[FREELANCE] Three Minutes

tumblr_n2i0otSpDs1t07lczo6_r1_500

Three Minutes

Title : Three Minutes || Author : @ansabilna ||  Main Cast : Kim Jongin & Krystal Jung || Genre : Romance || Length : OneShot || Rating : T || Disclaimer : The story is pure mine! Don’t be plagiat! Inspired by someone’s real life tragedy. Enjoy it~

***

“Tiga menit memanglah bukan waktu yang lama. Tapi gadis asing itu sanggup membuatku tersadar dari kisah kelam yang menyelimutiku. Lewat dekapan yang terkesan dingin, yang sanggup membuat jantungku berdebar tak menentu.” – Kim Jongin.

***

Berjalan gontai dengan tatapan mata yang kosong. Rambut hitam legamnya yang tak karuan, kemeja kantornya yang lusuh dengan berbagai macam noda jalanan, memberikan isyarat tentang keadaannya saat ini. Kacau, sangat kacau. Semilir angin sore yang tak berarti terus mengiri langkahnya. Entah kemana langkah kakinya akan bertepi, ia-pun tak tahu.

Sekelebat bayangan yang Jongin tidak inginkan, justru hinggap menelusup hingga bagian terkecil sel otaknya.  Berhasil menghujam jantungnya dengan rasa sakit yang bertubi-tubi. Zhang Yixing—atasan Jongin yang tega memecatnya di depan halayak umum dengan kata kasar yang menghina, Ahn Yeon—kekasihnya yang kini lebih memilih meninggalkannya sesaat setelah ia menjadi pengangguran, dan yang terparah, Kim Jung Ah—ibu-nya yang kini terbaring lemah dirumah sakit akibat penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri ecoli. Sungguh sebuah ironi memang.

Serentetan kejadian buruk yang menimpanya hari ini, sukses membuat satu harinya layaknya didalam neraka. Tersiksa dengan rasa sakit yang begitu menjadi. Ingin sekali rasanya ia berteriak, sangat ingin. Namun, sudut di ruang hati kecilnya menahan. Melampiaskannya pada kedua tangannya yang mengepal sebagai tumpuan akan luapan emosinya. Yang terhubung langsung dengan sudut matanya yang kini sesak menahan gejolak airmata. Begitu membuatnya mati rasa.

Tidak peduli dengan tatapan aneh yang disertai bisikan mencemooh dari orang-orang yang berpapasan dengannya. Ia sudah merasa lelah, sangat lelah dengan semua ini. Di tengah keramaian kota Seoul, dengan puluhan orang yang memandangnya rendah, ia tetap berjalan lurus dengan arah yang tak pasti.

Sampai pada akhirnya, tungkai kaki Jongin menapaki tanah dengan posisi yang sejajar. Memandang jauh panorama jembatan penyebrangan dengan begitu banyak jiwa yang melewatinya. Pikiran Jongin tak terarah. Tak ada satu-pun hal positif yang menelusup masuk ke sel otaknya untuk saat ini. Membuat Jongin berpikir tidak karuan.

“Ini semua terlalu menyiksaku,” Begitu suara hati Jongin berbicara. Bagaimana nasibnya nanti tanpa sebuah pekerjaan? hutang disana-sini, pengobatan ibunya yang terlampau jauh dari kata murah. Tak terlebih dengan relung hatinya yang kini hampa tanpa adanya cinta. Itu sungguh membebaninya.

Dengan langkah pasti ia menaiki setiap anak tangga dengan detakan jantungnya yang mulai berdebar, bahkan sangat berdebar ketika ia sudah berhasil menyelesaikannya.

Perasaan ragu dalam hati sempat muncul sekejap, namun hilang dengan tiba-tiba ketika rayuan setan sudah berhasil menguasai jiwanya dengan sempurna. Kini posisi Jongin sudah berada tepat di pertengahan jembatan. Menatap indahnya kota Seoul pada ketinggian sepuluh meter. Tatapan nanar dari mata hazzle-nya dapat terbaca dengan jelas. Senyum miring tak biasa, lantas hinggap disudut bibir tebalnya. Memenuhi setiap lekuk ekspresi wajahnya yang tidak dapat dimengerti.

