[FREELANCE] Excessive

request-spark-excessive-ver2

Title : Excessive

Author : Spark (@shazapark)

Cast(s) : Choi Sulli – f(x)& Park Chan Yeol – EXO

Other cast : Im Nana (only mentioned)

Genre  : Romance, Fluff

Rate : PG13

Length : Oneshot (3000+)

Disclaimer : GOD (The casts are belong to God, but the fic is mine. Even if this fic is so absurd, but the FF still MINE. Everything is just my imagination.)

Credit poster : Rindra (icesehun.wordpress.com)<– Invite her!

Summary  : “Nana itu wanita yang menakjubkan. Berbakat, tubuhnya tinggi, dan dia juga sangat anggun. Aish~ aku suka sekali.” –Park Chan Yeol.
Lantas apa reaksi Jin Ri ketika mendengar kalimat itu dari kekasihnya, Chan Yeol? Mari kita lihat!

© Spark . 2014

I already publish this fict in another blog with the same title and author.
No plagiarism please. If you don’t like the casts, just don’t read it. Ok?

This fict is dedicated for all Giant Babies. Hope you like it!

.

You don’t have to do this again. Because, you’re beautiful.

.

Jin Ri tersenyum puas melihat refleksi dirinya dari cermin. Ia sangat cantik hari ini, dengan balutan gaun putih yang cukup tipis, serta highheels yang baru ia pesan dari temannya.

High heels berwarna perak itu tampak begitu cantik jika merekat di telapak kaki milik Jin Ri yang putih. Heels-nya setinggi 15 cm, dan itu membuatnya jadi sulit berjalan, kuku-kukunya telah dipoles dengan cat warna, sedangkan rambut kecokelatannya ia rubah total menjadi hitam bergelombang.

Jin Ri benar-benar tampil memukau pagi ini. Bahkan ia mengenakan parfume yang sangat menyengat. Tapi, tunggu–

Sebenarnya apa yang ingin ia lakukan, sih? Sampai tampil secantik itu?
Ke pesta pernikahan? Ada acara pertunangan? Makan malam keluarga besar? Atau apa?

Hm, sebenarnya gadis ini hanya ingin berkencan dengan kekasihnya, Park Chan Yeol. Baru-baru ini ia mendengar kabar bahwa kekasihnya itu sangat mengidolakan Im Nana, salah satu personil girlband After School yang sangat cantik.

Nana itu wanita yang menakjubkan. Berbakat, tubuhnya tinggi, dan dia juga sangat anggun. Aish~ aku suka sekali.” mengingat perkataan Chan Yeol saat itu, hanya dapat membuat hatinya semakin retak.

“Maaf aku bukanlah wanita yang menakjubkan, berbakat, bertubuh tinggi, ataupun anggun.” lirihnya, hampir terdengar seperti bisikan. Gadis bermarga Choi itu meraih tas glamour yang baru saja ia dapatkan dari temannya beberapa hari yang lalu. Kemudian memutuskan untuk segera pergi keluar, Chan Yeol baru saja mengiriminya pesan singkat.

Aku di Taman Kota.

***

Chan Yeol mengerjapkan matanya berkali-kali ketika melihat sosok Jin Ri yang sedang menghampirinya. Gadis itu tampaknya kesusahan berlari, makanya ia hanya berjalan pelan. Pemuda jangkung itu merasa ada yang aneh dengan gadisnya hari ini.

Setelah gadis kesayangannya itu berdiri tepat di hadapannya, Chan Yeol segera berrtanya. “Ada apa denganmu, Sayang?” pemuda itu menyentuh wajah Jin Ri menggunakan tangan kanannya, seperti sedang memastikan bahwa saat ini Jin Ri tidak sedang terserang penyakit.

