Aku harus mengerjakan tugasku.” Jeo Rin tidak mau tahu lebih lanjut tentang King of Party. Itu urusan Kai. Kai sudah dewasa. Dia pasti bisa membedakan mana yang baik dan buruk.

“Gomawo, yeobo.” Kai mengambil nampan.

“Aku akan segera kembali.” Kai keluar dari kamar Jeo Rin.

 

—————

 

“Jeolin..” Kai berdiri di samping Jeo Rin. Ia memperhatikan Jeo Rin yang begitu serius mengerjakan tugas kesiswaannya. Ia mengelus rambut Jeo Rin.

“Fighting!” Bisik Kai setelah mencium pipi Jeo Rin. Jeo Rin terkejut. Ia masih merasakan sensasi ciuman Kai padahal sudah dua menit berlalu. Jeo Rin kembali fokus pada tugasnya. Sedangkan Kai, ia sudah berada di tempat tidur Jeo Rin sambil memainkan psp-nya. Membuang bosan menunggu Jeo Rin. Dua jam berlalu. Kai menguap lalu menghentikan permainannya. Ia melihat ke arah Jeo Rin. ‘Apa Jeo Rin sudah selesai?’

“Jeo..” Kai tidak jadi memanggil Jeo Rin karena melihatnya tertidur. Ia melepas kacamata Jeo Rin, menarik buku yang ditimpa kepala Jeo Rin dan menutupnya, lalu menggendong Jeo Rin menuju tempat tidur. Kai menyelimuti Jeo Rin.

“Kau sekretaris yang hebat.” Kai memberikan ciuman selamat tidur di kening Jeo Rin.

 

—————-

 

“Kai mana, ahjumma?” Tanya Jeo Rin pada Lee ahjumma yang sedang menyiapkan sarapan.

“Tuan Kai belum bangun, nona. Biasanya tuan bangun jam 07.15.”

“Pantas dia selalu terlambat.” Jeo Rin melihat jam tangannya. Masih jam enam pagi. Ia memang sengaja bangun cepat agar tiba di sekolah lebih awal. Ada yang harus ia lakukan. Jeo Rin berpikir. ‘Tidak ada salahnya membangunkan Kai. Anggap saja ini ucapan terima kasih karena sudah memindahkanku ke tempat tidur.’ Jeo Rin melangkahkan kakinya menuju kamar Kai. Ia mengetuk pintu kamar. Tiga kali ketuk tidak ada jawaban, Jeo Rin meraih knop dan membuka pintu. Ia masuk ke dalam. Niat Jeo Rin membangunkan Kai ia urungkan begitu melihat aquarium. Ia penasaran pada ikan Kai yang bernama Nemo. Ia mendekat ke aquarium.

“Bukankah ini ikan badut?” Jeo Rin melihat lima ikan berwarna orange-putih di aquarium.

“Mereka ikan laut kan? Bagaimana Kai membersihkan aquariumnya?” Jeo Rin bingung.

“Ah.. Mungkin ini ikan badut versi air tawar.” Mata Jeo Rin membulat melihat tiga handphone berwarna putih di aquarium.

“Ini handphone atau casing handphone? Ah.. Molla.”

“Kai, irreona!” Teriak Jeo Rin. Ia berjalan menuju tempat tidur.

“Irreona, Kai!” Jeo Rin mengguncang tubuh Kai.

“Kai!!” Menyerah. Jeo Rin lupa kalau Kai raja tidur. Tiba-tiba ia mendapat ide. Jeo Rin menuju kamar mandi dan kembali dengan segayung air. Tanpa ragu Jeo Rin menyiram Kai.

Byur!

“Hujan! Eomma, kamarku bocor!!” Teriak Kai panik.

“Ppali irreona, Kim Jongin!” Jeo Rin melipat tangannya di dada dan menatap Kai tajam.

“Yeobo, kau kejam sekali, kau bisa membangunkanku dengan ciuman.” Kai mengusap wajahnya.

“Irreona. Jangan sampai kau terlambat. Aku akan berjaga di gerbang selama satu bulan ke depan.”

“Morning kiss.” Kai menunjuk bibirnya.

“Apa itu? Cepat bangun!”

“Latihan, baby. Agar kau tidak terkejut saat sudah menjadi istriku nanti.”

“Kim Jongin..” Kesabaran Jeo Rin sudah diuji pagi-pagi begini.

“Kiss, kiss, kiss.”

“Bangun!” Jeo Rin menarik Kai. Tapi tidak bisa. Tubuh Kai seperti menempel di tempat tidur.

“Aku bangun, tapi mandikan aku.” Ucap Kai polos.

“Mwo?!”

“Wae? Bukankah kita sering mandi bersama dulu?”

“Aku menunggumu di bawah.” Jeo Rin berbalik.

“Tidur lagi, ah. Tidak masalah terlambat, sudah biasa. Tapi bagaimana yeojachinguku ya? Dia pasti malu punya namjachingu yang sering terlambat.” Kai menarik selimutnya.

“Kim Jongin!!” Jeo Rin melihat Kai murka.

“Wae, chagiya? Kau mau menciumku atau memandikanku?”

