[FREELANCE] The First Snow

The First Snow Final

Title : The First Snow

Author : Hyuuga Ace

Genre : Romance, Songfic, Drama

Rating : G

Length : Oneshot

Main Cast :

  • Byun Baekhyun (EXO)
  • Na Sonyeo (OC)

Disclaimer :

OC and plot of story are mine and pure from my idea. Don’t plagiarism. Inspiration from EXO – The First Snow ^^.

Author’s note :

Annyeong~ *lambai”* apa kabaaar? Setelah namatin YCDFM, dan ngepost beberapa oneshot, author jadi kangen nulis, he he he *Curhat, makadari itu author udh comeback (?) dengan FF Cynicalace duet bareng author NadyKJI. Pada baca FF itu yahh.. nah, mengisi waktu liburan semester, jadilah songfic ini kekeke~ Hanya dianjurkan, untuk mendengarkan lagu The First Snow bebas mau versi korea atau china ketika membaca FF ini. Sekian, don’t forget to RCL, guys. Read-Comment-Like ~ ^^

 

Happy Reading~~

***

“Noona, aku menyukaimu.”

Aku mengerjap kaget, terpaksa membuka kedua kelopak mataku yang terasa sangat berat di pagi yang begitu dingin. Mimpi itu.. aku memimpikan hal itu lagi. Mimpi itu terasa sangat nyata, karena mimpi itu merupakan sebuah potongan dari kejadian hidupku di masa lalu. Ya, tepat setahun yang lalu, seorang hoobae di Universitas yang sama denganku mengungkapkan bahwa ia menyukaiku. Hoobae itu, Byun Baekhyun.

Aku mengenalnya karena dia memanglah namja yang sangat populer ketika itu, dia tampan namun menggemaskan di saat yang bersamaan. Dia memilih klub yang sama denganku, theater. Dia banyak membantuku saat itu, seperti memberi tahu cara untuk menghafal skrip dengan cepat, mencoba beradu acting dengannya di belakang panggung sebagai persiapan pentasku –Ya, aku salah satu pemain utama dalam klub theater. Dan banyak hal lainnya. Kami banyak menghabiskan waktu bersama karena klub theater.

Aku menyukainya, sebagai teman. Tentu saja, dia orang yang menyenangkan dan baik hati. Aku selalu nyaman berada di dekatnya. Hingga suatu saat, dia mengajakku keluar saat malam natal.

Seoul, 24 Desember 2012

Sial! Tidak adakah bajuku yang sedikit pantas untuk kugunakan? Mengapa semua terlihat using? Oh ini buruk. Ku acak- acak seluruh isi lemariku. Kucoba satu- satu pakaian yang menurutku ‘layak’.

“Eonni, apa- apaan kau? Aish! Mengapa kamarku jadi seperti ini?” aku melihat ke arah pintu yang sekarang terbuka lebar. Na Seohyun, yeodongsaengku yang juga roommate ku mulai memandangku sinis sambil menggerutu.

“Kamar ini bukan sepenuhnya milikmu Na Seohyun. Aku memiliki hak juga atas kamar ini.”

“Cih! Apakah membuat kamar ini terlihat seperti kapal pecah termasuk ke dalam hak, huh? Aku tidak mau tahu, pokoknya harus eonni yang membereskannya.” Tandasnya sambil melipat kedua tangannya.

Aku menghembuskan napas panjang, “Geurrae. Kau tenang saja!”

“Ah satu hal, tadi Baekhyun oppa menelpon, katanya eonni tidak mengangkat panggilannya. Jadi dia menghubungi nomor rumah. Dia menyuruhku memberi tahu eonni kalau ia akan datang lebih cepat, sekitar..” Seohyun melirik ke jam dinding di kamar dengan cepat lalu mengangguk- angguk. Entah mengapa itu terlihat mencurigakan. Aku menyipitkan mataku.

“Sepuluh menit lagi.” Ujarnya santai.                                        

“MWO?!” yeoja kecil itu hanya tersenyum bersalah ketika aku mencoba tidak memakinya.

