[FREELANCE] Salt And Wound (Chapter 4)

Salt And Wound 3-Poster 3-Home Edition

Title : Salt And Wound

Author : NadyKJI

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Romance, Rearrange Married, Hurt/Comfort, School Life

Length : Chaptered

Rating : G

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Eun Syu Rie (OC)
  • Soon

Other : Jung Eun Chae (OC), Chen, Sehun, D.O, Chanyeol, Luhan (will be added)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Annyeong readers….

Sebelum author becuap-cuap…

MAAFKAN AUTHOR KARENA BARU UPDATE LAGI! #TERSUNGKUR SUJUD

Ehehhe, mungkin karena beberapa bulan ini author memang on progress nulis dan terkena sydrome ngeblock nulis tapi di otak ada, jadinys terhambat. Juga karena author lagi buat ff duet lhoo please dibaca juga ya *promosi. But akhirna setelah banyak ini itu. Finally author update. . Finally author update.

Sekarang author ingin membahas sesuatu dulu eheheh.

Lumayan juga yang bilang alur ff ini kecepetan. Ehehe sejujurnya pas author pertama dapet ini author agak confused *ketauan lemotnya.

Tapi setelah bertapa author agak ngeh atau menyimpulkan (?) mungkinkah karena jangka waktunya yang seminggu kemudian atau gmn? Eheheh. Tenang saja ff ini masih panjang kok. Dan efek bertapa akhirnya mungkin author mendapatkan alasan knp alurnya cepat: karena masih awal dan Kai Syu Rienya masih canggung jadi hari-harinya dilewatkan dengan datar dan tanpa isiden. Ehehe, itu kesimpulan author😀

Tapi tenang saja, mulai saat ini setelah chapter 4 author akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat alur yang lebih baik lagi. Semuanya sudah author pertimbangkan dan beberapa bagian mungkin hanya untuk spoiler chapter-chapter jauh *mungkin setelah baca readers tau? Wkakakaka.

Sekian note author yang nambah-nambahin word ini😀

HAPPY READING!

Comment, kritik, dan sarannya di tunggu. Dan sejauh ini author sangat berterima kasih akan banyak comment dari pada readers. #deepbow

MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEW YEAR!!!!

___

 

-:Kai:-

Aku bersandar bosan pada pintu kayu. Mataku menatap kearah Syu Rie yang masih berdiri di tengah-tengah kamarnya, kepala gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.

Kulirik jam tanganku. Sudah 15 menit.

Tadinya aku akan membiarkannya mencari sesuatu itu sendiri. Tapi sepertinya gadis itu bahkan tidak melakukan progres apapun. Matanya mencari-cari tanpa fokus yang jelas. Aku menghela nafas berat.

“Apa yang sebenarnya kau cari?!”

Melainkan menjawab, ia menatapku sekilas dan mengigit bibirnya.

“Ck! Jawab, atau kita terlambat.”

“Aku bisa menemukannya sendiri!”

Aku beranjak dari posisiku, berjalan mendekati Syu Rie. Hanya 3 langkah lebar dan aku sudah berada di hadapannya. Mataku menatap tajam manik mata hitam itu.

“Pilihanmu adalah menjawab dan membiarkanku membantu, atau kau harus menjelaskan kepada orang tua kita kenapa kita sangat-sangat terlambat.”

Ia menatapku lama kemudian aku melihat postur tubuhnya yang semula tegap kaku menjadi lemas.

“Baiklah. Aku mencari ponselku.”

Ya! Kenapa tidak langsung bilang saja! Dengan begitu kami tidak perlu terlambat menghadiri acara makan pagi bersama dengan orang tua kami. Ya, di hari Minggu yang cerah ini – suram untukku, tiba-tiba saja eommaku meneleponku jam 6 pagi. Menyuruhku dan Syu Rie datang ke salah satu restaurant di pusat kota Seoul jam 9, dan sekarang sudah pukul sembilan kurang lima belas.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar. Rak buku, meja lampu, ranjang, meja kecil yang berisikan tumpukan buku – dan mataku berhenti di sana. Berminat aku berjalan ke arah tersebut. Tanganku mengambil satu buku teratas, melihat sesuatu yang cukup tebal dan tidak bisa di kategorikan sebagai pembatas buku. Kubuka, dan di sanalah ponsel tersebut berada. Aku berbalik menghadap gadis itu, mengacungkan benda tersebut. lalu gadis itu melangkah ringan mendekatiku, mengambil ponselnya.

