[FREELANCE] (Not) Perfect

notperfect

Title: (Not) Perfect

Author: Alingcho

Main Cast: Park Chanyeol

Support Cast: Oh Sehun

Genre: Romance comedy?

Rating: G

Length: One shot [3834w]

Disclaimer: This story has been published on my own blog. Characters belong to themselves wherein the plot of this story belongs to me. Plagiarisms are not allowed. Happy reading!

Picture credit goes to whomever the owner of this picture!

Summary:

“… tak ada kata sempurna selama kau berurusan dengan laki-laki setinggi 185 sentimeter itu.”

Riset membuktikan bahwa orang single cenderung berharap mendapat pasangan yang sempurna.Begitu juga dengan Yeonju. Bertahun-tahun tenggelam dalam dunia fangirl membuat ia memimpikan sosok sempurna. Tapi semua berubah setelah Tuhan mengenalkannya dengan Park Chanyeol.Karena, tak ada kata sempurna selama kau berurusan dengan laki-laki setinggi 185 sentimeter itu.

First impression doesn’t always say the truth; atau begitulah yang Yeonju percaya sejak bertemu Park Chanyeol. Kesempatan pertama mereka bertemu adalah waktu Yeonju mengembalikan piring keluarga Park—yang merupakan tetangga barunya. Hal pertama yang ialakukan ketika bertemu dengan Chanyeol adalah membatu. Siapa yang tak akan membatu ketika pria tipe idamannya berdiri di hadapannya? Badan tegap dengan tinggi menjulang, rambut hitam cepak, iris hitam legam, dan…

“Terima kasih.”Oh suara bassnya. Dan senyum manisnya.ASDFGHJKL.

Yeonju serasa menemukan pangeran impiannya.

Keesokan harinya Yeonju hendak berangkat ke sekolah ketika Chanyeol keluar rumah, mengenakan seragam seperti milik kakaknya, Yeonhee, dulu serta memanggul gitar akustik di punggung.Okay… tambah satu lagi kelebihan laki-laki itu di mata Yeonju.

Sesampai di sekolah, Yeonju sibuk berkoar tentang sosok sempurna yang tinggal di depan rumahnya itu, yang mendapat dengusan dan komentar semacam ‘tak ada sosok sempurna di dunia ini, kau terlalu banyak menonton drama’ dari Sehun, yang kemudian ia abaikan karena ia terlalu sibuk mengagumi insiden hari kemarin.

Oh, dan tentu saja, sepanjang hari itu Yeonju sibuk tersenyum ke semua orang. Dan Oh Sehun selalu ingin tahu alasan di balik merekahnya senyuman Yeonju.

Kali kedua, Yeonju sedang menyuapi Minki—anak tetangga samping rumahnya—ketika Chanyeol tiba di garasi rumahnya mengendarai motor hitam besar. Yang Yeonju tak sangka adalah detik setelah ia turun dari motornya, Minki berlari menghampirinya.

“Hi.” Sapa lelaki itu pada Minki.“Siapa namamu? Aku Chanyeol,” sembari melambaikan tangan dengan ceria.

Mereka berdua pun terlibat pembicaraan seru sampai-sampai Yeonju hanya bisa berdiri kikuk seperti anak baru yang terlupakan.

“Adikmu?” tanya Chanyeol kemudian, menghamburkan lamunan Yeonju.

“Oh, bukan, dia tinggal di samping rumahku.”

“Chanyeol,”

“Yeonju.”Balas Yeonju sembari menjabat tangannya.

“Uhm, hyung ganti baju dulu, ya, Minki,” pamit Chanyeol sebelum bangkit, nyaris tersandung tali sepatunya sendiri, lalu berjalan masuk ke rumah.

Sepuluh menit kemudian Chanyeol keluar dari rumahnya, mengenakan celana training selutut dan kaus hitam, menghampiri Yeonju dan Minki yang kini tengah duduk di ayunan besi di pekarangan rumah Minki. Yang Yeonju ingat selanjutnya ia dan Chanyeol terlibat pembicaraan seru mengenai apa saja; mulai dari sekolah, kakak mereka, teman sepermainan, hobi, sampai permintaan iseng Yeonju pada Chanyeol untuk mengajarinya main gitar yang dibalas pria itu dengan satu kata simpel: oke.

