Beauty & Beast – Chapter 12

BB

Beauty & Beast – Chapter 12

Author: Choi Seung Jin @kissthedeer

Genre: Fantasy, Historical, Supernatural, OOC, AU

Leght: Chaptered

Main Cast:

EXO in English Name

Cameo:

Victoria f(x) as Victoria

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Black Pearl | Chapter 11

  Note:

Sorry for typos

 ****

****

Untuk kesekian kalinya, Leo kembali membuka matanya yang sangat berat. Kesadarannya tidak bisa sepenuhnya terkumpul secepat biasanya. Butuh waktu berberapa menit untuknya agar benar-benar sadar.

Dalam waktu sepersekian detik, Leo berpikir dia ada di Rumah Sakit seperti yang sudah sering ia alami. Namun ia sadar kalau ia salah saat pandangannya menangkap gambaran langit-langit rumah biasa berwarna biru langit.

Leo mencoba untuk duduk meski rasa sakit dan pusing menyerang kepalanya seperti ribuan jarum yang menusuk hanya untuk tahu dia ada dimana. Dia ada di sebuah kamar. Bukan kamarnya ataupun kamar lain yang ada di asrama. Kamar itu tidak begitu besar namun terlihat nyaman.

Rasa penasarannya tidak habis sampai disini. Leo berusaha bangkit dari ranjang– yang entah punya siapa– demi mengetahui dimana dia berada sekarang. Dia takut, dia ada ditempat musuh dan sudah menjadi tawanan mereka. Jika hal itu benar, hal paling buruk yang mungkin terjadi adalah kekuatannya sudah diambil.

Dia berjalan menuju pintu dengan memegangi semua benda yang bisa ia gunakan untuk membantunya berjalan. Kursi, meja, bahkan lemari sampai ia berhasil meraih kenop pintu kayu berwarna coklat gelap. Dia langsung terjatuh tepat saat pintu terbuka.

“Astaga, Leo!” Suara laki-laki yang terdengar terkejut adalah suara yang pertama kali Leo dengar selama 10 menit terakhir. Laki-laki itu membantu tubuh Leo yang sedang bersusah payah untuk bangun dengan kondisi yang masih lemah.

“Paman?” Kata Leo pelan. “Bukannya paman ini—”

“Kita bisa bicarakan nanti.” Laki-laki itu cepat menuntun Leo kembali ke ranjang yang sebelumnya digunakan oleh Leo selama tidur panjangnya di rumah ini berberapa hari belakangan.

“Istirahatlah dulu. Keadaanmu belum sepenuhnya pulih.”

Leo hanya menurut saja untuk kembali berbaring di atas ranjang asing yang ada di rumah yang juga asing.

“Bukannya paman ini ayahnya Amy? Benar, kan?” Ucap Leo yang berhasil mengenali sosok laki-laki yang ada di hadapannya.

“Kita pernah bertemu, kan? Saat kau mengantarkan Amelia pulang,” kata Mr. George seraya menarik sebuah kursi ke sisi ranjang.

“Sudah berapa lama aku disini? Apa yang terjadi?” Tanya Leo bingung. Dia hampir tidak bisa mengingat apa yang terjadi sampai dia ada di rumah Amy dan… “Apa yang lain tahu aku disini?”

“Kau sudah hampir 3 hari disini. Aku menemukanmu tergeletak pingsan ditengah jalan saat hujan deras. Kau benar-benar tidak ingat?” Ujar Mr. George. Leo menggeleng pelan sedikit ragu. Dia bingung bagaimana bisa dia tergeletak begitu saja di tengah jalan saat terjadi hujan deras. “Tidak ada yang tahu kau disini. Bahkan Jim temanku. Aku sengaja tidak memberi tahu mereka.”

Mr. George beranjak keluar sebentar, mengambil sepiring roti dan segelas air. Hanya itu yang bisa ia hidangkan untuk Leo. Dia tidak bisa memasak. Bahkan untuk memasak bubur saja dia tidak bisa. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membeli makanan, seperti roti ini.

