Baby, I’m Sorry (Chapter 3)

jellokey2

Baby, I’m Sorry

 

Tittle                    : Baby, I’m Sorry (Chapter 3)

Author                 : Jellokey

Main Cast            :

Kim Jong In (Kai of EXO)

Kang Jeo Rin(OC)

Support Cast        :

Kim Taehyung (V of BTS)

Byun Baekhyun (Baek Hyun of EXO)

Oh Sehoon (Se Hun of EXO)

Lu Han (Lu Han of EXO)

Park Jimin (Jimin of BTS)

And others

Length                 : Chaptered

Genre                  : Romance

Rating                  : PG-17

Disclaimer                 : Cerita ini milik saya. Dilarang plagiat dan copy paste. Don’t bash!

Poster                        : G.Lin by http://cafeposterart.wordpress.com

 

 

“Bisakah kau tidak mengingat masa kecil kita?” Mereka sudah bukan anak-anak lagi. Tidak mungkin mereka selalu melakukan rutinitas bersama. Mereka berbeda gender.

“Aku selalu mengingat masa kecil kita.”

“Aku tidak suka, Kai.” Pelukan Kai terlepas. Jadi hanya dia yang mengingat? Jeo Rin keluar dari bathup Kai yang bisa memuat dua orang. Jeo Rin memejamkan mata merasakan Kai menahan tangannya. Ia berusaha meredam emosinya.

“Kai,” Jeo Rin tersentak kaget begitu Kai membalik tubuh dan langsung menciumnya. Jeo Rin benar. Ada yang salah dengan teman masa kecil sekaligus namjachingunya. Ia melihat nanar Kai yang sangat menikmati ciumannya.

“Mmph..” Kai menahan tangan Jeo Rin yang memukuli dadanya. Ia mendorong Jeo Rin sampai mereka berada tepat di bawah shower. Merasa tidak ada perlawanan dari Jeo Rin lagi, Kai melepas tangannya. Ia menahan tengkuk Jeo Rin, memperdalam ciumannya. Jeo Rin tidak membalas atau menolak Kai. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan.

“Asal kau tahu, aku tidak akan pernah melupakan masa kecil kita sampai kapan pun.”

“Kau tidak boleh-“ Kai langsung membungkam Jeo Rin dengan ciumannya. Ia melumat bibir Jeo Rin lembut, atas dan bawah bergantian. Ciumannya terlepas karena Jeo Rin tidak membalas.

“Aku menyukaimu, Jeolin.”

“Selesaikan mandimu.” Ucap Jeo Rin datar lalu keluar dari kamar mandi. Kai mengacak rambutnya yang basah. Apa yang ia lakukan salah? Padahal beberapa menit yang lalu mereka sangat mesra. Hanya dari sudut pandang Kai.

 

————–

 

“Baru kali ini aku melihat wajahmu jelek.” Ejek Baekhyun pada Kai yang baru duduk di bangkunya. Kai menaikkan sebelah alisnya, bingung mendengar Baekhyun. Apa dia buta? Wajahnya hanya ada satu di dunia. Tertampan, terseksi, tidak ada cacat sedikit pun.

“Aku tahu kau tampan, tapi lebih tampan aku. Satu lagi, aku cute.” Baekhyun narsis.

“Terserahlah.” Kai melihat Jeo Rin yang sedang bercanda dengan teman sebangkunya. Mereka tidak berangkat bersama. Padahal Kai mau pamer ke semua murid sekolah kalau mereka pacaran.

“Apa karena istrimu?” Lu Han ikut bergabung. Cukup lucu melihat Kai masuk ke kelas dengan wajah ditekuk.

“Istri?!” Pekik Baekhyun. Kai memejamkan matanya. Ia suka sebangku dengan Baekhyun, orangnya ceria. Tapi kalau sifat hebohnya keluar, Kai ingin menyumpal mulutnya dengan kertas.

“Bagaimana Kai bisa punya istri? Impossible. Dengan kata yeojachingu saja dia tidak peduli, apalagi istri.” Celetuk Sehun. Empat bersahabat itu membuka forum gosip. Guru bahasa Korea mereka tidak mengajar karena sakit. Dua jam ini mereka bebas.

“Kalian pasti tertawa kalau melihat Kai semalam.” Lu Han berusaha menahan tawanya.

