[FREELANCE] Be Mine (Chapter 1)

1377949_547091322036883_1472573505_n

Tittle                : Be Mine

Author             : Lianzanny

Main Cast        : Kris Wu, Mei Lian, Xi Luhan

Genre                : Friendship, Romance

Rating               : PG-13

Length               : Chaptered

Disclaimer       : I’m the owner of this storyline, notwiththe playerswhoIborrowedhis name. Theybelong only tothemselvesandGod. Fanfiction is fanfiction, would not be a true story. I just borrowed their name for the continuity of my fanfiction. So, don’t bashing, just read and if you could, please leave a trail.

You can visit me on: www.lianzanny.wordpress.com

ENJOY! ^^


Apa cinta itu sulit dicerna? Sebegitu sulitnya hingga membuatku susah untuk bernapas.
Mengapa dalam kedekatan kita, kau begitu sulit untuk kudekap?
Katakan padaku, cinta…
Bagaimana agar sedikit saja kau menoleh padaku sebagai seorang pria terhadap seorang wanita?
Sedikit saja…


 

Lian terbangun saat mendengar suara berisik di kamarnya. Dahinya mengerut, mengerang kesal dan menyuruh apapun itu untuk diam. Hari ini, ia sudah berencana untuk tidak masuk sekolah dan menghabiskan sisa hidupnya di ranjang tanpa bertemu lagi dengan Mr. Pedo Bear—Kim Seonseangnim, Guru mata pelajaran Filsafat yang amat sangat tidak ia sukai. Andaikan guru itu tidak menggoda para siswi (bahkan beberapa siswa) yang berusia jauh lebih muda darinya, maka Lian tidak akan memanggilnya seperti itu.

 

Tapi kalau dipikir-pikir, panggilan itu lucu juga. Mr. Pedo Bear. Haha—

 

Tapi suara gemerisik di ranjangnya membuat Lian terpaksa membuka mata. Samar-samar, ia melihat wajah seseorang yang hanya beberapa inci dari wajahnya. Dahinya mengerut saat manik obsidian itu menghalangi organ visualnya. Mata itu—mata yang sangat Lian kenal, begitu familier.

 

Satu nama terlintas di otaknya. Satu nama yang—

 

—Kris?

 

Tidak mungkin.

 

Ini pasti hanya ilusi optik karena gadis itu baru sadar dari bangun tidurnya, ‘kan?

 

Lian mengerjap-ngerjapkan matanya untuk melihat lebih jelas saat ilusi itu tiba-tiba memberikan cengiran maskulin yang hanya dimiliki seorang Kris Wu, yang kemudian membuka mulutnya dan tiba-tiba berseru, “Woo!”

 

Benar-benar bukan cara yang baik untuk memulai hari.

 

“AAAAAAA!!!” Lian berteriak dan cepat-cepat melompat dari ranjangnya. Penglihatannya sudah benar-benar jelas saat melihat sosok Kris yang berdiri di depannya. Di kamar Lian!

Dan Kris sudah menarik tubuhnya yang tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

 

Uh.

 

Sebelum Lian sempat membuka mulutnya untuk melemparkan protes, Kris sudah mengangkat kedua tangannya di depan dada. Ia menyeringai jahil. “Tenang, tadi aku bertemu dengan Narin Noona, kakakmu. Dia menyuruhku masuk saja ke kamar untuk membangunkanmu,” jawabnya enteng.

 

Mulut gadis itu menganga lebar, tidak percaya. “Begitu saja?”

 

Kris mengangguk dan menurunkan tangannya. “Apa kau lupa dulu kau selalu ke rumahku untuk membangunkanku yang tidak pernah bisa bangun pagi? Aku juga tidak protes saat kau mengobrak-abrik kamarku,” katanya santai, seolah tindakan kriminalnya (memasuki lingkup kramat seorang gadis) adalah hal yang biasa, lumrah.

 

“Dulu kita masih kecil! Dan aku tidak mengobrak-abriknya, aku merapikannya, tahu.” Bantahnya malu.

 

Kris memutar bola matanya, terlihat tidak percaya. “Apa bedanya dengan sekarang? Lagipula, di mataku, kau masih terlihat seperti dulu.”

