[FREELANCE] Cynicalace (Chapter 2)

Project LN1

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi,  dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

ANNYEONG!!!!

Sekali lagi selamat membaca chapter 2 dari project author duet ini. Semoga masih ada yang menunggu yaaa, dan sebelumnya.. maafkan ya dengan para tokoh yang agak absurd karena memang seperti itulah di buatnya😀.

Lalu, jangan lupa ya dengan ff author masing-masing Pos Hoc Propter Hoc dan Salt and Wound heheheheh #promosi banget.

Last but not least,

HAPPY READING, RCL yaaaa- untuk koreksi author!!

___

 

 

-:Ilhae’s PoV:-

“Hah…” aku melipat kembali seragam Rein dan langsung memasukkannya ke dalam loker, tidak memperdulikan apa yang sebenarnya harus aku lakukan pada seragam itu. Biarlah Rein sendiri yang mengurus sisanya besok-besok.

Setelah semuanya selesai aku sudah bermaksud keluar dari ruang ganti tersebut, namun aku menemukan meja didalam ruangan yang berantakan sekali. Ada bekas botol minuman ringan, air mineral, bungkus makanan, dan plastik-plastik lain yang menghiasi permukaan meja. Menatap sebentar pemandangan tersebut, pikiranku sudah bimbang harus membersihkannya atau tidak.

Hei! Ini bukan urusanmu!

Aku memarahi diriku sendiri. Dengan tekad tidak akan berbaik hati apapun aku mulai mengangkat kakiku untuk keluar dari ruang ganti…

“AH! Jeongmal!”

Pada akhirnya setelah pergulatan hebat didalam pikiranku aku berbalik kembali. Merapikan letak tasku aku langsung membereskan permukaan menja tersebut dan meraup benda-benda rongsok itu ke dalam tanganku. Akibatnya aku sedikit kesusahan membuka pintu. Dengan menyedihkan, susah payah menggunakan tangan kananku semampunya aku membuka pintu ruang ganti dan berpindah keluar.

Well, dengan sampah yang cukup merepotkan dalam pelukanku aku tidak terlalu memperhatikan jalan di depanku, keadaan sekitarku, ataupun masih adakah orang atau tidak. Tapi asumsiku tidak ada, siapa yang mau pulang lebih larut lagi ketika jam kerjamu sudah mengharuskan pulang larut.

Bruk.

Aku menjatuhkan sampah merepotkan itu ke tempat sampah dekat meja kasir, dengan perasaan puas yang memenuhi pikiranku. Entahlah, terkadang membersihkan tempat lain selain kamarku sendiri lebih menyenangkan – jangan dihiraukan, aku memang aneh.

“Hae-babo! Cepatlah! Apa yang sedang kau lakukan?! Sudah larut!”

Telingaku mendengar suara yang perlahan mendekat, dan setelah beberapa detik aku bisa melihat siluet seseorang. Dalam 30 detik aku sudah bisa melihat siapa orangnya. Kai. Seharusnya aku sudah menyadarinya dari awal, tidak ada yang akan memanggil namaku dengan aneh layaknya namja itu.

“Ne… mian. Aku membersihkan ruang ganti dulu. Sekarang ayo…” aku langsung berjalan menuju pintu cafe berusaha tidak menghiraukannya.

Grep.

Aku langsung menoleh dan pandanganku turun kebawah, di mana tangan seorang Kai menahan sikuku. Mau apa dia?

“Kau membersihkan ruang ganti?” tanyanya dengan nada takjub.

“Iya, wae?” aku menaikkan alisku bingung. Apakah namja itu sudah menjadi anak idiot sekarang? Bersih-bersih bukanlah sesuatu hal yang bagaimana.

“Seharusnya tidak perlu. Biarlah mereka yang resmi bekerja yang bersih-bersih. Kau hanya membantu bukan? Dan kau juga telah menggantikan dua orang sekaligus hari ini. Itu sudah lebih dari cukup.”

“Ehehe, tidak apa-apa. Aku hanya tidak ada kerjaan saja.”