“Apa yang terjadi, Hannie?” Tanya Baekhyun semangat. Lu Han meletakkan kertas karya Kai di meja Baekhyun dan Kai. Sehun dan Baekhyun membaca kertas itu. Sehun sudah tertawa karena isinya.

“Apa benar yang ada di sampingku ini Kai?” Baekhyun mencubit pipi Kai. Kai langsung memukul tangan Baekhyun.

“Jangan menyakiti wajahku! Dia memang istriku. Kami sudah menikah saat masih kecil!” Suara Kai yang lumayan keras membuat Jeo Rin menoleh ke belakang. Ia menatap Kai tajam, setelah itu beranjak keluar kelas.

“Dia pergi.” Kai mendesah berat.

“Sepertinya Jeo Rin tidak menyukaimu, Kai.” Ucap Lu Han.

“Jeo Rin orang yang kau maksud? Lu Han benar. Jeo Rin tidak mungkin menyukaimu. Apa Jeo Rin sudah tahu kalau kau sedikit ‘liar’?” Tanya Baekhyun dengan penekanan di kata liar.

“Memangnya kenapa kalau aku liar?” ‘Ada yang salah dengan kata liar? Justru namja akan terlihat keren kalau liar. Tidak sepertimu. Terkadang aku meragukan kenamjaanmu, Baek. Kau lebih mencintai eyeliner daripada yeoja.’ Batin Kai.

“Kau tidak akan bisa jadi namjachingunya. Tipe namja Jeo Rin itu seperti Taehyung. Kalau tidak ada larangan pacaran itu, mungkin status Jeo Rin kekasih Taehyung sekarang.” Jelas Baekhyun.

“Dari mana kau tahu? Jeo Rin yeojachinguku, Baekhyun. Kau harus ingat itu.”

“Aku tahu dari Park Chanyeol. Taehyung juga sudah menyatakan perasaannya pada Jeo Rin. Ini dari sumber terpercaya.” Baekyun memasang wajah seriusnya.

“Jeo Rin milikku!” Kai meninggalkan teman-temannya kesal. Kalau dia berada lebih lama di sana, pasti Baekhyun akan terus melontarkan kata-kata yang membuat darah Kai mendidih. ‘Dasar tukang gosip.’ Tapi semua yang digosipkan Baekhyun benar.

 

——————

 

“Aku pikir kau tidak akan datang.” Kata Taehyung yang melihat Jeo Rin memasuki ruangannya.

“Ada apa kau memanggilku?” Balas Jeo Rin tenang. Biasanya kalau ia dipanggil Taehyung, Jeo Rin akan langsung duduk di hadapan Taehyung.

“Tentu saja untuk membantu pekerjaanku.” Taehyung berdeham untuk mengusir suasana tidak enak di antara mereka. Kalau saja Kai tidak mengulah, mereka tidak akan secanggung ini.

“Kau tidak kena marah gurumu karena keluar kelas?”

“Tidak. Kelas kami sedang kosong. Ada apa?” Taehyung berdiri, ia duduk di meja dan menatap Jeo Rin.

“Buatkan proposal bantuan dana. Sekolah kita akan mengadakan pentas seni.” Ucap Taehyung serius.

“Kau tidak bercanda kan? Sekolah kita baru saja mengadakan pentas seni dua bulan yang lalu.” Jeo Rin tidak setuju.

“Aku tidak bercanda. Beberapa sekolah akan berpartisipasi dalam pentas seni kali ini.” Taehyung terus menatap Jeo Rin yang terlihat tidak setuju padanya.

“Lebih baik mengadakan pertandingan persahabatan olahraga antar sekolah atau cerdas cermat. Kegiatan itu tidak memakan biaya yang besar.” Jeo Rin tahu sekolahnya mampu. Tapi tidak harus mengadakan kegiatan yang mengeluarkan biaya besar kan? Sangat mudah mendapatkan dana. Mereka tinggal mengajukan proposal pada para donatur di sekolah mereka.

“Pentas seni lebih diminati, Jeo Rin.” Sebenarnya Taehyung tidak sungguh-sungguh. Ia hanya ingin melihat reaksi Jeo Rin. Dan Jeorin-nya tidak berubah. Dia tetap mengeluarkan pemikirannya walaupun mereka baru saja mengalami semacam pertengkaran, menurut Taehyung. Hal yang Taehyung sukai dari Jeo Rin. Profesional.