“Apanya yang ada apa?” ketus Jin Ri sembari mengusap peluh yang menetes dari pelipisnya. Chan Yeol memiringkan kepalanya heran. Untuk beberapa detik, matanya mulai menyadari bahwa hari ini Jin Ri sangat …

“Kau sangat berbeda pagi ini,” Chan Yeol terkekeh pelan, membuat Jin Ri mengerutkan kening heran.

“Apa yang kau tertawakan? Oh, kau benar. Aku memang sangat berbeda hari ini. Kau lihat? Aku cantik, bukan?” Jin Ri merentangkan kedua tangannya, seolah sedang memperlihatkan segala yang ada pada dirinya. Chan Yeol memandang gadisnya dari atas hingga bawah.

Memang benar, Jin Ri sangat cantik hari ini. Wajahnya terpoles bedak yang sedikit tebal dari biasanya, matanya terhias eyeliner hitam pekat, sedangkan bibirnya  berwarna peach. Chan Yeol yakin bibir peach itu adalah warna palsu. Seperti yang Chan Yeol ketahui, warna asli bibir Jin Ri adalah pink dan bukan peach. Dengan ini Chan Yeol membatin curiga,

Jangan-jangan Jin Ri memakai lipstik? TapiLipstik kan benda yang paling Jin Ri benci.”

“Chan Yeol-ah. Kau dengar aku tidak?” suara Jin Ri membuyarkan lamunan Chan Yeol. Pemuda dengan kemeja putih yang menutupi tubuhnya itu menoleh, dan mendapati wajah kekasihnya yang sedang cemberut.

“Ah, ya? Tadi kau bilang apa?” Chan Yeol menyahut dengan wajah bodohnya. Jin Ri mengerang frustasi. “Aku bilang, aku ingin ke Lotte World.” Mendengar permintaan kekasihnya,  Chan Yeol segera menampilkan senyum menawannya, lantas jemari rampingnya menarik lengan Jin Ri.

***

Hari sudah mulai siang, pemuda dengan marga Park itu baru saja kembali setelah membeli tiket masuk Lotte World, sedangkan Jin Ri sedari tadi menunggu Chan Yeol di pinggir trotoar.

Ketika Chan Yeol sudah mendapatkan tiket masuknya, pemuda itu mulai merajut langkah ke arah Jin Ri dengan wajah sumringah, ia berharap kekasihnya akan tersenyum setelah melihat dua tiket masuk yang mereka inginkan sejak tadi pagi. Namun Chan Yeol malah mendapati kekasihnya itu sedang berjongkok di pinggir trotoar, kepalanya ia tundukkan dalam-dalam.

Chan Yeol menatap kekasihnya khawatir. “Sayang, kau kenapa?” Chan Yeol menyimpan dua tiketnya ke dalam saku celana, kemudian ikut berjongkok di hadapan Jin Ri. Gadis itu sepertinya sedang memegangi kedua kaki. Chan Yeol mengikuti arah pandang Jin Ri.

Dilihatnya kaki putih Jin Ri yang memerah dan lecet. Chan Yeol melebarkan kedua kelopak matanya ketika melihat bahu gadis itu bergetar. Dengan gerakan cepat, pemuda itu segera menarik dagu Jin Ri, hendak melihat wajahanya.

Hati Chan Yeol mencelos, mendapati wajah sang kekasih yang basah terkena air mata. Kerumunan orang yang sedang berlalu-lalang di dekat mereka sama sekali tidak mengganggu  Chan Yeol. Justru air mata Jin Ri–lah yang membuatnya tidak tenang. Sebenarnya pemuda itu masih bingung, mengapa gadisnya menangis?

“Hiks … Aku tidak bisa berdiri, hiks … Chan Yeol-ah.” ketika menyadari bahwa seseorang yang berada di hadapannya adalah kekasihnya, Jin Ri segera memeluk leher Chan Yeol erat. Chan Yeol sedikit tidak nyaman dengan posisi mereka yang masih berjongkok sampai saat ini.