Perempuan itu juga jadi tahu bahwa Chanyeol suka tertawa seperti orang gila… kau tahu, setiap kali tertawa ia akan menepuk-nepuk kedua tangannya tak lupa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan heboh, bahkan jika cerita Yeonju kelewat lucu ia akan memukul pahanya juga.

Meski begitu, Yeonju masih terpesona padanya.Tapi, Yeonju bertanya-tanya, mengapa dia sering nyaris tersandung?Apa dia ataksia?

Setelah lima belas menit Yeonju habiskan dengan duduk di sofa ruang tamu sembari menggigiti kuku, Chanyeol datang membawa gitar Martin & Co. D-28 miliknya. Yeonju merasa sedikit hina sewaktu kedua netranya menelusuri pakaian Chanyeol: celana jins panjang, kaus putih kebesaran (seperti hari kemarin), serta snapback yang dipakai terbalik; sementara dirinya sendiri hanya mengenakan celana rumahan selutut dan kaus gembel. Tapi sudahlah, yang penting pria itu terlihat ganteng.

Ngomong-ngomong, sebelum masuk ke rumah Yeonju, gitar Chanyeol hampir akan mencium lantai jika gadis itu tak keburu menangkapnya. Yeonju mulai curiga lelaki itu memang mengidap ataksia.

Tak ada hal aneh yang terjadi sewaktu sesi pembelajaran. Hanya Yeonju yang bersungut kecil saat ia mesti memotong kuku-kukunya (yang baru ia biarkan tumbuh sebulan terakhir) karena Chanyeol bilang untuk memainkan gitar sebaiknya tidak berkuku panjang.

Dua jam kemudian empat jari kiri Yeonju terasa ngilu setelah menekan senar-senar gitar Dove DL-220 miliknya (yang selama ini teronggok di sudut kamar), meski begitu pada akhirnya sekarang ia sudah menguasai kunci dasar dan bisa memainkan instrumen Romance milik Choi Tae Hwan—sedikit. Harus ia akui Chanyeol termasuk guru yang sabar dan benar. Maksudnya, pria itu sama sekali tidak bercanda bodoh seperti kemarin saat mereka duduk di ayunan Minki, atau bertingkah seperti penderita ataksia. Ia hanya memasang wajah serius dan terus mengajari Yeonju dengan telaten. Oh, perempuan itu merasa berkunang-kunang setiap melihat tampang khusyuknya.

Pertemuan hari itu bisa dikatakan sempurna, jika saja Park Chanyeol tidak menabrakkan gitar coklatnya ke daun pintu rumah Yeonju yang pada akhirnya membuat jidat pria itu terantuk ke leher gitarnya sendiri.

Satu meter di belakangnya, Yeonju menghela napas tenang sembari menutup wajahnya dengan satu tangan dan menggumam, “Kau tidak mengidap ataksia, kan, Yeol?”

“Huh?”

Yeonju menggeleng, “Lupakan.”

Yeonju merenung, bagaimana bisa sosok sempurna yang tadi mengajarinya main gitar sekarang terseok-seok untuk pulang ke rumah?

Waktu mereka bertemu kembali, Yeonju semacam ingin mencekik lehernya sendiri, karena oh Tuhan Park Chanyeol juga bisa bermain basket!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Ia nyaris tersandung polisi tidur saat melewati lapangan basket di perbatasan blok komplek rumahnya saat retinanyamenangkap sosok Chanyeol sedang bermain basket bersama Yoora, kakaknya.

Menit berikutnya Yeonju sudah ada di lapangan basket, mendribble bola sembarangan sembari menghindari lawan, lalu mencoba melempar bola ke ring basket.Sayangnya, gagal. Permainan two on two itu pun berlangsung selama lima belas menit yang diwarnai pekikan heboh Yeonju setiap Chanyeol berusaha merebut bola di tangannya.

Keempat remaja itu lalu merebahkan diri di atas lapangan dengan posisi seperti ini: Chanyeol dan Yeonju bersisian serta dua meter dari tempat mereka Yeonhee dan Yoora bersebelahan. Kedua anak bungsu sibuk meredakan detak jantung sebelum akhirnya mengobrol ini itu, sementara kedua anak sulung sibuk mengatur napas sebelum akhirnya diam-diam meninggalkan adik mereka berdua berjemur di sana.

“Pulang, yuk.” Ajak Yeonju setelah merasa kepanasan di bawah sinar matahari.Ia tak begitu peduli pada Yeonhee yang ia yakin sengaja meninggalkannya dengan Chanyeol berdua. Hah.

