[FREELANCE] Illa.. Illa.. (Chapter 3)

Illa Illa

Title : Illa.. Illa..

Author | Artwork | Twitter : @auliaylsnov

Genre : Alternatif Universal, Angst, Sad

Length : Chapter || Status : Chapter 3 || Rating : PG-15

Main Casts : Kim Hye Sun (OC) | Kevin Wu | Zhang Yi Xing

Support Casts : Kim Jongin | Jung Soojung | Kim Junmyeon | Oh Sehun | etc

Ost :

Juniel – Illa Illa | Ailee – Evening Sky | Ailee – Heaven

Disclaimer :

Well, FF ini terinspirasi dari MV Juniel – Illa Illa, tapi ingat! Hanya 30% dari MV, karena secara keseluruhan sampai FF ini selesai, hasil pemikiran aku selama begadang tiap malam -_- #poorME jadi tidak termasuk SONGFIC. Hehehe^^

 

Warning :

The story pure mine. Dont be plagiator! Tolong hargai karya author >,<

 

Dan warning Untuk part 3

Maaf yah kalo yang ini banyak kesalahan, apalagi sewaktu di bandara, maklum author belum pernah merasakan naik pesawat terbang. Hahaha…

TOLONG PERHATIKAN WAKTU yang tertera pada FF part ini karena berhubungan dengan part2 selanjutnya

Ok, enjoy it readers🙂

 

Untuk yang belum baca :

Chapter 1

Chapter 2

STORY’s BEGIN…

 

Incheon International Airport

June 19th 2012, 8:00 KST

            Kevin tengah duduk tenang di bangku yang berjajar panjang di bandara. Ia menunggu pemberitahuan dari bagian informasi untuk keberangkatan pesawat dengan tujuan ke Kanada. Sebenarnya ia bisa saja langsung check in, namun ia masih menunggu seseorang datang. Siapa lagi kalau bukan Hye Sun? Ia berharap gadisnya datang sebelum akhirnya ia berangkat ke Kanada. Egois, Kevin hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa mengetahui keadaan Hye Sun setelah pertengkaran itu terjadi. Namun bagi Kevin, ialah yang paling tersakiti disini. Jadi wajar bila ia tidak ingin mengetahui keadaan Hye Sun, dan gadis itu yang harus mencarinya dan meminta maaf padanya, tapi kenyataannya tidak seperti apa yang diharapkan oleh Kevin.

“Baiklah… 20 menit lagi… jika kau tidak datang aku akan benar-benar pergi, Hye Sun-ah.” Ucap Kevin lirih.

 

===xXx===

Sun Medical Centre

June 19th 2012, 8:50 KST

Tiga orang laki-laki duduk dalam diam memperhatikan seorang gadis yang tengah terbaring dengan mata terpejam. Banyak peralatan medis yang terpasang di tubuhnya. Sangat menyedihkan. Belum ditambah lagi kepalanya yang diperban dengan tebal.

“Hye Sun noonaireonajebaall…” ucap seorang laki-laki yang paling muda. Ia mengelus punggung tangan gadis itu dengan lembut.

Bogoshippoyo, noona… aku sangat merindukan ocehanmu…” kini laki-laki itu tidak bisa menahan airmatanya lagi.

“Tiiiiitt…. ttiiiiittt…. ttiiiitt…..” bunyi alat pendeteksi jantung menunjukkan bahwa garis-garis tersebut semakin menurun dan nyaris bergaris lurus. Hal itu sontak membuat ketiga laki-laki tersebut panik dan segera memanggil dokter dengan menggunakan interkom.

“Hye Sun, bertahanlah! Aku mohon! Demi aku dan Jongin! Hye Sun… jebaaalll…” pekik laki-laki yang paling tua diantara ketiganya, Kim Junmyeon. Sedangkan Jongin semakin terisak melihat keadaan kakak perempuannya tersebut. Yi Xing yang sedari tadi diam ditempat, hanya pucat pasi melihat gadis yang ada didepannya sekarang.

“Tolong kalian bertiga keluar sekarang…” ujar dokter yang sudah datang dengan beberapa perawat dibelakangnya.

