[FREELANCE] Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 1)

Post Hoc, Propter Hoc Verse 2

Title : Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 1)

Author : Hyuuga Ace (@dioxing_0307)

Genre : Drama, Hurt, Comfort, Romance, School Life, Family

Length : Multichapter

Rate : PG-15

Main Cast :

  • Park Gaemi (OC)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Junmyun / Suho  (EXO)
  • Oh Senna  (OC)

Other Cast :

  • EXO, some member of Boyfriend and BEAST
  • Yang Chiya, Lee Heyoung, Im Jaelim, Hong Pulip,  Yang Choyun,  Baek Regi (OC)

Disclaimer :  OC and the plot of story are mine and pure from my idea. Don’t plagiarism. Thank you.

Author’s note :

Annyeong, udh pd baca Prolog dari FF ini kan? Dan ini dia chapter 1 nyaaa! *lempar confetti (?) semoga ga mengecewakan.. Mungkin di chapter 1 masih pada bingung sama ceritanya, tapi tenang ajah bakal diungkap secara tajam setajam silet (??) di chapter- chapter selanjutnya..  Gomawo buat admin yang udh ngepost FF ini😀

Sekian dari author’s note versi chapter 1 (?) skrg langsung caw ke cerita sajaaa..

HAPPY READING ^^

 

Summary :

“Masa lalu adalah sesuatu yang membentuk dirimu saat ini. Masa lalu terjadi lebih dahulu dibanding hari ini, sehingga hari ini ada karena disebabkan masa lalu. Post Hoc, Propter Hoc. Tapi hanya orang- orang yang memiliki keberanian untuk menatap masa depanlah yang berani untuk melepaskan masa lalu. Dan hidup karena hari ini, dan masa depan.”

Recommended Song : Westlife –Fragile Heart, Westlife –The Rose

 

***

(Gaemi’s PoV)

“Ish! Oh Sehun! Namja itu benar- benar!” Guntingan zigzag yang sedang kukerjakan terhenti, gerutuan Lee Heyoung benar- benar menarik perhatianku. Terutama karena nama namja itu yang disebut- sebut.

Wae ddo?” Tanya Im Jaelim di sebelahnya dengan nada malas. Aku memasang telingaku dengan kondisi siaga satu. Berusaha menguping pembicaraan mereka.

“Si bodoh itu menutup panggilan teleponku di detik pertama ia mengetahui aku yang menelponnya. Nappeun namja!” Untuk apa Heyoung menelpon Sehun?

“Kau menelponnya? Ada apa?” Nah! Ternyata Jaelim juga memikirkan pertanyaan yang sama.

“Sebelum itu, kau ingat ‘kan kalau dia itu ketua kordinator bagian perlengkapan untuk open class kita? Dia yang memegang kunci lemari, dan Kyungsoo sedang membutuhkan speaker di dalam lemari itu. Aku hanya sedang membantu Kyungsoo mengingatkannya untuk segera datang ke sekolah. Tapi dia hanya berujar ‘Nuguseyo’?  Baiklah dia tidak mungkin menyimpan nomorku sehingga aku memperkenalkan diri, namun setelah mengetahui dengan siapa dia berbicara, dia langsung menutup teleponnya tanpa basa- basi! Coba bayangkan Jaelim-ah!”

Aku menarik napas panjang setelah rentetan kalimat Heyoung telah selesai diucapkan. Whoo, panjang sekali.

Kulirik dengan ujung mataku reaksi Jaelim, ternyata tepat dengan dugaanku. Dia sedang menahan untuk tidak tertawa, karena bagaimana pun dia akan menyinggung perasaan Jaelim jika dia tertawa terbahak- bahak.

“Kau tahu sendiri Jaelim-ah, ini hari terakhir kita untuk mempersiapkan kelas sebaik mungkin untuk acara besok. Kau tidak mau kan kelas kita kalah gara- gara perlengkapan kelasnya tidak dipersiapkan dengan baik? Lihat bidang dekor dan yang lainnya telah berusaha dengan sangat baik.” Oke, si perfeksionis dan penuh integritas Park Heyoung. Dia memang tidak menyukai ada bagian yang tidak bekerja dalam suatu kelompok di mana bagian lain kewalahan dan bekerja keras. Tidak adil menurutnya, dan memang benar. Aku setuju akan hal ini.

“Ya! Adakah di antara kalian yang mau menyediakan waktu untuk menjemput wangjanim kesayangan kelas kita?” Jaelim yang notabene juga merupakan ketua kelas 10-F bangkit berdiri dan mencoba membantu mencari solusi untuk memunculkan seorang Oh Sehun di kelas ini –menurutku sekaligus untuk menghentikan omelan dan gerutuan panjang lebar Heyoung.

Wangjanim? Memangnya di kelas kita ada yang memiliki darah biru?” Aku tersenyum kecil melihat Pulip bertanya dengan wajah dan nada kelewat polos. Ah catatan, dia itu bukannya polos, dia hanya sedikit lemot. Dari kalimatku, aku terdengar begitu kejam pada Pulip. Mian, Pulip-ah.

“Memangnya siapa ‘wangjanim’ kesayangan kelas ini, huh?” Teman sekelasku yang lain Yang Choyun yang memiliki rambut super panjang namun otaknya super encer bertanya dengan nada sarkasme.

“Biar kutebak, Oh Sehun?” Regi, temanku yang lain dengan ‘cerdasnya’ menebak.