“Makanlah ini. Kau sudah hampir seminggu tidak makan,” ucapnya sambil memberikan piring berisikan roti itu kepada Leo.

“Apa yang terjadi padaku?” Tanya Leo lagi. Wajar saja dia banyak bertanya seperti orang yang habis lupa ingatan. Dia, kan sudah tak sadarkan diri selama hampir 6 hari.

“Tenagamu habis. Kekuatanmu juga melemah. Hal itu membuatmu tak sadarkan diri seperti orang mati selama berhari-hari. Jim sempat panik karena kau tiba-tiba kabur dari Rumah Sakit dan menghilang. Sampai kau ku temukan pingsan di tengah hujan badai di malam kau kabur,” kata Mr. George menjelaskan.

“Aku…kabur?” Ulang Leo seakan kaget.

“Iya. Kau tidak ingat?” Leo menggeleng cepat. “Tapi setidaknya ada kabar baik dari salah satu temanmu.”

“Kabar bagus apa?”

“Temanmu Edison sudah kembali…” Kata Mr. George. “…dari masa lalu,” sambungnya.

“Kapan dia kembali?” Tanya Leo terdengar kaget.

“Dua hari yang lalu. Dia pergi ke masa lalu untuk mempelajari tentang Mortem dan membuat ulang pedangnya dengan perak murni. Saat dia kembali, sebenarnya dia mencarimu, tapi kau sudah tidak ada,” ujar Mr. George menjelaskan.

“Aku harus kembali ke sekolah—” Leo mencoba berdiri lagi, namun Mr. George segera menahannya.

“Jangan! Kau harus tetap disini!” Cegah Mr. George.

“Tapi sampai kapan, paman?” Tanya Leo.

“Sampai waktu yang tepat, tentunya. Bahkan saat perang terjadi kalau perlu.”

****

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 3 sore. Sebentar lagi bell pelajaran selesai akan segera berdering. Kevin berdiri dan menunggu di depan kelas bahasa, kelas yang ia yakini di dalamnya ada Jessica yang duduk di salah satu kursi dan sedang belajar bahasa Inggris sesuai jadwal gadis itu setiap hari Selasa.

Kevin berniat meminta maaf pada gadis itu atas sikapnya berberapa waktu lalu. Dia yakin, dia telah menyakiti hati Jessica karena kata-kata kasarnya. Hal ini selalu menggangu hatinya selama berhari-hari meski dia berusaha melupakannya. Dia tidak bisa hidup tenang jika belum mendapatkan maaf dari gadis itu.

Dia terus melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, menunggu sampai jarum panjang tepat menunjuk angka 12. Dia gelisah sekaligus gugup. Bahkan dia takut jika apa yang ia dapat nanti tidak sesuai dengan harapannya.

Kevin berniat menunjukkan apa yang ada di dalam dirinya jika Jessica tidak bisa atau bahkan tidak mau memaafkannya. Dengan begitu mungkin Jessica akan mengerti kondisinya sekarang yang membuat mereka tidak bisa terus bersama.

Diliriknya lagi arlojinya yang masih menunjukkan waktu 14.56 yang artinya kurang dari 5 menit lagi bell akan segera berbunyi dan kelas dibubarkan. Dia semakin gugup. Jantungnya berdebar tak menentu, membayangkan ekspresi gadis yang selama hampir 15 menit ditunggunya melihat wajahnya yang berdiri di depan pintu dan menunggu gadis itu.

.

.

Kringg… Kringg… Kringg…

.

.

Bell berdering tiga kali menandakan pelajaran telah selesai untuk hari ini. Kevin bersiap menghadapi Jessica saat gadis itu keluar melawati pintu kelas. Mencoba meminta maaf dan menjelaskan semuanya.

Pintu kelas bahasa terbuka dan murid-murid lain mulai keluar melewati pintu itu. Kevin memperhatikan satu-persatu anak yang keluar, namun tak satupun dari mereka adalah Jessica. Dia berusaha mencari dengan teliti namun gadis itu tetap tidak ada. Sampai dia melihat Victoria, salah satu teman terdekat Jessica.

