[FREELANCE] Illa.. Illa.. (Chapter 5)

Illa Illa

Title : Illa.. Illa..

Author | Artwork | Twitter : @auliaylsnov

Genre : Alternatif Universal, Angst, Sad

Length : Chapter || Status : Chapter 5 || Rating : PG-15

Main Casts : Kim Hye Sun (OC) | Kevin Wu (Kris EXO-M) |

Zhang Yi Xing (EXO-M)

Support Casts : Kim Jongin (Kai EXO-K) | Jung Soojung (Krystal f(x))
| Kim Junmyeon (Suho EXO-K) | Oh Sehun (Sehun EXO-K) | etc

Ost :

Juniel – Illa Illa | Ailee – Evening Sky

Disclaimer :

Well, FF ini terinspirasi dari MV Juniel – Illa Illa, tapi ingat! Hanya 30% dari MV, karena secara keseluruhan sampai FF ini selesai, hasil pemikiran aku selama begadang tiap malam -_- #poorME jadi tidak termasuk SONGFIC. Hehehe^^

 

Warning :

The story pure mine. Dont be plagiator! Tolong hargai karya author >,<

TOLONG PERHATIKAN WAKTU yang tertera pada FF part ini karena berhubungan dengan part2 selanjutnya

Ok, enjoy it chingudeul~

“Harapan dan keputusasaan. Semuanya tidak bisa kupungkiri. Aku berharap kau akan hadir disini, namun aku juga putus asa akan harapan itu sendiri. Menunggumu, apakah itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia? Karena kekosongan ini hanya sempat terisi beberapa saat saja. Seandainya.. kau mau mendengarkanku sebentar saja…”

-Kim Hye Sun-

“Akibat ketidaksengajaan, dan kesalahpahaman, membuatku menjadi merasa sangat bersalah padamu. Aku akan menebus kesalahanku. Karena dengan cara itulah bisa membuatku semakin mengenalmu, dan hal itu membuatku lebih semangat menjalani hidup.”

-Zhang Yi Xing-

“Kebodohanku, kecemburuanku, keegoisanku, membuatmu menjadi sangat amat terluka. Aku tahu beribu kata maaf pun yang keluar dari mulutku tidak akan membalikkan keadaan seperti semula. Tapi, masih adakah kesempatan kedua untuk bersamamu kembali?”

-Kevin Wu-

Story’s Begin

Beberapa Hari Kemudian…

Sejak dokter menyatakan bahwa Hye Sun akan mengalami kebutaan secara perlahan, Jongin, Junmyeon dan Yixing dengan giat menyebarkan informasi untuk mencari pendonor yang mau mendonorkan retina matanya meski sangat sulit.

Di kampus, Jongin membagikan brosur-brosur buatannya kesetiap penjuru kampus dan menempelkannya disetiap mading dan papan informasi yang disediakan oleh kampus. Hingga Sehun mengetahui apa yang dilakukan sahabatnya tersebut melalui papan informasi yang ada di depatemen school of drama. Sehun langsung mengambil brosur tersebut dan segera mencari Jongin untuk memastikan brosur yang dibacanya tersebut.

Seperti dugaan Sehun ternyata Jongin berada di cafetaria dengan setumpuk brosur yang berada diatas meja. Sehun memesan bubble tea kesukaannya dan duduk berhadapan dengan sahabatnya tersebut.

“Jongin, apa maksud dari brosur ini? untuk apa kau mencari pendonor retina mata?” tanya Sehun to the point.

“Bukan urusanmu.” Jawab Jongin dingin.

“Tentu ini urusanku, kau itu sahabatku! Aku berhak tahu!” jawab Sehun tegas. Jongin menghela nafasnya berat.

“Ini untuk Noonaku, puas?” Sehun langsung terdiam mendengarnya. Ia berfikir sejenak.

“Kenapa bisa? Karena benturan dikepalanya?” Jongin hanya mengangguk.

“J-ja-jadi? Hye Sun Noona tidak bisa melihat sekarang?”

“Hampir… tadi pagi ia bilang penglihatannya mulai mengabur dan lama kelamaan semuanya menjadi gelap.” Ujar Jongin lirih. Ia mengelap sudut matanya yang mulai berkaca-kaca.

Mianhae Jongin-ah…” ucap Sehun lirih. Ia turut prihatin atas kejadian yang menimpa Hye Sun Noona.

“Aku akan membantumu juga untuk mencarikan pendonor tersebut.”

“Ne, gomawo Sehun-ah..” Jongin tersenyum kecil. Sehun pun memeluk dan menepuk punggung sahabat kecilnya tersebut.

“All is well, Jongin-ah!” bisiknya pelan di telinga Jongin. Laki-laki berkulit tan itu mengangguk pelan.