Tunggu, jika kau perhatikan semua yang bersuara adalah jenis- jenis dari kaumku. Lalu bagaimana dengan lawan jenis kami? Itulah yang lucu, 10-F dihuni oleh yeoja- yeoja yang kelewat aktif dan ‘sedikit berisik’. Namun mayoritas namja di kelas ini sangatlah diam, penurut, dan baik hati. Tapi anehnya namja di kelas kami selalu menjuarai pertandingan basket antar kelas. Bahkan melawan sunbae kelas 11 maupun 12 pun kami tetap unggul. Padahal kami baru dipertemukan kurang dari 8 bulan.

Apakah diam, penurut, dan baik hati ada hubungannya dengan jago bermain basket? Entahlah, mungkin tidak. Tapi menurutku hal itu tetaplah unik. Karena yang selama ini selalu ada di bayanganku, anak basket adalah orang- orang yang cool dan terkesan jaim.

Ah, tentu saja. Seorang Oh Sehun tidak masuk dalam kategori mayoritas mengingat betapa menyebalkan dirinya.

Bingo! 100 untuk Baek Regi!” Jaelim kembali bersuara dengan nada heboh yang benar- benar terlihat dibuat- buatnya.

“Biar aku yang menjemputnya.” Youngmin, kaum namja yang akhirnya bersuara, lalu dia bangkit berdiri dan hendak melangkah keluar kelas namun suara Jaelim menghentikannya.

Ani, jangan namja yang menjemputnya. Ah, lagipula belahan jiwamu sepertinya sedang mencarimu karena dia sedang berjalan ke sini.” Aku dan yang lainnya segera menolehkan kepala ke arah luar –catatan, kelasku dikelilingi oleh kaca sehingga keadaan di luar kelas pastilah terlihat jelas– dan benar saja belahan jiwa Youngmin dengan cengiran lebar –terlalu lebar- nya tengah berjalan santai ke arah pintu kelas kami.

Belahan jiwa Jo Youngmin sayangnya bukan yeoja chingunya, melainkan seseorang yang telah menemaninya bahkan sebelum ia dilahirkan kedunia. Saudara kembarnya, Jo Kwangmin yang dipisahkan 20 meter –hanya menebak, dari Youngmin selama di sekolah, namja itu penghuni kelas 10-A. Kwangmin itu merupakan sisi berlawanan dari diri Youngmin yang kalem dan tenang. Kwangmin itu setahuku sangat berisik dan hiperaktif, pantas saja ia disebut si 4D.

Hyunggggg, pinjamkan aku kunci rumah.” Namja yang menurutku cukup tinggi itu langsung saja berteriak sesampainya a di kelasku.

“Kau mau pulang?”

Eoh. Minwoo menantangku bermain PES.” Jawabnya santai.

“Haaa. Kunci kusimpan di lokerku.” Lalu dua makhluk kembar identik yang tidak ada kembar- kembarnya dalam hal perilaku itu menghilang begitu saja. Loker semua siswa berada di depan ruang guru –sebenarnya ini merepotkan, tapi guru- guru selalu saja mempunyai alibi untuk menyimpan loker di sana, antara lain : memudahkan memantau ketertiban siswa -, karena keadaan itu otomatis Youngmin tidak akan kembali secepat yang diharapkan.

Lalu perihal menjemput Sehun itu bagaimana?

“Eung, mari kita lanjutkan.. sebenarnya aku ingin meminta satu di antara yeoja disini untuk menjemputnya.” Ketua kelas kembali melanjutkan diskusi kecil ini.

“Kenapa harus yeoja?” Namhyun namja kedua setelah Youngmin bersuara.

“Kurasa kalau namja yang menjemputnya, tidak akan berakhir baik. Keduanya tidak akan kembali lagi ke sekolah.” Ah, aku mengerti jalan pikir Jaelim.

“Padahal itu belum tentu.” Dengus Kai, ah makhluk ini juga masuk dalam kelompok minoritas. Walaupun dia diam dan sedikit lebih rajin daripada Sehun. Dia benar- benar menyebalkan, terutama mulutnya, kata- katanya tajam sekali.

Dwaesseo. Sekertaris! Kau saja yah yang menjemputnya..”

Sekertaris?…  NA?!

“Aku? Wae?!” Baiklah kuakui aku tidak siap dengan semua mata yang mengarah padaku, karena aku bukanlah tipe yang sering disorot dari kelas ini. Aku lebih suka mendengarkan pembicaraan orang lain dan melihat mereka daripada dilihat dan didengarkan mereka.

“Kau menyimpan semua data murid kan? Lagipula seingatku rumah namja itu dekat sekali dengan sekolah sehingga kau tidak perlu repot- repot mengeluarkan biaya transportasi untuk menjemputnya. Ayolah Gaemi.” Duh, terlebih ketika namaku disebut, rasanya aku merinding.

“Eung.. eoh. Baiklah.” Aku harus menyelamatkan diri dari tatapan mereka dengan menyetujui hal ini. Lalu teman- temanku menarik napas lega dan kembali pada pekerjaan mereka, kecuali Chiya sahabatku yang menatapku seakan- akan arti tatapannya adalah kalimat- kalimat penyemangat.

***

Aku tidak perlu repot- repot mencari buku data siswa di lokerku hanya untuk mencari alamat rumahnya. Sama halnya dengan nomor teleponnya, aku hanya perlu mengetikan nomornya dan menekan tombol hijau untuk panggilan. Semua dikarenakan, aku hafal diluar kepala segala tentang namja bernama Oh Sehun.

