[FREELANCE] My Wish

My Wish

Title:My Wish

Author: NadyKJI

Main Cast:Kim Jongdae, Gong Min Young (OC)

Support Cast:Oh Sehun, Shin Rae Ah (OC)

Genre: Romance, Life

Rating: G

~*~

Aku tidak pernah menyambut bulan Desember.

Aku tidak menyukai natal.

Tapi aku selalu berharap, sekali saja pada santa, untuk mewujudkan permohonanku.

Namun… Desember ini, natal ini, mungkin akan menjadi yang terakhir untukku mengharapkan keajaiban yang selalu kupinta, setelah bertahun-tahun yang melelahkan.

~*~

Aku tidak tahu apa-apa tapi tiba-tiba saja sensasi dingin merayapi bahuku, menarikku dari alam mimpi. Perlahan aku yang merasa terganggu membuka mataku. Hal yang pertama kulakukan adalah mengerjapkan mataku yang belum terbiasa dengan cahaya, cahaya yang masuk melalui jendela kamarku. Detik berikutnya aku akhirnya mengetahui sumber rasa dingin yang merayapi bahuku, itu adalah bahuku yang tidak terlindungi selimut, bahuku yang merasakan sambutan musim dingin.

Ini adalah awal bulan Desember.

Perlahan aku bangkit dan mengambil posisi duduk di tepi ranjang.

“Hah…” aku menatap ke arah kalender yang terduduk manis di meja belajarku, yang tepat berada di depan posisiku sekarang. Tanggal 1 Desember.

Tuan santa, aku mohon dia untuk kembali.

Tersenyum hambar… Merasa bodoh, itulah yang aku hadapi sekarang. Aku yang sudah memasuki masa remaja ini masih mengharapkan tuan santa untuk mengabulkan permohonanku, memberikanku keajaiban yang sudah ditepis oleh orang-orang di sekitarku.

Suara-suara beserta siluet orang yang mengatakan kalau ia tidak mungkin kembali berdengung memenuhi pikiranku, dari tahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu…

Ya, inilah tahun terakhirku.

Gong Min Young! Kau sudah memasuki senior high school, sudah hampir lulus, jangan seperti anak kecil, aku menepuk kedua belah pipiku.

“Yosh!” aku bangkit dari tempat tidurku tidak membiarkan benda yang amat menggoda itu untuk menarikku kembali ke alam mimpi. Aku harus bersiap-siap ke sekolah, bersemangatlah Min Young! Sekali lagi aku memerintahkan diriku sebelum kakiku menyentuh lantai keramik kamar mandi.

~*~

“GONG MIN YOUNG!”

Mendengar namaku diteriakkan aku refleks menoleh dari kegiatanku, pandanganku langsung menelusup dari balik jendela kamarku. Dari lantai dua ini aku bisa melihat dua orang sedang berdiri tepat di depan rumahku, dengan salah satunya tersengal yang aku tahu akibat ia menghabiskan suplai udaranya untuk berteriak tadi.

“MIN YOUNG! TURUN!”

Tanpa bisa dihindari bibirku langsung tertarik ke samping, hampir tanpa kesadaran utuh.

“Shin Rae Ah, bisakah kau menghentikan teriakanmu?”aku berguman pada diriku sendiri, masih menahan geli atas perilakunya.

Daripada bergegas turun dan menghampiri dua orang yang masih menungguku, aku lebih memilih menonton segala aktifitas yang mereka lakukan. Mataku dengan bahagianya berbinar menikmati hiburan yang kudapatkan di pagi hari. Rae Ah, temanku yang pertama kali aku sadari kehadirannya itu sedang marah-marah pada orang yang berada di sebelahnya. Seorang laki-laki, dengan wajah datar yang menunjukkan keapatisannya, laki-laki dengan nama Oh Sehun. Kenapa mereka bertengkar? Sederhana, karena Sehun baru saja menutup mulut Rae Ah agar tidak berteriak lagi.

Bagus, pikirku sembari tersenyum ke arah Sehun yang bahkan tidak melihat ke arahku. Sehun sekarang sedang sibuk menahan tangan Rae Ah yang bergerak untuk memukulnya, menepis tangan mungil berbalut sarung tangan itu.

“MIN YOUNG! AKU TAHU KAU SEDANG MELIHAT KE SINI. JADI CEPATLAH TURUN…. ATAU…”

U-oh, ini tidak bagus. Aku langsung bergegas membenarkan jaket hangatku, membuatnya serapih mungkin dalam waktu yang singkat. Sedikit aku meloncat, merasakan bobot ranselku memastikannya sudah berada di punggungku.

“…MIN…”

Tidak berminat mendengarkan karena sudah hafal mati dengan ucapan berikutnya aku berjalan cepat keluar kamar, masih sempat aku meraih syalku yang tergeletak di tempat tidur. Aku berjalan cepat keluar kamar, kakiku yang mengenakan sepatu datar bergantian menapak tangga, menyusul menghentak lantai keramik ruang tengah, dan berakhir pada jalan yang berselimut aspal. Jalan berwarna abu-abu yang tidak lama lagi akan tertutup butiran-butiran putih salju.

“Tutup mulutmu.. Aku sudah disini, keluar dari kamarku, rumahku. Sekarang ayo kita berangkat ke sekolah.” Aku memberengut ke arah Rae Ah sembari melilitkan syalku untuk mengamankanku dari udara dingin, sebelum kehangatan menyelimuti leherku aku bisa merasakan perbedaan suhu yang berasal dari kalungku.

Rae Ah langsung melupakan urusannya dengan Sehun dan terkekeh, “Kau seharusnya lihat bagaimana rupamu Young-ah!”

Aku membuat wajahku sedatar mungkin.

“Seharusnya aku mengabadikannya! Sayang sekali ponselku masih berada di tas.” Paparnya menjadi-jadi.

“Shin…”

“Min Young, jangan kau hiraukan gadis tidak tahu tatakrama itu. Kita pergi sekarang. Uh, udaranya dingin sekali.” Sehun menepuk pundakku sebelum memasukkan tangannya yang berbalut bersarung tangan ke dalam saku jaketnya.

Senyum kemenangan langsung mengembang di wajahku, mungkin sangat terlampau lebar. Bisa kutebak dari wajah Rae Ah menatap jijik kepadaku.

“Tuan Oh! Bisakah kau tidak menginterupsi perang yang akan pecah?”

Aku memutarkan bola mataku dengan tanganku yang amat sangat bahagia memukul lengannya.

Perang? Yang benar saja.

Rae Ah mendelik ke arahku, dengan tangan kiri mengusap-ngusap lengannya. Ajaibnya, gadis itu tidak membalasku melainkan mengabaikanku. Perhatiannya kembali kepada Sehun, sepertinya akan panjang.