Di perjalanan pulang Chanyeol sibuk bercerita tentang salah satu temannya, Kris, yang mempermalukan dirinya sendiri waktu mereka berlatih matrial artskemarin. Yeonju juga sadar bahwa Chanyeol adalah pencerita yang baik, ia bercerita sambil menggerak-gerakkan tangan (bahkan sesekali seluruh tubuhnya, untuk mempraktikkan ulang perbuatan bodoh temannya) hingga ia lupa bahwa ia sedang membawa bola basket. Bola itu kemudian menggelinding… sukses masuk ke parit, membuat dia mesti masuk sendiri ke sana untuk mengambilnya.

Yeonju mengatupkan kedua bibirnya.No moments end perfectly with Park Chanyeol.

Periode berikutnya, Yeonju sedang mencoba memainkan lagu Banmal Song milik YongSeo couple di ruang tamu saat tiba-tiba ada suara gerasak gerusuk di depan rumah. Tangannya berhenti di atas bodi gitar, menanti apa yang akan terjadi di luar sana. Detik berikutnya, lagu Cody Simpson terdengar mengalun dari suara bass yang tak asing. Yeonju melotot, tidak mungkin, kan…

Ia berderap membuka gorden rumahnya, dan di sanalah seorang Park Chanyeol sedang berdiri seraya memetik gitarnya dan menyanyikan,

And I say hey there pretty brown eyes

Whatcha doin’ later tonight?

Would you mind if I spend time with you?

Yeonju meletakkan satu tangannya di pinggang dan satu lagi di muka setelah menjeblaskan pintu rumahnya, kemudian memekik, “Apa yang kaulakukan!?”

“Um, mengajakmu pergi nanti malam.”

Yeonju mendelik, Oh Tuhan mukanya memerah. Pangeran kodoknya mengajak dia jalan nanti malam! Dengan cara seperti ini!

“Te-ri-ma!Te-ri-ma!” nyanyian yang Yeonju tahu pasti berasal dari bibir licik Yeonhee menyadarkannya dari lamunan.OMG Park Chanyeol masih menunggu jawabannya.

“Sudah berapa… uhm, lama aku…”

“Hampir tiga menit,” jawab Chanyeol polos setelah melihat jam tangannya.

“Mau ke mana?”

Senyum Park Chanyeol merekah, memamerkan deretan giginya yang putih, “Nanti kau akan tahu.”

Oke.Sepertinya perjalanan malam ini patut mendapat penghargaan karena Park Chanyeol berlaku sangat normal (bahkan membuat beberapa perempuan di mal menatap Yeonju iri).

Kencan, uh, jalan-jalan mereka hanya dengan menonton film, sih—Shadow Recruit yang ada Chris Pine (Yeonju berusaha keras membagi perhatiannya antara plot cerita, aktor tampan kesukaannya, dan pangeran kodok di sisi kanannya). Kemudian mereka makan di restoran Jepang di samping CGV; lagi-lagi menggunjing tentang teman dan kakak masing-masing, sebelum akhirnya membuka diri masing-masing.Uh.Terdengar serius.

Mereka tiba di depan rumah Yeonju pukul sepuluh malam. Chanyeol sempat (akhirnya) meminta nomor ponsel Yeonju sebelum pulang.

Award!

Yeonju baru saja menghempaskan tubuhnya ke atas kasur seraya menangkup pipi panasnya ketika suara debuman nyaring masuk ke gendang telinganya. Jangan bilang…

Sebulan kemudian Yeonju pergi ke sekolah diantar oleh pacar barunya.Em, sebenarnya ini bukan kali pertama diantar Chanyeol, tapi ini kali pertama diantar Chanyeol sebagai pacar barunya.Gadis itu benar-benar tak bisa melenyapkan senyuman di wajahnya.

“CERITAKAN PADAKU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak teman-temannya bersamaan begitu ia muncul di kelas.

“Cerita apa,” jawabnya pura-pura bodoh.

“Oh, jadi Park Chanyeol masih sendiri…”

“Oke, oke, apa yang ingin kalian tahu?” Redam Yeonju.

“SEMUANYA!!!!”

Oke, Yeonju tak tahu bahwa hampir setengah kelas menunggu ceritanya.