Sial, Chiya bahkan pernah memanggilku sebagai stalker seorang Oh Sehun. Karena aku hobi mencari tahu hal- hal tentang diri Oh Sehun.

Baiklah biar kuluruskan, sebenarnya alasanku merasa tidak nyaman saat Jaelim memintaku untuk menjemput Sehun bukan hanya karena tiba- tiba aku menjadi sorotan teman- teman sekelasku. Melainkan karena aku harus menemui Sehun, terlebih datang ke rumahnya!

YA! Aku memang menyukai namja itu! Semenjak pertama kali aku menjadi murid High School dan memasuki kelas 10-F dan melihat ia duduk di belakangku dan menatapku dengan tatapan aneh. Dia terlalu banyak membuatku penasaran pada awalnya, sehingga aku terus- menerus mencari tahu tentangnya. Yang berakibat fatal bagi diriku yang pada akhirnya mengaku kalah, bahwa aku lama kelamaan memiliki perasaan yang cukup rumit padanya.

Kami hanya teman sekelas, dia mengenalku hanya sebatas nama dan biodataku yang semua orang juga tahu. Dia tidak pernah berbicara denganku diluar permasalahan sekolah seperti ‘Hey besok ada tugas apa saja?’, ‘Biodata pribadi harus kuserahkan pada sekertaris, kau kan sekertarisnya?’, dan yang paling tidak penting dia pernah iseng bertanya padaku hal semacam ‘Hey, kau tahu mengapa Huan songsaengnim itu botak? Itu semua karena dia terlalu banyak memikirkan Negara.’ Huan Songsaengnim guru Tata Negaraku yang malang. Dan biasanya percakapan kami akan berakhir ketika aku menjawab dan dia mengangguk. Selesai sudah.

Sementara aku, jangan harap aku mau berbicara dulu padanya. Aku terlalu malu dan bingung ketika berhadapan langsung dengannya.

Dan sekarang aku harus menelponnya dan menyuruhnya untuk keluar dari rumahnya. Jebal, ini benar- benar menyiksaku!

Lalu bagaimana jika ia langsung menutup panggilanku ketika ia mengetahui bahwa aku yang menelponnya, sama seperti yang ia lakukan kepada Heyoung. Membayangkannya saja sudah membuatku sedih. Tapi! Kau harus professional, bodoh! Kau disini diutus ketua sebagai sekertaris yang mengetahui data murid untuk menjemput murid yang paling tidak niat dan malas di kelas untuk datang ke sekolah dan membuka lemari yang beirisi speaker untuk digunakan Kyungsoo.

Entah untuk alasan apa –secara rasional, aku merasa sangat malu! MEMALUKANNN!!! –

“Park Gaemi?”

HEOK!

Aku melihat ke atas, di balkon lantai satu, dan Sehun ada disitu. Sedang bersandar di balkon kamarnya –asumsiku- dan menatapku dengan tatapan datar.

Duh, aku harus melakukan apa? Berbicara Gaemi! Setidaknya kau harus berbicara!

An.. nyeong.. Sehun-ssi…” Sial suaraku gemetar. Dia hanya menatapku datar, dan rasanya aku ingin menangis hanya karena tatapannya. Baiklah aku memang cengeng, tapi aku tidak boleh menangis di hadapannya!

“Eung.. aku diminta untuk mendatangi rumahmu memintamu untuk pergi ke sekolah, teman- teman sekelas menunggumu.”  Huftt.. berhasil. Setidaknya aku telah mengucapkan maksud dari kedatanganku.

“Mereka menyuruhmu?” Nada suaranya.. sangsi. Hey! Aku bahkan tidak bisa memikirkan kata- kata untuk berbohong di saat seperti ini!

“Tentu saja. Memangnya kau kira aku datang karena apa?” Ups! Ya, ya! Park Gaemi, nada suaramu.. tunggu kok bisa? Kok bisa aku mengeluarkan suara sekesal itu pada Sehun? Daebak, aku bahkan tidak mengerti akan apa yang sedang terjadi saat ini.

“Kukira karena kau merindukanku.”

YA!!” dan sekarang kau membentaknya?!

Arrasseo. Karena kau sudah bersusah payah datang kesini aku akan berangkat ke sekolah.” Sehun tersenyum singkat dan menghilang, aku tidak bisa melihatnya lagi dari sini. Mungkin ia telah masuk ke kamarnya dan bersiap turun ke bawah.

Jinjja aku ini aneh. Mungkinkah karena gugup dan mungkin salah tingkah, apa yang kuucapkan ini jadi aneh dan tidak bisa kukontrol? Heoooool.

Atau mungkin ini pengaruh dari perbincangan kami yang lebih dari 3 kalimat? Astaga aku baru menyadari bahwa ini adalah pembicaraan terpanjang kami! Ini perlu dicatat dalam buku rekorku!

“Kau ingin menelponku?” Aku membelalakan mata saat Sehun sudah berada di depanku, bahkan gerbang rumahnya telah ia buka. Rumah Sehun itu.. minimalis namun kelihatan sangat nyaman.

Dan sekarang khayalan gilaku mengajakku untuk menerawang sisi dalam rumah ini.

“Kau ingin menelponku?” OH?? Sehun mengulangi pertanyaannya sekali lagi.

“Ah ne, tadi untuk memanggilmu keluar rumah. Tapi kau telah memunculkan dirimu dari atas sana.” Aku menunjuk ke balkon lantai satu rumahnya. Lalu bola mataku menangkap tangan Sehun yang kini tengah merebut ponsel dari tanganku.

