Ravens The Chinese Danger: Xiumin’s Side Story

Ravens-Xiumin

Ravens The Chinese Danger: Xiumin’s Side Story

by

Choi Seung Jin

Genre: Action, Crime, Multicultural

Leght: Chaptered (Still on going)

Main Cast:

Kim Minseok/ Xiumin || Kim Jongdae/ Chen

Other Cast:

Kim Joonmyun/ Suho

Author’s Note:

Storyline belongs to me. Please repect! Don’t be silent readers!

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

****

Kelima polisi itu tiba di bandara Incheon pada siang hari setelah kemarin Suho memutuskan untuk kembali ke Seoul dan mengakhiri pencarian The Ravens di Tokyo. Perjalanan dari Tokyo ke Seoul mungkin akan melelahkan, tapi tidak bagi Xiumin. Dari awal perjalanannya dari Seoul sampai ke Seoul lagi, dia sudah sudah punya rencana sendiri.

“Minseok-hyung! Kau mau mampir ke kantor dulu bareng kami atau mau langsung pulang?” Tanya Suho ke bawahnnya yang lebih tua darinya itu.

Xiumin memberikan senyum tipis dan berkata, “Aku pulang sendiri. Kalian pergi saja duluan. Mobilku ku parkir inap disini.”

“Baiklah. Kita bertemu lagi besok di kantor, hyung!”

Bersama 3 rekannya yang lain, Suho beranjak meninggalkan Xiumin sendiri dengan senyum yang seakan dia sedang pada mood yang bagus dan tidak apa-apa saat ini. Fake smile selalu Xiumin gunakan sejak dokter menyatakan kalau dia sudah benar-benar terbebas dari trauma berat yang dialaminya, untuk menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan saat ini.

tumblr_mh4gsquoyZ1qaauizo2_r1_500

Dia melangkahkan kaki, membawa tas miliknya menuju tempat parkir inap untuk mengambil mobilnya. Ini awal baginya untuk mengendarai mobil lagi setelah dia mendapatkan kembali SIM karena dokter sudah mengizinkannya untuk menyetir mobil karena tingkat depresinya sudah benar-benar stabil.

Xiumin sudah melewati banyak tes psikis sebelum akhirnya benar-benar diizinkan untuk bertugas lagi. Tahap-tahapannya juga tidak sedikit. Apalagi selama setahun penuh, izin tugas, kewenangan menggunakan senjata, SIM dan lencana polisi terpaksa harus ditahan untuk sementara waktu sampai Xiumin benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter.

Setelah membayar tagihan parkir inapnya, Xiumin langsung saja tancap gas pergi dari tempat itu. Mobilnya melaju dikecepatan yang wajar. Emosinya cukup stabil untuk bisa mengendarai dengan aman. Tak ada yang perlu dikhawatirkan darinya sekarang.

Mobil Mazda 2 hitam itu tiba dikawasan kompleks pemakaman umum di kota Seoul. Tak ada yang menyangka kalau Xiumin akan mampir ke tempat ini mengingat Xiumin yang selalu berkata pada rekan-rekannya, dia sudah tidak apa-apa. Namun kenyataannya dia masih terbayang-bayang kejadian itu.

Kakinya melangkah keluar, melewati berberapa makam untuk sampai di makam yang menjadi tempat tujuannya. Makam itu terletak dibawah pohon besar, batu nisannya berwarna hitam dengan ukiran huruf berwarna keemasan.

Kim Jongdae

Septermber 21st 1988- January 15th 2012

Detektif Kopral Divisi 1

Superintenden Kepolisian kota Seoul

Xiumin berdiri diam memandangi batu nisan itu. Jujur, ini pertama kalinya dia mengunjungi makan ini sejak orang bernama Kim Jondae dimakamkan setahun lalu. Dia belum pernah ziarah ke makam ini selama menjalani terapi psikis sampai sekarang.

Detektif Chen… Tewas.

Kata-kata itu masih saja terus membayanginya. Kalimat yang menjadi jawabannya saat dia bertanya “Bagaimana Chen?” yang spontan ia ucapkan setelah ia sadar di rumah sakit. Dia bahkan masih ingat siapa yang mengatakan kabar buruk itu; Inspektur Suho. Tepat setelah itu, trauma, shock, depresi berat menyerang Xiumin.

