Beauty & Beast [Chapter 14]

Beauty & Beast – Chapter 14

Beauty & Beast – Chapter 14

Author: Choi Seung Jin @kissthedeer

Genre: Fantasy, Historical, Supernatural, OOC, AU

Leght: Chaptered

Main Cast:

EXO in English Name

Other Cast:

Minho of SHINee as Minho

Sulli of f(x) as Sulli

Henry as Henry

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Black Pearl | Chapter 12 | Chapter 13

 

****

****

“Kau?” Ucap Leo saat menangkap sosok perempuan didepannya. Perempuan yang sama dengan yang ia temui di tempat pemakaman umum kemarin.

“Kau bodoh jika berpikir untuk berkeliaran di hutan disaat-saat begini!” Hardik perempuan itu tegas seakan dia paham tentang situasi yang kini sedang terjadi.

“Sebenarnya kau ini siapa?” Tanya Leo.

Perempuan hanya ternsenyum tipis saat kata-kata itu keluar dari mulut Leo. Sedangkan Leo masih bingung dan tak bisa paham dengan perempuan misterius itu.

“Aku terkejut karena kau tidak tahu aku,” kata perempuan itu. “Kau seharusnya sudah membaca pikiranku dari pertama kita bertemu.”

“Kau tahu aku bisa baca pikiran?” Tanya Leo kaget.

“Of course I know. I know you much better than yourself, especially Xander,” kata perempuan itu terdengar sangat santai. Dia berbalik memunggungi Leo dalam keadaan terdiam kebingungan.

Bagaimana perempuan ini tahu kalau dia bisa baca pikiran? Terlebih-lebih dia tahu soal Xander dan bahkan lebih tahu daripada Leo.

“Come on! Who are you, lady?” Tanya Leo yang sudah geram dengan semua omongan perempuan itu yang semakin membuatnya bingung.

Perempuan itu tetap diam, duduk membelakangi Leo tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Leo. Hal itu membuat Leo sendiri emosi dan rasanya ingin memaksa perempuan itu untuk bicara yang sebenarnya. Dia berdiri dari tempatnya, berjalan cepat ke arah perempuan itu. Tangannya sudah mengulur dan siap menggapai pundak milik perempuan itu, namun Leo melihat sesuatu dipikirannya.

Leo melihat sebuah gambaran masa lalu yang terputar begitu saja di dalam pikirannya. Seorang perempuan cantik berambut pirang, berasal dari sebuah ras langka dan selalu dipandang terhormat. Di siang hari, mungkin dia akan terlihat seperti seorang gadis muda berparas luar biasa cantik dengan jiwa yang tangguh dan bersih. Tapi di malam hari, perempuan cantik itu akan  berubah menjadi seekor manusia serigala ganas dan buas. Dia memiliki kekuatan yang besar warisan dari leluhurnya yang terdahulu sebagai keturunannya.

Selama bertahun-tahun, perempuan itu telah diselimuti oleh rasa duka dan benci, membuatnya terus dihantui rasa penyesalan dan frustasi. Dia telah kehilangan keluarganya dan kaumnya. Makhluk sejenisnya sudah hampir musnah seluruhnya. Hanya tinggal 12 orang termasuk perempuan itu. Selama bertahun-tahun pula, dia dan 11 orang lain hidup di alam liar yang sama buasnya dengan mereka. Hingga mereka menjadi lebih ganas dari sebelumnya. Hingga tidak ada lagi sianga ataupun malam bagi mereka. Selama itu mereka menjadi 12 ekor manusia serigala yang gemar berburu mangsa yang merupakan manusia. Masalah kembali datang pada perempuan itu saat sekelompok penyihir menangkapnya dan 11 manusia serigala yang lain. Dia dikurung di dalam penjara bawah tanah yang sudah dimantrai dengan berbagai macam sihir supaya dia tidak bisa kabur. Namun bagi penyihir-penyihir itu, penjara bawah tanah tidaklah cukup untuk mengurung perempuan itu. Prison Soul adalah jalan terakhir untuk mengurungnya dan 5 tahun kemudian perempuan itu sudah terpenjara di dalam tubuh seorang bayi laki-laki. Selama 17 tahun terakhir dia telah hidup dan tumbuh bersama bayi laki-laki itu, hingga akhir bayi laki-laki yang telah tubuh menjadi remaja SMA itu melepasnya demi keselamatannya sendiri, membiarkan perempuan serigala itu membawa kekuatan spesialnya dan meninggalkan wujud manusia serigala di dalam tubuh laki-laki itu.

