[FREELANCE] The Black Umbrella and Us

request-spark-the-black-umbrella-and-us

Title : The Black Umbrella and Us

Author : Spark (@shazapark)

Cast(s)  : Choi Sulli – f(x) and Park Chan Yeol – EXO

Genre : Romance, Fluff

Rating : PG13

Length : Vignette (2000+)

Disclaimers : GOD (The casts are belong to God, but the fic is mine. Even if this fic is so absurd, but the FF still MINE. Everything is just my imagination.)

Summary : Kota Seoul sedang dilanda musim hujan. Hal itu mengharuskan beberapa orang untuk membawa benda bernama payung ketika ingin berpergian, bukan? Itu hanya sebuah hal yang mudah dan praktis. Hanya saja, Jin Ri merasa benci dengan payung besar berwarna hitam yang ia gunakan akhir-akhir ini. Apa sebenarnya alasan dari kebencian Jin Ri terhadap payung pemberian kekasihnya yang bernama Chan Yeol itu? Mari kita lihat!

© Spark . 2014

I already publish this fict in another blog with the same title and author.
No plagiarism please. If you don’t like the casts, just don’t read it. Ok?

This fict is dedicated for all Giant Babies. Hope you like it!

                                                                           .                     

Our black umbrella will be eternal

.

 

Seoul, 23 Juni 2013 (15.52 PM)

Gadis itu berjalan kearah gerbang sekolah dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan. Bola matanya tampak memancarkan aura kekesalan yang sangat mendalam. Bibirnya mengerucut beberapa senti kedepan. Tanpa ia sadari, tingkahnya itu hanya menambah kesan imut di wajah cantiknya saat ini.

Padahal jam pelajaran sudah berakhir, kebanyakan siswa-siswi akan merasa senang ketika sekolah sudah memulangkan para muridnya bukan? Itu artinya katakan ‘halo’ pada istana idaman alias rumah dan katakan ‘selamat tinggal’ pada Sekolah yang tak pernah bosan memberikan setumpuk tugas untuk murid.

Mari kita lihat kenapa gadis cantik ini tampak badmood? Tangan kanannya menggenggam sebuah benda panjang yang biasa kita gunakan ketika hujan turun. Yup, apa lagi kalau bukan payung?

Yeah, akhir-akhir ini hujan sering datang secara tiba-tiba tanpa mengenal waktu. Hal ini mengharuskan beberapa orang untuk menyediakan setidaknya satu payung di dalam tas. Hm, untuk berjaga-jaga apabila hujan datang secara tiba-tiba. Seperti sekarang, di luar gedung sekolah sana, air hujan sudah membasahi tanah dengan derasnya.

Well, hampir seluruh manusia tidak pernah merasa keberatan jika harus menambahkan satu benda bernama payung itu kedalam tas. Ayolah, bobotnya hanya beberapa gram, bukan? Jadi untuk apa kita merasa repot?

Namun, entah mengapa, bagi seorang gadis cantik dengan surai lurus panjang itu, membawa payung adalah hal yang paling ia benci untuk saat ini. Itulah mengapa ia tampak badmood sore ini. Jika ia ditanya, ‘Mengapa Anda tidak suka membawa payung untuk saat ini?’ maka jawabannya ada tiga.

Pertama–gadis itu sangat membenci warna hitam. Dan asal kalian tahu, payung yang saat ini sedang ia bawa adalah payung berwarna hitam.

Kedua–payung itu bukanlah payung lipat. Yah, dengan kata lain, payung itu ukurannya sangat besar. Gagang payung itu tidak dapat dipendekkan, seperti tongkat panjang saja. Well, setidaknya kain pada payung  itu masih dapat dilipat, sehingga menutupi gagang payung sepanjang 85 cm tersebut. Jika saat ini gadis itu sedang membawa payung tersebut, maka ia akan terlihat seperti orang bodoh yang sedang membawa tongkat besar berwarna hitam ke sekolah.