Dia ingat, saat itu airbag yang seharusnya mengembang saat mobil mengalami kecelakaan tidak berfungsi. Dia dan Chen mengalami benturan hebat dan dia sendiri langsung tidak sadarkan diri. Sedangkan Chen….

Susah sekali jika aku mau menyamai pangkatmu, gumam Xiumin dalam hati saat membaca pangkat baru dari Chen.

“Dari Kopral ke Superintenden butuh waktu lebih dari 5 tahun untuk detektif biasa sepertiku. Kalau kau cuma butuh waktu sehari. Apa kau sudah puas?”

 

****

Seoul, Korea

15 Januari 2012, 9.43 a.m

Musim Dingin

 

Inspektur Suho berdiri didepan sebuah papan tulis yang sudah penuh dengan banyak gambar dan tulisan, menjelaskan setiap rencananya yang sudah dia susun susah payah demi menangkap komplotan perampok. Kata-katanya membuat selusin polisi didepanny mengerti betul apa yang menjadi inti permasalahan sekaligus pemecahannya.

“Seperti yang ku rencanakan, lokasi komplotan ini akan cepat terisolasi dan terkepung sebelum jam 6 sore. Tim Pendobrak akan maju digaris depan bersama Detektif Xiumin dan Chen, mengepung gudang tua itu dan menangkap perampok itu setelah disusul oleh Tim Penyergap,” kata Suho menerangkan kembali apa yang ia tulis didepan dengan menunjuk dengan tangannya setiap kata dan denah rencana yang sudah dibuatnya.

“Aku ingin Detektif Chanyeol dan Eunjin berada dibarisan penyergap untuk jaga-jaga. Dan ku harap komplotan ini ditangkap, hidup atau mati. Aku tidak mau ada bank yang di rampok lagi setelah ini,” katanya lagi sambil menaruh kedua tangannya dipinggangnya. “Apa sudah jelas?”

“SIAP! JELAS PAK!” Teriak polisi-polisi itu serentak.

“Bagus! Kita lakukan sekarang!” Dengan tepukan sekali, Suho menyemangati anak buahnya sambil berjalan keluar dari ruang rapat polisi. Suho selalu membawa semangat pada seluruh anggota kepolisian kota Seoul untuk meningkatkan kualitas kerja dan memaksimalkan hasil kerja yang membuat kota Seoul menjadi lebih aman.

Xiumin berjalan mengikuti yang lainnya sampai tiba-tiba seseorang merangkulnya. Lengan itu kini sudah tergantung dileher Xiumin. Dia sendiri tidak perduli dengan perlakuan seperti itu karena dia tahu siapa yang bisa melakukan hal seperi itu pada Detektif paling tegas di kepolisian selain sahabat terbaiknya, Chen.

tumblr_mrqquoIkY11rmy429o1_400

“Kita dapat tugas bersama lagiiii~~ Hahah..” Ucap Chen girang. “Inspektur Suho sepertinya tahu kalau kita tak terpisahkan.”

“Yeah. Apalagi semua kasus akan beres kalau kita menyelesaikannya berdua,” kata Xiumin ungkapan setuju. “Tapi tugas kali ini berat loh.. Salah langkah saja bisa berakibat fatal.”

“Itu dia tantangannya. Kalau tidak ada tantangan, mana bisa naik pangkat hahah…” balas Chen dengan nada bercanda.

“Yang kau pikirkan hanya naik pangkat saja. Kerja dulu baru naik pangkat,” kata Xiumin bawel seraya mendorong tubuh Chen yang lebih kecil itu.

Chen hampir terjatuh karena dorong Xiumin yang memiliki tenaga yang cukup besar. Dia mencibir dengan gayanya yang selalu berusaha menunjukkan aegyo didepan semua orang. Tapi usahanya selalu gagal karena dia tahu kalau Xiumin lebih imut kalau melakukan aegyo dari pada siapapun.

“Jangan aegyo didepan ku karena itu tidak akan mempan!” kata Xiumin sinis.

