Beauty & Beast [Chapter 10]

: Beauty & Beast – Chapter 10

Beauty & Beast – Chapter 10

Author : Choi Seung Jin @cseungjinnie

Genre : Fantasy, Historical, Supernatural, OOC

Ranting                : General Audience

Leigth : Chaptered

Main Cast :

EXO in English Name

Supporting Cast :

Jessica SNSD as Jessica

Sulli f(x) as Sulli

Minho SHINee as Minho

Henry SJ-M as Henry

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9

Note :

  • SEMUA MEMBER EXO MEMILIKI UMUR YANG SETARA, YAITU 17 TAHUN!! Buat yang menurut readers gak cocok untuk usia 17 tahun, anggap saja muka mereka itu boros’-‘)
  • Ingatlah English name para member EXO. Karena author akan menggunakan nama itu daripada real name atau stage name mereka.
  • English name para member EXO author dapatkan dari http://ohsehunnie1.com/post/43130943930/exos-english-spanish-and-french-names

 

*****

***********

Setelah kejadian itu, Pak Jim segera mengambil tindakan. Leo sudah dirawat di Rumah Sakit, tapi dia belum juga sadarkan diri meski dia sudah 2 hari pingsan. Pak Jim juga telah mengumpulkan darah Amy sebanyak yang bisa ia kumpulkan.

Pemakaman jenazah Amy akan diadakan siang ini. Tuan George yang tidak lain adalah ayah Amy meminta agar Amy dimakamkan disebelah makan ibunya yang telah meninggal lebih dulu. Kesedihan yang dirasakan oleh ayah yang kehilangan anak satu-satunya tidak bisa diungkapkan lagi dari wajah Mr. George. Namun dia hanya bisa diam menatap peti mati putrinya yang siap untuk dikubur.

Will duduk diantara murid-murid lain dideretan kursi paling depan. Tidak ada murid yang menunjukkan kesedihan mereka, kecuali Will. Dia lebih banyak diam dan sesekali air matanya jatuh.

Seharusnya proses pemakaman Amy haruslah diadakan dengan upacara khusus karena Amy tewas sebagai seorang Half Blood Vampire, tapi ayahnya tidak ingin Amy dimakamkan sebagai seorang monster. Dia ingin Amy dimakamkan seperti manusia lainnya dan dengan layak.

Amy dimakamkan dipemakaman umum setempak. Upacara pemakaman sudah berlangsung dari 1 jam yang lalu. Tak banyak orang yang mengenal baik sosok Amy yang telah pergi. Hanya Will dan Leo. Itu sebabnya hanya Will yang larut dalam kesedihan dan berberapa teman sekelasnya yang mungkin merasa sedih dan perihatin meski tidak sesedih Will.

Dibalut dengan pakaian serba hitam, kesepuluh Wolf Boys mengikuti upacara pemakaman dengan penuh duka. Sebagian besar dari mereka menyayangkan kematian Amy karena gadis itu bisa menjadi senjata satu-satunya bagi mereka.

Satu-satu anggota Wolf Boys yang tidak bisa ikut larut dalam kesedihan mungkin hanya Leo yang masih terbaring tidak sadarkan diri di Rumah Sakit. Sudah 2 hari ia tidak sadarkan diri dan semaki hari kondisinya semakin melemah. Pak Jim sudah mengerahkan seluruh tenaga medis untuk mengobati Leo yang hampir mengalami keadaan koma. Jika 2 hari kedepan Leo tidak kunjung sadar, dia harus dibawa ke Rumah Sakit umum untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Pak Jim bisa saja menggunakan sihir untuk mengobati Leo, tapi hal itu hanya akan memperburuk kondisi Leo.

 

Pemakaman telah usai. Banyak diantara pelayat yang sudah pergi. Disana tersisa kesepuluh Wolf Boys, Pak Jim dan ayahnya Amy sekarang.

Will berdiri dari kursinya, menghampiri ayah Amy yang duduk tak jauh darinya. Sebenarnya ada rasa bersalah yang Will rasakan karena tidak bisa menjaga Amy.

“Pak.. Aku minta maaf soal Amy,” kata Will kepada orang tua yang duduk dihadapannya.

“Will,” kata ayah Amy. “Tidak usah minta maaf. Bukan salahmu.”

