[FREELANCE] Illa.. Illa.. (Chapter 4)

Illa Illa

Title : Illa.. Illa..

Author | Artwork | Twitter : @auliaylsnov

Genre : Alternatif Universal, Angst, Sad

Length : Chapter || Status : Chapter 4 || Rating : PG-17

Main Casts : Kim Hye Sun (OC) | Kevin Wu (Kris EXO-M) |

Zhang Yi Xing (EXO-M)

Support Casts : Kim Jongin (Kai EXO-K) | Jung Soojung (Krystal f(x))
| Kim Junmyeon (Suho EXO-K) | Oh Sehun (Sehun EXO-K) | etc

Ost :

Juniel – Illa Illa | Ailee – Evening Sky

Disclaimer :

Well, FF ini terinspirasi dari MV Juniel – Illa Illa, tapi ingat! Hanya 30% dari MV, karena secara keseluruhan sampai FF ini selesai, hasil pemikiran aku selama begadang tiap malam -_- #poorME jadi tidak termasuk SONGFIC. Hehehe^^

 

Warning :

The story pure mine. Dont be plagiator! Tolong hargai karya author >,<

TOLONG PERHATIKAN WAKTU yang tertera pada FF part ini karena berhubungan dengan part2 selanjutnya

Ok, enjoy it readers🙂

 

Untuk yang belum baca :

Chapter 1

Chapter 2

Chapter 3

STORY’s BEGIN…

Jongin dan Sehun pun masuk ke dalam kamar inap lagi dan duduk di sofa panjang disamping ranjang Hye Sun, setelah Sehun merasa Jongin sudah-tidak-brutal-atau-mungkin-frontal-lebih-halusnya seperti yang ia lakukan tadi didepan Noona dan Hyungnya. Sehun juga menjadi cemas sendiri, bagaimana jika Jongin mengetahui kalau Kevin Hyung sudah berangkat ke Kanada sehari setelah kecelakaan itu terjadi. Pasti Jongin akan melakukan hal yang lebih dari tadi dan hal ini akan sangat melukai perasaan mereka bertiga (Jongin-Junmyeon-Hye Sun) terutama Hye Sun Noona yang merupakan kekasih Kevin Hyung. Sehun juga bingung harus memulai penjelasan dari bagian mana jika ia dimintai penjelasan mengenai hal ini. Karena secara tidak langsung Sehun juga terlibat tentang masalah ini. Karena ia adalah sepupu Kevin Hyung dan ia tahu pasti detail masalahnya. Selain itu juga Kevin Hyung belum memberitahu kepada Hye Sun Noona mengenai rencana pertunangan Kevin Hyung dan Soojung yang sudah disusun oleh Wu ahjusshi dan ayah Soojung. Terlebih lagi, Jongin adalah kekasih Soojung. Bukan, Jongin bukan benar-benar kekasih Soojung. Jongin hanya tempat pelarian Soojung atau tempat Soojung untuk melakukan strategi atau hal-hal yang dapat mempermudah dirinya menjauhkan Kevin Hyung dan Hye Sun Noona. Hanya saja, Jongin tidak tahu sebenarnya. Hanya ia, Soojung dan Tuhan yang mengetahuinya.

Sehun hanya memijit pelan pelipisnya. Ia merasa pusing. Sehun selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa ia harus terlibat ke dalam masalah yang dipikir-pikir bukan urusannya sama sekali dan tidak ada sangkut pautnya dengan pribadinya sendiri namun ia merasa bertanggung jawab. Karena Kevin Hyung adalah sepupunya dan Jongin adalah sahabat kecilnya. Ia tidak mau keluarga Kim salah paham atas kejadian ini karena sama saja memperburuk pandangan mereka tentang Kevin Hyung dan tidak mau Jongin sakit hati akibat ulah Soojung yang hanya mempermainkannya semata-mata untuk memanfaatkan Jongin secara tidak langsung. Dan jika Jongin tahu, ia akan semakin membenci Kevin Hyung dan mungkin ia akan melakukan tindakan hal-yang-diluar-dugaan-dan-tanpa-berfikir-panjang (kau tahu itu) mengingat emosi Jongin yang kadang susah dikendalikan kalau ia sedang marah. Sehun menggeleng-geleng pelan. Tidak membenarkan fikiran negatifnya yang kini tengah memenuhi semua ruang dalam otaknya.

Ruangan ini menjadi hening karena tidak ada satupun yang berbicara. Semuanya larut dalam fikirannya masing-masing. Mungkin saking heningnya, tetes-tetes air dalam infus dapat terdengar samar-samar. Kim Junmyeon, sebagai yang tertua di ruangan ini merasa ini adalah hal yang salah dan seharusnya ia mencairkan suasana daripada semuanya larut dalam keheningan yang sangat tidak enak seperti ini.