Leo kembali ke tempat dimana dia berpijak sebelumnya. Di dalam pohon besar tempatnya bersembunyi sementara. Dia melihat didepannya perempuan berambut pirang itu masih duduk membelakanginya. Kini dia tahu siapa perempuan itu dan terkejut dengan kenyataan yang dimiliki perempuan itu.

“Kau… Kau Fleur, kan? Iya, kan?” Kata Leo mempertegas apa yang barusan ia lihat tentang perempuan itu.

Fleur hanya diam karena apa yang ditanya Leo memang benar. Mungkin Leo sudah melihat semua atau Xander sendiri yang telah menunjukkannya.

“Kau tidak seharusnya keluar dari tubuh Kevin–”

“Dia yang memaksakanku untuk keluar!” Potong Fleur tegas. Dengan nada yang setengah teriak, Fleur meluruskan apa yang dipikirkan Leo untuk menghindari kesalahpahaman. “Kevin memaksaku untuk keluar. Dia melakukannya untukku, untuk teman-temannya, termasuk untukkmu. Awalnya aku tidak setuju, tapi dia memaksa.”

“Lalu, dia sendiri bagaimana? Apa dia sudah tidak punya kekuatan lagi?” Tanya Leo.

“Dia masih mempunyai kemampuan untuk berubah. Tapi dia sudah tidak punya kekuatan flight lagi,” ujar Fleur. “Maka dari itu, Kevin tidak boleh berperang di malam gerhana bulan atau dia tidak akan punya kekuatan apapun untuk melawan vampire-vampire itu.”

“Kenapa kau sendiri ada disini?” Tanya Leo lagi.

“Kevin menyuruhku untuk bersembunyi sampai perang berakhir nanti. Ku pikir…” Kata Fleur, memandangi sekitarnya, di dalam sebuah pohon tua yang besar. “Tempat ini cukup aman.”

Fleur mengalihkan pandangannya pada pedang yang Leo pegang sedari tadi. Dia merasa familiar dengan pedang itu dan langsung menangkap bahwa pedang itu adalah milik salah satu leluhur Mortem.

“Pedang itu!” Serunya. “How did you get it?”

“Paman George yang memberikannya padaku. Pedang ini milik leluhur Xander–”

“Yeah yeah.. I know. Apa ada pedang yang lain bersama pedang ini?” Kata Fleur begitu antusias.

“Sepertinya tidak. Paman hanya punya satu. Memangnya kenapa?” Kata Leo.

“Seharusnya pedang milik leluhurku juga ada. Karena 12 pedang suci milik leluhur Mortem hilang saat para vampire sialan itu menghancurkan para Mortem,” ujar Fleur.

“Memangnya ada pengaruhnya?”

“Tentu saja ada. Aku bisa memiliki kekuatan besar dengan pedang itu. Pedang itu bisa menjadi senjataku untuk melawan vampire-vampire itu nanti,” jelas Fleur. “Argh! Jika saja aku punya pedang itu sekarang,” gerutunya kesal.

“Apa kau tidak bisa pakai pedang ini?” Tanya Leo sambil menyodorkan pedangnya.

“Jika aku pakai pedang itu, kekuatannya tidak akan berpengaruh padaku. Hanya keturunan dari pemilik asli yang bisa menggunakan kekuatan pedang itu. Ada 12 pedang yang artinya hanya ada 12 orang yang bisa menggunakan kekuatan pedang itu. Satu orang, satu pedang. Tidak bisa digantikan,” kata Fleur.