“Tapi pak–”

“Amy selalu menginginkan ini. Kurasa kau harus tahu,” kata ayah Amy memotong kata-kata Will.

“Dia tidak pernah tahan hidup dengan kondisinya yang Half Blood,” lanjutnya.

“Dia tidak pernah cerita padaku…”

“Dia tidak ingin kau tahu. Dia tidak ingin ada yang tahu kalau dia tidak pernah menikmati hidupnya.”

Will diam shock. Dia tidak pernah tahu kalau selama ini Amy tidak pernah berharap dia terus hidup dan ingin hidupnya segera berakhir.

“Setiap hari, Amy melewati hidupnya dengan penderitaan. Dia selalu menunggu saat-saat dimana ada pemburu vampire yang menusukkan belati perak dijantungnya.

“Temanku, Jim berkata bahwa ada 2 kemungkinan yang bisa dilakukan untuk Half Blood Vampire seperti Amy. Yang pertama menjadi manusia seutuhnya atau menjadi vampire yang utuh. Jika bisa, Amy ingin menjadi manusia, tapi sayangnya Jim tidak bisa menemukan ramuan yang bisa mewujudkan impian Amy,” ujar Mr. George panjang.

“Jadi.. Ini yang dia inginkan?” Ucap Will seakan tidak percaya.

Sangat disayangkan. Selama ini Amy tidak pernah berharap dia akan hidup lama. Selama ini gadis itu menderita tanpa pernah menunjukkan apa yang ia rasakan kepada semua orang bahkan Will.

Ayah Amy berdiri dari tempat duduknya, menepuk pundak Will penuh kepercayaan dan semangat, sebagai orang terakhir yang dilihat Amy– selain para vampire.

“Aku tidak ingin menyia-nyiakan amanat dari anakku, Will. Aku akan melatih kalian. Kita akan hancurkan vampire sialan itu.”

 

****

 

Setelah pemakaman, Pak Jim mengajak Kevin untuk mengunjungi suatu tempat. Sebuah gudang bawah tanah rahasia di sekolah. Satu-satu akses masuk ruangan iu adalah kantor kepala sekolah. Pak Jim tidak bilang pada Kevin apa yang akan mereka lakukan di ruangan gelap dan dalam itu. Dia hanya mengajak pria jangkuk itu saja.

Hal itu membuat Kevin penasaran, tentu saja.

“Sebenarnya kita mau apa disini, Pak?” Tanya Kevin.

“Kita akan mencari sesuatu untuk temanmu, Kevin. Kau ingin Leo sembuh, kan?” Kata Pak Jim yang berjalan didepan Kevin.

Mereka berdua turun lebih dalam ruangan rahasia itu. Berbekal dua buah senter besar, mereka terus turun menuruni anak tangga dan tiba didepan sebuah pintu kayu. Didalamnya ada ruangan yang sangat gelap.

Hanya dengan sekali lambaian tangan, Pak Jim membuat ruangan gelap itu penuh cahaya dengan semua obor api yang menyala. Meski sedikit remang-remang karena hanya bermodalkan cahaya yang berasal dari obor, namun isi ruangan itu bisa terlihat.

Ratusan buku-buku tua yang disusun rapih di berberapa rak besar tersimpan disana. Disalah satu sisi ruangan, ada lemari kaca besar berisikan botol-botol aneh. Ada sebuah meja besar ditengah ruangan dengan segala peralatan diatasnya dan bermacam-macam benda lainnya.

Ruangan itu terlihat sangat besar dari kelihatannya. Berberapa baju besi dipajang sedemikian rupa dan berbagai pedang yang digantung di dinding juga ada disana. Terlalu banyak barang yang tidak dapat disebutkan satu-satu. Intinya banyak.

Pak Jim menetakkan senter yang dibawakannya diatas meja dan mengarahkan cahaya benda itu ke arah lemari kaca yang berisikan botol-botol dengan berbagai ukuran dan bentuk. Setiap botol memiliki isi yang berbeda dimana gunanya pun juga berbeda.

Kevin tertarik pada deretan buku tua yang paling dekat dengannya. Kevin menyadari bahwa tempat ini adalah semacam perpustakaan rahasia yang berisikan berbagai buku dan benda mengenai sihir. Buku-buku yang ada disana pun bukan buku-buku biasa.