“Masuk ke kamar mandi!!”

“Kau mau memandikanku?” Kai mendudukkan dirinya.

“Jangan banyak tanya. Ppali!!” Dengan semangat Kai berlari ke kamar mandi.

“Lepaskan pakaianmu!” Perintah Jeo Rin setelah menutup pintu.

“Lepaskan untukku, baby.” Jeo Rin mengabaikan ucapan Kai.

“Sikat gigimu!”

“Sikat gigiku mana?” Jeo Rin membuang nafasnya kasar. Ia seperti mengurus bayi raksasa. Jeo Rin memberikan sikat gigi yang sudah ia oleskan pasta gigi pada Kai.

“Sikatkan gigiku.” Kai mengedipkan matanya centil.

“Kim Jongin!” Jeo Rin melotot.

“Arra. Kau lebih suka menyentuh tubuhku.” Kai mengerling nakal lalu mengambil sikat giginya.

“Sudah.” Kata Kai setelah berkumur.

“Berdiri di bawah shower.” Kai menurut.

“Tunggu, yeobo. Isikan bathup dengan air hangat dan sabunku.”

“Permintaanmu banyak sekali.” Jeo Rin melakukan apa yang diucapkan Kai. Bathup sudah penuh dengan air hangat yang berbusa.

“Pakaianmu, lepas!”

“Lepaskan, chagiya.” Jeo Rin langsung menyalakan shower. Ia tidak punya waktu untuk meladeni tingkah kekanakan Kai.

“Yeobo, dingin. Hangatkan aku!” Kai memiliki refleks yang bagus kalau seperti ini. Ia langsung memeluk Jeo Rin begitu terkena air.

“Kim Jongin! Seragamku basah!” Jeo Rin berusaha lepas dari pelukan Kai.

“Aku ingin terus memelukmu seperti ini, Jeolin.” ‘Kai aneh. Aku harus segera keluar dari sini. Kalau tidak, aku bisa terlambat.’ Batin Jeo Rin.

“Lanjutkan mandimu sendiri.” Jeo Rin mendorong Kai kuat. Akan sangat berbahaya kalau Jeo Rin berlama-lama dengan Kai hanya berdua di kamar mandi. Guys, you know what i mean.

“Aku ingin mandi bersamamu, seperti dulu.” Langkah Jeo Rin terhenti karena Kai memeluknya dari belakang.

“Kai, yang kau lakukan padaku sudah keterlaluan.” Jeo Rin berusaha melepas tangan Kai yang melingkar di pinggangnya, tapi percuma. Seragam Jeo Rin sudah basah sepenuhnya karena pelukan Kai.

“Ani. Kau yeojachingu-ku.” Kai menghembuskan nafasnya di telinga Jeo Rin. Membuat Jeo Rin menggelinjang geli.

“Kau tidak menghormatiku sebagai yeojachingumu kalau seperti ini.”

“Bukankah ini romantis?”

“Kau gila!”

“Aku menggilaimu.” Kai menggigit kecil telinga Jeo Rin.

“Ya! Apa yang kau lakukan?!” Jeo Rin memukul tangan Kai yang sudah berhasil melepas kancing kemejanya. Jeo Rin, Kai sangat ahli melakukan hal seperti itu.

“Kajja, kita mandi. Ahh.. Aku harus melepas pakaianku dulu.” Jeo Rin menggunakan kesempatan Kai yang melepas kancing piyamanya untuk keluar dari kamar mandi. Seharusnya, dia tidak meladeni ucapan Kai tadi.

“Yeobo, jangan nakal.” Kai sudah menggendong Jeo Rin sekarang.

“Kai, jebal..” Jeo Rin bingung. Kenapa dia memohon, bukannya melawan. Joha.

“Hangat kan? Wangi lagi.” Ucap Kai saat mereka sudah berada di bathup. Jeo Rin mengalihkan pandangannya, enggan menatap Kai. ‘Bukankah aku seperti yeoja murahan? Mandi dengan namja? Apa yang yang kau lakukan, Jeo Rin?’

“Jeolin, wae? Kau tidak suka mandi bersamaku?” Tanya Kai polos. Kai membalikkan tubuh Jeo Rin. Ia memeluk Jeo Rin yang membelakanginya.

“Aku senang bisa mandi denganmu. Seperti dulu.”

 

FLASHBACK

 

“Kim Jongin!” Seorang bocah yang bernama Kim Jongin berlari keluar dari rumahnya menuju rumah yang berada di sebelah rumahnya. Menghindari kejaran sang eomma.

“Ahjumma!!” Teriak Jongin kecil begitu membuka pintu. Ia langsung menuju dapur karena tahu orang yang ia panggil ada di sana.

“Ahjumma..” Jongin langsung memeluk kaki Jaesun, eomma Jeo Rin, yang baru selesai memasak. Kai datang di saat yang tepat.

“Ada apa, Jongin-ah?” Eomma berubah jadi monster, ahjumma. Kata Kai dengan wajah horor dan aksen cadelnya.

“Jongin!” Jongin mengeratkan pelukannya di kaki Jaesun.

“Ada apa, Jin-ah?”