“Kau juga jangan terlalu kaku begitu. Sama sahabat sendiri seperti sama orang lain,” protes Chen kepada sahabatnya.

Mereka berdua melanjutkan langkah mereka menuju ruang loker, bersiap untuk misi kepolisian selajutnya. Mereka melengkapi diri mereka dengan rompi anti peluru untuk melindungi diri mereka dari tembakan dan membawa persenjataan lengkap dengan amunisinya. Assault Rifle adalah senjata wajib para polisi saat bertugas. Begitu pula dengan Xiumin dan Chen yang telah menyiapkan Assault Rifle mereka masing-masing yang sudah terisi penuh dengan amunisi.

“Xiumin-ah!” Panggil Chen di saat Xiumin sedang sibuk merapihkan rompi anti pelurunya.

“Hmm..” Sahut Xiumin tanpa mau repot-repot membuka mulutnya.

“Kau harus lihat dia,” kata Chen dengan senyum lebarnya dan wajah yang berseri, menunjukkan sebuah foto yang selalu ia simpan di dalam lokernya. Foto wanita yang rencananya akan ia nikahi. “Cantik, kan?”

Xiumin menoleh dan melihat foto wanita beruntung itu. Wanita itu memang cantik. Sangat sesuai dengan kriteria yang selalu Chen bicarakan padanya. Dan pada saat yang sama, Xiumin ikut tersenyum.

“Dia cantik. Jadi dia yang namanya Luna? Tunanganmu itu?” Kata Xiumin.

“Aku akan menikahinya bulan depan. Aku sudah bilang ke Inspektur Suho kalau aku akan segera menikah. Kau harus datang ke acara pernikahanku,” kata Chen dengan semangat. “Maka itu aku ingin cepat naik pangkat untuk membanggakan calon istriku itu hahah..”

Suho telah menyiapkan timnya dengan baik. Setiap tim yang dia bentuk sudah siap dengan tugas mereka. Terlebih lagi duo detektif kebanggan kota Seoul, Xiumin dan Chen. Mereka sama-sama mengawali karir mereka dari awal. Meski umur mereka berbeda– dimana Chen lebih muda 2 tahun—tapi ikatan mereka sangat kuat sebagai sepasang sahabat. Saling melengkapi satu-sama lain adalah kunci emas persahabatan mereka yang seakan tidak akan pernah putus oleh tajamnya waktu.

Xiumin adalah orang yang berambisi tinggi. Sedangkan Chen adalah orang yang mempunyai sifat trolling. Mungkin mereka memang pernah berbeda pendapat tentang sesuatu tapi pikiran mereka tetaplah satu. Perbedaan membawa persamaan. Pendapat berbeda untuk satu ide. Itulah karakteristik persahabat mereka.

 

****

Sebuah kawasan pemukiman di pinggir kota Seoul itu sekarang terasa sangat sepi. Tak ada kegiatan ataupun akitivtas biasa yang terjadi di kawasan pemukiman itu. Area yang sudah diamankan oleh polisi itu sekarang sudah seperti kota mati tak berpenghuni. Sebuah rumah yang terlihat biasa dan sama seperti rumah lainnya, kini dikepung oleh serdadu anggota pasukan elite kepolisian yang siap menggrebek rumah itu.

Blokade yang dibentuk sudah dirasa cukup untuk mencegah para perampok itu untuk kabur. Xiumin—yang memimpin tim pendobrak—yakin bisa menyelesaikan misi ini dengan lancar berbekal pengalamannya yang tidak pernah gagal. Perampok itu tidak akan bisa lolos jika Xiumin yang memimpin tim pendobrak.

Keadaan semakin sunyi seiring tenggelamnya matahari. Tidak ada aktivitas yang terjadi di rumah kawanan perampok itu. Xiumin menyipitkan matanya memandangi rumah itu. Dari jendela, terlihat gelap. Tidak ada cahaya yang keluar membuatnya merasa sedikit aneh. Seharusnya ada suatu aktivitas yang dilakukan perampok itu yang dijadikan sebagai signal untuk polisi.

“Terlalu sepi,” gumam Xiumin.