Chan Yeol mengerjapkan matanya berkali-kali ketika mendengar isakan tertahan yang berasal dari Jin Ri. Hatinya kini retak menjadi serpihan debu hanya karena mendengar isakan Jin Ri.

“Hiks … Sepatuku.” Mendengar kata itu, Chan Yeol segera mengalihkan pandangannya ke arah sepatu Jin Ri. Mata Chan Yeol melebar ketika melihat sepatu dengan heels tinggi itu seakan mengikat erat kaki putih Jin Ri.

“A–ada apa dengan sepatumu, Jin Ri?” tanya Chan Yeol dengan tergagap. Jin Ri melepas pelukannya, sedangkan isak tangisnya semakin keras. “Se–sepatuku, hiks … sempit.”

Chan Yeol membelalak ketika menyadari suatu hal. Ah, ternyata sepatu itu menyiksanya. Chan Yeol tak mau membuang-buang waktu, akhirnya dengan cekatan, pemuda itu menggendong Jin Ri di punggungnya. Hendak membawa gadis itu ke suatu tempat.

***

Chan Yeol duduk di atas sofa apartemen Jin Ri. Sekitar satu jam yang lalu, pemuda itu baru saja melihat kaki gadisnya yang dipenuhi luka merah dan lecet-lecet. Terpaksa, Chan Yeol harus mengantar gadis itu pulang ke apartemennya, karena tidak mau membuat kaki Jin Ri semakin tersiksa. Saat ini, ia sedang menunggu Jin Ri mengganti pakaian serta sepatunya di dalam kamar.

Ceklek.

Chan Yeol menatap puas ke arah Jin Ri yang baru saja keluar dari kamarnya. Gadis itu tampak lebih cantik sekarang, setidaknya itu menurut Chan Yeol. Yeah, menurut Chan Yeol. Tak ada lagi Choi Jin Ri yang lebih cantik dari sekarang. Lihatlah, saat ini wajahnya hanya terpoles bedak tipis.

Hanya bedak tipis? Of course. Tidak ada lagi yang namanya eyeliner hitam pekat dan lipstik berwarna peach, hanya ada bedak tipis yang menghiasi wajah cantiknya kali ini.
Tidak ada rambut bergelombang lagi, hanya ada rambut berwarna hitam kecokelatan khas milik Choi Jin Ri.
Tidak ada lagi high heels perak yang merekat di telapak kaki Jin Ri, hanya ada sepasang sepatu converse pemberian Chan Yeol.

Gaun putih tipis yang sebelumnya Jin Ri kenakan kini telah tergantikan oleh pakaian yang lebih simpel. Ia terlihat lebih manis saat ini. Kalian tidak akan tahu seberapa manisnya Jin Ri ketika tubuhnya dibalut dengan kaus tipis berwarna putih favoritnya. Ditambah dengan rok pendek berwarna hitam yang tampak cocok dikenakan olehnya.

Chan Yeol mengulas senyum ketika melihat Jin Ri yang sedang berjalan menghampirinya, gadis itu menyampirkan tas selempang yang –lagi-lagi– ia dapatkan dari Chan Yeol. Kemana tas glamour miliknya itu? Haih, tidak ada waktu untuk memikirkan tas mahal tersebut.

“Chan Yeol-ah, maaf kau harus menunggu.” Ujar gadis itu ketika sudah berdiri di hadapan Chan Yeol yang sedang duduk di sofa ruang tengah apartemen Jin Ri. Chan Yeol segera bangkit dari duduknya begitu melihat Jin Ri yang sudah berada di hadapannya.

Gwaenchana,” gumam Chan Yeol, namun dapat didengar oleh Jin Ri. Gadis itu sedikit mendongakkan kepalanya ketika ingin menatap wajah Chan Yeol.

“Kau terlihat lebih cantik, Jin Ri-ya.” Chan Yeol kembali berkata, diikuti oleh ulasan senyum lembut yang menghias wajah tampannya. Jin Ri kembali menundukkan kepala ketika mendengar ucapan Chan Yeol.