 

~~~~~~

 

Hari-hari telah berlalu. Kalender pun sudah berganti menjadi bulan Agustus. Tidak terasa hampir dua bulan bulan Hye Sun berada di rumah sakit. Selama itu juga penglihatan Hye Sun tidak mengalami peningkatan menjadi lebih baik tapi sebaliknya, semakin memburuk. Membuat Junmyeon, Jongin dan Yixing semakin khawatir. Sejak akhir bulan Juli pula Hye Sun dibawa kembali ke rumah karena keuangan Junmyeon sudah menipis. Sehingga Hye Sun membantu Junmyeon dengan cara kembali ke florist milik keluarga mereka, sedangkan Jongin menjadi pegawai part time di Xiu’s Coffee.

Kini Hye Sun dan Yixing berada di Kim’s Florist. Mereka sedang menata bunga-bunga yang baru saja dikirim oleh produsen bunga hias potong untuk dijual kembali oleh Kim’s Florist.

“Hye Sun-ah?” panggil Yixing yang tengah mengangkat pot-pot bunga ke pinggir ruangan.

“Ne?”

Mianhae kalau aku lancang. Tapi bagaimana kau mengenal bunga-bunga ini kalau…” kata-kata Yixing menggantung.

Gwaenchana. Aku bisa melakukannya asal kau tidak mengacak-acak posisi bunga-bunga yang sudah tertata sekarang, Yixing-ssi.” Terang Hye Sun dan tersenyum. Senyumannya mampu membuat hati Yixing berdesir.

‘Ada apa denganku? Senyuman tadi, cantik sekali…’ batinnya.

“Tidak-tidak-tidak!” gumam Yixing pelan.

Wae, Yixing-ssi?” tanya Hye Sun heran.

“Eoh? Gwaenchana.. hehehehe… benarkah kau bisa melakukannya? Boleh aku mengetesnya untuk memastikan?” tanya Yixing dan Hye Sun mengangguk.

“Siapa takut?” ucap Hye Sun seolah-olah menantang Yixing. Membuat keduanya tertawa.

“Baiklah, kalau begitu tunjukkan padaku dimana bunga…. Tulip!” seru Yixing, dan Hye Sun berjalan perlahan-lahan menuju deretan bunga dan meraba-raba dengan kedua tangannya

“Ini, tulip. Benar kan?” tanya Hye Sun. Lalu Yixing mengoreksinya. Sebenarnya Yixing juga tidak terlalu paham tentang dunia bunga. Untungnya di bawah keranjang bunga tersebut terdapat keterangan nama “tulip”, Yixing pun tersenyum lebar.

“Whoooaaa! Neomu jeongmal daebak, Hye Sun-ah! Yang kau pegang benar-benar bunga tulip.” Yixing memberikan kedua jempolnya kearah Hye Sun namun percuma, gadis itu tidak bisa melihatnya.

“Kau sebagai penjual bunga bisa memberitahu apa makna-makna dari bunga-bunga yang kau jual ini?” tanya Yixing dan gadis itu mengangguk.

“Secara umum, tulip berarti ketenaran, kemurahan hati dan pernyataan cinta. Yixing-ssi apa warna tulip yang aku pegang sekarang?”

“Warnanya? Warna warni.. bermacam-macam. Ada putih blasteran pink dan kuning.” Jawab Yixing.

“Artinya, jika kau memberikan bunga ini pada seseorang maka sama saja dengan kau memuji seseorang itu mempunyai mata yang indah.” Terang Hye Sun.

“Kalau begitu, aku akan memberikan bunga ini kepadamu, Hye Sun-ah~” Yixing mengambil bunga yang berada ditangan Hye Sun dan memberikannya kembali kepada gadis itu.

“Heoh? Aku? Benarkah?” Hye Sun tidak percaya.

“Tentu saja. Kau mempunyai mata yang indah dan berbinar.” Ucapan Yixing membuat kedua pipi Hye Sun bersemu merah.

“Sayangnya aku tidak bisa melihat, Yixing-ssi.” Ucapnya lirih. Membuat Yixing merasa tidak enak.

Mianhae, Hye Sun-ah… aku jadi tidak enak padamu.” Pria itu menggaruk kepalanya pelan.

“Hahaha~ Gwaenchana~ kau tidak perlu meminta maaf.”

“Hye Sun-ah bisakah kau tidak memanggilku dengan embel-embel –ssi? Cukup memanggilku Yixing karena kita seumuran.” Terang Yixing.

“Heoh? Jeongmal?”

“Ne, Jeongmal..”

“Baiklah Yixing…” Hye Sun pun tersenyum, dan bagi Yixing itu adalah senyuman termanis yang pernah ia lihat. Ia tidak bohong.

“Lalu—“ baru saja Yixing ingin bertanya lagi. Seseorang masuk ke dalam florist dan bel pun berbunyi secara otomatis.

“Selamat datang di Kim’s florist! Ada yang bisa aku bantu?” ujar Hye Sun dengan sigap.

“Ne, gamsahamnida! sebelumnya aku tidak mengerti tentang bunga. Namun aku ingin mengungkapkan cintaku pada seseorang. Aku sudah mencintainya sejak lama, secara rahasia dan diam-diam. Kira-kira bunga apa yang tepat untuk diberikan padanya?” tanya seseorang dengan suara berat khas pria tersebut.

“Hm.. kau bisa memberinya bunga mawar putih. Mawar putih artinya adalah cinta abadi, polos, amat menyenangkan, rahasia dan diam. Menurutku bila ditambah dengan baby’s breath akan lebih cantik. Baby’s breath sendiri artinya hati yang suci, cinta yang tiada pernah berakhir dan kebahagiaan. Jika digabungkan dengan bunga mawar menjadi simbol cinta sejati yang teramat kuat.” Terang Hye Sun. Membuat Yixing dan pengunjung yang datang tersebut takjub.

“Baiklah. Aku mengikuti saranmu, agasshi. Tolong berikan aku satu buoquet bunga tersebut.” Ujarnya dengan bahagia.

Ne, chakkaman..” Hye Sun dengan cekatan melakukannya meskipun terhalang oleh penglihatannya yang terkadang gelap, terkadang samar-samar. Yixing hanya memperhatikannya dari kejauhan. Memandangi gadis itu menjadi hobinya akhir-akhir ini. Ia tersenyum penuh makna.

“Ia kekasihmu, tuan?” tanya pengunjung tersebut. Yixing sontak kaget mendengarnya.

“Eh? Ani.. aku hanya temannya.” Jawab Yixing singkat.

“Tapi kulihat kalian sangat cocok.” Bisik pengunjung tersebut. Yixing hanya terkekeh pelan.

“Jika itu memang benar, semoga aku bisa mendapatkannya.” Balas Yixing. Namun setelah itu ia berfikir ulang ‘Apa yang kau katakan barusan, Yixing?’ ia menepuk keningnya pelan.

Mereka pun kembali memperhatikan Hye Sun yang masih merangkai bunga-bunga yang ada ditangannya. Yixing heran bagaimana gadis itu bisa merangkai bunga dalam keadaan seperti itu? Naluri? Atau ia mempunyai mata batin? Sekali lagi Yixing takjub melihatnya.

“Ini bunganya, tuan.” Hye Sun menyerahkan satu boquet bunga pesanan kearah pengunjung yang ada disamping Yixing, namun ia malah berjalan kearah Yixing.

“Hye Sun, kau salah arah. Ini ak, Yixing. Hehehe…” Yixing terkekeh pelan. Membuat Hye Sun malu dna pipinya bersemu merah.

“Gomawo agasshi.. berapa harganya?”

“30.000 won” jawab Hye Sun. Pengunjung tersebut merogoh kantongnya dan mengambil uangnya.

“Ini, uangnya pas.”

Gamsahamnida..” Hye Sun membungkukkan badannya.

“Seharusnya aku yang berterima kasih. Hm.. aku minta doa dari kalian berdua, semoga aku diterima oleh orang yang aku cintai.”

“Tentu saja aku akan mendoakanmu dengan senang hati. Semoga kalian bisa menjadi sepasang kekasih.” Doa Hye Sun tulus.

Ne, aku juga berharap kalian juga bisa menjadi sepasang kekasih karena kalian berdua cocok!” ujar pengunjung tersebut membuat Hye Sun dan Yixing salah tingkah.

“Ah~ anda bisa saja~” ujar keduanya bersamaan. Membuat pengunjung tersebut bertepuk tangan.

“Feelingku benar! Kalian saja menjawabnya dengan serempak.”

“Ah? Itu hanya kebetulan…” ujar Yixing cepat.

“Hm.. ne, ne ne.. maaf aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus pergi karena aku akan menemui gadis itu sekarang. Annyeong!” pengunjung itu melambaikan tangannya dan meninggalkan Hye Sun dan Yixing berdua.

“Semoga berhasil! Jangan lupa datang lagi kesini!” Hye Sun berteriak sembari melambaikan tangannya. Tidak peduli diarah mana pengunjung tadi pergi.

“Hye Sun-ah?” panggil Yixing pelan.

Ne, Wae Yixing-ah?” Hye Sun menoleh kearah sumber suara. Sekarang yang dapat diandalkan oleh Hye Sun adalah indera pendengarannya.

“Ajari aku makna-makna bunga yang lain…” pinta Yixing.

“Ne, dengan senang hati…” balas Hye Sun.

“Aku ingin memulainya dari bunga mawar dulu.”

“Hm.. baiklah…”

“Sambil duduk saja, ne?”

“Ne…” Yixing pun menuntun Hye Sun untuk duduk di dekat kasir. Ia memberikan kursi untuk Hye Sun dan ia sendiri duduk berhadapan dengan Hye Sun. Memandangi wajah polos dan cantik milik gadis itu. Yixing tersenyum manis.

Cha.. lanjutkan penjelasannya!”

“Jadi mawar itu memiliki banyak warna. Ada warna merah, putih, pink, kuning dan hitam. Setiap warna memiliki artinya masing-masing. Warna merah artinya—“

‘Tsk’ mungkin begitu suara setetes darah segar yang mengalir dari hidung Yixing yang mengenai punggung tangan putih milik Hye Sun.

“Apa ini?” gumam gadis itu pelan. Ia mengarahkan punggung tangannya kearah hidungnya. Yixing yang segera sadar dengan lamunannya segera mengelap setetes darah tersebut dengan sapu tangan yang ada disakunya.

“Bukan apa-apa. Hye Sun aku ke toilet sebentar, boleh? Tiba-tiba aku ingin buang air.” Yixing berbohong dan mencoba menyembunyikan kepanikannya.

“Ne..”

Chakkaman, ne?”

“Ne..”

Yixing segera berlari kearah toilet sambil menutupi hidungnya yang masih mengalir darah segar. Ia segera membersihkannya dengan menggunakan air di wastafel. Yixing menatap wajahnya yang terpantul di cermin. Pucat dan sendu.

“aku belum minum obat hari ini..” gumam Yixing pelan.

 