“Hash… sepertinya aku menggunakannya sebagai pembatas buku kemarin malam.”

Tanpa memperdulikan perkataannya, aku langsung meraih tangan kiri Syu Rie yang bebas. Menariknya keluar kamar, menyeretnya keluar rumah. Di mana mobilku sudah menunggu. Sedikit memaksa, aku mendesaknya ke kursi penumpang – mengabaikan ekspresi mukanya yang menatapku penuh tanda tanya.

Andaikan saja ia mengetahui betapa sangat tepat waktunya ayahku – sang time keeper aku menjulukinya. Jangan pernah terlambat atau kau akan mendapatkan tatap tidak suka darinya. Jika kau hanya sekedar rekan bisnis itu kasus terburuk yang kau dapatkan. Tapi jika kau lebih dekat dengannya daripada itu… beberapa pertanyaan akan menyapamu. Aku sudah sangat hafal, mengingat masa SMPku, aku yang masih sangat pembangkang sehingga selalu terlambat di setiap kesempatan yang berurusan dengannya.

-:Syu Rie:-

“Syu Rie!”

Aku yang semula menunduk memandang kakiku yang baru saja menjejak tanah mendongak. Di sana, diambang pintu – aduh eomma, ya, eommaku menungguku diambang pintu restaurant memalukan dan tidak perlu. Wajahnya yang sudah dihiasai keriput itu menatapku dengan teduh. Cocok sekali dengan baju berwarna hijau tosca pucat yang dipakainya pagi ini.

“Eomma.” Aku menyapanya sedikit.

“Apakah tanganmu baik-baik saja?” eomma menunjuk tanganku yang masih dibalut perban tipis.

“Nan gwaenchana..” aku tersenyum ke arahnya.

“Eomeonim.”

Aku menolehkan kepalaku kilat mendengar suara yang agak berat itu memanggil eommaku dengan ‘eomeonim’ harus aku akui itu memang panggilan yang tepat. Hanya sangatjanggal mendengarnya diucapkan oleh Kai.

“Ayo masuk, semua sudah menunggu.”

Kemudian eommaku sudah menghilang ke balik pintu kaca itu, berjalan diantara lalu lalang pelayan. Kai yang memang tidak peduli denganku – hash. langsung berjalan masuk meninggalkanku. Aku menghela nafas, sedikit merasakan keningku – sepertinya agak panas dan kepalaku terkadang merasa pening. Tapi sudahlah, mungkin hanya kurang fit atau efek demamku yang lalu-lalu itu belum sembuh benar tapi sudah kuabaikan. Harus aku abaikan karena tugas sekolah sudah semakin menumpuk, membuatku harus tidur malam. Yap, tidak memberikanku sedikit pun waktu istirahat cukup.

“Syu Rie, kau cantik sekali.”

“Terima kasih, abeonim.”

Aku tersenyum miring ke arah Kai abeoji yang tiba-tiba menyapaku amat sangat ramah. Aku menarik kursi di sebelah Kai dan appaku, tempat yang tersisa mengingat aku yang datang terakhir.

“Kenapa kalian bisa terlambat?” aku mendengar nada suara Kai abeoji tidak seramah sebelumnya. Sepertinya beliau termasuk orang yang sangat teliti mengenai waktu, simpulku.

“Syu Rie kesulitan mencari ponselnya.” Kai menjawab datar tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu.

“Hmmm, benar begitu?”

“Ah, ne. Miahaeyo abeonim.” Aku sedikit mengangguk.

Jujur aku tidak begitu terbiasa dengan kehadiran Kai abeoji. Aku hanya pernah bertemu dengannya 3 kali. Saat pertama pertemuan, perjodohan, dan pernikahan. Sekarang keempat kalinya, dan sifatnya yang terlalu berwibawa membuatku minder. Berbeda dengan Kai eomma, ia terlihat ya menyerupai eommaku. Setidaknya ramah dan baik, juga sering bertemu membuatku terbiasa.

“Apa yang kau pesan?”

Aku menoleh menatap appa yang duduk disebelahku. Pakaiannya tidak jauh berbeda dengan yang dipakai oleh Kai abeoji. Khas para pengusaha tinggi, tapi setidaknya aku mengenal wajahnya – raut wajah yang sedikitnya aku mengerti sedang mencoba mencairkan kebekuan diantara kami akibat dia yang menjerumuskanku dalam pernikahan bisnis.

