[FREELANCE] Illa.. Illa.. (Chapter 2)

Illa Illa

Title : Illa.. Illa..

Author | Artwork | Twitter : @auliaylsnov

Genre : Alternatif Universal, Angst, Sad

Length : Chapter || Status : Chapter 2 || Rating : PG-15

Main Casts : Kim Hye Sun (OC) | Kevin Wu | Zhang Yi Xing

Support Casts : Kim Jongin | Jung Soojung | Kim Junmyeon | Oh Sehun | etc

Ost :

Juniel – Illa Illa | Ailee – Evening Sky | Ailee – Heaven

Disclaimer :

Well, FF ini terinspirasi dari MV Juniel – Illa Illa, tapi ingat! Hanya 30% dari MV, karena secara keseluruhan sampai FF ini selesai, hasil pemikiran aku selama begadang tiap malam -_- #poorME jadi tidak termasuk SONGFIC. Hehehe^^

Warning :

Ingat yah! Kehidupan di FF ini sama sekali tidak sama dengan dunia nyata sang “cast”. Baca lagi, karena FF ini genrenya Alternatif Universal. Jadi dimohon jangan sembarang ngebashing cast J Boleh jengkel, asalkan tidak berkata-kata kasar. Komentari saja apa yang ada di FF ini yang sekiranya harus dikomentari.

 

Untuk yang belum baca :

Chapter 1

 

“Harapan dan keputusasaan. Semuanya tidak bisa kupungkiri. Aku berharap kau akan hadir disini, namun aku juga putus asa akan harapan itu sendiri. Menunggumu, apakah itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia? Karena kekosongan ini hanya sempat terisi beberapa saat saja. Seandainya.. kau mau mendengarkanku sebentar saja…”

-Kim Hye Sun-

“Akibat ketidaksengajaan, dan kesalahpahaman, membuatku menjadi merasa sangat bersalah padamu. Aku akan menebus kesalahanku. Karena dengan cara itulah bisa membuatku semakin mengenalmu, dan hal itu membuatku lebih semangat menjalani hidup.”

-Zhang Yi Xing-

“Kebodohanku, kecemburuanku, keegoisanku, membuatmu menjadi sangat amat terluka. Aku tahu beribu kata maaf pun yang keluar dari mulutku tidak akan membalikkan keadaan seperti semula. Tapi, masih adakah kesempatan kedua untuk bersamamu kembali?”

-Kevin Wu-

 

STORY’s BEGIN…

 

Dua orang laki-laki berdiri di depan ruang UGD setelah dua jam yang lalu mereka tergesa-gesa melawan waktu untuk menyelamatkan seorang gadis yang tengah sekarat melawan kematiannya. Sangat jelas terlihat dari kedua wajahnya sangat mencemaskan seorang perempuan yang berada di dalam ruangan tersebut. Seorang laki-laki berkulit tan itupun akhirnya duduk di kursi tunggu yang berada didepan ruangan tersebut dan menundukkan kepalanya. Ia mengacak rambutnya pelan seperti orang frustasi. Wajahnya sangat terlihat kacau. Airmatanya telah mengering dan menyisakan mata yang sembab. Ia pun menatap seorang pria yang masih setia berdiri di depan pintu ruang UGD.

“Hei, kemarilah!” ujarnya parau.

“Ne..” pria yang dimaksud mengikuti apa yang diminta laki-laki itu.

“Kau, siapa? Dan mengapa Noonaku ada bersamamu?” tanya laki-laki itu dengan pandangan tajam dan menusuk.

“JONGIIIINNN…!!!!” teriak seorang pria berkulit putih tengah berlari menghampiri mereka berdua. Laki-laki berkulit tan tersebut bangkit dari duduknya dan segera memeluk pria tersebut.

Hyung, NoonaNoona…” laki-laki itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memeluk erat pria yang ia sebut ‘hyung’ tersebut. Pria tersebut ikut menitikkan airmatanya dan mengelus punggung laki-laki itu dengan pelan.

“Aku sangat terkejut, Jongin. Kenapa Hye Sun bisa mengalami kecelakaan seperti ini?” ujar pria tersebut lirih.

