Beauty & Beast [Chapter 13]

Beauty & Beast - Chapter 13

Beauty & Beast – Chapter 13

Author: Choi Seung Jin @kissthedeer

Genre: Fantasy, Historical, Supernatural, OOC, AU

Leght: Chaptered

Main Cast:

EXO in English Name

Other Cast:

Minho of SHINee as Minho

Sulli of f(x) as Sulli

Henry as Henry

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Black Pearl | Chapter 12

 

 

****

****

 

Hari terasa begitu cepat berlalu. Langit sudah berubah menjadi merah seperti bunga mawar. Angin berhembus sejuk mengiringi berakhirnya hari. Suara burung yang berterbangan menjadi lagu pengiring terbenamnya matahari.

Leo berdiri didepan sebuah nisan batu pualam putih dengan kepala yang tertutup oleh tudung jaketnya. Dia belum pernah ziarah ke makam Amy, bahkan di hari pemakamannya. Ini adalah kali pertamanya Leo berdiri di depan nisan Amy yang berdiri kokoh di tengah-tengah sebuah pemakaman lokal.

.

Amelia Rebecca Katterhart

1965-1983

.

Tulisan nama lengkap Amy terukir di atas batu pualam putih. Sebenarnya, Leo baru tahu kalau nama tengah Amy adalah Rebecca. Dia tidak pernah tahu sebelumnya. Mungkin karena dia tidak pernah bertanya.

Leo menyesali karena tidak bisa membawa apa-apa sekarang. Dia tidak sempat membeli bunga untuk ia letakkan di makam gadis yang pernah ia cintai. Dia ingin sekali membawakan bunga lily putih. Karena dia tidak akan pernah lupa dengan bunga langka yang menjadi kesukaan Amy.

Matahari semakin turun dan mulai terbenam di balik awan. Namun Leo masih betah dengan posisinya yang berdiri diam menatap makam Amy. Udara juga semakin dingin seiring berhembusnya angin. Tapi Leo sama sekali tidak memperdulikannya. Dia masih ingin tetap berada diposisinya sekarang ini. Entah sampai kapan.

.

“Kerabatmu?” Tanya seorang perempuan. Perempuan itu berdiri tidak jauh dari Leo, mengenakan jubah merah marun dan tudung yang menutupi kepalanya. Dia sangat cantik dengan kulitnya yang putih seperti salju dengan pipi yang kemerahan. Rambutnya– yang meskipun tidak sepenuhnya terlihat– pirang dan diikat rendah.

“Ah.. Bukan. Dia temanku,” jawab Leo cepat. Dia kaget, sebenarnya saat melihat seorang perempuan tiba-tiba muncul.

Perempuan itu membuka tudung mantelnya. Menunjukkan seluruh wajahnya yang sebelumnya tertutup sebagian. Bulu matanya lentik. Warna matanya kehijauan  seperti batu emerald, terlihat indah saat warna langit yang semerah mawar terpantul dimatanya. Dia tersenyum, membuat bibirnya yang tipis semakin terlihat sipit.

“Teman biasa? Teman dekat? Atau pacar?” Kata wanita itu terdengar ramah.

“Teman dekat,” jawab Leo singkat.

Perempuan itu menaikan dagunya seolah paham. Jika dilihat dari penampilannya, dia terkesan sangat old fashion. Dia mengenakan dress hitam berlengan panjang dengan rok pendek lebar yang sangat kontras dengan warna kulitnya dan sepatu berheels 4 senti berwarna hitam seperti orang zaman dulu.

“Jangan terlalu larut dalam kesedihan,” ucap perempuan itu menasihati.

Dari mana dia tahu kalau Leo sedang sedih?

“Aku pernah merasakan kehilangan yang lebih parah dari rasa kehilanganmu pada gadis ini.”

Leo masih tidak mengerti kenapa perempuan itu berbicara seperti itu padanya. Bagaimana dia tahu kalau Leo sedang merasa kehilangan.

“Apa penyebab kematiannya?” Tanya perempuan itu.

Sebenarnya, Leo tidak ingin bilang apapun pada perempuan asing ini. “Dia… mengorbankan nyawanya demi ayahnya dan aku.”