Leo mulai mengerti. Pedang yang ada ditangannya sekarang hanya bisa ia gunakan selama dia masih bersama Xander karena Xander adalah keturunan dari pemilik asli pedang ini.

“Kau harus berlindung disini sampai gerhana bulan selesai,” kata Fleur. “Kita akan bergabung ditengah-tengah perang nanti.”

 

***

Alex membawa dirinya dan kesepuluh temannya yang lain ke sebuah hutan di pinggir kota Berlin, Jerman. Hutan itu satu-satunya tempat yang bisa Alex pikirkan berberapa jam yang lalu saat dia berteleportasi.

Richard dan Francis sudah mendirikan sebuah tenda sihir ajaib pemberian Pak Jim. Dari luar memang terlihat kecil dan mustahil untuk ditempati oleh 11 orang. Tapi jika sudah masuk ke dalam, luas tenda itu seperti luas sebuah rumah sekitar 10 kali lipat dari luas tenda dari luar. Bahkan di dalam tenda sudah ada 6 ranjang tingkat yang sudah ada sejak tenda itu berdiri. Pak Jim memang sudah memantrai tenda itu supaya bisa ditinggali oleh 11 orang.

Menunggu gerhana bulan tanpa melakukan apa-apa memang membosankan. Tak ada yang bisa lakukan untuk saat ini. Semakin mendekati gerhana bulan, mereka semakin tegang, terutama Kevin. Dia terus memikirkan tentang kekuatannya yang sudah tidak ada. Dia memang masih bisa menggunakan kemampuannya untuk berubah, tapi dia terus merasa itu tidak cukup meski Pak Jim sudah memberinya pedang sekalipun.

Edison bisa melihat semua masalah bersarang di dalam pikiran Kevin, sahabatanya itu. Terlihat jelas dari raut wajah pria itu saat mereka berangkat dari London hingga sekarang berada di Berlin.

“Tell me!” Kata Edison langsung pada Kevin yang sedang duduk stres di bawah sebuah pohon. “Aku tahu kau sedang banyak masalah. Ceritakan padaku!”

Jujur saja, Kevin enggan menceritakan masalahnya pada Edison, apalagi tentang Fleur. Apa yang akan terjadi jika Edison sampai tahu? Mungkin Kevin tidak akan mau bicara jika Edison tidak mendesaknya terus-terusan seperti sekarang ini.

Kevin sambil berfikir sekarang, tetang bagaimana cara memberitahu kalau Fleur sudah tidak bersamanya lagi. Untuk sementara ini, dia berencana hanya akan memberitahu Edison dan membiarkan yang lainnya tidak tahu sampai perang nanti. Tapi justru saat perang nanti adalah masalah terbesarnya.

“Baiklah. Kumpulkan yang lain! Aku akan memberitahu kalian semua,” kata Kevin serayanya berdiri dan berjalan menuju tenda.

Di dalam tenda sudah ada berberapa orang seperti, Bernard, Richard, Donald, Mike, Will dan Thomas. Sisanya berada di luar tenda– yang entah sedang apa– sampai Edison menyuruh mereka berkumpul di dalam tenda.

Kevin berdiri ditengah-tengah 10 orang lain yang duduk mengitarinya di atas tanah. Perasaan gugup menyerangnya. Berkata jujur memanglah berat, apalagi jujur untuk mengakui sesuatu yang salah. Dia bisa melihat semuanya dari tempatnya berdiri sekarang, kecuali Leo yang dia sendiri tidak tahu keberadaannya sampai sekarang.

“Aku ingin jujur pada kalian,” kata Kevin memulai pengakuannya.

Dia menarik nafas panjang sebelum mengakui kesalahannya yang bisa saja berakibat fatal. Tapi jika dipikir-pikir lagi, justru perbuatannya itu bisa ia jadikan sebuah strategi saat perang melawan vampire nanti. Setidaknya jika yang lain bisa menerima dari sisi itu.

“Fleur sudah tidak bersamaku lagi.”

Suasana hening. Tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun saat 5 kata itu keluar dari mulut Kevin. Sampai Richard menggerakkan mulutnya.