“VICT!” Teriak Kevin memanggil seorang gadis berambut coklat bergelombang yang poninya diikat ke belakang.

“Lho? Kevin? Ada apa?” Kata gadis itu. Victoria menghampiri pria jangkung yang sudah lama berdiri di depan pintu.

“Jessica mana?” Tanya Kevin langsung.

“Jessica sudah lebih dari seminggu tidak masuk sekolah.”

“What?” Ucap Kevin spontan karena kaget. “Seminggu?”

“Iya. Sudah lebih dari seminggu dia tidak masuk sekolah. Bahkan tidak kembali ke asrama. Kupikir dia keluar dan pindah sekolah, tapi dia tidak memberi kabar sama sekali,” ujar Victoria.

Kevin shock berat seakan kepalanya baru saja dipukul secara keras dengan sebuah benda berat. Dia tidak bisa berkata apa-apa saat tahu kalau Jessica sudah pindah sekolah. Dia bahkan belum sempat minta maaf pada gadis dan gadis itu sudah pergi.

“Kau…tidak tahu dia pindah kemana?” Tanya Kevin masih dalam keadaan shock.

“Sudah ku katakan tadi. Dia sama sekali tidak memberi kabar,” kata Victoria. “I’m sorry.”

Kevin kini dilanda kesedihan yang bercampur dengan rasa galau dan menyesal. Dia merasa Jessica pergi akibat perlakuannya sendiri pada gadis itu. Dia memang telah melakukan hal yang kejam pada seorang gadis yang dicintainya. Dan sekarang dia hanya bisa menyesalinya saat gadis itu telah pergi. Bahkan untuk sekedar minta maaf pun dia sudah tidak punya kesempatan.

“Kevin,” panggil Victoria sebelum laki-laki jangkung itu melangkah meninggalkannya.

Kevin berbalik dan menrespon panggilan itu. “Ya?”

“Hmm.. Apa Will baik-baik saja? Sejak kematian Amy, dia tidak pernah mau bicara kecuali jika disuruh oleh guru. Apa dia masih sedih?” Victoria terlihat khawatir saat menanyakan keadaan Will yang terkesan jadi pendiam sejak kematian Amy. Sudah menjadi rahasia umum kalau Victoria menyukai Will sejak kelas 10 sampai sekarang. Namun gadis itu selalu merasa tidak punya kesempatan karena Will lebih menyukai Amy.

“Dia baik. Dia hanya sedikit shock. Dia akan baik-baik saja. Tak perlu khawatir, Vict.” Kevin memaksakan untuk tersenyum supaya gadis yang ada dihadapannya tidak merasa sedih seperti apa yang ia rasakan sekarang, mencoba menghibur diri dengan cara menghibur orang lain. Karena hal itu dapat meringankan rasa sakit yang menyerang hatinya.

****

Seharian ini, Leo hanya bisa berbaring di atas ranjang. Mr. George melarangnya untuk beranjak dari tempat tidur, apalagi untuk keluar kamar. Dia masih harus banyak istirahat dan mengembalikan seluruh kekuatannya yang sempat hilang.

Sebenarnya, dia sendiri penasaran kamar milik siapa yang ia tempati sekarang. Pada awalnya dia mengira kamar ini adalah kamar Mr. George. Tapi jika diperhatikan lagi…

Kamar ini terlihat terlalu feminim untuk Mr. George. Ada berberapa barang yang biasanya hanya dimiliki oleh anak perempuan. Patung unicorn kecil, buku-buku cerita, dan sebuah dream catcher. Di salah satu sisi kamar ada sebuah meja dengan sebuah kursi berwarna putih. Di atas meja itu ada berberapa buku dan sebuah kamera polaroid.

Apa jangan-jangan kamar ini adalah kamar Amy? Satu-satu perempuan yang pernah tinggal di rumah ini, kan hanya Amy. Dan Leo baru menyadari itu.