“Dia meninggalkan amanat, bukan?” Kata perempuan itu.

“Eh?” Ucap Leo spontan.

“Jika dia tidak meninggalkan amanat apapun, dia tidak mungkin rela mengorbankan nyawanya,” ujar perempuan itu seakan tahu.

Leo hanya diam dan perempuan itu langsung tahu kalau dia benar.

“Kau pasti punya penyesalan besar sampai wajahmu seperti itu,” kata perempuan itu lagi. Dia memandangi batu nisan Amy dan tersenyum untuk sekali lagi. “Amelia Rebecca Katterhart. Lahir 1962 dan meninggal 1983. Baru meninggal rupanya.”

“Aku membuatnya sedih,” gumam Leo yang dari tadi terus memandangi nisan Amy dengan ekspresi penuh kesedihan dan penyesalan.

“Pardon?” Ucap perempuan itu yang tidak bisa mendengar jelas ucapan Leo yang terbilang pelan.

“Aku salah paham padanya dan marah padanya di hari kematiannya. Dia meninggal dengan perasaan sedih karena aku membencinya,” ujar Leo. “Itu yang membuatku menyesal.”

“Terkadang benci bisa menutupi cinta, dan cinta sudah buta hingga kau tidak bisa merasakan apa-apa. Aku pernah melakukan hal yang buruk karena rasa benci akibat cinta yang buta,” kata perempuan itu.

“Aku mencintai seorang pria, tapi pria itu mencintai gadis lain. Aku sangat membenci gadis itu. Sampai akhirnya aku melakukan hal terburuk dalam hidupku. Dalam pikiranku saat itu adalah menghancurkan hidup gadis itu dan membuatnya menyesal karena membuat pria yang kucintai jatuh hati padanya.

“Saat itu, tindakkan ku sudah kejam. Namun gadis itu membalas dengan tindakkan yang lebih kejam, bahkan teramat kejam. Dia membuatku kehilangan keluargaku.” Dia berhenti. Perempuan itu menarik nafas panjang sebagai tanda ceritanya sudah selesai.

“Aku bisa mengerti perasaanmu,” kata Leo mencoba memahami perasaan perempuan yang ada disampingnya. “Aku akan menghadapi sebuah perang besar saat gerhana bulan nanti. Amy ingin aku belajar dari ayahnya agar bisa memenangkan peperangan itu.”

Awalnya, Leo mengira hidupnya sudah cukup menyedihkan dan penuh penderitaan secara batin. Namun hari ini dia bertemu dengan orang yang jauh menderita dari padanya. Dia seharusnya bisa belajar dari kesalahannya, bukan menyesalinya.

“Lakukan yang dia ingin kau lakukan. Setidaknya itu bisa menebus kesalahanmu padanya,” kata perempuan itu. “Dia tahu hal yang terbaik untukmu. Itu sebabnya dia berani mempertaruhkan nyawanya sendiri.”

Perempuan itu mengeluarkan suatu dari balik jubahnya. Setangkai bunga Lily berwarna putih bersih seperti salju dan memberikan bunga itu pada Leo.

“Berikan ini untuknya. Dia pasti senang,” ucapnya seraya memberikan bunga itu pada Leo.

Dengan senang hati, Leo menerima bunga itu. Dia letakkan bunga langka itu di atas batu nisan Amy. Leo terlihat puas dan senang saat bunga yang cantik dapat menghiasi batu nisan itu. Setidaknya dia bisa memberikan bunga itu untuk terakhir kalinya.

“Terima kasih.”

Leo berpaling lagi, berniat untuk berterima kasih pada perempuan asing yang sudah memberinya pencerahan. Namun perempuan itu sudah menghilang seperti hantu. Leo melihat sekelilingnya namun perempuan itu tidak terlihat lagi. Hilang begitu saja.

 

****

Pagi sudah datang. Hari yang baru menyambut para Wolf Boys yang sudah berkumpul di ruang serba guna sekolah yang sengaja dikosongkan oleh Pak Jim. Perang tinggal 2 hari lagi. Para Wolf Boys semakin tegang dan takut.