“Mau apa kau?”

Sehun tersenyum tipis, astaga dia tersenyum karenaku?!

“Kukira kau itu pendiam. Ternyata kau galak juga yah..” Aku ingin membalas ucapannya namun jari- jarinya menekan sesuatu di ponselku yang telah berhasil ia rebut. Dan baru kusadari sedetik kemudian jika itu adalah tombol hijau. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ponselnya bergetar, rentetan nomor yang sangat kukenali karena itu nomorku sendiri tertera disana. Panggilan masuk.

Lalu dia menekan tombol merah di ponselku. Sebenarnya apa maksudnya sih?

“Kau satu- satunya yeoja dari sekolah kita yang akan ku save nomornya di ponselku. Kau patut bersyukur.” Ujarnya dengan nada santai, tapi debaran di hatiku benar- benar tidak santai.

Sehun menyimpan nomorku? Oh, astaga. Aku bahkan bisa sangat bahagia hanya karena hal seperti ini?

“Kalau begitu, gomawo.”

***

(Sehun’s PoV)

“Kalau begitu, gomawo.”

Aku terdiam, sebenarnya alasanku menyimpan nomornya hanya karena dia adalah sekertaris. Dan dia terlihat rajin sehingga akan mudah bagiku untuk menanyakan tugas padanya di luar sekolah. Tapi dia yang sedang menunduk dan mengatakan terima kasih membuatku sedikit terkekeh. Dia lucu juga.

Namun disaat aku baru saja berpikir bahwa dia itu lucu, dia menegakan tubuhnya dan menatapku galak.

“Kalau begitu jangan terlalu lama basa- basi, ayo pergi. Kau tahu teman- teman kerepotan karena dirimu yang missing in action!” Lalu dia membalikan tubuhnya dan mulai berjalan.

Aku tertawa sekali lagi, jalannya terlalu cepat untuk disebut berjalan. Mungkin setengah berlari lebih tepat untuk keadaannya. Aku menutup gerbang dan segera menyusulnya.

“Gaemi-ya, tunggu!”

Hening. Tidak ada yang menyaut ucapanku. Cara ia berjalan bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Sebenarnya aku sanggup menyusulnya, namun melihat punggungnya yang berjalan tergesa- gesa seakan- akan dia sedang menghindariku membuatku lebih tertarik.

“Hey semut! Jangan abaikan aku!”

Aku melihatnya berhenti sejenak sebelum mulai melangkah lagi.

“Terima kasih karena mengingatkanku bahwa namaku memang memiliki arti semut.” Ucapnya sinis. “Dan satu hal Sehun-ssi, kukira kita tidak sedekat itu sehingga kau harus memanggilku dengan sapaan dekat.” Ucapnya perlahan.

Ah, jadi dia mempermasalahkan caraku memanggil namanya sebelum aku memanggilnya semut. Namun entah karena alasan apa, aku merasa sedikit kesal. Baiklah jika ia menganggap hubunganku dengannya tidak dekat, padahal kukira teman sekelas itu sudah termasuk tahap dekat.

“Ah, benar juga. Kita tidak dekat. Baiklah kalau begitu Gaemi-ssi.”

Lalu aku melangkah menyusulnya dan berjalan di depannya.

***

(Author’s PoV)

Seorang namja tergopoh- gopoh menjauhi gerombolannya. Wajahnya penuh kerutan kecemasan, dia sedang menghawatirkan sesuatu. Sesuatu yang berasal dari nama yang tertera di ponselnya sekarang, nama seseorang yang mencoba menghubunginya lewat ponselnya.

Yeobseo.” Dia berusaha tenang, namun tangannya yang menggenggam ponselnya gemetar.

Namja itu Suho.

“Junmyun, kau masih mengingatku, kan? Kurasa 1 tahunmu itu cukup untuk membuatmu merasa sedikit ‘terbebas’. Tapi kau masih tidak melupakanku, kan?” Suho mencoba mendengus, namun dengusannya ia tahan. Karena ia tahu hal itu akan memperburuk suasana.

Master.”

Suho menutup kedua matanya saat ia mendengar tawa menggelegar dari ujung sambungan telepon.

“Bagus Junmyun-ah, dari caramu memanggilku aku bisa mengetahui bahwa kau belum melupakan siapa diriku.”

Mianhamnida, master. Tapi saya masih berada di sekolah, bisa kau –“ Belum sempat Suho menyelesaikan ucapannya, ‘master’ telah memotongnya terlebih dahulu.

“To the point?”

Ne.” sahut namja bermarga Kim itu mantap. Ia mendapat firasat yang buruk akan hal ini.

“Sudah  1 tahun kau mencoba melarikan diri dari dirimu yang sebenarnya. Sampai kapanpun kau hanya seorang pesuruh yang mengikuti kemauan orang lain. Dan inilah saatnya kau kembali.” Dan benar, inilah jawaban akan firasat buruknya.

Suho dia tidak bisa mengendalikan perasaannya, ia gemetar hebat. Hingga- hingga ia tidak sadar bahwa ia telah mematikan sambungan telepon. Tidak sopan? Ia tidak peduli lagi. Lututnya lemas, sehingga gravitasi membawanya terjatuh ke lantai aula yang dingin.

Suho, dia ingin berteriak, ingin memaki, ingin menyalahkan kehidupan tapi ia hanya tidak mampu. Ia tidak ingin dirinya yang lama. Ia mencintai dirinya sebagai Suho. Ia tidak ingin menjadi Kim Junmyun. Tapi segala sesuatu memiliki limitnya masing- masing, bukan? Dan inilah limit yang telah menjumpai dirinya. Dia harus kembali. Walaupun ia tidak mau.