Kamar ini benar-benar kamar Amy. Leo tambah yakin saat melihat sebuah figura kecil di atas meja yang menampilkan sebuah foto Amy dan Mr. George. Mereka berdiri berdampingan. Amy mengenakan seragam sekolah. Rambutnya masih sama, pirang ikal yang ditata rapi, terlihat cantik seperti biasanya. Gadis itu tersenyum, begitu pula Mr. George.

Dalam hatinya, Leo sangat merindukan senyuman itu. Bahkan saat terakhir dia melihat Amy, dia sama sekali tidak melihat gadis itu tersenyum. Yang dilihatnya saat itu adalah kesedihan dan air mata.

Amy’s Daily Journal. Sebuah judul buku berhasil menarik perhatian Leo. Buku itu berwarna biru dengan tulisan bertinta hitam diatasnya. Ini buku diary Amy. Ingin rasanya Leo membaca buku itu.

20st December, 1982

Hari ini aku bertemu dengan Leo di hutan. Dia murid baru di kelasku. Dia adalah orang yang baik dan enak diajak ngobrol. Dia berasal dari London, tempat yang selama ini ku mimpikan untuk pergi.

By the way, salju pertama tahun ini jatuh di hidung Leo. Berbeda sekali dengan tahun kemarin. Tahun kemarin, salju pertama yang turun tahun lalu tidak sengaja diinjak oleh Will. Ha ha ha..

Leo berjanji ingin mengajakku ke London dan melihat Big Ban. Aku senang sekali. Semoga dia bisa menepati janjinya.

Hari ini akan menjadi hari yang indah, tapi Will marah padaku. Dia marah karena aku tidak melewatkan malam turunnya salju dengannya dan memilih bersama Leo. Sebenarnya itu salahnya sendiri. Dia bilang, dia tidak bisa pergi ke hutan bersamaku. Tapi tiba-tiba dia datang ke hutan dan marah.

.

26th December, 1982

Hari ini sangat menegangkan. Seorang vampire bernama Sulli menyerangku dan Leo. Leo terluka parah dengan tulang punggungnya yang retak dan hampir patah. Beruntung, vampire itu tidak bisa melukai ku. Tapi hal itu harus membuat Leo dirawat di Rumah Sakit selama berberapa hari.

Leo dan Will ternyata adalah werewolf. Mereka bisa berubah menjadi serigala raksasa yang mengerikan. Tapi hari ini Will menunjukkan kalau dia bukan werewolf yang berbahaya. Dia bersikap seperti anak anjing di depan ku. Dia sangat lucu.

.

15th January, 1983

Rahasia ku terbongkar. Semua tahu aku half-vampire. Bahkan Leo sekarang membenciku. Padahal Will sudah berusaha melindungi rahasia ku ini. Seandainya Leo bisa mengerti dan tahu kalau aku bukan bagian dari para vampire…

.

Diary itu habis sampai disitu. Tidak ada lagi selain catatan tanggal 15 Januari. Hari itu memang hari dimana Leo tahu tentang Amy yang sebenarnya. Seharusnya dia tahu kalau Amy bukan bagian dari para vampire itu. Seharusnya juga dia tahu bagaimana perasaan gadis itu saat tahu kalau dia membecinya.

“Bodoh..” Gumam Leo menghina kebodohannya sendiri. Dia merasa kalau dia adalah manusia paling bodoh yang pernah ada di bumi ini.

“Kau tidak bodoh, nak.”

Mr. George—entah sejak kapan berdiri di depan pintu—menanggapi sebuah kata yang baru saja keluar dari mulut Leo. Dia menghampiri Leo yang kaget melihat kedatangannya yang terkesan tiba-tiba.

“Paman…” Kata Leo.

“Amy anak yang baik. Aku bersyukur bisa mempunyai malaikat kecil yang selalu bisa membuat hatiku senang,” ujar Mr. George melihat Leo sedang membaca diary anak perempuannya yang kini telah tiada.

“Aku tidak bermaksud membacanya—” kata Leo yang kembali menutup buku diary berwarna biru itu.