“Siapa itu Fleur?” Tanya Richard dengan tampang polosnya.

Apa mereka tidak tahu Fleur–”

“Aku melepaskan Mortemku,” ucap Kevin memperjelas pengakuannya.

“WHAT??” Saat kata-kata itu masuk ke dalam 10 pasang telinga milik 10 orang itu, serentak mereka semua berteriak. Kaget dengan pengakuan yang baru saja dilakukan oleh Kevin.

“Are you isane? Kenapa kau melepasnya?” Ucap Francis. Dia begitu kecewa sampai wajahnya yang putih bersih berubah menjadi merah.

Tidak hanya Francis, semua ikut marah dan kecewa. Kevin seharusnya tidak pernah melepaskan Mortem yang ada di dalam tubuhnya yang sudah susah payah dikurung selama 17 tahun terakhir.

“Apa kau tidak berpikir dengan baik?”

“Kau sudah gila!”

“Kau tidak bisa melepaskannya seakan-akan dia itu hanya seekor anjing.”

“Kau ingin mati?”

Hujatan dan cacian terus menghujani Kevin. Sepuluh orang iu tidak bisa berhenti bicara, mengatakan apa yang ada dipikiran mereka saat tahu bodohnya Kevin yang melepas Mortem miliknya begitu saja.

“SHUT UP!” Teriak Kevin menghentikan semua kata yang terus keluar dari 10 orang di hadapannya. “I know it was dangerous. I know I should not let her go. Tapi itu yang terbaik untuknya. Jika seandainya Minho berhasil mengalahkan kita semua, setidaknya dia tidak bisa memiliki satu kekuatan.”

“Tapi seharusnya kau membicarakan hal ini dulu pada kita, pada Pak Jim dan Paman George. Sekarang kau tidak punya kekuatan apa-apa,” kata Francis mencoba mengontrol emosinya untuk menghadapi Kevin yang sudah berbuat seenaknya tanpa memikirkan resiko yang akan ia dapatkan.

“Tidak ada yang boleh tahu soal ini. Baik Pak Jim ataupun Paman George. Kalian juga seharusnya tidak boleh tahu,” ucap Kevin. “Lagipula aku masih bisa berubah menjadi serigala karena secara teori aku benar-benar seorang werewolf sekarang. Bukan lagi kurungan makhluk mengerikan yang bisa berubah menjadi serigala raksasa.”

“Lalu dimana Mortemmu sekarang?” Tanya Francis. Dia kali ini sudah mulai mengerti dan mencoba menerima apa yang telah dilakukan oleh Kevin. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.

“She’s save. Aku sudah menyuruhnya bersembunyi sampai perang selesai,” kata Kevin.

“Are you sure?” Ucap Farncis seolah tak percaya dan ragu.

“Of course. I have a feeling about it,” jawab Kevin yakin 1000%.

“Bagaimana jika dia kabur?” Celetuk Richard.

Kevin diam. Memang terbelesit dipikirannya jika Fleur mungkin akan menipunya dan kabur. Namun semua kembali ke tujuan awal dia dan Fleur. Jika keyakinan itu kuat, Fleur pasti tidak akan kabur dan mengikuti ucapan Kevin untuk sembunyi.

“She won’t do that..” Kata Kevin. “I trust her.”

 

****

Fleur dan Leo duduk saling berhadapan. Membuang waktu mereka hanya dengan duduk dan menunggu sampai gerhana bulan yang akan terjadi malam ini. Tak sepatah katapun terucap dari mulut mereka berdua.

Suasana makin terasa tidak nyaman. Salah satu dari mereka harus ada yang mulai mencairkan suasana yang awkward ini.

“So…” Kata Fleur. “Gadis bernama Amelia itu vampire?”

“Setengah vampire,” kata Leo mempertegas.

“What’s so different? Vampire ataupun setengah vampire itu sama saja. Sama sama makhluk jahat–”

“Amy bukan makhluk jahat!” Bantah Leo.

