[1st Winner of Miracles in December Project – Writing Contest] Sincerity of Affectionate

Title : Sincerity of Affectionate

Author : Jung Sangneul

Cast : Kim Jongin (Kai (EXO-K)) || Kim Minji (OC)

Genre : Family || Life

Length : Ficlet [2000+w]

Rating : General

.

.

 

            Jongin terpaku menatap jendela yang basah. Udara di luar memberikan indikasi yang buruk, dingin, dan Jongin tidak begitu menyukainya. Ia masih bertahan di ruang keterampilan kampusnya, mengurung diri sembari menatap sisa-sisa embun yang menempel di kaca jendela. Ia menyentuhnya dan merasakan dingin menjalar, bukan hanya pada jemarinya, namun juga menelusup ke relung hatinya.

            Ia mengerjapkan mata, kemudian mengusap embun agar dapat menatap suasana kota yang terlihat dari ruangan di lantai teratas kampus ini. Salju bulan Desember menuruni kota perlahan, membuat sebagian ayunan di taman kota tertutup benda putih tersebut secara menyeluruh.

            Jongin mengembuskan napasnya. Beberapa hal di bulan Desember mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang mengisi hidupnya.

            “Jongin, bisakah kau ke sini? Dia merindukanmu, kauharus menemaninya, Ibu mohon.”

            Jongin menutup telinganya, menghirup oksigen sebanyak mungkin—bagaimana pun ia tidak ingin menghadiri panggilan sang Ibu beberapa menit yang lalu meski ia berkata ‘ya’. Meskipun terdengar munafik, tapi siapa juga yang akan tega jika sudah berada pada posisinya?

            Jongin terduduk di sudut ruangan, menggenggam erat ujung tasnya, menahan air mata yang hendak meluncur sembarangan.

            Minji.

            Dia bukan nama yang asing untuk Jongin. Dia bukan orang lain dalam hidupnya.

            “Oppa, ayolah, aku mau yang pink, aku bosan dengan yang cokelat.”

 

            Minji kecil manis dan beraroma selembut stroberi. Dia suka menggunakan bandana berwarna pink, juga beberapa koleksi Barbie yang tak hentinya Jongin cibir. Minji akan menangis mengadu pada Ibu saat Jongin melakukannya, namun di malam hari Jongin akan mengatakan satu hal, “Jangan cengeng. Suatu saat kauperlu lebih tegar, Minji.”

            Mungkin waktu itu Minji tidak tahu apa maksud Jongin, kendati umur mereka hanya terpaut beberapa menit—mereka kembar. Minji jauh lebih polos, namun Jongin yakin gadis kecil itu akan selalu mengingatnya karena ia berulang kali mengatakannya.

            Minji kecil juga suka boneka beruang, bermula sejak Jongin membelikan satu yang berwarna cokelat. Jongin tidak tahu apa itu makna saudara dulu. Ia hanya diberitahu Ibunya bahwa harus selalu menyayangi dan menjaga Minji, apa pun yang terjadi.

            Oppa, sakit. Jangan kencang-kencang.”

 

            Maka ketika Minji terjatuh dari sepedanya saat belajar bersamanya, ia mengobati luka itu. Ia mengajarkan banyak hal pada Minji, sepertinya. Ia membalut luka itu dengan perban sembari berkata, “Lukanya akan segera sembuh kalau Minji ikhlas. Terkadang Minji harus lebih sabar.”

            Jongin tidak menyadari fakta bahwa ia hanya terlahir beberapa menit sebelum Minji, namun terasa lebih dewasa beberapa tahun darinya. Terbukti Minji mengerti semua ucapan Jongin setelah ia beranjak dewasa. Ia menjadi gadis tegar ketika Ayah mereka meninggal belasan tahun yang lalu. Ia menjadi gadis yang lebih sabar ketika teman-temannya mengejeknya.

            Jongin menekuk lututnya. Dalam hitamnya bayangan ketika matanya tertutup, wajah Minji terkilas. Ia cantik saat memasuki sekolah dasar, dan Jongin menggenggam tangannya hati-hati untuk tidak menginjak kubangan air yang disebabkan guyuran hujan. Minji berambut lurus, masih suka merengek pada Jongin ketika ingin gulali atau es krim.