Frustasi, mungkin begitu, atau lebih tepatnya memang begitu. Jongin tidak punya pilihan lain. Bunuh diri adalah cara terbaik agar jiwanya kembali dalam keadaan tenang. Damai layaknya air sungai yang mengalir. Sebuah cara yang memang hina dimata Tuhan, namun tidak untuk-nya saat ini.

Jongin menarik kuat oksigen yang bisa ia hirup, dan menghembuskannya secara kasar. Meletekkan kedua lengan kekarnya tepat diatas pagar pembatas yang hanya seukuran tinggi pinggangnya. Hawa dingin dengan cepat merambat dari ujung jarinya, membuat bulu kuduknya meremang untuk sesaat. Memejamkan mata dan sedikit membayangkan apa yang akan terjadi setelah ia benar-benar loncat dari jembatan ini. Menghantam kerasnya aspal, dan bam! mati. Sekali lagi, mati. Ia akan mati dalam keadaan yang mengenaskan. Tidak peduli bagaimana akan bentuk mayatnya nanti, ketenangan yang abadi akan segera ia temui setelah ini. Terbebas dari semua kesengsaraan hidup yang Tuhan ujikan kepadanya.

Jongin mulai melangkahkan kaki kananya melewati pagar pembatas. Baru satu kaki saja, Jongin sudah mendapati sekerumunan warga Seoul yang berkumpul sambil menunjuk-nunjuk terkejut kearahnya dibawah sana. Bahkan, para pejalan kaki yang hendak menyebrang terhenti untuk naik, dan ikut bergerumul dibawah untuk melihatnya.

“Hey! Apa yang dia lakukan?! Dia akan bunuh diri! Segera hubungi polisi!” Jongin tidak tuli, jelas-jelas ia dapat mendengar suara-suara yang ia rasa menghawatirkan keselamatannya. Tidak peduli, anggap mereka hanya angin lalu, begitulah Jongin. Lanjut dengan kaki kirinya, kini Jongin benar-benar di luar batas. Nafasnya agak tersengal, namun tidak mengurungkan niatnya untuk segera merentangkan kedua tangannya.

“Ibu, aku mencintaimu.” Tak terbendung lagi, buliran airmata itu akhirnya jatuh juga. Menerobos kuatnya dinding pertahanan indra penglihatan Jongin yang kini sudah memerah.

***

Suara sirine mobil polisi begitu mendominasi suasana di pinggir jalan kota Seoul, tepat ketika seorang gadis hendak berjalan menuju sisi trotoar. Rambut merah panjang Krystal Jung berkibar begitu satu persatu mobil polisi melaju dengan cepatnya. Kedua alis tebalnya saling bertaut, keningnya berkerut, sama dengan ekspresi para pejalan kaki yang lain. Menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang terjadi, kenapa ada begitu banyak mobil polisi, kenapa lajunya begitu cepat, kurang lebih begitu.

Ia menggidikan kedua bahunya tidak tahu, memilih untuk merapatkan jaket kulit yang ia kenakan, menyisipkan rambut bagian depannya ke balik daun telinga kanannya, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Ia dapat merasakan saku celananya bergetar, menandakan ada sebuah panggilan yang masuk ke ponsel bermodel touch screen miliknya.

“Maaf, aku sibuk. Akan kuhubungi lagi nanti,” Entah apa yang membuat Krystal begitu cepat mengakhiri perbincangan di ponselnya, bahkan itu tidak layak disebut sebagai sebuah perbincangan.

 “Aneh,” Gumamnya tanpa sadar. Alisnya kembali bertaut, sorot matanya memicing tajam objek didepannya. Baru seperempat jalan ia lewati dari posisinya barusan, ia sudah dapat melihat dengan jelas mobil polisi yang terpakir dibawah jembatan penyebrangan. Begitu banyak awak polisi yang berjaga disekitarnya. Ia juga bisa melihat begitu banyak warga yang berkerumun dibawahnya dengan berbagai ekspresi disetiap wajahnya.

Krystal berjalan dengan agak sedikit berlari menuju tempat kejadian, yang entah kejadian apa, sembari menaruh kembali ponsel disakunya.