~~~~~~

 

Hye Sun penasaran apa yang baru saja menetes ke punggung tangannya. Ia mengarahkan punggung tangannya kearah hidungnya untuk memastikan, namun suara bel berbunyi menandakan ada seseorang masuk ke dalam floristnya.

“Selamat datang di Kim’s florist… ada yang bisa saya bantu?” ujar Hye Sun dengan sigap.

“Apa aku bisa bertemu dengan Noonaku yang bernama Kim Hye Sun disini?” ujar seseorang yang sangat Hye Sun kenal suaranya, Jongin.

“Jongin-ah~” ujar Hye Sun manja. Yang dipanggil tertawa pelan.

“Ternyata Noonaku mengenaliku…” Jongin memeluk kakak perempuannya tersebut.

Noona sendirian disini?” Hye Sun menggeleng.

“Aku bersama Yixing tapi ia sekarang di toilet.” Jongin hanya meresponnya dengan mengangguk.

“Ah! Hyung! Annyeong!” Jongin melambaikan tangannya pada Yixing yang barusan keluar dari toilet. Yixing hanya membalasnya dengan senyuman.

Mianhae.. aku tidak bisa lama-lama, Jongin, Hye Sun. Tiba-tiba aku ada urusan kantor. Tidak apa-apa, ‘kan kalau Hye Sun kutitip padamu?” Yixing menepuk pundak Jongin pelan.