            “Ibu bilang tidak boleh, Minji.”

 

            Jongin menekankan itu berkali-kali, karena Ibu berpesan untuk selalu menjaga gigi mereka. Minji akan marah selama berjam-jam setelah itu, namun saat jam istirahat ia akan datang pada Jongin dan katakan ingin makan bulgogi saja jika tidak boleh es krim.

            Minji adiknya—saudara kembarnya. Jongin mengingat segala hal tentang Minji.

            Termasuk ketika hari itu datang. Mereka sudah memasuki bangku SMA. Jongin tidak menyukai pelajaran Sains, ia tidak suka Kimia. Maka ia tidak pernah tahu mengapa hari itu Minji kehilangan banyak darah yang menetes melalui hidungnya. Gadis itu terlihat pucat bahkan hingga memasuki klinik sekolah.

            Jongin hanya bisa menggenggam tangannya dan berbisik, “Nanti sakitnya akan hilang kalau Minji istirahat.” Dan Minji mengangguk pasti, gadis itu sudah dewasa.

            Tapi bagi Jongin dia tetaplah Minji kecil yang menggemaskan. Dia tetaplah adik termanisnya yang selalu ia jaga dan lindungi sepenuh jiwa. Dia tetaplah amanat dari sang Ayah, maka hati Jongin juga sakit ketika darah itu menetes untuk hari-hari berikutnya—meski frekuensinya berkurang.

            “Minji, ayolah, kita harus ke dokter. Tidak bisa dibiarkan begini.”

            Rambut Minji panjang hingga sebatas pinggang ketika ia dewasa, ia masih suka memakai bandana pink dan itu bergoyang ketika ia menggeleng. Minji tidak suka bau rumah sakit, ia punya trauma setelah sempat opname dan merasakan sakitnya diinfus ketika berumur sepuluh tahun. Minji hanya mau coklat ketika darah itu kembali mengalir, karena dengan itu ia tidak akan terlampau pucat.

            Jongin meremas bajunya ketika bayangan Minji berarak di pikirannya. Tak mampu menahan kakinya untuk segera tinggalkan ruangan itu, berlari, membiarkan semua bayangan itu berbaur menjadi satu. Biarkan saja ia munafikkan hatinya yang tadi sebenarnya menolak datang. Bagaimana jika Minji benar-benar membutuhkannya kini?

            Minji yang polos. Minji yang tidak mengetahui banyak hal seperti Jongin. Dia yang selalu mengikuti ke mana pun Jongin pergi, seolah refleksi dari kakaknya itu. Minji yang mirip dengannya, mempunyai golongan darah yang sama. Minji yang ia sayangi, ia cintai sepenuh hatinya. Minji, Minji, dan Minji.

            “Dia positif mengidap kanker hati. Obatnya hanyalah transplantasi hati.”

            Napas Jongin sesak. Hatinya terasa sakit seiring derap larinya yang semakin kencang. Minji tidak suka berlari. Berlari kadang membuatnya kelelahan dan darah itu kembali meluncur—semasa ia SMA. Maka Jongin akan selalu menarik tangan itu untuk berlari bersamanya. Atau jika memang Minji tidak kuat lagi, biarlah gadis itu naik ke punggungnya dan ia akan berlari hingga tawanya kembali terdengar.

            Jongin terlalu menyayangi Minji, ia akan melakukan apa saja untuk membuat gadis itu tertawa kembali. Di samping fakta bahwa ia mengetahui semuanya, apa yang tengah dideritanya.

            Hingga setahun kemudian, Minji bukanlah gadis yang sama lagi.

            Jongin berhenti di median yang terasa lengang, dijejaki oleh banyak pejalan kaki. Angin Desember membuatnya menggigil, ditambah salju yang mulai menghujani sebagian pundaknya.

            Oppa suka berlari, bisa menjadi atlit nantinya. Nanti Oppa akan ajak Minji makan banyak, es krim dan gulali juga, bisa kan? Minji sudah besar, Oppa.”