Sabtu malam kemarin, ketika Yeonju baru habis mandi—setelah sepulang sekolah tadi dibawa kabur ke Hongdae—Park Chanyeol meneleponnya, hanya mengucap, “Keluar,” lalu menutupnya.

Dengan setelan handuk membungkus rambut yang baru dicuci dan piyama yang membalut tubuh, Yeonju keluar rumah dan menemukan—DEMI TUHAN APA YANG KAULAKUKAN DI ATAS POHON JAMBU RUMAHKU, PARK CHANYEOL!?!—kalimat itu tersangkut di tenggorokannya.

“Chanyeol, turun.”

“Aku mau menyanyikan lagu kesukaanmu!”

Yeonju meletakkan kedua tangannya di pinggang, “Tapi tidak di atas pohon!!”

Percuma.

Chanyeol sudah menyanyikan lagu You Got Me milik Colby Caillat.

Dan Yeonju keburu menganga di tempatnya berpijak.

“Chanyeol, please, turun,” pintanya putus asa setelah Chanyeol melewati refrain pertama dengan kedua orang tua dan kakak mereka menonton dari depan rumah masing-masing—juga beberapa tetangga di kiri dan kanan rumah Yeonju.

“Belum selesai!”Pekik Chanyeol di antara bridge lagunya.

“Selesai!”Teriak Chanyeol lalu memeluk bodi gitarnya, “Kau mau jadi pacarku?”Tanyanya santai.

OH TUHAN LAKI-LAKI NORMAL MANA YANG MENYATAKAN CINTA SEMACAM ITU. TERLEBIH DARI ATAS POHON.

Yeonju mau pingsan.

“Tidak.”

“Loh?????Kenapa tidak!?!?!”

Yeonju berderap menghampiri pohon jambu rumahnya, “Kau mau turun tidak!?”

“Terima aku dulu!”

“TURUN!”

“Tidak mau!”

“MASA BODOH.” Lalu Yeonju masuk ke rumah, meninggalkan Chanyeol kebingungan di atas pohon, dan beberapa kepala orang dewasa yang menggeleng melihat hiburan malam itu.

Thump.

Yeonju tahu dari mana asal suara debum keras itu.

Ke mana sosok pangeran sempurnaku yang kujumpai di depan rumahnya dua bulan lalu!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!

Jadi, yang tadi adalah kronologi penembakan gagal yang dilakukan Si Park Chanyeol.Sepulangnya ke rumah dengan pantat pedih akibat terpelisit dari pohon, Yoora memukulnya dengan bengis sambil mengucap, “Adikku kenapa jenius sekali ya Tuhan.Aku malu sekali punya adik sepertimu.Ibu, pindahkan aku ke rumah yang lama.Atau tendang anak ini dari sini.”

Chanyeol tidak mengerti di mana salahnya.Menurut dia, idenya tadi bagus dan sempurna; menyatakan cinta melalui lagu.

“Iya, Chanyeol, sebagian besar perempuan akan luluh hatinya jika kau menyatakan cintamu melalui lagu. Tapi tidak dengan menaiki pohon rumahnya dan membangunkan tetangga-tetangganya.”Yoora menghela napas dalam, “Tidak ada perempuan yang mau menerimamu jika kau menyatakan perasaanmu main-main seperti tadi!Mana ada laki-laki yang menyatakan cinta seperti mengajak main basket!”

“Jadi yang benar itu bagaimana…”

Minggu pagi, Chanyeol mencoba lagi. Kali ini dengan cara yang normal; mengikuti saran kakak tercinta. Ia mengetuk pintu rumah keluarga Lee yang kebetulan dibukakan oleh sang kepala rumah tangga, meminta maaf atas insiden semalam dan meminta izin untuk mencoba lagi dengan jalan yang lebih lazim pagi ini, yang direspon dengan, “Good luck!” oleh Tuan Lee.

Yeonju masih tidur, dan Chanyeol tahu jika ia yang membangunkannya via sambungan telepon, mood Yeonju pasti akan langsung rusak. Jadi, ia meminta tolong ayah Yeonju membangunkan putri bungsunya, supaya nanti sewaktu nyawa Yeonju sudah terkumpul, ia bisa menjalankan misinya. Ia menunggu di depan jendela kamar Yeonju dengan kaki yang digoyang-goyangkan, berusaha keras mengabaikan debaran jantungnya. Yuhu!

Sepuluh menit kemudian Tuan Lee muncul dari pintu memberinya kode.