“Tapi dok..”

“Tolong, ini demi kelancaran kami…”

Akhirnya mereka bertiga keluar dari kamar inap Hye Sun dan menunggu di luar. Junmyeon memeluk adik laki-lakinya tersebut dan membiarkan dirinya menangis dipundaknya. Yi Xing tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, ia hanya diam dan berusaha untuk tenang. Bagaimanapun juga ia merasa sangat bersalah. Jika ia dapat memutar kembali waktu dan kembali ke masa itu, ia ingin menggantikan posisi Hye Sun. ‘Yi Xing, kau bodoh sekali…’ umpatnya dalam hati.

 

Incheon International Airport

June 19th 2012, with same time       

Di sisi lain, sesuai apa yang Kevin katakan pada jam 8 tadi, jika Hye Sun tidak datang untuk menemuinya maka ia akan segera melakukan check in. Sekarang jam telah menunjukkan waktu 8.50 KST, ia sudah masuk ke dalam pesawat dan sudah memasang sabuk pengamannya, dan menunggu pemberitahuan dari pilot yang menginformasikan pesawat akan segera lepas landas, jika semuanya sudah terjadi, maka pada detik itulah, ia akan meninggalkan Hye Sun dan Seoul.

“Harap perhatiannya untuk semua penumpang pesawat Korean Airlines, sebentar lagi pesawat akan segera lepas landas. Dimohon untuk memeriksa kembali sabuk pengaman yang telah dipasang dan tidak untuk pergi meninggalkan kursi masing-masing. Sebelum itu marilah kita berdoa untuk kelancaran selama penerbangan berlangsung…”

Kevin memejamkan matanya dan berdoa dalam hatinya seperti apa yang diharapkan oleh pilot tersebut. Ia berharap sesampainya di Kanada nanti, semuanya berjalan dengan lancar dan ia bisa kembali ke Seoul lagi jika rasa rindu mamanya sudah berkurang dan menemui gadisnya kembali.

Mianhae, Hye Sun-ah..” ucap Kevin lirih. “Sampai jumpa lagi…” ia pun memandang ke langit biru yang berada di jendela pesawat.

 

===xXx===

            “Abeoji? Habis darimana?” tanya Sehun yang sedang menonton siaran televisi kesukaannya, Running Man.

“Kevin tidak memberitahumu?” ayahnya bertanya balik. Membuat Sehun kebingungan.

“Hah? Kevin hyung? Ada apa dengannya?” Sehun mengambil segelas susu yang ada di mejanya dan meminumnya.

“Ia berangkat ke Kanada malam ini juga.” Mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut ayahnya tersebut, Sehun tersedak.

Gwaenchana?” tanya ayahnya khawatir. Sehun mengangguk.

Abeoji serius kalau Kevin hyung pergi ke Kanada? Malam ini juga?” ayahnya mengangguk.

Ne. Eomma Kevin memintanya untuk pergi ke Kanada dan menetap disana. Ia pun bertukar posisi dengan Zitao untuk memimpin perusahaan yang ada di Vancouver.” Sehun ternganga mendengar pernyataan dari abeojinya. Ia syok. Bagaimana Kevin hyung seenaknya meninggalkan Seoul begitu saja sedangkan Hye Sun noona sedang bertaruh nyawa di rumah sakit? Dasar pria sinting! Atau ia tidak tahu sama sekali perihal Hye Sun noona?

Wae Sehunnie? Ada masalah dengan hyungmu itu?” tanya ayahnya. Dengan segera Sehun menggeleng. Ayahnya tidak perlu tahu masalah ini.

“A-aku, aku hanya kaget saja. Hyung sama sekali tidak berpamitan denganku, abeoji. Ia tega sekali…” jawab Sehun asal, namun sepersekian detik kemudian ia setuju juga dengan ucapannya.

“Hal ini terjadi mendadak. Benar-benar diluar dugaan, dan anehnya Kevin menyetujuinya. Tidak biasanya ia patuh dengan perintah yang dibuat oleh ayahnya sendiri.” Ayah Sehun melihat anaknya dengan memasang wajah bingung. Sehun berfikir, mungkin karena masalahnya dengan Hye Sun noona kemarin membuat Kevin hyung menerima perintah ayahnya dan berangkat ke Kanada.