Tangan kanannya yang menggenggam ponselnya bergetar, ia melirik sekilas ponselnya yang menunjukan adanya pesan masuk.

From : Master

Kau selalu tahu kan aku memiliki seribu cara untuk membuatmu kembali, KIM JUN MYUN.

Pesan itu adalah climax dari rasa frustasi dan tertekan yang sekarang dirasakan namja bernama Suho.

***

Ya! Kau memiliki masalah dengan eomma mu, huh?”

“Wae geurrae?”

“Dia datang menemuiku dan dia menyuruhku membantunya. Dia mengenalku?”

“Maybe.”

“Ya ya, mengapa harus aku?”

“Mungkin karena eomma tahu kau adalah orang yang paling kusukai, Gaemi-ya.”

Haa…HAH?!

Dan semua kembali kepada tembok kamar yang berwarna kuning pucat. Yeoja itu, Park Gaemi mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali.

Dia menarik nafas perlahan- lahan. Mencoba menjernihkan otaknya, lalu melongokan kepalanya untuk melihat jam dinding di sudut kiri kamarnya. Sekarang baru pukul 3 pagi.

Ya, benar. Gaemi, memimpikan seorang Oh Sehun pada jam 3 pagi. Bagus, mimpi yang terlalu bagus untuk bangun di pagi hari. Terlalu bagus.

Dia ingin mencoba tidur kembali tapi hatinya merasa sedikit takut. Mengingat menurut fakta orang akan melupakan mimpinya beberapa saat setelah ia bangun.  Bagaimana jika dia melupakan mimpi sebagus itu jika yeoja itu bangun pada pukul 5.30 dan segera menyiapkan diri berangkat ke sekolah? Setidaknya, dia merasa senang bertemu dengan Sehun, walau hanya lewat mimpi.

Beberapa kemungkinan muncul dalam benaknya. Kemungkinan bahwa mungkin saja mimpi itu datang karena baru tadi siang dia ‘diutus’ teman- temannya untuk menjemput Sehun di rumahnya, lalu berbincang- bincang dengan namja itu?

Lalu seorang Oh Sehun memanggilnya dengan sapaan dekat?

Gaemi mencoba untuk merapatkan lagi kedua kelopak matanya, mencoba menafsirkan mimpi aneh itu. Ya, memang aneh. Tapi dia sama sekali tidak keberatan untuk memimpikan hal semacam itu lagi.

Baiklah, Park Gaemi. Dia mengakui bahwa memang dirinya menyukai namja itu, entah untuk alasan apa. Tapi dia tahu, bahwa dirinya tidak terobsesi dengan namja itu. Chiya mungkin akan menertawai pemikiran ini, mengingat dia selalu menganggap Gaemi adalah stalker seorang Oh Sehun. Tapi menurut pandangannya, Gaemi hanya terlalu penasaran dengan orang itu, bukan terobsesi. Karena menurutnya jika yeoja bermarga Park itu terobsesi dengan Oh Sehun, mungkin dia sudah menjadi yeoja genit yang secara agresif dan terang- terangan mendekati namja yang disukainya. Tapi dia bahkan tidak sudi untuk merencanakan hal semacam itu.

Dan karena dia tidak terobsesi dengan Sehun, seingatnya dia tidak pernah merasa Sehun pernah hadir dalam mimpinya sebelum ini.

Dan ini membuatnya penasaran. Baiklah Gaemi akui jika dia adalah orang yang sangat mudah penasaran. Tapi ini lucu.. kali ini dia penasaran akan sebuah mimpi.

Lalu seingatnya tadi, dia bertemu dengan Sehun eomma. Yang walaupun tidak jelas rupanya seperti apa –karena bagaimanapun ini semua hanya mimpi. Tapi dia mendapat feeling yang cukup aneh tentang ini.

Apa hubungan Sehun dan eomma nya tidak baik yah? Atau? Atau lebih baik kau lupakan saja Park Gaemi. Karena ini semua hanyalah mimpi, yang nama lainnya bunga tidur.

Tandasnya dan sebisa mungkin memejamkan matanya lebih dalam untuk melanjutkan tidurnya.

Tapi sepertinya itu tidak mudah karena kenyataannya dia benar- benar tidak bisa tidur sampai bekernya berbunyi untuk membangunkannya setiap hari pada pukul 5.30.

Ini menyebalkan. Dan oh! Dia melupakan bahwa hari ini adalah hari H. Festival musim dingin yang diadakan Wanbaek Senior High School! Yap, sekolahnya.

Seharian kemarin ia dan teman- teman di kelasnya telah benar- benar bekerja keras untuk bersaing dengan kelas- kelas lainnya dalam mencoba mendekor kelasnya sebaik mungkin agar menarik banyak pengunjung yang datang agar mendapatkan gelar The Best Class dalam even Festival Musim Dingin tahun ini.

Tidak, dia tidak ingin mengacaukan semua itu hanya karena ia kurang tidur!

Lalu Gaemi meninjukan tangannya ke udara, dan bangkit dari kasurnya dengan semangat penuh. Bersiap menyambut hari.

 

***

Sehun baru saja menutup pagar rumahnya ketika dia melihat siluet seseorang yang berjalan ke arahnya, dan itu yeoja. Dia memicingkan matanya, lalu ketika retinanya bisa menangkap dengan jelas siapa yeoja itu dia hanya mendengus lalu melanjutkan aktifitasnya –menggembok pagarnya.