“Ada apa ini?” Tanya Krystal pada seorang pemuda yang berdiri tepat disampingnya, disertai dengan nafas yang agak tersengal akibat aksi setengah berlarinya.

“Itu!” Yang ditanya-pun hanya mengacungkan jari telunjuk kananya sebagai jawaban. Mengarah pada jembatan penyebrangan, tidak, bukan kepada jembatan penyebrangan semata, melainkan seorang pemuda yang hendak meloncatinya.

“Bunuh diri?!” Krystal sontak membulatkan matanya kaget. Bibir pink palm-nya tak kuasa menahan hasratnya untuk tetap mengatup.

Pria itu—Kim Jongin, masih tetap pada posisi awalnya. Merentangkan kedua tangannya untuk  bersiap-siap meloncat. Para polisi yang terus berusaha mengingatkannya agar tidak terjun bebas dengan menggunakan alat pengeras suara-pun, tetap tidak menjadi acuannya untuk berhenti melakukan aksi gilanya.

“Tidak bisa dibiarkan,” Entah apa yang merasuki pikiran Krystal saat itu. Ia berlari menuju anak tangga yang berjarak hanya dua meter dari tempatnya berdiri. Tidak mudah memang, ketika seorang petugas kepolisian menghalangi aksi heroik Krystal dengan menahan sebelah tangannya.

“Nona, apa yang akan kau lakukan? Ini berbahaya!,”

“Dia kekasihku! Jadi lepaskan!,” Dengan sekuat tenaga Krystal menghempaskan tangan kekar sang polisi. Dan benar saja, Krystal berhasil. Berdusta dengan statusnya sebagai kekasih Kim Jongin. Pria berkulit tan yang sangat asing baginya, bahkan mengenalnya saja tidak. Krystal benar-benar tulus ingin menolong pemuda itu.

Dan disinilah Krystal berada. Berhadapan langsung dengan pelaku tunggal aksi bunuh diri, Kim Jongin. Sesekali ia menelan ludahnya untuk sekedar menghilangkan rasa gugup yang mendera. Dengan perlahan tapi pasti, ia melangkahkan kakinya lebih dekat pada Jongin. Dan berhenti tepat dibelakang punggung tegapnya.

“Lihat itu! Ada seorang gadis disana!,” Dan sekali lagi, Jongin tidak tuli. Ia bisa mendengar teriakkan seorang pemuda barusan. Lantas, ia membuka kedua kelopak matanya paksa, mengerutkan keningnya bersamaan dengan  kedua tangannya yang terhempas kembali kebawah.

“Apa yang kau lakukan hah?!” Hanya terdengar suara semilir angin yang masih setia menemani Jongin sampai saat ini. Tidak ada respon apapun. Diam, kaku, dan tidak bergerak.

“Hentikan! Kau bisa mati, kau tahu?!” Sekali lagi, hanya terdengar suara semilir angin yang berhembus. Jongin masih belum mau membuka mulutnya dan membungkamnya rapat-rapat.

“Itu yang kuinginkan,” Sedetik berlalu, suara berat nan parau itupun terdengar. Menelusup masuk indra pendengaran gadis yang Jongin rasa sok jagoan. Krystal memberanikan diri mengambil satu langkah lebih maju.

“Jika ini karena suatu masalah, yakinlah bahwa akan ada jalan keluarnya. Kau masih bisa memperbaikinya, membuatnya lebih baik.” Suara Krystal melembut layaknya butiran salju di musim dingin, sangat lembut. Bersamaan dengan jemari mungil-nya yang menyentuh lengan kekar milik Jongin.

Jongin tersentak. Luapan emosi Jongin kini mencapai puncak. “Kau ini siapa hah?! Jangan menghalangiku! Cepat pergi! Aku ingin loncat dan mati secepatnya!”Entah kekuatan dari mana Krystal dapat, ia sanggup menarik beban tubuh Jongin yang baru saja gagal meloncat, dan jatuh kedalam pelukannya. Ini memang di luar rencana.

Tepuk tangan dan seruan haru atas aksi heroic Krystal memuncah saat itu juga. Menjelma menggantikan sosok suasana mencekam yang hilang bagaikan asap.

