[FREELANCE] Salt and Wound (Chapter 5)

Salt And Wound 3

Title : Salt And Wound

Author : NadyKJI

Web : http://cynicalace.wordpress.com/

Genre : Romance, Rearrange Married, Hurt/Comfort, School Life

Length : Chaptered

Rating : G

Maincast:

  • Kim Jong In – Kai
  • Eun Syu Rie (OC)
  • Soon

Other : Jung Eun Chae (OC), Chen, Sehun, D.O, Chanyeol, Luhan (Find It ~)

Disclaimer : FF ini murni ide-ide khayalan author yang kelewat tinggi, dilarang meniru dengan segala cara apapun, jika tidak ff ini tidak akan dilanjutkan lagi. Terima Kasih.

Author’s Note :

Ehem… *lirik-lirik

Annyeong readers, author kembali lagi dengan ff inin kkkk, tdk terasa sudah amat sangat lama ff ini bru d publish lagi…

Jujur saja author sangat sedih karena author harus belajar dan memotong jam nulis ff padahal ide itu datangnya simpang siur kalau mau belajar #plak, tapi apa boleh buat.

Yang penting author udh publish bukan? *Di rempuk readers yang udh kepo – eh emng ada ya? Author ke geeran #lah

Welll, sebelum author makin error..

HAPPY READING DAN RCL YAAKKKK ^^

___

 

 

 

-:Author PoV:-

Syu Rie berjalan cepat menyusuri lorong dengan kedua tangannya yang memeluk buku-buku tebal. Ia baru saja ditugaskan untuk mengembalikan buku-buku dalam pelukannya itu ke perpustakaan oleh guru sastranya.

“Rie-ah! Chankaman…”

Dan jangan lupakan, kalau ia tidak ditugaskan sendirian. Mendengar suara Eun Chae yang memanggilnya sudah memastikan kalau hari ini memang bukan hari keberuntungannya. Sejak Junmyeon – bukan, lebih tepatnya detik ketika matanya bersibobok dengan Kai. Kata ‘permainanmu bagus, akan kami pertimbangkan’ adalah skakmat untuknya. Jika memang Junmyeon sangat setuju dengan ide duet maka ia harus bersama Kai. Entahlah ia merasa tidak benar.

“Rie-ah…”

“Sejak kapan kau menyingkat namaku sesuka hatimu? Pagi ini kau masih menyebutkannya secara normal.” Syu Rie memotong untaian kalimat yang akan diloloskan bibir Eun Chae.

Eun Chae yang akhirnya mendapat perhatian seorang Syu Rie tersenyum, “Namamu terlalu panjang… Kau menyadari aku memanggilmu pagi ini? Lalu kenapa kau tidak menghiraukanku?”

“Aku memang tidak ingin menghiraukanmu.” Syu Rie membuka pintu perpustakaan dengan bahunya disusul oleh Eun Chae yang melakukan hal serupa.

“Aku tahu.” Eun Chae berkata dengan nada yang ringan mengikuti Syu Rie menuju rak sastra.

Bruk.

Syu Rie menyimpan buku-bukunya di meja terdekat, karena berat buku yang tidak main-main itu membuat suara debaman keras terdengar.

“Lalu kenapa kau masih saja… keras kepala?”

“Entahlah, karena aku tahu kau masih menghiraukanku meski kau berpura-pura untuk tidak?” Eun Chae tersenyum lebar membuat giginya terekspos, belum lagi gadis kekanak-kanakkan ini duduk di atas meja dengan mengayun-ayunkan kakinya.

“Aku tidak!”

Syu Rie mendengus, ia mengambil satu buku dan memasukkannya pada rak yang tepat, ia tidak ingin bertatapan dengan Eun Chae. Tidak seperti sebelum-sebelumnya ia seperti tidak bisa mengabaikan Eun Chae lagi. Mungkin karena kegigihannya juga betapa… tulusnya gadis itu untuk berteman dengannya.

