Ravens The Chinese Danger [Chapter 3]

Ravens The Chinese Danger - Chapter 1

Ravens The Chinese Danger [Chapter 3]

Author: Choi Seung Jin @kissthedeer

Genre: Action, Crime, Multicultural

Leght: Chaptered (Still on going)

Main Cast:

Kris Wu / Wu Yi Fan  || Xi Lu Han || Huang Zi Tao || Lay / Zhang Yi Xing || Xia Zi Liu (OC)

Other Cast:

Kim Joonmyun || Moon Eunjin (OC) || Oh Sehun || Kim Minseok || Park Chanyeol

Author’s Note:

Storyline belongs to me. Please repect! Don’t be silent readers!

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

********

Tokyo Hospital Center

04.53 p.m. waktu setempat

 

“Nice to meet you…”

Kata-kata itu…

“I hope we’ll meet again..”

Kata-kata pria itu terus membayanginya. Seperti mimpi buruk tak berujung.

“Eunjin!”

Seseorang memanggilnya. Memanggil namanya. Dia bisa dengar itu.

“Eunjin!”

Suara itu masih terdengar dan semakin jelas. Kini dia benar-benar terbebas dari bayangan mimpi anehnya.

Eunjin membuka matanya perlahan. Buram diawal. Pandangannya masih tidak fokus sampai dia kembali berkedip. Butuh 2 kali berkedip untuknya mengembalikan penglihatannya. Dia bisa melihat seseorang menatapnya khawatir, meski belum sepenuhnya bisa terlihat.

Dia kembali berkedip seiring pandangannya yang semakin jelas. Inspektur Suho yang dikenalnya, ternyata. Dia berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang. Selain Suho, dia juga bisa melihat teman-temannya; Sehun, Chanyeol dan Xiumin.

Semua orang berkumpul dan dia sendiri harus mencari tahu dimana dia sekarang. Menggunakan semua panca inderanya untuk mengetahui tempatnya berada sekarang. Dia merasakan tubuhnya berbaring di suatu permukaan yang empuk dan nyaman dirasakan indera perabanya. Aroma Rumah Sakit yang selalu dibencinya menusuk indera penciuman miliknya. Kini dia sadar kalau dia ada di Rumah Sakit sekarang. Tapi, bagaimana dia bisa ada disana?

“Inspektur?” Ucap Eunjin untuk pertama kalinya sejak kesadarannya sudah sepenuhnya terkumpul.

“Thank God you’re alright!” Kata Suho mensyukuri keadaan Eunjin yang sekarang sudah sadar.

Eunji sendiri masih berusaha untuk benar-benar terbangun. Memang susah untuk membuat mata tetap terbuka disaat baru saja bangun dari tidur yang tidak disengaja.

“What happen?” Tanya Eunjin pelan.

“Seseorang memukulmu sampai pingsan. Mungkin Kris yang melakukannya. Beruntung Chanyeol dan Xiumin cepat menemukanmu dan langsung pergi ke sini,” ujar Suho.

“Inspekur tidak apa-apa?” Tanya Eunjin lagi mencemaskan pria yang sudah menjadi atasannya selama 2 tahun terakhir.

Suho tersenyum dengan hanya menunjukkan tangan kirinya yang dibalut oleh perban putih seperti tangan mummi. Dia menderita luka ringan akibat tangannya mengenai benda tajam seperti kaca. “Hanya luka ringan. Aku terkejut karena Tao serius tentang hanya memberiku luka kecil.”

Eunjin mencoba bangkit dari ranjangnya. Sedikit pusing, tapi dia tetap memaksakan diri. Seorang polisi memang harus punya stamina kuat separah apapun kondisi yang sedang dialaminya. Dengan berpegangan pada lengan Chanyeol sebagai benda terdekat, dia berhasil setidaknya untuk duduk.

“Bagaimana perkembangannya?” Tanya Eunjin lagi.

“Kita gagal menghentikan aksi Kris pada Grandprix hari ini. Dua orang tewas,” ujar Suho lesu.

“Siapa kali ini korbannya?”

“Yama Kozaku, 63 tahun dan anaknya, Toshiro Kozaku, 27 tahun. Tuan Kozaku tewas ditembak dikepalanya, sedangkan Toshiro tewas dalam ledakkan akibat tabrakan hebat yang dibuat oleh Luhan,” jelas Xiumin membaca buku catatan kecil yang selalu ia bawa-bawa. “Aku memeriksa data mereka berdua. Hal yang membuatku tekejut adalah anak dan ayahnya ini adalah  salah satu ketua kelompok mafia terbesar di Jepang.”