Rasa penasarannya membawa Kevin pergi meninggalkan Pak Jim yang sedang sibuk mencari sesuatu yang dibutuhkannya diantara botol-botol berisikan cairan aneh. Dia menjelajahi perpustakaan rahasia itu semakin dalam, melihat buku-buku aneh, koleksi perpustakaan itu.

 

“Kau bisa membaca semua buku yang ingin kau baca disini, Kevin. Anggap saja sambil menunggu ku mencari dan membuat ramuan disini,” ujar Pak Jim membebaskan Kevin untuk membaca disini.

Baguslah, batin Kevin.

Dia penasaran, apa yang bisa ia temukan disini. Siapa tahu dia bisa menemukan sesuatu yang bisa membantunya dan juga teman-temannya, termasuk Leo yang kondisinya masih mengkhawatirkan.

Di salah satu deretan buku, ada sebuah buku yang menarik perhatian Kevin. Di perpustakan itu umumnya buku yang ada disana berwarna gelap. Sedangkan buku ini berwarna merah mencolok. Dengan tulisan berwarna keemasan yang tercetak diatas sampul buku itu membuat buku itu terlihat sangat menonjol diantara buku-buku yang lain.

Twelve Powers Between the Dark and Light. Begitulah judul yang tertera pada buku itu. Buku itu cukup tebal. Hampir setara dengan 2 buku fisika yang ditumpuk. Tidak tertera disana siapa penulisnya. Mungkin karena ini buku mistis sehingga tidak jelas pengarangnya siapa, tapi seharusnya ada kemungkinan buku ini ditulis oleh penyihir.

Memanfaatkan kesempatan yang diberikan Pak Jim, Kevin tanpa ragu mengambil buku itu dari tempatnya. Dia membawa buku itu ke meja besar di tengah ruangan luas itu, berniat untuk membacanya disana sambil menunggu Pak Jim selesai dengan urusannya.

Kevin mulai pada halaman pertama yang menampilkan gambar lambang 12 kekuatan yang membuat sebuah pola. Dilihat dari daftar isinya, buku ini memuat informasi 12 kekuatan yang dimiliki oleh keduabelas Wolf Boys dan para Mortemnya.

Kevin ingin membaca bagian yang membahas tentang kekuatannya, tapi dia harus mendahulukan kepentingan Leo.

Dia membuka bagian Telekinesis yang menjadi kekuatan Leo. Dibuku itu dijelaskan segalanya tentang telekinesis. Mulai dari pengertian, kegunaan, kelebihan, kelemahan, larangan-larang, sampai sejarah tentang telekinesis.

 

Kekuatan utama seorang Telekinesis adalah pada kinerja otaknya. Jika fungsi otaknya melemah karena suatu energi lain, maka dampaknya bukan hanya pada kekuatannya saja, tetapi juga pada kelangsungan hidupnya. Semakin lemah energi seorang telekinesis, semakin lemah juga tubuhnya. Seorang telekinesis akan mengalami koma berkepanjangan yang akibatnya bisa berujung kematian.

 

Leo memang terlalu banyak kehilangan energi yang ia salurkan kepada Amy agar otak gadis itu bekerja untuk sesaat. Itu sebabnya otak Leo juga kehilangan banyak kekuatan sehingga membuat tubuh Leo melemah seiring melemahnya otaknya.

Kevin harus mencari solusi sesegera mungkin untuk masalah yang dihadapi Leo sebelum dia dan teman-temannya kehilangan Leo. Dia membalik-balikkan halaman, namun tidak ada keterangan bagaimana menyembuhkan seorang Telekinesis yang mengalami koma akibat kehilangan banyak energi.

Hal ini membuat Kevin semakin bingung. Bagaimana dia bisa menolong Leo yang merupakan satu-satu orang yang tahu rencana para vampire karena berhasil membaca pikiran Amy.

 

“Kau sedang baca apa?” Tanya Pak Jim disela-sela pekerjaannya yang entah apa. Melihat Kevin yang sibuk membaca buku membuat pria paruh baya itu penasaran.

“Ini, Pak. Saya sedang membaca Twelve Powers Between Dark and Light. Saya menemukan buku ini dan tertarik untuk membacanya,” ujar Kevin.

“Ooh.. Kau bisa belajar banyak dari buku itu. Buku itu adalah buku yang bagus. Kau bisa pinjam buku itu jika kau mau. Meskipun… Kau tidak bisa berbuat banyak dari informasi yang kau dapat. Buku itu menurutku kurang lengkap,” kata Pak Jim.