“Ya sudah. Ayo kita kembali ke Lotte World,” ujar Chan Yeol lagi, bermaksud untuk melanjutkan kencan mereka yang sempat tertunda satu jam.

***

Chan Yeol melirik wajah Jin Ri yang sedang memandang ke arah luar kaca gondola. Gadis itu tampak murung saat ini. Ah, lebih tepatnya … Gadis itu tampak murung setelah insiden sepatu heels yang menyiksa kakinya tadi siang itu. Dan kemurungan Jin Ri semakin menjadi, setelah Chan Yeol membawanya pulang ke rumah dan meminta gadis itu untuk berganti pakaian serta sepatu.

Chan Yeol mengusap kepalanya yang tidak gatal, kemudian membuang napas berat. Ia benar-benar bingung dengan kelakuan gadisnya hari ini. Ayolah, hari ini adalah hari kencan mereka. Chan Yeol hanya ingin bersenang-senang dengan Jin Ri.

Apa yang Chan Yeol dapatkan hari ini benar-benar membuatnya bingung setengah mati. Diawali dengan kejadian pagi ini, dimana ia menemukan sosok Jin Ri yang tampil berbeda. Terkesan lebih … elegance dari biasanya.
Kemudian siang ini ia mendapati kekasihnya yang sedang menangis dengan posisi berjongkok di pinggir trotoar sembari memegangi sepasang kakinya yang memerah dan lecet.

Lalu sekarang? Apa ia harus mendapat hal membingungkan lagi malam ini? Di kapsul gondola ini? Huft~ melihat wajah murung Jin Ri membuatnya seakan tersiksa. Sebenarnya apa yang membuat gadis itu tampak murung?

“Hey,” Chan Yeol menusuk-nusuk pipi chubby sebelah kiri milik Jin Ri dengan jari telunjuknya. Jin Ri tak menyahut, bahkan menoleh pun tidak ia lakukan. Chan Yeol menghela napasnya sejenak, kemudian kembali memanggil Jin Ri.

“Jin Ri-ya~” kali ini nada bicaranya merengek. Jin Ri akhirnya menoleh kearah sosok pemuda berwajah bayi yang sejak dulu ia cintai itu.

“Kau kenapa?” tanya Chan Yeol seraya mendaratkan telapak tangannya di atas kepala Jin Ri. Pemuda itu mengusap kepalanya lembut. Jin Ri membiarkan tangan Chan Yeol bermain-main di atas kepalanya.

“Aku …” Jin Ri hampir saja berkata, jika saja lidahnya tidak terasa kelu saat ini. Gadis bermarga Choi itu menundukan kepalanya.

“Hm?” Chan Yeol menuntut kelanjutan dari satu kata yang diucapkan Jin Ri barusan. Pemuda itu tak menghentikan kegiatannya mengusap kepala Jin Ri.

“Kenapa Chan Yeol menyuruhku untuk mengganti pakaian dan sepatu yang aku kenakan tadi siang?” pertanyaan itu meluncur begitu cepat dari mulut Jin Ri, membuat pergerakan Chan Yeol terhenti seketika. Chan Yeol mendadak bungkam.

“Kenapa? A–apakah Chan Yeol tidak suka?” tanya gadis itu lagi. Mungkin sebelumnya gadis itu bertanya dengan kepala tertunduk. Namun kali ini tidak, gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Chan Yeol dalam. Memperlihatkan mata cokelat gadis itu yang selalu tampak berbinar.

Chan Yeol mengerjap beberapa kali. Tiba-tiba saja ia sedikit paham dengan alasan dari kemurungan Jin Ri malam ini.

“Chan Yeol-ah! Jawab aku,” suara Jin Ri sepertinya telah memecah lamunan Chan Yeol. Pemuda itu kembali menatap wajah Jin Ri. Wajah murung milik Jin Ri telah memenuhi pandangannya.

