[FICLET] An Angel In The Bus

image

An Angel In The Bus

presented by shikshinstrange
 
 
∞ Kim Minseok and Lee Seojung (OC) ∞ Ficlet ∞ Life, AU ∞ Teen ∞
 
 
Disclaimer : poster and plot are mine.
Note : NOT A FANTASY FANFICTION
Apa kalian pernah bertemu malaikat ? Aku yakin belum. Bagaimana jika bertemu jelmaan malaikat ? Apa bedanya ? Walaupun itu pertemuan singkat kami, aku harap kami dapat dipertemukan kembali. Walau hanya sekali.


Seojung tergesa-gesa menuruni tangga. Kebiasaannya yang selalu terlambat sepertinya belum bisa sembuh. Dia selalu terlambat bangun, karena dia belajar hingga larut malam. Lingkaran hitam di matanya terlihat jelas, namun dia tidak pernah kelihatan lelah. Dia adalah anak yang periang di mata teman-temannya. Dia jarang terlihat murung barang setengah hari. Apabila Seojung murung barang setengah hari saja, teman-temannya merasa sangat canggung dan sedikit takut berada di dekatnya.

Seojung menuju meja makan. Dia hanya meneguk beberapa teguk susu coklat dan mengambil roti bakar milik adiknya yang masih berumur tiga tahun. Rengekan adiknya itu dia indahkan dan dia bergegas pergi.

“I’m leaving!”seru Seojung sambil berlalu dari pintu.

Seojung setengah berlari menuju halte bus yang berjarak tak terlalu jauh dari rumahnya. Disapanya beberapa orang yang dia lalui selama perjalanan—setengah berlari—ke halte bus. Orang-orang itu nampak sudah mengenal kebiasaan terlambat Seojung di pagi hari.

Sesampainya Seojung di halte bus, dia hampir saja ketinggalan bus paling pagi yang menuju ke sekolahnya. Untung saja setelah beberapa meter mencoba menyamai kecepatan bus, akhirnya si sopir bus menghentikan busnya dan mempersilahkan Seojung masuk.

“Seojung-goon! Aku akan meninggalkanmu lain kali. Ini yang terakhir kalinya.”racau sopir bus berlagak tegas.

Seojung hanya terkekeh mendengar racauan si sopir bus—yang sudah dia anggap seperti paman sendiri—itu. Dia sudah bosan mendengar kalimat yang setiap hari diucapkan si sopir bus itu. Toh nyatanya sopir bus itu tidak pernah benar-benar meninggalkan Seojung. Si sopir bus itu sudah menganggap Seojung seperti keponakan kesayangannya.

Jarak dari rumah Seojung  ke sekolah jauh—hampir lima belas kilometer. Maka dari itulah Seojung memilih bus. Dia bisa saja naik subway, tetapi dia tidak tahan berada di ruangan yang berada di bawah tanah. Dia phobia terhadapnya. Bus juga bisa membuatnya lebih tenang karena dapat menikmati pemandangan sesekali.

Seojung, anak itu, selalu ketiduran saat di dalam bus. Si sopir bus akan meminta kepada penumpang yang duduk paling dekat Seojung untuk membangunkannya.

Biasanya Seojung akan duduk di kursi berderet dua di bagian depan dan meletakkan tasnya yang cukup besar di sampingnya—menghindari orang untuk duduk di sampingnya. Hal itu dikarenakan Seojung memiliki kebiasaan menyenderkan kepalanya di bahu orang lain saat dia tertidur. Hal itu dilakukan dengan alih-alih menghindari rasa malunya. Sayangnya, hari ini adalah hari yang cukup sibuk dan kursi berderet dua yang menjadi favoritnya telah ditempati orang lain. Hanya kursi yang berada di paling belakang saja yang masih kosong melompong. Seojung dengan berat hati duduk di kursi itu—paling pojok. Begitu kesalnya, ia lupa untuk meletakkan tas di sampingnya.