“TANYAKAN SAJA PADA PRIA ITU!!!” sentak laki-laki bernama Jongin tersebut sembari menunjukkan jari telunjuknya kepada pria yang tengah duduk menatap mereka berdua.

“Jongin, tenanglah!” ujar pria tersebut lalu mengajak adiknya untuk duduk. Pria tersebut memandang pria yang ada disampingnya sekarang.

“Maaf, kau ini siapa?” pria itu menyelidiki orang yang ada disampingnya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.

“Aku Zhang Yixing. Aku yang menolong agasshi itu dari kecelakaan…” jawabnya dengan tenang.

“Bisakah kau menceritakan kronologi kecelakaan adik perempuanku? Oh ya! Aku sampai lupa. Namaku Kim Junmyeon, dan ini adik bungsuku, Kim Jongin, dan adik perempuanku yang sekarang berada di ruang UGD tersebut…” kata-kata pria yang bernama Kim Junmyeon tersebut menggantung.

“Kim Hye Sun.” Pria bernama Yixing menambahkan. Junmyeon mengangguk setuju.

“Jadi, begini ceritanya…” Yixing menceritakan dari awal pertemuannya dengan perempuan bernama Hye Sun tersebut di florist sampai bagaimana perempuan itu mengejar pria bernama Kevin Wu, kalau ia tidak salah dengar namanya seperti itu dan bagaimana perempuan itu mengalami kecelakaan tepat di depan matanya.

“Maafkan aku, aku telat untuk menolongnya.” Yixing mengakhiri pembicaraannya.

Bisa terlihat secara jelas oleh mata, kedua orang bermarga Kim yang tengah mendengarkan ceritanya tersebut mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Kim Junmyeon, dengan mata yang tertutup ia menghela nafasnya berat. Kim Jongin, dengan aura laki-laki yang tengah menginjak fase remaja akhir terlihat lebih menunjukkan emosinya. Rahangnya mengeras, gemeretak giginya dan matanya yang tajam. Ia seperti berapi-api.

“KEVIN WU! AKU TIDAK AKAN MEMBUATMU HIDUP DENGAN TENANG!” teriak Jongin kencang. Ia tidak sadar bahwa sekarang ia tengah berada di rumah sakit yang notabene membutuhkan ketenangan.

“Jongin! Sudah kubilang tenanglah! Ini rumah sakit!” bentak Junmyeon namun tidak terlalu keras.

Hyung, bagaimana aku bisa tenang jika orang yang sangat berharga bagiku sedang sekarat di dalam UGD? Bagaimana aku bisa tenang, hyung!!” Jongin membentak Junmyeon yang merupakan hyungnya.

“Kau tidak ingat kata-kata Hye Sun, heoh? Marah hanya akan membuatmu semakin kehilangan akal sehatmu. Kau harus tenang! Berdoalah Kim Jongin! Karena doa adalah cara yang paling ampuh agar tidak terjadi apa-apa pada Noonamu!” Junmeyeon menasehati Jongin yang emosinya terlihat sangat labil dan tak terkendali. Yixing yang memperhatikan perdebatan kedua kakak beradik tersebut tertegun dengan kalimat terakhir yang barusan diucapkan oleh Junmyeon. Pria itu langsung menundukkan kepalanya dan berusaha untuk tenang. Memohon kepada Tuhan untuk memberikan kebaikanNya kepada perempuan yang berada di ruangan itu sekarang.

 

===xXx==

 

            Di sisi lain, seorang pria tengah menenggak habis segelas whisky yang berada di tangannya sekarang. Rambutnya sangat acak-acakan namun hal itu sama sekali tidak membuat ketampanannya luntur. Malah itu membuatnya semakin terlihat lebih manly. Ia menuangkan kembali botol whisky tersebut ke dalam gelas dan meminumnya kembali. Ia hendak meminum whisky itu kembali, namun tangannya tiba-tiba berhenti. Matanya terpejam, rahangnya mengeras, dan ia menggenggam gelas itu dengan erat. Teringat kembali akan sebuah memori di dalam otaknya. Seorang perempuan melihatnya dengan tatapan khawatirnya, menghampirinya dan menggenggam tangannya.

Kevin, apa yang kau lakukan? Berhentilah minum, ini tidak baik untukmu…’ ujar perempuan itu sangat lembut di telinganya. Namun, seketika itu juga ia mengingat kejadian yang terjadi tiga jam yang lalu dan hal itu membuatnya mengerang dan melemparkan gelas yang dipegangnya dengan kuat.