Oppa!Orenmaniya!” Suara yeoja itu melengking tinggi dan menyakiti gendang telinga Oh Sehun. Ketika dia berbalik, tepatlah dugaannya. Yeoja itu tepat berada di belakangnya.

Mwohae?” Yeoja itu memberenggut ketika mendengar nada suara Sehun yang amat datar dan sedikit terkesan malas.

“Kau tidak merindukanku?” Tanya yeoja itu dengan mata berharap, namun Sehun hanya menghembuskan napasnya.

“Ya, aku merindukanmu Oh Senna. Dan, long time no see. Bagaimana dengan lombanya? Swiss tentu saja menyenangkan. Oh gomawo, tapi aku tidak ingin makan coklat oleh- olehmu dari Swiss. Karena aku alergi gula dan hal yang rasanya manis. Sekian.” Sehun lalu berlalu begitu saja setelah ia yakin ia telah merangkum semua pembicaraan yang mungkin saja akan dimulai ‘yeodongsaengnya’ ini. Yeodongsaengnya yang seingatnya baru saja pulang dari Swiss untuk mengikuti lomba ice skating. Salahkan mengapa ia mengikuti kursus ice skating dan anehnya ia berbakat di bidang ini sehingga ia sering berkeliling dunia mengikuti lomba. Tapi sesungguhnya, Sehun tidak peduli sama sekali.

“Ya! Oppa aku baru saja pulang dari Prancis!” Yeoja yang dipanggil Senna itu lalu melangkahkan kakinya untuk menyusul Sehun.

“Ah matta.” Balas Sehun dengan nada yang semua orang yang mendengarnya juga akan tahu jika dia sangat tidak tertarik berbicara dengan Senna.

“Oppa, eomma bilang hari ini sekolahmu akan mengadakan festival musim dingin. Boleh aku ikut?” Sehun memutar bola matanya. Apakah yeoja itu tidak mengerti jika dia tidak mau berbicara dengannya?

“Lakukan apapun yang kau mau Oh Senna, aku tidak peduli. Yang kupedulikan hanya satu, jangan mengikutiku. Aku membenci hal itu.” Sehun mengatakannya dengan nada tenang, namun Senna bisa mendengar ultimatum di baliknya. Sebenarnya Senna merasa sedih karena perlakuan Sehun yang selalu dingin padanya tapi ia terlalu menyukai Sehun sehingga terkadang ia tidak peduli lagi dengan hal itu selama ia bisa mendekati ‘oppanya’.

“Geurrae. Tapi bisa kau terima oleh- olehku kali ini?” Sehun berhenti berjalan dan membalikan tubuhnya, salah satu alisnya tertarik ke atas. Mungkin jika dia menerima hadiah Senna, yeoja itu akan pergi.

Senna tersenyum ketika melihat Sehun berbalik, lalu dengan cepat ia merogoh isi tas tangannya dan menemukan benda itu. “Igo.” Ia menjulurkan tangannya ke depan menunggu Sehun menerima benda yang berada di telapaknya itu.

“Ya. Kau bercanda? Itu gelang untuk yeoja.” Walaupun Sehun tidak peduli akan bentuk hadiah itu, tapi ia tetap risih melihat gelang berwarna perak yang sepertinya hanya cocok jika diberikan kepada yeoja. Sementara dirinya adalah seorang namja yang tidak mungkin membawa benda seperti itu.

Aniya. Ahjumma yang menjual ini padaku saat di Prancis mengatakan bahwa gelang perak ini sedang menjadi trend disana. Katanya jika memberikan gelang ini untuk seseorang, tandanya orang itu begitu spesial  sehingga si pemberi selalu berharap bahwa orang spesial itu akan selalu bahagia. Lagipula ini gelang untuk transgender. Kau juga cocok menggunakannya, oppa.” Senna mencoba mengungkapkan perasaannya untuk Sehun ketika itu, dia berharap Sehun mengerti jika adalah orang yang sangat berharga untuk Senna. Tapi Sehun tidak terlihat menerima hal itu karena dia hanya menarik napas panjang dan membuangnya dengan malas.

Sehun, dia merasa harus menerima gelang itu walaupun dia tidak ingin. Karena jika tidak Senna akan memaksanya –dengan merengek, sampai ia mau menerima gelang itu.

Sehun mengulurkan tangannya ke depan, dan dalam gerakan cepat gelang itu sudah berada di genggaman Sehun.

Gomawo.” Sehun berbalik cepat dan mulai melangkah meninggalkan Senna yang sekarang tersenyum kegirangan karena akhirnya Sehun mau menerima hadiahnya tanpa berdebat.

Lalu dengan hati yang puas Senna berbalik dan menyetop taxi untuk pulang ke rumah.

Sehun yang masih terus berjalan dan menyadari bahwa Senna tidak lagi mengikutinya menghembuskan napas lega.

Terkadang Sehun berpikir, tidak. 3 tahun telah cukup. Cukup untuk membuat Senna tersadar bahwa ia tidak pernah menyukai yeoja itu. Baik sebagai Oh Senna ‘yeodongsaengnya’ maupun Baek Senna –yeoja kecil yang ia temui 3 tahun lalu.

3 tahun lalu, juga mengingatkannya akan suatu kejadian yang membuatnya sangat marah hingga ia berani  untuk memutuskan hubungan keluarganya. Kejadian yang sangat tidak adil untuk namja yang saat itu baru memasuki Middle School nya.