“Ayolah~, tidak ada salahnya berteman?”

“Tid-” Syu Rie berbalik dan terbelalak, “Hush! Kenapa kau sudah berada di sini lagi? Mengagetkanku!”

“Jadi?” bukannya merasa tersinggung Eun Chae menunggu jawaban Syu Rie dengan wajah memohonnya. Senyum perlahan merekah dari bibirnya ketika wajah Syu Rie terlihat ragu.

“Mungkin.”

“Aku teman pertamamu!” Eun Chae berkata puas.

“Aku tidak bilang iya.”

“Setidaknya mungkin…”

“Ck?! Lupakan, aku tidak akan mempertimbangkannya, sekarang bantu aku.” Syu Rie menyelipkan beberapa buku di rak sambil memutar bola matanya.

“Ahahaha, baiklah temanku~”

***

“Syu Rie!” Luhan yang baru saja selesai memilih makanan berteriak begitu menemukan sosok Syu Rie yang baru memasuki kerumunan.

Syu Rie yang menyadari panggilan tersebut langsung mencari sumber suara dan pada akhirnya matanya bertubrukan dengan Luhan, Syu Rie dengan ragu berjalan menemui Luhan.

“Ayo makan siang bersama.”

Seperti biasa teman-teman Kai masih ingin membuatnya untuk makan bersama, jujur saja Syu Rie amat tidak nyaman. Yang ada di pikirannya adalah cara untuk mengelak sehalus mungkin.

“Chingu!”

Tanpa perlu menoleh Syu Rie sudah dapat menebak siapa yang baru saja memanggilnya karena beberapa saat kemudian sosok itu sudah menggandeng tangannya.

“Ah, annyeong Eun Chae-ssi.” Luhan tersenyum.

“Annyeong. Boleh kupinjam Syu Rienya?” Eun Chae bertanya pada Luhan.

Syu Rie yang menemukan kesempatan bagus langsung memotong percakapan, “Ani. Aku dan Eun Chae akan makan siang bersama. Jadi mianhae, kita harus berpisah meja.”

Luhan agak terkejut mendengar pernyataan Syu Rie, mengingat ia pernah melihat Syu Rie menepis ajakan Eun Chae sebelumnya. Tapi karena tidak memiliki alasan kuat untuk menahan Syu Rie bersamanya Luhan hanya mengangguk, “Ne.”

Dan tanpa berbalik lagi Luhan langsung berjalan menuju mejanya yang sudah diisi penuh kecuali satu kursi yang memang menjadi tempatnya. Begitu ia sampai orang yang pertama kali bertanya padanya adalah Chanyeol.

“Ke mana Syu Rie?”

“Oh, dia makan siang dengan temannya. Jung Eun Chae.” Luhan menjawab singkat.

“Mwo? Sejak kapan kau mengetahui namanya?” Sehun menaikkan alisnya.

“Ck! Tentu saja sejak aku melihat tag namanya beberapa menit lalu. Jangan berpikir yang tidak-tidak.” Sambar Luhan cepat.

“Ohoho, uri Luhan memiliki cerita tersendiri rupanya.” Chen menyeringai jahil.

Luhan sudah ingin memukul setiap orang yang baru saja memikirkan kemungkinan-kemungkinan aneh dirinya dengan Eun Chae, tapi seluruh isi meja terdiam ketika Kai angkat bicara.

“Hmm, bukankah dia tidak bersahabat dengan yeoja itu?”

“Well, semua orang berubah Kai. Wae? Kau mulai tertarik dengannya?” Hanya satu orang yang berani berkata seperti itu – D.O.

Kai hanya mendengus sebelum berkonsetrasi pada makanannya, dan seluruh isi meja jelas mengartikan kebisuan Kai sebagai pertanda bahwa namja itu mungkin saja mulai memperhatikan Syu Rie. Walaupun mereka sendiri tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi – catat: dalam waktu yang cukup singkat sejak kedua orang itu bersitegang.