Eh?

“Yama Kozaku adalah ketua dari kelompok Yakuza paling berbahaya di Jepang. Dia adalah orang paling merugikan Jepang dalam bidang kriminal karena perbuatannya yang selalu merugikan negara. Kasus terbesarnya adalah penculikan besar-besaran terhadap wanita Jepang miskin terlantar dan kemudian ia jual ke luar negri. Sedangkan anaknya Toshiro sebenarnya seorang pembalap profesional F1 yang mewakili Jepang. Tapi kejahatan yang dilakukannya sama saja dengan yang dilakukannya ayahnya. Bedanya Toshiro adalah spesialis narkoba dan bisnis klub malam. Catatan kejahatan mereka cukup banyak, tapi entah kenapa tidak pernah ada surat penangkapan resmi untuk mereka sehingga mereka bebas berkeliaran,” kata Xiumin sambil membaca apa yang sudah ia tulis sebelumnya didalam buku catatan hitam kecil miliknya.

“Isn’t it weird?” Ucap Chanyeol. “Apa kalian tidak menyadari kalau semua korban Kris pasti berhubungan dengan mafia, teroris dan pejabat korup? Apa itu tidak aneh?”

Mereka semua terdiam. Berpikir kalau perkataan Chanyeol memang ada benarnya. Catatan korban The Ravens pasti berhubungan dengan mafia, teroris, bahkan sampai pejabat korup. Ditambah dengan jumlah korban warga sipil yang perbandingannya hanya sekitar 0,12 persen dari total seluruh korban, membuat seolah The Ravens punya target tertentu untuk setiap aksi mereka.

“Well… Memang benar semua korban Ravens itu kebanyakan mafia dan kelompok teroris,” ujar Xiumin melihat lagi catatan andalannya itu. “Tapi, masa Ravens hanya mengincar mafia dan orang sejenis itu?” Ucap Xiumin yang bersikap seolah hal itu bukan sesuatu yang aneh.

“Tapi jika dipikir-pikir Chanyeol hyung ada benarnya juga. Mengingat semua korban The Ravens memang bukan orang baik-baik semua,” kata Sehun mengungkapkan ungkapan setuju.

“Kalau memang benar Ravens hanya mengincar mafia, teroris dan semacamnya, apa tujuan mereka menghabisi kelompok sejenis mereka? Itu, kan sama saja membunuh kaum sendiri” ujar Eunjin berpendapat.

“Apapun alasannya dan siapapun yang mereka bunuh, perbuatan Ravens tetaplah bersalah. Tidak perduli yang mereka bunuh teoris dunia sekalipun,” kata Suho tegas.

“Sekarang bagaimana? Kita kehilangan jejak Ravens setelah mereka kabur tadi,” kata Chanyeol mengingatkan kembali tentang keberadaan Ravens.

“Kita harus mulai dari awal lagi untuk mencari mereka. Kita kumpulkan data yang kita bisa dapat. Sehun juga sudah bertemu anggota wanita mereka,” kata Suho mengambil keputusan. “Kita kembali ke Seoul.”

 

****

Seol, South Korea

12.35 p.m KST

Salah satu rumah termewah di kota Seoul dengan luas lebih dari 10 hektar menjadi base Ravens selajutnya di negara gingseng ini. Kekayaan keluarga Wu sudah tersebar di seluruh Asia berkat tangan dingin Kris, meskipun berberapa dari aset miliknya adalah barang ilegal.

Untuk berberapa hari kedepan, mungkin Ravens akan rehat dulu mengingat kondisi terakhir setiap anggota yang kurang baik setelah misi terakhir. Terlebih Luhan yang sejak tiba di Seoul kerjaannya hanya istirahat dan tidur untuk memulihkan keadaannya. Kris juga hanya menghabiskan waktunya untuk tidur karena stress memikirkan soal polisi yang berhasil melacak keberadaannya. Begitu pula dengan yang lainnya.

Lay sedang duduk didepan laptopnya—dengan secagkir kopi bersamanya—saat Liu datang menghampirinya dengan wajah dingin yang selalu ia berikan kepada semua member tak terkecuali. Menghabiskan waktu sampai kondisi semua member kembali seperti semula dengan bermain game adalah hal yang sudah pasti Lay lakukan.