“Tak apa. Amy selalu melarangku untuk membaca buku itu. Tapi sekarang dia sudah tidak ada. Apa salahnya kan jika buku itu bisa aku ataupun kau baca.” Mr. George terkekeh, membayangkan saat-saat dimana Amy akan selalu marah jika ayahnya menyentuh buku diary itu. Hal itu salah satu kenangan yang tidak bisa Mr. George lupakan. “Lagipula, dia meninggalkan sesuatu untukmu. Aku selipkan di halaman paling belakang.”

Mendengar hal itu, Leo langsung membuka halaman paling belakang buku biru itu. Sebuah kertas yang lipat terselip disana seperti yang dikatakan Mr. George. Sebuah surat terakhir yang dibuat Amy, yang hanya ditujukan untuk Leo, orang yang tidak bisa ia temui disaat-saat terakhirnya.

.

Leo, aku minta maaf.

Aku minta maaf karena tidak jujur padamu.

Jika saja kamu bisa mengerti.

Aku mohon, jangan membenciku.

Don’t hate me.

Aku bukan vampire jahat.

.

Isi surat ini sangat singkat. Enam kalimat, namun setiap kalimat memiliki makna yang dalam tentang perasaan seorang Amy. Amy sedang menangis sangat menulis surat ini. Terlihat dari bekas tetesan seperti air yan sudah mengering. Kertasnya pun sedikit rusak karena basah.

“Aku… Aku salah. Aku salah tentangnya,” gumam Leo penuh penyesalan setelah membaca surat itu. Dia telah salah menilai. Kebenciannya pada vampire membutakan pandangannya pada sosok Amy yang tak berdosa dan sekarang yang bisa ia lakukan hanya menyesali perbuatannya yang tidak bisa diperbaiki karena waktu tidak akan pernah bisa diulang.

“Malam itu, Amelia pulang. Dia terlihat sangat sedih sampai akhirnya dia menangis. Dia bilang, kau marah padanya,” ujar Mr. George.

“Jujur saja. Malam itu adalah malam terakhirku melihat Amelia dalam kondisi hidup.”

Mr. George mulai menangis jika terus mengingat Amy yang kini hanya tinggal kenangan. Anak satu-satunya yang ia miliki sudah pergi ke tempat yang lebih baik, meninggalkannya sendirian menyusul ibunya yang sudah pergi lebih dulu.

“Aku ingat…saat aku pertama kali menggendongnya. Dia begitu manis dan cantik seperti ibunya. Dia menangis saat itu, tentu saja.

“Ibunya Amelia saat itu sedang pergi untuk mengembalikan berberapa buku yang ku pinjam dari perpustakaan desa. Aku sudah katakan padanya agar aku saja yang mengembalikan buku-buku itu, tapi dia memaksa karena dia tahu sedang sibuk.

“Seorang vampire bernama Sulli menyerang istriku yang sedang hamil 8 bulan. Racunnya cepat menjalar sampai ke bayi yang dia kandung. Dia meninggal karena racun yang infeksikan Sulli terlalu banyak sehingga membunuhnya. Bayiku selamat, tapi dia mengalami kelainan. Racun vampire berhasil menginfeksi bayiku dan membuatnya menjadi setengah vampire.

“Jim, sebagai teman lamaku menuntunku untuk tetap membesarkan bayi kecilku. Dia memberitahuku semua yang harus ku lakukan. Dia juga yang menyuruhku untuk menyekolahkan Amelia di tempatnya dan terus memantau perkembangan Amelia dari tahun ke tahun.

“Amelia tumbuh dengan baik. Rasa hausnya akan darah sangat mudah dikendalikan, setidaknya jika dia minum darah secara berkala dan teratur. Padahal… tahun ini adalah tahun dimana pertumbuhan dan penuaannya berhenti. Dia akan terus terlihat seperti anak 17 tahun selama hidupnya yang akan sangat panjang.

“Aku mendengar tentang tindakkan Sir Arthur yang mengurung 12 monster di dalam jiwa 12 bayi laki-laki. Ku pikir hal itu sangat baik karena dengan begitu Amelia jadi punya teman yang juga sama-sama berbeda. Lalu dia bertemu William di kelas 3. Saat William tahu kalau Amelia adalah setengah vampire, bukannya marah ataupun takut, dia justru senang dan kegirangan. Saat itu mereka masih kelas 5. William bilang, dia senang punya teman yang setengah vampire karena dia suka dengan vampire.