 

Lian menyipitkan matanya dengan curiga dan menggeram kesal. “Apa yang kau lakukan di sini?”

 

“Memaksamu untuk pergi ke sekolah.”

 

“Aku tidak mau.”

 

“Karena itu, aku di sini untuk memaksamu.”

 

“Pemaksa.”


“Hhh… baru musim gugur saja sudah begini dingin. Apalagi musim dingin,” keluhan itu meluncur dari mulut Lian, yang sedari tadi beberapa kali tampak menahan uapan kantuk.

Periode pertama sekolah bahkan belum selesai, Nona.

 

Kedua bola hitam kecoklatan itu tampak memandang sendu ke arah lantai yang ditapaki kedua kakinya. Siapapun pasti dapat menerka, dari wajahnya yang kusut dan mata yang sedikit berair, pemilik kedua mata tersebut tengah merasa tidak semangat. Jangan salahkan Lian. Selain karena hawanya mendukung, juga dikarenakan periode pertama adalah periode pelajaran Filsafat.

 

Sungguh, demi apapun, Filsafat adalah pelajaran nomor satu yang mampu mengalahkan efek jitu sebuah obat tidur!

 

Dan Lian langsung mengucap syukur dalam hati, tadi, ketika Guru Filsafat mendaulatnya untuk mengambil beberapa buku di perpustakaan. Lian, tentu dengan senang hati dan kelewat semangat, menerimanya. Karena ia tidak mau jika nantinya benar-benar tertidur di kelas, jika ia lebih lama berada di kelas. Selain nantinya Guru-super-duper-ekstra-eksekutif-killer-dan-menyebalkan-serta-pedofilitu akan ‘membantainya’, juga ia tidak mau mendapat malu di depan teman-teman sekolahnya.

Jadilah, ia menjalani tugas ini dengan semangat. Kelewat semangat, ketika ia sengaja mengulur-ulur waktu untuk berada di perpustakaan—sekedar menghindari berada dikelas lebih lama.

 

Soal Guru marah karena ia terlalu lelet, ia bisa beralasan berbagai macam. Misalnya saja alasan klasik semacam, ‘Saya harus ke toiletsebentar, Seonsaengnim’.

 

Pandangan sayu dan lelah Lian teralihkan dari lantai, ketika telinganya mendengar gemuruh riuh dari arah sampingnya. Gadis itu menoleh, dan mendapati sekumpulan manusia yang tengah berada di lapangan indoor Hannyoung Senior High School.

 

Lebih tepatnya, sih, lapangan basket.

 

Tetapi bukan itu yang membuat Lian terheran hingga ia memberhentikan langkah, sekedar untuk menatap lebih lama.

 

Akan tetapi terkait fakta bahwa begitu banyak murid yang berada di lapangan tersebut—terutama murid perempuan. Dengan teriakan dan pekikan klasik yang biasa diteriakan oleh para gadis yang sedang fangirling, yakni: Kyaaaaaa!

 

Memangnya ada apa?

 

Tidak akan mendapatkan jawaban hanya dengan berdiri diam di tempat, gadis itu memutuskan untuk melangkah mendekat ke arah bibir lapangan. Secara mutlak mengenyahkan kemungkinan Guru Filsafat akan murka habis-habisan padanya nanti, gara-gara ia korupsi tugas seperti ini.

 

Tetapi ini cukup mengherankan, bagi Lian. Karena, biasanya, lapangan basket tidak akan seramai ini—kecuali jika ada pertandingan dengan SMA lain. Apalagi di musim gugur begini.

Dan sepertinya… objek fangirling para siswi tersebut adalah salah satu pemain yang tampak tengah berlari-larian di lapangan basket tersebut.

 

Berhasil menemukan space kosong di antara kumpulan para siswi yang berdiri di sekitar bibir lapangan, Lian pada akhirnya mampu melihat ke tengah lapangan.