“Hye Sun-ah. Bagaimana jika aku mengupas buah jeruk yang dibawa Sehun? Kasihan, ia sudah repot-repot membawa buah-buahan tapi pada akhirnya hanya dipajang di nakas ini. Aku juga mendengar buah-buah ini sudah berteriak-teriak untuk segera dimakan olehmu…” ujar Junmyeon sembari memamerkan deretan gigi-gigi putihnya. Membuat Hye Sun terkekeh pelan.

Oppa.. kau ini ada-ada saja…”

“Selalu. Kau ini punya selera humor yang payah, Hyung!” timpal Jongin. Membuat Junmyeon mendengus kesal.

Mwo? Kau bilang apa barusan?” Junmyeon berpura-pura marah dan melempar buah jeruk yang ada didepannya kearah Jongin. Jongin langsung melindungi dirinya dengan kedua tangannya meskipun dirasa percuma. Ia menunggu lemparan buah itu mendarat ditubuhnya namun ia tidak merasakannya sama sekali.

“Terima kasih Hyung, ternyata buahnya segar! Ternyata aku tidak salah beli.” Ujar Sehun yang tengah mengunyah buah jeruk yang sudah dikupasnya. Jongin membuka perlindungan tangannya dan mendengus kesal. Membuat Hye Sun dan Junmyeon tertawa melihat tingkah laku adik laki-lakinya tersebut.

“Nah, kalau begini lebih enak, bukan? Daripada kita berempat beradu dalam diam seperti tadi. Sangat membosankan!” ujar Junmyeon. Sehun mengamini ucapan Junmyeon dalam hatinya.

“Jongin-ah~” panggil Hye Sun pelan. Junmyeon dan Sehun sepertinya sudah membaca situasi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ne, Noona? Waeyo?” sepertinya Jongin juga sudah bisa menebak kemana ‘arah’ pembicaraan yang akan dituju oleh Noonanya.

Noona, kau tahu? Jongin sudah punya yeojachingu di kampusnya. Sepertinya ia akan mengenalkannya padamu tadi.” Sehun segera angkat bicara sebelum Hye Sun menjawab pertanyaan Jongin. Jongin kaget dengan apa yang baru dikatakan oleh Sehun. Ia hanya melongo, tidak percaya.

Ya! Oh Sehun! Apa yang kau katakan tadi barusan?” Jongin geram. Sehun hanya tersenyum simpul.

“Oh ya? Siapa dia? Aku baru mengetahuinya sekarang. Ah~ Kim Jongin sekarang sudah tumbuh besar! Kau sudah dewasa sekarang…” Junmyeon tersenyum mengejek.

Ya! Hyung! Jangan mengejekku seperti itu…” Jongin mendengus kesal.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa gadis yang sial mendapatkanmu itu?” Junmyeon semakin mengejek Jongin. Membuatnya melempar bantal kecil dari sofa tersebut kearah Hyungnya.

“Kau ini tega sekali Hyung…” Jongin pura-pura merajuk. Junmyeon dan Hye Sun tertawa dibuatnya.

‘Sebenarnya Jongin-lah yang sial karena mendapatkan Soojung, Hyung!’ batin Sehun dalam hati. Ia hanya tersenyum hambar.

“Namanya Jung Soojung. Dia satu departemen denganku di school of drama. Aku tidak tahu mengapa gadis itu bisa jatuh hati pada lelaki macam Jongin ini, Hyung…” jawaban Sehun membuat Jongin berdecak kesal. Junmyeon dan Hye Sun tertawa semakin keras mendengarnya.

“Oh, jadi kau sekarang ingin mengkhianatiku, begitu Oh Sehun?” tanya Jongin dengan nada marah yang dibuat-buat.

“Bagaimana orangnya Jung Soojung itu, Sehun-ah? Sampai ia bisa membuat Jongin jatuh cin–” kata-kata Junmyeon langsung dipotong oleh Hye Sun.

“Sudah-sudah… kalian jangan mengalihkan pembicaraan lagi. Jongin, Junmyeon Oppa, apa benar Kevin tidak pernah menjaga bahkan menjengukku sekalipun? Tolong jawab…” ujar Hye Sun lirih. Jongin dan Junmyeon hanya saling bertukar pandang satu sama lain. seolah-olah mereka dapat berbicara dengan tatapan tersebut.

“Kenapa diam saja? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Hye Sun, namun keduanya tetap bungkam.

“Sehun-ah… mereka tidak mau menjawab pertanyaanku. Kau sepupu Kevin, kan? Setidaknya kau pasti tahu kemana Hyungmu itu? Atau apa kesibukannya sekarang? Ia tidak mungkin tidak tahu ‘kan kalau aku mengalami kecelakaan kemarin?” Sehun-ah… jawab pertanyaanku…” pinta Hye Sun dengan nada memohon. Namun sama saja dengan keduanya, Sehun ikut bungkam.

“Kenapa kalian jadi diam seperti ini? Oppa! Jongin! Sehun! Kalian kenapa?” tanya Hye Sun sambil menggoyang lengan kiri Junmyeon dengan keras.

“A-aa-ani.. Hye Sun-ah… hanya saja…” kata-kata Junmyeon menggantung.