Dan yang terakhir–ini adalah faktor utama dari ‘Mengapa Anda tidak suka membawa payung untuk saat ini?’ adalah karena kekasihnya yang bernama Park Chan Yeol itulah si pemberi payung –yang ia anggap nista– tersebut. Dan yang membuat gadis cantik itu makin benci adalah Chan Yeol memberi payung itu pada hari ulang tahunnya. Dalam hati, gadis itu terus-terusan berpikir,

Apa tidak ada barang yang lebih bagus dari payung hitam dan besar ini, eoh? Merepotkan saja,” batinnya kesal. Selain ia merasa repot karena membawa payung sebesar itu, ia juga sering mendapat sindiran dari teman-temannya, seperti contohnya,

“Kau mau ke kampung halaman, Jin Ri-ya? Kenapa harus membawa payung sebesar itu ke sekolah, eoh? Hahaha~”

Untuk mencerna maksud dari perkataan salah satu temannya itu, memang membutuhkan waktu yang lama bagi gadis bernama Jin Ri ini. Dalam hati ia terus berpikir keras,

Memangnya membawa payung besar hanya boleh dibawa ketika sedang pulang ke kampung halaman saja?” saat ini Jin Ri sudah benar-benar berada di luar sekolah. Matanya segera menyapu seluruh penjuru tempat yang ada di depannya saat ini.

Hanya ada jalanan. Namun, pikirannya segara buyar ketika matanya menangkap sosok jangkung yang sedang berdiri di pinggir jalan, lebih tepatnya seperti sedang berteduh. Jin Ri baru menyadari bahwa sosok jangkung itu sedang berteduh di bawah halte.

Idiot! Untuk apa dia masih di sini?” Jin Ri segera menekan tombol yang ada pada gagang payung tersebut. Ketika ia menekannya, maka melebarlah kain payung berwarna hitam tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera menghampiri sosok jangkung yang sedang berteduh di halte itu. Jin Ri berjalan perlahan-lahan menghampiri sosok tersebut di bawah lindungan payung besar miliknya.

“CHAN YEOL!” Jin Ri sengaja berteriak, agar suaranya tidak teredam oleh derasnya air hujan. Sosok jangkung bernama Chan Yeol itu tidak menyahut mau pun menoleh. Jin Ri sempat mengernyit bingung ketika melihat kekasihnya tak menyahut, namun setelah melihat sepasang earphone yang menyumpal kedua lubang telinga pemuda itu, barulah ia tersenyum. Jin Ri kemudian mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri kekasihnya secara diam-diam.

Tanpa sepengetahuan Chan Yeol, Jin Ri sudah berdiri tepat di belakang kekasihnya. Gadis itu tersenyum geli ketika melihat kepala Chan Yeol yang mengangguk-angguk kecil–seperti sedang mengikuti alunan musik yang berasal dari earphone-nya.

Jin Ri meletakan gagang payung itu di bahu sempitnya, membuat kedua tangannya terbebas. Gadis itu merentangkan kedua tangannya kearah punggung Chan Yeol. Apa yang ia lakukan? Tentu saja hendak memeluk pemuda itu dari belakang.

Jin Ri merasakan punggung Chan Yeol menjadi tegak ketika ia sudah melingkarkan kedua tangannya di perut pemuda itu. Jin Ri terkekeh kecil mendapati reaksi dari kekasihnya. Pemuda itu sontak melepas sebelah earphone-nya.

“…” Chan Yeol menatap jemari lentik yang saat ini tengah melingkar di perutnya, kemudian ia tersenyum manis setelah mengetahui siapa pemilik jemari lentik itu. Tangan Chan Yeol terulur untuk menyentuh jari-jari indah tersebut.

“Kenapa kau belum pulang?” tanya Jin Ri setelah menyandarkan kepalanya di punggung Chan Yeol. Ia memang sempat bingung kenapa Chan Yeol belum pulang? Pasalnya, jam pelajaran Chan Yeol sudah berakhir sejak satu jam yang lalu, berbeda dengan Jin Ri yang harus mengikuti pelajaran tambahan terlebih dahulu. Chan Yeol tersenyum mendengar nada bicara kekasihnya yang lucu.

“Aku menunggumu, Sayang. Memangnya kenapa? Tidak boleh, hm?” Chan Yeol tak menghentikan kegiatannya mengelus jemari Jin Ri yang masih setia melingkar di perutnya. Pemuda itu merasakan pelukan Jin Ri merenggang. Gadis itu kembali menggenggam gagang payung yang sebelumnya ia letakan di bahu, kemudian melangkahkan kakinya untuk berdiri di hadapan Chan Yeol.