Abeoji tahu kenapa hyung mau pergi ke Kanada? Apa Wu ahjusshi memaksanya?” Sehun mencoba mengorek informasi dari ayahnya. karena ia tahu ayahnya itu adalah kaki tangan dari Wu ahjusshi, ayah dari Kevin.

“Setahu abeoji, Wu sajangnim memberikannya dua pilihan. Ia harus ke Kanada tanpa harus bertunangan dengan Soojung, atau ia bisa kembali menetap di Seoul dan bertunangan dengan Soojung.” Terang ayah Sehun membuat laki-laki itu kembali ternganga. Pantas saja Kevin hyung berangkat ke Kanada, jika ia tetap egois untuk memilih tinggal di Seoul, maka ia akan bertunangan dengan Soojung, dan hal itu tidak boleh terjadi.

“Terima kasih abeoji informasinya. Kalau begitu aku tidak tahu kalau hyung sudah tidak di Seoul lagi dan tidak tahu apa alasannya meninggalkan Seoul.” Ayah Sehun mengangguk.

“Kalau begitu abeoji ke kamar dulu.” Kini Sehun yang menganggukkan kepalanya dan kembali fokus ke televisi. Ia berusaha berfikir keras bagaimana agar hyungnya itu tahu kalau Hye Sun noona sedang dalam keadaan sekarat di rumah sakit. Namun, ia juga telah berjanji pada Jongin untuk tidak memberitahu Kevin hyung tentang masalah ini. Ia pun dilema dengan posisinya sekarang. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa berdiam diri. Apalagi setelah Soojung mendengar berita ini, pasti ia akan lebih gencar mendekati Kevin hyung. Bisa jadi ia akan menyusul Kevin hyung ke Vancouver dan mencoba merebut hati ibu Kevin hyung dan pertunangan itu pun terjadi. Tidak! Tidak boleh! Soojung tidak pantas bersanding dengan hyungnya tersebut. Gadis licik seperti dia hanya akan membuat Kevin hyung menderita.

Tapi, Sehun juga tidak tahu bagaimana ia memberitahu hyungnya tersebut. Meneleponnya langsung setelah ia sampai di Kanada? Mana mungkin! Pasti hyungnya itu langsung kembali lagi ke Seoul pada saat itu juga, tapi ia tahu resikonya ia pasti akan dijodohkan dengan Soojung atau sebaiknya ia membiarkan hyungnnya tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya disini? Sehun pun pusing memikirkannya. Kenapa masalahnya menjadi rumit seperti ini? batinnya.

 

===xXx===

 

Sun Medical Centre, Three Days Later…

 

“Kevin.. Kevin..” ucap seorang gadis lirih yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit serba putih tersebut. Tangannya bergerak perlahan tapi pasti. Membuat seorang pria yang tengah menjaganya kaget ketika melihat pergrakan yang dilakukan oleh gadis tersebut.

“Hye Sun-ssi? Kau sudah sadar?” tanya pria itu segera mendekatinya.

“Euuunggh…” lenguh gadis itu. Membuat pria bernama Zhang Yi Xing mencoba menghubungi dokter melalui interkom yang terpasang di samping ranjang gadis tersebut.

“Dokter, cepatlah kemari… Hye Sun-ssi sudah sadar…” ujarnya dengan perasaan cukup senang. Ia pun melihat kearah gadis itu lagi. Terlihat ia tengah mengerjapkan kedua matanya. Menyesuaikan penglihatannya dengan sinar matahari yang masuk dari jendela kamar inap.

“Junmyeon oppa.. Jongin… eodiga…” tanya Hye Sun lirih. Ia mencoba menggerakkan kepalanya ke kanan maupun ke kiri, namun orang yang ia harapkan tidak ada sama sekali. Yang ia lihat hanya seorang berwajah cukup oriental yang sepertinya pernah ia temui, tapi ia tidak mengingatnya dimana hal itu terjadi.

Nuguya?” tanya Hye Sun lirih.