“Sial Na Seohyun! Mengapa kau tidak bilang dari tadi!”

“Mian eonni, daritadi aku sibuk dengan Kim Hyunjoong oppa.” Aku sudah ingin menendangnya karena alasannya yang tidak masuk akal apalagi diucapkan dengan tambahan aegyonya yang sangat menjijikan.

“MWOYA?!”

“Aku tidak mungkin melewatkan satu episode pun dari dramanya. Jadi..”

Aku memotong cepat kalimatnya, tidak berniat mendengar fangirlingannya di saat- saat genting seperti ini. “Geuman!” *cukup*

Aku mengacak- acak isi lemari lebih dalam lagi dan menemukan pakaian yang menurutku lumayan layak. Legging putih dengan atasan coat panjang selutut berwarna coklat. Baiklah, karena tidak ada waktu lagi.

Seharusnya saat itu aku sedikit peka untuk menyadari, betapa paniknya diriku hanya untuk pergi bersama seorang Byun Baekhyun di malam natal. Mungkin secara tidak sadar, dalam benakku aku menantikannya sebagai kencan pertamaku dengan namja yang telah kukenal sepanjang semester itu. sekitar  6 bulan dari bulan Juni. Jika saja aku bisa mengartikan arti dari mengapa aku menahan napasku ketika Seohyun memperkirakan waktu kedatangan namja itu. Andai saja, aku mampu untuk mengartikannya.

Baekhyun, datang tepat 10 menit kemudian. Ia terlihat tampan dengan jeans dan jaket panjang berwarna putihnya. Warna jaketnya mengingatkanku akan warna salju. Ah, aku jadi teringat jika salju pertama belum juga turun tahun ini. Mungkinkah akan terjadi White Christmas tahun ini?

“Baekhyun-ah, mengapa kau mengubah waktu janjian, huh?” aku membuka percakapan ketika kami berada di dalam mobil. Namja itu menoleh ke samping, hanya tersenyum kecil dan menatapku tepat di bola mataku. Membuatku sekali lagi menahan napas.

“Kau akan tahu alasannya beberapa menit lagi, sesaat setelah kita sampai.” Ujarnya sok rahasia. Membuatku benar- benar penasaran.

“Ah, aku jadi teringat sesuatu. Kau belum mengatakannya padaku, sebenarnya kita ini mau  kemana? Dari arah perjalanan kita, sepertinya kita akan ke Namsan Tower?”

Oh tidak, jika benar itu Namsan Tower. Mengapa aku merasa seakan- akan kami benar- benar seperti pasangan yang akan berkencan? Oh ayolah Na Seonyeo, dia hanya hoobae dan temanmu saja. Kau tidak mungkin suka pada namja yang lebih muda darimu, kan? Tentu saja, kau tidak ingin mencontoh eomma dan appa. Eomma mencintai appa yang lebih muda 5 tahun darinya. Dan itu berakhir buruk, karena mereka harus bercerai dan meninggalkanku dan Seohyun sendirian.

Setahun berlalu, dan aku sangat menyesali pemikiran itu. Memang benar, aku sangat kesal dengan perceraian orang tuaku. Terlebih karena alasan tidak adanya kecocoka, terutama karena faktor usia. Tapi harusnya aku lebih dewasa untuk menyadari bahwa aku bukanlah eomma, dan Baekhyun bukanlah appa. Jika saja aku membuang pemikiran itu, dan lebih berpegang pada perasaanku sendiri. Jika… ya, mungkin aku bodoh, tapi aku masih berpikir JIKA.

“Baekhyun-ah…”

“Ne, Noona?”

“Jadi, ini alasanmu..”

“Kau suka? Aku sengaja bertanya pada Baekbom Hyung. Kau tahukan dia itu bekerja di bidang Klimatologi, dia dan timnya menaksir jika pada pukul 18.50 salju pertama akan turun.” Terangnya dengan nada cerianya. Dia benar- benar Byun Baekhyun yang kusuka, ceria dan hangat.