“Lay,” panggil Liu. “Bisa, kah kau mencari data semua polisi yang mengejar kita?”

Tidak biasanya Liu begitu perduli dengan siapa yang mengejar Ravens atau dirinya sendiri. Wajah yang diberikan pun sangat serius sehingga Lay tidak berani untuk menolak permintaan wanita yang umurnya lebih tua berberapa bulan dengannya.

“Kenapa kau tiba-tiba ingin tahu? Bukankah biasanya kau tidak perduli?” kata Lay heran.

“Jangan banyak protes! Lakukan saja!” ketus Liu.

“..baiklah.”

Sepertinya rasa ingin tahu Liu memang menjadi hal yang serius jika wanita itu sudah marah saat Lay protes padanya. Tidak mau mendapat omelan lagi, Lay cepat membuka sebuah folder khusus yang sudah ia buat sesaat setelah Ravens tiba di Seoul dua hari yang lalu. Ia sudah bisa menebak akan ada yang memintanya untuk ini.

“Ini, kan yang kau maksud?” Lay menunjukkan isi folder itu yang sangat banyak sekali. Ada lebih dari 100 file disana.

“Semua ini? Banyak sekali,” ucap Liu terkesan.

“Jadi.. apa yang kau cari?” tanya Lay.

“Hmm.. coba tunjukkan aku semua data mereka satu-satu!” perintah Liu.

Lay menggerakkan kursor dan membuka salah satu file dengan judul ‘Kim Joonmyun’. File ini berisi data mengenai Inspektur bernama Kim Joonmyun yang merupakan ketua tim penangkap Ravens.

“Nama aslinya Kim Joonmyun. Lahir tanggal 22 Mei 1987. Sudah menjabat sebagai Inspektur Muda sejak 2 tahun yang lalu, tepatnya saat umurnya 25 tahun. Dia mendapat gelar Inspektur termuda saat itu karena biasanya untuk menjadi Inspektur butuh waktu lebih dari 5 tahun dengan umur diatas 30 tahun. Orang-orang biasa memanggilnya Inspektur Suho ketimbang Inspektur Kim atau Joonmyun. Dia dipercaya untuk menangani kasus sebesar kita oleh Presiden Korea. Jika dia berhasil, dia akan langsung naik pangkat. Sangat mengesankan,” kata Lay menjelaskan isi file yang pertama itu. “Aku yakin kau tidak tertarik untuk mengetahui latar belakang dan keluarganya. Jadi untukmu, akan ku longkap saja.”

Lay menutup file Suho dan beralih ke file berikutnya. File itu berjudul ‘Moon Eunjin’ yang pasti Liu langsung tahu siapa karena hanya ada satu wanita dalam tim polisi itu.

“Kau tahu dia, kan? Moon Eunjin kelahiran 10 Oktober 1989. Lahir di Jepang tapi besar di Seoul sampai sekarang. Seorang Detektif Letnan Divisi 1: Kejahatan Kelas Berat. Eunjin termasuk polwan yang kuat tapi terkadang sisi feminimnya menjadi titik kelemahannya. Makanya kemarin kau sangat mudah menghadapi Eunjin, kan? Tapi setidaknya dia seorang Detektif terbaik di Seoul meskipun dia seorang wanita. Berbeda sekali dengan adiknya—“

“Wait!” potong Liu. “Dia punya adik?”

“Ya, begitulah. Tapi tidak penting juga sih untuk membahas itu. Karena Eunjin sendiri tidak pernah bertemu lagi dengan adiknya semenjak adiknya memutuskan untuk hidup sendiri berberapa bulan setelah Eunjin menjadi seorang detektif. Oiya.. Suho sendiri yang menunjuk dia untuk masuk ke dalam tim setelah mendapat persetujuan dari Presiden,” ujar Lay panjang lebar.

“Baiklah. Lanjutkan ke yang berikutnya!” perintah Liu. Mendengarnya, Lay cepat membuka file berikutnya dengan judul ‘Park Chanyeol’. Liu tidak tahu kalau ada polisi lain yang mengejar Ravens selain Suho, Eunjin dan polisi sialan—menurut Liu—itu.