“HANYA SAJA APA OPPA? OPPA! Jangan membuatku cemas! Katakan se—Aaaarrgggttss…”  Tiba-tiba Hye Sun merintih kesakitan.

“Hye Sun!”

Noona!”

Noona!”

Teriak Junmyeon, Jongin dan Sehun secara bersamaan. Ketiganya langsung cemas melihat Hye Sun memegang kepalanya yang dibalut dengan perban yang terbal tersebut.

“Opppaaaa~ sakiiiitt….” rintih Hye Sun. Junmyon yang panik langsung memanggil dokter dengan menggunakan interkom yang ada di sebelah ranjang Hye Sun. Sementara Jongin memegang tangan Hye Sun dan menyuruhnya untuk bertahan.

Beberapa menit kemudian dokter datang dengan dua orang suster yang membawa peralatan dan obat-obatan.

“Kalian tunggu di luar, saya akan memeriksa pasien terlebih dahulu…” ujar dokter. Dengan perasaan berat hati mereka bertiga keluar dari kamar inap Hye Sun.

Di luar ruangan tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Mereka kembali berkutat dengan fikirannya masing-masing dan menunggu dokter selesai memeriksa Hye Sun. Mereka bertiga tanpa dikomandoi saling berdoa dalam hati supaya gadis tersebut tidak kenapa-kenapa.

Sepuluh menit berlalu, namun dokter dan dua suster yang bersamanya tidak kunjung keluar dari kamar inap. Membuat Junmyeon dan Jongin mulai gelisah.

“Ceklek” pintu terbuka dan sang dokter keluar dengan melepaskan kacamata yang ada terpasang di kedua daun telinganya.

“Bagaimana dengan uri Hye Sun, dokter? Dia baik-baik saja, ‘kan?” tanya Junmyeon dengan cemas. Dokter memegang pundak kiri pria tersebut.

“Kita harus segera melakukan screening setelah ia sadar nanti.”

“Nanti? Maksudnya? Apa sekarang Noona sedang tidak sadarkan diri lagi?” tanya Jongin.

“Setelah Kami mengecek keadannya, aku segera menyuntiknya dengan obat penenang agar ia bisa beristirahat. Sepertinya tadi kalian tidak sengaja membuat otaknya bekerja ‘keras’ sehingga sakit kepalanya kambuh kembali, ne?” tanya dokter tersebut dan ketiganya mengangguk pelan.

Sang dokter berdecak kesal. “Kalian ini, baru sekitar dua jam yang lalu aku mengingatkan kalian untuk tidak melakukan apa yang aku larang. Sekarang kalian melakukannya.” Dokter pun menggeleng pelan.

“Mianhamnida, dokter. Ini semua salahku…” Junmyeon membungkukkan badannya.

“Sudahlah… sekarang kalian lebih baik pulang saja. Biar suster yang menjaganya disini.” Akhirnya dokter tersebut memberikan sarannya.

“Ani.. aku kakaknya. Aku harus bertanggung jawab atas adik perempuanku, dokter. Apalagi dia perempuan satu-satunya di keluarga kami setelah kedua orang tuaku meninggal.” Tolak Junmyeon.

“Kalau begitu, satu orang saja yang menjaganya disini. Selebihnya pulang saja.” Mendengar hal itu Jongin langsung gusar. Ia ingin protes, namun Sehun mencegahnya.

“Sudah turuti saja apa saran dokter. Lebih baik kita pulang, ne? Atau kau bisa memanfaatkan waktumu sekarang untuk bertemu dengan Krystal.” Saran Sehun sebenarnya ia tidak mau mengatakan hal ini, terlalu malas.

“Ok, ok, ok… mari kita pulang, Sehun-ah!” akhirnya Jongin menyerah dan pergi pulang bersama Sehun tanpa berpamitan lagi dengan kakak laki-lakinya, Junmyeon. Sedangkan pria itu hanya menggeleng pelan melihat tingkah laku Jongin.

=====xXx=====

 

Saturday, June 23rd 2012

Sun Medical Centre

13:30 KST

 

Keesokan harinya Hye Sun melakukan screening seperti yang disarankan oleh dokter. Hari ini Junmyeon, Jongin, dan Yi Xing tidak bisa menunggu Hye Sun karena mereka mereka harus bekerja dan Jongin harus kuliah karena ada ujian. Perasaan Hye Sun sangat cemas karena ia mempunyai firasat buruk tentang kesehatannya saat ini. dokter meyakinkannya agar tidak gugup saat melakukan screening. Hye Sun mencoba untuk rileks namun ia gagal melakukannya.

-di waktu yang bersamaan-

(Perbedaan waktu antara Seoul dan Vancouver adalah 17 jam, dengan cacatan Seoul setengah hari lebih cepat dibandingkan Vancouver)

Friday, June 22nd 2012

Vancouver, Canada

08:30 PM

 

“Kevin, bagaimana kabar hubunganmu dengan Hye Sun? Kapan kalian akan bertunangan?” tanya ibu Kevin membuat Kevin hampir tersedak saat meminum susunya.