Setelah ia berdiri di hadapan pemuda itu, Jin Ri segera menampilkan senyum manisnya. “Tentu saja Chan Yeol boleh–” kalimat Jin Ri terpotong oleh teriakan Chan Yeol.

OMO! Kau membawa payungnya lagi?” Chan Yeol segera menyambar payung yang berada di genggaman gadis kesayangannya. Jin Ri mengerucutkan bibirnya ketika melihat tingkah Chan Yeol. Ia menatap sendu kearah Chan Yeol yang sedang tersenyum cerah memegang payung–yang sampai saat ini ia anggap nista–itu.

“Yeol.” panggil Jin Ri dengan suara pelan. Namun, Chan Yeol masih dapat mendengarnya, maka pemuda itu menyahut dengan gumaman ‘Hm’ kecil.

“Kenapa kau sangat suka dengan payung itu?” tanya Jin Ri tanpa melepas pandangan matanya kearah payung yang saat ini berada di genggaman Chan Yeol. Chan Yeol menoleh kearah sang kekasih, dan mendapati wajah sedih yang tercetak jelas di wajah cantiknya. Pemuda jangkung itu memutuskan untuk diam saja dan tidak menjawab pertanyaan dari gadisnya.

“Kenapa kau memberi payung itu padaku–?” gadis itu memberikan jeda beberapa detik pada kalimatnya. “–bahkan di hari ulang tahunku.” sambungnya masih dengan ditemani ekspresi wajahnya yang sedih. Chan Yeol tak dapat berkata apapun lagi, ia mencoba untuk mendengarkan keluhan dari kekasihnya saat ini.

“Kenapa, Yeol? Kenapa harus berwarna hitam? Kau tahu sendiri ‘kan, kalau aku tidak suka dengan warna hitam. Kau juga sering melarangku memakai payung itu pada siang hari. Bukankah memang begitu gunanya payung? Untuk melindungi kita dari air hujan dan sinar matahari bukan? Lalu kenapa kau melarangku saat aku ingin menggunakan payung hitam itu di bawah sinar matahari?” Chan Yeol mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan oleh Jin Ri, meskipun perhatiannya terfokus pada payung yang sedang ia pegang. Yah–memang sejak tadi Chan Yeol terus-terusan memainkan gagang payung milik Jin Ri dengan cara memutar-mutarnya.

“Kalau kau menyukai payung itu, ambil saja. Lagipula, aku juga tidak suka dengan payung itu.”

Setelah Jin Ri menawarkan payung itu kepada Chan Yeol, gadis bersurai lurus panjang itu membalikan badannya, sehingga posisi Jin Ri saat ini adalah memunggungi Chan Yeol. Chan Yeol menatap punggung Jin Ri dari belakang.

“Kau bisa pulang menggunakan payung itu. Aku akan menunggu hujan reda di–” Jin Ri tak ingin melanjutkan kalimatnya setelah merasakan sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Chan Yeol? Jin Ri tersenyum kecil, mengingat hal yang dilakukan Chan Yeol saat ini sangat persis seperti yang ia lakukan beberapa menit yang lalu.

Well, mereka memang suka–bahkan sangat suka–berpelukan, namun hal yang paling mereka senangi adalah memeluk dari belakang. Entah apa alasannya, hanya mereka yang tahu.

“Jangan begitu, dong.”

Setelah Chan Yeol meletakan payungnya di tanah dengan sembarangan, pemuda itu segera menaruh dagunya di pundak Jin Ri. “Kau ingin tahu apa jawaban dari semua pertanyaan yang kau berikan tadi? Kau mau aku menjelaskannya?” tanya Chan Yeol dengan suaranya yang dalam.

Jin Ri tak menjawab, karena gadis itu tahu–apapun jawaban yang ia berikan untuk Chan Yeol, maka pemuda itu akan tetap menjelaskannya.