Yeonju berguling-guling di atas kasur, berusaha keras melupakan kejadian memalukan tadi malam yang tak membuahkan hasil.Ia membenamkan wajah ke bantal, berharap wajahnya terhisap ke sana sehingga ia tak perlu lagi menghadapi orang tua, kakak, dan tetangga yang melihat indisen semalam.

I’m in trouble, I’m an addict
I’m addicted to this girl

Yeonju menangis.Ia menyibak gorden jendela kamar, menemukan Park Chanyeol bernyanyi untuknya dengan tampang serius, lalu terkekeh kecil di antara tangisannya.

She’s got my heart tied in a knot
And my stomach in a whirl

But even worse, I can’t stop calling her
She’s all I want and more

Mendadak omongan Yeonhee semalam terputar di dalam kepalanya; menyatu dengan nyanyian Chanyeol dari luar sana.

I mean damn what’s not to adore?

“Tidak ada manusia yang sempurna, Yeonju.Hanya ada orang-orang yang berusaha terlihat sempurna. Untuk apa kau mengharapkan sosok sempurna yang pastinya lama-lama akan membuatmu jenuh karena kesempurnaannya.

I’ve been playing too much guitar
I’ve been listening to jazz
I called so many times, I swear she’s going mad
And that cellular will be the death of us I swear, I swear

“Jangan kecewa pada Chanyeol karena perilakunya yang… em… sedikit aneh itu.Menurutku itu keunikan dia; tak bisa bersikap seperti orang normal. Hei! Daripada mencari sosok yang sempurna lebih baik kau mencari sosok yang unik! Sosok sempurna pasti diinginkan semua orang, tapi sosok unik belum tentu.

And oh
O-oh, o-oh, o-ooh
Oh

“Dan, aku tahu memang caranya tadi agak konyol, tapi coba kau lihat dari sudut pandang yang lain. Dia mencari cara bagaimana menyampaikan perasaannya padamu, dia mencoba dengan cara yang menurutnya akan membuatmu luluh, melalui sebuah lagu, bahkan berpikir untuk naik ke atas pohon! C’mon, Yeonju, hargailah usahanya.”

I’m running my mouth
Just like I got her, but I surely don’t

“Aku tahu kau tetap akan menerima dia meski dia agak… begitulah.”

Because she’s so o-oh, o-oh, o-ooh rock ‘n roll
And out of my league
Is she out of my league?
Let’s hope not

Yeonju kini sudah berdiri di hadapan Chanyeol dengan mata memerah dan kedua tangan di pinggang.Ia berusaha keras menahan tawa yang akan lolos dari mulutnya begitu melihat ekspresi tegang Chanyeol.

“Aku minta maaf soal tadi malam.”

Yeonju merespon hanya dengan mengangkat kedua alisnya.

“Kau memaafkanku atau tidak…”

“Hm.”

“Yeonju—aku—hm, kau—apa aku boleh jadi pacarmu?”

Yeonju kemudian meledak dalam tawa.So much for an answer.

Dua menit kemudian, setelah puas terbahak, ia mengangguk.

“YESSEU!”

Sayup-sayup terdengar tepuk tangan dari sana sini.

“Sudah, mendongengnya?”

Yeonju memasang senyum manisnya, “Sudah, Oh Sehun.”

Kalau ada yang bertanya-tanya seperti apa Chanyeol setelah punya pacar, maka jawabannya adalah sama saja. Park Chanyeol tetaplah Park Chanyeol yang konyol dan Park Chanyeol yang tanpa sadar suka berperilaku tak normal.

Satu-satunya kesempatan ia berperilaku normal ialah sewaktu bermain musik. Pada malam di akhir pekan malas semacam ini ia akan datang ke rumah Yeonju dengan tangan kosong (lalu nanti meminta Yeonju mengeluarkan Dove miliknya) untuk kemudian membuat keributan di beranda kediaman keluarga Lee. Biasanya mereka akan mengawali kencan miskin mereka dengan mengobrol, kemudian Chanyeol mulai akan memetik senar-senar gitar ketika bahan gosip mereka telah habis, lalu mereka akan berkaraoke berdua (dari bernyanyi dengan cara yang benar sampai tidak benar), dan ujung-ujungnya pasti ada hal jenius yang dilakukan atau dikatakan Park Chanyeol.

