Beauty & Beast – Chapter 15 [Final Chapter]

12345678932

Beauty & Beast – Chapter 15 [Final Chapter]

Author: Choi Seung Jin @kissthedeer

Genre: Fantasy, Historical, Supernatural, OOC, AU

Leght: Chaptered

Main Cast:

EXO in English Name

Other Cast:

Minho of SHINee as Minho

Sulli of f(x) as Sulli

Henry as Henry

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Black Pearl | Chapter 12 | Chapter 13 | Chapter 14

Keterangan:

[Bold+Italic = bagian rencana sekaligus flashback]

****

Minho berdiri di tengah lahan lapang yang sangat luas di hutan. Dengan semua pasukannya yang telah siap diposisi mereka, menunggu saat-saat dimana para manusia serigala itu muncul di medan perang. Mungkin rencana pertamanya gagal, namun dia tidak akan membiarkan rencana-rencananya yang lain juga gagal. Dia harus mendapatkan apa yang dia mau hari ini juga karena dia yakin para Wolf Boys itu tidak bisa melawannya.

“Kepala sekolah mereka sudah mati. Apalagi yang mereka tunggu,” gumam Minho.

Semakin lama, semakin terasa sepi. Tak terdengar lagi suara-suara binatang hutan yang biasa memenuhi gendang telinga. Perang benar-benar akan dimulai tak lama lagi. Perang antara vampire dan werewolf yang terkenal epic dalam setiap dongeng lokal yang selalu dibaca.

“Jadi begini rencananya. Kita akan membuat serangan secara tak langsung. Kita hindari dulu kontak secara langsung. Kita tidak akan memakai strategi dari Paman George untuk permulaan,” kata Kevin. “Alex, apa kau bisa memproyeksikan kekuatanmu?”

“I think so,” jawab Alex yakin.

“Good. Kita juga butuh kekuatan petir Donald. Kita akan kirim mereka petir. Petir yang besar!”

Minho masih menunggu tanpa sedikitpun rasa bosan. Menunggu berberapa menit saja akan tergantikan dengan sejuta tahun memiliki kekuatan besar. Keinginannya memiliki 12 kekuatan terbesar di bumi ini sangat besar hingga dia tidak dapat menahan dirinya sendiri. Namun dia harus sedikit bersabar.

.

.

DUAAR!!

.

.

Petir besar muncul tiba-tiba dan menyambar berberapa vampire. Hal itu membuat Minho tersadar dari lamunannya dan terkejut bukan main. Perang sudah dimulai! Mata vampire Minho mencoba mencari asal dari petir besar barusan. Namun dia tidak menemukan apapun selain pepohonan besar yang mengelilingi lapang luas itu.

.

.

DUAAR!!

.

.

Serangan kedua! Minho mulai geram dengan serangan tak bertuan yang sudah dua kali menyerang pasukannya. Dia berusaha mencari dengan teliti kesetiap sudut hutan yang bisa ia jangkau dengan penglihatan vampirenya yang super. Lagi-lagi dia tidak menemukan apa-apa.

Tak kehabisan akal, Minho menggunakan sihirnya dengan sekali lambaian yang meluas yang mampu dijangkaunya. Dan sesuai dengan prediksinya, dia menemukan sebuah portal teleportasi yang tak bisa dilihat oleh mata biasa.

Licik, batin Minho dengan senyum sinis menatap portal itu.

“Bagaimana Minho menyadari kita menggunakan proyeksi portal teleportasi?” tanya Richard ragu.

“Jika Minho tahu dan sampai menyuruh pasukannya melewati portal itu, Alex akan mengubah arah teleportasinya tepat di atas mereka,” ujar Kevin.

“Maksudmu diatas mereka itu kau akan menjatuhkan mereka dari ketinggian bermeter-meter dengan cara menteleportasikan mereka?” tanya Will yang mulai menangkap maksud dari rencana Kevin.

“Tepat sekali!”

Minho menggerakkan tangannya ke arah portal sebagai signal kepada pasukan untuk pergi melewati portal itu, maka 5 dari mereka pergi melewati portal itu. Satu-persatu vampire itu hilang saat memasuki portal itu. Namun tak lama kemudian terdengar teriakkan dari atas yang membuat Minho menengol ke atas kepalanya. Kelima anggota pasukannya jatuh dari ketinggian sekitar 100 meter.

Minho menyadari portal itu hanya jebakan dan hal itu membuat marah. Bisa-bisanya dia dipermainkan oleh bocah 17 tahun dengan mudah dan konyol. No more play, kids!

“Karena aku yakin Minho pasti akan marah besar saat tahu kita pemainkan, saat itu kita mulai menyerah. Kita akan menggunakan strategi Paman George untuk meletakkan kekuatan terkuat di garis depan,” kata Kevin.

“Is that mean aku yang pertama maju?” tanya Richard.

“Yeah!” ucap Kevin semangat. “Setelah itu kita semua akan menyerang.”

“Let’s burn them!”

Secara serentak, 11 serigala raksasa berteleportasi dan muncul ditengah-tengah medan perang. Mereka berlari dan menyerang dengan dipimpin oleh The Hell Wolf yang sudah diselimuti oleh api yang sangat panas. Dalam waktu yang hampir bersamaan, pasukan vampire juga menyerang sehingga terjadi sebuah pertarungan.

Richard menghantam setiap vampire yang menyerangnya dan membakar mereka hidup-hidup. Donald dan Thomas segera melanjutkan penyerangan Richard dengan menghancurkan vampire yang sudah terbakar. Sesuai dengan rencana, banyak vampire yang berhasil dilumpuhkan.

Minho mulai murka. Dia menyuruh Henry—orang yang paling ia percaya—untuk menangani para serigala. Banyak dari rencananya yang gagal total. Mungkin dia memang masih punya berberapa rencana cadangan yang pasti akan sangat berguna untukya.

Henry berhadapan langsung dengan Bernard dan Francis. Dua lawan satu. Seharusnya mudah bagi kedua serigala itu untuk mengalahkan Henry yang hanya sendiri. Namun jika mereka berpikir begitu, mereka salah.

Bernard menerkam Henry dengan sekali lompatan, namun Henry berhasil menghindar dari serangan mematika itu. Memanfaatkan kelengahan Henry, Francisn melanjutkan serangan dengan menerkam lagi. Henry terjatuh dengan seekor serigala raksasa putih diatasnya yang siap mencabik-cabiknya dengan taringnya yang tajam. Dengan segala kekuatannya, Henry berusaha menahan rahang besar itu supaya tidak menghancurkan tubuhnya.

Henry berusaha mencari cara supaya terlepas dari amukan serigala Francis. Dengan sekali pukulan keras, Henry berhasil mengenai wajah serigala itu hingga Francis terpental dan terseret selama berberapa meter. Melihat temannya berhasil dibuat tumbang, Bernard ingin membalas serangan pada Henry. Cakarnya yang besar mampu membalas pukulan dan bekar cakar yang cukup besar pada tubuh Henry.

Tidak berakhir sampai disitu. Henry kembali melayangkan pukulan  full power pada tubuh Bernard. Pukulan itu sangat keras hingga membuat Bernard terpental dan tumbang seketika. Rasa sakit menyerangnya akibat pukulan vampire yang diterimanya. Tak bisa dibayangkan seberapa besar kekuatan yang dipakai Henry hinnga membuatnya lawannya kalah mutlak seperti itu.

Edison adalah orang pertama yang menyadari bahwa dua dari temannya telah tumbang. Kesempatan itu akan dipakai Minho untuk mengambil kekuatan mereka dan Edison tidak bisa membiarkan itu. Dia berlari sangat cepat ke arah Henry—yang terlihat ingin menyerahkan Bernard dan Francis kepada Minho. Dalam berberapa langkah Edison melompat dan langsung kembali ke wujudnya yang semula—manusia. Ditangannya muncul sebuah pedang yang merupakan miliknya. Edison mendarat dengan pedangnya yang telah menancap lurus pada jantung Henry dan dengan sekali gerakan, Edison menarik keluar pedangnya.