“Sepi artinya ada yang aneh, kan? Sebaiknya kita mulai sekarang,” kata Chen semangat.

Xiumin menggerakkan tangannya menunjuk rumah itu. Tim pendobrak mulai maju dengan sangat hati-hati dipimpin oleh Xiumin. Langkah mereka banyak, tapi hampir tidak terdengar apapun saat kaki-kaki itu melangkah di atas tanah lembab yang ditumbuhi banyak rumput liar. Senjatanya sudah siap siaga dengan posisi lurus ke arah pintu, bersiap untuk apapun yangakan ia temui saat pintu itu terbuka.

Matanya tajam mengawasi dengan waspada sampai dia melihat sekilas ke dalam dari jendela. Benda itu berada di atas meja saat Xiumin melihatnya. Ada jam digital di atas benda itu yang menghitung mundur. Selain itu banyak kabel-kabel yang melilit benda itu. Xiumin sadar benda apa itu saat angka yang ditunjukkan benda itu sudah menunjukkan angka 5.

“BOM!!!”

Xiumin berteriak sekaligus menyuruh tim yang maju bersamanya lari menjauh dari rumah itu. Mereka lari secepat dan sejauh yang mereka bisa sebelum bom itu meledak dalam—

4

3

2

1

0

KAAABOOOOOOOM

Rumah itu meledak, terbakar habis hingga rata dengan tanah. Berberapa anggota tim jatuh tersungkur di atas tanah akibat ledakan dan yang lainnya berusaha menyelamatkan diri mereka dari kemukinan api ledakkan yang akan mengenai mereka. Xiumin langsung bangkit bersamaan dengan sadarnya dia kalau rumah itu adalah jebakan sekaligus mengecoh untuk polisi.

“Sial!” geram Xiumin.

Krezzz..

“Dua Rovers keluar dari lokasi. Diulangi, dua rovers keluar dari lokasi.”

Krezzz..

Xiumin bisa menerima informasi itu dari HT tang terpasang di telinganya. Hal yang dilakukannya pertama kali saat itu adalah mencari Chen. Dia menoleh—melihat seseorang berlari meninggalkan lokasi lebih dulu darinya. Chen.

“CHEN!” Xiumin ikut berlari tepat dibelakang Chen.

“Semua agen kejar Rover itu! Jangan sampai lolos!” perintah Xiumin melalui HT yang digunakannya.

Mereka berdua menuju mobil milik Chen yang terparkir tak jauh dari lokasi. Chen duduk di kursi pengemudi yang tandanya dia yang menyetir—karena ini mobilnya. Xiumin langsung masuk dan duduk di kursi penumpang tanpa perlu menunggu izin dari Chen—orang yang punya mobil.

Mobil itu melaju dengan kecepatan 80 km/jam pada awalnya dan kecepatannya semakin bertambah. Chen sudah sering menggunakan mobilnya untuk kecepatan yang lebih besar demi mengejar penjahat yang mencoba kabur.

“Aku minta lokasi mereka,” kata Xiumin kembali melalui HT.

“Dua Rovers menuju barat mengarah ke pusat kota dengan kecepatan 100 km/jam.”

“Chen, ke pusat kota!” kata Xiumin.

“Yeah, aku bisa dengar itu,” ucap Chen begitu serius. Dia menekan pedal gas lebih dalam seiring bertambahnya kecepatan mobilnya.

Chen begitu mahir dalam mengandarai mobil dan speed—kecepatan—sudah tak asing baginya. Dia bisa mengendalikan mobilnya yang mulai melaju dengan kecepatan hampir mencapai 120 km/jam. Dia bisa melewati berebrapa mobil yang berada di jalan tanpa menggoresnya sedikitpun. Semakin lama semakin cepat dan dekat dengan 2 mobil Nissan Range Rover hitam yang kebut-kebutan—kabur dari polisi.

“Aku melihatnya! Aku melihatnya!” seru Xiumin saat melihat 2 Rover melaju cepat di depannya.

Xiumin melirik sebentar ke arah partnernya. Chen terlihat begitu berambisi kali ini. Bahkan jauh lebih dari Xiumin. Matanya menatap tajam setiap laju mobil Rover yang ada dalam pengawasan pandangannya tanpa mau melepas dari pandangannya.