“Ne, hyung. Gwaenchana. Lagipula hyung sudah menemani Noona sejak tadi pagi. Maaf merepotkanmu, hyung.”

“Sudahlah, aku lelah mendengar kata-kata itu terus keluar dari mulutmu Jongin. Hahaha… sudah menjadi kewajibanku menjaga Hye Sun. Hye Sun, Mianhae aku harus pergi dulu… sehun-ssi, juga! annyeong!”

“Annyeong Yixing… sampai jumpa besok! joshimae!” Hye Sun melambaikan tangannya kearah sumber suara Yixing berada. Yixing mengacak rambut Hye Sun pelan. Membuat gadis itu terdiam atas perlakuan Yixing yang persis sama dilakukan oleh ‘seseorang’.

Gomawo…” ucap Yixing pelan lalu berjalan kearah pintu keluar florist.

‘Kenapa jantungku berdegub kencang ketika Yixing melakukan hal itu padaku? Ia mengingatkanku pada Ke—‘

Noona? Noona? Wae?” Jongin menggoayangkan kedua pundak Hye Sun pelan.

“Ah? Ne? Mianhae.. Noona melamun, Jongin-ah~”

“Ah~ Noona membuatku takut…” Jongin bernafas lega. Ia menyingkirkan rambut kakak perempuannya tersebut ke belakang daun telinganya dan menuntunnya untuk duduk ditempatnya lagi.

Noona dan Yixing hyung semakin dekat. Aku senang.” Ucap Jongin jujur. Membuat Sehun memicingkan kedua matanya.

‘Apa maksudmu, Jongin?’ batinnya sambil melihat kearah Jongin.

“Jongin-ah~ aku dan Yixing hanya berteman. Ia hanya merasa bertanggung jawab karena insiden dua bulan yang lalu.” Ujar Hye Sun dengan menggenggam tangan adik laki-lakinya tersebut.

Ne.. ne… ne..” Jongin mengalah, membuat Hye Sun tersenyum.

Noona, kau sudah makan belum? Tadi atasanku Xiumin hyung memberiku gaji dan bonus tambahan karena aku sudah bekerja keras di Kedai Kopi miliknya. Aku membelikanmu sundubu jigae, makanan favoritmu. Aku akan menyuapimu makan, ne?”

“Tapi Jongin—”

Noona, kau tidak boleh menolaknya! Lagipula aku hanya membelikannya untukmu saja. Aku sudah makan di kedai pinggir jalan bersama Sehun tadi.”

Ne, baiklah..” Hye Sun mengalah.

“Aku siapkan dulu. Chakkaman!”

“Jongin~ah? Sehun~ah?”

Wae Noona?” tanya Jongin dan Sehun serempak.

“Kapan kalian masuk kuliah lagi? Bukankah liburan musim panas sudah berakhir, ne?” tanya Hye Sun.

“Besok, Noona. Wae?” tanya Jongin.

“Kalau begitu, fokuslah pada kuliahmu. Berhentilah bekerja..”

Wae? Aku sudah nyaman bekerja disana. Lagipula hanya part time.”

“Jongin~ah

Noona.. dengarkan aku, jika kita tidak bekerja bagaimana kita menghidupi keluarga kita? Mana mungkin aku terus mengandalkan Junmyeon hyung dan Noona, lagipula aku ini laki-laki. Harus belajar bagaimana cara mencari uang. Oh ya, aku mendapatkan beasiswa dari universitas, jadi biaya kuliahku bisa untuk pengobatan Noona.” Terang Jongin sambil memegang pundak Hye Sun. Membuat gadis itu langsung menangis.

“Jongin~ah” Hye Sun memeluk adik laki-lakinya tersebut.

Gwaenchana, Noona~” Jongin mencium puncak kepala Hye Sun dan mengelus punggungnya. Sehun hanya bisa diam dari tadi melihat adegan tersebut. Membuatnya sedikit kesal dan membenci Kevin yang merupakan sepupunya dan ia juga membenci dirinya sendiri karena tidak pernah memberi tahu tentang hal ini pada Kevin.

“Hapuslah airmatamu, noona~ uljimayo~ jebal~” pinta Jongin.

“Ne… Hhehehe…” Hye Sun terkekeh pelan.

“Jongin~ah?”

“Ne? Ada apalagi Noona?”

“Bagaimana hubunganmu dengan perempuan bernama Soojung itu? Apakah ia masih bersamamu?” mendengarnya Jongin menjadi senang.

“Ne.. kami masih berhubungan. Tapi ia sedang liburan di Kanada bersama keluarganya.” Terang Jongin.

“MWO? JINCHA?” pekik Sehun tidak percaya. Membuat Hye Sun dan Jongin kaget sekaligus heran. Sehun menepuk keningnya pelan. ‘Sehun bodoh!’ umpatnya dalam hati.

“Kenapa kau kaget? Memangnya ada apa kalau Soojung ke Kanada?” tanya Jongin polos. Membuat Sehun mengumpati laki-laki itu dalam hatinya. ‘Kau terlalu polos atau bodoh, Jongin~ah?’

“Ah~ Gwaenchana… aku hanya kaget karena aku belum pernah sama sekali ke Kanada. Hehehehe…” Sehun tertawa hambar. Jongin memicingkan matanya, ia tidak percaya. Tapi ia gubris perasaan itu dan kembali mengurus Hye Sun.

“Yasudahlah… Noona ayo kita makan!” Hye Sun pun disuapi oleh Jongin pelan-pelan.