“M–mwo? Apa yang kau bicarakan? Aku sangat suka dengan penampilanmu tadi pagi, Sayang.” Chan Yeol kembali pada kesadarannya. “Lalu … Kenapa kau memintaku untuk pulang ke apartemen tadi?” tanya Jin Ri lagi, seolah sedang menginterogasi.

Chan Yeol membuang napas panjang sebelum menjawab, “Aku tahu kau tersiksa.” Balas Chan Yeol singkat. Jin Ri menaikkan alisnya bingung.

“Tersiksa apa …”

“Tersiksa karena pakaianmu, make up-mu, dan yang paling membuatmu tersiksa adalah … Sepatumu bukan?” sela Chan Yeol cepat. Jin Ri mengedip satu kali ketika mendengar perkataan Chan Yeol.

“…” Jin Ri membisu seketika. Batinnya memang mengatakan ‘YA’ akan tetapi tidak mungkin ia mengatakan hal tersebut bukan?

“Bagaimana mungkin aku …” Jin Ri tidak mau melanjutkan kalimatnya ketika merasakan pergerakan tangan Chan Yeol di atas kepalanya terhenti. Gadis itu memandang Chan Yeol yang sedang berdiri, tampaknya ia tidak peduli pada fakta bahwa saat ini mereka masih berada di dalam kapsul gondola.

“Apa yang kau lakukan?” pertanyaan Jin Ri tidak digubris oleh Chan Yeol sama sekali. Pemuda itu lantas berlutut di hadapan Jin Ri, yang sampai saat ini masih dalam posisi duduk. Hal itu mengakibatkan tinggi badan mereka tampak sejajar.

“Jin Ri-ya, sebenarnya … Kenapa kau melakukan ini semua?” Chan Yeol bertanya setelah ia menggenggam erat kedua tangan Jin Ri. Jin Ri mengerucutkan bibirnya ketika mendengar pertanyaan Chan Yeol.

“Yak! Kenapa kau bertanya seperti itu?” Jin Ri menarik sebelah tangannya yang masih digenggam oleh Chan Yeol, lantas segera menoyor dahi pemuda itu. Chan Yeol terkekeh pelan menerima perlakuan gadisnya.

“Hey. Aku tanya, kenapa kau melakukan ini semua, Sayang?” Chan Yeol beralih mengusap pipi Jin Ri.

“A–aku …” Jin Ri menundukkan kepalanya, tak mampu melihat ekspresi Chan Yeol saat ini.

“Ya? Katakan saja, aku tidak akan marah kok.” Kata Chan Yeol menenangkan. Setelah mendengar perkataan Chan Yeol barusan, gadis itu segera berkata dengan suara pelan.

“Aku … Ingin seperti Im Nana,”

Penuturan singkat yang diucapkan Jin Ri sontak membuat tubuh Chan Yeol kaku. Matanya membelalak seketika. Siapa itu Im Nana? Bahkan Chan Yeol sudah lupa dengan nama itu. Otaknya berputar-putar, seakan sedang mencari-cari jawaban yang tepat. Tunggu, Im Nana itu

“Chan Yeol bilang bahwa Nana itu cantik, tinggi, dan anggun.”

Lagi. Jin Ri kembali menjelaskan. Seakan membantu Chan Yeol yang sedang mengingat-ingat siapa itu Im Nana? Kali ini Chan Yeol tidak perlu memutar otaknya lagi. Yah, ia sudah paham semuanya, betapa ia mengenal sosok gadis di hadapannya ini.

“Dan … Aku ingin mencoba menjadi seperti Im …”

Jin Ri tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, begitu merasakan pinggangnya tertarik ke depan, sedangkan dagunya bertabrakan dengan bahu lebar Chan Yeol. Jin Ri tidak menyangka kalau Chan Yeol akan memeluknya saat ini.