“Syukurlah kau sudah sadar, Hye Sun-ssi. Aku Zhang Yi Xing. Aku sedang bergantian menjagamu karena Junmyeon hyung sedang bekerja dan dua jam yang lalu Jongin berangkat karena ia ada jadwal kuliah.” Jawab pria itu ramah.

“Menjagaku? Memangnya aku dimana? Bagaimana kau mengetahui namaku?” baru saja Yi Xing membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Hye Sun, dokter sudah datang dengan dua orang perawat.

“Yi Xing, kau bisa menunggu di luar? Aku akan memeriksa nona ini dulu…” ujar dokter tersebut yang merupakan paman Yi Xing.

“Ne, ahjusshi..” Yi Xing pun berjalan menuju pintu keluar. Sepintas ia melihat dokter yang tengah sedikit berbincang dengan Hye Sun.

Setelah berada di luar, Yi Xing merasa sangat senang dan bersyukur Hye Sun telahsadar setelah tiga hari ia tidak sadarkan diri. Ia segera menghubungi Junmyeon dan Jongin untuk memberitahu kabar gembira ini.

YeoboseyoHyung! Hye Sun-ssi sudah sadarkan diri… cepatlah kemari, Ne! Aku tidak berbohong! Kajjaa… ia menanyakan keberadaanmu dan Jongin tadi.” Setelah menggeser layar ‘end call’ Yi Xing langsung menelepon Jongin dengan cepat.

Yeoboseyo? Jongin-ah! Hye Sun noonamu sudah sadarkan diri. Datanglah sekarang juga, kajja! Ia menanyakan keberadaanmu…” sepersekian detik kemudian Yi Xing menjauhkan ponselnya dari telinga karena Jongin berteriak kegirangan.

“Kau memberi kabar disaat yang tepat! Baiklah hyung, aku segera datang. Jeongmal gomawo…” jawab Jongin di telepon tersebut.

Ne.. cheonmaneyo…” balas Yi Xing dan segera menggeser layar ‘end call’ di ponselnya.

 

===xXx===

“J-Ja-jadi bagaimana? Hye Sun noona sudah sembuh?” tanya Sehun yang duduk didepan Jongin.

“Ne Sehun-ah! Syukurlah.. aku mau pergi ke rumah sakit sekarang… aku tidak sabar bertemu noona…” jawab Jongin bahagia.

“Aaaaa~ syukurlah Jongin-ah! Aku turut senang mendengarnya! Kalau begitu aku akan ikut denganmu. Kita pergi dengan mobilku saja, kajja!” Sehun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju bangku Jongin yang ada didepannya. Baru saja mereka berjalan keluar dari kafetaria kampus, Soojung muncul dan terlihat ingin menghampiri mereka. Untungnya Jongin masih berkutat dengan ponselnya dan tidak melihat Soojung, sehingga Sehun langsung merangkulnya dan berbalik arah menuju toilet.

“Hey! Kita mau kemana?” tanya Jongin heran.

“Temani aku ke toilet sebentar, ne?” Sehun tersenyum paksa. Untungnya lagi, Jongin diam dan menuruti permintaan Sehun.

‘Bahaya kalau Soojung tahu. Kalau Jongin mengajaknya untuk menjenguk Hye Sun noona, bisa-bisa ia akan mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya atau dia akan bilang kalau hyung pergi meninggalkannya ke Kanada? Tidak! Ini tidak boleh terjadi!’ batin Sehun. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Kenapa kau menggelengkan kepalamu seperti itu?” tanya Jongin dengan tatapan bingung kearah Sehun. Sehun hanya memamerkan deretan gigi-giginya yang putih.

“Aniya…tunggu disini sebentar, aku ingin buang air dulu.. hehehe…” Sehun tertawa kikuk. Jongin hanya mengerutkan dahinya, aneh melihat tingkah laku sahabatnya tersebut.

Jongin baru teringat pada Soojung. Sudah tiga hari ia mengabaikan gadisnya karena sibuk mengurus noonanya yang berada di rumah sakit. Ia ingin menghubungi Soojung untuk memberitahu kabar gembira ini. siapa tahu ia mau diajak menjenguk noona, lagipula Jongin belum pernah mengenalkan Soojung secara langsung pada noona dan hyungnya, jadi hal ini bisa menjadi ajang pertemuan kecil bagi kelaurga mereka. Jongin tersenyum kecil membayangkannya.