Sementara itu Kai sedang bergelut dengan dirinya sendiri. Entah mengapa rasa penasarannya pada Syu Rie terus meningkat atau mungkin dirinya sudah menaruh perhatian pada gadis itu sejak pertama kali ia mengetahui bahwa senyum gadis itu palsu?

Ting….

Tiba-tiba saja suara denting piano seakan terdengar dari telinganya, dan perlahan berbagai kelebat ingatan mulai bersinggungan. Ingatan akan Syu Rie yang belum lama ini bermain piano dengan bayangan masa lalunya. Lagu yang dimainkannya berbeda, tapi jelas sekali gesturnya sama.

Jujur saja ia merindukannya.

Tapi pikirannya yang lebih nyata menyuruhnya untuk berhenti dan memikirkan hal yang memang harus dilakukannya.

Kekecewaannya saat itu cukup untuk merubah perasaannya.

Berkatnya, ia memiliki dendam.

Sekarang ia bertanya-tanya….

Mengapa Syu Rie serupa dengannya?

Kai baru menyadarinya detik itu.

***

“Syu Rie! Rie-ah!”

Syu Rie mengerutkan dahinya sejenak sebelum berhenti dari jalannya dan berbalik, “Apa? Kau ini berisik sekali.”

Eun Chae sama sekali tidak terganggu melainkan tersenyum, “Ayo kita melakukan tugas sastra ini bersama. Kau belum memiliki kelompok bukan?”

Syu Rie menatap sekelilingnya dan mendapati kalau seisi perpustakaan hampir menatapnya. Yap, perpustakaan. Saat ini kelasnya sedang pelajaran sastra dan kelasnya diminta untuk ke perpustakaan dan menganalisis sebuah novel. Syu Rie menghela nafas, “Baiklah, tapi sekarang mari berpisah. Kau mencari di rak sana, dan aku di sana.” Syu Rie menunjuk 2 rak yang diperuntukkan memang untuk novel.

Syu Rie tanpa menunggu lagi langsung berjalan menuju rak yang ia tunjuk dan mulai meniti satu-satu judul buku yang ada. Syu Rie adalah pencinta novel, tentu saja ia sangat menikmati keberadaannya yang dikelilingi oleh buku. Bau buku yang menggodanya untuk tinggal dan membaca sampai lupa waktu.

Jari-jarinya berlalu diantara buku-buku dan berakhir pada satu judul buku asing yang menarik perhatiannya.

Wuthering Heights.

Syu Rie menelan salivanya dan perlahan menarik buku terjemahan tersebut. Tangannya sedikit bergetar..

“Hei.”

Syu Rie terkesiap, tetapi untungnya ia masih cukup sigap untuk tidak membuat buku tersebut terlepas dari genggamannya, “Junmyeon-ssi.”

“Kau tidak apa-apa? Apakah aku mengagetkanmu?” Junmyeon tersenyum ramah.

Syu Rie tersenyum dan tertawa sedikit untuk menutupi keterkejutannya, “Tidak. Kenapa Junmnyeon-ssi bisa ada disini?”

“Aku sedang mencari-cari buku tentang musik. Tapi aku menemukanmu jadi aku memutuskan untuk menghampirimu.”

“Wae?”

“Ehmm, kupikir kau kandidat yang cocok. Jadi maukah kau tampil duet bersama Kai?”

Syu Rie terdiam sejenak, wajahnya jelas-jelas membeku tanpa bisa menjawab Junmyeon satu kata pun. Apakah ia harus? Sebenarnya ia tidak keberatan. Hanya saja Kai, namja itu yang menahannya. Apakah dia setuju? Terlalu jujur, tapi ia jelas-jelas tidak ingin terlibat percakapan tegang dengan namja itu terlalu sering.

Tunggu!

Tidak ingin terlibat?