Seketika Henry hancur menjadi abu sebelum dia sendiri menyadari bahwa dia telah musnah dengan pedang yang telah dicampur dengan perak itu. Henry telah mati dan melihat itu, Minho sangat murka karena orang kepercayaan telah musnah ditangan musuhnya. Dia maju untuk menyerang Edison. Edison yang tahu didepannya berlari seorang vampire berkekuatan sihir, melemparkan lurus pedanganya ke arah dada Minho dan berharap bahwa lemparannya akan tepat sasaran. Namun Minho dengan cepat menghindar dan berlari semakin cepat ke arah Edison.

Serigala Mike menabrak tubuh Minho tepat saat jarak pria itu hanya berberapa meter lagi dari Edison. Minho terseret cukup jauh bersama dengan Mike. Sebelum Minho bangun, Mike menggunakan kekuatannya untuk membekukan tanah yang berada di sekitar Minho yang juga ikut membekukannya. Kaki Minho tak bisa digerakkan akibat membeku bersama tanah yang ikut membeku. Hal itu dimanfaatkan Mike untuk kembali menyerang. Namun sebelum Mike mencapai Minho, 2 vampire menangkap tubuh besar Mike—mencoba melindungi Minho.

Kekuatan vampire yang besar berhasil membuat Mike tidak bisa berbuat banyak saat tubuhnya ditahan diatas tanah hutan yang lembab. Seberapa besar usaha Mike untuk lepas, namun semuanya hanya sia-sia saja. Kevin berusaha membantu dengan menyingkirkan dua vampire yang terus mengunci Mike supaya tetap berada diatas tanah. Kali ini Mike berhasil lepas dan terjadi pertarungan dua lawan dua.

Dengan sekali gerakan, Kevin berhasil menjatuhkan lawannya dan mengunci kepalanya dengan rahangnya yang besar. Vampire itu berusaha menyingkirkan gigi-gigi Kevin yang telah mengelilingi lehernya, tapi sama sekali tidak berhasil. Dalam waktu yang singkat—berkat kekuatannya yang kuat luar biasa—vampire yang menjadi lawan bertempur Kevin telah kehilangan kepalanya. Vampire itu mati seperti boneka tanpa kepala akibat keganasan Kevin.

Mike dengan ganasnya mencabik-cabik tubuh vampire yang dilawannya hingga hancur seperti mencabik-cabik daging sapi. Vampire itu mati tanpa sempat melakukan serangan satupun pada Mike karena tubuhnya sekarang sudah menjadi oyakan daging yang menjijikan.

Edison kembali mengalihkan perhatiannya pada dua temannya—yang sekarang sudah berubah menjadi wujud asli mereka, manusia—terkapar di atas tanah. Dia panik karena melihat Bernard dan Francis yang terluka cukup parah akibat melawan Henry tadi. Dia harus melakukan sesuatu karena jika dibiarkan Minho akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil kekuatan Bernard dan Francis.

“WILL!!” Edison berteriak ke arah seekor serigala coklat yang sedang bertarung melawan dua vampire sekaligus.

Will berlari mengabaikan dua vampire yang sedang ia lawan—yang kemudian dilawan oleh Richard sebagai pengganti—menuju Edison, orang yang telah memanggil namanya. Dia berubah ke wujud manusianya, mengambil botol berisi ramuan ajaib pemberian Pak Jim dari dalam satu jaketnya.

“Cepat! Bantu mereka!” kata Edison dalam kepanikan.

Will menuangkan dua tetes ramuan itu ke dalam masing-masing mulut Bernard dan Francis. Dia juga menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan dua dalam mereka untuk mempercepat pemulihan.

“Beres,” ucap Will.

“Thanks!” kata Edison. Will mengangguk dan pergi untuk kembali ke medan perang dengan berubah menjadi wujud serigalanya lagi.

Bernard dan Francis mencoba berdiri saat mereka merasa badan mereka benar-benar sudah pulih. Mereka langsung bergabung kembali untuk melawan vampire-vampire itu yang kemudian diikuti oleh Edison juga kembali masuk ke medan perang tanpa merubah wujudnya. Dia mengandalkan pedangnya yang terbuat dari campuran perak untuk melawan musuh-musuhnya.

Jumlah vampire yang dilawan oleh kesebelas Wolf Boys lama kelamaan berkurang. Namun sialnya, sekawanan vampire datang dan menambah kembali jumlah vampire yang ikut bertarung yang jumlahnya hampir 2 kali lipat dari jumlah pasukan pertama. Pasukan itu datang menyerbu sebelas serigala yang sedang bertarung. Keadaan ini semakin menyusahkan karena Minho ternyata telah meyiapkan pasukan tambahan untuk melawan para Wolf Boys.

Richard mulai kewalahan dengan vampire-vampire yang dilawannya. Meskipun seluruh tubuhnya sudah diselimuti oleh api yang panas, tapi jumlah vampire yang dilawannya terlalu banyak. Begitu pula Donald dan Stephan yang kekuatannya tidak bisa berpengaruh banyak dengan jumlah vampire yang mereka lawan. Posisi mereka mulai terdesak.

Thomas melihat kesepuluh temannya mulai terpojok. Richard yang dimana apinya telah padam—tak bisa melakukan apa-apa saat 4 vampire memegangi tubuhnya. Dia juga melihat berberapa vampire mencoba mengendalikan Kevin yang mulai mengamuk. Thomas mulai geram dan marah saat teman-temannya sudah tidak berdaya. Tanpa pikir panjang, Thomas kembali ke bentuk manusia. Dengan seluruh kekuatannya, dia memukul permukaan tanah sekuat-kuatnya.

Tanah berguncang seperti ada gempa besar. Retakan besar tebentuk panjang diatas tanah hutan. Tanah terbelah menjadi dua, membentuk lubang besar yang menganga lebar dengan larva panas didasarnya. Sebuah lubang maut tercipta hanya dalam hitungan detik saja berkat kekuatan Thomas yang luar biasa besar. Dan kemudia Thomas menangkap seorang vampire didekatnya dan melempar vampire itu denga sekali tarikan ke dalam lubang mematikan itu. Maka vampire itu akan mati dalam nereka dunia buatan Thomas.

Berberapa vampire terjatuh ke dalam lubang itu akibat guncangan pertama tadi dan mengurangi jumlah vampire hingga hampir setengahnya. Mereka mati seketika dan meleh dalam larva yang sangat panas. Kesempatan untuk melawan kembali terbuka bagi para Wolf Boys.

Donald meraih vampire yang daritadi menyerangnya dengan rahang besarnya. Dia melempar vampire itu ke dalam lubang. Hal itu membuat Wolf Boys lain melakukan hal yang sama dengan melempar vampire-vampire masuk lubang dengan dasar larva yang panas. Meskipun tidak semua vampire bisa mereka lempar ke dalam lubang, tapi setidaknya dengan begitu jumlah vampire tidak akan sebanyak tadi dan akan mudah untuk melawannya.

Alex kini mulai terdesak meski jumlah vampire yang dilawannya tidak sebanyak sebelumnya. Vampire-vampire itu terus memegangi tubuh Alex sekuat apapun Alex melawan. Pada awalnya dia berpikir untuk menjatuhkan semua vampire yang dilawannya ke dalam lubang seperti yang dilakukan oleh teman-temannya yang lain. Namun akan sulit jika vampire-vampire itu terus menahan tubuhnya. Dia berusaha berpikir dan mendapati bahwa hanya ada satu cara untuk melakukan hal itu.