“Kau mau menghubungi siapa?” tanya Sehun yang tiba-tiba sudah ada  dibelakang Jongin. Jongin kaget dan hampir melepaskan genggaman ponselnya.

“YAK! SEHUN! JANGAN MEMBUATKU KAGET!” teriak Jongin. Sehun hanya terkekeh pelan.

“Mianhae… aku sengaja…” ia tersenyum jahil. Jongin langsung menjitak kepala sahabatnya dengan cukup kuat.

“Auughhttss.. sakit bodoh!” sehun mengelus kepalanya pelan. Kini gantian Jongin yang terkekeh pelan. Ia pun fokus ke ponselnya kembali.

“Menghubungi Soojung?” tanya Sehun. Jongin mengangguk.

‘Bagaimana ini? Tuhan, jangan biarkan Jongin menghubungi Soojung… aku mohon Tuhan…’ batinnya.

“Ah! Kenapa disaat seperti ini ponselku malah habis baterai!” UJAR Jongin kesal. Sehun menghela nafasnya pelan. Ia mengelus dadanya dengan perasaan lega.

“Sehun, kau bawa ponsel tidak? Aku mau pinjam sebentar?” tanya Jongin. Sehun menggeleng pelan. Untung saja ia meninggalkan ponselnya di rumah. ‘Terima kasih Tuhan! Kau menolongku…’ batin Sehun dan tersenyum kecil yang nyaris tidak bisa ditebak bahwa ia sedang tersenyum. Sedangkan Jongin, langsung menekuk wajahnya dengan malas.

“Kau bisa menghubunginya besok, Jongin… aku yakin Soojung tidak akan marah denganmu..” Sehun menepuk pelan pundak sahabatnya itu, mencoba untuk meyakinkannya.

‘Bahkan aku berharap kau tidak pernah menghubungi gadis itu… semoga kau lupa dengannya!’ batin Sehun. Terdengar jahat memang, tapi apa mau dikata? Soojung pantas diperlakukan seperti itu.

“Sebaiknya kita segera ke rumah sakit. Kau bilang tadi sudah tidak sabar bertemu dengan noonamu? Kajja!” sehun merangkul sahabatnya tersebut dan mengajaknya berjalan bersama.

“Ck! Ayolah! Kau mau bertemu dengan noonamu dengan wajah ditekuk seperti itu? Kau itu sudah jelek, jangan bergaya jelek seperti itu. Nanti Soojung tidak suka padamu lagi!” ujar Sehun sok sarkastik. Jongin langsung mendengus kesal mendengar ucapan sahabatnya.

“YAK SEHUN! Kau itu selalu mencoba menghiburku dengan cara seperti itu? Dasar kau!” Jongin ingin menjitak kepala Sehun kembali, namun Sehun dengan cepat menangkap tangan Jongin. Mereka saling bertukar pandang.

“Kau tidak akan pernah bisa lagi menjitak kepalaku, Jongin-ah! Dasar pria hitam!” tukas Sehun. Membuat Jongin mendengus kesal. Sepersekian detik setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak.

 

===xXx===

 

“Yi Xing-ah!” panggil Junmyeon yang sudah sampai di rumah sakit, tepatnya didepan kamar inap Hye Sun. Pria yang merasa namanya dipanggil tersebut langsung menoleh kearah pria yang lebih tua darinya tersebut.

Hyung!” balasnya dengan senyuman. Junmyeon mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena ia habis berlari. Ia tidak sabar melihat Hye Sun yang sudah sadarkan diri. Sudah lima hari gadis itu hanya terbaring di atas ranjang dan membuat panik tiga orang yang mengkhawatirkannya.

“Kenapa kau berada diluar? Apa dokter sedang memeriksanya?” tanya Junmyeon. Yi Xing mengangguk.

“Tunggu saja hyung, mungkin sebentar lagi dokter akan segera keluar.” Jawab Yi Xing sambil menepuk pundak Junmyeon.