 

~~~~~~~~

 

Sementara di Korea sudah 1 hari lebih awal yakni tanggal 1 Agustus 2012, sedangkan kota Vancouver masih satu hari kebelakang, yakni tanggal 31 Juli 2012.

Seorang pria dengan setelan jas rapih duduk di kursi kebesarannya tengah termangu menatap sebuah kalender meja di depannya. Di meja tersebut terdapat papan nama bertuliskan Kevin Wu as Manager Executive. Ya, pria tersebut bernama Kevin Wu. setelah itu ia mengambil spidol yang ada di kotak pensil yang ada di sudut mejanya lalu mencoret salah satu tanggal yang ada di kalender tersebut dan kembali lagi termenung.

“Tok.. tok.. tok..” pintu ruangannya berbunyi namun Kevin tetap tidak bergeming.

“Tok.. tok.. tok.. Pak Kevin?” suara sekretarisnya membuyarkan lamunan Kevin.

“Maaf! Kau bisa masuk sekarang..” jawab Kevin. Lalu keluarnya sekretarisnya dengan membawa beberapa map dengan berbagai warna ditangannya.

“Mengingatkan kembali pak, besok kita akan mengikuti rapat direksi di Seoul. Semua dokumen yang diperlukan sudah saya siapkan.” Kevin hanya membalas ucapan sekretarisnya dengan sebuah anggukan.

Thank you, Sisilia. You can go back now.” Kevin pun  memeriksa dokumen yang diberikan oleh sekretarisnya barusan namun tetap saja, ia tidak bisa fokus.

“Besok aku ke Seoul.. Seoul.. Seoul.. sudah hampir dua bulan berlalu. Apa kabarnya Hye Sun sekarang? Apa yang dia lakukan? Apa dia masih menungguku? Apa dia tahu bahwa aku sekarang ada di Vancouver?” gumamnya pelan.

“Nona, maaf! Anda tidak bisa masuk jika tidak memiliki janji dengan Pak Kevin!”

“Kenapa? Aku adalah tunangannya! Keviiiiinn..!! keviiiinn…!! heeelllpp meee…!!” teriak seseorang yang sangat Kevin kenal dan menganggu hidupnya satu bulan terakhir ini, Jung Soojung.

“Aaaaarrgghhtt!! Kenapa perempuan itu selalu menganggu dan membuat kekacauan?” Kevin mengacak rambutnya kesal.

“Sisilia! Biarkan dia masuk!” teriak Kevin dan akhirnya Soojung pun masuk ke ruangannya. Kevin menatap matanya dengan bengis. Kalau ia bukan perempuan, pasti ia sudah Kevin pukul habis-habisan.

“Ada apalagi Jung Soojung! Jangan membuatku darah tinggi akibat ulahmu yang kekanak-kanakan itu!” pekik Kevin frustasi.

“Jangan marah-marah. Aku hanya ingin mengajakmu pulang bersama besok. Kudengar kau mau ke Seoul besok.” Ucapnya.

‘Sebenarnya otak perempuan ini terbuat dari apa? Batu? Atau baja? Kenapa tidak pernah mengerti? Dasar menyebalkan!’ umpat Kevin dalam hati.

“Apapun yang terjadi, aku akan pulang bersamamu!” tekannya. ‘Oh Tuhan. Tolong aku..’ doa Kevin dalam hati.

“Terserah! Sekarang tolong jangan mengangguku! Aku masih banyak pekerjaan lain. jika tidak, akan kupanggil satpam!” ancam kevin.

“Baiklah… apapun untukmu, darling!” Soojung mengerlingkan matanya. Membuat Kevin bergidik ngeri.

“Bye! Sampai jumpa besok sayang…” mendengar kata-kata itu rasanya Kevin ingin melempar sepatu pantofelnya kearah kepala gadis itu supaya amnesia. Namun ia hanya mengehla nafasnya berat.

“Sepertinya besok adalah mimpi buruk..” keluhnya.

 

~~~~~~~~

 

“Sehun! Tolong jelaskan apa yang terjadi di florist tadi. Pasti kau menyimpan sesuatu dariku, kan?” cegah Jongin saat Sehun ingin masuk ke dalam mobilnya setelah mengantar Jongin dan Hye Sun kerumah mereka.

“Yang mana?” Sehun lupa. Jongin memutar kedua bola matanya.

“Kau berteriak pada saat aku bilang bahwa Soojung sedang berlibur ke Kanada bersama keluarganya, kan? Kenapa?” Jongin menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.

“Percuma. Kubilang juga kau tidak akan percaya.” Ujar Sehun skeptis.

“Bagaimana aku bisa percaya? Bahkan kau belum mengatakannya padaku.” Sanggah Jongin. Sehun pun menghela nafasnya berat.

“Aku bingung harus menjelaskannya dari mana. Yang jelas, Kevin hyung dan Soojung itu hampir ditunangkan oleh keluarga mereka. Aku tidak tahu pastinya kapan. Tapi Kevin hyung menolak karena ia telah memiliki kekasih yaitu Noona-mu, dan sampai saat ini Kevin hyung belum pernah memberitahu kepada Noona-mu tentang rencana pertunangan yang dibuat oleh ayahnya dan ayah Soojung. Jika ia sudah memberitahu Noona-mu, otomatis kau juga tahu, kan? Awalnya aku juga bingung dengan apa yang ada dipikirannya Soojung hingga ia mau memacarimu dan ia terlihat sangat mendukungmu ketika kau berusaha untuk menjauhkan Hye Sun Noona dari Kevin hyung. Ternyata aku tahu apa alasannya…” Sehun menarik nafasnya berat dan menghembuskannya kembali.