“Eeenggh.. itu.. itu..” Kevin bingung harus menjelaskan bagaimana tentang hubungannya dengan Hye Sun. Yang pasti sangat buruk.

“Kenapa? Ada masalah?” tanya ibu Kevin tanpa mengalihkan fokusnya ke majalah yang sedang dibacanya.

“Tidak ada. Hubungan kami lancar-lancar saja. Hanya kami sedang sama-sama sibuk jadi belum sempat untuk memikirkan hal itu, mama.” Kevin berbohong.

“Oh ya? Lalu bagaimana respon Hye Sun ketika kau memutuskan akan pindah ke Vancouver untuk sementara waktu? Ia tidak berfikir bahwa aku ingin memisahkan kalian berdua, ‘kan? Oh ya apa ia sudah tahu rencana dad untuk menjodohkanmu dengan Soojung?” pertanyaan Ibu Kevin yang terlalu banyak itu membuat Kevin memijat pelipisnya pelan. Tentu saja ia pusing akibat ibunya itu.

“Mama, Hye Sun bukan wanita seperti itu… ia menerima keputusanku untuk pindah ke Vancouver dan rela untuk menjalani Long Distance Relationship. Tapi untuk masalah perjodohan…” Jawaban Kevin menggantung. Ibunya menoleh kearahnya, menunggu jawaban versi lengkap.

“Aku belum memberitahunya. Lagipula itu tidak akan pernah terjadi. Mama, kau merestui hubunganku dengan Hye Sun, kan?” tanya Kevin. Ibunya nampak berfikir sejenak.

“Hm… jika diperhatikan dari keseluruhan, kurasa ia tampak lebih baik dibandingkan Soojung.” Membuat senyum Kevin mengembang, namun seketika itu juga senyumnya luntur.

“Mengapa wajahmu tiba-tiba berubah masam seperti itu?” tanya ibunya.

“Eumh.. no problem, mama.” Kevin ingat masalah kemarin lagi.

“Sebaiknya kau istirahat, sepertinya kau sangat lelah, Kevin.” Saran Ibuny dan Kevin mengiyakan.

“Aku ke kamar dulu, mama. Good night!” Kevin bangun dari duduknya dan mencium puncak kepala ibunya.

Good night too, dear.” Ibunya membalas ciuman Kevin dengan mencium pipi anaknya tersebut.

~~~~~

            ‘Apa aku salah? Sudah beberapa hari ini aku tidak menghubunginya. Begitu juga dia. Apa sebaiknya aku menghubungi Sehun saja? Mungkin ia tahu bagaimana kabar Hye Sun. Tapi di Seoul jam berapa sekarang?’ batinnya lalu merogoh kantong celananya dan mengambil i-phone miliknya.

‘Jam dua siang. Hm.. sebaiknya aku menghubungi Sehun saja…’ dengan cepat ia menyentuh layar dial di i-phonenya tersebut.

~~~~~

-di waktu yang bersamaan-

(Perbedaan waktu antara Seoul dan Vancouver adalah 17 jam, dengan cacatan Seoul setengah hari lebih cepat dibandingkan Vancouver)

Saturday, June 23rd 2012

Korea National University of Arts’s Cafetaria

14:00 KST

“Akhirnya ujian terakhir selesai juga!” Jongin menarik nafas lega lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang berada di cafetaria.

“Rasanya kepalaku hampir pecah tadi.” Sehun menambahkan.

“Kau tidak belajar?” tanya Jongin. Sehun menggeleng.

“Aku tidak belajar semalam. Mata kuliah sejarah drama sangat membosankan!” keluhnya.

“Ck!” decak Jongin kesal. “Kau mau pesan apa, Sehun?”

“Seperti biasa, Bubble tea..”

“Kau tidak lapar?”

“Aku tidak nafsu makan.”

“Baiklah…” Jongin berangkat dari duduknya dan menuju ke arah bar cafetaria untuk memesan makanan. Sementara itu, Sehun menunggu sembari memainkan smartphonenya. Tanpa ia sadari Soojung sudah duduk dengan membawa cappucino ice dan duduk di tempat yang sama Jongin.

Neo?!” bentak Sehun, ia geram.

Wae? Tidak suka? Silahkan pergi!” balas Soojung, membuat Sehun mengepalkan tangannya.

drrrrrrttt… dddrrrrtttt… EXO.. EXO..” lagu XOXO (Kisses & Hugs) – EXO mengalun pelan dari smartphone milik Sehun. Ia langsung melihat layarnya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Seketika matanya membulat sempurna. ‘Kevin Hyung?’ batinnya. Sehun pun dilemma. Melihat tingkah Sehun yang tidak wajar, Soojung menjadi penasaran. Dengan cepat ia mengambil smartphone Sehun dan terkejut saat melihat siapa yang menelepon laki-laki tersebut.