Annyeong, aku pergi.

Tubuhku sudah menghadap rumahku, rumah yang jika ditilik sangatlah megah, begitu pula dengan seluruh rumah-rumah di daerah ini, satu blok, dua blok, bahkan sebelah kiri dan kananku. Mengingatnya… aku menoleh melihat rumah yang berada tepat dikanan padanganku, rumah itu kosong… sejak delapan tahun yang lalu.

“Min Young!”

“Ya, aku datang!” secepat kilat aku berbalik dan berlari kecil menyusul Rae Ah yang tampaknnya masih berurusan dengan Sehun. Sekali lagi, aku melihat pemandangan yang sudah bertahun-tahun aku nikmati, Rae Ah yang terus berbicara, dengan Sehun yang tetap pada prinsipnya menatap lurus ke depan dengan muka acuk tak acuhnya.

~*~

“Hash…” aku meraup helaian rambutku asal, ini adalah  bentuk apresiasi terbaikku untuk soal calculus yang sedang aku kerjakan. Bayangkan saja, satu lembar soal dan satu lembar jawaban? Mengerikan, tapi ini nyata.

Tuk.

Aku merasakan sesuatu mengenai lengan atasku tapi aku tidak menghiraukannnya, aku masih sibuk dengan kertas di atas mejaku, menatap nyaris membolongi kertas itu. Berbagai rumus, akar kuadrat, tanda kurung, semuanya berputar-putar dan menjadi satu ketika sampai ke mataku.

Tuk.

Tuk.

Tuk.

“CK?!” aku langsung menoleh ke sebelahku dan sudah sangat maklum saat mendapati Rae Ah di sana.

“Kau masih ingin mengerjakannya? Ayolah lupakan, ini pelajaran kosong.” Ia menatapku dengan puppy eyesnya.

“Hah… lalu kenapa kau melempari aku kertas-kertas ini?” aku mengambil satu yang masih tersisa di mejaku, ibu jari dan telunjukku meremas kertas kecil putih yang malang itu, aku tebak Rae Ah pasti merobeknya dari kertas baru bukunya.

“Karena kau bahkan tidak menoleh sejak pelajaran kosong ini berlangsung. Ketika semuanya sudah berhamburan keluar kelas kau malah menunduk dan mengurusi kertas itu. Aku bosan, ayo pergi. Kau terlalu baik, rajin…”

Here we go again…

Aku mengakui aku memang tipe anak yang terlalu baik. Aku mengerjakan tugas ketika diberikan meskipun pelajaran kosong, aku juga bukan tipe anak populer yang bergaul – temanku hanya Sehun dan Rae Ah, tidak mengingat yang hanya aku tahu namanya saja. Aku jarang sekali pergi saat pelajaran kosong, perhatikan itupun karena Rae Ah berhasil membujukku.

“… hehehe, tapi tentu saja kau menyenangkan. Kau juga cukup gila jika sudah keluar sekolah.” Rae Ah menyeringai sementara jarinya sudah membentuk v-sign.

Aku mendesah, “Kenapa kau tidak mengajak Sehun saja?”

“Cih, anak itu sedang tertidur di mejanya.” Rae Ah menunjuk malas ke meja yang terletak di belakang, dan mataku menemukan sosok Sehun yang dengan nikmatnya tertidur. Ia sama sekali tidak menghiraukan tugasnya, kertas putih rapih hasil print-an guru calculus tersebut sudah berada di lantai tak jauh dari kursinya dengan bonus beberapa motif hasil dari sepatu. Terinjak-injak, mengenaskan sekali.

“Jadi, kita ke kantin?” suara Rae Ah mengaburkan pikiranku.

Baru saja aku mau menjawab pertanyaanya pintu kelas tersentak tertutup. Aku tidak begitu mempersalahkannya namun aku mendengar Rae Ah menyayangkan pintu yang tertutup itu. Secara tidak langsung itulah tanda agar semua penghuni kelas tidak ada yang keluar. Lagi, dalam kasus ini.

“Ehem.”

Seluruh perhatian tertuju pada laki-laki yang tadi menutup pintu kelas. Butuh satu menit penuh untuk mendapatkan perhatian seluruh kelas, jadi aku menunggu dalam tanda tanya besar sampai laki-laki yang tidak lain adalah ketua kelas mengucapkan maksudnya.

“Kalian tahu ini bulan Desember dan setiap detiknya mendekati hari natal. Itu artinya…”

Secret santa…

“… Secret santa.”

Benar bukan? Aku tetap diam dalam posisiku sementara hampir seluruh isi kelas menantikan acara ini dan berteriak senang. Apa itu secret santa? Itu adalah acara tahunan sekolahku Taeyeong High School setiap natal. Jadi nama setiap satu angkatan akan dicatat dalam gulangan kertas. Lalu kertas-kertas berisi nama itu akan diundi, setiap kelas memiliki bagiannya sendiri, sudah dipastikan tidak ada nama anak yang berada di kelas itu. Nah, setelah kita mengetahui namanya, kita dipaksa – itu opiniku, untuk memberikan hadiah kepada orang bernama itu. Tapi semua itu rahasia, hanya kita yang mengetahui siapa yang akan kita beri, sampai detik terakhir.

Pemberian hadiahnya? Itu memiliki prosedur tersendiri. Pada hari natal sekolah akan mengadakan ballroom, semua anak berkumpul tidak hanya satu angkatan lagi. Syarat untuk hadir adalah memakai topeng dan kita harus datang sendiri-sendiri, menghindari orang-orang yang mengenali kostum kita. Pada akhirnya kita harus berkeliling mencari dan memberikan kado kepada orang yang dimaksud, terdapat dua pilihan pribadi jika kita bisa mengenalinya, jika tidak cukup simpan di bawah pohon natal megah yang berada di tengah ruangan. Intinya semuanya harus rahasia. Hanya pada prakteknya beberapa anak perempuan saling memberikan informasi pada temannya dan sebagainya – di salah gunakan sebagai ajang menyatakan perasaan jika kita beruntung mendapatkan nama pujaan hati.

“Akhirnya! Aku penasaran sekali tahun ini aku harus memberikan pada siapa. Semoga saja anak kelas sebelah yang tampan itu, ah, Kris~”

Baru saja aku bilang, Rae Ah sudah mempraktekkannya.

“Young-ah! Kali ini kau harus berkencan oke? Kau masih ingat janjimu bukan?”

Aku memutar bola mataku.

“Ambil.”