Alex berjalan dengan vampire-vampire yang masih memegangi tubuhnya. Dia mendorong vampire-vampire itu menuju lubang kematian yang menganga lebar di depannya. Dengan tenaganya, dia membawa semua vampire yang menahan tubuhnya menuju kematian mereka. Dan pada akhirnya, Alex melompat masuk ke dalam lubang bersama semua vampire yang bersamanya.

“ALEEEEEX!!!!” teriak Thomas yang melihat kejadian itu. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sahabatnya melakukan tindakkan gila dengan mengorbankan dirinya sendiri. Tindakan yang sunggup diluar akal sehat dan membuat Thomas shock berat.

“Aku tidak akan segila itu.”

Thomas berbalik dan melihat Alex berdiri dibelakangnya. Dengan smirk andalannya, dia berhasil mengejutkan sahabatnya yang menyangka bahwa dia telah mati. Alex berteleportasi  tepat sebelum tubuhnya masuk ke dalam larva yang panas. Dia memang sudah berencana melakukan itu. Tapi dia tidak menyangka kalau akan ada orang yang panik setengah mati melihat aksinya.

“YOU’RE CRAZY!!” hardik Thomas marah.

“Yeah! I am crazy enough,” kata Alex santai. “Show must go on. Come on!”

Alex dan Thomas kembali merubah dirinya menjadi seekor serigala. Kembali ke pertarungan melawan vampire-vampire yang tersisa. Mengurangi jumlah vampire atau bahkan mengahabisi mereka semua akan mempermudah para Wolf Boys untuk melawan Minho pada akhirya.

Minho sendiri masih terjebak dengan kaki yang membeku—melihat pasukannya yang tadinya memimpin peperangan—mulai mengalami pengurangan akibat lubang besar yang terbentuk oleh Thomas. Dengan kekuatannya, dia berusaha melelehkan es yang menjebaknya.

Minho geram dan murka karena pasukkannya hampir mengalami kekalahan. Apa yang terjadi benar-benar berbeda dengan apa yang dia rencanakan. Kejadiannya benar-benar diluar perkiraanya. Pasukannya kini hanya tersisa kurang dari 50 orang. Jika keadaan ini terus dibiarkan, Minho akan kalah dan dia tidak akan mendapat apa-apa. Minho pun tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Dia berpikir, ini saatnya dia menggunakan rencana cadangannya. Meskipun terkesan lemah dan membuat dirinya terlihat seperti seorang pengecut, tapi demi keinginannya yang besar dia akan menggunkan rencana itu.

Edison masih tahan dengan wujud manusianya dan bertarung dengan pedangnya meski sebenarnya dengan cara itu akan sedikit lebih sulit daripada bertarung dengan wujud serigala. Tapi sepertinya Edison lebih menikmati posisinya yang seperti ini.

Di sisi lain, Kevin lebih memilih untuk membantu teman-temannya yang mengalami kesusahan saat melawan vampire daripada melawan vampire dalam pertarungannya sendiri. Tanpa kekuatan flight, tenaga yang dimilikinya hanya berarti sebagai tenaga bantuan. Maka dia lebih baik membantu dari pada melawan vampire sendiri.

“STOP!!”

Seseorang berteriak dan memerintahkan untuk menghentikan pertarungan yang sedang terjadi, maka semuanya berhenti seketika melakukan apa yang sedang mereka lakukan.

Minho berdiri, memegangi seorang perempuan bersama Sulli disebelahnya. Perempuan yang sudah ditawan Minho selama 2 minggu lebih yang merupakan salah satu bagian dari rencana Minho untuk mendapatkan apa yang ia mau. Wajah perempuan itu terlihat sembab karena sering menangis. Perempuan itu tak tahu apa-apa saat dia pertama kali ditangkap Minho sampai sekarang dimana dia berdiri diantara dua vampire yang sudah menahannya dan pemandangan medan pertempuran antara vampire dan 11 serigala raksasa.

Kesebelas Wolf Boys tercengang melihat siapa yang dibawa Minho. Mereka diam membeku saat mereka mengenali wajah perempuan itu. Mereka juga bingung bagaimana perempuan itu bisa terlibat sejauh ini yang bahkan perempuan itu sendiri tidak tahu apa-apa. Mereka semua kaget saat menyadari kalau Minho akan menggunakan perempuan itu sebagai taruhan, terutama Kevin.

Kevin yang semula berwujud serigala putih beruuran raksasa berubah ke tubuh aslinya sebagai manusia. Dia shock bukan main, menyadari perempuan yang selama ini menghilang ternyata disandera oleh Minho. Terlebih posisi perempua itu kini terancam nyawanya.

“Jessica?” ucap Kevin menyebut nama Jessica.

“Kevin.. Tolong aku.” Jessica menangis meminta pertolongan.

“LEPASKAN DIA!!” teriak Kevin.

Minho tersenyum sinis. Dugaannya tepat, tak meleset sedikitpun. Menahan pacar salah satu dari Wolf Boys memanglah tindakkan yang tepat. Dia berasa beruntung karena sempat memikirkan rencan ini jauh-jauh hari.

“Jika kau mau pacarmu ini selamat, kau dan teman-temanmu harus menyerah dan memberikan kekuatan kalian secara suka rela. Karena kalau tidak…” kata Minho mengancam.

“Dia akan jadi makan malamku,” ucap Sulli melanjutkan.

BRENGSEK KAU!” Kevin sudah tak tahan ingin mengoyak-ngoyak tubuh Minho jika Francis dam Will tidak menahannya. Dia geram jika Minho sudah main curang seperti ini. “JIKA KAU BERANI MELUKAINYA, AKAN KUHANCURKAN DAGINGMU!”

“Jika kau tidak menyerahkan kekuatanmu, justru pacarmu ini yang akan kuhancurkan dagingnya!” balas Minho menambah ancamannya.

“Kevin…” panggil Jessica memelas.

Kevin sudah tidak tahan lagi. Bisa-bisanya Minho menawan Jessica untuk mendapatkan kekuatan para Mortem. Sudah dia duga kejadian seperti ini akan terjadi. Seharusnya dia tidak pernah mendekati Jessica jika tahu kalau dia sendiri membahayakan nyawa perempuan yang ia cintai. Dan sekarang nyawa Jessica yang jadi taruhannya.

“Tidak ada yang bisa kalian lakukan sekarang. Kepala sekolah kalian sudah mati. Tidak ada yang akan membantu kalian,” kata Minho. “Menyerahlah!”

Wolf Boys terkejut saat tahu Pak Jim sudah tidak ada. Pastilah Minho yang membunuhnya. Hari itu benar-benar hari terakhir para Wolf Boys melihat Pak Jim dan ucapannya adalah kata-kata terakhir yang bisa mereka dengar. Mereka benar-benar terpojok kali ini, tidak bisa berbuat apa-apa.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Francis.

“Kita lakukan sesuai rencana kita,” jawab Kevin.

“Kita harus membuat rencana jika kita gagal dan terpojok. Misalnya kita sudah tidak bisa melawan lagi dan Minho menyuruh kita untuk meyerahkan kekuatan kita satu-persatu, maka aku adalah orang pertama yang akan meyerah pada Minho,” ujar Kevin.

Kevin berjalan perlahan dan tetap waspada ke arah Minho dan Sulli yang masih menaha Jessica. Kevin memberikan tatapan yang memberitahukan bahwa semua akan baik-baik saja pada Jessica. Dia bisa melihat air mata mengalir di pipi gadis itu dan itu membuatnya sakit didalam hatinya.

“Jika aku memberikan kekuatanku, bersumpah lah kau akan melepaskannya,” kata Kevin dengan tatapan penuh benci pada Minho.