Ini benar- benar indah, salju pertama turun beberapa saat ketika aku keluar dari mobil. Tempat ini dipenuhi oleh puluhan mungkin ratusan pasangan. Aku tenggelam di antaranya, menatap langit sambil berdoa.

‘Tuhan, tolong berikan banyak kebahagiaan untukku, Seohyun, orang tuaku yang telah berpisah, semua orang yang kusayangi. Termasuk namja ini, Byun Baekhyun.’’

Tiba- tiba aku merasakan kehangatan menjulur dari telapak tangan kiriku. Seseorang menggenggam tanganku.

“Mian..” saat  aku menoleh dan melihat orang itu, dia merasa bersalah. Mungkin karena menggenggam tanganku. Aku menarik lagi tangannya yang mulai mengendur dari tanganku.

“Gwaenchana. Lagipula aku kedinginan.” Aku tersenyum tulus, dan dia pun balik menatapku dengan senyuman.

Aku suka salju, aku suka pohon natal, aku suka natal, aku suka melihat langit, aku suka berada di ketinggian. Dan hebatnya, namja itu tahu semuanya.

“Kau tak harus menyewa gondola ini hanya untukku Baekhyun-ah, itu menghabiskan banyak uangmu.”

“Kau menyukai hal ini Noona. Aku tahu itu.” Ujarnya riang.

“Kau benar, aku benar- benar menyukai ini semua. Gomawo Byun Baekhyun.” Aku tertawa ringan sambil menggenggam tangannya lebih erat. Kami benar- benar terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

“Aku tidak tahu kau akan menyukai hal setelah ini atau tidak. Tapi aku hanya ingin mengucapkannya, karena aku tahu jika aku tidak mengetakannya pada kesempatan ini. Aku akan terlambat.” Aku menoleh dan mendapatinya sedang menatapku dengan tatapan sedih. Sesaat itu aku merasa pasokan udara menipis dan aku hanya ingin menangis hanya karena melihatnya bersedih.

“Noona, aku menyukaimu.” Dan aku benar- benar merasa oksigen di sekitarku telah hilang. Aku lupa untuk menyuruh diriku sendiri untuk bernapas, aku terkesima dan tenggelam di balik dalamnya bola mata seorang namja yang lebih muda 2 tahun dariku. Byun Baekhyun.

Wajahku panas dan aku tahu –mungkin karena kesulitan bernapas- jantungku telah melewatkan satu detakannya.

Namun ketika melihat matanya yang makin sayu, aku terhenyak. Dia ingin menangis.

Lalu mengapa dia bersedih? Mungkinkah karena menyukaiku dia bersedih?

“Aku akan pergi dari Seoul besok pagi. Hyung memintaku untuk melanjutkan studiku dan mendalami dunia theater di tempat lain. Tapi jika kau memintaku untuk bertahan, aku akan menetap. Karena aku menyukaimu Noona. Bukan sebagai sunbae atau teman. Aku menyukaimu sebagai seorang yeoja.” Aku bisa melihat adanya permohonan di balik bola matanya. Dia memintaku untuk membuatnya bertahan. Baekhyun mengucapkan setiap kata dengan segenap perasaannya. Aku bisa merasakannya.Tapi…

Ani, ini tidak benar. Aku tidak boleh menjadi penghalangnya untuk menjadi orang yang lebih baik. Aku bahkan tidak yakin bahwa aku bisa membalas perasaannya. Aku tidak bisa menyukai namja yang lebih muda dariku. Aku tidak mau menjadi eomma.

Kupaksakan diriku untuk menarik diriku dari namja itu. Aku memalingkan wajahku kemanapun asal tidak ke arah namja itu. Dan inilah yang paling berat, aku menarik tanganku yang digenggamnya.

Ya, mungkin juga karena suhu yang telah minus, aku merasakan dingin sesaat setelah tanganku lepas dari tangannya.

Tidak bodoh! Saat itu kau juga merasa hampa!