Kevin terlihat kurang baik pagi ini. Semalaman dia tidak bisa tidur. Banyak hal yang ia pikirkan dan itu mengganggu otaknya. Dia begitu gelisah dan stres sehingga kurang tidur.

Hal pertama adalah masalah perang nanti. Jika tidak adanya bulan akan mempengaruhi kekuatannya berubah, itu artinya dia tidak punya kekuatan apapun untuk melawan vampire. Fleur sudah keluar dari tubuhnya membawa kekuatan Flight. Lalu, kemampuan untuk berubah menjadi serigala raksasa tidak bisa ia gunakan saat gerhana bulan. Dia benar-benar tidak mempunyai kekuatan apapun lagi. Kalaupun dia ingin Fleur kembali, dia tidak bisa melakukan itu karena dia sendiri tidak tahu dimana Fleur sekarang.

Yang kedua, belum adanya kabar dari Leo yang menghilang. Sudah lebih dari 3 hari Leo hilang, namun tidak ada kabar sama sekali tentang jejak keberadaan Leo. Mungkin Leo tahu banyak tentang rencana Minho, tapi lagi-lagi, Leo sendiri entah dimana sekarang. Pak Jim pun sudah pasrah dengan hilangnya Leo. Tapi jika Leo ternyata ada di tangan musuh, mungkin anak itu sudah diambil kekuatannya oleh Minho, atau bisa jadi yang lebih parah lagi.

Hal ketiga yang masih saja mengganggu pikiran Kevin adalah Jessica. Dia sangat penasaran kemana gadis itu pindah sekolah. Mungkin Jessica pergi ke sekolah di kota London. Tapi kenapa gadis itu sama sekali tidak bilang, bahkan pada Kevin ataupun Victoria. Apa sebegitu sakitnya hati Jessica sehingga dia langsung pergi tanpa ingin Kevin tahu?

Tiga hal penting itu sangat menggangu pikiran Kevin yang terkadang membuat Kevin tidak bisa fokus. Dan pagi ini dia sudah ditegur oleh Francis dan Mike yang menyadari hal tersebut.

“Kau kenapa?” tanya Edison yang menyadari ada yang berbeda dari sahabatnya.

“Eh? Tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya kurang tidur,” ujar Kevin setengah berbohong.

“Ah, jangan bohong! Kalau tidak ada apa-apa, mukamu tidak akan sepucat itu. Jujur saja!” Edison bisa melihat kebohongan dari kedua mata Kevin yang seakan berbicara. Dia mendorong agar laki-laki yang lebih tinggi berberapa senti darinya itu untuk berkata jujur.

“Hmm.. Aku akan cerita padamu, tapi tidak sekarang,” kata Kevin. “Setelah ini, akan ku ceritakan padamu.”

“Baiklah kalau gitu. Ada yang ingin ku ceritakan juga padamu,” kata Edison ungkapan setuju. Dia dan Kevin mencoba untuk melupakan percakapan mereka semenit yang lalu untuk sesaat.

Pintu ruang serba guna terbuka dan menimbulkan suara yang cukup keras. Pak Jim masuk dengan diiringi Mr. George dibelakangnya. Wajah tua itu terlihat sedang buru-buru. Dia mempercepat langkahnya menuju segerombolan anak yang berdiri di tengah-tengah ruangan. Dia terlihat panik yang bisa terbaca dengan mudah dari setiap kerutan yang ada di wajahnya.

“Aku sudah memikirkan sebuah tindakkan untuk mengantisipasi gerhana bulan,” kata Pak Jim yang langsung berbicara bahkan tanpa salam pembuka. “Kalian akan bersembunyi pada saat gerhana bulan terjadi. Kita memang tidak bisa menunda Minho yang akan tetap menyerang di malam gerhana bulan. Tapi pada saat itu terjadi, Minho tidak akan pernah menemukan kalian.”

“Alex akan membawa kalian berteleportasi ke tempat yang jauh dan aman,” kata Mr. George melanjuti.

“Aku, pak?” Kata Alex memastikan lagi.

“Ya. Sekolah akan diliburkan sehingga tidak akan ada yang terluka saat Minho menyerang sekolah. Kita akan memulai perang secara resmi di pagi hari sebagai tindakkan lanjutan,” ujar Pak Jim.