“Apa kau sudah merundingkan ini dengan anggota yang lain?” Jeo Rin tahu pertanyaannya percuma. Mereka pasti setuju dengan rencana Taehyung.

“Belum. Aku akan merundingkan ini nanti.”

“Terserah padamu, Taehyung. Kau ketua di sini.” Taehyung menarik tangan Jeo Rin sebelum Jeo Rin berbalik. Jeo Rin sudah berada di pelukannya sekarang.

“Tetaplah di sampingku.” Taehyung memeluk Jeo Rin erat.

“Hyungie..” Jeo Rin tidak membalas pelukan Taehyung. Tangannya diam di udara.

“Kau tidak menyukainya, Jeo Rin. Kau tidak mungkin menyukai namja aneh sepertinya. Kau hanya menyukaiku!” Perkataan Taehyung menyadarkannya. Benar. Jeo Rin tidak mungkin menyukai namja seperti Kai. Perlahan tangan Jeo Rin membalas pelukan Taehyung.

“Melihatmu dipeluk dan dicium namja itu membuatku sakit, Jeo Rin.” Lirih Taehyung.

“Mianhae. Kejadian itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kau benar. Aku tidak mungkin menyukai namja sepertinya.” Jeo Rin tidak tahu kenapa, ia merasa sulit saat mengatakan kalimat terakhirnya.

“Dia hanya teman masa kecilku.” Dan kalimat ini benar-benar menyakiti Jeo Rin dan seseorang yang berada di balik pintu. Dia sudah lama mengintip Jeo Rin dan Taehyung dari celah pintu.

“Hanya teman masa kecil.” Kai tersenyum miris.

 

—————

 

“Ahjumma, Kai mana?” Tanya Jeo Rin pada Lee ahjumma yang sedang menyiapkan makan malam untuknya. Jeo Rin pulang ke rumah lebih lama dari biasanya. Ia habis jalan dengan Taehyung. Jeo Rin tidak mendapati Kai begitu ia sampai di rumah.

“Tuan Kai.. ke club, nona.” Jawab Lee ahjumma pelan, seperti takut salah bicara. Padahal Kai memang sengaja menyuruhnya mengatakan itu pada Jeo Rin.

“Club?” Ulang Jeo Rin setelah menelan makanannya.

“Ne, nona.”

“Apa Kai selalu pergi malam-malam begini?” Pertanyaan Jeo Rin membuat Lee ahjumma mengurungkan niatnya untuk kembali ke dapur.

“Ne, nona.” ‘Semoga nona Jeo Rin tidak bertanya lagi.’ Batin Lee ahjumma.

“Sejak kapan?” Jeo Rin menghentikan makannya.

“Sejak tuan Kai berada di tahun terakhir JHS-nya. Saya permisi, nona.” ‘Apa kebiasaan Kai ini yang dimaksud Jimin dengan King of Party? Club. Tapi, bukankah hanya orang berumur tujuh belas tahun ke atas yang bisa masuk ke tempat itu? Bagaimana Kai bisa masuk ke tempat itu saat ia masih duduk di JHS?’ Batin Jeo Rin. Ia akan segera melihat perubahan besar teman masa kecilnya.

 

—————

 

Kai terlambat. Tapi tidak separah saat Jeo Rin belum tinggal di rumahnya. Ia tiba di sekolah tepat setelah Jimin menutup pintu gerbang. Melihat Kai yang keluar dari mobilnya, Jimin membuka gerbang kembali.

“Cepat masuk. Tapi kau lumayan hari ini. Tidak terlalu parah terlambatnya.” Kata Jimin.

“Mana Jeo Rin? Kenapa kau yang jaga di gerbang?” Kai sengaja terlambat. Ia ingin tahu, Jeo Rin peduli padanya atau tidak.

“Jeo Rin menyuruhku menggantikannya selama tiga hari. Ya! Apa gosip itu benar?” Jimin terlihat antusias dengan pertanyaannya. Alis Kai bertaut, bingung.

“Kau pacaran dengan Jeo Rin. Apa itu benar?”