“Apa yang kau lakukan? Kau ingin terlihat seperti Im Nana, hm?” tanya Chan Yeol. Pemuda itu mengistirahatkan kepalanya di atas pundak Jin Ri. Gadis bermata besar itu diam, merasakan embusan napas Chan Yeol yang hangat menerpa kulit lehernya.

“Kau pikir dengan begitu aku akan semakin jatuh cinta padamu?” tanya Chan Yeol lagi. Kali ini Jin Ri merespon dengan anggukan kecil yang dapat dirasakan oleh Chan Yeol. Pemuda itu tertawa ketika mendapat jawaban dari Jin Ri.

So what? Chan Yeol bahkan harus bersusah payah memikirkan segala hal aneh yang terjadi pada gadisnya hari ini. Kembali ditekankan, keanehan pada hari iniyeah, sejak pagi tadi hingga malam ini. Well, semua keanehan itu tampaknya sudah terjawab sekarang.

Perlahan, Chan Yeol melepaskan pelukannya. Dan beralih menatap mata Jin Ri lekat-lekat. “Kau tahu … Apa yang membuatku jatuh cinta padamu, hm?” tanya Chan Yeol seraya menyelipkan jalinan rambut Jin Ri ke belakang telinga gadis itu. Jin Ri menggelengakan kepalanya sebagai respon.

Chan Yeol tersenyum kecil sebelum melanjutkan aktivitasnya. Jin Ri refleks memejamkan matanya ketika merasakan jemari ramping Chan Yeol menyentuh kelopak matanya.

“Mata ini … Selalu berbinar terang ketika melihat wajahku.” Chan Yeol kembali memulai perkataannya. Meski sebenarnya ia sedikit tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Ayolah, siapa yang akan merasa nyaman jika kau berada di posisi Chan Yeol? Berlutut di hadapan sang kekasih mungkin merupakan posisi paling romantis yang pernah ada. But

Can you imagine it? Berlutut di dalam kapsul gondola yang sedang bergerak bukanlah hal yang menyenangkan bagi Park Chan Yeol, oke?

“Pipi ini,” Chan Yeol membawa tangan kanannya menuju pipi kiri Jin Ri. Diusapnya pipi milik kekasihnya itu perlahan. “Pipi ini sering memerah sendiri. Dan itu benar-benar manis menurutku.” Sambung Chan Yeol dengan senyum cerah.

Jin Ri tiba-tiba saja menundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan Chan Yeol. Sedangkan Chan Yeol tertawa keras melihat rona merah yang memenuhi pipi Jin Ri. Seperti yang Chan Yeol bilang, bukan? Jin Ri memang sangat manis ketika sedang merona.

“Oh, dan apa lagi? Selain mata dan pipi? Ah~ aku hampir lupa! Tanganmu.” Chan Yeol memekik riang seraya menyatukan jemarinya dengan jemari ramping milik Jin Ri. “Tanganmu itu kecil, dan ukurannya jadi terasa sangat … pas di tanganku.” Tutur Chan Yeol menatap lekat tautan tangan mereka.

Jin Ri sadar, sejak tadi ia hanya dapat terdiam mendengarkan setiap kata yang dilontarkan oleh kekasihnya.

“Apa lagi, ya? Huft~ aku bingung, Sayang.” Chan Yeol bangkit dari posisinya, kemudian kembali ke tempat semula, duduk di sebelah Jin Ri. “Masih terlalu banyak yang aku suka dari Jin Ri. Kau tahu … Jin Ri tak memerlukan barang-barang mewah untuk mempercantik wajah ataupun gayanya.” Pemuda itu menatap ke arah luar jendela dalam kapsul gondola. Langit kota Seoul tampak indah dihias dengan sinar bintang. “Karena … Ia sudah lebih dari cantik ketika mengenakan pakaian casual, bedak, sepatu converse dan tas selempang.” Chan Yeol melanjutkan kalimatnya. “Ia sudah lebih cantik seperti itu. Sebagai Choi Jin Ri yang sebenarnya.”