“Kemana kita harus sembunyi, Pak?” Tanya Francis.

“Sejauh yang bisa Alex jangkau. Ku tegaskan, jangan di sekitar Inggris. Pergilah ke tempat yang lebih jauh. Kalu perlu sampai ke luar negri. Ke negara yang jauh. Cina, Korea, Amerika, Indonesia atau bahkan Australia. Yang penting tempat itu sama sekali tidak bisa dijangkau Minho.”

“Kapan kita harus pergi, pak?” Tanya Francis lagi.

“Bereskan barang kalian. Karena malam ini juga kalian harus pergi.”

 

****

Halaman rumah itu kini telah ramai dengan lebih dari 1-2 lusin vampire. Minho sudah mengumpulkan vampire dari berbagai tempat yang bisa ia temui. Dengan janji imbalan kekuasaan, dia berhasil membentuk pasukan vampire demi berjalannya rencana penyerangan ke Akademi XOXO.

“Listen up!” Teriak Minho ditengah-tengah kerumunan pasukannya. “Kita akan segera menyerang para serigala itu saat bulan purnama, dua hari lagi. Kalian tahu, bukan, apa yang harus kalian lakukan?”

“Bawakan padaku 12 manusia serigala, tapi jangan bunuh mereka sampai ku dapatkan apa yang ku mau. Setelah aku berhasil mendapatkan semua kekuatan mereka…” Kata Minho yang menggantungkan kalimatnya dan membiarkan pasukannya berimajinasi sejenak tentang apa yang akan mereka lakukan setelahnya. “…They’re all yours.”

Vampire-vampire itu bersorak. Senang dengan apa yang akan mereka dapatkan sebagai permulaan. Darah segar werewolf adalah makanan ternikmat bagi vampire. Tidak ada darah yang seenak darah werewolf.

Minho berpaling dan melangkah meninggalkan pasukannya masuk ke dalam rumah megah vampirenya. Sulli dan Henry mengiringinya setia dibelakang.

“Bukankah menyenangkan?” Ujar Minho dengan senyum penuh kelicikan. “Membuat pasukan hanya dengan janji kosong yang tidak mungkin mereka dapatkan.”

“Apa yang akan kau lakukan pada mereka setelah kau sudah mendapatkan semua kekuatan itu?” Tanya Henry.

“Sebagian besar dari mereka pasti akan mati saat perang nanti. Sisanya akan mudah dihabisi saat aku sudah mendapatkan semua kekuatan itu,” jawab Minho dengan jawaban dari otak busuknya.

Minho sudah tidak punya hati bahkan untuk kaumnya sendiri. Mungkin dia bisa sedikit berbaik hati pada 2 pengikut setianya yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

“Lalu, bagaimana dengan gadis itu? Sampai kapan dia ada disini?” Tanya Sulli, menunjuk salah satu pintu ruangan di rumah itu.

“Gadis itu, ya… Hmm.. Kita bawa saat perang nanti. Saat terdesak, kita jadikan dia jaminan. Mereka pasti akan menukar kekuatan mereka demi gadis itu,” ujar Minho.

“Kau benar-benar akan menukarkan gadis itu dengan 12 kekuatan mereka?” Tanya Sulli lagi.

“Saat ku dapatkan kekuatan mereka, tak akan ada lagi yang tersisa. Meskipun aku sudah menyerahkan gadis itu, tetap saja dia akan mati, kan?”

Jawaban Minho benar-benar menggambarkan kelicikan dan kekejaman yang luar biasa demi nafsu jahatnya yang ingin menguasai dunia dan membuat negara vampire terbesar. Jika semua rencana Minho berhasil, mungkin tidak akan ada lagi manusia di dunia ini.

.

.

.

Atau mungkin lebih parah.

 

****

Pak Jim sendiri mengawasi dan membimbing kesebelas muridnya yang sedang mengepak keperluan mereka ke dalam masing-masing ransel. Beliau sendiri juga yang mengatur barang apa saja yang harus dibawa oleh mereka. Dia memastikan bahwa semua barang-barang penting sudah dibawa.