“Oh yeah? Bukan kah kau juga pernah berpikir seperti itu? Kau sendiri yang bilang kalau kau membencinya sampai dia mati karena dia itu vampire, kan.”

Leo seketika diam. Matanya enggan menatap Fleur saat dia berpikir bahwa apa yang dikatakan Fleur memalah benar. Memang benar dia pernah menyangka Amy adalah makhluk jahat hingga kematian menjemput gadis itu. Lagi-lagi rasa menyesal menghantui Leo untuk kesekian kalinya.

“Sudahlah! Berhenti menyesali apa yang sudah terjadi. Tidak ada gunanya,” ucap Fleur memalingkan pandangannya cepat seraya berdiri dan melangkan kakinya pergi.

“Apa kau tidak pernah menyesal?” Tanya Leo.

“Sorry?” Kata Fleur bertingkah seolah dia tidak dengar perkataan Leo barusan.

“Pebuatan yang kau lakukan dulu hingga efeknya abadi hingga sekarang. Apa kau tidak pernah menyesal? Kau yang menyebabkan kita semua terlibat masalah seperti ini–” kata Leo.

“Aku sudah hidup dalam penyesalan selama berpuluh-puluh tahun!” ucap Fleur tegas.

“Penyesalan, kesedihan, kesengsaraan. Semua itu sudah pernah ku alami. Kau tidak tahu rasanya hidup berpuluh-puluh tahun dalam penderitaan tak berujung. Kau baru berumur 17 tahun dengan Mortem di dalam jiwamu yang baru merasakan dampaknya selama berberapa bulan terakhir dan 2 minggu penyesalan atas kematian pacar vampiremu. Kau…” Kedua mata Fleur yang berwarna hijau seketika berkaca-kaca, terbendung air mata yang siap mengalir dari kedua mata indah itu. “…belum mengerti rasanya jadi aku.”

Argumen ini membuat Fleur menangis. Ini pertama kalinya dia menangis sejak berpuluh-puluh tahun ia hidup. Dia sudah merasakan banyak penderitaan. Sekuat apapun dia, dia tetap saja mempunyai titik kelemahan yang membuatnya tidak sanggup menahan semua beban yang ia rasakan. Ia duduk dengan tangan yang menutupi wajahnya yang menangis.

“Kau… tidak tahu rasanya saat… keluargamu hancur akibat keegoisanmu sendiri. Kau juga… tidak tahu sebesar apa penyesalanku karena aku penyebab kaumku sendiri musnah.. Semua ini memang salahku! HUAAAAAH”

Leo terpaku diam melihat seorang perempuan menangis keras didepannya. Kelemahan setiap laki-laki adalah melihat seorang gadis menangis. Leo bahkan tidak tahu harus berbuat apa supata Fleur berhenti menangis dan bisa lebih tenang.

“Bukankah kau sendiri yang bilang, menyesali apa yang sudah terjadi itu tidak ada gunanya?”

Tangis Fleur seketika meredam. Dia menaikan kepalanya dan memandang wajah Leo yang baru saja berbicara padanya. Wajahnya terlihat memerah akibat menangis dan air matanya sudah membasahi hampir 75% bagian wajahnya.

“Ayolah! Kau sudah hebat karena bisa  bertahan selama berpuluh-puluh tahun. Jangan hancurkan rekormu itu.” Leo tersenyum supaya Fleur bisa lebih tenang. Dia mencoba mengerti perasaan Fleur selama ini. “Maaf soal perkataanku tadi.”

Fleur melompat, menyambar tubuh Leo dan memeluknya erat. Dia kembali menangis namun tidak sekencang tadi dan Leo sendiri membiarkan jelmaan lain seekor Mortem itu menangis di pundaknya. Fleur terus menangis, mengeluarkan semua kesedihan yang sudah lama dia pendam.

“Kau sangat mirip dengan Xander yang ku kenal,” kata Fleur disela tangisnya.

“Aku sudah hidup dengan Xander selama hidupku,” kata Leo. “Jadi wajar jika aku dan dia punya banyak kemiripan.”