Aku bersyukur karena suara itu datang mengganggu, segera aku memanjangkan tanganku ke arah bola kaca berisi puluhan kertas itu, tentu saja aku mendapatkan giliran awal, kursiku berada lumayan depan. Setelah mengocok-ngocok asal aku mengambil kertas tersebut disusul dengan giliran Rae Ah. Aku meletakkan kertasku di atas meja tanpa minat.

“Ah….” aku mendengar suara Rae Ah menurun, ia pasti mendapatkan orang yang tidak ia inginkan. Bukan pangerannya Kris.

“Siapa?”

“HEI!”

Aku berusaha mengalahkan tangan Rae Ah yang sangat gesit mengambil kertasku tapi terlambat. Gadis itu sudah membuka gulungan kertasku.

“Apa yang kau lakuakan?” protesku.

“Melihat siapa makhluk yang akan bersedih natal ini. Mendapatkan orang apatis sepertimu, aku bahkan selalu tahu kau pasti akan memberikan syal, titik.”

“A – ya!” aku melotot ke arah Rae Ah, hebatnya dia bisa mengetahui pola pemberian hadiahku.

“Chen? 3E. Siapa? Aku tidak pernah mendengar nama itu.” Rae Ah mengernyitkan dahinya.

“Berikan padaku! Ini rahasia.” aku mengambil kertas itu dan memasukkannya dengan tegas ke saku rokku.

“Siapa ya?”

Aku menatapnya jengkel, “Tidak usah dicari. Aku juga tidak mau tahu, taruh saja di bawah pohon natal dan selesai.” Seperti siklus yang selalu berjalan, aku tidak mau repot-repot padahal sekolah memberikan nama dan kelas agar murid bisa mengetahui orangnya, tapi tidak untukku.

Rae Ah menggeleng-gelengkan kepalanya, “Selalu saja… apatis pada natal.”

“Aku tahu, aku tahu, kau sudah menyebutkannya, sekarang lupakan.”

“Ya… ya…” dengan nada malas Rae Ah membalasku.

“Jadi kita ke kantin?” aku meliriknya.

“Tentu saja! Ayo! Sepuluh menit lagi juga bel istirahat berbunyi.”

Secepat kilat Rae Ah merubah moodnya dan menarikku berdiri menyeretku menuju pintu kelas, “OH SEHUN KAU IKUT?” teriaknya sedetik kepada Sehun yang sudah terbangun dari tidurnya dan tanpa dikomando lagi Sehun berdiri dan menghampiri kami.

~*~

“Hei, hei…”

Yeah… aku menimpali dalam hati sambil menyuapkan ramyun ke dalam mulutku.

“Kalian tahu tidak?”

Sangat tahu, batinku lagi.

“Tadi aku menguping di ruang guru…”

Menguping? Tidak adakah pekerjaan yang lebih baik?

“Di undian nama secret santa tahun ini ada nama murid baru.”

“APA?”

Berisik, aku menggerutu.

“Benar, anak itu katanya baru pindah besok atau lusa, tapi karena sudah di anggap murid ia diikutsertakan, para guru tadinya sedang resah jika semuanya tidak berjalan lancar…”

Layaknya aku peduli.

“Anak baru? Young-ah! Mungkinkah nama aneh– hmmft.” Tanpa bicara lagi aku membekap mulut Rae Ah.

“Diamlah! Jangan mengait-ngaitkan sesuatu yang tidak penting. Jangan berisik lagi!” Aku menatapnya tajam.

“Tapi, Boram dan teman-temannya…”

“Nona Shin, aku tahu mereka tepat berada dikursi yang berada di belakang Min Young? Jangan bersuara jika kau tidak ingin berurusan dengan gerombolan menyebalkan itu.”

Sehun memotong Rae Ah seketika, aku hanya mengangguk puas karena Sehun mengutarakan maksud tidak langsungku pada Rae Ah. Lebih baik daripada aku melakukannya tadi, cara langsung lebih efektif untuk kasus Rae Ah.

“Dan diamlah Tuan Oh! Mereka selalu sibuk sendiri dan tidak mendengarkan sekitarnya kau tahu!” tepis Rae Ah tidak mau kalah.

“Semua bisa saja terjadi di saat tidak terduga, mungkin saja kau sedang tidak beruntung?” Sehun membalas.

“Ckckck, lupakan, tapi sekarang aku penasaran sekali…”

“Aku beli puding dulu dan jangan dibahas lagi atau tamat kau Shin Rae Ah!” aku beranjak dari kursiku.

Aku tahu pasti ia sangat penasaran dengan nama Chen-Chen itu, tapi seharusnya rahasia bukan? Ia tidak punya kewajiban untuk penasaran, seharusnya aku yang penasaran, aku yang ditugaskan untuk menjadi santa rahasia orang itu. Bukannya aku peduli sebenarnya, tapi aku tidak ingin kelompok Boram itu mendengarnya. Boram adalah murid paling populer di angkatan ia hampir mengenal semua orang, dan jika firasat Rae Ah benar kalau Chen itu murid baru aku dalam masalah. Mereka pasti mendatangiku dan meminta kertas itu dan aku tidak sudi.

~*~

Satu hari telah berlalu, dan sejak percakapan Boram yang aku dengar menyebar, percakapan itu menimbulkan bisik-bisik yang cukup ramai. Aku sebenarnya tidak peduli, yang mengusikku adalah Rae Ah yang gencar mencari informasi tentang kelas E dan menurut pengamatannya ia tidak menemukan nama itu dan ia seratus persen curiga. Beberapa kali ia mengajakku untuk ikut kegiatan investigasinya tapi aku menolak dengan tegas. Semua yang ia rencanakan untuk investigasinya sungguh tidak mengundang setitik pun minat. Aku lebih memilih untuk cepat pulang dan beristirahat seperti sekarang yang aku lakukan.

Berjalan menuju rumahku.

Sudah menduga-duga pemandangan membosankan rumahku yang menyala dengan rumah di sebelah kanan yang selalu mati, rumah di sebelah kiri yang tidak jauh berbeda dengan rumahku…

DEGH.

Aku mengerjapkan mataku perlahan merasakan sedikit percikan-percikan harapan. Lampu rumah itu menyala. Aku tertegun sejenak, mungkinkah? Jangan… tahan… jangan biarkan harapanmu melambung tinggi dulu. Menahan detakan jantungku aku memikirkan kemungkinan yang lebih baik, mungkin saja rumah itu telah di jual dan pemilik barunya sedang membereskan rumah? Rumah itu sudah kosong amat terlalu lama. Dan aku memasuki rumahku yang selalu kosong.