“Tapi sayangnya Amelia pergi sangat cepat. Dia belum sempat menjelajah dunia yang luas ini. Dia sangat senang saat kau berencana mengajaknya ke London. Aku sengaja tidak pernah membawanya ke London karena aku khawatir terjadi sesuatu hal yang tidak menyenangkan terjadi saat kami tiba di London.”

Mr. George menghentikan ceritanya. Rasanya cukup untuk mengeluarkan semua curhatannya yang jika terus diingat akan terasa menyedihkan. Dia menghapus air matanya yang sudah berberapa kali jatuh dari matanya dibalik sepasang kacamata bulat.

“Saya… Saya minta maaf, paman. Jika saja saya tidak keras kepala, mungkin—” Leo merasa sangat bersalah. Jika saja dia tidak keras kepala, mungkin Amy masih hidup sekarang.

“Kau tidak salah. Tidak ada yang bisa disalahkan. Ini semua, mungkin sudah takdir,” kata Mr. George yang terdengar sudah pasrah. Dia tidak ingin memikirkan tentang penyesalan lagi.

“Aah!” Tiba-tiba Leo merintih kesakitan. Kepalanya terasa sakit seperti habis disambar petir besar.

Mr.George yang melihat hal itu langsung panik. “Leo, kau kenapa?”

.

Amy berdiri dihadapan dua orang vampire yang sudah siap untuk mencabut nyawanya. Minho mengacungkan sebuah belati perak lurus mengarah ke tempat jantung Amy berada.

“Kau tetap akan menyerang teman-temanku jika aku sudah mati?” ucap Amy dengan tatapan tajam pada malaikat pencabut nyawanya.

Minho tersenyum sinis. “Tentu saja. Rencanaku akan terus berjalan. Ku harapa mereka siap saat bulan menghilang nanti.”

.

Pikiran Leo memutar sendiri bagian ingatan terakhir Amy yang sudah tersimpan di otaknya. Bagian dari rencana Minho berhasil diketahui. Namun Leo sendiri tidak cukup kuat untuk memutar semua ingatan Amy. Hal itu karena kekuatan belum sepenuhnya kembali.

“Ada apa? Apa yang kau lihat?” tanya Mr. George yang mengetahui kalau Leo sedang melihat sesuatu.

“Apa yang dimaksud bulan menghilang?” tanya Leo sebagai jawaban untuk Mr. George. Sesuatu tentang bulan menghilang adalah kunci hari serangan para vampire.

“Bulan hilang? Kenapa dengan bulan menghilang? Apa ada hubungannya dengan Minho?” ucap Mr. George.

“Minho… Dia akan menyerang saat bulan menghilang.”

****

“BULAN MENGHILANG??” ucap kesebelas Wolf Boys serentak. Mereka berkumpul di ruang kepala sekolah dengan Mr. George dan Pak Jim.

Setelah Mr. George memberitahukan tentang informasi yang dia ketahui, Pak Jim segera megumpulkan kesebelas Wolf Boys dan membicarakan tentang informasi ini. Informasi yang mengatakan kalau Minho akan menyerang pada hari dengan petunjuk ‘Bulan Menghilang’.

“Maksudnya bulan menghilang apa?” tanya Bernard bingung.

Pak Jim terlihat sedang berpikir keras tentang petunjuk ganjal itu. Apa maksudnya bulan menghilang dan dalam artian apa ‘menghilang’ dalam hal ini. Tidak mungkin jika yang dimaksud adalah Minho berusaha menghilangkan bulan yang besarnya luar biasa di galaxy sana.

“Apa mungkin maksudnya saat posisi bulan, bumi dan matahari sejajar?” celetuk Kevin menganalisis.

“Maksudnya?” ucap Richard tidak mengerti.