“Jongin tidak mau mandi. Sudah dua hari.” Aejin tidak tahu kenapa anaknya malas mandi. Entah siapa yang ia tiru.

“Jongin, ayo pulang. Jongin harus mandi.” Bujuk Aejin.

“Shirreo! Aku mau mandi dengan Jeolin.” Aejin menghela nafas. Anaknya hanya mau mandi dengan Jeo Rin. Ia bahkan sudah mengubah kamar mandi Kai seperti kamar mandi Jeo Rin. Bahkan ia membeli banyak bebek mainan untuk Kai, tapi Kai tetap tidak mau mandi. Entah apa yang ada di pikirannya anaknya. Sepertinya Aejin harus membeli anak bebek asli.

“Jongin mau mandi dengan Jeo Rin?” Tanya Jaesun. Jongin mengangguk semangat.

“Cepatlah ke atas. Biasanya jam segini Jeo Rin sedang mandi.” Kai langsung pergi begitu mendengar ucapan ahjummanya.

“Kau tahu apa yang kupikirkan Jin-ah?” Aejin menatap Jaesun bingung.

“Sepertinya Jongin ingin selalu bersama Jeo Rin. Dan ini akan memudahkan kita menjodohkan mereka saat sudah besar nanti.”

“Kau benar. Anak-anak sekarang dewasa sebelum waktunya.” Mereka berjalan menuju kamar Jeo Rin di lantai dua.

 

———————

 

“Jeolin..” Jongin membuka pintu kamar mandi Jeo Rin. Jeo Rin menatap Jongin marah. Suara Jongin membuat Jeo Rin tidak fokus memainkan bebeknya. Mengganggu saja. Jeo Rin mengabaikan Jongin. Ia bermain bebek lagi. Jongin membuka pakaiannya lalu berjalan menuju bathup.

“Jangan masuk. Aku tidak mau mandi denganmu.” Ucap Jeo Rin datar. Jangan kaget. Walaupun umur Jeo Rin lima tahun, pikirannya dewasa. Sok dewasa maksudnya. Wajah Jongin berubah sedih, detik berikutnya ia menangis.

“Huwaaa.. Eommaaa.. Hikss.. Huwaaa..”

“Jongin, apa apa?” Jongin berlari menuju eomma-nya dan Jaesun yang baru sampai di ambang pintu.

“Eomma, Jeolin tidak mau mandi denganku. Huwaaa..”

“Kenapa Jeo Rin tidak mau mandi dengan Jongin?” Tanya Jaesun.

“Dia bau. Aku tidak mau mandi dengannya.” Jawab Jeo Rin lancar.

“Huwaaa..” Jongin semakin kencang menangis karena penolakan Jeo Rin.

“Jongin sudah tidak mandi dua hari, nak. Biarkan Jongin mandi denganmu, ne?” Bujuk Jaesun.

“Ih.. Jongin jorok. Jangan-jangan kau hitam karena malas mandi. Iya kan? Pasti banyak kuman di tubuhmu.” Jeo Rin menatap Kai ngeri.

“Eommaaa..” Aejin berusaha menenangkan anaknya. Ia juga sedikit tersinggung atas ucapan polos Jeo Rin yang mengatai anaknya hitam.

“Jeo Rin, kita mandi supaya apa?” Jaesun memancing anaknya.

“Bersih, eomma.” Jawab Jeo Rin polos.

“Pintar. Jongin boleh mandi dengan Jeo Rin kan? Supaya Jongin bersih.” Jeo Rin berpikir.

“Ne.” Dengan semangat Jongin masuk ke dalam bathup.

“Pelan-pelan. Kau membuat bebekku bergerak.” Jeo Rin mengumpulkan empat bebek yang menjauh ke dekatnya. Kai mengambil satu bebek Jeo Rin.

“Jangan sentuh bebekku!” Jeo Rin menepuk tangan Jongin.

“Jongin pinjam.” Rengek Jongin.

“Tidak boleh! Cepat mandi, lalu pulang.”

“Hikss.. Jongin ingin bersam Jeo Rin.. Hikss..”

“Jeo Rin, jangan seperti itu, nak. Jeo Rin harus baik pada Jongin. Dia temanmu.” Nasehat Jaesun. Dengan enggan Jeo Rin memberikan satu bebeknya pada Jongin. Jongin berhenti menangis.

“Gomawo, Jeolin.” Jongin memeluk Jeo Rin.

“Ne. Lepas.” Melihat anak mereka yang mulai akur, Jaesun dan Aejin meninggalkan kamar mandi.

“Jeolin, aku punya bebek yang banyak di rumah. Warna-warni.” Ucap Jongin antusias dengan cadelnya.

“Jeongmal?” Jeo Rin menatap Jongin takjub, tidak percaya.

“Ne. Aku akan tunjukkan padamu. Tapi, Jeolin harus mandi di rumahku.”

“Besok aku mandi di rumah Jongin.” Jeo Rin tersenyum. Mereka bermain bebek bersama.

 

FLASHBACK OFF

 

TBC…

4 thoughts on “Baby, I’m Sorry (Chapter 2)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s