“Syu Rie, kau agak pucat.”

Sebelum aku sempat menjawab pertanyaan appaku, Kai eomma melontarkan kalimat itu. Tanganku refleks menyentuh pipiku.

“Benarkah eomonim? Sepertinya aku hanya tidak enak badan saja.” Ucapku tidak begitu memperhatikan apapun.

“Kalau begitu, bagaimana kalau pesan Samgyetang saja? Ada gingsengnya.” Usulnya.

Aku langsung menutup buku menuku dan mengiyakan. Setidaknya aku dihindarkan dari urusan memilih menu. Aku selalu bingung dengan menu makanan, aku selalu berhati-hati, karena pada awalnya lidahku tidak begitu cocok dengan makanan Korea. Oh, aku memang orang Korea asli, tapi sejak kecil lidahku berkhianat dengan menolerir sangat kecil rasa pedas. Aku tidak bisa memakan yang pedas terlalu banyak.

Setelah urusan memesan selesai, khas keluarga besar yang berkumpul, semuanya mengobrol. Eomma dan appaku juga orang tua Kai bahkan Kai. Ia ikut menimpali sesekali tentang perihal mengambil ahli perusahaan abeojinya, kewajiban anak laki-laki tunggal. Sedangkan aku lebih memilih diam, berkonsentrasi dengan kepalaku yang sesekali berdenyut pening. Sepertinya aku tidak akan masuk sekolah Senin, lebih baik mengikuti test susulan nanti setelah tubuhku benar-benar pulih mungkin. Hidup dengan kepala yang terkadang pening mendadak sama dengan menyiksa.

Lima belas menit kemudian.

Tak.

Aku melihat tangan seorang pelayan menyimpan satu mangkuk pesanan kami di susul yang lainnya. Mataku melihat berbagai makanan yang tersaji ditata sedemikian indahnya.

-:Author PoV:-

Kai dan Syu Rie berjalan berdampingan melewati pintu restaurant. Sementara para orang tua berjalan di belakang mereka, tidak terlalu jauh. Makan pagi keluarga telah berakhir.

Syu Rie yang sudah tidak kuat lagi menahan peningnya berjalan sedikit lebih cepat, ingin mendudukan dirinya. Pergi dari rumah malah membuat kondisinya memburuk. Dengan kepala berdenyut ia menghampiri kursi penumpang. Tangannya meraih pegangan pintu dan membukanya. Tanpa melihat ia langsung bergerak maju untuk masuk.

DUK.

Syu Rie langsung terhempas ke belakang, dengan kepala yang bagaikan segerumbul semut yang di pukul palu – tercerai berai, tidak terarah, pusing luar biasa.

“Ada apa?!”

Kai yang tepat berada di belakang Syu Rie langsung menahan tubuh Syu Rie. Kulit tangannya yang bersentuhan dengan kulit Syu Rie merasakan perbedaan suhu yang drastis. Pikirannya langsung menjadi lebih awas, matanya memperhatikan wajah Syu Rie dan akhirnya menemukan semburat merah di pipi gadis itu dengan bibir yang pucat.

Syu Rie yang tidak memperhatikan ataupun memilih mengabaikan sekitarnya hanya mengarahkan tangan ke dahinya yang baru saja terkena musibah. Ia bisa merasakan dahinya yang terasa panas dan mengusapnya perlahan untuk meredakan rasa sakit. Tiba-tiba pergerakan tangannya terhenti karena sesuatu membungkus tangannya. Sebuah tangan yang terasa dingin di dahinya juga lebih besar dari tangannya.

“Sakit?” Kai bertanya sembari merasakan suhu tubuh Syu Rie di tangannya.

“Sudah pasti…”

Kai mendengar nada bicara Syu Rie yang terkesan kau-harusnya-tahu-karena-melihat-sendiri-kejadiannya, Kai berdehem dan mengkonfirmasi ulang ucapannya.

“Maksudku kau sakit – demam?”

“Ne…” jawab Syu Rie lemas, terlalu lama berdiri sama sekali tidak membantunya. Ia masih berdiri hanya karena tubuh Kai yang menopangnya.

“Kalau kau sakit, kenapa kau tidak bilang?” nada suara Kai tidak bisa di masukkan dalam kategori khawatir maupun marah – tidak pasti.

Syu Rie refleks mengerutkan dahinya. “Untuk apa?”

“Kalau kau sakit kita tidak perlu ke sini.”