 

            Jongin menghela napas. Ia tidak boleh berhenti di sini. Ia akan melihat senyum Minji, sedikit lagi, anggap hanya sejengkal. Seperti sejengkal cerita Minji ketika ia pertama kali menghirup udara rumah sakit. Udaranya terlalu dingin, bisa membuat kulit Minji memucat dalam sekian menit.

            Malam itu Minji bercerita, selagi Jongin menggenggam tangannya, menemaninya dengan detak jam yang terasa menyayat hati. Karena detak jam itulah yang mengukur seberapa lama lagi Minji mampu merasakan oksigen mengisi paru-paru. Minji tidak suka rumah sakit, ia cemberut ketika Ibu memaksanya kemari dan ternyata mengubahnya menjadi pasien berseragam biru. Namun hari itu Minji tersenyum, menceritakan beberapa hal.

            “Namanya Oh Sehun, Oppa. Dia tampan, punya eye-smile juga. Oppa tidak tahu kan aku sempat menguntitnya? Tapi sekarang aku sudah ketahuan, dan dia ada di ruang sebelah. Ternyata, pasien tumor otak.”

 

            Minji memiliki orang yang disukai. Jongin ikut tersenyum saat itu, berjanji akan menemani gadis itu menemui Sehun. Sesakit apapun perasaan Jongin melihat kondisi keduanya. Minji yang kehilangan entah berapa liter darahnya, atau berapa helai rambutnya—tidak mampu Jongin hitung saking seringnya.

            “Aku mencintainya, Oppa.”

            “Memang kautahu apa itu cinta?”

            “Memang Oppa bisa mendefinisikannya?”

            Jongin hanya tertawa kala itu, kemudian berkata kalau cinta itu datang dengan sendirinya. Tidak memandang rupa atau kekayaan, pun dengan intelektualitas. Cinta itu tidak hanya untuk kekasih, tapi juga seperti dirinya. Malam itu, Jongin mengatakan mencintai Minji. Dia tidak ingin kehilangan sentuhan hangat dan rajukan manja milik gadis itu. Gadis itu adalah separuh jiwanya karena mereka berada dalam satu rahim. Karena wajah mereka mirip, hanya saja Minji sedikit lebih putih dibanding Jongin.

            Karena Minji titipan Ayah yang paling berharga.

            Rumah sakit itu masih lumayan jauh. Jongin terus berlari, tidak peduli kakinya akan patah atau bagaimana. Ia hanya ingin melihat bagaimana adiknya yang cantik sekarang. Seperti apa pun kanker itu menggerogotinya, Jongin tidak akan mengeluh lagi. Ia akan menyayangi gadis itu, menyambanginya lagi meski matanya tak kuat melihat itu semua.

            Biarkan Jongin sampai di sana dan mengucap beberapa janji. Untuk lebih memperhatikan gadis itu, untuk lebih menyayanginya, untuk selalu menjaganya. Mungkin ia hanya ingin mendekat pada Tuhan kemarin, bukan berarti ia lupa siapa Minji. Bukan berarti tak lagi menyayangi Minji. Tuhan tolong. Meski Jongin tahu ia jarang sekali mengunjungi gereja, izinkan Minji masih ada di hari natal tahun ini. Izinkan, sekali ini saja Jongin meminta.

            “Oppa!”

            Jongin menengadah dan ia tersenyum kecil. Tanpa sadar langkah kakinya telah menemui gadis yang duduk di atas kursi roda itu; Kim Minji.

            Minji mengikat rambutnya yang tipis sepunggung, senyumnya terulas di depan sang kakak. Disambut oleh rangkulan dari Jongin seraya berbisik, “Malam ini kaumau aku temani?”

            Minji mengangguk, “Aku juga mau bercerita banyak hal, Oppa.”

***

            Entah, Jongin lupa sudah ke berapa kalinya menginjakkan kaki di ruang rawat yang sama. Dia juga tidak menghitung berapa kali Minji minta ia menyetel kaset Endless Love yang mengharu-biru itu, memaksanya untuk menahan tangis. Minji hapal jalan ceritanya, dialognya, namun tak pernah sekalipun merasa bosan dengan itu.