Contoh saja waktu minggu terakhir Januari lalu. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam di penghujung musim dingin ketika Chanyeol mengajak Yeonju berjalan kaki ke convenience store di ujung jalan—yang berjarak lima ratus meter dari rumah Yeonju—yang ternyata hanya untuk makan ramen dan jus jeruk kemasan. Hanya dengan piyama.Dan uang pas-pasan di kantong.

Atau di minggu malas berikut ketika Yeonju bersin-bersin karena embusan angin malam, Chanyeol berlari ke rumahnya (tanpa mengucap apa pun sebelum pergi) lalu kembali membawa bed cover Rilakkumanya untuk membungkus tubuh kedinginan Yeonju. Romantis, sih. Tapi, kalau saja Chanyeol mau bilang lebih dulu bahwa dia tergesa pulang hanya untuk mengambil bed cover—yang sebenarnya bisa Yeonju ambil dari di kamarnya sendiri—jidatnya pasti tidak akan benjol karena mencium lantai akibat kakinya menginjak ujung bed cover.

Atau sekarang sajalah.

Yeonju muncul dari dalam rumah, membawa dua kaleng Cola dan satu kotak berpita pink untuk Chanyeol.“Nih,” sodornya malu-malu.

Chanyeol menoleh, ekspresi bingung tercetak di wajahnya, “Apa?”

“Buka saja.”Jawab Yeonju sebelum duduk di kursi samping Chanyeol.

“Coklat?” tanya Chanyeol, “Kenapa coklat?”

Yeonju mendesah pelan, “Hari ini valentine day, Chanyeol.”

“ASTAGA.”Pekiknya dengan suara bassnya lalu berdiri dari duduknya dan membuat Yeonju terlonjak.

“AKU TIDAK—AH—AKU LUPA MEMBELIKANNYA UNTUKMU!!” lalu ia mondar mandir seperti cucu yang habis memecahkan guci kesayangan neneknya.

“Chanyeol.”

“YEONJU AKU MINTA MAAF.”

“Chanyeol.”

“MAAF.”

Yeonju menendang kakinya.

Chanyeol akhirnya menatap gadis itu.

Valentine day itu waktunya perempuan memberi hadiah untuk pacarnya.Waktunya laki-laki memberikan hadiah untuk pacarnya itu white day.Mengerti?”

“Oh—uh—” ia tergagap. “White day itu kapan?”

Perempuan itu merosot di kursinya.“Yeol… kau tidak pernah pacaran?”

Chanyeol, dengan tubuhnya yang menjulang hampir setinggi pintu, berdiri kaku dengan bibir tertutup rapat di depan pacarnya.

Oh, apakah benar?

Cengiran Yeonju merekah.“14 Maret, sayang.”

WOW APAKAH YEONJU TIDAK SALAH LIHAT? WAJAH CHANYEOL MEMERAH?

Hari itu minggu kedua musim semi, keluarga Park mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan untuk merayakan… entah, Yeonju juga tidak tahu untuk merayakan apa. Ia juga tidak tahu kenapa hanya keluarganya yang diundang di pesta kecil-kecilanini, padahal setahu dia keluarga Park tidak hanya akrab dengan keluarga Lee. Maksudnya, ada keluarga Kim yang berbagi tembok dengan rumahnya, tapi—ya sudahlah yang punya acara juga bukan dia.

Yeonju menghampiri Chanyeol yang sibuk dengan daging di atas panggangan.Ia duduk menopangkan kedua lengan di kursi berjarak semeter dari meja pemanggang; menonton pacarnya berjuang sendiri menyiapkan makanan mereka.

Yeonju mengerucutkan bibirnya.Tuhan tolong ingatkan dia kenapa dia menerima pria abnormal ini.

Sesungguhnya hari itu bertanggal 14 Maret, yang artinya adalah white day. Yeonju sempat tidak berharap Chanyeol akan memberi atau bahkan sekadar mengingat hari tersebut, tapi pagi tadi sebelum mereka berangkat ke sekolah, Chanyeol memberinya coklat. Tepatnya permen coklat.Satu biji.

Do not expect too much when you have a boyfriend like Chanyeol.

Chanyeol itu seperti roller coaster.Kadang dia mengesankan, kadang mengesalkan, kadang mempesona, dan seringnya mempermalukan diri sendiri.