 

****

Bulan menjadi gelap saat malam telah datang. Bayangan hitam menutupi bulatnya bulan yang bersinar terang. Kegelapan seolah telah menyelimuti malam yang semula indah. Ketakutan akan jahatnya kekuatan gelap telah menutupi hampir seluruh kawasan Frankswood, lokasi Sekolah Akademi XOXO berada.

Hal yang sama juga kental terasa di hutan Berlin, Jerman. Dimana kesebelas anak laki-laki duduk menatap bulan yang hilang penuh rasa takut dan tegang. Today is the day. Kurang dari 2 jam mereka akan menghadapi perang terbesar dalam hidup mereka. Perang yang tak pernah mereka pikirkan seumur hidup mereka akan terjadi.

Mereka sudah mengemasi barang mereka. Barang-barang yang dulu pernah diberikan Pak Jim sebagai hadiah natal telah mereka bawa atau kenakan. Barang-barang itu tidak lagi mereka simpan seperti benda tak terpakai lagi.

“So..” kata Alex. “This is it. Our biggest war.”

“Yeah, this is it. This is the time. Perjuangan kita yang sebenarnya akan segera dimulai,” kata Kevin dengan wajah lesu sekaligus tegang. Bukan hanya Kevin yang merasa tegang—tentu saja.

“Jujur saja. Aku takut,” ujar Richard dengan ekspresi super takut dan jantung yang berdebar kecang. “Jika aku sudah tua, aku bisa saja kena serangan jantung,” ucapnya lagi sambil meletakkan tangannya di tempat jatungnya berada.

“Akan sebanyak apa pasukan vampire itu nanti? Semoga tidak sebanyak yang ku pikirkan saat ini,” kata Donald dengan pandangan kosong karena pikirannya sekarang sedang kemana-mana—membuat imajinasinya sendiri.

“Berapa banyak vampire yang ada dipikiranmu?” tanya Stephan.

“Tiga ratus…” kata Donald dengan wajah yang datar saat yang lainnya langsung menatapnya serentak— memberi tatapan ‘tidak mungkin’.

“Aku tidak mau bertemu Minho,” Thomas bersuara.

“Aku lebih tidak mau bertemu Sulli,” kata Edison menambahkan.

“Aku lebih tidak mau lagi bertemu mereka semua,” kata Mike iku-ikutan.

“Aaah GOD!! I’m not ready for this.” Bernard berteriak tiba-tiba dengan kaki yang menendang-nendang seperti anak bayi. Bagaimana bisa dia bertingkah manja disaat ini.

“Ayolah! Kita sudah terlanjur terlibat. Kita tidak punya pilihan selain terus maju,” kata Francis memberi dorongan dan sedikit semangat. Tapi mau bagaimanapun mental mereka semua sudah terlanjur jatuh karena terus membayangkan yang tidak-tidak dan berpikir negatif.

“Kalau kita bisa lolos dari semua ini, aku akan move-on,” kata Will polos.

“Eaaaaaaaaa!!” Will berhasil memecah suasana tegang menjadi lebih relaks. Kesepuluh Wolf Boys lain berteriak meledek Will yang punya niat untuk move-on. Tawa kembali terdengar meski perang besar telah menunggu mereka.

“Kami pegang janjimu, Will.. hahahah.”

“Hey!” kata Kevin. “Aku punya rencana. Mau dengar?”

 

****

Setiap langkah Minho seperti membawa petaka besar semakin dia mendekati gedung sekolah yang sudah berdiri selama puluhan tahun itu. Kegelapan seolah ikut mengiringinya membawa bencan besar. Dan dengan diiringi sekitar 30 sampai 40 vampire yang jumlahnya ikut bertambah seiring dengan bertambahnya kekuatan Minho yang mengerikan.

Sesuatu yang aneh bagi Minho membuat pria itu menghentikan langkahnya di depan pagar setinggi 3 meter, saat dia merasa kalau sekolah ini terlalu sepi bahkan untuk malam menjelang subuh seperti ini. Tidak ada penjaga sekolah ataupun petugas sekolah yang selalu berjaga tiap malam. Terlalu sepi.