Dan kejadian yang membuatnya merindukan eommanya lebih dari apapun.

Eomma, mengapa kau membiarkanku hidup seperti ini?

Mungkin itu adalah pertanyaan yang selalu terngiang dalam benak seorang Oh Sehun jika ia mengingat kata eomma.

Kepalanya panas, dan dia mencoba untuk mengubur dalam- dalam ingatannya untuk saat ini jika ia tidak mau moody seharian. Lalu retinanya menangkap seseorang yang baru saja memasuki gerbang tinggi Wanbaek High School. Senyuman terukir di sudut bibirnya.

“Oi! Park Gaemi! Semut!”

Gaemi yang baru saja memasuki kawasan Wanbaek terkejut bukan main ketika mendengar seseorang memanggil namanya dengan suara yang sangat keras ditambah panggilan semut yang sangat familiar. Dia tidak perlu membalikan tubuhnya untuk melihat orang itu karena ia sudah sangat hapal dengan suaranya.

Lalu tangan besar namja itu mencengkram pundak kirinya, membuatnya melongo dengan aksi itu.

Astaga, Oh Sehun! Mengapa namja ini jadi sok dekat denganku?

Sebenarnya Gaemi sangatlah panik, dia ingin kabur dari tempat itu saat itu juga. Namun tatapan mata Sehun yang menatap tenang namun juga ada intimidasi di baliknya menyuruhnya untuk tetap diam.

“Ada apa Sehun-ssi?” Gaemi  mencoba bersikap tenang, dan sejauh ini dia kelihatan berhasil.

“Aku ingin memberimu sesuatu.” Jawab namja itu santai sambil memasukan tangan kirinya ke dalam saku celananya. Lalu mulai melanjutkan langkahnya, mau tidak mau Gaemi juga ikut melangkah karena pundak kirinya masih dicengkram oleh namja itu.

“Aku tidak sedang berulang tahun.” Jawab Gaemi polos yang membuat Sehun terkekeh.

“Memangnya hanya orang yang sedang berulang tahun yang berhak mendapat hadiah, huh?” tanyanya dengan nada geli.

“Tidak juga sih.. tapi bukankah mencurigakan jika seseorang memberimu sesuatu tanpa sebab?” Gaemi sudah merutuki dirinya sendiri.

Astaga bahkan ia telah menjadi orang lain jika sudah berada di dekat Oh Sehun, dia rasa dia bukan tipe orang yang mendebatkan hal tidak penting seperti itu sampai Sehun mengajaknya berbicara.

“Kau benar juga, anggap saja ini hadiah karena kau sudah ‘menjemputku’ kemarin.” Sehun lalu mengeluarkan sesuatu yang mengkilat di bawah sinar matahari pagi dan langsung mengaitkan benda itu di tangan kiri Gaemi tanpa menanyakan apakah Gaemi keberatan atau tidak. Lalu berlalu begitu saja.

Bukan hanya matanya yang terbelalak, sekarang mulutnya mungkin telah menganga karena hal ini. Lalu Gaemi menjatuhkan pandangannya ke tangan kirinya yang terlilit gelang berwarna perak. Dia memperhatikan gelang itu dengan cermat, hanya gelang sederhana berwarna perak. Tapi  menurut pandangannya, gelang itu juga terlihat sebagai rantai yang disatu-satukan oleh manik berwarna biru-hijau.

Dia menggeleng tidak mengerti, lalu mencoba melanjutkan langkahnya dengan isi kepalanya yang sedang mengasumsikan banyak hal mengapa Sehun perlu melakukan hal ini. Tapi tidak ada asumsinya yang terdengar nyata. Namun, tidak bisa dipungkiri ia merasa senang karena memiliki sebuah barang yang berasal dari namja bernama Oh Sehun.

***

Wanbaek High School  yang pada dasarnya memanglah sekolah yang cukup populer berhasil menarik banyak sekali pengunjung dari berbagai kalangan untuk datang pada festival musim dinginnya. Mulai dari anak- anak, siswa-siswi dari sekolah lain yang jumlahnya sangat banyak, hingga orang tua yang kebanyakan merupakan orang tua murid dari siswa yang bersekolah di Wanbaek maupun sekolah lain yang penasaran akan sekolah ini.

Tentu saja, 10-F juga mendapat kesibukan yang luar biasa. Mereka yang mengusung tema Winter Café untuk open class mereka, mulai dipenuhi pengunjung mulai dari pagi.

***

(Gaemi’s PoV)

Sepanjang hari aku hanya merasa lelah, mengantuk, dan sedikit pusing. Rasanya sulit untuk berkonsentrasi, namun karena janjiku pada diriku sendiri untuk tidak mengacaukan acara. Aku mencoba untuk terlihat riang. Namun sepertinya Chiya menyadari ada sesuatu yang aneh denganku, karena ia terus mengatakan bahwa wajahku pucat. Semua pasti karena aku kurang tidur setelah memikirkan namja yang masuk ke dalam mimpi aneh itu lalu kemudian di pagi harinya memberikanku gelang begitu saja tanpa alasan yang jelas.

“Gaemi, tolong antarkan tiramisu ini untuk meja 5 yah..”  Youngmin dengan senyum malaikatnya menegurku. Aku tersenyum tipis lalu mengangkat pesanan meja 5 dan mulai berjalan meninggalkan standku. Ah, aku jadi teringat bahwa kelasku juga telah menyulap diri mereka menjadi pelayan café dengan baju yang sangat lucu. Aku memakai bando pita berwarna putih, dan pakaian ala waitress.