~*~

Pagi ini aku terbangun seperti seharusnya, tanpa gangguan apapun. Merasa senang karena hal tersebut aku langsung berjalan turun menuju dapur. Kali ini aku sedang ingin sarapan. Aku mengambil karton susu, menegaknya beberapa mililiter untuk melancarkan tenggorokkanku yang kering di susul dengan menggerutu, aku memandang kulkasku dan isinya kosong, hanya ada anggur di sana. Langsung saja aku menyiapkan catatan mental untuk berbelanja sedikit secepatnya.

Tidak ingin menganggu mood baikku aku mencuci anggur yang tersisa membuatnya menjadi sarapanku pagi ini. Bersenandung pelan aku menghampiri jendela dapur yang menghadap keluar.

Glek.

Aku menelan anggurku terburu-buru karena kaget, mataku mengerjap peralahan. Ini bukan mimpi? Atau aku masih berada di tempat tidurku? Sejujurnya aku sangat meragukannya sekarang, mood baik di pagi hari…

“Ouch!”

Aku mengusap pergelangan tanganku, ternyata bukan mimpi. Halusinasi?

~*~

“GONG MIN YOUNG!”

“Apa?” aku terlonjak seketika, pandanganku memandang tidak tentu arah, masih buta akan lamunanku sendiri.

“Kau benar-benar dengan anak baru itu.”

“Apa?” aku menatap Rae Ah setelah mendapatkan kembali pikiranku yang masih dalam proses penyusunan setelah tercecer.

“Anak baru itu sudah masuk sekolah! Ia menyebabkan kehebohan kau tahu? Namanya adalah Kim Jongdae, tapi Chen adalah nama panggilannya.” Rae Ah menggebu-gebu menjejalkan informasinya padaku.

“Oh… oke.” Hanya jawaban itu yang bisa kuberikan.

Sekarang aku benar-benar tenggelam dalam pikiran tidak berujungku. Semakin aku berpikir semakin aku mengait-ngaitkan serpihan ingatanku dan kejadian-kejadian yang terjadi dan sialnya semuanya agak masuk akal walau aku masih meragukannya.

“Kau tidak penasaran?” tanyanya menaikkan sebelah alisnya.

“Penasaran…” aku beguman.

“Hah? Kau penasaran? Young-ah! Hei! Kau kenapa? Young….”

Aku butuh ruang untuk berpikir.

Terlalu cepat, tiba-tiba, terlalu banyak kebetulan. Aku berusaha menyakinkan diriku sendiri kalau aku ini sepenuhnya sadar, benar-benar sadar. Apakah aku ini masih dalam mimpi dan ketika terbangun aku akan kembali melihat kalender yang bertuliskan tanggal 1 Desember kembali? Ini seperti aku yang bermimpi karena terlalu menginginkannya, karena ini adalah harapan terakhirku, permohonan terakhirku, usaha terakhirku.

Atap. Tempat di mana aku bisa mendapatkan ruang yang aku butuhkan. Tempat lapang yang terbuka dengan semilir angin yang berhembus. Aku sudah dekat dengan atap yang kutuju, hanya tiga anak tangga lagi dan pintu dan tiga anak tangga yang tidak seberapa itu langsung tertutup, dan tanganku memutar kenop pintu. Embusan angin dingin langsung menerpaku, membuatku mengigil. Kecerobohanku, aku melupakan kalau sekarang musim dingin.

“Young… Young-chan.”

Suara itu terlalu nyata, tapi terlalu tidak mungkin. Aku membeku di tempatku, tatapan mataku langsung menghujam pemandangan yang ada di depanku.

“A…a..” seluruh kata-kata seperti menghilang dari otakku. Siluet yang aku lihat tadi pagi…

“Aku kembali, aku menepati janjiku.”

Sosok itu, senyum itu, tulang pipinya yang menonjol – sesuatu yang selalu aku kenali sejak kecil. Sebuah senyum mau tidak mau mengembang, kali ini, satu kali ini. Biarkan aku berada dalam mimpi jika memang ini adalah mimpi.

~*~

“Bagaimana ini?” aku mengerutkan dahiku melihat bahan-bahan makanan yang terpajang. Ini sudah ketiga kalinya aku berjalan bolak-balik menimbang-nimbang.

Apa yang biasa aku masak? Tidak banyak, kataku pada diri sendiri. Aku memiringkan kepalaku, mengingat-ingat telur adalah bahan paling dasar dalam memasak bukan? Menggoreng telur adalah hal yang pertama kali bisa aku lakukan. Tanpa ragu lagi aku mengambil karton telur, lalu berjalan dengan lebih mantap.

Beberapa bahan untuk dibeli perlahan bermunculan.

Daging, jika aku sedang mood memasak dan melakukan eksperimen.

Buah, sayur, hal yang paling mudah juga bisa untuk salad.

Sereal dan susu jika aku terlalu malas.

Ramyun instan untuk keadaan darurat.

Kecap dan bumbu-bumbu yang aku tahu rasa dan gunanya.

Beberapa kali bolak-balik.

“Ini belanjaannya,terima kasih.”

“Sama-sama.” Aku mengangguk ramah kepada kasir yang melayaniku.

Aku berjalan cepat keluar dari supermarket, menenteng belanjaanku dikedua tangan, rasanya lega, satu beban terselesaikan. Dengan langkah ringan aku berjalan melewati lapangan parkir supermarket menuju trotoar. Kakiku membawaku berjalan lurus, aku tidak menggunakan alat transportasi karena jarak supermarket dari rumahku hanyalah dua blok saja. Dan dalam hitungan kurang lebih 30 menit aku sudah dapat melihat rumahku.

Aku mengeratkan syalku yang sudah akan terlepas, kemudian mendorong gerbang rumahku yang tidak terkunci dengan lenganku yang penuh. Tentu saja aku tidak mau repot-repot untuk mengembok rumahku mengetahui kapasitas tanganku yang terbatas. Setelah berhasil masuk aku menutup gerbang rumahku kali ini menguncinya. Aku berbalik menuju pintu rumahku dan mataku menangkap seseorang yang memunggungiku berdiri di depan pintu.

Siapa?

Seperti membaca pikiranku sosok itu perlahan berputar, kepalanya tertunduk lesu, kecewa. Sosok itu memainkan kunci yang berada di tangannya, perlahan kepalanya yang tertunduk itu mendongak.

“Young-chan!” ia berlari menghampiriku.

“Ap..apa yang kau la..kukan?” tanyaku tergagap, tanganku berusaha menghindarkan tangannya yang ingin merebut belanjaanku namun gagal.

“Menunggumu tentu saja. Sejak kemarin, di sekolah, dan sampai 5 detik yang lalu aku tidak bertemu denganmu. Jadi aku memutuskan untuk berkunjung.”