“Xiumin-ah,” kata Chen. “Kau tau, kan yang harus kau lakukan sekarang?”

Dia tidak mungkin tidak tahu. Xiumin menarik sebuah pistol dari sarungnya. Dia mengeluarkan kepala dan tangannya ke luar jendela. Dengan keahliannya, Xiumin melepaskan tembakkann satu-persatu ke arah mobil yang menjadi targetnya. Tembakannya tidak meleset, tapi belum mampu untuk melumpuhkan, bahkan untuk satu mobil saja.

Para perampok itu tidak mau diam saja saat seorang polisi menembaki mereka. mereka membalas serangan dengan menembaki kembali mobil Chen yang sudah pasti tidak anti-peluru. Chen berusaha sebisa mungkin untuk menghindari tembakan-tembakan yang terus menghujaninya.

“Kami butuh bantuan!” ucap Xiumin dengan HTnya.

“Tidak usah,” kata Chen dingin.

“Tidak usah?” ulang Xiumin.

“Aku tidak butuh bantuan. Kita bisa menanganinya sendiri. Aku hanya perlu kau menembaki ban mereka. Kau bisa, kan?” kata Chen serius.

“Jangan bertingkah gegabah! Kita tidak bisa menangkap mereka sendiri!” sanggah Xiumin tidak setuju.

“Percayakan saja padaku,” kata Chen. “Jika saat ini tugas terakhirku, setidaknya aku bisa menyelesaikannya denganmu, sobat.”

Xiumin tidak bisa berbuat banyak. Dia kembali mengeluarkan kepalanya. Kini sasarannya terfokus pada ban mobil Rover tanpa perduli dengan bagian lainnya. Xiumin berusaha keras untuk mengarahkan tembakkannya ke arah ban mobil Rover yang melaju semakin cepat itu. Sulit untuk menentukkan sasaran. Bahkan tangan Xiumin tidak bisa diam untuk sesaat saja.

“Tunggu apa lagi? TEMBAK!”

DOR

Xiumin melepaskan tembakkan tepat ke arah ban belakang sisi kanan salah satu Rover itu. Mobil itu menjadi oleng dengan banyak percikan api yang dihasilkan saat peleg menggesek aspal. Sialnya, mobil itu belum juga menyerah dan berhenti. Mereka tetap melaju bahkan saat salah satu ban mereka sudah pecah.

“Coba ban lainnya!” kata Chen begitu berambisi.

Untuk kedua kalinya, Xiumin mengarahkan mulut pistolnya lurus ke arah ban mobil lain yang masih utuh. Dia memastikan kalau sasarannya tepat dan tidak meleset karena peluru yang tersisa di pistolnya hanya ada satu buah. Jika kali ini dia meleset, dia tidak akan punya kesempatan lagi.

DOR

“Kena!” seru Chen puas dengan tembaka rekannya itu.

Mobil yang 2 bannya sudah habis ditembak Xiumin mulai kehilangan kecepatannya. Yang harus dilakukan Chen sekarang adalah membuat mobil itu benar-benar berhenti. Mobil Chen dan Rover itu mulai sejajar disaat mobil Chen terus menambah kecepataanya.

“Pegangan!” Teriak Chen sebelum ia menabrakan mobilnya sendiri dengan mobil Rover itu.

Sekali tabrakan mungkin tidak terlalu berpengaruh. Tapi Chen menabrak mobil itu dengan mobilnya hingga 3 kali sampai Rover itu terguling akibat kehilangan kendali. Chen menarik bibirnya keatas membuat senyuman sinis setelah dia berhasil menjatuhkan satu lawannya.

“Tinggal satu lagi!” Seru Chen begitu semangat.

Chen mengijak pedal gas semakin dalam, menambah kecepatan mobilnya yang sudah cepat. Pandangan tetap terfokus ke arah jalan yang dilewati oleh Rover terakhir. Dia seperti sudah tidak bisa diganggu lagi. Ambisinya sendiri telah menguasainya.

“Tembak mereka lagi!” Kata Chen.