Hah! Syu Rie akhirnya mengingat kembali kalau ia masih marah dengan namja itu karena namja itu berani menamparnya dan ia masih memiliki tugas untuk mengetahui ada apa dengan botol bening tersebut.

“Hmm, Kai dia…”

“Aku setuju. Tenang saja. Asalkan itu bisa membantu aku siap, bahkan jika Kai tidak setuju tapi jika ini untuk sekolah aku berani mengambil resiko.” Syu Rie memotong Junmyeon dan termenung setelahnya. Ia telah mengatakan sesuatu yang berada diluar keinginannya. Dari mana ia mendapatkan rangkaian kalimat tersebut?

“Ehem…”

Syu Rie tersadar, “Ah, mianhae Junmyeon-ssi.”

“Ada di mana kau Syu Rie-ssi? Kau sudah mengabaikanku dua kali. Apakah kau tidak menyadari kalau aku ini seniormu?” Junmyeon menatapnya bukan dengan ekspresi tersinggung melainkan wajah bercanda.

Namun kata senior cukup menghentaknya, “Maafkan aku, sunbaenim.” Syu Rie langsung membungkukkan tubuhnya.

“Ahaha, tidak apa-apa. Santai saja.”

“Kenapa sunbae tidak memberitahuku dari awal? Seharusnya sunbae tahu kalau aku in murid baru dan tidak mengetahui apa-apa.” Syu Rie benar-benar merasa bersalah sekarang.

“Tidak apa-apa. Justru aku membiarkannya agar kau tidak canggung. Lagipula kalau kau menganggapku seangkatan denganmu berarti aku cukup awet muda bukan?”

Hanya terpisahkan satu rak, bersenderlah Kai. Tangannya masuk ke saku celananya, sebuah senyum geli tersungging di sudut bibirnya, “Dia bodoh sekali. Lupakah dia kalau ia adalah murid kelas 3?”

***

Syu Rie membuka pintu mobilnya dan berjalan menuju pintu rumah. Sebelum memasuki rumah tersebut ia masih sempat untuk menghela nafasnya sejenak, memasuki rumahnya seakan membuatnya teringat kembali ia bukanlah gadis remaja biasa. Kakinya melangkah masuk, dentam halus dari sepatunya terdengar ketika mengetuk lantai marmer. Rumahnya amat sangat sepi – luas dan sepi. Membuatnya merasa kecil dan sendirian.

Tanpa memiliki jeda, Syu Rie sudah menaikki tangga dan memasukki kamarnya. Begitu tangannya menutup pintu ia menghempaskan ranselnya ke tempat tidur, sedangkan dirinya mencapai lemari untuk mencari baju yang nyaman. Tangannya berhasil meraih kaus dan celana pendek.

Blam.

Ia menutup pintu lemarinya tapi ia yakin, suara yang didengarnya bukanlah suara lemari di tutup. Melainkan seseorang baru saja datang, dan kemungkinan yang ada di pikirannya adalah Ahreum.

Secara tiba-tiba mengingat Ahreum, Syu Rie merasa lapar. Mengulum tawanya Syu Rie berjalan cepat menuruni tangga dan berbeda dengan dugaannya melainkan menemukan sosok seorang gadis ia malah berpapasan dengan wanita paruh baya.

“Agassi.”

Syu Rie menganggukkan kepalanya dan sekilas melihat belanjaan yang di bawa oleh wanita itu, “Ajhuma mau memasak?”

Ajhuma tersebut tersenyum menampakkan keriput di wajahnya, “Benar agassi. Wae?”

“Ehmm, aku bertanya-tanya mungkinkah aku bisa membantu.”

Pada awalnya ajhuma yang setelah bertanya diketahui bahwa ia bermarga Park, menolak keinginan Syu Rie dengan alasan memasak adalah tugasnya dan ia sebagai pembantu. Namun berkat kekeras kepalaan Syu Rie akhirnya Park ajhuma mengizinkannya.