“PRAAANGGG….” gelas itu mengenai lemari kaca dan secara otomatis membuat kacanya juga ikut pecah.

“HYE SUN-aaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriaknya seperti orang frustasi. Seketika pertahanannya runtuh dan ia merosot dengan bebas begitu saja ke lantai kayu. Ia menangis, menyesali perbuatannya.

Seorang perempuan masuk ke dalam ruangan tersebut dan melempar tasnya begitu saja ke sofa berwarna cream lembut. Ia mengecek satu per satu ruangan yang ada di sana namun ia tidak menemukan seseorang yang ia maksud. Ia berjalan ke arah dapur dan matanya membulat sempurna ketika melihat seorang pria terkulai tak berdaya di lantai kayu dekat pantry dapur. Perempuan itu berteriak. “ASTAGA, KEVIN OPPA…!!!!!” ia segera menghambur ke arah pria tersebut dan mencoba membangunkannya.

“Oppa! Bangun! Oppa! Yak! Sadarlah oppa!” perempuan itu memukul pelan wajah pria tersebut, namun tak ada respon.

“Hye Sun-aah.. Wae? Wae?” ujarnya lirih. Pria bernama Kevin tersebut membelai lembut wajah seorang perempuan yang berada dihadapannya sekarang.

“Kenapa kau melakukan itu padaku?” membuat perempuan itu mendengus kesal. “Aku bukan Hye Sun! Aku bukan perempuan murahan itu! Sadarlah Kevin oppa! Sudah kubilang hanya aku yang pantas untukmu!” bentak perempuan itu. Yang dibentak hanya tersenyum kecut.

“Seharusnya yang marah itu aku, bukan kau Hye Sun…” pria itu pun mendekatkan wajahnya kepada perempuan yang ada dihadapannya sekarang. Terlebih lagi bibirnya jauh lebih dahulu mendekat ke arah bibir perempuan itu. Membuat perempuan tersebut ikut terpejam dan pasrah menerima perlakuan dari pria tersebut. Dengan segenap kesadaran terakhirnya sebelum ia jatuh pingsan, ia menatap lekat-lekat perempuan itu. Ternyata perempuan itu bukannya perempuan yang ia maksud.

“YAK! JUNG SOOJUNG! MENYINGKIRLAH DARI HADAPANKU!” bentaknya dan ia pun jatuh pingsan.

“Sial. Di saat seperti ini saja kau masih mengingat perempuan itu!” perempuan bernama Jung Soojung itu menatap pria yang ada didepannya geram dan meninggalkan pria tersebut begitu saja. Perempuan itu tidak menolongnya.

 

===xXx==

 

Ketegangan semakin tercipta ketika dua orang pria dan satu laki-laki sudah menunggu selama lima jam di depan ruang UGD memusatkan perhatiannya pada pintu yang tengah terbuka dan memperlihatkan seorang pria paruh baya dengan menggunakan masker, sarung tangan dan stetoskop yang tergantung di lehernya. Mereka menghambur dengan wajah penuh harap ke arah pria yang pasti seorang dokter tersebut.

“Bagaimana keadaannya, dokter?” tanya tiga orang itu serentak. Membuat sang dokter kaget dan menghela nafasnya.

“Berterima kasihlah kepada Tuhan. Jika setengah jam saja kalian terlambat. Aku tidak yakin dapat menolongnya…” kalimat yang baru saja diucapkan oleh dokter tersebut seperti angin segar yang dapat kau rasakan ketika hujan dan badai telah berhenti. Begitulah yang dirasakan oleh ketiga laki-laki yang brada di hadapan dokter tersebut. Mereka bernafas lega karena menahan nafasnya saat dokter tengah berbicara.

“Apakah kalian ada keluarganya?” tanya dokter itu. Keduanya mengangguk kecuali pria yang memiliki lesung pipi tersebut.

“Oh? Yixing? Apa yang kau lakukan disini?” tanya dokter tersebut membuat Junmyeon dan Jongin heran.

“Aku.. aku yang menolong gadis itu..” jawab Yixing terbata-bata.