“Tapi peluruku sudah habis,” sanggah Xiumin yang menekan pelatuk pistolnya berkali tanda kalau pistol itu sudah kosong.

“Ah sial! Kalau gitu aku harus pakai cara manual,” kata Chen seakan tidak punya cara lain. “Pegangan!”

Chen benar-benar memaksakan mobilnya hingga kecepatan melebihi 120 km/ jam. Bagaikan mobil F1 yang sedang melaju adu cepat di arena sirkuit balap. Xiumin yang duduk di bangku penonton bahkan tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk diam sambil berpegangan dalam kecepatan. Kenekatan Chen berhasil membuat mobilnya berhasil menyusul Rover yang masih terus berusaha kabur itu.

Sampai detik ini, Xiumin sendiri belum tahu rencana Chen. Yang dia tahu sekarang adalah Chen sedang kebut-kebutan berusaha mengejar penjahat yang berusaha kabur. Kalau dia bisa menebaknya sekarang, pasti Chen akan melakukan hal gila seperti yang selalu dilakukannya. Tapi hal gila apa kali ini.

DOR

Suara tembakan dilepas. Chen tidak mungkin melakukan tembakan karena dia sedang menyetir. Xiumin pun juga tidak bisa karena pelurunya sudah habis. Satu-satunya orang bisa menembak adalah para perampok itu. Chen melihat kaca depan mobilnya yang sudah berlubang tepat di posisi kursi penumpang. Jangan-jangan…

“Aah..” Xiumin terdengar merintih.

Chen perlahan melirik ke arah kanannya. Xiumin sedang menahan sakit sambil memeganggi bahunya. Darah segar mengalir dari luka yang baru saja didapatnya. Chen langsung panik melihat rekannya yang terluka. Dia baru menyadari apa yang baru saja terjadi setelah melihat kondisi rekannya yang sudah terluka.

“XIUMIN! KAU TERTEMBAK!” Chen berteriak.

“Jangan hentikan… mobil ini!” pinta Xiumin sambil menahan sakit.

Chen menurut. Dia bahkan tidak mengurangi kecepatan mobilnya sedikitpun. Justru malah menambah laju semakin cepat dan cepat. Posisi dua mobil itu kini sejajar. Jarak antara kedua mobil pun hanya 1 meter saja. Chen hanya perlu melakukan rencananya saja sekarang.

Tanpa diduga, Chen justru mempercepat laju mobil mendahului mobil Rover. Yang diincarnya adalah sisi depan mobil yang titik yang mudah untuk diserang. Awalnya Chen berbikir kalau rencananya ini bisa berjalan mulus dan tidak akan membahayakannya ataupun Xiumin. Tapi kondisi Xiumin sekarang sedang terluka. Keputusannya bisa saja membahayakan kondisi Xiumin.

“Maaf, hyung.”

Chen menabrakkan mobilnya dengan keras ke bagian Rover yang sudah diincarnya. Namun yang terjadi ternyata diluar dugaannya. Kedua mobil itu terpental satu sama lain dan berguling sampai berberapa kali. Sialnya, airbag di mobil Chen tidak mengembang. Saat mobil Chen berhenti berguling, Chen ataupun Xiumin hampir tidak sadarkan diri dengan kepalanya yang terbentur setir dan dashboard mobil.

Berberapa mobil polisi tiba di lokasi berberapa saat setelahnya dan mereka sudah sibuk mengevakuasi dua polisi yang tak sadarkan diri di dalam mobil yang mulai berasap itu. Orang pertama yang dikeluarkan adalah Xiumin yang hampir seluruh tubuhnya basah karena darah. Xiumin sama sekali tidak sadarkan diri akibat kepalanya yang terbentur dashboard hingga membuat luka berdarah di keningnya.

Chen saat itu mulai sadar karena luka yang dialaminya tidak separah yang dialami Xiumin. Dia melihat sekilas temannya sedang dikeluarkan dari mobilnya oleh berberapa polisi. Dia kembali memalingkan pandangannya ke arah yang lain. Mobil Rover yang sudah terbalik itu tidak ada yang mengurus oleh polisi satu pun, bahkan disaat penjahat-penjahat itu mulai merangkak keluar mobil. Dia mengalihkan pandangannya lagi. Cap mobilnya mengeluarkan asap hitam yang pekat. Yang lebih parah adalah tiba-tiba cap mobilnya mengeluarkan api. Soon or later mobil ini akan meledak.