Aku menatap punggungnya yang sudah memunggungiku lagi kali ini kedua tangannya membawa kantong belanjaan rampasannya dariku. Rasanya cukup aneh.

Ia menolehkan kepalanya ke arahku, “Hei? Kau tidak ingin menyambut tamumu?”

~*~

“Jadi apa yang kau lakukan? Kau menghilang genap delapan tahun. Kau berhutang penjelasan padaku Kim Jongdae.” Aku menyimpan gelas minum di meja dan ikut duduk di sofa, tepat di sebelahnya.

“Tidak terlalu penting, hanya mengikuti ayahku dan bisnisnya.”

“Tidak adil! Kau meninggalkanku lama sekali~” aku memanyunkan bibirku, sungguh aku marah sekali karena setelah sekian lama ia baru nampak lagi dihadapanku. Laki-laki bernama Kim Jongdae ini sudah membuat diriku berharap naik turun selama delapan tahun.

Kenapa aku sangat keberatan?

“Ahh, jangan marah Young-chan. Aku berjanji akan kembali dan aku kembali, kau lihat? Sehat dan utuh.” Tangannya menarikku mendekat, dan bisa kurasakan lengannya itu menghangatkan bahuku. Dan dalam kecepatan kilat pipiku sudah terasa panas dan jantungku melompat-lompat tidak bisa diam.

“Young-chan?”

Oh, terberkatilah jantungku ini yang hampir saja meloncat keluar dari tubuhku. Ia baru saja memanggil namaku, dengan panggilan khususnya ‘Young-chan’.

Lagi, kenapa aku keberatan?

Ya karena aku menyukainya, sejak delapan tahun yang lalu. Orang yang selalu menjadi permohonanku disamping aku yang tidak pernah menyukai natal dan teman-temannya adalah orang ini.

“Ah, jadi itulah alasan terbaikmu? Apakah kau yakin kau telah mengingat semua janjimu?” aku menekankan kata ‘semua’.

“Tentu saja aku mengingat semuannya! Dan aku juga membawa alasanku sendiri untuk datang kemari. Alasan yang amat sangat kuat.” Katanya padaku.

Aku menatap wajahnya itu lebih terfokus ke manik matanya, “Eh? Apa?”

“Sebenarnya… aku tidak akan menetap disini terlalu lama Young-chan, aku harus kembali pada ayahku secepatnya, karena itu aku datang kemari, dan akan melaksanakan misiku.” Jongdae menyeringai yang membuatnya terlihat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen, sedangkan aku sebaliknya, permenku direbut.

Ia disini hanya untuk sementara.

“Apa misimu?” aku menggelengkan kepalaku.

Min Young, kau tidak boleh menghancurkan suasana, setidaknya kau bisa bertemu lagi dengan Jongdae, batinku.

“Ra-ha-si-a.”

“Cih…” aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya.

“Jangan marah, kau akan tahu pada akhirnya jadi bersabarlah ya?” ia mencubit pipiku.

“Hwey…. aphakah kaw bwerniat membhuwat phiphikhu memmemrhah spwerti pikhachu? (Hey, apakah kau berniat membuat pipiku memerah seperti pikachu?)” aku membayangkan tokoh fiksi berwara kuning dengan bagian pipinya yang lucu itu.

“Ehehe, kau rupanya masih suka dengan film-film seperti itu.” Kekehnya

“Twetu sajha. (Tentu saja.)” jawabku tidak layak karena pipiku yang masih tercapit oleh jarinya. Film dengan tokoh-tokoh lucu buatan Jepang itu selalu berhasil menangkap perhatianku. Sejak kecil aku sudah menggemarinya, mungkin karena sebab itulah juga Jongdae memangilku Young-chan. Chan, imbuhan akhir yang selalu berkaitan dengan nama gadis di film-film Jepang.

Plak.

Aku memukul tangannya agar lepas dari pipiku, rasa nyerinya sudah tidak tertahankan lagi.

“Ashh.”

“Rasakan.” Aku menjulurkan lidahku padanya.

“Lupakan masalah sepele ini. Sekarang apakah yang akan kita lakukan?” alihnya.

“Menghukummu.” Aku berdiri dari sofa, tanganku meraih jaket yang terletak tidak jauh dari sana.

“Apa? Mau kemana?”

Aku tidak menjawabnya, aku hanya membiarkannya mengikutiku sampai pintu depan.

“You…”

Aku memutar tubuhku, “Ayo aku ajak kau berjalan-jalan. Kita ke game center aku akan mengalahkanmu kali ini.”

“Coba saja seluruh permainan Young-ah, aku selalu bisa mengalahkanmu.” Cemoohnya, wajahnya bersinar-sinar senang.

“Aku akan menang, karena ini hari penghakimanmu Kim Jongdae.”

~*~

“Young-chan~”

Aku menoleh ke arah Jongdae yang berjalan bersamaku di lorong sekolah, “Apa?”

“Hari ini, apa jadwal kita?”

“Tidak kemana-mana. Hari ini kita beristirahat saja. Sudah hampir dua minggu kita selalu berkeliling, semua tempat sudah kau kunjungi.” Ucapku.

“Dua minggu? Tidak terasa.”

Dua minggu? Ya, dua minggu. Sejak aku bertemu lagi dengannya hari-hariku berjalan dengan cepat, diisi dengan canda tawa bersama Jongdae. Kami sekarang berangkat sekolah bersama dan aku selalu diseretnya untuk mengunjungi tempat-tempat yang ia rindukan sepulang sekolah. Hari-hari yang amat menyenangkan, rasanya aku benar-benar berada di alam mimpi. Aku merasa berada di musim semi yang cerah, bukan di musim dingin. Kehangatannya selalu bersamaku.

“Hei, sekali lagi, aku tanya, apakah kau benar-benar telah melaksanakan semua janjimu?” aku menoleh ke arahnya sebelum kami berpisah menuju kelas masing-masing.

“Aku mengingat dan akan melaksanakan semuanya, tenang saja.” Ia mengacak-acak puncak kepalaku sebelum berlalu dari hadapanku karena temannya memanggil. Betapa cepatnya ia memiliki teman, ya, aku melihat dengan mataku selama hari-hari kebelakang. Jongdae dengan cepat menjadi anak populer, terkadang membuatku ingin berlari menjauh kalau ia tidak selalu menghampiriku untuk meminta tour dan perasaanku juga memberikan dampak tersendiri.

“Bernarkah kau akan?” gumanku.

“Min Young! Ceritakan!” aku berbalik memfokuskan diriku dan melihat Rae Ah. Ah… sudah lama sekali aku tidak bersamanya juga Sehun, aku selalu bersama Jongdae akhir-akhir ini.