“Kau tahu karena apa? Ia menyukai Kevin hyung. Jika Hye Sun Noona dan Kevin hyung berpisah, maka dengan mudah ia akan mendekati Kevin hyung dan meninggalkanmu. Lihat bagaimana usahanya untuk mencegah kau menerima usulanku? Merusak ponselku saat Kevin hyung meneleponku? Dan sekarang pada saat Kevin hyung pergi ke Kanada, ia juga pergi ke Kanada dengan alasan berlibur dengan keluarganya? Apa itu hanya sebuah kebetulan?” terang Sehun. Jongin yang mendengarkannya sangat kesal dibuatnya.

“Kau berbohong, kan? Kau pembohong OH SEHUN…!!” teriak Jongin dan hampir meninju Sehun yang sudah terdorong olehnya hingga ke badan mobil.

“Terserah kau mau bilang apa Kim Jongin! Aku tidak peduli. Aku sudah muak dengan semua kebohongan ini dan aku tidak mau menyimpan semua kebusukan ini berlama-lama! Kau juga tahu sekarang mengapa aku selalu membenci Soojung ketika ia bersikap mesra dihadapanmu! Karena itu hanyalah rekayasa, Jongin bodoh!” umpat Sehun dengan kesal. Lalu meneruskan kembali pembicaraannya yang belum selesai.

“Tadi Ayah memberitahuku bahwa Kevin hyung besok akan ke Seoul untuk mengadakan rapat dengan seluruh direksi Wu Company Global. Jika kau ingin membuktikan aku pembohong atau tidak, datanglah besok ke Incheon Airport jam delapan pagi. Apakah besok Kevin hyung memang benar-benar datang bersama Soojung untuk kembali ke Seoul. Jika aku tidak berbohong, maka kau harus menuruti perkataanku, putuskan Soojung dan beritahu Kevin hyung tentang keadaan Noona-mu sekarang. Jika aku berbohong, maka putuslah persahabatan kita dan anggap kita tidak pernah kenal sama sekali!” terang Sehun dengan suara datar khasnya. Ia pun pergi meninggalkan Jongin yang masih diam terpaku ditempatnya. Sehun langsung menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrggghtttt!!! SIAL! SIAL! SIAL KAU KEVIN WU!” teriak Jongin sambil menendang-nendang angin malam yang sama sekali tak bersalah tersebut.

~~~~~~~~~

 

“Duk duk duk duk duk duk..” terdengar bunyi yang sangat jelas dari arah tangga kayu rumah bernuansa Korea Modern tersebut. Jongin berjalan dengan tergesa-gesa kearah dapur yang bergabung juga dengan ruang makan rumahnya.

“Hyung, Noona, Mianhae aku tidak bisa sarapan bersama kalian! Aku harus menjemput kekasihku di bandara, annyeong!” ucap Jongin dengan cepat membuat keduanya kaget sekaligus menggelengkan kepalanya.

“Aku kira ada apa. Ternyata…” Junmyeon menggantungkan kata-katanya.

“Hahaha… sudahlah Oppa! Kau juga dulu pernah begitu, bukan?” goda Hye Sun. Membuat Junmyeon salah tingkah.

“Yaahh~ sudahlah! Itu hanya masa lalu, Hye Sun-ah~” Junmyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Tapi kau terdengar grogi, Oppa! Hehehe…”

“Ya! Hye Sun~ jangan menggoda Oppa begitu!” Junmyeon malu.

“Hahahaha~ Oppa Oppa! Kau sangat lucu…”

“Ne~ Oppa memang sangat lucu!” balas Junmyeon narsis.

“Huuu~ terlalu percaya diri!” sorak Hye Sun lalu mereka berdua tertawa.

“Hari ini kau mau kemana, Hye Sun?” Tanya Junmyeon sambil melahap bibimbap buatan Hye Sun.

“Seperti biasa, ke Florist.”

“Hm.. kau tidak mau jalan-jalan? Bukankah sekarang sudah memasuki musim gugur? Pasti pergi ke taman akan sangat menyenangkan!”

“Heoh? Musim gugur? Jincha?” tanya Hye Sun antusias.

Ne.. tapi Oppa tidak bisa menemanimu hari ini karena urusan kantor tidak bisa ditinggalkan. Kau bisa pergi bersama dengan Jongin atau bersama Yixing. Eottokhe?” tawar Junmyeon, Hye Sun mengerucutkan bibirnya.

“Jongin sudah mulai memasuki semester baru musim gugur ini, Oppa. Hari ini dia ada kuliah, dan Yixing pasti sibuk dengan urusan kantornya. Lebih baik aku di florist saja.”

“Yasudah kalau begitu, aku akan mengantarmu kesana. Atau lebih baik kau di rumah saja? Lebih aman disini bukan dibandingkan di florist?” tanya Junmyeon, Hye Sun menggeleng.

Shireo! Aku mau di florist saja, Oppa…”

Ne, ne, ne… kita ke florist setelah kita menghabiskan sarapan ini.” Junmyeon mengacak pelan rambut adik perempuan satu-satunya tersebut.

 

~~~~~~~

 

Sesuai apa yang dikatakan oleh Sehun semalam, Jongin pergi ke Incheon Airport jam setengah delapan pagi. Ia menunggu di pintu keluar dengan cemas. Berharap apa yang dikatakan Sehun adalah salah. Tapi ia juga tidak rela jika ia akan kehilangan sahabat kecilnya tersebut. Jongin mengacak rambutnya kasar.

“Baiklah, apapun yang terjadi. Aku akan menerimanya.” Gumam Jongin pelan. Setiap lima menit sekali ia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jantungnya berdegub kencang.