Kami berjalan bersama menuju pintu keluar. Kai hanya mengangkat bahu singkat ketika mendengar jawabanku. Sedangkan aku tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan namja itu. Menurutku itu perkataan paling normal yang dikatakannya padaku hari ini. Setelah segala macam sikapnya yang tolong… amat sangat tidak menyenangkan dingin menyebalkan.

Angin malam langsung berhembus menerpa kulitku, membuatku sedikit menggigil. Langit malam ini cerah tanpa awan. Sehingga bulan dan bintang bisa menunjukkan diri dengan indahnya.

“Kau pulang bagaimana?” Kai bertanya sembari mengunci pintu cafe.

Aku menggembungkan mulutku sembari menendang batu yang ada didepanku tidak ada kerjaan, “Mobil.”

“Hmmm.”

Berikutnya, Kai sudah berjalan berlawanan arah denganku. Aku menuju bagian kanan tempat parkir – tempat mobilku terparkir, sedangkan Kai berjalan ke arah kiri – tempat parkir motor. Mengedikkan bahu aku langsung menekan remote mobilku dan masuk. Merasa sedikit lebih hangat daripada udara diluar.

Aku tidak langsung menjalankan mobilku, melainkan menyetel musik yang akan kudengar selama perjalanan. Di sela-sela aktifitasku mencari lagu yang sedang sesuai seleraku malam ini, aku mendengar suara klakson. Aku mendongak dan melihat motor Kai baru saja keluar dari area tempat parkir dan berbelok ke kanan sebelum menghilang. Yang baru saja aku perhatikan adalah namja itu tidak memakai jaket untuk menahan angin malam yang dingin, ia hanya mengenakan kaus tipis.

Tidak takut sakit apa?

 

-:Rein’s PoV:-

Aku tidak menyangka makhluk bernama Geum Ilhae itu akan pulang lebih larut dariku. So, setidaknya dia benar-benar tidak bisa menjemputku dilandasi alasan yang benar. Aku menarik napas panjang mengingat diriku yang terjebak dengan Chanyeol di dalam mobil tadi.

–Flashback–

Aku terdiam sepanjang perjalanan. Sama sekali tidak berniat membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu. Hanya deruan mesin yang memecahkan keheningan berkepanjangan, sampai namja itu menghela nafas panjang dan mulai bersuara.

“Kau masih belum bisa memaafkanku, Jung Rein? Kejadian itu telah berlalu lama.” Aku tersenyum kecut. Namun masih mempertahakan diri dalam kondisi diam.

“Jawab aku.”

Aku memalingkan wajahku keluar jendela. Ingatan itu kembali menyerangku.

Prom Night di hari terakhirku sebagai siswa di tingkat Senior High School. Acara kelulusan di sekolahku dulu selalu menggunakan konsep Prom Night setiap tahunnya. Tentu saja akanada pemilihan King and Queen dari setiap angkatan yang akan lulus. Saat itu Chanyeol terpilih sebagai King –yah, katakan saja Chanyeol memang namja yang sangat populer dulu bahkan hingga sekarang, hingga aku tidak perlu kaget akan realita ini – jujur saja aku sangat acuh pada kegiatan semacam ini, bahkan lebih menjurus tidak peduli.

Aku bisa datang ke acara yang penuh dengan dress dan make up saja sudah sebuah keajaiban, dan hal ini thanks to sahabatku Geum Ilhae yang memaksaku datang. Tidak main-main, ancamannya saat itu adalah Yixing sunbae. Sunbae yang paling ku idam-idamkan di dunia. Bisa dikatakan orang itu adalah idolaku. Hebatnya idolaku itu pernah bekerja sama dengan Ilhae dalam menggarap pentas seni saat kami duduk di kelas 2 dan orang itu berada di kelas 3 –sebelum dia lulus. Sehingga secara tidak langsung Ilhae mengenal baik namja keturunan China yang sangat tampan itu. Kembali pada ancamannya, Ilhae mengangancam akan membeberkan rahasiaku selama ini, rahasia bahwa aku sering memfoto namja itu diam-diam dan menempel hasil jepretanku di dalam kamarku. Aku termasuk yeoja yang memiliki harga diri yang sangat tinggi, aku sangat benci dipermalukan sehingga aku harus menuruti Ilhae dan datang ke acara yang menurutku sangat random ini.