Dan sekarang sudah menginjak setengah jam Syu Rie dan Park ajhuma berada di dapur. Masakan mereka sudah hampir selesai. Perut Syu Rie semakin memberontak ketika wangi masakan terhirup hidungnya.

“Wanginya enak!”

“Ehehe, cicipilah agassi, pasti rasanya lebih enak lagi.” Park ajhuma tersenyum.

Syu Rie mengambil sesendok kaldu dan merasakannya. Kontan rasa kaya dari kaldu ayam tersebut terkecap di lidahnya, “Mashita!”

Park ajhuma tersenyum melihat majikannya menyukai masakannya.

Blam.

Park ajhuma mengalihkan perhatiannya dan berjalan untuk melihat siapa yang baru saja datang di susul dengan Syu Rie yang penasaran. Begitu mereka keluar dari dapur dan mendekati ruang tengah, mereka dapat melihat sosok Kai. Namja itu baru saja pulang.

“Selamat datang tuan muda.” Park ajhuma langsung membungkuk hormat yang dibalas Kai dengan anggukan singkat.

Sementara Syu Rie terdiam ketika matanya tidak sengaja menatap mata Kai. Syu Rie merasa canggung dengan kehadiran namja itu, biasanya namja itu tidak pulang sepagi ini.

Berbeda dengan Syu Rie yang jelas-jelas tidak nyaman, Kai hanya mengedikkan bahunya dan berjalan ke dapur. Tujuannya adalah kulkas, ia menginginkan air dingin untuk menghilangkan lelahnya.

“Makan tuan?” Park ajhuma mengejutkan Kai dengan kedatangannya.

“Tidak. Saya akan pergi lagi.”

Park ajhuma hanya dapat menangguk dan melanjutkan kegiatan memasaknya, sedangkan Syu Rie baru saja sadar dan menyusul dibelakang ajhuma beberapa detik kemudian. Ia berpapasan dengan Kai yang melewatinya. Syu Rie otomatis berputar untuk sekedar mengamati ke mana langkah Kai akan berakhir.

“Kau mau pergi lagi?” Syu Rie berbicara begitu menyadari tujuan namja itu adalah pintu.

Namun sia-sia ia telah mengeluarkan beberapa patah kata, Kai tidak menjawab pertanyaannya.

Syu Rie memandangi kepergian Kai selama satu menit penuh. Hah, namja itu sungguh tidak mudah untuk dipelajari. Ia bahkan pergi lagi tanpa mengganti seragamnya, dan hanya satu kesimpulan yang ada di benak Syu Rie. Namja itu memang tidak ingin di rumah dan tinggal bersama dirinya dan Syu Rie amat sangat tahu itu.

Syu Rie memilih untuk tidak peduli dan melanjutkan langkahnya menuju dapur.

“Agassi, apakah agassi tahu ke mana tuan muda pergi?” pertanyaan itu menyambutnya begitu ia sudah berada pada posisinya, mengaduk-aduk panci berisi soup.

“Tidak. Ia memang jarang berada di rumah.”

“Kalau begitu haruskah aku mengurangi porsi masakanku?”

Syu Rie terdiam sejenak, “Ehmm, tidak perlu”

Karena Syu Rie tidak pernah melihat makanan sisa di meja pagi hari setelah ditinggalkannya sesudah makan malam.

****

Hari sudah malam dan Syu Ri sedang membaca Wuthering Heights – ia berhasil meminjamnya, ketika ponselnya bergetar. Syu Rie mengalihkan perhatiannya untuk melihat nomor siapa yang tertera di sana. Matanya menangkap unknown number dan pada kesempatan pertama ia mengabaikan panggilan itu. Namun habis juga kesabarannya ketika nomor itu menghubunginya 3 kali berturut-turut tanpa henti.

“Halo?”

“Syu Rie-ssi!”

Syu Rie terdiam dan mengetahui siapa yang baru saja menghubunginya. Keadaan menjadi hening seketika, Syu Rie menangkap informasi yang dituturkan dari sebrang sana.