“Pertanyaan pertama, kenapa aku sangat menyukai payung itu? Jawabannya mudah–karena aku memang menyukai payung. Seperti yang kau bilang, payung dapat melindungi kita dari derasnya hujan dan panasnya sinar matahari. Aku tahu, kulitmu sangat sensitif jika terkena hawa dingin ataupun panas berlebihan.” Chan Yeol mengeratkan pelukannya di pinggang Jin Ri saat merasakan angin dingin menerpa kulitnya di detik itu juga.

“Pertanyaan kedua, kenapa aku memberikan payung itu, bahkan di hari ulang tahunmu? Jawabannya juga mudah–aku rasa payung adalah hadiah paling bagus di antara hadiah yang lain. Aku mengetahui bahwa akhir-akhir ini sedang musim hujan. Aku takut kalau tiba-tiba hujan datang, dan aku tidak ada di sampingmu, maka payung itu sudah dapat melindungimu dari air hujan, bukan?” Jin Ri menundukan kepalanya ketika mendengar alasan Chan Yeol yang dikategorikan ‘logis’. Chan Yeol menyempatkan diri untuk mengecup pipi Jin Ri sebelum kembali berucap.

“Pertanyaan ketiga, kenapa payungnya berwarna hitam dan kenapa aku melarangmu ketika kau ingin menggunakan payung itu di bawah sinar matahari? Yang itu juga ada jawabannya, Sayang. Kau tahu, payung berwarna hitam itu mudah menangkap sinar matahari dengan cepat. Maka dari itu ketika kau ingin menggunakannya di bawah sinar matahari, itu sangat tidak bagus, yang ada nanti malah kulitmu akan terbakar–” Chan Yeol memberi jeda sebentar untuk bernapas.

“–payung hitam akan lebih baik digunakan saat hujan turun daripada saat matahari bersinar dengan teriknya, Jin.” Jin Ri mengerucutkan bibirnya kesal ketika ia mulai merasa bahwa dirinya lah yang salah karena sudah menganggap payung hitam sebagai benda paling nista yang pernah ada.

“Jika kau menginginkan aku mengambil payung itu. Jawabannya, aku tidak mau. Karena lebih baik kau yang menggunakan payung dan berada di bawah lindungannya selama hujan, Sayang. Biarkan saja aku tidak memakai payung, lantas terkena air hujan.” mendengar perkataan Chan Yeol, Jin Ri segera melepas pelukan dari pemuda itu agar ia bisa membalikan badannya. “Tentu saja, maksudku–bukan selamanya kau dilindungi oleh sebuah payung … Bukankah sudah ada aku yang akan melindungimu, hm?” Chan Yeol mengusap pipi gadis kesayangannya.

Gadis cantik itu menatap wajah tampan Chan Yeol tanpa menghapus ekspresi kesal andalannya, yaitu mengerucutkan bibir. Chan Yeol mencubit hidung Jin Ri, saking gemasnya.

“Aw! Appo~” Jin Ri mengusap hidungnya yang memerah akibat cubitan Chan Yeol barusan. Chan Yeol membulatkan matanya saat melihat Jin Ri meneteskan air matanya tepat setelah ia meringis kesakitan.

“Yak! Kenapa kau menangis?” panik Chan Yeol sembari menarik tangan Jin Ri yang sedaritadi memegangi hidungnya. Jin Ri tak menjawab, melainkan terus mengaduh kesakitan. Chan Yeol semakin dibuat panik olehnya.

“Sakit, Chan Yeol!” pekik Jin Ri, bahkan mengalahkan suara hujan. Chan Yeol membelalakan matanya saat mendengar pekikan Jin Ri.

“Ba–baiklah-baiklah. Apa yang kau inginkan, Sayang ku?” Jin Ri menghentikan tangisnya sebentar, kemudian segera menyeka air matanya kasar. Gadis itu menampilkan senyuman manis andalannya, bahkan saking manisnya, senyuman itu malah terlihat seperti seringaian.

“Cium.” Jin Ri menunjuk hidungnya. Chan Yeol mengangkat kedua alisnya ketika mendengar permintaan Jin Ri, namun–karena tak mau berlama-lama, akhirnya pemuda itu langsung mendekatkan wajahnya kearah Jin Ri.