“You have my word,” ucap Minho singkat. “Give me your hand!”

Kevin mengulurkan tangan kirinyanya ke arah Minho dan dan tangan kanannya ke arah Jessica. Jessica menyambut tangan itu dan menggenggamnya erat sambil berharap semua akan baik-baik saja. Mereka saling berpegangan tangan, mencoba menguatkan satu sama lain disaat yang menegangkan ini.

Minho bisa tersenyum puas penuh kemenangan sekarang karena 1 dari 12 kekuatan akan menjadi miliknya. Setelah mendapatkan 1 kekuatan, akan mudah untuk Minho mendapatkan 11 kekuatan yang lainnya dan kemenangan akan ada ditangannya.

Minho meraih pergelangan tangan Kevin dan mencoba mengambil kekuatan Kevin. Pegangan Kevin dan Jessica semakin kuat saat Minho menggunakan kekuatannya untuk menyerap kekuatan Kevin. Minho telah mengalirkan sihirnya supaya kekuatan Kevin berpindah padanya.

Namun, tidak terjadi apa-apa. Minho tidak merasakan ada kekuatan yang berpindah padanya.

“Satu-satunya orang yang tidak punya kekuatan adalah aku. Jadi saat Minho berpikir ingin mengambil kekuatanku, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa.”

“Kenapa? Bingung?” ucap Kevin melihat wajah Minho yang kebingungan setengah mati. “Kau tidak akan mendapatkan kekuatan apapun karena aku sudah tidak punya kekuatan lagi.”

Kevin menarik tangan Jessica kuat sehingga pegangan Sulli terlepas begitu saja dari Jessica. Dia menangkap Jessica kedalam pelukannya saat Alex muncul dengan teleportasinya tepat dibelakang Kevin. Alex membawa Kevin dan Jessica pergi dari hadapan Minho dengan teleportasi sebelum Minho sadar.

Pertempuran kembali berlanjut tepat saat Kevin, Jessica dan Alex menghilang dari tempat mereka. Kemurkaan Minho sudah berada dipuncaknya. Untuk sekali lagi rencananya gagal total. Jessica yang seharusnya bisa jadi jaminan untuk semua kekuaan itu sudah berhasil direbut kembali oleh Kevin.

Bagaimana bisa dia tidak memiliki kekuatan lagi? Batin Minho bertanya-tanya.

Kalau sudah begini, Minho harus turun tangan sendiri menggunakan black magic yang dimilikinya. Jika semua rencana tak ada yang berhasil satupun, kekuatannya haruslah berhasil. Tidak akan tanggung-tanggung. Dia akan membunuh serigala-serigala itu saat dia berhasil mengambil kekuatan mereka.

****

Alex membawa Kevin dan Jessica jauh dari medan pertarungan. Tepatnya didekat pintu masuk menuju desa Frankswood, berniat menjauhkan Jessica dari bahaya Minho dan pertarungan mematikan yang sekarang masih berlangsung.

“Kau sudah tahu, kan sekarang,” kata Kevin. “Ini alasannya aku berusaha menjauhkan mu dariku. Maafkan aku.”

“Seharusnya kau cerita dari awal. Sekarang aku mengerti,” kata Jessica. “Kau tak perlu lagi menghindar dariku, Kevin.”

“Tidak!” Seru Kevin membantah kata-kata Jessica. “Jangan pernah berada didekatku lagi! Demi kebaikanmu! Maafkan aku soal perlakuan kasarku waktu itu. Tapi kita tidak bisa bersama lagi. Aku ini monster!”

“Bukankah sudah jelas? Cinta tidak memandang keadaan. Biarpun kau seorang monster mengerikan yang kejam sekalipun, aku tetap mencintaimu,” ujar Jessica tulus. Rasa cinta mereka berdua sangat besar seperti tak terpisahkan oleh keadaan. “Jadi kumohon jangan menyuruh ku untuk menjauh dari mu. Karena aku tidak bisa.”

Mereka saling menatap satu sama lain dalam. Kedua mata Jessica yang berkaca-kaca membuat Kevin terpaku diam tanpa bisa berkata apapun lagi. Ikatan kuat mereka berdua tidak bisa terputus begitu saja.

“Maaf…” Kata Kevin menundukkan kepala yang tak bisa terus menatap gadis yang berdiri dihadapannya. “Maaf membuatmu terlibat dan membuatmu dalam bahaya.”

Jessica memberanikan dirinya menyentuh pipi dingin Kevin. “Aku justru berterima kasih. Kau mau mengorbankan dirimu untukku.”

Kevin meraih tangan kecil Jessica yang masih berada diatas pipinya. “Pulang lah ke rumahmu. Orang tuamu pasti khawatir.”

Kevin melepas tangan Jessica perlahan dan melangkah pergi sebelum Jessica menarik lengan besar miliknya. Berat baginya untuk meninggalkan gadis yang ia cintai untuk kedua kalinya. Dia tahu ini yang terbaik untuk Jessica, namun hati gadis itu tetap akan terluka karenanya.

“Sorry.” Kata-kata itu yang bisa Kevin ucapkan untuk terakhir kalinya. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Jessica yang sudah meneteskan air matanya dan kemudian menghilang bersama Alex berteleportasi.

Jessica sadar Kevin sudah menghilang dari hadapanya dan dia juga sadar kalau Kevin kembali ke dalam pertarungan mematikan yang bisa saja membunuh pria itu. Tanpa berpikir dua kali, Jessica melangkahkan kaki-kakinya kembali masuk ke hutan. Berlari secepat yang ia bisa untuk kembali pada Kevin.

Karena dia takut…

Takut kalau saat itu adalah saat terakhir kalinya ia melihat Kevin.

****

Pertempuran terus berlangsung. Tidak ada lagi rencana dari kedua belah pihak. Hanya pertumpahan darah yang bisa menyelesaikan pertarungan ini. Tinggal menentukkan siapa yang akan mati dan siapa yang akan bertahan.

Edison telah berubah menjadi serigala hitam raksasa yang buas untuk menghabisi semua vampire yang ada dihadapannya. Dia telah berpikir dengan cara ini akan lebih efektif ketimbang hanya dengan pedang. Sudah banyak vampire yang mati ditangannya, tapi dia belum puas sampai dia benar-benar menang.

Sampai Edison harus menghadapi Sulli. Vampire itu berdiri berberapa meter didepan Edison. Seakan enggan melawan Edison, Sulli sama sekali tidak bergerak padahal Edison sudah berberapa kali menggong-gong padanya. What’s wrong with this vampire?

“Blackhowl,” kata Sulli.

Cinta lama yang terlarang terungkit lagi disini, melibatkan Edison yang hanya menjadi perantara. Kisah cinta kuno yang tak akan pernah berakhir bahagia kembali berlanjut dan terjadi secara dramatis sekarang. Sepasang kekasih terlarang yang berada disisi yang berbeda, jahat dan baik, saling bermusuhan dan akan saling membunuh. Namun lagi-lagi ini cinta. Cinta tak bisa saling menyakiti apapun keadaannya.

Kevin melompat diantara Sulli dan Edison dalam wujudnya yang mirip atau bahkan memang milik Fleur. Kevin menggeram ganas pada Sulli, menunjukkan seluruh gigi-gigi tajamnya yang bisa dengan mudah mengoyak-oyak daging. Ekspresi muak tergambar pada wajah Sulli melihat sosok yang ia ingat pernah menghancurkan hidupnya berada didepannya dalam satu pertarungan.

“Pernahkah kalian mendengar kisah cinta terlarang antara Sulli dan Blackhowl?” Ujar Kevin.

“WHAT?” Teriak mereka serentak.