“Menurut saya juga begitu, Pak. Saya tidak bisa menemukan cara bagaimana mengembalikan kondisi Leo.”

“Kau tidak akan menemukannya karena memang tidak ada obatnya.”

“Tidak ada?” Ulang Kevin panik.

“Hanya ramuan campuran darah unicorn yang mungkin bisa menyelamatkannya. Setidaknya itu bisa mengembalikan setengah dari kekuatannya yang hilang.” Pak Jim mengambil sebuah botol berisikan cairan keperakan yang kental. Jumlahnya tidak terlalu banyak. Hanya tigaperempat bagian dari botol itu.

“Persediaan darah unicorn ku hanya segini. Kuharap ini cukup,” Pak Jim menunjukkan botol itu pada Kevin. “Belum ada tanda-tanda dari Edison?”

Kevin menggeleng lesu, mengingat sahabatnya yang menghilang itu.

“Begitu, ya. Ku harap dia cepat kembali,” ujar Pak Jim.

“Dia akan kembali, kan Pak?” ucap Kevin.

.

.

“Ya, dia akan kembali. Aku yakin itu.”

 

****

 

Pak Jim telah selesai dengan ramuannya. Dia kembali ke Rumah Sakit bersama Kevin setelah menghabiskan 3 jam di ruang bawah tanah membuat ramuan yang bisa jadi harapan satu-satunya.

Semua berkumpul di Rumah Sakit milik Akademi XOXO. Mereka semua sama-sama berharap ramuan buatan Pak Jim akan berhasil. Mungkin hanya Will sedikit berjaga jarak berberapa meter dari kumpulan orang yang mengitari ranjang Leo.

“Kita butuh satu bahan lagi,” kata Pak Jim yang telah meyiapkan segelas air berwarna merah keperakan untuk diminumkan kepada Leo.

“Bahan apa, Pak? Biar saya ambilkan,” kata Stephan menawarkan bantuan. Dia begitu bersemangat untuk bisa menyembuhkan teman dekatnya itu.

“Tidak perlu. Aku hanya perlu memintanya,” kata Pak Jim mengarahkan pandangan pada Will yang duduk disalah satu ranjang Rumah Sakit. Semua pandangan mengikuti arah mata Pak Jim memandang dimana Will yang menjadi objeknya.

“Apa?” Ucap Will dingin kepada semua pandangan yang mengarah padanya.

“Will, boleh kuminta obat ajaib milikmu. Aku hanya butuh setetes saja,” pinta Pak Jim.

“Apa harus pakai obat milikku, Pak?” Kata Will seakan enggan memberikan obat ajaib miliknya yang merupakan hadiah natal dari Pak Jim.

“Aku mohon, Will. Aku hanya minta setetes saja.” Ini kali pertamanya Pak Will terlihat memohon.

Will tidak tega melihat kepala sekolah harus meminta mohon seperti itu padanya. Dia menarik nafas panjang, mengeluarkan botol kecil dengan patung unicorn kecil pada tutupnya yang berisikan cairan perak berkilau dari saku celananya. Dengan sedikit rasa berat hari, Will memberikan botol itu pada Pak Jim.

Bibir Pak Jim tertarik ke atas membentuk senyuman. Dia sangat berterima kasih pada Will. Hal itu bisa terlihat dari bagaimana cara pria tua itu menatap Will saat Will memberikan botol berisikan obat ajaib itu padanya. Pak Jim segera meneteskan setetes obat ajaib milik Will ke dalam ramuan buatannya. Seketika ramuan itu yang semula berwarna merah keperakan berubah menjadi keemasan. Itu menandakan bahwa ramuan itu telah siap.

Dibantu oleh Kevin dan Stephan, Pak Jim menegakkan ramuan itu kepada Leo yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri dalam tidurnya yang panjang. Pak Jim berharap setelah Leo meminum ramuan itu dia akan segera bangun.

.

.

.

.

Mereka menunggu, namun tak terjadi apa-apa. Leo masih menutup matanya. Bahkan respon-respon kecil pun tidak ada yang membuat Pak Jim mulai putus asa. Kondisi Leo tidak berubah sedikipun seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan dalam raga yang tidur itu.

“It doesn’t work,” gumam Kevin yang juga telah putus asa.