Kesebelas Wolf Boys berniat untuk pergi ke Berlin, Jerman. Kawasannya memang masih di sekitaran Eropa, tapi cukup aman untuk berlindung dari Minho. Waktu setempat pun hanya beda 1 jam dengan London. Jadi mempermudah mereka untuk tahu kapan waktu mereka harus kembali.

Baik Pak Jim ataupun Mr. George, tidak ada satupun dari mereka yang akan ikut Wolf Boys ke Berlin. Mereka memutuskan untuk menemui Minho dan mengulur waktu selama Wolf Boys bersembunyi di Berlin. Kevin sudah memohon pada Pak Jim untuk ikut dengannya dan yang lain ke Berlin, namun Pak Jim tetap berusaha menolak.

“Aku bisa menahan Minho di sini sampai kalian kembali. Dia akan ku buat sibuk hingga tidak bisa menyusul kalian ke Berlin,” ujar Pak Jim berusaha meyakinkan.

“Tapi, Pak, Minho bisa berbuat hal yang buruk pada Bapak. Kami masih butuh Bapak,” pinta Kevin sangat.

Pak Jim hanya tersenyum. Dengan suara tuanya dia berkata, “Aku sudah tua. Tidak ada yang bisa kulakukan.  Kalian sudah tidak membutuhkanku lagi. Kalian yang harus menyelesaikannya sendiri.”

Para Wolfs Boys tidak bisa berbuat banyak untuk membujuk orang tua itu untuk ikut pergi. Mereka sudah siap dengan ransel mereka dan siap untuk pergi. Sekolah juga sudah resmi diliburkan dan semua murid sudah dipulangkan. Sekolah itu akan benar-benar sepi setelah kesebelas Wolf Boys itu pergi.

Pak Jim mengeluarkan sebuah pedang. Salah satu pedang yang ada di perpustakaan rahasia milik Pak Jim. Pedang dengan umur ratusan tahun, panjang dan ramping. Dibungkus dengan sarung berwarna meran marun. Pegangannya yang terlihat indah dengan banyak ukiran tangan.

“Pedang ini milik salah satu kstaria Mortem pertama. Suatu kehormatan bisa menyimpan salah satu dari 12 pedang bersejarah ini,” ujar Pak Jim menjelaskan tentang pedang yang ada ditangannya.

“Pedang ini milik ksatria ketiga. Leluhur dari Fleur. Kurasa….” Pak jim menyodorkan pedang itu ke arah Kevin. “Dia tidak akan keberatan jika aku memberikan ini padamu.”

Meski ragu, Kevin meraih pedang itu. Jika dilihat lebih teliti lagi, ada ukiran simbol naga disana. Simbol kekuatan flight milik Fleur dan leluhurnya. Tapi… Apa pantas Kevin menerima pedang ini? Fleur sudah tidak ada dalam tubuhnya lagi. Sekarang ini, Kevin adalah Mortem tanpa kekuatan atau bahkan hanya werewolf biasa.

Kevin berasa berat dan terbebani saat menerima pedang itu. Dia merasa sama sekali tidak pantas menerima pedang itu. Tapi untuk sekarang tidak ada yang boleh tahu kalau Fleur sudah dibebaskan.

“Aku sudah lumuri pedang itu dengan darah Amy. Jadi bisa digunakan untuk membunuh vampire,” ujar Pak Jim lagi.

“Terima kasih, Pak.” Pak Jim menyambut ucapan terima kasih Kevin dengan senyum di wajahnya yang penuh dengan keriput.

“Dan Will,” kata Pak Jim memanggil murid kesayangannya itu. “Jaga teman-temanmu saat di Berlin nanti… Ku percaya kan tugas ini padamu dan Francis.”

Will memeluk pria tua di depannya spontan. Orang tua yang sudah ia anggap seperti kakeknya sendiri. Mungkin pelukan ini akan menjadi pelukan terakhirnya dengan Pak Jim.

Begitu pula dengan Stephan yang sudah menghabiskan 10 tahun hidupnya dengan Pak Jim yang telah merawatnya seperti cucu sendiri setelah orang tuanya meninggal saat ia berumur 7 tahun.