“Hm..” jawab dokter itu dengan berdeham dan mengangguk pelan.

“Apa Noona sudah bisa dijenguk sekarang, dokter?” tanya Jongin.

“Ia harus dipindahkan dahulu ke ruang inap dan mengingat ia belum sadarkan diri, jadi kalian belum bisa menjenguknya.” Jawab sang dokter membuat tiga orang itu kecewa. Yixing memegang pundak dokter tersebut dan seolah-olah meyakinkannya. Dokter itu pun menghela nafasnya.

“Baiklah… asalkan kalian tidak ribut ataupun menganggu pasien.”

“Arraseo…” ujar Jongin singkat.

“Ghamsahamnida, dokter. Aku sangat berterima kasih…” ujar Junmyeon dengan mata berbinar.

“Ne… ini sudah menjadi pekerjaanku. Kalau begitu, aku pergi dulu. Jika ada apa-apa, kalian tinggal memencet tombol darurat yang sudah disediakan.” Ketiga laki-laki tersebut mengangguk mengerti.

 

===xXx==

 

 

 

Setelah Hye Sun dipindahkan ke kamar inap, ketiganya langsung mengelilingi Hye Sun yang dalam keadaan tertidur dengan balutan perban yang tebal dibagian kepalanya. Jongin dan Junmyeon saling memegang punggung tangan perempuan itu dan tak henti-hentinya mencium tangan berkulit halus tersebut. Yixing hanya memperhatikan gadis yang tengah terbaring lemah itu dengan tatapan sendunya.

Junmyeon melihat kearah Yixing yang sedari tadi jarang mengedipkan kedua matanya ketika melihat adik perempuannya. Ia menepuk pundak laki-laki itu pelan.

“Bahkan ketika ia sedang terbaring lemah, kau tidak pernah melepaskan pandanganmu kepada adikku.” Yixing terkejut mendengar ucapan Junmyeon hanya tersenyum kikuk.

“Berapa umurmu?” tanya Junmyeon.

“Aku 24 tahun. Bagaimana denganmu?” Yixing balik bertanya.

“Hm.. aku 6 tahun lebih tua darimu. Berarti umurmu dan Hye Sun sama.” Ujarnya membuat Yixing kaget dan membungkukkan badannya. “Mianhae, hyung. Aku tidak tahu…”  sedangkan yang dimintai maaf hanya mengangguk pelan.

“Bagaimana bisa kau mengenal dokter tersebut?” tanya Junmyeon, membuat Yixing sedikit tersentak.

“Eumh, itu… itu… karena dokter itu adalah pamanku.” Jawab Yixing. Junmyeon menatapnya dengan lekat, ia tidak menemukan kebohongan dari mata Yixing. Junmyeon mengangguk setelahnya.

“Aku sangat berterima kasih padamu karena telah menolong adikku. Aku tidak tahu harus berbuat apa agar dapat membalas kebaikanmu, Yixing-ssi.” Ia memegang pundak laki-laki yang ada dihadapnnya tersebut.

“GWaenchana, hyung. Sudah menjadi tanggung jawabku.”

“Hm.. baiklah. Yixing-ssi, apakah kau tidak ingin pulang terlebih dahulu? Hm.. bukan maksudku untuk mengusirmu, tapi kulihat kau sangat lelah. Lagipula, bajumu banyak bersimbah darah akibat kecelakaan tadi.” Terang Junmyeon.

“Ne, aku mengerti hyung. Terima kasih telah memperhatikanku. Tapi, besok aku boleh menjenguk Hye Sun lagi, kan?” tanya Yixing meminta persetujuan Junmyeon.

“Tentu saja. Kau boleh datang kemari kapan saja sampai adikku sembuh.” Yixing senang atas sikap terbuka dari Junmyeon. Laki-laki itu mengangguk.

“Baiklah, terima kasih hyung. Kalau begitu aku pamit dahulu.” Yixing menunduk ke arah pria yang lebih tua darinya tersebut.

“Sekali lagi terima kasih banyak Yixing! Aku sangat berhutang budi padamu…” Junmyeon menepuk pundak laki-laki itu pelan.

“Ah hyung kau berlebihan.” Yixing tersenyum.