“Chan Yeol.” Jin Ri memanggil nama kekasihnya setelah menaruh kepala di atas bahu pemuda tersebut. Chan Yeol menggumam kecil untuk menjawab panggilan Jin Ri.

“Maafkan aku karena sudah bertele-tele. Ah, aku lebih dari sekedar bertele-tele, tapi juga berlebih-lebihan. Maafkan aku.” gadis itu memejamkan matanya yang terasa berat. Chan Yeol melirik Jin Ri sebentar, kemudian mengulas senyum terbaiknya.

“Kau tidak salah, Sayang. Maafkan aku karena tidak mau menghargai kerja kerasmu.” Chan Yeol merangkul pundak Jin Ri ketika merasakan tangan gadis itu mulai melingkari pinggangnya.

Kekehan kecil meluncur dari mulut Jin Ri. Gadis itu membuka kelopak mata, dan segera mengarahkan lensa matanya ke luar jendela. “Aku bersumpah tidak akan berlebih-lebihan lagi setelah ini.” Jin Ri mengangkat sebelah tangannya, seolah sedang bersumpah.

Chan Yeol mengerjapkan matanya melihat sumpah dari sang kekasih. “Kau benar-benar bersumpah? Apa nanti saat kita menikah kau tidak mau mengenakan gaun, heels, dan make up? Lalu kau mau menikah dengan pakaian biasa, begitu?”

Mendengar pertanyaan beruntun dari Chan Yeol membuat Jin Ri mengerucutkan bibir. “Tadi katanya aku tidak memerlukan barang-barang mewah untuk …”

“Iya, Sayang. Tapi bukan berarti kau tidak boleh menggunakannya. Aku hanya bilang tidak perlu.” Sela Chan Yeol tanpa melepas rangkulannya di pundak Jin Ri. Gadis itu juga tampak enggan mengangkat kepalanya dari bahu Chan Yeol.

“Berarti kalau kita menikah, aku akan mengenakan heels lagi?” tiba-tiba Jin Ri bertanya dengan mata berbinar. Chan Yeol menggelengkan kepalanya menghadapi sifat labil Jin Ri.

Ne. Tapi pilihlah sepatu yang ukurannya pas, oke? Jangan sampai kesempitan lagi.” Chan Yeol mengingatkan seolah-olah pernikahan itu akan dilaksanakan lusa.

Jin Ri mengangguk riang. Semua beban, kemurungan, dan segala hal yang mengganjal hatinya kini sudah menguap entah kemana. Chan Yeol akan selalu membuatnya riang. Ia tahu itu.

Lewat kejadian ini … Jin Ri mendapat banyak pelajaran. Sangat banyak, bahkan sampai ia bingung harus memulai dari mana. Satu yang pasti selalu ia ingat adalah.

Sosok Park Chan Yeol selalu mencintai dirinya yang sebenarnya. Park Chan Yeol selalu mencintai Jin Ri sepenuh hati. Mengingat fakta ini hanya dapat membuat Jin Ri tersenyum. Ia tak dapat menggambarkan betapa bahagianya memiliki kekasih seperti Park Chan Yeol.

END

***

[A/N] : Hanya ingin meminta maaf apabila FF-nya sangat absurd dan jelek. Aku buatnya ekstra ngebut dan gak mikirin konfliknya. Yang penting ChanLi aja, pasti selalu jadi. Yaaa, meski jadinya aneh sih. Tapi biarin deh. Silakan komen jika berkenan ^^
Giant Babies, Shaza – Spark

 

 

4 thoughts on “[FREELANCE] Excessive

  1. disini ga ada konflik.. eh? ada deh, tapi konfliknya masih tahap ringan, hehe
    yups, chanyeol is so cute and sweet~ n,n
    bahasanya rapi, enak dibacanya🙂
    yasehunlah, see you in the other story~~ ^^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s