 

****

 

Ayah Amy serius soal melatih para Wolf Boys dan memberikan informasi sebanyak mungkin tentang vampire. Dia benar-benar menepati janjinya sebagai bentuk upaya mewujudkan amat Amy dan membalas dendam.

Sebelas orang berkumpul di dalam gedung olahraga basket yang berada dibelakang gedung sekolah. Hal pertama yang harus diketahui para Wolf Boys adalah pengetahuan lanjut tentang vampire agar mereka bisa menghacurkan Minho dan komplotannya.

Kesepuluh Wolf Boys duduk ditengah lapangan membentuk lingkaran sementara ayahnya Amy duduk ditengah-tengah mereka sebagai poros.

“Kita akan mulai dengan informasi sebagai tahap awal pelatihan kita,” kata pria berumur 45 tahun itu. “Kita bawa santai saja. Tidak usah terlalu serius. Yang terpenting kalian bisa mengerti setiap perkataanku dan dapat menerapkannya dengan baik.”

Semua dia sebagai tanda setuju. Mereka tetap menyimak Mr. George yang akan memberitahu semua hal tentang vampire termasuk bagaimana cara membunuh makhluk itu.

“Kita awali dengan informasi dasar,” kata Mr. George memulai. “Vampire adalah makhluk hidup tanpa jiwa yang hanya bisa bertahan hidup dengan minum darah. Mereka dapat tahan terhadap sinar matahari meskipun di legenda banyak yang mengatakan bahwa mereka akan terbakar oleh sinar matahari.”

“Bagaimana cara mengahancurkan mereka?” Tanya Alex begitu antusias dan langsung ke point inti.

“Ada berberapa cara untuk membunuh vampire. Yang pertama adalah menusuk jantung mereka dengan belati perak. Yang kedua adalah dengan membakar dan mencabik-cabik mereka. Biasanya hanya werewolf yang bisa mencabik-cabik mereka,” kata Mr. George menjelaskan. “Kita beruntung karena kita punya werewolf berkekuatan Flame yang bisa membakar para vampire itu.”

Richard tersenyum bangga saat Mr. George menyebutkan kata Flame yang menggambarkan dirinya.

“Untuk melawan vampire, kalian hanya perlu mengikuti naluri liar kalian yang penuh dengan hasrat untuk membunuh vampire. Dengan begitu kalian akan dengan mudah membunuh setiap vampire yang akan kalian temui,” kata Mr. George memberikan saran berupa arahan sekaligus anjuran.

Francis mengacungkan tangannya menandakan ia ingin bertanya sesuatu. Dia mulai berbicara saat Mr. George mengizinkannya bicara.

“Lawan kita hanya 2, bukan? Minho dan Sulli. Bukannya seharusnya mudah mengalahkan mereka?”

“Sebenarnya mereka tidak hanya berdua. Ada satu lagi bernama Henry. Dia adalah vampire yang menculikku waktu itu. Dia memang jarang ditugaskan Minho untuk menangani kalian secara langsung,” kata Mr. George menjawab pertanyaan Francis. “Lagi pula, Minho tidak akan sebodoh itu dengan hanya mengerahkan kekuatan mereka bertiga untuk menangkap kalian. Dia pasti akan membentuk pasukan.”

“Paman! Hal apa yang membuat vampire lemah? Semacam kelemahan vampire,” tanya Mike aktif.

Dengan antusias Mr. George menjawab. “Mereka akan menjadi lemah didekat cahaya atau api yang sangat panas. Karena api akan dengan mudah membakar mereka hidup-hidup. Meskipun Vampire adalah makhluk gelap, tapi mereka makhluk yang sensitif akan api. Mereka bukan makhluk yang berasal dari neraka seperti makhluk gelap kebanyakan.”

Kesepuluh Wolf Boys mengangguk kecil tanda paham. Momen seperti ini lebih mirip seperti sekelompok murid sekolah dasar duduk mengelilingi guru mereka. Butuh waktu untuk menjelaskan hal-hal dasar tentang vampire.

“Hal pertama yang harus kalian lakukan saat bertarung dengan vampire adalah menyerang mereka dengan api. Itu akan menjadi tugas Richard yang akan ada di garis terdepan,” kata Mr. George yang mulai menyusun strategi perang melawan vampire.