Aku sedang menyeruput orange juice ku, samar-samar aku mendengar MC sedang menanyakan siapa yang akan Chanyeol pilih sebagai Queennya. Chanyeol lalu menyebutkan satu nama yang membuatku hampir menumpahkan orange juiceku ke lantai.

“Jung Rein.” Aku menganga. Dan kuyakin wajahku pasti sangat absurd detik itu.

Wait… bagaimana bisa dia menyebut namaku?! Mengingat hubunganku dengannya tidak pernah sedekat itu. Dia memang sering bertingkah menyebalkan padaku, tapi kuyakin aku tidak pernah menanggapinya. Dan sekarang dia memilihku sebagai Queen?

Teman-teman di sekitarku mulai melihat ke arahku secara serempak membuatku risih dan tersenyum kikuk. Semua teman-temanku memandang tidak percaya, terutama Geum Ilhae. Tapi oh ayolah siapa yang tidak kaget namja idaman kebanyakan yeoja saat itu memanggil namaku yang memang biasa-biasa saja sebagai seorang yeoja. Tidak ada yang menonjol dari diriku yang membuat namja seperti Chanyeol mau melirikku. Lalu gemuruh dan sorak sorai terdengar di udara dan aku masih dengan kebingunganku merasakan tubuhku yang didorong hingga ke atas panggung. Aku bisa memastikan pelaku kejahatannya adalah teman-temanku. Mungkin Ilhae juga termasuk di dalamnya.

Aku berhadapan langsung dengan Chanyeol di atas panggung, dia menatapku sekilas. Lalu tersenyum kecil sambil menunduk. Berusaha menutupi senyumannya namun aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Lalu mic yang masih berada pada genggamannya terangkat dan dia mengucapkan sesuatu.

“So.. sorry, I made a mistake. Maksudku bukan Jung Rein tapi Jung Boram. Aku salah menyebut nama.”

Tidak, dia tidak salah menyebut nama. Karena kuyakin antara Rein dan Boram  itu sangatlah jauh walaupun marga kami memang sama. Aku membelalakan mataku. Ya, namja bernama Park Chanyeol ini sedang mempermainkanku, aku tahu dia sengaja salah memanggil nama. Lalu aku melihat ke arah teman-teman seangkatannya yang berada di bawah panggung. Tidak sedikit di antara mereka yang sedang menahan tawa mereka sambil menatapku.

Kepalaku terasa panas, tiba-tiba aku mengingat sifatku yang sangat benci dipermalukan. Harga diriku tidak menerima hal tersebut. Aku tersenyum pahit lalu melihat Chanyeol sekilas. Lalu menuruni panggung tanpa mengatakan apa-apa.

Dalam asumsiku, di atas panggung megah pesta Prom Night namja bernama Park Chanyeol telah menginjak-injak harga diriku. Kau bisa mengatakan aku sensitif atau apapun. Tapi aku tidak peduli, sejak saat itulah aku memtuskan untuk membencinya dan sebisa mungkin tidak pernah berurusan lagi dengannya. Bahkan setelah mengetahui fakta bahwa Chanyeol berteman dekat dengan sahabatku, Geum Ilhae. Juga mengabaikan fakta bahwa kami memasuki universitas yang sama.

–Flashback End–

“Seharusnya  aku mengatakannya dari dulu, aku menyesal akan sifat kekanakanku saat itu. Mianhae.” Aku mendengus, aku telah kembali dari ingatan menyedihkan itu. Dan aku baru menyadarinya bahwa mesin mobil telah berhenti tepat di depan apartemenku.

Aku membuka pintu mobil dan segera beranjak dari dalam mobil, namun sebelum aku benar-benar keluar. Aku ingin mengatakan sesuatu pada namja ini.

“Kau tidak perlu meminta maaf. Karena aku sudah memaafkanmu.” Aku berujar datar.

“You’re not.”