“Apa yang harus aku ceritakan padamu?” aku mengikuti Rae Ah yang menyeretku menuju tempat duduk.

“Kau tertarik dengan murid baru itu bukan? Kau selalu bersama dengannya bukan?” tanyanya menggebu-gebu, matanya menyipit menatapku penuh selidik, mau tidak mau aku tersenyum dan mengangguk.

“Jadi apakah kau akan membuang kalung itu?”

Aku melihat ke arah anggukan dagunya yang mengarah pada kalungku, kalung berbentuk kunci penuh lekuk-lekuk ukiran yang terlihat tua, “Tidak.”

“Kenapa? Ayolah lupakan orang yang tidak pernah kembali itu.”

“Ehehehe, maafkan aku Rae Ah. Tapi orang yang kau maksudkan itu adalah murid baru itu, Kim Jongdae.” Aku menundukkan kepalaku tidak berani menatap Rae Ah. Perasaanku ini mengenali rasa bersalah yang merayap, aku benar-benar merasa bersalah karena tidak memberitahukannya lebih awal pada Rae Ah. Padahal hanya Rae Ah yang mengetahuinya selain diriku.

“Wow.”

Aku menunggu wajah Rae Ah yang menatap takjub, “Baiklah, ayo kita bicarakan di kantin, sekarang.”

Ia menarikku lagi, kali ini menuju kantin. Rae Ah berjalan lurus menuju pintu, tidak seperti biasanya Rae Ah langsung melewati pintu, “Tunggu, kau tidak akan mengajak Sehun?”

“Tidak! Aku muak dengan wajahnya, kau meninggalkanku sendiri bersama dia terlalu lama, kau sampai bosan.” Sambarnya cepat.

“Tapi…”

“Ayo!” paksanya.

Aku mengerutkan dahiku, kenapa dengan Rae Ah? Padahal setidaknya Sehun harus tahu, laki-laki itu juga mengetahui garis besarnya. Walaupun aku malu mengakuinya, ia bisa tahu karena saat dia menyatakan perasaannya padaku ia memaksaku untuk menjelaskan kenapa aku menolaknya. Tapi itu sudah lama, sekarang kami berteman, aku sudah tidak merasa ia masih menyukaiku, perasaan berubah.

~*~

Kemana perginya Jongdae? Aku sudah menunggu didepan gerbang tapi ia tidak muncul juga, padahal ia menyuruhku untuk menunggunya disini. Aku melirik jam yang tertera pada ponselku yang menyatakan kalau aku sudah menunggu selama 15 menit. Berhubung aku bukan tipe yang senang menunggu aku beranjak dari tempatku bermaksud menyusulnya. Aku menggerutu sembari melewati lorong yang sudah sepi. Mataku melihat papan penanda kelas 3A, kelasku, lalu berganti menjadi B, C, D, dan akhirnya E. Aku sudah berada di depan pintu yang terbuka sedikit, tanganku ingin menggeser pintu itu dan melihat adakah Jongdae di sana.

“Kenapa kau tidak ingi pergi menemaniku ke pestanya Boram?”

Aku terhenti, itu adalah suara seorang gadis, aku tidak mengenalinya berhubung hubunganku dengan murid-murid sangat terbatas.

“Karena aku sudah memiliki tunangan. Maafkan aku.”

Itu suara Jongdae.

“Ini hanya sekali saja.”

“Tidak bisa Mira-ssi. Aku terlalu mencintainya, dan aku ke sini untuk menjemputnya, lalu aku akan membawanya bersamaku. Itulah sebabku berada di Seoul sekarang.”

Oh. Alasan kuat, misinya. Ia ingin menjemput tunangannya? Kekecewaan menyergap dengan cepat, gravitasi terasa lebih kejam karena aku merasakan seluruh tubuhku seakan tertarik ke bawah.

“Hash, kau ini sulit sekali. Baiklah, tapi kita tetap berteman bukan?”

Siapa tunangannya? Sungguh niat sekali ia mau menjemput tunangannya.

Aku berjalan mundur satu langkah dan berputar. Aku menundukkan kepalaku berpikir dalam. Benar bukan? Ini mimpi, dan aku baru saja terbangun.

Siapa gadis beruntung itu?

Sial. Aku memang hanya teman dekatnya saja, seperti yang delapan tahun ini aku takutkan.

“Young-chan! Kau dari mana?”

Aku mendengar lagi suaranya, “Ah, aku baru dari ruang guru.” Aku berbalik dan menunjuk ruang guru yang memang berada tidak jauh dari kelas E.

“Ohh…” terlihat sekali kelegaan dalam suaranya.

Apakah ia belum ingin memberitahukannya padaku?

~*~

“Gong Min Young! Jawab aku!!!”

Aku menatap langit-langit kamarku kosong, “Ya?”

“Jadi apa yang akan kau berikan untukknya pada acara secret santa? Kau tidak mungkin memberinya syal membosankan khasmu itu bukan?”

“Siapa?” aku mengernyitkan dahiku.

“Chen!”

Siapa lagi itu? Aku mengernyitkan dahiku.

“Jangan bilang… oh! Dia itu Kim Jongdae! Nama panggilannya Chen!” ia melanjutkan seakan tahu apa yang ada dipikiranku.

Aku membelalakkan mataku, segera aku bangkit dari posisi tidurku, kali ini aku menatap kalenderku, satu minggu lagi tepat hari natal dan acara secret santa.

“Ayolah, apa yang akan kau berikan? Atau kau sudah menyiapkannya? Atau kau sudah berkencan dengannya?”

Berkencan?

“Shin Rae Ah, dia sudah memiliki tunangan.” Seketika aku kembali merebahkan diriku.

“Dengan? Nama?”

“Tidak tahu.”

Tanpa menunggu jawaban dari sebrang sana aku langsung memutuskan sambungan.

Kenapa aku tidak menyukai Desember? Juga natal? Karena Desember adalah tepat ketika Jongdae pergi, dan saat itu adalah hari natal. Natal yang biasa aku habiskan bersama Jongdae menghilang, digantikan dengan natal-natal kosong, karena ayah dan ibuku bekerja jauh diluar sana dan tidak pernah pulang, meninggalkanku di rumah megah yang kosong ini.

Sekarang tepat ketika harapanku hancur berkeping-keping.

~*~

Ting tong!

“Ugh!” aku menurunkan buku yang sedang aku baca, mataku melihat ke arah jam dinding. Jam 11 pagi di hari Minggu, dan siapa yang berani mengangguku? Aku meletakkan buku yang sedang aku baca dan berjalan bertelanjang kaki menuju pintu.

“Young-chan!”