“YAK! KAU! KEMBALIKAN PONSELKU!” bentak Sehun. Namun Soojung tidak mengindahkan permintaan Sehun.

“Ani! Aku tidak akan membiarkanmu menerima panggilan ini!” Soojung langsung me-reject panggilan tersebut. Sehun mencoba mengambil smartphone­nya namun sulit. Soojung dengan cepat membongkar paksa smartphone milik Sehun dan mematahkan sim cardnya dan memasukkan smartphone tersebut ke dalam gelas cappucino ice miliknya.

“SIALAN KAU, JUNG SOOJUNG!” teriak Sehun, membuat semua pengunjung cafetaria kampus melihat kearahnya. Jongin yang baru saja membeli makanan dan minuman pesanan Sehun langsung berjalan cepat kearah mereka.

“Ada apa ini? dan kau, mengapa membentak Soojung seperti itu?!” Jongin terlihat tidak terima.

“Dia telah merebut ponselku secara paksa, mematahkan sim cardnya dan mencelupkannya ke cappucino ice miliknya! Bukankah dia perempuan sinting?” Bentak Sehun, membuat Jongin terdiam.

“Soojung, kenapa kau melakukan itu? Apa salah Sehun?” tanya Jongin, ia berusaha untuk bersikap netral meskipun susah.

Chagi, aku melakukan itu karena ada alasannya! Enak saja kau mengataiku sinting! Chagi, kau tahu? Ia hampir menerima telepon dari Kevin! orang yang telah membuat Noona-mu kecelakaan! Makanya aku berusaha mencegahnya!” ujar Soojung dan mendengar hal itu membuat Jongin mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.

“Apa benar itu Sehun?” Jongin menahan amarahnya.

Ne, Kevin Hyung meneleponku tapi aku belum mengangkatnya! Aku masih bingung! Kalaupun aku mengangkatnya, aku juga belum tentu akan memberitahukan semuanya kepada Kevin Hyung! Lagipula ini baru kali pertamanya ia meneleponku setelah ia berangkat ke Kanada!” Sehun membela dirinya. Namun ia sedikit keceplosan.

“APA?” Soojung dan Jongin kaget. Jelas saja, keduanya kaget karena baru mengetahui hal ini. Soojung, kalian tahu bukan kalau ia adalah perempuan yang akan dijodohkan dengan Kevin. Dan ia baru mengetahui hal ini, jelas ia kaget dengan kepergian Kevin yang mendadak tersebut.

Sedangkan Jongin, ia merasa kesal dengan pria tersebut. Karena Kevin adalah penyebab kecelakaan kakak perempuannya dan sekarang ia pergi begitu saja ke Kanada tanpa meminta maaf dan bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya. Dasar pria jahanam! Umpat Jongin dalam hati.

“K-kau! Kau pasti berbohong kan?! Dia pasti berbohong, chagi! Pasti ini bukan pertama kalinya Kevin meneleponnya!”

“Jongin! Itu tidak benar! Ada kesalahpahaman disini. Kevin Hyung pergi bukan karena ia melarikan diri! Dia tidak tahu kalau Hye Sun Noona kecelakaan! Itu adalah kemauan ayahnya! jangan percaya pada perempuan jalang itu!” Sehun menunjuk kearah Soojung.

SHUT UP! DAMN YOU ARE!”  bentak Jongin. Ia pun langsung pergi meninggalkan Sehun dan Soojung. Keduanya masih diam di tempatnya masing-masing. Terpaku atas ucapan Jongin tadi.

Se-cafetaria menjadi hening akibat teriakan Jongin. Kejadian ini jelas menjadi bahan tontonan oleh mahasiswa lain yang tidak tahu-menahu masalah mereka. Merasa diperhatikan, Sehun melihat kesegala penjuru. “Apa yang kalian lihat, hah!” bentaknya lalu ikut pergi dari cafetaria tersebut. Sebelum itu ia memandang Soojung dengan tatapan benci sekaligus jijik. ‘Sialan kau, Jung Soojung!’ batin Sehun.

~~~~~~~

-di waktu yang bersamaan-

 

“Hah? Dimatikan?” Kevin melihat layar i-phonenya. Terlihat sambungan telepon terputus. Ia mencoba menelepon Sehun kembali, namun yang menjawab teleponnya seorang operator.

Wae? Apa sebaiknya aku melepon Oh Ahjusshi?” Kevin pun langsung mencari kontak Oh ahjusshi (Ayah dari Sehun dan merupakan kaki tangan Ayah Kevin) dan meneleponnya.

“Hallo? Kevin? Ada apa?” teleponnya tersambung.

Ahjusshi, ada yang ingin aku tanyakan tenta—“ sambungan telepon terputus.

Ya! Ada apalagi ini?” bentak Kevin pada ponselnya sendiri. Ternyata baterai ponsel Kevin habis.

DAMN!” umpat Kevin dan hampir saja membanting ponselnya.

“Huh! Kenapa menghubungi kalian berdua sangat sulit sekali?” keluhnya. Ia pun masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur king size yang sangat empuk tersebut. Ia memijit-mijit pelipisnya pelan.

“Sebaiknya memang aku beristirahat saja.” Ia pun membetulkan posisinya dan tidur. Tidak membutuhkan waktu yang lama karena Kevin adalah orang yang cepat sekali tertidur.