“Baekhyun-ah…” suaraku bergetar, “Mianhae.. kau hanyalah seorang teman bagiku.”

Semua ini terasa sangat sulit. Aku bahkan tidak mengerti alasannya, tapi bukankah hal itulah yang memang kurasakan padanya. Mungkin aku hanya terbawa momen untuk hari ini. momen bahwa hari ini adalah hari yang sangat romantis dengan nuansa yang sangat indah. Malam natal, bersama seorang namja di Namsan Tower. Hanya berdua. Oh, mungkin aku bisa merasakan hal yang sama jika aku pergi bersama Luhan, Minseok, atau si tiang Kris. 3 namja tampan dan populer di angkatanku. Besok ketika aku terbangun, aku akan kembali seperti  biasa. Hanya merasa nyaman dan senang bersama Byun Baekhyun, karena dia adalah temanku.

Ya itu benar.

“Arasseo, Na Seonyeo. Gomawo. Dan, Merry Christmas.”

Ada pepatah lucu yang mengatakan bahwa, kau tidak akan pernah tahu betapa berharganya seseorang hingga ia pergi dari sisimu. Itulah yang sepenuhnya kurasakan dalam setahun terakhir hidupku. Logikaku ketika itu salah besar, keesokan harinya, ketika semua orang merayakan natal dengan kebahagiaan utuh. Yang sepenuhnya kurasakan hanyalah kesepian dan penyesalan.

Siang ini aku berjalan di jalan yang sama seperti yang selalu kulakukan dalam 3 tahun terakhir hidupku. Jalan menuju Namsoon University. Jalan mulai terasa licin, ah.. salju pertama telah turun rupanya. Salju pertama, mengingatkanku akan sosok Byun Baekhyun malam itu. Dengan jaket putihnya. Andai saja aku bisa memanggil orang itu untuk hadir lagi di hadapanku untuk menikmati salju pertama bersamanya, aku akan sangat bahagia.

Salju pertama juga mengingatkanku, jika setahun telah berlalu. Dan diriku yang bodoh ini masih tetap sama tentang perasaanku pada namja itu. Perbedaannya, kini aku telah sepenuhnya sadar arti dari perasaan ini. Sama seperti hari natal setahun yang lalu, aku masih terlalu sering mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku merindukannya. Aku kesepian tanpanya.

Andai saja aku bisa memutar waktu. Dan kembali ke masa itu. Mungkin aku bisa menemukan obat untuk rasa sepi yang selalu kurasakan. Namun yang terpenting, jika saja aku sedikit ‘pintar’ tentang diriku sendiri. Tentang hatiku, akankah semua ini berubah? Ya, aku memang bodoh, tapi aku masih berharap bahwa saat- saat itu akan kembali padaku. Aku ingin menemukan lorong waktu, dan kembali ke masa itu. Jika saja…

Baekhyun-ah, jika saja kau muncul hari ini. Entah di mana pun, di lokermu di Namsoon, atau di parkiran dengan mobilmu. Atau di kantin dengan Chanyeol dan Baekhyun juga semangkuk samgyupsal kesukaan. Atau bahkan di gondola tempat terakhir kali kita bertemu. Di mana pun.

Apakah reaksiku ketika berjumpa lagi denganmu? Ketika bola mataku bertemu dengan bola mata teduhnya? Mungkinkah aku akan menangis? Menangis karena aku tahu semua itu hanyalah harapan semu.

Sudah kukatakan aku ini bodoh, si bodoh yang tidak pernah bisa mengatakan apa- apa kepadamu. Maka dari itu, mungkin aku hanya bisa menangis.

Baekhyun-ah, mian. Aku tidak bisa memperlakukanmu dengan baik malam itu. Aku menyakiti hatimu hari itu. Natal itu, aku hanya memenuhi diriku dengan penyesalan. Natal itu, aku melihatmu semakin jauh, lebih jauh lagi dari kehidupanku.