“Dan Fleur adalah pemisah mereka berdua. Jika dugaan ku tepat, Sulli tidak akan tega melawan Edison yang merupakan tempat terkurungnya Blackhowl. Maka dari itu, saat Sulli lengah karena sosok Blackhowl berada di hadapannya, aku akan muncul dengan wujudku yang akan mengingatkannya pada Fleur.

“Jika kau ingin menggunakan Edison untuk menyerang Sulli, mungkin itu akan terdengar lebih masuk akal. Tapi kalau kau sendiri yang akan menyerang Sulli, bukannya malah lebih membahayakan? Sulli mungkin tidak akan berhenti sampai kau mati,” ujar Francis berpikir logis.

“Tidak jika aku dan Edison melawan Sulli berdua.”

Sulli berhadapan langsung dengan dua serigala sekaligus. Sial baginya karena pertarungan ini melibatkan dua sisi perasaannya. Di satu sisi dia akan melawan orang yang sangat dibencinya. Dan sebaliknya, dia harus melawan orang yang dicintainya yang tidak bisa dia sakiti sedikitpun. Sulli sebenarnya sudah muak melihat tampang serigala putih yang selalu mengahantui otaknya selama berpuluh-puluh tahun dengan rasa dendam yang sangat besar. Namun dia juga punya rasa sayang kepada cinta terlarangnya, seekor serigala hitam raksasa yang masih tersimpan rapih dalam kenangannya.

Momen seperti ini mirip sebuah adegan dalam cerita cinta terlarang antara vampire dan werewolf yang penuh dengan kesan dramatis sekaligus tragis. Namun Kevin berhasil memainkan perasaan Sulli sekarang ini. Membuat vampire itu harus berperang dengan hatinya sendiri. Sulli dibuat frustasi karena memikirkan apa yang harus dia lakukan supaya bisa membunuh Kevin tanpa melukai Edison sedikit pun. Itu akan sulit karena Edison pasti akan menyerangnya juga.

“Sial!” gumam Sulli geram.

Mau tidak mau, Sulli harus tetap menyerang. Dia melangkahkan kakinya berlari menyerang dua serigala yang berada dihadapannya. Edison menyerang pertama dengan berusaha menerkam tubuh Sulli yang pastinya lebih kecil darinya. Namun tanpa ingin melukai Edison, Sulli hanya menghindar dan lebih memilih untuk menyerang Kevin yang tepat berada dibelakang Edison. Kevin dan Sulli saling menabrakkan tubuh mereka satu sama lain hingga mereka sendiri terguling berberapa kali dan terseret sejauh 5 meter.

Sulli segera bangkit dan tak sabar untuk menyerang Kevin lagi. Kevin yang juga sudah berdiri tidak ingin memberikan kesempatan sedikitpun kepada Sulli untuk menyerangnya. Mereka berdua saling beradu lagi. Kevin mencoba untuk menerkam Sulli dan berusaha untuk mencabik-cabik vampire itu dengan giginya yang tajam, tapi Sulli masih cukup kuat untuk melawan keganasan Kevin. Bahkan dengan kekuatannya yang kuat, Sulli berhasil membanting tubuh Kevin yang jauh lebih besar darinya jauh hingga menghantam tanah yang keras. Bantingan Sulli sangat keras sampai tanah tempat Kevin jauh terbentuk retakkan-retakkan yang cukup besar. Jika Kevin tidak bisa menahan, mungkin berberapa tulang sudah retak atau bahkan patah.

Sulli berniat menuntaskan pekerjaan untuk menghabisi Kevin—yang kini sudah terkapar diatas tanah, namun Edison menerkam Sulli cepat. Niat Sulli gagal saat dia tahu kalau yang baru saja menyerangnya adalah Edison. Dia tidak berniat untuk melukai Edison apalagi sampai membunuhnya. Tapi bagaimanapun juga dia harus melakukan perlawanan jika tidak ingin terbunuh.

Kevin sudah hampir tidak sadarkan diri, namun dia masih bisa melihat Edison sedang melawan Sulli. Seandainya dia tidak dalam kondisi lemah, dia pasti bisa ikut melawan Sulli. Bahkan dia baru ingat kalau dia punya pedang milik leluhur Mortem yang sudah dilumuri darah Amy. Seharusnya dia sudah menggunakan pedang itu sejak awal.

Dia merubah dirinya sendiri menjadi manusia dengan sisa tenaganya karena hanya dengan wujud manusia dia bisa mengambil pedang yang telah menjadi miliknya itu. Mungkin pedang sudah ditangannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring kesakitan. Tidak bisa dibayangkan seberapa parah luka yang dialami Kevin sekarang. Benar-benar sakit.

Edison masih terus berusaha menyerang Sulli yang dari tadi hanya menghindar dari semua serangannya. Entah apa rencana perempuan itu. Yang dia lakukan hanya menghindar dan mengelak tanpa berusaha untuk melakukan serangan balik. Jika Edison menerkamnya, dia hanya melompat menghindar. Namun apapun keadaannya, Sulli tidak bisa terus hanya menghindar saja. Saat waktunya nanti, mau tidak mau Sulli harus menyerang juga.

Saat itu pun tiba. Edison menyerang ganas dengan rahangnya yang besar dan kuat yang bisa saja mengoyak tubuh Sulli. Demi melindungi diri, Sulli mengayunkan tangannya kencang hingga memukul bagian rahang Edison yang tadinya bisa saja membunuhnya. Pukulan itu membuat Edison seakan terbang hingga berberapa meter ditambah lagi dengan pendaratan tak mulus hingga terseret jauh. Seketika Edison tak sadarkan diri, entah dia masih hidup atau kah sudah mati.

Sulli sadar apa yang barusan ia lakukan. Dia—yang sebelumnya pernah bersumpah tidak akan menyakiti Blackhowl ataupun Edison—sekarang justru membuat Edison terluka cukup parah hingga tak sadarkan diri. Dia tak bisa menyangka bahwa dia telah melanggar sumpahnya sendiri. Dia berlari berniat menghampiri tubuh serigala hitam raksasa yang terkapar diatas tanah. Hingga seseorang menghalangi jalannya.

Perempuan yang mendarat mulus dengan dentuman keras di atas tanah, menghalangi Sulli yang berniat mendekati Edison yang pingsan saat jarak vampire itu tinggal berberapa meter lagi. Mata Fleur yang sebelumnya hijau kembali menjadi merah meski dia bukan lagi seorang manusia serigala. Tatapan tajam menatap mata keemasan dihadapannya. Eternally enemy saling berhadapan satu sama lain di arena perang yang sesungguhnya. Akhirnya saat yang Sulli ataupun Fleur nantikan sekarang telah tiba.

“Don’t you ever dare to touch him!” ancam Fleur dengan wajahnya yang mengerikan.

Seekor serigala raksasa melompat tepat disebelah Fleur. Serigala berbulu coklat yang telah lama menghilang. Leo bergabung ke dalam medan perang tepat setelah Fleur. Memang sedikit terlambat untuk menikmati sensasi tegang sedang berperang. Namun memang itu rencananya.

Kevin bisa melihat sosok Leo yang telah kembali disela kesadarannya yang mulai menipis. Dia kaget sekaligus senang bukan main. Kini formasi Wolf Boys lengkap dengan kembalinya Leo. Meskipun dia tidak bisa mengugkapkan kesenangannya sekarang. Tapi Fleur. Dia seharusnya tidak muncul disaat seperti ini. Rencanan Kevin untuk melindungi Fleur bisa gagal jika perempuan itu tertangkap oleh Minho, apalagi dia sedang berhadapan dengan Sulli, musuh besarnya. Kalau begini, Kevin harus memberikan pedangnya pada pemilik asli yang merupakan keturunan dari salah satu leluhur Mortem, yaitu Fleur. Dengan begitu mungkin Fleur bisa membunuh Sulli.