~~~~~~~~

Ujian telah berakhir dan memasuki liburan musim panas. Yang dilakukan Soojung hanya bermalas-malasan di kursi malasnya sembari menyedot green tea icenya. Ia masih mengingat dengan baik kejadian di cafetaria tadi. Ia sangat senang dan bangga kepada dirinya sendiri karena dapat menggagalkan panggilan telepon Kevin pada Sehun. Namun ia kesal mengetahui Kevin pergi begitu saja ke Vancouver tanpa ia ketahui.

“Bodoh! Kenapa kau harus kesal, Soojung? Bukankah itu akan membuat Kevin dan Hye Sun semakin jauh? Kau tidak perlu susah-susah lagi memisahkan mereka berdua! Hanya tinggal menambahkan ‘sedikit’ saja permainan. Maka semuanya akan selesai dan Kevin akan menjadi milikmu! Hahaha…!” Soojung tertawa licik lalu meraih i-phone miliknya yang ditaruh di nakas meja.

“Bibi Kim, tolong pesankan tiket keberangkatan ke Vancouver malam ini juga. Aku ingin liburan disana bersama calon tunanganku, Kevin Wu.” Ujar Soojung tengah berbicara dengan seseorang bermarga Kim di telepon.

“………..”

“Ne. Tenang saja. Appa dan Eomma pasti mengijinkan.”

“…………”

Thankyou!” Soojung segera memutuskan panggilan telepon tersebut dan beranjak dari kursi malasnya.

“Sampai jumpa di Vancouver, Kevin sayang…” ujarnya lalu tersenyum dengan sumringah.

~~~~~~~~

Saturday, June 23rd 2012

Sun Medical Centre

20:30 KST

“Dokter, bagaimana hasil screening yang sudah dilakukan?” tanya Junmyeon penasaran. Namun dokter hanya diam dan menatap Junmyeon dengan putus asa.

“Ahjusshi, ada masalah dengan hasil screeningnya?” Yixing megulangi pertanyaan Junmyeon.

“Sebaiknya kita berbicara di ruanganku saja, kajja…” Dokter merangkul Junmyeon dan Yixing bersamaan. Perasaan Junmyeon tidak enak namun ia mencoba untuk positive thinking atas hasil screening yang telah dilakukan oleh Hye Sun.

-di ruangan dokter-

            “Silahkan duduk..” dokter menyuruh keduanya untuk duduk.

Ne, gamsahamnida dokter…” ujar Junmyeon dan Yixing bersamaan.

“Dokter baga—“ belum selesai Junmyeon bertanya, dokter sudah menjawabnya duluan.

“Ia mengalami benturan yang mengakibatkan trauma di kepalanya, dan akibatnya adalah perlahan-lahan ia akan mengalami kebutaan secara total.” Terang dokter membuat kedua pasang mata pria yang ada didepannya membulat sempurna.

“Dokter, jwesonghamnida, kau tidak bercanda, ‘kan?” Junmyeon tidak percaya. Yixing mengangguk setuju.

“Apa dokter pernah bercanda disaat menangani pasiennya?” tanya dokter itu balik. Membuat keduanya bungkam.

“Namun, masih ada kesempatan untuk sembuh. Karena benturan akibat trauma tersebut hanya merusak retina matanya. Kecuali jika benturan itu mengenai syaraf mata yang mengakibatkan syaraf tersebut putus atau terjepit di gendang telinga sehingga tidak bisa berfungsi lagi dan tidak dapat diganti. Maka Hye Sun sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk sembuh.” Terang dokter tersebut membuat Junmyeon dan Yixing bernafas lega.

“Berarti kami harus mencari pendonor retina mata, bukan begitu dokter?” tanya Junmyeon. Dokter mengangguk pelan.

Ne, dan itu sangat tidak mudah. Karena mana mungkin ada orang yang mau mendonorkan retina matanya jika ia sedang dalam keadaan sehat.” Kini Junmyeon berputus asa.

Hyung, sabarlah! Kita pasti akan menemukannya walaupun itu sulit.” Yixing menepuk bahu Junmyeon dan berusaha meyakinkan pria tersebut.

“Jangan putus asa Hyung, kita belum mencobanya, kan?” Junmyeon menoleh kearah pria yang seumuran dengan adikknya tersebut lalu tersenyum lembut.

Ne, kau benar Yixing-ah! Ini demi Hye Sun. Kita harus melakukannya demi Hye Sun.” Junmyeon merasa semangat didalam dirinya dicharger oleh kata-kata Yixing.

“Aku juga akan membantu jika ada informasi yang ingin mendonorkan retina matanya untuk Hye Sun.” Dokter menambahkan.

Gamsahamnida, dokter. Aku mohon dengan sangat bantuannya.” Junmyeon memegang tangan dokter tersebut dengan erat dan penuh harap.

Ne, tentu saja. Karena Hye Sun adalah pasien dan tanggung jawabku.”

“Sekarang kami boleh menjenguk Hye Sun, dok?”

“Boleh. Namun hal ini jangan diberitahukan dahulu kepada Hye Sun karena akan mempengaruhi kesehatannya.”

“Baiklah. Kami akan menuruti kata-kata dokter. Kalau begitu kami keluar dulu. Sekali lagi, gamsahamnida dokter.” Junmyeon membungkukkan badannya diikuti dengan Yixing sebagai tanda hormat.

Ne, cheonmaneyo.”

Junmyeon dan Yixing pun keluar dari ruangan dokter dan berjalan bersama di sepanjang lorong rumah sakit.

Hyung, bagaimana jika perlahan-lahan ia menyadari kalau ia mengalami kebutaan dan kita belum memberitahunya?” tanya Yixing, membuat Junmeyon menghentikan langkahnya.

“Kita harus menemukan pendonor tersebut sebelum perlahan-lahan ia kehilangan penglihatannya.” Junmyeon melanjutkan kembali langkahnya.

“Bagaimana dengan Jongin, Hyung? Apa kita juga merahasiakannya?” Junmyeon membalikkan badannya kearah Yixing.

“Menurutmu bagaimana?”

“Aku juga bingung. Kalau kita memberitahunya aku takut ia akan memberitahukan hal ini pada Hye Sun. Mengingat ia sepertinya sangat membenci pria bernama Kevin tersebut. Ia pasti akan membuat Kevin sebagai penyebab kebutaan yang dialami oleh Hye Sun. Jongin, emosinya masih cenderung labil, Hyung. Tapi jika ia bisa memegang janjinya untuk tidak memberitahu hal ini pada Hye Sun, maka ia juga dapat membantu kita mencari pendonor untuk Hye Sun.” Terang Yixing.

“Kalau begitu, aku ambil option kedua.” Ujar Junmyeon mantap.

Jinchayo Hyung?” Yixing tidak percaya.

“Aku mengenal baik adikku tersebut. Meski, eumh.. yeah.. ia labil.”

“Baiklah kalau itu maumu Hyung. Semoga Jongin tidak meledak saat mendengar berita ini.” harap Yixing.