“Namanya Park Chanyeol. Lahir 27 November 1988. Dia juga seorang Detektif di Divisi yang sama dengan Eunjin—tentu saja. Dia salah satu polisi paling berpengaruh di Seoul. Jika dilihat dari data aslinya, laporan hasil kerjanya tidak sebanyak Suho dan Eunjin. Bahkan laporan kerjanya yang paling sedikit diantara tim ini. Meski begitu, sekali dia bertugas, kasus yang ditanganinya adalah kasus berat. Tapi entah dengan alasan apa, Presiden secara langsung menunjuknya turun pada misi ini. Sayangnya, aku tidak bisa menemukan alasan itu. Yang kutemukan malah data keluarganya yang paling lengkap diantara yang lain. Salah satunya adalah kakak perempuannya yang seorang pembawa acara berita di TV.”

“Lalu, apa hanya ini saja?” tanya Liu sesaat setelah Lay selesai berbicara.

“Tidak juga. Aku hanya belum—“

“Bukan data orang ini. Maksudku, apa masih ada polisi yang lain dalam tim ini?” potong Liu yang langsung memperjelas maksudnya.

“Oooh… Masih ada 2 orang lagi,” kata Lay sambil membuka file berikutnya dengan judul ‘Kim Minseok’. “Ini dia berikutnya.”

“Detektif Kopral Divisi 1, Kim Minseok a.k.a Detektif Xiumin. Lahir 29 Maret 1986—memang lebih tua dari Suho. Dia salah satu detektif terbaik yang dimiliki kepolisian Korea. Dia orang yang teliti dan daya analisisnya yang kuat. Saking hebatnya, CIA pernah berniat untuk merekrut orang ini, tapi sayangnya dia sendiri menolak dan lebih memilih untuk tetap menjadi polisi Korea. Sayang sekali padahal. Oiya.. Dia juga pernah mengalami trauma hebat setahun yang lalu akibat temannya yang tewas saat bertugas bersamanya. Tugas menangkap kita adalah tugas pertamanya sejak dia kembali. Jika dalam keadaan terdesak, kita bisa saja memanfaatkan kondisi psikologinya dan mengembalikan rasa traumanya untuk melawan dia,” ujar Lay menjelaskan panjang lebar.

“Teruskan!” kata Liu.

“Kenapa kau ini? Buru-buru banget,” gerutu Lay seraya membuka file terakhir yang berjudul ‘Oh Sehun’.

“Opsir Oh Sehun ini adalah anggota paling muda di tim. Dia lahir 12 April 1990. Dia ini sebenarnya masih polisi baru, tapi entah kenapa sudah menghadapi misi sebesar ini. Presiden dan Suho sendiri sudah sangat mempercayai orang ini,” jelas Lay singkat. Memang yang paling singkat.

“Itu saja?” kata Liu.

“Yaa.. memangnya mau gimana lagi? Dia kan polisi baru. Hanya tinggal data latar belakang dan keluarganya saja. Kau tidak mau mendengar itu, kan?” ucap Lay.

“Aku mau data orang ini lengkap. Kirim ke ponselku sekarang!”

“Kenapa sih? Jadi ini alasanya kau menyuruhku untuk menujukkan data-data polisi itu. Untuk polisi bernama Oh Sehun ini?” kata Lay heran. Sejak kapan Liu bisa begitu perduli dan penasaran dengan musuhnya sampai meminta data lengkap seperti ini.

“Aku ingin buat perhitungan dengannya yang berani menguntitku saat di Tokyo kemarin.” Liu sangat semangat jika membicarakan soal memberi pelajaran pada orang yang dibencinya. Mungkin memang karena orang yang pendendam.

“Kau, kan cuma dikuntit 2 hari. Segitu bencinya?”

“Yang namanya dikuntit, tetap saja dikuntit. Kau kirimkan saja sekalian semua data polisi-polisi itu biar kau puas,” kata Liu jutek. “Pokoknya sebelum malam, data-data itu harus sudah ada di lapotopku. Understand?”

“Yes, Ma’am!” Ucap Lay berlagak hormat seperti sedang berhadapan dengan seorang Jendral. Tapi kenyataannya Liu memang seorang mantan tentara, kan. “Ngomong-ngomong, Kris masih tidur?”

Liu mengarahkan pandangannya pada sebuah pintu yang jaraknya tak jauh dari– yang bukan lain adalah pintu kamar Kris. Memang sudah lebih dari 6 jam, Liu ataupun Lay tidak melihat Kris sama sekali yang mengurung diri di kamarnya. Bukan hal yang baru honestly. Kris memang suka memisahkan diri dari anggotanya untuk sendiri.