“Sudah kubilang, kau masih bisa memperbaikinya. Tidak dengan cara seperti ini,” Kedua mata Jongin membulat dengan sempurna. Kedua bahunya merosot lemah. Ia pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Satu menit. Jongin dapat merasakan ketulusan menyeruak dari dekapan gadis asing ini. Menyebar keseluruh bagian tubuhnya layaknya virus. Memberikan rasa nyaman yang entah darimana asalnya. Membuat kedua matanya terpejam untuk beberapa saat. Merasakan detakan jantungnya yang mulai berdegup di luar batas normal.

Dua menit. Ia dapat merasakan relung hatinya yang berkecamuk tergenang oleh aliran air sungai yang mengalir. Begitu damai, jelas apa yang ia inginkan dari awal. Mengganti sel-sel otaknya yang sudah usang dan kembali berfungsi dengan normal. Memperkuat keyakinan, bahwa apa yang dikatakan gadis asing ini benar. Ia sadar bahwa apa yang ia lakukan sekarang salah, salah besar. Jongin masih bisa berusaha dan memperbaiki segalanya. Mulai mencari pekerjaan baru dengan modal usaha yang keras, mencari pendamping hidup yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Dan terakhir, hal terbesar yang benar-benar Jongin inginkan. Ia benar-benar ingin Ibu-nya sembuh.

Tiga menit. Ia dapat merasakan beberapa pasang tangan kekar yang mengangkat kakinya melewati pagar pembatas. Para polisi itu sudah berhasil membuatnya kembali dalam lajur jembatan yang seharusnya, oleh kode-kode yang Krystal berikan sebelumnya itu tentu. Dan kali ini, gejolak didalam rongga dadanya bertambah hingga dua kali lipat lebih cepat.

Perasaan grogi bercampur gugup saat ia membuka matanya perlahan. Mendapati seorang gadis asing bersurai merah melepas pelukannya dengan agak begitu cepat. Tatapan mata mereka terkunci satu sama lain.

“Kau masih bisa memperbaikinya. Ingat itu,” Sang gadis melemparkan senyuman tipis seraya menepuk pundak kanan Jongin ringan. Yang membuatnya mematung layaknya terhipnotis. Bahkan, untuk mengeluarkan sepatah kata-pun saja ia sulit.

“Kami harus memeriksa pria muda ini. Terimakasih untukmu, Nona. Kau sangat membantu pekerjaan kami,” Ucap salah seorang anggota kepolisian, yang Krystal yakin adalah leader dalam tim kepolisian kali ini. Krystal hanya memberikan anggukan kecil disertai dengan cengiran khas miliknya.

“Aku harus segera pergi, permisi,” Krystal membungkukkan tubuhnya membentuk sudut sembilan puluh derajat, diikuti dengan balasan anggota kepolisian yang tepat berada disampingnya. Dan bisa ditebak, Jongin masih dalam posisi dimana ia mematung tanpa ekspresi.

Krystal mulai melangkahkan kaki jenjangnya menjauh. Berjalan santai dengan menampilkan deretan gigi seri-nya yang putih. Terlihat ia yang sedang memasukkan lengan seputih susu-nya kebalik saku jaket kulit berwarna lembut itu. Rasa lega yang mendera menyelimuti suasana hatinya kini.

Sementara Jongin, hanya dapat memandanginya dari kejauhan. Tetap dengan bibir yang terkatup rapat. Kedua matanya masih terlalu fokus menatap punggung Krystal yang berjalan jauh dari hadapannya. Entah, setiap langkah kaki gadis asing itu membuat jantungnya berdebar semakin kencang dan kencang. Membuat jemarinya merengkuh dalam bagian sisi kiri dadanya. Tetap berdebar dengan irama yang tak bisa dikontrol. Sampai saat dimana gadis itu mulai menuruni anak tangga dan sosoknya tak terlihat lagi.

 

4 thoughts on “[FREELANCE] Three Minutes

  1. Keren. Tapi endingnya gantung, gapapa sih, emang alurnya menggantung. Karena menurutku kalau dibikin happy end, pasti mereka bakal ketemu dan kemungkinannya maksa, dan…mainstream

Leave a comment ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s