Dengan isi kepalanya yang tidak sedang dalam keadaan benar Syu Rie langsung berbicara, “Kau peduli?”

Kai terdiam sejenak, menyerap perkataan Syu Rie, kemudian memutar bola matanya.

“Jika kau sakit, aku bisa membuat rencana hari ini batal. Untuk pengetahuanmu saja, itu semua karena sebenarnya aku malas.”

Mrs. Kim melihat interaksi putranya dan Syu Rie. Kai yang menahan tubuh Syu Rie yang terhempas, dan kontak tangan putranya ke dahi Syu Rie, membuatnya tersenyum. Ia tidak bisa mendengar percakapan keduanya. Daripada memikirkan cara untuk menguping pembicaraan putranya, pikirannya sudah berpikir ke hal yang amat sangat jauh.

Ketika melihat Kai perlahan mendorong tubuh Syu Rie masuk dan menutup pintu untuk Syu Rie, Mrs.Kim memanggil Kai.

“Gwaenchana?” kata putranya begitu sampai.

“Hmm, kau tidak melakukan sesuatu pada Syu Rie bukan?” Mrs. Kim menyipitkan matanya melihat ke arah mobil yang baru saja Syu Rie masuki.

“Maksudnya eomma?” sejenak Kai masih mempertanyakan pertanyaan eommanya. Kalau ia melakukan sesuatu pada Syu Rie bukankah gadis itu tidak akan datang hari ini atau…

“… maksud eomma kalian kan suami istri tapi kalian masih sangat muda, walaupun eomma tidak keberatan menimang cucu dekat-dekat ini…”

“Ya! Apa yang eomma katakan? Syu Rie hanya demam.” Kai langsung berjalan pergi meninggalkan eommanya sebelum ia diberikan pernyataan aneh lainnya.

Mrs. Kim menatap punggung putranya menjauh.

“Ada apa?” Mrs. Kim menoleh ke arah suara berat berwibawa yang sangat dikenalnya.

“Tidak.” Mrs. Kim tersenyum menatap wajah tampan yang sudah dihiasi oleh kerutan itu. Kemudian melingkarkan lengannya di lengan pria itu.

“Hmm, jika memiliki cucu, kau ingin perempuan atau laki-laki?” tanya Mrs. Kim.

“Tidak tahu. Kenapa?”

“Hanya ingin tahu.”

Mr. Kim menggelengkan kepala, terkadang ia tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan istrinya.

_

“YA!!!!!!”

Seorang namja yang sedang bersantai sembari menonton tv menoleh ke arah suara mengagetkan dari arah pintu. Di sana berdiri seorang yeoja dengan rambut sebahu plus dress kuning pucat. Tipe yang kelewat feminim, dan nyatanya adalah adik perempuan dari namja itu.

“Ada apa?” tanya namja itu sembari menaikkan alisnya, namun masih berkonsentrasi pada acara olah raga yang tersiar di sana.

“Syu Rie-eonni menikah!”

TRAK.

“Apa????” namja itu menjatuhkan remote tv yang di genggamnya ganti melotot ke arah adiknya itu.

“Ini kenyataan! Aku sudah menelepon Syu Rie eomma tadi! Sayangnya pemberitahuannya telat sampai kesini…” tangan mungil itu mengacungkan sebuah benda persegi berwarna coklat tua.

Namja itu langsung mematikan tv. Dengan langkah lebar ia menghampiri adiknya, mengambil undangan tersebut. Selama tiga puluh detik penuh matanya menyisir setiap kata yang tercetak permanen di sana. Yang membuatnya kecewa nama Eun Syu Rie yang tertera disana tidak berubah sama sekali – bahkan hangul yang dipakai juga tidak salah.

“Argh?! Bagaimana bisa?!”

“Haha, lucu sekali. Tentu saja bisa, apa yang tidak mung… mau ke mana?”

“Pergi!”

“Apa?! Jangan bercanda!”

_

“Hei… ireona…”

Syu Rie bisa merasakan seseorang mengguncang bahunya perlahan dan berkat guncangan kecil itu sakit kepalanya yang sudah agak baikan kembali berulah. Supaya  guncangan itu berhenti dengan berat hati ia akhirnya membuka matanya.

“Wae?” Syu Rie mengerjapkan mata, menyesuaikan pandangannya dengan ruangan kamarnya yang sudah gelap – sepertinya sudah malam.

“Kau harus minum obat…”

Kali ini matanya sudah bisa mengindentifikasikan sosok Kai yang berada tidak jauh darinya… tunggu…

“Kai?”