“I think so. Let me check it,” kata Liu seiring langkahnya pergi meninggalkan Lay menuju depan pintu kamar Kris. Liu sudah cukup terbiasa dengan membuka pintu kamar Kris tanpa perlu mengetuk dulu. Selagi Kris tidak merasa keberatan, Liu tetap santai dengan kebiasaannya itu.

Pintu itu terbuka sangat pelan. Liu berusaha supaya tidak ada suara pintu terbuka yang menggangu sedikitpun. Liu memandang ranjang besar yang akan langsung terlihat saat pintu terbuka.

“Kris?”

Yang Liu dapatkan sekarang hanya ranjang kosong dengan kondisi yang berantakan. Itu artinya Kris sudah bangun dari tadi. Sprei coklat keabuan terlihat kusut dan selimut dengan warna senada juga tidak rapih. Bantal dengan warna yang sama letaknya sudah tidak karuan.

“Where did he go?” Gumam Liu pelan.

Kemudian, matanya menangkap selebar kertas di atas meja dengan tulisan bertinta merah.

 

Keluar untuk mencari udara segar. Jangan cemaskan aku!

Kris

 

 

****

Keempat roda mobil Porsche Cayman S-01 hitam itu melaju di sepanjang jalan kota Seoul yang padat akan kesibukan ibukota Korea Selatan itu. Pria itu mengendarai mobil miliknya sendirian ditengah ramainya kondisi lalu lintas, melakukan seperti apa yang ia tulis di note kecil yang ia tinggalkan di kamarnya. Dengan kecepatan yang normal—20 km/jam—tak ada yang mencurigai kalau mobil yang sedang melaju itu adalah milik seorang ketua kelompok teroris paling berbahaya.

Kris memang sedang pusing memikirkan soal polisi-polisi itu. Sedingin apapun ekspresinya saat menghadapi polisi kemarin, tapi tetap saja dia masih heran. Bagaimana polisi bisa melacak keberadaannya secara detail seperti kemarin? Contohnya saja; Liu sudah dimata-matai selama 2 hari.

Kini Kris harus memikirkan bagaimana mengahapus kembali jejak Ravens dari endusan polisi. Kejadian di Tokyo kemarin mungkin akibat kurang telitinya Kris dalam membersihkan semua bekas tindakkannya, tapi kesalahan itu tidak boleh terulang untuk kedua kalinya. Sudah bagus dia menciptakan rekor 3 tahun tanpa terendus polisi dan sekarang rekor itu sudah hancur, membuatnya harus memulainya dari awal lagi.

Masalah kedua yang dihadapi Kris saat ini adalah dia belum sempat mencari petunjuk keberadaan kelompok Hurricane yang diincarnya. Jika saja Ravens bisa lebih lama berada di Tokyo, mungkin Kris bisa mendapat sesuatu. Dan jika saja tidak ada polisi yang berhasil melacaknya, Kris pasti masih ada di Tokyo.

Untuk sementara ini, Kris dan anggota Ravens lain mungkin akan tinggal di Seoul sampai mereka menemukan petunjuk keberadaan The Hurricane. Pasti akan sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama mengingat Kris tidak mempunyai petunjuk sedikitpun. Satu-satunya orang yang bisa diandalkannya sekarang adalah Lay beserta laptop andalannya. Dia percaya kalau Lay bisa menggunakan akses CCTV yang bisa dia sadap untuk memcari posisi The Hurricane sekarang.

“Aaaaaah!!” Kris mengacak-acak rambutnya frustasi. Kesal dengan kesalahan yang kemarin ia alami. Gara-gara polisi-polisi itu, dia kehilangan kesempatan untuk melacak keberadaan The Hurricane dan membuatnya harus memulai semuanya dari awal. “Beruntung mereka itu polisi!”

Masalah ketiganya adalah Kris sendiri tidak tahu mau pergi kemana. Dia hanya menyetir kesembarang arah dan mutar-mutar dikawasan yang sama. Mungkin jika ada pejalan kaki yang teliti, dia bisa menyadari kalau mobil Kris sudah lewat lebih dari satu kali. Sebenarnya banyak kedai makanan yang tersebar disepanjang jalan, tapi Kris sedang tidak berselera untuk makan apapun sekarang. Padahal dia belum makan dari pagi.

Apa aku ke apartemen anak itu saja? Batin Kris berpikir.