“Kenapa kau masih saja hidup, hah? Aku sudah muak melihat wajahmu!” hardik Sulli geram.

“Mungkin aku sudah ditakdirkan untuk hidup,” kata Fleur. “Justru kau yang akan mati!”

“We’ll see.”

Dalam sekejap, Sulli dan Fleur sudah menyerang satu sama lain. Pukulan demi pukulan mereka layangkan satu sama lain. Fleur memukul keras bagian wajah Sulli sampai berberapa kali. Sulli mencoba menangkis setiap serangan Fleur, tapi berberapa kali gagal. Fleur sangat berambisi sampai tidak mau berhenti menyerang. Berusaha membalikan keadaan, Sulli menendang tepat diperut Fluer saat dia melihat ada celah. Fleur mundur berberapa langkah akibat dorongan dari tendangan Sulli. Kini berbalik Sulli yang menyerang.

Melihat Sulli sedang bertarung sengit dengan Fleur, Leo berusaha menolong Edison yang terluka. Tak banyak yang bisa ia lakukan karena dia sendiri tidak paham masalah seperti ini. Kondisi Edison sangat lemah sampai tubuhnya sendiri tidak mampu berubah ke wujud manusia. Menolong manusia biasa saja bagi Leo sudah sulit, apalagi menangani seekor serigala raksasa yang sedang terluka parah dan tidak sadarkan diri seperti ini. Satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong cuma Will. Leo melihat Will sedang menghadapi berberapa vampire dari kejauhan. Jika mengingat masalah yang pernah menimpanya dan Will, tidak mungkin Will akan menuruti kata Leo begitu saja. Leo pun juga enggan untuk meminta langsung pada Will.

Leo mengalihkan perhatiannya pada serigala yang jaraknya paling dekat. Donald. Kebetulan sekali. Mungkin Leo bisa menyuruhnya untuk meminta bantuan pada Will tanpa perlu repot-repot berhadapan langsung dengan Will. Bisa-bisa akan terjadi argumen besar jika sampai Leo dan Will bertemu disaat seperti ini. Dan tak ada yang mau hal itu sampai terjadi.

Donald segera menghampiri Will dan meminta pertolongan untuk Edison. Leo menggantikan tempat Donald dalam pertarungan untuk sekalian membuatnya sibuk sehingga dia tidak punya kesempatan untuk melihat Will. Seperti dugaan, jika Donald yang meminta, Will dengan suka rela memenuhi permintaan itu.

Will dengan cepat berlari ke arah Edison sebelum ada yang menyadari kalau Black Pearl yang selalu menjadi tujuan utama Minho sedang tergeletak pingsan. Ditengah larinya, Will sekilas melihat sosok serigala coklat yang tak asing baginya. Serigala yang tak pernah mau ia lihat lagi sejak hari itu.

Seperti yang sebelumnya dia lakukan pada Bernard dan Francis, Will menegakkan ramuan ajaibnya ke dalam mulut—atau lebih tepatnya rahang— Edison. Tapi luka Edison lebih parah dari yang dialamu Bernard dan Francis, terlebih pada bagian rahangnya yang sedikit bergeser akibat pukulan keras Sulli. Pada akhirnya, Will menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan Edison sepenuhnya.

“Itu Leo, kan?” tanya Will pada Donald tanpa ingin menengok ke orang yang dia tanyakan, memilih untuk fokus dengan pekerjaan.

“Iya,” jawab Donald.

“Dia sudah kembali? Sejak kapan?” tanya Will lagi dingin.

“Tidak begitu lama. Dia muncul bersama Fleur, Mortemnya Kevin,” kata Donald.

“Oh,” ucap Will singkat.

Will mengembalikan perhatiannya dan kembali fokus pada Edison. Butuh lebih dari 10 menit untuk membuat kondisi Edison benar-benar pulih dan siap untuk bertarung kembali. Setidaknya Edison harus sudah bisa untuk melindungi dirinya sendiri mengingat dia adalah Black Pearl yang diincar Minho.

“Sudah,” ucap Will. “Kau jaga dia sampai dia sadar. Jangan sampai ada satu vampire yang mendekatinya!”

Will beranjak dan berubah dalam sekejap untuk kembali bertarung. Dia melirik sedikit ke arah Leo yang sedang bertarung dengan berberapa vampire sekaligus. Begitu pula Leo yang tak sengaja menengok ke arah seekor serigala yang sedang berlari. Mereka saling menatap selama berberapa detik saja, tapi tatapan yang mereka berikan satu sama lain mengandung kebencian yang besar. Rasa saling memusuhi masih menyelemuti kedua orang itu meski sebenarnya sudah tidak ada lagi yang perlu dipertengkari karena yang mereka perebutkan kini sudah tiada.

****

Duel antara Sulli dan Fleur seakan tidak pernah ada ujungnya. Mereka sudah memberikan ratusan serangan satu sama lain, namun bagaimanapun juga mereka adalah makhluk terkuat yang tidak bisa terluka sedikitpun. Mungkin mereka akan merasa sedikit rasa sakit saat sebuah pukulan menadarat di wajah cantik mereka, tapi tak kecilpun luka yang terbentuk akibat pukulan itu. Tubuh bahkan wajah mereka masih mulus dan bersih dari luka. Jika terus seperti ini, tidak akan ada yang menang ataupun kalah.

Fleur menarik baju Sulli dan mencengkramnya kuat. Dengan sekali dorongan, Fleur terbang membawa Sulli menjauhi arena perang. Bahkan saat mereka berada diketinggian 100 meter dan dengan kecepatan terbang 120 km/ jam, mereka masih bisa memukul satu sama lain. Sampai mereka menabrak sebuah tebing batu yang mengakibatkan suara dentuman keras akibat benda keras yang saling beradu.

Mereka berdua bertarung secara brutal seperti layaknya binatang buas. Fleur berkali-kali membenturkan kepala Sulli ke kerasnya tebing batu. Dengan hanya mencengkram dinding tebing, Fleur terus melakukan apa yang dari tadi dia lakukan di ketinggian lebih dari 50 meter itu.

Tidak mau terus menjadi orang yang dibawah, Sulli menyikut wajah Fleur sampai cengkraman Fleur terlapas begitu saja. Fleur jatuh meninggalkan Sulli yang masih mencengkram dinding tebing kuat. Namun Fleur bisa terbang, membuatnya kembali naik dan mensejajarkan posisinya dengan Sulli.

Fleur dengan cepat menarik kembali Sulli sampai cengkraman vampire itu terlepas. Fleur kembali membawa Sulli terbang, namun kali ini bukan tebing batu yang ditabrakannya. Mereka jatuh langsung ke tangah seperti meteor yang jatuh dari langit. Mereka jatuh tidak langsung diam di satu titik. Mereka terseret dan menciptakan lubang pajang sejauh 10 meter dan sedalam 2 meter, persis seperti apa yang terjadi jika ada meteor jatuh ke bumi.

Tubuh mereka sudah penuh dengan tanah merah hutan, membuat mereka kotor luar biasa hingga wajah cantik mereka berdua hampir tidak terlihat. Meski begitu, api masih membara dalam diri mereka. An epic duel masih terus berlanjut. Tak ada sedikitpun ada rasa ingin mengalah diantara mereka. Fleur tidak ada habis-habisya menyerang secara brutal pada Sulli. Begitu pula Sulli yang tidak pernah ingin menyerah.

Dua makhluk berbeda yang masing-masing punya kekuatan kuat hingga bisa merubuhkan pohon dengan mudah. Fleur terlepar akibat pukulan keras Sulli hingga tubuhnya menabrak sebuah batang pohon dan merubuhkannya. Bukan hanya satu pohon, tapi berberapa pohon sekaligus. Itu menandakan kalau kekuatan yang digunakan Sulli sangat besar.