 

Tidak ada yang berbeda, sebenarnya. Hanya sebuah pertandingan basket biasa—bahkan ini bukan pertandingan antar sekolah, karena pemain juga semuanya menggunakan seragam olahraga khas Hannyoung High School. Tidak ada yang aneh. Para pemain juga sama seperti pertandingan basket biasa—berlari kesana-kemari, men-dribble bola dari ujung ke ujung lain, passing, shooting, pavot, lay up dan semua teknik umum dari permainan basket.

 

Akan tetapi, terdapat satu hal yang membuat permainan kecil ini tampak bahkan lebih mewah daripada final NBA (National Basketball Association) sekalipun—bagi Lian. Alasan yang membuat para gadis tampak semangat bersorak. Alasan yang membuat Lian sendiri, langsung tersenyum sumringah ketika menatapnya.

 

Kris Wu yang menjadi salah satu pemain dari salah satu tim.Memakai seragam olahraga hijau muda khas Hannyoung, pemuda itu tampak berlari-lari menggiring bola,sebelum melakukan passing kerekannya. Kedua kakinya bergerak lincah, melakukan gerakan-gerakan tipuan yang mampu mengecoh lawan. Hawa pagi musim gugur seolah tidak berefek pada tubuhnya yang tampak basah oleh keringat, membuat pemuda itu tampak begitu makin memesona dengan satu-dua tetes keringat yang tampak di pelipis atau dagunya. Rambutnya yang berantakan, kini terlihat makin seksi membingkai wajahnya.

 

Dan Lian otomatis langsung berteriak senang ketika pemuda itu berhasil mencetak angka melalui umpan hook shoot.

 

“AAAAA! KRISSS!” teriakan Lian seolah hendak menyaingi teriakan beringas para siswi lain yang turut senang akan pertambahan poin tim Kris. Pemuda itu tampak tertawa senang dan bahagia, ketika teman-teman setimnya melakukan celebration dengan cara menepuk pundak atau mengacak-acak rambutnya.

 

Melihat Kris sekeren dan seseksi itu, membuat Lian tidak bisa mengekang keinginan untuk berteriak-teriak dan mendukung pemuda itu sepanjang permainan kembali berlangsung. ‘Kyaaa!’ atau ‘Kereeeennn!’ atau ‘Go, Kris! Gooo!’ adalah sebagian dari banyak bentuk kalimat dukungan yang didapatkan Kris dari para fans-nya, termasuk Lian.

 

Kris tampak menggiring bola.

 

“Kyaaa! Kris! Make a point! Make another point!”

 

Kris shooting bola.

 

“Oh, Tuhan! Kau sungguh keren, Kris!”

 

Kris mengelak gesit dari incaran lawan.

 

That’s awesomely, awesome!”

 

Kris mencetak angka.

 

“KRIS! KRIS! KRIIISSS! KRI—”

 

DUKH!

 

“Ow!”

 

“BERISIK!”

 

Dan Lian tak pernah menduga, dari sekian banyak siswi yang juga berteriak fangirling-an, kenapa harus gadis itu satu-satunya yang dijadikan sasaran di mana Kai melempar bola basket dengan kesal.

 

Dan sungguh, cukup sakit. Apalagi kena muka.

 

Uh.

 

Andai saja saat itu Amy (salah satu teman sekelasnya) tidak tiba-tiba muncul di sampingnya dan segera menyeret lengannya untuk kembali ke kelas (dengan alasan sebelum Lian di-black list namanya dari pelajaran Filsafat), maka Lian pasti akan dengan senang hati membalas perbuatan Kai.

 

Jauh lebih sakit.

 

Misalnya, dengan lemparan tiga buku tebal yang tengah dipeluknya?


Benar saja dugaan Lian dan perasaan cemas Amy yang menyeret cepat-cepat Lian.

Begitu mereka sampai di kelas, Mr. Pedo Bear langsung memelototi Lian dengan sangar dengan wajah yang memerah marah. Dan gadis itu hanya meringis lebar nan garing sebagai ekspresi rasa bersalah dan malunya.

 

Beruntunglah. Karena Lian hanya dikenai hukuman membuat rangkuman dari 3 bab Filsafat dan dikumpulkan dua hari ke depan. Itu sih, cukup ringan daripada mendapati nilai ujian akhirmu di-diskon 30 persen dan kau terpaksa mengikuti ulangan perbaikan.