“Ne, siapa lagi?” Kai menjawab Syu Rie dengan nada datar. Kalau saja ini bukan hari minggu, ia pasti tidak perlu menyodorkan obat untuk gadis dihadapannya. Tetapi nyatanya ini hari minggu dan pembantu yang ditugaskan mengurus rumah tidak datang pada hari minggu. Mungkin ia tidak terlalu peduli dengan keberadaan Syu Rie – tapi ia masih manusia. Bagaimanapun orang sakit harus dirawat.

“Ppali, ayo minum obatnya.” Kai menyodorkan pil kepada Syu Rie.

“Tapi aku belum makan… tidak boleh minum obat sebelum makan.” Syu Rie memang dibesarkan dengan aturan yang ketat dalam hidupnya. Hal terpenting yang selalu diingatnya adalah makan sebelum minum obat – hal yang selalu diajarkan eommanya.

Kai memutar bola matanya, “Baiklah, ada sup di dapur. Bagaimana?”

“Hmm, aku turun.”

Syu Rie meluncur turun dari ranjangnya, sayang keseimbangan dan keadaan kepalanya masih tidak bagus.

BRUK.

Kaki Syu Rie tidak kuat menopang tubuhnya, sedangkan Kai yang tidak terlalu siap dengan keadaan ikut terjatuh. Tubuh Kai menjadi bantal bagi Syu Rie, wajah mereka begitu dekat, dan Kai bisa merasakan kulit Syu Rie yang masih panas.

“Ya… bagaimana demam bisa separah ini?”

Kai menggerutu sembari mengangkat Syu Rie dan memapahnya keluar dari kamar.

“Mian…”

“Tidak apa-apa…” jawab Kai singkat.

Syu Rie yang tidak begitu mengenal seorang Kai menganggap kalau namja yang berada disebelahnya itu marah, “Sungguh… maaf. Aku memang tidak bisa menjaga diri dengan baik.”

Kai yang awalnya tidak terlalu mempermasalahkan atau memang tidak memikirkan apapun jadi tertarik, ia belum pernah mendengar Syu Rie berkata panjang lebar sebelumnya, “Lalukenapa kau masuk sekolah? Bukankah kau bisa tinggal dirumah dan istirahat total, sekalian dengan luka lenganmu?”

“Tidak, aku tidak suka ketinggalan pelajaran, dan luka ini? Ini juga karena sakit kepala… aku jadi hilang konsntrasi.”

“Mwo? Selama itu kau sakit?” 2-3 hari kalau tidak salah, pikir Kai.

“Ne…”

“Hah. Kau kuat juga bisa bertahan. Yeoja lain pasti sudah terbaring di rumah sakit.”

Syu Rie mendengar suara Kai yang terdengar agak sinis, matanya mengikuti pergerakan namja itu yang menyerahkan mangkuk ke arahnya.

“Kau sinis?” Syu Rie mengambil mangkuk dari tangan Kai, kemudian menyendok sup dari panci yang berada tak jauh darinya – Kai cukup baik hati memindahkannya agar terjangkau olehnya.

“Senyummu palsu.” Balas Kai.

“Dikelilingi dengan perintah dan paksaan? Tidak ada yang bisa membuatku tersenyum tulus.” Syu Rie mengaduk-aduk supnya.

“Dan dikelilingin oleh yeoja-yeoja berisik juga yeoja yang berbohong, bagaimana kau tidak sinis? Sangat mengganggu.” Kai berkata sembari mengambil jus dingin dari refrigator.

Yeoja yang berbohong? Syu Rie mengernyitkan dahinya. Tapi tidak berapa lama, Syu Rie sudah teralihkan perhatiannya – kepalanya masih berdenyut. Membuatnya ingin segera tidur.

“Hei.. kau bisa naik sendiri?”

“Wae?” Syu Rie menatap Kai yang baru selesai menuangkan jus pada gelasnya.

“Hanya tidak ingin melihat tragedi baru – seperti kau terjatuh dari tangga dan sebagainya.”

Syu Rie berdecak kesal, “Tidak perlu. Setelah makan mungkin aku akan sedikit lebih sehat.”

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menonton TV.”

Kai berlalu dari dapur, beberapa lama setelahnya Syu Rie dapat mendengar suara TV menyala, mungkin acara olah raga. Tidak menghiraukannya Syu Rie menyuap sedikit-sedikit sup dari mangkuk. Lidahnya yang terasa pahit menurunkan selera makannya.