~~~~~~~~~~

            “Euuunghh…” Hye Sun menggeliat kecil diatas ranjang miliknya dan mencoba bangun dari tidurnya dan bersandar di badan ranjang.

“Auughhssttt… appoo!!” pekiknya, memegangi kepalanya yang sakit secara tiba-tiba.

Ne, Hyung. Aku berjanji, ini demi Noona.” Ujar Jongin pelan disudut pintu masuk.

“Jongin-ah! Junmyeon Oppa! Appooo...” rintih Hye Sun. Suaranya dapat didenagr oleh Jongin.

Noonaa…!!” teriak Jongin lalu menghampiri Hye Sun, begitu juga Junmyeon dan Yixing.

“Hye Sun, gwaenchana?” Junmyeon cemas.

Oppa… kenapa mataku kabur? Oppa.. kenapa gelap?” pertanyaan Hye Sun membuat ketiganya langsung terdiam dan memandang satu sama lain.

“Mungkin efek karena kepalamu sakit. Sebaiknya kau tidur saja, Hye Sun-ah..” jawab Junmyeon.

Ne, Noona.. kau baru saja bangun tidur dan langsung bergerak. Sekarang tidurlah…”

“Apa kepalamu masih sakit?” tanya Yixing, Hye Sun hanya menggeleng pelan.

“Sekarang sudah tidak lagi. Sakitnya datang tiba-tiba. Tapi kenapa mataku masih tetap kabur?” tanya Hye Sun.

“Tidurlah Noona… itu efek karena sakit kepalamu.. kajja.. aku akan menemanimu disini bersama Junmyeon Hyung dan Yixing Hyung.” Bujuk     Jongin.

“Ne, gomawo nae dongsaeng…” Hye Sun tersenyum kecil.

Jongin pun membantu Hye Sun membetulkan posisi tidurnya dan memasangkan selimut Hye Sun sampai dada. Ia membelai lembut puncak kepala kakak perempuannya tersebut hingga Hye Sun memejamkan kedua matanya.

Jaljayo Noona… saranghae..” Jongin mengecup kening Hye Sun singkat. Membuat Yixing merasa sedikit sakit melihat adegan tersebut.

‘Aiishh.. apa yang kau fikirkan Yixing babo!’ batinnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Sepertinya Noona sudah tertidur. Oh Hyung! Ada yang ingin aku beritahu padamu, ini tentang pria itu.”

“Pria? Maksudmu dia?” Junmyeon menekankan kata ‘dia’.