 

Luhan sempat menawarkan bantuan untuk membuatkan rangkuman satu-dua bab untuknya. Tetapi tentu saja, Lian menolaknya. Selain karena pemuda itu tidaklah pantas untuk turut menanggung beban Lian, juga karena pasti gagal ketika Mr. Pedo Bear mendapati betapa berbedanya tulisan tangan mereka berdua.

 

Oh ya.Tentu saja. Tugas sialan itu harus ditulis tangan—demi Tuhan, di tengah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi seperti ini!


Aku selalu menganggap Kris indah, seperti indahnya hutan yang masih belum terjamah atau embun yang menitik di daun pagi.

Senyumnya menyihir, mampu membuatmu melupakan kesalahannya setiap kali ia bertingkah menjengkelkan. Namun yang paling berbahaya adalah tatapan matanya yang lembut, namun tajam. Aku percaya, setiap wanita yang pernah di tatapnya secara langsung akan merasa sedikit jatuh cinta padanya.

Sayangnya, aku tidak merasakan kejatuhan itu dengan kadar sedikit. Aku merasakannya dengan kadar—seperti orang gila yang tidak bisa lagi mendapatkan kewarasannya meskipun ingin.

Aku menyayangi setiap inci dari dirinya dengan cinta yang tidak menuntut apa-apa. Karena aku menyadari, aku bukanlah wanita yang pantas untuk pria sepertinya.

Tentu saja.

Aku sama sekali tidak menarik, kutu buku, kurus, dan orang asing yang tersesat di lingkup hidupnya. Sedangkan, Kris bersinar bagai mentari pagi, memiliki tawa yang menulari orang-orang yang ada di sekitarnya.

Saat itu aku tidak tahu, apakah aku sudah jatuh cinta padanya atau belum, yang kutahu jika belum adalah—bisa dipastikan aku akan jatuh cinta dengan keras detik itu juga.

Apa yang kurasakan padanya jelas tidak terasa semanis barisan puisi atau cerita roman picisan, perasaanku padanya seperti tato yang terpahat di jantung dan meninggalkan bekas yang akan selalu berdenyut perih karena ketidakmampuan untuk memiliki peredanya.

Menyakitkan. Mematikan.

Tetapi aku tidak peduli, karena aku menikmati sosoknya yang sudah terpatri.


Lian berhenti menyendok ramennya saat melihat Kris yang tengah duduk bersama dengan teman-teman satu tim basketnya. Mereka semua sedang membicarakan sesuatu yang tidak bisa Lian dengar dengan jelas,meski begitu, gadis itu tak peduli karena semua perhatiannya hanya terpusat pada Kris.

 

Lian tersenyum kecil saat memandang wajah Kris yang sekarang sedang tersenyum. Rambut cokelat keemasannya yang sudah hampir mencapai bahu membuatnya yakin kalau lagi-lagi pemuda itu lupa untuk memotongnya. Kris memang bukan termasuk orang yang memikirkan penampilannya dan selalu tampil apa adanya, namun ia selalu mampu untuk membaur dengan siapapun. Pria itu tidak menyadarinya, tapi kharisma alami yang dimilikinya benar-benar mengerikan. Hanya dengan kehadirannya, udara yang pengap bisa berubah begitu saja jadi lengang.

 

Lian hampir-hampir menjatuhkan sendoknya saat mendadak Kris tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mejanya yang berada tak jauh dari tempat pria itu duduk.

 

Selalu seperti ini.

 

Hanya dengan tatapan itu saja, cukup bagi Lian untuk melupakan segalanya.

Dan senyuman lebar itu. Serta ekspresi ceria itu. Serta tatapan hangat itu. Bahkan gadis itu tidak yakin jika detak jantungnya mampu lebih menggila dari ini.