“Eh? Tapi jam segini pasti dia sedang kuliah,” gumam Kris membatalkan niatnya untuk mengunjungi orang yang dia sebut ‘anak itu’. “Huft.. Padahal aku sudah lama tidak bertemu dia.”

Sehubung niatnya yang gagal, Kris kini mulai merasa lapar. Masuk akal kalau dia sekarang kelaparan. Tapi selera Kris lagi-lagi menghambat. Kris termasuk orang yang pilih-pilih makanan. Mungkin makanan yang ingin dia makan bisa dihitung dengan tangan.

Kris mengurangi kecepatan mobilnya sambil memilih rumah makan mana yang menurutnya enak. Kebanyakan dari rumah makan yang berjejer disana adalah rumah makan masakan Korea—tentu saja. Tapi, Kris tidak suka makanan Korea. Susah lagi..

“McDonald’s?” ucap Kris yang melihat bangunan restaurant fastfood McDonald’s didepannya. “Not my style.” -_-

Tidak ada pilihan lagi. Sepanjang jalan hanya ada rumah makan masakan Korea dan berberapa restaurant fastfood yang tak pernah Kris suka. Mungkin Kris punya dua pilihan; pulang dan meminta Liu membuatkan makanan atau mencari restaurant masakan Cina yang setidaknya bisa ia makan.

Tapi memangnya apa yang akan dimasak Liu? Dia kan pemalas kalau soal masak, batin Kris.

Toot.. Toot..

Ponsel Kris bergetar. Sebuah pesan baru masuk ke inbox-nya. Kris tahu kalau menggunakan ponsel saat berkendara itu dilarang, tapi setidaknya kondisi lalu lintas yang tidak terlalu ramai sepertinya tida apa-apa kalau untuk sekedar mengecek pesan masuk.

“Dari Liu,” gumamnya.

Kris, kau kemana? Pulang buruan! Aku sudah capek-capek masak, kau malah pergi entah kemana. Cepat pulang sebelum makanan habis dimakan Tao dan Lay.

Liu

“Yes!” seru Kris seraya mengarahkan roda mobilnya kembali pulang. Ternyata dugaannya salah. Liu tidak malas untuk masak kali ini dan dia tidak perlu repot-repot mencari makanan lagi.

Mobil Porsche Cayman S-01 Kris terus melaju, buru-buru kembali ke rumah untuk makan. Salah juga untuk Kris karena dia pergi cukup jauh dari rumah sehingga butuh waktu untuk sampai di salah satu Istananya yang besar. Mobil hitam itu terus melaju sampai Kris melihat seseorang melintas di jalan trotoar di sisi kirinya.

Ah!

Saat itu juga Kris menginjak rem tanpa perduli posisinya sekarang. Sosok laki-laki yang berjalan seperti layaknya seorang berdarah dingin dengan berusaha berbaur dengan orang-orang Korea disekitarnya. Meski laki-laki itu mengenakkan kacamata hitam, tapi Kris masih bisa mengenalinya dengan mudah.

Kris mengarahkan mobilnya ke pinggir jalan diseberang laki-laki tadi. Mengawasinya secara diam-diam sampai Kris sendiri bisa mendapatkan sesuatu. Akhirnya dia bisa menemukan orang itu bahkan dalam kondisi kebetulan seperti ini. Tepat ternyata untuk pergi ke Seoul meski keadaan kemarin sangat terdesar, tapi keputusan Kris memang benar. Gottcha!!

Kris tidak akan pernah lupa dengan wajah itu. Wajah orang yang telah ia incar selama 3 tahun dia membentuk The Ravens. Orang itu yang telah membunuh ayahnya. Ketua kelompok mafia yang disebut The Hurricane.

“I got you, Bang Yongguk!”

 

To be continue

 

*****

Annyeong readers^^ Kembali lagi dengan author cantik pacarya Luhan hahahah ^0^)

Ini dia RCD Chapter 3 yang ditunggu-tunggu oleh para readers ^^ Setelah Beauty & Beast sudah resmi selesai. Mohon komentarnya ya : )

Jinnie bentar lagi mau UTS nih. Doain ya biar nilai Jinnie bagus^^ Nanti Jinnie doain balik ya(?) ‘-‘)

Udah ya, segitu aja pesan-pesan Jinnie(?) Jangan Lupa COMMENTnya^^ Terima kasih :*

10 thoughts on “Ravens The Chinese Danger [Chapter 3]

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s