Cup. Satu kecupan manis mendarat tepat di ujung hidung Jin Ri, gadis itu tersenyum senang. “Lagi~” rengeknya seperti balita, dan itu sangat menggemaskan di mata Chan Yeol. Chan Yeol kembali mendekatkan wajahnya kearah Jin Ri dengan mata yang terpejam, kali ini ia menarik pinggang kekasihnya. Dan–

Chu. Chan Yeol kembali membuka kedua kelopak matanya begitu merasakan sebuah benda lembut yang menyentuh bibirnya. Ya, itu bibir Jin Ri. Didapatinya manik hazel Jin Ri tepat di depan matanya. Pemuda itu merasakan tangan Jin Ri melingkar di lehernya. Tak ada gerakan, hanya menempel beberapa detik, kemudian Jin Ri melepasnya.

Tanpa merubah posisi mereka masing-masing –tangan Jin Ri melingkar di leher Chan Yeol sedangkan tangan Chan Yeol berada di pinggang Jin Ri– gadis dengan mata besar itu berucap.

“Maafkan aku karena sudah–berkata macam-macam tentang payung yang–” Jin Ri tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena Chan Yeol sudah memotongnya terlebih dahulu.

“Bukan salahmu, Sayang.” pemuda itu mengusap surai hitam milik Jin Ri. Gadis itu tersenyum manis, namun senyumnya segera sirna begitu dirinya menyadari suatu hal yang janggal.

“Mana payung ku?” tanya Jin Ri yang dijawab Chan Yeol dengan menunjuk payung tersebut. Apa kah kalian masih ingat di mana terakhir kali Chan Yeol manaruh payung tersebut?

“YAK! CHAN YEOL-AH! Kenapa kau menaruhnya di tanah, Sayang?” Jin Ri memekik heboh ketika melihat payung–yang sekarang telah menjadi benda paling berharga–nya itu di letakan di tanah. Jin Ri ingin menangis lagi saat ini.

“Ah. Maaf, Jin Ri-ya. Aku pikir kau tidak suka dengan payung itu, jadi …”

“SIAPA YANG BILANG BEGITU? AAA~ CHANYEOLLIE BABO.”

Yeah. Dan begitulah …

Seandainya Chan Yeol memberi tahu tentang arti payung itu sejak awal, maka Jin Ri tidak akan pernah menganggap payung hitam itu sebagai benda ternista yang pernah ada. Nyatanya? Tanpa mereka sadari, payung telah menjadi benda yang mempererat cinta mereka.

Sore ini, cinta mereka akan menjadi lebih kekal. Di bawah naungan payung hitam itu, mereka saling berbagi cinta, tawa, dan kehangatan.

Tak ada alasan lagi bagi Jin Ri untuk menolak sosok Park Chan Yeol. Faktanya? Di balik sifat Chan Yeol yang konyol itu, ternyata ia memiliki sebuah perasaan luar biasa. Perasaan yang hanya dapat ia tunjukan di hadapan seorang Choi Jin Ri.

***

Jadi inilah–

Seberapa bencinya Jin Ri kepada Chan Yeol, gadis itu tetaplah menyayangi kekasihnya, Chan Yeol.
Seberapa sering sifat egois Jin Ri muncul, pemuda itu tetaplah mencintai kekasihnya, Jin Ri.

Keduanya selalu saling memahami dan menerima. Itulah mengapa cinta mereka tidak pernah runtuh meski diterpa oleh badai sekalipun. Jadi biarkan cinta mereka terus mengalir seperti air, dan mari kita tutup potongan kisah cinta mereka yang satu ini dengan kata–

END

***

[A/N]Bagaimana? Singkat dan tidak memuaskan sama sekali bukan? Hahaha~ Awalnya saya nulis FF ini di kertas lembar. Waktu itu saya lagi di sekolah. Karena saat itu di sekolah saya lagi musim hujan, jadinya saya nulis FF tentang hujan gini, deh. Kritik, saran, dan komentar kalian senantiasa saya tunggu loh. Baik, sekian dari saya, wassalam.
Giant Babies, Shaza – Spark

 

 

3 thoughts on “[FREELANCE] The Black Umbrella and Us

  1. manis banget…
    hua mana chanstall pula couple faveku hahaha lucu ya si chan kasi payung item buat hadiah!
    aku suka ceritanya manis banget keep writing^^9

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s