“Jika sekarang ini adalah terakhir kalinya aku melihat kalian, aku hanya berpesan pada kalian, tetaplah berjuang. Jangan pernah menyerah sekalipun.”

Tangis pecah saat Pak Jim mengatakan hal mengharukan seperti itu. Terdengar suara isakan Stephan yang masih memeluk Pak Jim. Kebanyakan dari sebelas anak laki-laki disana menangis tanpa suara dan mereka beramai-ramai mulai memeluk kepala sekolah yang telah banyak berjasa bagi mereka untuk terakhir kalinya. Mungkin untuk 2 hari kedepan dan seterusnya, mereka tidak akan bisa memeluk Pak Jim lagi.

 

****

Mr. George kembali ke rumahnya dan langsung menemui Leo yang masih ada di rumahnya. Saat itu Leo tidak sedang berbuat apa-apa selain memainkan beberapa benda kecil dengan kekuatannya. Dari wajah pria berumur 53 tahun itu dapat ditebak kalau keadaan sudah semakin gawat dan membahayakan.

“Teman-temanmu sudha pergi ke Berlin,” kata Mr. George.

“Berlin?” ulang Leo kaget. “Maksud paman Jerman?”

“Tempat itu yang dipilih teman-temanmu karena disana cukup aman untuk berlindung sementara dari Minho selama gerhana bulan,” ujar Mr. George. “Kau juga harus menjauh dari kota ini.”

“Aku juga?”

“Ya. Jika kau tetap disini, Minho bisa dengan mudah menangkapmu.”

Mr. George menyerahkan sebuah ransel yang dari tadi ia bawa dari XOXO. “Barang-barang yang kau perlukan sudah ada disini. Aku mengambil berberapa pakaian dari kamarmu. Didalam tas ini ada roti juga. Ada sebotol kecil darah Amy—untuk jaga-jaga.”

Pria itu langsung berpaling ke dalam kamarnya—setengah berlari—setelah ransel itu berpindah tangan. Dia kembali dengan sebuah pedang yang sudah ia simpan selama hidupnya. Pedang panjang, dibalut dengan sarung hitam dengan gagang berwarna emas berhiaskan  sebuah berlian biru.

“Ini,” kata Mr. George saat menyodorkan pedang itu pada Leo. “Pedang ini bisa membantumu.”

“Tapi,” kata Leo ragu. “Aku tidak bisa menggunakan pedang. Aku tidak pernah belajar.”

“Kau akan menguasai pedang ini tanpa harus mempelajarinya,” ujar Mr. George berusaha meyakinkan. “Pedang ini milik ksatria Mortem kedua. Leluhur dari Mortem yang ada didalam tubuhmu. Dengan begitu kau akan langsung menyatu dengan pedang ini karena kau bersama dengan keturunan dari pemilik asli pedang ini.”

Keraguan Leo sangat besar untuk mengambil pedang itu dari tangan Mr. George. Dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan pedang sama sekali. Jika dia menggunakan pedang itu, bisa-bisa di mati konyol karena tidak bisa menggunakan pedang saat bertarung. Meski dia masih tidak yakin, Leo meraih pedang itu dan mengambilnya.

“Jika pedang ini milik ksatria Mortem, bagaimana pedang ini bisa ada pada paman?” tanya Leo penasaran.

“Ayahku adalah salah satu penjaga kuil Mortem. Saat kuil dihancurkan oleh para vampire, barang-barang yang dulunya milik para leluhur Mortem hilang entah kemana. Lalu ayahku menemukan pedang ini dan memutuskan untuk menyimpannya,” jelas Mr. George panjang. “Dan sudah saatnya pedang itu kembali kepada pemilik yang seharusnya.”

“Kenapa paman membantuku sampai seperti ini? Aku masih tidak mengerti sampai sekarang,” kata Leo bingung.

Namun Mr. George hanya tersenyum. “Kau akan tahu nanti. Pergilah ke selatan! Disana akan lebih aman.”

“Tapi paman—“

“Kau harus pergi sekarang sebelum mereka tahu kau disini!” Mr. George mendorong Leo ke arah pintu, memaksa anak itu untuk pergi dari rumahnya yang absolutely tidak aman.