Entah dari mana Miyeon –temanku yang ditunjuk sebagai seksi kostum– mendapatkan baju- baju ini, tapi ini sangat menggemaskan.

Aku baru melangkah 3 langkah, namun aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku dan aku takut jika aku terjatuh sebentar lagi. Aku bahkan telah menutup mataku karena aku tidak mungkin menjaga keseimbanganku karena aku merasa seperti tengah dipukul oleh balok kayu dari belakang. Namun setelah 3 detik aku tidak merasakan kepalaku yang membentur ubin, melainkan ada tangan besar yang melingkari pinggangku. Aku mencoba membuka mataku, tapi baru saja aku merasakan sinar matahari masuk ke dalam mataku. Semuanya menjadi gelap kembali.

Tapi aku tidak pingsan, aku masih sadar. Namun terlalu berat untuk membuka mataku. Orang- orang di sekelilingku mulai meneriaki namaku. Ah, sepertinya aku benar- benar jadi pengacau.

Lalu aku merasa seakan diangkat, ada seseorang yang menggendongku.
“Aku akan membawanya ke UKS.” Suara berat seseorang memaksa membuat otakku menebak suara itu.

Itu seperti suara.. Kim Suho. Dalam diam aku sempat berpikir sejenak, mengingat bahwa Suho adalah teman sekelasku. Namun dibandingkan aku dan yang lainnya, ia lebih tua hampir 3 tahun. Sehingga aku terkadang bingung mau memanggilnya dengan sebutan Suho-ssi, Suho saja, atau Suho oppa?

Tapi Suho bukan orang yang bodoh, yang memungkinkan dia tidak naik kelas 3 kali. Karena dari rapor yang kuterima sebelum libur musim dinginku kemarin. Suho ada di bawah Choyun, dia peringkat 2.

Tidak bisa memusingkannya lebih lama –karena memang kepalaku sudah sangat pusing sekarang. Aku hanya menyandarkan kepalaku ke pundaknya. Dan aku tahu jika sebentar lagi aku akan tertidur.

***

Aku terbangun ketika matahari sudah hampir terbenam. Mungkin sekarang sekitar pukul 5. Sepertinya festival belum berakhir karena suara orang- orang masih terus terdengar, bahkan dari ruang UKS. Tentu saja aku mengenali ruangan yang penuh tirai dan bau obat ini. Yang membuatku terkejut adalah ketika aku menoleh ke kanan aku menemukan Suho masih bersamaku, menatapku khawatir.

“Suho…” Aku tidak sengaja menggantungkan kataku, karena aku hanya sedang kebingungan memanggilnya apa. “Suho-ssi.” Akhirnya aku memilih memasang embel- embel –ssi di belakang namanya. “Kenapa kau masih disini?”

Dia tersenyum dan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. “Aku hanya menunggumu untuk hingga kau siuman. Kata Yuk Songsaengnim (Guru UKS Wanbaek) kau kelelahan, kurang tidur, dan darahmu sedang rendah. Apa kau baik- baik saja?” Aku bukannya geer, atau apapun. Tadi dari nada suaranya, dia terdengar sangat khawatir.

Aku memang memiliki darah rendah, tapi kurasa hal itu tidak parah sehingga aku sendiri bahkan tidak pernah menghawatirkannya. Tapi sepertinya itu tindakan yang salah.

Ne. Gomawo karena sudah menolongku.” Ucapku tulus sambil berusaha tersenyum.

“Kau adalah temanku, tentu saja aku harus menolongmu.” Ya, Suho memang salah satu temanku walau terkadang aku masih canggung dengannya. Apalagi jika mengingat masalah umur. Namun, aku dan dia adalah satu tim dalam regu piket. Sehingga aku cukup sering mengobrol dengannya.

Tapi, aku merasakan sesuatu yang janggal dalam kalimatnya. Seakan ada makna lain dalam kalimat itu.

“Kau harus menjaga dirimu sendiri, ne?”

Aku mengangguk. “Oh ya, satu lagi. Aku risih mendengarmu memanggil namaku dengan embel- embel ssi. Mulai sekarang tolong panggil aku Suho saja.”

“Tapi itu membuatku risih.” Ungkapku jujur.

“Ah, masalah usia yah? Kalau begitu kau mau memanggilku dengan… oppa?” Dari suaranya aku bisa mendengar ia ingin tertawa sebelum mengucapkan kata oppa.

“EH?”

Lalu aku melihat ekspresi geli muncul dari wajah tampan teman sekelasku ini. Ketika dia bisa mengontrol ekspresinya, dia berkata sambil tersenyum, “Aku ingin berteman dekat denganmu, Gaemi-ya.”

Aku baru saja ingin mengatakan, ‘Aku juga ingin mempunyai teman dekat secerdas dirimu Kim Suho’ dengan nada jahil. Namun retinaku menangkap perubahan mimik wajah Suho. Sehingga aku menelan kembali kalimatku dan menunggu Suho mengatakan sesuatu.

“Gaemi-ya, aku ingin menanyakan sesuatu.” Wajah Suho menegang saat mengatakan hal ini sehingga aku curiga akan sesuatu. Entah apa.

“Kau memang terlahir dengan marga Park, kan?”

TBC

 

Nah, bingung ga? Semoga banyak yang bingung dan jadi penasaran sama chapter selanjutnya hehehe… btw Sehun cute yah di FF ini? #pletak

COMMENT JUSEYOOOO😀

Sampai bertemu di Chapter 2…

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s