“Ne. Tolong bilang pada ketuamu untuk menjauhi Jeo Rin.” Ucap Kai serius.

“Kai, kau mau tahu sesuatu?” Kai hanya diam, dia menunggu kata-kata Jimin.

“Kau bukan tipe Jeo Rin.” Kai muak mendengar itu. Apa segala sesuatunya harus dikaitkan dengan tipe ideal? Tipe ideal tidak akan berarti kalau sudah ada kata cinta. Tapi, apa Jeo Rin mencintainya?

“Jeo Rin tidak suka namja yang selalu melanggar peraturan, entah peraturan apa pun itu. Dan kebiasaanmu yang suka ke club, minum, apalagi kalau Jeo Rin tahu kau bermain yeoja di sana, dia tidak akan mau melihatmu.” Terang Jimin. Ia hanya ingin memperingatkan Kai kalau Jeo Rin berbeda dengan yeoja-yeoja yang menjadi mainannya.

“Apa tujuanmu mengatakan ini padaku? Kau mau bilang kalau Kim Taehyung tipe ideal Jeo Rin?” Suara Kai datar. Jangan sampai ia melayangkan tinjunya karena Jimin melontarkan kata-kata yang tidak ingin ia dengar.

“Aku tidak bermaksud seperti itu.” Ucap Jimin yang mengerti dengan nada bicara Kai.

“Tapi mereka serasi kan? Sama-sama murid teladan.” Kai memutuskan kembali ke mobilnya. Berlama-lama bicara dengan Jimin bisa membuat emosinya meledak.

“Jangan lupa bilang pada Kim Taehyung yang terhormat untuk menjauhi Jeo Rin.” Ucap Kai dari dalam mobil sebelum ia masuk ke area sekolah.

 

—————

 

Mata Kai berkilat marah melihat Taehyung sudah berada di ambang pintu kelasnya satu menit setelah bel istirahat berbunyi. Api cemburu langsung membakar hati Kai begitu melihat Jeo Rin pergi bersama Taehyung dengan bergandengan tangan.

“Hoii! Ayo ke kantin.” Suara Baekhyun di telinganya semakin memperparah suasana hati Kai.

“Ya! Kalau kau mau bernyanyi jangan di telingaku. Pergi ke ruang pemberitahuan, kau bisa menyanyikan seratus album di sana.” Sindir Kai. Ia beranjak, menyusul Lu Han dan Sehun yang sudah keluar kelas, meninggalkan Baekhyun.

“Kai, tunggu aku!” Baekhyun mengejar Kai.

 

————–

 

“Itu Min Young!” Ucap Baekhyun begitu berada di kantin. Ia melambaikan tangan begitu pandangannya bertemu dengan mata Min Young. Betapa tidak pekanya Byun Baekhyun. Disaat Kai dan Lu Han bergidik ngeri karena aura yang dikeluarkan Sehun, ia malah dengan santai melangkah ke meja Min Young.

“Sabar, Sehun-ah. Anggap saja Baekhyun anak kecil yang tidak tahu apa-apa.” Kai menepuk pundak Sehun. Berharap temannya bisa mengerti sikap Baekhyun.

“Kau mau ke mana?” Tanya Sehun karena Kai tidak mengikuti langkah mereka ke meja Min Young.

“Tempat Jeo Rin.” Jawab Kai singkat.

“Semoga berhasil, Kai. Kalau kau sudah berhasil merebut Jeo Rin dari Taehyung, kau harus menciumnya lagi di depanku.” Canda Lu Han yang tidak ditanggapi Kai. Ia melangkah menuju meja Jeo Rin yang ada di sudut kantin. Beruntung ada Jimin dan Chanyeol di sana. Ia jadi bisa beralasan.

“Hi, brothers!” Kai menepuk pundak Chanyeol dan Jimin lalu duduk di samping Jimin, berhadapan dengan Jeo Rin.

“Pindah.” Ucap Taehyung dingin. Membuat Chanyeol dan Jimin menghentikan makannya.

“Aku tidak menemukan tempat kosong yang lain, ketua.” Sahut Kai santai.

“Di meja Sehun masih ada tempat kosong. Bukankah kau selalu bersama mereka?” Taehyung menatap Kai tajam.