Detik demi detik berlalu, akhirnya Syu Rie mengangguk.

Dengan gerakan ringkas Syu Rie bangkit mengenakan cardigannya dan cepat-cepat keluar dari kamarnya. Ia terlihat mencari-cari sesuatu di pintu depan dan berkahir dengan menyambar kunci mobil di gantungan dekat pintu.

 

-:Kai PoV:-

Ingar-bingar musik yang menusuk-nusuk telingaku membuat jenuh. Sudah cukup lama aku berada di sini, bahkan ini sudah menjadi keseharianku. Tanpa ampun aku sudah mengambil gelas berisi cairan bening dan meminumnya dalam satu tegukan.

“KAI!”

Seseorang meneriakkan namaku dan aku langsung tahu itu siapa, tentu saja Sehun, orang yang menemaniku di tempat penuh dosa ini. Ah bukan. Karena Sehun memang bekerja menjadi bartender di sini otomatis ia selalu ada dan menemaniku setiap hari.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kau sudah minum berapa banyak? Seungjo! Jangan memberikannya lagi minuman!” Sehun mencengkram bahuku dan berteriak ke arah rekannya yang melayaniku sebelum ini.

“Tidak kuhitung.” Memoriku mulai berkelebat tentang gelas-gelas yang telah aku tegak isinya lalu perlahan bayangan itu menghilang digantikan pandanganku yang mengabur. Kepalaku berputar seperti berada dalam roller coaster atau mungkin lebih buruk.

“Lihat! Ada apa dengamu? Kau minum banyak sekali? Adakah masalah?”

Hah. Hidupku memang sudah penuh dengan masalah, tapi kutahu yang dimaksudkannya adalah masalah yang lebih serius.

“Ah….” aku mengantungkan kalimatku.

“Ck! Jawab aku atau kau tidak akan pernah menginjakkan kakimu di sini lagi. Kau telah melanggar kesepakatan denganku. Kau lupa mengapa aku mengizinkanmu datang setiap hari?”

Ani, aku tidak lupa. Aku tersenyum tipis, well, aku selalu kemari untuk mencari obat tidurku – alhokol satu sampai tiga gelas. Tapi hari ini aku melampaui batasku.

“Ash… seseorang harus membawamu pulang.” Sehun menggerutu dan kurasakan ia merogoh saku jaketku. Ia meraih ponselku sebelum melakukan niatnya ia menatapku, dan aku menatapnya dengan ‘jangan orang tuaku’.

Setelahnya aku memejamkan mataku, menunggu orang yang akan menjemputku – yang aku masih tidak tahu siapa orangnya.

***

“Astaga!”

Aku mengerjapkan mataku mendengar suara tercekik seorang yeoja. Dengan kemampuan memandangku yang masih buram aku mencoba mengidentifikasikan siapa yeoja itu.

“Kau membawa mobil bukan?”

Yeoja itu mengangguk.

“Baiklah, aku bantu kau membawanya ke mobil. Kkaja.”

Kurasakan Sehun mencoba untuk memapahku tapi aku menarik tanganku. Konsentrasiku masih untuk mengidentifikasikan siapa gadis tersebut. Situasi ini seperti de javu.

Ia dirinya.

Permainan piano itu.

Dapur…

Semua ingatanku bercampur aduk. Aku bisa merasakan sekali lagi ingatan masa laluku dengan ingatanku yang sekarang bersinggungan bahkan bertubrukan dan menempel menjadi kepingan yang serupa.

“Ugh…”

Lalu yeoja itu membantu Sehun dan menarik tanganku ke pundaknya, dan aku tidak melawan lagi.

Eun Syu Rie….

Gadis dengan rambut hitam panjang lurus….

They’re two different people, yet with so much similiarity. In my eyes and mind.

-:Syu Rie PoV:-

‘Kumohon Syu Rie-ssi. Jangan beritahukan kejadian ini pada siapapun.’