“Aku tidak peduli asumsimu, aku hanya tidak ingin berhubungan apapun lagi denganmu. Di lain waktu anggap saja kau tidak mengenalku.” Lalu aku benar-benar keluar dari dalam mobil dan menutup pintu dengan tenang. Tapi tidak di dalam diriku, ketenangan tidak ada di dalamnya. Aku merasakan kesedihan dan emosi yang memuncak yang bisa saja membuatku menangis. Tapi aku tidak akan menangis, aku tahu itu.

 

-:Author’s PoV:-

“Aku pulang!” Suara cempreng seorang Geum Ilhae langsung memenuhi apartemen. Tak tanggung-tanggung, teriakan yeoja itu juga mengganggu malam para tetangganya.

Rein yang sedang mengurung diri di kamar dengan ‘contekan’ jurnal dari Shinra, segera memasang tampang siap perang setelah mendengar suara cempreng itu. Lalu dia bergegas keluar dari persembunyiannya untuk menyambut orang itu.

Ilhae berhenti dari langkahnya begitu mendengar suara pintu dibuka. Tatapannya langsung menatap pintu kamar Rein. Satu detik kemudian Rein muncul dari balik pintu, Ilhae yang melihat raut tidak bersahabat dari sahabatnya itu hanya bisa menyeringai dan membating diri ke sofa.

“Eheum..” Rein berdeham dengan nada sengaja. Lalu dia melangkah mendekati sofa dan mengambil tempat di sebelah Ilhae dengan lagak sok tenang.

“Hai…” Ilhae terkekeh sebentar lalu melanjutkan, “Kau duluan saja, kawan.”

Kawan? Rein menggerutu dalam hati. “Ya, baiklah jika begitu. Tapi jangan menyesal karena memberikanku kesempatan berbicara terlebih dahulu.”

Rein menarik napas panjang lalu dengan satu tarikan napas berteriak,

“APA YANG KAU PIKIRKAN DENGAN MENYURUH SEORANG IDIOT PARK CHANYEOL UNTUK MENJEMPUTKU, HAH?!”

Ilhae tidak mau kalah menatap sengit sembari melipat tangannya, “DAN APA MAKSUDMU NAMJA GILA MACAM KAI ATAU JONGIN ATAU SIAPAPUN ITU BAIK HAH? BEKERJA MENGGANTIKANMU MENYEBALKAN! DAN KAU TAHU AKU TIDAK BISA MENJEMPUTMU GARA-GARA REKANMU BAEKHEE!”

Rein menarik napas dan mencoba berbicara tanpa berteriak mengingat kesopanan untuk tidak mengganggu tetangga di malam telah larut ini. “Tapi, kau bisa kan meneleponku saja dan mengatakan tidak bisa menjemputku? Aku kan bisa pulang sendiri.”

“Chingu… aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendiri malam-malam dengan kendaraan umum. Aku juga sebenarnya tidak ingin menelepon Chanyeol. Tapi di keadaan terdesak dan hanya si orang itu yang available.” Ilhae tersenyum dibuat-buat dan juga terkikik dalam hati. Jelas sekali ia sengaja, karena secara tidak langsung yeoja bermarga Geum ini ingin Rein dan Chanyeol bersama.

“Hey, siapa yang mengatakan aku akan pulang sendiri dengan kendaraan umum, masih ada alternatif  lain. Seperti…” Rein berpikir sebentar, otaknya mendadak lemot gara-gara nama itu terucap. Tentu saja ini hanya kesensitifannya pada nama Chanyeol.

“Pulang bersama Sehun, mungkin?”

Ilhae menyipitkan matanya, “Sehun? Nugu? Kenapa tidak dengan Tao? Murid dari China yang selalu kau anggap seperti orang mabok itu?”

Rein melirik galak kearah sahabatnya yang detik ini ingin ia tendang bokongnya keras-keras sampai ia tergolek lemah di atas karpet.

“Peace! Jangan tendang aku!” Ilhae memotong Rein, seperti mengetahui pemikirannya.

“Sekarang aku berubah pikiran untuk menggundulimu!” Rein berkata dengan nada kesal yang tertahan. “Ok, well. Sayangnya si mabok Tao itu menganalisis perusahaan yang berbeda denganku. Pilihanku hanya Sehun. Jangan complaint!”