“Ne, sebaiknya disana saja. Supaya tidak kedengaran oleh Noona.” Ujar Jongin, nyatanya Hye Sun mendengarnya dengan sangat baik. Ia belum tidur sama sekali.

Kajja…” Junmyeon mengajak Jongin dan Yixing kearah pintu keluar.

“Ada ada sebenarnya, Jongin-ah?”

Hyung, Kevin sialan itu pergi ke Vancouver.”

“MWO?” pekik Junmyeon dan langsung menutup mulutnya.

“Jangan teriak! Nanti Noona bangun!” Jongin memukul punggung Hyungnya pelan.

“Ne, mianhae. Kau tahu darimana? Sehun?” tebak Junmyeon.

“Ne, kalau Sehun tidak keceplosan, aku bahkan kita semua tidak ada yang tahu bahwa ia sudah di Vancouver.” Terang Jongin.

“Keceplosan bagaimana?” tanya Yixing.

“Tadi Kevin menelepon Sehun, tapi Soojung berusaha menggagalkannya.” Jawab Jongin.

“Soojung? Kekasihmu?” tanya Junmyeon, Jongin mengangguk.

“Wae?”

“Aku tidak mau Kevin berhubungan lagi dengan Noona. Jelas-jelas kecelakaan ini akibat Kevin dan lihat sekarang? Ia malah pergi ke Vancouver tanpa berpamitan, jangankan itu sekalipun ia tidak pernah menjenguk atau merawat Noona. Kekasih macam apa itu?”

“Apa mungkin Kevin tidak tahu tentang kecelakaan ini? tapi mengapa ia tiba-tiba pergi ke Vancouver?” Yixing berpendapat.

“Tentu saja untuk melarikan diri! Atau karena ia tidak mau bertemu Hye Sun Noona lagi?” ujar Jongin.

“Sudahlah… lebih baik kita fokus pada kesembuhan Hye Sun karena ia lebih penting daripada mengurus pria menyebalkan itu!” ujar Junmyeon. Semuanya mengangguk.

“Sebaiknya kita mulai pencariannya sekarang, Hyung.” Usul Yixing.

“Tapi ini sudah malam, lebih baik kita beristirahat saja dan menyiapkannya esok hari. Lagipula besok minggu, bukan? Jadi kita punya waktu yang lebih banyak.” Sanggah Jongin. Junmyeon menoleh kearah adik bungsunya tersebut.

Nae dongsaeng sudah dewasa sekarang! Hyung setuju, kajja!” Junmyeon merangkul kedua dongsaengnya menjauh dari ruang inap dimana Hye Sun berada dan tanpa disadari oleh mereka bertiga, Hye Sun sudah menangis terisak dalam diam.

“Apa itu benar? Wae Kevin..? sebegitukah jahatnya aku padamu hingga kau meninggalkanku ke Vancouver begitu saja?” ia mengelap airmatanya yang sudah menggenang di pelupuk mata.

~~~~~~~~

Keesokan harinya

Vancouver, Canada

Sunday, 24th June 2012

08:00 AM

Seorang pria dengan paras tampan dan atletis tengah berenang di sebuah kolam renang pribadi yang berada di rumah yang dapat dikategorikan sebagai istana tersebut. Hal yang menjadi rutinitasnya di hari libur. Tanpa disadari, seorang gadis duduk dibawah payung besar dan duduk dengan pose menggoda, ditambah lagi ia memakai Swim suit yang terlihat sexy.

Pria tersebut tidak menyadari kehadiran seorang gadis tersebut, dengan santainya ia naik ke tangga kolam renang untuk mengeringkan diri karena hampir satu jam ia berenang. Dalam posisi membelakangi ia berbalik kearah dan terkejut melihat sosok gadis yang tidak ia inginkan berada disini.

“Soojung? Kenapa kau berada disini?” ternyata pria itu adalah Kevin.

Wae? Tidak boleh?” Soojung berjalan kearah Kevin dengan senyum seringainya. Kevin mendengus kesal.

“Siapa yang memberitahumu bahwa aku disini?” tanya Kevin tanpa menoleh kearah Soojung.

“Kenapa tidak menatapku saat kau berbicara, Oppa sayang?” Soojung meraih dagu Kevin untuk menoleh kearahnya namun Kevin segera menepis tangan Soojung dengan kasar.

“Jangan pernah sekalipun menyentuhku! Kau bukan kekasihku!” Kevin segera pergi meninggalkan Soojung sendirian di kolam renang. Soojung hanya tersenyum licik melihat tingkah Kevin.

Ne, aku memang bukan kekasihmu. Tapi sebentar lagi… tunggu saja.” Ucapnya pelan. Lalu mengikuti Kevin dari belakang.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Huehehehhe~ ottokhe? Ottokhe? Mianhae chingudeul~ aku ngga ada koneksi internet buat posting part ini jadi rada lamaan, gwaenchana, ne? Ditunggu yah komentarnya! Annyeong~ Ingat sekali lagi untuk RCL (Read, Comment and Like!) gomawoooo~

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s