_

Blam.

Kai mendengar suara pintu dari lantai atas tertutup.

Ternyata dia sanggup…

Meninggalkan gelas jusnya di meja. Kai kemudian beranjak, jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam dan ia ingin membaringkan diri diranjang. Tubuhnya cukup lelah dan ia ingin bersantai sekedar untuk mendengarkan musik.

-:Syu Rie:-

“Pagi, Ahreum…” Aku meletakkan ranselku di sofa sembari menyapa Ahreum yang sedang menata meja. Ahreum adalah namanya setelah aku sempat bertanya, pembantu di sini, sekaligus gadis yang pada hari pertama membangunkanku.

Kemudian aku beranjak ke dapur. Aku akan sekolah. Setelah makan dan minum obat demamku sudah hilang. Jadi aku akan pergi ke sekolah, tentu saja kali ini aku sudah memastikan kalau aku sudah benar-benar sehat.

“Nona, ada bubur di dapur, kata tuan, nona kemarin sakit. Jadi tuan menyuruh saya memasak untuk nona sebelum pergi.”

Aku menghentikan langkahku, menoleh ke arah Ahreum, “Jinjja?”

“Ne. Makanlah nona, jangan sampai nona melewatkan makan pagi.”

Aku hanya dapat berkata ‘oh’ dengan sangat pelan. Kai yang menyuruh Ahreum? Tidak aku sangka.

“Baiklah, gomawo ne.”

_

Aku langsung turun dari mobil, melangkahkan kakiku mendekati lingkungan sekolah dan menelusuri lorong-lorong yang sudah ramai oleh aktifitas.

“Syu Rie-ah!”

“Syu Rie-ssi.”

Ash. Ada apa ini? Kenapa bisa dua orang sekaligus harus memanggilku?

Aku melihat seorang Eun Chae melambai ke arahku diantara teman-temannya. Di sisi lain dengan ekor mataku, aku dapat melihat seorang namja yang baru saja keluar dari ruang osis… yang, kebetulan berada di depanku baru saja memanggilku.

Aku terdiam. Pilihanku hanya dua. Menanggapi namja itu atau Eun Chae. Namja itu pasti hanya memiliki sedikit urusan. Eun Chae, jika aku menanggapinya sekali jelas ia akan semakin gencar mendekatiku.

Aku memjamkan mata dan mengambil nafas panjang, oke.

Aku berbalik menghadap namja asing itu.

“Apa?”

“Euhmm, joneun Kim Junmyeon imnida. Ketua student council. Ini perihal mengenai semacam show case yang akan diadakan dua bulan lagi.” Katanya sembari menyalami tanganku.

“Ne… lalu apa hubungannya denganku?” tanyaku.

“Kudengar kau bisa memainkan piano. Kau di minta mengisi dan jika kau tidak keberatan bagaimana kalau kita bicara lebih lanjut di ruang musik? Sudah ada mungkin, patnermu – kami ingin merancang duet.”

“Boleh.”

Maka dengan itu aku mengikuti namja berseragam rapih itu menuju ruang musik. Aneh juga dia bisa mengetahui kalau aku bisa bermain piano. Aku bermain piano, tentu saja karena eomma dan appa yang membuatku melakukannya.

Ruang musik tidaklah jauh. Maka aku dan Junmyeon-ssi sampai dengan cepat. Namja itu membuka pintu ruang musik dan aku berjalan masuk bersamanya. Mataku masih melihat-lihat ruang musik…

“Kai.”

Aku langsung menoleh cepat.

“Syu Rie-ssi, ini Kai, yang akan menjadi patnermu.” Katanya sembari tersenyum.

“Nde?”

“Hmm, bagaimana kalau kau bermain piano dulu? Untuk seleksi.” Bukan Junmyeon melainkan Kai yang berkata. Aku menatap wajahnya yang datar dan menggertakkan gigi.

“Betul juga. Bagaimana kalau kau mencoba Syu Rie-ssi?”

Aku meletakkan tasku dikursi terdekat dan berjalan menuju grand piano berwarna hitam. Perlahan aku duduk, jari-jariku menyentuh tuts piano. Aku memejamkan mataku, dan tanganku mulai menekan tuts-tuts yang terasa halus dan dingin.

TO BE CONTINUE…

 

16 thoughts on “[FREELANCE] Salt And Wound (Chapter 4)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s