Dua menit baru saja berlalu setelah Seojung menempati tempat duduknya. Dia sudah terlelap dengan kepala yang menempel ke jendela. Dia terlihat nyenyak sekali bahkan saat posisinya tidak nyaman. Dia mengigau dalam tidurnya.

Kiss? First kiss? Kiss? First kiss. First kiss.”igau Seojung menyentuh bibirnya sendiri.

PLUK !

Kepala Seojung telah mendarat di bahu seseorang di sampingnya—tepatnya seorang laki-laki. Laki-laki di sampingnya itu terkejut. Si laki-laki tidak tega dan merasa tidak sopan apabila menyingkirkan kepala gadis aneh itu dari bahunya, jadi dia hanya membiarkannya seperti itu.

….

                Seojung samar-samar mendengar suara malaikat di dekat telinganya. Dia harus segera bangun untuk memastikan dirinya masih hidup atau sudah meninggal. Kenyataannya, dia masih hidup dan orang yang bersuara itu bukanlah seorang malaikat. Hanya saja, dia bak jelmaan malaikat. Wajahnya berseri dan suaranya yang halus itu membuat Seojung kehilangan konsentrasinya dan hanya terus memandangi laki-laki jelmaan malaikat itu.

“Permisi, Nona. Sebentar lagi harus segera turun…”kalimat laki-laki itu menggantung. Dia tidak tahu harus mengatakan kalimat macam apa untuk meminta gadis itu menyingkirkan kepalanya. Dia merasa tidak sopan jika menggunakan kata ‘menyingkirkan’, tapi dia sama sekali tidak tahu diksi yang tepat untuk menggantikan kata ‘menyingkirkan’.

Seojung, setelah cukup lama tenggelam dalam imajinasinya sendiri akhirnya sadar. Dia sedikit syok. Matanya membelalak dan kedua tangannya menutupi mulutnya yang menganga. Dia merasa begitu bodoh. Dia segera membungkuk kepada laki-laki di sampingnya—hampir sembilan puluh derajat.

“Tolong maafkan aku. Aku minta maaf.”Seojung terus saja membungkuk. Dia mendapat perhatian dari penumpang bus yang lain. Si laki-laki pun menjadi kikuk.

“Tak apa. Aku tidak keberatan. Tertidur di dalam bus juga terkadang menjadi kebiasaanku.”si laki-laki menggoyangkan kedua telapak tangannya mengisyaratkan bahwa ini tidak apa-apa. Dia juga sempat terkekeh karena ucapannya sendiri.

Seojung menghela napas lega. Dia tersenyum dan membungkuk untuk terakhir kalinya.

“Sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih.”senyuman Seojung yang seperti anak kecil itu membuat si laki-laki ikut tersenyum.

“Jangan berterimakasih.”kekeh si laki-laki. “Baiklah. Aku harus segera turun. Senang bertemu denganmu, Nona.”laki-laki itu berlalu ke pintu bus dan turun di sebuah halte.

Seojung melihat sekilas laki-laki itu di halte dan bertemu pandang dengannya. Mereka saling berbalas senyum dan memberi hormat—membungkukkan kepala.

“Minseok. Kim Minseok. Nama yang unik. Mungkin kita bisa bertemu lagi.” gumam Seojung melukiskan senyum di bibir mungilnya.

Tiba-tiba Seojung tersentak. Dia bertanya-tanya apakah mungkin tadi dia mengigau dalam tidur tentang sesuatu yang memalukan, tetapi siapa peduli. Seojung akan mengingat nama laki-laki jelmaan malaikat itu. Kim Minseok.

..fin..

A/N : Author ini telah comeback . Gara-gara nonton MV yang dibintangi Xiumin, jadi terpesona sama Baozi dan berinisiatif menjadikannya cast di sini😀 Semoga fanfiction-ku satu ini tidak mengecewakan. Mind to review ? ∩_∩

2 thoughts on “[FICLET] An Angel In The Bus

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s