“Aku sedang ingin duduk bersama Jimin dan Chanyeol. Sudah lama aku tidak satu meja di kantin bersama mereka.” Kai balas menatap tajam Taehyung. Taehyung tersenyum sinis. Ia tahu apa tujuan Kai. Jeo Rin. Mereka saling adu pandang. ‘Jeo Rin, lakukanlah sesuatu.’ Chanyeol dan Jimin sama-sama membatin. Suasana mencekam di meja mereka membuat Jimin dan Chanyeol enggan makan. Berbeda dengan Jeo Rin yang dengan santai menyantap ramyeonnya.

“Di meja yeoja itu, itu, itu, masih ada tempat kosong.” Taehyung menunjuk tempat kosong di meja yang ditempati beberapa yeoja.

“Bukankah kau suka dikelilingi yeoja?” Ucap Taehyung lalu memakan ramyeonnya.

“Sayangnya aku sedang ingin duduk dengan nona cantik yang ada di hadapanku.” Balas Kai santai dibarengi tatapan nakalnya pada Jeo Rin.

“Kau!” Tangan Taehyung terkepal di samping mangkok ramyeonnya.

“Hyungie, sudahlah.” Genggaman tangan Jeo Rin di tangannya yang terkepal membuat emosi Taehyung mereda. Jeo Rin selalu bisa menenangkan Taehyung. Membuat Jimin dan Chanyeol bernafas lega. Tapi tidak dengan Kai. Dia cemburu. Kai ingin Jeo Rin juga memperlakukannya seperti Taehyung.

“Lanjutkan makanmu. Ramyeonnya pasti mulai dingin.” Ucap Jeo Rin lembut. Ia sudah menyelesaikan makannya.

“Ne, chagi.” Taehyung tidak akan segan-segan memanggil Jeo Rin seperti itu selama mereka tidak berada di area kesiswaan.

“Kai minum.” Jimin menyodorkan ice tea-nya pada Kai. Ia tahu Kai sedang panas menyaksikan kemesraan Jeo Rin dan Taehyung.

“Kau selalu makan seperti anak-anak.” Jeo Rin tersenyum sambil mengusap sudut bibir Taehyung yang terdapat sisa makanan. Kai menatap Jeo Rin nanar. ‘Selalu? Berarti Jeo Rin sudah sering melakukan itu? Hal yang sama saat Jeo Rin mengusap sudut bibirku yang terdapat sisa saos? Jeo Rin, kau hanya boleh melakukan itu padaku.’ Kai meneguk ice tea yang Jimin berikan sampai habis. Ia menghentakkan gelas di meja, membuat Jeo Rin dan Taehyung menatapnya. Kai menatap Jeo Rin marah, sarat cemburu sebelum pergi.

 

—————

 

Sikap Kai pada Jeo Rin berbeda dengan saat pertama kali Jeo Rin tiba di rumahnya. Kai pasti selalu berusaha mengajak Jeo Rin bicara walaupun selalu ditolak. Dua minggu sejak kejadian di kamar mandi, Jeo Rin merasa Kai aneh. Dua minggu itu Kai selalu pulang malam. Bagaimana Jeo Rin tahu? Ia selalu terbangun karena mendengar deru mesin mobil atau motor sport Kai. Dan malam ini puncaknya. Kai mengadakan party di rumah. Dentuman musik membuat Jeo Rin terbangun. Setelah mendapatkan kesadarannya, Jeo Rin melangkah keluar kamar. Bisa Jeo Rin dengar suara sorak-sorai orang yang begitu menikmati musik. Jeo Rin tidak turun ke lantai bawah. Ia hanya memandang ruang tamu yang sudah diubah menjadi club dari atas. Bisa Jeo Rin lihat Jimin, Chanyeol, dan dua anggota kesiswaan lainnya yang sedang menari. Ia berusaha mencari keberadaan Kai di tengah keramaian orang-orang yang menari. Mata Jeo Rin membulat mendapati Kai sedang menari dengan seorang yeoja. Ia menikmati tarian yeoja yang ada di depannya. Ini gila. Yang Jeo Rin lihat bukan Kai yang ia kenal. Jeo Rin kembali masuk ke kamarnya. Mencoba tidak peduli dengan apa yang Kai lakukan.