“Yang kedua adalah penyerangan oleh anggota terkuat, yaitu Thomas dan Donald. Sisanya melakukan penyerangan seperlunya sebagi kekuatan tambahan.”

“Bagaimana dengan Minho? Apa yang harus kita lakukan padanya?” Tanya Kevin.

“Kalian harus berhati-hati dengan Minho! Dia memiliki kemampuan untuk mengambil seluruh kekuatan kalian. Jadi saat kalian ada didekatnya, jangan ragu untuk menghabisinya!”

 

****

 

“Kau berjanji tidak akan kabur?” Kata Kevin bertanya.

“Aku janji. Aku tidak akan pernah melanggar janji. Percayalah!” Jawab lawan bicara Kevin yang terdengar seperti suara seorang wanita.

Kevin berdiri ditengah hutan dan sendirian. Benar-benar sendiri. Tak ada seorangpun bahkan lawan Kevin bicara barusan. Kevin seperti bicara sendiri atau bicara pada dirinya sendiri.

“Aku melakukan ini untuk kepentinganmu. Kita sudah sepakat, saat kau keluar, kau tetap menyisakan kekuatanmu untukku,” kata Kevin.

“Untuk hal itu, aku tidak bisa menjanjikannya. Aku akan meninggalkan wujudku didalam tubuhmu, tapi aku tetap akan membawa kekuatanku,” ujar suara wanita itu.

“Baiklah. Setidaknya aku masih bisa berubah. Sembunyilah ditempat paling aman yang bisa kau temukan! Aku akan memancing vampire-vampire itu agar mengincarku. Mereka akan mengira aku adalah kau. Terutama vampire yang bernama Sulli itu.”

“Dengan wujudku nanti ini, akan mudah untuk bersembunyi,” kata suara wanita itu yang terdengar percaya diri.

Seperti halnya musyawarah, negosiasi ini akhirnya mencapai kesepakatan. Kedua belah pihak telah memutuskan untuk saling bekerja sama.

Kevin harus melanggar peraturan tak lisan yang seharusnya tidak boleh ia langgar sampai kapanpun. Dia telah belajar sedikit dari buku milik Pak Jim secara diam-diam bagaimana cara mengeluarkan Mortem yang ada didalam dirinya. Hal ini ia lakukan semata-mata untuk menjaga Mortemnya tetap aman dan untuk mengecoh para vampire. Rencana ini dibuatnya secara rahasia dan hanya dia dan Fleur yang tahu tentang ini.

Proses mengeluaran ini akan terasa menyakitkan. Tertulis jelas di dalam buku. Terlebih jika Mortem sudah mulai menyatu seperti yang terjadi pada Kevin dan Fleur.

.

.

.

“AAAAAAAAH!!”

Kevin berteriak kesakitan saat dia mencoba mengeluarkan Fleur dari tubuhnya. Sakit luar biasa dialaminya yang rasanya seperti rohnya ditarik keluar dari dalam tubuhnya.

Fleur mulai keluar dari tubuh Kevin dan memisahkan diri dengan wujud berupa bola cahaya yang panas. Keduanya sama-sama berusaha demi rencana rahasia mereka.

Saat bola cahaya itu benar-benar keluar dari tubuh Kevin dan terpental berberapa meter, di waktu yang hampir bersamaan, Kevin jatuh berlutut menahan rasa sakit yang masih berbekas. Tubuhnya lemas, bahkan sekarang dia terbaring menelungkup di atas tanah hutan yang lembab.

Kevin memejamkan matanya namun kesadarannya masih utuh. Nafasnya terdengar tak beraturan. Rasa sakit luar biasa yang ia rasakan masih berbekas.

Tak berapa lama, dia merasakan sepasang tangan memeganginya yang mencoba untuk membuatnya bangun. Tangan kecil namun tenaganya cukup kuat karena berhasil membantu Kevin untuk berdiri.

“Kau tidak apa-apa?” Ucap si pemilik tangan itu. Kevin mengangkat kepalanya dan mendapati seorang wanita berambut pirang dan berkulit seputih salju membanunya berdiri.

“Fleur?” Kevin memastikan apa benar yang ada didepannya sekarang adalah Fleur atau bukan. Seekor Mortem ganas yang terlihat seperti manusia paling sempurna yang pernah ia lihat.