“Ceklek..” kenop pintu kamar inap Hye Sun terbuka. Dokter keluar bersama dua orang perawatnya, namun mereka meninggalkan dokter tersebut sendirian.

“Yi Xing dan Junmyeon?” yang dipanggil mengangguk pelan.

“Tadi saya telah melakukan pemeriksaan sementara dengan pasien. Saya cukup kaget sekaligus takjub dengan kondisi pasien sekarang. Awalnya saya mengira pasien akan mengalami koma sampai berbulan-bulan lamanya mengingat benturan di kepalanya cukup keras dan banyak kehilangan darah akibat pendarahan. Namun Tuhan memberikan keajaibannya. Meskipun begitu, ia harus melakukan pemeriksaan secara intensif terutama di bagian kepala. Ia harus melakukan screening untuk melihat apakah benturan di kepalanya itu menyebabkan keretakan atau hal-hal fatal lainnya.” Terang dokter tersebut. Membuat Junmyeon menekuk wajahnya sedih.

“Kalian harus banyak berdoa, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan pasien. Untuk saat ini jangan mengajaknya berbicara tentang hal-hal yang berat dan memaksanya untuk berfikir keras. Jika ada masalah atau kejadian di masa lalu yang membuatnya sedih, jangan mencoba untuk mengungkitnya. Biarkan otaknya tenang agar ia tidak merasa sakit kepala berkepanjangan. Karena itu adalah efek dari benturan di kepalanya saat kecelakaan.” Ujar dokter dan mereka berdua mematuhinya.

“Jika terjadi apa-apa lagi, segera panggil saja dengan menggunakan interkom. Saya pamit dahulu, masih ada pemeriksaan di ruang lain.” dokter itu membungkuk hormat, dan dibalas oleh keduanya.

“Terima kasih ahjusshi…” ucap Yi Xing, dokter tersebut mengangguk.

Kedua pria itu pun masuk ke kamar inap Hye Sun dan melihat gadis itu tengah bersandar di punggung ranjang.

“Oppa…” ujar Hye Sun lirih. Ia merentangkan kedua tangannya. Junmyeon tahu maksudnya dan ia pun segera memeluk adik perempuan satu-satunya tersebut.

“Ya Tuhan syukurlah kau sekarang sudah sadarkan diri. Aku dan Jongin sangat mengkhawatirkanmu. Begitu juga Yixing. Bagaimana keadaanmu? Adakah bagian tubuh yang sakit?” tanya Junmyeon sembari mengelus punggung Hye Sun pelan.

“Saat aku bangun, bagian pelipis dan belakang kepalaku sangat sakit. Rasanya seperti berdengung. Tapi dokter itu wajar karena kecelakaan yang aku alami.” Terang Hye Sun. Jumyeon pun mengangguk.

“Kau akan melakukan screening secepatnya, Hye Sun-ah. Untuk mengecek apakah ada retakan atau tidak dikepalamu.” Terang Junmyeon.

“Oppa, itu siapa?” tunjuk Hye Sun pada Yi Xing. Pria itu hanya tersenyum lembut menanggapinya.

“Astaga! Aku sampai lupa! Ini Zhang Yi Xing. Yang menolongmu saat kecelakaan dan kau menimpanya saat terjatuh di tangga waktu itu.” Hye Sun menutup mulutnya tidak percaya.

“Zhang Yi Xing-ssi, gomapseumnida sudah menolongku dan mianhamnida karena aku telah menimpamu waktu itu. Aku jadi merepotkanmu, dan…” kata-kata Hye Sun menggantung.

“Cklek!” pintu pun terbuka. Sebenarnya di dalam hati Hye Sun, ia berharap yang masuk ke dalam ruangan ini adalah Kevin. Karena pria itu tidak menunjukkan batang hidungnya dari tadi. Selain itu juga Hye Sun ingin meminta maaf atas kejadian kemarin.

NOONA!!” teriak Jongin lalu berlari kearah Hye Sun. Melihat kenyataan bahwa ternyata bukanlah Kevin yang datang, wajah Hye Sun pun berubah, sedikit kecewa.