“Sial!” gumam Chen geram dengan status keadaan yang terjadi sekarang. Mungkin ada satu yang bisa ia lakukan supaya semua masalah dapat diselesaikan dalam satu tindakkan.

Chen menarik pintu mobil bangku penumpang yang terbuka. Dia menginjak pedal gas dan mobil yang hampir terbakar itu melaju. Berberapa polisi berusaha menghentikan mobil Chen yang tiba-tiba melaju mengarah ke mobil Rover terbalik di seberang jalan. Mobil milik Chen menghantam Rover itu dan dalam waktu yang bersamaan, kedua mobil itu terbakar dalam ledakkan yang besar.

Polisi yang ada di lokasi kejadian tidak sempat menyelamatkan siapapun yang terlibat dalam ledakkan itu termasuk Chen. Semua terbakar habis hingga tidak ada yang tersisa. Pada saat itu juga Detektif Kim Jongdae dinyatakan tewas saat bertugas pada hari Kamis, 15 Januari 2012 pukul 19.13 KST.

tumblr_mwb7hiBysk1ruuj4io1_500

 

*

*

*

****

Now

Cukup pahit bagi Xiumin menerima kenyataan kalau Chen sudah meninggal setahun lalu dengan cara yang sangat bodoh—menurutnya. Jika saja saat itu Chen tidak nekad, pasti batu nisan yang ada dihadapan Xiumin tidak akan ada dan Chen masih bisa berdiri disampingnya sebagai rekan seumur hidup.

“Aah..” Xiumin merintih. Rasa sakit di kepalanya kembali. Hal ini disebabkan karena trauma berat yang dialaminya. Seharusnya dia tidak boleh ke tempat ini sampai traumanya benar-benar sembuh.

Memandangi nisan Chen lebih lama membuatnya semakin tertekan. Seandainya waktu itu dia bisa menahan Chen lebih awal, Chen tidak akan nekad mengejar penjahat itu bahkan hingga tewas dalam ledakan. Kepalanya makin sakit saja sampai dia harus berpegangan dengan batun nisan besar itu. Mau tidak mau, Xiumin harus kembali ke Rumah Sakit.

“Rest in peace, my friend…” gumamnya pelan menatap nisan itu dengan air mata yang mengalir.

 

Next: Chapter 4

 

*****

Annyeong readers^^ Jumpa lagi dengan Jinnie yang sudah kelar UTS(?) Ini ada side story nya Xiumin^^ Semoga readers senang🙂

Terima kasih udah dukung Jinnie dengan setia membaca FF karya Jinni terlebih untuk yang COMMENT^^ Kritik dan saran masih Jinnie terima loooh… Silahkan isi di kolom comment(?)

Sampai jumpa di chapter berikutnya readers ><

11 thoughts on “Ravens The Chinese Danger: Xiumin’s Side Story

  1. WAW! nih ff keren banget!!
    saya suka,saya suka (y) *ketularan mei-mei
    4 jempol buat author (y)
    ff nya DAEBAK !!! pas banget lagi mau baca ff yang gerenya action dan ff ini actionnya kerasa bangett, salut deh buat author.

    oiya,mian baru coment di part ini,soalnya penasaran banget sama lanjutannya.
    A-YO thor fighting,ditunggu part selanjutnya jangan kelamaan ya thor

  2. Hai kak Jinnie readers baru di EXOMK Fanfiction ini…maaf ya kalau aku di chapter sebelumnya nggak koment karena sinyal di rumahku selalu lup-lep dan sialnya waktu mau koment pasti selalu nggak ada sinyal…untung sekarang ada^^, aku suka FF kak Jinnie yang Ravens The Chinese Danger ini, dan yang Beauty & Beast juga, wah aku sedih Chennya meninggal…di tunggu next chapter nya ya kak Jinnie ^^

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s