Minho menyipitkan matanya memandang pagar sekolah itu yang bahkan tidak dikunci atau mungkin malah sengaja tidak digembok. Hal itu semakin menimbulkan kecurigaan dan bahkan dia berpikir bahwa musuh-musuhnya berusaha menjebaknya atau semacamnya.

Tidak mau mengambil resiko, Minho menyuruh sebagian pasukannya masuk ke dalam sekolah itu untuk memberikan teror pertama sekaligus mengecek keadaan. Jika benar sekolah ini sudah diberi jebakan, setidaknya pasukannya dulu yang akan memakan jebakan itu mentah-mentah.

“Cek semua ruang di sekolah ini. Serang siapapun yang bisa ditemukan. Jika bertemu dengan 12 bocah serigala itu, bawakan mereka padaku!”

Sesuai dengan perintah, 10 orang dari pasukannya masuk dan mulai memeriksa ke setiap tempat di sekolah itu.

Kedua mata keemasan Minho menangkap sebuah bayangan yang berdiri jauh didepannya. Sosok pria tua bertubuh gemuk, berdiri tenang dengan kedua tanga dibalik tubuhnya. Kepala sekolah itu sendirian tanpa ada seorangpun di dekatnya.

Bibir Minho tertarik membentuk senyuman sinis kepada Pak Jim. Saat kakinya mulai melangkah, dia tahu kalau orang tua itu sudah membuat rencana dengan menyembunyikan keduabelas anak serigala darinya. Dan melihat kondisi sekolah yang memang sudah sangat sepi, Jim pasti sudah memulangkan semua murid dan seluruh warga sekolah sebelum hari ini datang.

Hingga saatnya jarak antara mereka—Minho dan Pak Jim—hanya sejauh berberapa meter saja. Mereka berdua saling melempar tatapan dingin satu sama lain dan hanya ada mereka berdua—pasukan Minho tidak mengiringi.

“Kau cukup berani, Penyihir,” ujar Minho.

“I never afraid of you, Demon!” ucap Pak Jim dingin.

Minho terkekeh pelan. “You should have to.”

Tatapan tajam dilontarkan Pak Jim seraya memberikan serangan pertamanya. Sebuah sihir andalannya yangv mengeluarkan bola api yang besar—hal yang paling ditakuti oleh vampire. Namun bola api seketika lenyap saat jaraknya dan Minho hanya tinggal 1 meter. Hal itu membuat Pak Jim terkejut.

Tanpa ingin berbasa-basi, Minho membalas serangan itu dengan sihirnya sendiri. Dia melemparkan sihir gelap langsung ke arah Pak Jim dan mengenai lengan kiri pria tua itu. Langsung saja—seperti terkena kutukan—tangan kiri Pak Jim seketika mati rasa, menghitam, dan mengering seperti mayat yang sudah membusuk. Pak Jim tidak bisa merasakan tangan kirinya lagi karena tangan kirinya sudah mati.

“Sihir bisa dipelajari dengan mudah, bahkan untuk makhluk sepertiku,” ujar Minho, menatap musuh yang ada dihadapannya sedang merasa kesakitan dan mulai melemah. “Cepat atau lambat, sihir itu akan menggerogoti tubuh tuamu. Pada akhirnya bukan hanya tangan kirimu saja yang akan mati.”

Rasa sakit mulai Pak Jim rasakan sejak tangan kirinya mulai mati rasa. Kakinya menjadi lemas akibat efek sihir yang sekarang sedang menggerogoti tubuhnya. Dia seakan tidak punya kemampuan lagi untuk membalas serangan Minho.

Disaat yang sama, bulan mulai terlihat lagi. Kegelapan yang semula menyelimutinya, perlahan lenyap seiring bersinar cahayanya yang terang. Gerhana bulan sudah berakhir hanya dalam kurang dari 2 jam dan Pak Jim berhasil mengulur waktu meski yang ia lakukan tidak banyak. Setidaknya Minho tidak bisa bertemu dengan para Wolf Boys saat gerhana bulan.