“Aiishhh… mengapa kau memasang wajah kecewa seperti itu saat aku datang?” tanya Jongin pura-pura cemberut dan memeluk kakak perempuannya tersebut.

Aniya… aku senang kau datang…” Hye Sun mencubit kecil hidung Jongin yang mancung.

Noona, bogoshippo.. jeongmal bogoshippo…” Jongin mencium kening Hye Sun lembut.

Nado nae dongsaeng!” Hye Sun mengacak rambutnya pelan.

“Sudah, sudah hentikan Jonginnie! Hye Sun baru saja bangun, nanti kepalanya sakit lagi.” Junmyeon pun memisahkan Jongin dan Hye Sun. Laki-laki itu pun cemberut atas perlakuan hyungnya tersebut.

“Oh iya. Noona, aku datang bersama Sehun…” Jongin merangkul Sehun dan memperlihatkannya kepada kakak perempuannya tersebut.

Annyeong haseyo, noona.. ini aku membawakanmu buah-buahan, jangan lupa dimakan, noonaya.” Sehun tersenyum manis.

Gomapseumnida, Sehun-ah. Mianhamnida telah merepotkanmu. Aku jadi tidak enak.” Hye Sun tersenyum lalu melanjutkan kata-katanya dan tanpa membiarkan Sehun membalas ucapannya. “Eumh..  Yi Xing-ssi maaf tadi kata-kataku terputus. Aku ingin minta maaf atas nama Kevin, kekasihku.. karena ia telah memukulmu sewaktu di florist kemarin.” Ucap Hye Sun lalu menunduk lesu. Yi Xing terdiam mendengar hal tersebut. Senang dan sedih bercampur disaat yang bersamaan. Senang karena gadis itu memperhatikannya, sedih karena ia sudah memiliki kekasih. Apa? Kekasih? Yi Xing cemburu? Tidak. Maksudnya bukan begitu, cuma ia tidak tahu apa alasannya. Entahlah. Mendengar nama Kevin itu membuat Yi Xing cukup marah.

Sedangkan Jongin, Junmyeon dan Sehun ikut diam dan tidak tahu ingin menanggapi apa. Yang jelas Jongin dan Junmyeon sudah mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Ya, kedua saudara laki-laki Hye Sun itu sedang menahan amarahnya.

Noona, berhenti membicarakan hal itu! Kau seharusnya beristirahat, karena kau itu baru sadar dari kecelakaan yang menimpamu lima hari yang lalu. Kau tahu betapa aku, Junmyeon hyung dan Yi Xing hyung sangat mengkhawatirkanmu! Sedangkan kekasihmu itu? Apa? Hah! Seharusnya ia tidak pantas disebut kekasih. Kau tahu noona? Ia tidak pernah sama sekali datang untuk menjenguk dan menjagamu. Jangankan menjenguk, menanyakan bagaimana kabarmu pun ia tidak pernah! Kemana ia pergi setelah kecelakaanmu? Masih saja kau menanyakannya padahal kau mengalami kecelakaan seperti ini karena dia! Malah, Yi Xing hyung yang sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan keluarga kita, ia malah membantuku dan Junmyeon hyung untuk menjagamu!” Hye Sun syok setelah mendengar kata-kata yang dilontarkan Jongin barusan. Tidak hanya gadis itu namun semua orang yang ada diruangan itu.

“Jongin! Apa yang telah kau perbuat? Kau bisa mempengaruhi kesehatan Hye Sun! Dokter bilang ia tidak boleh berfikir yang berat dan membuatnya semakin drop! Ia belum pulih benar, Jongin babo!” bentak Junmyeon namun dengan cara berbisik. Ia tidak mau membuat adik perempuannya berfikir yang berat dan memusingkan dirinya sendiri.

“Aku sudah terlanjur kesal hyung! Aku sudah tidak bisa menahan amarahku!” balas Jongin. Tangannya masih dalam keadaan mengepal.

“Jongin-ah~ apa yang baru saja kau ucapkan?” tanya Hye Sun sendu.