Beberapa menit kemudian, ia merik jam tangannya kembali dan sudah menunjukkan waktu 08:07 KST tapi yang ditunggu olehnya belum keluar juga. Jongin menghela nafasnya berat. Lalu menoleh kembali kearah pintu yang ia tunggu sedari tadi. Seketika matanya membulat sempurna melihat apa yang didepannya. Seseorang yang ia cintai tengah merangkul mesra seorang pria bertubuh tinggi dan putih. Jongin mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku tangannya memutih. Nafasnya naik turun tidak beraturan. Ia langsung menghampiri kearah keduanya dengan perasaan marah dan kecewa. Apa yang dikatakan Sehun benar adanya. Sahabatnya itu tidak berbohong.

Setelah berdiri dihadapan Kevin dan Soojung, Jongin dengan amarahnya yang tidak bisa ditahan lagi, ia meluapkan semuanya didepan mereka berdua.

“Soojung! Kevin! Kalian benar-benar pengkhianat! Kalian adalah dua orang sialan yang pernah aku temui! Fuck you Soojung! Fuck you Kevin! Jangan pernah menampakkan diri lagi dihadapanku dan Noona-ku! Aku sangat membenci kalian berdua!” teriak Jongin lalu meninju wajah Kevin. Soojung langsung mencegahnya.

“Berhenti Kim Jongin! Jangan memukul Kevin Oppa! Pergi! Pergi! Atau kupanggil security!” Soojung berusaha menjauhkan Jongin dari kevin dibantu dengan sekretaris Kevin yang ada dibelakang mereka.

“Soojung? ternyata kau lebih memilih dia daripada aku? Baiklah! Aku akan pergi, dan ingat! Mulai dari sekarang kita putus perempuan jalang sialan! Aku menyesal menjadi kekasihmu! Ah! Bukan kekasih! Tapi dimanfaatkan olehmu! Dasar kau perempuan murahan!” umpat Jongin. Kini ia menyetujui ucapan Sehun yang sering mengatai Soojung seperti itu. Jongin pun pergi meninggalkan Soojung dan Kevin yang masih terduduk akibat ditinju olehnya. Hampir semua orang yang berada disekitar mereka memperhatikan kejadian itu pun akhirnya kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Beberapa orang masih memperhatikan mereka dan berbisik-bisik sambil menunjuk kearah mereka.

“Ya! Apa yang kalian lihat? Ini bukan tontonan!” pekik Soojung dan langsung memperhatikan Kevin.

Oppa? Kau tidak apa-apa kan? Sakit tidak?” tanya Soojung namun Kevin tidak memperdulikannya.

“Pergilah! Aku sudah sangat muak melihatmu Soojung! Aku tidak perlu diperhatikan olehmu!” Kevin berdiri sendiri lalu menoleh kearah sekretarisnya, Sisilia.

“Ayo kita pergi sekarang. Tinggalkan dia sendiri disini.” Kevin pun merapihkan jasnya dan berjalan dengan gaya coolnya. Ia berusaha menghilangkan perasaan malunya akibat kejadian tadi. Soojung mengejarnya namun Kevin tidak peduli. Ia berjalan cepat kearah mobil jemputannya dan langsung meminta sang supir menguncinya agar Soojung tidak bisa ikut masuk ke dalam mobilnya.

“Aaarrgghht!” teriak Kevin didalam mobil. Ia tidak peduli dengan lirikan sekretaris yang ada disampingnya dan supir yang ada didepannya.

“Pak? Kau tidak kenapa-kenapa, kan? Apa wajahmu sakit? Sepertinya kita perlu ke rumah sakit untuk mengobati wajahmu.” Ujar sekretarisnya namun Kevin menggeleng.

“Tidak perlu. Lanjutkan saja perjalanannya.” Perintah Kevin lalu sekretarisnya mengangguk.

Setelah itu Kevin menyandarkan punggungnya dan menghela nafasnya perlahan. Ia kembali mengulang kejadian di bandara tadi. Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di kepala Kevin.

‘Bagaimana Jongin tahu bahwa Kevin ada disana? Lalu apa hubungannya dengan Soojung? Putus? Apa mereka berdua berpacaran?’

Kevin mengacak rambutnya kasar. Pasti Jongin akan sangat membencinya sekarang. Sudah meninggalkan Hye Sun tanpa mengatakan sepatah katapun padanya dan sekarang ia pasti menganggap bahwa Kevin adalah perebut kekasihnya.

‘Apa Jongin juga sudah tahu tentang pertunangan yang direncanakan oleh orang tuanya dan Soojung? Tapi? Darimana? Bukankah Hye Sun juga belum tahu. Se—’

“Sehun? Apa anak itu yang memberitahu semuanya?” gumam Kevin pelan. Kevin berdecak kesal.

“Aku yakin pasti dia yang memberitahu Jongin. Siapa lagi kalau bukan dia.” Kevin yakin.

~~~~~~~~~~~

 

“Bagaimana? Aku tidak bohong, kan?” tanya seorang laki-laki yang tengah bersandar di pohon sambil memandang langit biru yang terhampar luas dan cerah dihadapannya.

Ne.. dan aku sangat berterima kasih padamu, Sehun-ah. Kini aku sudah tahu semuanya.” Ucap Jongin pelan.

Ne.. Mianhae aku baru memberitahumu sekarang. Aku bingung harus bagaimana untuk memberitahumu karena aku tidak mempunyai bukti yang kuat.”

Gwaenchana… sekarang aku percaya padamu. Hey! Bagaimana kau tahu kalau aku ada di taman ini?” tanya Jongin heran.

“Sebenarnya aku mengikutimu sejak di bandara tadi dan aku sudah melihat semuanya. Kau hebat Jongin! Apalagi kata-katamu tadi, itu lebih parah daripada aku.” Terang Sehun. Membuat wajah Jongin berubah menjadi muram.

“Sebenarnya itu bukan keinginanku, Sehun-ah. Tapi kata-kata itu meluncur begitu saja pada saat aku melihatnya bersama Kevin. Rasanya sangat menyakitkan!” Sehun langsung menepuk pundak Jongin pelan.

“Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi jika kau tidak mengetahuinya itu akan lebih menyakitkan lagi bukan? Masih ada perempuan lain yang lebih baik daripada dia, Jongin.”

Ne… kau benar Sehun!” Jongin setuju.

“Kau ada kuliah hari ini? bagaimana kalau kita berangkat ke kampus bersama?” ajak Sehun.

Ne, jam sepuluh nanti, bagaimana denganmu?” tanay Jongin.

“Setengah jam lagi, sih.. hehehe…” Jongin langsung menatap Sehun garang.

Ya! Kau! Kajja kita berangkat sekarang! Bagaimana jika aku terlambat, heoh?”

“Ahahaha… Gwaenchana, tidak masuk juga tidak apa-apa.” Jawab Sehun santai. Jongin menjitak kepalanya pelan.

“Dasar pemalas!” gerutu Jongin membuat Sehun tertawa mendengarnya.

Kajja!” ajak Sehun. Mereka berdua pun menuju parkiran taman untuk mengambil mobil milik laki-laki berkulit putih tersebut.

 