Fleur mengenakan gaun putih bersih yang sederhana namun terlihat indah. Rambutnya pirang terurai panjang bergelombang. Matanya indah meski terlihat menyeramkan dengan warna merah semerah mawar. Begini kah sosok monster menyeramkan yang sesungguhnya?

Mendadak Fleur memeluk Kevin erat. Kevin terkejut bahkan saat tubunya sendiri masih lemas. “Terima kasih, Kevin,” ucap Fleur sambil terus memeluk Kevin.

“Kita melakukannya demi kepentingan kita juga…” Kata Kevin dengan nada yang tedengar lemah. “Sekarang carilah tempat persembunyian!”

 

****

 

Hujan turun dengan deras malam ini. Suara petir menambah suasana mencekam disaat bulan sudah tertutup awan tak terlihat. Badai telah datang sehingga semua orang tidak ada yang berani keluar dari rumahnya bahkan untuk hanya membuka jendela.

Dasyatnya petir telah memadamkan listrik yang mengaliri setiap tempat di Akademi XOXO. Sekolah itu menjadi gelap gulita, termasuk rumah sakit milik milik XOXO.

Rumah sakit yang hanya terdiri dari sebuah ruangan besar dengan lebih dari 10 ranjang itu terasa sangat sepi dan sunyi. Tak ada orang disana atau yang dirawat disana, kecuali Leo yang masih terbaring disana.

 

DUARR…

Petir menyambar semakin mengila. Suara keras yang mungkin saja bisa membangun siapun yang sedang teridur sekarang, kecuali satu orang.

Leo terus tertidur bahkan di dalam ruangan yang gelap dan dengan suara petir yang menyambar brutal pohon-pohon di hutan.

 

DUARR…

Petir kembali menyambar. Suaranya lebih keras dari yang sebelumnya.

 

DUARR…

DUARR…

DUARR…

Mata merah Leo terbuka lebar seakan terbangun karena suara petir yang menganggu tidurnya.

 

To be continue

 

****

Annyeong readers^^ Siapa yang udah nunggu chapter 10 hayooo kkk~ Gimana Chapter 10 ini? Makin seru atau makin ngebosenin?

Mian ya buat readers yang udah nunggu sampai lumutan(?) Semoga chapter 10 ini bisa menyenangkan hati readers sekalian.

Eh, tau gak? Masa Jinnie udah buat 22 poster buat BB dari pertama Jinnie bikin BB sampai sekarang-_- Kayak kurang kerjaan nih Jinnie. Hobi banget bikin poster *curcol*

Kalau ada poster sebanyak itu, Jinnie bisa bikin pameran kali ya hhhh~

Readers, kayaknya BB akan selesai lebih dari 10 chapter ‘^’) Abisnya ide cerita untuk BB datang terus menerus huft…

Terima kasih untuk readers yang sudah setia baca BB sampai chapter 10 ini, terlebih untuk yang udah mau COMMENT^^

Gitu aja deh curcol(?) dari Jinnie. Sampai jumpa di Chapter 11! Bye-bye^^

20 thoughts on “Beauty & Beast [Chapter 10]

  1. Akhirnya! keluar juga nih Chapther!
    Hiih.. sebel deh..
    walaupun seneng Chap 10 udah keluar,
    Tapi lagi-lagi rasa penasaranku bukanya ilang tapi malah bertambah.
    Aduh, unnie jago banget deh bikin readers penasarn.
    Lanjutanya cepet ya!😉

  2. itu yang akhir bikin penasaran ..
    napa matanya leo merah, apa jangan” pas mati lampu kesiram air bawang /eh,abaikan/
    typo masih bertebaran /manusiawi/😀 ..
    levin ama fleur semoga berhasil ya ama rencananya ..
    FIGHTING L^^)9

  3. Ahhh.. Akhirnya.. Udh nunggu sampe bosen nih.. Lama bgt update nya.. Dari update yang lama, dibalas dengan fanfic yang seru.. Lanjut author-nim.. Jgn kelamaan yaa… Fighting🙂

  4. Kyaaaaaa.. Akhirnya dilanjut juga… Tpi ada typo dikit tuh jinnie.. Pas bagian, Ini kali pertamanya Pak Will terlihat memohon. Pdhl hrusnya kan Pak Jim😀 tpi gpp, keren kok ffnya! Jangan lama2 ya dilanjutnya, bisa jamuran aku._.

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s