Yeonju lupa kapan kejadiannya—entah seminggu atau dua minggu setelah mereka pacaran—mereka bertemu Sehun. Bukan bertemu bertemu, tapi waktu itu Sehun baru datang saat mereka berdua baru tiba di depan sekolah Yeonju. Perempuan itu kemudian bilang pada Chanyeol bahwa Oh Sehun, si juara dance se-kota Seoul, menyukainya. ‘Oh’ adalah reaksi Chanyeol.

“’Oh’?” tirunya.

“Iya.Oh. Yang penting, kan, yang kausukai itu aku.”

Ia menghajar lengan Chanyeol sebelum meninggalkan pria itu dengan senyum yang berusaha ia telan.

Pernah juga, mungkin kejadiannya baru seminggu yang lalu, Yeonju nyaris tak boleh masuk sekolah karena Chanyeol—karena Chanyeol lupa menaruh tasnya di mana.

Pagi itu Chanyeol terlambat bangun. Parahnya, ketika muncul di muka rumah Yeonju dengan kemeja yang belum dimasukkan ke dalam celana dan telat tujuh menit, ia tak membawa tas. Ia tak sadar tak memanggul tasnya sebelum Yeonju bertanya. Oh tentu saja sedetik kemudian Chanyeol heboh berlari ke rumah lalu kembali lagi dua menit kemudian sambil berteriak, “TASKU HILANG.” Tas punggung hitamnya yang sebesar kardus mi instan itu bisa hilang dari pandangan mata. Bayangkan.

“LALU BAGAIMANA?” balas Yeonju dengan ekspresi yang sama. “DUA BELAS MENIT LAGI PAGAR SEKOLAHKU DITUTUP.”

“A—sebentar aku—sebentar. Tunggu di sini, aku mau cari di rumahku lagi,”

“Aku naik bis saja, ya?” ucap Yeonju sebelum Chanyeol sempat berlari lagi.

Laki-laki itu melirik ke sana kemari sebelum akhirnya melompat di atas jok motornya lagi, “Aku antar kau dulu. Cepat.”

“Nanti kau—”

“Cepat!”

Kemudian mereka sampai saat satpam sekolah Yeonju sudah menggeret pagar; nyaris, nyaris,saja menutupnya jika Yeonju tidak berlari histeris.

Dua jam kemudian Chanyeol memberitahu Yeonju bahwa tasnya tertinggal di sekolah. Di dalam kelas.Di kursinya sendiri.How?!

“Ayo makan,” tiba-tiba Chanyeol menarik tangannya.

Dengan posisi keluarga Park di sisi kanan dan keluarga Lee di sisi kiri meja makan, acara barbequean itu berjalan mulus.Barbeque-an. Di meja makan.Whatever.Orang-orang dewasa dari kedua keluarga itu sibuk berhaha hihi karena cerita lucu zaman dulu yang mereka lontarkan, Yeonhee dan Yoora ikut mendengarkan cerita mereka, sementara Yeonju dan Chanyeol terdiam tak mengerti.Atau tak mau mengerti.

Yeonju sedang memperhatikan gerak gerik pacarnya ketika ibu Chanyeol berujar, “Hubungan kalian baik-baik saja, kan?” membuat ia berhenti menatap Chanyeol lalu mengangguk pelan. Memangnya ada apa?

“Kalau bukan karena rengekan Chanyeol mungkin sekarang aku tidak akan duduk di sini.” Tutur Yoora.

Huh?

Happy white day!

Yeonju menoleh. Dan oh Tuhan tentu saja kau bisa menebak apa yang terjadi.

Park Chanyeol, sudah berdiri dari kursinya, memegang sebuah kotak yang lebih besar daripada Minki dan tersenyum manis pada Yeonju. Sangat manis.

Sampai Yeonju serasa diabetes.

Dan ingin melesapkan diri ke asbes.

Wew, haruskah Chanyeol merayakan ini sekarang?Di depan seluruh anggota keluarga mereka?

Oh, Chanyeol juga jago mempermalukan orang lain. Terutama pacarnya.

Byeeeeeee,”

Yeonju melangkah riang meninggalkan ruang kelas.Hari ini adalah 100-day anniversary mereka, dan untuk pertama kalinya Chanyeol menjemput Yeonju di sekolah; karena jam pulang sekolah mereka berbeda, jadi Yeonju selama ini pulang lebih dulu daripada Chanyeol.Tapi hari ini, salah satu guru di sekolah Chanyeol meninggal, jadi murid-murid mereka dipulangkan lebih awal.Yeonju tidak tahu harus bersyukur atau ikut berduka.