 

Lian melengos dan kembali menurunkan tatapannya pada semangkuk ramen miliknya. Tidak baik jika iaterus-menerus memanjakan matanya hanya untuk menatap pria itu terlalu lama. Efeknya juga tak baik untuk kesehatan jantungnya. Hhh…

 

Lian berhenti mengaduk ramennya dan cepat-cepat memasukkan semua makanan ke dalam perutnya. Ia mengalihkan pandangan dan membalikkan tubuhnya. Memekik kaget saat mendapati Luhan yang berada tepat di hadapannya. “Uh, sial! Kau mengagetkanku!”

 

Luhan hanya menyeringai. “Mianhae, Li, aku terlambat mengatakannya, tapi aku ingin berterima kasih padamu.”

 

Lian mengerutkan dahi dan mendongak. “Untuk apa?” tanyanya bingung.

 

Luhan tersenyum lebar dan membuat binar di matanya tercetak jelas. “Terima kasih karena sudah membantuku mendekati Hyekyung,” akhirnya ia menjawab. Mata hitam kecoklatannya berkilat senang.

 

“Oh,” adalah hal pertama yang bisa keluar dari mulut gadis itu. Oh, begitu. Oh, hanya itu. Oh, “itu bukan masalah besar, Lu. Di mana Hyekyung?”

 

Tiba-tiba tanpa peringatan sama sekali, Luhan merengkuh tubuh Lian. Memberikan pelukan seorang sahabat yang membuat gadis itu sesak napas. “Kau benar-benar teman terbaikku, Mei Lian!” serunya. Sekujur tubuh Lian memanas karena malu. Ia yakin sekali seluruh penjuru kantin bisa mendengar suara Luhan yang—aduhai kerasnya. Rasanya gadis itu ingin tepok jidat melihat aksi Luhan yang terlalu berlebihan.

 

Luhan melepaskan pelukkannya. Dalam hati, Lian merutuki tindakan impulsif temannya itu.

“Aku akan pergi menyusul Hyekyung, dia sedang di toilet. Setelah itu kami akan pergi ke kelas bersama,” kata Luhan penuh semangat. Ia mengedipkan sebelah matanya dan pergi meninggalkan Lian begitu saja. Tidak mengajak gadis itu, padahal faktanya; mereka bertiga sekelas.

 

Lian menghela napas panjang dan berusaha mengingatkan dirinya kalau mereka (Luhan dan Hyekyung) adalah pasangan yang sangat serasi. Dan sudah seharusnya ia turut bahagia untuk kedua temannya itu, ‘kan?

 

Saat Lian hendak berbalik dan kembali ke kelas setelah makan siangnya, tanpa sengaja atensinya menangkap satu tatapan yang tertuju padanya—tatapan yang begitu iakenal, begitu familier, dan begitu… Menawan.

 

Kris.

 

Dan ini entah otak Lian yang mulai miring atau pandangan matanya agak kabur oleh debu, tetapi gadis itu sempat melihat bahwa terdapat tatapan terluka di sana—kecewa.

Kenapa?

 

Tetapi, gadis itu memilih untuk tidak memercayai penglihatannya.

 

Sebuah senyuman terlukis di bibir Lian. Dan entah bagaimana tangan kanannya terangkat tinggi dan ia sedikit terlonjak. Niatnya sih, ingin meneriakkan nama pemuda itu—namun dengan tak ada bahkan gumaman kecil keluar dari mulutnya.

 

Keningnya bertaut bersama dengan dahinya yang sedikit mengerut. Lantas, senyuman lebar di bibirnya perlahan memudar bersama dengan tangannya yang kembali luruh-seiring dengan dilihatnya Kris yang tampak berbalik dan melenggang pergi bahkan sebelum gadis itu menyapanya.

 

Dia tidak lihat atau bagaimana?

 

Tetapi Lian yakin, teramat yakin kalau pemuda itu sempat bersitatap dengannya.

 

Tapi, kenapa…

 

Apa dia marah? Mana mungkin!

Paling juga dia sedang kedatangan tamu bulanan—PLAK!

“Hhh, Mei Lian! Otakmu bahkan sudah anjlok!”

 

Sembari menggerutu dan beberapa kali mengetuk-ngetukkan kepalanya sendiri, gadis itu lantas bergegas menuju kelasnya.

 

To Be Continued…

 

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s