“Sepertinya Jongin sedang melantur, noona… ia baru saja selesai ujian tengah semester tadi. Mungkin ia agak sedikit stress.” Ujar Sehun asal. Ia pun segera menarik paksa Jongin untuk keluar ruang inap Hye Sun jika tidak, mungkin Jongin akan semakin menjadi-jadi didepan hadapan mereka. Sedangkan Yi Xing tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan ini.

“Junmyeon hyung, sepertinya aku harus pulang dulu. Mungkin besok aku akan kembali lagi kesini. Hye Sun-ssi, senang sekali karena kau sudah sadarkan diri. Maaf aku tidak bisa berlama-lama karena aku ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Aku pamit dulu…” Yi Xing membungkukkan badannya.

“Yi Xing-ssi, sekali lagi gomapseumnida… aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas semua kebaikanmu.” Jawab Hye Sun tulus. Lagi-lagi Yi Xing hanya tersenyum, memamerkan lesung pipinya.

Cheonmaneyo, Hye Sun-ssi. Itu sudah menjadi tanggung jawabku… aku pergi dulu, annyeong!”

Ne, annyeong! Sampai jumpa lagi…” balas Junmyeon dan Hye Sun.

 

===xXx===

 

“Hei babo! Apa yang kau katakan tadi? Kau tahu itu akan sangat mempengaruhi kerja otak noonamu! Ia baru saja sadar, dan bagaimana kalau tiba-tiba kepalanya sakit lagi? Kau tidak kasihan padanya?” Sehun memarahi Jongin yang masih diselimuti oleh rasa marah pada Kevin.

“Tapi aku sudah ti—“

“Benar apa yang ia katakan, Jongin-ssi. Dokter mengatakan padaku dan Junmyeon hyung kalau Hye Sun-ssi tidak boleh diajak berbicara tentang hal-hal yang berat dan memaksanya untuk berfikir keras. Jika ada masalah atau kejadian di masa lalu yang membuatnya sedih, jangan mencoba untuk mengungkitnya. Karena jika kalian melakukannya itu akan mempengaruhi kerja otaknya dan sakit kepalanya bisa kambuh lagi.” Sambung Yi Xing yang sudah berada diantara mereka.

Hyung? Kenapa kau berada disini?” Jongin kaget.

“Aku ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Mungkin besok aku akan datang kembali kemari. Aku pergi dulu, ne? Annyeong Jongin-ssi, dan eumh? Siapa namamu?” tanya Yi Xing pada Sehun.

Nanneun Oh Sehun imnida. Bangapseumnida…”  sehun memberi hormat.

“Panggil dia hyung. Karena umurnya sama dengan Hye Sun noona.” Jongin menambahkan.

“Oh.. Zhang Yi Xing hyung? Right?” yang ditanya mengangguk.

“Baiklah aku buru-buru. Annyeong! Ingat kata-kataku tadi, Jongin!” Yi Xing menepuk bahu Jongin pelan.

“Ne, hyung. Kamsahamnida! Joshimaeyo!” Jongin melambaikan tangannnya.

 

===xXx===

 

Annyeong…” seorang pria memasuki ruangan serba putih dan langsung duduk di kursi yang telah disediakan.

“Ah? Kau? Akhirnya datang juga! baguslah minggu ini kau tidak melewatkan jadwalmu untuk melakukan check up.” Papar seorang pria paruh baya sembari memperbaiki letak kacamatanya.

Ne.. akhir-akhir ini aku merasa kesakitan. Apa karena kejadian kemarin?” keluh pria yang lebih muda dari pria paruh baya tersebut.

“Hm.. sebaiknya langsung dicheck sekarang juga!” ujar pria paruh baya tersebut dan disetujui olehnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

 

Huehehe… ottokhe? Makin gaje yah? Duh mianhaeyo readers…

Gimana ending part ini? merasa penasaran atau sudah bisa memecahkan misterinya?

As always, minta komentarnya yang membangun kelanjutan FF ini. karena kalian adalah penyemangatku! Hehehe… Ingat sekali lagi untuk RCL (Read, Comment and Like!) gomawoooo~

 

 

4 thoughts on “[FREELANCE] Illa.. Illa.. (Chapter 3)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s