“Tapi—“

“Tidak ada kata tapi. Mereka bisa mencium baumu di rumahku jika kau terlalu lama disini. Carilah tempat yang aman. Jangan keluar sampai bulan purnama selesai!” Mr. George terus mendesak Leo yang belum berniat untuk pergi sekarang. “PERGI!”

Leo berlari meninggalkan Mr. George yang sudah secara resmi menyuruhnya pergi. Dia berlari secepat yang ia bisa ke arah selatan, menjauh dari rumah Mr. George, desa, kota dan termasuk XOXO academy.

Langkahnya semakin cepat saat memasuki kawasan hutan. Leo tidak  tahu harus pergi kemana. Yang dia tahu hanya ‘pergi ke selatan’. Dia sudah menuju arah selatan, tapi dimana tempat yang aman untuknya? Vampire bisa saja menemukannya jika dia sedang sial.

Sayangnya keadaan Leo yang belum pulih 100 persen membuatnya tiba-tiba tumbang ditengah hutan.  Badannya sudah lemas setelah hampir 30 menit berlari tanpa berhenti. Bahkan sekarang dia sudah tidak sanggup berdiri.

Leo merasa seseorang meraih tangannya dan melingkarkannya di lehernya. Orang itu cukup kuat untuk mengangkat tubuh Leo yang lemah dan membawanya melewati akar pohon yang besar, masuk ke dalam ruangan rahasia dibawah pohon besar dan tua.

Orang itu menuntun Leo dan membaringkannya di sebuah alas bulu yang halus. Cahaya di ruangan itu sangat redup. Leo hampir tidak bisa melihat orang yang membawanya kemari.

“Are you alright?”

Suaranya seperti suara perempuan. Terdengar cukup familiar di telinga Leo.

Cahaya lentera yang baru saja dinyalakan membuat Leo bisa melihat dimana tepatnya dia berada sekarang. Kepalanya terasa pusing saat mencoba untuk memfokuskan pandangannya. Sampai ia melihat wajah seorang perempuan berambut pirang itu lagi.

 

To be continue

 

****

Annyeong readers^^ Jinnie pacarnya Luhan telah kembali ^o^) #plakk

Readers!! Jinnie punya bad/good news nih… Gak tahu readers bilang ini bad news atau good news.

BEAUTY & BEAST BAKAL DIPERPANJANG SATU CHAPTER!!!!!

Itu dia news nya ‘-‘) Bad atau good news tuh… Gak tahu deh.

Alasan kenapa diperpanjang? Ada 1 konflik lagi yang muncul di otak Jinnie dan kalau ditambah konflik yang udah ada(?) bakal jadi panjang ‘^’) Yang udah gemes baca endingnya, sabar dulu yah^^

Terima kasih buat readers yang selalu setia sama FF, terlebih YANG SUKA COMMENT^^

See you next chapter :*

11 thoughts on “Beauty & Beast [Chapter 13]

  1. wah makin seru . . . .
    kata2 pak jim kaya pesan terakhir. , .
    permpuan yg ama leo ky.a fleur deh. . . .
    ko mrka mghindar sih gak ngelawan minho knp??????
    n siapa prmpuan yg d tawan sulli???????

  2. Kyaaaaaa… jinnie-yah

    ffnya keren bgt sumpah…
    maaf baru bisa komen di chapter ini ya…
    Cepetan ya update chapter selanjutnya.. aku penasaran bgt nih.

    keep writing Jinnie!!

  3. Tbc nya berasa cepet banget, atau emang lagi semangat baca ff Beauty & Beast gitu ya?😄
    Lanjut Thor, Jangan terlalu lama ya kkk~ ‘-‘)9

  4. Jinniee…. Akhirnya di share juga.. Yg jdi sandera nya minho itu jessica ya? Trus cewek rambut pirang itu siapa? Tumben FFnya lbh pendek dri biasanya, apa akunya yg kurang puas? Ah bawel -,-
    ditunggu next chapternya yaaaa.. Jangan lama2 ya jinnie..

  5. whahaha, kak ini aku suka bgttt! itu kenapa tbc nya disitu sih, bikin penasarannnnn, ditunggu next chapter ya kak, jgn lama2 hehe ^^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s