            “Kaumau cerita apa, hm?” Jongin mengusap lembut rambut Minji, sebisa mungkin tidak merontokkan helai-helai terakhirnya itu.

            “Aku hanya rindu sekolah,” cerita Minji.

            Jongin mengernyit. Tidak mungkin. Minji sudah setahun lebih tidak menjejakkan kaki di sekolahnya, dan tidak pernah merindu. Apalagi setelah kehadiran—

            “Oh Sehun ke mana?”

            Minji tersenyum malam itu, di tengah tangis yang melesak dari bibir Song Hye Kyo dalam drama Endless Love, ia menjawab dalam ketegaran, “Dia sudah tiada tadi pagi.”

            “Aku datang ke ruang rawatnya dan suster bilang, dia sudah mengembuskan napasnya yang terakhir. Dia masih tampan, bahkan tersenyum, Oppa. Sayang kaubelum pernah melihatnya,” ujar Minji sambil tersenyum kecil. Jongin menghela napas, menahan seluruh perasaan yang ingin ia tumpahkan. Sadar bahwa ia yang telah berhasil mengajarkan Minji untuk menjadi setegar ini, sekuat karang di lautan.

            “Kata siapa? Aku sudah pernah melihatnya, Minji. Dia bahkan lebih tinggi dari diriku. Kau memilih pria yang baik.” Jongin mengelus lagi kepala Minji. Ia tahu benak gadis itu sedang risau. Ia bisa merasakannya, namun tidak ingin mengutarakannya.

            “Tentu saja. Oh ya, Oppa, aku mau menitipkan beberapa hal padamu.”

            Jongin mengerutkan kening ketika gadis itu mengambil beberapa barang dari meja nakasnya.

            “Tolong, besok ketika natal tiba sampaikan ini pada Ibu. Bilang pada Ibu, aku menyayanginya. Juga tolong berikan ini pada Minha, sahabatku itu Oppa. Aku lupa memberikannya saat masih masuk sekolah. Bisa ‘kan, Oppa?”

            “Untuk apa kau titipkan padaku? Kaubisa berikan sendiri, ‘kan?”

            “Sudahlah, Oppa. Bawa saja barang-barang ini, lalu temani aku tidur. Sini.” Minji menepuk sisa kasurnya. Salju membuat ruangan lebih dingin dari biasanya, bahkan angin bisa menembus celah jendela kaca di sebelah tas Jongin berada. Lelaki itu memasukkan semuanya, tidak mampu menghalau air mata yang merembes turun.

            Karena sesungguhnya ia tahu semua maksud Minji. Sebenarnya ialah yang paling tahu hati Minji, karena mereka terpaut dalam ikatan batin.

            “Oppa, kau tampan.”

            “Kau juga cantik.”

            Kemudian gadis itu memeluk tubuh Jongin yang berhadapan dengannya dan bergumam menyuruhnya untuk tidak pergi ke mana pun, malam ini saja.

            Jongin balas memeluknya, membiarkan kehangatan menuruni tubuh adiknya itu, biarkan kenyamanan saja yang ada. Lupakan semua masalah yang mendera hidup adiknya itu. Karena ia tahu, esok bukanlah hari yang sama lagi. Seberapa pun Jongin meminta keajaiban turun, ia sudah menangkap sinyal-sinyal itu ketika adiknya memintanya berjanji.

            “Jangan lupakan aku, jangan berhenti menyayangiku seperti ini.”

***

            Sinar mentari menghangatkan hari, dan Jongin hanya tersenyum melihat alat elektrokardiograf yang berhenti, menunjukkan garis lurus di sana. Ia melihat adiknya tersenyum dalam dekapnya, tubuhnya mendingin sepenuhnya.

            Jongin merebahkan tubuhnya, perlahan mencium kening dan pipinya sebagai tanda perpisahan terakhir.

            “Semoga kau bertemu dengan Sehun di sana, Minji. Bertemu orang yang kausukai. Rayakan natal bersamanya, sayang. Oppa mencintaimu.”

            “Jongin.”