“Jongin-ssi, aku pamit dulu.” Sapa Yixing, laki-laki yang disapanya hanya mengangguk pelan. “Terima kasih hyung…” ujarnya lirih. Yixing mengangguk.

Setelah itu, ia keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke mobilnya yang berada di parkiran. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang berada di rumah sakit ketika melihat tubuh atau yang lebih tepatnya lagi pakaiannya yang bersimbah darah. Ia berjalan lunglai ke arah mobilnya dan memegang dadanya yang cukup sakit akibat ditimpa oleh gadis tersebut.

“Ternyata ia cukup berat juga…” keluhnya. Lalu masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan sedang.

 

===xXx==

 

Kevin Wu’s POV

“Ugghh…” aku memegang kepalaku yang terasa sangat pusing. aku melirik jam yang berada di tangan kiriku. Sial. Aku sudah tertidur dari jam lima sore kemarin? Dan sekarang sudah jam tujuh pagi, berarti aku sudah tertidur selama 14 jam.

“dddrrtt… dddrrttt…” Aku merogoh ponsel yang ada di saku celanaku. Alarm pengingat bahwa akan ada meeting jam delapan pagi ini. Parahnya lagi, sudah ada 15 missed call dan 10 pesan masuk. Hampir semua berasal dari nomer dad dan sekretarisku.

Aku pun segera bangkit dari lantai dan melihat tubuhku masih terbalut pakaian kerjaku yang kemarin. Bau whisky sangat menyengat dan dengan lunglai aku berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamar tidurku.

Selama di kamar mandi aku memikirkan tawaran dad kemarin. Seperti aku memang harus berangkat ke Kanada untuk menenangkan fikiranku. Membiarkan Hye Sun menyesali perbuatannya. Well, aku sangat marah melihatnya kemarin mencium seorang pria di floristnya dengan posisi tertidur di lantai. Apa-apaan itu? Melakukan perbuatan ditempat yang tidak seharusnya. Aku kesal mengingat kejadian itu. Tiga tahun, bukan waktu yang singkat bukan? Tapi dengan mudahnya ia berselingkuh dengan orang lain. Kurang apalagi diriku? Semua wanita memujiku hampir sempurna dengan semua yang aku miliki. Semua wanita dengan mudah bertekuk lutut padaku, bahkan mereka sendiri yang datang untuk menawarkan dirinya padaku. Sombong? Tidak! Itu adalah fakta. Tapi, Hye Sun adalah pengecualian. Ia berbanding 180 derajat dari semua wanita yang aku sebutkan tadi. Kupikir dengan membalikkan telapak tangan saja, aku bisa mendapatkan wanita yang aku inginkan, namun Hye Sun bukanlah tipe yang seperti itu. Butuh perjuangan selama enam bulan sebelum akhirnya ia menerimaku.

Dan Hye Sun lah yang menemukan kelemahanku. Aku adalah seorang yang posesif dan protektif. Seseorang yang sudah aku miliki, tidak boleh lepas dan didekati oleh orang lain, dan akibat itulah pula hubungan kami hampir renggang beberapa bulan di tahun pertama kami menjadi sepasang kekasih. Tapi walaupun begitu, ia mengerti bahwa sikapku itu merupakan bentuk dari kasih sayangku karena takut kehilangannya. Hm, tunggu dulu! Apa karena itu dia berselingkuh didepanku? Ia sudah bosan padaku? Benci dengan sikapku?  Dan menahannya selama berhari-hari, berbulan-bulan dan sampai saat ini?

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sepertinya aku harus menyendiri terlebih dahulu. Menenangkan fikiran dan hatiku. Kurasa aku akan menerima pilihan dad untuk pergi ke Kanada. Menurutku ini adalah keputusan yang baik untukku dan Hye Sun. Meski terasa berat untuk meninggalkan Hye Sun, namun perbuatannya kemarin membuatku tidak ingin melihatnya untuk beberapa waktu. Lagipula, aku belum memberitahunya akan rencana dad untuk menjodohkanku dengan Soojung. Ini akan lebih menyakitkan kami berdua. Ah. Entahlah, aku bingung.