 

————–

 

Jeo Rin menghentikan kegiatan memotong rotinya karena mendengar derit kursi. Ia menatap Kai yang sedang mengambil dua lembar roti dan mengolesi roti itu dengan selai cokelat. Ini kedua kalinya mereka sarapan bersama.

“Jongin.” Panggil Jeo Rin pelan.

“Eem.” Gumam Kai, fokus pada rotinya.

“Apa kau sudah biasa mengubah rumahmu menjadi tempat hiburan malam?” Kai menatap Jeo Rin.

“Semalam pertama kali. Sepertinya aku akan mengadakan party lagi di rumah karena lebih menyenangkan daripada club.” Kai melanjutkan sarapannya lagi.

“Apa kau tidak takut ajjushi dan ahjumma tahu perbuatanmu?” Tanya Jeo Rin hati-hati.

“Wae? Kau mau mengadukanku?” Balas Kai.

“Tidak. Ini rumahmu.” Kai meletakkan garpu dan pisau kasar setelah Jeo Rin pergi dari ruang makan. Apa Jeo Rin tidak bisa merasakan kalau yang ia lakukan semalam adalah pelampiasannya karena Jeo Rin yang selalu bersama Taehyung? Kai ingin Jeo Rin memperhatikannya. Memperhatikan Kai sebagai namjachingunya. Jangan-jangan Jeo Rin tidak pernah menganggap dirinya sebagai yeojachingu Kai.

 

————–

 

Tiga menit lagi bel masuk sekolah berbunyi. Jeo Rin belum melihat batang hidung Kai dari tadi. ‘Apa yang dilakukan anak itu di rumah?’ Bel sudah berbunyi. Jeo Rin menutup pintu gerbang. Dan dia akan membiarkan Kai di luar gerbang. Jeo Rin berbalik, berjalan menuju gedung sekolah. Baru dua langkah berjalan ia berhenti karena suara klakson yang mengganggu pendengarannya.

“Buka gerbangnya!” Teriak Kai dari dalam mobil, membuat Jeo Rin kembali ke gerbang.

“Kau terlambat, Kim Jongin. Lebih baik kau pulang karena aku tidak akan mengizinkanmu masuk.” Kai keluar dari mobilnya.

“Aku hanya terlambat lima menit.” Jeo Rin menatap Kai yang berada di luar gerbang.

“Aku akan mengizinkanmu masuk tapi kau harus membersihkan aula. Itu hukumanmu.” Kai menatap Jeo Rin tidak percaya. Dia suka sekali memperlakukan Kai seperti cleaning service.

“Kau berlebihan, Jeo Rin. Aku hanya terlambat lima menit.” Kai membela diri.

“Kau tidak akan terlambat kalau cepat berangkat ke sekolah. Kita sarapan bersama. Seharusnya kau bisa sampai di sekolah sepuluh menit sebelum bel.” Tutur Jeo Rin.

“Buka gerbangnya.” Ucap Kai datar.

“Tidak.” Jeo Rin berbalik.

“Kang Jeo Rin!” Teriak Kai yang melihat Jeo Rin menjauhi gerbang.

“Geurae. Aku akan membersihkan aula.” Ucapan Kai membuat Jeo Rin berhenti. ‘Aku tidak akan melakukannya, Jeo Rin. Cukup sekali kau menghukumku.’ Batin Kai.

“Aku akan memeriksamu nanti.” Ucap Jeo Rin lalu membuka gerbang.

 

————–

 

Kai berdiri menyender di pintu aula. Dia tidak menjalankan hukuman yang Jeo Rin berikan. Apa yang Jeo Rin lakukan kalau melihat Kai berdiri santai seperti sekarang? Menambah hukumannya?

“Kenapa tidak masuk? Jangan buang-buang waktu.” Kata Jeo Rin yang baru sampai di aula.

“Aku tidak mau. Aku hanya terlambat lima menit. Aku pasti sudah belajar kalau kau mengizinkanku masuk kelas.” Jeo Rin menghela nafas. Ia memaklumi Kai kali ini.

“Geurae. Kau boleh masuk kelas. Lain kali jangan terlambat.” Jeo Rin tersentak kaget karena Kai menarik tangannya, memeluk dirinya.

“Jangan tinggalkan aku.”

 

TBC…

 

Comment please ^^

4 thoughts on “Baby, I’m Sorry (Chapter 3)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s