Melihat wajah kalah perang dari sisi sahabatnya, Rein kembali melanjutkan dengan problem selanjutnya.

“Masalah Jongin –”

“CK!” Ilhae berdecak kesal, “Apa pembelaanmu hah? Kujahit mulutmu kalau Kai berani bilang bahwa namja itu baik atau apapun macam ia memang orang yang dingin tapi baik dan sebagainya!” Ilhae sepenuhnya telah memberengut kesal, apalagi ia harus kembali mengingat betapa menyebalkannya hari ini untuknya.

Rein menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Bagaimana yah? Kai itu memang baik sebenarnya. Yeoja itu hanya perlu terbiasa bersamanya, untuk mengetahuinya.

Lalu suatu ide muncul di otaknya, dia tahu cara untuk memenangkan ronde kedua ini.

“Yah, katakana saja Kai memang dingin dan menyebalkan dan sebagainya. Namun menurutku Kai itu tetaplah namja yang baik karena aku mengenalnya lebih lama darimu. Tapi pertanyaanku selanjutnya, kau kan tidak akan bertemu dengannya lagi di lain waktu? Kau anggap pengalaman saja lah hari ini.” Rein tersenyum menang ketika melihat wajah merenungkan dalam raut sahabatnya.

Ilhae berpikir sebentar, tapi tetap saja ia tidak akan kalah! “Cih, seandainya saja perkataanmu benar. Tapi menurut semua cerita yang pernah aku baca, orang menyebalkan itu pasti selalu muncul di hadapanmu dengan sangat manisnya! Dan aku akan tetap menuntutmu JUNG REIN!”

“AH! Berarti kau berharap bertemu dengan Kai di lain waktu? Ohoooo.. is there something, today? Geum Ilhae?” Rein menaikkan salah satu alisnya.

“HEUSH! Iris saja nadiku kalau kau mau! Aku bahkan lebih rela terjebak dengan kelompok idot si berat daripada bertemu dengannya!” Ilhae menggertakkan gigi.

“Baiklah. Whatever you want. Permasalahan selanjutnya. Mengapa kau tidak mengangkat teleponmu saat aku berusaha menghubungimu beberapa saat yang lalu?” Rein melepaskan debatannya tentang Kai, dan melanjutkan hal terakhir yang menganggu benaknya.

“YAH! SALAHKAN JUGALAH KAIMU! Ketika aku baru berhasil memberitahu Chanyeol untuk menjemputmu namja itu memanggilku dan dengan sadisnya merampas ponsel dari tanganku! Dan sekarang lihat? Ke mana ponsel sialan itu?!” Ilhae merogoh-rogoh tasnya mencari ponselnya, sementara Rein menaikkan alisnya meremehkan.

Setelah 30 detik yang panjang…

“CISH, lain kali saja mencarinya! Toh besok aku tidak ada kuliah.” Ilhae mencampakkan tasnya ke lantai.

Rein merasa semuanya sudah terkupas tuntas dan ia harus kembali pada tumpukan jurnal sekarang juga. Sehingga ia mulai berdiri dari sofa, lalu berkata, “Aku harus kembali mengerjakan tugasku. Perlu diingat, chingu! Jangan pernah menciptakan momen di mana aku harus bertemu si idiot itu lagi. Arra?” tanpa mendengar jawaban Ilhae. Rein berlalu dari ruang tengah itu menuju peraduannya, kamarnya.

“YA! AKU TIDAK BERJANJI JUNG REIN! DAN TOLONG BANGUNKAN AKU SEBELUM KAU KULIAH, KAU BERANGKAT JAM 11 BUKAN?” Ilhae dengan kurang ajarnya berteriak di depan pintu kamar Rein yang baru saja tertutup, lalu ia masuk ke kamarnya.

Ish, anak itu.  Rein menggerutu dalam hati namun tak ia ungkapkan. Karena dia tidak mau memulai ronde lain untuk perdebatan mereka malam ini.