Fleur tidak ingin menyerah hanya karena tubuhnya mengantam keras berberapa pohon. Dia meraih batang pohon yang ada didekatnya. Hanya perlu mengangkatnya seperti sebatang kayu, Fleur melemparkan batang pohon yang besar itu ke arah Sulli. Mungkin pada awalnya lemparan Fleur meleset, tapi ada lebih dari satu batang pohon yang tumbang disana sehingga Fleur juga melepar Sulli sampai berberapa kali. Pada akhirnya Sulli tidak bisa menghindar saat sebatang pohon paling besar yang dilempar Fleur melayang ke arahnya.

Sulli tertiban besarnya batang pohon hingga tubuh kecilnya tak terlihat dari pandangan Fleur. Fleur berjalan mendekati batang pohon yang telah meniban Sulli itu. Memastikan apa Sulli masih hidup atau tidak. Tapi jika dia berpikir jika Sulli sudah masti artinya dia bodoh. Mana mungkin seorang vampire bisa mati hanya dengan tertiban oleh batang pohon begitu.

Perkiraan Fleur benar. Sulli muncul dari batang pohon yang telah ia patahkan menjadi dua. Pertarungan kembali berlanjut antara dua perempuan itu. Sulli menyerang Fleur cepat saat Fleur sedang lengah. Kini Fleur yang mulai berpikir kalau bertarung seperti ini tidak akan pernah selesai. Dia harus membunuh Sulli dengan perak ataupun darah half-blood. Sayangnya dia tidak memiliki keduanya sekarang ini. Tapi pasti diantara Wolf Boys ada yang punya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah membawa Sulli kembali ke arena perang dan hal itu mudah saja baginya.

Dengan tarikan kuat, Fleur kembali membawa Sulli terbang lagi. Kecepatan terbang Fleur lebih cepat dari sebelumnya, hampir mencapai 200 km/ jam. Dan saat mencapai lapangan luas tempat awal mereka bertarung, Fleur kembali menjatuhkan dirinya dan Sulli seperti sebelumnya.

Sekarang yang harus dilakukan Fleur adalah mencari senjata dari perak ataupun darah half-blood. Tapi dia tidak bisa lepas dulu dari Sulli. Bisa-bisa Sulli menyerang saat dia sedang lengah.

“FLEUR!”

Fleur mendengar seseorang memanggilnya dan saat ia menengok, Kevin—yang duduk di atas tanah setelah bersusah payah bangkit—melemparkan sebuah pedang yang seharusnya sudah Kevin berikat pada Fleur sejak awal. Dengan ketangkasannya, Fleur menangkap pedang itu tepat saat benda itu melayang di atas kepalanya.

Kekuatannya yang bisa terbang secepat kilat ia manfaatkan untuk mengarahkan pedangnya lurus ke arah jantung Sulli. Hanya dalam waktu kurang dari 5 detik, pedang itu sudah menancap di dada Sulli dan menenmbusnya hingga ke belakang. Sulli hancur menjadi abu yang tertiup oleh hembusan angin hingga lenyap. Dendam Fleur selama bertahun-tahun telah terbalaskan. Satu lagi kaki-tangan Minho berhasil dibunuh. Dengan begitu akan lebih mudah untuk menghancurkan Minho sekarang.

****

Kini Minho sendirian. Sulli dan Henry berhasil dibunuh dan tak lama lagi pasukkannya akan habis. Pada akhirnya dia harus menghadapi 12 serigala raksasa sendiri. Memang sepertinya sejak awal seharusnya dia menghadapi para Wolf Boys sendirian tanpa perlu repot-repot membuat pasukan.

Minho sudah terpojok sekarang. Sudah tidak ada lagi rencana jenius yang selalu ia banggakan. Hanya ada dirinya sendiri dengan Edison, Will dan Leo yang siap menyerangnya. Satu vampire melawan 3 serigala. Apa saat akan menjadi penentu berakhir atau tidaknya perang ini.

Leo menyerang duluan. Serangan mematikan seekor serigala raksasa seharusnya tidak bisa dihindarkan, namun kenyataanya sebaliknya. Minho berhasil menghindar hanya dengan sekali gerakan. Kecepatan seorang vampire memang tidak bis ditandingi oleh werewolf sekalipun. Edison melanjutkan serangan dengan terkaman serigalanya. Edison berhasil menjatuhkan Minho dan siap mencabik-cabik tubuh Minho.

Dengan mudah, Minho berhasil menyingkirkan Edison darinya. Leo kembali melakukan serangan dan kali ini tidak mau main-main dengan serangannya. Dia mengayunkan cakarnya yang besar dan berhasil mengenai Minho tepat dibagian wajah. Luka cakar besar berhasil merusak wajah tampan Minho.

Minho berteriak kesakitan saat dia menyadari kalau cakar-cakar Leo telah dioleskan darah half-blood yang langsung merusak wajahnya. Rasanya seperti terbakar. Sakit dan perih luar biasa menyerang setiap permukaan kulit wajah Minho.

Marah karena wajahnya telah rusak, Minho berniat menyerang Leo atau bahkan ingin membunuh Leo. Sebuah bola api ia ciptakan dari sihirnya diatas telapak tangannya. Tak perduli lagi apa Mortem yang bersama dengan Leo juga akan mati atau tidak. Dia sudah tidak perduli lagi. Tak masalah baginya hanya akan memiliki 11 kekuatan saja.

Minho melempar bola api itu lurus ke arah Leo. Namun sebelum sampai ke serigala yang menjadi target, serigala lain melompat melindungi Leo. Dia mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Leo. Serigala itu tersungkur diatas tanah akibat bola api yang mengenainya. Bola api itu tidak melukai bagian fisik luar serigala itu, melainkan menyerang bagian dalam.

Leo terkejut melihat hal itu. Kejadiannya sangat cepat sampai dia sendiri tidak percaya dengan siapa yang telah rela berkorban deminya. Will tak sadarkan diri di atas tanah dengan wujudnya yang kembali menjadi manusia. Entah apakah dia masih bernafas atau tidak.

Amarah Leo memuncak. Mata coklatnya berubah menjadi merah menyala menandakan dia sedang murka. Temannya baru saja terbunuh oleh orang yang sama dengan orang yang telah membunuh perempuan yang dicintai. Tidak akan Leo biarkan orang itu hidup lebih lama lagi.

Leo melompat dan menangkap kepala Minho dengan kepalanya. Mencengkram kuat tubuh Minho dengan kuku-kuku cakarnya yang sudah ia oleskan darah Amy. Dia tidak ingin melepaskan Minho begitu saja. Dia membiarkan Minho merasakan rasa sakit terbesar yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi dia mempunyai pemikiran lain saat melihat Edison dan Fleur berdiri tak jauh darinya, siap dengan pedang mereka masing-masing.

Leo melemparkan tubuh Minho jauh ke depan. Disaat yang sama, Edison dan Fleur berlari dari arah yang berlawanan ke arah satu titik yaitu Minho dengan pedang mereka yang mengarah lurus. Sampai mereka bertemu dan menusuk satu tubuh yang sama. Satu pedang perak dan satu pedang darah half-blood menembus jantung dan tubuh Minho. Dan sebagai langkah terakhir, Leo memutuskan kepala Minho dengan kekuatan rahangnya yang kuat. Tubuh Minho adalah bagian yang pertama kali hancur menjadi abu. Kemudian disusul oleh kepala Minho setelah Leo meludahkannya.

“Berkuasalah kau di neraka, Demon!”