 

===xXx==

 

Jongin menyandarkan punggungnya di kursi kafetaria kampusnya sembari memejamkan mata. Dari kemarin kakak perempuannya itu belum sadarkan diri. Hatinya tidak tenang. Ia merindukan kakaknya yang setiap pagi membangunkannya tidur, mengecup keningnya dan memeluknya. Sebelum ia berangkat ke kampus, kakaknya selalu membuatkannya sarapan untuk dirinya dan kakak laki-lakinya. Ia merindukan semuanya walaupun itu baru sehari saja. Jongin mengacak rambutnya pelan. Ia merasa kacau.

“Jongin-aa!” teriak seorang laki-laki tinggi dan putih sambil melambaikan tangannya. Oh Sehun.

“Hei!” balas Jongin tidak bersemangat.

Wae? Ada masalah?” Sehun bingung melihat Jongin yang tidak seperti biasanya.

“Hye Sun Noona kecelakaan, dan kau tahu? Kevin lah penyebabnya!” jawab Jongin dingin. Sehun tersentak mendengarnya. Bagaimana bisa sepupunya itu menjadi penyebab kecelakaan dari kakak perempuan Jongin? Ya, dia tahu juga kalau Kevin sedang menjalani hubungan dengan Hye Sun.

“Ja-jadi? Bagaimana keadaan Hye Sun Noona sekarang, Jongin?” Sehun terlihat cemas.

“Ia belum sadarkan diri sampai sekarang. Sehun-ah, boleh aku meminta sesuatu padamu?” jongin menatap Sehun dengan tatapan penuh harap.

“Apa itu?”

“Tolong jangan beritahu Kevin hyung. Bantu aku menjauhkan dia dari Noonaku.” Jongin membuat Sehun terkejut.

“Ta-tapi? Noonamu kan keka–”

“Bukan lagi, semenjak ia melakukan ini pada Noonaku!” jawab Jongin dingin dan mantap. Sehun tidak mengerti akan jalan pikiran temannya satu ini jika sedang dalam keadaan kalut.

“Aku tidak bisa menjanjikan itu, Jonginnie..” Sehun tidak setuju. Jongin menatapnya sinis.

“Dengarkan aku. Bukan kah dengan memberitahu Kevin hyung, kita dapat menyelesaikan masalah ini? lagipula kau tidak menjelaskan secara detail bagaimana kecelakaan ini bisa terjadi.” Nasehat Sehun.

“Jongin sayang!” ujar seorang gadis sambil melambaikan tangannya kearah Jongin.

“Soojung chagiya!” balas Jongin, memaksakan senyumnya pada gadisnya.

Wae? Wajahmu sangat murung hari ini…” Soojung menggamit lengan  Jongin dan bersandar ke bahu laki-laki itu. Sehun mendengus kesal melihat mereka berdua. Bukan iri, namun ia muak dengan sikap Soojung.

Wae? Setiap kau melihat aku berdua bersama Soojung, kau selalu mendengus kesal, Sehunnie?” tanya Jongin. Sehun segera menggeleng cepat.

Ani.” Jawab Sehun singkat.

“Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku, chagi…” jawab Soojung manja. Sehun semakin geram dengan sikap Soojung.

“Hye Sun Noona mengalami kecelakaan, dan sampai sekarang ia belum sadarkan diri.” Jawab Jongin lirih. Soojung terkejut mendengarnya.

Jincha? Bagaimana bisa?”

“Jadi begini ceritanya…” Jongin menjelaskan apa yang ia tahu dari Yixing kemarin.

“Jongin, kau harus mendengarkan saranku. Ini adalah kesalahpahaman. Jika saja Kevin hyung tahu apa yang sebenarnya terjadi, semuanya tidak akan terjadi. Aku akan membantumu untuk meluruskan hal ini pada Kevin hyung.” Terang Sehun membuat Soojung menatapnya gusar.

“Jongin, menurutku saran Sehun itu percuma.” Sanggah Soojung.

“Apanya yang percuma? Kau bahkan belum mencobanya. Kau tahu apa tentang Kevin hyung, heoh?” Sehun kesal.

“Aku. Aku..” Soojung bingung harus menanggapi apa. Sehun tersenyum sinis.

“Sudahlah. Kalian jangan bertengkar. Sehun, terima kasih atas saranmu. Aku akan memikirkannya baik-baik. Maaf aku tidak bisa berlama-lama disini, karena masih ada kelas setelah ini. Kalian berdua bagaimana?” Jongin bertanya pada Sehun dan Soojung, mengingat mereka satu departemen di School of drama.