 

-:Kai’s PoV:-

Dengan santai aku membuka pintu rumahku. Tidak ada eomma atau appa yang akan menyapaku ketika memasuki rumah ini, melainkan wajah dengan mata bulat milik sahabatku sekaligus seseorang yang telah kuanggap sebagai saudara yang bernama Do Kyungsoo.

Aku telah cukup lama tinggal  di rumah kecil ini bersama Kyungsoo dan Do Kyungah – yeodongsaengnya yang masih duduk di bangku kelas 8 Junior High School.

“Di mana Kyungah?” tanyaku sesaat setelah aku melihat Kyungsoo duduk sendiri menonton drama. “Sudah masuk kamar? Tumben, dia biasanya masuk kamar setelah jarum panjang menyentuh angka 12?”

Aku juga tidak mengerti darimana kebiasaan tidur malam bocah itu datang. Setahuku oppanya termasuk orang yang tidak mempunyai kebiasaan itu kecuali pada waktu-waktu tertentu seperti ketika dia sedang terlalu asyik menonton drama –seperti sekarang.

“Dia tidak ada di rumah, biasalah acara sekolah.” Jawabnya tentang masih memusatkan konsentrasi sepenuhnya pada drama yang ia tonton.

“Sampai selarut ini?” aku takjub pada oppa bocah itu yang sangat santai yeodongsaengnya belum pulang sampai selarut ini.

“Camping.”

Seakan mendapat pemahaman, mulutku hanya membulat dan aku segera berjalan ringan ke arah satu-satunya kamar mandi di rumah ini yang terletak di dekat dapur. Bersiap membersihkan diriku di bawah guyuran air dingin. Berbeda dengan Kyungsoo dan dongsaengnya yang lebih memilih air hangat untuk mandi di malam hari. Aku lebih suka membuat diriku menggigil di bawah guyuran air dingin.

Namun saat aku sedang menanggalkan jaket kulitku, sesuatu yang ganjil tertangkap oleh indera penglihatanku. Ada sesuatu di dalam kantong. Aku memasukan tanganku ke dalamnya dan mengambil apa itu. Seketika ketika aku melihat apa itu aku mendengus keras.

Ponsel yeoja bodoh itu masih berada padaku. Sial!

Mungkin aku harus mengembalikan ponsel ini lewat Rein besok jika aku bertemu dengannya? Hanya itu satu-satunya caranya.

Aku menyimpan ponsel itu di counter dapur dan segera memasuki kamar mandi untuk melanjutkan kegiatanku yang tertunda.

Aku keluar dari kamar mandi 20 menit kemudian dan menemukan seorang Do Kyungsoo tidak berada di ruang tamu –spekulasiku dramanya telah berakhir. Dan sekarang dia menyibukan diri dengan ponsel yeoja bodoh itu yang kuletakan di counter dapur.

“Wae?” suaraku seperti mengagetkannya sehingga ia mendongak cepat dan menatapku seakan-akan dia baru melihat hantu.

“Ani, Kai ini ponsel milik siapa? Ini bukan ponselmu tentu saja.”

“Ah.. itu ponsel seseorang yang tidak sengaja terbawa olehku. Ada apa?” tanyaku tidak acuh sambil mengeringkan rambutku dengan handuk putih di tanganku.

“Ani, aku hanya saja…” Kyungsoo terlihat ragu sesaat lalu dia memegang dagunya seakan sedang berpikir keras. Aku masih menatapnya tidak peduli sampai ia mengatakan hal selanjutnya, “Ponsel ini mengingatkanku pada teman lamaku.”

“Mungkin hanya mirip?”

“Mungkin saja, tapi phone strap ini benar-benar sama dengan yang kuberikan untuk teman lamaku itu.” aku berpikir sejenak, adakah kemungkinan Kyungsoo berteman atau bahkan mengenal si Hae-Hae itu?

Seingatku Rein mengambil jurusan accounting di Joonmyung University. Kemungkinan si Hae-Hae itu juga kuliah disana. Sementara Kyungsoo merupakan mahasiswa dari Makyeol University. Aku mencoba berpikir namun tidak menemukan jawabannya. Sehingga aku mengambil asumsiku yang satu ini.