Aku terdiam, sebenarnya aku ingin menutup pintunya segera, tapi sepertinya aku terlalu lemah. Sehingga aku hanya berdiri diam melihat sosok Jongdae. Sweater putih dan celana panjang berwarna khaki yang dipakainya membuatnya terlihat tampan.

Bodoh!

“Eh?”

Aku merasakan kehangatan ditelapak tanganku.

“Ayo ke rumahku, kita menghias pohon natal bersama. Tidak ada ibu atau adikku yang membantu, jadi bantu aku.”

Detik berikutnya aku sudah berjalan mengikuti Jongdae keluar dari rumahku. Selangkah demi selangkah aku menapakkan telapak kaki telanjangku ke batu setapak yang dingin, dingin membunuh. Aku bisa saja mengeluh dan menarik tanganku, tapi aku sedang menjadi orang bodoh disini.

Aku mengigit bibir bawahku, menetapkan tekad aku akhirnya berhenti, menjadi patung.

Berhenti menjadi orang bodoh, Min Young.

“Young-chan? Kenapa? Ah!” seketika pegangannya telepas, ia langsung berjongkok sembari mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal itu. Bagimana bisa rambut yang terlihat sempurna itu memiliki cela?

“Bagaimana bisa aku membuatmu bertelanjang kaki di musim dingin begini?” ia meruntukki dirinya sendiri.

“Aku baik-baik saja – ah!”

Jongdae menarikku mendekat, dengan beberapa gerakan ringkas aku sudah berada dalam pelukannya, pelukan yang biasa dilakukan para pengantin. Aku bisa merasakan tangannya melingkar sempurna di punggungku dan juga tungkai kakiku.

“Sebagai permintaan maaf, biarkan aku menggendongmu tuan putri.” Ia tersenyum menunjukkan giginya.

“Baiklah! Kau harus bertanggung jawab, sekarang ayo jalan. Udara diluar dingin.”

Biarkan aku menjadi orang bodoh.

~*~

“Jangan yang biru!”

Aku menunduk dari posisiku menatap Jongdae yang menatap tanganku yang memegang hiasan bola berwarna biru.

“Kenapa?” aku mengernyitkan dahiku.

“Kau sudah menggunakan warna biru tadi, ganti warna.” Katanya menyerahkan bola berwara merah.

Aku mengambil bola itu, sedikit tersengat ketika jari-jarinya bersentuhan denganku. Aku berusaha mengabaikannya dan berkonsentrasi menggantungkan bola itu di dahan pohon natal.

“Puas?” aku berkacak pinggang.

“Tentu saja. Sekarang lihat? Betapa indahnya pohon natal ini. Hanya puncaknya. Young-chan, turun dulu, pilih hiasan mana yang cocok untuk puncaknya.” Jongdae sudah duduk dilantai berkonsentrasi dengan kardus berisi hiasan-hiasan natal yang hampir kosong itu. Bagaimana tidak? Ia bersikeras menghias seluruh isi rumahnya yang kosong ini. Aku melihat kembali hasil karya kami, untaian-untaian berwarna yang menghiasi pegangan tangga, kaus kaki yang digantungkan di dekat tv, dan masih banyak lagi.

Setelah mengamati master piece kami berdua, aku turun dan menyusulnya. Aku berdiri di sampingnya menunduk, ikut menyetarakan pandanganku dengan pandangannya.

“Bintang atau malaikat?” tanyanya menyadari keberadaanku.

Aku mengamati sejenak, “Bintang.”

“Menurutku juga begitu, ayo kau naik lagi.”

“Ck, kenapa harus aku?” walaupun begitu aku tetap mematuhinya.

“Karena aku tahu kau selalu suka menaikki tangga untuk menghiasi pohon natal sejak kecil. Lagipula jika ada apa-apa aku bisa menangkapmu.”

Hentikanlah kata-kata manismu Jongdae, aku menelan salivaku. Aku berjinjit sedikit, tanganku mengulur panjang berusaha memasang bintang itu di puncak pohon natal. Momen ini, momen ini adalah momen yang dulu aku sukai, seperti kata Jongdae. Aku dulu menyukainya, aku merasakan kalau perlahan aku semakin naik, naik, dan memasangkan bintang pada puncaknya bagaikan keajaiban untuk diri kecilku.

Dulu.

Pikiranku seperti terserang badai dan mengacaukan konsentrasiku.

“MIN YOUNG!”

Aku menutup mataku ketika gravitasi kini benar-benar menarikku kebawah. Aku sudah membayangkan cedera punggung, gegar otak, atau patah tulang, tapi dalam beberapa detik yang singkat itu aku merasakan kehangatan. Aku membuka mataku, dan aku menemukan wajah Jongdae yang amat sangat dekat denganku. Aku bersumpah merasakan pipiku memanas.

“Kau ini, terlalu ceroboh…” ia tersenyum lega, “.. tapi itulah yang membuatku menyukaimu.”

“APA?”

Aku langsung mendorong tubuhnya membiarkan aku jatuh. Menghindari tangannya yang mengulur padaku aku menepisnya dan cepat-cepat berdiri dengan kekuatanku sendiri.

“Aku membencimu.” Kau menyentaknya kemudian berjalan keluar. Bagaimana bisa ia mengatakan kalau ia menyukaiku ketika aku tahu ia sudah memiliki tunangan? Ia ingin mempermainkan aku ketika memperkenalkannya pada tunangannya?

~*~

Aku berjalan memasuki ruangan, ya secret santa. Aku sebenarnya tidak ingin hadir, mengingat moodku yang tidak baik. Tapi Rae Ah meneleponku dan mengancamku harus datang, setidaknya mengambil hadiahku sendiri. Karena itulah aku disini, menatap kerumunan orang memakai topeng yang membingungkan, dengan hadiah yang berada di tanganku. Tentu saja aku harus membawanya atau aku tidak diijinkan masuk.

Aku berjalan lurus melewati berbagai orang yang menghalangi jalanku menuju pohon natal, tidak terusik untuk mencicipi makanan atau minuman. Aku hanya menunaikan tugasku, lagipula aku juga tidak bisa atau tidak ingin repot-repot mencari Jongdae, mengingat kejadian buruk yang baru saja terjadi.

Setelah perjuangan penuh sesak dan permisi, akhirnya aku bisa mencapai pohon natal, aku menunduk bermaksud menaruh hadiahku tapi aku berhenti. Mataku malah mencari-cari, mungkin saja ada namaku disana, aku ingin mengetahuinya, mengetahui hadiahku untuk tahun ini. Berhubung hadiah yang aku minta pribadi pada santa sudah hancur. Beruntunglah diriku, aku menemukan namaku, tanganku yang bebas meraih kotak kecil yang memang diperuntukkan untukku. Karena ukurannya yang mungil aku bisa dengan mudah membuka kotak itu dengan tangan yang penuh.