Perang sudah berakhir. Minho beserta pasukannya telah hancur menjadi abu menyedihkan. Para Wolf Boys menang.

Meskipun tidak semuanya.

Leo berlari ke arah Will yang terkapar tak bergerak. Wajahnya sangat panik melihat kondisi Will. Dia seakan takut untuk memeriksa pergelangan tangan Will jika tak ada denyut nadi disana. Kebencian yang awalnya menyelimutinya seakan sirna begitu saja begitu dia tahu kalau orang yang ia benci yang juga membencinya ternyata malah mengorbankan nyawanya. Dia tidak boleh membiarkan dia kehilangan lagi, bahkan kehilangan Will.

“WILL!! WAKE UP!!” teriak Leo pada tubuh tak bergerak itu. “BANGUN, BRENGSEK!!”

“LEO! STOP! HE’S ALREADY GONE!”

Edison mencoba menenangkan Leo yang terus berteriak-teriak menyuruh Will untuk banyak yang tidak akan pernah bangun lagi. Nafas Will sudah berhenti sejak berberapa menit yang lalu. Tak ada denyut nadi yang bisa dirasakan. Kenyataan pahit harus ditelan para Wolf Boys kalau mereka baru saja kehilangan salah satu anggota mereka untuk selamanya.

“No! We still have a chance.”

Francis teringat sesuatu. Dia mendekati tubuh Will dan merogoh celana yang dikenakannya untuk mencari sesuatu. Dia mendapatkan botol ramuan ajaib milik Will, berpikir kalau ramuan itu bisa saja mengembalikan Will pada mereka. Dia menegakkan ramuan pada Will dengan dosis lebih banyak dari yang biasa Will berikan pada anggota yang lain. Cara ini bisa berhasil jika mereka belum terlambat.

Namun Will tidak kunjung membuka matanya meski mereka sudah menunggu selama lebih dari 10 menit. Tak ada harapan lagi untuk mereka. Will memang tidak akan pernah membuka matanya lagi dan itu faktanya.

“Kenapa dia tidak bangun? KENAPA DIA TIDAK BANGUN??” Leo kembali berteriak. “BANGUN, WILL! BANGUN, DASAR KAU BRENGSEK!”

“AAAH!”

Will bangkit begitu saja seperti terbangun dari mimpi buruk, berteriak. Dia duduk dengan ekspresi ketakutan dan bingung, terlebih saat melihat orang-orang mengelilinginya dengan wajah terkejut setengah mati. Yang membuatnya tambah bingung adalah ekspresi Leo yang kaget dengan mata yang sembab seperti habis menangis.

“Why are you looking at me like that?” ucapnya.

“Kau… masih… hidup?” kata Leo sambil menunjuk ke arah Will dengan tangan yang gemetar.

“Of course I am. Do you this I’m already dead?” ucap Will dengan nada kesal. “Lagipula, siapa yang mengataiku brengsek? I heard that.”

Tidak ada yang berbicara satupun. Mereka semua masih terkejut dengan kembali hidupnya Will. Padahal mereka semua sudah memastikan kalau Will sudah meninggal tadi. Sedangka Will sendiri masih kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

“Are you crying?” tanya Will pada Leo.

“I’m not crying, idiot,” kata Leo sambil mengusap matanya. “Kenapa kau mengorbankan dirimu sendiri demi melindungiku?”

“Mungkin karena aku idiot sepeti yang kau bilang,” kata Will dengan seringainya. “Mana Kevin?”

“I’m here guys!” Mereka menengok ke arah suara Kevin berasal. Jaraknya tidak begitu jauh. Kevin berbaring diatas pangkuan Jessica yang kembali demi menyusul Kevin. Laki-laki itu mengalami luka parah pada bagian punggung, membuatnya tidak bisa bergerak terlalu banyak. Dia hanya bisa meringis sambil menahan sakit. Karena ada Jessica dia bisa tahan rasa sakit sebesar apapun.

“Are you oke?” tanya Edison.

“Yeah! Cuma retak tulang punggung,” jawab Kevin santai. Dia tidak tahu separah apa luka yang dialaminya. “Apa kalian menyisakan ramuan untukku? Lama kelamaan sakit juga.”

“Sayang sekali. Sepertinya sudah habis,” kata Francis yang diselingi tawa kecil.

“You must be joking! Ayolah. Punggungku retak betulan,” keluh Kevin.

Semua tertawa. Perang ini diakhiri dengan suara tawa bahagia 12 Bocah Serigala, seorang gadis manusia dan seorang Mortem. Ini lah rasanya kemenangan. Meskipun tidak sepenuhnya harapan mereka terwujud, namun tetap saja ini adalah akhir yang bahagia. Tak akan ada lagi rasa takut akan ancaman vampire  yang gila kekuasaan. Tidak akan ada lagi.

END

*****

Annyeong^^ This is the last part of Beuty & Beast!! Tapi masih ada Epilog menunggu. Jadi belum seutuhnya selesai yaa😀

Akhirnya sampai juga dipenghujung cerita Beauty &Beast^^ Terima kasih untuk semua readers yang sudah mendukung Jinnie sampai sejauh ini❤ Tanpa readers, Jinnie is nothing :’) Maaf jika selama ini, Jinnie kurang bisa membuat readers puas dengan setiap chapter yang Jinnie sajikan. Tapi Jinnie akan selalu beusaha untuk memberikan karya terbaik untuk readers <3<3 Perjalanan Beauty & Beast sudah panjang dimulai dari Juli 2013 sampai sekarang^^ Tepatnya pas Jinnie pertama kali jadi author❤ Nggak kerasa udah berapa lama tuh B&B kkk~~

Gimana Final Chapter ini? Banyak yang minta ceritanya dipanjangin jadi 10.000 kata hahah😄 Seru nggak perangnya? Kalau nggak seru, maaf deh ._. Jinnie sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk membuat Final Chapter ini makin seru dan menegangkan😀

Terima kasih buat readers yang selalu setia sama FF Jinnie *terharu*, terlebih YANG SUKA COMMENT^^ Tanpa readers, Jinnie hampa #lebay <3<3 ILY❤ Saranghae❤ Wo ai ni <3<3 JINNIE SAYANG READERS!!! <3<3

See you readers^^ Kita akan berjumpa lagi pada FF Jinnie yang lain~ Cao Cao~~

15 thoughts on “Beauty & Beast – Chapter 15 [Final Chapter]

  1. Aigoo thor…. Keren banget…. Kayak gak rela tau gak klo udah mauk habis huhuhu…. Jinnie!!! Aku pengangum tulisan mu… Benar2 daebak lh pemikiran dan jalan ceritany… Ak paling suka pas Amy ngerelain mati, nah pas itu aku nangissss

  2. KERENN!!!!! aku bayangin edison nya D.O.. xD

    ada kata “isane” entah di part brp aku lupa,, itu maksudnya “gila” kan???

  3. Kata sapa ga tegang dan seru??? INI TEGANG+SERU BANGEEETTTT
    speechless dah aku, gak tau mau ngomong apa buat chapter ini. Yang pasti chap ini tuh EXTREMELY AWESOME
    kak jinnie is the best. Lop lop

  4. Akhirnya~… jinnie menegangkan banget sumpah.. aku gak bisa ngomong apa2 beneran.
    pokoknya Fanfiction kamu ini keren bgt. jempol lah buat kamu.. ^^ keep writing ya jinnie ^^

  5. omo!! benrn dong pas aku check nih ff hampir 10.000 kata. wkwwkkkw… dahsyat km jinnie!!! suka banget ma ceritanya berakhir dgn epic..jd ga sabar nih nunggu epilognya.. heehehe
    semangat ya!!!! ada judul ff baru yg mau dirilis gak? tp yg berchapter, ngegantiin beauty and beast nya

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s