“Mungkin hanya perasaanmu saja, Soo-ya. Yeoja aneh dan menyebalkan seperti dia kecil kemungkinannya berteman baik dengan namja lemah lembut sepertimu.” Aku terkekeh sendiri dengan pernyataanku.

Namun Kyungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, aku mengambil ponsel itu dari hadapan sahabatku lalu memasuki kamarku. Bersiap terjun ke alam mimpi.

 

-:Chanyeol’s PoV:-

“Ash!!!” aku membuka pintu apartemenku dan menerobos masuk begitu saja menuju kamar tanpa memperhatikan Baekhyun maupun Chen yang masih bermain kartu berdua. Sungguh tidak ada kerjaan sekali.

“We? Yeol!”

Aku bisa mendengar suara Chen, tapi tidak aku hiraukan. Yang perlu aku lakukan adalah merenung dan menyalahkan diriku sendiri. Hash! Kubuka ponselku dan memandang beberapa deretan kalimat di sana.

Geum Ilhae:

Ehehehe…

Yeol, tolong jemputlah Rein di kampus jam 9 ini ya?!

Tidak ada penolakan kumohon, darurat!

Gomawo!!

Ck! Kenapa aku tidak menolaknya saja? Hah… aku benar-benar merasa melakukan hal yang sangat salah. Well, dari awal aku memang salah.

Jung Rein.

Aku menghela nafas dalam. Tidakkah yeoja itu bisa berdamai denganku? Kata-katanya sebelum menutup pintu tadi juga sikapnya yang memang tidak ramah dari awal. YA! Kenapa semuanya menjadi sesulit ini?! Aku mengacak-acak rambutku frustasi.

Ini.

Sangat.

Tidak.

Benar!

Yeol apa yang telah kau lakukan saat itu! Kau sangat tahu bagaimana watak seorang Jung Rein tapi kau tetap melakukannya. Terlalu nekat dan sekarang….. ARGH!

Kau baru saja keceplosan!

Aku memaki diriku sendiri. Mengapa aku bisa sangat stress dan sakit kepala hanya untuk Rein? Aku bahkan bisa dikatakan selalu menghabiskan waktu terlalu banyak untuk memikirkan yeoja itu… contohnya seperti sekarang. Tergolek tidak berdaya diatas ranjang sembari menyiksa diri.

Aku sekali lagi menghela nafas kemudian bangkit. Kakiku langsung membawaku ke meja kerjaku. Tempatku menyimpan kamera SLRku dengan baik. Juga tempat foto-foto berserakan disana. Foro-foto project kuliahku tentang ‘your inner heart’ sungguh tema yang sedikit sulit. Aku mendudukkan diriku di kursi, perlahan memilah-milah lagi hasil jepretanku. Ada seorang yeoja yang sedang mengasuh anak-anak di taman, ada juga harabeoji pemilik toko bunga di belokan yang sedang bersenandung sambil menyiram bunga-bunganya, jangan lupakan aku juga melakukan hal usil dengan memotret Chen juga Baekhyun yang sedang menyanyi di studio. Semuanya terlihat bahagia dengan apa yang mereka lakukan, seperti itulah apa yang berada di dalam hati mereka. Mereka melakukan semuanya dengan tulus tanpa beban – ringan.

Aku terus melihat foto-foto yang terkadang terselip foto pemandangan asal yang kusukai, dan juga foto Jung Rein. Foto yang aku ambil ketika tanpa sengaja melihatnya di perpustakaan, sedang bertekun dengan berkas-berkas didepannya. Walaupun terlihat sekali yeoja itu sedang stress dengan berbagai kertas didepannya itu, tetapi masih ada seberkas senyum disana.

Yeoja yang terlalu mencintai akuntasi itu…

Yeoja yang sangat keras dan berharga diri tinggi…

Yeoja yang sangat suka kupandangi diam-diam ketika sedang tekun dengan aktifitasnya…

Aku bisa merasakan sudut bibirku terangkat.

Well, you must know that you make me crazy Jung Rein, someday.

Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuk Jung Rein. It’s a pleasure.

To Be Continue…

 

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s