            “Ibu, Minji menitipkan beberapa hal untukmu.”

            Dengan itu Jongin juga membuka surat yang diperuntukkan padanya.

            Kim Jongin yang tampan,

            Kau adalah kakakku, aku menyayangimu lebih dari apapun. Sekalipun aku juga mencintai Sehun, tapi Oppa telah mengisi hidupku sepenuhnya. Oppa mengajarkanku apa itu arti tegar, sabar, dan mensyukuri apa yang ada di hidupku. Terima kasih Oppa mau datang hari ini, hari ketika aku berani menulis ini. Karena aku tahu—Oppa juga pasti tahu kalau sudah tak lama lagi aku akan bertahan.

            Jika memang kematian lebih indah untukku, aku rela. Mengapa aku tak pernah ingin kau mengorbankan hatimu, karena aku menyayangimu. Kau tidak boleh mengorbankan impian-impianmu hanya demi diriku. Oh ya, jangan pernah menangisi aku, ya. Ingat, harus tegar. Percayalah kalau aku bahagia di sana nanti.

            Sudah ya, yang terpenting, aku menyayangi Oppa.

Your beloved sista,

Kim Minji

 

 

            Jongin melihat dengan ekor matanya, Ibu menangis tersedu ketika membaca surat dari Minji dan tangannya menggenggam seuntai kalung liontin—ia tahu itu hadiah untuk hari Ibu. Minji selalu memberikan kehangatan pada hidup mereka. Izinkan Minji bahagia di sana, Tuhan.

            Meski hari itu salju turun lebih lebat dan tangisan menjadi lebih dominan, Jongin tahu masih ada satu keajaiban.

            Minji tidak pernah meninggalkan mereka, selalu hidup dalam benak semua yang menyayanginya. Karena ia tetaplah gadis kecil yang polos dan memberikan tulus cintanya pada banyak orang.

            Keajaiban adalah ketika Jongin bisa merasakan tulus cinta itu menelusup relung hatinya, menghangatkan dan menenangkannya untuk waktu selanjutnya. Meski tanpa kehadiran Minji sang saudara kembar.

            “Minji, aku menyayangimu dalam setiap hembusan napasku.”

            Angin Desember terasa dingin, seiring dengan senyumnya yang tercetak dalam sekilas bayangan semu.

THE END

18 thoughts on “[1st Winner of Miracles in December Project – Writing Contest] Sincerity of Affectionate

  1. Iniiiiii….ah bener-bener gak bisa diungkapin ;______________;
    Aku biasanya paling menghindari genre-genre sad gini, kurang suka. Tapi…ah aku suka banget ini beneran >/////////////<
    Kalo gak lagi ditempat rame mungkin aku udah nangis baca ini. Feel-nya dapet banget, perasaan jongin itu bisa aku rasain. Scene paling ngena itu pas

    " Sinar mentari menghangatkan hari,
    dan Jongin hanya tersenyum melihat
    alat elektrokardiograf yang berhenti,
    menunjukkan garis lurus di sana. Ia
    melihat adiknya tersenyum dalam
    dekapnya, tubuhnya mendingin
    sepenuhnya.
    Jongin merebahkan tubuhnya,
    perlahan mencium kening dan
    pipinya sebagai tanda perpisahan
    terakhir."

    Disini jongin kelihatan tegar banget.
    Genre family-nya ngena banget.
    Aduuuh aku ngomong apaan ya daritadi? Pokoknya ini keren! ;_;
    Keep writing iya,
    Aku tunggu karya-karya kamu selanjutnya c:

  2. Yaampun bikin air mataku netes, huhu;;____;; jujur aja, aku bukan orng yg gmpang nangis ato trsentuh gtu, tpi ff ini brhasil buat air mataku keluar walopun cuma dkit sih T.T maklumin aku yg gak gmpng nangis jdi air matanya cuma dikit(?). Tpi ttep ajaaaa, ini nyentuh bnget huaaaaaa T.T keren kak ffnya :””) emng pantes jdi juara, kk~
    RCL tuk ff yg sngt keren ini! ;’)
    Fighting untuk ff ff selanjutnya kak!^^9

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s