Senyumnya merekah begitu melihat pacar gantengnya melambaikan tangan.Ia berdoa dalam hati sembari menghampiri lelaki itu: Tuhan, lancarkanlah hari ini.

Agenda mereka sebenarnya hanya menonton film dan makan.Terdengar membosankan? Oh, tentu tidak. Selama ada Park Chanyeol tidak ada momen yang membosankan.

Sewaktu menonton tadi tangan Chanyeol tak pernah lepas menggenggam tangan Yeonju.Hal itu tentu membuat jantung dan bibirnya tak merasa kebosanan.Ia bersyukur dalam hati, terima kasih, Tuhan, dalam momen langka seperti ini Chanyeol menjadi orang normal.

Seusai makan dan jajan di kedai kaki lima di Insadong, Chanyeol tak akan berhenti bernyanyi—meneriakkan and in this crazy life, and through these crazy times, it’s you, it’s you, you make me sing, you’re every line, you’re every word, you’re everything sekuat tenaga—jika saja Yeonju tidak membekap mulut lelaki itu dengan tangannya. Ia iseng menyuruh Chanyeol mengungkapkan rasa cinta perasaannya, yang kemudian ia sesali sendiri karena tentu saja Chanyeol pasti akan mempermalukan diri mereka berdua di depan umum. Tapi untuk pertama kalinya ia membiarkan dia ikut malu bersama pacarnya yang jenius ini. Ia tertawa saat orang-orang yang lewat menatap mereka dengan aneh.

Happy 100-day anniversary!”

Yeonju mengangkat kedua alisnya begitu Chanyeol meletakkan kotak persegi panjang berbungkus… apa itu koran?

“Apa ini?”

Chanyeol menyisip minumannya, “Hadiah.”

Yeonju… em… dia tidak harus bereaksi seperti Chanyeol sewaktu valentine day, kan? “Aku tidak menyiapkan apa-apa untukmu.”

No prob.” Ia menggedikkan bahu.

Yeonju membuka gulungan koran yang ternyata membungkus dos pulpen. Okay… ia menggigit bibirnya sembari harap-harap cemas akan isi dari dos pulpen ini.

Pick gitar.

Dan pensil mekanik.

Yeonju berkedip berulang kali, mencoba memastikan berulang-ulang wujud dua benda mati yang terkapar di telapak tangannya. “Pick gitar dan pensil mekanik? Seriously, Chanyeol?” mukanya mungkin sudah memutih.

Chanyeol menggaruk punggung lehernya yang tidak gatal, “Uhm… kau kan selalu mengeluh tentang kukumu dan bermain gitar yang selalu bertolak belakang… jadi… aku memberikanmu itu supaya kau tak perlu sering cemberut setiap kau mau memainkan gitarmu tapi kukumu sudah bertambah panjang dan kau harus memotongnya lagi dan lagi.”

Yeonju sedikit terkejut dengan jawaban Chanyeol.“Oke…” jawabnya pelan. “Lalu pensil ini?”

Chanyeol mengaduk-aduk minumannya ketika menjawab, “Supaya kau terus ingat aku waktu di sekolah.”

Yeonju…

Uhm dia kehilangan kemampuan komunikasi verbalnya.

I love you.”

Jadi begitulah, di antara semua perilaku jenius Chanyeol yang selalu membuat Yeonju ingin ditelan tanah atau dihinggapi rasa sesal menjadi pacar laki-laki itu, ada saja hal lain yang membuat ia kembali teringat bahwa ia sangat sangat bersyukur ditakdirkan dalam satu frame kehidupan yang sama dengan Chanyeol.

End.

 

5 thoughts on “[FREELANCE] (Not) Perfect

  1. wahhhhh…. sumpah ini ff ramee seru abisss.. ㅋㅋㅋ
    tertarik sama sikapnya yeonju dan chanyeol, lucuuu hehehee…
    suka deh genre ff yang kayak gini :”””D
    keep writing ya thor^^ ditunggu karna selanjutnya ^^

  2. OMG.. berharap saya tiba-tiba jadi Yeonju. Mau chanyeol kayak apa juga saya cinta dunia akherat.. Author, thanks for making such a beautiful fanfiction like this. Love your story.. Keep writing ya🙂

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s