“Ada saatnya dimana posisi bulan, bumi dan matahari berada dalam posisi sejajar. Pada saat seperti itu bulan terlihat seakan menghilang karena cahaya matahari yang seharusnya terpantul pada bulan tertutup oleh bayangan bumi. Hal ini juga biasa disebut gerhana bulan total,” kata Edison menjelaskan apa yang dimaksud Kevin atau lebih tepat dengan gerhana bulan.

“Mungkin Minho mengincar kelemahan kita saat tidak ada yang namanya bulan karena kekuatan kita berasal dari bulan,” sambung Edison lagi.

“Ya. Mungkin itu lah rencana,” kata Pak Jim setuju dan sependapat bahwa Minho akan menyerang saat bulan purnama dimana itu adalah kelemahan para werewolf.

Berberapa dari wolf Boys kaget. Jika tidak ada bulan dan kekuatan mereka melemah, bagaimana mereka melawan Minho? Bisa-bisa mereka kalah.

“La..lu, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi dan kita kalah?” kata Thomas yang terdengar  takut.

“Gerhana bulan biasanya diiringi dengan gerhana matahari. Jika seandainya Minho menyerang saat gerhana bulan terjadi, kita bisa mengulur waktu sampai gerhana matahari,” ujar Will memberi usul.

“Kita tidak bisa mengulur waktu sebanyak itu. Jika benar akan ada gerhana matahari setelah gerhana bulan, sangat sulit untuk mengulur waktu sebanyak itu hanya untuk mendapat kekuatan bulan kembali,” kata Alex mengungkapkan ketidaksetujuannya.

“Kita masih punya kesempatan,” celetuk Francis ditengah kekhawatran 13 orang di ruangan ini. “Tidak adanya bulan hanya melemahkan kita dalam berubah menjadi werewolf, kan? Itu artinya kekuatan kita tidak akan ikut melemah. Kita masih bisa mengalahkan mereka.”

Yang dimaksudkan Francis adalah gerhana bulan hanya akan melemahkan mereka untuk berubah menjadi serigala raksasa. Namun tidak dengan kekuatan supranatural mereka yang tidak akan pernah terpengaruh oleh adanya bulan atau tidak.

“Lalu, kapan gerhana bulan itu terjadi?” tanya Stephan.

“It’s three days left!” seru Donald sambil menunjukkan halaman depan sebuah koran yang bertuliskan besar ASTRONOMI: GERHANA BULAN 3 HARI LAGI.

To be continue

 

****

Annyeong readers^^ Jinnie pacarnya Luhan yang cantik kembali lagi #plakk #bubar

Jengg.. Jengg… Jengg… Gimana chapter 12 nya? Tambah bikin penasaran gak? Semakin mendekati Final Chapter nih^0^ Chapter 14 adalah Finalnya!!! Yang udah gak sabar mana suaranya???!!! ^0^)/ Kalau jadi, nanti Jinnie mau buat Epilog setelah chapter 14. Tapi itu kalau readers mau^^

Jinnie mau diem dulu ah buat final chapterya biar readers pada penasaran. Jinnie gak akan keluarin bocoran2 biar readers tambah penasahan^^ *ketawa evil* hahahahah…

See you on next chapter^^

9 thoughts on “Beauty & Beast – Chapter 12

  1. HUAAAA PART INI PENUH PLESBECK T.T
    hancur hatiku baca pas adegan plesbeck Leo sm ayahnya Amy<//3 *gaje, abaikan*

    DITUNGGU PART SELANJUTNYA! Sumveh aku penasaran sama hilangnya Jessie-.-
    epilog? Maumauuu!

  2. . sebelumnya maaf . saya mau mengomentari BB side story’y Tao dulu (maklum baru baca)😀 oo~~ jadi tao pergi ke masa lalu . ya udah . :3 . selesai😄
    kekeke~~ Leonardo de caprio /? ternyata pingsan dn di tampung /? ama appa’y amy . oke”😀
    wah, bentar lagi perang . siapkan obor /? .
    okei, dripda gue bnyak ngomong . yuk cuz dilanjut😄 .
    Fighting Jinnie pacarnya Luhan . tapi sayang Luhan udah jdi suami sah gue :3 #plak😄

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s