“Aku sudah tidak ada kelas lagi chagi…” jawab Soojung.

“Kau, tidak akan membolos? Jika iya, aku akan menemanimu.” Tanya Sehun. Jongin menggeleng.

“Aku sudah berjanji pada Noona untuk tidak membolos lagi. Meski rasanya sulit untuk belajar tidak membolos. Gara-gara aku membolos, Noona jadi seperti ini.” jawab Jongin. Sehun memberikan dua jempolnya sebagai tanda apresiasi.

“Baiklah kalau begitu. Aku masuk dulu.. bye! Chagi, tidak usah menungguku, karena sepulangnya aku akan langsung ke rumah sakit.” Soojung mengangguk. Jongin pun menepuk kepala Soojung pelan dan membelainya. Ia pun pergi meninggalkan kekasih dan sahabatnya di kafetaria.

Setelah Jongin hilang dari pandangan, mereka berdua (Sehun dan Soojung) saling memandang tajam satu sama lain.

“Puas kau mendengarnya?” tanya Sehun to the point. Soojung hanya tersenyum sinis.

“Untuk apa kau bertanya jika kau tahu jawabannya, Sehun-ssi?” Sehun berdecak kesal.

“Aku tidak akan membiarkanmu bertunangan dengan hyung dan menyakiti Jongin! Jangan memikirkan keegoisanmu sendiri, Jung Soojung! Selamanya hyung tidak akan mencintaimu dan menjadi milikmu! Ia hanya untuk Hye Sun Noona, dan kau harus segera putuskan Jongin sekarang juga atau…” ancam Sehun. Namun gadis didepannya tidak merasa takut.

“Atau apa? Atau kau akan memberitahukan hal ini pada Jongin, begitu?” tantang Soojung. Sehun mengepalkan tangannya dengan kuat.

“Sialan! Jika kau laki-laki, mungkin aku sudah memukulmu!” Sehun geram.

“Hhahaha… pukul! Pukul saja! dengar Sehun-ssi! Aku tidak takut jika kau memberitahu Jongin. Kau tahu kalau ia sangat mencintaiku dan ia tidak akan mendengarkanmu meskipun kau adalah sahabat baiknya! Jongin adalah tipe orang yang ingin melihat bukti dengan dirinya sendiri. Bukan dengan ucapan orang lain!” Soojung pun berdiri dan meninggalkan Sehun yang masih menahan amarahnya.

===xXx==

 

Kevin merasa tidak enak badan akibat tertidur di lantai semalaman. Hari ini ia tidak bisa bekerja dengan maksimal, untung saja sekretarisnya dapat diandalkan. Meeting hari ini cukup membuatnya kelelahan. Ia ingin kembali ke apartemen namun ia masih mempunyai banyak pekerjaan lain yang harus ia selesaikan sebelum berangkat besok ke Kanada. Saat ia membuka kenop pintu ruangannya, ia cukup kaget karena melihat ayahnya sudah duduk di kursi kerjanya dengan posisi membelakanginya.

“Sudah selesai dengan meetingmu?” tanya ayahnya. Lalu memutar kursi milik Kevin menjadi menghadap kearahnya.

Ne.. semua berjalan dengan lancar.” Jawab Kevin dan langsung duduk tanpa permisi didepan ayahnya.

“Bagaimana? Kau sudah memutuskan apa pilihanmu?”

Ne..”

“Apa?”

“Aku akan berangkat ke Kanada besok.”

“Bagus… Hm… sebenarnya aku sudah membelikanmu tiket hari ini juga.”

Kevin terperanjat. “Dad? Bahkan aku belum sama sekali membereskan semua barang-barangku.”

“Tenang saja. Apa guna Oh Min Hyuk jadi kaki tanganku? Kau berangkat malam ini juga jam sepuluh malam.” Kevin mendengus. Oh Min Hyuk, pamannya yang sekaligus menjadi kaki tangan ayahnya, adalah ayah dari Oh Sehun itu pasti sedang berada di apartemennya sekarang.