“Ah.. Bulanya sudah kembali. Kau benar-benar membuang-buang kesempatanku, Penyihir,” kata Minho melihat bulan yang bersinar terang dilangit malam. “Sudah sepantasnya kau pensiun dari hidup. Lama-lama bertahan hanya akan menyusahkan.”

Minho memberi isyarat pada Sulli untuk menyiapkan rencana cadangan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Tak lama setelahnya—bersama dengan 2 vampire lain—Sulli lenyap, pergi ke suatu tempat yang dimaksudkan Minho.

Kini Minho sadar kalau Pak Jim sengaja mengulur waktunya supaya para Wolf Boys bisa terhindar dari perang disaat gerhana bulan dengan menyembunyikan mereka disuatu tempat sampai gerhana bulan selesai.

“So..” kata Minho. “Yang harus ku lakukan sekarang hanya menunggu sampai murid-muridmu datang. Iya, kan?”

 

To be continue

 

****

Annyeong! Annyeong! Annyeong! Annyeong! Jinnie pacarnya Luhan kembali ^o^)

Maaf ya baru bisa post sekarang :(( Abis dari kemarin Jinnie super duper sibuuuuuuk X( Order alias request poster yang Jinnie terima banyaaaak sekali T^T Trus minggu kemarin lagi pekan ulangan T^T Trus Jinnie juga lagi sibuk latihan basket, musik dan lain-lain. Trus ya, Jinnie lagi jadi panitia 2 acara sekolah sekaligus. Jadi Jinnie lagi super sibuk T^T FF Jinnie yang RCD (Ravens the Chinese Danger) chapter 3 aja belum Jinnie buat sama sekali T^T #curcol Tapi semoga chapter 14 ini bisa menjadi tanda maaf Jinnie buat readers tercintaaaah❤

Woohoo!! Kalau ini udah chapter 14 berarti…. CHAPTER SELANJUTNYA ADALAH FINAL CHAPTER >< Who is excited? ME!!!!!

Perang! Perang! Perang! Siapa yang suka perang? *loh ‘-‘) Pokoknya chapter 15 nanti bakal FULL OF WAR *jeeng jeeng* Jadi siap-siap untuk menyaksikan PERANG TERBESAR SEPANJANG SEJARAH (?) #gakjelas #abaikan

Sesuai janji Jinnie di chapter lalu, Jinnie bakal ngepost Epilog setelah chapter 15 <3<3 Jadi epilognya itu isinya bakal kayak cerita singkat after life nya para Wolf Boys ^^ Entar mereka jadi apa, trus mereka nikah sama siapa. Pokoknya bakal menarik deh ^0^)

Seperti biasa, kalau kalian punya kritik, saran, atau ide, bisa kasih tau Jinnie aja :)) Jinnie terima semua^^ Supaya Jinnie bisa lebih baik di FF yang lain^^

Terima kasih buat readers yang selalu setia sama FF Jinnie *terharu*, terlebih YANG SUKA COMMENT^^ Tanpa readers, Jinnie hampa #lebay <3<3 ILY❤ Saranghae❤ Wo ai ni <3<3 JINNIE SAYANG READERS!!! <3<3

Bye~~~ See you at the LAST chapter^^

10 thoughts on “Beauty & Beast [Chapter 14]

  1. Maaf , baru bisa memberikan komentar di part 14 ini #bow
    Sebenarnya sih aku sering ngulang-ngulangin ff kamu yang ini , soalnya seru sekalihh ! (/’o’)/
    Keep writing , Thor (Author maksudnya) ~!!!

  2. noh kan noh kan, ternyata gadis pirang itu fleur…:3 sedih ya, ternyata dia punya penyesalan yang jauh lebih besar drpd leo:3
    duhduh aku mau baca rcd juga nih, baru baca part 1 doang kkk. tapi abisin yang ini dulu deh

  3. aku juga excited excited… hohohoho,,
    ditunggu ya chapter 15 nya, ini chapter 14 nya brasa pndek banget mungkin krna trlalu keren? hohohohoo maaf bru bca skrng, bru tau new postnya

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s