~~~~~~~~

 

Seorang perempuan tengah menyusun beberapa bunga yang ada dihadapannya dan sesekali ia mencium harum bunga tersebut.

“Tidak ada yang menandingi harum bunga lily..” gumamnya pelan lalu beralih ke keranjang bunga yang lain.

“Aaah~ Chrysanthemum..” sebutnya. Tak lama kemudian bel berbunyi secara otomatis.”

“Selamat datang di Kim’s florist! Ada yang bisa aku bantu?” sapa Hye Sun ramah.

Annyeong haseyo Hye Sun!” sapa seorang pria yang sangat dikenal oleh Hye Sun.

Ne, tuan Zhang Yixing? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Hye Sun sembari mengulas senyumnya. Ditangannya memegang bunga Chrysanthemum atau biasa disebut bunga krisan.

“Hhaha… kau bisa menebak ini aku?” Yixing tidak percaya.

Ne, tentu saja bisa…” jawab Hye Sun.

“Aha! Chukkae~ oh ya aku sudah belajar semalam tentang dunia bunga tapi aku baru belajar sedikit.” Yixing menggosok tengkuk lehernya, ia grogi.

“Huh? Jeongmal?” Hye Sun kaget.

Ne, yang kau pegang itu bunga Chrysanthemum atau bunga krisan, bukan? Artinya secara umum adalah kegembiraan dan kamu adalah teman yang luar biasa.” Tebak Yixing. Hye Sun bertepuk tangan mendengarnya.

“Whooaahh! Yixing daebak! Benar, ini adalah bunga krisan dan artinya juga benar. Sebagai hadiahnya, bunga ini untukmu..” Hye Sun memberikan bunga tersebut kearah dimana sumber suara Yixing berada.

“Bunga ini benar untukku?” tanya Yixing. Hye Sun mengangguk.

Gomawo, kau sudah menganggapku teman yang luar biasa.” Ucap Yixing dengan senang. ‘sebenarnya aku ingin lebih dari itu..’ batinnya.

Ne, cheonmaneyo.. kau memang luar biasa Yixing. Kau teman yang setia menemaniku di kala aku susah seperti ini.” mendengar hal itu Yixing tersenyum simpul.

“Hye Sun, hari ini aku ingin mengajakmu ke taman setelah makan siang, bagaimana?” ajak Yixing.

“Heoh? Jincha? Aku mau!” Yixing tersenyum mendengar respon dari Hye Sun.

“Yes! Kita akan berpiknik! Aku sudah membuat berbagai macam makanan sebagai bekal kita.” Hye Sun kaget mendengarnya.

Jincha? Kau bisa memasak?” tanya gadis itu.

Ne, tentu saja! Aku dulu adalah mantan koki di sebuah restaurant di Changsa, kota kelahiranku. Karena aku bosan, aku sengaja berhenti dan melamar menjadi pekerja kantoran.” Terang Yixing.

“Changsa? Dimana itu?” sepertinya gadis itu belum pernah mendengar nama kota tersebut.

“Itu di China. Aku berasal dari China.” Hye Sun pun ber “oh” ria mendengarnya. Pantas saja ia tidak tahu.

“Lalu kenapa berhenti? Padahal menurutku menjadi seorang koki tentu sangat menyenangkan! Semua orang akan menyicipi dan menyukai masakanmu.” Ujarnya.

Ani… menjadi koki itu lelah dan bosan. Karena terus berkutat di dapur, menu, alat dan bahan makanan. Hahahha..” Yixing tertawa.

“Hahaha… kau ini ada-ada saja!” Hye Sun ikut tertawa bersama Yixing.

‘Aku senang akhirnya kau bisa tertawa juga, Hye Sun-ah!’ batin Yixing lalu tersenyum manis. Sayang Hye Sun tidak bisa melihatnya.

Tanpa disadari oleh keduanya, sebuah kamera tengah merekam aktivitas yang mereka lakukan dan kembali dimatikan setelah dirasa cukup oleh sang empunya.

“Hahahaha! Lihat saja perempuan tidak tahu diri!” gadis itu tertawa dengan sinis lalu memasukkan kameranya kembali ke dalam tas. Setelah itu ia melenggang pergi meninggalkan tempat tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

 

Huehehehhe~ ottokhe? Ottokhe? Ditunggu yah komentarnya! Annyeong~

Ingat sekali lagi untuk RCL (Read, Comment and Like!) gomawoooo~

JANGAN LUPA MAMPIR YAAA

hanyafanfictionbiasa.wordpress.com

 

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s