“Kau sudah berbicara pada Hye Sun?” tanya ayahnya dan hal itu membuat Kevin termenung. ‘Bahkan ia tidak menghubungiku sama sekali sejak kejadian kemarin…’ batinnya.

“Kevin? Kalian ada masalah?” tanya ayah Kevin kedua kalinya. Kevin bingung, karena tidak biasanya ayah Kevin bertanya tentang hubungannya dengan Hye Sun. Ia ingat bagaimana pria paruh baya itu melihat Hye Sun dengan tatapan tidak suka saat Kevin membawanya pertama kali ke Kanada untuk pertemuan keluarga.

“Ah.. Ani.. hanya saja aku belum sepenuhnya rela untuk berpisah darinya…” kevin tersenyum masam. ‘BOHONG! Bohong sekali, kau Kevin!’ batinnya. Ia kembali termenung.

“Setiap pilihan pasti mempunyai resiko masing-masing, Kevin-ah! Tidak semua pilihan itu sesuai dengan keinginanmu. Belajarlah untuk menjadi tidak egois.” Ayah Kevin yang ternyata sudah berdiri dari kursinya, menepuk pundak Kevin pelan.

“Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku ada jadwal keberangkatan jam tujuh malam nanti ke London. Min Hyuk yang akan mengantarmu nanti ke bandara…” Kevin mengangguk patuh.

“Aku pergi dulu, kau tidak apa-apa, kan kutinggal sendiri?” tanya ayahnya dengan nada yang sedikit cemas, membuat Kevin tertawa.

“Hahaha… dad, aku bukan anak kecil lagi… kau tidak perlu mencemaskan aku…” kini giliran Kevin berdiri dan merangkul ayahnya.

“Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik… aku pergi dulu…” ayah Kevin memeluknya dan menepuk punggung pria itu pelan.

Be careful, dad…” ucap Kevin pelan. Ayahnya mengangguk. Setelah itu mereka melepaskan pelukannya dan ayah Kevin pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Kevin masih berdiri diam di ruangannya. Ia menuju ke arah dinding kantornya yang terbuat dari kaca dan menyandarkan keningnya ke dinding kaca tersebut. Kenapa disaat ia bingung menentukan pilihan yang keduanya sama sekali tidak menguntungkan untuk dirinya, kejadian kemarin seolah memberikan jawabannya. Tapi jawaban tersebut sangat menyakitkan bagi dirinya. Apa ini memang pertanda untuknya sendiri? Kevin meninju dinding kaca tersebut. Membuat tangannya memerah, dan untungnya dinding kaca itu tidak mudah pecah.

“Kenapa kau tidak mencariku, Hye Sun? Wae? Wae? Kau kemarin terlihat sangat menyesal akibat perbuatanmu sendiri, tapi kenapa kau tidak menghubungiku? Meminta maaf padaku? Apa kau memang sengaja melakukannya agar aku peka atas perasaanmu yang sudah tidak mencintaiku lagi?” Kevin mengacak rambutnya dengan kasar. Ia kesal.

“Jika sampai jam keberangkatanku kau tidak datang menemuiku, aku akan benar-benar pergi ke Kanada tanpa harus berpamitan lagi denganmu…” gumam Kevin pelan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Well… setelah ff ini akan ada kejutan yah. Untuk kelanjutannya, mungkin sedih iya, kejam iya, aku mau buat FF ini mengharu biru huhehehe. Tolong dong komentarnya sebagai apresiasinya… aku seneng chingudeul ngelike FF ini apalagi kalo ngasih komentar karena kalian bisa menjadi penyemangatku!^^. Kalau sempat aku balas satu-satu juga komentarnya. Oh ya selamat tahun baru 2014~ semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun kemarin~ semoga ada konser EXO secepatnya di Indonesia dan peresmian nama fansclub+warna lightstick&balloon EXO J

 

Preview untuk part selanjutnya~

 

Mianhae, Hye Sun-ah..”

“Sampai jumpa lagi…”

——–

“Tiiiiitt…. ttiiiiittt…. ttiiiitt…..” bunyi alat pendeteksi jantung menunjukkan bahwa garis-garis tersebut semakin menurun dan nyaris bergaris lurus.

——–

“Kevin… Kevin…”

——–

One thought on “[FREELANCE] Illa.. Illa.. (Chapter 2)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s