Aku melanjutkan lagi langkahku, urusanku di Namsoon telah usai. Dan kini aku harus kembali ke jalan pulang ke rumahku, tapi langkahku membawaku ke tempat lain. Aku menyusuri trotoar yang mulai tertutupi salju, kukencangkan jaketku sambil berjalan. Aku berjalan sendiri, lampu- lampu dan hiasan natal menyambutku. Orang- orang tertawa bahagia.

Keceriaan natal yang selalu kusukai. Harusnya kusukai.

Setahun yang lalu, aku dan namja itu sangat menyukai berjalan di jalanan ini. Jalanan yang masih sejuk karena masih banyak pepohonan disini. Seperti fungsi pohon yang memberikan oksigen untuk dunia. Aku selalu berpikir bahwa kau selalu ada bersamaku seperti udara. Berada disekelilingku sampai aku mengijinkanmu untuk pergi. Mungkin itu adalah hal benar karena kau akan mengejar impianmu di tempat lain, tapi tetap dalam diriku aku merasa bodoh karena membiarkanmu pergi begitu saja.

Jadi aku ingin meminta maaf untuk diriku sendiri.

Untuk diriku yang baru menyadari bahwa kau sangat berharga tepat setelah kau pergi. Mengapa aku tidak menyadarinya saat kau masih bersamaku?

Baekhyun, aku ingin bertemu lagi denganmu dan mengatakannya. Mengatakan bahwa kau begitu berharga. Sekali saja, tolong hadir di kehidupanku. Sekali lagi dan sekali saja.

Sial, karena pemikiran itu. Sesuatu baru saja mengalir dari pipiku. Aku menutup mataku untuk merasakan, apakah itu adalah air mata? Atau salju yang menyapa kulitku?

Ini air mataku. Tears are falling, falling, falling.

Aku bisa melakukan apa saja, agar aku diberi kesempatan untuk bertemu lagi denganmu. Apapun. Aku ingin bertemu denganmu. Karena sampai detik ini aku hanyalah seorang yeoja dengan penyesalan, penyesalan karena seorang namja yang lebih muda 2 tahun darinya yang juga sangat ia cintai telah hilang dari sisinya.

Kebahagiaannya telah pergi. Tapi aku tidak bisa menyalahkan Tuhan yang tidak menjawab doaku. Karena sepenuhnya itu adalah kesalahanku.

Aku membuka mataku, sekali lagi menatap langit dan berdoa.

Lalu melanjutkan langkahku.

***

“Eonni, seseorang menelpon. Katanya dia tidak bisa menghubungi ponselmu.” Seohyun masuk ke kamar dengan gerakan tergesa- gesa.

“Nugu?” Dengan malas aku mengecek ponselku. Ah, rupanya aku mengaktifkan mode getar. Tapi ada 2 missed call di ponselku, dari nomor yang sama yang tidak kuketahui.

“Kau akan mengetahuinya jika mengangkat tubuhmu dari kasur dan bergegas menjawab panggilan telepon. Ppali! Orangnya masih menunggu.”

Aku berdecak, uh. Malasnya.

“Eonni itu hanya bisa bermalas- malasan di hari natal. Setelah mengangkat telepon, cepat mandi dan kita ke gereja.”

Aku terkekeh kecil, yeodongsaengku benar- benar cerewet. Tapi bagaimana pun aku menyayanginya.”Arasseo Seohyun-NIM.”

“Euh! Eonni!”

Aku tertawa dan melanjutkan langkahku menuruni anak tangga. Bola mataku menangkap di mana posisi telepon rumahku dan segera menyambar gagangnya.

“Yeobseo~” ujarku ceria, pada seseorang di ujung sana.

“Seonyeo-ya?”

DEG.

Suara itu..

“Merry Christmas! Annyeong? Jal jinaeneungeonji?” *Hai? Apa kabarmu?*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~END.

 

Hehehe.. endingnya gantung? Kira- kira butuh sekuelnya ga? Comment yahhhh~ >.<

Annyeooong~

One thought on “[FREELANCE] The First Snow

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s