Mataku langsung terbelalak melihat hadiahku, kalungku… aku menunduk dan memperhatikan leherku yang ternyata polos. Aku segera menaruh tutup kotak itu di atas hadiahku bermaksud mengambil kalung itu, menelitinya. Namun ekor mataku menangkap sebuah tulisan yang tertera di balik tutup kotak itu.

Dan setelah membaca baris kalimat yang singkat dan padat itu aku langsung bergegas. Dengan langkah tergesa dan high heels yang menyakiti tumitku, aku memaksakan diri berjalan keluar ruangan. Beberapa kali aku menabrak orang yang tidak bersalah. Bahkan tepat di dekat ambang pintu aku menerobos seorang gadis yang sedang memberikan sebuah kotak pada seorang murid laki-laki. Rambut laki-laki tersebut berwarna karena dicat, sedangkan gadis itu mengenakan gaun berwarna hijau merah. Semuanya berkelebat singkat di mataku, nyatanya aku merasa bersalah karena telah menganggu mereka.

~*~

“Hah, hah…”

Disinilah aku sekarang berada di depan gerbang rumah yang selalu aku nantikan kehidupannya, tersengal-sengal. Perlahan aku menghampiri rumah tersebut, menghargai setiap langkah yang aku buat.

Kalungmu terjatuh, dan sepertinya kau salah paham Young-chan. Temuilah aku di bawah pohon natal rumahku, pintuku selalu terbuka untukmu.

Untaian kata itu kembali terbersit di pikiranku. Dengan tangankuyang gemetar kedinginan aku mendorong gerbangnya yang tidak terkunci dan memasuki pekarangan.

Begitu sampai di depan pintu bercat putih itu aku menenangkan diriku, aku mendorong pintu itu perlahan – sekali lagi tidak terkunci, dan berjalan masuk. Pemandangan hasil karyaku beberapa hari yang lalu langsung menyambutku, tapi itu tidak penting sekarang. Aku berlari menghambur ke arah pohon natal dan berlutut di sana. Aku meletakkan kotak hadiahku dan kotak kecil yang tadinya berisikan kalungku – kotak itu sekarang sudah kosong karena aku sudah meraup isinya ke dalam genggamanku.

Aku terduduk dalam diam, menantikan orang yang mengundangku. Diriku yang tidak memiliki kegiatan selama menunggunya memilih untuk melihat-lihat. Beberapa perubahan telah terjadi, sekarang ada beberapa kotak hadiah di bawah pohon natalnya.

Pandanganku terjatuh pada kotak kayu… kotak kayu yang selama ini menganggu pikiranku.

To: My fiancee.

Apakah…

Dengan tangan gemetar aku memasukkan anak kunci yang tidak lain adalah liontin kalungku. Terdengar suara clek, dan kotak itu terbuka.

Air mataku langsung saja mengalir.

Srak.

“Jangan menangis. Ini semua milikmu. Jangan salah paham….” seseorang memelukku dari belakang, membuatku merasakan kehangatan yang amat sangat.

“Tapi… bagaimana kau tahu…”

“Rae Ah yang menjelaskan keadaannya padaku.”

Aku menatap kembali isi kotak itu. Di dalam sana tersimpan gaun putih yang indah, juga sebuah cincin cantik tergeletak manis di atasnya.

“Untukmu, Gong Min Young, maukah kau menjadi pendamping hidupku?”

Aku membuka kotak berisi hadiahku, dengan cepat aku berbalik dan tanganku melingkarkan sebuah syal berwarna coklat muda ke lehernya.

“Selama ini aku selalu memberikan hadiah syal pada siapa saja. Kau tahu kenapa? Karena syal buatanku sendiri ini tidak pernah sampai padamu. Inilah satu-satunya hadiah yang ingin aku berikan, dan satu-satunya orang yang berhak mendapatkannya adalah kau. Kim Jongdae, I do.”

Mata kami bertatapan, Jongdae menatapku dengan senyumannya.

Saranghaeyo.”

Nado, Kim Jongdae.”

Aku memejamkan mataku dan merasakan percikan-percikan listrik di pipiku, dan gerombolan kupu-kupu memenuhi perutku. Juga sengatan manis pada bibirku yang menyentuh bibirnya.

~*~

Min Young memberengut menatap Jongdae yang berada di hadapannya. Jongdae baru saja mengucapkan selamat tinggal padanya. Tepat di saat ia akan memberikan hadiahnya hari itu. Hadiah yang dibuatnya susah payah, syal berwarna coklat muda yang menurutnya cocok untuk kepribadian Jongdae.

“Hei, jangan bersedih, aku akan kembali, ya?” tangan Jongdae bergerak dan mengalungkan sesuatu pada lehernya.

Kalung?

“Itu adalah sebuah kunci, jagalah baik-baik. Saat aku kembali aku akan membawa kotaknya dan kau harus bisa membukannya dengan kunci itu. Janji?”

Min Young mau tidak mau menganggukkan kepalanya.

~*~

“Ibu…”

“Ya?” Ms. Kim menatap anaknya yang baru memasuki mobil.

“Kunci untuk kotak yang waktu itu ibu tunjukkan padaku, aku memberikannya untuk Min Young.”

Ms. Kim menatap anaknya tidak percaya, bagaimana ini? Putranya yang masih berada di tingkat elementary school, baru saja membuat kekacauan. Benda penting yang seharusnya menjadi pemberian keluarga Kim untuk menantunya telah berada di tangan anak kecil.

“Tenanglah yeobo, jika ia sudah besar, aku akan menyuruhnya mengambilnya. Entah bagaimana keadaannya.”

Ms. Kim melirik suaminya yang berada di kursi penumpang depan, memastikan keseriusan di sana…

“Tenanglah ibu, aku pasti akan membawanya kembali, seperti kata ayah. Tapi untukku aku sudah pasti akan membawa Min Young.”

Ms. Kim menggelengkan kepalanya, anak-anak sekarang sama sekali tidak bisa dipercaya.

~*^^*~

One thought on “[FREELANCE] My Wish

  1. I love this fic… really it means truly love~ ceritanya, momentnya, bahasanya dan semuanya… aku jarang banget bisa klepek-klepek (or what is that in bahasa hohoho) sama fic chen tapi ini pure suka banget makanya jadi ff favorit pas competition ^^ pokoknya tema dapet ahhh bagus banget cuma eyd-nya masih harus diperbaiki lagi ya chingu^^ fighting!

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s