Aku menghela nafasku, siapapun termasuk teman-teman Kai yang lain bukan? Juga eomonim dan abeonim. Appa dan juga eomma. Aku tidak akan keberatan untuk tidak mengatakannya pada siapapun, itu sama sekali bukan hobiku.

Namun setelah beberapa jam ini menunggu Kai bangun, pekerjaanku hanyalah bertanya-tanya. Kai… aku sama sekali tidak dapat mengerti. Apa yang terjadi di kamarnya. Atap sekolah. Kantin. Sekarang ini.

Untuk apa ia pergi ke bar sampai mabuk begitu?

Ting..

“Ah, haejangguknya!”

Aku langsung bangkit dari tempatku dan dengan telaten menyiapakan haejangguk yang sudah masak tersebut. Ramuan sup tersebut cukup sederhana; iga babi, kubis yang dikeringkan, darah sapi yang sudah beku, ebi, dan beberapa jenis sayuran. Untunglah aku pernah belajar membuatnya dan bahan-bahannya ada. Aku meletakkan mangkuk berisi haejangguk dan segelas air putih ke nampan dan naik ke lantai atas – kamar Kai.

Aku berdiri cukup lama pintu yang tidak tertutup rapat itu sebelum memutuskan untuk benar-benar masuk. Pandanganku menyisir isi kamar tersebut, yang tidak jauh berbeda keadaanya dengan terakhir kali aku bertamu waktu itu.

Aku mendapati Kai sudah bangun dan sedang bersandar pada kepala tempat tidur. Perlahan aku berjalan mendekat dan meletakkan nampan yang aku di meja samping tempat tidur.

“Makanlah. Ini baik untuk mabuk.” Kataku, biasanya ketika bertamu ke kamar seseorang aku pasti langsung duduk di pinggir tempat tidur. Tapi akuhanya berdiri kali ini menunggu jawaban Kai.

“Kau tidak tidur?” Kai menatapku menaikkan alisnya.

Jari tanganku refleks mengecap bawah mataku, “Ne, kelihatan ya?”

“Tentu saja. Well, gomawo supnya. Sekarang kau lebih baik istrirahat.” Katanya beranjak bangkit.

Aku hampir saja mengikuti sarannya untuk pergi beristirahat tapi begitu melihat angka yang tertera pada jam di kamar Kai, “Ani, aku akan sekolah.”

Aku cepat-cepat berbalik, tapi Kai meraih tanganku dan menahanku di tempat. Aku tidak berani menoleh dan diam dalam posisiku seperti patung sementara seluruh tubuhku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.

“Boloslah satu hari. Tuan Han bisa membuatkan kita surat sakit. Menurutlah daripada kau membuat gempar satu sekolah dengan pingsan.” Kai berkata dengan nada yang tidak bisa ditolak.

“Ehem, apa urusanmu? Aku akan baik-baik saja dan lebih baik aku pergi sekarang, kau juga butuh istirahat bukan?” aku berusaha menarik tanganku dari genggamannya, dan saat proses tersebut sialnya pandangan mataku melewati benda mau yang telah membuat tragedi – botol itu.

“Terserah padamu. Aku hanya memberikan saran.”

Lalu pergelangan tanganku yang tadi dipegang Kai merasakan dingin karena perubahan keadaan. Tanpa bicara lagi aku langsung berjalan menuju pintu. Dan ketika berbalik untuk menutup pintu mataku melirik ke arah Kai dan botol itu.

Cklek.

Aku menyandarkan punggungku pada pintu, merasakan betapa beratnya tubuhku juga kelopak mataku. Aku berusaha memulihkan diri dengan menghirup dan menghela nafasku. Setelahnya aku memisahkan diri dari pintu, melangkah menuju kamarku.

Sepanjang jalan menuju kamarku aku kembali bertanya-tanya tentang Kai.

TO BE CONTINUE…

 

11 thoughts on “[FREELANCE] Salt and Wound (Chapter 5)

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s